sm ke

also….i really am shameless bc i do daydream about h*ving s*x if im bored enough during a class. like if someone is giving a presentation and i have to just sit there and pretend to listen in either thinking about s*x, when i get to sm*ke w**d next, or my impending academic doom. but usually s*x 

HE ENTER ( OOC ; )

god this probably won’t make any sense, but, yknow how ask blogs sometimes have a different character that invades the blog and answers questions instead? but only for a lil while? i really want to do something like that, but, here

i have such jer muse but i dont want to make a blog. its not strong enough for a blog, but not weak enough to ignore, yknow??

so if you’re interested in a ‘jeremy invasion’ ““““event”””” then please like this post? if i get uh,, 5 likes i guess ill do it?

but if you don’t want me to, youre more than welcome to reply with why this is a Bad Idea cause honestly i have no self control and need a reason not to do this if ppl dont like it,

I think I’m being bullied at school, but they haven’t said/do anything directly to me, it’s what they should’ve said or done. They don’t even have to try leaving me out, there are 29 people in our class. All of this started because SM and NJ, but I can’t hate SM, I love her and have wronged her before (it probably justifies stuff that she’s done to me lol). NJ is a terrible person, I should’ve known better.
People that like them are probably like them.

10

Dalam foto-foto ini, terlihat jelas sekali bahwa keserakahan dan perang telah membawa kesengsaraan, menghapus kemakmuran, dan menghilangkan peradaban.

Hati siapa yang tak teriris menyaksikan kota yang menjadi puing-puing, mendengar tangisan dan jeritan masyarakat sipil yang jadi korban perang, melihat mayat-mayat tergeletak dan luka-luka yang menganga.

Saya malu pada Allah, ketika saya hanya mampu menyaksikan lewat Youtube seorang anak kecil yang kepalanya terluka karena serangan bom dan harus dioperasi, sementara saya tak ada disana untuk membawakan obat bius agar rasa sakitnya hilang barang sebentar. Saya malu pada Allah ketika dia membaca hafalan Al-Qur'annya selagi lukanya dioperasi sebagai pengganti biusnya.

Bukan hanya menghadapi peperangan dan pembantaian, saudara-saudara kita di Suriah akan menghadapi musim dingin yang akan segera datang.

Allahumanshurmuslimina fi Suriah, fi Filistine, fi Rohingya, wa fi kulli makan…. Aamiin…

Mari berinfaq terbaik untuk saudara-saudara kita disana. Semoga dapat menjadi amalan yang membela kita di akhirat kelak, bahwa kita tidak tinggal diam ketika saudara kita dizalimi.

Berikut ini nomor rekening Yayasan Dompet Dhuafa dan Yayasan Sahabat Al-Aqsha bagi Anda yang ingin mengirimkan infaq terbaik.

Melalui Dompet Dhuafa

BNI Syariah: 300.300.3155
BCA: 3491296672

a.n. Yayasan Dompet Dhuafa
Berikan kode unik 300 di akhir nominal transfer. Misal donasi 100rb maka Rp 100.300

Konfirmasi melalui WA/SMS ke 081262006967

Melalui Yayasan Sahabat Al-Aqsha

Bank Syariah Mandiri: 7755 12345 7
BNI Syariah: 7755 12345 6

Konfirmasi melalui e-mail ke amanah@sahabatalaqsha.com

The Way I Lose Her: Big Day

Aku berusaha mengubur rasa ini. Bukan karena aku tidak suka, melainkan aku tidak mau tersiksa jika suatu saat nanti kita tidak sedekat dulu lagi karena salah satu dari kita telah mengetahui perasaan masing-masing. Kehilanganmu, aku masih belum mampu.

                                                            ===

.

“Ada apaan? Tumben lo keliatan serius amat.” Tanya gue penuh penasaran.

“Tapi sebelumnya kita harus ke rumah lo dulu, Mbe. Penting soalnya.” Tukas Ipeh buru-buru.

“Lha ada hubungan apa rumah gue sama elo? Mau ngapain kita di rumah gue?”

“…”

“Ah, jangan-jangan lo mau…” Gue menatap Ipeh dengan tatapan mesum.

“IH APAAN SIH?! Bukan itu!!” Ipeh mencubit keras pipi gue.

“Aduuuuh duh duh, iya iya ampun ampun." 

"Tadi niatnya gue mau ngomongin hal ini waktu di kelas PMR, tapi elo malah digusur ke ekskul Pramuka.”

“Digusur, lo pikir gue gubuk reot pake acara digusur segala.”

“Lagian kenapa tadi lo pake acara datang telat segala sih? kalau datangnya pagi kan bisa duduk di sebelah gue, nanti bisa nyontek pas ada test kayak tadi.”

“Bukan jodoh berarti Peh..” Jawab gue sembari ngorek-ngorek sisa oreo di gelas gue.

“IH BEGO IH!! GEMES GUE SAMA ELO MBE!!”

“Kenapa sih kayaknya ada masalah yang penting banget?” Tanya gue lagi.

“Udah nanti gue jelasin di jalan, ayo sekarang berangkat dulu cepet!”

“Tas gue juga belom dianter sama si Ikhsan. Bentaran dikit ngapa.”

“Yaudah tapi pas tasnya udah dateng, kita langsung ke rumah lo ya Mbe. Ngebut kalau bisa.” Pinta Ipeh sembari menggoyang-goyangkan tubuh gue.

“Lo kenapa sih? kayak orang mau melahirkan aja. Nah tuh si monyet dateng.” Gue lihat dari jauh Ikhsan mendatangi gue dengan membawa 2 tas.

“Woi nyet, nih tas lo, thanks yak, gue mau langsung cabut duluan. Doi udah nunggu gue di parkiran. Hahai, pucuk dicinta ulam pun tiba. Sudah tiba saatnya bagi Ikhsan untuk berbuka puasaaa~” Jawab Ikhsan bahagia.

“Anjir muka lo mesum banget nyet! Inget, gitu-gitu juga anak orang tuh. Jangan lo apa-apain, belon cukup umur.”

“Alah, harusnya gue yang ngomong kaya gitu ke elo. Elo mah bibir kakak kelas aja diembat!”

DEG!!
Anjir gue terkejut banget mendengar statement Ikhsan itu. Sebenarnya mau dia ngomong apa pun gue nggak masalah, tapi yang jadi masalahnya adalah di depan gue sekarang sedang ada Ipeh, gila. Gue belum pernah cerita masalah ini sama siapa-siapa kecuali ke Ikhsan doang. Sontak gue gelagapan mendengar perkataan Ikhsan, gue lihat Ipeh terlihat kebingungan dan mulai berpikir. Wah bahaya nih kalau Ipeh sudah mulai berpikir, karena biasanya kalau nih anak sudah mulai berpikir pasti muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyenangkan. Dengan cepat gue langsung melempar bungkus kosong susu ultra yang ada di atas meja kantin ke arah Ikhsan dengan mimik yang menyuruhnya untuk cepat pergi dari sini.

Menyadari bahwa Ikhsan baru melakukan kesalahan fatal, Ikhsan langsung cengengesan.

“Astagfirullah gue lupa. Bhahahahahahk maap-maap. Woi Wonder Woman, gue pergi dulu yak. Jangan kebanyakan mikir, ntar botak pala lo!” Ujar Ikhsan sambil noyor-noyor jidat Ipeh pake telunjuk.

“Dih sana-sana pergi! Jangan deket-deket, ntar sholat gue nggak sah!” Tukas Ipeh menjauh.

“Lo kira gue najis. Dah ah, Dim gue pamit yak.”

“HUS!! SANA!!”

“Hahahahaha ngambek. Noh urusin pacar lo yang kekar itu!” Ujar Ikhsan tertawa terkekeh-kekeh sembari menunjuk ke arah Ipeh.

Tai emang si Ikhsan ini, perkataan terakhirnya sebelum pergi itu membuat gue dan Ipeh saling tatap-tatapan awkward, ntah kenapa situasi seperti ini bisa membuat gue dan Ipeh menjadi canggung, padahal biasanya kalau di depan cewek yang lain, setiap gue di cie-cie-in pun gue terlihat biasa saja, maka dari itu gue sering dibilang cowok nggak peka. Tapi ntah kenapa siang ini kok gue merasa canggung banget berada bersama Ipeh setelah Ikhsan pergi.

Kita masih terdiam canggung.

“Hei, ayok cepet ke rumah lo! Kan tasnya udah ada.” Mendadak Ipeh menarik-narik tangan gue.

“Ah males ah peh. Nggak semangat, gue lagi males ke rumah.” Jawab gue lenjeh-lenjeh di meja kantin.

“IH!! MBE!!! Kan nanti nggak akan lama di rumah lo-nya juga, kita cuma mampir sebentar, dah gitu lo harus cepet-cepet ke rumah gue.”

“Nggak mau ah, kok maksa-maksa gue sih. Pacar gue juga bukan. Weeee"  tanpa sadar gue mengucapkan hal yang kayaknya nggak cocok untuk diucapkan ketika dalam keadaan seperti ini.

Mendengar hal itu, Ipeh langsung terdiam. Gue yang masih menaruh kepala di atas meja kantin pun baru sadar bahwa apa yang gue katakan tadi malah bisa membuat suasana kita berdua semakin canggung.

"Yaudah, mau apa biar kita cepet pulang?” Tanya Ipeh lagi sambil duduk di sebelah gue.

“Biasa..”

“Apaan? Teh Kotak?”

“Yoi..”

“Yaudah tunggu!” Ipeh bergegas pergi meninggalkan gue.

Sembari menunggu Ipeh, karena gue merasakan rasa canggung yang luar biasa, dengan sigap gue mengambil HP di saku dan mengirim pesan ke temen sms-an gue, Matematika Buku Cetak.

“Anjir suasana gue canggung. Aaaaaakkkk” Tulis gue.

Gue menekan tombol send, lalu menunggu ada balasan, berharap temen gue itu membalas sms gue cepat.

Trrrt…
Satu SMS masuk. Gue langsung buru-buru membacanya.

“Canggung kenapa?” Tanyanya.

Gue langsung membalas pesan tersebut dengan kilat.

“Nggak tau, baru kali ini gue ngerasa canggung kaya gini. Anjir aneh sumpah.”

BRAK!!

Lagi menunggu balasan dari si Matematika Buku Cetak, tiba-tiba meja kantin tempat gue menaruh kepala mendadak terguncang seperti ada barang berat ditaruh dengan keras di atasnya. Sontak gue langsung bangun dan melihat ke arah sumber suara.

“Nih!” Ipeh menaruh sebungkus keresek besar di depan muka gue.

“Apaan nih?” Gue mengintip ke dalamnya.

“ANJIR LO UDAH GILA PEH?! SATU JUGA CUKUP KALI PEH!!”

“BAWEL!! Tuh gue beliin 6 Teh Kotak. Anggap aja lo utang sama gue. Dan bayarannya adalah menuruti apa kata gue satu hari ini. Dah gitu nanti gue beliin teh kotak 6 bungkus lagi di rumah.”

“Gila lo!! Lo mau ngebuat gue struk?! Ini sih namanya mau ngebunuh gue pelan-pelan, nanti kalau semisal gue bersin malah keluar gula aren lo mau tanggung jawab?!”

“Hahahaha dodol malah ngelawak. Ayo ih Mbeee…” Ucap Ipeh yang ntah kenapa mendadak jadi manja.

“Iya deh iya ayo berangkat, gue buka dulu yak satu. Lagian ada apa sih nona Ifa sampai terburu-buru gitu?!” Jawab gue mencubit pipinya Ipeh.

“Ih manggil Ifa dong! Buruan ah ayo ke parkiran.” Ipeh berjalan duluan di depan sembari menarik tas gue.

“Gue udah macam kacung aja kalau begini caranya.” Gue berjalan malas-malasan di belakangnya sambil masih setia nyedot Teh Kotak geratis ini.

.

                                                         ===

.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, Ipeh yang sedari tadi ada di jok belakang motor gue ini lebih pendiam ketimbang biasanya. Ketika macet gue sempat melihat dari kaca mobil di sebelah bahwa Ipeh sedang sibuk dengan HP-nya. Ada apa sih ini? gue tuh orangnya paling males kalau udah dibuat penasaran. Rasa-rasanya ada yang ganjel.

Setelah sampai di rumah, Ipeh langsung turun dari motor dan menunggu gue memarkirkan motor di pekarangan rumah. 

“Ada siapa aja Mbe di rumah?” Tanya Ipeh.

“Jam segini sih cuma ada nyokap doang, itu pun paling lagi tidur di kamar. Kenapa?”

“Yaudah cepet yuk masuk.”

“Ini siapa sih yang tuan rumahnya?”

Sebenarnya Ipeh baru ke rumah gue sekali doang, tapi siang ini lagaknya dia sudah seperti orang yang sering mampir ke rumah gue. Nih anak lama-lama makin mirip si Ikhsan, pecicilan nggak jelas. Begitu masuk ke dalam rumah, gue langsung ditarik oleh Ipeh ke pekarangan belakang. Ipeh mengambil handuk di jemuran lalu melemparkannya ke arah gue.

“Cepet mandi dulu. Yang bersih, yang wangi. Gue tunggu di mana nih?”

“Ngg.. kamar gue?”

“Ah nggak mau, masa ada cewek nunggu di kamar cowok sih?!”

“Loh, elo cewek toh?”

“IH MBE!!” Ipeh mengacungkan kepalan tangannya ke arah gue yang langsung terbirit-birit masuk ke dalam kamar mandi.

Ini adalah kali pertama di mana gue harus mandi dengan perasaan penuh tanya. Gue nggak punya niat mandi, tapi sekarang lagi sabunan. Rasa-rasanya kayak ada yang hampa gitu. Sabunan pun terasa tidak selancar biasanya. Keramas pun tidak sesensasional biasanya. Bahkan mau nyanyi di kamar mandi pun rasanya tidak bebas. Gue gosok semua onderdil gue biar bersih sambil terus berpikir apa maunya Ipeh siang ini– walaupun pikiran gue sempat memikirkan yang tidak-tidak, tapi setidakanya gue harus bersiap dengan apapun yang akan Ipeh lakukan.

Halah.

Begitu selesai dari kamar mandi, gue berjalan menghampiri Ipeh dengan handuk yang masih melingkar menutupi bagian mempesona di tubuh gue. Ipeh yang sedari tadi masih sibuk sama HPnya mendadak terkejut melihat gue dengan busana seperti ini berdiri di depannya.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!” Ipeh teriak sambil menutup mata.

Gue terkejut bukan main mendengar Ipeh yang tiba-tiba teriak seperti ini. Dengan sigap gue langsung menutup mulut Ipeh.

“Eh kampret, jangan teriak-teriak lo, ntar nyokap gue ngeliat bisa bahaya. Apa yang bakal nyokap gue pikirkan kalau melihat anak kesayangannya masih pake anduk gini di depan cewek yang lagi teriak-teriak!”

Ipeh berontak tapi sambil tetap mencoba menutup mata.

“MBE IH!! PAKE CELANA DULU!!”

“Bawel amat. Bentar gue ke kamar dulu.” Jawab gue dingin dan pergi meninggalkannya.

Setelah meninggalkan Ipeh sendirian, gue masuk ke dalam kamar dan memakai pakaian biasa yang gue pakai kalau lagi ada di rumah. Celana pendek dan kaos oblong gitu aja. Namun begitu gue keluar kamar dan berjalan menuju Ipeh, Ipeh terlihat sangat marah. Dia bangkit dari kursi, menghampiri gue, dan menjewer kuping gue keras.

“Aduuuh duh duh duh, gue salah apa lagi Tuhaaaan…”

“Mana tempat baju lo?” Tanya Ipeh kasar.

“Di.. di.. di kamar Peh.”

“Ayo masuk ke kamar!”

“Eh?! Masuk ke kamar?!” Gue memasang wajah mesum.

“IH BUKAN ITU!!! MAKANNYA KALAU MANDI, OTAKNYA JUGA DIBILAS BIAR SEHAT!!”

“Ya terus mau ngapain ke kamar gueee Peh.” Gue masih menahan rasa sakit di telinga.

Namun Ipeh tampaknya tidak menghiraukan pertanyaan gue, Ipeh menarik kuping gue sehingga mau tidak mau gue mengikutinya dari belakang. Sesampainya di kamar, Ipeh langsung melepaskan jewerannya.

“Tempat kemeja di mana?” Tanya Ipeh.

“Lemari yang bisa digeser.” Jawab gue bete.

“Celana jeans paling bagus lo taruh mana?” Tanyanya lagi.

“Laci nomer 2.”

“Kalau acara formal, lo pake apa biasanya?”

“Acara formal? kalau formal semegah acara pesta atau kalau gue lagi nge-MC sih gue pake jas sama waistcoat. Tapi kalau acara ngumpul-ngumpul sih gue paling pake sweater.” Jawab gue sembari mengambil gitar lalu kemudian mamainkan lagu Jason Mraz - I’m Yours semetara Ipeh lagi sibuk ngacak-ngacak isi lemari pakaian gue.

“Pake celana jeansnya.” Ipeh melemparkan celana Jeans ke arah gue. 

Awalnya gue menolak dan tetap melanjutkan bermain gitar, tapi kemudian Ipeh mengancam bakal memutuskan gelang kesayangan gue yang lupa gue pakai dan terletak di lemari pakaian. Maka mau tidak mau gue terpaksa menuruti semua perintah Ipeh.

“Coba pake kemeja ini.”

“iya..”

“Hmm, kurang cocok. Lepas, ganti yang ini.”

“Iya..”

“Bagus sih, mau pake sweater?”

“Iya..”

“Ada 3 nih, biru, biru muda, sama biru dongker. Astaga Mbe, punya sweater kok warnanya sama semua.”

“Gue suka warna biru dongker. Bawel lo. Udah kaya Mak Tiri aja.”

“Mau pake yang mana?”

“Yang nomer 3.”

“Sepatunya punya yang bagus nggak?” Tanya Ipeh yang sekarang lagi membuka lemari sepatu gue.

“Ada, noh yang warna biru jeans.”

“ASTAGA!! Warna biru lagi?!”

“Gue suka warna biru dongker.”

“Euh, yaudah cepet pake.” Tukas Ipeh bete.

“Ambilin gelang gue yang mau lo putusin tadi itu dong.”

“Nih!” Ipeh melemparkan gelang kesayangan gue tersebut.

“Jam tangan gue juga sekalian, ada di laci lemari.”

“Warna apa jamnya?”

“Biru..”

“BIRU LAGI?!”

“Gue suka war..”

“Iya lo suka warna biru dongker kan? gue tau. Nggak usah dijelasin lagi.”

“…”

“Parfum mana parfum?” Tanya Ipeh.

“Nggak usah diparfumin ah. Kaya banci mau mangkal aja pake parfum.”

“PARFUM MANA PARFUM!!” Kata Ipeh melotot.

“Ad..ada di atas meja belajar.”

“Buset, katanya kalau pake parfum tuh kaya banci yang mau mangkal, tapi lo sendiri punya 4 parfum yang beda-beda.”

“Yeee kalau soal itu sih beda cerita, parfum gue mah berkualitas semua.”

“Axe coffee? oke gue tau. Spalding? Enak nih wanginya, anak karate biasanya sering pake. Chabiche? Nggak pernah denger, wanginya juga aneh. Drakkar Noir? Apa pula ini?”

Melihat Ipeh yang masih ngotak-ngatik parfum gue dan menciumnya satu persatu, lama kelamaan gue jadi bete juga. Gue berdiri dari tempat tidur , gue genggam tangan Ipeh sehingga badannya kini menghadap gue. Gue majuin kepala gue dengan wajah galak.

“Jawab gue sekarang.” Tukas gue galak.

“Ngg.. Jauhan mukanya, Mbe.”

“Diem. Jawab dulu pertanyaan gue.” Muka gue semakin maju. “Jelasin ke gue sekarang, mau ada acara apa hari ini?!”

“Ngg..”

“Indoor? Outdoor? Wedding? Party? Dinner? Lunch? Brunch? Ah brunch nggak mungkin, udah lewat waktunya.”

“Dinner.”

“Hotel atau restaurant biasa?”

“Restaurant biasa.”

“Restorant yang perlu booking apa tinggal dateng?”

“Restoran yang perlu booking, Mbe.”

“Oke.”

Gue kembali mundur dan membiarkan Ipeh sedikit menjauh sambil memegang jantungnya karena terlihat masih kaget atas apa yang gue lakukan kepadanya tadi. Gue melihat ke arah Ipeh sinis, lalu mengambil satu parfum. Drakkar Noir. 

“Wanginya enak nggak?” Tanya gue sembari menyemprotkan parfum tersebut ke badan gue.

“Ngg.. enak sih Mbe. Nggak bikin mual.”

“Ya jelas aja, mahal ini. Gue nggak pernah mau pake parfum ini kecuali ada acara penting. Sini lo..” Gue menarik tangan Ipeh sehingga Ia menjadi lebih dekat kembali.

“Ih mau apa Mbe?!”

Gue menyemprotkan parfum gue tersebut ke kedua lengan nadi gue, meratakannya, lalu kemudian menggosokannya ke area leher Ipeh.

“Ini buat apa Mbe?” Tanya Ipeh penasaran.

“Lo kan baru kenal sama parfum ini, dan kalau mendadak lo nyium wangi parfum yang gue pake ketika nanti kita naik motor, lo bakal mual lama-lama. Tapi dengan wangi cologne yang ada di leher lo itu, lama-lama kelamaan idung lo bakal terbiasa dan nggak akan mual lagi.” Jelas gue sembari terus mengusap-ngusap nadi lengan gue ke nadi leher Ipeh.

“Kok gue baru tau Mbe ada cara yang kaya gitu?”

“Kuper sih lo. Kebanyakan maen di lumpur. Ayo butuh apa lagi, gue perlu bawa tas nggak?”

“Ngg.. Nggak deh kayaknya Mbe.”

“Kayaknya gue tau hari ini mau ngapain. Kalau semua udah beres, ayo cepetan kita pergi.”

“Hehehe maaf ya Mbe ngerepotin.” Ipeh tersenyum melihat gue yang sudah berdandan rapih.

“Bawel.”

.

                                                                  ===

.

Sekarang gue dan Ipeh sedang menuju sebuah komplek perumahan Ipeh. Dan sekali lagi, selama perjalanan ini Ipeh terlihat lebih pendiam, ntah apa yang sedang Ia lakukan di belakang. Waktu telah menunjukkan pukul 16.00

Sesampainya di halaman rumah, Ipeh langsung menyuruh gue untuk memasukkan motor ke dalam garasi. Loh tumben-tumbenan, biasanya gue cuma disuruh parkir motor di halaman doang. Belum juga gue sempat bertanya, Ipeh langsung mengancam dengan mengangkat kepalan tangannya. Yasudah, akhirnya mau tidak mau gue menuruti lagi kemauan Ipeh yang seenak jidatnya sendiri itu.

Setelah memarkirkan motor, Ipeh mengatakan agar gue menunggu di ruang tamu sementara Ipeh bersiap-siap mandi dan berganti pakaian. Tanpa dihidangkan minum atau cemilan lain, akhirnya gue terpaksa menuggu sendirian di ruang tamu.

1 menit.. gue duduk dengan sikap sempurna.
3 menit.. gue mulai bersandar sambil memangku kaki.
5 menit.. gue mulai bersandar sambil selonjoran.
10 menit.. gue udah nyakuin 3 guci, 2 porselen, dan 1 asbak di dalam saku.

“Eh, itu.. kamu..” Mendadak dari pintu dalam ada seseorang wanita yang menyapa gue.

“Eh kak Ai ya?” Jawab gue berusaha untuk kembali mengingat nama-nama kakaknya Ipeh.

“Wesss hebat masih inget ternyata. Btw nama kamu tuh siapa ya? Kalau nggak salah sih dari huruf D. Hmm Doni ya? Atau Dani? Dodi? Dirgantara ? Ah aku ingat, Dumay ya?!” Ucapnya gembira.

“Dimas kak. Jauh amat dari Dimas jadi Dumay.”

Buset nama gue jadi Dumay, lo pikir nama gue singkatan dari Dunia Maya?! 

“Ah iya Dimas hahahah, padahal nama pasaran kaya gitu kok aku bisa lupa ya..” Jawabnya polos.

“…" 

Nih nggak adik, nggak kakak, kok sama-sama menyebalkan ya. Rasa-rasanya gue jadi mengerti darimana Ipeh mendapatkan sifat menyebalkannya itu.

"Btw kamu ngapain di sini?” Tanya kak Ai lagi.

“Ngg.. dipaksa Ifa kak. Aku juga masih belum tau mau ada apa.” Jawab gue polos.

“Loh, diajak Ifa? Seriusan ifa yang ngajak?”

“Iya kak, emang ini ada apa sih kak?”

“Seriusan Ifa yang ngajak?” Kak Ai semakin mendekat, gue semakin grogi. Body kak Ai memang luar biasa menggoyangkan Iman. Mirip kaya lekukan rebana.

“Iya kak. Salah ya?”

“Hmm… hmm… hmmm…” Kak Ai menelaah gue dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Hmmm.. bakal jadi berita besar nih kayaknya hari ini.” Tukasnya lagi.

Mendengar hal tersebut, perasaan gue semakin tidak karuan. Gue semakin deg-degan. Ini kali pertama gue bisa merasakan se-nervous ini.

“Emang ada apa sih kak?” Tanya gue semakin penasaran.

“Eh bentar, udah jam brp sekarang?” Tanya kak Ai memotong.

Gue melihat ke arah jam tangan gue, “Ngg.. jam 16.20 menit kak.” Jawab gue.

“Astaga bisa-bisa telat nih. Eh kamu, aku masuk ke dalam dulu ya. Kamu kalau mau minum bikin sendiri aja di dapur. Dari sini belok kiri, terus belok kanan. Ambil aja apa yang kamu mau. Anggap rumah sendiri. Aku ke dalam dulu ya.” Kata kak Ai yang langsung pergi meninggalkan gue sendirian.

“Eh iya kak silahkah. Maaf merepotkan.” Jawab gue gelagapan.

Lhaaa ngapain juga gue malah minta maaf. Benar-benar kebiasaan lama nih, gue kalau ketemu cewek yang menggoyangkan iman pasti ujung-ujungnya salting. Lagian gue sampai sekarang masih heran, kakak-kakak Ipeh itu benar-benar sosok yang sempurna kalau dilihat dari luar. Bahkan mata gue yang sering menilai wanita cantik itu tidak cantik pun sekarang 100% yakin dan sangat setuju apabila ada orang lain yang berkata bahwa kedua kakak Ipeh ini cantik-cantik. Gue nggak tau nyokapnya Ipeh ngidam apaan ketika mengandung mereka berdua, sedangkan ketika mengandung Ipeh, paling-paling nyokapnya ngidam gardu listrik atau kertas semen.

Belum lagi ditambah fasilitas yang dimiliki oleh keluarga Ipeh, gue rasa makin hebat saja kedua kakaknya dalam merawat diri. Gue sekarang cukup mengerti ketika Ipeh menjelaskan bahwa kedua kakaknya itu adalah primadona ketika mereka masih sekolah dahulu. Dan mungkin dari banyaknya pria yang pernah mengunjungi rumah ini, gue termasuk salah seorang yang beruntung karena bisa melihat kakak-kakak Ipeh mengenakan pakaian santai yang biasa wanita kenakan ketika mereka sedang tidak ada rencana untuk pergi keluar rumah.

Sembari menunggu Ipeh yang masih mandi, gue agak gelisah ketika mengetahui bahwa Teh Kotak yang Ipeh belikan untuk gue itu dia bawa juga ke dalam. Sehingga sekarang gue dehidrasi sendirian di ruang tamu tanpa ada sedikit pun hidangan yang disediakan. Gue memang punya gejala sering mengalami Dehidrasi, oleh sebab itu ketika gue sudah terlalu sering minum Teh Kotak pun orang tua gue jarang melarang. Karena sudah terlalu merasa sesak di tenggorokan, akhirnya gue beranikan diri untuk mengambil tawaran kak Ai tadi, yaitu membuat minum sendiri.

Kalau nggak salah dari sini lurus, belok kiri, terus belok kanan. Gue berjalan pelan-pelan dengan perasaan sungkan karena gue belum terlalu akrab dengan rumah ini. Namun ternyata Tuhan itu baik, gue langsung menemukan area dapur tanpa harus tersesat terlebih dahulu. Seperti yang gue duga sebelumnya, dapur Ipeh terlihat cukup megah dengan segala macam bahan-bahan masakan dan minuman. Di sana tersedia gelas-gelas kaca, saos, sayuran, dispenser buat beras, kulkas besar yang harganya kira-kira 10jtan, rak piring dengan piring bagus-bagus, dan macam-macam toples berisi kue di sebelah tumpukan bumbu-bumbu masak.

Untung tidak ada Ikhsan hari ini, gue nggak bisa membayangkan akan seterkejut apa Ikhsan jika melihat hal ini semua, apalagi ketika melihat banyaknya toples berisi macam-macam kue di dalamnya. Dapur ini benar-benar seperti harta karun. Gue mengambil satu gelas kaca, lalu kemudian membuka lemari kulkas.

ASTAGAAAA!!!
ASTAGFIRULLAH!!
YA ALLAH YA ROHMAN YA ROHIM YA MALIK YA KUDUS…

Gue terkejut bukan main sambil menyenandungkan Asma Ul-Husna melihat isi kulkas Ipeh. Ini sih namanya bukan kulkas rumahan! Ini sih kulkas department store! Banyak amat buah-buahannya, mana ada frozen sushi segala lagi. Gue iseng membuka laci kedua dari bawah dan menemukan ada banyak daging sapi dan daging ayam yang masih di wrap rapih. Gue buka laci tengah kulkasnya dan menemukan banyak permen coklat beserta keju-keju impor. Anjir gila banget. Ini sih namanya pemborosan makanan!! Gue senewen-senewen ganteng melihat isi kulkas Ipeh tersebut. 

Gue kembali iseng dengan membuka pintu paling bawah kulkas tersebut, dan astaga! Gue terkejut lagi ketika mendapati ada banyak botol minuman tersusun rapih di dalam sana. Dari macam-macam softdrink, wine, atau bahkan buah-buah fermentasi dalam kaleng. Petualangan gue belum selesai, gue putuskan untuk membuka freezer kulkas Ipeh. Dan sesuai dugaan gue, isinya luar biasa semua. Dari macam-macam es krim walls, coklat dingin, es mony, forzen fruit, dan masih banyak lagi. 

Gue heran, dengan makanan semewah dan sebanyak ini, kenapa nggak ada satupun member di keluarga Ipeh yang terlihat kelebihan berat badan ya? Bener-bener keluarga murtad ini namanya. Mungkin ini keluarga dulunya keturunan Sinbad, alias keluarga beruntung. Cantik iya, berkecukupan iya, body kaya gitar spanyol iya, pinter juga iya. Gilaaaaaa, ini sih Tuhan bener-bener nggak adil namanya. Ketika satu temen gue sangat beruntung dengan berbagai macam fasilitas seperti Ipeh ini bisa hidup bahagia, di lain sisi, melihat Ikhsan, gue jadi merasa kasihan bukan main. Sungguh perbedaan kasta yang tak mungkin bisa dilewati oleh 7 generasi.

Gue menarik nafas dan mulai memilih-milih enaknya mau minum apa. Tapi melihat isi kulkas Ipeh sih kayaknya enak semua. Yasudah, toh kakak Ai sudah mempersilahkan gue untuk menganggap dapur ini dapur gue sendiri, jadi kalau semisal gue ambil apa yang gue mau juga nggak papa ya. Lagian kehilangan 1-2 minuman atau makanan juga tampaknya mereka tidak akan keberatan.

Gue ambil sedikit wine dan menuangkannya di dalam gelas. Meminumnya sedikit, lalu tersimpuh bersujud syukur kepada Tuhan.

“Ya Tuhaaan, akhirnya hambaMu ini bisa merasakan Wine untuk yang pertama kalinya. Akhirnya hambaMu ini Kau izinkan untuk menikmati beberapa Wine mahal dengan geratis.” Gue menitikan air mata, rasa-rasanya gue jadi mengerti betapa bahagianya Jack Dawson waktu mendapatkan tiket untuk menaiki kapal Titanic First Class geratis di film Titanic keluaran tahun 2000 silam. 

Setelah menuang Wine, kini gue mencoba untuk membuka minuman lain, yaitu sebuah minuman Jus Kemasan rasa apel asli Amerika. Dan sekali lagi, gue harus bersujud syukur sambil sholat Ba'diyatan kepada Tuhan setelah menikmati tiap bulir air jus yang masuk ke tenggorokan gue ini. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan..

Next, gue mengambil sebuah box karton minuman dengan tulisan bahasa korea di kemasannya. Dari gambarnya sih gue tau ini Teh, tapi apa boleh gue coba ya? ah gue coba aja deh, hidup cuma sekali, ada kesempatan bagus jangan disia-siakan.

Tanpa malu-malu lagi gue langsung menuangkan minuman yang nggak gue kenal sama sekali itu ke dalam gelas. Dan ketika gue cicipi, lidah gue berputar kencang layaknya biang-lala, badan gue bergoyang melakukan gerakan goyang dribble. Mata gue kelap-kelip kaya lampu bohlam di kios rokok. Luar biasa!! Ini adalah Teh paling nikmat yang pernah gue coba selama hidup gue. Tanpa pikir panjang, gue langsung menuangkan penuh Teh tersebut ke dalam gelas, mengambil satu buah toples berisi Millo Balls rasa coklat, dan membawanya pergi ke ruang tamu untuk disantap dengan santai.

Sampe 7 lebaran haji pun kayaknya nyokap sama bokap gue kaga akan pernah beli Wine untuk persediaan minuman di rumah. Walau ada nenek-nenek main basket pake sendal rematik juga nyokap gue kaga akan pernah beli minuman aneh-aneh kaya minuman yang ada di kulkas Ipeh seperti ini. Maka dari itu wajar apabila gue bahagia setengah mati hari ini.

.

                                                                  ===

.

Sore ini, dengan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa akhirnya stabilitas perut gue terjamin dengan aneka makanan mahal yang baru saja gue comot dari dapur orang. Kalau seperti ini caranya sih Ipeh nggak keluar-keluar dari kamar juga nggak papa, menunggu tidak pernah semenyenangkan ini sebelumnya.

“Loh.. ada tamu toh.” Tiba-tiba dari pintu luar ada seseorang yang masuk. 

Setelah gue lihat, ternyata itu mba Afi.

“Eh, kamu lagi. Temennya Ifa ya?” Tanya mba Afi ketika tak sengaja mendapati gue lagi asik-asikkan ngemilin makanan orang di ruang tamunya.

“Eh iya mba, aku di undang Ifa tadi.”

“Loh, kamu diundang Ifa? serius?”

“Ngg.. iya mba, kalau aku nggak salah denger sih gitu.” Kata gue.

Tapi tampaknya sore ini gue lagi sial, ketika gue lagi menjelaskan perihal kehadiran gue di rumah ini, dari dalam rumah tiba-tiba muncul kak Ai. Perasaan gue mulai nggak enak setiap dua orang ini muncul dan hadir di satu waktu bersamaan. Gue masih inget apa yang mereka tanyakan waktu pertama gue datang ke rumah ini dulu.

“Udah beres mba Salonnya?” Tanya kak Ai.

“Udah nih, lumayan deh. Oh iya, Putra jadi datang hari ini?” Balas Mba Afi sembari memeriksa HP-nya.

“Jadi kok, awas aja kalau dia nggak dateng pas acara penting kaya gini. Indra sendiri bakal dateng, mba?”

“Dia usahakan katanya, nanti dia bakal langsung dateng ke restorannya.”

“Eh mba, btw masih inget nggak siapa nama pacar Ifa ini?”

DEG!!
Ucapan kata ganti orang ketiga yang kak Ai tunjukkan ke gue itu mendadak terasa sangat menyakitkan di hati.

“Nah itu, aku juga bingung i, sini deh duduk dulu deh.”

Akhirnya firasat buruk gue pun kejadian juga. Dua orang cantik-cantik tapi menyebalkan ini sekarang sedang duduk di sebrang gue sembari menatap penuh curiga. Padahal harus menghadapi sikap menyebalkan Ipeh saja kadang gue sudah nggak sanggup, dan sekarang gue diharuskan menghadapi 2 Ipeh yang lain. Bedanya, kalau Ipeh temen gue mah otot semua di bagian dadanya, tapi kalau dua orang Ipeh yang ada di depan gue sekarang ini isi dadanya adalah harapan dari para umat manusia di seluruh dunia.

*dislepet beha*

Kak Ai terlihat berbicara bisik-bisik, lalu kemudian mba Afi melihat ke arah gue sebentar dan berbicara bisik-bisik juga ke arah kak Ai. Gue grogi setengah mati, semoga mereka tidak menyadari bahwa ada makanan-makanan dari kulkas mereka yang kini tersaji tanpa izin di depan gue.

“Ehem…” Tiba-tiba mbak Afi mengagetkan gue.

“Aku mau tanya, Kamu Dimas kan yah?” Tanyanya lagi.

“Ngg.. i-iya kak, saya Dimas.”

“Hoo Dimas toh.. Nah Dimas ini siapanya Ifa kalau boleh tau?”

“Ngg.. temen sekelasnya mbak. Sumpah Dimas jujur, nggak bohong.” Jawab gue glagapan.

“Kenapa jadi grogi gitu, memangnya ada yang salah sama hubungan kamu dengan Ifa?" 

"Aduh, bukan gitu kak, cuma.. cuma, ngg.. anu… itu…”

“Eh kok jadi gagap gitu, jadi emang cuma teman aja nih?” Kak Ai menimpali.

“Iya kak. 100% teman doang. Kadang Dimas malah dijadiin budaknya sama Ifa. Dimas disuruh-suruh tanpa dikasih bayaran sesuai UMR Bandung.” Jawab gue nelangsa.

“Kamu nolak nggak waktu Ifa nyuruh-nyuruh kamu?” Kak Ai menatap gue curiga.

“Ngg.. kebanyakan sih nggak kak..”

“Kenapa nggak nolak? Emm.. jadi kamu masih mau bohong kalau kamu nggak suka sama Ifa?” Sindir kak Ai.

Belum sempat gue menjawab, gue sudah dihardik oleh pertanyaan senonoh lainnya dari mbak Afi.

“Terus, kalau misal kamu cuma teman, kenapa kamu ada di sini dong?” Mbak Afi kembali bertanya bak Jaksa Agung mau memberi hukuman mati.

“Aduh.. itu… anu.. ngg.. Dimas mendadak di undang sama Ifa, mbak. Bener deh, nggak bohong.”

“Hooo di undang sama Ifa.. Terus kamu tau sekarang ada acara apa?”

“Nggak tau kak, Ifa nggak mau ngasih tau. Tiap mau nanya, pasti Dimas langsung diancam.”

“Hahahaha itu baru adik kakak.” Ejek kak Ai.

“Sebentar i, mba mau nanya pertanyaan terakhir, dan mba harap kamu bisa jawab ya, Dimas.” Ancam mba Afi sambil tersenyum penuh muslihat.

“….”

“Kenapa dari sekian banyak teman Ifa, malah kamu yang dia pilih untuk datang ke rumah? Hari ini tuh sebenarnya ada acara besar untuk kita-kita semua, dan kenapa pilihan untuk acara sepenting ini tuh jatuh ke tangan kamu? Apa di sekolah, kamu sebegitu dekatnya sama Ifa sampai-sampai Ifa mempercayakan kamu ketimbang temennya yang lain? Atau jangan-jangan, kalian berdua sama-sama suka, tapi saling nggak mau ngungkapin perasaan karena takut pertemanan kalian jadi kerasa berbeda?”

“….” Gue speechless tidak berdaya di depan semua pertanyaan mba Afi. Karena sebenarnya, ada beberapa pertanyaan dari mba Afi yang memang pada dasarnya itu juga sering gue tanyakan kepada diri gue sendiri. 

Melihat gue yang nggak bisa menjawab pertanyaan mbak Afi, sontak mereka berdua tertawa penuh kemenangan. Rasa-rasanya gue makin bete kalau ada di sini lama-lama. Gue dijadikan bahan cemoohan oleh kedua kakak Ipeh. Sambil tertunduk malu, kak Ai dan mba Afi terus saja menggoda gue.

“Hahhahaha udah ah, masuk gih i, bentar lagi kita berangkat, kamu tinggal ganti baju doang kan?”

“Hahaha aduh perut Ai sakit nih gara-gara ketawa terus.. udah kok mbak, tinggal ganti baju doang.”

“Ifa sudah siap?” Mba Afi mulai berdiri dari duduknya.

“Lagi dandan kayaknya.”

“Yaudah, hei kamu HTS-annya Ifa, kita masuk dulu ya..”

“….” Gue cuma memandang mereka dengan tatapan bete.

Akhirnya setelah puas mendzolimi perasaan suci seorang anak SMA, para tante-tante liar itu kembali ke habitatnya masing-masing, meninggalkan gue kembali sendirian. Perasaan gue sekarang campur aduk, bukan karena malu atau bete, melainkan karena mengingat pertanyaan yang mba Afi tanyakan kepada gue tadi.

Pertanyaan mba Afi itu tanpa sadar kembali membuka sebuah rasa yang dulu sempat muncul ketika gue memakaikan jaket gue ke badan Ipeh di teras halaman rumah ini. Perasaan janggal yang gue sendiri nggak mau tau itu apa. Apakah mungkin benar ya, kalau sebenarnya gue nggak mau tau ini perasaan apa karena takut itu malah menjadi penghalang persahabatan gue dan Ipeh?

Rasa apa sih yang sebenarnya gue rasa ke Ipeh ? Apakah rasa nyaman sebagai teman? ataukah rasa nyaman karena perasaan….

Sayang?

Lantas apakah kalau semisal gue memang sayang, kita berdua masih bisa bercanda-canda dan tertawa se-tanpa-beban seperti dulu lagi? Atau jangan-jangan, jauh di dalam hati gue, gue suka Ipeh?

ASTAGA!!
Apa sih yang gue pikirin?! Kenapa juga gue harus mikirin hal kaya gini. Bangsat! Gue dikhianati oleh perasaan gue sendiri. Ipeh cuma teman kok, lagian siapa juga yang suka sama orang seurakan dia. Dan jika dibandingkan dengan Kak Hana pun, gue yakin kak Hana jauh lebih cantik dan anggun ketimbang Ipeh. Nggak! perasaan yang gue rasakan ini cuma perasaan sesaat doang. Semua orang juga pasti bakal merasakan hal seperti ini kalau ada di posisi gue.

i’m the biggest denial ever.

.

                                                                  ===

.

18.00

Setelah kumandang Maghrib terdengar, tiba-tiba gue juga mendengar ada derap langkah kaki dari dalam rumah. Dari suara langkah kakinya sih terlihat ada 2 orang. Dan ternyata memang benar, itu kak Ai dan mba Afi, mereka tampak terburu-buru berjalan berdampingan menuju ruang tamu.

“Ai, nyalain mobil dulu. Panasin mobilnya. Mba mau nelepon restorannya dulu.”

“Oke mba.” Kak Ai langsung pergi menuju parkiran mobil tanpa menghiraukan kehadiran gue di ruang tamu.

Sedangkan mba Afi terlihat lagi sibuk berbicara di teleponnya dengan seseorang yang ntah siapa. Tapi tampaknya mba Afi ini terkesan tegas orangnya, kharismanya ketika sedang berbicara di telepon itu gue rasa seperti kharisma seorang cewek cantik, mapan, mandiri, lalu sedang menceramahi para pria-pria murahan macam seblak yang mencoba mendekatinya. Elegan banget.

Setelah selesai berbicara dan menutup telepon, mba Afi melihat ke arah gue sebentar, lalu ngedumel.

“Ini si Ifa kemana sih, kasian pacarnya dibiarin sendirian gini dari tadi. Tuh anak dandan aja sampe 1 jam setengah. Dasar cewek aneh!”

“…” Gue cuma bisa diam melihat mba Afi ngomel-ngomel sendiri.

“IFAAAA!! CEPET TURUN!! SUDAH MAU PERGI NIH!! INI PACAR KAMU JUGA DIBIARIN NUNGGU LAMA DARI TADI!!”

“Iyaaa mbaaaa, Ini ifa lagi mau ngunci pintu kamar.” Mendadak ada suara Ipeh terdengar. Dan ntah kenapa, perasaan gue mendadak lega ketika mendengar suara itu.

“Eh pacar Ifa, kalau ifa udah turun, langsung suruh nyusul ke mobil aja ya. Jangan lupa suruh tuh anak buat ngunci pintu rumah, dia suka teledor soalnya kalau nggak diingetin.” kata mba Afi.

“I-iya mba, nanti Dimas kasih tau." 

Akhirnya mba Afi pergi menuju parkiran mobil meninggalkan gue sendirian sekali lagi. Sekarang gue berdiri, merapihkan pakaian, dan bersiap-siap menyambut Ipeh. Ada suara langkah kaki terburu-buru gue dengar dari dalam, dan ternyata itu Ipeh. Sebelum menemui gue, Ipeh berbalik sebentar dan mengunci pintu sebuah lorong tempat gue tadi pergi menuju dapur.

Karena mata gue minus, gue masih belum terlalu awas dengan apa yang ada di hadapan gue sekarang itu. Perlahan Ipeh menghampiri gue, dia terlihat malu-malu. 

Dan begitu mata gue bisa melihat jelas semuanya, sontak gue langsung terpana. Seluruh indra perasa gue mendadak berhenti. Mata gue tak henti-hentinya menatap seseorang yang ada di depan gue sekarang itu. Otak gue mendadak menghapus seluruh kenangan tentang bagaimana penampilan Ipeh sehari-hari ketika bertemu gue. Jantung gue berdetak begitu kencang dan nggak karuan, mulut gue kaku tak bisa banyak bicara seperti biasanya. 

Sosok anak mungil, tengil, dan cerewet yang selalu mengganggu gue kemana-mana dengan sikap annoyingnya itu sekarang sudah berubah menjadi seorang wanita elegan yang luar biasa cantik. Jika dulu gue dibesarkan dengan kartun-kartun buatan Walt Disney, maka apa yang terjadi pada Ipeh saat ini mirip seperti kartun Cinderella yang menjadi nyata. Rambutnya hitam terurai begitu rapih di belakang kepalanya, poni ciri khas anak SMA yang biasa ia kenakan setiap hari kini berubah menjadi poni rapih yang benar-benar menawan, bibirnya sedikit merah karena lipstik namun tidak begitu tebal, gaun hitam yang ia kenakan benar-benar membuat kulit putih langsat Ipeh terlihat begitu luar biasa mengaggumkan, membuat gue pengen megang-megang dan nyentuh-nyetuh selayaknya Ipeh adalah dodol codet.

Walaupun urakan, Ipeh sama sekali tidak mempunyai bekas luka di sekujur tubuhnya, sehingga ketika ia mengenakan gaun seperti ini, sangat sulit rasanya untuk percaya bahwa keseharian Ipeh adalah anak tomboy yang telah mengantongi sabuk biru di ekskul karate.

Gue masih tertegun di depan sesosok wanita paruh baya yang luar biasa cantiknya. Melihat pipi Ipeh hari ini, ntah kenapa rasanya bibir gue ingin mencoba rebah dan berisitirahat di sana. Jantung gue kembali berdegup kencang ketika Ipeh semakin mendekat ke arah gue. Perasaan yang selalu gue hiraukan itu kembali muncul ke permukaan. Jika tadi gue bersumpah bahwa kak Hana lebih cantik dan anggun ketimbang Ipeh, maka sekarang gue berani jujur bahwa itu adalah kebohongan paling besar yang pernah gue utarakan. Bibir gue benar-benar kelu, biasanya gue menjadi sependiam ini hanya jika gue sedang ada dihadapan orang yang benar-benar gue sayang, dan apa yang terjadi sekarang? ya. gue benar-benar terdiam. 

Tak bisa gue pungkiri. 
Gue..
Gue yang sekarang..
Gue benar-benar jatuh cinta dengan Ipeh.

I won’t deny anymore.

Ipeh sambil malu-malu menghampiri gue yang masih saja terdiam di hadapannya itu.

"Ih Mbe! Kok lo jadi pendiam gini sih? Gue malu sumpah dandan kaya gini di depan lo.” Kata Ipeh kesal.

“Pehhh?”

“Apa?!” Jawab Ipeh kesal.

“Ini beneran elo?” Tanya gue lagi.

“Ih Mbe, sumpah deh lo nyebelin banget!”

“Ini seriusan elo Peh?” Gue cubit kedua pipinya dan gue tarik-tarik berharap ini cuma sekedar mimpi.

“Apaan sih?! Gue males tau pakai pakaian kaya gini.” Ipeh menampis tangan gue.

“Peh, lo tiap hari aja kaya gini dong Peh. Gue mau jadi pacar lo kalau misal lo kaya gini terus.” kata gue bercanda.

“Yeeee malah ngalantur.” Ipeh memukul kepala gue.

“Tapi gue nggak habis pikir sumpah, anak bolang kaya elo bisa tiba-tiba jadi bidadari surga kaya gini?! Gila lo Peh, lo bisa dandan juga?”

“Apaan?! Gue juga dibantu sama kak Ai tadi.”

“Gak percuma gue nunggu lo lama-lama kalau hasilnya lo bisa secantik ini." 

"Ih ngeledek terus sumpah!”

“Hahahaha nggak kok, oh iya tadi mba Afi bilang dia udah nunggu di mobil. Ayo berangkat sekarang, jangan lupa kunci pintu..” Kata gue.

“Okeee, tapi Mbe, jujur gue malu banget pake rok kaya gini.” Ipeh terlihat murung memegangi gaunnya.

Setelah gue mengunci pintu, gue melihat kembali ke arah Ipeh yang masih merasa tidak nyaman dengan pakaian yang tengah ia kenakan. Mungkin bagi Ipeh yang sehari-harinya lebih sering menggunakan jeans bolong-bolong dan kaos oblong, memakai gaun terbuka seperti iri rasanya seperti tidak mengenakan apa-apa. 

Namun tiba-tiba, gue tanpa pikir panjang menggenggam tangan Ipeh lalu kemudian menggandengnya sembari berjalan menuju parkiran mobil. 

“Lo nggak boleh minder. Jika pun ada yang harus minder, itu pasti gue yang merasa sebegitu kurang jika harus mendampingi lo yang terlihat luar biasa hari ini. Kalau tau lo bakal secantik kaya gini, gue pasti tadi bakal pake pakaian jas lengkap, Peh.” Kata gue.

“…” Ipeh hanya terdiam melihat ke arah gue yang masih menggandeng tangannya.

“Tenang saja, hari ini gue bakal membuat orang-orang yang melihat ke arah kita berpikir bahwa gue adalah cowok paling beruntung yang bisa mendampingi cewek secantik elo, Peh” Kata gue yang masih berjalan bergandengan tangan tanpa sedikit pun menoleh ke arah Ipeh.

Ipeh terdiam..

“Dih gombal aja deh.” Mendadak Ipeh mencubit tangan gue.

“Bhahahahahak bangke serius gue, tapi ngomong-ngomong, apa jadinya ya kalau ada anak kelas yang ngeliat kita kaya begini. Bisa runyam ini dunia persilatan." 

"Hahahaha iya juga ya.”

Sesaat sebelum gue membukakan pintu mobil untuk Ipeh, gue melihat ke arah Ipeh.

“Peh, hari ini ada acara apa sih?” Tanya gue penasaran.

Ipeh melihat ke arah gue.

“Orang tua gue pengen ketemu lo.” Jawab Ipeh polos dengan wajah tanpa dosa, lalu kemudian masuk begitu saja ke dalam mobil.

WHAT?!
WHAT THE FUCK?!
IS THIS SERIOUS?!

gue benar-benar panik setengah mati.

.

.

.

                                                           Bersambung

Previous story : Here.

Seandainya kau tidak sengaja membaca, ketahuilah, apa yang aku tulis hari ini, adalah apa yang sebenar-benarnya aku rasakan saat itu.

2

Is this overall dress & White keds look too much? Or do I have the right to to dress like this bc I’m a preschool teacher who sm*kes w**d and it’s October? The real questions

DONASI BUKU UNTUK ADIK-ADIK NAGARI PADANG TAROK

Bismillahirrohmanirrahim

Saya percaya masih banyak orang baik, orang-orang yang ingin berbuat baik, ingin berbagi untuk sesama. Melalui kegiatan ini, izinkan saya percaya bahwa masih ada orang-orang baik yang peduli, orang-orang yang igin berbagi.

Donasi buku ini adalah kegiatan yang saya inisiasi sendiri, Welydya (Mahasiswi Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor Angkatan 2013) yang berasal dari Nagari Padang Tarok, Kec. Kamang Baru, Kab. Sijunjung, Sumatera Barat.

Desa kami jauh dari keramaian kota, jangankan toko buku besar, penjual buku saja hanya sesekali dapat ditemukan di pasar desa kami yang hanya sekali seminggu. Ini ada cuplikan tulisan saya mengenai desa kami https://welydya.wordpress.com/category/negeri-antah-berantah/
Jalan masuk dan keluar desa kami boleh satu, tapi kami dapat menjelajah dunia melalui buku.

Buku yang dapat didonasikan dapat berupa buku bacaan anak-anak dan buku pelajaran SD (muatan pendidikan, ensiklopedi, atlas, kamus bergambar, dll).
Tempat pengumpulan donasi buku: Sekretariat HIMITEPA IPB atau donasi dalam bentuk uang yang dapat ditransfer ke rek BNI 0303221121 a.n Welydya. Uang yang terkumpul Insya Allah akan dibelikan buku untuk adik-adik kita di Nagari Padang Tarok.
Donasi dapat diberikan hingga 14 Januari 2017.

“Seseorang mengajarkan saya bahwa benda kesayangan–sekecil buku, bisa lebih bermakna jika berpindah tangan. Buku pun demikian, ditulis dan disebar dengan semangat berbagi dan memberi. Kebahagiaan terbesar penulis adalah ketika bukunya dibaca oleh semakin banyak orang.” — dikutip dari Teman Imaji karya Mutia Prawitasari

Terima kasih

Narahubung:
Line: welydya30
WA/SMS ke 085274627672 (Welydya ITP IPB 2013)

Cahaya untuk Sebira

(Foto : (tampak atas) Pulau Sebira, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta)

Sekilas tentang Pulau Sebira

Pulau Sebira merupakan salah satu bagian dari Kepulauan Seribu yang termasuk dalam wilayah provinsi DKI Jakarta. Pulau Sabira atau yang juga disebut Pulau Sebira berada pada kordinat 05°12′18.5″S 106°27′39.4″E, adalah pulau paling utara di Kabupaten Kepulauan Seribu. Pulau ini tepatnya berada di Kelurahan P. Harapan, Kecamatan P. Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pulau kecil ini adalah pulau terjauh yang dimiliki Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yang jaraknya mencapai 100 mil ke arah utara dari Teluk Jakarta. Luas pulau ini hanya sekitar 9 hektar dengan jumlah penduduk kurang lebih 800 jiwa. Mengingat jaraknya yang jauh dari pulau pemukiman lainnya, roda pembangunan di pulau ini belum berjalan dengan lancar.

Pulau Sebira terdiri dari 152 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sebanyak 800 jiwa. Pulau ini mengalami kekurangan pasokan listrik yang dibutuhkan. Listrik yang digunakan sehari-hari berasal dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel). PLTS terletak dibeberapa titik di Pulau Sebira yang berbentuk menyerupai atap dan juga terdapat satu titik pusat pembangkit listrik tenaga surya untuk kebutuhan warga setempat. Listrik ini digunakan untuk keperluan sehari-hari dan kebutuhan fasilitas umum seperti masjid, sekolah, dan sebagainya. Dari pagi hingga sore, penduduk Pulau Sebira menggunakan listrik dari PLTS. Listrik yang berasal dari PLTS ini digunakan tergantung oleh keadaan cuaca di Pulau Sebira. Apabila cuaca buruk, maka tidak ada listrik. Mulai pukul 17.00 hingga pukul 07.00 keesokan harinya, penduduk mengunakan PLTD.

Pulau Sebira memiliki sekolah SD hingga SMP, yaitu SD-SMP Negeri Satu Atap 02, Pulau Sabira. Fasilitas sekolah ini tidak kalah dengan fasilitas sekolah-sekolah di Jakarta. Sekolah ini berlantai keramik putih, memiliki alat peraga yang lengkap bahkan dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC). Sayangnya, minimnya listrik di Pulau Sabira ternyata berimbas juga pada terganggunya fasilitas sekolah ini, AC tidak dapat digunakan setiap saat karena bergantung pada kondisi PLTS. Tidak adanya fasilitas laboratorium komputer juga akibat dari minimnya pasokan listrik di Pulau tersebut. Jika AC atau komputer dinyalakan, listrik langsung mati. Sekolah ini hanya memiliki pengajar sebanyak 7 orang, sedangkan siswa yang ada di Pulau Sebira berjumlah ratusan orang. Jadi, ada guru yang mengajar SD dan SMP sekaligus. Ketika lulus SMP, rata-rata anak-anak Pulau Sebira pergi ke Pulau Pramuka atau ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.


Cahaya Untuk Sebira

“Education is not filling a bucket, but lighting a fire” - William Butler Yeats

(Foto: Pengibaran Sang Saka Merah Putih - SMPN Satu Atap 02 Pulau Sebira)

Pernah lihat mercusuar?

Di pulau kami, ada satu mercusuar tinggi besar. Yang menjadi tonggak bagi kapal-kapal nelayan untuk berlayar. Tugasnya sederhana : memberikan pertanda bagi nelayan, bahwa tak lama lagi ia akan bersauh pulang. Lantas pertanda itu datang lewat apa? Ah, kalian pasti tahu jawabannya.

Ya, cahaya. 

Berkatnya, para nelayan dapat mencari nafkah dengan tenang. Ia tak hanya berfungsi sebagai penanda, tapi juga penunjuk arah. Agar nelayan tahu kapan ia harus berbelok–menghindari karang. Agar nelayan tahu kapal siapa yang ada di hadapan, kemudian saling berpapasan–menyapa dengan senyuman. Dan agar nelayan tahu, kapan ia harus berlabuh–membawa rindu kembali pulang.

Cahaya itu, meski terlihat sederhana, namun manfaatnya sangat besar bukan?

Ketika ia tiada, segalanya akan gelap gulita. Seperti halnya ilmu, tanpanya hidup seseorang akan terasa hampa. Dengan ilmu, seorang anak akan tahu sebuah dunia yang akan dihadapinya. Ilmulah yang mengantarkan mereka menuju masa depan yang bercahaya. Ilmulah yang membuat sorot mata itu berbinar, menatap segala asa yang ia gantung tepat di depan wajahnya. Ilmulah yang membuat tangan-tangan mungil itu menggelora, bersemangat demi mencapai mimpi-mimpi yang dijanjikan langit untuknya.

Sayangnya, jalan menuju mimpi itu tak sama untuk setiap orang, bukan?
Mungkin kita bisa bersekolah dengan nyaman, menikmati segala fasilitas dan teknologi yang ditawarkan, mengobati kehausan akan ilmu dengan buku-buku yang menggunung di perpustakaan.

Namun, bagaimana dengan mereka?

Yuk, kita bantu anak-anak Pulau Sebira menemukan cahayanya!

Caranya gimana? Mudah kok :)


Pertama, kamu bisa donasikan buku-buku baru maupun bekas (layak pakai) untuk disumbangkan ke anak-anak di Pulau Sebira.

Bukunya apa aja? Bisa berupa :

  • Buku Cerita
  • Novel
  • Buku Pelajaran
  • Iqra’
  • Ensiklopedi dan Buku Pengetahuan
  • dan lainnya

Untuk pengiriman donasi buku, bisa langsung menghubungi CP di bawah ini :

Line : @raniwy

SMS/Whatsapp : 0857-1010-3750 (Muthi)

Jangan lupa, untuk setiap donasi buku yang kamu kirimkan, sertakan secarik surat untuk anak-anak di Pulau Sebira ya :)

Format suratnya bebas, bisa berisi kata-kata penyemangat, gambar, ataupun cerita.


Kedua, kamu bisa menyisihkan sebagian rezekimu untuk pembelian buku dan peningkatan pendidikan untuk anak-anak di Pulau Sebira.

Donasi uang dapat dikirimkan melalui rekening di bawah ini :

0343424941
Bank Negara Indonesia
a/n Muthmainah

Ohya sertakan konfirmasi pengiriman buku dan bukti pembayaran, melalui whatsapp/sms ke CP dibawah ini ya :

0857-1010-3750 (Muthi)


Hasil dari penggalangan dana ini akan digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak di Pulau Sebira melalui program yang telah kami susun sebagai berikut :

Mari kita bersama-sama membantu masyarakat Pulau Sebira dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, karena pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa dalam menciptakan generasi penerus yang cemerlang.


Jadi, tunggu apa lagi?

Yuk! Berbagi cahaya untuk langit sebira :)





Tim KKN-PPM UGM DKI-02 2016

Contact Person :

Official Account Line : @dgo1525p

Instagram : @kkn.sebira2016

E-mail : kkn.sebira2016@gmail.com


Kuliah Kerja Nyata - Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat

Universitas Gadjah Mada

Pulau Sebira, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta




boleh minta tolong di share mbak dan mas? terimakasih banyak, semoga dibalas olehNya dengan kebaikan :)  

@tumbloggerkita @jalansaja @prawitamutia @jagungrebus @quraners @kurniawangunadi @kuebeludrumerah @satriamaulana @academicus @muhzulfikar @celotehsinonapuisi @bersamadenganmu @laninalathifa @herricahyadi @faldomaldini @eleftheriawords @senjasenjaberaksara @azharnurunala

The Way I Lose Her: Please, Don’t Tell Her.

Please don’t dare tell her what I’ve become.
Please don’t mention all the attention I have drawn.
Please don’t bother cause she’ll feel guilty when I’m gone.

.

                                                  ===

.

Mata gue masih kosong menatap ke arah kota Bandung malam-malam seperti ini. Gemerlapan lampu seakan tidak mengusik pemikiran gue yang dari tadi masih berkutat perihal hal yang sama. Gue nggak habis pikir dengan apa yang dilakukan Ipeh beberapa jam yang lalu di supermarket. Dengan mudahnya dia mencium pipi gue begitu saja sambil mengajukan pertayaanya yang luar biasa menyebalkan seperti itu.

Setelah insiden tadi, gue dan Ipeh tidak terlalu banyak bicara. Mungkin Ipeh juga sedikit terkejut mendengar apa reaksi gue ketika menjawab pertanyaan yang ia lontarkan di depan rak minuman malam tadi.

“Jadi, kalau jadi gue, lo mau pilih yang mana, Mbe?” Tanyanya polos dengan nada khasnya ketika memanggil nama panggilan untuk gue yang dia ciptakan seenak jidatnya sendiri itu.

Gue terdiam menatapnya sambil masih setia menggenggam dua teh kotak di tangan kiri dan kanan gue. Apa maksudnya nih anak nanya begituan sih? Apa ini mengartikan gue bisa menjadi seseorang yang lebih dari sekedar teman buat Ipeh lagi? Lha tapi kan sekarang dia punya pacar, lantas kalau semisal Ipeh memilih gue, terus pacarnya itu mau dia kemanain? Bah, gue jadi pelarian lagi dong? Lagi?! Sekali lagi?! Lama-lama gue muak kalau seperti ini terus.

Gue menghela napas lalu menaruh dua teh kotak yang sedang gue genggam itu ke atas kedua tangan Ipeh yang masih menyodorkan dua teh kotak ke depan gue dengan dalil menyuruh gue untuk memilih salah satunya.

“Apa untungnya buat gue kalau gue memilih Teh Kotak yang kecil? Terus apa untungnya buat gue kalau gue memilih Teh Kotak yang besar?” Tanya gue dingin.

“Loh kok elo malah bales nanya sih?!”

Gue raih semua Teh Kotak yang sedang Ipeh genggam itu lalu kembali menaruhnya di dalam rak minuman.

“Kalau gue jadi elo, Peh. Gue bakal milih yang kecil.”

Ipeh menyeritkan dahi, “Kenapa?” Tanyanya penasaran.

Gue membalikkan badan, mengambil satu buah Teh Kotak kecil yang lebih dingin lalu menempelkan Teh Kotak itu di pipinya. Sambil sedikit menunduk, gue berbisik.

“Soalnya, itu yang bakal gue lakukan ketika suatu saat ada orang yang cinta sama gue datang namun saat itu di sebelah gue ada elo, Peh. Gue pasti tetap memilih elo.”

Ipeh terdiam. Kemudian gue menarik diri lalu pergi menyusul kak Ai yang sudah lebih dulu berbaris di antrian kasir. Selama perjalanan pulang, gue dan Ipeh tidak lagi banyak bicara, kak Ai yang menyadari hal ini juga terdiam dan tak banyak tanya. Suasana di dalam mobil benar-benar sunyi. Beberapa kali dering HP Ipeh terdengar berbunyi namun tidak dihiraukannya sama sekali.

.

                                                    ====

.

Gue bukan tipe orang yang seperti itu, gue lebih menghargai kehadiran orang yang telah lama ada ketimbang orang baru yang datang begitu saja. Walaupun gue akui orang baru yang datang lebih menarik, tapi apa yang telah gue bangun selama ini dengan seseorang yang sudah dekat lama dengan gue juga bisa dibilang terlalu mahal untuk dilepaskan begitu saja.

Karena besok hari libur, gue memilih untuk terjaga lebih lama di balkon atas sambil sesekali memainkan gitar. Tak ada satu SMS pun masuk ke dalam HP gue malam ini. Ingin rasanya kalau lagi kaya gini tuh nge-sms si Matematika Buku Cetak, tapi karena sekarang gue sudah tahu siapa dia sebenarnya, gue jadi agak sungkan untuk meminta bantuannya mengingat setiap gue membayangkan Matematika Buku Cetak, yang terbayang-bayang di kepala hanyalah sosok Mai saja.

Hari-hari gue lalui seperti biasa, masih belum ada pergerakan signifikan yang gue lakukan untuk dekat dengan Mai lantaran pikiran gue mendadak terombang-ambing lagi gara-gara pertanyaan Ipeh kemarin malam. Pagi hari gue lebih sering menghabiskan diri nongkrong di warnet ketemu teman-teman lama. Mirza si wakil ketua warnet, Dodo si orang batak kelas 3 SMA dengan badan cukup besar, Gerald ‘Gigi’ yang jago banget main Dotanya, semuanya masih ada dan setia nongkrong di sana. Kayaknya setelah berpuluh-puluh cerita sakit hati yang gue lalui di masa SMA, hidup mereka di warnet ini nggak pernah berubah sama sekali. Gitu-gitu aja.

Tapi kalau boleh jujur, dibanding nongkrong sama temen SMA, gue sampai sekarang masih sreg nongkrong sama temen-temen warnet. Karena mereka tuh nggak pernah update masalah dunia luar, nggak pernah peduli masalah percintaan. Nggak akan jauh topik obrolan yang diomongin adalah perihal Boys Talk semua. Gue tahu di luar warnet, mereka pasti punya kehidupan juga, tapi entah kenapa mereka maupun gue ketika sudah masuk ke warnet dan ngobrol bersama, nggak pernah terbesit sedikitpun di benak kita untuk berbicara hal-hal yang rumit selain Bokep, Makanan, Game Online, dan Berantem dengan anak warnet RW sebelah.

Hari senin telah tiba. Seperti biasa dengan sigap gue langsung bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi. Sesampainya di sekolah, parkiran motor sudah cukup ramai dan terlihat lebih kacau dari biasanya. Ini udah sarapan sehari-hari kalau memasuki senin pagi, anak-anak bakal rusuh banget pergi ke kelas buat persiapan upacara. Ada yang sibuk beli topi, dasi, nempelin badge nama di seragam mereka, dan lain-lain.

Setelah menaruh tas dan mengambil topi dari laci meja, gue sedikit terkejut melihat bentuk topi gue setelah ditinggal lebih dari satu minggu di kolong meja ini. Bentuknya sudah nggak karuan, mirip muka Ikhsan. Ketika gue hentakkan topi itu ke atas meja, mendadak ada serpihan Mie Lidi jatuh dari dalam topi gue. Anjir bener-bener kurang ajar ini anak kelas yang menjadikan topi gue landasan Mie Lidi. Benar-benar tidak berpri-topi-upcara-an! Semoga yang mendzolimi topi gue seperti ini nanti di Neraka bakal dihukum dipecut tali puser doyok!

Anak-anak kelas tampak sudah banyak yang berbaris lebih dulu di lapangan basket. Ketika gue menghampiri mereka, gue melihat ada sosok Ipeh di sana, dia sempat melihat ke arah gue lalu kembali melihat lurus ke arah depan. Ah tai, kayaknya gue bakal dicuekin lagi hari ini. Yaudah sih, dengan begini gue bisa lebih fokus deketin Mai. Itulah yang ada di benak gue pagi ini.

Hari senin berjalan seperti biasa. Ada yang ketawa-ketawa di dalam kelas, ada juga yang asik gitar-gitaran di ujung kelas, ada juga yang asik main ayam-ayaman sambil ditontonin orang banyak. Siapa lagi kalau bukan gue dan Ikhsan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, beberapa anak ada yang pergi ke mushola untuk sholat, sedangkan gue dan Ikhsan masih tetep asik aja main ayam-ayaman di kelas. Ketika diajak temen untuk sholat pun kita berdua malah kompak berlasan yang sama.

“Gue lagi mens.”

Siang itu gue tidak melihat ada Ipeh di kelas, begitu juga dengan Mai dan geng cewek yang lainnya. Tumben-tumbenan banget kelas bisa sesepi ini ketika jam 12 siang. Karena bosan main ayam-ayaman, gue sekarang memilih untuk tidur-tiduran di atas meja beralaskan perut Bobby seperti biasa, sedangkan Ikhsan asik gitar-gitaran sambil duduk di jendela kelas berdua dengan Nurhadi. Udah mirip kaya Tukang Kupat sama grobaknya.

Lagi asik-asiknya mendengarkan kolaborasi musik antara Nurhadi dan Ikhsan, mendadak alunan gitar mereka terhenti. Mereka terdengar lagi bisik-bisik, gue nggak tahu apa yang mereka bicarakan soalnya gue sekarang lagi tiduran sambil ditutupi jaket.

“Oi Mai, rusuh amat. Kenapa? Bocor ya?” Tanya Ikhsan polos yang langsung dikeplak kepalanya sama Nurhadi.

Mendengar nama Mai disebut, gue langsung bangun. Guenya yang bangun! Bukan yang lain yang bangun! Hih..

“Eh kalian. Kalian nggak ke kantin?” Tanya Mai yang lalu menghampiri tempat duduk kita berempat.

“Nggak. Kenapa?” Nurhadi dan Ikhsan serentak menjawab.

“Ada kejadian loh tadi di kantin.” Balas Mai antusias.

Mendengar Mai berbicara antusias seperti itu, sontak kita berempat langsung duduk menghadap ke arah Mai sambil memasang wajah penasaran. Emang pada dasarnya cowok tukang gosip semua.

“Ada apaan tadi, Mai?” Tanya gue menggebu-gebu.

“Ngg..” Mai tampak memelankan suaranya, “Tentang Ipeh.” Tukasnya bisik-bisik.

Mendengar nama Ipeh disebut, sontak seluruh mata anak-anak langsung melihat ke arah gue.

“Ipeh?” Tanya gue heran mencoba menyembunyikan rasa penasaran.

“Iya. Masalah yang kemarin di Museum kayaknya belum beres deh, Dim.” Jawab Mai.

“Kenapa lagi tuh Rambo?” Tanya Ikhsan memotong.

“Aku nggak tahu garis besarnya kaya apa sih, tapi yang jelas Ipeh kayaknya dilabrak gitu sama cewek yang kemarin. Kebetulan saat itu aku sama Dilla and the geng lagi makan di kantin. Awalnya ya adu cek-cok lah antara sesama cewe. Kalau di antara cewek begitu, kalian pasti udah tahu siapa yang bakal menang kan?”

“Ipeh..” Jawab kita berempat serentak kompak sambil mengangguk-angguk dan mengelus janggut.

“Nah, tapi yang bikin runyam tuh ternyata di sana ada pacar si cewek yang lagi berantem sama Ipeh ini. Eh dia malah ikut-ikutan coba…”

Belum selesai Mai menjelaskan, gue, Ikhsan, Bobby, dan Nurhadi saling berpadang-pandangan dengan tatapan yang serius.

“Ipeh didorong gitu. Nggak terima karena dia main fisik, Ipeh tanpa pikir panjang langsung nampar tuh cowok. Wuih bunyinya keras banget. Semua orang di kantin langsung pada hening coba. Eh setelah ditampar bukannya si cowok tobat eh malah makin songong aja. Daripada makin runyam, Dila and the geng langsung misahin Ipeh dari sana dan Ipeh dibawa menjauh dari kantin ke lapangan basket.” Mai menjelaskan.

Kita semua terdiam.

“Lha terus elo sendiri ngapain ke sini?” Tanya Ikhsan kepada Mai.

“Ah iya lupa, tadinya aku ke sini cuma mau ngambil tempat minumnya Ipeh doang tapi kenapa malah jadi cerita panjang lebar ke kalian. Yaudah aku duluan yaaa. Nggak enak ditungguin Ipeh.” Jawab Mai yang langsung bergegas pergi lagi keluar kelas.

Keadaan kelas kini menjadi lebih hening setelah Mai tidak ada. Mata para anak monyet yang dari tadi duduk di atas meja dan jendela itu sekarang sedang melihat ke arah gue dengan tatapan kaya Mahasiswi semester 8 yang udah kebelet nikah, penuh teka-teki. Sedangkan gue sendiri setelah mendengar perkataan Mai menjadi lebih pendiam, tatapan gue kosong menghadap ke arah lantai tanpa memperhatikan ke arah sekitar lagi.

Ikhsan menyenggol tangan Nurhadi tanda menanyakan keadaan gue tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Nurhadi menggeleng-geleng tanda tidak mengerti. Kemudian Nurhadi melemparkan garpu popmie lemes yang diambilnya dari kolong meja lalu melemparkannya ke arah Bobby. Bobby langsung menengok ke arah mereka, Nurhadi memberikan kode menanyakan keadaan gue kepada Bobby, tapi Bobby juga malah menaikan pundak tanda tidak mengerti. Siang itu tidak ada yang berani menanyakan keadaan gue.

Bel sekolah telah berbunyi. Beberapa anak-anak kini masuk kembali ke dalam kelas. Gue menatap serius ke arah setiap anak-anak yang masuk mencari keberadaan Ipeh. Selang 5 menit, ada sosok Mai terlihat masuk ke dalam kelas, dia melirik ke arah gue sebentar lalu menggerakan kepalanya ke belakang seperti memberi tahu bahwa ada Ipeh di belakangnya. Mai benar-benar mengerti gue tampaknya.

Dan ternyata benar, Ipeh masuk ke dalam kelas dengan keadaan masih dipeluk oleh Dila and the geng. Melihat hal itu jantung gue berdetak cepat, tangan gue mengepal, pikiran gue kacau balau. Ada perang antara logika dan perasaan ketika melihat seorang yang gue sayang kini tengah lesu seperti itu tanpa gue bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Gue nggak tahu harus memilih pihak siapa? Logika gue yang mengatakan agar gue tetap diam di tempat, atau hati gue yang mengatakan untuk mendatangi Ipeh dan duduk di sampingnya? Saat ini gue begitu membenci diri sendiri lantaran tidak bisa menjadi seorang pria yang berani mengambil keputusan.

Ikhsan yang duduk di sebelah gue pelan-pelan menepuk pundak gue dan menyarankan agar gue lebih tenang sedikit melihat hal ini.  Hati gue seakan pecah dua kali. Yang pertama adalah karena tidak bisa ada di saat dia butuh seperti itu. Dan yang kedua adalah karena membiarkannya dalam keadaan seperti ini.

Secara pelan-pelan, Ipeh diantarkan duduk ke bangku kelasnya lagi oleh Dila. Setelah duduk, mereka tampak masih setia menenangkan Ipeh, sedangkan teman-teman cowok malah pada duduk di sekitar gue dan menenangkan gue.

Apaan nih?! Dikira gue lagi kesurupan apa pake acara ditenangin segala?!

“Lo mau ngapain habis ini?” Tiba-tiba Ikhsan yang duduk di sebelah gue membuyarkan segala lamunan gue ketika anak-anak yang lain masih sibuk ngerjain tugas Bahasa Indonesia.

Gue menatapnya sebentar, lalu geleng-geleng tanda tidak tahu.

“Seriusan? Gue jadi curiga.” Tukasnya lagi yang kini nyolok pipi gue pake pinsil yang baru diserut.

Gue masih geleng-geleng.

“Geleng-geleng mulu lo kaya orang dugem. Yaudah serah lo deh, tapi awas aja kalau lo sampe ngedatengin cowok yang tadi diceritain Mai tanpa bilang-bilang ke gue. Awas aja. Persahabatan kita putus kalau lo berantem sendirian. ”

“…”

“Kalau lo berantem sendirian tanpa bilang-bilang ke gue, gue sumpahin nanti kalau lo kawin terus punya anak, anak lo paracetamol.” Kata Ikhsan yang kini kembali serius mencontek tugas Bahasa Indonesia kepunyaan Bobby yang entah darimana datangnya dan tiba-tiba ada di meja kita itu.

Makin ke sini, gue makin ngerasa persahabatan gue sama Ikhsan ini kaga ada romantis-romantisnya sama sekali. Hampa. Kosong. Kaya pantat bolong. Isinya kalau nggak tentang berantem ya tentang disakitin cewek. Benar-benar pejuang cinta yang luar biasa.

.

                                                       ===

.

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Dari ujung sudut kelas, gue bisa melihat Ipeh dengan buru-buru merapihkan segala barang bawaanya dan pulang begitu saja tanpa melihat sedikitpun ke arah gue. Gue diam sebentar, berpikir, lalu secara perlahan bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendatangi Mai. Gue tidak sadar kalau saat itu mata Ikhsan dan Nurhadi masih terpaku ke arah gue.

“Mai.. Gue mau tanya.” Tanya gue mencoba menahan Mai  yang hendak bangkit dari duduknya.

“Kenapa, Dim?”

“Ngg.. tentang Ipeh tadi.”

“Ipeh? Kenapa?”

“Gue boleh tahu cowok yang ada urusan tadi sama Ipeh tuh anak kelas mana? Ciri-cirinya apa dan namanya siapa?” Tanya gue pelan mencoba agar tidak ada yang mendengar apapun yang gue bicarakan dengan Mai.

“Kamu mau apa?” Tanya Mai sedikit curiga.

Nggak kok, Mai. Setidaknya gue mau tahu aja.”

Akhirnya setelah gue yakinkan berkali-kali, Mai mau memberitahukan ciri-ciri cowok tersebut. Ketika cukup mengingat segala ciri-cirinya dengan baik, gue langsung berjalan menghampiri Nurhadi. Dan seperti yang telah gue duga sebelumnya, Nurhadi dan Ikhsan ternyata sedari tadi masih melihat ke arah gue.

“Di..” Kata gue.

“Oi?”

“Gue mau nanya.”

“Sorry, gue udah punya pacar.”

“…”

“Mau nanya apaan? Muka lo lecek amat kaya Tisu Basah.”

“Di, lo kenal sama yang namanya Bagas?”

“Bagas? Cowok? Ah elo bagian nanya ke gue aja kenapa mesti cowok coba.”

“Iya Bagas, denger-denger sih doi anak basket.”

“Oh si Anak guru? Kenal gue, dia anak basket juga. Se-tim sama gue. Kenapa?” Jawab Nurhadi.

“Mau nanya aja, dia sekarang biasanya latihan basket? Atau langsung pulang?” Tanya gue lagi.

Mendengar pertanyaan gue tadi, Nurhadi sedikit memicingkan mata, mencoba berpikir lalu melirik ke arah Ikhsan. Mereka tampak mencium sesuatu yang tidak beres.

“Itu anak hari ini latihan, tapi biasanya dateng terlambat. Nongkrong dulu di kantin. Maklum lah anak Guru, suka seenaknya aja. Mentang-mentang nyokapnya guru di sini dia jadi belagu. Di ekskul basket juga belagunya minta ampun. Padahal main basketnya aja jelek masa. Dibanding elo sih bagusan elo, Dim. Apalagi waktu dia jadi pow…”

“Oke cukup, kenapa ini elo malah jadi curhat?!” Gue memotong.

“Aelah curhat dikit aja pake lo potong segala. Pelit amat. Nggak balik lo, Dim?” Tanya Nurhadi dengan nada curiga.

“Enggak ah, mau di kelas dulu, nongkrong.”

“Oooh..” Ucap Nurhadi sambil melirik ke arah Ikhsan.

“San, cabut yuk ah basket.” Tiba-tiba Nurhadi berdiri dan berjalan ke arah Ikhsan.

“Yuk deh. Dim, kita duluan ya.” Balas Ikhsan.

“Oke-oke..”

Mereka berdua pun pada akhirnya pergi meninggalkan kelas. Sekarang di kelas hanya tinggal beberapa orang. Selain anak-anak yang dapat tugas piket, beberapa anak-anak yang lagi nunggu Les juga masih setia nongkrong di kelas.

Setelah sempat diam sejenak dan duduk melamun ke arah jendela. Gue menghela napas panjang. Mengepal-ngepalkan tangan mencoba agar sedikit lebih rileks. Mengeluarkan baju seragam dari dalam celana, dan sedikit mengendorkan sabuk. Gue lihat jam tangan gue sebentar, lalu kemudian gue berdiri dan pergi meninggalkan kelas.

Tapi ketika gue sedang berjalan di lorong kelas, tiba-tiba dari pintu WC Pria, muncul Ikhsan dan Nurhadi sambil melihat ke arah gue. Gue cukup terkejut, lah ngapa nih anak berdua keluar dari WC cowok berduaan gitu. Gue jadi curiga. Jangan-jangan… Astagfirullah…

“Mau kemana lo?” Tanya Ikhsan ketus.

Gue hanya diam saja menatap ke arah mereka.

“Wah parah, Di. Nih anak nggak ngajak-ngajak kita.”

“Iya, San. Egois banget jadi orang. Senang-senang kok nggak ngajakin temen.”

Tampaknya Nurhadi dan Ikhsan sudah tahu apa yang bakal gue lakukan sebentar lagi.

“Jadi, sendirian aja nih? Nggak mau ngajak gue nih? Yakin?” Tukas Ikhsan bete.

Gue menatap mereka lalu mendadak tertawa, “Hahahaha emang anjing yah kalian tuh. Yaudah, percuma juga sih gue larang, ujung-ujungnya kalian juga pada ngintilin gue di belakang. Ayo deh. Udah siap?” Tanya gue.

“Nggak usah lo tanya kita udah siap atau enggak deh. Dari pertama masuk basket sampai sekarang gue bener-bener benci tuh anak. Dari dulu kek elo punya rencana kaya gini. Udah lama gue nggak makan anak orang.” Jawab Nurhadi yang langsung membuka seluruh kancing seragamnya.

“Mau dibuat rame aja nih, Dim?” Tanya Ikhsan.

“Hahahaha gimana entar.”

Ikhsan menatap ke arah gue. “Yaudah gini deh, karena kita juga sahabat Ipeh, dan di antara kita bertiga itu elo yang paling deket sama Ipeh, maka kita ngalah deh. Kita nurut aja di belakang lo. Gimana, Di? Setuju?”

“Yaaaah, kok gitu sih?! Masa nggak jadi rusuh?!” Nurhadi terlihat protes.

“Ya tergantung si Dimas aja sih. Kalau dia rusuh, kita rusuh juga.”

“Dim.. Rusuh please…” Ucap Nurhadi memohon.

“Hahahahahah bangke, emak lo dulu waktu lahiran ngidam apa sih, Di? Ngidam gear motor ya? Yaudah ayo deh.” Kata gue yang lalu berjalan meninggalkan mereka dan kini mereka mengikuti gue dari belakang.

Satu yang nggak akan pernah gue biarkan terjadi di hidup gue, nggak boleh ada yang nyakitin perasaan temen-temen gue apalagi orang yang gue sayang tanpa sepersetujuan dari kedua-belah pihak. Dalam hal ini, cuma cowok pengecut yang berani nyakitin cewek dari segi fisik. Kalau siang tadi Ipeh tidak bertindak karena kalah jumlah, maka cowok Anjing itu bakal gue kasih pelajaran mengenai apa itu perkelahian kalah jumlah.

.

                                                         ===

.

Sepanjang perjalanan menuju kantin, terdengar dari belakang Ikhsan dan Nurhadi lagi pemanasan ala-ala preman mau berantem. Kancing bajunya dibuka, lengan digulung, peregangan jari dan leher, pokoknya udah mirip kaya tukang jagal. Setelah tidak lama berjalan dan pada akhirnya kita sampai di mulut kantin, ternyata benar kata Nurhadi. Cowok yang namanya Bagas itu sekarang lagi duduk-duduk di kantin sambil menaikkan kaki ke atas kursi, berlagak layaknya dia cowok yang disegani padahal anak-anak hanya menghormati Ibunya yang notabenenya guru kelas 10.

Saat itu Bagas tidak sendirian, di samping Bagas ada pacarnya, seorang cewek yang jadi alasan kenapa semua hal siang tadi terjadi. Beberapa anak buah Bagas—Sebut saja anak buah, sejenis kroco-kroco yang suka ngikutin orang yang dianggapnya hebat kemana-mana—juga ada di sana, beberapa dari mereka ada yang anak basket dan beberapa ada yang nggak Nurhadi kenal.

Posisi Bagas saat itu sedang membelakangi jalanan kantin sehingga tidak melihat adanya gue, Ikhsan, dan Nurhadi yang datang dengan tampang bajingan semua.  Gue berjalan perlahan diikuti kedua buah jenglot di belakang gue itu lalu pergi menghampiri Bagas. Bagas masih tidak menyadari kedatangan kita bertiga, yang menyadari ada hal yang janggal lebih dulu adalah anak buahnya Bagas. Mereka menatap ke arah gue dengan tatapan penuh tanya, sedangkan gue menatap ke arah mereka dengan tatapan andalan gue.

Sejak gue SMP, gue selalu menjadi biang masalah dengan senior di sekolah atau orang-orang di sekitar gue. Alasannya satu, yak benar! Tampang gue menyebalkan setengah mati, atau mungkin, sangat menyebalkan. Itu sebabnya setiap ospek, gue selalu jadi incaran kakak kelas, dan ketika gue kebagian ngospek, gue selalu ditunjuk menjadi panitia keamanan dan mendapatkan banyak sekali surat benci. Beberapa orang yang baru pertama mengenal gue pasti langsung ngejudge gue dengan berbagai macam statement. Dari sebutan yang namanya brengsek, bajingan, tukang berantem, urakan, preman, emosian, suka ngeremehin orang, tukang jagal, Leonardo DiCaprio, Adam Levine, John Mayer, semuanya pernah gue dapat.

Maka tak ayal ketika gue mengeluarkan tampang  seperti ini, para anak buah Bagas langsung terlihat agak sedikit gentar.

“Minggir. Gue mau duduk.” Kata gue dingin. Dengan sigap, semua anak-anak di sana langsung minggir tanpa protes sama sekali.

Gue tarik satu buah kursi plastik, lalu gue duduk di depan Bagas. Kita sekarang hanya dipisahkan oleh meja panjang dari kayu doang tempat bibi kantin biasanya menaruh jajanan. Ikhsan juga mengikuti jejak gue, dia ambil kursi plastik lalu duduk di samping gue. Sedangkan Nurhadi memilih berdiri di belakang gue dengan memamerkan badannya yang luar biasa besar sekaligus hitam pekat kaya spidol abon.

“Ada apaan nih?!” Tiba-tiba Bagas membentak ke arah kita bertiga ketika mulai menyadari ada hal yang tidak beres. Kita bertiga tak menjawab, hanya terus menatap ke arahnya sinis.

Melihat akan terjadi sesuatu hal yang buruk, pacar Bagas yang sedari tadi duduk di sampingnya itu kini mencoba berdiri dan pergi. Namun belum sempat dia melangkah, gue langsung ambil tindakan.

“DUDUK!” Bentak gue kasar sambil menunjuk ke arahnya.

Tidak terima pacarnya dibentak, Bagas langsung membentak balik.

“Woi!! Apan-apaan lo ngebentak pacar gue! Mau jadi jag..”

BYUR!!
Belum sempat merampungkan kalimatnya, gue langsung mengambil gelas berisi air yang ada di atas meja tadi dan membanjurkannya tepat ke arah muka bagas. Bagas terkejut, otomatis tuh anak kampret langsung emosi. Bagas langsung berdiri mau menghajar gue sebelum tiba-tiba.

“DUDUK LO ANJING!! MAU GUE BIKIN NGGAK BISA MAIN BASKET SEUMUR HIDUP LAGI LO HAH?!” Mendadak Nurhadi membentak keras sambil menggebrak meja sehingga kini seluruh anak-anak di kantin matanya menatap ke arah kita bertiga.

Nurhadi ini emang pada dasarnya sangat menyeramkan. Lahirnya bukan dari rahim, tapi dari turbin aer. Itu sebabnya kalau dia udah ngebentak kaya gitu, secara spontan Bagas yang tadi telah naik pitam mendadak ciut dan menuruti semua perintah Nurhadi. Gue juga kalau dibentak Nurhadi pasti langsung diem sih. Gue masih belum mau mati.

Keadaan makin panas, namun berkat kehadiran Nurhadi, semua musuh yang ada di sana tidak ada yang berani bertindak gegabah. Setelah keadaan sedikit cukup tenang, kini giliran gue yang buka suara. Dan btw, seharusnya adegan ini semuanya pake bahasa sunda kasar sih. Kasar banget malah. Tapi gue terjemahin pake bahasa lokal aja deh ya. Saat itu gue masih menatap ke arah Bagas dengan wajah menyebalkan.

“Heh, anak anjing. Lo masih belum sadar kedatangan gue ke sini untuk apa?! Emang dasar anak Anjing ya lo.” Ucap gue datar, tapi mematikan.

“Apaan lo anjing main banjur gue pake aer aja?! Nyari mati lo?! ” Bagas terlihat tidak terima.

Melihat hal itu, gue hanya tersenyum sinis. “Anak Anjing emang banyak bacot. Tadi siang, gue denger pacar lo ini ada masalah sama Ipeh, anak kelas 10-A. Terus tadi siang, kuping gue ini juga denger kabar kalau ternyata elo ini ikut campur masalah mereka? Ini lo mau bilang kuping gue yang budek, atau emang berita yang gue denger itu bener?”

“…” Bagas terdiam.

“Oh jadi bener.. Ternyata kuping gue nggak budek. Jadi berita yang gue denger tadi siang itu bener kan, ANJING?!” Nada gue mulai meninggi.

“…” Bagas masih terdiam.

“BANGSAT LO ANJING!!”

BRAK!!
Tiba-tiba Ikhsan yang sedari tadi duduk tenang di sebelah gue mendadak teriak keras sambil memukul meja. Otomatis semua orang yang ada di sana terkejut, termasuk gue dan juga Nurhadi. Apa-apaan nih anak tiba-tiba marah kaya orang kesurupan. Goblok emang, gue malah jadi pengin ketawa gara-gara gue sendiri kaget pas dia gebrak meja. Tai ayam, hampir aja gue ngakak. Gue spontan langsung menatap Ikhsan dengan tatapan anjing-jangan-ngelawak-dulu-goblok. Tapi Ikhsan melihat ke arah gue dengan muka menyebalkan. Bener-bener komedi nih orang.

Gue kembali menatap ke arah Bagas dengan tatapan serius sekali lagi. Mencoba menahan rasa kesal karena si monyet yang tiba-tiba kaya orang kesurupan tadi.

“Gue nggak masalah kalau pacar lo ini ada masalah sama Ipeh. Tapi yang jadi masalah buat gue adalah, kenapa anak Anjing kaya lo ikut campur urusan cewek? Kalau saat itu lo ikut campur masalah cewek lo, itu berarti sekarang gue juga berhak ikut campur masalah cewek gue. Jangan beraninya main fisik Setan! Sini lawan gue kalau lo berani, ANJING!” Gue mulai menaikkan nada bicara gue lebih tinggi.

Keadaan semakin mencekam. Nurhadi kini mengambil 2 kursi plastik, satu buat dia duduki di sebelah gue karena mungkin dia capek berdiri terus kaya lagi naik Kopaja, satu lagi dia angkat di belakang punggungnya tanda siap untuk ngehajar orang-orang di sana pakai kursi.

Terserah gue dong, Anjing. Gue belain pacar gue. Lha elo siapanya Ipeh tai?!” Tanya Bagas membalas perkataan gue.

Mendengar itu gue tertawa pelan.

“Lo liat di samping kanan gue? Dia ini sepupu jauhnya Ipeh. Dia asli orang Bangka Belitung. Dan gue kasih tahu sama lo yang otaknya kecil kaya bengkoang itu, orang-orang Bangka kalau sudah main fisik bisa bikin nyawa orang melayang tau nggak lo!” Jelas gue.

“Org kaya ni, kek adeku yang kelas due sd ge bise dibuet minta ampun.. Bajingan kayak ka jak bise dipatah leher e skrg ge..” Ucap Ikhsan yang tiba-tiba berbicara dengan logat Bangkanya sambil menaikan kaki di atas kursi.

Anjir!!
Gue dan Nurhadi mendadak jadi pengin ketawa ngakak luar biasa mendengar tuh anak yang tiba-tiba berbicara pake logat bahasa Bangka. Suaranya mirip kaya boneka Susan. Kaga ada serem-seremnya. Kaya tukang angkot lagi nyari muatan. Bangsat!! Gue langsung mencubit kaki gue sendiri agar tidak tertawa terbahak-bahak ketika sedang dalam suasana serius seperti ini.

Dan lo pasti tahu, orang di sebelah kiri gue ini siapa?! Bokapnya Nurhadi itu temen bokapnya Ipeh. Jadi otomatis Nurhadi masih dianggap keluarga sama Ipeh. Gue rasa, Nurhadi sendirian bisa ngabisin semua orang di sini tanpa ngeluarin keringat sama sekali.”

Setelah gue berbicara seperti itu, Nurhadi langsung berdiri sambil masih membawa kursi plastik di tangan kirinya. Sontak semua orang yang ada di samping Bagas langsung pada mundur ketakutan.

“Oi, Gas! Jangan mentang-mentang elo anak Guru jadi bisa seenaknya di sini. Elo nggak tahu? Hampir semua anak basket nggak ada yang suka sama lo. Dan kayaknya kalau gue ngehajar lo sekarang juga semua anak basket bakal ngedukung gue. Kalau udah kaya gitu, Ibu lo yang guru itu juga nggak akan bisa ngapa-ngapain. Ngerti lo!” Nurhadi menggebrak meja sekali, lalu kemudian duduk lagi.

“Dan gue sendiri. Gue pacarnya Ipeh. Kalau lo nyakitin Ipeh, itu berarti lo nyakitin gue sekaligus dua orang di samping gue ini.”

Bagas menatap ke arah kita bertiga.

“Hahahah pengecut lo anjing beraninya keroyokan. Sama pengecutnya kayak cewek tomboy murahan tadi siang!”

DEG!!
Mendengar ucapannya barusan, sontak emosi gue tersulut hingga ke akar-akarnya, gue naik pitam, emosi gue meledak langsung. Saat itu entah apa yang sedang merasuki gue, secara spontan gue menendang meja yang jadi penghalang antara gue dan Bagas ini dengan keras sehingga meja tersebut membentur tubuh Bagas sekaligus pacarnya yang duduk di sebelah Bagas sambil ketakutan. Bagas yang tidak siap akan serangan dadakan ini langsung terjungkir jatuh dari kursinya ke belakang. Begitu juga dengan pacarnya.  

Melihat tindakan gue tersebut, Nurhadi langsung berdiri dan melemparkan kursi plastiknya ke arah anak Buah bagas sambil terus berteriak menantang mereka semua untuk maju. Sedangkan Ikhsan langsung loncat dari kursi dan menendang jatuh orang yang hampir menghajar gue dengan balok kayu ketika melihat gue menjatuhkan Bagas tadi. Ikhsan merebut balok kayu tersebut lalu mengacungkannya ke arah semua orang yang mau ikut campur masalah kita di kantin sore ini.

Mengetahui Bagas telah tersungkur jatuh, gue langsung meloncati meja yang tergeletak berantakan di depan gue dan menghajar mukanya sekali tepat di bagian hidung. Bagas berteriak kesakitan. Nurhadi tanpa pikir panjang langsung mengambil tindakan untuk melindungi gue dari serangan anak buah Bagas yang lain. Sedangkan Ikhsan malah sok gentleman dengan cara membantu pacarnya Bagas yang masih terjatuh dan memapahnya untuk berdiri.

“Kamu nggak papa kan?” Ucapnya sok keren tanpa peduli saat itu gue lagi ngapain.

Gue mencengkram erat kerah seragam Bagas dan menariknya sehingga kini mukanya mendekat ke arah muka gue.

“HEH ANJING!! PUNYA MULUT DISEKOLAHIN ANJING! LO BOLEH NGEHINA GUE, ATAU NGEHINA TEMEN GUE YANG ORANG BANGKA ITU! TAPI SEKALI LAGI LO NGEHINA IPEH, GUE BIKIN LO NGGAK BISA BACA TULIS LAGI ANJING!!” Bentak gue dibarengi dengan pukulan telak di pipi kirinya.

Ikhsan yang mendengar ucapan gue barusan langsung melihat ke arah gue dengan tatapan bete.

“Kenapa gue lagi yang dibawa-bawa. Tai.” Ucapnya pelan, tapi gue tetap dengar.

“Lo harus minta maaf, anjing! Awas aja, kalau sampe besok atau lusa gue masih belum denger ada permintaan maaf dari lo. Gue kirim Nurhadi buat bikin muka lo remedial total!”

Sebagai penutupan, gue hajar muka Bagas sekali lagi hingga bibirnya sobek, lalu kemudian berdiri menatap anak-anak buahnya Bagas.

“Gue nggak mau bikin masalah ini lebih panjang. Tapi kalau lo lo pada mau ngebuat masalah ini lebih panjang. Kita bertiga siap.” Ucap gue tegas lalu kemudian pergi berjalan meninggalkan kantin diiringi dengan Nurhadi dan Ikhsan yang juga jalan mengikuti gue dari belakang.

Selama perjalanan menuju kelas, kita bertiga masih terdiam. Emosi gue masih terlihat menggebu-gebu, begitu juga dengan Ikhsan yang masih membawa balok kayu rampasannya dari kantin. Sedangkan Nurhadi terlihat biasa saja.

Dan tiba-tiba, Nurhadi yang berjalan di sebelah gue menengok ke arah Ikhsan yang ada di belakang.

“San, besok-besok kalau ada lomba baca puisi, lo ikut gih, tapi bacanya pake logat bahasa Bangka kaya tadi. Pasti langsung menang.”

Mendengar ledekan Nurhadi tadi, Ikhsan yang masih terlihat serius mendadak jadi kesal luar biasa.

“BANGSAT LO GORILA!!”

Nurhadi langsung tertawa ngakak, begitu juga dengan gue yang langsung ikut tertawa mengingat bagaimana logat Ikhsan yang dia keluarkan tadi sewaktu adegan marah-marah di kantin.

“Lagian ini juga salah lo oi Dimas anak Setan! Ngapain juga tadi lo harus ngejelasin kalau gue ini orang Bangka?! Rasis anjing! Gue jadi spontan ngomong pake logat bahasa Bangka pas lo ngomong kaya gitu!” Ikhsan memukul kepala gue pake botol Aqua.

“Hahahah gue juga tadinya bingung mau jelasin apa, njing. Yaudah itu aja. Lagian akting lu tadi juara. Suara lo kalau pake logat Bangka jernih kaya suara rerumputan pagi.”

“HAHAHAHAHAHAHA.” Nurhadi tertawa terpingkal-pingkal di sebelah gue.

“Bangsat lo pada.” Ikhsan terlihat Bete.

Kita semua masih tertawa-tawa sepanjang jalan menuju kelas.

Lagi asik-asik Ikhsan dan Nurhadi tertawa, gue menepuk pundak mereka satu persatu.“Btw bro. Makasih ya.” Tukas gue.

Mendengar ucapan gue barusan, Nurhadi yang masih terkekeh mendadak langsung diam. Begitu juga dengan Ikhsan.

“Anytime bro, lagian gue juga udah lama pengin ngehajar si Bagas sih. Tapi sayang tadi nggak kesampaian. Gue kira bakal ada adegan berantem, tapi ternyata anak buahnya cemen semua nggak ada yang berani maju.” Tukas Nurhadi.

“Wah, Ipeh seharusnya berterima kasih sama lo, Dim.” Tiba-tiba Ikhsan angkat bicara.

Gue terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran gue ketika mendengar apa yang Ikhsan ucapkan barusan.

“San, Di. Untuk yang satu ini, please janji sama gue, sebisa mungkin Ipeh jangan sampai tahu.” Kata gue pelan.

“Loh kok gitu?! Padahal ini juga bisa jadi pembuktian bahwa lo itu satu-satunya orang yang pantas buat mendampingi Ipeh ketimbang pacarnya kan?! ” Ikhsan terlihat protes.

Gue menatap kosong ke arah lorong-lorong kelas yang mulai tidak berpenghuni lagi di sore menjelang Maghrib ini.

“Ya nggak papa sih, tapi  please, anggap aja apa yang baru kita lakukan tadi itu dalam rangka kita bantu temen sekelas. Bukan buat bantu Ipeh doang. Jadi nggak usah dipamer-pamerin.” Jawab gue pelan.

Ikhsan kini menatap bingung ke arah Nurhadi.

Gue juga sebenarnya setuju sama si Dimas, San.” Jawab Nurhadi. “Cowok mah urusan berantem jangan dibicarain. Nggak etis. Cuma cowok cari sensasi doang yang kalau berantem terus diceritain ke orang-orang.” Tambah Nurhadi lagi.

Ikhsan menghela napas panjang seperti ada rasa tidak Ikhlas mendengar ucapan Nurhadi barusan.

“Yaudah deh, gue ngikut lo lo pada aja.” Jawab Ikhsan.

“Thanks, Bro. Lo emang sobat-sobat baik gue.” Gue menepuk pundak Ikhsan dan Nurhadi.

Sebelum balik ke kelas, Nurhadi izin pergi ke WC dulu untuk mencuci muka lantaran mukanya sudah penuh keringat kayak wajan. Lagi nunggu di luar WC, tiba-tiba Ikhsan menyenggol lengan gue.

“Kenapa lo nggak mau ngasih tahu Ipeh?” Tanya Ikhsan yang masih penasaran.

Gue menatapnya sebentar, lalu menunduk sambil bersandar di tembok WC pria.

“Gue nggak mau Ipeh tahu seberapa berartinya dia buat gue sekarang. Gue takut kalau Ipeh tahu hal ini, hubungan Ipeh sama pacarnya malah jadi runyam gara-gara Ipeh makin bimbang untuk memilih siapa di antara kita berdua yang lebih pantas buat dia. Kan elo juga tahu apa yang dia tanyain sama gue waktu di supermarket kemarin itu.” Jelas gue.

“Hmm, Ipeh emang begok nggak milih lo dan malah memilih orang lain, Dim.” Ikhsan terlihat kesal.

“Hahaha, please don’t tell her, San?” Gue melirik ke arah Ikhsan.

“Iya iya oke oke, gue janji.” Jawabnya dengan nada yang masih tidak rela.

“Thanks, sob.” Gue menepuk pundaknya sekali lagi.

Kini kita sama-sama terdiam. Gue masih berdiri bersandar menunggu Nurhadi keluar dari WC sedangkan Ikhsan masih berdiri di depan gue dengan tampang seperti orang yang memikirkan sesuatu.

“Btw, Dim. Emang nyokap si Bagas tuh Guru di SMA kita ya? Kok gue baru tahu sih?”

“Si anying..”

.

.

.

                                                    Bersambung

Previous Story: Here

Leona (Part 6)

SEDIKIT RINDU


Bukankah kita butuh beberapa hari untuk yakin bahwa kita sedang merindu? Bukankah kita butuh berjarak untuk melihat perasaan dengan lebih jelas? Dan bukankah sudah hampir 3 hari aku tidak berkomunikasi dan bertemu dengan Leona? Ya. Sudah. Oke baiklah, ya, aku kangen Leona.

Sedikit.

Senin pagi, aku berangkat bareng Ronny. Dia jemput aku pakai motor. Kami ada kelas jam 9 pagi, tetapi kami berangkat jam 9 lewat. Padahal kami dari Bekasi. Harusnya kami berangkat lebih pagi. Jam 5 kalau perlu, biar nggak kena macet.

Persoalan rindu ini, aku ingin cerita ke Ronny, tapi takut ditertawakan. Karena pasti menurutnya, merindukan seorang Leona adalah sesuatu yang lucu. Meskipun pada kenyataannya, rindu ini nyata. Ronny harus sadar, bahwa Leona itu ngangenin. Geregetan aku ingin cerita saat kami macet-macetan menuju kampus, tetapi aku tahan, dan bahas yang lain. Bahas liga Inggris.

Sampai di kampus, kelas sudah bubar. Harusnya kami kecewa, merasa bersalah karena berangkat kurang pagi, tetapi tidak. Kami biasa saja. Aku dan Ronny langsung menuju kantin, mau makan sekaligus nongkrong.

Di kantin, suasana seperti biasa. Ada wajah-wajah yang memang sudah biasa aku lihat. Aku lihat ada mantanku Firly lagi duduk sama pacar barunya. Aku cuekin, takut pacarnya insecure. Ada Indah juga lagi makan. Aku sapa, acak-acak rambutnya. Ada Kak Vanny and the gank, aku dan Ronny mampir di mejanya. Ledek-ledekin Kak Vanny, bilang kalo Ronny suka. Aku juga ketemu Pasha Ungu, dengan kalung yang kelihatan seperti mencekik lehernya. Aku juga ketemu Mbak Nur a.k.a Marshanda. Aku juga ketemu Robbie, Fajar dan Benny. Ada juga Andhika yang lagi sibuk pedekate sama cewek anak fakultas Ekonomi. Lupa namanya. Aku nggak lihat Leona. Mana dia? Aku mau tanya Fajar, takut dia curiga. Karena kangen, aku pikir, ah ya sudah aku saja deh yang SMS di duluan.

JOSH:
Lele, lo nggak ngampus?

Sudah kukirim. Kutunggu, kutunggu, ternyata dia nggak balas, tapi nelepon. Langsung senang aku lihat nama dia muncul di layar HP. Kuangkat dengan penuh sukacita. Aku berdiri dan beranjak biar jauh dari teman-teman semeja. Entah mengapa ada insting sembunyi seperti ini.

“Le?”
“JOOOOOOOSSSSSHHHHHH…….”
“Le, lo di mana?”
“IH JOSH YA AMPUN MAU MATI RASANYA NGGAK DENGER SUARA JOSH….. ASTAGAAA….. IH KENAPA SIH JOSH BARU SMS NANA????”
“Hah?”
“Josh tega kok segininya siiiih… Nana kangen tauk. Kangen-nya itu huruf e-nya ada duapuluh.”
“Hah? Gimana?”
“Kangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen!”
“Lo di mana, Le?”
“Iiiiiiihhhh… astaga akhirnya denger suara Josh lagi.”
“Jangan lebay. Di mana?”
“Nana lagi otw kampus. Josh di mana?”
“Di kantin.”
“Ih tungguin pokoknya nggak mau tau, awas aja ngilang lagi!”
“Eh obeng kembang.. yang ngilang tuh elu!”
“Ih Josh… Nana nggak ngilang. Ini tuh Nana nggak tau mau hubungin Josh gimana. Diapus-apusin semua sama Nicky di HP Nana.”
“Nomor gue?”
“Iyaaaa… Nyebelin banget kan dia?? Errghhh Nana sampe kesel banget sama dia.. sampe nangis tau nggak….”
“Nangis?”
“Iya Josh… Nana berlinang air mata aduh tega banget ya Nicky…”
“Dia masih cemburu, ya?”
“Ntar Josh tungguin makanya di kampus. Nana ceritain.”
“Lo kelas jam berapa?”
“Hari ini nggak ada.. tapi sama mama Nana bilangnya ada.. hahahaha..”
“Lah? Lu ngapain kampus?”
“Ihhh Josh pake nanya padahal udah tau niyeeee…”
“Mau ketemu akyu, ya? Ahahahaha…”
“IH NAJIS PEDE BANGET. IYA MAU KETEMU KAMYU.”
“Yaudah sini. Gue tungguin di kantin.”
“Josh, Josh, Josh… entar dulu dengerin Nana.. di sana ada Fajar, Benny sama Robby??”
“Iya ada..”
“Ummm…. Ih sebel ngapain sih mereka di kampus.”
“Menuntut ilmu, Neng.”
“AHAHAHA JOSH… KANGEN JADI PENGEN MELUK!”
“Zzzzz….”
“Kita keluar aja mau nggak Josh?? ”
“Ke mana? Gue masih ada kelas nanti jam 1.”
“Ih Josh…. Bolos aja sekali…”
“Emang mau ke mana?”
“Nontooooooon…. Yuk yuk nonton Twilight!!”
“Nggak ada duit gue, Le.”
“Ih Josh kaku ya… Nana traktir Josh…..”
“Nggak, ah. Nggak enak gue.”
“IH JOSSSSSHHH HAYUUUUK….”
“……….”
“Josh….”
“Yakin lu nonton?!”
“IH RIBET YA NGOBROL SAMA JOSHUA CAPEK DEH IH MASIH AJA GENGSI DEH NYEBELIN BANGET NGGAK NGERTI BANGET ORANG LAGI KANGEN YA.. KESEL NANA LAMA-LAMA…”
“Dih dia kesel hahahaha…”
“LAGIAN YA….”
“Hahaha iya iya yaudah.. kabarin kalo udah sampe, ntar gue samperin ke mobil.”
“SUMPAH JOSH HARI INI NYENENGINNYA DUA KALI LIPAT… ASIK ASIK ASIK YAUDAH TUNGGUIN JOSH YA…”
“Iye. Bye.”
“Daaaaaa mmuahhh mmmuahh”
“.”

Ada gila-gilanya Leona. Kemarin nomor dan semua tentangku di hapus pacarnya dari HP-nya. Sekarang, dia ajak aku nonton. Malah makin menjadi. Lebih gila, aku. Kangen pacar orang. Sudah begitu, mau pula diajak nonton. Dia yang bayarin lagi.

Karena tahu Leona sudah otw, aku diam-diam beranjak dari kantin. Pura-pura mau ke depan, bilang mau nemuin cewek. Iya memang nemuin cewek, tapi cewek itu Leona.

Bisa dimengerti mengapa Leona nggak mau ngobrol di kantin, karena sudah pasti dia takut Fajar, Benny dan Robbie ada ngadu-ngadu nanti sama Nicky, kalau dia ketemu aku.  Ya, aku sendiri akhirnya jadi agak jaga jarak sama 3 serangkai itu. Karena di satu sisi aku menghargai posisi mereka. Yang kayak begini harusnya nggak ada, kalau Leona nggak suka sama aku. Hadeh.

Malas sebenarnya sembunyi-sembunyi. Haruskah kangen itu merepotkan? Aku ini merasa direpotkan sekaligus mengangeni. Pusing juga ditimpa keadaan hati yang begini.

Ketika aku merasakan rindu yang sedikit ini kepada Leona, aku mulai memikirkan kelebihan-kelebihannya. Dia…… Leona itu…. Iya, menyenangkan. Entah dia memang menyenangkan, atau aku saja yang senang karena disukai hingga sebegininya? Ini aku belum yakin-yakin amat. Tetapi sepertinya dia memang menyenangkan.

Kalau ada Leona, memang rasanya tidak sepi. Tawanya bagaikan angin yang menyapu sunyi.

Leona itu tinggi, sedaguku lebih sedikit. Jadi kalau kita berdiri berdampingan dan aku merangkulnya, sepertinya pas. Belum pernah aku merangkulnya. Mungkin akan kucoba.

Leona itu rambutnya panjang dan tebal. Aku jadi teringat kalau aku selalu meliriknya saat dia menguncir rambut.

Leona itu pacar orang. Sudahlah.

Keep reading

The Way I Lose Her: How I Met Everyone Else.

Aku sering menceritakan tentang kita. Kau tak usah tanya mengapa. Kau hanya perlu membacanya ketika merasa bahwa aku tidak cinta. Maka nanti kau akan menyadari, bahwa aku adalah pengingat paling handal jika itu menyangkut tentang kita.

                                                     ===

.

“Aku pilih..”

Mai masih merasa ragu-ragu untuk mengucapkan siapa yang akan Ia pilih di depan semua anak-anak yang memandangnya penuh dengan rasa penasaran. Gue lihat anak-anak cowok yang lain jakunnya pada naik turun menelan ludah kaya wahana Histeria. Udah mirip kaya anak TPA lagi ngincer makanan Ta'jil di masjid ketika bulan Ramadhan, benar-benar menggebu-gebu.

Mai masih terlihat ragu-ragu.
Lalu kemudian..

“Aku pilih Dimas aja.” Ucap Mai sambil menunduk.

DEG!!
Mendengar nama gue disebut oleh Mai, sontak jantung gue semakin berdetak kencang dan nggak karuan. Damn! Ternyata gue yang dipilih! Anjir gue bahagia banget, pengen rasanya langsung goyang Dumang saking bahagiannya, tapi gue merasa ada tatapan-tatapan tidak enak yang terlontar ke arah gue dari anak-anak yang lain ketika Mai menyebut nama gue tadi.

Ada 3 Hal ganjil yang gue rasakan ketika Mai menyebutkan nama gue sebagai sesorang yang ia pilih. Yang pertama adalah karena gue pria yang dipilih dari sekian banyaknya pria yang ada di sana oleh seorang anak cewek bernama Mai–cewek yang sudah sempat gue taksir dari lama, Ekspresi teman-teman lain yang terkejut, dan yang terakhir adalah ekspresi Ikhsan yang memandang sinis ke arah gue.

Gue bingung harus ngapain.

.

                                                             ===

.

18.15
Hati gue bergejolak, rasa-rasanya kayak ada yang ganjel. Kaya mau bersin tapi nggak jadi, kaya mau ngupil tapi pas ditarik upilnya ketinggalan di dalem, kaya lagi di kelas ngantuk banget eh pas di kosan malah nggak bisa tidur. Gue benar-benar bisa mati penasaran kalau lama-lama begini terus melihat Ikhsan yang terus-terusan tersenyum seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun gue harus kuat. Sebagai seorang pria sejati, gue nggak boleh kepo. Sebagai penggemar pokemon, gue nggak boleh penasaran. Apa hubungannya pokemon sama penasaran? ah biarin terserah gue, yang jelas sekarang perasaan gue lagi campur aduk antara pengen nanya ada hal apa dan pengen diem aja berusaha menjadi cowok yang tidak peka. Dan pada akhirnya gue lebih memilih untuk meneruskan aktivitas memasak mie instan.

Karena kompor kita bersebelahan, maka gue terpaksa harus deket-deketan ketika lagi mengaduk-ngaduk mie instan. Berkali-kali Ikhsan menengok ke arah gue, tapi gue pura-pura tidak menyadari. Kampret emang nih anak monyet, paling tau kalau gue tuh orangnya suka penasaran.

Duk..

Tiba-tiba Ikhsan menyenggol lengan gue. Gue pun langsung menengok ke arahnya.

“Dim..” Ucap Ikhsan.

“…”

“Mau cerita.” Tambahnya lagi.

“Nah kan, nah kan! Gue udah tau pasti ada sesuatu nih. Hayo lo nyembunyiin apaan dari gue?!”

“Yee denger dulu, main nyamber aja kaya motor bebek..”

“Perasaan gue udah nggak enak dari tadi semenjak lo dateng. Karena gue tau walaupun besok hujan batu akik, lo itu kaga akan pernah ngebantu gue. Mau cerita apa lo hah?!”

“Dih sensian amat lo, kayak cewek lagi nunggu antrian salon Titi Anam aja.” Ledek Ikhsan.

“…”

“Gue mau cerita nih, karena kebetulan juga kita lagi ada kesempatan ngumpul-ngumpul begini.”

“Apaan?” Tanya gue sambil tetap serius mengaduk-aduk mie.

“Waktu dulu pas gue lagi ngomongin mantan gue yang beda SMA itu, lo kan pernah nanya ke gue tuh apa gue ini punya kecengan yang lain?”

“iye gue inget, kenapa?”

“Nah dia di sini sekarang..” Ucap Ikhsan pelan-pelan banget udah kaya anak monyet lagi jatuh cinta.

“Lha siapa?! Kok gue kagak tau?! Wah bangke ah lo kaga sohib lagi. Biasanya kalau urusan beginian mah lo pasti ngasih tau gue. Curang ah, lo yang sekarang udah mirip sama perumpamaan habis manis sepah dibuang. Habis sunat, kulitnya dibuang!” Tukas gue bete.

“Lha ini pan gue lagi ngasih tau elo.”

“Oh iya juga. Yaudah deh gih lanjut..”

“Nah sampe mana tadi?”

“Sampe kulit sunat…”

“Oh iya, nah itu Dim, kebetulan sekarang gue lagi naksir kulit sunat…”

“….”

“….”

“….”  Kita saling menatap tanpa suara.

“Dim..”

“ya, san?”

“Gimana kalau kita lupakan bahwa kita pernah ngobrol tentang hal itu tadi?”

“Oke setuju. Gue juga ngeri kalau denger kalimat yang lo omongin itu tadi.”

“Makanya kalau gue lagi cerita jangan suka ngajak bercanda, gue suka keceplosan. Gue lanjut lagi nih ceritanya”

“Gih..”

“Nah lo tau nggak siapa yang gue suka, Dim?”

“Ngg.. Ipeh?!” Tanya gue.

“Ah tai, anak Sungokong kaya gitu mah bukan tipe gue. Dia lahirnya aja dari batu!”

“Hahahahaha dongo ah lo.. Terus siapa emang?”

“Jangan marah tapi..” Tambah Ikhsan lagi.

“Loh kenapa gue harus marah?”

“…”

“Eh?! Jangan-jangan?! yang lo suka itu adalah…” Gue menatap penuh tak percaya ke arah Ikhsan.

“Iya.. kecengan lo waktu ospek dulu..”

“MAI?!?!” Gue terkejut.

“SSSTTT!!! GILA LO!! JANGAN KERAS-KERAS!! NANTI ORANGNYA DENGER!!!”

“Oke oke oke, bentar dulu deh, gue siapin dulu mie buat anak-anak. Biar enak ceritanya..”

“Tapi dim… lo nggak marah kan Dim?” Tanya Ikhsan penuh ragu.

“Loh, kenapa juga gue harus marah sob. It’s oke lah. Itu nggak ngelanggar aturan Bro Code kok. Sesama Bro boleh mengambil bekas kecengan Bro lainnya. tapi harus dengan izin Bro-nya itu sendiri, dan sekarang lo dah dapet izin dari gue. Gih embat sono…”

“Asiiikkkkk…. Thanks Dim… btw Mie Instan punya gue banyakin yak..”

“…”

.

Ternyata hal yang Ikhsan sembunyikan dari gue sejak lama adalah perihal perasaanya kepada Mai. Mungkin Ikhsan sudah suka sama Mai dari lama, namun karena menghormati gue tampaknya Ikhsan lebih memilih mencintai dia dalam diam. Atau mungkin juga dia sudah mau cerita dari lama, tapi melihat keadaan gue yang lagi naik turun beberapa minggu ini, jadi Ikhsan lebih memilih untuk menunggu waktu yang tepat.

Ada rasa lega yang sekarang melekat di hati gue, sekarang gue bisa menyiapkan seluruh masakan buat anak-anak tanpa ada perasaan was-was lagi. Ikhsan pun tampaknya sudah selesai dengan urusan goreng menggorengnya.

“Nih nugget bawa ke atas juga?” Tanya Ikhsan.

“Jangan! itu punya si Ipeh, taroh aja di meja makan.”

“Anjir pelit banget tuh anak! Ini semua bakal dia embat sendiri?”

“Wuih lo belum tau ye kekuatan perut tuh anak. Dia makannya sebakul, orang lain makan pake sendok, dia langsung makan pake centong nasinya.”

“Anjir serem banget! Bener-bener mirip Sungokong.” Ikhsan berdecak kagum.

“Hus, ntar kalau tuh anak denger, bisa mati lo di tabok pake jurus tapak naganya.”

“Yaudah, gue bantu bawa mie-nya aja dah. Tuh anak enak banget lo manjain terus. Apa jangan-jangan….” Ikhsan melirik ke arah gue.

“Paan?!”

“Lo suka ya sama Ipeh?!”

“Yeeeeee ngomong sembarangan, gue siram kuah mie rebus langsung jerawatan lo!”

“Dih marah-marah aja ah lo. Tapi emang bener kan?”

“Kagak! Siapa juga! Tuh anak emang enak aja diajak ngobrol. Sisi ceweknya ada, tapi sisi easy going dan nggak suka gosip kaya cowoknya juga ada.” Jawab gue sembari membawa Mie Instan ke atas.

“Ah apaan, lo sama gue kalau lagi ngumpul juga malah ngegosip ah Dim..” Jawab Ikhsan.

“Bener juga sih. Kadang gue heran, kita itu jenis kelaminya apa sih?!”

“Lo mau liat punya gue Dim?” Rayu Ikhsan.

“NAJIS!! Tusuk gigi nggak usah dipamerin!”

“BANGKE!! Pisang Raja nih!!”

“Njing..” Gue langsung merinding membayangkan ada Pisang Raja di dalam celananya. Hih..

Gue buru-buru jalan ke atas meninggalkan Ikhsan di belakang gue yang masih cengengesan mau nunjukin onderdilnya ke gue.

“Gue sih cuma mau bilang, ati-ati. Biasanya kalau yang sekarang bilang nggak ada perasaan, besok-besok malah jadi ketergantungan, alias jatuh cinta berat.” Tukas Ikhsan pelan.

“…”

Gue pura-pura tidak mendengar dan tetap berjalan menaiki anak tangga. Walau sebenarnya apa yang Ikhsan sempat ucapkan tadi membuat gue kembali berpikir tentang kejadian waktu gue lagi memasangkan jaket gue ke badan Ipeh kemarin.  Akhirnya setelah perjuangan lama menaiki anak tangga, kita berdua sampai juga di balkon. Bau Indomie Rebus yang begitu menggoda langsung membuat semua aktivitas teman-teman terhenti. Mereka langsung datang dan menyambar Indomie yang sedang gue dan Ikhsan bawa di atas nampan ini dengan ganas.

Setelah nampannya kosong, Ikhsan langsung kembali ke dapur buat mengembalikan nampan sekalian meminta izin ke gue untuk mengambil gitar. Gue sempat melihat banyak kertas berserakan di lantai balkon, tampaknya mereka tadi sedang mengerjakan dialog dramanya. Tapi kok kayaknya ada yang kurang ya? gue mencoba menghitung lagi anak-anak yang sudah ada di sana. Dan ternyata memang kurang 1 orang.

“Eh eh eh, bentar deh, ada yang kurang yah kayaknya?”

“Ah masa sih?” Jawab salah seorang temen gue.

“Yang belum dapet peran siapa?”

“Mbe lu dapet peran jadi banci yang tobat ya.” Mendadak Ipeh ikut nimbrung.

“Yeee cewek berotot pake acara nyaut segala. Bentar ini indomie kaga ada yang makan satu nih..”

“Si Dila Dim.” Tukas Ikhsan yang baru saja muncul di balkon atas.

“Ah iya, Dila belum dateng ya? Yaudah gue minta tolong teleponin tuh anak dong San.”

“Sebenarnya dia udah nge-sms ke gue sih, katanya dari tadi dia udah nunggu di bawah.” Tukas Ikhsan polos.

“SI ANJING!! Ngomong kek setan!! Kasian tuh anak nungguin dari tadi berarti. Cepet temenin gue ke bawah!”

Mendengar bahwa ternyata Dila sudah ada di bawah menunggu untuk di sambut sama tuan rumah, gue langsung buru-buru turun bersama Ikhsan yang langsung menaruh gitarnya di sofa balkon. Dan ternyata memang benar, gue melihat ada Dila yang lagi duduk menunggu di halaman rumah.

“Eh Dil maaf udah lama ya?”

“Udah 10 menit sih..” Jawab Dila dengan aksen manisnya.

“Astagaaa!! Maaf-maaf, nih si Ikhsan kaga ngasih tau ke gue kalau lo dah dateng dari tadi.”

“Ih Ikhsan gimana sih?!”

“Hahahahah maap Dil maap, gue lagi sibuk nyetem gitar tadi.”

“Dari dulu nggak pernah berubah deh kalau soal gitar.” Tukas Dila cemberut.

“Loh? Kalian udah saling kenal lama toh?” Gue memotong.

“Iya, kita satu SMP kok, Dim.”

“Astagaaa gue baru tau. Yaudah yuk masuk, kita ke atas langsung aja.” Gue mempersilahkan Dila masuk duluan ke dalam rumah untuk melepas sepatunya.

Sambil berjalan di belakang Dila, gue iseng menyentuh pundak Ikhsan.              

“Nyet, Dila cakep ye?” Ucap gue menaikkan alis.

“Wuih dulu waktu SMP aja udah cakep Dim, apalagi sekarang..” Jawab Ikhsan.

“Iya nih, saking cakepnya tuh anak, kalau dia lewat depan kelurahan pasti genteng kelurahan pada turun semua..”

“Bhahahahahahahahak anjing ngakak gue.”

“Udah sst ah, ntar kedengeran orangnya.”

Tanpa pikir panjang gue langsung mempersilahkan Dila masuk ke dalam rumah. Begitu Dila sampai di Balkon, anak-anak laki-laki langsung pada berdiri semua . Berdiri dari duduk maksudnya, bukan berdiri yang lain. Dila langsung menjadi artis dadakan, sofa yang tadinya penuh sama anak-anak yang nongkrong sembari menaikkan kaki, langsung menjadi sepi hanya agar Dila bisa duduk di tempat tersebut dengan damai dan tentram.

Bobby dan Nurhadi juga terlihat mulai caper dengan cara memilih tempat duduk yang berdekatan dengan Dila. Maklum deh, muka kaya mereka ini kayaknya emang jarang ketemu cewek. Mukanya mirip sama aspal yang baru diinjek sama stum. Hitam, dekil, jerawatan. Makanya banyak cewek menghindar, takut hitamnya menular, kaya penyakit cacar.

Akhirnya semua anggota telah hadir, Dila memakan Indomie rebus yang telah gue siapkan sembari mendengarkan peran apa yang telah diputuskan oleh kelompok.

.

                                                                  ===

.

Lo tau anak SMA kan? Lo tau apa jadinya kalau anak SMA lagi ngumpul bareng terus ada makanan kan? Lo tau apa hasil akhir dari setiap kerja kelompok yang isinya anak-anak SMA kan?

Yak, kerja kelompok hari ini yang harusnya selesai hingga sampai tahap membuat dialog drama ternyata hanya selesai sampai dengan tahap menentukan peran-peran pemainnya doang. Itu pun cuma menghabiskan waktu sekitar 30 menit doang, sisanya anak-anak yang lain pada ngegosip, nongkrong, ketawa-ketawa, dan hal-hal nggak penting lainnya. Emang kebiasaan anak SMA ya gini, ngomongnya aja kerja kelompok, ujung-ujugnya malah gosip ngomongin orang atau gebetan.

Suasana di balkon gue malam ini sedikit lebih ricuh dengan kehadiran banyak pelawak baru. Ipeh, Ikhsan, Nurhadi, Bobby, dan Dila sebagai bahan gombalan dari semua anak laki-laki. Mereka ngobrol ngalor ngidul, pindah tompik pembicaraan dari satu hal ke hal yang lainnya. Makanan yang sudah gue siapkan dari tadi sore pun sekarang sudah terlihat makin menipis.

Ketika anak-anak yang lain lebih memilih ketawa-ketiwi ngumpul di area sofa, gue lebih memilih mengambil gitar dan duduk di pojokkan sambil bersender di pagar balkon. Kebetulan suasananya lagi enak, makanya gue memilih untuk memainkan gitar dengan nada yang tidak terlalu keras karena takut menganggu mereka yang lagi asik ngobrol.

Lagu yang gue mainkan saat itu adalah lagu soundtrack salah satu kartun minggu pagi tahun 90'an karya Fujiko F. Fujio. Kartun Mojako. Dengan nada yang sedikit di-reggae-kan, gue memainkan gitar ini sambil bernyanyi pelan.

.

Gue rasa anak yang lahir tahun 90'an pasti sempat familiar dengan lagu ending kartun Mojako tersebut, termasuk gue. Maka dari itu semenjak pertama belajar gitar, lagu ending kartun Mojako adalah lagu yang paling gue suka. Selain karena nadanya enak buat didengar, musiknya juga bisa dijadikan musik reggae. Semakin gue asik bermain gitar sambil bernyanyi, tanpa sadar semakin keras juga suara gue plus alunan gitar yang lagi gue mainkan.

“Planet venus yang indah, seperti dari emas.. Tempat yang paling indah, yang pernah kau antar..”

Karena terlalu serius dan keasikan sendiri, gue sampai tidak menyadari bahwa sekarang anak-anak yang ada di depan gue itu sedang terdiam semua. Hingga ketika gue hendak memasuki Reff lagu ending mojako yang sempat terkenal di kalangan anak-anak jadul itu, mendadak semua anak-anak yang ada di sana kompak langsung ikut bernyanyi senada mengiringi nada gitar yang tengah gue alunkan.

“Kata-kata yang indah, tidaklah perlu. Sungguh menyenangkan hati hingga waktu pun terlupakan~”

Sontak gue terkejut mendengar ada banyak suara yang bernyanyi sesuai irama gitar yang lagi gue mainkan. Tak mau kalah dengan semangat anak-anak yang lain, gue pun memainkan nada gitar lebih keras lagi. Anak-anak yang lain pun semakin antusias bernyanyi. Ada yang suaranya cempreng, ada yang suaranya ngebass kaya suara Reza Rahardian waktu memerankan peran Bapak Habibie, dan bahkan ada juga yang mengisi backing vokal yang hanya menyanyikan suara “uh-uh-uh-uh-uh..” mirip sama backing vokal di lagu Bruno Mars - When I Was Your Man yang pas bagian “It all just sound like uh uh uh-uh-uh..”

Lagu ending kartun Mojako yang lagi gue mainkan ini akhirnya gue hentikan ketika yang lain sudah pada tertawa-tawa dan mulai pada bernyanyi ngawur. Bahkan gue sempat mendengar ada yang mengalunkan Asma Ul-Husna sebagai backing vokal lagu ending mojako tadi. Bener-bener sengklek otaknya. Harus di rajam pake batu jumroh.

Karena saat itu makanan sudah habis, gue kembali ke dapur dan meminta tolong ke mba-mba yang ada di rumah untuk membuatkan minuman dan dibawa ke atas balkon. Sambil ngemil dan minum sirup yang baru diantarkan, kita semua pada akhirnya duduk bersama-sama mengitari meja tempat di mana makanan pada nongkrong dan diperkosa secara habis-habisan.

.

                                                             ===

.

Ikhsan seperti biasa, ia lebih memilih mengambil gitar dan memainkan nada-nada instrumental ketika yang lain pada berbicara. Sehingga saat itu suasananya sudah mirip cafe aja, ada live acoustic-nya. Tak bisa gue pungkiri, Dila memang terlihat cantik malam ini, tak ayal hampir semua anak laki-laki lebih sering memperhatikan Dila ketimbang memperhatikan anak-anak cewek lainnya.

Biasanya hal ini memang wajar terjadi di suatu tempat kumpul yang di mana terdapat anak cewek dan anak cowok di dalamnya. Apabila dalam suatu kumpulan itu terdapat satu cewek yang paling cantik di antara cewek yang lainnya, sudah pasti cewek itu mendapat perhatian berlebih dari setiap para pria yang ada di sana. Dia akan lebih diistimewakan.

Tak ayal ketika kita mulai saling bercengkrama, Dila adalah orang yang paling sering dilontarkan pertanyaan oleh para anak-anak cowok. Dan ketika anak cewek yang lain ikut nimbrung, anak cowok hanya akan menanggapinya secara biasa saja. Berbeda ketika Dila yang menjawab, pasti anak-anak cowok yang lain langsung terlihat lebih antusias. Tak ayal saat itu gue merasa banyak anak cewek yang terlihat sedikit bete dan berusaha lebih caper.

Beberapa kejadian percakapan yang terlihat lebih diutamakan agar Dila yang menjawab pun sering terjadi. Salah satunya adalah kejadian “Siapa yang nanya, siapa yang ditanya” seperti di bawah ini.

“Iya, kemarin aja gue remedial.” Ucap Sarah, salah satu anak cewek yang lagi kumpul saat itu.

“Anjir gue juga remed dong. Matematika pak Tatang emang kampret. Btw Dila nilai ulangan matematika kemarin berapa?” Tanya Nurhadi yang secara tiba-tiba bertanya kepada Dila.

Nah selain itu ada juga kejadian percakapan “Dari Satu Menjadi Banyak.” Seperti di bawah ini,

“Kemarin katanya yang beli buku Fisika di Ibu Lily, bakal dapet tambahan nilai +10 ya pas ulangan?” Tanya Dila.

“Wah emang iya? Anjir gue harus beli dong? Mata duitan Njir gurunya.” Tanggap Bobby.

“Parah banget Dil, emang harga bukunya mahal ya? Emang keuntungan gurunya apa sih dari buku itu?” Tanya Nurhadi.

“Pan dia salah satu yang buat buku itu, Di.” Jawab Ikhsan.

“Ah pantes, mana mahal bukunya, terus juga kalau gue nggak salah denger Bu Lily juga buka les private kan tuh? nah yang lebih ngehe-nya lagi tuh materi yang di-private-in sama Bu Lily adalah pelajaran yang bakal dijadiin soal ulangan.” Tukas Nurhadi.

“Wah jadi kalau nggak ikut les sama Bu Lily bisa dapet nilai jelek dong? Anjir tai banget!” Jawab Bobby.

Berawal dari sebuah kalimat kecil yang Dila lontarkan, ujung-ujungnya malah bisa mengakibatkan percakapan panjang lebar yang penuh dosa karena menghina guru kita sendiri. Dan juga ada kejadian percakapan yang gue sebut dengan kejadian “Perhatian Berlebih”, seperti di bawah ini,

“Dila rumah di mana?”

“Pulang sama siapa?”

“Ati-ati daerah itu rawan loh.”

“Emang sama mamahnya boleh pulang jam berapa?”

“Makan malem di mana?”

“Ukuran BH berapa?”

Dan masih banyak hal-hal nggak penting yang mereka tanyakan kepada Dila. Sedangkan gue? gue yang saat itu lagi duduk di sofa malah lebih memilih untuk sibuk ngeliatin bungkus Teh Kotak yang masih gue pegang dari tadi ketimbang ikut memanjakan Dila. Gue sama sekali nggak tertarik sama percakapan perihal Dila, nggak tau kenapa tapi yang jelas gue nggak seberminat itu sama Dila. Kalau boleh jujur, gue bakal lebih milih Ipeh ketimbang Dila.

Gue terus saja terlihat penasaran di depan bungkus Teh Kotak yang masih gue putar-putar dengan serius. Tanpa sadar, ternyata Ipeh memperhatikan tingkah laku aneh gue tersebut dari tadi.

“Lo ngapain sih Mbe?” Mendadak pertanyaan Ipeh membuyarkan suasana percakapan dan sekarang semua pandangan tiba-tiba tertuju ke arah gue.

Gue terdiam. Gue melihat ke arah mereka sebentar, lalu melihat kembali ke bungkus Teh Kotak yang ada di tangan gue ini.

“Gue heran, ini teh kotak dari taun 2004 sampe sekarang masih aja ada tulisan Promo Extra 50%. Gila anjir, udah bertahun-tahun nih promo kaga beres-beres juga.”

Mendengar penjelasan gue, sontak seluruh anak-anak pada tertawa. Ntah itu Dila, Ipeh, Ikhsan yang memukul kepala gue pake bungkus Teh Kotak kosongnya, Nurhadi, Bobby, Sarah, dan anak-anak yang lainnya.

“Eh nape lo pada ketawa?! Ini serius! Dari jaman gue SD, itu Teh Kotak bisa dibilang termasuk minuman mewah. Dulu waktu gue lagi naik kereta mau mudik, gue selalu pengen beli Teh Kotak tapi dilarang sama nyokap gara-gara ini minuman bungkusnya kecil cuma 7cm tapi harganya 500 perak!

Lo bayangin aja, jaman kita SD, 500 perak tuh kaya 5000. Dan minuman teh doang yang kemasannya cuma 7cm ini bisa sampe seharga segitu. Gila aja!” Ujar gue berlagak bak Shinichi Kudo lagi menuntaskan kasus Pembunuhan Pencuri Celana Dalam.

“Bentar bentar, jadi ini tuh sebenarnya lo udah minum Teh Kotak dari jaman lo masih SD sampe sekarang?!” Tanya Ipeh heran.

“Iya, kenapa emang?”

“Anjir parah lo Mbe, Diabetes lo ntar! Kencing lo keluar gula jawa nanti!”

“Lha, lo pikir itu air sirop yang lagi lo minum itu air darimana Peh?” Goda gue.

“IH JOROK!!!” Ipeh melemparkan nastar keju ke arah gue. Sontak anak-anak yang lain jadi tertawa melihat tingkah laku kita berdua.

Keadaan pun kembali ceria, anak-anak yang lain masih bercengkrama seputar masalah sekolah. Kadang mereka membicarakan anak kelas lain yang ganteng-ganteng, kadang membicarakan guru, kadang membicarakan hal-hal angker, dan juga kadang membicarakan banyak hal yang nggak jelas.

Tapi lama-lama gue juga bete kalau melihat hanya Dila saja yang mendapat perhatian berlebih dari anak-anak cowo yang lain. Maka dari itu gue memutuskan untuk membuka sebuah percakapan baru diiringi lagu instrumental yang Ikhsan mainkan dengan gitar Yamaha Nilon kesayangan gue.

“Btw, gue dulu kenal Nurhadi dari waktu Ospek ya, Di, kalau nggak salah? elo tuh SMP 45 kan? yang di jalan Purwakarta Antapani itu kan?” Ucap gue membuka pembicaraan.

“Ah lo masih inget aja Dim, tapi kalau gue inget-inget lagi, dulu lo begok banget ya sampe berurusan sama kakak keamanan mulu..” Jawab Nurhadi yang malah diteruskan dengan bercerita tentang kebodohan-kebodohan gue waktu ospek.

“Nah kalau elo Bob? Elo dari mana?” Tanya gue membuka percakapan ke Bobby.

“Gue dari SMP 22, Dim, yang di jalan Supratman itu.” Jawab Bobby.

“Eh btw Dim, si Bobby ini punya Drum Set loh di rumahnya.” Potong Ikhsan sambil menyentuh pundak gue dengan kakinya– Ikhsan duduk di sandaran sofa.

“Weh gila, lo bisa main Drum, Bob?” Tanya gue penuh antusias.

“Yoi dong. Gini-gini juga gue jebolan Purwacaraka!” Tukas Bobby sombong sambil membenarkan rambutnya yang dibalur dengan pomade.

“Gila! Gentong aer bisa maen Drum. Bhahahahahak, tapi kebetulan Bob, gue sama Ikhsan lagi pengen bikin Band kelas nih. Ikut yok!” Ajak gue.

“Wah boleh tuh, lagian daritadi gue denger juga si Ikhsan maenin gitarnya asik banget. Padahal wajahnya nggak cocok banget sama kehebatan dia main gitar.” Ejek Bobby.

“Nah itu dia, dulu mungkin emaknya ngidam lagu-lagu Instrumental Kenny G, tapi bapaknya malah nyetel lagu Jhonny Iskandar. Maka dari itu muka sama keahliannya nggak sinkron.”

“ANJING BHAHAHAHAHAHAK JHONNY ISKANDAR LAH!! AKU BUKAN
PENGEMIS CINTAAA~~”
Mendadak Nurhadi ikut turut andil mengejek Ikhsan.

Abang Jhonny Iskandar, adalah kisah tersembunyi di balik mengapa Ikhsan terlihat begitu tampan waktu SMA.

.

Ikhsan tampak terlihat bete mendengar anak-anak mulai keasikan menghina apa yang sudah hancur di mukanya tersebut. Alunan musik gitarnya kini sudah tidak merdu lagi, mirip kaya suara dangdut dorong yang sering lewat di depan gang-gang.

“Emak lo juga kebanyakan minum kopi tuh, Di! Air ketubannya item.” Jawab Ikhsan bete ke arah Nurhadi yang memang kulitnya hitam legam.

“Hahahahaha udah-udah. Btw Bob yuk kapan-kapan Jamming bareng kita.” Ajak gue.

“Eh aku ikut dooooooong!! Aku mau jadi vokalisnya yaa..” Mendadak Ipeh ikut nimbrung.

“….” Kita semua mendadak hening mendengar apa yang baru saja Ipeh ucapkan.

“…”

“…”

“Eh terus Bob gimana tadi? Lu les di purwacaraka udah berapa tahun?” Gue mencoba mengalihkan pembicaraan dan bertanya kepada Bobby.

“Anjir Mbe kurang ajar! Gue dijadiin kambing congek!” Tukas Ipeh bete.

“Hahahaha cup-cup-cup, jangan marah. Nih sini gue kasih roti..”

Gue mengambil sedikit potongan nastar keju di dalam toples, memotong sedikit ujugnnya, meremas hingga menjadi butiran kecil, lalu menaburkannya di atas meja.

“Tuh Peh udah gue siapin. Jangan marah lagi ya…”

“LO KIRA GUE BURUNG PERKUTUT APA HAH?! PAKE ACARA DIKASIH REMAH ROTI SEGALA!!”

“Hahahahahahhaa..” Semua anak-anak tertawa terbahak-bahak.

“Lhaaa emang lo mau ngapain? megang rebana? cewek setengah-setengah kaya lo nggak cocok pegang rebana!” Ejek gue.

“Ih anjir sialan. Gue jago nyanyi woi! Dulu temen-temen gue di SMP anak VG semua tau.” Tukas Ipeh tidak mau kalah.

“VG? Vokalis Gagal?” Potong Ikhsan.

“ANJIR JHONNY ISKANDAR DIEM DEH!!”

“EH ENAK AJA LO DASAR SILUMAN KELAMIN GANDA!!”

“IKHSAAAAN!!!” Akhirnya Ipeh ngamuk dan menghajar Ikhsan pake toples pelastik nastar nanas bekas Ramadhan tahun kemarin.

“Tapi Dim..” tiba-tiba Bobby memotong gue yang lagi tertawa, “Gue juga dulu liat lo main basket sama si Adi sama si Ikhsan. Hebat juga ya lu bertiga. Kagum gue.”

“Hahaha hoki aja kita, tapi tetep kalah kok ujung-ujungnya.” Jawab Nurhadi.

“Kalau elo Mai? Kalau nggak salah dari SMP 17 yang di Arcamanik itu kan yah?” Gue kembali bertanya kepada orang yang berbeda.

“Iya, tumben masih inget.” Jawab Mai manis.

“Woiya dong, kalau perihal kita sih gue nggak akan lupa..” Jawab gue seraya menaikkan satu alis.

“Dih apadeh gombal.. Lagian waktu pertama ketemu lo juga kan gue udah nyuruh biar lo jauh-jauh dari gue, Dim. Inget nggak?” Tanya Mai.

“Anjir gue inget gue inget! Gue kira dulu ada apa sampe-sampe gue dicuekin abis-abisan sama elo Mai. Gue malah sempat nyium ketek gue, apa jangan-jangan ketek gue bau kamper ye sampe ditolak mentah-mentah gitu. Gue ajak ngomong aja lo gak pernah nengok, udah kaya wajik basi aje gue.”

“Hahahahaha bego, gara-gara atribut seragam elo tuh!” Jawab Mai lagi.

“Iya hahaha dari situ gue kena marah mulu waktu ospek. Eh btw kenapa pada kenal gue waktu ospek sih?!” Tanya gue heran.

“Kalau aku nggak salah, kamu tuh yang waktu itu kaos kakinya sobek kan?” Mendadak Dila bertanya ke arah gue.

“Loh? kok Dila tau?”

“Tau lah, aku kan ada di kelompok sebelah kelompok kamu. Temen-temen yang lain juga pada nahan ketawa ngeliat kaos kaki kamu sisa setengah kaya gitu dulu waktu ospek.” Tambahnya lagi.

“Anjir naas banget nasib gue dulu yak. Awal-awal masuk SMA udah di cap cabul sama anak-anak kelas, eh sekarang gue dikenal gara-gara insiden kaos kaki. Asem!”

“Hahaha tapi lucu kok itu.” Sambung Dila lagi.

“Eh tapi tadi kalau nggak salah Dila tuh satu SMP sama Ikhsan ya?” Tanya gue.

“Iya, kita satu SMP. di SMPN 5 Bandung.”

“Wuih gila, kalau Dila sih cocok di SMPN 5, tapi kalau Ikhsan kayaknya gue agak ragu deh.. Tul gak sob..”

“Bener banget.” Nurhadi menimpali.

“Akur..” Bobby ikut-ikutan.

“Lah kalau elo Peh? Gue juga belum tau lo dari SMP mana?” Gue bertanya kepada Ipeh.

“Gue? Gue SMPN 13 kok…” Jawab Ipeh.

“yang di Buah Batu itu?”

“Iyap..”

“Pantes aja lu kaya begini, daerah preman tuh.”

“Yaelah nyindir aja bisanya, emang lo sendiri SMPN mana sih Mbe?”

“Gue? SMP gue mah terletak di tengah kota cuy. SMPN 7 Bandung. Kalau bolos sekolah juga gue mah gaul tinggal jalan ke BIP.” Gue menjelaskan dengan sombong. Hingga pada akhirnya semua anak-anak yang lain langsung pada menyombongkan SMP-nya masing-masing karena tidak mau kalah.

Semakin larut hari ini, semakin ramai juga pembicaraan yang kita lakukan bersama-sama. Dari sini gue jadi tau temen-temen gue kelas satu ini berasal dari SMP mana saja, dan dari sini juga gue tau saat-saat pertama mereka saling mengenal antara satu dan yang lainnya itu kapan dan karena hal apa saja.

Kita saling tertawa kembali. Beberapa ejekan muncul lagi, beberapa nyanyian disertai alunan gitar yang Ikhsan mainkan kembali hadir, dan beberapa percakapan nggak jelas terus membuat kita semakin akrab dalam kerja kelompok ini. Namun semuanya tetap kembali seperti semula, di mana Dila adalah seorang yang paling dipuja-puja oleh setiap orang. Ketika Ikhsan, Nurhadi, Bobby, dan beberapa cowok yang lain saling bersaut-sautan menjawab pertanyaan Dila, gue malah asik sendiri ngemilin nastar nanas yang tinggal sisa sedikit di toples.

Ketika anak-anak cowok yang lain bertanya satu hal kepada Dila, gue biasanya yang jadi mediator untuk menanyakan hal yang serupa juga ke anak-anak cewek yang lainnya. Ntah itu Ipeh, Sarah, Indri, atau siapa saja anak cewek yang ada di sana. Hingga pada suatu ketika, gue melakukan kesalahan fatal dengan keceplosan menanyakan pertanyaan paling krusial kepada Mai.

“Ngg.. Mai. Gue mau nanya, di antara anak-anak cowok di sini sekarang, siapa yang menurut lo paling lo suka?”

Sontak setelah pertanyaan itu terlontar, keadaan menjadi hening.

.

                                                                       ===

.

Seketika itu juga keadaan mendadak menjadi benar-benar mencekam. Mai terlihat agak sedikit kelabakan ketika gue berikan pertanyaan tersebut. Gue yang emang pada dasarnya keceplosan ini sontak langsung merasa bersalah dan mengubah topik pembicaraan.

“Eh yaudah, anak-anak kelas deh. Siapa anak-anak cowok di kelas yang menurut lo paling ‘klik’ lah buat elo, Mai?”

Karena sudah terlanjur basah, akhirnya gue mulai menanyakan hal-hal pribadi kepada Mai yang ntah kenapa malah jadi sebuah topik pembicaraan yang menarik bagi kita-kita yang tengah berkumpul. Mendengar pertanyaan gue, tiba-tiba para anak laki-laki langsung terdiam. Mereka tegang dan terlihat malu-malu, merasa mereka yang bakal dipilih oleh Mai. Padahal muka kaya centong nasi semua gitu aja pake acara sok-sok percaya diri. Hih..

“Eh bentar-bentar, gue jadi punya ide nih, gimana kalau kita main Truth or Dare aja? yang kepilih harus mau melakukan apapun tantangannya, atau harus menjelaskan sejujur-jujurnya. Deal?” Ucap Ipeh sambil memegang botol softdrink.

“Wah menarik tuh kayaknya ide lu Peh. Gue setuju.” Gue menimpali.

“Hmmm… gimana ya..” Nurhadi, Bobby, Ikhsan dan anak-anak yang lain tampak ragu-ragu.

“Ngg.. boleh deh aku ikutan ya..” Mendadak Dila setuju dengan usulan Ipeh barusan.

Melihat Dila yang setuju untuk bermain permainan ini, sontak anak-anak cowok yang lain juga langsung setuju untuk ikut bermain. Ikhsan yang sedari tadi duduk di senderan sofa sambil bermain gitar pun pada akhirnya langsung turun dan duduk di lantai bersama-sama. Kita duduk membentuk sebuah lingkaran, mirip kaya lagi ritual memanggil babi ngepet.

“Tapi tantanganya jangan serem-serem ya!” Tukas Ikhsan sembari menaruh gitar di lantai.

“Ah kalau buat elo mah nggak akan ekstrim san, lo cuma disuruh duduk aja di atas kursi, terus nanti anak-anak yang lain ngelemparin kerikil ke arah muka lo sambil teriak AllahuAkbar.” Jawab gue sekenanya.

“LO KIRA LAGI LEMPAR JUMROH?!” Balas Ikhsan kesal diselingi tawa anak-anak.

“Ih kalian mah berantem mulu deh. Kita mulai aja ya?!” Tukas Ipeh bersiap memutarkan botol softdrink yang tengah ia pegang.

“SIAP!!” Kita semua kompak meneriakkan hal yang sama.

.

.

.

.

.

                                                             Bersambung

Previous Story: Here

krama

Manners are probably rare items in these days”

Kalimat itu jadi judul untuk gambar yang dirilis dosen saya ke linimasa media sosial. Gambar yang dimaksud adalah tampilan layar dari obrolan beliau dengan mahasiswa bimbingan skripsinya lewat aplikasi percakapan. Menariknya, bahasa tulis yang digunakan oleh sang mahasiswa terasa kurang elok dibaca. Tanyanya “Gimana, pak? Hari ini bisa ketemu?” dan “Kira-kira bapak di bdg lagi kapan yah? Besok saya sudah rencana pulang ke jakarta soalnya”. Kontan. Tanpa salam pembuka apalagi embel-embel “maaf”, “permisi” atau “barangkali”.

Buat saya, enggak heran kalau beliau cukup risau dengan tabiat anak didiknya. Kesenjangan sopan santun memang kerap hadir sebagai kisah klasik antar angkatan. Nyatanya, ada tiga generasi yang hidup membaur di jaman sekarang dan masing-masing berlaku dengan tata kramanya. Sikap yang dulu terbilang tabu, kini jadi amat biasa. Ditambah lagi, pola didik keluarga dan adat istiadat tiap daerah yang beranekaragam. Ada yang terampil berlemah lembut dengan sesama, enggak sedikit yang meninggikan nada sewaktu berbicara dengan ibu-bapak.

Cerita di atas mirip dengan pengalaman lama seorang sahabat yang ngirim SMS ke dosennya untuk bimbingan. Kekeliruannya sepele tapi berbuntut ceramah panjang-lebar tentang kesantunan dari sosok yang memang terkenal tegas di kampus. Ketik sahabat saya dari ponselnya, “Assalamu’alaikum, Bu. Maaf udah di kampus belum, ya? Hehe”. “Hehe” penutup itulah yang kemudian dijadikan bulan-bulanan oleh sang dosen karena dirasa mengesankan orang tua sebagai rekan sebaya.

Lebih dari satu dekade ke belakang, pada masa dimana harga untuk sebuah percakapan dibanderol lebih mahal, para mahasiswa di jurusan tetangga terbiasa untuk menyimpan rancangan pesan singkat di kotak draf-nya sebelum dikirim ke dosen. Mereka khawatir isi pesannya enggak sedap dibaca dan membikin ibu/bapak dosen ogah merespon  - apalagi ketemu. Dieditlah pesan itu berkali-kali supaya redaksinya ciamik. SMS dulu yang direvisi sebelum kemudian tugas akhir. Dulu mah segitunya.

Tolak ukur tata krama memang kerasa berubah dari masa ke masa. Tolak ukur itu senantiasa bergerak mengikuti perkembangan etika pergaulan yang dianggap lebih kekinian. Di SD dulu, saya pernah dapet mata pelajaran Budi Pekerti selama hampir tiga taun. Mungkin menurut para guru terdahulu, etika sedemikian penting makanya kenapa sampai dibikin jadi bidang khusus. Saking istimewanya, bapak kepsek turun langsung sebagai pendidik. Materinya enggak jauh dari kewarganegaraan, tapi cenderung lebih praktis dan mendasar semisal adab saat berjalan melewati orang tua. Sederhana namun lumayan mengena untuk menambah ajar siswa-siswi biar enggak kurang ajar. 

Tapi, dari pelajaran sesimpel itu ada banyak makna yang bisa dipetik untuk tradisi yang menomorsatukan tata krama. Saya jadi inget gimana cara bapak mertua berjalan melewati kami kalau lagi kumpul di ruang keluarganya. Di depan anak-anaknya yang tengah asyik menonton TV, beliau membungkukkan badannya sambil berlalu perlahan. Waktu pertama kali ngeliat, saya terkesima sendiri. Enggak cuma dikhususkan untuk para sepuh, ternyata kesantunan juga membeli hati kami yang belia.

“If you want, I will tell you what the highest knowledge is, which raises people in rank: it is humility”

Inti dari tata krama enggak jauh dari kata kunci yang itu-itu lagi, kerendahan hati. Saat jadi yang lebih muda, kita mau memandang mereka yang tua sebagai pendahulu yang padat ilmu dan amal. Saat jadi yang lebih tua, kita mau menempatkan mereka yang muda sebagai penerus yang penuh semangat dan cita-cita. Setiap orang berharga dan mungkin menyembunyikan kebaikan yang enggak kita tau. Mereka yang abai bersopansantun mungkin lupa tentang cara paling sederhana untuk membahagiakan sesama: membuat orang lain merasa penting dan dihargai.

Tiada penghormatan tanpa kerendahan hati. Tiada kesantunan tanpa kelembutan hati. Kesan semanis apapun bisa menggetir seketika kalau kita luput menyertakan tata krama. Maka, maaf, bersopansantun itu perlu.

The Way I Lose Her: Centrum.

Cara kau sakit hati, adalah bagaimana cara Tuhan mempertemukan aku dengamu. Dan caramu dengan tegas meninggalkannya, adalah cara Tuhan mempertemukan aku dengan masa depan.

                                                             ====

.

Sudah hampir lebih dari dua jam gue duduk sendirian di atas sini, ntah apa yang sedang gue pikirkan, namun tampaknya otak gue sama sekali tidak berjalan selama lebih dari dua jam. Gue cuma memandang ke arah pemandangan kota saja tanpa melakukan apa-apa lagi.

Gue merapihkan segala makanan dan minuman yang ada di atas balkon lalu kemudian menaruhnya kembali ke dapur. Letak kamar gue dan ruang keluarga sebenarnya tidak begitu jauh, maka ketika gue mau tidur dan mulai mematikan tivi di ruang keluarga, mata gue ntah kenapa melihat ke arah kamar. Secara perlahan-lahan, gue berjalan menuju pintu kamar gue sendiri itu.

Dari luar gue bisa melihat Ipeh yang tengah tertidur di kasur gue. Gue buka pintu kamar gue sedikit dan berjalan menghampirinya. Selimut Ipeh sempat tersingkap dan gue membenarkan kembali selimutnya. Menyelimuti badannya yang kini tengah mengenakan kemeja kedodoran punya gue.

Wajah Ipeh tenang sekali, rambut sebahunya itu kini tergerai menutupi pipi. Dengan pelan-pelan telunjuk gue mulai merapihkan rambutnya ke belakang telinga. Gue usap-usap rambutnya dan Ipeh tampaknya tetap tertidur pulas. Tenang sekali. 

Gue nggak mau mengganggu Ipeh yang tengah tertidur lelap karena kelelahan, oleh karena itu gue nggak bisa lama-lama di sini. Sebelum pergi, gue sempatkan mengecup pipinya itu sebentar dan mengucapkan “selamat malam” Seperti apa yang Ipeh lakukan kepada gue tadi di balkon atas.

.

                                                               ===

.

Gue emang punya kebiasaan tidur malem. Dan hal itu juga yang kadang menyebabkan gue selalu bangun kesiangan. Hari ini gue bangun jam 9 pagi. Itu pun kebangun gara-gara ada bau nasi goreng buatan nyokap di dapur. Walaupun mata masih kriyep-kriyep, gue usahain bangun dan berjalan menuju ruang makan secepat yang gue bisa. Karena apabila terlambat sedikit saja bisa-bisa jatah nasi goreng gue ludes diembat kakak, bokap, atau 2 adik gue yang lucu-lucu tapi minta ditendangin semua itu.

Dengan nyawa yang masih setengah hilang, gue berjalan menuju ruang makan sembari garuk-garuk pantat dan garuk-garuk ‘bola emas’ kesayangan gue. Namun gue tiba-tiba terdiam ketika melihat di ruang makan ada nyokap gue lagi nyiapin makanan ke piring anak-anak, dua adek gue, dan satu orang lagi… yaitu Ipeh. Mereka melihat ke arah gue dengan pandangan aneh.

“Lha, lo ngapain di rumah gue Peh?” Tanya gue yang masih setengah sadar.

“Ih bego, kan kemarin gue nginep di sini ai kamu!” Jawab Ipeh.

“Ooooh… iya ya…”

“Mbe ih! Jorok pisan!!”

“Hah? Apaan?” Gue masih belum sadar.

“Tangan lo!”

“Tangan?”

“DIMAS ITU TANGAN NGGAK SOPAN ASTAGFIRULLAH!!!” Ibu gue menunjuk ke arah tangan gue yang masih menari ria di dalam celana.

Dan seketika itu pun gue sadar. Anjir, tangan gue masih ada di dalam celana sambil galer. Bangsat gue lupa!! Bhahahahahk sontak gue terkejut dan berjalan mundur ke kamar mandi buat cuci muka sekaligus ganti baju. Setelah selesai, gue kembali ke ruangan makan dengan wajah ceria.

“Hai..” Sapa gue

“Gak usah sok akrab deh. Ilfeel gue sama lo mbe.” Ucap Ipeh dingin.

“Ih Ipeh jangan gitu..” Gue mencubit pipinya dengan tangan kanan.

“IH ITU KAN TANGAN BEKAS ITU!! JOROK ANJIR JOROK!!” Ipeh jingkrak-jingkrak menghalau tangan gue. Sedangkan gue malah makin seneng gangguin Ipeh. Lagian udah cuci muka sama cuci tangan juga, nih anak lebay deh.

Akhirnya pagi itu kita sekeluarga makan bareng, gue kenalin sekalian Ipeh kepada orang tua. Jadi sebenarnya kemarin gue belum minta izin sama orang tua perihal Ipeh yang menginap. Namun orang tua gue orangnya easy going semua kok, selama gue nggak berbuat macam-macam sih it’s oke.

Siangnya, gue langsung mengantarkan Ipeh pulang ke rumahnya setelah menjelaskan perihal apa yang ingin mba Afi sampaikan kemarin. Awalnya Ipeh sempat menolak, tapi setelah gue bujuk dan gue nasehatin, akhirnya Ipeh mau juga pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Ipeh, gue tak lupa salam sama Mba Afi dan disuruh buru-buru pulang takutnya ketawan Ayah sama Ibunya Ipeh. Ternyata Mba Afi bilang ke Ayah dan Ibunya bahwa Ipeh sedang menginap di rumah teman ceweknya. Maka dari itu secara sopan setelah berterimakasih, mba Afi langsung menyarankan agar gue pulang cepat sebelum ketawan kedua orang tuanya.

Karena sekarang hari minggu, sebelum balik ke rumah, gue menyempatkan mampir ke rumah Ikhsan di sekitaran Cipaganti Bandung. Gue pernah ke sini sekali, tapi dulu cuma buat nganter temen doang kalau gue nggak salah. Rumahnya Ikhsan ini terletak di bilangan Cipaganti, cukup dekat dengan mall Ciwalk. Setelah sampai di depan rumahnya. Gue langsung memarkirkan motor dan mengetuk pintu.

“Iya, mau cari siapa ya?” Ucap seorang wanita separuh baya sambil membukakan pintu rumah.

“Eh tante, maaf ini Dimas temannya Ikhsan.”

“Oh mau nyari Ikhsan. Sebentar yaa..” Akhirnya wanita paruh baya tersebut masuk ke dalam rumah dan memanggil Ikhsan.

Selang 5 menit. Anak tapir itu pun muncul.

“Masuk gih nyet.” Kata dia.

“Eh bentar, itu tadi siapa?” Tanya gue.

“Tante gue.” 

“Oh sip deh, ini rumah emang selalu sepi kaya gini ya?”

“Hooh, palingan juga ada abang gue sama tante doang.”

“Wuah asik dong, lo bisa nyelundupin cewek tiap hari.”

“Lo kira gue mucikari apa?!”

“Btw ini gue nggak disuguhin makanan apa?”

“Anjir tamu tidak tahu diuntung lo!”

“Kali-kali lah.”

“Yaudah bentar.”

Ikhsan pun pergi ke dalam sebentar sebelum pada akhirnya kembali dengan membawa beberapa toples makanan dan satu piring ikan gurame goreng. Gue yang melihat hal ini langsung secara spontan menatap Ikhsan.

“Ngapain lo bawa ikan? Lo pikir gue berang-berang apa lo kasih makan Ikan?” Tukas gue.

“Abisin gih, daripada nggak abis. Bekas sarapan tadi pagi tuh.” Jawabnya enteng sambil nyomotin daging ikannya dikit-dikit.

Gila nih anak, gue dikasih makanan bekas. Awas aja besok lagi kalau ke rumah gue lagi, bakal gue gorengin nugget dari makanan anjing. Hih! gue benar-benar nggak habis pikir sama nih anak. Otaknya mungkin terbuat dari kertas karbon kayaknya. Hitam legam kaya kuah balakutak.

“Kemarin kemana aja?” Tanya gue sambil pada akhirnya ikutan nyomotin daging ikan yang Ikhsan suguhkan.

“Ah iya, gue mau cerita..”

Akhirnya Ikhsan pun bercerita mengenai jalan-jalan kemarin. Sepanjang pergi jalan-jalan, mereka saling berkenalan antara satu dan yang lainnya. Ternyata teman-teman Wulan itu anak SMA 3 dan SMA 5, Ikhsan pun bercerita bahwa dirinya sudah makin dekat dengan cewek berbaju biru yang kemarin dia incar. Selama jalan-jalan, Wulan sesekali menanyakan keadaan gue. Dan untungnya Ikhsan tidak pernah cerita kalau gue dekat dengan siapapun, bahkan dengan kak Hana sekalipun Ikhsan tidak pernah cerita. Itu yang gue senang dari Ikhsan, mulutnya nggak ember kaya cewek. Dia cuma memberitahu apa yang ingin cewek dengar saja, nggak lebih dan nggak kurang. Sedangkan Claudya kerap menanyakan apa hubungan gue dan Wulan. Akhirnya setelah menjelaskan panjang lebar, kini Claudya tau apa status gue dan Wulan. 

“Hmm.. gitu toh..” Gue mendengarkan dengan seksama.

“Terus ada lagi nyet.”

“Apaan?”

“Gue sempat iseng sih bilang kalau kita udah punya Band kelas. Elo, gue, sama Bobby. Nah terus Wulan ngajakin kita buat bantu-bantu ekskul dia gitu. Kita disuruh ngiringin mereka nyanyi.”

“Ooh terus lo jawab apa?”

“Ya sebagai leader gue jawab aja gue bisa.” Jawabnya enteng.

“Bentar-bentar, yang nentuin elo jadi leader siapa?” 

“Ah sudahlah, dari kita bertiga, cuma gue yang jiwa kepemimpinannya tinggi.” Tukasnya bangga.

“Tinggi mata lu soek!”

Saat itu gue cukup lama berbincang-bincang dengan Ikhsan, hingga pada akhirnya gue meminta izin pulang karena besok kita harus kembali sekolah. Tak lupa gue meminta kembali pakaian yang telah dipinjam sebelum pada akhirnya gue pamitan sama tantenya Ikhsan.

Sesampainya di rumah, gue langsung tiduran bentar hingga waktu menjelang malam hari. Gue buka agenda sekolah gue, dan ternyata ada PR matematika yang masih belum gue kerjakan. Tanpa pikir panjang gue keluarkan langsung buku cetak gue, satu buku tulis, dan satu buah Hape kesayangan gue di atas meja belajar.

“Hei.. sudah tidur?”

Yak! Tebakan kalian tepat! Gue mengirimkan SMS ke si Matematika Buku Cetak Hal.17 

Selang 1 menit, ada satu sms masuk.

“Belum, kenapa?” jawabnya singkat.

“Pr matematika udah?” Jawab gue lagi tanpa basa-basi.

“Udah, mau liat?” 

“Mauuuuuu~”

Bhahahahahak mantap! Gue makin cinta sama nih anak kalau gini caranya. Tanpa gue minta pun dia sudah mau memberikan gue contekan matematikanya. Selama mengerjakan PR gue itu, sesekali gue juga bercerita perihal Ipeh kemarin. Rasanya senang sekali ada yang mau mendengarkan gue bercerita. Karena sudah jarang banget zaman sekarang ada orang yang mau mendengarkan orang lain bercerita tanpa merasa suntuk atau malah menghakimi kita setelah kita selesai bercerita.

.

                                                               ===

.

Keesokan paginya, ternyata pada pelajaran ke 4-5 gurunya berhalangan hadir, sehingga dari pukul 11.00 hingga 13.30 bakal tidak ada guru. Kelas pun yang awalnya sepi langsung mendadak ribut. Ada beberapa orang yang langsung gitar-gitaran di kelas belakang. Geng Dila dan kawan-kawan ramai bergosip di salah satu sudut kelas sambil mengeluarkan alat-alat make-up seperti sisir, bedak, dkk. Beberapa anak yang lain ada yang memilih untuk pergi ke kantin untuk makan siang. Ada yang mengerjakan PR untuk pelajaran terakhir nanti. Ada juga yang tiduran di bangku sambil mendengarkan musik.

Sedangkan gue dan Ikhsan? kita malah asik ngobrol serius berdua.

“Pelan-pelan, nanti kalau udah mentok aku bakal bilang.” Kata gue.

“Terus.. terus.. terus.. Nah stop, di situ. Iya di situ.” Balas Ikhsan.

“Geser dikit, bahaya kalau di situ.” Kata gue lagi.

“Mending ganti posisi deh, susah keluarnya kalau kaya gitu.” 

“Sempit sih, tapi bisa masuk kok.”

“Wah nggak bisa, punya lo kepanjangan.”

“Kayaknya nggak cukup deh. Terlalu kecil itu, sedangkan yang gue besar gini.”

“Lama nggak keluarnya?”

“Wah bekas siapa nih? Nggak rapih banget mainnya.”

“Tarifnya perjam.”

“Apapun yang terjadi, itu tanggung jawab yang bersangkutan.”

“Kalau mau keluar bilang ya.”

Lagi asik-asiknya ngobrol, mendadak pembicaraan kita terhenti ketika menyadari bahwa sedari tadi ada Ipeh di depan kita berdua sedang mendengarkan seluruh percakapan yang baru saja kita lakukan. Ikhsan dan gue cuma bisa awkward

“Ka.. Kalian… KALIAN LAGI NGOMONGIN APA?!”

“…”

“ANJIR PARAH LAGI NGOMONGIN HAL BEGITUAN YA?!” Ipeh makin kehilangan kendali.

“Apaan sih Peh, kita berdua kan lagi ngomongin apa aja percakapan yang biasanya tukang parkir omongin.”

“Iya apaan sih lo Peh. Kita lagi ngomongin ucapan-ucapan ambigu tukang parkir kok.”

“….”

“Elo aja yang kali mikirnya jorok. Tul nggak nyet?” Senggol Ikhsan

“Iye. Makanya kalau lagi wudhu, otaknya dibilas 3x juga biar sehat.”

“Ih apaan sih, nggak kok! Lagian siapa juga yang nggak bakal mikir ke sana kalau dengerin percakapan ambigu kalian.”

“Ah bohong, pasti di HP lu banyak video-video porno deh. Sini gue periksa!” Ikhsan langsung berdiri dari duduk dan merangkak di meja menuju Ipeh.

Karena merasa terancam, dengan cepat kilat Ipeh menggulung buku cetak bahasa inggris yang ada di depannya dan memukul kepala Ikhsan keras-keras.

BUK!
Seketika itu juga Ikhsan langsung terkapar di atas meja tak bernyawa.
Melihat hal itu, Ipeh ikut terkejut.

“Astaga San, maaf gue nggak sengaja.. Elo sih menakutkan, jadi gue reflek mukul!” Ipeh menggoyang-goyangkan tubuh Ikhsan yang masih tengkurap di atas meja tanpa bergerak sedikitpun.

“Ih Mbe Ikhsan mati nih. Apa pukulan gue tadi kekerasan ya?” Tanya Ipeh.

“Udah nggak papa, itu baik buat kecerdasannya.” Jawab gue enteng.

Lagi sibuk-sibuknya kita bertiga bercengkrama bersama, tiba-tiba ada Mai mendatangi tempat kita bertiga itu. Dia membawa sebuah buku beserta pulpen dan beberapa lembar uang 20ribuan.

“Hai..” Sapa Mai.

“Hai juga Mai.” Jawab gue dan Ikhsan yang langsung bangun dari kuburnya.

“Tumben nih Mai, ada apa?” Tanya Ikhsan buru-buru sebelum gue sempat bertanya lagi.

“Ini, kalian bertiga belum bayar uang renang.” Tukas Mai.

“Buset gue lupa, udah berapa minggu?” Tanya gue.

“3 Minggu Dim.”

“Total jadi berapa semuanya Mai?”

“30 ribu.”

“Yaudah deh, gue bayar dulu 15 ribu yak. Besok gue bayar lagi.” 

“Sore aja bayarnya lagi, Dim. Pas nanti renang.”

Ah iya gue lupa, hari ini kan ada jadwal kegiatan wajib renang. Biasanya kegiatan renang ini diadakan sebulan sekali, dan tempat kolam renang yang dipilih oleh sekolah kita adalah kolam renang CENTRUM, sebuah tempat renang di sebelah SMA 3 kota Bandung.

“Btw Dimas, kamu belum pernah hadir renang sekalipun ih.” Tambah Mai lagi.

“Aduh Mai hahahaha maaf, gue alergi air nih.” Jawab gue ngeles.

“Loh, bukannya lo tiap hari juga mandi Mbe?” Tanya Ipeh.

Yeee kalian kaga peka amat sih jadi orang, si monyet ini kaga bisa berenang tau nggak. Bhahahahahak.” Kata Ikhsan.

“Anjing bangsat! Rahasia negara lo bocorkan!” Gue langsung menghajar Ikhsan dengan buku cetak bahasa inggris yang dipake Ipeh menghajar Ikhsan tadi.

“Bhahahahahahahak Mbe, lo nggak bisa renang?” Tanya Ipeh bahagia.

“Tai lo, renang sih gue bisa. Tapi gue kalau renang kaga pernah ambil nafas dua kali. Jadi kalau gaya bebas ya gue cuma ambil nafas sekali terus maju aja.”

“IH hebat dong kalalu gitu, tahan nafasnya lama.” Sambung Ipeh lagi.

“Hebat apaan, di tengah jalan aja langsung tenggelam si Dimas mah.” Tambah Ikhsan lagi sebelum pada akhirnya gue gebuk kepalanya sekali lagi.

Iya iya, kalian boleh tertawa sepuasnya! Gue emang nggak bisa renang. Puas lo?! Hih. Tapi jangan salah, gue bisa tahan nafas lebih dari satu menit, tapi gue nggak bisa renang gaya bebas. Itu sebabnya kalau gue renang, gue selalu nggak pernah ambil nafas 2x. Lagian gue paling males kalau ada kegiatan renang. Selain karena jadwal renang laki-laki dan perempuan itu di pisah, gue juga harus satu kolam bersama banyaknya cowok dengan bermacam-macam keringatnya itu. Lagian apa enaknya sih renang? Renang itu kaya berkubang dalam cendol tau nggak. Penuh dan menjijikan.

Belum lagi kalau misal airnya keminum. Di air itu kan ada banyak hal-hal menjijikan. Ingus orang yang renang, ludah orang, keringet ketek, keringet selangkangan, belum lagi kalau ada yang panuan. Hih! Makanya gue paling males kalau diajak renang, tapi kalau diajak berendam sih ayo-ayo aja.

Setelah Aib gue diketahui oleh 2 orang cewek ini, mereka berdua malah habis-habisan menertawakan gue. Sebelum pada akhirnya keadaan menjadi tidak enak lantaran Mai malah ikutan ngobrol di antara kita bertiga. Saat itu gue belum tahu kalau ternyata Ipeh juga mengetahui bahwa Mai punya rasa sama gue. Yang gue tahu bahwa Mai punya rasa ke gue saat itu cuma Ikhsan doang.

“Kamu bakal datang nggak nanti?” Tanya Mai.

“Kagak tau Mai, lagian gue kan nggak bakal ikut renang juga. Gue cuma bayar doang.”

“Yaah gak rame dong. Ikhsan ikut?” Tanya Mai.

“Wuih gue mah jago renang sih. Nggak kaya si cemen ini.” Ledek Ikhsan sombong.

“Iya maklum, bapaknya kecebong soalnya dia Mai.”

“Hahahahah dasar. Tadinya aku mau ikut nebeng kalau kamu ikut.” Jawab Mai lagi.

“Sama gue aja.” Ajak Ikhsan.

“Eh.. ngg.. ngg..”

“Dimas lagian udah ada janji sama gue.” Tiba-tiba Ipeh memotong pembicaraan kita bertiga dengan nada ketus.

“Eh? Janji?” Tanya gue heran.

“Iya, lo udah janji sama gue kan. Lo mau ngajak gue jalan kan?” Tukas Ipeh lagi.

“Eh?” Gue masih nggak mengerti.

“Emang Ipeh nggak akan renang?” Tanya Mai.

“Kita jalan sebelum renang kok, dah itu kita langsung ke tempat renang. Ya kan Mbe?”

“…”

Gue masih diam nggak mengerti apa yang Ipeh maksudkan. 

“Oh yaudah deh kalau gitu. Sampai nanti yaa.” Ucap Mai sambil berdiri meninggalkan kita bertiga.

Setelah Mai pergi, gue langsung melihat ke arah Ipeh. Ipeh terlihat kesal. 

“Peh, tadi tuh maksudnya ap..”

“Tau!” Belum juga gue merampungkan kalimat tanya gue, Ipeh langsung pergi meninggalkan kita berdua dengan kesal.

Gue yang kebingungan tersebut langsung melihat ke arah Ikhsan. Dan Ikhsan pun cuma mengangkat bahu tanda tidak mengerti juga.

“Mau di lanjut aja?” Tanya Ikhsan.

“Boleh deh, sekarang mau ngomongin profesi apa?”

“Tukang baju?”

“Boleh deh. Mulai gih..”

“Oke gue mulai ya.. Pakai aja dulu mas, sekarang sih sempit, tapi lama kelamaan melar juga kok.”

“Mas, yang ini udah banyak yang make ya? kok loyo gini sih?”

Akhirnya kita berdua melanjutkan pembicaraan ambigu kita itu tanpa mau pikir panjang tentang apa yang terjadi barusan. Benar-benar cowok sholeh. Ikhwat banget.

.

                                                             ===

.

Sorenya sepulang sekolah, Ipeh langsung mendatangi gue. Seperti biasa, Ipeh mau nebeng minta anterin ke kolam renang Centrum.

“Mbe mau pulang?” Tanya Ipeh.

“Hooh, kenapa?”

“Anterin ke Centrum bentar dong.”

“Nebeng si monyet aja, dia juga mau ke sana.”

“Ih dia udah sama Mai.”

“Euh, yaudah deh. Naik gih.”

Akhirnya mau tidak mau gue mengantarkan Ipeh ke kolam renang Centrum, selama perjalanan seperti biasa Ipeh berisik banget, dan gue cuma menjawab seperlunya saja. Sesampainya di Centrum, gue memakirkan motor dan ikut masuk ke dalam kolam renang. Karena sudah terlanjur ada di sini, yaudah deh mending gue manfaatin. Sekarang adalah jadwalnya anak-anak putri untuk renang, dan pasti saja ada anak-anak cowok yang datang lebih awal cuma buat nongkrong-nongkrong sambil ngintipin anak-anak cewek renang. Gue yakin anak-anak cowok yang suka ngintip ini nanti pas kuliahnya dapat gelar Sarjana Agama. Syariah banget tingkah lakunya.

Tapi gue juga kaya gitu sih, gue memesan indomie rebus sambil terus memandangi pemandangan indah di depan mata gue tersebut. Ipeh yang menyadari hal ini langsung menjewer kuping gue keras. 

“Ngeliat apaan lo? Pulang sana. Mata tuh dijaga.”

“Astagfirullah kamu suudon ih, aku kan lagi nunggu Ikhsan. Sambil liat-liat orang renang..”

“Sama aja itu!” Ipeh duduk di sebelah gue lalu mengambil garpu baru dan ikut makan indomie rebus yang baru saja gue pesan.

“Eh mbe, besok jadwal kosong?” Tanya Ipeh.

“Iya, kenapa?”

“Gue besok ada tanding karate, udah masuk semi-final. Kita bakal ngelawan SMA XX, itu loh SMA yang nggak pernah akur sama SMA kita. Pasti nanti bakal seru Mbe.” Jelas Ipeh.

“Wah seriusan? Anjir kapan? Di mana?”

“Di gor Tri Lomba Juang, Padjajaran. Nonton dong, sporterin gue.”

“Anjir pasti lah, gue bakal nonton, apalagi kalau lawan SMA bangsat yang satu itu. Gue bawa anak-anak kelas ya?” Tukas gue semangat.

“Yoi, bawa aja mereka, siapa tau rusuh nanti kalian ahahahaha.”

“Bhahahahahak lo malah nyemangatin kita-kita buat rusuh. Nah asik nih kalau kaya gini. Besok ya? Oke deh. Bentar gue sms anak-anak dulu.”

“Buat apa?”

“Udah diem dulu..”

Selang 5 menit. Gue menunjukkan HP gue sama Ipeh.

“Nih liat, anak-anak pada semangat. Ikhsan bilang dia bakal datang nonton sambil bawa penggaris besi katanya. Hahahaha” Ucap gue.

“Ih gue kan bercanda, jangan sampe rusuh ah mbe, nggak baik tau nggak.”

“Hahaha iya iya, kita juga cuma bercanda kok, tenang aja. Selama kita nggak disenggol sih kita nggak akan ngapa-ngapain. Senggol bacok, melong tonjok! Itu slogan kita.”

“Hahahahaha apa deh, yaudah besok gue tunggu ya. Please dateng ya Mbe.” Ipeh melihat ke arah gue serius.

“Besok lo sendiri dateng jam berapa?”

“2 jam sebelumnya gue harus udah ada di sana.”

“Yasudah, gue bakal datang jam segitu juga.” Ucap gue sambil mengusap-ngusap kepala Ipeh.

“Hehe janji ya?”

“Iya.”

“Oke deh, gue tenang sekarang. Yaudah gue cabut duluan ya Mbe, udah mau mulai renangnya.”

“Sip.”

Akhirnya Ipeh meninggalkan gue sendirian di kantin indomie rebus Centrum ini. Besok adalah kali pertamanya gue bakal datang ke gor Padjajaran. Sebuah gor yang menjadi saksi bisu beberapa pristiwa penting di hidup gue selama masa SMA dan kuliah awal-awal. 

.

.

.

.

                                                             Bersambung

Previous Story: Here

2

Buku baru terbitan Lembar Kertas Publishing.

Sayap Rindu ( @tehochaa )
&
Delusionalis (Auzan N. Mahdi/kamarfiksi.wordpress.com)

Pre-Order sampai dengan 7 Agustus 2016.
Masing-masing seharga Rp 35.000 + Ongkir ke seluruh Indonesia.
Order Sms/WA ke 0812-5016-1834.

Ingin punya buku? Kirim naskahmu ke lembarkertaspublishing @ gmail . Com

anonymous asked:

Doesn't Sailor Moon have four ships in one? UsaMamo, EndyxSerenity, TuxedoMaskxSailorMoon, and NeoQueenxKing?

True but it could be more if SM explored Usagi/TM and Mamoru/SM just like Ladybug is doing with M/CN and A/LB.

So Sailor Moon could have had six ships with the same two people. 

Endy/Sere

Usa/Mamo

Usagi/TM

Mamoru/SM

Mask/Moon

NQS/KE