sepoys

JANGAN DIBANDING-BANDINGKAN

Sore itu, suasana rumah begitu tenang. Angin mengalir, sepoy dan manja. Namun, seketika suasana berubah menjadi mencekam, derap langkah seorang wanita terdengar begitu jelas, mendekat ke ruangan anaknya yang sedang bermain gadget di kamarnya.

“Adek, ibu baru liat nilai ulangan kamu. Kenapa nilainya hanya segini?” Suara sang ibu, mengagetkan sang anak

“Euum, itu bu, ulangannya susah. Gurunya suka gak jelas neraninggan. Jadi adek gak paham”

“Ah, alasan aja kamu. Kamu tuh ibu liat memang jarang belajar. Tuh liat, kamu waktu kosong malah dipake main handphone, bukannya baca buku.”

Anak merenung, ia tahu, ini hanya akan jadi perdebatan tanpa ujung jika ia melawan.

“Tuh, lihat tetangga kita, pak adit. Anaknya itu rankingnya bagus, selalu masuk 5 besar. Pintar. Kamu itu harus kayak begitu, harus pintar, kalau bodoh, mau bagaimana masa depan kamu nanti, coba pikirin.”

“Teman mamah aja, kemarin anaknya berprestasi, bisa dapet beasiswa. Kamu tuh harus kayak gitu dong. Bukannya malah main terus, kerasa kan sekarang nilainya jadi jelek begini”

Sang anak semakin merenung, ia tahu, ia harus menerima perkataan pahit dari ibunya.

“Sudah, matiin Handphonenya. Sekarang, balik ke meja belajar kamu, belajar sana yang bener, biar pinter. Ini juga buat kamu kok dek kalau pinter, bukan buat ibu. Buat masa depan kamu”

Sang anak menyimpan handphonenya. Keceriaan di sore itu hilang seketika. Sang anak kembali ke meja belajar. Membuka-buka buku yang entah sebenarnya dia sendiri bingung mau membuka buku apa, karena dia tidak punya mood untuk belajar sesungguhnya. Dia akhirnya membuka sebuah buku, bukan karena dia ingin belajar, dia hanya ingin ibunya cepat pergi dari pandangannya. Selang beberapa saat, ibunya akhirnya kembali ke ruang tengah.

Selepas itu, sang ibu berdiam di depan ruang sang anak, menonton tayangan televisi sembari duduk diatas sofa biru yang nyaman. Sambil menikmati manisan yang tersedia di atas meja. Tidak begitu lama, ayah datang, melihat ibu yang sedang duduk santai.

“Mamah, papah baru liat deh, kayaknya mamah sekarang badannya makin gendutan yah?” Ayah bertanya pada ibu

“Loh, kok papah bilang gitu sih. Ini mamah udah usaha buat ngecilin badang loh pah” Jawab sang istri.

“Ah, mamah kurang serius kali ngecilin badannya. Coba atuh olahraga yang lebih rajin.”

“Tuh, lihat tetangga kita, pak adit. Istrinya itu badannya bagus, langsing. Rajin sekali olahraga tiap pagi. Mamah harusnya bisa kayak begitu, harus rajin. Kalau makin besar begini, mau bagaimana ke depannya mah, nanti malah gampang sakit loh”

“Kemaren temen papah aja, ada yang rajin olahraga, sekarang kurusan. Ayo dong mah, harus kayak begitu. Ini juga demi kebaikan mamah kok.”

Sang ibu menghentikan makannya. Mengalihkan pandangan yang awalnya tertuju pada makanan, kepada mata sang ayah.

“Papah, kenapa sih papah ngebanding-bandingin mamah sama yang lain. Mamah gak suka tau kalau dibandingin sama orang lain. Lagian, setiap orang itu kan berbeda-beda pah.”

“Coba, sekarang mamah nanya, papah udah bantuin apa biar mamah bisa kurusan? Papah cuman bisa nanya aja sama ngomong aja, tapi enggak bantu mamah. Padahal, mamah perlu diingetin, perlu dibantuin, kan mamah juga pengen kurus sebenernya”

Perkataan sang ibu membuat sang ayah terdiam sejenak, tidak bisa berkata apa-apa.

Diluar dugaan, sang anak mendengar percakapan tersebut dari dalam kamarnya. Dari balik kamarnya, ia mengeluarkan setengah badannya, sambil menghadap kepada ibunya, sembari bertanya.

“Terus, kenapa kalau begitu, tadi mamah memarahi adek dan membanding-bandingkan adek mah?”

Sang anak langsung masuk kembali ke kamarnya. Menutup pintu, dan menguncinya. Kini, sang ibu yang terdiam. Terdiam dan tak tahu harus menjawab apa, karena kini ia baru memahami rasanya dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Sang ibu merasa malu, karena dengan mudahnya ia membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Tapi ia tidak membandingkan perlakuan dirinya, dengan perlakuan orangtua dari anak-anak yang pintar lainnya. Memang, tiada yang senang jika dibanding-bandingkan. Tapi tentu, setiap orang pasti senang, jika ia dibantu dalam permasalahannya.

Di sore itu, sungguh terdapat banyak pelajaran, bagi mereka yang memang mengambil pelajaran.

JANGAN DIBANDING-BANDINGKAN
Bandung, 22 Agustus 2017

2

The Enfield Model 1858 India Service Musket,

In 1857 Indian troops under the employ of the British East India Company openly rebelled against the British Indian Government after being issued paper musket cartridges greased in beef fat and pork fat.  While the beef fat bullets greatly offended the religious beliefs of the Indian soldiers, there were several much more profound issues the Indians had with British rule in India.  The Sepoy Rebellion would last over a year, and was an especially bloody war with horrific atrocities committed by both sides.

After the Sepoy Rebellion, the British government would end the administrative powers of the British East India Company and take direct control over governing affairs in India.  Among the new reforms was the adoption of a new service arm for the Indian Army.  The Pattern 1858 Enfield was constructed from earlier British P1853 muskets with some very specific modifications.  First, the rifling of the musket was reamed out, turning the musket into a smoothbore.  Secondly the adjustable rear sight of the P1853 was removed and replaced with a crude fixed sight.  Both of these modifications were intended to greatly reduce the accuracy of the P1858.  The British feared another Indian rebellion, so British policy hence forth was to arm Indian troops with firearms that were greatly inferior to the standard British issue.  Later the Pattern 1859 was introduced, which were smooth bore musket produced on their own rather than modified forms of the P1853.

FreeDay: Tipe-Tipe Kangen di Bulan Ramadhan


*Duh gusti, nunggu beduk kok lama amat ya..*

                                                               ===

.

Assalamualikum ya ukhti.
Gimana shaum hari ini? sudah berapa kali meneguk ludah sendiri setelah selesai wudhu siang tadi? Syukron.. Syukron..

Bhahahak, gue emang nggak berbakat buat ngomong kaya ustadz begono. Tapi kalian jangan salah, walaupun belakangan ini tulisan gue tentang galau semua, gini-gini gue pernah disuruh nulis untuk ceramah Sholat Jumat!

Ya meskipun pada akhirnya gue di rukiyah sama jama’ah setempat :(

.

                                                           ====

.

Nah, pada hari Jumat pertama di bulan Ramadhan ini, gue akan bercerita sedikit tentang beberapa fenomena bulan Ramadhan yang pastinya sangat-sangat dirindukan oleh anak-anak ABG di seluruh indonesia.

Siang tadi, gue mencoba iseng untuk sholat Jumat di salah satu Masjid besar di daerah Bandung. Masjid ini adalah Masjid di mana sering gue datengin waktu SMA dulu, atau bahkan waktu gue masih semester-semester awal kuliah. Masjid ini sering menjadi tempat gue bersinggah ketika ada jeda kosong kuliah antara satu kelas dengan kelas yang lainnya.

Jumat siang ini gue sengaja nggak ngambil posisi duduk di dalam Masjid, gue lagi ingin bernostalgia duduk di luar sambil nikmatin angin sepoi-sepoi. Bahkan tukang buah potong langganan gue aja masih ada. Dan dengan annoyingnya, Beliau masih saja berjualan buah seger siang-siang begini.

Sungguh godaan yang gemah ripah loh jinawi. Beliau lupa bahwa sekarang adalah bulan Ramadhan. Karena sesungguhnya bulan ramadhan itu adalah bulan puasa.

Gue yang melihat dari jauh ini cuma bisa kenyot-kenyot bibir sendiri ngeliatnya. Jakun gue udah kaya timba sumur, kerjaannya naik turun nelen ludah. Btw, nelen ludah itu tidak membuat batal kan gaes? asal bukan ludah pacar kan ya? okee..

Sambil nunggu Adzan berkumandang, gue nggak sengaja buka grup SMA gue kelas 10. Gue lihat teman-teman gue udah banyak yang berubah. Yang dulu mukanya ancur, sekarang mirip Adly Fairuz. Yang dulu mukannya item kaya kebul bis damri, sekarang udah putih langsat mirip kaya tehel mushola.

Yang dulu lebih mirip sama beduk Masjid, sekarang udah mirip sama pentungan beduk Masjid alias sekseh abizzzzz. Yang kelihatan nggak berubah cuma segelintir orang, termasuk gue. Soalnya kalau udah ganteng nggak mungkin nambah lagi gantengnya. #halah

Dan ketika gue buka foto album di grup tersebut, di situ gue menemukan ada beberapa foto waktu kita lagi buka puasa bersama pada Ramadhan Tahun lalu. Seketika itu juga muncul sedikit senyum simpul pada bibir gue. Ya, moment indah bersama teman SMA ternyata memang tidak pernah bisa terganti sampai kapanpun.

Dan yak!!
inilah 3 tipe kangen pada bulan Ramadhan versi Bapak Don Juan.

.

                                                         ====

.

1. Kangen Saur On The Road

Ada yg belum pernah nyobain Saur On The Road di sini? mungkin buat para ukhti-ukhti-pipi-gemes ini kayaknya jarang banget ya buat nyobain salah satu moment ini di bulan puasa.

Gerung-gerung motor di jalanan. Nyuri beduk masjid. Tempur petasan sama RW sebelah. Atau juga tawuran sama peserta Saur On The Road dari kubu yang berbeda.

Tapi gue juga yakin salah satu dari kalian pasti pernah ada yang mengikuti acara ini. Untuk sekedar berbagi nasi kepada para kaum yang membutuhkan di jalanan, atau makan-makan bersama sebelum Adzan subuh berkumandang.

Di sini kita biasanya berkumpul bersama dari malam hingga pagi menjelang. Dimulai dari sepulang taraweh kita ngumpul-ngumpul, jalan-jalan, ngobrolin hal yang nggak jelas, atau bahkan maraton nonton film di bioskop sampe midnight.

Suasana sahur di jalan adalah salah satu suasana yang tidak bisa terlupakan sampai kapanpun. Dinginnya udara pagi, serta pemandangan jalan yang sangat sepi adalah salah satu alasan kenapa hal ini menyenangkan.

Waktu gue masih SMP, untuk menunggu beduk subuh biasanya para bapak-bapak ronda di komplek rumah gue menggelar sepak bola di jalanan depan rumah. Alasan bapak-bapak ini simple, kapan lagi coba bisa main sepak bola di jalan raya yang sepi begini?

Kegiatan ini berlangsung hampir setiap hari dari jam 3 pagi sampe menjelang imsak. Tapi entah kenapa, hari itu masjid setempat tampaknya lagi ada gangguan listrik sehingga TOA masjid tidak mengumumkan jam imsak. Nggak tau marbot masjidnya ketiduran, nggak tau emang Masjid lagi libur hari itu. Pokoknya yang jelas pagi itu nggak ada suara sama sekali dari Masjid. Mungkin masjidnya lagi bete gara-gara nggak diajak nonton Insidious 3.

Lagi asik-asiknya bapak-bapak ini main bola, mendadak Masjid gue sembuh dari fase ngambek-dan-gak-mau-berbicara, Masjid gue ini mendadak mengumandangkan Adzan subuh.

Sontak bapak-bapak yang tengah asik menggiring bola bak Ronaldo itu kaget. Mereka langsung melihat kearah jam tangan masing-masing. 

.

“Goblok!! geus Subuh deui?! Anjir teu bebeja, aing haus can nginum kumaha ieu?!” Kata pak Agus selaku ketua RT dengan bahasa mutiaranya.

“Anjir Gus, kunaon eweuh nu mere nyaho geus imsak eui?! Parah anjir, mana tadi urang sprint basa ngaggiring bola. Haus goblog!” Sambung pak Halid selaku sohib dekat pak Agus.

“Meunang nginum keneh teu? Sugan Tuhan mah ngarti meureun nyak?” Kata pa Rusdi yg subuh itu berperan sebagai kiper.

.

Percakapan di atas emang real terjadi saat subuh itu. Dan bahasa sunda yang mereka pakai benar-benar tidak mencerminkan bahwa mereka adalah bapak-bapak. Percakapan ini malah lebih mirip sama percakapan sehari-hari antara gue dan Ikhsan, segala kosakata binatang keluar semua.

Sebenarnya gue mau nge-translate kebahasa Indonesia, tapi ntah kenapa feelnya gak dapet. Dan pada akhirnya kalau gue nggak salah inget, semua bapak-bapak itu setuju untuk minum bersama dan berjanji kalau buka puasa hari itu mereka mundurkan 30 menit sebagai tebusan waktu puasa yang mereka potong seenak perut sendiri subuh ini.

Alhasil, besok subuhnya udah nggak ada lagi yg maen bola. Hilang sudah hiburan tiap subuh buat gue :(

.

                                                             ====

.

2. Kangen Buka Puasa Bareng

Selain ajang menjaga tali silahturahmi, buka puasa bareng atau yang lebih sering kita singkat menjadi bukber ini sering menjadi ajang sombong-sombongan kesuksesan.

Seperti yang kita ketahui, menjelang kelulusan masa SMA, mendadak seluruh teman-teman terdekat kita pergi satu-persatu. Ada yg pergi ke luar pulau, ada yang ke luar kota, ada yang umroh, ada yang ikut pesantren, ada juga yang pergi travel ke alam barzah :(

Akhirnya teman yang kata kita tidak terganti itu perlahan-lahan mulai hilang. Mereka mulai digantikan dengan teman-teman baru semasa kuliah. Hal inilah yang menjadikan bukber tiap puasa menjadi hal yang sangat-sangat dirindukan.

Hal ini terjadi juga dengan gue dan Ikhsan pada bukber Ramadhan tahun lalu. Gue saat itu kebagian sebagai promotor untuk melakukan pemesanan tempat di Gokana, Ciwalk. Alhasil gue harus datang 2 jam lebih awal untuk melakukan pembayaran.

Gue yang kemana-mana selalu diikutin oleh ajudan kesayangan gue ini, Ikhsan, akhirnya memilih untuk duduk-duduk di meja depan yang telah disediakan oleh pihak Gokana. Lagi asik-asik ngobrol berdua, muncullah satu-persatu teman-teman SMA kita.

Sebut saja Doni, orang yang dulu keliatan paling kumel dengan baju sekolah yang selalu berwarna kuning ini, sekarang datang dengan kemeja rapih, celana levis, dan kunci mobil gelantungan di saku belakang celananya.

Buseeet, ini anak beda banget. Udah lebih keren ketimbang Doni yang gue kenal dulu. Dan kejadian ini belum selesai di situ saja, mantan Ikhsan yang bernama Tasya pun pada akhirnya datang juga.

Ketika Tasya sedang berjalan menuju meja kita berdua, mata gue nggak bisa berkedip sedikitpun, air ludah berulang kali mencoba menetes tapi gue tahan. Ikhsan yang melihat kearahnya juga sudah beberapa kali mengganti posisi duduk.

.

“Kenapa nyet? ganjel yak?" Tanya gue.

Anjrit lu tau aja. Gile yee mantan gue. Perasaan dulu gak sebohai ini deh.“ Kata Ikhsan sambil berbisik.

Coba tuh lu liat, dulu doi pake miniset, sekarang udah pake ukuran C kayaknya. Hebat ya, gue jadi penasaran isinya apa.“

"Oi setan! Puasa lo!”

“ASTAGIFIRULLAH!! Lupa bro”

“Kalau gini caranya gue nyesel dulu udah mutusin dia, bro.”

“Bhahahahahahak, tapi kayaknya dia kaga nyesel tuh lu putusin san.”

“Lha emang kenapa?”

“Lu ygan dulu jauh lebih ganteng ketimbang yang sekarang. Bhahahak” Gue ketawa puas

“Ah gue yang sekarang jauh lebih ganteng keleees..”

“Ganteng darimana?! Lu ngaca di bubur?”

.

Dan ternyata bukan cuma gue dan Ikhsan saja yang terkesima dengan penampilan Tasya. Bocah manja yang lugu waktu gue kelas 10 ini ternyata berhasil menghipnotis hampir seluruh anak laki-laki yang datang sore itu.

Ya, ini juga salah satu moment bulan puasa yang sangat kita rindukan. Di mana teman yang telah lama tidak berjumpa kini telah berubah menjadi lebih dewasa. Pada sore itu kita sekelas sama-sama tertawa seperti layaknya dulu kala. Bunga yang ditanam teman-teman gue waktu SMA di hati ini kini kembali berbunga. Tawa mereka dan ocehan mereka seakan menjadi air yang menyirami apa yang sejatinya telah mati.

Sore itu, gue mengerti, bahwa teman SMA memang tidak akan pernah bisa terganti.

.

                                                               ====

.

3. Kangen Mantan yang Telah Hilang

Nah ini nih yang paling kampret. Sebenernya gue nggak mau ngomongin ini hari ini, soalnya bisa-bisa malah gue yang curhat di sini. Tapi gue rasa bukan gue doang yang merasakan hal ini.

Setelah beberapa saat yang lalu gue menulis puisi yg berjudul “Ramadhan Tahun Lalu”, ternyata selang satu jam gue tinggal, muncul banyak komentar yg mengatakan bahwa mereka juga merasakan hal yg sama.

Hahahahahahahahahah.. hahahahah.. hahaha.. haha.. ha.. gue kira cuma gue doang :|

.

Siapa sih yang nggak suka jika melalui bulan Ramadhan yang penuh berkah ini dengan didampingi oleh orang-orang tersayang, termasuk pacar? Dan siapa sih yang nggak menghela napas dalam-dalam ketika Ramadhan tahun ini yang katanya mau dilalui bersama, tapi ternyata harus dijalani sendiri-sendiri?

Berapa banyak orang yg menelan kekecewaan ketika pada malam terakhir Ramadhan tahun lalu mereka berdoa bersama, perihal semoga Ramadhan yang akan datang akan tetap dilalui bersama; berdua.

Beberapa kangen yang didasari oleh kehilangan seseorang yang kita sayang ini menjadi kangen paling menyebalkan pada bulan Ramadhan. Ada beberapa rasa kangen yang harus ditahan ketika melalui Ramadhan tahun ini sendirian.

Contohnya,

  1. Kangen buka bareng di warung pinggiran. 
  2. Kangen bawa si doi ikut buka bareng sama temen-temen lu.
  3. Kangen dijemput doi menjelang buka puasa bareng.
  4. Kangen dibangunin sahur sama si doi.
  5. Kangen diucapin ‘selamat buka puasa, sayang..’
  6. Kangen ngabuburit di dalam bioskop.
  7. Kangen jalan-jalan muterin komplek sore-sore naek motor.
  8. Kangen ngabuburit di rumah bareng. 
  9. Kangen taraweh bareng.
  10. Kangen sms/bbm-an disaat dakwah taraweh.
  11. Kangen dibawain ta’jil sama si doi.
  12. Kangen suasana buka bareng sama keluarga doi.
  13. Kangen nyari es kelapa bareng. 
  14. Kangen gangguin doi pas kamu lagi nggak bisa puasa.
  15. Kangen nonton dvd bareng.
  16. Kangen ada sms penyemangat puasa.
  17. Kangen chatting ketawa-ketawa sendiri
  18. Kangen saling pamer bahan-bahan untuk buka puasa nanti.
  19. Kangen mengucapkan selamat Anniv di bulan Ramadhan dengan doa ‘semoga Ramadhan tahun depan kita masih bareng-bareng ya sayang..’

.

Dan masih banyak lagi rasa kangen ygan belum tuntas ketika Ramadhan kembali datang lagi Tahun ini. Nah, apakah sekarang kamu-kamu ada yang merasa kangen ketika membaca tulisan-tulisan ini, gaes?

Kalau gue..
Nggak..

Eh, please kalian percaya! nggak kok gue nggak kangen!
Pfft..

.

                                                          ===

.

Nah gaes,
Sebenarnya masih banyak tipe kangen yang ngebuat bulan Ramadhan ini menjadi bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh berbagai macam pihak. Seperti kangen ketemu keluarga besar, kangen mudik, atau kangen iklan buka puasa di tivi.

Tapi nggak usah sedih, tiap Ramadhan pasti punya moment indahnya sendiri-sendiri. Entah itu dengan orang-orang yag disayang, atau dengan orang-orang yang kamu sendiri jarang memperhatikan kehadirannya.

Janganlah karena kamu sendiri, kamu jadi berpikir untuk menjemput kembali masa lalumu. Percayalah, suatu hubungan yang dimulai kembali hanya karena salah satu pihak rindu akan kenangan-kenangan yang pernah dilalui, bisa menyebabkan hubungan itu malah berakhir jauh lebih buruk.

Tak usah dijemput, ia hanya segelintir kisah yang pernah menyakitimu. Kini sudah saatnya masa depanlah yang akan menjemputmu. Maka dewasalah, sehingga yang meninggalkanmu menjadi mengerti, bahwa meninggalkanmu dulu adalah kesalahan yang tak pernah bisa ia tebus kembali.

Berhentilah bersedih, sudah saatnya kamu ditemukan oleh orang yang akan benar-benar menghargai kehadiranmu. Yang bersamamu, ia merasa cukup. Yang bersamamu, ia tak butuh orang lain.

Dan gue doakan, semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang berkesan buat kalian semua. Dan juga buat diri gue sendiri. 

Semoga yang masih sendiri, mulai ditemukan oleh orang yg tepat.
Semoga yang sudah bersama, dikuatkan hubungannya.
Semoga yang jadi orang ketiga, berhasil menyingkirkan pacarnya.
Semoga yang jadi selingkuhan, kini berhasil naik tahta menjadi pacar beneran.
Semoga yang lagi KKN, menemukan jodohnya di kampung sana.
Semoga yang tarawih kemarin nyuri sendal, malam ini sendalnya dibalikin lagi. Ah kalau yg ini sih gue curhat.
Semoga yg Wisudanya tahun ini, berhasil menemukan pendamping wisudanya. Ah,yg ini juga gue curhat lagi. Hih..
 
Pokoknya, semoga Ramadhan tahun ini berkah untuk kita semua…
.
.
.
Oke gaes, Sekian Freeday kita pagi ini.
Happy Ramadhan.
Baybay~

Ricky Elson: Melangit Ciptakan Inovasi, Membumi Berdayakan Warga*

Tulisan ini adalah versi unedited liputanku yang kukerjakan untuk Rumah Amal Salman. 

Selama ini, publik mengenal sosok Ricky Elson sebagai inovator mobil listrik. Sudah sekian lama putra asal Minang tersebut menuntut ilmu dan bekerja sebagai engineer di Jepang. 

Namun panggilan jiwa menyapanya untuk berlabuh pada sebuah daerah di Indonesia. Selepas berkelana, sebuah desa pesisir di Tasikmalaya bernama Ciheras menjadi tempat ia singgah hingga kini.

Mendengar nama Ciheras, segelintir akademisi, inovator, hingga pemimpi akan familiar dengan lembaga energi terbarukan yang ia dirikan di sana. 

Lentera Bumi Nusantara (LBN) namanya. 

LBN fokus pada tenaga mikro turbin. LBN menjadi magnet bagi mahasiswa-mahasiswi dari berbagai penjuru negeri untuk bertandang dan belajar di sana. 

Siapa jiwa bebas yang dapat menolak sepoi angin pantai, nuansa bersahabat kru LBN, serta kisah penyemangat berinovasi yang bergemuruh di Ciheras?

Namun, Ricky tak hanya membekaskan ilmu kehidupan serta kesan mendalam pada muda-mudi yang bertandang pada tempatnya. 

Warga sekitar tak lupa ia tuaikan kebermanfatan. Domba-domba milik masyarakat Ricky beli– untuk kemudian ia ternakkan.

Keep reading

Mercier x Betty  British Raj AU

The word ‘dance’ comes to mind, their own choreography of gazes exchanged across the room, brushes of hands and half-spoken confessions. They orbit around each other, destined never to collide it seems; Mercier is upper class, Betty is a governess. And he’s spying on the family whose children she swore to protect.
But in this foreign land of spices and silk, of golden gods and lush forests, where cultural norms clash and wane, even destinies must yield to desire.

Rating: Mature 
Word count: 3.9k
Beta: @fadewithfury​ <3
Thank you anon who prompted a Victorian AU that became this, and to my French anon for inspiration; Don’t let the pretentious summary fool you, this is plotless and shameless romantization of India, and an excuse to write UST and sneaking around.

Warnings: drinking, smoking, kids because Betty is a governess.
You don’t need to have seen either show. 

Tumblr | Ao3

1 | Falling

Calcutta, August 1902

As soon as Mercier exited the Raj Bhavan and stepped out from under the shade of the portico, the sun assaulted him. He tugged at his stiff high collar. It wouldn’t last, leaded clouds loomed on the horizon.

Monsoon season was almost over, the violent showers now few and far inbetween, giving way to the more tolerable days of Sharad Ritu, the fourth season of the Hindu calendar with the autumnal equinox as its midpoint.

Keep reading

British soldiers of Indian descent, often known as “sepoys,” 1820. The East India Company, greatly outnumbered by the Indians they ruled over, relied heavily on Indian manpower for the British military. The sepoy rebelled in 1857 and were brutally put down, resulting in the British crown taking control of India and the expansion of the British domain in India. Illustration from Frederic Shoberl’s  ‘The World in Miniature: Hindoostan’. 

4

Uniform of the 35th Bengal Native Infantry and Enfield Rifle from 1857 on display at the Royal Armouries in Leeds

The British Empire used native regiments such as the 35th to maintain order in India for the East India Company. However they were often ignorant or dismissive of Indian beliefs and customs. This came to a breaking point in 1857 when the new cartridges for the Enfield rifle supposedly had animal grease from pigs and cows which offended Muslim soldiers (pig products are considered unclean in Islam) and Hindu soldiers (cows are sacred to them).

This and a good century of British military and capitalist intervention in their country led what is referred to as the Indian Mutiny where many Sepoys joined rebel soldiers to try and drive the Imperialist British out of India.

The rebellion failed and many of the Indians involved were executed. Afterwards many policies concerning Sepoys and Indians, even loyal ones, were put in place to ensure they could never try this again. One such policy was ensuring that Sepoys were never armed the same as British soldiers and were always one technological step behind them. However these soldiers were still required to do most of the work defending the borders of the Empire against the Russians and other threats from neighbouring regions.

Tania, Perempuan Tanpa Cela

Aku mengutukmu wahai lautan! Samudara! Pantai! Atau apapun itu namanya. – Bima –

****

Bima tidak terlalu tahu banyak tentang samudra. Yang ia tahu, samudra adalah hamparan lautan yang luas. Itu saja. Sebab lelaki itu tidak mau tahu menahu perihal Samudra lebih dalam lagi. Laut pernah memberinya luka yang teramat sangat. Bahkan hingga lima tahun berlalu. Luka masih saja mengaga hebat. Perempuan yang ia cintai sepenuh hati dengan tega menancapkan sebilah belati tajam. Tepat di bagian terpesial dari dirinya. Hati. Selepas mereka berlibur ke sebuah pulau. Tentunya sehabis menyebrang lautan.

Tapi untuk kali ini. Bima akan mengalahkan rasa egoisnya. Sebab sahabatnya tengah patah hati. Sore itu, Andra datang ke tempatnya. Padahal setahu Bima, Andra bekerja di luar kota. Bertampang dingin seperti biasanya. Bima mempersilahkan Andra duduk. Menyuguhkannya secangkir kopi. Menunggu lelaki itu bicara namun hingga sepempat jam berlalu. Tidak ada suara. Bahkan kopi pun tidak disentuh.

“Lo kenapa, Dra?” tanya Bima menyelidik.

Andra tersenyum kecil kemudian berucap pelan, “Tania selingkuh.”

“Lo serius?!” sambil menguncang bahu Andra. Bagai petir di siang bolong. Setahu Bima, Tania begitu mencintai Andra. Meski Andra kerap kali bersikap acuh. Hubungan mereka nyaris berjalan tujuh bulan. Tergolong lama sebab ini pertama kalinya Andra berpacaran.

Ini pertama kalinya Andra patah hati. Pasti sakit sekali. Apalagi Andra sudah mencintai sepenuh hati. Rela pergi ke luar kota untuk bekerja demi meminang Tania. Bima tersenyum kecil. Menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Memberika kekuatan. Yang di tepuk tersenyum tipis. Seolah isyarat ungkapan terimakasih.

***

Di luar, hujan belum juga reda. Selepas magrib tadi, setelah bercerita banyak hal. Andra pamit pulang. Bima melepas sahabatnya dengan kekhawatiran. Andra terlihat seperti orang linglung akibat patah hati. Ketika bercerita tadi, tiba-tiba saja ia tertawa kemudian menangis pelan. Berkali-kali menanyakan hal yang aneh-aneh. Bima miris melihat semua itu. Ketika hal itu terjadi, yang bisa  Bima lakukan adalah memegang bahu Andra erat-erat seraya berkata, “Lo lelaki hebat! Lo kuat!”sambil menatap mata Andra yang penuh luka.

****

“Gue antar pulang aja ya! Gue takut lo kenapa-kenapa.”

“Enggak usah, Bim. Besok kan lo harus kerja. Makasih ya sudah mau dengerin cerita gue. Gue sudah agak baikan kok.”

“Sabtu minggu lo libur kan? Temenin gue ke pulau seribu yuk!”

“Ngapain ke sana? Kenapa enggak ke puncak aja?”

“Gue mau liat laut. Naik kapal.”

Bima diam sejenak. Ingatannya berputar pada peristiwa lima tahun silam. Laut, kapal, pulau dan juga perpisahan. Rasa sesak tiba-tiba memenuhi dadanya. Patah hati pertama yang begitu hebat. Rencana pelamaran selepas dari pulau hancur sudah. Liburannya dengan sang kekasih seakan tidak menyisakan kenangan Indah. Dua jam setelah sampai di rumah. Perempuan itu memutuskan Bima. Putus sepihak. Tidak membiarkannya tahu penyebab dari harus berakhir hubungan mereka.

Aku benci laut, Andra!

“Bim?”

Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu tersadar. Seseorang yang terlihat selalu ceria ternyata menyimpan luka hebat.

“Karena di laut enggak ada sinyal. Jadi gue enggak akan bisa tahu kabar Tania. Gue mau tenang, Bim!” ujar Andra, “lagi pula gue suka laut. Laut punya candu tersendiri.”

Bima pernah patah hati. Jatuh begitu dalam. Hingga sempat lupa caranya bangkit. Lelaki terkadang terlihat baik-baik saja selepas patah hati. Dengan mudahnya kembali menjalin hubungan dengan orang baru. Namun ada beberapa lelaki yang diam-diam rapuh ketika kehilangan. Sulit untuk membuka hati kembali, sebab sudah mencintai begitu dalam. Maka anggapan jika semua lelaki itu sama tidaklah benar. Sebab Bima berbeda.

***

“Di sini ada sinyal, Ndra!  Tapi sedikit. Ada listrik juga. Daerah ini kan masih masuk dalam provinsi Jakarta.” Jelas Bima.

Andra melihat sahabatnya sejenak. Sejak pukul sebelas siang mereka sudah sampai di salah satu pulau di kepulauan seribu.

“Biarain aja, Bim. Bearti pulau yang kita tuju kurang tepat. Harusnya kita ke pulau yang benar-benar enggak ada sinyal. Main kita kurang jauh.” Tawa kecil Andra terdengar. Meski tidak nyaring. Namun itu menandakan bahwa Andra perlahan mulai membaik.

“Lo tahu enggak, Bim? Selama perjalanan gue mikir buat balik lagi sama Tania.”

“Lo gila ya? Baru kemarin lo kayak mayat hidup gara-gara Tania!” ada nada penekanan di setiap kata-kata yang terlontar.

Lelaki yang aneh!

“Dengerin gue!” jeda sejenak, “gue sayang banget sama Tania. Semalam Tania sms dan dia bilang kenapa dia lebih milih mantanya di banding gue. Katanya gue terlalu dingin. Mungkin kalau gue jadi hangat gue bisa dapetin Tania lagi.”

Bima pernah merasakan apa yang Andra rasa. Mencintai begitu dalam. Tapi baginya, kembali ke orang yang sudah menyakiti adalah pilihan paling salah. Apalagi memperjuangkan kembali setelah dihancurkan. Seperti membaca buku yang sudah tahu bagaimana akhirnya.

“Baru kali ini gue benar-benar sayang sama perempuan. Gue rela ke luar kota buat dia. Semua ini enggak sepenuhnya salah Tania, Bim!” Andra melihat ke arah Bima seraya tersenyum kecil kemudian kembali menikmati suasana pantai sore hari.

Aku enggak paham sama jalan pikiran kamu, Bim. Sebegitu sempurnanyakah Tania dimatamu? Lelaki dingin yang ketika jatuh cinta tidak main-main.

Bima tidak tahu harus berkomentar apa. Ia tidak ingin ikut campur tentang asmara sahabatnya. Karena bagi Bima, perihal asmara merupakan hal yang bersifat pribadi. Kadang ada beberapa hal dari cinta yang hanya bisa dimengerti oleh si pelaku. Seperti tetap berjuang meski sudah di kecewakan. Salah satunya, Andra.

***

Bima masih menikmati lautan. Hari beranjak senja. Angin bertiup sepoi-sepoi. Andra meminta izin sebentar untuk kembali ke penginapan. Katanya ingin mengambil kamera, mengabadikan senja. Sejak awal kami datang. Memang belum ada satu foto pun yang tercipta. Jarak penginapan tidak terlalu jauh dari tempat Bima menikmati senja. Cukup bersepeda lima belas menit.

Bima tidak sendirian. Ada beberapa orang yang ikut menikmati senja. Ada yang sendiri, rombongan atau bahkan berpasangan. Lelaki itu tersenyum tipis. Pantai dan laut tidak selamanya tentang luka. Mereka menyimpan keindahan yang luar biasa. Lima tahun sudah berlalu. Mungkin ini saatnya Bima melupakan masa lalunya.

Senja yang damai. Tiba-tiba di kagetkan oleh kelakuan soerang lelaki muda. Lelaki berkaos hitam dengan celana pendek berlari cepat. Menerobos orang-orang yang tengah khusyuk melihat langit jingga. Membuat beberapa orang merutuki si lelaki. Namun si lelaki terus saja berlari. Lama-lama menyentuh air laut, sebetis, pinggang hingga kemudian hilang. Bodohnya, orang-orang seolah tersihir oleh peristiwa itu. Barulah setelah si lelaki hilang orang-orang bergerak.

Bima memperhatikan semua itu dengan biasa saja. Berpikir bahwa semua itu hanya untuk sensasi semata. Lagi pula sudah banyak orang yang menolong.  Ia hanya berdoa, semoga si lelaki gila itu ditemukan dalam keadaan hidup. Karena kasian keluarganya nanti. Itu juga kalau ia lelaki baik-baik.

Agak jauh dari kerumunan. Sepesang kekasih terlibat dialog.

“Tania, bukannya tadi itu Andra?”

“Iya, Sayang.”

“Apa tadi dia melihat kita?”

“Biarkan saja! Dia bukan kekasihku lagi. Jangan dipikirkan! Kita datang ke sini untuk berlibur.” Tania tersenyum manis sambil tangannya memeluk pinggang Sam mesra.

Jakarta, 2015

 ***

Penulis : Yang aku tahu perihal samudra adalah hamparan lautan. Baru itu. Mungkin nanti akan bertambah.

@rumpunaksara

Kala senja, kita duduk berdua.
Di bawah pohon yang tak begitu rindang namun cukup menyejukkan.
Daun-daunnya melambai seakan mengundang dua sejoli untuk menikmati indahnya hari bersamanya.
Angin yang sepoi-sepoi menjadi pelengkap indahnya sang hari.

Aku dengan buku catatanku. Kau dengan gitar kesayanganmu.
Aku menuliskan sajak-sajakku, dan kau menyanyikan lagu kesukaanmu.
Namun suara merdumu lebih menarik daripada imajinasiku; mengalihkan duniaku.
Kuputuskan menutup sang buku. Mengalihkan pandanganku ke arahmu. Menopang dagu dengan kedua tanganku untuk menatapmu.
Kulihat kau sedang memejamkan matamu, tanganmu begitu lihai memetik gitarmu, dan alunan nada yang merdu terdengar dari bibirmu.
Ah, rasanya aku ingin menghentikan sang waktu.

Kau membuka matamu. Hingga mata kita saling bertemu. Indah.
Kau tersenyum. Begitu hangat.
“Mengapa kau menutup bukumu? Apa kau lelah?” tanyamu.
“Jika iya, bersandarlah di bahuku.” tawarmu.
Aku pun menyandarkan kepalaku di bahumu sebagai jawaban atas pertanyaanmu. Bukan karena aku lelah. Namun aku ingin merasakan kenyamanan di sana.
Bibirmu mulai menyuarakan lagi alunan lagu.
Tanpa sadar aku menutup mataku. Menikmati waktu terhebat bersamamu.

Entah berapa lama aku menutup mataku.
Kucari kau ketika ku membuka mata. Namun tak kutemukan kau di sisi.
Ke manakah gerangan dirimu?
Sejenak ku menutup mataku, lalu kubuka kembali.
Senyum tersungging di bibirku.
Senyum sebagai tanda terima kasihku karena kau telah hadir kembali.
Meski hadirmu hanya dapat kurasakan melalui mimpi.

3

Taj Lake Palace Hotel- India

The Lake Palace is an 83 room hotel, situated in the middle of a lake in Udaipur. Accessible by boat, luxury hotel the hotel was built between 1743 & 1746 as a royal summer palace. 

During the famous Indian Sepoy Mutiny in 1857, some European families fled to the island, using it as an asylum, as guests of  Maharana Swaroop Singh. All the town’s boats so that no one could reach the island, keeping the Maharana’s  guests safe. 

LEONA (Part 1)

Tahun 2006

Kira-kira sudah 3 bulanan aku merasakan hidup sebagai seorang mahasiswa, bangga rasanya.  Hari masih pagi dan aku sudah duduk santai di kantin kampus (mahasiswa menyebutnya foodcourt biar keren). Di Foodcourt sudah dipenuhi para mahasiswa dan mahasiswi angkatan baru. Mantap sekali memang semangat belajar anak-anak baru, termasuk aku. Bukan semangat belajar sih, tapi semangat ngampus aja. Pergi kampus belum tentu masuk kelas soalnya. Aku masuk kelas jam 7.30, tapi ini sudah jam 8 lewat. Alasanku tidak masuk kelas adalah karena aku sedang menunggu Ronny.

Ronny SMS katanya jangan aku masuk kelas tanpa dia. Sedari belum lulus UN kami sudah janjian akan satu kampus, satu jurusan, satu kelas, janganlah kita belajar sendiri-sendiri. Begitu katanya. Ya sudah, aku ini sohib yang solider.

Kutunggu Ronny sambil lihat-lihat sekeliling, beberapa sudah kukenal namanya, tapi lebih banyak yang hanya kukenal wajahnya. Aku memang orang yang gampang akrab. Ini sejak kusadari parasku lumayan kece juga. Akan tetapi memang… banyak cewek di kantin, kusadari mereka melirikku. Ya aku stay cool aja. Contoh segerombolan cewek di meja ujung sana, di depan warung ayam kremes, aku sadar mereka sedang membicarakan aku. Bukan GR ya, tapi memang kelihatan banget kok.

Aku sudah kenal dengan penjual minuman di kantin, namanya Yadi. Aku suka ledek dia mirip Pasha ‘Ungu’, padahal jauh sekali nggak mirip. Di Foodcourt ada sekitar 15 lapak, tapi yang boleh jual minuman cuma satu, nah itu yang jaga Si Yadi.

Sama Mbak penjual Ayam Bakar, aku juga sudah kenal. Namanya Mbak Nur, orangnya gendut gitu, kalo ketawa tuh menggelegar. Aku panggil dia Marshanda. Nggak mirip Marshanda, tapi nggak apa dia kayaknya nggak keberatan aku panggil itu.

Ada juga Benny, Robbie dan Andhika, yang tadi duduk sama aku, cuma mereka sudah pamit mau masuk kelas. Kubilang, aku nyusul, masih nunggu Ronny.

Terus, di meja seberang ada Kak Vanny dan teman-teman gank-nya. Aku kenal Kak Vanny karena dia kakak kelasku di SMA. Vanny and the gank adalah sekumpulan cewek yang famous dan tajir di kampus. Banyak yang ngejar dan ngedeketin.

Di meja paling pojok, dekat tukang jual nasi gila, di situ ada sekumpulan para senior yang lagi maen gaple. Iya. Pagi-pagi udah main gaple. Satu di antara senior itu, aku kenal. Anak Bekasi juga. 

Terus tadi lewat, cewek cantik namanya Indah, anak Psikologi, angkatan baru juga. Itu aku incar. Tadi sudah tukeran nomor HP.

Sempet nyapa aku juga, cewek namanya Farah, anak Fikom, sekelas aku dengan dia. Dia cantik banget, hidungnya mancung, wajahnya bernuansa timur tengah. Cowok yang deketin dia banyak. Termasuk aku.

Dan, nah, Ronny nongol juga akhirnya!

“Brur!” Bentakku akrab. “Kampret lu ya!”
Brur adalah panggilan sayangku ke Ronny, demikian Ronny juga manggil aku begitu.
“Weeeitttss.. Lagian elu pagi banget udah di kampus!” Jawab Ronny cengar-cengir, mukanya masih bantal banget.
“Si Goblok, kita kan kelas pagi! Ini udah mau jam 9!” Aku kesal.
“Hehehe… Yaudahlah, Brur, asikin.” begitu saja reaksi Ronny, dan kemudian dia memesan makanan buat sarapan.

Yak. Sepertinya kami akan bolos kelas.



Aku dan Ronny, semeja kami duduk berdua, ngobrol ketawa-ketiwi sambil menikmati pemandangan. Bagi kami seorang mahasiswa baru, suasana kantin kampus itu pemandangan. Mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang, ngobrol, ketawa-ketiwi, itu pemandangan. Bisa tebak obrolan kami? Ketebak sepertinya. Sudah pasti tentang cewek.

“Brur, kalo dilihat-lihat Kak Vanny ini lucu juga ya..” Ronny membuka topik. Matanya sesekali menoleh ke arah Vanny yang sedang dia punggungi. Lanjutnya, “Perasaan dulu di SMA doi biasa aja deh!”
“Iya, berubah drastis doi.”
“Udah punya pacar belom sih?”
“Mana gue tau!”
“Coba lo pancing-pancing deh..”
“Iya entar.”

Ronny itu suka nggak pede, padahal tampangnya ada, dompetnya tebel. Hal-hal yang kayak gitu mesti aku juga yang ngurusin.

“Eh, gue lagi SMS-an sama Indah!” Kataku coba memulai topik baru.
“Wuaaaa… udah dapet aja lo kontaknya!”
“Udah dong…”
“Lo mintanya gimana?”
“Pas di tangga, gue papasan. Gue sapa aja.”
“Terus?”
“Gue bilang, ‘Indah’.. terus dia jawab, ‘Ya?’ Dia kaget kali ya, gue tahu namanya. Matanya kayak nggak kenal gue, tapi berusaha nggak mau sombong.”
“Hahahahaha… Terus-terus?”
“Terus gua bilang… ‘Tersiar kabar bahwa di kampus ini ada anak psikologi yang cantik, namanya Indah. Kamu namanya Indah?’ Terus dia jawab, ‘Hahaha iya, kok tau?’ Abis itu gue bilang, ‘aku nggak tau. Aku nebak.’ Dia nanya lagi, ‘Kok bisa nebak?’ Gue jawab, ‘karena kamu cantik.’”
“SIANYIIIIINGGGG…… TERUS TERUS????”
“Terus terus mulu! Ya udah, gue tanya kontaknya.”
“HAHAHAHAHA….”



Cukup lama aku dan Ronny berbincang yang intinya siapa saja list nama cewek cantik di kampus kami tercinta, sampai kemudian lewat kawan baru kami bernama Fajar.

Fajar adalah kawan pertama yang kukenal di kampus, pas ospek. Dia orangnya rame baget. Gimana ya.. Kocak, petakilan, gokil, dan karena begitu humornya, dia banyak kenal orang di kampus. Nah, saat di kantin itu dia lewat bersama 3 cewek.

“Abang-abang ganteng, berdua aja nih!” Begitulah sapa Fajar sambil menepuk pundak Ronny, disusul mengangkat alis kepadaku.
“Dari mana, Jar?” Tanyaku, basa-basi.
“Ini… abis nganterin malaikat-malaikat fotokopi tugas.” Jawabnya sambil melirik ke 3 cewek di belakangnya. Tempat fotokopi juga ada di foodcourt, btw.
Mendengar Fajar bilang begitu, aku tertawa, Ronny tertawa, 3 cewek di belakangnya juga tertawa. Entah sebenarnya apa juga yang lucu.

“Eh, kenalin! Ini Joshua, ini Ronny! Fikom juga!”
“Halooooo….”
“Haiiii….”
“Yuhuuu….”
“Yihaaaaa…..”

Satu persatu cewek yang dibawa Fajar itu, kujabat tangan mereka seraya menyebutkan namaku. Demikian juga mereka menyebutkan namanya. Dari 3 cewek itu, yang kudengar namanya cuma satu, yaitu ‘Leona.’

Keep reading

The Way I Lose Her: Is That You?!

Melihat senyummu, marahku seakan sirna. Tak bertemu denganmu, aku merasa janggal. Mendengar kau memanggil namaku, aku bahagia tanpa alasan. Apakah aku jatuh cinta?

                                                          ====

.

Benar apa yang orang-orang katakan, bahwa sekuat apapun fisik kita, kalau mental sudah down ya mau nggak mau fisik juga kebawa down. Dan ini yang sedang gue alami saat hendak maju ke depan kelas.

Gue nggak peduli lagi tuh Nenek Lampir lagi melihat gue dengan cara apa. Gue nggak peduli sudah sebosan apa anak-anak kelas melihat gue jalan ke depan. Gue nggak peduli sudah sebanyak apa kuku yang habis digigitin oleh kakak pembimbing gue karena melihat gue dimarahin mulu.

Gue cuma bisa tertunduk lesu di depan kelas. Bukan karena merasa bersalah, bukan, tapi karena capeknya itu lho. Pengen rasanya cepet-cepet pulang dan rebahan di kasur rumah. Kalau bisa sih Wulan juga ikut gue pulang, rebahan bareng. Kelonan. #halahKelonan.

“Punya otak gak kamu!”

“Tau cara menghormati orang yang sedang berbicara di depan gak?!”

“Mikir, otak di pake!”

“Baru juga masuk SMA sudah buat onar terus!”

“Nantangin kamu tuh hah?!”

“Diajarin etika gak waktu SMP?!”

“Malu-maluin almamater SMP!”

“Kamu kalau lagi di depan tuh ganteng tau gak!”

Mungkin itu adalah segelintir caci maki yang Kak Hana keluarkan di depan gue. Berkali-kali dia menggebrak meja dan papan tulis untuk menunjukkan seberapa kesal dirinya atas segala tingkah laku gue.

Buset, gue kebayang yang jadi pacarnya nih Nenek Lampir, apa tahan ya doi pacaran sama orang yang kaya gini? Semok sih, tapi kalau menyebalkan kaya gini emang tahan? Mulutnya nyerocos terus kaya kenalpot racing. Suaranya kenceng banget kaya petasan banting.

Mendengar hal tersebut gue cuma bisa menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. Kosong, kaya pantat bolong. Gue nggak terlalu mengambil hati untuk kejadian yang satu ini. Gue sudah terlalu capek. Bahkan sesekali ketika gue ditanya oleh kakak keamanan yang lain, gue kepergok sedang nggak konek dan mengacuhkan pertanyaan mereka.

Tapi satu yang gue inget dan membuat gue benar-benar naik pitam saat itu, tepat ketika kak Hana mengatakan caci makinya yang terakhir.

“Kamu gak pantas masuk SMA ini. Cowok kaya kamu cuma bisa ngebuat onar! Gak pernah nepatin janji! Gak bisa diharapkan! Kamu ini gak lebih dari segelintir cowok-cowok brengsek di luaran sana!”

Anjir masalah lo apa sampe ngomong kaya gitu ke gue?!
Apakah wajar kalau kakak kelas dan seorang keamanan yang memegang teguh prinsip tata tertib berkata tidak bermoral seperti itu?

Ingin rasanya gue membalas perkataan Nenek Lampir tadi, tapi kalau gue membalas lantas apa bedanya gue dengan yang baru saja Nenek Lampir ini tuduhkan ke gue?

Dari jauh gue sempat melihat Wulan begitu cemas. Juga dengan Mai. Mai yang biasanya tertawa kecil di atas penderitaan gue ini sekarang terlihat lebih khawatir. Anak-anak kelas yang lain pun gue rasakan hawanya berbeda. Mereka lebih serius dan tidak menganggap ini sebuah hal yang patut di tertawakan.

Sesekali gue liat raut wajah kakak keamanan yang lain pun cukup terhenyak mendengar Kak Hana yang totalitas banget marahnya siang ini.

Tak berapa lama kemudian, semuanya berakhir. Bel akhir tanda pulang akhirnya dibunyikan. Kakak keamanan keluar meninggalkan kelas yang begitu hening.

Tak ada tawa, tak ada yang berbicara, bahkan kakak pembimbing pun tak menyemangati seperti biasanya. Semuanya berbeda. Gue berjalan pelan menuju bangku gue. Tatapan mata menatap kearah gue semua.

Gue bereskan semua bahan-bahan ospek yang berserakan di atas meja lalu memasukkannya ke dalam tas.

“Kak, aku izin pulang duluan ya” ujar gue kepada kakak Pembimbing

Melihat gue seperti ini, kakak pembimbing pun mengiyakan tanpa pikir panjang. Sebelum meninggalkan kelas, gue menengok sekali kearah Wulan. Tersenyum sebentar yang seakan berkata, “Gue gakpapa kok, Lan. Gue lagi pengen sendiri”

Sebenarnya gue pengen ditemenin Wulan sih. Pengen dimanjain kaya tadi pagi. Gue masih berpegang teguh pada keinginan gue untuk membawa pulang Wulan buat kelonan bareng. Tapi gue juga paling males nyusahin orang. Lagian orang introvert kaya gue lebih senang sendiri untuk menyelesaikan masalah ketimbang ditemani.

Kadang kita butuh sendiri untuk mengetahui seberapa kuat kita bertahan tanpa bantuan. Untuk mengetahui seberapa kita mampu mengerti apa yang orang tidak mampu mengerti.

Akhirnya gue pulang lebih cepat siang itu. Mencoba secepat mungkin sampai di rumah dan merebahkan badan gue yang sudah terlanjur tak bertenaga.

FUCK THIS DAY IN PARTICULAR!!
Gue menyumpahi diri sendiri selama perjalanan pulang.

.

                                                          ===

.

Sesampainya di rumah, gue langsung melepas sepatu, memberi salam, dan menyeret tas gue saking capeknya. Siang itu orang tua pada belum pulang semua, di rumah cuma ada kakak yang lagi asik nongkrong di depan komputer di kamarnya, dan seonggok mahluk yang mempunyai bulu di beberapa tempat tertentu.

Kucing setia gue.
Amel.

Amel ini kucing setia, kemanapun gue pergi di pelosok rumah, Amel selalu mengikuti dan tidur dipangkuan gue. Gila, kucing betina aja nempel ama gue. Playboy amat ya gue..

Setelah ke wc untuk membasuh muka, gue pergi ke balkon belakang. Angin sepoi-sepoi berhembus kencang menepis segala rasa lelah gue. Ditemani dengan segelas es jeruk yang sudah ada di dalam kulkas. Gue duduk di kursi bambu.

Suasana hening di balkon belakang membuat dengkuran Amel semakin keras menemani gemelinting suara hiasan angin yang gue gantung disepanjang balkon. Sembari gue usap-usap, pikiran gue melayang jauh ntah kemana.

.

“Gue kira hari ini bakal rame, Mel…” gue curhat sama Amel. dan Amel cuma diam saja tak peduli. Dasar binatang!

“Marah? kaga sih. Bete? juga kaga. Tapi ntah kenapa kok rasanya males banget ya. Walaupun gue tau ospek ini cuma buatan dan drama doang, tapi keselnya ntah kenapa tetap kerasa. Capek banget, capek mental. Mau ngelawan juga gak bisa, toh dia juga perempuan. Cowok macam apa gue kalau ngelawan perempuan. pffft

Oh iya mel, btw gue tadi ketemu cewek. Orangnya polos banget, tapi kayaknya doi tajir deh, kemana-mana dianter jemput pake mobil. Beda sama gue, kemana-mana dianter sama tukang ojek yang SIM aja kaga punya. Rasanya kalau naik ojek sama dia tuh bawaanya kematian selalu ada di mana-mana. Asem!

Temen? gue gak punya temen. Kan lo tau sendiri gue paling males buat ngobrol SKSD sama orang baru. Gue gak mau kalau masa SMA gue setidak menarik masa SMA kakak gue, ataupun setidak menarik masa SMP gue. Doain gue dong Mel. Lo malah diem aja dari tadi, dengerin gue ngomong kaga?”

gue keplak kepala Amel yang lagi tidur.

“Hmm.. lagian gue bego amat, curhat kok sama kucing.” Sambung gue.

Akhirnya sembari terus mengelus-ngelus kepala Amel, perlahan gue terlelap di atas kursi bambu. Angin musim kemarau yang mendera daun bambu, aroma rumput yang terhempas oleh angin, bunyi-bunyian hiasan dari besi yang saling senggol karena angin, dan suara gemerincing es batu yang menari-nari di dalam gelas membuat gue semakin terlelap ke dalam alam mimpi.

.

                                                         ===

.

“Dimaaaaaaaaaaaaassss”

“…”

“Dimaaaasss!!!”

“…”

“Dimas bangkeee!!”

Mendadak mata gue semakin terbuka, gue melihat jam tangan, ternyata gue cuma ketiduran 15 menit doang. Suara nggak jelas dari halaman depan tampaknya membangunkan gue.

Gue kucek-kucek mata sebentar, lalu pergi kearah suara itu berasal. Dari suaranya sih kayaknya gue kenal nih. Dan benar saja, ternyata mahluk nggak tau diuntung lagi ada di depan rumah lengkap dengan sepeda motornya.

“Ngapain lo kemari? kagak buka komputer lo?” Gue bertanya sembari garuk-garuk pantat yang keram karena tadi tidur dalam posisi duduk.

“Bosen gue, lagian gue kangen elo, kemana aja jam segini kaga ada di warnet?” Tanya Mirza memarkirkan motornya di halaman rumah.

“Lagi sama cewek, gue.” Gue menjawab singkat.

“Anjir?! Serius?! Lo bawa cewek ke rumah lo?!”

“Iye, orang tua gue mah bebas kali. Kenapa? ganggu aja lo. Gue lagi tidur nih..”

“ANJIR!! LO TIDUR BARENG SAMA DIA?!”

“Iye. Bawel ah, kayak gak pernah tidur bareng cewek aja. Doi masih tidur tuh di halaman belakang.”

“Anjir romantis banget! Kenalan dong kenalan!” Mirza buru-buru menghampiri gue.

“Mau kenalan? bukan tipe lo deh kayaknya..”

“Ah yang penting cewek. Siapa namanya?”

“Amelia. Gue panggil Amel.”

“Anjir nama yang indah. Pasti perawakannya juga indah. Lo udah ngapain aja bro?” Mirza mencoba curi-curi pandang ke dalam rumah.

“Tidur berdua. Ngelus-ngelus kepalanya. Perutnya. Dadanya..”

“ANJIR!! SERIUSAN?!” Mirza antusias. Mulutnya mulai menelan banyak ludah.

“Ngapain juga gue bohong.”

“Jangan bilang udah lepas semua ya?”

“Hmm.. iya kayaknya, tadi dia udah gak pake apa-apa sih. Sekarang masih tidur tanpa busana kayaknya di belakang..” Jawab gue ringan

“Dim.. please.. boleh ngintip ya.. please ini mah.. gue traktir maen game deh 10 jam. Oke oke oke..” Mirza memohon sambil ngelus-ngelus tangan gue.

“Asik. janji ya? Lagian ngapain ngintip. Kita liat langsung aja.”

“ANJIR LO PENGERTIAN BANGET DIM!!” Mirza membenarkan posisi celananya.

Setelah chit-chat gak jelas di depan rumah, gue ajak Mirza masuk ke halaman belakang. Selama perjalanan Mirza menggenggam tangan gue semakin erat. Dia mulai gelisah. Jalannya mulai gak benar. Pikirannya sudah terpenuhi oleh fantasi-fantasi Haruki Sato dalam film “Kidnapped Girl”.

Sesampainya di halaman belakang. Gue perkenalkan Mirza kepada sesosok mahluk mungil nan cantik beranama Amelia ini.

.

“Nih nyet, perkenalkan. Amel..” Ucap gue polos.

“…”

“Gue gak bohong kan? gue tidur bareng sama dia tadi. Gue usap-usap juga kepala sama perut dan dadanya”

“…”

“Tuh liat, doi gak pake baju seperti yang gue janjikan. Bulunya banyak loh. Gak kalah sama punyanya Haruki Sato. Btw, janji bayarin gue maen game 10 jam gak bisa ditarik lagi ya.”

“…”

Mirza memasang wajah datar menatap muka gue. Wajah penuh kebencian seakan terukir jelas di dahinya.

“Gue baru inget seberapa tololnya elo dim. Dan begonya lagi kenapa juga gue malah kejebak kaya gini” Mirza geleng-geleng kaya orang lagi mabok.

“…”

“Lagian gue juga harusnya inget, lo kan homo. Mana mungkin bisa deket sama cewek. Pegangan tangan aja lo langsung mimisan.”

“…”

“ANJING!!! ELO TUH NIATNYA APA SIH?! KUCING AJA LO KASIH NAMA AMELIA!! BANGSAT!! KAGA ADA NAMA yang LAIN APA HAH?!”

Mendadak pecah sudah kesabaran Mirza. Tuh anak memaki-maki gue sambil mencekik dan terus-terusan nabokin pantat gue. Kayaknya sehari ini gue kena makian orang terus deh perasaan.

Siang itu rasa cape gue sedikit tertepiskan karena kehadiran nih bocah bangsat satu. Kita ngobrol-ngobrol sebentar sampai jam menunjukkan pukul 5 sore.

Mirza ngajak gue buat ke warnet, doi bilang warnet itu tempat di mana segala rasa gundah gulana hilang menjadi debu. Karena memang lagi nggak ada kerjaan, gue mengiyakan saja apa kata Mirza. Gue menyempatkan diri mengganti baju lalu kemudian berjalan bersama menuju warnet yang jaraknya udah kaya bayi kembar dempet sama rumah gue.

.

                                                              ===

.

Sesampainya di depan warnet, gue melihat beberapa anak berkerumun di sekitaran kursi bambu favorite gue itu. Gue heran, gue melihat kearah Mirza, tapi doi tampaknya biasa saja.

“Kok tumben ada rame-rame?” tanya gue.

“Oh bener berarti.” Jawabnya polos.

“Maksudnya?”

“Tadi Firaz nge-sms gue buat cepet-cepet ke markas. Katanya sih ada cewek cakep sendirian. Dan lo tau lah anak-anak gimana kalau ngeliat cewek cakep nongkrong di warnet. Pasti langsung dibully.” Tukas mirza.

“Anjir kenapa gue kaga diajak. Gue juga mau dong kalau itu mah!” Gue mendadak bersemangat.

“Aelah sama aja lo ah. Kalau gue gak salah sih yang lagi dikrumunin itu cewek yang kemaren sempat maen ke warnet ini juga”

“Ooh dia toh. Kebetulan gue udah lupa sama wajahnya. Samperin nyok. Liat doang, penasaran gue.”

Mirza mengiyakan ajakan gue. Akhirnya kita berdua berjalan memasuki gerbang warnet menuju tempat kursi bambu yang letaknya tak jauh dari pohon jambu. Sesekali gue curi-curi pandang, mencoba mencari tau siapa yang lagi ada di sana.

Tapi semakin gue mendekat, kok rasa-rasanya gue kenal yah nih cewek. Ah tapi masa sih? apa gue yang salah liat ya? Gue mencoba mendekat lebih dekat lagi. Sekarang posisi gue lagi di belakang anak-anak yang sedang berkerumun.

“Oi oi, misi dong misi, gue mau liat.” gue menarik lengan anak-anak untuk menyingkir agar gue bisa melihat lebih jelas.

Gue condongkan kepala gue ke samping bahu temen gue yang paling depan, mencoba sembunyi-sembunyi melihat sosok yang sedang menjadi bahan bercandaan anak-anak cowok ini.

Setelah berhasil melirik sedikit. Mendadak tubuh gue terbujur kaku. Jantung gue berdegup kencang. Sekujur tubuh gue dingin. Gue kaget setengah mati.

ANJING!!!
INI GAK MUNGKIN!!
ITU SERIUSAN DIA?!?!
SERIUS?!
D-DIA KAN…

Gue kaget setengah mati. Tubuh gue mendadak terpaku tanpa bersuara. Keringat dingin bercucuran dari dahi dan seluruh tengkuk di area leher. Suara gue hilang. Bulu kuduk gue berdiri.

Gue mendorong anak-anak yang ada di depan gue untuk menyingkir. Membuat gue berhadapan dengan cewek ini face to face tanpa halangan apa-apa lagi.

“Ka-kamu?!”

gue berbicara terbata-bata saking kagetnya. Badan gue tak henti-hentinya bergetar. Dia melihat ke arah gue. Ada sedikit mimik kaget terlintas di wajahnya. Kita sama-sama terdiam.

“Ha-hai.. Di.. Di-mas..” Jawabnya terbata-bata.

.

.

.

.

                                                      Bersambung

PERUMPAMAAN WANITA DISISI RASULULLAH ﷺ

“Hai Anjasah, perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut.”

(HR. Bukhari)

Dalam sebuah perjalanan. Ketika itu Rasulullah Saw bersama seorang budak yang biasa dipanggil dengan nama Anjasah. Suara Anjasah yang demikian kuat sering membuat unta yang sedang dinaikinya meronta-ronta.

Setiap kali Anjasah berkata dengan suara tinggi, maka unta itu bergerak tanpa kawalan kerana terkejut. Hal itu membuat para wanita yang sedang berada diatas unta hampir-hampir saja terjatuh.

Melihat yang demikian itu, Rasulullah Saw segera menegur Anjasah… kemudian memintanya untuk melirihkan suaranya.

“Perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut, hai Anjasah!!”

Kata baginda mengingatkan…

Dan maksud dari gelas-gelas kaca itu adalah “para wanita.”

Ungkapan yang begitu indah.

Mengagumkan…

Sungguh bahasa yang Baginda pilih untuk mengilustrasikan karakteristik kaum wanita adalah sangat tepat…

Mereka memiliki kelembutan rasa.

Selembut belaian angin sepoi-sepoi,

Bahkan lebih lembut lagi…

Mereka mempunyai kehalusan jiwa.

Sehalus sutera China,

Bahkan lebih lagi…

Hal inilah yang mendorong Rasulullah Saw begitu selesa menyebut kaum wanita dengan istilah “gelas-gelas kaca”.

Gelas-gelas kaca itu “fragile”.

Maka perlu “handle with care”.

Gelas-gelas kaca itu bersih.

Sebersih sinar mentari di waktu dhuha, bahkan lebih bersih lagi.

Selalu menyenangkan hati orang yang menatapnya.

Kerana memang naluri manusia cenderung mencintai keindahan.

Dan gelas-gelas kaca itu punya tabiat dasar bersih serta indah.

Ia sangat tepat,

Wanita memiliki kelembutan jiwa, kepekaan hati serta sensitiviti rasa._

Namun tabiatnya yang indah suatu saat boleh saja ternoda…

Malahan ia akan terkeluar ataupun ‘dipaksa’ keluar dari landasan fitrahnya…

Demikian halnya dengan gelas-gelas kaca itu,

Ia boleh saja pecah ketika terjatuh atau dijatuhkan…

Ia juga boleh kotor kerana debu-debu dengan mudah melekat padanya.

Oleh kerana itulah Rasulullah Saw begitu hati-hati dalam menyebutnya, apalagi bermuamalah dengannya.

Sebuah gelas kaca bila telah hancur maka akan sulit untuk kembali ke bentuk asal semula. Meski menggunakan cara dan bahan paling baik sekalipun. Ia tidak akan sama walau ia tampak serupa.

Begitu juga sekeping hati milik wanita.. ia akan sukar kembali pada rasa asal nya setelah terluka. Maka jagalah hati mu wanita agar ia sentiasa dlm kasih sayang Allah hingga tiada kecewa yang mmpu mencalitnya.

(Sumber : ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari)

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Hello Studyblr community,

I’m Mel, nice to meet you! After taking a two year break from school. I decided to continue my post secondary education and start my first year at a local university this year (September 2015). I am currently in a undeclared Asian Studies major program and want to eventually minor in psychology or criminology. (I’m actually really confused with the major-major, major-minor process.) 

Right now I’m currently working on a 10-pages essay on the causes of the 1857 Mutiny/Sepoy Rebellion and preparing for a mid-term about the Dhammapada and its teachings. 

I decided to make a Studyblr because I saw pictures of organized notes and desks and thought “I want that too.” I am terrible at studying and didn’t get the best grades in secondary school. After reading many stories on how people started their Studyblrs I decided I would give it a shot! Hopefully it will motivate me to work harder! 

I also love to use planners! I collect washi tapes and stickers. I currently use the Ban.Do 2015-16 Florabunda Spiral Agenda. I also want to get into bullet journals. So please expect to see weekly/monthly planner spreads in the future! 

So please enjoy a temporary picture of what’s in my pencil case and I look forward to starting my academic journey with you! ♥