shalat

Meninggalkan Shalat Lebih Berbahaya dari Membunuh?

Banyak kaum Muslim yang tidak sadar bahwa sebenarnya meninggal shalat wajib 5 waktu lebih berbahaya dari membunuh dan dosa besar yang lainnya sekalipun. Bahkan ada yang pernah mengatakan bahwa meninggalkan shalat wajib lebih berbahaya daripada membunuh kedua orang tua sendiri.

Ini dikarenakan oleh hadits Rasulullah (SAW) dimana beliau bersabda bahwa ‘Shalat adalah pembeda antara umatku dan kaum Musyrikin.’ Dari hadits ini ulama telah setuju bahwa meninggalkan shalat wajib dapat menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam.

Umar Ibn Khattab juga pernah berkata ‘Tidak ada Islam bagi mereka yang meninggalkan shalat.’

Namun mengapa meninggalkan shalat wajib lebih berbahaya dari membunuh dan dosa besar lainnya (seperti berzina dan mengkonsumsi minuman keras)? Ini disebabkan oleh ayat Allah dimana Ia berfirman bahwa ‘Islam adalah satu-satunya agama yang diterima disisiNya.’ Dan setiap mereka yang meninggalkan Islam, maka tidak akan ada ampunan bagi mereka dan neraka adalah tempat kembali mereka untuk selama-lamanya. Sedangkan Allah telah berjanji bahwa Allah akan mengampuni segala dosa kecuali Sirik dan kekufuran.

Oleh karenanya, jika seseorang meninggalkan Shalat dengan sengaja, maka dirinya telah melakukan kekufuran dan Allah tidak mengampuni kekufuran. Sedangkan jika seseorang melakukan pembunuhan, maka dirinya telah melakukan dosa besar dan Allah telah berjanji untuk terus mengampuni.

Rasulullah SAW bersabda bahwa ‘Akan ada seseorang yang datang kepada Allah di hari akhir dan dosanya sejauh mata memandang, namun karena seseorang tersebut memiliki Islam, maka Allah mengampuni segala dosanya dan mempersilahkannya masuk kedalam surga.’

Tulisan ini ditulis bukan untuk membanding-bandingkan dosa dan sirik. Bukan juga untuk mengajak kaum Muslim untuk melakukan dosa asalkan menjaga shalatnya. Namun tulisan ini hanya ingin memperlihatkan betapa seriusnya meninggalkan shalat agar kaum Muslim tidak menyepelekan shalat mereka.

Wallahu’alam

Di masjid kecil dekat kontrakan kami tempat dimana biasa kami shalat berjamaah, ada seorang imam shalat yang sudah cukup sepuh. Kami memanggil beliau dengan sebutan “Mbah Benik (Kancing)” sesuai dengan gesture beliau setiap saat menjelang iqamah. Hehe. Tak pernah rasanya beliau putus shalat berjamaah di masjid.
—  Beliau memberi poin pengingat bagi kami : Tetap lah istiqamah memperjuangkan shalat berjamaah di masjid tanpa harus menunggu menjadi tua terlebih dulu.
Ternyata, kita tidak siap atas pertanyaan-pertanyaan sederhana dalam hidup kita. Sesederhana pertanyaan: Seberapa banyak kita memahami bacaan dalam shalat-shalat kita?
—  Seriously.

Mungkin saja semua masalah hidup kita ini sebabnya adalah shalat kita. Shalat-shalat yang penuh keterpaksaan. Shalat-shalat yg hanya menjadi penggugur kewajiban. Shalat-shalat yang tak satu pun kita maknai setiap gerakan dan bacaannya. Shalat-shalat yang menjadi pencitraan semata.

Ya Allah, Allahummaghfirlanaa ya Rabb :’

Pelita

Tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir dari keluarga dengan pemahaman agama yang baik. Ayah dan Ibu kita mungkin bukanlah sosok yang menginternalisasi prinsip agama sedemikian dalam, bukan sosok yang gemar bergerak menuju majelis, atau mungkin bukan pula sosok yang menjadi tempat dimana kita mengenal Allah untuk pertama kali. Sama halnya, tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir ditengah-tengah keluarga yang membumikan akidah, mengutamakan tauhid, dan membiasakan ibadah. Keluarga kita mungkin hanya paham perkara yang wajib tanpa sentuhan mengenai perkara yang sunnah.

Lantas, haruskah kita marah? Haruskah kita sibuk protes kepada-Nya dengan mengatakan, “Ya Allah, mengapa bukan Ayah dan Ibu yang pertama kali mengenalkan aku pada shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis, shalat Tahajjud, dan menutup aurat?”

Tidak ada apapun yang dapat menjadi pembenaran untuk kita melakukan protes terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya.

Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita pelita di tengah gulita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita cahaya untuk kegelapan ilmu yang terjadi di sekitar kita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang mempersiapkan kita untuk menjadi ujung tombak rantai-rantai kebaikan. Sebab, ketetapan-Nya selalu baik, selalu menumbuhkan, dan selalu indah kesudahannya.

Bagaimanapun, Allah tetap adil. Lihatlah ke sekeliling! Bukankah kita sedang berada diantara orang-orang yang menyeru kita untuk mengerjakan kebenaran? Bukankah kita sedang berada di lingkungan yang memungkinkan kita untuk banyak belajar? Bukankah Allah dengan baik hati mempertemukan kita dengan kesempatan-kesempatan emas yang menjadikan kita mengenal-Nya lebih dekat?

Sahabatku, rasanya bukan lagi masalah jika kamulah yang justru harus menjadi orang pertama yang mengajak orang-orang yang kamu sayangi untuk lebih mendekat kepada-Nya. Karena kamu adalah pelita. Sungguh, hadirmu adalah pelita. 

Hubungan Antara Ka'Bah Kiblat dan Kiamat

External image

Kita Kadang bertanya kenapa sholat wajib menghadap kiblat? trus kenapa berdoa di area Ka'bah lebih Abdol atai di ijabah.? karena rumah ibadah yang pertama diberkahi Allah adalah Ka'bah.


1. Ketika mempelajari Kaidah Tangan Kanan (Hukum Alam), bahwa putaran energi kalau bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka arah energi akan naik ke atas akan naik ke atas. Arah ditunjukkan arah 4 jari, dan arah ke atas ditunjukkan oleh Arah Jempol.

External image

2. Dengan pola ibadah thawaf dimana bergerak dengan jalan berputar harus berlawanan jarum jam, ini menimbulkan pertanyaan, kenapa tidak boleh terbalik arah, searah jarum jam misalnya.

External image

3. Kenapa Solat harus menghadap Kiblat, termasuk dianjurkan berdoa dan pemakaman menghadap Kiblat
4. Kenapa Solat Di Masjidil Haram menurut Hadist nilainya 100.000 kali dari di tempat sendiri.
5. Singgasana Tuhan ada di Langit Tertinggi
Perenungan Sintesa :

  1. Energi Solat dan Doa dari individu atau jamaah seluruh dunia terkumpul dan terakumulasi di Kabah setiap saat, karena Bumi berputar sehingga solat dari seluruh Dunia tidak terhenti dalam 24 jam, misal orang Bandung solat Dzuhur, beberapa menit kemudian orang Jakarta  Dzuhur, beberapa menit kemudian Serang Dzuhur, Lampung dan seterusnya. Belum selesai Dzuhur di India Pakistan, di Makasar sudah mulai Ashar dan seterusnya. Pada saat Dzuhur di Jakarta di London  Sholat Subuh dan seterusnya 24 jam setiap hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya.
  2. Energi yang terakumulasi, berlapis dan bertumpuk akan diputar dengan generator  orang-orang yang bertawaf yang berputar secara berlawanan arah jarum jam yang dilakukan jamaah Makah sekitarnya dan Jamaah Umroh / Haji yang dalam 1 hari tidak ditentukan waktunya.
  3. Maka menurut implikasi hukum Kaidah Tangan Kanan bahwa Energi yang terkumpul akan diputar dengan Tawaf dan hasilnya kumpulan energi tadi arahnya akan ke atas MENUJU LANGIT. Jadi Sedikit terjawab bahwa energi itu tidak berhenti di Kabah namun semuanya naik ke Langit. Sebagai satu cerobong yang di mulai dari Kabah. Menuju Langit mana atau koordinat mana itu masih belum nyampe pikiran saya. Yang jelas pasti Tuhan telah membuat saluran agar solat dan doa dalam bentuk energi tadi agar sampai Ke Hadirat Nya. Jadi selama 24 Jam sehari terpancar cerobong Energi yang terfokus naik ke atas Langit. Selamanya sampai tidak ada manusia yang solat dan tawaf (kiamat?).

Kesimpulan
  1. Solat dan Doa, diyakini akan sampai ke langit menuju Singgasana Tuhan selama memenuhi kira-kira persyaratan uraian di atas dengan sintesa (gabungan/Ekstrasi) renungan hukum agama dan hukum alam, karena dua-duanya ciptaan Tuhan juga. Jadi hendaknya ilmuwan dan agamawan bersinergi/ saling mendukung untuk mencapai kemaslahatan yang lebih luas dan pemahaman agama yang dapat diterima lahir batin
  2. Memantapkan kita dalam beribadah solat khususnya dan menggiatkan diri untuk selalu on-line  24 jam dengan Tuhan, sehingga jiwa akan selalu terjaga dan membuahkan segala jenis kebaikan yang dilakukan dengan senang hati (iklas)..
  3. Terjawablah jika sholat itu tidak menyembah batu (Kabah) seperti yang dituduhkan kaum orientalis, tapi menggunakan perangkat alam untuk menyatukan energi solat dan doa untuk mencapai Tuhan dengan upaya natural manusia.
  4. Tuhan Maha Pandai, Maha Besar dan Maha Segalanya
  5. Ini sekedar renungan dan analisa , semoga saja mampu memotivasi kita dan para Pakar untuk memicu pemikiran, penelitian lebih dalam untuk lebih mempertebal keimanan dan menjadi saksi bahwa Tuhan menciptakan semesta dengan penuh kesempurnaan tidak dengan main-main (asal jadi) sehingga makin yakin dan cinta pada Tuhan Yang Maha Esa. Mungkin renungan ini berlebihan dan berfantasi, tapi sedikitnya ini pendekatan yang mampu menjawab pertanyaan sebagaimana di atas dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci dan Hadist bahkan mendukungnya. Semoga bermanfaat…

Ramalan Untuk Memastikan Bahwa Ka'bah Dan Kiamat hanya Allah Yang Tahu :
  1. Ka'bah Akan Hancur Dengan Sendirinya (Terbukti dengan ditenggelamkannya satu pasukan yang akan menyerang ka'bah suatu hari nanti)
  2. Jika Pusat Bumi Bergeser Akan Banyak Kekacauan (seperti Musim Yang tidak Mengenal waktu)
  3. Kiamat Akan Cepat Terjadi Jika Sholat Sudah Ditinggalkan
  4. Anda Pasti Juga pernah mendengar jika Siapa Yang Meninggalkan sholat berarti telah merobohkan Agama.
  5. Untuk selain Islam, kapan kapan akan kita kupas, bagaimana kemampuan Pentium  2 dan pentium 4 sungguh berbeda, bagaimana petunjuk Allah Disempurnakan dari umat Ibrahim, Musa hingga Muhammad saw, Nabi Isa menyempurnakan Taurat dengan Injil, Dan Muhammad menyempurnakan keduanya Dengan Al Qur'an. Hingga Kalian mengerti bahwa kita dulu adalah umat yang satu.
KEJAMNYA WAKTU SUBUH

Allah bersumpah dalam Al Fajr :“Demi fajar (waktu Subuh)”. Kemudian dalam Al Falaq Allah mengingatkan:“Katakanlah! aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh”.
Ada apa sebenarnya di balik waktu Subuh? Mengapa Allah sampai bersumpah demi waktu Subuh? Dan mengapa pula kita harus berlindung kepada yang menguasai waktu Subuh? Apakah waktu Subuh sangat berbahaya?

Ya, ternyata waktu Subuh memang benar-benar sangat berbahaya! Waktu Subuh itu lebih kejam dari sekawanan perampok bersenjata api. Waktu Subuh bisa lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan. Waktu Subuh bahkan lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin!

Jika ada sekawanan perampok menyatroni rumah kita, dan mengambil paksa semua barang yang kita miliki. Emas dan semua perhiasan dirampas. Uang cash puluhan juta dirampas. Laptop yang berisi data-data penting dirampas. Mobil yang belum lunas cicilan-nya juga dirampas.Nah,bisa dibayangkan bagai-
mana pedihnya hati kita menerima kenyataan itu?
Tapi ketahuilah, sebenarnya waktu Subuh lebih kejam dari perampok itu. Sebab jika kita ‘tergilas waktu Subuh’, sehingga melalaikan shalat fajar, maka kita akan menderita kerugian yang jauh lebih besar dari sekadar kehilangan laptop dan mobil. Kita bahkan akan kehilangan dunia dan segala isinya. Ingat,“Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya,” (HR Muslim).

Waktu Subuh juga bisa lebih menyeng-sarakan dari sekadar kemiskinan di dunia. Sebab bagi orang-orang yang ‘tergilas waktu Subuh’, sehingga mengabaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka pada hakikatnya, merekalah orang-orang miskin sejati yang hanya mendapatkan upah 1/150 (0,7%) saja dari pahala shalatnya.
“… dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan sholat semalam suntuk” (HR Muslim).

Shalat semalam suntuk adalah shalat yang dikerjakan mulai dari tenggelamnya matahari sampai terbit fajar. Fantastis! Shalat selama sepuluh jam, atau kurang lebih, sama dengan 150 kali shalat! Jadi, betapa agungnya fadilah shalat Subuh berjamaah ini, khususnya bagi Kaum Adam. Dan betapa malangnya orang yang ‘tergilas waktu Subuh’, orang-orang yang mengabaikan shalat subuh berjamaah di masjid.

Waktu Subuh juga lebih berbahaya dari kobaran api yang disiram bensin. Mengapa demikian? Karena Rasulullah telah bersabda, bahwa orang yang tidak mampu melaksa-nakan shalat Subuh berjamaah, kedudukan-nya setara dengan orang munafik.
“Sesungguhnya tiada yang dirasa berat oleh seorang munafik, kecuali melaksanakan shalat Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka tahu akan keagungan pahalanya, niscaya mereka bakal mendatanginya (ke masjid, shalat berjamaah) sekalipun harus berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim).

Orang yang ‘tergilas waktu Subuh’ sehingga tak mampu mendatangi masjid untuk shalat berjamaah, sesungguhnya adalah orang yang dalam keadaan terancam bahaya, karena dirinya disetarakan dengan orang munafik. Sebab, ancaman bagi orang munafik adalah Neraka Jahanam.“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam” (An Nisa:140).

Bukankah Jahanam lebih berbahaya dari sekadar kobaran api yang disiram bensin ?

Nah, agar kita tidak merasakan ‘gilasan waktu Subuh’ yang lebih kejam dari perampokan, agar kita tidak terkena ‘gilasan waktu Subuh’ yang lebih menyengsarakan dari derita kemiskinan, dan agar kita tidak terkapar ‘gilasan waktu Subuh’ yang lebih berbahaya dari kobaranapi, maka:“Katakanlah! Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu Subuh” (Al Falaq:1).Yaitu dengan memanfaatkan waktu Subuh sebaik-baiknya. Lakukan shalat sunnah (shalat fajar) dan shalat berjamaah di masjid terutama bagi laki-laki.

Tapi ada satu pertanyaan yang tersisa, yaitu mengapa waktu Subuh bisa menggilas kita? Sebab, kalau kita mau memperhatikan, sesungguhnya waktu Subuh adalah waktu yang paling berat buat kita yang ingin beribadah. Mengapa? Karena waktu Subuh adalah saat paling tenang, sehingga sangat pas buat menenggelamkan diri dalam tidur nyenyak dan bermimpi indah. Ditambah lagi, umumnya, suhu udara waktu Subuh lebih dingin dibanding waktu lainnya – sehingga membuat yang sedang tidur jadi makin merapatkan selimutnya.

Tapi yang paling berbahaya ialah, kalau kita sampai kena kepung pasukan iblis – yang akan mengencingi telinga kita, agar tak bisa mendengar panggilan “Shalat itu lebih baik daripada tiduuurrr!” dari speaker masjid, dan meniup-niup mata kita – sehingga mata kita serasa dilem atau kelopaknya bagaikan dibanduli dengan beban jutaan ton, sehingga “susaaaahhhh betul buat dibuka”.
Nah, suasana waktu Subuh dan hasil daya upaya pasukan iblis itulah yang akan “menggilas” niat kita, tekad kita, buat bangun dan mendirikan sholat. Sehingga kita terus terkapar tanpa daya di atas buaian tidur lelap dan mimpi indah, dan melalaikan shalat fajar serta shalat Subuh berjamaah di masjid. Jadi, jangan anggap remeh kekuatan waktu Subuh dalam mematahkan atau menggilas iman kita, sehingga iman kita tidak bisa bertumbuh dengan subur oleh siraman fadilah shalat fajar dan shalat berjamaah.

Wallahu A'lam

UYM

Jika hatimu sedang ‘lapar’, berwudhulah. Jika masih merasakan resah dan gelisah, maka shalatlah. Jika masih juga merasakan hal yang sama, bacalah Al-Qur’an. Jika belum berubah juga, mohonlah kepada Allah agar memberikan ‘hati yang lain’. Karena hati yang engkau pakai, ‘bukan’ hatimu.
—  Abdullah bin Mas‘ud
# Tiga hal yang WAJIB diperhatikan dalam masalah shalat #

1. Wudhu'nya => hendaknya disempurnakan (bukannya asal-asalan) !

2. Waktu-nya => hendaknya pada waktunya (bukannya diluar waktu) !

3. Thuma'ninahnya => hendaknya menyempurnakan ruku’ dan sujud-nya; dan gerakan-gerakan shalat; dengan tidak berpindah gerakan, hingga tulang punggung tegak, dan kita tenang (bukannya shalat seperti burung mematok makanan) !

Rasuulullaah bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى

“Shalat lima waktu telah Allah ‘Ta’ala wajibkan bagi hamba-Nya.

مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ

(1) Barangsiapa memperbagus wudhunya,

وَصَلاَّهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ

(2) mengerjakan shalat pada waktunya

وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ

(3) menyempurnakan ruku’nya, dan khusyu’ ketika mengerjakannya

كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ

(barangsiapa yang melaksanakan shalat, dengan memenuhi tiga kriteria diatas) maka Allah berjanji akan mengampuninya.

وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

Dan barangsiapa tidak melakukan (hal-hal diatas), maka Allah tidak memiliki janji. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengadzabnya.”

(Shahiih; HR Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya; dishahiihkan syekh al albaaniy)

Semoga bermanfaat

Arti Bacaan Shalat

Takbiratul Ihram —> ALLAAHU AKBAR (Allah Maha Besar)

Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila. (Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi&petang).
Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.
(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit&bumi, dgn penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)
Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.
(Sesungguhnya shalatku, ibadah qurbanku, hidupku&matiku, hny utk Allah Rabb Semesta Alam).
Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.
(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku
diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)

Adapun Rasulullaah ketika membaca surah Al-Faatihah senantiasa satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya. Surah ini memiliki khasiat yang sangat tinggi sekali. Bahkan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah sampai menuliskan makna
iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, dalam satu kitabnya yang berjudul Madarijus Saalikin, dimana beliau bercerita ketika di suatu kota ia menderita sakit, maka ia membacanya per ayat dengan sungguh-sungguh, dan ia rasakan bahwa setiap selesai satu ayat
dibacanya, terasa berguguran sakit yang dirasakannya.
Subhaanallaah.


Mari kita hafal terlebih dahulu arti per ayatnya sebelum kita memaknainya.

Bismillaah, arrahmaan, arrahiim (Bismillaahirrahmaanirrahiim)
(Dengan nama Allaah, Maha Pengasih, Maha Penyayang)
Alhamdulillaah, Rabbil 'aalamiin
(Segala puji hanya milik Allaah, Rabb semesta 'alam)
Arrahmaan, Arrahiim
(Maha Pengasih, Maha Penyayang)
Maaliki, yaumiddiin
(Penguasa, Hari Pembalasan/Hari Tempat Kembali)
Iyyaaka, na'budu, wa iyyaaka, nasta'iin
(KepadaMulah, kami menyembah, dan kepadaMulah, kami mohon pertolongan)
Ihdina, asshiraathal, mustaqiim —> berharaplah dengan penuh
harap ketika membacanya
.
(Tunjuki kami, jalan, golongan orang-orang yang lurus)
Shiraath, alladziina, an'am, ta 'alayhim
(Jalan, yang, telah Engkau beri ni'mat, kepada mereka)
Ghayril maghduubi 'alaihim, wa laddhaaaalliiin.
(Bukan/Selain, (jalan) orang-orang yang telah Engkau murkai, dan bukan (jalan) orang-orang yang sesat)

Melanjutkan tulisan yang ketiga, maka setelah membaca Surah Al-Faatihah, maka hendaknya kita membaca ayat-ayat Al-Qur'an.

Quote: Ruku’
Lalu ruku’, dimana ketika ruku’ ini beliau mengucapkan
bermacam-macam dzikir dan do'a. Kadangkala beliau
mengucapkan yang ini dan kadangkala mengucapkan yang itu :

1. Subhaana, rabbiyal, 'adzhiimi.
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Agung)
—> dzikir ini diucapkan beliau sebanyak tiga kali.
(Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, Ad Daaruquthni,
Al-Bazaar, dan Ath-Thabarani)
—> kadangkala juga beliau membacanya berulang-ulang lebih
banyak dari tiga kali, dan sesekali beliau
berlebihan dalam mengulanginya ketika shalat lail (malam), sehingga lama ruku'nya hampir mendekati
lama berdirinya.

2. Subbuuhun, qudduus, rabbul malaaikati, warruuh.
(Maha Suci Engkau ya Allaah, Pemberi berkah, Tuhan malaikat, dan ruh) –> Riwayat Muslim
3. Allaahumma, laka raka'at, wa aamantu, wa laka aslamtu, (Yaa Allaah, kepadaMu, kuserahkan ruku'ku, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku Islam (menyerahkan diri).
anta rabbiiy, khasa'a laka sam'iiy, wa bashariy, wa mukhyii, wa'adzhomii, wa fii riwaayah
(Engkau Tuhanku, KepadaMulah pendengaran, penglihatan, otak, tulang, dan syarafku tunduk)
wa mastaqallat bihi, qadamii, lillaah, rabbil 'aalamiin.
(Dan apa yang dibawa kakiku, kuserahkan, kepada Allah, Tuhan semesta alam)
(HR. Ad-Dharuquthni)

Memperpanjang Ruku’
Diriwayatkan bahwa :
“Rasulullaah Sallallaahu 'alayhi wa sallaam, menjadikan ruku'nya, dan bangkitnya dari ruku’, sujudnya, dan duduknya di antara dua sujud hampir sama lamanya.”
(Hadits Shahih Riwayat Imam Bukhari dan Muslim)


I'tidal
Rasululullaah Sallaahu 'alayhi wa sallaam mengangkat
punggungnya dari ruku’ sambil mengucapkan,
“Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim)
Maka ketika kita i'tidal atau bangkit dari ruku, sambil mengangkat kedua tangan sejajar bahu ataupun sejajar telinga, maka kita mengucapkan :
Sami'allaahu, li, man, hamida, hu
(Mudah-mudahan mendengar Allah, kepada, sesiapa yang, memuji, Nya)
Sesungguhnya imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Oleh karena itu, apabila ia mengucapkan "sami'allaahu liman hamidah”,
maka ucapkanlah “rabbanaa lakal hamdu”, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkahNya, dan bertambah-tambahlah keluhuranNya telah berfirman melalui lisan NabiNya saw., “Mudah-mudahan Allah
mendengarkan (memperhatikan) orang yang memujiNya”.

(Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan Abu Daud)
Maka mari kita baca :
Rabbanaa, lakal, hamdu
(Yaa Tuhan kami, bagiMulah, segala puji)
Kadangkala lafadzh diatas beliau tambahkan seperti :
mil assamaawaati, wa mil al ardhi, wa mil a maa shikta, min shai in, ba'du
(Sepenuh langit, dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki, dari sesuatu, sesudahnya)
Kalimat diatas didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu 'Uwanah)
Quote:

Sujud
Ketika kita sujud, maka dengan tenang hendaknya kita
mengucapkan do'a-do'a sujud seperti yang telah dicontohkan Rasulullaah SAW.

1. Subhaana, rabbiyal, a'laa
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur)
Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali, dan kadangkala beliau mengulang-ulanginya lebih daripada itu.
2. Subhaana, rabbiyal, a'laa, wa, bihamdi, hi
(Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan, aku memuji, Nya)
3. Subbuuhun, qudduusun, rabbul malaaikati, warruuh
(Maha Suci, Pemberi Berkat, Tuhan malaikat, dan ruh)

Duduk antara dua Sujud
Ketika kita bangun dari sujud, maka hendaklah kita berdo'a sepertinya do'anya Rasulullaah, dan bacalah do'a tersebuh dengan sungguh-sungguh, perlahan-lahan, dan penuh pengharapan kepada Allah Subhaana wa Ta'ala.
Di dalam duduk ini, Rasulullaah SAW mengucapkan :

Allaahummaghfirlii, warhamnii, wajburnii, warfa'nii, wahdinii, wa'aafinii, warzuqnii
(Ya Allaah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupilah
kekuranganku, sehatkanlah aku, dan berilah rizqi kepadaku)
Dari Hadits yang diriwayatkan Muslim, bahwa Rasulullaah saw, kadangkala duduk tegak di atas kedua tumit dan dada kedua kakinya. Beliau juga memanjangkan posisi ini sehingga hampir mendekati lama sujudnya (Al-Bukhari dan Muslim).

Duduk At-Tasyaahud Awal
(Mari dihafalkan setiap katanya sehingga shalat kita lebih mudah untuk khusyuk)
Attahiyyaatulillaah, wasshalawatu, watthayyibaat.
Segala ucapan selamat adalah bagi Allaah, dan kebahagiaan&kebaikan.
Assalaamu 'alayka * , ayyuhannabiyyu, warahmatullaah, wa barakaatuh.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepadamu *, wahai Nabi&beserta rahmat Allah&berkatNya.
Assalaamu 'alaynaa, wa 'alaa, 'ibaadillaahisshaalihiiin.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada kami pula, dan kepada sekalian hamba-hambanya yang shaleh.
Asyhadu, allaa, ilaaha, illallaah.
Aku bersaksi, bahwa tiada, Tuhan, kecuali Allaah.
Wa asyhadu, anna muhammadarrasulullah.
Dan aku bersaksi, bahwa muhammad, hambaNya, dan RasulNya. * Hal ini ketika beliah masih hidup, kemudian tatkala beliau wafat, maka para shahabat mengucapkan :
Assalaamu 'alannabiy.
Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada Nabi.
Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu 'Uwanah, Asy-Syafi'i, dan An-Nasa'i.
Dari Ibnu 'Abbas :

Attahiyyaatul mubaarakaatusshalawaatutthayyibaatulillaah.
Assalaamu 'alayka ayyuhannabiyyu warahmatullaahi wa barakaatuh. Assalaamu 'alayna wa 'alaa 'ibaadillaahisshaalihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallaah.
Wa asyhadu annaa muhammadarrasuulullaah.

(dalam riwayat lain : Wa asyhadu annaa,muhammadan, 'abduhu, warasulluh.)

Berikut kita ambil sebuah hadits yang sudah umum di kita, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Al-Humaidi, dan Ibnu Mandah.

Allaahumma, shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa, aali muhammad.
Ya Allaah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada, keluarga Muhammad
Kamaa, shallayta, 'alaa ibrahiim, wa 'alaa, aali ibraahiim.
Sebagaimana, Engkau telah memberikan kebahagiaan, kepada Ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.
Innaka, hamiidummajiid.
Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Allaahumma, baarik, 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad.
Ya Allaah, berikanlah berkah, kepada Muhammad, dan kepada, keluarga Muhammad
Kamaa, baarakta, 'ala ibraahiim, wa 'alaa, aali ibraahiiim.
Sebagaimana, Engkau telah memberikan berkah, kepada ibrahim, dan kepada, keluarga Ibrahim.
Innaka, hamiidummajiid.
Sesungguhnya Engkau, Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Carilah kebahagiaan di dalam tiga hal: ketika kau sedang mengingat Allah (dzikir), ketika kau sedang shalat, dan ketika kau sedang membaca Al-Quran. Jika kau tak menemukan kebahagiaan di dalam tiga hal tersebut, maka sesungguhnya hatimu sedang kotor.
—  Ibnul Qoyyim Al Jauziyah
Lima Tingkatan Shalat

Tingkatan Pertama
            Tingkatan orang yang tidak menjaga waktu shalat, wudunya, rukun-rukun lahiriahnya, dan khusyuknya. Orang seperti ini dihukum atas shalatnya menurut ijmak para ulama.

Tingkatan Kedua
           Tingkatan orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudu, serta menjaga rukun-rukun lahiriahnya. Namun, ia tidak memerhatikan kekhusyukannya. Orang ini akan dihisab shalatnya dengan hisab yang sulit. Banyak manusia yang berada di tingkatan ini.

Tingkatan Ketiga
          Tingkatan orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudu, menjaga rukun-rukun lahiriahnya, dan berjuang keras melawan setan dalam shalat, khusyuk di awal, lalu setan dating “mencuri” shalatnya. Lalu ia kembali berjuang. Demikian seterusnya. Orang ini diampuni.
          Ia berada dalam shalat dan jihad. Untuknya dua pahala: pahala shalat di saat khusyuk dan pahala perjuangan melawan setan. Ini tingkatan yang benyak terulang. Kondisi dan keadaan manusia selalu berubah secara drastis. Setan berusaha untuk memanfaatkan berbagai kesempatan.

 Tingkatan Keempat
         Tingkatan orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudu, menjaga rukun-rukun lahiriahnya, serta khusyu dalam shalatnya. Ini adalah tingkatan yang tinggi. Ia berhasil melawan setan setelah perjuangan hebat. Orang ini mendapat pahala. 

Tingkatan Kelima
          Tingkatan orang yang menjaga waktu shalat, menjaga wudu, menjaga rukun-rukun lahiriahnya, menjaga kekhusyukan, lalu melepaskan kalbunya dan menyerahkannya kepada Allah Swt.
          Jadi ia tidak berada di dunia. Ia bersama Allah Swt. Ia tidak lagi terkait dengan dunia, tidak lagi melihat dan mendengar. Barangkali saat semua manusia di sekitarnya mati, ia tidak mengetahuinya. Inilah yang dimaksudkan Rasulullah saw., Orang ini dekat dengan Tuhan.

 Lantas, Di tingkat manakah kita? 

External image

Semoga Allah Swt. menempatkan kita di tingkatan orang yang dekat dengan-Nya. Amin

dikutip dari “Meminta dan Mencinta” karya Amru Muhammad Khalid

bacanya merinding. mari jadikan ini sebagai pengingat bersama. semoga ibadah kita lebih baik lagi amiin

#shalat oleh @salimafillah

1. #Shalat adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dengan kekuatan yang abadi..

2. #Shalat adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber aliran yang tak pernah kering..

3. #Shalat adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju sunyata alam raya..

4. #Shalat adalah angin bersepoi, embun menitik, dan awan berarak di siang nan terik, sentuhan lembut pada hati yang letih dan payah..

Keep reading

Belajar shalat itu tiada akhirnya. Dipanggil Tuhan nggak berangkat. Dipanggil bos langsung berangkat. Apa perlu bosnya yang adzan?
—  Dharma Setyawan

Mari menilah ketauhidan kita lewat suara adzan, ternyata adzan tidak berlaku untuk mereka yang tak dipanggil oleh ALLAH, seberapa inginnya ALLAH berdekatan dengan hamba2 pilihannya tergantung seberapa kita mampu meletakkan rasa itu.

Adzan adalah undangan yang sifatnya terbatas. Kita semua yang memiliki telinga sehat boleh saja mendengar, tapi hanya “yang diundang saja” yang boleh hadir dalam acara shalat jamaah tersebut. Silahkan perhatikan di saat-saat adzan tiba di masjid dekat kita. Menakjubkan. Perhatikan lagi sifat orang-orang saat mendengar panggilan adzan.
Coba lihat ketika shalat tiba. Kini coba perhatikan bagaimana seharusnya kita menjawab adzan. Jika kalimat “Allahu Akbar” x2 maka kita menjawab dengan kalimat yang sama. Namun pada saat kalimat “hayya ‘ala sholah” (ayo dirikan shalat) maka kita jawab dengan “laa haula walaa kuwwata illaa billaah” (tiada daya upaya kecuali dengan izin Allah)

Lebih menarik untuk membahas mereka yang tidak diundang. Apakah lalu mereka adalah bisu, tuli sehingga tidak mampu lagi mendengar dan mengikuti panggilan Ilahi? Ataukah mereka termasuk kaum yang “tidak/belum mendapatkan izin”? Mereka atau kita? Yang pasti bagi saya, ini membuktikan satu hal : Surga memang tidak murah dan yang kedua, memang sulit untuk memiliki hati yang bening yang mampu mendengarkan panggilan ALLAH :)