sosm

Opportunity

Earlier today, I had the wonderful opportunity of sitting down with @something-wicked-sims. She was highlighting the unique, and wonderful sims of San Myshuno. I had no idea I would be featured so quickly, and I greatly appreciate the fact that she would sit down with me - an aspiring Elementary School Teacher in low-income schools. There are so many wonderful people living in and around Myshuno, and I’m honestly speechless that I was one of the individuals who caught her eye.

You can read the excerpt from our sit-down here. Be sure to follow her, and stay tuned for more of the people she’ll be featuring in “Sims of San Myshuno”.

Again, thank you so much, @something-wicked-sims. I had so much fun with you! 

Relax

Dalam perjalanan, di atas motor. Dua orang sahabat memulai percakapan random.

W: Dude, gw penasaran. Kira-kira Allah mau ngasih hadiah apa ya? Gw curiga, hadiahnya bakal canggih banget nih. Soalnya ujiannya muwantep dan berderet wkwk. Istri solihah mungkin yak? Wkwkwk. Aamiin. *kepedean*

A: Hahahaha. Aamiin.

W: Abis ujian kecelakaan waktu itu, lu di kasih hadiah apa sama Allah, dude? Kan luar biasa berat ujian waktu itu menurut gw. Lu hampir aja lewat. Hiks.

A: Perasaan bersyukur, Bro.

W: Hmm.. menarik. Tolong dielaborasi lagi.

A: Gw jadi lebih bersyukur aja sekarang. Saat ketemu keluarga, main sama anak, ketemu istri. Yang itu semua, dulu perasaannya ga kaya sekarang ini. Dan, gw jadi ga gampang marah, lebih sabar gitu deh. 

W: Perasaan syukur dan sabar ya. Bener juga sih. Itu life skill tingkat tinggi tuh. Super penting. Asik dong yaa.

A: Yoi.

W: Hadiahnya intangible ya. Duh, gw terlalu matrealistis mikirnya. *istighfar*

Bro-tips saat dilanda ujian:

  • Tetap bernafas. Relax.
  • Minta ampun sama Allah.
  • Keep husnudzon. Mungkin mau di kasih “hadiah”; dipersiapkan untuk amanah/ujian yang lebih besar; naik kelas.
  • Cek ke diri sendiri: makin deket, atau malah jadi jauh dari Allah? Kalo jadi jauh, mungkin “teguran”, bukan ujian. *Istighfar
  • Cek ke diri sendiri: ngadunya ke siapa? Allah? Sosmed? Temen? 
  • Ujian sifatnya sementara. Datang dan pergi sesuka Allah :)
  • Jangan “senggol bacok” ke orang lain, terutama orang-orang terdekat. Mereka ndak ada salah. Usahakan dipakai “topeng” cerianya :D

Tangerang, 11.02pm

Buat mbak-mbak yang budiman, ati-ati kalau ketemu cowok dari sosmed, terus kalian chat, terus dia ngasih2 puisi biar kalian luluh.

Sebelum memutuskan untuk luluh, copas dulu puisinya ke google. Kalau ternyata doi ngopas tulisan orang lain mah ati-ati. Penjahat kelamin noh yang begitu.
DIAM DIAM MENGHANYUTKAN

Kok gak punya IG sih?

Kok jarang update status?

Kok fotonya itu mulu?

Zaman sekarang, sudah menjadi urusan yang mudah sekali bagi kita untuk mengetahui kesibukan serta kehidupan orang lain.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan hari ini, liat saja di storynya.

Untuk mengetahui apa yang dilakukan minggu ini, liat saja feednya

Untuk mengetahui apa yang dilakukan bulan ini, liat saja untaian wallnya

Dengan adanya fitur ini, dengan mudah kita bisa memahami apa yang dikerjakan orang lain.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya dan mengisinya dengan berbagai karyanya. Hampir setiap karya yang dia buat, dia upload di sosial medianya. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena dari sosmednya, ia bisa menjalani hidup.

Ada orang-orang yang saya kenal, dia punya sosmed, dia mengurusnya, bahkan merapihkan feednya. Foto-fotonya berkelas, caption-captionnya super bijak, jikalau kamu tidak mengenalnya, sudah pasti kamu akan menganggap bahwa kehidupannya sempurna. Orang seperti ini, menjadikan sosmed sebagai alat untuk menunjukan gaya hidupnya. Walau sebagian dari mereka yang saya kenal, sebetulnya hanya membuat-buat “seolah” ia punya kehidupan tersebut, padahal dia hanya pandai dalam membuat-buat kondisi yang dia tidak miliki.

Ada lagi tipe orang yang menurut saya juga cukup menyita perhatian, yakni orang-orang yang membiarkan sosmednya atau bahkan tidak memiliki sosmed sama sekali. Kadang kala, fotonya itu tidak berganti dari zaman dia bikin akun sampai bertahun-tahun lamanya. Postingannya tidak segar, ceritanya basi, bahkan kadang tanpa cerita apapun. Mungkin, dia memiliki akun tersebut, hanya sekedar untuk memenuhi syarat agar dianggap sebagai masyarakat kekinian.

Tapi yang keren dari tipe orang terakhir, yakni dibalik sepinya sosmed beliau, ketika akhirnya saya mengobrol secara langsung, ternyata banyak sekali pencapaian yang ia dapatkan yang tidak pernah orang lain tahu. Mulai dari menjadi juara kompetisi, membuat sebuah gerakan, membantu masyarakat, dan lain sebagainya. Melihat sosmednya tentu membuat anda malas untuk melihatnya, tapi mendengarkan kisah serta pencapaiannya, membuat anda enggan untuk beranjak walau untuk ke wc sekalipun, saking serunya.

Ya, di zaman sekarang, terkadang ada orang-orang yang menggembar-gemborkan sesuatu secara berlebihan di sosial medianya, ada juga orang yang tidak pernah terdengar sama sekali tentang kabarnya, tapi ada kesamaan dalam keduanya, kehidupan nyatanya tidak sesuai dengan kehidupan mayanya.

Dan saya pribadi, kadang merasa kagum dengan mereka yang selalu diam-diam, namun ternyata karya-karya mereka sudah jauh menerjang kami-kami yang disibukkan dengan “bagaimana kami harus terlihat di sosmed?”.

Yah, itulah zaman sekarang. Semoga kami tidak termasuk yang menggembar-gemborkan secara berlebihan. Walaupun diri ini memang sudah sulit untuk menjadi orang yang “diam-diam”, semoga kami menjadi orang yang “koar-koar menghanyutkan”, ribut iya, bermanfaat iya. Semoga yah, semoga.


DIAM-DIAM MENGHANYUTKAN
Bandung, 15 Mei 2017

Bye-bye Spring Semester, welcome Autumn Semester!

Suatu keputusan besar (dan juga nekat haha) untuk pergi ke Negeri Sakura dengan kondisi hanya mendapat beasiswa parsial. Iya, saya datang dan hidup di Negeri ini gak mendapat full scholarship. Untuk biaya perkuliahan, Alhamdulillah saya gak perlu membayar lagi, 0 rupiah muehehe, tapi untuk kehidupan sehari-hari saya harus merogoh kantong sendiri untuk membiayai semuanya.

Apakah orang tua cukup mampu untuk mengirimkan kisar uang 8 juta/bulan (ukuran minimal beasiswa JASSO)?? hehe tentu engga, sama sekali engga :D Saya punya banyak adik yang harus menjadi prioritas karena kepergian saya ke Negeri Sakura ini adalah keputusan saya sendiri. Saya merasa harus siap menanggung resiko apapun yang akan terjadi atas pilihan saya sendiri.

Dan, akhirnya saya berada disini..

Sampai detik ini. Alhamdulillah.

Cerita ini dimulai dari diterimanya saya bekerja di Toko halal sejak hari ke 3 saya di Kagoshima. Dan 3 April 2017 lalu, hari ke 5 saya berada di Kagoshima, saya sudah mulai bekerja.

Alhamdulillah, saya bisa bekerja di sebuah toko makanan halal, menjadi kasir, juga sekaligus membersihkan toko, berberes, menyusun makanan, menimbang bahan-bahan makanan, membungkus makanan, membungkus daging dan semua pekerjaan yang ada di toko. Karena pekerja sore-malam hanya saya, sehingga saya harus mengerjakan semua.

Saya merasa bersyukur sekali karena bisa bekerja di toko makanan halal, dengan pemilik toko seorang Muslim asal Pakistan. Alhamdulillah, saya bisa sholat dengan mudah di waktu bekerja. FYI, untuk bekerja dengan orang Jepang agak sulit untuk meminta izin sholat di tengah-tengah bekerja.

Kuliahnya  kapan  ya? Hehe :p
Saya menghabiskan waktu di kampus dari pagi hingga siang/sore, lalu setiap sore hari senin-selasa-kamis-jumat (4 hari kerja) sekitar pukul 4 sore sampai malam saya bekerja di Toko halal, tokonya berada di samping Masjid Kagoshima. Kalau main ke Kagoshima dan mampir ke Masjid Kagoshima jangan lupa ke Toko Halal samping Masjid ya! Nanti ketemu saya wkwk *malah promosi

Pekerjaan lainnya, saya mencoba mengajar bahasa Indonesia di kampus, alhamdulillah murid nya ada 3 orang :D Setiap hari rabu sore setelah selesai kuliah pukul 4 sore, 4 lewat 10 menit saya mulai mengajar Bahasa Indonesia. Mengajar materi bahasa Indonesia ternyata gak semudah yang saya bayangkan haha. karena mereka terkadang menanyakan soal-soal dasar yang memang sebagai pengguna bahasa Indonesia sejak kecil itu gak terpikirkan :D

Lainnya, kalau ada English camp anak-anak sekolah juga biasanya saya mendaftar untuk menjadi tutor bahasa Inggris (meskipun jujur bahasa inggris saya gak lancar-lancar banget haha-serius) pernah suatu waktu saya mengajar dari jam 11 siang sampai jam 3 sore, mendapat  gaji 7.000 yen, transport, makan siang dll kalau semua di uangkan satu juta rupiah. Alhamdulillah ya, jadi tutor English camp ini dengan bekal “yang penting PD aja” wkwk :D

Di lain hari saya pun juga mengajar anak-anak SD tentang budaya Indonesia. juga bermain bareng anak-anak TK, juga ke tempat penitipan anak-anak, untuk mengajar tarian Indonesia *ala firas, juga lagu-lagu Indonesia dan kebudayaan Indonesia lain. Kalau yang ini terkadang ada yang memang kerja part time ataupun memang kegiatan volunteer. Untuk aktifitas yang ini saya seneng banget karena ketemu bocil-bocil yang lucu nya bikin pengen dibawa pulang muehehehe.  XD

Sabtu-minggu pun kalau sedang ada seseran kerja part time sehari full, biasanya saya ambil. Misal di salah satu Festival kota Kagoshima tempo hari, seharian saya jadi penyedia jus sama kare, alhamdulillah dari jam 11 siang sampai 6 sore, bisa dapet sangu 800 ribuan ditambah dibawain banyak oleh-oleh sama Ibunya. Ibunya baik banget :’) memang besar bayarannya, tapi juga kerjanya gak main-main, selama kurun waktu 7 jam saya nyaris gak duduk kecuali sholat dan makan siang total sekitar 20 menit (ini keadaan yang sangat biasa kalau kerja dengan orang jepang). Kalau lagi kerja dengan orang sini ngerasa totalitas dalam bekerja itu di uji banget, tapi satu sisi saya jadi iri, betapa mereka bisa totalitas dengan ‘bener-bener totalitas’ ketika bekerja, lalu sebagai muslim apakah saya udah begitu? saya sering nanya ini ke diri sendiri kalau sedang cape kerja ehehe. Padahal bekerja juga salah satu bentuk ibadah kan ya..

Balik  keawal.

Jadi selama satu bulan bekerja, jumlah normal keuangan saya perbulan kisar 43.000x122, jumlahnya adalah nominal yang di rupiahkan. Dari itu semua, saya bertahan hidup di negeri ini. “Apa cukup?” banyak yang bertanya saat saya sebutkan nominal keuangan saya perbulan, sahabat saya orang jepang pun bilang, “sonna…. giri-gigi  janai? daijoubu? Itu keuangannya mepet sekali kan? kamu gak papa?” Saya kadang cuma nyengir. :D

Alhamdulillah dicukupkan dan selalu di bantu oleh Allah lewat cara-caraNya.

Suatu hari ada yang bertanya apakah keuangan dibantu orang tua juga?

Saya jadi inget, di awal-awal di Jepang, saya sedang gak berduit-cukup (ada, tapi mepet sekali) mau makan dan beli kebutuhan lain, saya coba cek kartu ATM Indonesia, barangkali masih ada sisa-sisa keuangan saya di Indonesia. Eh? kok error. Esoknya saya coba lagi, saya minta tolong teman orang Indonesia yang biasa mengambil uang memakai kartu ATM M*ndiri Indonesia untuk menemani saya, barangkali saya salah memencet layar yang tulisannya kanji semua itu. Tapi… ternyata tetap gak bisa..
Sejak pertama kali disini hingga sekarang kartu ATM itu gak bisa di pakai. Saya kadang berpikir, mungkin ini cara Allah supaya saya pun gak punya alasan untuk gak bekerja keras membiayai hidup saya sendiri, mungkin kalau kartu ATM itu masih oke, saya mungkin saja punya alasan untuk tidak begitu bekerja keras dan merasa bahwa aman, semepet-mepetnya mungkin saya bisa mengubungi orang rumah untuk sekedar meminta sedikit bantuan. Hehe.

Namun setelah kejadian itu, akhirnya saya memutuskan untuk gak memiliki sedikitpun alasan untuk meminta bantuan orang rumah. Bukan karena merasa mampu membiayai sendiri hidup di Negeri orang (karena justru diawal saya khawatir gak bisa membiayai hidup sendiri), tapi karena saya merasa bahwa, saya gak mungkin untuk terus menyusahkan orang tua saya lagi atas pilihan-pilihan hidup saya- atas mimpi-mimpi dan impian-impian saya, dan lagi biaya hidup disini mahal sekali. Dari gaji perbulan, saya harus menyisahkan uang (nominal tergantung musim) sekitar 1,3 juta untuk biaya listrik, air, gas dan asrama. Belum lagi harus membayar uang tagihan nomer HP Jepang, internet hp, wifi asrama, asuransi kesehatan, buku kuliah pegangan wajib, buku-buku penunjang belajar dan lain-lainnya.

Kalau kadang terpikir tentang itu, saya mungkin gak bisa bertahan hidup di negeri ini…. tapi saya nyoba untuk membuang pikiran-pikiran itu, oke mari kita jalani! Yareba  dekiru! *kalau di lakukan pasti bisa. Yosh! Bismillah, selalu ada jalan, pasti bisa!
dan… alhamdulillah akhirnya bisa! satu semester terlewati :’)

Apakah dulu di awal dateng ke Jepang gak ada ‘drama’ kaya sinetron di TV  dengan judul film “Merasa Tak Sanggup”?

Tentu  ada. Wkwk. Ada bangeeeet! Tapi, Ada Allah kan? :)
Saya suka sekali potongan ayat ini.

 “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Al Insyirah 5-6)

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah 286)

 :’)

Alhamdulillah, akhirnya terlewati satu tahap!  

dan.. semua pelajaran-pelajaran hidup selama satu babak ini tak akan mampu terbayar oleh apapun.. :)

Mulai Oktober, Autumn semester, yosh semangats! 

Ahya, mulai oktober nambah lagi kerja part time saya jadi penyiram bunga di salah satu apartment milik orang Jepang (ciee, kata salah satu temen saya disini, bakal jadi tukang kebun XD)
alhamdulillah dulu masih kecil suka disuruh Ibu nyiram bunga depan rumah meskipun dengan males-malesan ngerjainnya sekarang ngerasa beruntung pernah latihan nyiram bunga banyak tiap sore hari di masa kecil hahaha. Ternyata, keterampilan apapun itu kalau disuruh Ibu pasti akan berujung kebaikan dimasa depan ya :D

 

Kagoshima, 6 Agustus 2017

*saya nulis ini 2 bulan lalu, awal liburan summer kemarin, baru sempet buka ulang file ini. dan udah mau selesai liburannya, besok mulai masuk kuliah semester baru :D

oh ya, saya nulis tentang ini sekedar nulis diary, dan sedikit berbagi pengalaman kalau semua orang yang pernah, akan, atau sedang belajar di Luar Negeri bukan berarti mereka hidupnya lebih mudah, atau hanya senang-senang, jalan-jalan, hidup makmur dapet beasiswa tiap bulan atau hanya mikir tentang kuliah. ehehehe (mungkin karena yang terlihat di sosmed nya yang enak-enak aja ya wkwk) Tapi, percayalah dibelakang foto dan postingan mereka, ada banyak kisah yang bahkan kata pun sulit mendeskripsikan dan saya yakin masing-masing orang punya kisah perjuangan yang panjang buat mencapai itu. Gak mungkin langsung ‘cling’ jadi kan muehehehe.

Suatu hari temen saya ada yang bilang saat saya mosting foto di IG, “Enak ya cuma kuliah di luar negeri, gak banyak mikirin ini itu, tinggal kuliah aja, bisa jalan-jalan kemana-mana.” Hihihi

Enggak, serius gak semudah itu. Perlu perjuangan kan buat semua hal. Termasuk buat jalan-jalan ahahaha :p

Saya yakin semua kisah punya cerita masing-masing. Dan tentu, tanpa berjuang-maka habislah cerita itu. 

Kagoshima, 8 Oktober 2017, 20:08 JST

 

Berkarya Untuk Semesta


“ Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Karenanya perhatikanlah bagaimana ujung penamu bergerak”

                                                                                     Salim A. Fillah

                                                                        

Malam kemarin menjadi begitu sangat special bagi saya XD hehehe, tepatnya satu hari yang lalu saya bergabung di diskusi online kepenulisan yang di komandoi oleh sahabat-sahabat dari Rumpun Aksara.  Why’s so special? Karena yang mengisi materinya mbak @novieocktavia hehehe! Engga deng. Karena semuanyalah. Iyya termasuk karena mbak novi yang jadi pematerinya juga. Beberapa bulan lalu saat orderan pertama kali anaknya mbak novi si “Menata Kala” itu, saya sudah jatuh hati duluan sama tulisannya. Benar-benar Inspiring deh pokoknya! best recommended book, eits bukan endorse yah! hehehe

Dan Alhamdulillah di diskusi online itu saya diberikan kesempatan bisa berdiskusi langsung dengan penulisnya. Bertambah eagernya saya karena diskusinya “talk about writing”, dimana saat-saat sekarang memang saya lagi di puncak kehausan dengan ilmu yang satu ini.

Menariknya lagi karena di rumpun aksara ini saya menemukan banyak penulis-penulis hebat yang tulisannya malang melintang di jagad ketumblran. Jadi agak minder juga sih bisa segroupan dengan mereka semua. Tapi bersyukur juga karena bisa diberikan kesempatan untuk sama-sama berbagi ilmu.

Yap. Di awal diskusi saya dibuat pangling loh sama prestasi dan kemampuan komunikasi mbak novi yang super interaktii! Masya Allah. Mulai menulis sejak umur 14 tahun. Usia yang sangat belia. Tidak heran kalau mbak novie sekarang memperoleh banyak karya, prestasi dan apresiasi dari banyak orang karena usahanya, semangatnya  untuk berkarya  dan itu dimulainya sejak dulu. It’s so facinated me!


Ini jadi semacam pelajaran buat saya sendiri, kalau menulispun butuh usaha dan perjuangan yang tidak main-main. Butuh jam terbang yang banyak buat bisa master di suatu bidang, apapun itu. Kata Malcolm Gladwell, ada “rule of 10000 hours”. tempuhlah “10 ribu jam terbang” untuk aktivitas berlatih yang terncana dan sistematis.


jadi kesuksesan orang itu ngak instan butuh proses yang panjang!


Banyak orang yang tadinya hanya melihat batas permukaan suatu lautan tanpa pernah memantau sejauh apa kedalammnya. Jangan melihat sesorang itu ketika suksesnya saja tapi lihatlah betapa banyak lika-liku perjuangan yang satu-persatu dia taklukan untuk menjemput kesuksesannya. Kita hanya tidak melihat langsung bagaimana mereka berusaha melewati jengkal demi jengkal ujian, bagaimana air mata dan tangisnya, bagaimana perjuangannya menaklukan rintangan demi rintangan.


Mbak Novi menceritakan bagaimana ia dulu mengalami penolakan yang datang dari orang lain, tapi itu justru dijadikan lompatan untuk terus menulis.


Tentang menulis mbak novi punya versi sendiri;

“Katanya menulis itu bukan hanya sekedar gerakan jari, tapi juga olah pikir dan olah rasa yang bersinergi.  Menulis adalah membingkai kata. Menulis tidak sekedar cerita. Menulis tentang bergerak, berbuat baik dan menyampaikan kebenaran dalam kebaikan. Menulis adalah cara pulang kepada hati, karena kalau sedang menulis berarti kita sedang belajar, bertumbuh, dan menasehati diri sendiri. Terakhir tapi paling penting, katanya kemampuan menulis itu titipan Allah, that’s why menulis tentang bergerak, berbuat baik, dan menyampaikan kebenaran dan kebaikan.“


Bagi saya sendiri, menulis adalah satu-satunya tempat dimana saya bisa menjadi diri sendiri dan tidak merasa dihakimi, dan saya senang berada disana.


Di tengah-tengah diskusi yang berlangsung alot, mbak Novi menyampaikan curhatannya tentang keresahannya melihat banyak anak muda sekarang ini yang full-engaged dengan sosmed. Saya satu pikiran dengan mbak Novi. Sebenarnya ini yang harus kita sikapi segera. Melihat gelombang arus sosmed yang kian pesat menjarah setiap waktu anak muda, maka sudah sepantasnya ada yang berani untuk tampil dan maju ke depan untuk menyuarakan kebaikan dan kebermanfaatan. Dan salah satunya dimulai dengan menulis, dengan berkarya. Seperti kata penyemangat mbak Nov, Berkarya untuk semesta!

Diakhir diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Diskusi yang sangat hidup. Ada banyak  pertanyaan yang masuk dan seketika dibalas oleh mbak Novie. Ada yang bertanya tentang cara menerbitkan buku, tentang membuat outline, pertanyaan tentang buku-buku yang dibaca pokokny macam-macam lah ditanyakan yang semuanya memberikan pemahaman baru untuk saya. Untuk segera memulai untuk berkarya. Karena dari karya kita lah nantinya peradaban itu dimulai.

Sungguh di luar ekspektasi saya dari diskusi kepenulisan ini, tidak hanya ilmu yang bertambah, tapi juga Alhamdulillah diberikan kesempatan memperluas jaringan friendship. Bisa kenal banyak akun tumblr yang dududu syalala tulisannya, inspiratif dan manfaatnya yang membahana.XD hehehe

The last but not least, semakin kesini saya semakin menyadari kalau peran kita sedang dibutuhkan. kita harus ikut andil untuk berkontribusi. Coba bayangkan saja, jika setiap kali kita memposting tulisan positive di tumblr ini, maka akan ada ratusan karya yang bisa jadi, asbab orang lain juga ikut bergerak bermanfaat dan berbagi kebaikan. Simplenya tulisanmu akan mempengaruhi orang-orang disekitarmu. Dan setidaknya, kita telah masuk kedalam golongan orang-orang yang saling tolong menolong dalam kebaikan. Bukankah pahala kebaikan karena mengajak orang lain berbuat baik maka pahala akan kembali kepda kita?

Yap, Investasi Akhirat!

Kalau kata mbak Helvy,

“ menulis adalah memahat peradabahan. Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi”


Saatnya kita berkarya untuk semesta, menebarkan kebaikan dan berbagi manfaat. Untuk sebuah peradaban yang sama-sama ingin kita wujudkan.

 

Salam semangat untuk semua sahabat Rumpun aksara! @naskahsenja @keyshawidya @duatigadesember @ibnufir @menatakata @atifadhilah @annisayz @annisadrms @yegirizkipratama @triafitria @nonaatata @ariqyraihan @tigapuluhnovember @kotak-nasi @taufikaulia @albiziailyas @gelangkaret @hujansaatsenja-blog-blog @greatpurple @bamzato @alephabet @aluraksara @tulisdulu @butir-renjana @ajaputri @danispratama @padanghijau @musyarofaah @choqi-isyraqi @koniginderrosen @sapasarah @fnibrass @rezkyfirmansyah


Selamat menulis,

Semesta menantikan karya terbaikmu!

Lovely thanks to  @novieocktavia and @rumpunaksara for this nice discussion! Syukran wa Jazakumullahu khairan katshiran.

Ditunggu yah diskusi-diskusi selanjutnya.

Makassar , 10 oktober 2017

Dianestari

100 reasons to love Hansol
  1. because i tell you so
  2. sm doesn’t appreciate him 
  3. so you should 
  4. he’s such a talented dancer
  5. every time he posts a new dance video on instagram my heart stops for a minute 
  6. like wow such smooth moves 
  7. his hip thrusts 
  8. hahahhahahahahahha im having palpitations just thinking about them 
  9. and he likes to sing along while he’s dancing
  10. the miss you fan cam
  11. and the little bit where he flirts with ten and yuta gets jealous 
  12. his singing voice is so soft and precious and lovely 
  13. even though we only heard it once 
  14. his voice in general
  15. its so low and soothing 
  16. especially when he was speaking satoori in that one promotional video
  17. he doesn’t say much but when he does talk its always a fucking treat
  18. that one time he did a squirtle impression
  19. any of his impressions are a blessing 
  20. and the video of kun teaching him to speak chinese 
  21. he looks very good in denim 
  22. and hoodies 
  23. and green
  24. ji hansol owns the colour green
  25. he’s just a simple weeb
  26. loves anime maybe a bit too much
  27. like find someone who loves you as much as hansol loves naruto
  28. and yusol
  29. he’s a good old yusol shipper 
  30. his reaction when he found out yuta was his secret santa 
  31. his unorganized instagram that keeps me living
  32. even though he doesn’t post consistently 
  33. when he posts old things from rookie era on instagram and leaves us all wondering what the fuck it means
  34. when he went to paris
  35. and became a daily vlogger
  36. his adorable little smile 
  37. even though he covers it a lot 
  38. and when he smiles really wide and his cheeks turn into shiny apples 
  39. his cheeks in general
  40. i wana poke them
  41. and his really soft lips 
  42. like seriously he needs to introduce nct to lip balm cause they are crusty boys
  43. and his adorable cupids bow
  44. and his gorgeous big eyes 
  45. he looks really good in eyeliner
  46. his eyelashes are so long im jealous
  47. and his cute little nose 
  48. his uneven nostrils yes i pay attention to his nostrils. one of them is bigger than the other
  49. and the boy has Good brows
  50. the short brown hair era that was a blessing to us all
  51. his looonnnggg legs 
  52. his butt
  53. no but seriously 
  54. he has a cute butt
  55. he’s really really cute 
  56. and doesn’t even have to try to do aegyo he’s just naturally adorable 
  57. even tough his soul leaves his body when he’s asked to do it
  58. ‘manly man from busan’
  59. when really he’s just a shy boy who wants to be loved 
  60. and he’s low key weird 
  61. the video of him and yongju at karaoke and his inner hype man is exposed 
  62. the rest of nct said he’s the funniest along with yuta and donghyuck 
  63. how he used to interact with fans on twitter 
  64. god the twitter mentions parties were a gift 
  65. he’s high key dumb
  66. and if you don’t believe me remember that time during the smrookies shows when he was meant to take a picture with a fan
  67. and he starting trying to take pictures of the fan
  68. annddd that time he called kun, ten
  69. anddd he forgets choreo seconds after he’s learnt it
  70. annddd the promotional video with taeyong where he kept messing up the pronunciation 
  71. annddd when he did a digimon impression during the rookies shows and everyone was like ‘wtf hansol’
  72. annnddd when he was leaving the hotel in thailand with johnny but forgot something and just left johnny mid sentence and sprinted back 
  73. anyway he’s dumb trust me 
  74. how he is such a good dad to the minis
  75. especially jaemin
  76. ab bros 
  77. like seriously they are so adorable together 
  78. his dogs
  79. how much he loves his dogs 
  80. the fact that he called one of his dogs doggo
  81. and likes to dress them up 
  82. when he choked on a chili in thailand and everyone just laughed at him
  83. was trying to act all tough and it back fired 
  84. when he saved tutorials of how to draw caricatures on his phone so he could draw them on the smrookies posters 
  85. he’s actually too precious
  86. that one time he said he as going to wear a couple jacket to school that says ‘im gay’
  87. i have receipts if you don’t believe me
  88. his cute chubby pics from when he was like 12 
  89. SO MUCH MELANIN 
  90. he is a selfie king 
  91. such visuals 
  92. many peace signs 
  93. ✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️
  94. like he needs to stop with the peace signs 
  95. anyway
  96. ji hansol is a mystery 
  97. and causes a lot of pain and tears 
  98. but its all worth it 
  99. cause he deserves so much love 
  100. so please love ji hansol :)

Originally posted by ncts

Ditengah perdebatan viral di sosmed, apakah seorang istri harus full di rumah atau bekerja di luar saya punya prinsip sendiri.
Buat saya istri saya (kamu) bebas menetukan mau apa kau kelak, bekerja, berbisnis, swasta atau negeri, full di rumah adalah keputusanmu sendiri.
Keputusan yang kamu buat sendiri, atas kesadaran, kesungguhan dan tanggungjawab atas pilihan.
Tugasku sebagai suami adalah mendukung, memfaslitasi, mendampingi untuk mencapai apa yang kau citakan.

Menyentuh Nyata

Sejak obrolan beberapa bulan lalu dengan beberapa teman tentang pilihan mereka untuk berhenti bermain Instagram dan Facebook.


Saya

lo kenapa gak pernah lagi posting di Instagram setahun belakangan ini, trus juga gak pernah keliatan akun lo bikin stories?”


Teman saya

“gak ada yang penting, gak ada yang kayanya bermanfaat, jadi males…”


“tapi kan followers luh udah sekian puluh K, sayang kan… Posting karya2 lo juga gak dosa kan?”



“Iya emang gak dosa, tapi kalau abis posting gw jadi ngabisin waktu. Dikit2 buka ig, cek udah berapa ribu yang like, klo kemarin dapet 2k like hari ini Cuma 1k lewat dikit gw jadi kesel.. Kayanya gw terlalu terobsesi mendapat kebahagiaan dari sesuatu yang semu ”


“oh,,,, Iya juga sih yaaaa”



Sebelum itu saya juga sempat bertanya pada teman yang berbeda perihal pilihan nya menutup akun Facebook


Saya

“teh, udah lama gak keliatan di Facebook, lagi puasa?”


Teman saya

“Iya neng, kayanya lebih aman tanpa Facebook nih”


“loh Kenapa?”


“Banyak gak bermanfaat nya, lama2 main Facebook Kok niatnya jadi beda”


tapi kan Teteh sering share tulisan bagus2 teh, Sekalian dakwah kan?”




“Awalnya begitu, tapi lama2 timbul rasa congkak dihati, maunya dapet like lebih banyak, cek notif sering2, belum lagi suka gelisah kalau gak ada yang koment, jadi waktu terbuang sia sia, gimana kalau lama2 sombong dan hatinya sakit.. Jadi mending ditutup aja, toh dakwah gak selamanya lewat Facebook.”



Akhirnya setelah sekian lama saya mikirin hal ini saya pun memutuskan puasa ig (sudah hampir sepekan)

Dan Facebook (hampir 3pekan)


Kalau dipikir2, setiap kali buka ig saya bisa menghabiskan banyak waktu terbuang.

Scroll terus sampai bawah, kalau udah bosan saya ke explore, kalau sudah bosan saya buka itu stories orang2..


Apa yang saya dapat?banyak…

Saya jadi melihat begitu indah nya hidup orang2, atau begitu rumit nya mereka.

Instagramer yang fotonya indah2.

Padahal sepengalaman saya foto indah dihasilkan dari cara kita mengolah gambar, pada aslinya ya biasa aja, indah jika dinikmati dalam nyata, jika dalam Maya saya lebih banyak lupa menikmatinya dalam nyata.

Seperti sebuah pemandangan gunung atau pantai.


Melihat ibu ibu muda dengan keluarga kecil nya, anaknya yang menggemaskan, kamar yang lucu2.

Alhasil kadang saya jadi iri, entahlah itu hanya dialami oleh saya atau juga yang lainnya.

Sama halnya melihat para Selebgram cantik bertebaran.

Kalau foto mungkin harus berulang2 (Kata mereka loh ini)

Cantik2, barang2 yang nempel mahal2 pun.

Bikin saya suka membandingkan fisik…

Hasil dari keduanya malah bikin saya punya hasad ke mereka (baca : ain)


Padahal bukan Salah mereka.

Si ibu2 itu dan para Selebgram geulis itu mereka memang punya, menjual, diberi, bisnis dan banyak alasan lain yang mereka bawa dalam sebuah foto (mari berpositif thinking)


Belum lagi gossip2 yang bertebaran, info hoax dll.

Rasanya gak ada yang bermanfaat buat diri ini.

Saya menghabiskan waktu untuk hal hal yang cemacam itu.

Kenapa?

Karena saya main ig gak ada yang bayar, malah bayar wifi nya :(


Itu salah satu alasan Kenapa teman saya memilih tidak bermain ig lagi selama setahun ini.

Padahal dia seorang photographer, banyak karya2 nya yang bagus.

Tapi nyatanya Kata dia “karya bisa di share, tapi gak selamanya di share di ranah maya, bisa kan cerita2 saat bertemu orang”

Beliau juga sekarang jarang memposting foto di ig bisnis kami, paling sering sebulan, trus di promote aja, jadi bisa keluar di timeline mereka yang satu negara dengan kami.


Katanya lagi “Kita jarang promote aja suka kewalahan sama kerjaan sekarang hahaha”



Beda lagi dengan Facebook.

Facebook yang menawarkan sebuah pemikiran yang sedang ada di otak kita ini, jadi seenaknya digunakan para penggunanya.

Ada yang post gak penting semacam:

Anak abege

“Kamu jahat, bikin aku kesel mulu”


Ibu ibu baru lahiran

“jam segini lembur jagain anak, besok gini lagi”


Upload foto makanan yang malah bikin saya laper, tapi gak bisa nemu disini makanan nya.


Upload foto anak sambil cerita


Upload album nikahan, abis itu lanjut bulan madu, hamil 2minggu…


Patah hati, sengsara etc.


Saya tidak akan menyalahkan mereka.

Tapi rasanya itu semua gak penting untuk saya ketahui.

Ujung2nya ya gak jauh lah, diri ini suka muak, dan pengen koment sambil ceramahin mereka..

Duh dengki amat ya dasar…


Belum lagi sekarang banyak postingan yang membuat keributan, pengen diajak debat banget, perbedaan pendapat, sampe masalah hukum a b etc…


Jari ini gatel pengen nyinyir, trus koment, trus kesel aja.

Jadi yang salah siapa? Mungkin mereka salah, tapi saya malas menyalahkan.

Harusnya saya mampu menjaga diri ini. Ketidakmanfaatan bermain ig adalah saat saya ingin memposting sebuah gambar, saya harus mengedit seideal mungkin.
Geser pot bunga, puter cangkir kopi, pake makeup sampe alis beneran rapi, foto pemandangan yang harusnya itu waktu istirahat dari kerjaan dan menikmatinya,malah kelamaan ambil pose terbaik camera atau sesuatu didepan. Eh pas udah siap fotonya, mikir caption nya hampir 3jam. Hih

Katanya lagi, kalau ada yang bisa ngabisin isi stories ig following nya itu juara bgt.

Saya jadi repot bgt makan, di foto dulu, berharap ada yang reply, sampe nonton film aja divideoin..
Duh Gila juga lama2 ini..

Ujung2nya ngabisin waktu.


Dan waktu saya terbuang dengan merasa kesal pada mereka di Facebook.
Bukan karena nasib kehidupan saya dan mereka.
Tapi cara mereka saat share apa yang sedang atau mereka rasakan.
Apakah semua itu benar?
Padahal entahlah, mungkin sebuah kepura2an.


Jadi, selama saya puasa.
Saya mengarchive banyak Foto2 di ig.
Kenapa? Karena risih aja tiba2 kalau ada yang Kepoin (siapa elu sih)

Dan saya menutup akun Facebook, dan off Instagram juga sementara, entah seminggu, sebulan atau idk yet.
Kenapa? Karena saya males juga ada yang kepo akun saya sampe ujung.
Hahaha (ini karena pernah nemu notif like dari seseorang yang ngelike postingan saya 7thn lalu, edun kan?)


Akhirnya saya memutuskan menguninstal mereka juga, Termasuk line meski Cuma buat chatting, tapi timeline isinya macem2 dan Kebanyakan gak berfaedah.

Dan mulai membuka Tumblr, mengexplore akun2 dengan tulisan yang menurut saya mengedukasi, menginspirasi, dan membawa saya pada pemahaman baru.
Tak usah di sebut yaaa… Soalnya banyak ehehehe…


Pagi-pagi saya jadi punya waktu buat jalan2 nikmatin taman sepanjang jalan di sg, liat2 pemandangan tanpa perlu ambil hape, ambil foto,
Gak perlu lah susah2 ke Cafe buat cari hal bagus buat di foto.
Akhirnya mampu ke pasar traditional buat beli tempe sama cabe buat di masak sendiri trus gak perlu foto mereka buat di post di stories…


Trus hati jadi tenang, gak berbeban banyak2, menikmati kehidupan alam nyata, menyentuh mereka kembali, menjadi orang yang biasa saja ternyata tidaklah berdosa.


Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan untuk tulisan ini.
Saya tidak menyuruh siapapun setuju dan mengikuti saya.
Aktif di sosmed tidaklah masalah jika kalian mengira bahwa hidup kalian bisa menyenangkan disana,bermanfaat, menemukan hal baru, menemukan keindahan, kenyamanan, dan kebahagiaan sekalipun.

Tapi Mereka tetaplah semu.
Kehidupan nyata pun tak selamanya indah…

Semuanya punya pilihan.

Dan saya sedang memilih untuk menyentuh nyata :)



Singapore, 28 September 2017

ATUR ATUR

“Kok kalau liat instagram lu, kayaknya hidup lu keren banget deh.”

“Hehehe, yaaaa, gitu lah emang gue”

Tanpa disadari, dengan adanya dunia sosial media sekarang, entah itu Instagram, path, facebook, dan berbagai platform lainnya, ada sebuah perilaku baru yang menjadi kebiasaan baru bagi penggunanya, yakni mengatur-ngatur kehidupannya.

Pernah suatu ketika, saya menjalani hari yang menurut saya itu biasa saja, berjalan-jalan di sebuah tempat yang biasa saja. lalu teman saya melambat, dan ia sibuk melakukan sebuah pose untuk melakukan foto.

“Untuk apa foto kayak begitu?”

“Buat di upload”

Beberapa waktu berselang dari kejadian tersebut. Saya mengunjungi IG teman saya karena penasaran dengan foto yang dilakukan sebelumnya.

Ketika saya melihatnya, wow, ternyata memang berhasil. Teman saya berhasil membuat kehidupan yang biasa-biasa, menjadi sesuatu yang seolah luar biasa di sosmednya. Fotonya indah, dan ia juga menambahkan caption yang menunjukkan betapa kerennya perjalananya, padahal, bagi saya yang menjalani, itu hanyalah hal yang biasa saja. Dan foto tersebut mendapat banyak likes dan juga comment dari orang-orang.

“Waaa, keren bro.” , “Kok seru banget sih”

Yups, dia berhasil, membuat sesuatu yang biasa, menjadi nampak luar biasa. Dia berhasil membuat image, dia berhasil mendoktrin orang-orang, dia berhasil menipu para followers nya.

Ya, tanpa disadari, perilaku ini sering kita temui. Kalau saya bilang, istilahnya adalah “Atur atur sosmed”. Perilaku ketika kita mengatur ngatur tampilan, foto, tulisan di sosmed kita dengan sedemikian rupa, untuk menunjukkan bahwa kita ini keren dan kita ini superior dibanding dengan orang lain.

Hal ini, mungkin tidak berbahaya bagi orang lain. Tapi hal ini, sungguh berbahaya bagi para pelakunya. Dengan sendirinya, ia akan disibukkan dengan mencoba mencari berbagai cara, agar para followersnya melihat bahwa kehidupannya begitu sempurna.

Di satu sisi, tatkala orang-orang ini sibuk untuk mengatur penampilan hidupnya di sosmednya, ada orang-orang yang sedang sibuk memperbaiki serta mengatur kehidupannya di dunia nyata.

Orang-orang yang sibuk mencari ilmu, orang-orang yang sibuk melakukan kebaikan, orang-orang yang sibuk merubah dirinya agar menuju kebaikan, ya, banyak pula orang yang seperti ini. Sosmed, jangankan mencicipi, mendengar namanya saja mungkin tidak pernah. Tapi kehidupan nyata, jelas-jelas mendapatkan manfaat dari perubahan kehidupannya.

Tidak, saya bukan sedang mengajak untuk meninggalkan sosmed. Tapi saya mengajak agar kita tidak lupa, bahwa daripada sibuk mengatur-ngatur tampilan kehidupan kita di sosial media, ada baiknya kita juga tidak lupa memperbaiki kehidupan kita pula yang sesungguhnya. Sehingga, tatkala kita memposting kehidupan yang luar biasa, itu bukanlah dibuat-buat, tapi karena memang itulah kehidupan kita, kehidupan yang luar biasa.

Oia, dan mengatur-ngatur tampilan kehidupan kita agar terlihat lebih unggul dari orang lain, bisa termasuk sifat sombong loh.

Apakah kita termasuk orang-orang yang seperti itu? Semoga tidak. Dan semoga kita sebagai pengguna sosmed, bisa menyibukan diri untuk terus memerbaiki kehidupan kita masing-masing.

ATUR ATUR
Bandung, 16 April 2017

uneg-uneg tentang selfie (2)

gue mau lanjutin bahasan tentan Selfie di sosmed. Di tulisan sebelumnya, gue bilang kalo hukum Selfie pada dasarnya mubah. Tidak haram. Tujuan gue nulis tulisan sebelumnya adalah, biar kita bisa lebih luwes memilih pendekatan dakwah kalau sudah tahu hukum dasarnya.

Kebutuhan orang untuk pasang foto di sosial media kan beda-beda. Ada teman gue yang bikin instagram khusus buat keluarganya karena dia kuliah di luar negeri. Dan ngirim foto ke ortu lewat WA itu rawan hilang. Akhirnya dia memilih instagram sebagai media untuk membuat album foto. Buat obat kangen orang tua.

Ada juga yang hobi backpacking dan selfie terus diupload ke media sosial untuk mendokumentasikan perjalanannya. Semua tentang kenangan dan mengabadikan kenangan pun nggak ada salahnya.

Gue hobi trevelling. Tapi gue bukan tipikal traveller yang biasa motret. Gue menikmati perjalanan sampai suka lupa kalau gue belum motret, kalau nggak ada yang ngingetin. Gue juga sering banget janji ketemuan sama temen lama tapi kok lupa foto buat kenang-kenangan. Ada orang-orang yang sebenernya nggak anti selfie tapi hidupnya emang agak jauh sama kamera. Apakah itu kelebihan? Enggak juga ~XD

Kebaikan atau iman seseorang itu sama sekali nggak bisa diukur dari betapa sering dia selfie.

Hukum selfie itu mubah. Mubah di sini bermakna boleh dilakukan. Apakah yang mubah itu bisa menghasilkan dosa dan pahala? Tergantung niat dan adab. Kalo misal lo mau bantuin lembaga charity dengan selfie dan nunjukin kalo lo ikutan campaigne mereka, insya Allah selfie lo berpahala. Tapi kalo selfie lo cuma buat pamer atau nunjukin status sosial, lo sendiri yang rugi karena hidup lo cuma di dunia maya doang. Masalah niat, kita sendiri yang tahu. Dan kita punya kewajiban buat memeriksa niat kita sendiri, bukan niat orang lain.

Tentang mubah, gue paling gampang ngasih contoh lewat makanan ~XD karena makanan itu kita sentuh sehari-hari. 

Mubah itu tingkatnya macem-macem. Ada yang kayak karbohidrat, dibutuhin banyak buat tenaga. Ada juga yang kayak lemak yang kebutuhannya di tubuh kita cuma dikit banget, rasanya enak sih. Tapi kalo kelebihan bikin nggak sehat.

Apakah selfie itu seperti karbohidrat, gula, protein, ataukah lemak bagi kita? Lagi-lagi kita sendiri yang tahu.

Andaikata selfie bagi kita itu ibarat lemak, kita tahu bahwa lemak itu nggak baik buat tubuh. Tapi di sisi lain, kita tahu kalo lemak itu nggak haram. Jadi kalo ada temen yang banyak makan lemak, kita nggak bisa langsung bilang ke temen:

“Lo makan lemak banyak, mau mati lo?“

Paling yang bisa kita lakuin cuma memulai diet lemak. Ngejelasin nggak bagusnya di sisi mana. Pelan-pelan sampai temen kita tahu dimana sisi nggak baiknya lemak.

“Tulisan ini ujung-ujungnya bilang kalo selfie itu nggak baik kan? Lha ngapain sebelomnya lo pake nulis selfie itu mubah?“

“Ya karena selfie emang mubah. Tapi yang namanya boleh kan bukan berarti harus dilakuin sebebas-bebasnya“

Selfie dan ngupload di dunia maya itu punya kekurangan.

Pertama: Karena saking biasanya kita selfie. kita kadang kelewat buat ngefilter mana yang layak dishare dan mana yang tidak. Dalam bukunya pak Rhenald Kasali yang Strawberry Generation, ada cerita dimana seorang suami nungguin isteri lahiran tapi malah sibuk ngrekam momen lahiran isteri. Padahal saat seperti itu, yang mestinya diprioritaskan adalah doa untuk keselamatan ibu dan bayi.

Kedua: Karena saking seringnya selfie, kita kadang lupa menikmati suasana. Ada banyak museum yang melarang pengunjungnya untuk mengambil foto. Dan kalau di dalam sana, gue malah ngerasa lebih fokus ngelihatin benda yang ada di sana dibandingin foto-foto yang endingnya ga bakal gue lihat lagi karena besoknya gue sibuk.

Ketiga: Karena saking seringnya selfie, temen kita jadi males lihat kita ~XD Soalnya newsfeednya isi 10 foto kita dalam sehari. Lalu kita menjelma jadi duta segala macam produk.

Itu kelemahan selfie menurut gue. Kalian pasti punya sudut pandang lain tentang kelebihan dan kelemahan Selfie.

Terus kalau misal kalian itu tipe orang yang hobi banget selfie buat iseng doang, gue punya saran dikit. Nggak harus lo turutin semua sih. Tapi siapa tahu, ini bisa jadi insight.

1. Ada baiknya instagram lo tuh diprivate aja. Biar lo bisa ngefilter siapa aja yang follow. Pastikan disana nggak ada akun yang berniat jahat.

2. Berfotolah dengan tampilan seperti biasa. Jangan bermake up tebel sampe diri lo di foto beda banget sama dunia nyata. Karena yang demikian dekat dengan tabarruj.

3. Kalo lo hobi backpacking dan ngerasa selfie itu buat kenang-kenangan. Silahkan aja. Tapi lo bisa nyari opsi lain, biar timeline lo nggak berisi foto lo doang. Lo bisa simpen selfie itu untuk kenangan pribadi. Habis itu, lo bikin foto sendiri yang punya ciri khas dimana kalo orang lain lihat foto itu, dia langsung nebak kalo itu lo yang motret. Gue jarang selfie sih. Tapi gue suka banget motret taman dengan gaya cat view, ato motret sepatu gue yang pindah-pindah mulai dari hutan sampai tempat berdebu ~XD

Gue rasa, yang dibutuhin orang dari travelling kita ya kisah tentang suka dukanya. Bukan muka kita yang terpampang di seluruh halaman instagram. Boleh sih kayak gitu. Tapi jatohnya malah foto-foto itu kayak bukan kisah travelling lo, malah jadi semacam foto lo yang diganti-ganti background nya doang. Photosop aja bisa kalo itu mah.

4. Kalo lo mau wefie campuran cewek dan cowok (ini common sense banget sih), tempat lo jangan terlalu deket sama cowok biar nggak terjadi fitnah.

5. Silahkan tambah sendiri tipsnya.

Silahkan Selfie tapi jangan jadi penunggu instagram =))

Kita Lawan Dengan Karya

Ramadhan kemarin, saya sempat sharing bareng @tatakhan dan @ariosandjoyo di acara Forum Indonesia Muda.

Saya ngobrolin tentang personal branding, bagaimana menjadi millennials yang berkarya di era digital. Ada rekamannya, nanti setelah ada di Youtube akan saya update juga di postingan ini.

Ngomongin tentang dunia digital, saya pribadi orang yang ga terlalu percaya dengan konsep anti dan blokir. Bukan berarti tidak perlu, tapi saya percaya konten negatif itu ga bisa dihentikan, karena meskipun kita blokir sana sini, toh mereka akan selalu muncul dengan cara dan metode yang baru.

Pornografi misalnya, Vimeo diblokir, mereka lari ke Bigo. Bigo diblokir, lari ke Youtube. Youtube diblokir, mungkin mereka lari ke Twitter, Facebook, dan lain-lain (loh kok saya tau banget).

Intinya: konten negatif itu ga bisa dihentikan, tapi bisa dilawan.

Caranya?

Dengan mengisi sosmed kita dengan konten positif; sharing, karya, cerita, informasi. Lawan dengan karya.

Yang melawan?

Ya kita, semua millennials yang punya akun sosmed, yang punya power untuk membuat konten positif, sekecil dan sesederhana apapun itu. Kita yang secara ga langsung jadi punya tanggung jawab untuk memastikan buat bikin timeline sosmed kita positif untuk semua orang.

Tapi saya bisa apa kak?

Mulai dengan berbagi keresahan dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Mulai dengan berbagi tentang isu-isu yang kita suka. Mulai dengan bercerita tentang kegiatan positif yang kita lakukan.

Sesimpel apapun itu, sesederhana apapun itu. Kita tidak pernah tahu seberapa besar dampaknya. Bisa saja satu tweet kecil yang kita buat bisa menyelamatkan hidup seseorang di luar sana.

Dengan semua konten negatif yang semakin bertebaran di sosial media, ini saatnya kita semua ikut ambil peran untuk melawan.

Kita lawan dengan karya.

KALAU RASUL DAN SAHABAT HIDUP LAGI

Hari ini saya sedang ngawang, apa jadinya jika orang-orang terdahulu kembali hidup di zaman sekarang.

Kalau para sahabat rasul hidup di zaman sekarang. Kira-kira mereka bakal share-share foto kehidupan mereka sehari-hari gak yah? Kan kebayang tuh, foto pas pergi ke masjid, captionnya “OTW masjid bray”

Atau foto pas lagi saling belajar agama, captionnya “Abis mentoring, sama 10 orang yang dijamin masuk syurga”

Atau foto banyakan depan masjid nabawi, captionnya “depan masjid”

Atau beres ikut ceramah rasul, mereka ngerubunin Rasulullah SAW, terus selfie bareng, diupload pake caption “yeaaah, ketemu Nabi Terakhir euy”

Atau kalau para sahabiat hidup di zaman sekarang, Kira-kira mereka bakal foto-foto selfie terus upload-upload di sosmed ga yah? Kan kebayang tuh, foto selfie, bikin caption “Lagi nemenin suami, dakwah. Semoga masuk surge ya say”.

Atau foto sendiri dengan pemandangan padang pasir, dengan gaya seperti model, terus upload dan bikin caption yang isinya hadits nabi “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari kiamat nanti selain akhlak mulia. (HR. at-Tirmidzi)”

Atau upload foto salah satu pria yang sholeh dan bacaan ngajinya bagus, sambil pake caption “Ikhwan pujaan, tilawahnya bagus, semoga berjodoh dengan dia”

Pada zaman dahulu, rasul mengatur segala tata kehidupan yang ada, mulai dari cara berperilaku, cara bersosialisasi, cara menghukum orang yang salah, cara berpakaian, cara beribadah, cara menghadapi masalah, cara menjalani hidup, dan berbagai hal lainnya. Dan setiap sahabat tak segan untuk bertanya “Ya Rasul, apa yang harus saya lakukan?” Karena mereka ingin mengikuti apa anjuran dari Rasulullah. Dan apa yang dianjurkan oleh Rasulullah, itulah yang dianjurkan oleh Allah SWT.

Kalau Rasulullah SAW hidup di zaman sekarang, kira-kira beliau bakal mengizinkan para sahabat serta keluarganya untuk melakukan hal tersebut gak yah? Kira-kira, apa yang Rasul perintahkan untuk bisa memanfaatkan sosmed untuk bisa menyebarkan islam dengan cara yang baik? Wallahua’lam bisshawab.

Saya hanya mengawang-ngawang saja. Karena kalau zaman dulu, umat muslim dilemahkan dengan menggunakan kekuatan fisik. Kini? Kita dilemahkan dengan gaya hidup, sehingga kita kadang terlalu sibuk menghabiskan waktu kita untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup kita.

Wallahua’lam bisshawab.

Anti china, negara Kafir, pelecehan seksual (makanya pake jilbab)

Lantas Gw Diam, lantas Gw duduk manis sama mereka yang matanya sipit Lantas mereka yang menghormatigw sebagai muslim Lantas Gw tinggal dinegri yang kata mereka negara nya orang Kafir. (Singapore dengan lebih dari 50 persen adalah Chinese)

Gw duduk Menjelajahi apa yang disebutkan mereka Gw diam Dengan mendengarkan cara mereka berbicara

Temen kerja mata sipit, laki2 usia 26 Bahkan dia yang nanya Atau selalu mengingetin “Kamu jam berapa mau sholat? Daripada nanti kerjaan gangguin, sholat aja dulu baru kita lanjut”

Gw yang suka limit uang tabungan Temen Gw yang nawarin “makan yuk, Gw bayarin, Gw cariin cafe halal deh”

Sedang Mereka yang disebutkan negara Kafir, gak pernah melecehkan perempuan dengan busana apapun.

Maaf, Gw bukan mau bela mereka. Atau Gw sok paham dengan semua ini.

80% temen Gw orang China Mereka baik, kalau pun ada yang gak baik paling hanya disifat mereka yang tegas. Iya, Mereka tegas.

Jika mungkin ada dari mereka yang akan menghancurkan kalian. Inget, gak semua dari Mereka orang jahat.

Bahkan Mereka menghormati agama Gw disini Menghormati tentang cara Gw beribadah, makanan dan busana.

Semoga agama yang kita pelajari, gak gampang membuat kita pandai menyakiti.

Tulisan ini Gw ketik setelah Gw cape setiap buka sosmed dengan apapun yang kalian obrolkan. Dan Gw juga gak semena mena menganggap kalian semua. Tapi ada beberapa.

Atau setelah ini kalian akan cap Gw sebagai “munafik?” atau juga kafir? Atau, liberal?

Gw berjilbab, Dan Gw pernah kena pelecehan seksual. Apa yang gak berjilbab atau yg pake semua dikecualikan?

Jilbab memang kewajiban, dakwah juga lebih Enak yang gak menghakimi saudara sendiri. Perempuan muslimah yang mau Atau tidak mau juga itu hak Mereka. Ajak Boleh, maksa Jangan.

Tulisan absurd.

Postingan ini bukan ngajak kalian buat suka sama Mereka, apalagi membenci. Hanya ingin, Semoga masih banyak orang bijak yang berpikir lebih luas dibanding memilih membenci sesama manusia

Gw

Yang juga pernah ada dititik seseorang yang dengan ilmu agama yang Kurang luas, dan pernah picik dalam pemikiran.

Bye

anonymous asked:

Assalamualaikum. Mb Dea, boleh share tips manajemen membaca dong, kayaknya dari tulisan2 mba Dea ini tipe org yang kutu buku banget. Terus gmana manage akses informasi dari internet soalnya bnyk yg tdk shahih infonya hehe.. jzk

Wa'alaikumussalam. Saya suka baca buku. Tapi bukan kutubuku banget yang kenal semua buku filsafat dari Plato sampe Thomas Hobbes. Bacaan saya random. Sebagian saya inget, sebagian lagi tidak.

Perlu dicatat bahwa wawasan itu ga cuma dari buku tapi lebih banyak didapet dari dunia nyata. Entah itu lewat omelan bos, obrolan sama mang uber, curhatan mahasiswa atau curhatan ibu-ibu di warung.

Buku itu ada untuk ngembangin pola pikir. Tapi kalo kita mencukupkan diri dengan buku tanpa terjun ke dunia nyata, kita cuma jadi raja yang kejebak di menara gading. Nggak bisa ngasih manfaat apa-apa.

Dalam sehari, saya punya jadwal baca buku paling tidak satu jam, jadwal twitteran setengah jam, jadwal nulis satu jam.

saya baca buku jam 10-11 malem, tumblr an sebelum subuh (kayak sekarang) sama twitteran setengah jam sebelum pulang kantor 😅, punya jadwal nonton film sebulan sekali dan ikut kajian kalo weekend. Kajian apa? Lagi-lagi random aja. Diutamakan di masjid sih. Tapi kalo ga ada ya cari video ustadz di youtube

Saya baca buku sama dengerin kajian buat nambah ilmu, main tumblr buat ngembangin kemampuan nalar dan nonton film sama twitteran buat tahu apa yang lagi jadi imajinasi dan bahan obrolan ummat hari ini.

Sosmed yang menurut saya paling penting meskipun saya benci adalah twitter. Karena di sana saya bisa baca banyak sudut pandang yang jujur mulai dari jokes receh, makian sampe pencerdasan.

Selain ngelakuin apa yang saya sebutkan tadi, saya berusaha membiarkan emosi berjalan apa adanya. Dalam artian kalo marah ya dilampiaskan marahnya, kalo seneng ya diekspresikan. Meskipun saya orang introvert yang nggak ekspresif….tapi membiarkan emosi berjalan apa adanya tanpa ngebunuh emosi tersebut akan memperkaya jiwa kita untuk lebih berempati. Lha gimana saya ngehandle rasa marah saya? Biasanya saya ngeluarin semua uneg-uneg saya ke temen atau ditulis…habis itu udah selesai. Ini beda banget kalo misal kita ngebunuh emosi dengan memaksakan diri memaafkan, pura-pura ga ada apa-apa padahal jiwa kita nyesek. Jiwa yang nyesek dan luka biasanya mudah juga buat nyakitin orang lain.

Genre buku apa yang saya baca?

Random. Biasanya gantian. Kalo misal budget bulan ini buat beli buku umum, bulan depan buat beli buku Islami. Gitu sih.

Dan tips yang nggak kalah pentingnya adalah tanamkan rasa cinta pada ummat dan coba bikin projek untuk berkontribusi ke ummat. Bisa dimulai dari hak yang sederhana entah itu nulis di tumblr yang bisa ngasih wawasan ke audience (bukan penggalauan masal mulu), beli sendal untuk masjid dan apapun itu lalu dikembangin skalanya tiap bulan. Boleh dilakuin sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Individu ataupun kelompok. Itu yang membuat nalar kita berkembang luas karena setiap pengalaman yang kita alami bisa otomatis kita proses untuk menambah kemampuan dalam berkontribusi ke ummat.

Saya kerasa banget efeknya kontribusi buat wawasan kita. Dulu pas kecil kan saya ngaji fiqih, aqidah dan tafsir. Tapi pas kuliah, semua kayak hilang ga berbekas.

Sejak saya dapat amanah jadi Kood Putri Departemen Media JMMI dan dipaksa kritis sama Liberalisme, semua pemahaman saya semacam di-recall dan bertahan hingga kini.

Ilmu itu memanggil amal. Jika amal tidak menjawab, maka ilmu akan sia-sia (Ali bin Abi Thalib).

Jadi jangan pernah berpikir kalo wawasan itu cuma datang dari buku. Ia bisa datang dari mana saja selagi hati dan akal kita menikmati hidup dengan penuh kesadaran dan cinta ~XD.

Eh ya lupa…gimana manage akses informasi dari internet? Kalo info yang kamu cari berupa berita, emang butuh verifikasi berlapis sih mengingat banyak sumber yang ga bener. Tapi ada kalanya internet bisa jadi sumber yang valid misal dari youtube nya ustadz, kultwit orang yang kredibel tentang bidangnya, atau podcast dari orang yang menurut kamu bisa dipercaya. Ga semua yang ada di Internet itu ga valid kok. Kamu cuma perlu teliti mengenali sumber informasinya aja
Becoming A NuParents, Are You Ready?

Hi, generasi milenials! Pembicaraan tentang menikah dan persiapan menemukan pasangan hidup belakangan ini jadi topik yang seksi, ya! Kapan pun, dimana pun, dengan siapa pun dan dalam konteks apa pun, tanpa disadari pernikahan selalu bisa menjadi topik yang diam-diam menyelinap.

Dengan luasnya jangkauan informasi di zaman sekarang, topik seputar pernikahan dan berbagai life-hacks menjadi pasangan yang baik bertebaran dimana-mana, seperti misalnya di sosmed, obrolan antarteman, seminar, text book, novel, komik, dan masih banyak lagi. 

Tapi, sadarkah kalian bahwa akan ada peran baru yang kita sandang setelah menemukan pasangan hidup dan menikah? Yes! Kita akan menjadi baby sitter Tuhan yang dititipi makhluk imut nan lucu yang akan menyebut kita dengan panggilan ayah dan bunda.  Lalu, mengapa topik yang sekarang ramai dibicarakan hanya berkisar tentang persiapan menuju pernikahan saja, ya? Padahal, satu hal yang perlu kita hadirkan dalam pemahaman kita adalah bahwa pernikahan salah satunya bertujuan untuk melahirkan keturunan dan membangun peradaban dengan cara mendidik dan mengasuh anak.

Sebagai generasi 90-an, tahun 2016 ini bisa jadi tahun mendebarkan untuk kita. Hayoo ngaku deh, pasti ada yang sudah mulai mengkoleksi referensi undangan nikah dan mulai kepo soal budget sewa gedung, kan? Ada yang lebih penting nih, guys! Kita perlu paham juga bahwa anak-anak kita nanti adalah calon-calon pemimpin di semua lini pada tahun 2045, tepat di 100 tahun Indonesia merdeka. Di tahun tersebut, anak-anak kita akan ada yang jadi dokter, pengusaha, birokrat, pengusaha, bahkan bisa jadi presiden. Maka dari itu anak-anak kita nanti disebut sebagai Generasi Emas Indonesia. Kece banget gak sih?

FYI, generasi kita saat ini sedang menghadapi tantangan besar, yaitu gap generasi dan perbedaan persepsi mengenai kesiapan mengasuh. Kebanyakan orangtua kita dulu membesarkan anak-anaknya dengan pengetahuan seadanya karena menganggap bahwa pengasuhan adalah hal natural yang bisa didapatkan seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, dulu ketika orangtua membesarkan kita, akses informasi terhadap ilmu parenting belum banyak tersedia seperti sekarang. Dampaknya, saat ini kita tidak tumbuh sebagai individu yang dipersiapkan untuk menjadi isteri, suami, bahkan orangtua. Padahal, perkembangan zaman dan situasi dunia hari ini menuntut kita untuk siap dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam mengasuh anak. Nah lho, gimana tuh?

Kalian capek gak sih terus-terusan mendengar berita tentang permasalahan sosial yang timbul akibat kesalahan pola asuh? Sebut saja dari yang terparah seperti porn addiction, sex abuse, fenomena LaGiBeTe, sampe ke permasalahan kenakalan remaja, merajalelanya generasi alay, galau, baper dan lain sebagainya. Itu yang terjadi hari ini, guys! Kebayang gak apa yang akan terjadi di zaman anak-anak kita nanti? Sudah sejauh mana kesiapan kita sebagai calon orangtua? 

Serem nih, ternyata kesalahan pengasuhan terhadap anak akan menghasilkan anak-anak yang bermental BLAST (Bored - Lonely - Afraid - Angry - Stress - Tired), sehingga mereka rentan terhadap bullying, peer pressure, konten dan nilai yang tidak baik, pornografi dan gaya hidup yang tidak sehat.  Padahal, calon-calon Generasi Emas Indonesia 2045 ini perlu kita didik dengan baik agar mampu bermental BEST (Behave - Empathic - Smart - Tough).

Bisakah kita menghasilkan anak-anak BEST jika kita tidak mengupayakan dan memperkaya diri dengan kesiapan mengasuh? Bisakah kita mendidik anak-anak agar menjadi BEST jika kita sendiri bermental BLAST dan hanya berbekal perbekalan seadanya? Oleh karena itu, kita membutuhkan banyak persiapan. Persiapan tersebut perlu dilakukan dari sekarang. Iya, guys, dari SE-KA-RANG. Masa iya belajarnya mau sistem kebut semalam?

Lalu, bagaimana caranya agar kita dapat mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua BEST?

Di awal tahun 2016 ini, beberapa inisiator muda yang tergabung dari berbagai latar belakang profesi mulai peduli pada permasalahan kesiapan pengasuhan dan telah menginisiasi sebuah wadah belajar bernama NuParents. Sebagai bagian dari gerakan Selamatkan Generasi Emas Anak Indonesia 2045, NuParents berfokus pada edukasi pra-nikah seputar kesiapan mengasuh. Selain itu NuParents juga memfasilitasi kita untuk belajar mengenal diri sendiri, mempersiapkan memilih calon pasangan dan tentunya mempersiapkan diri agar siap menjadi orangtua BEST yang akan melahirkan generasi BEST.

So, gimana kalau kita belajar dan bersiap bareng-bareng? Coming really soon, ya!

PENGHAPUSAN TERBURUK

“Wahai malaikat, kenapa aku dimasukkan ke neraka? Bukankah pahala ku banyak?”

“Tapi, di buku catatan amalmu, amalmu sangatlah sedikit”

“Dulu semasa hidup, aku senang bersedekah, shalat ke masjid, mengaji, ikut kajian, berbagi ilmu dengan orang lain, aku sering melakukan ibadah. Apakah tidak tercatat wahai malaikat?”

“Apakah selama hidup, kamu sering menyebar-nyebarkan info tentang ibadah yang kamu lakukan agar orang lain mengetahuinya?”

Pernahkah kita merasa senang dan tenang karena kita ini sering beribadah? Entah itu rajin salat hingga salat sunatnya, tahajud dan subuh di masjid, mengaji lebih dari 1 juz perhari, menghapal quran, bersedekah, berbagi ilmu dengan orang lain? Tentu, pasti kita senang, karena kita bisa mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Namun, kadang, para ahli ibadah ini lupa, saking banyaknya ilmu yang dia dapat dan merasa lebih baik dari orang lain, akhirnya dia melakukan sesuatu yang disenangi oleh syetan, yakni riya atau sombong karena merasa ibadahnya lebih baik.

Di zaman super canggih dan keren ini, mungkin seringkali kita melihat teman-teman kita  yang akhlaknya baik dan rajin ibadah, dengan sengaja memosting atau memamerkan ibadah serta kebaikan yang telah dilakukan.

“Aduh ngantuk banget siang ini, maklum tadi pagi abis subuh berjamaah nasional di masjid komplek” *pake foto mata merem unyu-unyu

“Ternyata, baca 1 juz 1 hari itu, cukup melelahkan yah. Tapi untuk ibadah, tetep semangat!” *pake foto muka ditutup setengah pake qur’an

“Ibadah harus terus maju” *foto lagi tiduran di masjid

Atau kadang yang membuat saya suka habis pikir, terkadang agar tidak terkesan riya, maka postingan itu dibuat dengan nada yang lebih islami.

“Alhamdulillah ya Allah, hari ini, lagi-lagi saya bisa sharing ilmu saya di hadapan banyak orang. Berkat-Mu lah saya bisa berbagi inspirasi kepada banyak orang.” *pake foto yang lagi ngisi seminar

“Alhamdulillah, sungguh karena kuasa Allah, saya bisa ngasih sumbangan kepada anak yatim. Ya walaupun sedikit, tapi saya bisa ngasih juga. Makasih Ya Allah, karena kau bisa sedekah.” *foto dengan anak-anak yatim

Ya, ini sering terjadi di sekitar kita, mungkin kita juga pernah melakukan ini. Hati-hati, tatkala kita melakukan hal ini, bisa jadi kita terjerumus dalam perilaku riya

“Tapi, bukankah banyak yang juga suka posting seperti itu? Biasa aja kali? Lebay lu ah” banyak yang akhirnya membalas seperti ini ketika diingatkan. Lantas, pertanyaannya kita kembalikan, apakah karena postingan seperti ini banyak yang melakukan, apakah itu jadi diperbolehkan?

Pertanyaan terbesarnya? Memang kalau tidak diposting, kenapa? Bukankah terkadang kita ini posting karena kita ingin orang-orang tau? Dan bukankah kita senang, ketika kita mendapat likes, comment, ataupun follower baru karena postingan kita?  Yups, kita baru saja kena jebakan syetan.

Riya adalah jebakan terbaik dari syetan, guna menjatuhkan orang-orang yang rajin ibadah, karena setan sadar, orang yang rajin ibadah itu gak mungkin diajak males ibadah, tapi akhirnya syetan membuat hati manusia itu merubah niatnya, dari niat ibadah untuk Allah, menjadi niat untuk mendapatkan pujian karena ibadahnya. 

Kita ngelakuin kebaikan ini biar bisa dipost di sosmed, biar keliatan orang, biar dipuji, biar dilikes, biar dicomment, biar nambah follower, biar di reblog. Dan akhirnya, ketika sedikit bahkan tidak ada yang likes, comment, reblog, atau penambahan follower, kita hapus postingan itu dan akhirnya males ngelakuin ibadah tersebut lagi.

Jika kita ini posting agar Allah tahu apa yang kita lakukan, sesungguhnya tak perlu repot-repot posting, toh Allah kan ngecek amalan kita bukan dari postingan IG, FB atau Twitter. Allah SWT hanya perlu ngecek buku amalan kita, dari malaikat raqib atid yang setiap saat nemenin kita.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8)

Hati-hati, Ketika di dalam hati manusia ada perasaan ingin dipuji oleh orang-orang karena ibadahnya, maka kita sudah termasuk golongan orang riya. Sekalipun kita berkelit “ini untuk mengajak kebaikan”, “ini menyebarkan semangat”, kita tidak pernah bisa membohongi Allah SWT, karena Allah maha tahu isi hati manusia.,

Dan kerugian terbesar bagi ahli ibadah yang akhirnya riya, yakni Allah akan menghapus segala pahala yang telah mereka dapat dari perbuatan baik tersebut, tanpa tersisa sedikitpun untuk dibawa ke akhirat. Maka, riya adalah bentuk penghapusan pahala terburuk yang bisa dilakukan oleh seorang yang senang beribadah. 

Maka, jagalah diri kita dan teman-teman kita dari riya, ini sangatlah bahaya, karena telah menjadi lumrah yang berjamaah. Semoga kita menjadi orang yang senantiasa bersabar untuk tidak mengharapkan pujian dari manusia, termasuk penulis, karena sadar bahwa saya pun masih suka khilaf.

PENGHAPUSAN TERBURUK
Bandung, 6 Maret 2017

1..2..3..Bye!

Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Seperti diberi kesempatan untuk hidup lagi, seperti bangun dari tidur yang lama. Seperti lega dari haus berkepanjangan, atau seperti teduh dari badai yang bertubi-tubi. Kita dibuat senyum-senyum sendiri. Yang biasanya malas bangun pagi pun, bisa jadi morning person seketika. Bahagia karena akan bertemu, atau sekedar menikmati bagaimana rasanya ada seseorang yang mengucapkan selamat pagi. Kegiatan biasa bisa naik tingkat menjadi luar biasa, tergantung dengan siapa kamu melakukannya. Duduk di teras memandang hujan, misalnya. Atau berbincang hal tak penting di telepon sebagai kegiatan menutup hari. Mimpi-mimpi pun tumbuh tanpa disadari, terbang menari-nari di atas kepala. Semakin hari semakin membesar seiring harapan-harapan yang ditiupkan ke dalamnya. Seperti menulis nasib sendiri di buku takdir. Sejenak kamu lupa, bahwa semestalah sutradaranya, bukan kamu. Hingga akhirnya utusan semesta menepuk pundakmu, dihilangkannya mimpimu dalam sekali tiup. Kamu, mau tak mau meredup.

Gairah hidup melemah, bosan merajalela. Belum lagi harus menahan nyeri di dada sebelah kiri. Rasanya kebiasaan bersamanya terlalu melekat. Jatuh cinta berubah menjadi seperti sebuah jebakan. Di mana pelakunya bisa saja terperangkap di dalam lingkaran kenangan yang diagung-agungkan sendiri. Tak mau pergi. Tak ingin pindah. Lalu, mau sampai kapan? Sedang si dia sudah bisa haha-hihi dengan entah pengganti keberapa setelah kamu? Nah, ini sedikit tips untuk kamu-kamu yang terlanjur nyaman di istana kenangan agar segera beranjak. 

1. Tutup Semua Akses

Jika kamu merasa termasuk tipe yang gampang terbawa suasana, ada baiknya menutup semua akses yang memungkingkan kamu melihat dia, atau aktifitasnya. Bisa dari unfollow semua sosmed, juga hapus kontak. Bukan, ini bukan drama. Karena masing-masing dari kita berbeda. Ada yang cukup kuat, tak terpengaruh walaupun foto atau berita dia bersenang-senang wira-wiri di depan hidung. Nah, beberapa sisanya, itu menyiksa. Melihatnya, hanya akan mengajakmu menyelam lagi ke masa-masa kelam. Oiya, kalau sudah, ya dengan segenap kekuatan jagalah jarimu agar tidak mengetik namanya di kolom cari manapun, ya. Tahan.

2. Sibuk

Klise, ya? Klise tidaknya, sibuk adalah salah satu cara ampuh membunuh waktu. Kamu bisa cari hobi baru, yang sebelumnya lewat di kepalamu saja tidak. Atau malah sekarang waktunya mencoba hal-hal yang kamu takutkan. Sibuk dengan hobi baru biasanya akan menuntun kamu ke lingkaran pertemanan yang baru. Di sini, peluang kamu membaik besar sekali. Jangan menutup hati. Perbanyak teman, percantik diri. Kamu harus belajar nyaman dengan diri sendiri, walaupun tanpa pasangan. Yakinkan diri, bahagiamu letaknya di depan. Waktu hanya akan berjalan maju.

3. Cintai Diri Lebih Baik

Sebelumnya, cinta yang kamu punya harus kamu bagi dua dengan pasangan. Kebanyakan yang terjadi, kamu kehabisan cinta buat diri sendiri, karena sepenuhnya kamu tumpahkan buat dia. Alhasil, kalau akhirnya berpisah, tak ada yang tersisa. Sekarang waktunya kamu membayar itu. Senangkan diri. Egoislah. Habiskan waktumu untuk kesenanganmu. Yang sebelumnya tak bisa menikmati makanan favorit karena si dia alergi, misalnya. Nikmati sekarang. Belanja-belanja barang dambaan, atau travelling sendirian bisa dicoba. Apapun, untuk menyenangkan diri. Cinta, perhatian, waktu, bahkan materi, sepenuhnya untukmu. Nikmati.

1..2..3..Bye! Congratulation, you’re officially moved on. Kuncinya satu; bahagia itu terpancar. Jika wajahmu masih digenangi kenangan masa lalu, tak akan sedap dipandang. Jika di kepalamu masih cerita itu-itu saja yang diputar, berbincang denganmu tak akan menyenangkan. Berbahagialah, baru tularkan itu untuk sekitar. Smile! :)