sendirian-doang

Cuma Bercanda Kok!

Aku kedinginan. Malam ini, angin berlomba-lomba menancapkan gigil ke dalam tulangku. Awan mendung yang tebal membuatku semakin merinding. Tapi aku tetap ingin menemuinya.

Petikan gitarnya sudah terdengar. Merdu, perpaduan harmoni yang selalu mampu meluluhkan hatiku. Dia naik ke rumah pohon kami terlebih dahulu, lalu seperti biasa aku akan menyusulnya dan duduk di sampingnya.

“Re, datang juga akhirnya. Aku udah lapar banget.” protesnya karena keterlambatanku yang cuma sepuluh menit dari waktu janjian kami.

“Mandi dulu tau, emang kayak kamu yang malas mandi.” balasku sambil menyerahkan rantang yang berisi makanan untuknya.

Dia hanya nyengir.

“Besok pesawat jam berapa?” ujarku membuka percakapan.

“Jam 7. Pagi banget kan? Mana bisa aku bangun jam segitu.”

“Tapi asik ya, kamu ke Bali. Lah aku cuma dii sini sendirian di rumah.”

“Kamu kan bisa ke rumah pohon ini tiap malam, anggap aja ada aku di sini. Hahaha.” ledeknya. Ya Tuhan, tawanya.

“Gak ah, seram tau sendirian doang.”

Dia merebahkan diri sambil mencoba mencari bintang yang belum tertutupi oleh awan mendung. Aku duduk di sampingnya.

“Re, seandainya aku gak pulang Pontianak lagi, kamu mau bilang apa sama aku terakhir kalinya?”

“Loh kok ngomong begitu sih, Bas? Kayak mau pergi kemana aja deh.”

“Ya, namanya juga berandai-andai.”

“Hmm, kalau gitu aku mau bilang kamu jaga kesehatan baik-baik, jangan telat makan, kalau lagi kalut atau punya masalah jangan lupa cerita sama aku.”

“Huah, baik banget sih ini anak. Aku jadi terharu.” Dia pura-pura mengusap kelopak bawah matanya.

“Kalau kamu, mau sampain apa ke aku? Kamu pasti akan kangen sama cerewetnya aku deh.” Aku nyengir.

“Aku suka kamu.”

“Hah?”

Hatiku berdebar kencang. Hening sejenak. Aku harus mencerna baik-baik ucapannya barusan. Tapi sebelum aku melayang, tiba-tiba tawanya pecah. Kali ini, air matanya benar-benar keluar dari sudut matanya.

“Januari Mop! Eh mukamu dodol sekali tadi. Haha. Cuma bercanda kok!”

Aku memukul lengannya berkali-kali sampai dia mengerang kesakitan. Dia masih menahan tawanya.

Pukul sembilan lebih, itu artinya kami harus kembali ke rumah masing-masing.

“Re pulang yuk, ntar kemaleman. Aku belum packing.”

“Udah duluan aja Bas. Aku beresin barangku bentar dulu.”

“Oke deh, aku jalan pelan-pelan, nanti nyusul ya, jangan lama-lama.”

Aku mengangguk pelan. Dia sudah menuruni tangga kayu, dari atas sini aku bisa melihat dia berjalan pelan-pelan sambil menggendong gitar kesayangannya.

Aku mengambil ponselku. Mengetik pesan singkat.

Penerima: Bastian (08xx-xxxx-xxxx)
Pesan:
“Kenapa cuma bercanda?”

Send it or saved as draft?