semang

The Way I Lose Her: White Flag

Lukai aku dengan belati, aku akan tetap berdiri. Pukul kepalaku dengan keras, aku akan tetap memelukmu dengan tegas. Tinggalkan aku dan berkata kau bahagia dengan orang lain, maka kau akan melihat aku meneteskan air mata dan perlahan mati dibunuh perasaan sendiri.

                                                            ===

.

Ada yang janggal. Ada yang tidak pada tempatnya. Seperti tukang lengkeng di mobil kol buntung tapi setelah didatangi ternyata lagi jualan duku. Gue tertipu! Gue merasa ada yang tidak beres! Perasaan gue nggak enak banget pagi ini. Gue yang seharusnya lagi serius mengerjakan soal-soal remedial yang sebenarnya nggak gue mengerti ini, terpaksa makin tidak bisa mengerjakannya ketika di sebelah gue ada nenek sihir lagi menatap ke arah gue tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Udah mirip kaya ular Kobra mau nyerang mangsanya. Aligator mau gigit pantat Pumba di film Lion King. Tatapannya dingin! Suasana mendadak terasa mencekam. Dia diam di sebelah gue dan melihat ke arah soal yang lagi gue kerjakan. Gue melihat ke arahnya. Dia melihat ke arah gue. Dia tersenyum sinis ketika melihat kertas jawaban gue masih bersih dan suci total kaya bayi baru brojol dari udel. Njing, nih anak nyebelin banget! Tatapannya menghina sekali!

Mana ada orang yang bisa mengerjakan sesuatu jika dia sedang dilihati terus menerus seperti ini?! Mana tatapannya seperti orang yang sedang merendahkan lagi. Dia menatap gue tanpa suara tapi di telinga gue serasa ada yang bisik-bisik.

“Bego amat jadi orang. Udah nggak usah naik kelas aja.”

BEDEBAH!

Ingin rasanya ngusir nih anak dari sebelah gue, tapi gue mengurungkan niat tersebut mengingat waktu remedial semakin mepet. Guru Biology gue tampak tidak peduli dengan kehadiran Cloudy, doi tetap aja asik ngegosip sambil nyemilin pisang goreng dingin yang udah lemes kaya pinsil inul bersama guru-guru yang lain.

Gue garuk-garuk kepala. Sudah tadi malam kagak belajar, sekarang pas remedial harus makin pusing mengingat di sebelah gue seperti sedang ada pengawas Ujian Nasional.

“Ngapain ada di sini?” Tiba-tiba Cloudy angkat bicara. Tapi gue tetap tidak menengok ke arahnya.

“Soal Biology gampang begini aja pake acara remedial?” Tambahnya lagi.

Tuh kan tuh kan! Ujung-ujungnya pasti ngehina nih si sarung remote. Untung aja tadi nggak gue jawab pertanyaannya. Bisa berabe kalau gue jawab, bakal panjang urusannya. Cloudy bete karena dicuekin tapi gue tetap tidak peduli. Akhirnya setelah merasa puas memperkosa gue dengan tatapan dinginnya, dia menggeser kursinya menjauh dan kembali diam di meja Pembina OSIS.

Selang 10 menit keadaan kembali tentram tapi gue masih belum bisa ngisi apa-apa. Bangsat! Kenapa otak gue melempem banget kalau lagi kaya gini sih?!

“Dimas, 10 menit lagi ya.” Ujar guru Biology yang kemudian kembali ngemutin pisang gorengnya. Melihat hal itu, gue jadi merasa ngilu.

Gue tidak terlalu memperhatikan Cloudy di sebelah sedang apa, tampaknya Pembina OSIS juga sudah kembali ke ruang guru dan sempat berbicara sebentar dengan Cloudy. Di waktu yang sudah mepet ini, gue mulai merasa harus mengeluarkan jurus andalan terakhir, ngitung kancing. Yasudalah mau dikata apa, gue memang nggak belajar jadi pasrah aja deh. Gue membulatkan tekad, berdoa sebentar, lalu bersiap mengisi seluruh lembar jawaban yang daritadi kosong ini.

“Dim.” Tiba-tiba gue kembali dikejutkan oleh Cloudy yang berdiri di sebelah gue sekarang.

Sontak gue menengok ke arahnya dengan tatapan penuh tanya. Ia menatap gue masih seperti biasanya, dingin dan menyebalkan.

Tuk.

Ada sebuah kertas yang dibulat-bulat dilemparkannya ke atas kertas jawaban gue. Gue heran, gue melihat ke arah kertas itu sebentar lalu kembali menengok ke arah Cloudy. Tapi belum sempat gue bertanya, dia berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ini cewek kadang nggak pernah bisa gue tebak moodnya lagi kaya gimana. Tanpa pikir panjang gue langsung membuka gulungan kertas yang sudah tidak berbentuk itu.

Betapa terkejutnya gue ketika mendapati ternyata di sana tertulis seluruh jawaban dari soal Biology yang sedang gue kerjakan ini. Gue melihat lebih seksama lagi, dan ternyata kalau dipikir-pikir jawabannya emang betul semua, sepintas jawaban yang dia tuliskan di kertas kucel ini mirip seperti dugaan gue ketika mau mengisi jawaban.

Astaga! Jadi daritadi tuh dia bukan ngeliatin gue toh?! Jadi dia ngebaca soal yang ada di depan gue? Damn! Gue telah berburuk sangka sama malaikat penyelamat gue. Tanpa pikir panjang lagi gue menyalin semua jawaban yang Cloudy tuliskan nggak peduli apakah jawaban itu adalah jawaban yang benar atau jawaban asal-asalan.

Ketika waktu sudah selesai, gue kumpulkan kertas ulangan gue dengan senyum sumringah seperti baru lepas dari jeratan malaikat Izrail. Setelah diperbolehkan pergi dan membereskan alat-alat tulis, gue langsung berlari keluar dan mencari Cloudy untuk sekedar berterima kasih. Gue sempat berlari dan mengecek ke dalam ruang OSIS, tapi tidak ada Cloudy di sana. Yang ada hanya kang Acil dan anak keamanan lain yang lagi ngebokep berjamaah di belakang 2 roka’at. Gue diajak untuk bergabung tapi gue menolak dengan halus.

Gue pergi ke kelasnya untuk mengintip sebentar, tapi ternyata Cloudy juga sedang tidak berada di sana. Setahu gue Cloudy ini anaknya memang pintar, dengar-dengar dari kabar orang-orang sih dia rangking di kelasnya, walaupun dia harus dispen tiap hari, entah bagaimana ceritanya dia bisa tetap menjaga nilai pelajarannya juga. Beda sama gue, apalagi sama Ikhsan. Kita masuk kelas tiap hari juga tetap aja nilai Fisiknya 20 point dan kagak pernah mau naik.

Gue kembali pergi mencari Cloudy. Dan kini gue mengecek perpustakaan sebentar siapa tahu tuh anak lagi baca buku. Ah tapi nggak mungkin. Kemudian gue memasuki area kantin mengingat siapa tahu dia lagi makan Mie Yamin Manis kesukaanya itu. Dan ternyata benar, gue melihat dia duduk di sana dengan beberapa orang yang entah siapa. Ada cewek juga cowok.

Sebenarnya gue ingin datang dan mengucapkan terima kasih sih, tapi melihat keadaannya sekarang dia lagi bersama teman-temannya, rasanya nggak sopan untuk nimbrung begitu saja. Apalagi gue nggak tahu Cloudy sekarang sedang melihat gue sebagai apa. Sebagai cowok yang menyebalkan kah? Atau sebagai teman cowok yang sedikit tidak menyebalkan?

Gue mampir di warung kantin sebelah untuk membeli Teh Kotak dingin satu buah. Gue punya kebiasaan memberikan Teh Kotak sebagai rasa terima kasih. Apabila suatu ketika gue berani membelikan seseorang sebuah Teh Kotak, itu berarti seseorang itu lebih dari sekedar teman buat gue, or dia sudah sangat membantu gue di suatu situasi dan gue sangat berterima kasih atas apa yang telah dia lakukan.

Gue berjalan menghampiri Cloudy, dan tampaknya Cloudy melihat ke arah gue. Kini tatapannya berbeda, ada rasa khawatir gue lihat di tatapannya. Loh kenapa nih? Tumben-tumben nih anak melihat ke arah gue seperti itu. Tapi mungkin karena gue memang terlahir sebagai cowok yang tidak peka, gue tetap mendatangi Cloudy lalu kemudian berdiri di depannya.

Gue taruh Teh Kotak itu di depannya, sontak seperti yang gue perkirakan, semua tatapan teman-temannya jadi terfokus ke arah kita berdua. Gue tidak melihat ke arah mereka, gue tetap fokus kepada Cloudy. Gue tersenyum.

“Hehe Thanks yak! You save my life! Ini sebagai tanda terima kasih gue.” Kata gue sambil menyerahkan Teh Kotak itu lebih dekat ke arahnya.

Karena tidak ingin mengganggu lebih lama, gue memilih untuk langsung cabut lagi dari kantin dan kembali ke dalam kelas gue tercinta. Baru saja gue sampai di dalam kelas, mendadak Ipeh langsung datang dan glandotan di leher gue dari belakang. Dia memeluk leher gue keras sekali sehingga gue oleng dan menabrak tembok. Ketombe gue luruh semua. Ipeh yang sedang glandotan di leher gue juga membentur tembok, tapi sekarang gantian temboknya yang luruh.

“APAAN SIH, PEH?!” Kata gue sambil menahan sakit di bagian kepala.

“Mbe! Gimana remednya?! Kok elo bisa remed sih?!” Kata Ipeh tidak mempedulikan keadaan gue.

“Noh! Gara-gara si Tukang Kupat bangsat itu!” Kata gue bete menunjuk ke arah Ikhsan yang sekarang masih cekikikan di atas meja melihat ke arah kita berdua.

Siang itu gue habiskan banyak bercerita bersama teman-teman di kelas. Sesuatu yang sudah jarang gue lakukan mengingat gue sering sekali mendapat dispen akhir-akhir ini. Mumpung hari ini guru-guru sedang rapat semua, anak-anak kelas pada duduk di belakang kelas dan ngegosip ketimbang keluar kelas dan jajan di kantin.

Bobby curhat tentang pacarnya yang sekarang sudah putus lagi. Nurhadi bertanya tips-tips mendekati gebetan yang doyan basket. Ikhsan sama Tasya menjadi grup lawak. Mai duduk di sebelah Ipeh akrab. Beuh enak rasanya kalau melihat bidadari akrab begini. Sedangkan Ipeh selalu kebagian sebagai Induk Semang, alias tukang jawabin curhat anak laki-laki. Ya bagaimana tidak, di antara semuanya, hanya Ipeh yang berkelamin ganda. Di satu sisi dia berkelakuan pria, tapi di sisi lain dia juga bernalar sebagai wanita dalam tubuh pria. Lhaa…

“Mbe, hari ini ada rapat lagi?” Tanya Ipeh berbisik ketika yang lain masih sibuk ngobrol ngalor ngidul.

“Kayaknya iya. Kenapa emang?” Balas gue.

“Pulang langsung deh, Mbe. Atau ikut gue aja gitu.” Rengek Ipeh manja.

“Kok tumben. Ada apa sih?”

“Nggak tahu. Enggak tahu kenapa rasa-rasanya gue pengen lo cepet pulang aja, mbe. Nggak usah rapat lah hari ini.”

“Yaelah apaan sih nakutin aja. Lagian masih banyak yang harus gue selesein hari ini.”

“Hmm.. yaudah deh. Kalau ada apa-apa langsung sms gue tapi ya?” Ipeh mengacungkan jari kelingkingnya agar gue berjanji.

“Oke.” Gue menyodorkan jempol gue.

“KELINGKING BEGOK BUKAN JEMPOL!”

Buk!
Ada satu pukulan melayang di kepala gue.

.

                                                        ===

.

Seperti biasa, rapat hari ini diadakan di kelas gabungan agar bisa muat lebih banyak orang. Beberapa panitia ada yang tetap berhamburan di pendopo sekolahan sambil terus sibuk ngurusin interior buat Bazzar yang waktunya tinggal beberapa bulan lagi. Di dalam kelas sekarang lebih banyak didominasi oleh anak kelas satu yang tugasnya jadi kuli semua. Kuli nulis, kuli gergaji, kuli desain, kuli logistik.

Ikhsan sendiri hari ini sedang sibuk berkumpul dengan anak-anak yang sedang mendesain logo Bazzar maupun desain pamflet di laptop yang entah kepunyaan siapa. Sedangkan gue duduk di pojok sendirian tanpa ada kerjaan sama sekali. Lama-kelamaan gue jadi minder di kepanitiaan kalau begini terus caranya, gue kayak cuma numpang ngabisin konsumsi doang kerjaannya.

Ketika anak-anak yang lain pada bubaran sebentar dan jajan ke kantin, gue melihat laptop yang tadi dipakai anak-anak buat ngedesain sekarang lagi nganggur semua. Ah kebetulan deh lumayan ada kerjaan. Gini-gini kalau soal komputer mah gue jago juga. Dengan sembunyi-sembunyi, gue mulai menelaah desain yang akan dijadikan selembaran pamflet nanti. Ternyata desainnya bertema lalu lintas, otomatis banyak gabungan antara warna Merah, Kuning, dan Hijau.

Gue cek HP Nokia gue sebentar, dan untungnya di sana ada foto muka Ikhsan lagi close-up. Oke, gue colok kabel HP gue ke laptop, gue transfer foto si monyet ke laptop tempat desain ini. Setelah selesai, gue photoshop fotonya sebentar hingga kini tersisa muka si Ikhsan doang. Selama gue lagi ngedit foto Ikhsan, entah kenapa rasa-rasanya kok merinding. Mendadak ada bau menyan keluar dari kipas komputer. Njir goib banget, komputer aja langsung bakar sajen kalau gue lagi ngedit muka Ikhsan.

Dengan isengnya, gue tempel itu foto muka doang di tengah-tengah pamflet lengkap dengan editan badan pak polisi lalu lintas, tak lupa gue juga memberi editan pisang ambon berwarna kuning besar di dekat mulutnya dan tulisan merah di sebelah mukanya yang berbunyi,

“Aku suka Pisang Ambon. Kamu punya pisang apa? Aku mau dong liat pisang kamu..”

Gue perbesar hingga kini gambarnya mencolok banget. Sekarang itu pamflet udah lebih mirip sama Iklan bokep di koran lampu merah ketimbang brosur Bazzar. Kebetulan juga di kelas ini sudah disediakan Printer oleh pihak OSIS persiapan kalau sewaktu-waktu sekretaris butuh ngeprint file penting.

Karena kelas lagi lumayan kosong, yaudah gue print aja beberapa lembar ini pamflet yang ada foto Ikhsannya dengan bebas. Cukup menunggu 10 menit, akhirnya kini gue memegang 20 lembar pamflet berukuran A4. Gue ambil double-tip dari tas gue, dan gue mulai melancarkan serangan. Secara sembunyi-sembunyi ketika keadan sekolah sudah cukup sepi, gue masuk ke WC cewek dan menempelkan pamflet barusan di cermin WC cewek. Terus gue ke ruang guru, gue tempelkan di depan pintu ruang guru.

Gue tempelkan di sudut-sudut sekolah, ruang osis, tembok kantin, sampe mimbar mushola. Gue nggak tanggung jawab dah siapa nanti yang sholatnya kagak sah kalau sujud menghadap poster dengan wajah berhala di dalamnya. Ini semua gue lakukan lantaran masih dendam atas insiden remedial tadi pagi. Setelah gue rasa semua sudut sekolah sudah gue tempeli dengan kertas sajen. Kini gue kembali ke ruang rapat dan duduk di pojokan sambil dengerin musik.

10 Menit..  Keadaan masih hening.
20 Menit.. Masih juga hening.
30 Menit.. Gue mulai mendengar ada satu-dua tertawaan di sudut-sudut kelas.
60 Menit.. Pintu kelas tiba-tiba dibuka keras.

“DIMAS GOBLOK!!!!!”

Mendadak muncul Ikhsan bersama teman-teman desainnya yang masih tak henti-hentinya tertawa masuk ke dalam kelas. Ikhsan langsung mengejar gue dan gue langsung lari-lari kecil di dalam kelas kaya Film India. Keadaan cukup kacau mengingat saat itu para kakak kelas sedang tidak ada di sini karena sedang pemantapan, maka jalannya rapat tak begitu kondusif. Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi menandakan kelas pemantapan telah berakhir. Para kakak kelas mulai berhamburan, begitu juga para kakak panitia inti Bazzar.

Kang Ade sang ketua OSIS langsung masuk ke ruang rapat dan langsung memberikan arahannya. Semua anak mulai mendapatkan tugas begitupun dengan gue. Gue mulai membahas tentang titik-titik penjagaan selama nanti Bazzar akan berlangsung dengan anak-anak keamanan yang lain.

Lagi serius-seriusnya berdiskusi dengan kang Acil dan teman-teman yang lain, tiba-tiba Cloudy mendatangi kami para panitia keamanan. Dia menatap kak Acil. Dengan sigap kak Acil langsung benerin posisi celana.

“Kenapa, Clow?” Kata kang Acil sok ganteng.

“Aku mau pinjem Dimasnya sebentar, kak.” Balas Cloudy.

“Loh mau ke mana?”

“Ada urusan perizinan keluar sekolah.”

“Loh kenapa nggak sama yang lain?” Kang Acil makin keheranan.

“Dimas yang tahu tempatnya, kak.” Kata Cloudy dingin.

Lha, tempat apaan? Kenapa nih orang main seenaknya nuduh gue begitu aja sih?!

“Yaudah, Dimas. Temenin Cloudy ya.” Kata kang Acil.

“Ngg.. iya kak..” Jawab gue nurut.

Setelah gue berdiri, Cloudy membalikkan badannya dan bergegas pergi ke luar kelas tanpa bicara apa-apa lagi. Gue pun mengikutinya dari belakang.

Mau ke mana sih? Emang tempat apaan yang gue tahu?”

“Udah ikut aja. Kunci motor bawa kan?” Tanya dia.

“Bawa.”

“Yaudah, ayo.”

“Oke..”

Tampaknya gue mulai terbisa dengan sifat Egoisnya si Tuan Putri. Lebih baik gue mengikuti apa saja kemauannya ketimbang semuanya malah jadi panjang. Selama moodnya masih baik kaya gini, gue pikir mending gue diem aja dah. Soalnya gue ngerasa kalau di depan dia tuh gue napas aja selalu salah mulu bawaannya.

Hubungan gue dan Cloudy semakin hari semakin dekat. Tidak hanya siang ini, dari kemarin-kemarin Cloudy makin sering ke mana-mana sama gue berdua doang. Dari yang namanya minta temenin perizinan, ketemu manager band, booking tempat, bahkan hingga nemenin makan siang pun selalu gue yang dia pilih untuk menemani. Padahal setahu gue ada banyak banget anak-anak yang bisa dia suruh untuk nemenin dia pergi ke banyak tempat. Awalnya tidak terlalu sering, tapi semakin ke sini semakin menjadi-jadi. Hampir di setiap Cloudy ada, di situ pasti ada gue ngintilin dia dari belakang. Udah kaya ajudan peribadinya aja gue tuh di sini. Bahkan ketika suatu saat gue mendapatkan mandat penting dari kang Acil untuk pergi ke kepolisian setempat guna meminta tanda tangan perizinan membuat kegaduhan hingga pukul 9 malam, gue tetap tidak diperbolehkan pergi oleh Cloudy.

Saat itu gue, kang Acil, dan dua teman keamanan gue yang lain sudah bersiap hendak pergi ke kantor polisi menggunakan mobil kang Acil, tapi ketika gue ke luar kelas, gue mendapati ada Cloudy yang baru saja turun dari ruang guru dan berjalan menuju ruang rapat.

“Mau pada ke mana?” Tanya Cloudy.

“Perizinan polisi, Clow.” Kata kang Acil.

“Kang, kan Dimasnya harus nemenin aku.” Balas Cloudy.

“Aduh Clow, gue pinjem dulu deh sebentar tuh anak. Penting soalnya ini. Sehabis pulang dari sini baru deh bebas lu mau bawa dia ke mana aja juga gue Ikhlas.” Kata kang Acil.

Mendengar ucapan kang Acil barusan, mendadak Cloudy jadi terlihat bete. Wajahnya mengkerut. Bibir kecilnya cemberut manis sekali. Dan seperti yang gue duga, kang Acil imannya goyah ketika melihat Cloudy yang lagi menggemaskan seperti itu.

“Iya deh iya. Dimas, kamu temenin Cloudy aja ya.” Kata kang Acil bertindak sok pahlawan di depan Cloudy, sedangkan gue dijadikan tumbalnya begitu saja.

“Asik, makasih ya kang Acil.” Kata Cloudy kembali ceria.

“Ah Cloudy, gapapa kok itu mah hal biasa.” Jawab kang Acil yang mendadak celananya gerak-gerak sendiri entah kenapa. Mungkin beliau bawa hamster di balik celananya. Siapa tahu..

Karena seringnya gue jalan bareng Cloudy, Ikhsan dan anak-anak panitia yang lain memberikan julukan Beauty and The Beast kepada kita berdua. Udah nggak usah gue jelasin kan kenapa gue dan Cloudy dikasih nama begitu? Emang bajingan semua temen gue itu. Kedekatan gue dan Cloudy ternyata tidak hanya dirasakan oleh anak-anak panitia, tapi juga oleh anak-anak di luar kepanitiaan.

Seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya, fans Cloudy ini tuh hampir satu sekolahan banyaknya. Dan ini berimbas pada kehidupan pribadi gue di sekolahan. Gue jadi sering dilihat sinis oleh orang-orang, sering dibicarakan, sering dijailin, bahkan nggak jarang juga ketika gue jalan, pundak gue sengaja dibenturkan dengan pundak beberapa anak-anak yang merasa sok jagoan di sekolah ini. Astaga, kenapa harus gue yang jadi punya banyak musuh begini sih?

.

                                                                          ===

.

Bagi gue, dibenci orang dan diajak berantem itu sudah hal yang lumrah mengingat muka gue emang ngeselin banget semenjak keluar dari rahim. Oleh sebab itu gue ikut 3 cabang bela diri selama SD-SMP dan SMA awal buat jaga-jaga. Gue nggak masalah dimusuhin banyak orang, gue sih asik-asik aja. Lagian anak-anak kelas gue juga kebanyakan jadi musuh anak-anak kelas yang lainya karena cuma kelas gue doang yang nggak ikut-ikut sama yang namanya geng nongkrong di sekolah.

Contohlah Nurhadi, doi walaupun nggak ikut geng nongkrong sekolahan, tapi geng nongkrong sekolahan udah pada takut semua dan nggak mau sekalipun ganggu dia. Dia udah kaya binatang Sigung. Kalau dideketin, bau badannya muncrat semua. Amonia pada keluar dari pori-pori kulitnya.

Sore ini, gue dapat kesempatan untuk duduk sendirian di pojokan ruang rapat. Cloudy entah lagi ke mana dan bagusnya dia tidak minta ditemenin lagi sama gue. Ikhsan masih asik sama anak-anak desain di depan kelas. Anak-anak keamanan yang lain lagi pada ikut kang Acil. Menyisakan gue sendiri yang anak keamanan di dalam kelas.

Lagi hening-heningnya ruang rapat, tiba-tiba ada segerombolan anak-anak berdiri di depan kelas. Gue nggak bisa melihat ke arah mereka karena tembok tempat gue duduk sejajar dengan pintu ruang rapat. Sedangkan Ikhsan dan anak-anak desain yang lain tepat berhadapan dengan pintu ruang rapat.

“Ada apa?” Kata Ikhsan yang lagi jongkok di atas meja. Itu anak emang keturunan monyet kayaknya.

Gue nggak tahu mereka menjawab apa, gue masih tidak peduli dan masih tetap lenjeh-lenjeh di atas bangku sekolah.

“Oi Dim! Lo dicariin nih!” Kata Ikhsan tiba-tiba berteriak ke arah gue.

“Sama siapa?” Tanya gue.

“Kagak tahu gue. Dia cuma bilang kalau elo harus nemuin dia di luar kelas.”

“Yang punya urusan siapa? Suruh masuk aja temuin gue.” Kata gue dingin. Firasa gue berkata bakal ada masalah sebentar lagi.

Ketika Ikhsan sedang berbicara sama orang itu di depan kelas, salah satu anak panitia yang di dalam kelas memanggil gue bisik-bisik. Gue langsung menengok ke arahnya.

“Apaan?” Tanya gue heran.

“Itu pacar si Cloudy!” Kata dia bisik-bisik.

“Ooooh oke oke. Thanks infonya.” Jawab gue yang lalu kembali lenjeh-lenjeh di bangku sekolah.

“Kagak mau katanya, Dim. Lo aja yang ke luar.” Ikhsan kembali berteriak dari depan kelas.

“Yaudah suruh lain kali aja datang lagi.” Jawab gue.

Gue lihat Ikhsan berbicara lagi ke arah mereka. Selang 5 menit saling diam, tiba-tiba ada 3 orang yang masuk ke dalam kelas dan langsung mendatangi tempat gue duduk di paling belakang. Sedangkan sisanya yang lain menunggu di luar. Wah masalah lagi nih, mana kakak kelas lagi pada rapat di ruang guru semua lagi. Aduh, gue udah janji sama kang Acil nggak bakal bikin masalah lagi padahal.

Saat itu ada earphone masih menggantung di telinga gue tapi lagu di HP sengaja sudah gue matikan. Ketika 3 orang tersebut berdiri di samping gue, tatapan gue masih tetap lurus menatap ke arah depan sambil pura-pura asik ngedengerin lagu.

“Heh Anjing! Ada urusan apa lo sama pacar gue tadi?!” Tiba-tiba salah seorang yang ada di samping gue teriak keras sehingga anak-anak kelas yang lain langsung pada menengok semua.

Gue masih menatap lurus ke depan. Gue lihat di depan sana ada Ikhsan yang mulai pelan-pelan mendekat sambil membawa penggaris besi yang ia sembunyikan di belakang punggungnya. Hahaha temen gue yang satu itu emang juara kalau masalah begini. Persiapannya kilat. Cekatan abis.

Gue masih asik pura-pura dengerin lagu. Otomatis karena merasa tidak diperhatikan, orang di sebelah gue ini makin naik pitam.

Brak!
Meja gue digebrak keras, tapi gue masih nggak bergeming.

“Woi Anjing! Berantem sama gue sekarang lo goblok! Berani-beraninya deketin pacar gue! Lo siapa anjing? Anak nongkrong mana lo bangsat?!” Ucapnya keras.

“…”

“Maksud lo apaan ngasih-ngasih minuman ke pacar gue tadi di kantin? Mau cari perhatian lo anjing? Hah? Belagu lo goblok!”

“…” Gue terdiam. Oh ternyata orang yang gue kira temen-temennya Cloudy pas di kantin pagi tadi itu ternyata salah satunya adalah pacarnya toh. Pantes Cloudy terlihat khawatir.

Gue masih terdiam tak menjawab sambil menggenggam HP gue di atas meja. Melihat gue yang masih juga tidak menjawab, si Anjing yang ngakunya pacar Cloudy ini menghempaskan tangannya ke arah HP gue sehingga HP gue terpental jatuh dan batrenya lepas. Melihat HP kesayangan gue itu jatuh berantakan, sontak gue naik pitam. Mau dia jelek-jelekin gue, jelek-jelekin temen-temen gue, gue mah diem aja orangnya, males buat masalah. Tapi ketika barang-barang gue yang gue awet-awet itu seenaknya dihajar keras, maka emosi gue langsung kesulut. Ya gimana lagi?! Itu HP mahal! Gue dapet itu juga hadiah dari temen bokap gue! Lha gue mana sanggup beli HP semahal itu.

Darah gue bergejolak. Otak gue mendidih. Tangan gue mengepal. Urat-urat muncul di dahi dan selangkangan.

“BANGSAT!!!” Gue teriak keras sehingga anak-anak yang lain terkejut.

Tiba-tiba gue berdiri, gue tarik kerah cowok bajingan itu tadi, lalu gue dorong dia keras hingga membentur ke arah tembok. Bunyi benturan keras itu sontak membuat dua anak buahnya yang lain mulai ambil ancang-ancang buat ngehajar gue sebelum tiba-tiba Ikhsan yang sedari tadi sudah ada di sebelah mereka dengan posisi jongkok di atas meja mulai mengacungkan penggaris besi ke arah muka mereka berdua.

“Jangan pada ikut campur lo anjing! Lawan gue kalau berani lo ngentot! Ini penggaris besi nggak butuh waktu lama buat bisa nuker jakun lo berdua sama biji duren.”      

*Posisi Ikhsan saat itu mirip-mirip kaya gini.*

.

Tangan gue bergetar di depan kerah baju pacar Cloudy ini. Kerah bajunya gue angkat sehingga dia sedikit mendongak. Gue hajar perutnya sekali dengan kepalan tangan tepat di ulu hati, dia sempoyongan. Gue tarik lagi kerahnya lalu gue dorong kembali menghajar tembok.

“Heh bangsat! Kalau lo berani, datengin gue sendirian, anjing! Gue siap kapanpun lo mau. Sekali lagi lo ngerusak apa yang gue punya, gue nggak akan segan-segan untuk ngehancurin semua yang lo pun..”

“DIMAS!!”

Tiba-tiba ada suara keras mengagetkan kita semua. Suasana hening. Gue langsung menengok ke arah suara tersebut. Di sana ada Cloudy berlari dari pintu dan buru-buru melerai kita berdua. Cloudy menarik gue agar menjauh dan membiarkan pacarnya memegangi perutnya karena masih keram akibat hantaman keras yang gue layangkan barusan.

“Kamu tuh ngapain sih kaya gini?!” Cloudy kini menarik-narik seragam gue.

Gue menatap ke arahnya serius. Ini kali pertama gue menatap sebegitu geram kepada seorang wanita. Cloudy yang merasa kalau gue memang lagi serius dan tidak seperti Dimas biasanya yang selalu nurut sama dia itu kini langsung mundur perlahan dan melepaskan genggamannya dari seragam gue. Suasana kelas begitu hening.

“Selesein dulu masalah kamu sama pacar kamu ini. Bilang, kalau dia keberatan, datengin gue sendiri. Gue ada di kantin sore ini.” Kata gue.

Gue mengambil HP gue yang berantakan di lantai kelas lalu beranjak pergi ke kantin. Gue tidak peduli apa yang mereka berdua bicarakan, gue nggak peduli kalau Cloudy disakiti secara fisik atau apapun entahlah, itu urusan mereka. Sudah cukup lelah rasanya gue mengurusi seluruh hubungan orang yang mana gue sama sekali tidak punya hak untuk ikut campur. Gue seakan menjadi peran utama sekaligus peran pembantu di cerita mereka.

Apa jangan-jangan gue ini emang terlahir untuk selalu jadi pihak ketiga ya? Emak gue dulu ngidam apaan sih?!

Sebelum ke kantin gue sempatkan dulu membasuh muka di keran Mushola agar kepala gue kembali dingin dan bisa berpikir tenang. Gue duduk di meja kantin dan seperti biasa, nggak beli apa-apa. Gue nggak ada duit. Sisa duit gue dipake buat beli Teh Kotak sebagai tanda terima kasih tadi pagi.

Lagi kipas-kipas karena sudah terlanjur keringetan, gue melihat sosok Cloudy yang langsung mendatangi gue. Dia berjalan terburu-buru dan langsung duduk begitu saja di kursi depan gue.

“Dia kok ngekang gue gitu sih?! Baru juga pacaran udah kaya gini. Gimana kalau nanti hubungan ini lebih serius?!” Kata Cloudy marah-marah di depan gue tanpa ada kalimat pembuka terlebih dahulu.

“Ya dia harusnya lebih bisa percaya sama gue dong. Gue nggak pernah tuh yang namanya macem-macem. Gue selalu bisa jaga hatinya. Selalu berusaha membuat dia senang. Selalu berusaha ada walau gue sibuk karena banyak urusan yang harus diselesaikan. Gue sampai pernah rela bolos les harpa hanya untuk nemenin dia beli baju. Sudah sebegitu seringnya gue memberikan waktu berharga gue, tapi dia selalu minta lebih.” Bentaknya lagi.

“….” Gila, orang lain mah les pelajaran lha dia malah les harpa. Orang kaya mah bebas ye mau gimana-gimana juga.

“Kok elo diem aja sih?! Jawab kek! Nyebelin!” Cloudy terlihat kesal.

“Anu.. gue boleh nanya nggak?” Tanya gue gelagapan.

“Huh! Boleh! Lagian lo dari tadi diem mulu!”

“Sebenarnya ini tuh lo lagi bahas masalah apa sih?” Gue masang tampang begok.

“Ih nyebelin! Jadi dari tadi tuh lo belum paham gue ini lagi ngomong apa?!”

“Ya elo ngomong nyerocos begitu aja mana gue ngerti, Dee.. Kagak ada Idgom kaga ada Qolqolah main libas aja tausiah.”

“Bete ah! Gue pengen putus aja!” Kata Cloudy cemberut.

Mendengar kata-kata PUTUS, gue langsung duduk dengan sikap sempurna. “Jadian sama gue aja kalau gitu.” Gue menaikan alis.

“Amit-amit!” Ucapnya sambil pergi ke tukang baso tahu buat memesan.

Melihat Cloudy lagi jajan, timbullah di benak gue sebuah kesempatan.

“Dee, pinjem uang dulu boleh nggak? Laper, Dee.” Kata gue memelas.

“Iya boleh.” Jawabnya tanpa menoleh.

Asik.. Walaupun gue minjem duit banyak dan nggak gue lunasin juga Cloudy mah kagak bakal pernah keberatan kayaknya. Gue langsung memesan semangkok soto babat panas beserta nasi uduk.

Tak lama menunggu, soto gue datang dan gue langsung memakannya begitu saja tanpa menunggu pesanan Cloudy datang. Cloudy hanya duduk di depan gue sambil mengaduk-ngaduk minuman Strawberry Milkshakenya. Dia menatap gue tapi gue tidak pedulikan. Gue tetap fokus mengisi perut, walau lama-kelamaan gue merasa risih juga karena diperhatikan terus menerus seperti itu.

“Ngapa sih lo liat liat? Kagak pernah liat Burce Willis ya?” Tukas gue.

Cloudy terdiam menatap gue, “Lo tuh ya. Gue akuin lo nggak jelek-jelek amat. Manis, kadang-kadang ganteng walau lebih sering keluar jeleknya ketimbang gantengnya.”

“…”

“Tapi ya..”

“Tapi apa?”

“Tapi… Ah! Masa lo nggak ngerti sih?!” Kata Cloudy mencubit tangan gue.

“Hah? Gimana gue bisa ngerti, lo ngomong apa juga gue nggak tahu ini lagi mengarah ke mana.”

“Kan nyebelin kan! Ih!”

“Eh tapi, Dee. Coba deh kalau punya pacar tuh dijaga perasaannya. Gue juga mungkin bakal bete sih kalau pacar gue deket sama orang lain, terlebih dia deket sama cowok. Ke mana-mana pergi berdua. Walaupun gue tahu ini masalah pekerjaan, tapi gue juga bakal posessif sih kalau punya pacar secantik elo. Kesannya suatu saat bisa aja lo nyaman sama dia lalu lo perlahan sadar untuk pergi ninggalin gue. Makanya gue maklum kalau pacar lo tadi kaya gitu.” Tukas gue sambil ngunyah sisa-sisa bihun di dalam mangkok soto.

“Nggak bisa gitu dong! Gue sih mending putus kalau gitu! Enak aja, hidup-hidup gue kenapa harus diatur sama cowok?! Gue bisa kok hidup tanpa cowok, gue nggak butuh cowok. Gue bisa handle semua masalah gue sendiri. Nggak ketergantungan sama cowok. Jadi kalau dia nggak terima gue kaya gini, ya silakan pergi!” Katanya ketus sekali.

Mendengar itu gue cuma tersenyum. Gue mengerti apa maksud Cloudy yang sebenarnya. Tidak sulit bagi dia yang punya segalanya ini untuk berada di puncak rantai makanan teratas tanpa sedikitpun butuh bantuan dari cowok.

“Lagian gue juga heran sama lo. Lo sendiri kenapa sih nggak punya pacar? Itu si cewek karate kenapa nggak lo pacarin aja?” Kini Cloudy yang bertanya ke arah gue.

“Nggak semudah itu, Dee. Lo nggak tahu apa yang udah gue laluin hingga gue sampai sini. Gue bisa ketemu lo juga karena gue sempat ada masalah sama dia dulu.”

“Maksudnya?”

“Ah sudahlah. Lagian kata siapa gue nggak punya cewek. Ada kok itu si Mai anak panitia dari kelas gue.” Kata gue polos tanpa peka sama sekali.

“Oh.” Jawabnya singkat.

Dia diam sebentar, lalu kemudian berdiri dan pergi meninggalkan gue begitu saja. Melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah itu, gue cukup terkejut.

“Oi Dee?! Kemana lo?” Tanya gue.

“Nggak usah nanya-nanya.” Katanya ketus tanpa menengok ke belakang sama sekali.

Lha tuh anak kenapa lagi sih? Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar bete, dah gitu nanti tiba-tiba datang lagi. Terus tiba-tiba ninggalin gue begitu aja. Gue benar-benar nggak ngerti cewek tuh maunya apa sih?!

Gue menghela napas. Setelah makanan ini habis, entah kenapa rasa-rasanya gue tak ingin pulang sama sekali. Namun pikiran gue sudah terlalu penuh dengan kejadian-kejadian hari ini. Setelah membayar makanan di kantin, gue pergi mengambil tas dan pergi ke lapangan parkir.

Sambil bersiap menyalakan motor, ada satu sms masuk ke HP gue yang pada akhirnya hidup lagi.

“Di mana? Temenin gue.” Itu SMS dari Cloudy. Singkat, jelas, dan banyak maunya.

Namun gue memilih untuk tidak menjawabnya dan memasukan HP gue kembali ke dalam saku. Tumben banget gue nggak mau nemenin Cloudy. Bahkan sebelum keluar dari gerbang sekolah pun gue sempat diam sebentar, apa perlu ya gue balik lagi dan nemenin Cloudy? Kok rasa-rasanya gue nggak mau pulang banget ya hari ini? Gue perang batin sama diri gue sendiri.

Tapi gue urungkan niat menemani Cloudy itu dan memacu motor gue begitu saja meninggalkan sekolah.

.

                                                               ===

.

Gue pacu kendaraan ini dengan kecepatan yang cukup pelan. Pikiran gue melayang jauh ke awang-awang. Memikirkan Ipeh, Mai, Cloudy, dan memikirkan bakal ada masalah apa lagi besok hari antara gue sama pacarnya Cloudy. Pasti pacarnya Cloudy nggak akan tinggal diam begitu saja. Gue melamun sepanjang perjalanan menuju pulang hingga gue tak sadar ketika gue hendak menyusul mobil dari kanan, dari belakang gue ada motor melaju begitu kencang sehingga motor gue tersenggol dan gue terpelanting begitu keras ke jalanan.

Gue membentur aspal jalanan berkali-kali sebelum pada akhirnya berhenti berguling. Tangan dan kaki gue lecet total. Segala perih gue rasakan muncul di sekujur tubuh, mata gue kunang-kunang. Tapi untungnya Helm gue masih setia nangkring di kepala walau sudah hampir belah setengah dan kacanya hilang entah ke mana.

Keadaan menjadi begitu ramai. Orang-orang membopong gue ke pinggir jalan dan didudukkan di bawah pohon. Gue menggerakkan tangan gue untuk mengecek apakah HP dan Dompet gue masih ada atau ikut terlempar waktu gue jatuh tadi. Buat gue, dua benda itu jauh lebih penting daripada keadaan tubuh gue. Badan sih masih bisa sembuh kalau luka, lha hape kalau ilang mah bisa dipecat jadi anak sama nyokap.

Salah seorang kang becak membuantu gue melepaskan helm. Beberapa ada yang membantu menyelesaikan masalah antara gue dan orang yang nyenggol gue barusan. Ada juga yang membantu menyingkirkan motor gue dari jalanan biar tidak macet. Sedangkan gue masih menahan sakit sendirian dan tak bisa berbuat apa-apa. Kaki dan tangan gue mati rasa.

Dengan sedikit memaksakan diri, gue mencoba merogoh HP lalu menelepon Ikhsan untuk nolongin gue. Untuk keadaan serius seperti ini, cuma Ikhsan yang bisa gue percaya untuk menyelesaikan semuanya. Mungkin Ikhsan juga bakal melakukan hal yang sama jika sedang berada di posisi gue.

Gue tekan tombol CALL dan menunggu ada jawaban,

Ceklek.
Telepon di angkat.

“Hal..”

“San! Lo masih di sekolah? Tolongin gue. Gue kecelakaan di Jalan Supratman. Motor gue stangnya bengkok. Gue nggak bisa gerak, San. Please cepet dateng.” Kata gue terbata-bata.

Suasana telepon hening. Tak ada jawaban sama sekali.

“San? Jawab oi jangan diem aja.” Tukas gue.

“Mbe?!”

Loh loh loh?!
Kok suara Ikhsan beda?!

Ceklek..
Tut.. tut.. tut..

Mendadak telepon ditutup.

.

.

.

                                                            Bersambung

Previous Story: Here

tidak ada yang lebih buruk ketimbang kehilangan tujuan | maka hilang pula semang...

tidak ada yang lebih buruk ketimbang kehilangan tujuan | maka hilang pula semangat, alasan dan juga harapan

“ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS 13: 28)

youtube

Footage of Semang Negritos, Malaysia