sholawat nabi

Memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, mencintai Nabi Muhammad SAW, akan membuat dirimu dicintai orang atasan, bawahan, keluarga, teman, bahkan dicintai orang yang belum anda kenal.
—  Sulthonul Qulub Habib Munzir Al-Musawwa

Andai engkau tahu ketika nanti di padang mashar kita akan dibangkitkan sendiri sendiri bersama amal kita. Tiap orang akan sibuk ama diri sendiri g bakalan sempat mikirin org lain apakah itu suaminya istrinya anaknya pacarnya cem2annya dsb.
Maka engkau akan menyesali begitu lebay nya perbuatanmu mendholimi diri sendiri dengan tidak makan tidak tidur dan tidak beribadah dan terjebak dalam lubang kesedihan yg mendalam.

Menangis itu obat untuk hati. Tapi kalau menangisi orang lain yang gak akan menolong kita di padang mashar. Itu sebuah bentuk kerugian yg nyata.
Andaikan tangismu merupakan bentuk kerinduan dan sholawat kepada Nabi Muhammad Sallallohualaihiwassalam sebagai satu2nya manusia yg bisa memberi syafaat kepadamu kelak maka engkau menjadi orang yang beruntung.

#selftalk #goodnite

Ya Nabi salam alaika. Sholawatullah salam alaika.

Untuk para bunda2 tersayang…
Salam dari Prof. Muhaya untuk semua orangtua….

Mari kita amalkan 10 tips mendo'akan agar memiliki anak-anak yang sholeh….terutama tips no 6…

1. Kalau tiba-tiba teringat pada anak, kirimkan bacaan Al Fatihah. Sampai ke ayat “Iyyakanakbudu waiyyakanastain” (“Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepadaMU kami memohon pertolongan.”), mintalah apa-apa hajat saat itu yang ada hubungannya dengan anak yang kita ingat saat itu, habiskan bacaan surah Al Fatihah doakan semoga anak kita diberi kepahaman yang sebenarnya dalam urusan agamanya, memiliki ilmu yang bermanfaat dan serahkan urusan anak kepada Allah untuk menjaganya.

2. Pandang wajahnya saat dia tidur, ucapkan….“Ibu mau (nama anak) jadi anak yang sholeh, sayang…”
Coba amalkan (seperti kata Ustadz, kata-kata ini bermakna kita bercakap dengan rohnya)
dan ucapan ini adalah DOA, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

3. Bangun shalat malam, shalat lah disisinya. Maksudnya kita shalat dalam kamar dia dan dekat dengan ananda. Jika Kita sering melakukannya dan kita juga selalu beritahu dia bahwa kita sering doakan dia, dia akan merasakan satu ikatan kasih sayang yang hakiki yang kita sangat sayang pada dia dan mau dia jadi anak yang sholeh. Dia akan tahu kita selalu shalat hajat untuknya.

4. Minta dikasihani. Ucapkan setiap saat bahwa kita ini sedang menunggu panggilan Allah. Jika dia tidak jadi anak sholeh bermakna dia tidak sayang kita dan tentunya kita akan merana di Alam Barzah nanti.

5. Peluklah anak selalu walaupun dia sudah besar, sebagaimana kita sayang dia saat kecilnya. Aura ciuman dan belaian Ibu sambil bisikkan padanya bahwa kita bangga mempunyai anak sepertinya.

6. Maafkan anak kita setiap waktu walaupun perbuatannya amat melukai hati kita. Muhasabbah diri, mungkin kesalahan yang anak kita lakukan itu adalah karena dosa-dosa kita dimasa lalu.

7. Yang paling penting jaga tutur kata kita, jangan sekali-kali ucapkan perkataan yang bisa melukai hatinya. Jika ini terjadi juga karena kita khilaf, cepat-cepat cari waktu yang sesuai untuk kita minta maaf padanya. Mengakulah padanya itu kelemahan kita, kita marah karena dia berbuat salah, bukan bermaksud membenci.

8. Amalkan membaca ayat 40 Surah Ibrahim supaya kita, anak kita dan keturunan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang tetap mendirikan sholat.
(Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat,
Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku)

9. Selalu ingatkan anak bahwa tak guna ada pangkat, belajar tinggi, harta, hafal Quran sekalipun…jika tidak mempunyai akhlak yang mulia. Allah tidak melihat wajah yang cantik tapi melihat hati yang cantik.

10. Saat mencuci beras niatkan… “Ya Allah…lembutkanlah hati anak-anakku, sebut nama anak kita…..untuk paham agamanya….. (kenapa kita mau dia paham agama, karena anak yang tak paham agama akan bawa orangtuanya juga ke neraka)…. seperti engkau lembutkan beras ini menjadi nasi ”.
Cuci beras lawan arah jam (putar kekiri seperti orang thawaf ) sambil sholawat kepada Nabi Muhamad saw.
Hati jangan lalai saat melakukannya, dan ingat kepada Allah selalu.

via : Prof. Dr. Muhaya

- Tausiah ini tidak hanya untuk diri saya saja, maka saya share untuk manfaat kita bersama.
Insyaa Allah…😇…

*Copas dari grup WA*

Kekuatan Sholawat

Tau nggak, amalan yang Allah nyuruh tapi Allah ikut ngelakuin juga? Itulah sholawat. Allah nyuruh sholat hamba tapi Dia ndak ikut sholat. Allah nyuruh puasa hamba, tapi Allah ndak ikut puasa. Yang keren, Allah nyuruh sholawat hamba, tapi Dia juga turut bersholawat. Bahkan malaikat-malaikat ikut bersholawat. Di Suroh Al-Ahzab 56 kalo ndak salah.

Dawuh Habib Umar bin Hafidz, yang termasuk ulama’ yang saya idolakan, yang terkenal seantero dunia, yang toriqoh sholawatnya kece badai, cuma satu penyelamat umat akhir zaman ini. Bersholawat atas Kanjeng Nabi. Kalau dawuh Habib Mundzir Almusawa (muridnya Habib Umar bin Hafidz), memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad, mencintai Nabi SAW, akan membuat kita banyak dicintai orang, atasan, bawahan, keluarga, teman, bahkan orang yang belum kita kenal. Saya rasa, dua pernyataan ini sudah cukup membuat saya harus bersholawat banyak-banyak. Dakwahnya adem soalnya sih. Selalu bikin saya brrrr.

Saya ndak mbahas bid’ah atau enggaknya. Ekspresi ungkapan cinta ke Rosul kan pasti beda-beda. Soal keyakinan sih. Kalo kita yakin sholawat benar-benar ajaib, ajaiblah ia. Kalo kita ndak yakin sholawat ndak ajaib, ya menjadi tidak ajaiblah ia. Saya cuma pengen nyeritain bagaimana keajaiban kekuatan sholawat yang saya alami.

Kalo Wirda Mansur asik dengan ceritanya yang dapet macbook air gara-gara banyak-banyak sholawat. Kemudian Kak Ammar yang sholawat rutinnya sebelum subuh mendapatkan jodoh tanpa diminta. Kali ini biarkan saya menceritakan keajaiban sholawat yang saya alami sendiri. Hehe.

Jadi, seumur-umur saya belum pernah mengikuti “Lomba Debat”. Dan kali ini tiba-tiba dipercaya teman-teman sehimpunan untuk mewakili perlombaan tersebut. Ini kasus besar buat seorang Naily, fyi. Naily yang public speakingnya agak nggak yoi. Suka demam panggung. Terus nggak pedean kalo didepan umum. Miris kan?

Saya cengok. Yaiyalah cengok. Saya enggak pinter debat. Sama sekali. Saya tegaskan lagi, saya sama sekali nggak pinter debat. Kebayang kan gimana tidak pinternya saya kalo saya ngomong berkali-kali gitu? Wkwk. Mbak koodinator ngasih taunya H-1 dan saya belum ada persiapan apapun buat debat nanti. Materinya tingkat tinggi pulak. Yassalaaam. Masak seorang Naily bahas-bahas poligami sama politik dan hal berat lain? Saya tuh nggak paham dan ngga mau paham juga tentang politik. Politik sekarang suka ngajakin bercanda sih :(

“Nai, besok kamu bagian yang lomba debat ya sama aku sama Tsamara? Temanya ini nih.” Kata Devi, Ketua Himpunan, sambil menyodorkan lembar-lembaran kertas yang berisi tentang peraturan, kelompok, ketentuan lomba dan lain lain.

 Allahumma…. Ini cobaan opo lagi? :((

Mentari siang mulai membakar jilbab dan merambat ke kepala. Debatnya dimulai siang hari pukul satu siang. Karena ngasih taunya malem, jadi masih ada kesempatan buat belajar pagi harinya. Saya mulai mencari referensi referensi buku dan semua bacaan sebagai bahan debat. Waktu serius seriusnya lagi baca baca buku, saya ditanya sama Ustadzah saya. Ya soalnya heran Nai kok seserius ini baca buku. Tebel pula.

“Disuruh lomba debat, Dzah, gimana ini? Huhuhu. Ndak biasa debat Dzah..”

“Bisa.” Jawab ustadzah seperti biasa dengan gaya santainya. Beliau mah Low profile. I always love her style.

“Tapi ndak pernah lomba debat, Ustadzaaaaah” Saya agak nggak yakin.

“Bisa.”

Beberapa jam kemudian, saya siap siap berangkat.

“Pesannya satu, banyak-banyak sholawat. Ingat kan gerakan seribu sholawat?” Ustadzah memberi wejangan sebelum saya berangkat dan salim, kemudian cium tangan sama beliau.

“Siap, Dzah!”

“Ngomong-ngomong, tadi abis makan? Udah makan?”

“Iya Dzah. Sudah”

“Sikat gigi sana, wudhlu lagi. Mulutnya harus suci. Kan mau lomba debat.”

“Nggih, Dzah”

Diperjalanan, mulut saya komat kamit melantunkan alunan sholawat banyak banyak, nggak berharap jadi juara. Bisa mengikuti debat sesuai peraturan, ngomong nggak kagok dan pernyataan saya masuk akal aja udah makasih banget  Yaa Allah..

Saya camkan baik baik perkataan Ustadzah. Sholawat pokoknya tak pernah berhenti. Bahkan dipanggungpun saya masih sempet komat kamit bersholawat tanpa henti. Mikir, mikir sambil sholawat. Belajar sambil sholawat. Ngelihat kelompok lain debat juga sambil sholawat. Makan sambil sholawat. Nunggu giliran maju sambil sholawat.

Babak penyisihan demi penyisihan, kelompok saya lolos. Kemudian babak semifinal lolos juga. Tibalah saatnya babak final. And finally, kelompok saya juara dua. Harusnya bisa sih juara satu. Tapi karena saya disuruh ngelawan argumen kelompok lawan tapi saya memilih buat ndak maju. Ya lagi lagi karena ketidakpedean saya dalam public speaking, yasudahlaya, akhirnya jadi runner up. Juara dua yeaay.

Fyi, saya masih cengok sampe sekarang. Saya tafakkur dijalan. Saya pikir bukan dari saya belajar. Tapi dari keajaiban banyak banyak sholawat. Orang apa yang saya pelajari, sama pernyataan pernyataan saya di podium aja jauh rek. Saya ngomong sebisa saya waktu itu. Wkwk.

Hal semacam ini kadang saya mikirnya ndak pake logika. Bahwa keajaiban itu selalu ada. Kalo mikir pake logika, saya ya harus belajar pethenthengan sampe nggak tidur. Nah, kalo sudah gitu logikanya saya menang. Tapi kalau dipikir secara tauhid, yagimana Allah selalu bisa menakdirkan apapun diluar kepala manusia, kan? Coba pake analogi lain. Kalo pengen keluar negeri, jika dipikir secara duniawi, berarti kita harus nabung dikit demi dikit hingga sampe nominal puluhan juta dulu baru bisa ke luar negeri. Tapi kalo dipikirnya pake tauhid. Pake keajaiban keyakinan iman, bisa saja lewat jalan lain. Misal tiba-tiba diajakin tetangga gegara kita sering bantu mereka dan banyak-banyak sholawat misalnya? Who knows? Hidup selalu penuh keajaiban kalo iman tertancap kuat.

Dalam hal-hal kecilpun saya sering mendapat keajaiban sholawat. Misal mepet paper belum selesai. Padahal semaleman ngerjain meski kadang ketiduran. Ya yaudah saya sering ngandelin sholawat yang paling gampang. Tiba-tiba dosen ada rapat mendadak dan paper nggak jadi dikumpulkan. Wkwk.

Memang sih benar banget kata pelatih rebana dipondok saya beberapa waktu lalu, sholawat itu memudahkan. Memudahkan segala urusan.

Jadi keinget Habib Syech Assegaf. Btw, disini ada yang syecher mania nggak? Kalo iya, sama kayak saya. Saya termasuk fans girl Habib Syech. Wqwq.

Wetan kali. Kulon kali. Wetan kali kulon kali~

Tengah-tengah tanduran pari. Saiki ngaji sesuk yo ngaji. Ayo manut poro kiai~

Shollu ‘alaannabii muhammad!!! Berkat sholawat maksiat minggat!! XD

Sholawat buat nabi junjungan. Ya nabi, dengar jeritan kami. Rindu ini tak tertahan. Sudilah hadir di jiwa ini. ❤ Allahumma sholli wasallim wabarik a'laihi wa a'la aalih.

SALAM MAULIDUR ROSUL.