sepoys

British soldiers of Indian descent, often known as “sepoys,” 1820. The East India Company, greatly outnumbered by the Indians they ruled over, relied heavily on Indian manpower for the British military. The sepoy rebelled in 1857 and were brutally put down, resulting in the British crown taking control of India and the expansion of the British domain in India. Illustration from Frederic Shoberl’s  ‘The World in Miniature: Hindoostan’. 

PERUMPAMAAN WANITA DISISI RASULULLAH ﷺ

“Hai Anjasah, perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut.”

(HR. Bukhari)

Dalam sebuah perjalanan. Ketika itu Rasulullah Saw bersama seorang budak yang biasa dipanggil dengan nama Anjasah. Suara Anjasah yang demikian kuat sering membuat unta yang sedang dinaikinya meronta-ronta.

Setiap kali Anjasah berkata dengan suara tinggi, maka unta itu bergerak tanpa kawalan kerana terkejut. Hal itu membuat para wanita yang sedang berada diatas unta hampir-hampir saja terjatuh.

Melihat yang demikian itu, Rasulullah Saw segera menegur Anjasah… kemudian memintanya untuk melirihkan suaranya.

“Perlakukanlah gelas-gelas kaca itu dengan lemah lembut, hai Anjasah!!”

Kata baginda mengingatkan…

Dan maksud dari gelas-gelas kaca itu adalah “para wanita.”

Ungkapan yang begitu indah.

Mengagumkan…

Sungguh bahasa yang Baginda pilih untuk mengilustrasikan karakteristik kaum wanita adalah sangat tepat…

Mereka memiliki kelembutan rasa.

Selembut belaian angin sepoi-sepoi,

Bahkan lebih lembut lagi…

Mereka mempunyai kehalusan jiwa.

Sehalus sutera China,

Bahkan lebih lagi…

Hal inilah yang mendorong Rasulullah Saw begitu selesa menyebut kaum wanita dengan istilah “gelas-gelas kaca”.

Gelas-gelas kaca itu “fragile”.

Maka perlu “handle with care”.

Gelas-gelas kaca itu bersih.

Sebersih sinar mentari di waktu dhuha, bahkan lebih bersih lagi.

Selalu menyenangkan hati orang yang menatapnya.

Kerana memang naluri manusia cenderung mencintai keindahan.

Dan gelas-gelas kaca itu punya tabiat dasar bersih serta indah.

Ia sangat tepat,

Wanita memiliki kelembutan jiwa, kepekaan hati serta sensitiviti rasa._

Namun tabiatnya yang indah suatu saat boleh saja ternoda…

Malahan ia akan terkeluar ataupun ‘dipaksa’ keluar dari landasan fitrahnya…

Demikian halnya dengan gelas-gelas kaca itu,

Ia boleh saja pecah ketika terjatuh atau dijatuhkan…

Ia juga boleh kotor kerana debu-debu dengan mudah melekat padanya.

Oleh kerana itulah Rasulullah Saw begitu hati-hati dalam menyebutnya, apalagi bermuamalah dengannya.

Sebuah gelas kaca bila telah hancur maka akan sulit untuk kembali ke bentuk asal semula. Meski menggunakan cara dan bahan paling baik sekalipun. Ia tidak akan sama walau ia tampak serupa.

Begitu juga sekeping hati milik wanita.. ia akan sukar kembali pada rasa asal nya setelah terluka. Maka jagalah hati mu wanita agar ia sentiasa dlm kasih sayang Allah hingga tiada kecewa yang mmpu mencalitnya.

(Sumber : ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari)

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Diam-Diam; Dalam-Dalam

Aku ingin bilang jika menautkan perasaan tidak semudah yang kaukira. Butuh perjuangan, menyeberangi jembatan bernama ketidakberanian. Lalu, segala kemustahilan yang menyelimuti diri luruh, digerus senyummu. Menembus hingga kedalaman jiwa.

Aku ingin bilang jika aku akan selalu menunggumu, sekalipun kesempatan itu tidak pernah ada. Musnah bersama udara. Karena aku tahu, aku takpantas untuk menjadikannya nyata. Dan kemudian aku akan berlari sekuat tenaga menuju taman, mengusir sesiapa pun yang duduk di bawah pohon Kersen saat itu.

Aku akan menikmati gugur dedaunan teranggas dari rantingnya sembari menunduk dan menuding diri sendiri berkali-kali. Atas sebuah rasa yang lama bersemayam, tumbuh subur, namun melahirkan ranting-ranting tajam yang menusuk-nusuk perasaan.

Lalu, ketika senja tiba, aku akan rebah di pinggir danau, menatap lurus langit. Sesekali. Dan ketika bangkit, sepoi angin membelai tengkuk, aroma danau meliuk di dalam hidung. Adapula semerbak bunga lotus memelesat cepat di atas langit dan membuatku resap.

Aku akan terus menunggu, takpeduli berulang kali aku harus memaki diri sendiri karena begitu lemah di hadapmu. Begitu buta di saat kau takpernah memilihku. Yang kutahu, aku mencintaimu; diam-diam; dalam-dalam.

Hingga Akhir Waktu.



Bogor

21,10,2016

[Surat] Selamat Malam, Kenangan

Selamat malam, HA

Kenangan. Itu kata yang pertama terlintas di pikiran saat aku memutuskan untuk menulis surat ini. Saat duduk di bawah pohon Kersen di antara gugur dedaunan dan kemudian tiap helai yang ranggas mengingatkanku padamu. Pada sepoi angin yang meliuk di tengkuk dan kata-kata yang berkelindan di kepala. Aku tahu, takdir sudah memastikan bahwa aku takkan merasa apa-apa lagi. Setelah luka ini taklagi bisa diobati oleh waktu. Sebuah luka yang kutafsirkan sebagai bahagia.

Bahagia. Kata ini yang ingin kusematkan padamu yang sudah merentas sebuah perjalanan bersama lelaki lain yang kukenal dengan sangat baik. Aku turut bahagia untuk kalian berdua. Setidaknya, jawaban itulah yang terbaik untukmu dari sebuah pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di pikiranmu perihal aku dan masa depan yang kamu cari. Aku baik-baik saja di sini. Aku terbiasa melewati segala dalam sepi, dalam jarak yang semakin bisu.

Menautkan perasaan padamu adalah caraku untuk menjadi pembohong yang baik. Seperti kala aku selalu duduk di bangku taman ini untuk mencuri tatap pada senyummu yang kini hanya menjadi debu di dinding hatiku yang kian dingin tanpa kehadiranmu lagi di sana. Segara itu telah kering. Samudra itu telah kulewati hanya untuk mencapai bibir ketiadaan yang dialasi pasir-pasir lembut kenanganmu.

Apa kabarmu hari ini? Bahkan aku masih saja sama seperti dulu, takbenar-benar berani membangun pembicaraan denganmu. Masih saja berdiri dari jarak yang tak disangka olehmu, berharap suatu waktu nanti kita berada di situasi yang berbeda. Mengharapkan itu saja sudah membuatku sesak. Rasanya aku bisa mendengar jelas detak jam dinding dan kesiur angin yang membawa pergi harapan itu dari hidupku. Rasanya jantungku taklagi mencari irama detakmu, tapi kembali seperti semula.

Aku masih saja menjadi lelaki pecundang yang takpernah berani mengatakan apa-apa. Lelaki bodoh yang membiarkanmu terluka tanpa mengobatinya dan membiarkan orang lain menggantikan tempatku yang seharusnya. Setiap hari, jika kamu tanyakan, aku terus saja berbohong dan berkata bahwa semua biasa saja. Mungkin, kamu mengira, aku lelaki pengecut yang hanya berani menautkan rasa tanpa mau melanjutkannya.

Ya, kamu benar. Itu aku. Lelaki yang takbisa memberi apa pun. Lelaki yang takpunya apa pun. Lelaki yang hanya bisa menawarkan hati dan puisi yang barang dua hari akan basi dan kamu bakar di perapian rumahmu. Mungkin kamu hanya akan menertawainya bila aku ternyata berbeda dengan orang lain yang berbaris menanti jawabanmu.

Tapi percayalah, aku belajar menjadi baik-baik saja. Aku belajar menjadi aku di hadapan matamu. Belajar menjadi seseorang yang mencintai hujan. Seseorang yang selalu beranggapan jika kamu pun hidup sebagai hujan dan dengan begitu, aku bisa merasakan sebagaimana lelakimu hidup bersamamu. Percayalah, kamu takperlu memikirkan sesuatu tentangku. Kamu bahkan (mungkin) takpernah menganggapku ada.

Surat ini kutuliskan hanya untuk melepaskanmu dari hidupku. Aku ingin kamu hidup sebagai kata-kata yang lahir di dalam pengungkapan rahasia ini. Terima kasih, sudah membuatku belajar banyak hal.


Tertanda,

Di tengah hujan dini hari



Bogor

10 Maret 2017

Aku hanya butuh sepotong sore yang tenang, angin sepoi, dan helaan pada pucuk-pucuk ilalang.
Kita menikmati matahari dan sinarnya yang kelelahan. Tetapi, mimpi itu tak akan menyata meski aku memiliki surga.
—  Sukma Hayati Nasyufi, adikku.
2

This was a request via mail on tumblr…

Henry McIver (1841-1907), US soldier of fortune and Serbian Brigadier General.

In his quite illustrious life he joined East India Company at the age of 16 and saw fighting in Sepoy Mutiny. Later he served under Garibaldi in Italy, and fought for Don Carlos in Spanish Carlist wars.

In US Civil War he joined Confederacy fighting under Jackson and Stuart. After US Civil war he went to Mexico, as a mercenary under Maximilian vs Juarez rebels. He was captured by Indians, but escaped by swimming over Rio Grande. He saw combat in Brazil and Argentina also.

He went to Europe in later 1860s and fought with Egyptians vs Turks and Greek rebels on Crete vs Turkey. He is known to have persuaded whole Egyptian Coptic unit (company sized) to defect to Christian side.

He fought in Franco-Prussian war on French side.

In 1874. he went to Montenegro and would lead volunteers 1874-75 during Herzegovina Uprising , using very successful guerrilla campaign vs Turks. He met and became a friend with Petar Mrkonjic, later Serbian king Petar I Karadjordjevic.

In  late 1875. he was traveling over Europe rescuing volunteers to fight for Serbia vs Turkey. 

In 1876. he founded Serbian-Russian volunteer cavalry brigade named “Knights of the Red Cross” which he lead successfully in fighting at Timok, Morava and Aleksinac in the fall of 1876. For the last battle he got Serbian Takovo Cross and Russian Golden Medal for Bravery. Andrejs Pumpurs, Latvian poet and soldier and  Sophus Christensen, Norwegian officier also served in his unit.

He was a favorite among court circles in Serbia and Romania, but he did not want to live in peace and left Serbia in late 1878. He gave up his pension to a orphanage for a children of soldiers killed in 1876-78 wars.

After that he saw combat in Cuba and British invasion of New Guinea.

All together he fought for 18 different armies.

In his old days he was sailing and lived by selling fish in England and Virginia.

He died on his boat in 1907., Serbian cavalry saber in his hand.

The British Sikh’s Finest Hour

Sikhs have made a long and valuable contribution to the British Army and a unique respect for each other’s courage, skill and determination have led to a proud, shared military heritage.

Recently, on the most prestigious of Sikh days, when Sikhs everywhere honour the bravery of their forebears at the deadly Battle of Saragarhi, Minister for Reserves - Julian Brazier MP, joined Major General Richard Stanford MBE, GOC Regional Command, and esteemed guests from the Sikh community in a special event in the heart of London.

On 12th September 1897 in an ultimate test of devotion to duty, 21 British Indian Army Sepoys (Sikh soldiers) defended the Saragarhi outpost in the hills of the North West Frontier Province (now Pakistan but then part of British India), against 10,000 Afghan tribesmen.

Rather than surrender, the soldiers fought to the death against impossible odds for nearly 10 hours with basic ammunition and bayonets. Although the outpost was lost, the Afghans later admitted to having lost around 180 of their soldiers with many more wounded, demonstrating the expertise of the Sikh warriors.

To honour the selfless commitment and courage of these Sikh soldiers they were posthumously awarded the Indian Order of Merit, the highest gallantry award of the time.

The heritage of Sikh Service to the Crown is humbling, courageous, inspiring and continues today in the Regular Army, Army Reserve and Army Cadet Force. The event at Armoury House in Finsbury, London, highlighted that contribution, in particular looking at how the values exemplified by the Saragarhi 21 are demonstrated in current serving Sikh personnel.

There are currently 180 Sikhs in the British Army and their integral contribution and success is undoubtedly due to the common core values upheld and shared between Sikhism and the Armed Forces: Courage, Discipline, Respect for Others, Integrity, Loyalty, and Commitment.
During the course of the morning, the First World War Sikh Heritage Platoon recalled stories of their great grandfathers and Jay Singh-Sohal provided a moving account of the selfless commitment and bravery of Sikhs, from their unflinching loyalty in 1897 to operations today.

Adding colour and pageantry to the commemorative event, the Band of the Rifles marched and played traditional music. Rifleman Mandeep Singh, 25, from Birmingham is himself a proud Sikh.

Lance Corporal Ian Chave played the last post and a solemn silence was held in memory of all those who had fallen in service of the Crown, before a dramatic “War Cry” was performed by Captain Makand Singh. The guests were then treated to a Punjabi lunch with spiced tea in the Honourable Artillery Company’s historic Prince Consort Rooms.

Lieutenant Daljinder Virdee, 25, from Iver Buckinghamshire is a pharmacist officer in 256 Field Hospital Royal Army Medical Corps (RAMC) in London. He said he takes inspiration from the 21 Saragarhi Warriors every day: “The RAMC motto is strength in adversity and in tough times when odds are stacked against you these soldiers stood their ground and did not give an inch. They were my forefathers and their strength is in all of us”.

Major Sartaj Singh Gogna, 37, from Brentwood is a senior instructor at the School of Royal Electrical and Mechanical Engineering in Arborfield. He joined the Army 15 years ago and as Chairman of the British Armed Forces Sikh Association he often get asked about the challenges facing Sikhs thinking of joining the Army. “When I signed up I was a clean shaven, short haired bloke. And surprisingly it was the Army that has helped me to grow spiritually and supported my decision to become a fully practising Sikh, wearing my Dastar (turban).”

Reserves Minister Julian Brazier said: “We’re determined to make sure that any Sikh joining up will feel at home in the Armed Forces of today. That’s why we have the British Armed Forces Sikh Association providing personnel with a practical support network, complemented by the spiritual guidance offered by our Sikh Chaplain. We have prayer rooms in every unit, vegetarian ration packs for every operation, and a flexible dress code so that these days a Sikh in a turban can stand guard outside Buckingham Palace.”

The British Army is keen to commemorate such events to keep the memory of Empire and Commonwealth soldiers’ contributions to our history alive and to inspire others to follow their example: this is the second year that they have commemorated the Battle of Saragarhi, with last year’s commemoration also coinciding with the launch of the Armed Forces’ Sikh Association.

Hati Sedalam Samudra

6 tahun, bukan waktu yang singkat untuk mengenal, berlayar di kehidupan seseorang, lalu tenggelam dalam hatinya.

Dan, dari waktu tersebut, hanya satu hal yang aku butuhkan; menepi.

Beristirahat sedikit lebih lama di dermaga, menikmati angin sepoi-sepoi dan senja, atau memperhatikan burung merpati yang terbang kesana kemari.

Aku menghela nafas. Bagaimana bisa aku berenang ke daratan jika aku sudah tenggelam dalam hatinya? Aku merebahkan tubuh. Tiba-tiba kehilangan nafas. Bukan karena tidak ada air, melainkan karena aku belum mengunjunginya hari ini.

Tapi sejauh apapun aku mencari hatinya, ternyata aku tak mampu menemukan. Lantas, dia membuatku mengaguminya, membiarkan aku tenggelam, lalu pergi begitu saja.

Dia mungkin lupa, kalau hatinya sedalam samudra.

2

The Enfield Model 1858 India Service Musket,

In 1857 Indian troops under the employ of the British East India Company openly rebelled against the British Indian Government after being issued paper musket cartridges greased in beef fat and pork fat.  While the beef fat bullets greatly offended the religious beliefs of the Indian soldiers, there were several much more profound issues the Indians had with British rule in India.  The Sepoy Rebellion would last over a year, and was an especially bloody war with horrific atrocities committed by both sides.

After the Sepoy Rebellion, the British government would end the administrative powers of the British East India Company and take direct control over governing affairs in India.  Among the new reforms was the adoption of a new service arm for the Indian Army.  The Pattern 1858 Enfield was constructed from earlier British P1853 muskets with some very specific modifications.  First, the rifling of the musket was reamed out, turning the musket into a smoothbore.  Secondly the adjustable rear sight of the P1853 was removed and replaced with a crude fixed sight.  Both of these modifications were intended to greatly reduce the accuracy of the P1858.  The British feared another Indian rebellion, so British policy hence forth was to arm Indian troops with firearms that were greatly inferior to the standard British issue.  Later the Pattern 1859 was introduced, which were smooth bore musket produced on their own rather than modified forms of the P1853.

Jangan kau bimbang.

Suatu hari nanti,kita akan tua.

Dan segala kesakitan hari ini,
Air mata yang jatuh kerana juang ini,
Rajuk luka yang menerjam dalam hati ini,
Caci maki sepoi bahasa menghiris halus ini,
Tuduh keji yang diserong orang ini,

Akan ditelan nyanyuk.

Kita akan lupa.
Kerana suautu hari nanti,kita akan tua.

Usah kau risau,sayang.

Kita bakal nyanyuk dan tua.