suka duka

Aku tidak mencari perempuan yang mau diajak hidup susah, karena tak pernah terlintas dalam pikiran untuk menjadikan perempuan yang kucintai hidup dalam kesusahan.

Perempuanku adalah perempuan yang mau diajak berjuang, mencapai sukses. Perempuanku adalah kesetiaan dalam suka dan duka. Berjuang bersama bukan menderita bersama.

Jadilah pria yang membawa perempuanmu dalam berjuang untuk kebahagiaan, jangan mengajaknya untuk hidup dalam penderitaan.

aku pernah dan kamu menghilang

Aku pernah,
bercerita padamu tentang mimpi-mimpiku yang sekiranya sulit dijangkau.

Aku pernah,
membagikan segala suka serta duka kepada kamu yang kukira sudi mendengarkan segala keluh kesah.

Aku pernah,
aku pernah sebegitu tergantungnya menceritakan apapun padamu.

Tapi kemudian kamu menghilang,
hingga aku lupa, beberapa mimpiku ada sebab kamu

surut

“Time flies over us, but leaves its shadow behind”

Penghitungan waktu jadi bagian yang enggak terpisahkan dari pertandingan sepakbola di layar kaca. Makin dekat dengan injury time, pemain yang berlaga di lapangan makin gesit memaksimalkan peluang. Ekspresi sesal sering tertangkap kamera saat operan-operan ciamik harus berakhir nihil karena sebuah keteledoran. Pemain, pelatih, tim ofisial hingga penonton bergulat dengan rasa tegang sejak enggak ada yang tau dalam kondisi apa pertandingan berakhir. Suka atau duka?

Andai setiap orang tau kapan injury time di hidup mereka, enggak akan ada satu peluang pun yang dibuang percuma. Berbanding terbalik dengan pertandingan di layar kaca, kita yang makin dekat dengan injury time masing-masing belum termotivasi untuk selalu menyegerakan perbuatan baik. Mungkinkah kita masih menjadi bagian dari mereka yang menikmati pengurangan waktu dan terburu-buru mengejar ketertinggalan di akhir?

Sementara hitungan mundur terus berjalan, kita berlalu pada linimasa usia menuju titik surut. Sementara hitungan mundur terus berjalan, kita mengabaikan kelapangan di masa kini untuk mencemaskan masa depan yang belum tentu datang dan meratapi masa lalu yang enggak bisa diraih lagi.

Ada dalih-dalih yang terucap saat kita menunda perbuatan baik semisal, “Santai, masih ada besok” atau “Nantilah, kalau sempet”. Padahal, sepotong hikmah dari Hasan Al-Bashri berbunyi, “Manusia adalah kumpulan hari-hari. Kalau satu hari kamu bepergian hingga mentari tenggelam di ufuk barat, maka sebagian dari dirimu telah pergi. Tinggal menanti dimana pada suatu saat, hari-hari milikmu tinggal sedikit”.

Guru saya pernah bercerita tentang ponakannya yang baru beranjak dewasa dan beberapa kali diajak mengaji. Bujukan, “Ngaji yuk” selalu berbalas “Nanti, kang. Kalau udah punya motor”. Hingga kemudian motor berhasil dimiliki, ajakan yang sama digulirkan kembali. Responnya berubah, “Nanti, kang. Kalau udah beres ngelamar calon. Dua bulan lagi ya”. Sebulan berlalu, selepas lembur dari tempat kerjanya, laki-laki muda itu merasa kepalanya pusing sekali. Beberapa saat sehabis menelan sebutir obat pereda, ia pun tidak sadarkan diri - selamanya. Sayang, ajalnya tak tertunda dengan ucapan “Nanti, kang”.

Kalau inget cerita itu, saya nyesel pernah bersukacita melepas perginya waktu lewat perayaan-perayaan yang enggak penting beberapa taun ke belakang. Seolah momen-momen temporer itu sepadan dengan hilangnya begitu banyak waktu. Bukankah berlalunya hari demi hari jadi pengingat paling sederhana bahwa kita makin dekat dengan injury time? Bukankah sewajarnya kita lebih sering bersedu atas kepergian sebagian dari diri kita yang enggak bisa kembali lagi?

Kita masih terlena dengan keberlimpahan waktu hingga ia terasa tak istimewa lagi. Suatu hari kita akan tersadar bahwa dari apa yang tengah dinikmati saat ini, ada prinsip trade off di dalamnya. Saat muda, kita punya banyak waktu. Namun banyak yang dibuang percuma. Di masa dewasa, kita punya sedikit waktu untuk terlalu banyak urusan. Di masa tua, kita punya keleluasaan tapi sisa waktu enggak banyak lagi.

Imam Syafi’i pernah mendapatkan nasihat dari seorang sufi, “Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia”

Dengan begitu ringannya ungkapan klasik “Time flies, ya” selalu terucap dari lisan kita, ada baiknya kita melongok sejenak ke belakang untuk mencermati jejak-jejak yang kita pijakkan di masa lalu. Jejak apa yang ditinggalkan selepas “pertandingan” kita berakhir nanti? Akankah kita bersukacita atau berdukacita karenanya?

Semoga Berbahagia di Masa Depan

Aku membayangkang memiliki anak anak tumbuh dewasa di masa depan. Penuh semangat dan tantangan, pastilah menyenangkan melihat mereka bertumbuh. Melewati suka duka, air mata dan perih bahagia. Namun pada suatu waktu ada hal yang pasti akan kuceritakan, agar mereka tak perlu mencari lagi. Tak perlu bertanya seisi bumi. Dan lantangnya mereka berkata “dimana kutemukan bahagia?

Ramai anak muda berpikir dimana ditemukan bahagia? apakah dengan menjadi tenar di sosial media, memilki jutaan followers dan foto foto penuh senyum kepalsuan? ataukah bahagia didapatkan dari impian yang tercapai menjadi insinyur, dokter, akuntan sehingga banyak orang memberi hormat? ataukah bahagia didapat dari uang berlimpah sehingga perut tak perlu merasa lapar dan pikiran tak perlu meracau tentang bagaimana bertahan hidup di hari esok? Aku tidak tahu apakah mereka yang mencapainya menemukan bahagia hakikinya atau hanya fatamorgana.

Semenjak kecil aku tidur dengan dongeng dongeng perjuangan, bagaimana Ali bin Abi Thalib mengangkat pintu benteng Khaibar seorang diri padahal pasukan sebelumnya berusaha mati matian mendobrak pintu tersebut, bagaimana Khalid bin Walid karena perang Mu’tah yang sangat sengit melawan Romawi hingga pedang patah sebanyak 9 kali dan berganti pedang, bagaimana Ummar bin Khattab menantang Quraisy untuk mencegatnya di gerbang Mekkah ketika dia berhijrah sementara kaum muslimin lain hijrah secara sembunyi sembunyi.

Sayangnya, apa yang aku dapatkan seiring bertumbuhku adalah bahwa hidup ini adalah medan tempur dan kita sebagai pejuang. Apapun yang ada didepan dan menghalang jalan harus ditebas hingga tumbang sehingga lagi aku bisa berlari mencapai tujuan yang dicita citakan. Terus berlari dan asyik dalam “pertarungan hidup” ini hingga lupa suatu esensi, di peperangan tanpa akhir ini selain kemenangan apa yang ingin didapatkan?

Ramai orang berpikir bahwa menjadi yang terpintar di kelas adalah suatu kebahagiaan? Aku lewati itu namun setelah didapatkan pun ternyata hanya kebahagiaan yang sesaat. Kemudian kembali mencari pertarungan lain.

Ramai orang berpikir bahwa dikenal banyak orang adalah kebahagiaan? dalam masa mudaku, tidak terlalu namun aku tau rasanya. Pun dilihat banyak sorot mata ternyata tidak semenarik yang awal terpikir. Seringkali ekspektasi orang terlalu tinggi menuntut diri yang tidak ada apa apanya, atau mereka melihat sesosok tanpa cela sehingga ketika melihat ada khilaf mereka lupa bahwa yang dilihat adalah manusia bukan malaikat dan mereka tidak siap. Lagi kembali mencari pertarungan lain.

Ramai orang berpikir dihormati bak raja adalah kebahagiaan? pun sudah pernah dikecap, datang dari keluarga biasa, namun beberapakali Allah takdirkan diri hina ini mendapat kehormata karena proyek yang dia kerjakan, karena katanya prestasi yang telah diraih sehingga berhak mendapat pelatihan internasional, tinggal berhari dan minggu di hotel bintang 5 dengan harga per malam, mau makan apa tinggal bilang, mau kemana supir dan mobil siap mengantar, mau hiburan apa dipersilakan, datang ke suatu instansi kantor dan orang orang memberi salam senyum dan hormat. Namun ternyata juga tak ditemukan bahagia, merasa lelah dengan drama orang - orang disekitar. Kenapa rasanya memakai sendal jepit dan berjalan di trotoar melihat keliling kota adalah hal yang menyenangkan.

Ramai orang berpikir punya banyak uang adalah kebahagiaan? waktu dulu aku pernah mencicipi, bagaimana servis suatu perusahaan, dia berikan uang jajan setara gaji karyawan dan diminta dihabisakn dalam waktu 2 hari namun tidak boleh membeli barang dan ini hanya untuk diri sendiri tidak boleh orang lain, ini adalah bentuk “kesenangan” untuk memberikan pelayanan kepada diri. Makan mewah yang tidak pernah terpikir, tidur di hotel mewah yang rasanya pun tidak ada beda dengan tidur dirumah, dan kesenangan lain. Namun lagi lagi hanya biasa saja.

Lalu saya mendengar seoran dosen bercerita “saya pernah makan siang, sore dan malam dikota yang berbeda dalam satu hari”. “wah hebat betul orang ini” pikirku. Namun Allah takdirkan aku menyusul secepat itu, makan pagi siang dan malam di kota kota berbeda dalam satu hari, bahkan selanjutnya makan pagi, siang dan malam di negara yang berbeda dalam satu hari. Apa rasanya? capek yang jelas karena hectic dan terus berpindah.

Atau kenal dengan orang orang besar adalah kebahagiaan? itu adalah suatu kehormatan, kebahagiaanya datang dari mana adalah dari hubungan yang tercipta akan kebermanfaatan, tidak menjamin pula akan bahagia.

Aku cicipi begitu banyak definisi bahagia yang dikata orang, namun tidak ada yang bertahan lama dan membekas bahagianya dalam kehidupan.

Setelah perjalanan panjang akhirnya didapatkan kesimpulan yang diturunkan dan disadarakan diwaktu muda, suatu saat insya Allah akan aku katakan ke anak anakku kelak :

“Anakku, bahagia tidak didapat dengan mencarinya diluar, diketenaran, dikekayaan, dipenghormatan orang lain, dan bahkan di dunia ini. Namun didapat dari hati yang bersih dan qona’ah. Bagai kolam keruh yang bagaimanapun seringnya dikuras dan dibersihkan akan kembali kotor. Kecuali kolam dengan mata air didasarnya, yang memancarkan air bersih nan jernih memenuhi kolam. Sehingga bahkan ketika hujan datang membawa lumpur dan kotoran kedalam kolam maka tidak perlu waktu lama untuk kolam kembali jernih karena air bersih segera menggantikan lumpur dan kotoran. Bahagia tidak didapat dengan niat yang salah untuk membesarkan diri sendiri, niat harus ditujukan untuk penghambaan dan pengikhlasaan kepada Allah SWT, dan bahagia tidak didapat dengan cara membahagiakan hanya diri sendiri, kebahagian hakiki didapat dengan membuat orang lain dan orang disekitar bahagia karena apa yang kita perbuat.” :)


Terminal 3 Soetta.

HFR

Katamu dan Kataku

Bila harus kuungkapkan penyesalan paling dalam yang kurasakan selama ini, adalah sesal karena aku menyelesaikan hafalanku sedemikian cepat.

Mereka sering berkata padaku, “Kamu hebat, bisa menyelesaikan 30 juz dengan waktu yang sedemikian singkat.” Padahal kita seharusnya sadar, bahwa di tiap ayat yang dihafal, ada tanggung jawab yang terus bertambah.

Namun, setidaknya kamu melalui hari-hari bersama Al Qur'an lebih intens ketimbang diri ini yang belum jua selesai menghafalnya.

Mungkin semasa Sekolah Menengah Pertamamu dulu, kamu habiskan waktu sore dengan Halaqoh Qur'an. Sedangkan aku?

Mereka juga sering bertanya padaku, “Adakah cara untuk menghafal kalam-Nya dengan cepat?”

Aku hanya mengelus dada, lalu membatin, “Ah, aku iri pada kalian. Aku ingin merasakan menghafal lagi seperti kalian. Aku ingin, sungguh ingin.”

Tidakkah kita menoleh ke belakang, bagaimana dahulu para sahabat menghafal? Mereka tak beranjak dari satu ayat, melainkan mereka telah memahami, dan mengamalkan ayat yang dihafalnya.

Sudahkah kita merenung kala membaca ayat-Nya, “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya”?

Sudahkah pula kita tadabburi ayat-Nya, “…  dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu …”?

Bukan tak mengakui anjuran mempelajari Al Qur'an secara perlahan. Tapi, sesal karena tak kunjung jua usai menghafal Al Qur'an adalah tangis yang tak habis.

Sebab, betapa bahagianya ketika kita mampu membaca semua arti ayat Al Qur'an sembari menghafalnya. Setidaknya, kita mengetahui apa yang dibahas di tiap surat yang kita baca. Bukankah ia begitu menghibur?

Sedang, jika “hanya” mengandalkan tilawah, misalnya, siapa yang akan menjamin ia akan menyisakan kesan tentang surat ini dan itu, juz sekian dan sekian? Nihil.

Al Qur'an, adalah hidangan dari-Nya. Bahkan, ia adalah hidangan yang terbaik. Akankah kita coba berpikir, ketika kita disuguhi hidangan nan nikmat; bagaimana kita akan memakannya? Langsung menelannya bulat-bulat, atau mengunyahnya sedikit demi sedikit?

Sedikit demi sedikit, tapi jangan pula sampai hidangan itu terlalu lama habis, atau bahkan membuat kita lebih dulu kenyang sebelum menghabiskannya. Di mana pun, hidangan yang baru saja disajikan jauh lebih nikmat daripada yang sudah berjam-jam. Demikian kiranya.

Pada akhirnya, suara-suara itu berpadu dalam satu harap. Ya Allah, jadikanlah kami di antara keluarga-Mu, dan orang-orang terdekat-Mu. Ya Allah, jadikanlah Al Qur'an penolong kami, dan bukan penuntut kami di Hari Akhir kelak.




Sebuah kolaborasi dari @mehmetfath dan @fauziaazzahra, tentang suka dan duka masing-masing dengan Al Qur'an yang tiap hari dibaca, dihafal, dan diulang-ulang. Moga Al Qur'an menjadi pelipur lara, penghapus duka, dan penyelamat di alam baka.

Menyenangkan ketika kita memiliki seseorang itu. Yang bisa diceritakan macam-macam hal, baik suka maupun duka. Yang dengan kehadirannya saja, kita sudah mampu bisa lebih tenang. 

Tapi terkadang, seseorang itu tak bisa ditemukan dengan mudah. Perlu ada luka, kecewa atau bahkan sedih yang mendekap.

“Sebatas Mimpi” by Hujan Mimpi

Coming soon~ Di toko-toko buku kesayanganmu! :)

Tips dimurahkan rezeki kak H amal.

1. Sehari istigfar at least 100 kali subuh, 100 kali zohor, 100 kali asar, 100 kali maghrib, 100 kali isyak.
50 kali pun takpa. Ikutlah masing-masing. Ingat, Rasulullah pun dalam sehari berkali istigfar.


2. Amalkan solat dhuha. Lepas dah amal, try ‘jaga’ solat dhuha. Kalau tak boleh 7 kali dalam 7 hari, buatlah 3 kali dalam seminggu. Bukan kuantiti Allah nilai tapi kualiti. Apa dia ? Keikhlasaan untuk tunduk pada Rabb.


3. Al-quran jangan ketepikan. Solat jangan ketepikan. Dua benda ni kalau kita jaga seperti jaga seorang 'kekasih’, nescaya kita orang yang paling bahagia. Wallahi.


4. Tahajud. Tuan guru nik aziz tahu tak kenapa tak pernah tinggal tahajud ? Sebab ada 'perasaan’ lapang tiap kali melaksanakan solat ini. Manusia nampak kita seperti sibuk sana sini, tapi Allah sentiasa 'lapangkan’ kita dengan cara setiap urusan kita dipermudahkan. Sebab itu tuan guru semasa hayat, waktunya walaupun pack dengan memberi ceramah, masih ada ruang untuk keluarga, isteri dan sebagainya. Lapang tu luas definisinya. Allah beri rezeki dalam banyak bentuk.


5. Hutang. Hutang dengan orang make sure kita bayar dan lunaskan. Kalau tak boleh, buat perjanjian dan musyawarah dengan pihak yang kita hutang kita nak bayar bila, kita nak tempoh sekian sekian. Dan andai masih ada yang berhutang pada kita, jangan tuntut. Kalau dia nak bayar, bayar. Kalau tak, takpa. Halalkan. Dalam masa yang sama, doa banyak-banyak moga itu salah satu Pintu pembuka rezeki untuk kita.


6. Adab pada ibu ayah.
Jangan jadi anak yang 'biadap’ atau yang tiada adab. Sebab once kita sakitkan hati ibu ayah, rezeki susah nak lekat, keep contact. Tanya khabar, minta doa dan restu hari-hari tak kira anda bujang ke dah kahwin ke keep contact. Doakan kesejahteraan ibu ayah.


7. Hubungan dengan manusia.
Jangan suka hasad dengki, dendam kesumat, menyebarkan fitnah, aib, umpat. Kalau terbuat, cepat-cepat muhasabah dan istigfar. Perbanyakkan ambil air wuduk ketika marah. Sebab diri kita sendiri pun tidak terlalu baik.


8. Hormat guru bagi yang student. Hormat majikan bagi yang bekerja. Doakan guru, doakan boss kita. Sentiasa anggap mereka seperti ahli keluarga. Sayangi mereka. Minta mereka doakan kita.


9. Zikir.
Cuba hayati dan selami zikir asmaul husna terutamanya. (99 nama Allah).
Setiap 99 nama Allah ada maksud tersurat dan tersirat. Contoh bab rezeki, boleh amal zikir Ya Razzaq. Ya Razzaq tiap kali lepas solat.


10. Keep sadaqah.
Nampak pakcik jual newspaper tepi jalan belilah dengan wang besar sikit, nampak makcik tepi jalan jual kuih atau nasi lemak belilah walaupun ketika itu kita tak lapar, masuk masjid ringankan tangan untuk masukkan duit dalam tabung even RM 1. Naik bas ke teksi ke, jangan ambil baki wang, niat lah sedekah. Ada duit lebih, beri hadiah pada ibu ayah, guru-guru, kawan-kawan, adik2, suami isteri niat untuk sedekah. Tak perlu tunggu birthday dan sebagainya. Banyak cara sedekah. Apa yang kita 'beri’ itulah 'milik’ kita di sana. Akan dihimpunkan di hari pengadilan. Bukannya apa yang kita 'simpan’.


11. Haiwan dan alam.
Haiwan itu ciptaan Allah. Alam itu ciptaan Allah. Buat baik dengan haiwan, beri makan. Beri minum. Sayangi haiwan. Alam. Tahukah kalian setiap alam di dunia ini akan bertasbih memuji Allah, pokok, sungai, daun, hujan sekalipun akan mengagungkan Tuhan mereka ? Pastikan kita beradab pada alam. Jangan buang sampah, jangan cemarkan dan sebagainya. Sayangilah alam. Sebab seorang guru pernah kata, salah satu tips menjemput rezeki yang manusia selalu lupa adalah adab pada haiwan dan alam.


12. Always positive and never give up
(Bersyukur dan bersabar)
Rezeki itu banyak makna. Dapat lihat mak ayah pun rezeki, dapat belajar tinggi-tinggi pun rezeki, dapat boss baik pun rezeki, dapat sahabat soleh pun rezeki, dapat pandang dunia dengan nikmat mata pun rezeki, dapat berjalan ke mall, ke pantai, ke taman pun rezeki, sebab ada orang yang takda kaki. Dapat bernafas pun rezeki. Rezeki itu bukan dari segi wang semata-mata. Sentiasa bersyukur dan bersabar dengan apa yang Allah hadiahkan buat kita sama ada suka mahupun duka. Satu je, kalau anda rasa anda diuji dengan sangat teruk ada lagi yang diuji lebih sakit.


Moga bermanfaat.
Wallahualam.
😊

KATAMU DAN KATAKU (REVISI)

Bila harus kuungkapkan penyesalan paling dalam yang kurasakan selama ini, adalah sesal karena aku menyelesaikan hafalanku sedemikian cepat.

Mereka sering berkata padaku, “Kamu hebat, bisa menyelesaikan 30 juz dengan waktu yang sedemikian singkat.” Padahal kita seharusnya sadar, bahwa di tiap ayat yang dihafal, ada tanggung jawab yang terus bertambah.

Namun, setidaknya kamu melalui hari-hari bersama Al Qur'an lebih intens ketimbang diri ini yang belum jua selesai menghafalnya.

Mungkin semasa Sekolah Menengah Pertamamu dulu, kamu habiskan waktu sore dengan Halaqoh Qur'an. Sedangkan aku?

Mereka juga sering bertanya padaku, “Adakah cara untuk menghafal kalam-Nya dengan cepat?”

Aku hanya mengelus dada, lalu membatin, “Ah, aku iri pada kalian. Aku ingin merasakan menghafal lagi seperti kalian. Aku ingin, sungguh ingin.”

Tidakkah kita menoleh ke belakang, bagaimana dahulu para sahabat menghafal? Mereka tak beranjak dari satu ayat, melainkan mereka telah memahami, dan mengamalkan ayat yang dihafalnya.

Sudahkah kita merenung kala membaca ayat-Nya, “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya”?

Sudahkah pula kita tadabburi ayat-Nya, “…  dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu …”?

Bukan tak mengakui anjuran mempelajari Al Qur'an secara perlahan. Tapi, sesal karena tak kunjung jua usai menghafal Al Qur'an adalah tangis yang tak habis.

Sebab, betapa bahagianya ketika kita mampu membaca semua arti ayat Al Qur'an sembari menghafalnya. Setidaknya, kita mengetahui apa yang dibahas di tiap surat yang kita baca. Bukankah ia begitu menghibur?

Sedang, jika “hanya” mengandalkan tilawah, misalnya, siapa yang akan menjamin ia akan menyisakan kesan tentang surat ini dan itu, juz sekian dan sekian? Nihil.

Al Qur'an, adalah hidangan dari-Nya. Bahkan, ia adalah hidangan yang terbaik. Akankah kita coba berpikir, ketika kita disuguhi hidangan nan nikmat; bagaimana kita akan memakannya? Langsung menelannya bulat-bulat, atau mengunyahnya sedikit demi sedikit?

Sedikit demi sedikit, tapi jangan pula sampai hidangan itu terlalu lama habis, atau bahkan membuat kita lebih dulu kenyang sebelum menghabiskannya. Di mana pun, hidangan yang baru saja disajikan jauh lebih nikmat daripada yang sudah berjam-jam. Demikian kiranya.

Pada akhirnya, suara-suara itu berpadu dalam satu harap. Ya Allah, jadikanlah kami di antara keluarga-Mu, dan orang-orang terdekat-Mu. Ya Allah, jadikanlah Al Qur'an penolong kami, dan bukan penuntut kami di Hari Akhir kelak.

Sebuah kolaborasi dari @mehmetfath dan @fauziaazzahra, tentang suka dan duka masing-masing dengan Al Qur'an yang tiap hari dibaca, dihafal, dan diulang-ulang. Moga Al Qur'an menjadi pelipur lara, penghapus duka, dan penyelamat di alam baka.

Monolog

Tubuhmu yang rapuh kau paksa tegak di hadapanku, berpangku kayu kau habiskan waktu untuk bercerita kepadaku. Lampu pijar di atas meja, meremang tatapanmu yang duka. Tak sedikit pun kau malu berhadapan denganku, meski aku tahu, kau tak sedang dalam keadaan terbaikmu.

Matamu yang sayup, kau paksa terbuka di hadapan kata. Malam ini tatapanmu menjelma kutukan, berburu makna yang sedikit terlupakan. Aku sedikit gusar melihatmu, airmata dan keringat terlihat sama. Suka dan duka tak ada beda. Kau bercerita tanpa peduli titik dan koma. Hanya ambisi mengganti nyeri, menjadi puisi.

Dan lihat, tak ada alasan bagiku tak mencintaimu. Tubuh rapuh, dan mata sayupmu memperlakukanku layaknya ratu. Kau penyair ulung yang mempercantikku dengan sesuatu yang nadir. Kau terungku nafsumu hanya untuk mempersiapkanku pada dunia. Dan aku selalu menjadi puisi paling beruntung, yang tercipta dari hatimu yang agung.

andhikahadip
Jakarta, 2017

Ceritakan saja kepada ibumu, bagaimana aku memperjuangkan kamu. Bagaimana aku tetap bertahan pada satu pilihanku, ketika di luar sana banyak orang yang inginkanku agar lepaskanmu. Ceritakan berapa banyak kisah yang telah kita lalui bersama. Suka, duka, pahit, manis yang pernah kita ukir bersama. Ceritakan juga, bagaimana aku selalu sabar, meski cobaan sering kali datang. Lalu dari itu semua, bagian mana yang menurutmu aku kurang serius?
#36

/1/
Namamu. Kertas putih. Kacamatamu. Orang-orang yang kita kenal. Kursi-kursi tidak rapi. AC mengembus 21°C. Papan tulis yang berbicara apa adanya. Pintu bergetar. Senyuman dan tawa mereka. Kata keluh kesah. Rencana dalam agenda. Kritik dan saran tentang imajiner. Perut kita lapar. Rasa terbidani entah bagaimana.

/2/
Akun twitter baru. Pakaian hitammu. Es krim yang kita makan. Jalanan panas. Mata kuliah membosankan. Perihal suka. Awan berarak ke selatan. Pangeran Charles mencintai Putri Kate. Bakso yang kita makan. Rapat dengan koran. April cerah.

/3/
Kota mulai jenuh. Kenangan yang dipotret. Suka dan duka. Debu perpustakaan. Mengembalikan eksistensi. Waktu menyempit. Kampus kita. Teh tarik di kantin. Kertas fotokopi dalam tasmu. Laptop penuh skripsi. Jantung kita sama.

/4/
Dua kota. Ketiadaan. Skype. Cemburu seperti pelangi. Rembulan menggantung manja. Jejakmu di sini. Bayang-bayang kehilangan. Es krim yang meleleh. Mimpi buruk. Gado-gado yang kamu suka masih lewat. Segalanya berubah. Aku kehilangan.

/5/
Luka dalam nafas.

BUKAN UNTUKKU

Angin malam menyapu lembut pipi keringku dijalanan

Aku merasakan dingin yang tak biasa, dingin yang membuatku girang seketika

Aku temukan senyum hangatnya dalam isi kepalaku

Tampan sekali, lebih tampan dari Ayah ketika masih seumurnya

Hari terasa begitu cepat, dan aku masih tidak berani mengubah keadaan

Masih nyaman bersembunyi dikejauhan untuk sekedar melihat apakah hari ini ia masih memberikan hatinya kepada wanita yang ia genggam tangannya setiap kali berjalan beriringan

Masih nyaman berpura-pura sibuk bila ada di sekitarnya, agar tak satupun yang menyadari bahwa aku begitu menyukai caranya bicara

Ia begitu dekat dari pelupuk, namun begitu jauh untuk dijangkau

Sebab hatinya telah terikat kepada seorang wanita yang wajahnya secantik Ibunya

Hingga untuk menyadari adanya aku, ia tak memiliki waktu.

Bila Tuhan memberiku sedikit kesempatan untuk dikenalnya lebih dari sekedar nama, maka akan kubuat ia takjub oleh segala pengetahuanku tentang dirinya. Yang dengannya ia akan menyadari bahwa aku selalu ada di dekatnya.

Atau mungkin aku yang tak mampu melihat kesempatan karena terlalu sibuk mengkhayal ini dan itu bersamanya.

Kali ini hujan kembali datang setelah tahun berganti penuh suka duka, dan aku masih enggan pergi menerima kenyataan bahwa yang bukan untukku akan tetap menjadi yang bukan untukku.

Dibuat dan dibacakan oleh: Syarifah Aini (2017)

Backsound: Yiruma - As You Wish

Made with SoundCloud
Tolong katakan padaku, tolong ingatkan aku; Bahwa segala jerih payah, suka-duka, jatuh-bangun, serta seluruh tawa dan air mata yang pernah kita lalui bersama kemarin bukanlah sesuatu yang sia-sia, kan?

Perjalanan masih jauh,jalan pulak banyak yang rosak, semakin kau meningkat usia, semakin jauh perjalanan nak kena hadap. semakin banyak jalan rosak kau kena redah. Itulah kehidupan. Ada suka, ada duka.

Jatuh tergolek tu hal biasa, luka bernanah pun kira no hal,siapa yang ada tahulah macam mana keadaan kau. kau bangun dari jatuh, bukan untuk orang lain, bangun untuk diri sendiri. Luka kau letak ubat untuk hilangkan rasa sakit,bukan untuk ubat orang lain.

Bukan senang nak senang, tapi kalau nak jahanam senang !.


That’s life.

Banyak sekali cerita yang sering kita lihat maupun dengar seksama. Baik di film maupun novel-novel kesukaan kita. Mempunyai intrik dan alur yang mempesona. Namun ternyata, itu semua hanya karangan manusia.

Cerita atau kisah yang sesungguhnya adalah ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Yaitu kita. Mahakarya cerita dari kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Baik suka maupun duka kita tempuhi. Semua tantangan yang berusaha kita lalui.

Sehingga..

“Hanya jika kau berhenti berusaha, maka kisahmu akan usai. Selama kau terus berjuang, banyak peristiwa indah yang akan kau jelang. Dan masa depan akan dipersiapkan Tuhan hanya untuk membuatmu tersenyum atau menangis bahagia.”  - Fahd Pahdepie

Tulisan: Pasrah

“Takdir bukan kuasa kita. Masa depan diluar jangkauan kita. Tapi menjaga semangat dan harapan-harapan yang baik adalah pilihan kita.”

-Fikratus Sofa Muzakkiya-

Ada hal-hal yang diluar kuasa kita, ia adalah takdir. Seperti tentang siapa jodoh kita, yang mana rezeki kita, atau kapan kita akan meninggal menghadapNya.

Dalam kehidupan, kita pasti akan dihadapkan pada persoalan takdir kita yang dengan indah sudah dalam skenarioNya. Entah episode takdir itu menyenangkan untuk kita ataupun menyedihkan untuk kita, kita tidak bisa menolaknya.

Kita boleh jadi menerka-nerka takdir yang indah, tak ada salahnya. Namun, yang harus kita yakini bahwa ujian kehidupan itu akan ada, dan akan selalu ada. Entah dalam suka entah dalam duka.

Dan jika ujian untuk takdir kita setidak bahagia episode yang kita inginkan. Bersabarlah. Sebab, sungguh Allah Swt. senang bersama orang-orang yang sabar.

Dan berdoalah, semoga kesulitan ujian yang tengah, sedang dan telah kita hadapi menjadi penggugur dosa kita.

“Tidak ada satu pun musibah (cobaan) yang menimpa seorang mukmin walaupun berupa duri, melainkan dengannya Allah akan mencatat untuknya satu kebaikan atau menghapus satu kesalahannya.” (HR. Muslim)

Dan marilah kita memohon perlindunganNya saja, agar kita dikuatkan, agar kita dimudahkan, agar kita disabarkan. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut:

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari cobaan yang menyulitkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.” (HR. Bukhari)

Bismillah, semoga apa-apa yang hilang dari kita menjadi tabungan kita diakhirat. Sebab sungguh semua yang kita miliki hanya titipanNya.

Tetaplah berhusnudzan sama Allah SWT. Pasrahkan kepadaNya segala takdir yang terjadi dalam kehidupan kita. Jagalah harapan-harapan baik kita, semoga harapan-harapan baik dan doa kita di Aamiinkan juga oleh semesta…

Bogor, 21 Januari 2016

Fikratus Sofa Muzakkiya

Siklus Kehidupan-Pertemuan

Kenangan kenangan indah itu yang selalu berhasil membawa pikiran terutama hati ingin mengulangnya sekali lagi. Tapi tidak dengan kenangan kenangan pahitnya, yang akan membuat enggan untuk kembali ke masa silam.

Begitu pula dengan saat ini. Apa yang terjadi saat ini, suka, duka, tertawa, bahagia, sedih, lara, terpana, kecewa. Semua akan menjadi kenangan di kemudian hari. Ingin kembali ke masa ini, tapi hanya pada bagian yang menyenangkannya saja.

Sayangnya, kebahagian dan kepayahan itu datang satu paket. Keduanya saling mengkombinasikan diri kemudian menciptakan berjuta warna berjuta rasa di hidup kita.

Mata tidak akan takjub, dan mulut tidak akab bergumam memuji keindahan pelangi jika hanya terdapat satu warna saja disana. Tidak ada bahagia selamanya di dunia, pun dengan lara. Semuanya seimbang, saling menyeimbangkan.

Kau akan tetap pergi meski kau enggan beranjak dari pijakanmu saat ini. Kemudian kau akan bertemu dengan mereka, entah itu orang-orang baru, ataupun orang lama yang kau baru mengenalnya begitu dekat saat itu.

Tapi tidak semuanya akan tinggal. Beberapa ada yang akan menjadi teman perjalananmu penuh liku. Beberapa ada yang menjadi penyebab kau tersandung jatuh. Sebagian hanya sekedar mampir kemudian berlalu.

Kau akan mengenali mereka satu persatu. Terima tidak terima, begitulah takdirmu yang diisi oleh kehadiran mereka. Kehadiran yang mungkin akan menjadikan bahagia, atau kemudian malah membuat hatimu luka.

Seperti itulah siklus pertemuan. Akan berlangsung terus seperti itu. Dan bagi siapapun yang meyakini bahwa tidak ada perjumpaan yang tanpa sengaja, atau sekedar kebetulan saja, akan meyakini bahwa ada banyak sekali pemahaman dariNya disana.

People come and go. Everyone thats been in your life has been there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you (qoute via google).

Saya adalah penganut paham pacaran itu haram. Dan terus berusaha jadi pelaksana, pencegah, dan pemberdaya jomblo menjadi lebih berfaedah. Aamiin. Juga tidak menghalalkan jenis hubungan mirip-mirip pacaran tapi katanya “tidak berstatus” atau “temenan aja” atau “kakak-kakak an, adik-adik an”. Udahlah, mereka sama.

Nantinya, kalaupun hidup ini tepat pada ujung pencarian seseorang yang mau bersama-sama saya dalam suka dan duka, tangis dan bahagia. Mencari seorang nahkoda yang mampu membawa bahtera ini agar tak karam, setinggi-tinggipun ombak, sekencang-kencang angin, dan sedalam-dalam lautan. Ataupun anda yang mencari seorang yang mau dan mampu menjadi leher untuk tubuh (hidup) anda, di mana kepala (laki-laki) tak akan mampu menggeleng ataupun mengangguk tanpa leher yang sehat.

Halah.

Kemarin, seorang teman saya berbahagia sebab mendapat senyuman dari cowo ganteng katanya. Awalnya, kukira tadi dia ke kamar mandi gak baca doa, terus kemasukan. Dia nyeletuk, “Enak tau jadi jomblo, bebas. Gak ada yang sakit hati atau marah-marah kalo begini.”

Emang enak, sih. Kalau jomblo bisa menikmati apa yang orang-orang berpasangan hindarin, jauhin, ataupun harus sembunyi-sembunyi dulu jika mau. Kalau enggak, pihak lain akan merasa tersakiti dan ending paling tragis adalah berakhirnya hubungan mereka. Karam ditelan ombak sekecil-kecil senyuman.

Tapi, hai jomblower mesti paham. Bahwa yang ngelihat kita bersikap itu bukan cuma orang di sekeliling kita, teman, pacar, suami, istri, teman tapi mesra, teman tapi temenan aja. Lha wong, orang di luar negeri aja bisa kok. Dengan cara live di instagram. Hmm. Allah melihat bahkan sekecil-kecilnya huru-hara hati kita masing-masing yang katanya tak mampu terterobos mata manusia bahkan kelelawar.

Bebas itu disertai tanggungjawab. Kalo udah gini seram, yah.

Enak, sih, jadi jomblo. Bebas tanpa dibebani oleh rasa sayang yang sayang-sayang-an (maksudnya: tiruan, seperti kata “mobil-mobilan”). Tapi just remember it… Setajam-tajam mata pacarmu, kamu gak bakal bisa sembunyi dari mataNya.

Malam itu aku diingatkan akan ucapanmu saat pertama kita bersama
“Jangan lupa janji kita untuk tetap bersama dalam kondisi apapun!”
“ iya aku takkan lupa”
“ jika kau lupa tak segan segan untuk kutinju rahangmu”
“ iya.. Iya..”
Malam itu juga aku diingatkan akan perjuangan kita untuk mendapat gelar “sejati”. untuk kita, yaa, hanya kita.

Ada suka ada duka,
#
“ HBD yaa.. Barakallah, ini hadiah untukmu.”
“ iyaa sama sama, terima kasih kadonya.”
#
“ APA KAU BILANG?! Kau bilang ini bukan masalah besar?”
“ iyaa memang seharusnya begitu kan?”
“ Tidak! Tidak! Tidak seharusnya begitu, kau tidak mengerti! Jaga jarak denganku, atau kau akan menyesal nanti!”

Tapi itulah yang membuat hubungan kita semakin erat bukan?

Terlalu banyak memori yang terekam di benakku, sehingga sulit untuk menjaga jarak denganmu.

Api membumbung tinggi, tanda salam perpisahan sudah tersampaikan.

Sorak sorai memenuhi langit.

Bulan dan kabut menjadi dekorasi yang sempurna dalam pesta.

Cerita demi cerita kita tuntaskan di sana.

Maaf bila aku tak pernah menjadi seorang teman yang di harapkan.

Dan pada akhirnya ku katakan pada kalian
“ Terima Kasih dan Sampai Jumpa ”

—  Dear Befairz.