sm ke

2

Buku baru terbitan Lembar Kertas Publishing.

Sayap Rindu ( @tehochaa )
&
Delusionalis (Auzan N. Mahdi/kamarfiksi.wordpress.com)

Pre-Order sampai dengan 7 Agustus 2016.
Masing-masing seharga Rp 35.000 + Ongkir ke seluruh Indonesia.
Order Sms/WA ke 0812-5016-1834.

Ingin punya buku? Kirim naskahmu ke lembarkertaspublishing @ gmail . Com

Siapa hayo yang belum daftar?

Ga kepengen ketemu penulis buku Hujan Matahari dan Lautan Langit aka @kurniawangunadi nih? 

Ga kepengen ketemu Selebtumblr yang kece badai aka @kotak-nasi?

Atau ga ada yang kepengen selfie bareng Minko & Minka yang bikin penasaran~?

uwuwuw~

Sok atuh isi formatnya: nama # akuntumblr # kota # no.hp

Bisa dikirim melalui SMS/WA ke nomor 087882308772

atau melalui  LINE dwifputri

Pendaftaran akan ditutup pada tanggal 20 Oktober 2015. Jadi, jangan salahkan Minko kalau kamu tidak bisa ikut GATH KITA :p

The Way I Lose Her: Matematika Buku Cetak Return

Tak pernah terpikirkan olehku untuk meninggalkan kau seperti ini. Sebenarnya aku juga tak ingin ada di sini. Di tempat yang jauh darimu. Seramai apapun di sini, di kepalaku entah kenapa selalu sepi.

                                                               ===

.

Tasya mulai terlihat serius menekan tombol naik turun membaca sms-sms yang masuk ke hape gue. Sedangkan gue dan Ikhsan memilih untuk melanjutkan ngobrolin tentang cara Ikhsan nembak Tasya beberapa jam yang lalu. Beberapa kali terdengar ada suara SMS masuk dari hape gue yang sedang di pegang Tasya tapi dia tetap tidak memberikan hape itu ke gue.

“Aku kayaknya tahu deh ini siapa.” Tiba-tiba Tasya melihat serius ke arah gue.

Suasana menadadak hening. Gue dan Ikhsan saling berpandangan sebentar, lalu dengan cepat melihat ke arah Tasya.

“SIAPA?!” Tanya kita berdua kompak.

Tasya terkejut, “Ngg.. Aku belum tentu yakin kalau dia orangnya.. Tapi aku ngerasanya sih begitu dari sms yang dia tulis.” Sambung Tasya lagi.

Ikhsan terdiam, dia menatap pacar barunya dalam-dalam lalu melihat ke arah gue.

“Siapa, Tas. Please beritahu gue dia itu siapa? Gue bukan mau marah atau apa, gue cuma mau berterima kasih aja atas semua yang sudah dia lakukan dari pertama dia nge-sms gue dulu.”

Tasya tampak berpikir lagi, berulang kali dia melihat ke arah SMS yang sama, dan mencoba mebandingkan dengan isi SMS di hapenya sendiri.

“Menurut aku..” Tasya mulai angkat bicara.

“Siapa?” Gue semakin penasaran.

“Temen sebangku aku.” Jawab Tasya singkat.

DEG!
Gue menelan ludah, keadaan mendadak hening. Ikhsan terdiam, begitu juga gue yang masih tak percaya dengan perkataan Tasya.

“Ah nggak mungkin dia, beib..” Tiba-tiba Ikhsan membantah.

“Ih Ican, iya kayaknya emang dia banget. Lihat deh bahasa sms-nya. Sama kan?” Ucap Tasya yang memanggil Ikhsan dengan panggilan sayangnya. Mendengar itu, gue ingin ketawa tapi gue tahan karena situasi lagi tidak kondusif.

“Kok gue mikirnya bukan dia sih. Dim, lo yakin dia orangnya?” Tanya Ikhsan.

“Ngg.. gue juga masih belum tentu yakin sih, tapi..”

“Tapi kalau dilihat dari bahasa, dan dari apa yang dia ucapkan, kayaknya emang dia, Dim. Setahu aku, dia juga orangnya emang suka sama kamu kan? Ican juga pernah cerita.” Sanggah Tasya.

Gue terdiam, mencoba memikirkan lagi semua yang telah terjadi antara gue dan si Matematika Buku Cetak ini dulu. Gue ingat dulu dia pernah bilang kalau dia suka sama gue, lalu sewaktu kejadian main truth or dare di balkon rumah, dia pernah ngasih gue nasihat perihal Dila, dan anehnya semua nasihatnya itu pas banget sama apa yang tengah gue alamin. Itu berarti, bisa jadi si Matematika Buku Cetak ada di kelompok drama Sosiologi gue juga dulu. Gila! Dari semua clue yang gue dapat, gue rasa tebakan Tasya ada benarnya juga.

Dengan sigap gue langsung merebut kembali hape gue yang tengah dipegang oleh Tasya lalu bergegas berdiri dan membayar baso tahu yang sudah terlanjur dingin itu.

“Mau kemana lo, Nyet?” Tanya Ikhsan penasaran.

“Gue mau nyari dia dulu. Tas, thanks ya bantuannya.” Jawab gue.

“Tapi kalau bukan dia gimana? Tasya kan cuma nebak-nebak doang. Dan firasat gue juga bilang itu bukan dia, Dim.” Ikhsan menatap gue serius.

“Setidaknya, gue harus mencari tahu dulu, Ican..” Kata gue yang kemudian bergegas berlari meninggalkan mereka berdua.

“BANGSAT!! CUMA TASYA YANG BOLEH MANGGIL GUE PAKAI NAMA ITU!!” Teriak Ikhsan sambil diselingi tawa Tasya.

.

                                                            ===

.

Jadi, selama ini elo yang selalu ada buat gue? Kalau ternyata itu benar elo, gue janji enggak akan melepaskan lo. Lo yang menyelamatkan gue ketika gue ada tugas matematika. Lo yang mendengarkan curhatan gue waktu gue sedang hancur sehancur-hancurnya karena kak Hana. Lo juga yang selalu ada ketika gue bingung atas rasa gue sama orang-orang yang gue sayang. Lo yang selalu ada buat gue. Cuma elo.

Sialan, kalau dari dulu gue tahu bahwa Matematika Buku Cetak adalah elo, gue nggak akan memandang sebelah mata sama lo. Gue buru-buru masuk ke dalam Museum lagi dan mencari sosok yang ternyata begitu familiar di mata gue. Namun keadaan saat itu sudah tak seramai waktu pagi tadi, hanya ada beberapa anak SMA yang berlalu-lalang. Gue bingung harus mulai mencari darimana, hingga pada akhirnya gue melihat ada sosok salah satu anak kelas melintas di depan gue; Dila. Tanpa pikir panjang gue langsung memanggilnya.

“Dila!” Gue bergegas menghampirinya.

“Eh kamu. Kenapa, Dim? Kok kayak rusuh gitu?” Tanya Dila kaget-kaget cantik.

“Lo lihat… Lo lihat… Mai?” Napas gue nggak beraturan.

“Mai?”

“Iya, lo lihat Mai nggak? Dia ada di mana sekarang?”

“Ngg tadi aku sempat lihat sih, dia ada di lantai 2 kalau nggak salah.” Balas Dila lagi.

“Oke sip, thanks, Dil.”

“Ada apa sih Dim kayaknya penting banget?” Tanya Dila.

“Hahaha nggak ada apa-apa. Thanks ya, gue ke atas dulu.” Ucap gue singkat lalu kemudian kembali berlari menuju anak tangga.

Sebelum sampai ke lantai dua, gue diam sebentar, gue keluarkan hape gue lalu dengan cepat mengetikkan SMS kepada orang yang bernama Matematika Buku Cetak Hal.17 di contact Hape gue itu.

“Akhirnya gue tahu siapa elo sekarang!” Dengan cepat gue tekan tombol send.

Selang 2 menit, ada satu sms masuk.

“Siapa emang?” Tanya sang Matematika Buku Cetak.

“Mai!” Jawab gue singkat.

Sejenak setelah gue kirim, tak ada lagi balasan yang masuk ke hape gue. Gue tersenyum, gue rasa tebakan gue benar, buktinya dia tidak membalas pesan gue lagi. Itu berarti dia lagi rusuh sekarang. Oke, gue kejar lo, Mai!

Gue buru-buru pergi ke lantai dua dan memeriksa seluruh ruangan. Gue berlari ke arah bagian pertambangan, tapi tidak ada sosok Mai di sana. Kemudian gue berbalik dan berlari ke arah yang sebaliknya ke bagian perminyakan. Ruang perminyakan di lantai dua Museum Geologi Bandung ini cukup besar, mirip seperti ruangan auditorium. Gue melihat masih banyak anak-anak SMA angkatan gue lagi berkumpul di sana sembari tertawa dan bergosip.

Gue periksa satu-satu kerumunan di sana, hingga pada akhirnya gue menemukan sosok Mai di salah satu sudut keramaian.

“MAI!!” Gue teriak dari jauh, sontak Mai menengok.

“Dimas!” Tiba-tiba Mai membalas berteriak, dia berlari ke arah gue dengan wajah yang begitu cemas.

Loh ada apa nih? Gue sempat terdiam sebentar karena heran, namun gue tampis semua pemikiran itu dan langsung berlari ke arah Mai sehingga pada akhirnya kini kita berdiri saling berhadap-hadapan.

“Mai, jadi selama ini…”

“Diem dulu! Ada yang lebih penting!” Tiba-tiba Mai memotong.

Gue terkejut, “Selama ini ternyata yang sering ngesms gue adal..” Belum sempat gue merampungkan kalimat gue, Mai memotong lagi.

“Ipeh!” Ucapnya ketakutan.

“Hah? Ipeh? Ngomong apaan sih lo?” Tanya gue.

“Ipeh, Dim. Ipeh!”

“Hei, ngomong yang jelas. Ada apa?” Gue genggam pundak Mai agar lebih tenang.

“Ipeh lagi berantem di sana, cepet ke sana! Tolongin dia!” Kata Mai sambil terbata-bata.

“Hah?! Berantem? Maksud lo apaan?”  Gue makin tidak mengerti.

“Udah urus Ipeh dulu!”

“Tap.. tapi Mai.. ada yang mau gue omongin sama lo.”

“Gampang itu mah, itu bisa diurus nanti, sekarang lo cepat ke sana, Ipeh lagi berantem di sana.”

“Tap.. tapi, Mai..”

Belum sempat gue menjelaskan seluruh maksud gue kepada Mai, mata gue mendadak tertuju ke arah seseorang anak perempuan yang keluar dari kerumunan dengan tergesa-gesa. Loh, itu kan Ipeh?!

Tanpa pikir panjang, gue langsung melepaskan genggaman gue yang sedari tadi masih menggenggam pundak Mai ini dan berjalan menuju Ipeh. Aneh, walaupun pikiran gue sudah 100% yakin bahwa Mai adalah seseorang yang akan gue jadikan titik lelah gue atas semua perjalanan sakit hati selama ini, melihat Ipeh yang sedang dalam keadaan butuh pertolongan, entah kenapa gue tetap mengutamakan Ipeh.

Ada yang aneh ketika melihat Ipeh. Mendadak seluruh logika gue mengharuskan gue untuk mengutamakannya lebih dari siapapun. Seakan hati kecil gue berkata, bahwa tidak ada yang lebih penting daripada kehadiran gue untuk Ipeh.

Ada keheningan yang begitu besar di atas semua keramaian atas pemikiran-pemikiran perihal Mai ketika mengetahui bahwa Ipeh sedang membutuhkan gue. Saat itu, tetiba gue melihat Ipeh yang begitu rapuh. Setelah keluar dari kerumunan, Ipeh berjalan cepat namun wajahnya tetap terbenam dan tak melihat ke arah sekitar. Pundaknya bergetar tanda tangisan yang ia turunkan sudah begitu besar.

Ipeh menangis?! Lo kenapa, Peh? Ada apa? Hati gue benar-benar mendadak Blank tidak karuan ketika melihat Ipeh sedang menangis. Mai yang sedaritadi memanggil nama gue pun mendadak tak gue hiraukan. Gue berjalan pelan menuju ke arah Ipeh yang sedang berjalan gontai.

Dia membenamkan kepalanya seakan ada beban kepedihan begitu besar menari-nari di kepalanya. Sungguh, tak pernah sedikitpun terpikirkan di hati gue untuk bisa meninggalkan Ipeh dalam keadaan seperti ini. Gue nggak bisa membayangkan jika suatu saat gue harus pergi, lantas siapa nanti yang akan menjaga Ipeh?

Jika boleh jujur, sebenarnya gue tidak ingin ada di sini, di keadaan seperti ini, berdiri pada pilihan ini. Mencoba mencari jalan keluar dengan cara mencintai orang lain agar gue bisa berhenti memikirkan Ipeh, adalah cara terakhir yang sebenarnya tak pernah ingin gue tempuh. Jangankan pergi, berpikir untuk berhenti mencintainya saja gue tidak pernah.

Peh, seandainya lo tahu apa yang gue rasa sekarang mungkin lo bakal mengerti kenapa gue seperti ini. Gue nggak mau Peh ada di sini. Di tempat yang jauh dan sendiri yang benar-benar memisahkan kita ribuan jarak. Apakah kita akan terus seperti ini? Apakah berdosa jika gue berharap kelak semua akan berbeda? Walaupun gue tahu tidak mungkin rasanya untuk menumbuhkan rasa yang dulu pernah kita sama-sama rasa.

Tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benakku untuk meninggalkan kau seperti ini, namun mengertilah bahwa ini adalah yang harus kita tempuh. Mungkin ini adalah cara paling manis yang Tuhan berikan sebagai hukuman karena kita pernah tidak sama-sama jujur pada rasa yang kita rasa.

“Peh.” Kata gue pelan, namun tampaknya Ipeh tidak mendengar.

“Peh!” Gue berkata lebih keras dan Ipeh masih berjalan gontai di depan gue.

“Peh ada apa?! Ini gue, Dimas! Lo kenapa?” Tanya gue lagi.

Namun saat itu entah Ipeh sedang kerasukan apa, Ipeh tampaknya benar-benar tidak menghiraukan kehadiran gue yang ada di depannya, ia berjalan gontai hingga menabrak tubuh gue. Sontak karena tertabrak, gue sedikit mundur ke arah samping, dan Ipeh yang menabrak juga hanya tetap tertunduk dan terus berjalan.

Tanpa pikir panjang, gue langsung menggenggam tangan Ipeh.

“IPEH! LO KENAPA?!” Gue menarik tangan Ipeh keras hingga kini ia terpelanting dan melihat ke arah gue.

Mukanya sendu, matanya merah, banyak bekas air mata di sekitar pipi dan mulutnya. Ia menatap gue dengan tatapan kosong. Gue seakan tidak melihat ada nyawa di dalam tatapannya. Namun selang beberapa detik, mendadak tatapannya berubah. Tatapannya menjadi bernyawa, dan kini bahkan ia menatap ke arah gue dengan tatapan penuh amarah. Ipeh terlihat kesal dan mulai menitiskan air mata lagi.

PLAK!!
Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi kiri gue sehingga membungkam seluruh obrolan orang-orang yang ada di sekitar kita.

“Brengsek lo!” Kata Ipeh kasar yang lalu menghempaskan genggaman tangan gue dan berlari kencang turun ke lantai satu.

Gue terdiam tak bersuara.
Degup jantung gue yang begitu cepat seakan begitu nyaring di ruangan sesunyi ini. Semua mata kini sedang memandang ke arah gue. Begitu juga dengan Mai. Pikiran gue kacau. Gue bingung ada apa ini, Ipeh kenapa, gue salah apa, dan urusan gue dengan Mai yang belum kelarpun berhasil membuat gue diam tanpa berkata-kata.

“KEJAR DIA, DIMAS!!” Mendadak suara Mai membangunkan gue dari lamunan.

“Eh.. I-iya.” Tanpa pikir panjang, gue langsung mengejar Ipeh yang sudah lebih dulu berlari ke luar Musuem itu.

.

                                                                 ===

.

Gue berlari dengan pemikiran yang benar-benar tidak karuan. Otak anak SMA kelas satu gue benar-benar tidak bisa lagi berpikir jernih. Di saat gue ingin memikirkan Mai, keadaan seakan menempatkan gue untuk ada di pihak Ipeh. Bagaimana gue bisa memikirkan Mai kalau ternyata Ipeh yang selama ini gue cari? Dialah sejatinya orang yang menyembuhkan gue dari segala sakit hati gue selama ini.

Apakah gue tidak boleh berhenti berlari? Apakah gue tidak diizinkan untuk bahagia bersama satu orang seperti orang-orang yang lainnya? Hana, Wulan, Ipeh, semuanya sudah menemukan kebahagiannya dengan cara meninggalkan gue. Dan ketika gue ingin meninggalkan mereka, selalu saja gue dihadapkan pada keadaan yang membuat gue harus terus berlari seperti ini. Apakah gue tetap harus menunggu? Menjadi sosok yang selalu ada ada untuk orang-orang yang mendatangi gue di saat mereka butuh saja?

Apakah gue tercipta memang untuk seperti itu? Penyembuh luka bagi orang-orang yang gue sayang karena dilukakan oleh orang-orang yang mereka sayang? Lantas kelak siapa yang menyembuhkan luka gue?! Tidakkah mereka mengerti? Bahwa untuk menyembuhkan luka mereka, gue harus melukai hati gue sendiri seperti ini?!

Akhirnya gue kini ada di lantai satu, tanpa pikir panjang gue berlari ke arah pintu utama Museum dan mulai mencari keberadaan Ipeh. Napas gue terengah-engah, pikiran gue kacau, mata gue buram, tapi semua gue hiraukan asalkan gue bisa menemukan Ipeh sekarang ada di mana. Gue takut Ipeh nekat loncat pager, terus sepatunya nyangkut, dia jatuh, ngegelinding ke jalan terus ditabrak Gerobak Dangdut dorong. Astaga jangan sampai!

Gue celingak-celinguk di teras Museum mirip kaya boneka Dashboard mobil mencoba mencari Ipeh. Setelah cukup lama mencari, gue menemukan sosoknya sedang duduk di atas kursi batu yang gue duduki tadi bersama Ikhsan. Di sana ada Ikhsan dan juga Tasya yang terlihat mengkhawatirkan keadaan Ipeh. Ipeh tertunduk seperti sedang menangis, Tasya ada di sampingnya memeluk dengan erat. Sedangkan Ikhsan berdiri di depannya seperti sedang memarahi Ipeh entah karena hal apa. Melihat hal itu, pikiran gue agak sedikit tenang, setidaknya sekarang Ipeh sudah ditangani oleh pihak yang benar. Tasya dan Monyet Pongo-nya.

Tak mau membuang banyak waktu, gue langsung berlari menyusul ke tempat mereka bertiga. Secara pelan-pelan gue mendekati Ikhsan lalu berdiri di sampingnya menghadap ke arah Ipeh. Ikhsan yang dari tadi sedang terlihat memarahi Ipeh langsung terdiam setelah menyadari ada gue di sampingnya. Ikhsan menatap gue dengan tatapan kesal.

“Tolol lo!” Kata Ikhsan kesal tanpa suara ke arah gue.

“Anjing gue salah apa lagi, Nyet?! Gue ditampar tadi sama nih kunyuk!” Balas gue kesal dengan tanpa suara juga.

“911!” Ucap Ikhsan pelan.

“Hah?”

“911 Anjing!”

“Hah? 911?”

“…”

AH IYA!! Gue inget! 911 kan kode yang gue dan Ikhsan buat sebagai tanda persyaratan ketika keadaan sedang tidak memungkinkan untuk berkomunikasi. Karena sekarang Ikhsan duluan yang mengucapkan kode 911, berarti gue harus menuruti semua perkataan Ikhsan. Masalah ada apa hari ini itu bakal dijelaskan nanti, yang jelas untuk saat ini gue hanya boleh menuruti semua perintah Ikhsan tanpa boleh bertanya. No Question Asked.

Gue mengangguk-angguk tanda mengerti perintah Ikhsan.

Ikhsan menghela napas panjang lalu kembali melihat ke arah Ipeh.

“Peh, Dimas ada di sini. Lo nggak usah khawatir, semuanya gue yang urus nanti. Masalah ini gue yang bakal selesaikan nanti. Yang jelas sekarang lo tenangin diri dulu. Lo lebih baik pulang deh ke kelas. Gue kasihan sama lo kalau lo dalam keadaan seperti ini. Dimas juga udah setuju untuk nganterin lo pulang. Iya kan, Dim?” Tanya Ikhsan sambil menyenggol tangan gue.

“I.. iya.” Jawab gue tanpa mengerti apa yang Ikhsan maksudkan.

“Walaupun gue tahu dalam keadaan ini lo lagi nggak mau deket sama si Dimas, tapi dalam keadaan ini juga gue tahu bahwa yang lo butuh sekarang itu cuma si kriting sialan ini.” Tambah Ikhsan lagi.

Anjir! Gue benar-benar nggak mengerti ada apa ini, dan yang lebih tainya lagi, gue nggak boleh bertanya tentang maksud ucapan si Ikhsan tadi. Gue cuma boleh manggut-manggut doang kaya cakue kesiram saos tiram.

“Nurut sama gue ya, Peh. Dim, nih bawa lelaki setengah jadi ini pulang.” Kata Ikhsan.

“I-iya.. Ayok, Peh.” Ucap gue sembari menggandeng tangan Ipeh yang lunglai. Sedangkan Ipeh sendiri masih tertunduk tersedu-sedu.

“Peh, sebelum kita pergi, gue mau minta maaf atas semua yang terjadi hari ini. Saat ini gue mungkin balik lagi jadi cowok bego yang nggak tahu kalau gue ini salahnya apa. Namun apapun itu, gue mau minta maaf sama lo, Peh. Nah, ayo sekarang kita pulang.”

Gue mendekap Ipeh sebentar sehingga kepalanya terbenam di dada gue. Sedangkan Tasya dan Ikhsan yang melihat ke arah kita berdua cuma bisa tersenyum tenang sambil ikut rangkulan juga. Tai nih orang duaan, mesra amat di depan gue. Keong sawah emang paling cocok deh sama Tutut.

Pelan-pelan gue merangkul Ipeh untuk pergi menjauh dari tempat kita pertama duduk tadi dan pergi ke gerbang Museum. Sepanjang perjalanan, Ipeh masih terus tertunduk lesu. Napasnya masih tidak beraturan. Masih ada tangisan terlihat menetes membasahi pipinya.

“Lepasin gue!” Tiba-tiba gue dikejutkan dengan teriakan Ipeh yang mencoba berontak.

“Lepasin gue sekarang, nggak usah deket-deket gue!” Ipeh makin bringas.

“Lo kenapa sih?!” Gue semakin erat mendekapnya.

“Gue nggak mau pulang sama lo!” Ipeh meronta.

“Peh, lo itu kenapa? Kok jadi marah-marah gini?”

Ipeh masih saja terus berontak mencoba untuk lepas dari tangan gue yang masih merangkulnya. Dia kembali menangis. Gue mencoba menarik tangannya, tapi dia malah meronta dan semakin menjadi-jadi, Ipeh benar-benar marah, ada satu pukulan telak menghantam muka gue tapi masih bisa gue tahan walau gigi graham gue goyang. Asem, gue kena pukul Genderuwo.

“LO BISA DIEM DIKIT NGGAK SIH!!” Tiba-tiba kesabaran gue habis. Gue membentak Ipeh yang daritadi meronta-ronta itu.

Gerakan rusuh Ipeh mendadak terhenti ketika gue membentak ke arahnya.

“Lo bisa diem nggak sih?! Lo itu kenapa? Gue lagi yang salah hah?! Kenapa? Ngomong sama gue jangan cuma bisa nangis aja kayak cewek!”

“Gue emang cewek, Dimas!!” Teriak Ipeh tidak terima.

“Ya maka dari itu, bisa diem nggak! Please, Peh, untuk sekali ini saja. Please, kamu percaya kalau Dimas yang mimpin jalan ke depan. Dimas yang pegang kendali semuanya. Dimas yang selesaikan semua masalah kamu. Kamu Cuma cukup diam saja di belakang, kamu boleh terlihat tegar di luar sana, tapi ketika bersama Dimas, kamu boleh manja-manja kaya kamu manja ke Mbak Afi dan kak Ai. Walaupun sekarang kita seperti ini, kamu tetap nggak sendirian, Peh. Kamu mau minta pertolongan Dimas kapanpun, Dimas selalu ada waktu buat kamu. Kamu ada masalah apapun dan ingin cerita, Dimas selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan. 

Berhenti berpikir kalau kamu itu sendirian, hanya karena kamu merasa kamu bisa, tidak berarti kamu harus menyelesaikan semua ini sendirian kan, Peh? Dimas juga bisa bantu, asalkan Ipeh mau mengizinkan Dimas untuk melakukan itu. Enggak semua yang kamu pikirkan itu benar, bisa jadi semua cuma ada di kepala kamu saja. Berhenti berlagak kamu dewasa di depan Dimas. Dimas tahu kamu lebih dari siapapun. Ya oke orang-orang bisa berpikir kamu tomboy, kamu anak karate, kamu bisa menyelesaikan semua masalah kamu sendirian. Tapi apa mereka tahu? Anak tomboy yang mereka lihat itu bahkan sebenarnya takut banget sama yang namanya gelap? Tali kenur menjuntai di pohon aja dikira ada hantu yang lagi narik-narik lehernya. Mau milih cemilan di antara 2 barang aja milihnya sampe ngabisin waktu lebih dari 15 menit.” Gue mulai mengusap kepalanya.

“Jadi mulai sekarang, tolong berhenti berontak, biarin Dimas yang ada di depan. Dimas janji semuanya bakal selesai, asalkan kamu mau izinin Dimas untuk bisa seperti itu. Sekarang kita pulang ya. Dimas nggak bisa nganter kamu karena motor Dimas masih ada di sekolah, sekarang Dimas cariin kamu Taksi, kamu pulang naik Taksi.” Jelas gue.

“Tap… tapi… tas aku..”

“Kan sudah Dimas bilangin, Dimas yang urus semuanya. Tas kamu nanti Dimas anterin ke rumah sehabis selesai acara ini. Sekarang kamu cukup naik Taksi aja pulang, kecuali biaya argonya, kamu yang bayar, Dimas nggak ada duit. Di dompet cuma sisa 20 ribu selembar doang, itu juga peci di gambar Pahlawan Oto Iskandar Dinata-nya miring sebelah. Oke, sekarang diem dulu, Dimas mau manggil Taksi.” Ucap gue memaksa.

Gue masih menggenggam tangan Ipeh. Tangan kecilnya mendekap erat tangan gue. Jari-jemarinya memakan habis seluruh jari-jemari gue. Seakan tangannya kini tengah mengisi kekosongan yang sering tangan gue rasakan.

“Nah tuh Taksinya udah mau dateng, dia muter dulu biar bisa sampai sini. Udah, berhenti nangisnya. Sampai di rumah, ganti baju, cuci muka, terus tidur, nggak boleh main PS atau makan!” Kata gue galak.

Ipeh hanya tersedu-sedu mendengar semua perkatan gue. Gue mendengus kesal ketika melihat Ipeh seperti itu lalu memalingkan wajah gue ke arah jalan mencoba mencari Taksi yang baru saja gue panggil tadi. Namun tiba-tiba, secara tidak terduga Ipeh memluk gue dari samping. Gue terkejut.

“Mbee…” Ipeh terisak-isak.

“Mbee makasih ya Mbe, maafin gue..” Ipeh mulai menangis lagi keras sambil memeluk gue. “Tolongin gue, Mbe..” Ucap Ipeh sambil mendongak melihat ke arah gue dengan air mata yang bercucuran.

Gue melihat ke arahnya, lalu tiba-tiba seluruh kebencian gue luruh, segala letih dan beban pikiran gue hilang begitu saja di depan air matanya. Gue jatuh. Gue jatuh lagi, berkali-kali. Mungkin saat ini perasaan gue bisa diwakilkan dengan lyric dari band Secondhand Serenade, ‘Tonight will be the night, that i will fall for you. Over again. Don’t make me change my mind. I wont live to see another day, i swear it’s true. Because the girl like you is imposible to find. Imposible to find.’

Gue menatapnya pelan, gue hapus secara perlahan air mata di kedua pipinya dengan lembut. Lalu gue usap lagi kepalanya.

“Iya. Serahin semua sama gue.” Ucap gue sambil tersenyum menatap ke arahnya.

.

                                                            ===

.

Setelah yakin Ipeh pulang dan naik taksi dengan selamat, gue langsung bergegas pergi menghampiri Ikhsan yang masih saja indehoian di bawah pohon sama Tasya mirip kaya Film India. Gue mendatangi mereka cepat dan merebut Teh Botol yang tengah Ikhsan sedot. Dengan tergesa-gesa, gue sedot habis itu Teh Botol lalu duduk menghadap ke arah mereka berdua.

“Jelasin sama gue. Sekarang! Semuanya!” Kata gue kesal.

Ikhsan dan Tasya saling bertatap-tatapan. Lalu Tasya mengangguk seperti memberi izin Ikhsan untuk berbicara. Ikhsan menatap gue. Dia menghela napas sebentar.

“Lo begonya kebangetan ya, Nyet.” Kata Ikhsan tiba-tiba.

Gue terkejut. “Hah? Maksud lo apaan? Kok tiba-tiba nyalahin gue?” Gue merasa tidak terima.

“Lo kagak tahu salah lo apa?! Aduh elo tuh dari dulu kaga pernah bisa berubah apa ya? Kayaknya tuh semua yang lo lakuin itu salah tau nggak?” Jelas Ikhsan lagi.

“…” Gue terdiam tak mengerti.

“Ipeh kaya gitu juga gara-gara lo, kampret!” Bentak Ikhsan.

Gue kaget. Mata gue terbelalak mendengar ucapan Ikhsan barusan.

“HAH?! SALAH GUE LAGI?! GUE SALAH APA LAGI SETAN?! KENAPA SIH GUE TERUS YANG DISALAHIN?! KAYAKNYA TUH KALAU GUE NAPAS JUGA GUE DOSA NJING!!”

.

.

.

                                                     Bersambung

Previous Story: Here