soekarno-hatta

Jas Merah? Jas Hitam Lebih Elegan Rupanya!

Aku masih ingat betul ketika kelas pertama mata kuliah wawasan kebangsaan semester dua lalu dimulai… Di awal perkenalan mata kuliah ini, sang bapak dosen melontarkan pertanyaan kepada kami, pertanyaan yang sangat mudah sekali.

“Diantara kalian, siapa di sini yang mengetahui sosok Tan Malaka?”

Kelas hening sejenak, ku lihat di sekelilingku, mengapa tak ada yang mengacungkan tangan? Bukankah ini pertanyaan yang amat mudah? Ah, aku jadi ragu, tanganku pun ikut berat untuk ku naikkan.

“Sekali lagi saya bertanya, diantara kalian siapa yang setidaknya pernah sekali saja mendengar nama Tan Malaka?”

Akhirnya dengan hati mantap dan raga ragu, aku mengacungkan tangan, seorang diri! Dagdigdugduar rasanya! Dalam hati aku bergumam… Teman-teman kalian ga becanda kan? masa sih kalian benar-benar tak pernah sedikitpun mendengar nama Tan Malaka? Ironi! Ada apa dengan generasiku? Jas merah? Jas hitam lebih elegan rupanya! Aku tercengang, sang bapak dosen pun ikutan terbelalak lalu mengintrogasiku…

“Jadi, menurut mbak, siapakah Tan Malaka itu?”

Mulutku bergetar untuk menjawabnya, kemudian ku buka katup bibirku dan mulai menjelaskan…

Awal mula saya mengenal nama Tan Malaka ialah melalui sebuah kutipan yang insyaAllah menjadi pedoman saya sebagai mahasiswa, “Idealisme ialah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda.” Kemudian saya cari tau siapa itu beliau. Beliau adalah bapak bangsa yang terlupakan! Orang pertama yang menulis lengkap secara rinci tentang Republik Indonesia. Naar de Republiek Indonesia begitulah judulnya. Salah satu tokoh PKI, tapi jangan salah paham, Beliau sedikit berbeda dengan tokoh PKI lain, sebab cita-citanya semata ialah untuk Indonesia merdeka seratus persen! Saya baru baca dua bukunya, Aksi Massa dan Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang terbitan Penerbit Narasi.

Sontak sang bapak dosen semakin tercengang, dang yang mengejutkanku justru bapak dosen meminta seisi kelas untuk memberikan tepuk tangan -_- dari sinilah sang bapak dosen hapal denganku, dan syukurlah kami berdua cocok! Bapak dosen ini adalah dosen terbaik yang bisa asyik nan fleksibel buat diajak berdiskusi tentang sosial humaniora. Finally aku menemukan dosen seperti ini di kampus teknik!

Hingga mata kuliah ini berakhir seiring berakhirnya semester dua… Aku masih tak percaya bahwa teman-temanku banyak yang tak mengetahui siapa itu Tan Malaka, siapa itu Pramoedya Ananta Toer, dsb. Malah ironi lagi aku sempat mendengar celetukan dari beberapa kawan,

“Emang kenapa sih kalo ga tau siapa mereka? Ga ngaruh apa2 kan? Lagian mereka penganut paham komunis lagi! Soekarno Hatta lebih dari cukup kan buat kita tau? Toh mereka juga ga masuk ke dalam daftar pahlawan revolusi kan? Jadi apa pentingnya tau mereka?”

Dan aku pun cuma bisa tersenyum sambil ngelus dada… Wajar lah apabila mereka tak mengenal dua orang dari sekian bapak bangsa yang terlupakan itu. Tan Malaka karena dicap sebagai anggota PKI, namanya sempat masuk dalam daftar pahlawan kemudian dihapuskan pada jaman orba, tinggalah butiran debu nama itu. Sedangkan Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia peraih nobel sastra terbanyak itu, yang menghabiskan nyaris seluruh hembusan nafasnya dibalik jeruji besi dengan karya-karyanya yang begitu menyentuh, sama saja, namanya juga sayup-sayup tertiup angin… Maklum, selama ini kita belajar sejarah hanya melalui buku-buku teks mengikuti kurikulum, bukan sejarah yang sesungguhnya!

Humaniora dan Paranoia Kiri

Dari Tan Malaka, aku mengetahui tokoh-tokoh yang sangat sering disebut dalam bukunya, diantaranya ada Karl Marx, Hegel, Nietszche, dsb. Dari Tan Malaka pula aku mengetahui istilah-istilah unik berimbuhan -isme, ideologi. Serta segala sesuatu berbau ‘Kiri’.

Mendengar kata kiri, agaknya masih asing bagi beberapa orang di kampusku. Jika ada yang tak asing mendengarnya, tak banyak pula yang langsung menerka bahwa kiri = komunis. Ah, sebegitu sempitnya kah? Sejarah telah dicabik-cabik! Ironi lagi, tak sedikit yang berprasangka bahwa filsafat = kiri = komunis!

Harap maklum dengan generasiku, pun denganku jua. Generasi yang malas membaca apalagi mengkaji sejarah. Sudah malas bukan main membaca satu buku saja, apalagi mencari pembanding atas sudut pandang yang berbeda, makin sempit deh…

Celetuk unik yang lain juga sempat kudengar dari kawan-kawanku ketika aku sedang menggebu-gebunya mengagumi Tan Malaka dan Pramoedya.

Kok serem sih kamu rul, bacaannya sangar gitu. Bahasanya selangit banget lagi, aku mana ngerti gituan, dan aku juga ga mau ngerti gituan deh, ngeri, ntar otakku keracun lagi ama paham2 yang aneh gitu.

Malah dibilang serem, ngeri, sangar, dsb. Dari sejarah aku memang tertarik belajar ideologi ini, tapi aku sendiri juga masih harus hati-hati karena ragu, belum cukup mantep. Beberapa hal memang agak membuatku seolah terdoktrin oleh pemikiran-pemikiran kedua tokoh tersebut. Hal ini sekaligus koreksi buatku.

Kiri. Bicara soal kiri, pengetahuanku semakin bertambah ketika bergabung dengan LPM Satu Kosong ITS. Semakin luaslah referensi belajarku di sini, rekomendasi buku-buku, beragam pemikiran, dsb. 

Kiri. Aku merasa bahwa aku cenderung sosialis. Oleh sebab itu aku lebih mudah terpengaruh oleh penuturan Pram yang menawarkan kisah-kisah nyata perjuangan dalam romansa kemanusiaan. Bicara soal sosialis, aku sedang tertarik untuk membaca buku buah pemikiran HOS Cokroaminoto yang berjudul “Islam dan Sosialisme” serta buku karya Ir. Soekarno yang berjudul “Di bawah Bendera Revolusi” yang di dalamnya banyak membahas tentang Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.

***

Aku sedang belajar dan ingin terus belajar. Buku, internet, mencari orang-orang yang mau berbagi denganku, observasi lapangan dari dalam museum hingga menjamah alam. Aku ingin lebih dan lebih lagi mengenal Indonesia, sejarahnya, pergerakannya, pemudanya, manusianya, politiknya, ekonominya, teknologinya, hingga alamnya…

Biarlah malam ini sejenak menjadi malam kontemplasi buatku. Buah pemikiran dari semakin terbatasnya ruang gerak kita, mahasiswa hari-hari ini. Di mana mahasiswa pada akhirnya kembali menjadi penonton, bergerak tidak sehipster dahulu, bergerak kudu kucing-kucingan dulu.

***

Tulisan ini tak bermaksud untuk mendewakan tokoh-tokoh tersebut di atas, sebagai penutup, coba simak sebuah sajak pusi favorit saya dari seorang kyai sekaligus budayawan tersohor di negeri ini…

“Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”(Oleh K.H. Ahmad Musthofa Bisri a.k.a Gus Mus)Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kapir


Aku harus bagaimana
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin-plan
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau menyontohkan yang lain
Kau ini bagaimana
Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilNya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab, kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bisshowab
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku
Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
-1987-
The Way I Lose Her: I'm Adult!

12 Desember
Pukul 19.00

.

Terkadang, perpisahan sengaja diciptakan Tuhan agar kedua-belah pihak mampu belajar lebih banyak dan lebih dewasa, sebelum pada akhirnya dipertermukan lagi, nanti.

.

Malam ini, udara jakarta bisa dibilang lebih aneh ketimbang udara di kota tempat kelahiran gue, Kota Bandung. Selain gerah yg keterlaluan, faktor geografi yg berada dekat pantai juga turut andil dalam membuat udara jakarta malam ini menjadi terasa lebih lengket di kulit. Biasanya kalau di Bandung, jam segini adalah jam wajibnya orang-orang mengenakan jaket dan mematikan AC. Sedangkan bagi orang jakarta, jam segini adalah jam wajibnya orang-orang untuk mandi cibang-cibung dan menyalakan AC sampe 20 derajat.

Mungkin benar kata orang-orang. Bahwa orang Bandung adalah orang yg paling susah diajak untuk pergi meninggalkan Bandung. Itu sebabnya hanya ada segelintir orang yg meninggalkan Bandung, itu pun untuk memunaikan kewajibannya dalam mencari nafkah.

Termasuk gue. Kalau gue gak ada kepentingan mendesak seperti ini, mungkin gue paling ogah untuk diajak ke jakarta. Kenapa? Alasannya simple. Jakarta itu gerah cuy! pffft.

Malam ini, sudah genap delapan kali gue pergi buru-buru ke wc hanya untuk sekedar buang air kecil doang. Selain dingin karena AC yg udah daritadi menclok di atas kepala gue, rasa grogi yg menjalar ke seluruh tubuh ini juga menjadi salah satu sponsor utama kenapa gue gak bisa berhenti untuk pergi ke WC.

Sudah dari pukul 5 sore gue duduk menunggu di sini, di deretan kursi pada sebuah ruangan luas bertuliskan “Ruang Tunggu” warna merah jambu. Ditemani oleh seseorang yg selalu ada kemanapun gue berada, temen sejati gue dari masa-masa SMA, Ikhsan.

Tapi gue heran, sudah lebih dari 30 menit temen abstrak gue itu menghilang dari pandangan gue. Awalnya dia izin mau cari makanan sih, tapi ntah kenapa sampai sekarang belum juga datang. Apa jangan-jangan itu anak tersesat ya?

Ah, ini nih yg kadang bikin gue menyesal bisa berteman sama Centong Nasi yg satu itu. Sifat sok tau-nya selangit, lagaknya aja so-soan kenal jakardah, tapi ngeliat minimarket bertuliskan 711 aja dia nyebutnya “Tujuh Sebelas”, bukan “Seven Eleven”

Melihat minuman khas 711 yg berasal dari parutan es aja dia bilang, “Es Serut”, bukan “Slurpie”. Maklum, ini anak otaknya hanya sebatas Surabi Enhai dan Batagor Riri. Jadi sampai kapanpun gak akan cocok kalau dibawa ke jakardah yg udah menjadi kota metropolitan gini.

Akhirnya, ketika gue lagi berusaha membetulkan resleting celana yg agak kendor lantaran terus-terusan gue buka tutup waktu ke WC ini, gue melihat sosok tuh anak muncul dari eskalator. 

Di tangannya dia membawa sebungkus makanan yg tertutup keresek warna hitam, dan sebuah kotak kecil tertutup keresek warna warni.

.

“Udah lama lo nunggunya?” Ucap ikhsan seraya menepuk pundak gue dari belakang.

“ah elu nyet, lu kemana aja? beli makanan di mana sih sampe lama gini? Dubai?”

“Yeeee ngaco. Gue sekalian cari hadiah dulu untuk menyambut kedatangan Tuan Putri kita.. Lah elu sendiri kenapa gak bawa hadiah?”  tanyanya lagi.

“Gue cukup bawa cinta aja untuk nyambut kedatangan dia” Jawab gue sambil memperbaiki kerah jaket agar bisa beridiri lebih tinggi menutupi leher.

“Bhahahahak PEDE amat lo setan!” Ikhsan memukul kepala gue.

“Yg ada juga ntar pas dateng, dia bakal meluk gue duluan. Pfft, masa lo lupa sama pernyataan dia sebelum berangkat dulu sih..” Lanjutnya sambil menaikan alis.

“Alah muka kaya centong nasi aja belagu lu!”

“Eits, ada udang rebon ngambek. Sorry, gue gak meladeni saingan gue ya.. bye~” Ucapnya sambil menutup kuping.

.

Sungguh, melihat anak ini bertingkah belagu dan songong luar biasa, pengen rasanya gue ngejorokin dia dari beranda Bandara ini.  

Ya, kita malam ini sedang berada di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Sebuah tempat di mana sering menjadi saksi bisu setiap kepergian yg dipaksa keadaan. Dan menjadi saksi bisu dari setiap peluk pertemuan yg tak pernah banyak bicara, namun sarat akan seribu makna.

Dan bagi gue sendiri, Bandara ini adalah tempat di mana rasa melepaskan kepergian seseorang menjadi terasa amat sangat menyakitkan.

Seperti yg udah gue jelasin di awal tadi, kedatangan gue ke jakardah ini kalau gak ada hal mendesak ya gue gak akan datang. Dan tentu ini mengartikan bahwa hal ini adalah hal yg sangat penting bagi kita berdua.

Hari ini kita lagi menunggu kedatangan seseorang yg sangat berarti buat kita berdua. Sudah lebih dari 4 tahun gue dan ikhsan diharuskan berpisah dengannya. Dan anehnya, sudah selama itu pula gue dan Ikhsan tetap kagum sama seorang wanita yg kedatangannya sangat kita tunggu-tunggu dari beberapa bulan silam ini.

Sembari sedikit memakan cemilan yg Ikhsan bawa dari luar Bandara, gue kembali bernostalgia tentang masa-masa di mana gue, ikhsan, dan dia pertama kali dipertemukan.

.

“Silahkan dimakan, nyet. Jangan sungkan, anggap saja makanan sendiri" Ujar ikhsan.

"Alaaaaah, barang gorengan doang lu so-soan mempersilahkan. Kaga usah lu persilahkan juga bakal gue makan.” Jawab gue ketus seraya buru-buru memisahkan jatah gorengan gue dan jatah gorengan dia.

“Bro…”

“Ngg?”

“Akhirnya ya..”

“Kenapa? pacar lu hamil?”

“…" 

"Makanya, lain kali maen aman. Jangan maen terobos aje.”

“…" 

"Iye,iye, gue ngerti. Gak usah pasang tampang menyebalkan gitu juga keleees..”

“Bercanda aja lo nyet. Btw, akhirnya ya kita ada di tempat ini lagi." 

"hmm”

“Udah berapa lama ya bro kita gak ketemu dia?” Tanya Ikhsan lagi.

“Sekitar 4 tahun lebih deh kayaknya. Eh btw lu niat beli makanan gak sih? cuma gorengan gini doang mana bisa kenyang? mana isinya cuma 10 biji lagi, pelit amat jadi orang.”

“Hmm udah lama ya, tuwir amat berarti kita. Tapi ntah kenapa gue tetep bisa kagum sama doi" 

"Iya, she’s totally perfect lah pokoknya. Belum ada yg bisa seperti dia. Eh nyet, mendoan gue tuh, ngapain juga lu comot setan!”

“Tapi, apa doi masih bakal inget kita, dim?” tanya ikhsan sembari ngunyah mendoan gue yg udah dia hak milik seenak perutnya sendiri.

“Yaelah, kalau elu sih mungkin dia lupa. Muka lu kan kaya candil pas mau buka Puasa. Alias pasaran. Btw ini cengeknya mana? kok tinggal 3 aja? terus itu pisang goreng perasaan tadi ada 3 deh”

“Ah elu, gue lagi serius nih, malah bercanda aja. Gue kangen dia dim.”

“Ya lo pikir elo doang yg kangen. Biar bagaimanapun dia juga sahabat gue, nyet. Aduh tenggorokan gue seret nih, aer dong bro..”

“Kira-kira apa kelak gue bisa jadian sama tuh anak ya dim?”

“Ah ngimpi lo. Centong nasi mana biasa pacaran sama bidadari. Mirip sama gorengan ini, dia itu anak orang kaya yg makananya mewah-mewah dan sehat, lha sedangkan kita-kita ini cuma sekedar gorengan berminyak seperti ini. Mana cocok.." Kata gue seraya mengacung-acungkan pisang goreng terakhir ini.

Dan… PLUK!!
Mendadak pisang goreng yg gue goyang-goyangin ini adonan krispinya lepas, alhasil pisangnya loncat indah dan jatuh ke lantai.

”…“

Ikhsan menatap gue.

”…“

gue menatap ikhsan.

”…“

kita berdua menatap pisang goreng bugil itu.

”…“

Pisang goreng bugil itu menatap kita berdua.

.

"EH SETAN ITU JATAH PISANG GORENG TERAKHIR GUE!!!” ucap Ikhsan sembari mukul gue pake botol aqua

“EH MALAH NYALAHIN GUE, LHA ELU SENDIRI NGAPAIN JUGA MALAH BELI GORENGAN YG KULITNYA LEMES BEGITU, JADI AJA JATOH KAN AH?!”

“EH LU GAK TAU TERIMAKASIH YA! MASIH MENDING UDAH GUE BELIIN, KAGA BERSYUKUR AMAT LO JADI ORANG. SINI BAYAR SETENGAH-SETENGAH TUH HARGA GORENGAN!!”

“Bentar, jadi lo minta gue buat patungan beli gorengan tadi?" 

"Iya lah, ditambah uang ongkos keluar bandara jangan lupa”

“Jadi lo perhitungan sama gue?" 

"apa sih yg engga buat elo..”

“Oke, kue nastar kemaren sore di rumah gue, siapa yg ngehabisin?”

“ngg..”

“Terus kemarin lusa, Mie Ayam pak Barjo yg depan rumah itu siapa yg bayarin?”

“Ngg.. anu..”

“Terus waktu lo putus sama mantan lo itu, yg nyumbang pizza domino buat ngehibur elu yg mewek sambil ngelus-ngelus foto mantan lo itu siapa?”

“…”

“Terus Parcel di rumah gue bulan lalu itu, siapa yg ngebuka?!”

“ngg.. bro.. itu kan elu sendiri yg buka..”

“Oh iya lupa. Tapi yg ngabisin isi parcelnya kan elo!”

“Bro, isi parcelnya kan udah kadaluarsa, elo sendiri yg dengan teganya nyuruh gue makan.”

“Oh iya juga ya. Ah tapi biarin, yg jelas kalau lo masih mau minta duit gorengan ke gue, bayar dulu itu semua makanan gue yg udah diakuisisi sama perut lo!”

“Iya deh iya, bawel amat. Lagian nyokap lo ikhlas-ikhlas aja waktu gue nyomot makanan di rumah lo” Jawab dia santai.

“APAAN?!! waktu lo udah pulang, gue dinasehatin kalau elu mau dateng, makanan di rumah harus disembunyikan terlebih dahulu!”

“Bhahahahak naas amat. Itu udah resiko lu berteman sama teman yg bersahaja kaya gue.”

“Tai! Sahaja mata lu soek!”

.

Tanpa kita sadari, percakapan kita di bandara malam itu menjadi daya tarik sendiri buat security setempat. Alhasil bukannya menunggu dengan tenang, kita malah ditanya habis-habisan sama security karena dinilai mengganggu ketertiban.

Temenanan sama nih bocah emang gak akan jauh dari yg namanya nasib buruk. Mungkin kesialan-kesialan yg gue lalui selama ini disebabkan oleh Fengsui tatak letak muka Ikhsan yg emang pada dasarnya kurang beraturan. 

.

Ting Tong..
Flight with flying number 104 has been arrived.

Mendadak pengumuman dari toa masjid yg dipasang di setiap sudut Bandara ini mengagetkan kita berdua.

“Eh bro bro, pesawat doi udah landing tuh” Ikhsan buru-buru merapihkan bajunya.

“Yoi, akhirnya dia dateng ya sob”

“Hahaha iya, gue jadi penasaran, sudah secantik apakah dia sekarang ya bro.." Tanya Ikhsan yg terlihat sangat antusias menatap kearah pintu kedatangan.

Mendengar pernyataan Ikhsan yg terakhir itu, gue mendadak sedikit tersenyum. Gue yg dari awalnya emang biasa aja, ntah kenapa sekarang jadi ikut-ikutan penasaran.
Gak mau terlalu berlama-lama, gue bereskan bungkus gorengan biadab yg satu ini dan mulai merapihkan pakaian yg gue kenakan untuk menyambut kedatangannya malam ini..

"Akhirnya.. Selamat datang kembali, Nona.” kata gue dalam hati seraya sedikit tersenyum..

.

.

                                                      ****

.

.

“Yakin kamu Dimas gak mau nentuin pilihan kedua kamu?" 

"Engga, bu. Pokoknya Dimas yakin dipilihan pertama itu, pilihan kedua mah Ibu aja yg nentuin, Dimas udah gak kepikiran buat sekolah di tempat lain.”

“Yaudah, semoga aja emang rejekinya di sana ya..”

“Amin, bu. Doakan ya!”

.

Percakapan di atas adalah percakapan siang tadi sebelum gue melakukan submit pilihan SMA mana yg bakal menjadi sekolah gue kelak. 

Ntah kenapa, hari itu gue sama sekali gak kepikiran buat milih SMA lain ketimbang SMA pilihan pertama gue itu. Gak tau kenapa, rasa-rasanya gue gak ada feeling buat sekolah di tempat lain. Setiap gue ngebayangin tentang SMA, yg terbayang cuma SMA pilihan pertama gue itu doang. Apa mungkin itu yg dinamakan mimpi ya?

Tahun ini adalah tahun di mana gue lulus dari SMP (Sekolah Mencari Pacar). Dan akan resmi menjadi anak SMA (Sekolah Membuat Anak) pada beberapa bulan silam.

Gue yg saat itu masih polos dan belum tumbuh bulu-bulu kecil disekitaran muka dan daerah lainnya ini, begitu semangat untuk mengunjungi salah satu SMA favorite gue saat itu.

SMA Cluster 2, tempatnya di sekitaran tengah kota, dan sekolah ini dulu terkenal karena banyaknya Atlet yg dihasilkan, dan banyaknya Event yg diadakan.

Ini menadakan SMA pilihan gue adalah SMA yg tidak mementingkan pelajaran sama sekali! Dan inilah yg ngebuat gue semangat untuk memilih SMA ini sebagai SMA tambatan hati gue.

Waktu gue baru lulus SMP, internet itu masih jarang. Bisnis warnet adalah salah satu bisnis yg menjanjikan saat itu. Dan untuk mengetahui informasi-informasi tentang SMA yg bakal gue masukin itu pun gue harus mendatangi langsung ke lokasi yg bersangkutan.

Di sana gue liat banyak anak-anak dengan seragam putih biru yg berlalu lalang untuk melakukan submit ijazah dan tetek bengek lainnya. Dan waktu jaman gue dulu, anak SMP kelas 3 masih belum semenarik seperti anak-anak SMP jaman sekarang.

Dulu anak SMP kelas 3 rambutnya masih pada dikepang. Belum ada itu yg namanya belah tengah. Gigi masih pada manis, belum ada yg namanya behel.

Dan yg jelas, perbedaan mencolok antara anak SMP dan SMA itu bisa terlihat jelas. Gak kaya sekarang, gue gak bisa bedain mana anak SMP mana anak Kuliahan.

Mana Cabe-cabean, mana tante-tante liar.

.

Dengan bermodalkan rambut mohawk dan embel-embel SMP ternama yg melekat di sisi kiri seragam gue ini, gue berjalan petantang-petenteng di depan semua anak SMP yg melakukan pedaftaran saat itu.

Damn! Im feeling Adult now!

.

.

.

                                                      bersambung

Proklamasi: Aku Mencintaimu

Proklamasi.

Aku, pengagum rahasia, menyatakan bahwa:

  1. Senyummu, serupa senja. Seindah lembayung senja Dewata. Tak pernah pudar indahnya walau ribuan badai menerpa.
  2. Bibirmu, serupa samudera. Dua samudera, Pasifik dan Hindia. Menghimpit Nusantara, membuatnya begitu indah dipandang mata.
  3. Matamu, serupa Khatulistiwa. Mencipta iklim tropis ditiap tatapnya. Memberi hangat yang tak terkira.
  4. Pipimu, serupa Indonesia. Mengembang ketika senjamu menyapa. Membentang dari Sumatera hingga Papua; dengan kearifan lokal ditiap cubitannya.
  5. Kamu, serupa Nusantara. Indah sebagaimana mestinya. Seperti Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua, bermacam tingkah polanya, tapi tetap membuatku jatuh tak bersisa.

Aku mencintaimu, setulus nyanyian lagu Indonesia Raya.
Aku mencintaimu, semudah dan sesulit pelajaran Bahasa Indonesia.
Aku mencintaimu, seperti Soekarno-Hatta mencintai Indonesia.

Ini adalah proklamasiku. Proklamasi aku mencintaimu. Sesederhana itu.

Atas nama pengagum rahasia,

Pencinta Nusantara


Dicho, 2016. Dua tujuh - Tiga - Dua puluh enam belas. Ditulis saat hujan berjabat dengan senja, ketika Nusantara sedang indah-indahnya.

Tan Malaka yang Menjadi Tabu di Atas Tabu

Segala yang berbau PKI (Partai Komunis Indonesia) bukan hanya tabu tapi secara resmi memang terlarang dan dilarang oleh negara. Bedanya: PKI yang ditabukan pun mengharamkan Tan Malaka.

PKI tak menyukai Tan Malaka. Dalam sikap resmi PKI, Tan Malaka adalah pengkhianat, Trotskyist, bahkan disebut sebagai antek imperialisme.

Di hari-hari sekitar kudeta 1948 di Madiun, Musso yang baru pulang dari Moskow mencaci maki Soekarno-Hatta sebagai antek Jepang penjual Romusha. Tapi Musso merasa tak cukup hanya memaki Soekarno-Hatta, dia masih merasa perlu untuk menyeret Tan Malaka dan menyerangnya dengan keras, bahkan kasar.

Orang-orang PKI yang selamat dari pembantaian 1965 beberapa di antaranya masih merawat pertentangan dengan Tan Malaka. Dalam bab terakhir bukunya mengenai kudeta Madiun 1948, Harry Poeze melakukan survei terhadap tulisan-tulisan mengenai kudeta Madiun yang ditulis pasca 1965. Dalam survei itu Poeze menemukan beberapa tulisan orang PKI yang masih membawa-bawa Tan Malaka, selain Soekarno-Hatta tentu saja, dalam analisisnya mengenai kudeta di Madiun itu.

Peristiwa 1925-1926, saat Tan Malaka menolak rencana perlawanan bersenjata PKI terhadap pemerintah kolonial, menjadi dendam yang menahun.

Bagi Tan Malaka sendiri, peristiwa 1926 itu jadi erupsi yang meledakkan perpisahannya dengan PKI, juga Moskow. Dan sejak itu Tan Malaka mulai mendapat sebutan Trotskyist, cap tidak enak yang biasa disematkan di jidat orang-orang yang tak setia dengan garis resmi politik Soviet.

Jika PKI menjadi tabu karena secara resmi memang dilarang oleh negara, Tan Malaka tak pernah benar-benar menjadi sosok terlarang. Negara bahkan mengakuinya secara resmi sebagai pahlawan nasional pada 1963. Presiden Soekarno sendiri yang menandatangani beleid pengangkatan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Dan beleid itu tidak pernah dicabut. Jadi, status kepahlawanan nasional Tan Malaka itu clear, jelas, tanpa keraguan.

Keep reading

youtube

[Fancam] NCT 127 arrival in Jakarta (Soekarno Hatta International Airport Terminal 3) for Spotify On Stage concert. Maknae line (Winwin, Mark & Haechan) came in separate flight with the other six members. They arrived on the day of the concert - 9 August 2017 afternoon. They are flying back to Korea in the night, right after the concert. So ninja..

Mencari Jodoh = Mencari Kaki Cinderella Bukan Mencari Sepatu Kaca Lainnya

Kita adalah sepasang sepatu

Selalu bersama tak bisa bersatu

(Tulus dalam lagu “Sepatu”)

Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,
hanya bersama tapi tak bertemu

(Sitok Srengenge dalam puisi “Kereta”)

Akhir pekan kemarin ada salah seorang sahabat saya yang curhat kepada saya, dia mengatakan bahwa amat sulit mencari pasangan yang mencerminkan dirinya. Saya tentu bertanya kepada dirinya kriteria seperti apa yang dia inginkan. Ia kemudian menjawab bahwasanya dia menginginkan seorang perempuan yang, sebenarnya masih normatif dan tidak terukur yakni, lembut dan rajin namun hal menariknya adalah alasan dia sebagai orang yang keras serta teramat sibuk mungkin akan sulit mengurus rumah, dan itu memang benar, sehingga membutuhkan pasangan yang sedemikian.

Dalam kesempatan yang lain beberapa waktu lalu di sebuah grup WhatsApp, ada seorang adik kelas saya di kampus menyatakan kriteria lelaki idamannya yakni tegas, berwibawa, namun tetap kalem. Sekali lagi masih normatif tapi yang membuat saya pada akhirnya mengeluarkan saran di bawah kemudian, ialah pernyatannya bahwa, “Gimana ya bang? Saya sebenernya ingin mencari pasangan yang seperti itu karena ‘kan saya pecicilan, kagak bisa diem dan kagak ada kalem-kalemnya sebagai perempuan.”

Dua kejadian tersebut dalam masa yang tidak terlalu lama membuat saya akhirnya mengeluarkan pernyataan setelah berpikir keras dan bersemedi lama, “Jangan cari pasangan tapi carilah bagian lainnya.”

Mereka bertanya, “Maksudnya bang?”

“Iya, jadi kalau misalnya kamu adalah sepatu kanan maka carilah kaos kaki kanan atau kaki kanan yang muat untuk ukuranmu.”

“Hah? Saya gak ngerti.”

“Oke, mungkin analoginya kurang pas, hm, jadi begini, ketika sepatu kaca cinderella terjatuh, apa yang dicari oleh Sang Pangeran?”

“Kaki yang pas.”

“Nah itu dia! Jadi, Sang Pangeran gak nyari pasangan dari sepatu kaca yang cuman sebelah itu kan, entah itu sepatu kaca kanan atau sepatu kaca kiri yang penting bagi dia adalah kaki siapa yang pas dan tepat untuk sepatu kaca itu, sekali lagi entah kanan atau kiri. Pernah denger lagu Tulus yang judulnya ’Sepatu' ?

"Pernah.”

“Nah kan kalo kata Tulus:

kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu

gak mau kan nyesek kayak gitu sama-sama terus tapi gak bisa nyatu? Mending dah jadi kaos kaki atau kakinya sekalian nyatu sama sepatunya. Atau kalau kata Sitok Srengenge (lepas dari dia adalah seorang pemerkosa, puisinya yang ini bagus) dalam puisinya yang judulnya ’Kereta' 

dua garis rel itu, seperti kau dan aku, hanya bersama tapi tak bertemu.

Lebih parah lagi kan, bersama sepanjang perjalanan tapi gak pernah ketemu. Mending jadilah bagian lain dari rel kereta yakni jadi roda keretanya yang nyentuh rel kereta.”

Hanya sebuah saran untuk dua orang yang sedang mencari pasangan dan juga bagi kalian semua yang mungkin juga seperti mereka. Saran ini tentu saja bisa diperdebatkan dan tidak dijalankan.

6 Maret 2014, Pukul 00:04 Waktu HP Samsung Galaxy Chat saya, di Jalan Menuju Bandara Soekarno Hatta

Tiba-tiba

Akhir-akhir ini, saya begitu takjub dengan segala perubahan yang terjadi dan seringkali datang dengan tiba-tiba. Perubahan pada diri saya sendiri dan hal-hal di sekitar saya.

Tiba-tiba saya pindah ke Jakarta dengan dunia yang lebih luas lagi. Kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan dalam banyak hal. Saya bilang mah, semua ini rejeki melimpah. Karena rejeki bukan hanya soal uang, makanan melimpah, atau pekerjaan yang baik. Mudahnya saya mencari ilmu saat ini, adalah rejeki luar biasa. Mudahnya transportasi saya dari tempat tinggal ke kantor (ya iyalah tinggal di sebelah kantor), adalah rejeki besar bagi saya, di tengah hiruk pikuknya keluhan orang lain yang susah payah untuk berangkat bekerja.

Ah, kalau kata Ali bin Abi Thalib, jangan banyak bercerita tentang kebahagiaanmu. Kau tidak tahu siapa yang sedang susah di luar sana. Itu akan menyakiti orang lain yang sedang dalam kesempitan. Kau juga tidak tahu kapan kondisi akan berbalik dan kau kembali dalam kesusahan. Maka baiklah. Saya hanya tidak tahan menyimpan rasa takjub ini di hati, seperti akan meluap jika tidak ditumpahkan. Alhamdulillah, mungkin satu-satunya kata yang bisa mewakili seluruh rasa syukur saya.

Kemudian, tiba-tiba adik saya juga mendapat rejeki baru. Sahabat saya tiba-tiba menikah dengan proses taaruf yang sangat cepat. Hanya terpaut satu bulan sejak memulai proses, mereka sudah melangsungkan lamaran dan minggu depan akan menikah.

Bukan berarti semua yang terjadi di sekitar saya adalah hal-hal yang membahagiakan melulu. Tapi, setidaknya banyak hal yang sudah membaik. Semoga yang belum membaik segera menjadi baik.

Sepertinya, saya mulai mengenali cara kerja Tuhan. Dia menghisap semua kartu tidak berguna yang kita genggam erat-erat. Dia enyahkan semua kartu yang kita kira kita butuhkan. Kita meraung dan menangisi semua kartu yang diambil Tuhan. Kita tidak punya kartu apapun di tangan.

Tapi Tuhan punya rencana paling hebat. Di saat yang tepat, diberikannya kartu As untuk kita. Semua kartu As diamanahkan untuk kita, sebagai ganti kita bersabar dengan diambilnya semua kartu tidak penting sebelumnya.

Secepat dan semudah itu Dia merubah kondisi kita. Bisa jadi kemarin kita susah, sekarang kita bahagia. Hari ini hidup kita mudah, besok mengalami kesempitan. 

Hal ini membuat saya jadi memperingatkan diri sendiri. Jika sedang lapang, bersyukurlah sebanyak-banyaknya, tapi berbahagialah secukupnya saja. Persiapkanlah diri untuk menghadapi hal-hal tak terduga yang mungkin menyulitkan. Ketika sedang sempit, bersyukurlah bahwa tak selalu mengalami kesempitan, dan tetaplah berusaha bahagia. Ingatlah bahwa Tuhan bisa mengubah keadaan hatimu dalam sedetik saja. Bahkan kadang-kadang setelah mengalami kesedihan luar biasa, tiba-tiba ada kebahagiaan melegakan yang saya rasakan tanpa sebab. Dan momen seperti ini bisa terjadi hanya dalam beberapa menit. 

Dari jalan hidup seperti itu, saya memahami, bahwa Tuhan adalah Maha Penggenggam Hati. Bukan berarti kita pasrah dengan apa yang kita rasakan karena menganggap semuanya adalah ‘ulah’ Tuhan. Tuhan tidak akan merubah nasib manusia jika kita tidak berusaha meraihnya. Lagi-lagi, ini adalah tentang mengusahakan.

Mengusahakan bahagia dalam kondisi apapun. Mengusahakan membahagiakan orang lain bahkan ketika kita dalam keadaan sempit. Mengusahakan sesuatu yang kita anggap tidak berarti dan tidak mendatangkan hasil, kadang-kadang malah diberi Tuhan balasan sesuatu yang sama sekali tidak kita usahakan. Parahnya, sesuatu itu ternyata jauh lebih baik dan berharga.

Ah, Tuhan. Aku jatuh cinta pada caramu memperlakukan hidupku.

Terminal 1A, Bandara Soekarno-Hatta. Cengkareng. On May Day 2015.

2

panggil gw gila, baru sekali ini gw ngejar artis sampe ke bandara, bawa mobil malem malem. sama sekali ga nyesel, liat idola yang biasa gw liat di layar kaca saat itu cuma berjarak beberapa centi dan senyum manis dengan lesung pipi gantengnya pas lewat depan gw,gw cuma bisa diem melongo pas dia lewat senyum ;) (lemes) tinggi tegap,kulitnya kecoklatan kebakar matahari,pake baju tentara hhh.. jauh lebih tampan dilihat langsung,berkharisma sekali. ;) gw harus nunggu seminggu mungkin buat bisa konsen sama kerjaan dan mengurangi deg deg an tiap inget 2 hari kemarin, siapa yang sangka si tampan samsung yg selama ini sedang wajib militer bisa datang ke indonesia?

Di masa kebangunan, maka seharusnya tiap-tiap orang harus menjadi pemimpin, menjadi guru.
Pemimpin! Guru! Alangkah hebatnya pekerjaan menjadi pemimpin di dalam sekolah, menjadi guru di dalam sekolah, menjadi guru dalam arti yang spesial, yakni pembentuk akal dan jiwa anak-anak!