sorgemagz

youtube

Banda Neira menerima sebuah undangan dari seorang ayah yang ingin menyanyikan lagu “Di Beranda” untuk anaknya yang bernama Inez yang akan melanjutkan pendidikan di Melbourne, Australia. Sebelumnya, beberapa kali Inez meminta ayahnya untuk mendengarkan lagu “Di Beranda” sampai akhirnya sang ayah mengerti maksud dari anaknya tersebut.

Dari situ Arsi, sang ayah, bersama bunda Rina dan Billy, sang adik, memberikan kejutan kepada Inez dengan mengajaknya di Bandung untuk bertemu, bercengkerama dan bernyanyi lagu “Di Beranda” bersama dengan Banda Neira.

Simak spesial show dari Banda Neira yang direkam oleh tim kami.

(via @sorgemagz)

vimeo

(via www.sorgemagz.com)

Puisi-puisi cinta erotik, surealis, hingga politik, merupakan tema-tema yang sering diangkat oleh Pablo Neruda (Chile). Ia merupakan salah satu penyair berbahsa spanyol terbesar di abad 20. Dalam puisi berjudul “POETRY” ini, Pablo Neruda mencoba menceritakan eksistensi dirinya sebagai bagian dari semesta melalui sebuah puisi. Puisi inilah yang membuat Rara Sekar Larasati, seorang gadis penggemar sastra, tergugah untuk menginterpretasikan dan memvisualisasikan bersama tim Mari Berpuisi kali ini. Dengan berbekal tiga botol cat akrilik, sebuah pekarangan mini, dan jalan-jalan malam di Bandung Utara.. voila! jadilah visualisasi puisi berjudul Poetry. Silahkan menyaksikan…

Tim Produksi Mari Berpuisi

Rara Sekar – Poetry

Produser
Budiyoga

Konsep
Banyubening Prieta

Manajer
Kania Mamonto

Talent
Rara Sekar

Juru Kamera
Adhito Harinugroho
Gilbert Timothy

Video Editor
Adhito Harinugroho

Thanks www.sorgemagz.com for the chance and the hardwork you guys have put into this video!

Love it! :D

Surat untuk Teman

Temanku,

Sudah lama kita tak berjumpa. Apa kabarmu di sana? Berita buruk, kabarku tidak baik. Setiap hari aku terbangun dengan perasaan gelisah, terutama setelah menonton televisi atau membaca berita di koran. Aku tidak tahu denganmu, tapi sebagai orang Indonesia, aku sudah sampai di tahap dimana aku merasa sangat miris. Bukan pesimis, hanya sangat miris.

Ingat hari ini, 4 tahun yang lalu? Ratusan massa berpakaian putih-putih dengan atribut Front Pembela Islam menyerbu Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Tuntutan aksi damai di Monas kala itu sederhana: agar nilai Pancasila dilaksanakan di Indonesia. Ibu-ibu yang tergabung dalam aksi itu berhamburan, menjerit ketakutan, bahkan ada terluka. Ingatkah kamu? Mungkin beberapa dari kita sudah lupa. Namun hari-hari ini rasanya tidak terlalu penting apakah kita ingat atau tidak. Cukup dengan melihat keadaan Indonesia saat ini, kita jadi lebih berduka, karena banyak hal tidak kunjung berubah.

Kekerasan atas nama agama justru kian meningkat di negeri ini. Dari 135 kasus pada tahun 2007 menjadi 244 pada tahun 2011. Tahun 2012? Hm.. Beberapa dari kamu mungkin mendengar pernyataan Menteri Luar Negeri di Sidang UPR PBB 23 Mei lalu. Ia mengaku Indonesia sepenuhnya melindungi kelompok minoritas agama seperti Ahmadiyah. Pernyataan yang aneh. Karena nyatanya sudah ada 30 masjid Ahmadiyah dipaksa ditutup oleh pemerintah daerah. Belum lagi kasus GKI Taman Yasmin dan HKBP Filadelfia yang tak kunjung selesai.

Kenapa pemerintah kita senang memelihara ruang untuk syiar kebencian atas nama agama ya? Menurutmu, pemerintah yang tidak bisa menjalankan fungsinya secara optimal, apakah masih layak disebut pemerintah?

Lalu belakangan ini, aku juga mengamati reaksi masyarakat Indonesia. Aku ingin tahu, apa cuma aku yang merasa miris atau banyak juga yang peduli dan merasa sedih melihat Indonesia hari ini? Aku melihat teman-temanku banyak yang reaktif, terutama di media sosial seperti twitter dan facebook. Pada mulanya aku senang sekali, melihat reaksi teman-temanku sebagai wujud kepedulian mereka. Namun lama-lama aku menemukan sebuah pola, dimana aku turut terjebak di dalamnya, sebuah pola bernama collective amnesia. Hari ini terjadi sesuatu, hari ini kita bereaksi. Besok? Kembali lupa dan tidak peduli. Dan begitulah seterusnya.

Apa mungkin hal ini terjadi karena kita merasa tidak saling terhubung? Ketika saudara kita terluka, dilempar telur busuk, ditimpuk batu, kita tidak merasa terluka? Kalau begitu, apalah arti nasionalisme yang kita agung-agungkan ini? Kamu mungkin bisa bantu aku, teman.

Aku juga takut dengan hanyutnya kita di dalam pola ini. Sering aku melihat kita terjebak dalam empati dan simpati yang semu, dalam pseudo-empathy, pseudo-sympathy. Kita peduli karena kita tahu ada orang yang akan menilai kepedulian kita. Ada yang akan memberi pengakuan, karena kita dapat menunjukkan kepedulian di depan umum. Aku takut kita semakin jauh dengan rasa kepedulian yang tulus. Aku takut kalau semua ini hanya etalase kepedulian untuk memberi nilai tambah pada eksistensi siapapun yang dapat melontarkannya. Aku takut kalau rasa kepedulian kita hanya berhenti sampai di mulut.  Bahkan malah jadi roda penggerak mewabahnya amnesia kolektif di kalangan pemuda seperti kita.

Lalu aku berpikir, adakah jalan keluar untuk kekacauan ini? Di tingkat pemerintah, jelas dibutuhkan kepatuhan serta penegakkan hukum. Pemerintah tidak bisa lagi memberikan toleransi terhadap perbuatan melawan hukum. Apalagi dengan cara-cara kekerasan dan mengancam keselamatan, termasuk atas nama agama.

Menurutku pendidikan juga sangat berperan dalam meningkatkan kesadaran bertoleransi antar sesama. Toleransi tidak bisa terwujud dengan hati yang ingin membalas benci dengan benci. Toleransi hanya mungkin, ketika kita berhenti mempersoalkan atribut keagamaan, kepercayaan, ras, dan budaya lalu melihatnya sebagai seorang manusia. Seorang manusia yang setara, sehingga kita akan memperlakukan mereka layaknya kita ingin diperlakukan.

Tapi aku ragu kalau pendidikan di Indonesia mengajarkan nilai toleransi dengan baik. Aku ingat ketika kelas 5 SD, mungkin ada kamu duduk di sebelahku pada kelas agama. Pak guru sedang menjelaskan tentang surga dan neraka. Waktu itu ia berujar di depan kelas, “Siapapun yang bukan Islam agamanya, pasti masuk neraka.” Lalu kuberanikan bertanya kepada pak guru, “Pak, Ibu saya Katolik. Ibuku juga akan masuk neraka?” Lalu pak guru menjawab dengan tegas, “Iyalah!” Aku masih ingat temanku memegang tanganku dan mencegah aku keluar dari kelas lalu kabur dari sekolah. Dan seperti di ruang kelas itu, hatiku sekarang masih terluka. Bukan lagi karena ucapan pak guru, tapi melihat pendidikan yang mematikan kemanusiaan masih terus dilanjutkan.

Aku juga sedih, melihat sekolah malah menjadi pabrik penghasil manusia yang hanya menguasai baca-tulis-hitung. Manusia mekanistis yang menganggap hidup hanyalah sebuah kompetisi, siap menghantam siapapun yang dianggap sebagai musuh. Mereka tak sadar pikiran mereka hanya digunakan negara sebagai objek ekonomi, lalu dipamerkan lewat angka GDP di komunitas internasional.

Menurutmu, apa yang akan terjadi bila kita terus diam melihat pembiaran negara atas tindak kekerasan? Setiap hari yang terlewati dengan diam, bagiku seperti penghinaan atas Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Aku rasa setiap detik dari ketidakpedulian kita seperti mengubur perjuangan para founding parents. Perasaanmu seperti ini jugakah?

Jujur, aku ingin melakukan sesuatu. Dan aku percaya kamu juga. Saat ini, aku memang belum bisa berjanji kepadamu apa-apa. Namun kepedulianku itu akan aku wujudkan dalam kerja dan hidupku. Aku ingin hidup merasakan perbedaan, dan mencoba mencari pemahaman atas kemanusiaan yang melampaui perbedaan. Tanpa benci, tanpa caci maki, namun dengan kekuatan rasio dan empati (belum tahu persis bagaimana tapi aku harap aku sedang berjalan ke arah sana, haha..). Aku ingin bekerja menyuarakan kebenaran. Tak henti menuntut negara menegakkan HAM, melawan kekerasan. Lalu suatu hari membangun sekolah yang mendidik manusia yang saling memanusiakan. Dan alasanku menuliskan ini kepadamu, agar suatu hari ketika aku lupa, entah disengaja atau tidak, kamu bisa mengingatkanku.

Teman, aku sangat menunggu balasanmu. Jangan khawatir, kalau kamu juga takut lupa, kelak aku bisa mengingatkanmu jika kamu membalas tulisan ini. Lagipula, apalah artinya ketika kita meminta negara untuk melawan lupa, tapi kita sendiri sering lupa untuk peduli. Ya?

Jakarta, 1 Juni 2012

Salam dari temanmu,

Rara Sekar Larasati

Tulisan ini dimuat di buletin #2 “Lawan Tirani Mayoritas"
Siap unduh di http://www.sorgemagz.com/?p=1499
(via www.sorgemagz.com)

Banda Neira Ngamen di Jakarta

Apa jadinya kalau Banda Neira ngamen di warung atau di gang-gang rada bronx di daerah Jakarta Pusat? 

Ga diwaro.

Hahaha.

Jadi ceritanya begini. Setelah manggung di acara Pameran Teknologi Tepat Guna di KontraS, rencananya karena waktu itu udah sore, terus suasana senja di Jakartanya menarik hati, akhirnya terpikir oleh Dhito, aku dan Nanda, gimana kalau kita sok-sok bikin Take Away Show sambil jalan keliling Menteng? Kayanya seru! Walau kualitas musik apeu tapi gapapalah kita coba haha.

Gataunya ga lama kemudian hujan. Yak, batal rencana itu. Dan karena super laper, akhirnya aku giring aja Nanda dan Dhito buat makan di warung Ibu Haji di belakang kantor KontraS. Di warung Bu Haji ini ada salah satu mbaknya yang suka banget sama si Nanda, mbaknya ngakunya namanya Tulip (?). Suka godain Nanda sampe minta diadd di facebook. Hahaha. Selagi aku ngobrol sama Dhito tentang film-film dokumenter bagus (cie berbobot banget ngobrolnya), si Nanda sibuk ngobrol sama Mbak Tulip. Ini lebih cie lagi deng hahaha. Nah sambil makan, terpikirlah oleh Dhito untuk tetap rekam video Banda Neira selagi bersama (berhubung jarang). 

Kebetulan aku dan Nanda baru rampungin beberapa lagu baru persiapan rekaman. Setelah makan direkamlah oleh Dhito sesi kami latian di warung Bu Haji itu, dengan latar belakang Tulip ngintip-ngintip. Hahaha sayang video ini belum ada.

Setelah itu, sambil jalan terpikir ide lagi buat bikin sesi ngamen di gang-gang sekitaran warung Bu Haji. Beda ya, kalau Vincent Moon videonya ada konsepnya, kalau ini semuanya mendadak aja sekepikiran pas lewat. Hahaha ngawur emang. Ya sudah akhirnya aku dan Nanda ngikut aja sama idenya Dhito dan menghampiri sebuah warung. Beli minum dulu di situ biar ga terlalu kaku sama si ibunya.

“Main lagu apa nih?” Lagu Banda Neira kan nelangsa kalau ngamen lagu kita kayanya orang jadi makin males hidup di dunia ini. Haha lebay. Akhirnya, berhubung Nanda lagi gandrung lagu-lagu Nosstress, kita coba cover lagu Tanam Saja - Nosstress. Versi ngaco.

Liriknya apalagi, haha masa ada macan di kebun? Terus yang benernya bukan ‘tentang jagung’ tapi 'tentang capung’. Haha silakan dengar lagu aslinya di sini. Bagusan Nosstress ke mana-mana pastinya. Ini lagu favorit aku nih, duh, semoga kakak-kakak Nosstress mengampuni kesalahan fatal ini haha. #fail

Oya, kalau diperhatiin, di akhir sesi ngamen itu aku dikasih 2 ribu rupiah sama si ibu warung! Itu ga direncanain macem FTV gitu. Makanya ada reaksi agak kaget haha, seru.

Setelah itu sebenernya ada sesi nyanyi di bawah hujan, lagu baru Banda Neira juga, berjudul Hujan di Mimpi (sok-sok nyanyi di bawah hujan dengan judul lagu ada hujannya). Tapi nampak ga layak untuk ditampilin yang adegan itu, belum lagi si Nanda gitarnya ditaliinnya pake rafia yang dibeli di warung tadi hahaha nelangsa style.

Hujannya semakin deras. Akhirnya kita berteduh di sebuah persimpangan gang. Gataunya lagi banyak 'pemuda’ lagi nongkrong gitu (setelah selesai sesi rekam merekam katanya sih ini preman-premang Menteng HAHA). Dhito dateng dengan pedenya bilang, “Ya bang, ini ada calon band terkenal nih mau numpang nyanyi ya!” Tampak wajah-wajah kaget dan bingung sebagai respon atas pernyataan Dhito tadi.

Aku langsung ngakak dan nyeletuk keras, “Apaan edan band terkenal?! Maksa gila.” dengan nada ala anak Bandung banget.

Terus akhirnya tampillah Banda Neira di depan pemuda-pemuda yang sibuk dengan Nexian dan Crossnya. Haha, sebenernya pas lagi nyanyi aku ga tau mereka lagi sibuk apa, dengerin atau ga. Ngerasanya sih ada yang nonton. Ternyata pas liat videonya OH pada ga merhatiin deng. Hahahaha. Freak juga nih video. Jelas, masih jauh dari status 'calon band terkenal’.

Belum lagi pemandangan tangan aku yang cedera itu ganggu banget. Kesannya kaya cewe-cewe yang suka berantem gitu, padahal itu tangan kepelintir pas… lagi mau buka celana. Haha hadeuh hidup.

Video ini juga semakin berwarna dengan adegan ibu-ibu berpayung polkadot yang mampir dengan muka herannya? Haha. Dan jangan lupa sapu ijuk yang mendadak jadi maracas alternatif.

Secara keseluruhan, walau sebenernya ini lagu versi belum 100%, dan yang 100% udah ada dan siap dilatih dan direkam minggu depan, video ini keren banget. Apalagi tone videonya itu luar biasa banget. Good job brok Dhito alias @nebulaku! Proses ngerekamnya juga seru dan menyenangkan sekali.

Jujur, senang sekali rasanya proses berkarya Banda Neira didukung oleh teman-teman @sorgemagz yang terus ikut berkarya juga bersama Banda Neira. Ga sabar minggu ini bakal ada video baru lagi yang ga kalah freaknya tentunya hahaha.

Sekian dulu untuk malam ini, semoga video ngamen ini menginspirasi Banda Neira untuk latihan lebih banyak lagi. 

Salam,

Rara Sekar dan Ananda Badudu
Banda Neira
19 Desember 2012

Banda Neira di Sekolah Kita

Setiap dua pekan sekali mushala sempit dan pengap di tengah kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Bogor, bersalin rupa jadi kelas. Anak-anak kecil dari berbagai kampung mengerubung tatkala pengajar “Sekolah Kita” bertandang ke sana.

Hari itu, Minggu 7 Oktober 2012, ada sekitar 40 anak ragam usia hadir di mushala. Kebetulan kami jadi pengajar tamu di Sekolah Kita. Ikut nimbrung kaka-kaka pengajar tetap Agustina Ana dan Nuryadi. Tiba di sana anak-anak sedang belajar membaca huruf Arab. Sebagian duduk berhamburan di dalam mushala, sebagian di teras depan.

Setelah selesai belajar bahasa Arab, tiba saatnya kami berkenalan dengan mereka. Anak-anak duduk rapi dalam mushala, satu per satu tanpa malu-malu menyebut namanya. Kelas pengajar tamu dimulai sesi mendongeng cerita “Abu Nawas, Aceng, Kerbau, Kucing, dan Semut.” Ah, kami tak tahan lihat anak-anak itu meniru tingkah setiap binatang yang disebut dalam cerita. Lucu sekali.

Setelah itu ada sesi belajar saling menghargai. Anak-anak diminta tampil berkelompok, maju ke depan nyanyi apa saja. Setiap selesai tampil, teman-teman yang nonton tepuk tangan dan teriak keras-keras sampai gaduh kelas dibuatnya. Semua tampak gembira hari itu, meski ada satu dua yang nangis karena ibunya tak tampak mata.

Kampung Cibitung tempat Sekolah Kita berada bukan sembarang kampung. Barangsiapa hirau akan masalah sengketa tanah mungkin pernah mendengar nama Kecamatan Rumpin, Bogor. Di sana rumah warga kampung berbatasan langsung dengan tanah tentara Angkatan Udara. Sejak lama warga dan tentara berbeda pendapat soal siapa pemilik tanah. Timbullah konflik dan sengketa. Seolah tak ada pilihan, anak-anak Rumpin harus terima hidup bersandingan dengan sengketa dan konflik dengan tentara.

“Kami tak tahu kapan sengketa akan selesai, mungkin sampai anak-anak kami besar konflik masih ada,” kata Ibu Neneng kepala “Sekolah Kita”.

Sebelum berpisah, seolah tak mau kalah kami tampil juga di depan anak-anak. Satu lagu kami mainkan di depan mereka. Lagu Rindu (musikalisasi puisi Subagio Sastrowradoyo). Sungguh cepat anak-anak itu belajar. Sekali contoh saja semua sudah bisa nyanyi bersama. Dan sore itu, “Jendela, Kursi, atau Bunga di Meja,” seolah enggan keluar dari kepala mereka. Beberapa kali sempat kami dengar tiba-tiba mereka nyanyikan kalimat itu, padahal sesi tampil sudah selesai.

Terimakasih semua yang hadir di kelas hari itu. Ada banyak sekali tak bisa disebut satu-satu. Tanpa perlu berbuat apa-apa kalian berhasil bikin kami yang bertamu di sana merasa bahagia. Semoga kalian pun sama.

Salam,

Ananda Badudu dan Rara Sekar
Banda Neira

(via @sorgemagz)
youtube

Sebuah kado lagi untuk kamu dari Sorge Magazine. Video berikut menampilkan sesi rekaman dari unit nelangsa-akustik pop yang kini tengah naik daun di dunia maya, Banda Neira.

Di sini, mereka membawakan musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo, Rindu, yang kemudian disajikan di EP perdana “Di Paruh Waktu”.

EP “Di Paruh Waktu” sudah dapat diakses di akun soundcloud mereka di: http://soundcloud.com/bandaneira.

Menurut info yang terakhir kami dapat, kedua personil BN (Banda Neira disingkat biar kayak tersangka – red) sedang “pisah” dikarenakan urusan pekerjaan. Maka itu, sembari menunggu “reuni” mereka, selamat menikmati sajian sederhana ini.

Untuk download EP “Di Paruh Waktu” juga bisa lewat sini http://www.4shared.com/zip/V3Yucl2x/Banda_Neira_-_Di_Paruh_Waktu_E.html

PS: Mohon maaf apabila disana-sini ada penampakan sejumlah fans garis keras dari Banda Neira. Semoga tidak mengurangi kenyamanan anda.

Terima kasih banyak ya @sorgemagz

Btw, ini rekaman yg paling awal nih, baru buka puasa, masih ketawa-ketawa, sumbang, dan grogi (padahal tetep sumbang & grogi walau udah diulang jutaan kali) Harap maklum, bukan artis. Semoga terhibur lah ya .__.