sungguh sungguh

Kamu tentu tahu, sedalam apa perasaanku terhadapmu. Setangguh apa aku menyayangimu. Sesabar apa aku menemanimu, melewati banyak hal pilu di hidupmu.

Tidak akan ada yang mampu menyayangimu seperti aku. Meski aku sangatlah menyebalkan bagimu, akulah seseorang yang akan selalu ada disampingmu.

Atas semua hal yang sudah kamu perjuangkan untukku, sungguh aku merasa senang menjadi bagian dalam hidupmu. Terima kasih atas usaha membuatku bahagia selalu. Tetaplah begitu, menjadi kamu yang terus tumbuh bersamaku.

Jagalah kesehatanmu. Jangan abaikan semua itu. Terima kasih atas lelah yang kamu terima untuk usaha bersatu suatu waktu.

Aku sungguh-sungguh menginginkamu. Jatuh dalam cinta itu.

Katrina Vabiola
25/07/2017

19. kebaikan laki-laki

kalau kita lihat, di dunia ini ada banyak sekali laki-laki yang baik. laki-laki yang rajin sekali ke masjid dan tekun sekali beribadah. laki-laki yang gigih sekali belajar dan giat sekali bersekolah. laki-laki yang begitu sungguh-sungguh bekerja dan menjemput nafkah. laki-laki yang sangat setia dan taat kepada kedua orang tuanya. laki-laki yang nyaris tidak punya catatan keburukan. kalau beruntung, kebaikan-kebaikan itu berkumpul di satu orang.

kalau kita pikir-pikir dan rasakan, mungkin ada laki-laki baik yang berbuat baik kepada kita (perempuan). menjadi sahabat dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. memberikan semangat setiap hari. mengantarkan kita pulang atau pergi. membelikan makanan saat kita sakit. mengirimi kita berbagai kado. menjadi orang pertama yang panik saat sesuatu tak baik terjadi kepada kita. menjadi yang paling penasaran atas tulisan kita atau karya kita. mungkin ada, laki-laki yang menyayangi kita.

tapi taukah kamu? sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah ibu) seorang perempuan hanyalah satu: melamarnya. kalau ada laki-laki yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum penuh. sebaliknya, pun begitu. dia yang tidak (belum) berbuat apa-apa tetapi melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

sebab bukanlah perkara kecil bagi seorang laki-laki untuk meminta perempuan dari orang tuanya. tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu). ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil. ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakkannya di pundaknya sendiri.

maka janganlah kita perempuan, yang belum menikah, terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. maka tak perlu jugalah kalian laki-laki berbuat baik yang semu-semu itu. salah-salah malah ada harapan tidak perlu yang ikut tumbuh. pada suatu titik semua itu tidak penting. semua itu akan kalah dengan dia yang melangkahkan kaki kepada ayah.

maka janganlah kita perempuan, yang sudah menikah, iri dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan para laki-laki lain kepada pasangannya. apalagi tergoyahkan kesetiannya karena ada laki-laki yang baik kepada kita. semua itu kalah dengan dia yang telah melangkahkan kaki kepada ayah.

karena ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu.
maka, hitunglah kebaikan yang satu itu–hitung baik-baik. :)

Sebenarnya sederhana, ada kalanya doamu belum diijabah olehNya karena Dia ingin melihat seberapa besar daya juang yang mendampingi doamu
— 

Kalau belum terkabul, bisa jadi doa dan usaha kita belum sungguh-sungguh?

Allah mah udah janji kok buat mengabulkan doa kita. Entah dengan yang sesuai yang kamu minta atau lebih baik dari yang kamu minta.

Nah, kalau udah Allah yang memilihkan, maka (seharusnya) tak perlu ada lagi kecewa, kan?

Banyak orang mengira dengan mempercepat, memangkas waktu shalat, tergesa-gesa dan tidak khusyuk saat sedang banyak sesuatu yang harus dikerjakan, bahkan hingga tak sempat membaca Al-Qur'an beberapa waktu lamanya karena kesibukannya seringkali beranggapan bahwa cara demikian bisa mempercepat selesainya pekerjaan.

Padahal, semakin khusyuk dalam shalat, semakin menikmati ibadah dan kedekatan dengan Al-Qur'an, kekuatan untuk bertahan dalam tekanan dan konsisten dalam semangat akan ditambah. Barangkali malaikat pun akan senantiasa mendoakan, agar rahmat dan pertolongan Allah senantiasa diturunkan.

Sayangnya, justru seringnya kita terlalu merasa pandai dan cenderung tinggi hati. Merasa semua bisa diselesaikan sendiri, dengan semua daya dukung dan kekuatan yang dimiliki tanpa sungguh-sungguh memperhatikan bahwa sejatinya Allah yang maha memberi solusi, Allah yang senantiasa menguatkan hati dan derap langkah kaki.

—  ©Quraners, Self Reminder
Aku & Bapa Mertuaku

Ini Blog Cerita Bogel - Koleksi cerita lucah melayu malaysia / indonesia Lucah Berahi Panas dewasa

Koleksi cerita lucah melayu malaysia / indonesia Cerita Lucah Berahi Cerita Panas Cerita dewasa Aksi lucah ghairah Aksi lucah budak sekolah Berahi lucah Video Lucah Cerita lucah melayu Blog lucah Seri lucah Kisah lucah Cerita kisah lucah cikgu

Ini Blog Cerita Lucah|
Ini Blog Cerita Lucah 2
Ini Blog Cerita Nafsu|
Ini Blog Cerita Stim|
Ini Blog Cerita Bogel 
Ini Blog Cerita Awek 2016|
Ini Blog Cerita Stim 2016|
Ini Blog Cerita Sangap|
Ini Blog Cerita Sex|
Ini Blog Cerita Panas|
Ini Blog Cerita Sundal |
Ini Blog Cerita Awek|
Ini Blog My Cerita Stim|
Ini Blog Cerita Bogel 2016|
Ini Blog Cerita Hijab|

Aku Dan Bapa Mertuaku

“Untung you Kiah. Minggu lepas kakak perhatikan tiga hari Aznam tak ada di rumah, bapa mertua you sanggup tinggalkan rumahnya untuk datang temankan you di sini. I nampak you ceria betul bila Pak Man tu ada di sini,” Kak Rahmah menegur aku ketika sama-sama menyiram pokok bunga di perkarangan rumah masing-masing.Jam masa itu 6.30 petang. Sebagai jiran sebelah rumah, jalinan hubungan tetangga aku dan Kak Rahmah amat baik sekali. Aznam, suamiku. Dan Abang Rosli, suami Kak Rahmah, juga berkawan rapat, selalu mereka keluar memancing bersama. Sekali-sekala pergi berjemaah di masjid bersama. Kak Rahmah dan Abang Rosli mempunyai dua orang anak perempuan. Kedua-duanya masih menuntut di sekolah berasrama penuh, seorang Tingkatan 3 di utara manakala seorang lagi Tingkatan 1 di selatan Semenanjung Malaysia. Mereka kepinginkan anak lelaki tetapi tiada rezeki setakat ini.Aku tahu Kak Rahmah, seperti aku juga, selalu tinggal keseorangan kerana suaminya kerap tiada di rumah, mungkin kena bertugas outstation macam suamiku juga agaknya. Aku tak tahu apa sebenarnya kerja suaminya. Aku segan nak tanya mereka, takut-takut mereka bilang aku ini busy body. Yang aku dengar dia bekerja di sebuah syarikat swasta ‘import-export’. Aku tak tahu berapa umur Kak Rahmah, tetapi rasanya tidak melebihi 35 tahun.

Dia seorang yang pandai jaga badan. Walaupun sudah berumur dan badannya sudah agak berisi, dia selalu kelihatan bergaya, cantik, kemas dan masih seksi. Rendah sedikit daripada aku.Warna kulitnya hampir-hampir sama denganku. Saiz ponggong dan buah dadanya.. Agak besar juga, tetapi tak boleh lawan aku punya daa! “Tak tahulah Kak. Sebenarnya, I tak ajak bapak tu datang temankan I bila Aznam tiada di rumah. Dia saja suka nak datang temankan I,” jawabku dengan tenang dan selamba saja.”Agaknya dia rasa bosan dan kesunyian duduk seorang diri di rumahnya sejak emak Aznam meninggal.””Tentulah dia kesunyian tinggal seorang di rumah. Kakak nampak Pak Man tu masih kuat, sihat dan cergas, elok kalau dia kahwin lagi agar ada orang boleh menemani dan menjaga keperluannya,” kata Kak Rahmah sambil ketawa melebar.”Betul kata kakak tu. Esok mungkin bapak I tu datang lagi ke sini. Jam 6.00 petang esok Aznam akan bertolak ke Kota Baru. Empat hari dia kat sana nanti.””Tak apalah Kiah… you dah ada tukang teman yang boleh diharapkan.. Aznam pergi outstation lama pun you tak perlu risau, Kiah.”Melalui ketawa dan nada suaranya aku nampak Kak Rahmah seolah-olah macam mengusik-ngusik aku.”Alah… dia tak datang temankan I pun tak apa Kak, I tak risau. Kalau ada apa-apa hal pun, kakak kan ada sebelah rumah..

Saya boleh minta tolong kakak, ya tak?”Aku menyampuk dengan tujuan menunjukkan betapa pentingnya dia kepada aku sebagai jiran yang baik, terdekat dan boleh diharapkan. Kak Rahmah tersenyum lebar mendapat kata-kata pujian daripada aku. Suka benar dia mengetahui yang dia mampu menjadi orang yang boleh diharapkan oleh jirannya.”I teringin benar hendak join you all duduk-duduk makan, minum, tengok TV dan berborak-borak dengan you dan bapa mertua you tu bila dia berada di rumah you, tapi I seganlah.. Dia tu baik dan peramah orangnya, selalu menegur sapa bila nampak I kat halaman rumah ni.”Tergamam juga aku sebentar mendengar keluhan dan rayuan Kak Rahmah.”Dia ni minat nak bersembang dengan aku ke atau bapa mertua ku?” Terbit satu persoalan dalam hati kecilku.”Apa nak disegankan Kak… datanglah.. Kakak duduk seorang kat rumah pun bukan buat apa-apa…” tanpa was-was dan syak wasangka aku mempersilakannya berbuat seperti yang dihajatkannya. Tidak berdaya aku cuba menyekat keinginannya.”Terima kasihlah Kiah, tengoklah nanti.. Oh ya, kalau bapa mertua you sudilah, esok malam apa kata kita bertiga pergi dinner somewhere, ambil angin dan tukar-tukar selera..” balas Kak Rahmah dengan suatu senyuman yang manis dan rasa keseronokan.”Takkanlah dia tak mahu kalau kita ajak. Dia pun nampaknya suka pada kakak,” semacam giliran aku pula mengusiknya.”Tapi, esok malam Abang Rosli tak balik lagi ke?” aku minta kepastian daripadanya.”Tiga hari lagi baru dia balik, itu pun belum tentu,” jelas Kak Rahmah sambil menyudahkan siraman pokok bunganya.”Kalau gitu, no problem lah Kak,” balas ku sambil menyudahkan juga siraman ke atas pokok bungaku.Selepas itu kami dengan girangnya melangkah masuk ke dalam rumah masing-masing.

Sebelum tidur malam itu, fikiranku mengacau-ngacau. Aku langsung tidak teringatkan Aznam yang tidak berada di sisiku. Aku sudah teringat-ingatkan bapa mertuaku yang akan datang esok petang. Aku terbayang-bayangkan segala babak dan peristiwa aku dengan bapa mertuaku pada minggu lalu. Aduh.. Seronoknya! Dalam sedikit waktu saja, nafsuku sudah naik teransang, lantas aku mulalah ‘bermain-main’ dengan nonok dan buah dadaku. Aku mengenang-ngenangkan kembali betapa enaknya aku mengangkang dan menonggengkan pukiku agar nonokku yang tembam dan gatal dapat dibedal oleh butuh bapa mertuaku yang besar, keras dan panjang itu. Aku membayangkan semula betapa seronoknya aku menonggeng dan mengangkang agar nonok ku dapat dijilat sempurna oleh bapa mertuaku semahu-mahu dan sepuas-puasnya.Aku terpandang-pandang bagaimana kemasnya bapa mertuaku meramas-ramas dan menghisap-hisap tetekku yang besar. Sekonyong-konyong, tidak semena-mena aku sempat terbayangkan bapa mertuaku sedang mengepam nonok Kak Rahmah dengan hebat sekali. Aku terbayangkan Kak Rahmah sedang mengelitik, melenguh kesedapan, mengangkat dan mengangkangkan puki dan nonoknya selebar-lebarnya untuk dipam oleh bapa mertuaku. Aku terbayangkan betapa enaknya bapa mertuaku meramas-ramas dan menyonyot-nyonyot buah dada Kak Rahmah yang besar juga itu. Oh… a dirty imagination! A dirty mind! Bagaimana aku tiba-tiba boleh ada ‘instinct’ membayangkan ‘perilaku’ Kak Rahmah dengan bapa mertuaku aku tidak tahu.

Aku terlelap tidur dalam keadaan nonokku sudah lekit berair..”Bapak, lepas Maghrib nanti Kak Rahmah kat sebelah rumah tu ajak kita pergi dinner kat luar, bapak nak pergi tak?”Aku bertanya bapa mertuaku sambil meletakkan secawan teh halia, dua keping roti bakar dan dua biji pisang ambun di hadapannya. Aku tahu jawapan daripada bapa mertuaku tentu positif kerana dia pernah memuji kecantikan dan keseksian Kak Rahmah pada ku. Dia pernah memberitahu aku yang dia simpati kepada Kak Rahmah yang selalu ditinggal keseorangan. Kemungkinan besar dia juga ada menaruh hati kepada Kak Rahmah tu. Kemungkinan besar dia juga dah lama geramkan buah dada dan nonok Kak Rahmah tu.. Jantan biang! Jantan gatal! Bapa mertuaku baru saja sampai ke rumahku kira-kira setengah jam. Dia tak sempat menemui anaknya, Aznam, yang telah bertolak ke Kota Baru lebih awal daripada yang dijangkakan.Bagaimanapun, Aznam telah tahu yang bapanya akan datang untuk menemani aku lagi. Dia tidak risaukan keselamatan aku. Dia langsung tidak mengesyakki sesuatu telah berlaku ke atas diriku. Dia tidak tahu nonok bininya telah dikerjakan sepuas-puasnya oleh ‘monster’ bapanya.

Dia tidak sedar tetek besar bininya telah diramas dan dihisap semahu-mahunya oleh bapanya yang terror. Kasihan… dia tidak tahu pagar yang diharapkan telah memakan padinya. Dia tidak tahu nasi sudah menjadi bubur. Dia tidak sedar yang nonok dan seluruh jasad bininya bukan lagi milik syarikat peseorangan (sole-proprietorship) nya. Dia tak tahu saham syarikat bininya telah jadi milik perkongsian (partnership). Tak betul-betul jaga, akan jadi milik syarikat sendirian berhad atau lebih maju lagi jadi syarikat berhad.Sekembalinya dari Penang minggu lalu, aku telah beri Aznam ‘makan’ secukup-cukupnya.. Cukup pada dialah! Walaupun aku telah penat ‘kerja keras’ bersama bapa mertuaku, bahkan lima jam sebelum dia tiba ke rumah masih lagi bertungkus lumus mengharungi samudera yang bergelombang dalam bilik tidur tetamu, aku cepat-cepat hidangkan ‘jamuan’ sewajarnya kepadanya. Aku tunjukkan pada dia yang aku sungguh-sungguh kelaparan dan kehausan semasa dia tiada di rumah. Aku nak buktikan kepadanya yang aku amat ternanti-nantikan dia punya. Lakonanku sungguh sepontan dan berkesan sekali. Ibarat kata, setidak-tidaknya mampu mendapat ‘nomination’ untuk menjadi pelakon utama wanita terbaik.Namun layanan dan response yang aku perolehi daripadanya seperti biasa juga. Beromen sekejap, cium sini sikit sana sikit, ramas sana sikit sini sikit, pam nonokku lebih kurang 5-6 kali air maninya sudah terpancut. Nasib baik meletup kat dalam rahimku. Dia letih dan penat katanya. Betullah tu! Baru balik dari jauhlah katakan..

Dia tak tahu aku juga penat, baru balik daripada berlayar, lebih jauh daripadanya..! Dia tak tahu. Aku harap dia selama-lamanya tidak akan tahu.”Boleh juga,” bapa mertuaku dengan senyuman melebar menyatakan kesanggupannya.”Pergi dinner kat mana?” Dia bertanya dengan nada yang beria-ia benar mahu pergi.Bukan main girang gelagatnya. Sebenarnya aku telah dapat menyangka reaksi dan jawapan daripada bapa mertuaku. Tidak akan ada jawapan lain. Bak kata orang, sekilas ikan di air aku dah tahu jantan betinanya. Bukankah jauhari yang mengenal manikam?”Kiah tak tahu ke mana dia nak ajak kita pergi, kita ikut sajalah nanti, Pak. Kalau restoran tu kat tengah lautan bergelora pun Kiah tahu bapak nak pergi… ya tak?”Secara terus terang aku mengusiknya. Percayalah, aku tidak bertujuan mempersendakannya. Aku kan sayang padanya.. Bergurau senda kan baik.. Hidup lebih harmoni dan ceria.”Ha, ha, ha..” Dia ketawa meleret dan mengilai-ngilai menampakkan kegirangan yang amat sangat.Sukanya seolah-olah macam orang kena loteri nombor satu lagi. Bagimanapun, aku tidak menaruh syak wasangka yang bukan-bukan terhadapnya dengan Kak Rahmah.”Takkanlah bapa mertuaku mahukan Kak Rahmah. Aku kan ada. Dah lebih daripada cukup…” bisik hati kecilku.

Tanpa membuang masa, aku menelefon Kak Rahmah untuk memberitahunya yang bapa mertuaku mahu ikut pergi dinner kat luar lepas Maghrib nanti.”Baguslah.. Jam 8.00 nanti kita bertolak. Pakai kereta bapak mertua you ya Kiah.. Kalau dia memandu lebih selamat..”Kak Rahmah ketawa mengilai dalam telefon. Nampak benar dia cukup gembira menerima berita baik daripada aku. Sebaik saja aku meletakkan gagang telefon..”Diner kemudianlah Kiah, bapak dah lapar ni. Bapak nak makan sekarang..”Bapa mertuaku lantas bangun meninggalkan kerusinya dan berjalan menghampiri aku yang masih tercegat berdiri di sudut telefon.”Tunggulah Pak, lepas Maghrib nanti kita pergilah keluar makan.. Bukannya lama lagi..””Bapak bukan nak makan nasi, bapak nak makan.. Kiah… Kiah punya…”Bapa mertuaku merengek umpama kanak-kanak yang kehausan menagih susu daripada ibunya. Namun mesejnya sudah cukup jelas kepada ku membuat interpretasi sewajarnya. Yang bagusnya, dia sudah berterus-terang, dia bilang apa dia mahu, tanpa berselindung. Aku lebih daripada faham apa yang diingininya.Kucing jantan sudah biang! Dia sudah kehausan dan ketagih untuk memerah dan menghisap ‘susu’ ku. Aku tahu dia bukan sahaja haus bahkan lapar untuk memakan kuih apam ku yang tembam. Aku tahu. Aku tahu, lebih daripada tahu.

Sebenarnya aku juga sudah ‘haus’ dan ‘lapar’.Kucing betina ni pun sudah miang juga! Cuma kucing betina bila biang tidak buat bising seperti kucing jantan. Mulut ku yang kat bawah itu sudah lima hari tidak dapat makanan. Tetapi, bagimana gatal sekali pun aku, takkanlah aku yang nak meminta-minta daripadanya. Perasaan malu tetap bersemarak di sanubari. Perempuanlah katakan.. Lagi pun aku tidak mahu jadi lebih sudu daripada kuah. Aku tidak sempat membalas kata-kata rengekan bapa mertuaku. Dia dengan rakusnya memeluk aku dan terus ‘French-Kiss’ aku dengan begitu ghairah dan geram sekali.Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Mulut dan lidahku tanpa dipaksa memberikan immediate response kepada mulut dan lidahnya. Mulut dan lidah kami berjuang hebat. Umpama dua ekor ‘Naga Di Tasik Chini’ (Sebuah filem Melayu lama) sedang beradu kekuatan. Kami berpeluk-pelukan dengan erat, macam dah lama benar tidak bertemu, pada hal baru seminggu lebih berpisah. Aku terasa benar dadanya menghenyak-henyak gunung berapiku yang sudah mula menegang.

Aku terasa benar butuhnya sudah naik mencanak dalam seluarnya, menghenyak-henyak dan menggesel-gesel paha dan kelengkangku. Dengan tidak melepaskan mulutnya yang bertaut rapat dengan mulutku, tangan kiri bapa mertuaku memaut bahu kananku manakala tangan kanannya mula meraba-raba dan meramas-ramas tetek kananku.Aku melenguh dan bersiut keenakan. Sesak nafasku dibuatnya. Kedua-dua kakiku tergigil-gigil dan terangkat-angkat menikmati kelazatan yang dihadiahkan kepadaku. Sebagaimana yang pernah aku bilang dulu, nafsuku cepat terangsang bila tetekku kena raba dan ramas, meskipun masih terletak kemas dalam sampulnya. Nonokku sudah mula terasa gatal mengenyam. Tangan kananku juga mula bekerja. Mula menjalar-jalar dan menyusur-nyusur mencari.. Apa lagi kalau tidak butuhnya.. Aku raba dan urut butuhnya dengan ‘slow motion’ saja. Huuh, uuh..

Walaupun masih dalam seluar, sudah terasa besar, panjang dan tegangnya. Kalau tak sabar dan ikutkan geram, aku rasa macam nak tanggalkan seluarnya di situ juga. Berlaku adil, bapa mertuaku menukar kerja tangannya. Kini tangan kanannya memahut bahu kiriku manakala tangan kirinya meraba-raba dan meramas-ramas tetek kananku. Eer, eer, sedapnya.. Tetek kena ramas! Aku turut menukar tangan membelai kepala butuhnya. melenguh dan mengerang kesedapan. Tangan kanan bapa mertuaku menjelajah ke belakangku untuk mencari kancing coli ku. Aku pasti dia hendak membuka coli ku untuk melondehkan tetekku keluar daripada sampulnya agar dapat dilumat dengan lebih sempurna. Ketika itulah aku tersedar dan lantas memisahkan mulutku daripada cengkaman mulutnya.”Not now, not here, bapak… we haven’t got much time to do it now…” aku bersuara perlahan ke cuping telinganya.”Balik dinner nanti, kita ada banyak masa.. Semalam-malaman kita boleh buat.””Okay, okay.. Kiah. Sorry, sorry, I’m sorry.. I just couldn’t…”Bapa mertuaku memohon maaf dengan suara terketar-ketar sambil melepaskan aku daripada pelukannya. Kecewa benar dia nampaknya, tetapi dia bisa mengalah bukan kalah. Dia mudah menurut kata-kata dan kemahuan ku.

Dia juga sayang padaku. Bukankah aku demikian juga? Tidak dihabiskan kata-katanya, aku tidak berapa pandai untuk mengagak apa yang nak diperkatakannya lagi. Mungkin pembaca yang lebih bijaksana dapat menekanya dengan lebih tepat. Aku melangkah meninggalkannya untuk pergi ke bilik ku.”Bapak masuk bilik bapak ya… jam 8 nanti kita keluar…”Aku menyuruhnya umpama ‘Cleopatra’ mengeluarkan arahan kepada ‘Mark Anthony’. Kalau anda sekalian ingat, sekuat-kuat dan segarang-garang Mark Anthony tu, kena penangan Cleopatra, dia mati kuman dan menyerah. Negara dan bangsanya pun sanggup dipinggirkannya.

anonymous asked:

mba dini, aku mau tanya.. sejak kapan mba menemukan passion? dan mengapa memilih itu? aku 20 tahun dan lagi galo-galo nya sama masadepan T.T

TENTANG PASSION dan MASA DEPAN

Saya bahkan tidak punya passion yang cem kata rang orang, yang do or leave everything untuk melakukan hal itu. Yang saya tahu, saya punya cita - cita dan apa - apa yang saya suka. Saya ingin menjadi ini dan berbuat itu, sementara saya suka ini dan itu. Maka saya menggunakan apa yang saya suka dan punya bakat di bidang itu untuk menuju cita - cita saya. 

Apakah harus punya passion?

Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu, saya sangat menyukai orang - orang yang passionate saat mengerjakan apapun meski dia belum tentu menyukainya, itu berarti dia bersungguh - sungguh dan melakukan yang terbaik.

Saya punya seorang ‘adik’ yang menjadi wakil saya dalam sebuah kepanitian besar awal tahun. Saya mendelegasikan salah satu agenda penting padanya, saya tidak banyak memberikan briefing. Tapi anak ini mengerjakan dengan sungguh - sungguh dan dia tahu apa yang harus dilakukan, kalaupun tidak tahu dia akan bertanya dan penuh inisiatif. Hasilnya di atas ekspektasi saya. Apakah jika ada amanah serupa saya akan membagikan pada anak ini? IYA, karena saya percaya. Dan ternyata setelah itu, seseorang yang melihat kinerjanya juga memberikan dia amanah yang lebih besar, dia juga berkesempatan bertemu dan bersalaman dengan Pak Habibie, idolanya.

Jadi bagi saya sendiri, passion-mu apa bukanlah yang terpenting. Yang lebih penting bagi saya adalah ketika seseorang punya kinerja baik dan berusaha passionate terhadap tanggung jawabnya. Excited terhadap amanah yang dia emban, begitu bergairah dalam bekerja, dilihat orang lain ataupun tidak. 

Saya menyukai banyak hal. Menulis, branding, desain, menggambar, product development, bekerja di pabrik, berkomunikasi dengan customer, belajar cara kerja dan setting mesin (meskipun saya bukan anak mesin, dan hanya akan tahu sepintas fungsinya), dan beberapa hal lain. Akhirnya saya tidak fokus. 

Kebetulan banyak tawaran yang datang dan tidak selalu sesuai dengan cita - cita saya, yang terakhir adalah ajakan bergabung di startup teman yang bergerak di bidang fintech (ini jauh sekali dari cita - cita saya). Menggiurkan loh, dia sudah mendapat investor dan sedang diinkubasi oleh inkubator profesional. Dengan alasan saya suka belajar hal baru, biasanya saya terima. Tapi ternyata ini tidak baik. Sedini mungkin kita harus bisa fokus, mana yang akan membawa kita ke cita - cita dan mana yang tidak. Yang tidak ya jangan diterima karena akan buang - buang waktu, begitu kata dosen saya.

Jadi saya menggunakan cita - cita besar saya sebagai parameter apakah sebuah tawaran akan diterima atau tidak. 

Cita - cita?

Pastikan cita - citamu bisa bermanfaat untuk orang lain, bukan hanya kepentingan pribadi. Pastikan cita - cita ini digunakan untuk menuju visi misi hidup yang sesungguhnya, apakah duniawi atau berorientasi pada kebutuhan spiritual (agama). 

Sepenting apa memenuhi passion?

Dalam hal passion saya setuju pada Prawitamutia yang kalau tidak salah berpendapat bahwa apa yang kita lakukan jangan hanya berdasarkan passion, tapi juga kebermanfaatan. Tambahan dari saya, apa yang kita lakukan juga harus memenuhi amanah yang perlu kita emban.

Percuma kita memuaskan passion jika ternyata passion kita tidak bermanfaat bagi orang lain dan tidak bisa memenuhi tanggung jawab kita. Jika passion kita bermanfaat dan sesuai dengan amanah, itu daebak banget, beruntunglah orang - orang yang begini. Kenyataannya, setelah saya bekerja bertahun - tahun, kita tidak selalu menemui kondisi itu dan harus mau berkompromi pada realita. 

Jadi passion tidak penting?

Ndak juga. Kecintaan kita melakukan sesuatu itu penting, tapi bukan segalanya. If you can’t do thing that you love, you can learn love what you have to do. Jika memang betul - betul tidak bisa menyukai, ya tinggalkan, karena kamu tidak akan bisa maksimal mengerjakan hal yang betul - betul tidak disukai.

What I mean is, berusahalah menyukai hal - hal yang awalnya tidak kamu sukai, jangan manja dan menyerah hanya karena tidak passion. Jika memang sudah berusaha tetap tidak bisa suka, silahkan ditinggalkan. Jika bisa memanfaatkan passion untuk meraih cita - cita, memenuhi tanggung jawab, dan bermanfaat, ini bagus banget.

Saya tahu barangkali opini saya berkebalikan dengan banyak pakar yang menyebutkan bahwa passion itu sangat penting. Bagi saya yang umat muslim dan mengutamakan kebermanfaatan bagi kebaikan ummat, saya memilih jalan dan argumen yang berbeda saat ini dan saya menyukainya (apa sudah jadi passion? Ehehe ndak tahu).

Muslim tentu juga punya passion, tapi ya itu lagi kembali pada kebermanfaatan dan tanggung jawab. 

CMIIW

Yang Sedikit

1. Orang alim (pintar) itu banyak, tapi yang mengamalkan ilmunya, itu yang sedikit. Dan yang lebih sedikit lagi adalah orang yang ikhlas.
2. Orang yang pandai berbicara itu banyak, tapi yang jujur dalam bercakap itu sedikit.
3. Orang yang mencintai itu banyak, tapi yang benar-benar tulus dalam mencintai itu sedikit.
4. Orang yang elok fisik itu banyak, tapi yang elok batin itu teramat sedikit.
5. Banyak sekali orang yang sungguh-sungguh mengobati penyakit badan, tapi sangat sedikit yang serius mengobati penyakit hati.
6. Di negeri ini, orang super kaya itu banyak, tapi yang dermawan itu sedikit.
7. Banyak sekali orang yang tersenyum ketika dipuji, tapi sedikit sekali orang yang tetap tersenyum tulus ketika dicaci.
8. Banyak orang yang ingin selalu dimengerti, tapi sedikit sekali orang yang mau belajar mengerti orang lain.
9. Orang yang badannya kuat dan kekar itu banyak, tapi sedikit sekali yang kuat hati dan kesabarannya.
10. Banyak orang yang kuat sekali ibadahnya, tapi teramat sedikit yang khusyuk di dalamnya.
11. Di negara kita ini, tiap tahunnya banyak sekali orang yang pergi menunaikan ibadah haji, tapi sedikit sekali orang yang makbul (diterima) dalam hajinya.
12. Yang memiliki pangkat dan kekuasaan itu banyak, tapi yang rendah hati itu sedikit.
13. Orang yang miskin itu banyak tak terbilang, tapi yang tetap sabar dan bersyukur itu sedikit.
14. Banyak sekali orang yang melaksanakan shalat, tapi sedikit sekali yang istiqomah (konsisten) berjamaah.
15. Orang cerdas di Indonesia ini banyak sekali, tapi yang bijak itu teramat sedikit.
16. Orang tua yang rajin ibadah itu banyak dan sudah seharusnya, tetapi alangkah sedikitnya anak muda yang giat beribadah.
17. Banyak sekali orang yang sanggup membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan serupa, tapi sedikit sekali orang yang mampu berbuat baik kepada orang yang membenci dan memusuhinya.
18. Kalau orang yang sudah tua mampu menorehkan sejarah, ini umum dan banyak terjadi, tetapi jika anak muda yang sanggup menorehkannya, ini baru luar biasa dan sedikit.
19. Orang yang bertobat itu terlampau banyak, tapi yang benar-benar bertobat (taubatan nasuha) itu sedikit dan jarang.
20. Orang yang mampu melaksanakan berbagai amalan-amalan shaleh itu banyak, tapi yang mampu menahan diri dari segala macam kemaksiatan itu yang sedikit.
21. Orang yang kaya raya dan gemar bersedekah itu banyak, orang yang tidak kaya namun senang berbagi itu yang sedikit.
22. Orang yang mengajarkan orang lain dengan perkataan dan nasehat itu banyak, tapi orang hang mengajarkan dengan contoh dan keteladanan jtu teramat sedikit dan sulit dijumpai.
23. Banyak sekali orang yang mempunyai angan-angan dan impian besar, tapi sedikit sekali orang yang mau mewujudkannya dengan tindakan.

—  Jadilah orang yang ‘sedikit’ tapi bermakna. Bukan menjadi manusia pada kebanyakan. Lawanlah arus dalam hal berlomba-lomba dalam kebaikan.
Terbalik

Ketika yang kita upayakan dengan maksimal tidak kita dapatkan, why so serious? Ketika kita sedang ikhtiar lalu ada panggilan Allah untuk sholat dan kita memilih berkutat dengan pekerjaan kita, why so serious? Ketika apa yang kita cari dan kumpulkan kita tinggalkan saat maut tiba, why so serious? Ketika kita memprioritaskan kehidupan dunia yang sementara jauh di atas kehidupan Akhirat yang kekal abadi, why so serious?

Sesungguhnya rezekimu adalah apa yang kamu makan, apa yang usang karena kamu pakai, dan apa yang kamu kirimkan untuk tabungan Akhirat (Hadits). Saat harta benda berpindah tangan kepada ahli waris, yang tersisa hanya lembar-lembar kain kafan, iman, dan rekam amal-amal sholeh.

Banyak yang lupa bahwa kita di dunia ini ada awal dan ada akhir. Ada hidup dan ada mati. Yang kaya di dunia, akan mati. Yang miskin di dunia, akan mati. Yang punya kedudukan akan mati. Rakyat biasapun akan mati. Yang bahagia akan mati. Yang menderitapun akan mati. Tapi untuk kehidupan Akhirat yang kekal abadi, apakah kita mempersiapkan kebahagiaan atau penderitaan?

Kehidupan di Akhirat sulit kita bayangkan lamanya (juga kelezatan nikmatnya). Satu hari di Akhirat sama dengan 1000 tahun menurut perhitungan dunia (Surat As-Sajdah). Jadi, bertahanlah dalam cobaan, bersungguh-sungguhlah dalam beramal sholeh, betulkan iman, dan perbaikilah akhlak.

Satu ungkapan (mungkin sebuah hadits lemah) yang sering kita dengar, “Berusahalah kamu untuk dunia seakan kamu hidup selamanya. Berusahalah untuk Akhirat seakan kamu mati esok pagi.” Maksud kalimat pertama bukan menyuruh kita untuk mengumpulkan harta yang banyak untuk persiapan hidup selamanya. Melainkan, mengingatkan kita bahwa dalam menjalani hidup itu santai saja… kan masih lama. Kan bakal hidup selamanya. Tidak perlu bersusah hati bila tidak dapatkan ‘dunia’. Sangat capek kan kalau harus bersusah hati selamanya~

Tapi, dewasa ini, sebagian kita melihat dengan cara yang terbalik. Yang harusnya A dikerjakannya B. Yang harusnya B dikerjakannya pula A. Yaitu, dunia dikejar sungguh-sungguh seakan tidak ada hari esok (seakan mati esok pagi) sedangkan untuk beramal sholeh ditunda-tunda seakan tidak bakal mati-mati (hidup selamanya).

Padahal, maut itu datangnya tiba-tiba. Orang tua mati, remaja mati, anak-anak mati, bahkan bayi yang belum sempat menangis di atas permukaan Bumi ini ada yang mati.

Imam Al-Ghazali telah ingatkan kita bahwa yang paling jauh adalah masa lalu dan yang paling dekat adalah maut.

Maka, setelah beriktiar maka tawakkal-lah. Rezeki kita sudah diatur dalam kitab yang telah ditulis oleh pena (Al-Qalam) 50000 tahun sebelum ruh kita ditiupkan ke rahim ibu kita. Pena sudah diangkat dan tintapun sudah kering (Hadits).

Tak perlu membandingkan saya dengan dengan orang lain. Rezeki sudah diatur dan kita tidak akan dimatikan sebelum butir makanan terakhir yang sudah 'dituliskan’ buat kita masuk ke dalam rongga mulut.

Kebakhilan kita tidak akan menambah total rezeki yang telah dituliskan buat kita. Kedermawanan kita (sedekah, membantu orang lain, dsb.) tidak akan mengurangi dari rezeki yang telah Allah tuliskan buat kita.

Lebih lanjut lagi, Allah berfirman:

… Jika kamu bersyukur, akan Aku tambah nikmatku untukmu, dan jika kamu ingkar (tidak bersyukur), sungguh siksa-Ku sangat pedih. (Ibrahim: 7)

Kehidupan di dunia ini memang sudah kebalik-balik. Penjahat terlihat baik, orang baik terlihat jahat. Yang penting dianggap remeh. Yang remeh terlihat sangat penting. Cukup dunia ini yang terbalik-balik, kamu jangan :)

Allahu a'lam.

Sedalam-dalam penyesalan dan kesedihan bisa jadi tak selalu tentang cinta yang tak tertambatkan, tentang cinta yang harus pupus di tengah jalan. Namun dari masa muda yang tak digunakan untuk sungguh-sungguh mencintai Ar-rahman.
—  ©Quraners (Self Reminder)
5. baik itu kalau bermanfaat, bermanfaat itu baik

punya saudara cukup banyak, sejak kecil saya beserta kakak adik saya terbiasa sekali dengan lungsur-lungsuran. lungsuran baju, lungsuran sepatu, lungsuran buku sekolah, lungsuran apa saja. kami lungsur-lungsuran tidak hanya berempat, tetapi juga dengan sepupu seeyang bahkan sepupu sebuyut.

pernah saya berkhayal betapa enaknya menjadi mas uta, kakak saya. mas uta adalah anak pertama–ayah dan ibu juga sama-sama anak pertama–mas uta adalah cucu pertama, sehingga hampir semua yang dipakai mas uta adalah benda baru. sering-sering pula saya berdoa semoga ayah ibu menjadi orang kaya, supaya saya bisa pula dapat benda yang serba baru pula.

namun ternyata, semakin kami besar, lungsur-lungsuran ini menjadi budaya yang sangat kental. pun ekonomi keluarga kami sudah jauh lebih baik. tidak hanya di keluarga kami bahkan. di Wikrama misalnya, seragam siswa kelas 3 yang baru lulus akan dikumpulkan untuk dilungsurkan kepada siswa baru. mbak yuna pun demikian. hampir semua perkakas bayi yang saya gunakan adalah lungsuran dari kakak attirah sepupunya. baju-baju mbak yuna yang sudah tidak muat pun langsung dilungsurkan kepada adik-adik susuannya.

saya bersyukur sekali diajarkan hidup seperti ini oleh ayah ibu. salah satu kisah sahabat favorit ibu adalah Abdurrahman bin Auf yang konon masuk surga dengan merangkak karena hartanya yang banyak. saya baru memahami bahwa benda-benda yang kita miliki akan sungguh-sungguh dipertanyakan kelak. mengapa tidak digunakan? mengapa disimpan saja? mengapa dibuang?

hakikat dari benda (harta) pada dasarnya adalah kegunaan, kebermanfaatan–bukan kepemilikan apalagi kebaruan. sayang sekali karena sekarang-sekarang kita semakin termakan dengan “penampilan”. hari ini ootd dengan baju polos, besok harus dengan baju bunga-bunga. aduh, sepatu yang ini kok jelek yah kalau difoto? dan sebagainya.

kita jangan yah. tampil rapi, bersih, menyamankan yang melihat itu penting. tapi bukan berarti harus baru terus. kita juga jangan, menyimpan banyak benda-benda padahal sudah tidak lagi digunakan (bisi hisabnya lama huhuhu). yuk buka lemari. siapa tau ada barang-barang yang akan menjadi lebih bermanfaat jika berpindah tangan. baju, sepatu, buku, perintilan hobi yang sudah tidak lagi dipakai, benda-benda elektronik lama, benda-benda lain.

lama-lama, juga saya merasakan dan memahami bahwa lungsur-lungsuran tidak hanya soal hemat dan bermanfaat, tetapi juga soal gotong royong, soal saling mengasihi, soal mencintai dan melestarikan lingkungan karena menggunakan ulang atau mendaur ulang, soal kita yang memudahkan diri sendiri melangkah di hari akhir kelak.

Surat Tanpa Alamat

Kepada, Kamu.

Jangan menyerah meski sudah begitu lelah, ya?

Eh, maaf. Aku selalu lupa untuk lebih dulu berbasa-basi. Ah, tapi tidak penting juga. Buat apa? Kita tidak perlu saling tahu kabar masing-masing. Kita tidak pernah bertukar kabar masing-masing. Kita hanya saling tahu, kita sedang menghadapi sesuatu yang begitu besar dan memberatkan hati. Dari mana kita tahu? Kamu percaya intuisi. Aku percaya firasat. Kalau mau bahasa lebih populer dari penulis yang kita sama-sama suka, kita punya “Radar Neptunus” persis Kugy dan Keenan.

Aku rindu sekali membaca buku-buku yang ringan, tapi mendalam. Tidak seperti surat-suratku padamu yang tampak dalam, tapi sebenarnya ringan. Sejauh ini, aku masih berkutat pada mem-fiksi-kan kenyataan. Membahasakan perasaan-perasaan yang tidak dapat dijabarkan sendiri oleh yang sedang merasakan. Belum bisa sampai pada taraf menjadikan cerita fiksi seolah-olah kehidupan nyata dan benar-benar ada, bukan hanya di kepala kita.

Kamu belum bosan menerima surat-suratku, kan?

Maaf, ya, aku tidak lagi bisa menulis banyak hal untukmu, sesering dulu. Aku sedang kelelahan dengan banyak pikiran yang berkelindan di kepala. Persis sepertimu, kan? Hanya saja, bedanya, kamu terus menghadapi semua hal dengan berani. Berbeda sekali denganku yang terus melarikan diri.

Aku mulai takut sekali mengumbar kata-kata. Segalanya selalu dikembalikan padaku. Seakan aku tidak boleh salah. Seakan aku harus terus sesempurna kata-kata yang kutuliskan. Padahal, bagaimana mungkin ada dunia ideal? Segala drama itu adalah jubah kebesaran. Aku hanya mencoba menerjemahkan. Itu bukan aku. Itu hanya dunia yang ada di awang-awang. Bagaimana bisa mereka begitu buta sehingga kesulitan untuk membedakan?

Tuh, kan, kata-kataku menjadi begini kejam. Lagi-lagi, aku berusaha menghindar dari segala lemah gemulai kebenaran. Ini sungguh tidak benar. Sungguh tidak baik. Tidak selayaknya aku tidak berani menghadapi.

Hanya saja… kamu tahu bahwa hanya denganmu aku bisa menjadi aku, kan?

Sampai Padamu

Seperti cahaya yang masih saja dapat ditemui di ujung mataku, pagi tanpa cahaya ini aku selalu ingin menghabiskannya dengan memasukanmu dalam lamunanku, hingga seolah aku dapat berbicara berdua denganmu. Dan aku semakin jelas melihatmu, bagai cahaya pertama, yang kemudian bergeser pada beningnya embun yang menggantung manja.

Seperti matahari yang menusuk kulit tepat di atas tempatku berdiri, siang dengan peluh ini tidak akan pernah menghentikan suara-suara yang ingin aku sampaikan untukmu. Hingga aku tidak pernah hentinya menghentikan suara ketukan kakiku, hanya agar sisa-sisa suaramu tidak menciptakan rindu yang menghantam dadaku keras-keras. Dan sampai pada waktu ini, ingatanku selalu tertuju padamu.

Seperti ilalang yang beradu dengan angin menuju senja ini, tidak ada yang ingin kulakukan selain mengingatmu ke dalam tulisanku. Dan akan selalu membuktikan bahwa aku sungguh-sungguh mencintamu, hingga mungkin kamu tidak akan mempercayainya. Maka, jika nantinya cinta masih menjadi sebuah pertanyaan besar untukmu, maka jawaban itu sederhana saat aku yang sanggup merawat cintamu.

Seperti hujan yang beradu dengan suara adzan, merdunya tidak akan kalah dengan percikan tampias rumah. Rinduku tak pernah ada tandingannya, tidak apa jika kamu mau membandingkannya dengan yang lain di luar sana. Toh, itu hanya akan semakin membuktikan bahwa cintaku yang paling tepat untukmu. Maka, kupeluk saja tiap air yang nantinya dijatuhkan oleh matamu. Dan biarkan aku mendekap seluruh resah dalam do'amu yang acapkali malu-malu untuk diadukan.

Seperti sisa-sisa hujan yang menciptakan irama tepat di atas langit-langitku, malam adalah waktu terakhir aku bisa memikirkanmu. Sisanya, aku ingin bersenandung lirih, dan menangis hingga lelah lalu tertidur. Pada jeda mimpi, aku selalu menciptakanmu di sana. Sebab, rinduku tidak pernah habis padamu, hingga aku ingin selamanya berada di dekatmu.

Kiranya suara kita dapat tersampaikan hingga ke ujung dunia tanpa ada sedikit yang menghilang, mungkin saja do'a-do'a yang kutitahkan telah sampai padamu. Kiranya ketulusan itu dapat kutuliskan padamu, maka tinta seisi lautan tidak akan pernah cukup untuk kuceritakan padamu. Kiranya hati bisa di dengar, yang tidak tahu tempat berbicara dan mengadu, mungkin akan bising juga telingamu olehku.

Tidak pernah habis kubisikkan pada kesempatan tiap malamnya saat namamu bergema sepanjang lorong malam sampai tak bisa kupalingkan dari ingatanku. Allah begitu baik, tidak habisnya kesabaranku ditenun, termasuk dititipkanku seseorang yang begitu tabah sepertimu.

Kini hanya tinggal tersisa keyakinan dan do'a-do'aku yang tak pernah patah pada lima waktuku. Maka aku selalu mengucapkannya penuh dengan rasa khawatir. Agar kemanapun nantinya langkahmu berlari kencang, biarkan kaki-kaki mungil itu berbalik padaku.

Apakah sampai padamu?

Pada sisa-sisa waktuku, ingin kuhabiskan untuk membuktikan segalanya untukmu. Sebab, ia sebegitu hangat sampai ke hatiku, begitu lembut menyentuh rasaku. Sampai-sampai hatiku sedetikpun tak ingin berpaling dari indahnya cintamu.

Apakah sampai padamu?

Maka, aku akan sangat bersyukur, sebab orang itu adalah kamu.

Sangat beryukur.

Menjemput Kolokium, 28 Februari 2017 | Seto Wibowo

Tentang Waktu

New York 3 jam lebih awal dari California, Tapi tidak berarti California lambat, atau New York cepat. Keduanya bekerja sesuai “Zona Waktu"nya masing-masing.

Seseorang masih sendiri. Seseorang menikah dan menunggu 10 tahun utk memiliki momongan. Ada juga yang memiliki momongan dalam setahun usia pernikahannya.

Seseorang lulus kuliah di usia 22th, tapi menunggu 5 tahun utk mendapatkan pekerjaan tetap; yang lainnya lulus di usia 27th dan langsung bekerja.

Seseorang menjadi CEO di usia 25 dan meninggal di usia 50 saat yg lain menjadi CEO di usia 50 dan ghidup hingga usia 90th.

Seseorang belajar bahasa Arab sejak usia SD tapi wafat saat usia 45 tahun. Yang lain baru belajar Quran di usia 63 tahun, tapi mampu membaca nya hingga usia 95 tahun, karena di karuniakan kepadanya usia yang panjang nan berkah.

Setiap orang bekerja sesuai "Zona Waktu"nya masing-masing.

Seseorang bisa mencapai banyak hal dengan kecepatannya masing-masing.
Bekerjalah sesuai "Zona Waktu"mu.

Kolegamu, teman-teman, adik kelasmu mungkin "tampak” lebih maju. Mungkin yang lainnya “tampak” di belakangmu.

Setiap orang di dunia ini berlari di perlombaannya sendiri, jalurnya sendiri, dlm waktunya masing-masing. Allah punya rencana berbeda untuk masing-masing orang. Waktu berbeda utk setiap orang. Obama pensiun dr presiden di usia nya yg ke 55, dan Trump maju di usianya ke 70.

*Jangan iri kepada mereka atau mengejeknya…*

Itu “Zona Waktu” mereka.
Kamu pun berada di “Zona Waktu"mu sendiri!

Kamu tidak terlambat. Kamu tidak lebih cepat. Kamu sangat sangat tepat waktu! Tetaplah kejar keberkahan Allah…agar sampai pada muara kebahagiaan di surgaNya..

Kamu di "Zona Waktu"mu!

Yang kamu perlukan hanyalah satu : kesungguhan. Sungguh-sungguh.
‎مَنْ جَدّ وَ جَدًّ.
Bukankah itu motto-mu yang terkenal..?

Semoga Allah selalu Ridho dengan segala aktivitas kita..aamiin

(Sumber: grup LINE)

Aku ingin bahagia bersama Allaah.
—  Semoga hari ini, dan seterusnya Allaah karuniakan banyak kebaikan kebaikan penuh keberkahan.
Allaah mengijinkan kita sungguh-sungguh berharap hanya pada-Nya, hingga mencintai-Nya sepenuh hati ❤

anonymous asked:

Bagaimana kalau kamu mempunyai kadar interest yang lebih untuk seorang perempuan? Apa rata-rata semua laki-laki yang katanya adalah golongan baik seperti kamu kebanyakan diam dan menjauh? Berusaha membuatnya menjadi realita secara sembunyi-sembunyi atau malah perlahan melupakan dan mencari yang lebih baik dan sempurna?

Makin kesini saya makin memahami dan meyakini bahwa interest itu akan tetap aman, berkah dan manis saat waktunya tiba jika benar-benar dijaga.

Jika interest itu datang tiba-tiba dan berwujud sebuah rindu, maka akan saya ubah ia jadi doa. Mendoakan kebaikan-kebaikan untuknya, agar ia tak hanya jadi rindu yang sia-sia.

Jika interest itu datang dan mengusik pikiran, maka akan saya titipkan ia pada ayat-ayat Al-Qur’an. Kerana saya punya harapan, semoga kelak benar-benar dipertemukan dalam keikhlasan dan kesiapan menghadapi tantangan dan ujian. Bukan karena paras rupawan, jabatan dan kekayan, namun dalam pertemuan yang terbingkai iman dan Al-Qur’an.

Karena bagi saya, tidak ada yang abadi dan sungguh-sungguh merekatkan hati selain kecintaan yang tulus dan keyakinan yang tinggi terhadap Al-Qur’an.

Mencari yang sempurna?

Bagi saya tidak ada perempuan yang sempurna dan layak untuk dicintai sepenuh hati selain dia yang telah mengikhlaskan dan mendidik hati, nafas dan detak jantungnya, cinta dan rindunya untuk selalu berusaha mencintai Al-Qur’an. Perempuan yang akan selalu mendukung dan mempercayai saat tak ada seorang pun yang hendak berdiri di sisi. Bidadari yang selalu yakin dan menggenggam erat tangan ini, saat yang lain mungkin menyerah dalam kondisi yang tak pernah terpikirkan, melepasnya dan memilih untuk pergi.


Jika doa adalah tanda cinta, maka doa adalah caraku menyapamu dari jauh agar Allah senantiasa menjaga hatimu dengan Al-Qur'an.


Quraners

Jaman sekarang banyak orang merasa paling benar sendiri. Tapi sedikit sekali orang yang sungguh-sungguh berdo'a memohon petunjuk ke jalan yang benar. Maka apa jaminan sebuah keyakinan bila tak terus dido'akan petunjuk jalan yang benar? Maka darimana hati menjadi mantap bila tak minta ditunjuki? Jadi pertanyaannya, kita ini teguh berdiri di atas apa, di atas petunjuk atau di atas hawa nafsu? Jangan-jangan selama ini kita salah sangka. Kita mengira sudah berada di jalan yang benar tapi ternyata kita salah jalan. Maka, jangan lewatkan seharipun tanpa meminta petunjuk pada Yang Maha Memberi Petunjuk.
—  @taufikaulia
Nak, kalau ada perempuan sedang meluruhkan perasaan, jangan dinilai benar-salah atau baik-buruk menurut apa atau siapa pun, ya! Simak saja. Peluk saja. Sungguh-sungguh mendengarkan adalah upaya terbaik untuk memberinya rasa aman dan nyaman. Akan ada waktunya nanti untuk mengingatkan dan membenarkan.
—  K. Aulia R.

anonymous asked:

Assalammualaikum mbk semoga dlm keadaan sehat, mbk sy khilangan smngt dan binggung, pdhl baru lulus kuliah, nilai ipk sy hmpir mencapai 3,5,tp merasa g punya ilmu apa2. Brat skali mnyandang predikt sgt memuasakan, trlbih lg kinginan mama bsar ke sy krn satu2 anakny yg bs sarjana. Dan krn ayah sdh lm brpulang. Rsany smakin dkejar2 bgmn bs meringnkan beban org2 yg dsyg dan mncicil utg u urusan kuliah kmrin. Mnjdi idealis hrs brubah mnjadi realistis, apa step pling baik u sya mbak :' ?Terimakasih

Waalaikumsalam…aamiiin,,,,makasih yaa…

Hmm…yes it must be hard for you, apalagi pasti sedang di usia2 galau dengan kehidupan. First of all, let me share something.

1. Kalem sis, yang lulus dg IPK lumayan tapi merasa ga dapat apa2, bukan cuma kamu kok. Teman saya hampir cumlaude aja juga gitu, padahal menurut saya dia keren. That’s a good start to learn alot of things that you could not get in college.

2. Yes, I know gmana menyandang ekspektasi tinggi orang lain. Apalagi jika kamu lulusan kampus anuan ituan begituan yang semua orang nganggep pintar dan bisa melakukan segalanya. Helloowwww,,,we’re  just ordinary fresh graduate!! *sori, jadi emosional. Haha.

3. Kalem, di pekerjaan, jarang ditanyain IP mu berapa hahaha. Jadi IPK ga perlu jadi beban. Kalaupun jadi, jadikan motivasi untuk melakukan yang terbaik.

Sebagai yang sudah pernah melewati masa - masa itu, saran saya (ini sekedar saran), kamu ga perlu selalu menuruti idealismemu yang tidak prinsipil. Kecuali kalau idealismemu berdasarkan aturan agama atau moralitas. Misalnya kamu gamau kerja di bank karena itu riba, that’s okay untuk kamu ikuti.

Tapi jika idealismemu misalnya hanya sebatas, “pokoknya saya harus jadi ini dan itu”,  Saran saya sih, better to be rational. Siapa tahu dari pilihan kamu yang rasional dilandasi dengan niat membantu orang tua bisa membawamu ke tempat yang baik dan kamu nikmati.

Ambillah langkah yang menurutmu paling baik yang bisa kamu kerjakan. Remember this, ga semua fresh grad bisa langsung mendapatkan pekerjaan asik dengan gaji baik. Saya sendiri pindah kerja 3 kali dalam setahun hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan super asik dan bertahan cukup lama di sana. Well, itu karena saya tidak punya beban ekonomi, jadi mudah memutuskan pergi ketika saya menemukan bahwa di tempat itu saya tidak akan bisa berkembang. 

Mungkin kondisimu akan berbeda, karena kamu punya tgg jawab besar. Tapi pada intinya, ketika nanti kamu mendapatkan pekerjaan yang belum nyaman di kamu, selama tidak melanggar prinsip dan moralitas, lakukanlah sebaik mungkin. Di manapun kamu berada, bekerjalah semaksimal mungkin. Karena bagaimana mungkin seseorang akan mendapatkan yang lebih baik jika ketika mendapatkan yang kecil saja dia menyepelekan?

Be passionate to learn, be passionate to do any job, be passionate to give the best result of you. 

Ada yang bilang bahwa bagi fresh grad, bekerja adalah belajar yang dibayar. And that’s totally true!!! Syaratnya, sungguh - sungguh mau belajar dan passionate di dalamnya. Bayangkan juga di masa depan kamu akan mendapatkan yang lebih baik. 

Nikmati setiap waktumu, jangan terlalu terbebani dengan predikat2 dan ekspektasi orang lain. Jadikanlah itu cambuk untuk selalu berbuat yang terbaik. 

I don’t now if this long blabbering could help you. But I hope you’ll be more passionate to do everything dan bisa lebih santai menghadapi dunia. 

Good luck!!

Jika Engkau Harus Melepaskan Jilbabmu

Jika jilbabmu tak menghentikan mata laki-laki untuk lekat menatapmu, mengagumi kecantikanmu, kau bisa membiarkan mereka menatapmu. Tak usah mengira bahwa jilbabmu gagal menghadang mereka. Tak usah menuduh mereka tak menghargaimu. Mata mereka bukanlah tangan, bukan hidung, bukan lidah, apalagi pintu, jendela atau ranjang-ranjang.

Biarkan mereka. Biarkan mereka melihat bagaimana seorang perempuan tetap terlihat mengagumkan dengan kain yang melindungi rambutnya, bahunya, dadanya. Barangkali… mereka belum pernah melihat perempuan sepertimu sebelumnya.

Jika mereka ingin menyentuhmu. Jangan biarkan mereka menyentuhmu. Berilah mereka senyuman. Barangkali, mereka belum tahu. Atau mungkin sebenarnya mereka tidak sedang ingin menyentuhmu—tetapi berusaha menggapai dirinya sendiri yang ia temukan di dalam dirimu: Mungkin masa depannya, kebahagiaannya, impian-impiannya. Katakanlah kepadanya, “Aku telah dilindungi.”

Jika mereka ingin menggenggam tanganmu, atau merangkulmu, atau memelukmu. Mundurlah beberapa langkah. Berilah mereka jarak. Berilah mereka waktu. Laki-laki selalu tumbuh dengan naluri ingin melindungi—dengan dada-dada mereka yang dibusungkan, kaki-kaki mereka yang dijinjitkan, atau tangan-tangan mereka yang dikepalkan. Biarkan mereka melakukannya… Hingga mereka lelah. Dan kau akan menjumpai satu di antara mereka yang tetap bertahan… Dia yang mungkin bukan yang paling gagah di antara semuanya, bukan yang paling kekar di antara semuanya, tetapi yang paling sungguh-sungguh ingin menemukan dirinya di dalam dirimu.

Jika saat itu tiba, kau akan dikelilingi sejumlah keraguan… Mungkinkah ia lelaki itu? Mungkinkah kau akan mencintainya? Mungkinkah kau memberikan keseluruhan dirimu kepadanya? Mungkinkah ia melindungi kehormatan dan kesucianmu melebihi yang telah dilakukan jilbabmu selama ini?

Dan ia akan tetap berdiri di sana. Mengagumimu sebagai seorang perempuan. Bukan pelayan. Bukan harim. Bukan yang lain. Maka ajarilah ia cara menyayangi seorang perempuan, seperti puisi, seindah metafora, selembut kelopak bunga-bunga, sesabar cahaya matahari yang melelehkan salju tebal, semerdu rintik hujan di sungai-sungai.

Jika jilbabmu membuat seorang laki-laki jatuh cinta kepadamu. Biarkanlah ia mencintaimu. Kau perlu tahu, dicintai adalah sebuah anugerah yang tak bisa kau tukar atau tawar-tawar. Dicintai adalah karunia yang mungkin orang lain tak mendapatkannya. Dicintai berbeda dengan mencintai. Jika mencintai adalah menemukan kebahagiaanmu, dicintai adalah saat kau menjadi kebahagiaan untuk orang lain.

Maka jika engkau harus melepaskan jilbabmu di hadapan laki-laki itu, buatlah keputusan yang tak akan kau ulangi lagi untuk melakukannya. Buatlah sebuah perjanjian. Buatlah sebuah akad. Dan biarkan semesta menyaksikannya: Melalui mata ayahmu, melalui mata ibumu, melalui mata semua orang yang kau sayangi dan percayai.

Jika engkau harus menyingkap hijabmu, singkaplah… Di hadapan seseorang yang akan melindungimu dengan seluruh dirinya. Lepaskanlah… Untuk seseorang yang akan membimbingmu mencintai Tuhan lebih dari kau pernah mencintaiNya seperti kapanpun.


FAHD PAHDEPIE

04:59

Jangan sering sering sibuk lihat kanan kirimu, lalu membanding-bandingkan nikmat Allah yang ada padamu dan padanya. Nanti kamu banyak mengeluh, nanti kamu jadi ngga bersyukur. Padahal Allah Maha Tahu Yang Terbaik untukmu, mana nikmat yang harus sampai padamu dan padanya. Jangan minder hanya karena prestasi duniawi. Kamu diciptakan dengan porsi terbaik, dengan kelebihan terbaik, kamu cantik dan istimewa. Kamu masih bisa berlomba lomba untuk menjadi cantik di hadapan Allah sayangku. Bahkan usahamu kelak mampu membuat bidadari syurga cemburu.

Maka kumohon, kuatkanlah lagi hatimu imanmu. Jangan merasa mampu sendiri, kamu sadar kamu pun tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Nya. Maka, berserahlah pada Nya. Mohon selalu pertolongan Nya. Agar dikaruniakan hati yang senantiasa merasa cukup. Agar di karuniakan hati yang selalu bersemangat berbuat banyak kebaikan dan terus menerus memperbaiki diri. Agar di perbaiki akhlakmu. Agar Allah senantiasa menjagamu dengan cinta Nya.

Dan, semoga kita pantas menjadi hamba yang Allah serukan pada penduduk langit bahwa Allah mencintai kita.
Betapa bahagianya yaa ?
Rasa rasanya itu lebih dari apapun di banding nikmat prestasi duniawi yang tak mengantarkan untuk dekat dengan cinta Allah.
Maka, jangan lupa bersyukur dan bersabar selalu di atas jalan Nya yang lurus.
Maka, lagi dan lagi jangan lupa untuk terus menerus muhasabah diri yaa sebab dosa dosa kita begitu banyak dan Allah Maha Tahu, jangan merasa sudah baik yaa :)

Selalulah, didiklah hatimu untuk merasa cukup dengan penilaian Allah. Didiklah dirimu untuk tidak mudah rapuh juga lelah untuk terus berbuat banyak kebaikan, juga berbakti pada orang tuamu dengan tulus dan memudahkan urusan orang lain.
Semoga Allah selalu menjagamu dengan kebaikan kebaikan penuh keberkahan, Allah mendekatkanmu dengan orang orang yang baik dan lingkungan yang baik yang semakin mendekatkanmu pada Nya.

Kapanpun kita pulang, semoga kita senantiasa bersama ridha Allah :)

Jangan lupa jaga wudhu yaa shalihah!
Bahagia ngga kalo kita meninggal dalam keadaan berwudhu, dalam lisan yang senantiasa berdzikir dan hati yang selamat ? Pasti bahagia banget.

Penuh harap, Semoga hati sungguh sungguh selalu terpaut pada Allah ❤


Selepas shubuh,
Jakarta 15 Nopember 2016.


Tulisan ini pertama tama kutujukan untuk mengingatkan diriku sendiri, entah hari ini atau suatu hari kala ku baca ulang tulisan tulisanku.