shalat

Semoga Ramadhan menjadi momentum untuk mengobati luka yang belum sembuh, menjadi pemupuk harapan untuk yang terpuruk, menjadi penenang untuk yang dirundung gelisah, menjadi pelipur rasa untuk yang sedang merindu, serta menjadi jawaban untuk beragam permasalahan yang belum menemukan jawaban.

Dan semoga Ramadhan menjadi titik perbaikan hubungan antara kita dengan Al-Quran, antara kita dengan Shalat yang sering terlalaikan, antara kita dengan Ibadah yang terlupakan, dan menjadi titik pertaubatan atas renggangnya hubungan kita dengan Allah S.W.T.

Shalat

“Aa, Abang, Kaka. Masuk kamar!” suara Ayah tegas dengan nada dan volume cukup tinggi namun bermimik wajah lembut.

Ada apa gerangan? Ayah hampir tidak pernah sekeras ini saat berbicara. Terakhir ia berucap keras, itupun tidak sekeras orang-orang di sekitar rumahku yang gemar sekali bertengkar untuk mempersoalkan hal sepele, sekitar 3 bulan lalu saat Ayah beradu mulut dengan Ibu yang berujung perginya Ibu dari rumah. Meninggalkan 3 orang anaknya yang menangis tak berdaya. Dan kembalinya Ibu setelah seminggu lamanya pergi menghadirkan keharuan dan ucapan maaf dari Ayah.

Kami bertiga masuk ke kamar, menuruti perintah Ayah dengan kepala tertunduk. Peluh masih membasahi sekujur punggung, kami baru pulang bermain bola di kampung sebelah saat adzan Isya telah berkumandang. Memang kami terlalu larut bermain.

Kamar itu sebenarnya sebuah garasi yang disulap menjadi tempat tidur bersama dan ruang serbaguna dengan penerangan lampu seadanya. Aa bersila diantara aku dan Kaka yang juga ikut bersila. Kami sering disebut ‘Tiga Serangkai’ oleh tetangga karena selalu bertiga kemana-mana. Ayah pun bersila di hadapan kami. Wajahnya mempertontonkan kekecewaan yang semakin membuat kami ciut.

“Kenapa pulang selarut ini?”Ayah mulai menginterogasi kami.

Aa sebagai kakak lelaki pertama memposisikan diri sebagai juru bicara dan mulai berkilah panjang tentang alasan kenapa pulang larut malam. Mulai dari sendal Kaka yang hilang sebelah karena dijahili anak kampung sebelah hingga diajak main Playstation setelah main bola oleh Dodi, tetangga sekaligus teman karib kami bertiga.

“Sudah shalat maghrib?”

Sebuah pertanyaan yang mencekat. Aa diam membeku. Apalagi aku, Apalagi Kaka yang paling muda. Kami betul-betul lupa waktu saat itu. Hanya menundukkan kepala yang bisa kami lakukan. Mungkin karena ini wajah ayah begitu kecewa.

“Bu, tolong matikan lampu”, suara Ayah lembut kepada Ibu.

Ibu yang semenjak awal ternyata mendengarkan di balik pintu kemudian masuk dan mematikan lampu lalu duduk di samping Ayah. Kamar seketika gelap gulita.

“Apa yang bisa kamu lihat sekarang?”

Hening.

“Semua gelap. Lihat sekeliling kamu, hanya ada hitam. Tapi ulurkan tanganmu ke kanan dan ke kiri. Kamu akan merasakan genggaman tangan saudaramu dan Ayah Ibu.”

Kami saling menggenggam.

“Tapi tidak lagi saat nanti di alam kubur. Karena kamu akan sendirian dalam kegelapan. Tidak ada saudaramu. Tidak ada Ayah Ibu. Hanya sendiri. Sendiri dalam kegelapan dan kesunyian.”

Aku tercekat. Semua terdiam. Genggaman tangan di kanan kiriku mengerat. Lalu terdengar suara korek api kayu dinyalakan, sesaat tergambar wajah Ayah, Ibu, Aa, dan Kaka akibat kilatan cahaya api pada korek yang dinyalakan Ayah. Semua berwajah sendu. Korek itu membakar sebuah benda yang menghasilkan bara berbau menyengat. Bau obat nyamuk.

“Siapa yang berani menyentuh bara ini?” Suara Ayah masih mendominasi.

Semua diam. Masih diam.

“Ini hanya bara. Bukan api neraka yang panasnya jutaan kali lipat api dunia. Maka masihkah kita berani meninggalkan shalat? Shalat yang akan menyelamatkan kita dari gelapnya alam kubur dan api neraka.”

Terdengar suara isak tangis perempuan. Itu Ibu. Genggaman kami semua semakin menguat.

“Tolong Ayah. Tolong Ibu. Ayah Ibu akan terbakar api neraka jika membiarkan kamu lalai dalam shalat. Aa, usiamu 14 tahun, paling dewasa diantara semua lelaki. Abang, 12 tahun. Kaka, 10 tahun. Bahkan Rasul memerintahkan untuk memukul jika meninggalkan shalat di usia 10 tahun. Apa Ayah perlu memukul kamu?”

Suara isak tangis mulai terdengar dari hidung kami bertiga. Takut. Itu yang kurasakan. Kami semua saling mendekat. Mendekap, bukan lagi menggenggam.

“Berjanjilah untuk tidak lagi meninggalkan shalat. Apapun keadaannya. Sekarang kita shalat Isya berjamaah. Dan kamu bertiga mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”


Sebuah cerpen pengingat.

Senin, 17 Oktober 2016, 0:01 WIB

i think the fact that sana never gets the chance to finish her prayer parallels to isak’s locker giving him a hard time, just like isak’s locker is a metaphor of him being closeted and the fact that in the last episode his locker managed to be closed without any struggle mirrors the fact that now hes comfortable with his sexuality, we’ll get a glimpse of sana finishing her shalat (prayer) in the last episode as a metaphor of her finally being “understood” and fitting in

Cerpen : Bacaan Quran

Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.

Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.

Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.

Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.

“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.

Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”

Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.

Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.

Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017

anonymous asked:

Kak, temenku muslim. Akhir2 ini dia sering mempertanyakan kebenaran agama Islam. Aku bingung ngejawabnya gitu kak. Dia bilang kan kita islam juga turun temurun. Kemudian dia bilang jg "untukku agamaku, untukmu agamamu", berarti Allah jg bilang kalau agama itu lebih dr satu kan bukan islam doang? Dia cerita juga kalau kayak2 pastur yg bs sembuhin org sakit itu dpt kuasa drmn? Atau ada buku mengenai pertanyaan2 begini ga kak? Aku takut temenku ini nantinya mudah kegoda agama lain kak :(

lanjutan) Tapi dia percaya kalau islam agama yg benar. Tapi kata dia, semua agama pasti berpikir agamanya yg benar jg kan? Gitu katanya. Dia kayaknya gampang goyah gitu kak

Wow, pertanyaan yang sangat dalam. Saya jawab tapi mungkin agak panjang karena menyeluruh, karena kalau dijawab setengah-setengah, akan kurang baik, siapkan 3 menit untuk baca ini. Dan semoga ini juga menjadi hidayah, baik bagi anon, maupun semua muslim di jagat tumblr

BAGAIMANA MEMASTIKAN ISLAM ITU BENAR?

Apakah 2 + 2 = 4? Jawabannya iya, benar. Kenapa? Ya, karena kita paham akan dasar ilmunya, bahwa 1 + 1 = 2.

Tapi apakah benar kalau turunan pertama dari ƒ(x) = 3x2 + 4 adalah 6x? Tentu tidak semudah pertanyaan diatas, karena kita harus memahami dulu dasar dari ilmu tersebut.

Sama halnya dengan memastikan islam sebagai agama yang benar, apakah kita sudah memelajari tentang islam itu sendiri? Indonesia adalah negara islam, tapi berapa banyak orang yang terlahir sebagai agama islam, belajar tentang agamanya sendiri?

Banyak dari kita yang ragu akan kebenaran islam, karena kita tidak memelajari seluk beluk tentang islam, dan alasan bahwa islam diturunkan oleh Allah untuk menyempurnakan agama yang sebelumnya telah turun.

Banyak dari kita tahu nama Tuhan kita Allah, tapi tidak banyak yang bergantung padanya. Banyak dari kita tahu nama Rasul kita Muhammad SAW, tapi tidak banyak yang tahu perjuangannya menyampaikan islam. Banyak dari kita tahu kita diperintahkan shalat, zakat, puasa, haji, sedekah, tapi tidak banyak yang mengetahui makna di dalamnya. Kurangnya pemahaman kita terhadap agama kita sendiri lah, yang membuat kita justru memertanyakan kebenaran islam.

Maka sebelum memastikan sesuatu itu benar atau salah, kita harus mengetahui hal tersebut sebenar-benarnya dari sumber-sumber terpercaya. Karena banyak orang yang menjalani islam sebagai agama yang sudah “terlanjur” diberi oleh orangtua, bukan sebagai agama yang benar.

Maka, saran saya pertama, agar tidak goyah terhadap islam, pelajarilah seluk beluk tentang agama islam, agama kita sendiri.

Salah satu cara terbaik yang hingga kini membuat saya meyakini bahwa islam adalah agama yang paling sempurna adalah dengan memelajari sejarah lahirnya islam dari sirah nabawiyah (kisah kehidupan nabi). Dari sini, kita belajar bagaimana islam turun, kenapa sebuah ayat bisa turun, dan bagaimana islam diterapkan.

Sudahkah teman-teman juga belajar islam?

SEDIKIT SEJARAH YAHUDI, NASRANI, DAN ISLAM

Berikut saya share sedikit, hal yang saya dapatkan dari kajian ust. Khalid basalamah yang saya ikuti, sehingga bisa memberi penjelasan, tapi untuk detailnya, silahkan bisa mengikuti kajian lebih lanjut (nanti saya share link mp3 nya agar bisa didownload).

Setiap Nabi itu diperintahkan Allah untuk mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, karena mereka berada di dalam kesesatan, diantaranya adalah menyembah berhala, patung-patung atau bahkan manusia, padahal Allah lah yang memberikan segala nikmat di dunia, sedangkan Allah tidak suka kepada orang-orang yang syirik.

Berikut saya share peristiwa secara singkat, dari munculnya ajaran Nabi Ibrahim hingga ditutupnya ajaran nabi-nabi oleh agama islam.

Nabi Ibrahim a.s. diutus oleh Allah untuk membenarkan kaumnya yang sesat, karena pada zaman tersebut, Namrud, raja orang-orang tersebut, menyebut dirinya tuhan, sehingga menyuruh orang-orang untuk menyembah dirinya. Singkat cerita, Nabi Ibrahim menghentikan Namrud, dan membuat orang-orang akhirnya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim a.s., yakni menyembah Allah dan juga melaksanakan syariat haji, seperti tawaf, qurban, dsb.

Selepas meninggalnya Nabi Ibrahim a.s., maka kaumnya kembali menyembah berhala. Dan ini ternyata sudah menjadi sebuah kebiasaan, tatkala sebuah kaum ditinggalkan Nabi mereka, maka mereka kembali sesat karena tidak ada tempat untuk bertanya.

Lalu, Allah mengutus Nabi Musa a.s , membawa kitab taurat, untuk membenarkan orang yang telah melenceng dari ajaran nabi Ibrahim a.s.

Pernah suatu ketika, Nabi Musa a.s. meninggalkan kaumnya selama 40 hari untuk menerima taurat dari Allah SWT, namun ketika kembali dari penerimaan taurat tersebut, Nabi Musa a.s. mendapati kaumnya yang sebelumnya sudah menyembah Allah, kini menyembah patung sapi. Ketika ditanya oleh Nabi Musa a.s., maka jawabannya “Karena kau tidak ada, dan kami merasa ini benar”. Lantas Nabi Musa a.s. memerintahkan kaumnya untuk bertaubat sehingga kaumnya diberi nama yahudi yang artinya Taubat. Dan sejarah Nabi Musa a.s. ini juga menjadi alasan turunnya surat al-Baqarah (sapi betina). Lantas, sepeninggalan Nabi Musa a.s., kaumnya kembali melenceng dan kembali menyembah berhala.

Lalu, Allah mengutus Nabi Isa a.s., dengan kitab injil, untuk membenarkan kaum yahudi yang sudah melenceng dari ajaran yahudi yang sebenarnya. Dan kala itu, yahudi yang menolak injil juga disebut kafir, karena tidak mau beriman kepada Allah SWT, tapi lebih memilih menyembah berhala.

Nasrani sendiri memiliki arti penolong, karena Nabi Isa bertanya dan meminta kepada kaumnya untuk menjadi penolong agama Allah SWT (kembali menegakkan orang-orang yang melenceng).

Namun, ketika Nabi Isa a.s. diangkat oleh Allah, banyak kaumnya yang melenceng dari ajarannya dan menjadikan Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan.

Maka, untuk kembali meluruskan yang telah menyimpang, Allah menurunkan agama Islam melalui Nabi Muhammad SAW. Untuk kembali meluruskan, bahwa tuhan yang harus disembah adalah Allah SWT, bukan patung, bukan berhala, bukan orang yang mengaku-ngaku sebagai raja. Itu kenapa, Allah SWT menyebutkan bahwa islam adalah agama yang menyempurnakan ajaran sebelumnya, karena memang agama sebelumnya juga benar, namun banyak orang yang melenceng, sehingga kembali diluruskan dengan adanya Qur’an.

Dan bagaimana perjalanan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat menegakkan kembali islam, menjadi pelajaran besar bagi saya dan membuat saya yakin, bahwa jika kita memang menginginkan syurga, maka kita harus mengikuti ajaran islam. Dengan mengikuti islam, maka kita juga sudah menjalankan Nasrani yang benar yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s., juga yahudi yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa a.s., dan juga ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya untuk menyembah Allah SWT.

Ya, memang agama dari Allah itu tidak hanya Islam, dan turunnya agama itu untuk membenarkan kaum yang melenceng dari agama-agama yang telah turun sebelumnya.

 —

TENTANG “UNTUKKU AGAMAKU, UNTUKMU AGAMAMU”

Terkait memahami sebuah ayat, penting sekali untuk memahami “sebab” turunnya ayat, sehingga paham konteks dari ayat tersebut dan bukan lahir dari tafsiran sendiri.

Ayat di atas adalah penggalan dari Al-Kafirun, singkatnya, ayat ini turun ketika Nabi Muhammad dipaksa untuk menyembah berhala, padahal saat itu sudah ada perintah untuk menyembah Allah SWT.

Orang kafir Quraisy meminta nabi Muhammad SAW menyembah berhala selama 1 hari, lantas mereka bergantian menyembah Allah selama 1 hari, lalu Nabi menolak. Kafir itu terus menego sampai akhirnya berkata “Cukup katakan bahwa tuhan kami (berhala) itu ada, dan kami akan menyembah Allah seumur hidup kami”

Maka kala itu, Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari Allah, dan beliau ucapkan kepada kafir tersebut “aku takkan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu takkan menyembah apa yang aku sembah. Untukku agamaku, untukmu agamamu” sebagai penegasan, bahwa seorang muslim yang baik, tidak akan menyembah apapun selain Allah SWT, sebagaimanapun orang kafir menggodanya, dan ayat tersebut bukan sebagai pernyataan bahwa agama lain benar sehingga penyembahan berhala tersebut dianggap benar.


TENTANG PASTUR SEMBUHIN ORANG SAKIT

Ini bukan pendapat saya, tapi ini saya dapatkan dari Ust. Mathius, atau dikenal KH. Syarif Hidayat, mantan jendral misionaris Indonesia yang kini menjadi mualaf, dan kebetulan juga teman dekat ibu saya sehingga saya sering mengobrol.

Beliau bilang kalau itu memang kegiatan yang dibuat oleh teman-teman misionaris, untuk membuat orang percaya.

PEMAHAMAMAN “SEMUA AGAMA ITU SAMA”

Kalau ada orang yang bilang “Gapapa kok nganut agama lain, semua agama juga sama kok, bisa masuk syurga” maka orang islam adalah orang yang paling bodoh.

Kenapa juga kita harus cape-cape solat 5 waktu, berpakaian ada aturannya, harus sedekah, harus ngaji, gak boleh minum dan makan yang haram, terus harus haji, banyak larangan dan perintah? Mending pindah ke agama yang ibadahnya gak berat, pakai baju boleh buka-bukaan, gausah bangun subuh atau tahajud, bebas minum dan makan, pokoknya bebas deh, toh sama-sama masuk syurga. Bener ga? Tapi nyatanya engga kan? Apalagi jika kita belajar tentang kenapa islam turun, maka kita akan paham.

Karena pemahaman “gapapa kok semua agama sama” itu adalah pemikiran orang liberal, agar orang bisa nyantai dan gak perlu belajar islam dan bisa mudah berpindah ke agama lain. 

SEBAGAI PENUTUP

Sekali lagi, saya hanya mengingatkan dengan tulisan ini, agar kita semua mau belajar mendalami agama kita sendiri. Sejarah sudah menjelaskan, tatkala suatu kaum ditinggalkan Nabinya, maka mereka akan melenceng. Tak hanya yahudi, nasrani, bahkan kita umat muslim pun banyak yang melenceng. Bukankah banyak yang berdalih jihad tapi melakukan bom bunuh diri? Apakah jika Nabi Muhammad SAW hidup sekarang, hal tersebut diperintahkan? ya, kita perlu belajar, agar tidak melenceng.

Karena bisa jadi, mualaf yang baru masuk dari agama lain justru lebih mencintai islam, karena mereka memelajari agama islam secara keseluruhan, sedang kita hanya menjalani secara seadanya karena kita mendapatkan agama ini bukan karena hidayah, melainkan mendapatkan agama ini dari orangtua kita.

Dan tulisan diatas bertujuan bukan untuk menyerang agama lain, bukan untuk bilang “agama islam paling benar” karena agama bukanlah untuk dibanding-bandingkan, tapi tulisan ini mengajak teman-teman untuk lebih memahami tentang agama islam, agama penutup, agama penutup yang menyempurnakan agama sebelumnya, agama yang membawa kita kepada syurga, tempat sebaik-baik kembali.

— 

Tentu tulisan diatas hanya sebagian, silahkan teman-teman bisa mengikuti kajian lanjutan, bisa di youtube dsb, juga membaca berbagai sumber lainnya.

wallahua’lam bisshawab. Jika ada yang salah, mari saling mengingatkan.

Semoga bermanfaat, punten panjang banget. Semoga berkenan. Silahkan share untuk mengingatkan teman-teman lainnya.

Terima kasih

# Tiga hal yang WAJIB diperhatikan dalam masalah shalat #

1. Wudhu'nya => hendaknya disempurnakan (bukannya asal-asalan) !

2. Waktu-nya => hendaknya pada waktunya (bukannya diluar waktu) !

3. Thuma'ninahnya => hendaknya menyempurnakan ruku’ dan sujud-nya; dan gerakan-gerakan shalat; dengan tidak berpindah gerakan, hingga tulang punggung tegak, dan kita tenang (bukannya shalat seperti burung mematok makanan) !

Rasuulullaah bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى

“Shalat lima waktu telah Allah ‘Ta’ala wajibkan bagi hamba-Nya.

مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ

(1) Barangsiapa memperbagus wudhunya,

وَصَلاَّهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ

(2) mengerjakan shalat pada waktunya

وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ

(3) menyempurnakan ruku’nya, dan khusyu’ ketika mengerjakannya

كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ

(barangsiapa yang melaksanakan shalat, dengan memenuhi tiga kriteria diatas) maka Allah berjanji akan mengampuninya.

وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

Dan barangsiapa tidak melakukan (hal-hal diatas), maka Allah tidak memiliki janji. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengadzabnya.”

(Shahiih; HR Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya; dishahiihkan syekh al albaaniy)

Semoga bermanfaat

Empat Hal Penghambat Rezeki

Pertama,
Tidur Pagi.

Kedua,
Sedikit shalat.

Ketiga,
Malas-malasan.

Keempat,
Sifat Khianat.

(Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma'ad, 4:378)

Rasa-rasanya kayak headshoot gtu :’

Terkadang salah satu hal yang membuat pagimu begitu menenangkan dan harimu menjadi menyenangkan adalah karena shalat shubuhmu yang tidak kesiangan
— 

Allah itu membagi-bagikan rizki kepada hambaNya di antara shalat shubuh dan terbitnya matahari. Rizki apa aja! Iman, istiqomah, kesehatan, kelapangan hati, dan berbagai nikmat yang tak mampu kita kalkulasi.

Nah, coba bayangin deh kalau kesiangan? Jadi telat kan dapat rizkinya. Ehe.
Allah mah Maha Baik atuh, kitanya aja yang suka banget bandel.

Carilah kebahagiaan di dalam tiga hal: ketika kau sedang mengingat Allah (dzikir), ketika kau sedang shalat, dan ketika kau sedang membaca Al-Quran. Jika kau tak menemukan kebahagiaan di dalam tiga hal tersebut, maka sesungguhnya hatimu sedang kotor.
—  Ibnul Qoyyim Al Jauziyah
7

[HOW TO BELAJAR AGAMA BUAT ORANG SIBUK]

“saya ingin belajar agama, ikut kajian, tapi gak punya waktu. Saya kerja dari pagi sampe malam, sekalinya pulang banyak tugas, cape”.

STOP! Udah bukan jamannya jauh dari agama. Sekarang zaman sudah canggih. Dengan smartphonemu, sudah saatnya belajar agama dengan cara yang smart pula.

Ini tips and trik belajar agama di sela-sela kesibukan duniawi kita. Teruji secara klinis pada orang super (di)sibuk(sibukin).

1. PUNYA APLIKASI YOUTUBE.
download appsnya

2. PILIH SEARCH.

3. KETIK JUDUL KAJIAN/CHANNEL.
Silahkan tulis judul kajian yang ingin dicari, misalnya tentang shalat, berperilaku, rumah tangga, sejarah nabi (recommended nih tema ini), dan lain sebagainya. Atau pilih channelnya, salah satu contohnya channel pemudahijrah ini.

4. SAVE OFFLINE.
Pilih save Offline, nanti otomatis videonya akan ke save. TIPS : Download aja file yang kecil. Downloadnya pake wifi kantor, biar hemat.

5. OFFLINE VIDEO.
Masuk ke account, pilh offline video, dan videonya sudah tersedia.

6. SELAMAT BELAJAR.
Yeah! Teman-teman bisa dengerin kajiannya dimanapun tanpa perlu connect. Bisa di perjalanan, ketika macet2an, ketika menunggu antrian, atau menunggu sesuatu yang tak pasti (seperti menanti kapan doi putus biar bisa dilamar). Dengan cara ini, temen-temen bisa belajar lebih mudah.

SARAN
Bagi yang baru belajar, ada baiknya belajar yang ringan aja dulu, salah satunya menurut saya adalah ust hanan attaki di chanel pemuda hijrah. Takutnya, nanti terlalu kaget kalau tiba2 dapet materi yang berat.

TANTANGAN
Penting juga, jika ada pertanyaan setelah nonton, diskusi dengan teman-teman yang lebih paham. Agar memantapkan ilmu.

EFEK SAMPING
Dengan tahu cara ini, mungkin jadi banyak yang malah pingin ngesave video2 yang lain. Hati2, you have smartphone, but you have to be smarter than your phone.

Yuk ah, cobain caranya. Nabi aja yang dijamin masuk syurga, belajar agama tiap hari. Masa kita yang biasa2, udah ngerasa cukup dari 2 jam pelajaran agama seminggu sekali dari SD sampe SMA + 2 sks saat kuliah.

Selamat belajar guys, mangga share caranya, biar makin banyak yang belajar, dan biar dapet amal jariyah.

Arti Bacaan Shalat

Takbiratul Ihram —> ALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar)

Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila. (Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi&petang).
Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.
(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit&bumi, dgn penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)
Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.
(Sesungguhnya shalatku, ibadah qurbanku, hidupku&matiku, hny utk Allah Rabb Semesta Alam).
Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.
(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku
diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)

Adapun Rasulullaah ketika membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali. Bahkan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah sampai menuliskan makna
iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, dalam satu kitabnya yang berjudul Madarijus Saalikin, dimana beliau bercerita ketika di suatu kota ia menderita sakit, maka ia membacanya per ayat dengan sungguh-sungguh, dan ia rasakan bahwa setiap selesai satu ayat
dibacanya, terasa berguguran sakit yang dirasakannya.
Subhaanallaah.


Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya.

Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim)
(Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang)
Alhamdulillaah, Rabbil 'aalamiin
(Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta 'alam)
Arrahmaan, Arrahiim
(Maha Pengasih, Maha Penyayang)
Maaliki, yaumiddiin
(Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali)
Iyyaaka, na'budu, wa iyyaaka, nasta'iin
(KepadaMulah, kami menyembah, dan kepadaMulah, kami mohon pertolongan)
Ihdina, asshiraathal, mustaqiim —> berharaplah dengan penuh
harap ketika membacanya
.
(Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus)
Shiraath, alladziina, an'am, ta 'alayhim
(Jalan, yang, telah Engkau beri ni'mat, kepada mereka)
Ghayril maghduubi 'alaihim, wa laddhaaaalliiin.
(Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat)

Melanjutkan tulisan yang ketiga, maka setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an.

Quote: Ruku’
Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan
bermacam-macam dzikir dan do'a. Kadangkala beliau
mengucapkan yang ini dan kadangkala mengucapkan yang itu :

1. Subhaana, rabbiyal, 'adzhiimi.
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)
—> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali.
(Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad Daaruquthni,
Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani)
—> kadangkala juga beliau membacanya berulang-ulang lebih
banyak dari tiga kali, dan sesekali beliau
berlebihan dalam mengulanginya ketika shalat lail (malam), sehingga lama ruku'nya hampir mendekati
lama berdirinya.

2. Subbuuhun, qudduus, rabbul malaaikati, warruuh.
(Maha Suci Engkau ya Allaah, Pemberi berkah, Tuhan malaikat, dan ruh) –> Riwayat Muslim
3. Allaahumma, laka raka'at, wa aamantu, wa laka aslamtu, (Yaa Allaah, kepadaMu, kuserahkan ruku'ku, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku Islam (menyerahkan diri).
anta rabbiiy, khasa'a laka sam'iiy, wa bashariy, wa mukhyii, wa'adzhomii, wa fii riwaayah
(Engkau Tuhanku, KepadaMulah pendengaran, penglihatan, otak, tulang, dan syarafku tunduk)
wa mastaqallat bihi, qadamii, lillaah, rabbil 'aalamiin.
(Dan apa yang dibawa kakiku, kuserahkan, kepada Allah, Tuhan semesta alam)
(HR. Ad-Dharuquthni)

Memperpanjang Ruku’
Diriwayatkan bahwa :
“Rasulullaah Sallallaahu 'alayhi wa sallaam, menjadikan ruku'nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.”
(Hadits Shahih Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)


I'tidal
Rasululullaah Sallaahu 'alayhi wa sallaam mengangkat
punggungnya dari ruku’ sambil mengucapkan,
“Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)
Maka ketika kita i'tidal atau bangkit dari ruku, sambil mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, maka kita mengucapkan :
Sami'allaahu, li, man, hamida, hu
(Mudah-mudahan mendengar Allah, kepada, sesiapa yang, memuji, Nya)
Sesungguhnya imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Oleh karena itu, apabila ia mengucapkan "sami'allaahu liman hamidah”,
maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya saw., “Mudah-mudahan Allah
mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud)
Maka mari kita baca :
Rabbanaa, lakal, hamdu
(Yaa Tuhan kami, bagiMulah, segala puji)
Kadangkala lafadzh diatas beliau tambahkan seperti :
mil assamaawaati, wa mil al ardhi, wa mil a maa shikta, min shai in, ba'du
(Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya)
Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu 'Uwanah)
Quote:

Sujud
Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita
mengucapkan do'a-do'a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah SAW.

1. Subhaana, rabbiyal, a'laa
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur)
Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu.
2. Subhaana, rabbiyal, a'laa, wa, bihamdi, hi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya)
3. Subbuuhun, qudduusun, rabbul malaaikati, warruuh
(Maha Suci, Pemberi Berkat, Tuhan malaikat, dan ruh)

Duduk antara dua Sujud
Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita berdo'a sepertinya do'anya Rasulullaah, dan bacalah do'a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah Subhaana wa Ta'ala.
Di dalam duduk ini, Rasulullaah SAW mengucapkan :

Allaahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, wahdinii, wa'aafinii, warzuqnii
(Ya Allaah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah
kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku)
Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah saw, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim).

Duduk At-Tasyaahud Awal
(Mari dihafalkan setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk)
Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat.
Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan&kebaikan.
Assalaamu 'alayka * , ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu *, wahai Nabi&beserta rahmat Allah&berkatNya.
Assalaamu 'alaynaa, wa 'alaa, 'ibaadillaahisshaalihiiin.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh.
Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah.
Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allaah.
Wa asyhadu, anna muhammadarrasulullah.
Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya. * Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan :
Assalaamu 'alannabiy.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi.
Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu 'Uwanah, Asy-Syafi'i, dan An-Nasa'i.
Dari Ibnu 'Abbas :

Attahiyyaatul mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatulillaah.
Assalaamu 'alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu 'alayna wa 'alaa 'ibaadillaahisshaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah.
Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah.

(dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa,muhammadan, 'abduhu, warasulluh.)

Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum di kita, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.

Allaahumma, shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa, aali muhammad.
Ya Allaah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad
Kamaa, shallayta, 'alaa ibrahiim, wa 'alaa, aali ibraahiim.
Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.
Innaka, hamiidummajiid.
Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Allaahumma, baarik, 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad.
Ya Allaah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad
Kamaa, baarakta, 'ala ibraahiim, wa 'alaa, aali ibraahiiim.
Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.
Innaka, hamiidummajiid.
Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Yang Sedikit

1. Orang alim (pintar) itu banyak, tapi yang mengamalkan ilmunya, itu yang sedikit. Dan yang lebih sedikit lagi adalah orang yang ikhlas.
2. Orang yang pandai berbicara itu banyak, tapi yang jujur dalam bercakap itu sedikit.
3. Orang yang mencintai itu banyak, tapi yang benar-benar tulus dalam mencintai itu sedikit.
4. Orang yang elok fisik itu banyak, tapi yang elok batin itu teramat sedikit.
5. Banyak sekali orang yang sungguh-sungguh mengobati penyakit badan, tapi sangat sedikit yang serius mengobati penyakit hati.
6. Di negeri ini, orang super kaya itu banyak, tapi yang dermawan itu sedikit.
7. Banyak sekali orang yang tersenyum ketika dipuji, tapi sedikit sekali orang yang tetap tersenyum tulus ketika dicaci.
8. Banyak orang yang ingin selalu dimengerti, tapi sedikit sekali orang yang mau belajar mengerti orang lain.
9. Orang yang badannya kuat dan kekar itu banyak, tapi sedikit sekali yang kuat hati dan kesabarannya.
10. Banyak orang yang kuat sekali ibadahnya, tapi teramat sedikit yang khusyuk di dalamnya.
11. Di negara kita ini, tiap tahunnya banyak sekali orang yang pergi menunaikan ibadah haji, tapi sedikit sekali orang yang makbul (diterima) dalam hajinya.
12. Yang memiliki pangkat dan kekuasaan itu banyak, tapi yang rendah hati itu sedikit.
13. Orang yang miskin itu banyak tak terbilang, tapi yang tetap sabar dan bersyukur itu sedikit.
14. Banyak sekali orang yang melaksanakan shalat, tapi sedikit sekali yang istiqomah (konsisten) berjamaah.
15. Orang cerdas di Indonesia ini banyak sekali, tapi yang bijak itu teramat sedikit.
16. Orang tua yang rajin ibadah itu banyak dan sudah seharusnya, tetapi alangkah sedikitnya anak muda yang giat beribadah.
17. Banyak sekali orang yang sanggup membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan serupa, tapi sedikit sekali orang yang mampu berbuat baik kepada orang yang membenci dan memusuhinya.
18. Kalau orang yang sudah tua mampu menorehkan sejarah, ini umum dan banyak terjadi, tetapi jika anak muda yang sanggup menorehkannya, ini baru luar biasa dan sedikit.
19. Orang yang bertobat itu terlampau banyak, tapi yang benar-benar bertobat (taubatan nasuha) itu sedikit dan jarang.
20. Orang yang mampu melaksanakan berbagai amalan-amalan shaleh itu banyak, tapi yang mampu menahan diri dari segala macam kemaksiatan itu yang sedikit.
21. Orang yang kaya raya dan gemar bersedekah itu banyak, orang yang tidak kaya namun senang berbagi itu yang sedikit.
22. Orang yang mengajarkan orang lain dengan perkataan dan nasehat itu banyak, tapi orang hang mengajarkan dengan contoh dan keteladanan jtu teramat sedikit dan sulit dijumpai.
23. Banyak sekali orang yang mempunyai angan-angan dan impian besar, tapi sedikit sekali orang yang mau mewujudkannya dengan tindakan.

—  Jadilah orang yang ‘sedikit’ tapi bermakna. Bukan menjadi manusia pada kebanyakan. Lawanlah arus dalam hal berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tidak buka fb? Uninstall ig? Ga install path? Tidak main tumblr? Ga pernah login twitter lagi? Hidupmu akan baik-baik saja.

Ga shalat? Tidak mendoa-bantu saudara? Lupa tilawah? Ga birrul walidain? Tidak sempat nengok saudara yang sakit? Tidak belajar? Baru hidupmu tidak sedang baik-baik saja.

Jangan lupa hidup di dunia, berbekalah untuk akhirat! Main-main sebentar ke dunia maya jika akan memperberat timbangan amalmu kelak.

S : Siapakah satu-satunya nama wanita yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Maryam binti Imran.

S : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm al-Quran?
J : Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37.

S : Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah?
J : Surah at-Tawbah.

S : Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah?
J : Surah al-Naml.

S : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat al-Quran?
J : Surah al-Kafirun.

S : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga al-Quran?
J : Surah al-Ikhlas

S : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur?
J : Surah al-Mulk

S : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang pekan?
J : Surah al-Khafi

S : Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa?
J : Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255

S : Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya?
J : Surah al-Fatihah, tujuh ayat.

S : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :“ Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. (Surah al-Zalzalah ayat 7-8)

S : Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya?
J : Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.

S : Pada Kata apakah pertengahan al-Quran itu di Surah apa? ayat no Berapa?
J : وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.

S : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Shalat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga?
J : Ayat Kursi.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa?
J : Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa?
J : Ayat (ويل يومئذ للمكذبين) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10.

S : Apakah Ayat terpanjang dlm al-Quran? pada Surah apa? Ayat berapa?
J : Ayat No 282 Surah al-Baqarah… .

Ternyata, kita tidak siap atas pertanyaan-pertanyaan sederhana dalam hidup kita. Sesederhana pertanyaan: Seberapa banyak kita memahami bacaan dalam shalat-shalat kita?
—  Seriously.

Mungkin saja semua masalah hidup kita ini sebabnya adalah shalat kita. Shalat-shalat yang penuh keterpaksaan. Shalat-shalat yg hanya menjadi penggugur kewajiban. Shalat-shalat yang tak satu pun kita maknai setiap gerakan dan bacaannya. Shalat-shalat yang menjadi pencitraan semata.

Ya Allah, Allahummaghfirlanaa ya Rabb :’

MENGAPA DO’A MU LAMA?

“Gila, lama banget doanya. Emang kalo do’a ustadz mah beda”

Temanku membercandai ku, karena memang kalau setelah salat berjamaah, aku selalu menjadi orang yang paling terakhir selesai membaca do’a.

“Bukan karena ustadz, tapi maklum, lagi banyak kepengen. hehehe. Padahal kalau bukan karena ajakanmu pergi ke tempat makan, aku masih mau do’a lagi sebentar.” Jawabku.

“Wah, lama amat. Itu aja udah lama, terus masih mau ngedoa lagi. Emang do’a apa aja sih?” dia penasaran.

“Banyak dong. Aku doa biar dosaku diampuni, terus doa biar dikasih rezeki, doa biar dikasih surga, doa biar kaya raya, doa biar dapet jodoh yang baik, doa biar dapet keturunan yang banyak, terus juga keturunan yang soleh dan solehah, belum doa biar dapet rumah, doa biar orangtua masuk surga, doa biar dikasih kesehatan, wah, masih banyak pokoknya” Jawabku.

“Waduh, banyak amet. Emang bakal semua dijabah?” dia tambah penasaran.

“Pasti dijabah dong. Setiap doa itu pasti dijabah, tapi akan dijabah dalam 3 bentuk. Pertama, Allah kasih sesuai apa yang kita minta. Jika tidak, maka yang kedua, segala keburukan yang mungkin terjadi akan dihilangkan. Jika tidak, maka yang ketiga, doa yang tak terkabul di dunia, akan menjadi tabungan pahala yang bisa diambil nanti di akhirat. Ya Jadi, doa mah muluk-muluk aja yang banyak. Kan, nothing to loose ini.” Jawabku.

“Lagian, beres shalat itu, selain kita harus berdzikir minta ampunan, itu adalah momen terbaik untuk kita minta doa, mumpung masih konek nih hati kita sama Allah” Aku menambahkan.

“hmm, iya iya iya” Dia mengangguk, nampak mencerna apa yang aku sampaikan.

“Sebenernya, Aku suka heran deh, sama orang yang abis shalat, langsung tiduran, atau langsung ngecek handphone atau langsung berdiri pergi, tapi setelah itu dia duduk-duduk santai.” Aku bertanya keheranan, sambil memalingkan muka dari wajahnya ke arah langit-langit musholla.

“Apa hidupnya sudah suci, sampai-sampai tidak berdoa minta ampunan atas dosanya? apa hidupnya sudah sempurna, sampai-sampai tidak meminta apapun untuk hidupnya? Entahlah, cuman dia yang tau. Aku hanya penasaran saja.” Aku kembali bertanya, sambil terus memandang atap langit ruang musholla.

“Glek” terdengar suara temanku menelan ludah.

Dia tau benar, aku sebetulnya sedang menyindirnya.


MENGAPA DO’A MU LAMA?
Bandung, 7 Februari 2017