shalat

Shalat

“Aa, Abang, Kaka. Masuk kamar!” suara Ayah tegas dengan nada dan volume cukup tinggi namun bermimik wajah lembut.

Ada apa gerangan? Ayah hampir tidak pernah sekeras ini saat berbicara. Terakhir ia berucap keras, itupun tidak sekeras orang-orang di sekitar rumahku yang gemar sekali bertengkar untuk mempersoalkan hal sepele, sekitar 3 bulan lalu saat Ayah beradu mulut dengan Ibu yang berujung perginya Ibu dari rumah. Meninggalkan 3 orang anaknya yang menangis tak berdaya. Dan kembalinya Ibu setelah seminggu lamanya pergi menghadirkan keharuan dan ucapan maaf dari Ayah.

Kami bertiga masuk ke kamar, menuruti perintah Ayah dengan kepala tertunduk. Peluh masih membasahi sekujur punggung, kami baru pulang bermain bola di kampung sebelah saat adzan Isya telah berkumandang. Memang kami terlalu larut bermain.

Kamar itu sebenarnya sebuah garasi yang disulap menjadi tempat tidur bersama dan ruang serbaguna dengan penerangan lampu seadanya. Aa bersila diantara aku dan Kaka yang juga ikut bersila. Kami sering disebut ‘Tiga Serangkai’ oleh tetangga karena selalu bertiga kemana-mana. Ayah pun bersila di hadapan kami. Wajahnya mempertontonkan kekecewaan yang semakin membuat kami ciut.

“Kenapa pulang selarut ini?”Ayah mulai menginterogasi kami.

Aa sebagai kakak lelaki pertama memposisikan diri sebagai juru bicara dan mulai berkilah panjang tentang alasan kenapa pulang larut malam. Mulai dari sendal Kaka yang hilang sebelah karena dijahili anak kampung sebelah hingga diajak main Playstation setelah main bola oleh Dodi, tetangga sekaligus teman karib kami bertiga.

“Sudah shalat maghrib?”

Sebuah pertanyaan yang mencekat. Aa diam membeku. Apalagi aku, Apalagi Kaka yang paling muda. Kami betul-betul lupa waktu saat itu. Hanya menundukkan kepala yang bisa kami lakukan. Mungkin karena ini wajah ayah begitu kecewa.

“Bu, tolong matikan lampu”, suara Ayah lembut kepada Ibu.

Ibu yang semenjak awal ternyata mendengarkan di balik pintu kemudian masuk dan mematikan lampu lalu duduk di samping Ayah. Kamar seketika gelap gulita.

“Apa yang bisa kamu lihat sekarang?”

Hening.

“Semua gelap. Lihat sekeliling kamu, hanya ada hitam. Tapi ulurkan tanganmu ke kanan dan ke kiri. Kamu akan merasakan genggaman tangan saudaramu dan Ayah Ibu.”

Kami saling menggenggam.

“Tapi tidak lagi saat nanti di alam kubur. Karena kamu akan sendirian dalam kegelapan. Tidak ada saudaramu. Tidak ada Ayah Ibu. Hanya sendiri. Sendiri dalam kegelapan dan kesunyian.”

Aku tercekat. Semua terdiam. Genggaman tangan di kanan kiriku mengerat. Lalu terdengar suara korek api kayu dinyalakan, sesaat tergambar wajah Ayah, Ibu, Aa, dan Kaka akibat kilatan cahaya api pada korek yang dinyalakan Ayah. Semua berwajah sendu. Korek itu membakar sebuah benda yang menghasilkan bara berbau menyengat. Bau obat nyamuk.

“Siapa yang berani menyentuh bara ini?” Suara Ayah masih mendominasi.

Semua diam. Masih diam.

“Ini hanya bara. Bukan api neraka yang panasnya jutaan kali lipat api dunia. Maka masihkah kita berani meninggalkan shalat? Shalat yang akan menyelamatkan kita dari gelapnya alam kubur dan api neraka.”

Terdengar suara isak tangis perempuan. Itu Ibu. Genggaman kami semua semakin menguat.

“Tolong Ayah. Tolong Ibu. Ayah Ibu akan terbakar api neraka jika membiarkan kamu lalai dalam shalat. Aa, usiamu 14 tahun, paling dewasa diantara semua lelaki. Abang, 12 tahun. Kaka, 10 tahun. Bahkan Rasul memerintahkan untuk memukul jika meninggalkan shalat di usia 10 tahun. Apa Ayah perlu memukul kamu?”

Suara isak tangis mulai terdengar dari hidung kami bertiga. Takut. Itu yang kurasakan. Kami semua saling mendekat. Mendekap, bukan lagi menggenggam.

“Berjanjilah untuk tidak lagi meninggalkan shalat. Apapun keadaannya. Sekarang kita shalat Isya berjamaah. Dan kamu bertiga mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”


Sebuah cerpen pengingat.

Senin, 17 Oktober 2016, 0:01 WIB

anonymous asked:

Bagaimana caranya biar bisa rajin sholat? Saya orangnya sering lalai dalam sholat. Apalgi dlm keadaan lelah. Trima ksh sebelumnya atas jawabannya

Hai!

Alhamdulillah, saya senang sekali membaca pertanyaan ini.

Anda punya niat baik untuk bisa rajin shalat. Semoga Allah mudahkan dan bukakan jalan-Nya untuk Anda.

Begini janji Allah:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” 

(Al-Ankabut: 69)


Saya ingin menjawab pertanyaan Anda dengan berbagi apa yang saya alami sendiri dan apa yang saya amati dari orang-orang di sekitar saya.

Pertama, ada yang rajin shalat karena kebiasaan. Sejak bayi, mereka sering menyaksikan orang tuanya shalat. Setelah tumbuh sedikit besar, mereka juga diajak orang tuanya untuk ikut shalat. Ada yang mulai pada usia 7 tahun, 5 tahun, atau bahkan lebih kecil lagi. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga akhirnya mereka dewasa.

Shalat menjadi otomatis bagi mereka, apapun kondisinya. Sebagaimana kebiasaan lainnya, kita akan merasa feels wrong kalau kebiasaan kita terusik.

Kedua, ada yang rajin shalat karena pemahaman. “Shalat adalah rukun Islam kedua” tidak hanya menjadi hafalan semata, dan “shalat adalah tiang agama” tidak hanya menjadi kata mutiara belaka.

Anda bayangkan, “rukun Islam kedua”, “tiang agama”. Arti sederhananya adalah, kalau kita masih ingin dilihat Allah sebagai seorang muslim, maka shalat adalah salah satu komitmen yang mesti kita jaga.

Ketiga, ada yang rajin shalat karena kebutuhan. Bagi mereka, shalat adalah sesuatu yang mereka nantikan (bukan dinanti-nanti ya). Mereka merasakan kenikmatan setiap melaksanakan shalat. Ada penyegaran, ada kekuatan, ada suatu energi yang meresap ke dalam hati dan jiwa mereka setelah menunaikan shalat.

Jangankan shalat wajib yang 5 waktu, shalat sunnah mereka jajal sebanyak mungkin: dhuha, rawwatib (sebelum dan sesudah shalat), apalagi tahajjud. Justru, bagi mereka, shalat adalah saatnya jiwa mereka beristirahat.


Pada kenyataannya, perilaku shalat kita tentu merupakan perpaduan antara tiga spektrum tersebut, hanya saja kadarnya dalam setiap orang berbeda-beda.

Saya memandang ketiga spektrum tersebut sebagai lapisan-lapisan. Lapisan terendahnya adalah kebiasaan dan lapisan tertingginya adalah kebutuhan. Jadi, kalau lagi sholeh-sholehnya, kita bisa merasakan shalat sebagai kebutuhan, tapi kalau lagi serba kacau paling engga kebiasaan kita membuat kita tetap melakukannya.

Jadi, saran praktis saya adalah:

1. Pancangkan lagi komitmen Anda, kuatkanlah kemauan Anda, dan mohonlah agar Allah menguatkan Anda. Sebab sebaik-baik dorongan adalah dorongan yang lahir dari dalam diri kita, bukan dari luar. Tidak ada dorongan eksternal yang mampu mengubah diri kita, melainkan kita mengizinkannya masuk lalu berkolaborasi dengan motivasi internal kita.

2. Ketika Anda merasa lelah dan hampir menyerah dari shalat, ingatlah bahwa ada ratusan juta muslim di dunia ini, atau paling tidak jutaan orang di Indonesia, yang bekerja keras seperti Anda, namun tetap mampu menjaga shalatnya. Mungkin Anda perlu seorang role model, cobalah cari seseorang yang Anda kagumi yang selalu menjaga shalatnya.

3. Ada aksioma atau doktrin, “We are creatures of habit”. Maka mulailah membangun shalat paling tidak sebagai suatu kebiasaan.

4. Jika pemahaman mengenai hakikat, tujuan, konsekuensi dari shalat mampu memuaskan Anda lalu membuat Anda lebih bersemangat dalam menjaga shalat, maka carilah ilmu-ilmu mengenai shalat. Tentu baik jika Anda bisa menghadiri majelis-majelis ilmu, namun bahkan Anda bisa mulai belajar saat ini juga dengan mengakses Youtube. Salah satu favorit saya adalah Ustadz Nouman Ali Khan, misalnya di video ini: 

5. Suatu hari nanti, misalnya Anda sedang terjebak dalam sebuah masalah yang sangat pelik, Anda sangat tertekan, stress, mau meledak, cobalah bangun pada jam 2-3 pagi, dan lakukanlah shalat tahajjud.

Mulailah dengan 2 raka’at, bacalah apapun hafalan Qur’an yang Anda miliki. Resapi setiap bacaan dan gerakan Anda. Rasakan bahwa Anda sedang menghadap kepada pencipta Anda, yang selalu menyaksikan Anda, mengawasi Anda, mengurusi Anda tanpa Anda ketahui.

Rasakan, begitu Anda sujud, bahwa Anda lemah. Rasakan submission, kepasrahan, penyerahan diri Anda kepada Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Kuat, Maha Menolong.

Anda bisa menambah raka’at Anda menjadi 4, 6, 8, atau lebih jika Anda ingin, tutup dengan shalat witir (shalat beraka’at ganjil).

Lalu angkatlah kedua tangan Anda dan berdoalah. Utarakan segala tekanan dalam hati Anda kepada-Nya. Keluarkan semuanya. Mintalah apapun kepada-Nya.

Semoga Anda bisa merasakan betapa nikmatnya shalat, betapa Anda memerlukan shalat.

Biasanya, dalam kondisi sangat tertekan, kita lebih mudah menikmati shalat dan mendekati Allah.


Demikian saran-saran dari saya, semoga ada yang bernilai manfaat. Mohon maaf ya kalau sok menggurui, saya dan banyak muslim lainnya pun masih selalu struggle untuk menjaga konsistensi dan kualitas shalat.

Kalau ada teman-teman lain yang mau menambahkan, sangat dipersilakan, semoga nilai manfaatnya bertambah.

Semangat ya semuanya!

i think the fact that sana never gets the chance to finish her prayer parallels to isak’s locker giving him a hard time, just like isak’s locker is a metaphor of him being closeted and the fact that in the last episode his locker managed to be closed without any struggle mirrors the fact that now hes comfortable with his sexuality, we’ll get a glimpse of sana finishing her shalat (prayer) in the last episode as a metaphor of her finally being “understood” and fitting in

‘Ibaadurrahman, Hamba Allah yang Maha Pengasih

Dalam QS Al-Furqan: 63-76, Allah menyebutkan tentang karakteristik ‘ibaadurrahman. Hamba Allah dalam bahasa Arab disebut ‘abd, dan jamaknya biasanya ‘abiid. Namun ‘abiid berarti semua jenis hambaNya, sedangkan ‘ibaad digunakan untuk hambaNya yang spesial. Nama Allah yang digunakan dalam ayat ini adalah Ar-Rahman, yang menggambarkan kasih sayang Allah yang bersifat segera, saat ini. Maka inilah ciri-ciri hamba yang mendapatkan limpahan kasih sayang dari Allah.

  1. Rendah Hati (QS Al-Furqan: 63). Bagaimana saya tahu jika saya rendah hati? Yaitu jika ada orang yang sombong/kasar/marah berkata sesuatu yang tidak menyenangkan pada kita, kita membalasnya dengan “salaam”, artinya dengan tenang, damai, dan tidak balik marah padanya. Kita tidak tahu kenapa orang itu berkata kasar/marah, mungkin ada suatu hal yang terjadi dalam hidup mereka. Kendalikan amarah, rasa bangga diri, dan ego bahkan jika kita benar. Ingat kisah Imam Abu Hanifah dan ibunya. Dan bahkan Nabi Musa diperintahkan mendakwahi Firaun yang zhalim dengan cara yang baik (QS Thaha: 44)
  2. Qiyamul Lail (QS Al-Furqan: 64). Mereka yang mengisi sebagian malam dengan beribadah pada Allah, sebagaimana diperintahkan dalam QS AL-Isra:79.
  3. Berdoa Minta Dijauhkan dari Neraka (QS Al-Furqan: 65-66). Bagaimana kalau ada yang berpikir, “ah saya senang-senang bentar deh di dunia, melanggar dikit gak apa-apa, paling nanti masuk neraka beberapa hari aja”. No no no! ‘Ibaadurrahman adalah mereka yang tidak mau barang sedetik pun berada di neraka dan meminta pada Allah untuk dijauhkan dari neraka. Karena hukuman paling ringan di neraka saja sudah sangat mengerikan. 
  4. Bijak dalam Menggunakan Uang (QS Al-Furqan: 67). Mengeluarkan uang dengan tidak boros, namun juga tidak pelit.
  5. Bagian ini sebenarnya terdiri dari 3 hal (QS Al-Furqan: 68-69):
    1. Tidak menyekutukan Allah,
    2. Tidak membunuh yang diharamkan untuk dibunuh,
    3. Tidak berzina; 3 hal ini sepertinya mudah saja bagi muslim, namun ternyata ada yang kesulitan untuk menghindarinya, misalnya orang yang lahir di lingkungan gangster. Kalau sudah tahu ini salah tapi tetap melakukan, azabnya bisa dobel di akhirat kelak. Namun jika bertobat kemudian melakukan amal shalih, insya Allah kejahatan yang pernah dilakukan akan diganti dengan kebaikan (QS Al-Furqan: 70-71). Tapi jangan sekali-kali mengecilkan dosa. Karena jika kita mengecilkan dosa, maka menurut Allah dosa itu besar.
  6. Menjaga Diri dari Memberikan Kesaksian Palsu dan Perbuatan Sia-sia (QS Al-Fuqan: 72). Jika melihat orang yang melakukan pekerjaan sia-sia, dia melaluinya dengan tetap menjaga kehormatan dirinya. Tidak ikut-ikutan melakukan hal sia-sia yang tidak membawa manfaat apapun.
  7. Patuh Mengikuti Nasehat/Ayat Allah (QS Al-Furqan: 73). Bila diingatkan tentang ayat-ayat Allah, ia tidak menanggapinya seperti orang yang bisu dan tuli (pura-pura tidak dengar), atau didengarkan tapi tidak dijalankan.
  8. Orang yang Berdoa untuk Keluarganya (QS Al Furqan: 74). Mereka yang berdoa agar pasangan dan keturunannya menjadi Qurrota A’yun dan menjadi keluarga yang kuat untuk jadi pondasi umat yang kuat.

Mereka itulah yang dibalas dengan surga, dan mereka kekal di dalamnya.

Full lecture: Who Gets Allah’s Mercy

-HS-

Pernah suatu ketika, seorang pria membaca qur'an tapi tidak merasakan perubahan apapun.

Sejak kecil, pria itu memang dididik untuk membaca Qur'an, mulai dari pengajian di rumah hingga mengikuti sekolah mengaji.diluar.

Saat kecil hingga remaja, pria tersebut jarang mengkhatamnkan atau menamatkan, selalu berkutat di juz terakhir berulang-ulang.

Pernah di suatu Ramadhan ketika pria tersebut kuliah, ia menargetkan diri untuk khatam. Alhamdulillah, pria itu bisa mengkhatamkannya.

Namun, entah kenapa, setelah khatam membaca semua, pria itu tidak merasa ada perubahan yang signifikan dalam dirinya. Padahal, kata ustadznya, Qur'an itu petunjuk, tapi ia tidak mendapatkan petunjuk apapun. Katanya Qur'an itu penyejuk, tapi dia tidak merasakan kesejukan apapun. Katanya Qur'an itu menenangkan, tapi ia tidak merasakan ketenangan apapun.

Bingung, namun pria itu tidak lantas meninggalkan Qur'an, namun ia bertanya dalam dirinya, “Nampaknya, ada yang salah dengan cara saya membaca Qur'an”.

Akhirnya, selepas ramadhan di tahun 2016, ia mulai mengubah cara mengajinya. Kini ia tak hanya membacanya secara biasa, namun ia juga kini membaca artinya. Selepas shalat, ia membaca beberapa halaman, lalu kembali ke awal untuk membaca artinya saja. Akhirnya, pria ini mulai mengerti, apa arti dari kalimat yang ia baca. Sedikit demi sedikit, isi qur'an mulai ia pahami.

Namun, baca arti saja baginya tidak cukup, kadang ia masih kesulitan untuk memahami Qur'an tersebut. Karena, banyak potongan ayat yang nampak tidak jelas dan tidak berkesinambungan. Ia tahu, masih ada ilmu yang ia pahami.

Lantas, pria ini, secara tidak sengaja membuka sebuah kajian di youtube, kajian tentang sirah nabawiyah atau sejarah nabi yang juga menceritakan bagaimana islam diturunkan oleh Allah kepada seluruh alam melalui Nabi Muhammad SAW.

Pria ini sesungguhnya tidak menyukai pelajaran sejarah, belajar sejarah baginya adalah hal yang membosankan, tak ada beda seperti dongeng-dongen sebelum tidur. Namun, kalimat pembuka sang ustadz di youtube itu sangat menjanjikan. “Jika kita memahami sirah nabawiyah, maka kita akan memahami Qur'an, baik makna serta alasan kenapa sebuah ayat diturunkan.” ya kalimat tersebut cukup menggoda sang pria untuk memelajari Sirah Nabawiyah.

Akhirnya, setelah 80 jam mendengarkan sirah nabawiyah dengan total 40 episode, muncul kecintaannya terhadap Qur'an. ia mulai memahami sedikit demi sedikit, alasan kenapa ayat ini turun, atau ayat ini menjelaskan apa, atau kenapa urutannya berbeda, sedikit demi sedikit ia belajar. Seperti bagaimana ia tercengan dengan kisah al-kafirun, atau kisah turunnya surah an-noor, dan masih banyak hal lainnya. Dan ia tidak pernah menyesal untuk belajar sejarah nabi, karena itu sangat membantu ia memahami Qur'an yang selama ini ia baca namun tak diresapi.

Kini, pria itu sangat senang tatkala membaca Qur'an, karena kini ia mulai memahami apa arti serta makna dari bacaan yang ia baca. Kini ia paham kenapa Qur'an disebut petunjuk, karena di dalamnya memang ada petunjuk bagi mereka yang ingin kehidupan yang bahagia dunia akhirat. Kini ia paham, kenapa Qur'an disebut penyejuk, karena di dalamnya terdapat penenang bagi mereka yang hidupnya gelisah. Kini ia paham kenapa Qur'an disebut obat, karena di dalamnya terdapat penyembuh bagi hatinya yang sakit karena urusan di dunia. Masih banyak hal luar biasa yang ia dapatkan setelah memahami Al-Qur'an.

Ia pun berharap, bahwa rekan-rekannya yang lain pun, bisa mulai mencintai Qur'an sebagaimana ia mulai mencintainya. Dan semenjak ia mencintai Al-Qur'an, ia mulai menerapkan dan mengamalkannya dalam kesehariannya.

Dan akhirnya, sang pria menarik sebuah kesimpulan

Al-Qur'an itu,
Jika dibaca dengan mata, kita bisa melihatnya.
Jika dibaca dengan mulut, kita bisa melafalkannya.
Jika dibaca dengan arti, kita bisa memahaminya.
Jika dibaca dengan hati, kita bisa memaknai dan mengamalkannya.

Kamu, membaca qur'an, dengan apa?

Choqi-isyraqi

Bu, Kenapa Allah Nggak Kelihatan?

Karya Azka Sa’dan

Anak : ibu, siapa itu Allah dan kenapa kita gabisa ngeliat Allah ?

Ibu : Allah itu adalah Tuhan kita nak, Dia yang menciptakan kita, menciptakan alam semesta, menciptakan bumi tempat kita tinggal sekarang dan banyaaaakk bangeett yang udah Allah ciptakan. Kalau gak ada Allah, mungkin kita gabisa hidup nak, karena udara yang kita hirup sekarang juga Allah yang nyiptain. Hebat kan Tuhan kita?

Anak : iya bu. Tapi kalau Allah itu Tuhan kita, kenapa kita gabisa ngeliat Tuhan yang nyiptain kita sih?

Ibu : Nah, itulah hebatnya Tuhan kita. Kita sama sekali gabisa ngeliat Dia. Tapi, Dia selalu ngeliat kita sayang, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Misalnya adek lagi shalat, lagi ngaji, lagi bantuin ibu, lagi menolong orang, semuanya Allah ngeliat.

Anak : terus kok kita gabisa ngeliat??

Ibu : Karena, Allah ingin kita menyembahNya bukan karena kita bisa melihatnya. Jadi kalau adek shalat, adek beribadah, adek berbuat baik, itu bener-bener untuk Allah. Karena adek sadar, Allah itu ada di dekat kita tanpa kita ketahui sayang. Daann, biar nanti di akhirat, anak ibu bisa ngeliat Allah langsung tanpa penghalang. Jadi surprise deh hehe 😃.

Anak : oh iya aku paham bu, terimakasih ibuku sayang.

Ibu : sama-sama nak ❤️.

Cerpen : Bacaan Quran

Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.

Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.

Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.

Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.

“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.

Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”

Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.

Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.

Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017

amal yaumi

Dulu saya membuat draft Timur dan Barat dengan rasa galau. Saya adalah orang yang selalu menggunakan rasio dalam menilai sesuatu. Nggak mudah bagi saya buat nerima premis:

“Kamu galau karena kurang ibadah“

“Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel karena ibadahnya kuat”

Bagi saya, ada missing link yang harus dijelaskan untuk benar-benar bisa menerima premis di atas. 

dalam otak saya, justeru yang terekam adalah:

Saya galau karena problem saya. 

Muhammad Al Fatih menang karena dia memang cerdik dan serius.

*

segala missing link itu Alhamdulillah mulai terjawab ketika saya mengenal buku-buku syaikh Ash Shallabi. Ada tiga buku beliau yang pernah saya baca. Pertama, Fiqih Tamkin. Kedua, Iman kepada Qadar. Ketiga, Biografi Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz.

Menariknya, dalam ketiga buku ini, meskipun topik bahasannya beda-beda, saya menangkap pemikiran syaikh Ash Shallabi bahwa Allah menetapkan sebuah sunnatullah yaitu manusia harus mau berikhtiar untuk mencapai apa yang dia inginkan.

Dalam fiqih Tamkin, beliau menjelaskan bahwa ada dua sebab kemenangan ummat. Yaitu sebab-sebab maknawi (penguatan ruhiyah) dan sebab-sebab material (penguatan kompetensi dalam pengelolaan sumber daya). Dari sini, saya belajar melengkapi missing link di otak saya.

Saya dulunya yang (mungkin salah) mencerna sehingga beranggapan bahwa amal yaumi adalah semacam senjata pamungkas (dalam artian apapun problem kamu, asalkan amal yauminya kuat, akan terselesaikan). Tapi setelah membaca segala penjelasan syaikh Ash Shallabi, amal yaumi adalah pondasi. Setelahnya, masih banyak hal yang harus kita ikhtiarkan untuk menjadi ummat yang shalih dan produktif.

Mungkin banyak yang bilang:

“Lealah, yo lawas mbak”

Tapi really, untuk orang yang otaknya secara default tercetak if then else kayak saya, hal demikian sangat sulit dipahami. Saya awalnya mikir, bagaimana ibadah bisa ngebuat Al Fatih menang? Kalo Al Fatih nggak faham strategi perang, pasukan ottoman bakal hancur di hadapan tembok Konstantinopel.

ada juga sih yang ngingetin saya:

“Kemampuan manusia terbatas, nggak semua bisa dinalar”

Saya percaya bahwa Allah Maha Berkehendak. Yang andaikata Allah berkehendak memindahkan saya dari Surabaya ke New York dalam satu detik, nggak ada yang sulit. “Kun”, “Fayakun”.

Tapi dengan melihat ada banyak temen yang bilang:

“Gue udah ibadah total banget tapi apa yang gue pengen kok tetep nggak kesampaian. Apa Allah nggak ngejawab doaku?”

rasanya jawabannya nggak cukup dengan prasangka

“mungkin ibadahmu kurang ikhlas”

atau dengan sekedar menjawab

“kamu harus lebih sabar“

dan setelah dicari jawabannya…..

Allah menetapkan sunnatullah bahwa untuk mencapai kesuksesan, kita harus berikhtiar. Syaikh Ash Shallabi menjelaskan dengan gamblang tentang hikmah adanya ikhtiar dalam buku Iman kepada Qadar.

Lantas apa hubungan amal yaumi (penguatan ruhiyah) dengan keberhasilan seseorang? Amal yaumi akan membuat kita senantiasa mengingat Allah serta mengingat akhirat. Secara tidak langsung, amal yaumi adalah karunia yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk menjaga langkah kita agar selalu lurus sehingga kita selamat ketika di akhirat kelak.

Maka jika kita sudah berusaha keras untuk mencapai sesuatu padahal sudah berdoa, jangan sampai kita lantas marah kepada Allah. Teruskan doa, teruskan ikhtiar. Kalaupun setelah ikhtiar sekian lama ternyata takdir sudah diketok dengan kata “Tidak”, insya Allah dalam ikhtiar-ikhtiar kita ada pelajaran-pelajaran yang membentuk kepribadian kita menjadi lebih baik dan lebih kuat bila kita mau berbaik sangka, merenung dan belajar.

Tidak ada yang sia-sia dalam ikhtiar menuju kebaikan, sekalipun ikhtiar tersebut tidak berhasil.

Contoh orang shalih dengan ruhiyah yang kuat dan kompetensi sangat mumpuni adalah Umar bin Abdul ‘Aziz. Muhammad Al fatih juga masuk kriteria ini. Tapi saya masih kurang literatur tentang kebijakan-kebijakan politik Sultan Muhammad Al Fatih sementara kisah yang dijabarkan oleh Syaikh Ash Shallabi dalam biografi Umar bin Abdul ‘Aziz memberikan gambaran yang lebih lengkap bahwa ‘Umar yang mampu membawa daulah islam menuju kejayaan hanya dalam jangka waktu dua tahun bukanlah pribadi yang instan dibentuk dengan amal yaumi saja.

Beliau lahir dari keluarga politik, pernah menjadi gubernur dan mengambil peran sebagai oposisi khalifah, pernah salah menghukum seseorang hingga membuat beliau menyesal dan mengundurkan diri dari posisi gubernur, dan pernah menjadi penasihat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Dilihat dari track record nya saja kita bisa menyimpulkan bahwa beliau sangat kompeten menjadi khalifah. Ditambah dengan reputasi beliau sebagai ulama.

Kita mungkin lebih mengenal ‘Umar sebagai Khalifah. Namun syaikh Ash Shallabi juga menyebutkan bahwa Umar sangat kompeten untuk berijtihad. Dari sini, kita tentunya bisa membayangkan bagaimana pemahaman ‘Umar terhadap Al Qur’an dan Hadits. Tentunya hal ini juga bukan sesuatu yang instan.

Dulu, saya pernah berpikir untuk mengurangi kadar amal yaumi dengan asumsi saya akan mempelajari kompetensi profesi saya dengan baik dan diniatkan untuk ibadah. Tapi dari waktu ke waktu, saya membuktikan bahwa pikiran saya salah. Amal yaumi itu seperti sumber tenaga yang ketika kita nggak melakukannya sama sekali, jalan kita akan terpincang-pincang. Bisa jadi kita akan lupa tujuan jika silaunya dunia mulai menggoda.

Bagaimanapun, kita perlu memperkuat interaksi kita dengan Allah lewat amal-amal yaumi kita. Umar bin ‘Abdul Aziz berinteraksi dengan Al Qur’an dengan cara yang amat baik. Beliau senantiasa membaca dan menghayati makna ayat-ayat yang beliau baca. Malam-malam beliau dihabiskan dengan tahajud. Akhlak beliau Qur’ani.

Maka benarlah seperti yang disampaikan syaikh Ash Shallabi bahwa sebab maknawi dan sebab materi dalam ikhtiar menggapai kemenangan harus berjalan beriringan.

*

PS:

daritadi ngomongin amal yaumi, sebenarnya apa sih amal yaumi itu? Amal yaumi adalah kegiatan sehari-hari untuk mendekatkan diri kita kepada Allah. Di antaranya:

1) Shalat sunnah

2) Membaca Al Qur’an 

3) Menghadiri majelis ilmu

4) Bersedekah

5) Dzikir

Kadarnya bisa kita atur masing-masing sesuai kemampuan. Tapi usahakan istiqomah dan meningkat dari waktu ke waktu.

dari bukunya Syaikh Qardhawi “Bagaimana berinteraksi dengan Al Qur’an”, gue dapet insight bahwa kita semestinya meningkatkan interaksi dengan Al Qur’an yang nggak sekedar tilawah tapi juga berusaha memahami maknanya. Syaikh As Sudais membaca ayat:

“Yauma naquulu li jahannama halimtala’ti wa taquulu hal min maziid”

dalam surat Qaaf, di ulang tiga kali sambil sesenggukan. Meanwhile gue, baca ayat apapun tetap dengan flat karena nggak ngerti artinya. Bikin prihatin :(

Satu lagi amal yaumi yang tak boleh kita lupa yaitu menghadiri majelis ilmu atau minimal baca buku untuk menambah wawasan kita tentang Islam. Sebab jika kita tidak istiqomah mengupgrade pamahaman, akan sulit bagi kita untuk memelihara diri kita untuk tetap di jalan yang lurus ketika cobaan datang bertubi-tubi.

Jika hati galau, bacalah Al Qur’an dan segera selesaikan sumber kegalauanmu :)

Jangan jadikan Al Qur’an sebagai tempat lari dari masalah tapi jadikan Al Qur’an sebagai bekal untuk menyelesaikan masalah yang kita punya.

Empat Hal Penghambat Rezeki

Pertama,
Tidur Pagi.

Kedua,
Sedikit shalat.

Ketiga,
Malas-malasan.

Keempat,
Sifat Khianat.

(Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma'ad, 4:378)

Rasa-rasanya kayak headshoot gtu :’

anonymous asked:

Kak, temenku muslim. Akhir2 ini dia sering mempertanyakan kebenaran agama Islam. Aku bingung ngejawabnya gitu kak. Dia bilang kan kita islam juga turun temurun. Kemudian dia bilang jg "untukku agamaku, untukmu agamamu", berarti Allah jg bilang kalau agama itu lebih dr satu kan bukan islam doang? Dia cerita juga kalau kayak2 pastur yg bs sembuhin org sakit itu dpt kuasa drmn? Atau ada buku mengenai pertanyaan2 begini ga kak? Aku takut temenku ini nantinya mudah kegoda agama lain kak :(

lanjutan) Tapi dia percaya kalau islam agama yg benar. Tapi kata dia, semua agama pasti berpikir agamanya yg benar jg kan? Gitu katanya. Dia kayaknya gampang goyah gitu kak

Wow, pertanyaan yang sangat dalam. Saya jawab tapi mungkin agak panjang karena menyeluruh, karena kalau dijawab setengah-setengah, akan kurang baik, siapkan 3 menit untuk baca ini. Dan semoga ini juga menjadi hidayah, baik bagi anon, maupun semua muslim di jagat tumblr

BAGAIMANA MEMASTIKAN ISLAM ITU BENAR?

Apakah 2 + 2 = 4? Jawabannya iya, benar. Kenapa? Ya, karena kita paham akan dasar ilmunya, bahwa 1 + 1 = 2.

Tapi apakah benar kalau turunan pertama dari ƒ(x) = 3x2 + 4 adalah 6x? Tentu tidak semudah pertanyaan diatas, karena kita harus memahami dulu dasar dari ilmu tersebut.

Sama halnya dengan memastikan islam sebagai agama yang benar, apakah kita sudah memelajari tentang islam itu sendiri? Indonesia adalah negara islam, tapi berapa banyak orang yang terlahir sebagai agama islam, belajar tentang agamanya sendiri?

Banyak dari kita yang ragu akan kebenaran islam, karena kita tidak memelajari seluk beluk tentang islam, dan alasan bahwa islam diturunkan oleh Allah untuk menyempurnakan agama yang sebelumnya telah turun.

Banyak dari kita tahu nama Tuhan kita Allah, tapi tidak banyak yang bergantung padanya. Banyak dari kita tahu nama Rasul kita Muhammad SAW, tapi tidak banyak yang tahu perjuangannya menyampaikan islam. Banyak dari kita tahu kita diperintahkan shalat, zakat, puasa, haji, sedekah, tapi tidak banyak yang mengetahui makna di dalamnya. Kurangnya pemahaman kita terhadap agama kita sendiri lah, yang membuat kita justru memertanyakan kebenaran islam.

Maka sebelum memastikan sesuatu itu benar atau salah, kita harus mengetahui hal tersebut sebenar-benarnya dari sumber-sumber terpercaya. Karena banyak orang yang menjalani islam sebagai agama yang sudah “terlanjur” diberi oleh orangtua, bukan sebagai agama yang benar.

Maka, saran saya pertama, agar tidak goyah terhadap islam, pelajarilah seluk beluk tentang agama islam, agama kita sendiri.

Salah satu cara terbaik yang hingga kini membuat saya meyakini bahwa islam adalah agama yang paling sempurna adalah dengan memelajari sejarah lahirnya islam dari sirah nabawiyah (kisah kehidupan nabi). Dari sini, kita belajar bagaimana islam turun, kenapa sebuah ayat bisa turun, dan bagaimana islam diterapkan.

Sudahkah teman-teman juga belajar islam?

SEDIKIT SEJARAH YAHUDI, NASRANI, DAN ISLAM

Berikut saya share sedikit, hal yang saya dapatkan dari kajian ust. Khalid basalamah yang saya ikuti, sehingga bisa memberi penjelasan, tapi untuk detailnya, silahkan bisa mengikuti kajian lebih lanjut (nanti saya share link mp3 nya agar bisa didownload).

Setiap Nabi itu diperintahkan Allah untuk mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, karena mereka berada di dalam kesesatan, diantaranya adalah menyembah berhala, patung-patung atau bahkan manusia, padahal Allah lah yang memberikan segala nikmat di dunia, sedangkan Allah tidak suka kepada orang-orang yang syirik.

Berikut saya share peristiwa secara singkat, dari munculnya ajaran Nabi Ibrahim hingga ditutupnya ajaran nabi-nabi oleh agama islam.

Nabi Ibrahim a.s. diutus oleh Allah untuk membenarkan kaumnya yang sesat, karena pada zaman tersebut, Namrud, raja orang-orang tersebut, menyebut dirinya tuhan, sehingga menyuruh orang-orang untuk menyembah dirinya. Singkat cerita, Nabi Ibrahim menghentikan Namrud, dan membuat orang-orang akhirnya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim a.s., yakni menyembah Allah dan juga melaksanakan syariat haji, seperti tawaf, qurban, dsb.

Selepas meninggalnya Nabi Ibrahim a.s., maka kaumnya kembali menyembah berhala. Dan ini ternyata sudah menjadi sebuah kebiasaan, tatkala sebuah kaum ditinggalkan Nabi mereka, maka mereka kembali sesat karena tidak ada tempat untuk bertanya.

Lalu, Allah mengutus Nabi Musa a.s , membawa kitab taurat, untuk membenarkan orang yang telah melenceng dari ajaran nabi Ibrahim a.s.

Pernah suatu ketika, Nabi Musa a.s. meninggalkan kaumnya selama 40 hari untuk menerima taurat dari Allah SWT, namun ketika kembali dari penerimaan taurat tersebut, Nabi Musa a.s. mendapati kaumnya yang sebelumnya sudah menyembah Allah, kini menyembah patung sapi. Ketika ditanya oleh Nabi Musa a.s., maka jawabannya “Karena kau tidak ada, dan kami merasa ini benar”. Lantas Nabi Musa a.s. memerintahkan kaumnya untuk bertaubat sehingga kaumnya diberi nama yahudi yang artinya Taubat. Dan sejarah Nabi Musa a.s. ini juga menjadi alasan turunnya surat al-Baqarah (sapi betina). Lantas, sepeninggalan Nabi Musa a.s., kaumnya kembali melenceng dan kembali menyembah berhala.

Lalu, Allah mengutus Nabi Isa a.s., dengan kitab injil, untuk membenarkan kaum yahudi yang sudah melenceng dari ajaran yahudi yang sebenarnya. Dan kala itu, yahudi yang menolak injil juga disebut kafir, karena tidak mau beriman kepada Allah SWT, tapi lebih memilih menyembah berhala.

Nasrani sendiri memiliki arti penolong, karena Nabi Isa bertanya dan meminta kepada kaumnya untuk menjadi penolong agama Allah SWT (kembali menegakkan orang-orang yang melenceng).

Namun, ketika Nabi Isa a.s. diangkat oleh Allah, banyak kaumnya yang melenceng dari ajarannya dan menjadikan Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan.

Maka, untuk kembali meluruskan yang telah menyimpang, Allah menurunkan agama Islam melalui Nabi Muhammad SAW. Untuk kembali meluruskan, bahwa tuhan yang harus disembah adalah Allah SWT, bukan patung, bukan berhala, bukan orang yang mengaku-ngaku sebagai raja. Itu kenapa, Allah SWT menyebutkan bahwa islam adalah agama yang menyempurnakan ajaran sebelumnya, karena memang agama sebelumnya juga benar, namun banyak orang yang melenceng, sehingga kembali diluruskan dengan adanya Qur’an.

Dan bagaimana perjalanan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat menegakkan kembali islam, menjadi pelajaran besar bagi saya dan membuat saya yakin, bahwa jika kita memang menginginkan syurga, maka kita harus mengikuti ajaran islam. Dengan mengikuti islam, maka kita juga sudah menjalankan Nasrani yang benar yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s., juga yahudi yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa a.s., dan juga ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya untuk menyembah Allah SWT.

Ya, memang agama dari Allah itu tidak hanya Islam, dan turunnya agama itu untuk membenarkan kaum yang melenceng dari agama-agama yang telah turun sebelumnya.

 —

TENTANG “UNTUKKU AGAMAKU, UNTUKMU AGAMAMU”

Terkait memahami sebuah ayat, penting sekali untuk memahami “sebab” turunnya ayat, sehingga paham konteks dari ayat tersebut dan bukan lahir dari tafsiran sendiri.

Ayat di atas adalah penggalan dari Al-Kafirun, singkatnya, ayat ini turun ketika Nabi Muhammad dipaksa untuk menyembah berhala, padahal saat itu sudah ada perintah untuk menyembah Allah SWT.

Orang kafir Quraisy meminta nabi Muhammad SAW menyembah berhala selama 1 hari, lantas mereka bergantian menyembah Allah selama 1 hari, lalu Nabi menolak. Kafir itu terus menego sampai akhirnya berkata “Cukup katakan bahwa tuhan kami (berhala) itu ada, dan kami akan menyembah Allah seumur hidup kami”

Maka kala itu, Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari Allah, dan beliau ucapkan kepada kafir tersebut “aku takkan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu takkan menyembah apa yang aku sembah. Untukku agamaku, untukmu agamamu” sebagai penegasan, bahwa seorang muslim yang baik, tidak akan menyembah apapun selain Allah SWT, sebagaimanapun orang kafir menggodanya, dan ayat tersebut bukan sebagai pernyataan bahwa agama lain benar sehingga penyembahan berhala tersebut dianggap benar.


TENTANG PASTUR SEMBUHIN ORANG SAKIT

Ini bukan pendapat saya, tapi ini saya dapatkan dari Ust. Mathius, atau dikenal KH. Syarif Hidayat, mantan jendral misionaris Indonesia yang kini menjadi mualaf, dan kebetulan juga teman dekat ibu saya sehingga saya sering mengobrol.

Beliau bilang kalau itu memang kegiatan yang dibuat oleh teman-teman misionaris, untuk membuat orang percaya.

PEMAHAMAMAN “SEMUA AGAMA ITU SAMA”

Kalau ada orang yang bilang “Gapapa kok nganut agama lain, semua agama juga sama kok, bisa masuk syurga” maka orang islam adalah orang yang paling bodoh.

Kenapa juga kita harus cape-cape solat 5 waktu, berpakaian ada aturannya, harus sedekah, harus ngaji, gak boleh minum dan makan yang haram, terus harus haji, banyak larangan dan perintah? Mending pindah ke agama yang ibadahnya gak berat, pakai baju boleh buka-bukaan, gausah bangun subuh atau tahajud, bebas minum dan makan, pokoknya bebas deh, toh sama-sama masuk syurga. Bener ga? Tapi nyatanya engga kan? Apalagi jika kita belajar tentang kenapa islam turun, maka kita akan paham.

Karena pemahaman “gapapa kok semua agama sama” itu adalah pemikiran orang liberal, agar orang bisa nyantai dan gak perlu belajar islam dan bisa mudah berpindah ke agama lain. 

SEBAGAI PENUTUP

Sekali lagi, saya hanya mengingatkan dengan tulisan ini, agar kita semua mau belajar mendalami agama kita sendiri. Sejarah sudah menjelaskan, tatkala suatu kaum ditinggalkan Nabinya, maka mereka akan melenceng. Tak hanya yahudi, nasrani, bahkan kita umat muslim pun banyak yang melenceng. Bukankah banyak yang berdalih jihad tapi melakukan bom bunuh diri? Apakah jika Nabi Muhammad SAW hidup sekarang, hal tersebut diperintahkan? ya, kita perlu belajar, agar tidak melenceng.

Karena bisa jadi, mualaf yang baru masuk dari agama lain justru lebih mencintai islam, karena mereka memelajari agama islam secara keseluruhan, sedang kita hanya menjalani secara seadanya karena kita mendapatkan agama ini bukan karena hidayah, melainkan mendapatkan agama ini dari orangtua kita.

Dan tulisan diatas bertujuan bukan untuk menyerang agama lain, bukan untuk bilang “agama islam paling benar” karena agama bukanlah untuk dibanding-bandingkan, tapi tulisan ini mengajak teman-teman untuk lebih memahami tentang agama islam, agama penutup, agama penutup yang menyempurnakan agama sebelumnya, agama yang membawa kita kepada syurga, tempat sebaik-baik kembali.

— 

Tentu tulisan diatas hanya sebagian, silahkan teman-teman bisa mengikuti kajian lanjutan, bisa di youtube dsb, juga membaca berbagai sumber lainnya.

wallahua’lam bisshawab. Jika ada yang salah, mari saling mengingatkan.

Semoga bermanfaat, punten panjang banget. Semoga berkenan. Silahkan share untuk mengingatkan teman-teman lainnya.

Terima kasih

# Tiga hal yang WAJIB diperhatikan dalam masalah shalat #

1. Wudhu'nya => hendaknya disempurnakan (bukannya asal-asalan) !

2. Waktu-nya => hendaknya pada waktunya (bukannya diluar waktu) !

3. Thuma'ninahnya => hendaknya menyempurnakan ruku’ dan sujud-nya; dan gerakan-gerakan shalat; dengan tidak berpindah gerakan, hingga tulang punggung tegak, dan kita tenang (bukannya shalat seperti burung mematok makanan) !

Rasuulullaah bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى

“Shalat lima waktu telah Allah ‘Ta’ala wajibkan bagi hamba-Nya.

مَنْ أَحْسَنَ وُضُوءَهُنَّ

(1) Barangsiapa memperbagus wudhunya,

وَصَلاَّهُنَّ لِوَقْتِهِنَّ

(2) mengerjakan shalat pada waktunya

وَأَتَمَّ رُكُوعَهُنَّ وَخُشُوعَهُنَّ

(3) menyempurnakan ruku’nya, dan khusyu’ ketika mengerjakannya

كَانَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يَغْفِرَ لَهُ

(barangsiapa yang melaksanakan shalat, dengan memenuhi tiga kriteria diatas) maka Allah berjanji akan mengampuninya.

وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَلَيْسَ لَهُ عَلَى اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

Dan barangsiapa tidak melakukan (hal-hal diatas), maka Allah tidak memiliki janji. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya dan jika Dia menghendaki, Dia akan mengadzabnya.”

(Shahiih; HR Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya; dishahiihkan syekh al albaaniy)

Semoga bermanfaat

RTM : Belum Ada Apa-Apanya

Beberapa minggu belakangan ini. Saya dihubungi beberapa teman, teman sepermainan zaman berjuang dulu, termasuk ketika zaman masih single. Kami berdiskusi tentang sesuatu yang dulu hanya ada dalam angan-angan kami, yaitu rumah. Rumah dalam makna yang sebenarnya, bangunan fisik dari tumpukan batu bata, ada gentingnya, ada lantainya, ada pintunya. Rumah.

Rumah itu mahal, itu dalam ukuran kantong kami. Apalagi sebagai rumah tangga muda. Bekerja selepas kuliah juga belum lama. Juga tidak mendapatkan rezeki dibelikan rumah oleh orang tua, itu artinya kami harus berjuang untuk itu. Mulai dari diskusi, dimana lokasi yang tepat untuk membangun rumah yang ternyata urusannya tidak sekedar membeli rumah. Ada banyak pertimbangan, selain harga, tentunya adalah lingkungan. Bagaimana cara membayarnya, karena kami tidak punya uang tunai sebanyak itu ditengah-tengah kami ingin menghindari riba dari jual beli. Banyak sekali diskusi yang menarik, terutama tentang berbagi informasi hunian yang sedang dibangun.

Dan kami sadar, kami harus berjuang untuk itu. Mungkin bisa cepat, mungkin juga bisa bertahun. Pada intinya sama, kami harus berjuang dan memperjuangkannya. Itu akan menjadi rumah untuk keluarga, tumbuhnya buah hati, juga tumbuhnya peradaban.

* * * *

Bapak dan Ibu pernah bercerita tentang usaha mereka untuk membangun rumah. Rumah itu dibangun pada tahun 1989 di atas tanah warisan dari simbah. Foto rumah saat itu masih ada, lantainya masih berupa tanah, dindingnya masih terlihat tumpukan batunya, belum ada cukup uang untuk membeli semennya. Ubin rumah baru dipasang sekitar 6 tahun kemudian, untuk membuatnya jadi lantai keramik seperti saat ini, butuh waktu hampir 17 tahun sejak rumah itu pertama kali dibangun. Dulu, sewaktu kecil, kamar mandinya hanya berupa tumpukan batu bata yang disusun dengan tanah, bukan semen. Sumurnya tentu saja sumur gali, bukan sumur pompa seperti sekarang.

Rumah itu, meski bentuknya tidak semanis rumah-rumah yang tergambar di internet. Tapi, setiap sudut ceritanya sangat manis. Saya masih ingat dulu, ruang makan yang kami gunakan sekarang, dulu adalah kandang ayam. Kini menjelma menjadi ruang shalat, ruang makan, dengan lantai keramik.

Butuh bertahun-tahun. Dan barangkali kalau kita berbicara tentang rumah, kita perlu bertanya kepada orang tua kita masing-masing, bagaimana beliau berjuang untuk membangunnya.

* * * *
Dan perjuanganku memang belum ada apa-apanya. Seringkali saya bercerita kepada istri saya bahwa nanti rumah yang ada sekarang akan dibuat seperti ini dan seperti itu. Saya tahu, perkataan itu menuntut perjuangan. Dan saya siap memperjuangkannya.

Kami tidak tiba-tiba mendapatkan segala sesuatu, karena memang orang tua kami tidak memberikannya. Sebagai keluarga muda, kami berjuang untuk membangun itu dari awal. Sebagian teman kami mengontrak sepetak rumah kecil, ada yang sudah mulai mencicil, ada yang sedang mencari informasi. Sungguh, perjuangan ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan orang tua. Dan demi mengetahui hal itu, saya justru semakin bersemangat memperjuangkannya.

©kurniawangunadi | #rtm | 12 agustus 2017

Doa shalat tahajud adalah laksana anak panah yang tak pernah meleset dari sasarannya
— 

Imam Syafi’i

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Qs. 17: 79

Ketika kamu silau dengan begitu hebatnya orang-orang meninggalkan shalat malah bisa kaya raya mengumpul harta, bacalah Qur'an; disana kamu akan tahu betapa Qarun pemilik harta bergudang-gudang itu bisa sekejap lenyap ditelan bumi.

Kalau kamu takjub melihat orang lalai dari tuhan tapi bisa punya kendaraan mewah, bacalah Qur'an; disana kisah Firaun terbentang, mengejar Musa dengan kereta emas, lalu sedetik kemudian ditelan air samudera, bersama kendara kebanggaannya.

Dunia hanya tempat menumpang. Carilah akhirat jangan lupa dunia, bukan sebaliknya. Membaca Al Quran akan menetralkan tujuan itu, ketika silau megah alam fana ini mengaburkan pandangan kita, Kitab suci itu kembali menggiring kita pada titik nol kesadaran sebagai hamba.

—  @edgarhamas