storrytellers

Catatan Sang Waktu--

Mereka berkelana dalam sebuah riwayat yang di catat dalam sebuah tulisan lembaran demi lembaran. Terangkum dalam sebuah manifesto buku pengembaraan lewat waktu. Waktu yang hakikatnya abadi dan tak kurang satu apapun yang berhenti sebelum detak detiknya kehabisan energi di sebuah dinding ruangan.

Waktu yang hakikatnya tak dapat kembali ataupun bergerak mundur. Waktu yang selalu berjalan kedepan dan tak tau arah sampai mana tujuan waktu itu berhenti. Para pemburu waktu yang sedang di kejar-kejar waktu. Waktu yang tak pernah berkompromi. Waktu yang menjadi misteri.

Pernahkah kita berpikir bahwa waktu berhenti? Berpikir kita kembali ke masa lalu walau waktu itu tetap jalan? Atau sebaliknya kita di masa depan dalam waktu yang sama saat ini? Pernah berpikir waktu di asia dan di eropa seragam? Ya, semua itu hanya misteri.. banyak sekali ilmuwan yang meneliti waktu hingga ia berlomba tuk menciptakan mesin waktu dan berwisata dengan perjalanan waktu. Merubah kehidupan dengan waktu masa lalu-masa depan dengan lebih baik. Tapi semua itu adalah rantai waktu.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca karya Alan Lightman seorang einstein berkata “aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati Tuhan”. Walau begitu Einstein pun punya cara sendiri tuk mengerti waktu dan merumuskan dari realita yang ada, walau waktu itu ia berusia 26 tahun dalam buku yang saya baca.

Di lain halnya orang-orang ada yang mengenal waktu dan tidak. Ada orang beraktivitas dengan sibuknya. Ada yang sedang berjalan di taman. Ada yang sedang tidur. Ada yang sedang melakukan hal sesuatu. Tapi dalam satu bingkai waktu memiliki berjuta-bahkan tak terhingga sebuah peristiwa. Katakanlah dalam 24 jam. Semua orang melakukan suatu hal. Waktupun tetap berjalan dan berjalan. Hingga waktu dapat menentukanya sendiri dalam takdirnya.

-dehanifi-
Yogyakarta, 04 Juni 2017.