seliper

BEBERAPA FRAGMEN DARI SEBUAH TAYANGAN IKLAN ROKOK

1

rentang dasar jurang dan ngarai memang sejauh nasib mujur
pun yang menggelincirkan bukan terjal pijak yang diinjak
namun segala kenangan yang jatuh menggelinding

kau dan aku kubayangkan merayap menuju ke atas sana
dan jemari tangan kita saling erat menggenggam
sambil bibir ini melantunkan zikir-zikir tebing

2

di antara letup peluru dan bau mesiu, apakah kita;
pemburu yang membidik tanda tanya nanti, atau
jejak kaki yang kehilangan tapaknya sendiri?

apakah nasib adalah kelindan dar-der-dor
di selip semak yang memeluk setiap jengkal ketakutan
mengendap-endap menyembunyikan diri dari mata Izrail?

3

siapa lebih sombong;
hujan yang rintik-rintik,
deru mesin Harley-Davidson,
lampu merah di depan sana,
pertanyaan ini
atau yang berusaha menjawabnya?

4

nasib memang seperti bola;
bisa ditendang, dilempar, ditangkap
namun tak bisa ditebak ke mana arahnya

dan setiap kenangan, seperti trofi kemenangan
atau kilap medali juara 1, 2, 3
atau berita kekalahan
pada suatu halaman tabloid olahraga
yang dipigura di dinding dada

5

merokok membunuhmu
kenangan tentangnya sama saja

2017

Ex-admin (22)

Liat postingan mbak No yang terakhir tentang membacakan buku jadi teringat sesuatu.

Sebentar, pesan dari cerita ini kita taruh di awal saja ya. Pesannya adalah jangan sombong dan jangan sok tahu. Ini pesan kepada diri sediri sih. Kalau di IG pake hashtag note to myself.

Kirana punya buku 7 habits of happy kids, terdiri dari 7 buku, 7 cerita gitu, yang buku pertamanya yang I Like Myself itu. Buku pertama mbak No yang bacain. Aku perhatikan cara mbak No menyampaikan isi cerita. Jadi mbak No baca dulu, dapet inti cerita, barulah dia ceritakan ulang. Isinya yang udah sederhana jadi tambah sederhana tanpa menghilangkan pesan dan makna dari cerita yang ada.

Baiklah. Aku bisa. Aku udah pernah ikut kelas dongengnya Rona Mentari (satu kali. Ehem). Yak. Sip. Gitu doang sih. Gampang.

Besoknya aku coba bacain buku ke Kirana. Buku keberapa ya…lupa, pokoknya judulnya “When i grow up”. Inti dari cerita sih biar kita mempersiapkan segala sesuatu. Di bukunya diceritakan satu tokoh yang usianya masih kecil, digambarkan dengan seekor tikus, namanya Allie, yang dia kalo bicara masih belum jelas, kayak belum bisa bilang R gitu lah. Jadi, si Allie yang masih kecil banget ini membayangkan dirinya kalau udah besar nanti, kalau udah besar nanti dia bisa ke supermarket sendiri, bisa beli perhiasan sendiri, bisa memulai bisnis, buka toko kue sendiri, terus si Allie mikir lagi, oh! Kalau dimasa depan aku mau sukses, berarti dari kecil aku harus rajin belajar, bertanggung jawab pada mainan yang habis aku mainin (diberesin lagi gitu).

Nah, si bulek yang kurang cerdas ini agak menyesatkan. Jadi tersebutlah kata-kata gini, “Jadi, si Allie membayangkan kalau nanti udah besar, udah jadi Ibuk-Ibuk, dia bisa dorong troli sendiri di carefour, bisa bikin kue sendiri, bisa beli ini itu sendiri…”

Di akhir cerita, aku tanya ke Kirana, “Kirana kalau udah besar mau jadi apa?” Aku sih berharapnya dia jawab “Mau jadi dokter” atau apa kek gitu, jadi aku mempersiapkan kata-kata selanjutnya “Kalau mau jadi dokter berarti harus apa? Harus rajin belajar. Kayak Allie”

Tapi jawaban dia bukan itu…jawabannya…“Mau jadi Ibuk-Ibuk”. Pas baca itu aku terdiam agak beberapa detik. Satu buku bisa mengubah cita-cita seorang anak. Gawat. Gawat emang. Terus sambil ketawa aku berusaha kalem. “Kirana mau jadi ibuk-ibuk? Biar bisa dorong troli sendiri?” Karena dia menatap agak lama di halaman Allie lagi belanja. “Kirana mau jadi Ibuk-ibuk kayak Ibuknya Kirana?” Kirana ngangguk polos. “Berarti harus apa? Harus belajar. Ibuknya Kirana bisa nyapu, bisa masak, nanti Kirana bantu Ibuknya ya…sekalian belajar”

Wkwk kalimat didalam tanda petik yang terakhir ngarang ding. Aku udah hampir guling-guling duluan denger jawaban Kirana yang bilang mau jadi ibuk-ibuk. Sambil guling-guling sambil teriak, “Mbaaaaaak…maaf ya mbaaaak…cita-cita anak kau berubaaaaaaaaah…”

Tapi gapapa, jadi seorang Ibu memang harus dicita-citakan. Jadi Ibu ya, bukan jadi ibu-ibu. Eh kok kalau “ibu-ibu” itu kesannya negatif ya…ibu-ibu yang suka gosip, ibu-ibu yang kalau nyetir sembarangan belok kemana lampu sen-nya kemana. Wkwk eh tapi ga semua sih, ibu-ibu pengajian kan baik. By the way, sebagai generasi muda, marilah kita ubah dan kita singkirkan kesan negatif dari “ibu-ibu”. Tapi gimana ya, sebagai seseorang yang jiwanya udah pengendara motor banget, sekalinya nyetir mobil (mobil orang), cara nyetirnya emang kadang serasa nyetir motor. Selip kiri, mepet kanan hehe hehe

Dijamu

Akhir akhir ini katak mulai mengeluarkan suara merdunya lagi, menghiasi heningnya malam berkolaborasi indah dengan suara hujan yang sedang turun.

Aku malam ini melanjutkan perjuanganku, rapat malam hari. Kalau dilihat memang membosankan, kehidupanku penuh dengan rapat. Tapi yang melihat belum tahu pasti, bagaimana indahnya kekeluargaan yang tercipta saat rapat sedang berlangsung.

Semarang macet, kendaraan roda empat memenuhi jalan, semua orang membunyikan klakson tanda ingin cepat cepat jalan agar sampai tujuan. Tidak denganku, lebih tepatnya tidak dengan kendaraan roda dua lainnya. Kami bisa menerapkan ilmu dan keahlian yang kami miliki, selap selip srobat srobot lalu sampai.

Hampir sampai tempat tujuan, tubuhku terguyur hujan deras. Sialnya aku lupa membawa jas hujan polkadot yang pernah dulu bapak belikan waktu sedang mampir ke Semarang.

Aku memutuskan menepi di bawah pohon yang masih kecil, tidak rindang, tidak besar, tidak pula bisa melindungi dari hujan. Aku melihat ada rumah yang tepat untuk di singgahi sebentar untuk berteduh. Aku meminta izin kepada orang yang ada di teras “izin ikut numpang ya mas” memakai bahasa jawa.

“Kita juga numpang mbak” jawab mas nya sambil merangkul anak dan istrinya. Senasib ya mas kita.. .

Tiba tiba ibu pemilik rumah keluar, dengan nada ramah mempersilahkan kami berempat masuk ke dalam rumah. Awalnya ku pikir hujan deras ini tak berlangsung lama agar aku dapat cepat cepat gas pol sampai tempat rapat. Tapi cuaca sedang tak berpihak, hujan semakin deras. Dan semakin sering pula ibunya mempersilahkan masuk.

“Monggo mbak mlebet mawon. anget” artinya, silakan mbak masuk saja. Hangat.

aku memasuki rumah sederhana itu, melihat ibunya sambil menuang teh hangat di meja tamu.

“Kok repot repot buu”

“Alah, gapapa mbaak”

Mbak mbak yang tadi iku berteduh juga ikut masuk kedalam, kami berbincang bincang hangat. Tentang banjir, tentang kos, dan tentang apa saja. Ibu nya selalu mempersilahkan kami untuk meminum teh hangatnya, seperti layakny tamu. Padahal hanya berteduh.

Orang baik di dunia ini masih ada loh, dan jangan sampai kebaikan itu berhenti di generasi kita.