selfreminder

Hendaknya manusia bersabar terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia ..
.
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S. Ta Ha 132)
.
Ketika masalah datang Allah hanya menyuruh sabar & shalat bukan marah-marah tak jelas, bukan juga menyalahkan orang lain ..
.
“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan shalat) sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ” (Q.S. Al-Baqarah 153).
.
Sabar itu tanpa batas & Allah menjanjikan pahala untuk orang-orang yang bersabar ..
.
“Sungguh akan dibayar upah (pahalah) orang-orang yang sabar dengan tiada batas hitungan.” (Q.S. Az-Zumar 10).
.
Sabar itu ketika ada masalah yg membuat diri ini marah, bisa menahan amarah & memaafkan ..
.
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (Q.S. Asy-Syuura 43).
.
📝@annisa_haq
.
#selfreminder #AllahSWT #rememberAllah #Islam #muslim #ayojadilebihbaik #dakwah #tausiyah #artwork #vectorart #vector #bestvector #illustration #illustrator #graphic #design #graphicdesign #flatdesign #instaart #artoftheday #niis2016

Made with Instagram
Keinginan Terbesar

Ditulis oleh: Bunda Kaska

Disusun ulang oleh: Ummu Sulaim


Coba sama-sama jujur ya…

Apa sih keinginan terbesarmu saat ini?
Yang menguasai hati…
Yang berkelebat setiap saat…
Yang membuatmu gelisah karena tak kunjung terwujud…

Mungkin jawabannya…

  • Ingin punya rumah sendiri
  • Ingin bertemu jodohnya
  • Ingin sembuh dari sakit
  • Ingin punya usaha sendiri
  • Ingin naik jabatan
  • Ingin anak lulus ujian
  • Ingin punya kendaraan
  • dan lain-lain

Sadarkah kita jika semua keinginan itu begitu duniawi…

Bukan hal besar yang harus terwujud.

Mengapa?

Karena hakikatnya kita tidak akan dihisab, tidak pula akan dimurkai Allah jika hal-hal tersebut belum juga terwujud di saat kita lebih dulu dipanggil.

Dan lagi, sebenarnya kita tidak tahu keadaan mana yang Allah lebih ridha…

Mungkin Allah lebih ridha saat kita mengontrak dibanding memaksakan diri kredit rumah, yang membuka celah untuk terjerumus dalam riba.

Mungkin Allah lebih ridha saat anak kita tak kunjung lulus, lalu pada prosesnya ia justru menemukan jalan ketaatan kepada Allah, dibanding lulus segera namun ternyata justru menyusahkan banyak orang karena ilmu yang tak memberi manfaat sedikitpun kepadanya.

Mungkin Allah lebih ridha jika kita bersendiri dulu, karena kelak ketaatan kita terhadap suami itu sebuah perkara besar, siapa yang menjamin kita mampu melaluinya. Atau sebaliknya, amanah menjadi seorang suami pun tak kalah besar, siapa yang menjamin engkau mampu memanggulnya.

Mungkin Allah lebih ridha saat kita berjuang dengan rasa sakit, karena inilah kesempatan kita untuk mendekat kepada Allah, karena inilah kesempatan kita untuk mendapat ampunan Allah.

Meninggal sebelum punya rumah sendiri itu bukan masalah, asalkan bawa iman…
Meninggal sebelum menikah itu bukan masalah, asalkan bawa iman…
Meninggal sebelum sembuh juga bukan masalah, asalkan bawa iman…

Sok, kita renungkan lagi…
Bukan tidak boleh memiliki keinginan-keinginan semacam itu. Noted. Bukan tidak boleh. Namun jangan sampai keinginan tersebut melupakan tujuan utama kita.

Bahwa hidup kita saat ini sebenarnya fase perjalanan menuju kampung akhirat.
Buat apa sibuk mewujudkan hal-hal yang sebenarnya bukan jaminan kita untuk mendapatkan keridhaan Allah beserta surga-Nya.

Jikalau kita sibuk menggunakan harta dan waktu kita di jalan Allah, untuk keperluan menambah ketaatan kepada-Nya, niscaya perkara-perkara sepele itu akan Allah kabulkan, jika memang itu jalan terbaik bagi agama dan dunia kita.

Ilustrasinya begini.

Jika kita diberi kesempatan untuk bertemu presiden atau raja, dimana setiap permintaan kita kepadanya akan diwujudkan. Kira-kira, akankah kita meminta sesuatu yang sepele dan sederhana?

Nah, seperti itulah kita dalam berdoa. Setiap kita berdoa, kita sedang “bertemu” Allah, menghadap pada-Nya, Raja segala Raja. Jika kita boleh meminta apa saja, dimana tak ada yang mustahil bagi kuasa-Nya, maka akankah kita juga akan meminta sesuatu yang sepele dan sederhana?

Jika kekayaan, rahmat, dan ampunan Allah itu mahaluas, fokuslah pada hal-hal besar dan istimewa, yang membawa kebaikan bagi kehidupan akhirat sebelum dunia. Sungguh, jika Allah telah menjamin kebaikan akhirat bagi seseorang, mustahil Dia akan menyia-nyiakannya di dunia.

Mohonlah masuk surga tanpa hisab
Mohonlah husnul khatimah
Mohonlah kebaikan dunia dan akhirat
Mohonlah keselamatan dari segala penyakit hati, sebelum penyakit fisik
Mohonlah keridhaan Allah dalam setiap amal perbuatan
Mohonlah kelapangan hati agar mudah bersyukur
Mohonlah petunjuk agar menjadi manusia yang berguna bagi umat
Mohonlah keistiqamahan hidayah dan juga jalan hidayah bagi orang lain
atau permohonan lain yang semisal itu.

Sungguh, jika kita tak segera fokus dengan hal-hal besar itu, niscaya segala keinginan dunia akan terus terbayang hingga kita mati. Padahal jika itu semua telah terwujud, tak ada satupun yang akan kita bawa mati. Justru kita akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang pernah kita miliki.

“Sesungguhnya Allah memberikan harta kepada orang yang Dia cintai dan orang yang tidak Dia cintai, sementara Dia tidak memberikan keimanan, melainkan kepada orang yang dicintai-Nya saja. Jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan memberikan keimanan kepadanya.”

(HR. Al-Hakim)

Jadi…

Jika harta dunia dari Allah akan diberikan-Nya kepada siapa saja, tak peduli Allah ridha padanya atau tidak, cobalah kita fokus saja untuk mencari jalan selamat menuju kampung akhirat, menuju keridhaan Allah.

Sungguh, nasehat ini pertama kali kutujukan kepada diriku sendiri…

Semua urusan kita, bawa ke Allah. Gelar sajadah ngadu sama Allah. Kurang sholat malam, tambahin dhuha. Kurang dhuha, tambahin ba'diyah qabliyah kalau perlu sholat hajat sekalian. Ketuk terus pintu-Nya, masa iya Allah nggak denger? Yang nggak dateng ke Allah aja tetep Allah bagi nikmat. Apalagi kita yang ikhlas dateng ke Allah? Melimpah ruah nanti dikasih nikmat-Nya.
—  Ust. Yusur Mansyur
Bahkan seandainya ada seseorang yang pergi menuju kutub utara dan yang satu pergi menuju kutub selatan, tetapi Allah telah menuliskan mereka untuk bersama, maka mereka akan bersama.
— 

Ucap seorang sahabat bernama Umar. Mahasiswa jurusan Sejarah Islam di Qatar. Ia mengalami gangguan ‘Cerebral Palsy’ pada tubuhnya, sehingga ia tak mampu berjalan, berbicara, atau melakukan hal lain seperti layaknya manusia biasa.

Pada tahun 2012, Umar mengatakan kepadaku bahwa ia jatuh cinta pada Khadijah. Aku mengenal Khadijah. Muslimah, asal Lebanon ini, adalah salah satu Akhwat ‘dambaan Ikhwan’ di kampus kami. Bukan hanya karena parasnya, tetapi juga karena 30 Juz al Qur’an telah terukir rapih dibenaknya.

Saat itu, aku sedikit tertawa geli. Kuhiraukan ucapan Umar. Ada sedikit rasa tidak percaya. Bukan hanya karena keadaan fisik Umar, tetapi juga karena sudah banyak Ikhwan yang mencoba, tapi tidak berhasil. Apalagi Umar berasal dari Pakistan. Jarang sekali ada orang Pakistan yang menikah dengan orang Lebanon. Saat ku tertawa, Umar memukul pundakku sambil mengucapkan kalimat emas diatas. “Jawaban doa dan keputusan dari Allah mana yang bisa kau elak?,” imbuhnya.

Awal 2015, aku menerima undangan pernikahan Umar dan Khadijah.

Ah benar, “Kun fa ya kun!”

Ditulis setelah Umar menelfon semalam. Anak pertamanya akan lahir beberapa bulan lagi.

Yang Melalaikan di Bulan Ramadan

Lebaran tahun lalu saya membaca sebuah status yang menarik milik seseorang di facebook. 

Saya lupa bagaimana redaksi persisnya. Intinya, kira-kira begini isinya.

Si pemilik akun ini merantau di Cilegon sementara kampung halaman dan rumah ibunya (ayahnya sudah meninggal) di Gresik, Jawa Timur.

Kalau tidak salah, tahun lalu lebaran hari Jumat. Sementara si orang ini sudah berencana pulang kampung hari Rabu dengan naik pesawat melalui Bandara Soetta. Hari Rabu, karena ada bencana gunung meletus, penerbangan dibatalkan. Hari Kamis, dia kembali ke bandara dan penerbangannya belum ada kejelasan apakah akan berangkat hari ini atau tidak. Tentu saja, pihak maskapai menawarkan refund tiket jika calon penumpang memutuskan untuk membatalkan penerbangan. 

Si orang ini tetap menunggu, barangkali Kamis sore dia bisa berangkat. Ternyata tidak, penerbangan dibatalkan. Lalu dia memutuskan untuk terus menunggu penerbangan hingga hari lebaran tiba, dan jika penerbangan tidak bisa dilakukan juga maka dia memutuskan akan naik bus.

Seorang kawan memberi komentar di bawah status orang ini. Kira-kira begini, “broh, kenapa ga dari Kamis kamu naik bus aja…jadi Jumat siang udah nyampe rumah toh. Lha ngapain nunggu penerbangan yang gak jelas.”

Apa jawabannya?

Dia menjawab kira-kira begini, “broh, silaturahim bisa dilakukan kapan saja. Tapi sholat ied hanya ada satu kesempatan dalam satu tahun, dan aku ingin mengikutinya. Kalau aku naik bus hari Kamis, aku akan sampai di Gresik Jumat menjelang siang itu juga kalo ga macet. Dan aku akan kehilangan kesempatan sholat ied. Jadi aku memutuskan untuk sholat ied di sini, baru setelah itu aku pulang naik bus, dan sampai di hari Sabtu.”

Saya jadi teringat beberapa kebiasaan yang berkorelasi konsep dengan apa yang dia kemukakan.

Seringkali ketika ditanya apa yang istimewa dari bulan puasa, kita menjawab, “iya kumpul bareng keluarga, momen-momen rame pas buka puasa. Silaturahimnya…” Nope, takada yang salah. Saya pun mengamininya.

Tapi mari lihat dari sisi lain.

Benar bahwa silaturahim itu baik, tapi berlama-lama dan terlalu banyak bercengkerama dengan sesama manusia juga tidak disarankan dalam Islam. Benar bahwa berkumpul bersama keluarga itu penting, tapi ini bukan esensi dari lebaran atau Ramadan. Sebab silaturahim memang harus dilakukan sepanjang tahun. Walaupun Ramadan dan lebaran menjadi momentum mempererat silaturahim, tapi tidak seharusnya menjadi hal yang menghambat esensi dari Ramadan dan lebaran itu sendiri.

Saya sering melihat kita lalai di lapangan. Buka puasa bareng lalu sholat magrib nya jadi telat; sahur bareng di kost sambil nonton acara televisi yang tidak terlalu perlu dan menghabiskan waktu sambil bercanda hingga terlupa pada qiyamul lail yang justru lebih penting; kita berlebih-lebihan di lebaran dalam hal-hal duniawi dan melupakan ‘jiwa’ dari lebaran itu sendiri; kita bersibuk-sibuk menyiapkan menu sahur yang ribet dan istimewa hingga menghabiskan waktu di dapur, bukan di sajadah; kita menghabiskan waktu berbincang dengan yang kita sebut ‘pacar’ di chat sambil sahur dan tanpa terasa sepertiga malam usai.

Ada yang perlu kita renungkan. Ramadan bukan hanya tentang rame-rame, bersenda gurau, dan berkumpul-kumpul. Tapi mengisi energi dan melatih kecintaan pada Quran sebagai kekuatan untuk menghadapi sebelas bulan di depan.

Tidak, tidak ada yang salah dengan buka puasa bareng, sahur bareng, kumpul-kumpul, tidak, tidak salah. Itu semua baik. Dengan kadar yang terukur dan tidak membuat kita lalai pada kewajiban yang sebenarnya. 

Semoga tahun ini kita belajar fokus pada Ramadan.

Tuban, 16.06.16.

Memahami Ketidakpahaman

Dalam berumah tangga, suami dan istri harus berusaha untuk saling memahami.

Tebalkan dan beri penekanan pada kata “berusaha”. Ya, ber-u-sa-ha.

Jika sudah dialami, sebenarnya memahami itu bukan proses mudah. Derajat memahami berbeda dengan mengetahui dan mengenali. Memahami tidak selesai di titik, “Oke, kebiasaan dia adalah suka tidur pakai kaos kaki.” Memahami adalah, “Dia merasa nyaman jika tidur dengan kaos kaki karena itu menghangatkannya, itu sebabnya dia selalu melakukannya.”

Memahami bukan, “Dia pasti marah jika tahu aku tidak meletakkan handuk ke jemuran, biasanya demikian.” Memahami adalah, “Dia mengurus banyak hal seharian. Tak sepantasnya aku membuatnya semakin sibuk hanya karena satu handukku. Maka aku akan menjemurnya segera untuk meringankannya.”

Memahami melibatkan empati dan emosi, bukan hanya kognisi. Dan itu butuh proses belajar sepanjang hayat. Tidak selalu berhasil, tidak semuanya bisa dipahami. Karena itu, saya pun memberi penegasan di paragraf pertama soal usaha.

Usaha pasangan dalam memahami kita pantas kita apresiasi. Meski ada banyak sekali persoalan, yang bagaimana pun pasangan kita berusaha memahaminya, ia akan terhenti di depan pintu dan kembali tanpa menemukan jawabannya.

Kalau sudah demikian, tersisa satu cara untuk tetap menjaga keseimbangan keluarga, yaitu dengan memahami ketidakpahaman pasangan kita.

Laki-laki mungkin tidak akan paham bagaimana kompleksnya emosi istrinya yang baru melahirkan. Laki-laki juga tidak akan paham mengapa perempuan suka bercerita, juga mudah menangis, tapi di lain waktu begitu galak.

Maka perempuan tak perlu menjadikan ketidakpahaman suami tersebut sebagai tanda genderang perang dunia ketiga. Dunia perempuan berbeda dengan dunia laki-laki, pahami dulu itu. Agar perempuan bisa melapangkan hati memahami ketidakpahaman suaminya.

Perempuan mungkin tidak paham mengapa laki-laki masih senang bermain seperti anak-anak bahkan ketika dia sudah menjadi seorang ayah.

Maka laki-laki tak perlu menjadikan ketidakpahaman istrinya tersebut sebagai korek api di ladang jerami. Dunia laki-laki berbeda dengan dunia perempuan, pahami dulu itu. Agar laki-laki bisa melapangkan hati memahami ketidakpahaman istrinya.

Perempuan dan laki-laki tidak perlu memasang standar yang sama terhadap pasangannya dalam beberapa urusan yang memang tidak bisa disatupahamkan.

Memahami ketidakpahaman pasangan terhadap keunikan karakter kita pun adalah proses yang mesti diusahakan dan dipelajari terus menerus.

Penerimaan adalah hulunya. Pantas kita ingat, bahwa saat kita berkata “Aku menerimamu,” itu juga berarti, “Aku menerima kemungkinan bahwa kamu tidak bisa selalu memahamiku dan duniaku, sebagaimana aku pun tidak selalu bisa memahamimu dan duniamu.”

Namun, selama pasangan kita menunjukkan usaha untuk memahami kita, sepatutnya kita menghargainya dan menunjukkan usaha yang sama untuk memahaminya. Selama kita tidak tergesa-gesa; tidak saling menuntut untuk bisa dipahami dengan cepat. 

Sebab, bukankah kita masih punya waktu seumur hidup bersamanya–jika Allah menakdirkan? Rasanya, itu waktu yang cukup bagi kita untuk terus belajar memahami satu sama lain, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, dari windu ke windu, dari dasawarsa pertama, ke dasawarsa-dasawarsa selanjutnya.

Bukankah demikian?

terbaik
— 

menurutku akan jauh lebih menyenangkan ketika kita berpikir bahwa kita-lah yang belum sebaik itu untuk bisa berdekatan dengan seseorang. sehingga perlu dijauhkan. sehingga perlu merasakan kehilangan. bukankah memang lebih baik begitu? daripada harus terpatri dengan kalimat yang sering diucapkan orang-orang, “mungkin bukan dia yang terbaik untukku”

kau bertanya mengapa aku berkata seperti itu? begini, ketika aku menelan bulat-bulat kalimat “mungkin bukan dia yang terbaik untukku”, entah mengapa rasa-rasanya aku seolah menjelma menjadi sosok yang terlalu berlebihan menilai diriku sendiri bahwa sudah menjadi yang terbaik, sehingga mampu berkata bahwa orang lain bukan yang terbaik. 

bukan bermaksud untuk tak menghargai diri sendiri. tapi ini lebih kepada bagaimana aku memahami sebuah kehilangan sebagai pembelajaran untuk menjadi yang lebih baik dari yang kemarin. untuk menjadi yang terbaik versi diriku sendiri. sehingga kelak tentu bisa selalu bersama dengan  mereka-mereka yang juga terbaik. sehingga nanti, kehilangan yang dirasakan cukuplah kehilangan yang memang sudah waktunya untuk kembali pada-Nya. 

tak usah takut karena saat ini sedang berjauhan dengan banyak orang. tak perlu pupus harapan ketika saat ini yang dulu ada sedang pergi meninggalkan satu persatu-satu. segalanya hanya titipan, kan? mungkin esok kembali bertemu, pada skenario lain yang Tuhan sedang persiapkan. teruslah membaik, teruslah menjadi yang sebaik-baiknya dirimu sendiri

sudut ruang tunggu kampus. 15 Juni pukul 20.00 wib

Life doesn’t get easier. You just get stronger.💪🏻 #DailyGoodVibes #QuotesDaily #InstaQuotes #QOTD #NoteToSelf #WordPorn #Motivation #WordsToLiveBy #VSCOquotes #GoodVibes #RandomThought #WordsOfWisdom #WordsForTheSoul #Sayings #Wordgram #QuotesTags #AboutLife #SelfReminder #LessonsInLife

Made with Instagram

Pada hari itu, tiap-tiap kepala akan tertunduk lesu dihadapan-Nya. Dalam hati mereka bergejolak sebuah rasa yang tak pernah ada sebelumnya, yaitu rasa takut akan dosa di dunia. Dosa yang bak hamparan pasir. Terbentang luas, mustahil terhitung.

Tapi, Sang Maha Pemaaf akan tersenyum dan berbisik, “Dan dosa-dosamu telah kumaafkan. Masuklah ke Surga.”

Semoga kita termasuk mereka yang mendapat ampunan-Nya.

Sebelah utara Qatar, 2016.

Belajar Merasa Cukup

Nafsu itu seperti air laut : makin kita telan, makin kita kehausan. Sebanyak apapun kenikmatan yang sudah kita dapatkan, akan selalu ada celah untuk kita merasa kurang. 

Dalam hal apapun, kita selalu merasa lebih pintar dari Tuhan. Merasa harta kurang banyak, pendidikan kurang baik, suami atau istri kurang begini begitu, keluarga kurang hangat. Semua kurang. Tidak pernah merasa cukup.

Ada hal-hal yang memang harus membuat kita terus kehausan, ilmu misalnya; kebaikan misalnya. Jika tidak merasa cukup dengan itu semua, memang sudah seharusnya.

Tapi banyak hal lain yang harus dicukupkan, sejak dalam hati. Yaitu segala urusan duniawi.

Benarlah kata seorang bijak, bahwa orang yang dekat dengan Tuhan akan diberikan rasa cukup, hilanglah keinginan-keinginan yang tidak perlu. Sebab segalanya hanyalah nafsu.

Itu mengapa, orang-orang yang tidak dekat dengan Tuhan dipenuhi nafsu selalu mencari hal-hal duniawi. Mencari yang lebih baik, mencari yang lebih banyak, mencari pengakuan manusia, mencari penghambaan budak, mencari yang memuaskan hatinya.

Itu mengapa, pencurian tidak lagi dilakukan oleh orang yang kelaparan, melainkan yang sudah penuh dengan kekayaan. Itu mengapa perselingkuhan masih dilakukan ketika pasangan sudah begitu menawan. Itu mengapa begitu banyak kejahatan yang tak masuk akal.

Ketika kita sulit untuk merasa cukup, bukan nikmat yang harus ditambah. Melainkan hati yang harus belajar untuk merendah.

Merasa cukup, bukan berarti menerima begitu saja. Merasa cukup, bukan berarti tidak memperbaiki. Merasa cukup, hanya bentuk keyakinan yang tak terbantahkan. Pada segala pemberian, pada segala kekayaan Tuhan.

Belajar merasa cukup, adalah belajar penghambaan pada Tuhan.

Mungkin, seburuk-buruk hukuman di dunia adalah hukuman tanpa sadar. Ketika Allah jadikan seseorang tanpa sadar terus menerus berbuat dosa. Hingga ibadah pun tak terasa lagi manis dan lezatnya dibandingkan dosa. Bagaimana seseorang berpikir untuk taubat dan menghapus dosanya jika sadar pun tidak?
—  Rasyid Al Fauzan
Yang Telah Banyak Ditinggalkan...

Oleh: Ummu Shalih

Semoga menjadi renungan dan nasehat bagi kita bersama.


Bila kita membuka lembaran-lembaran sejarah para salafush shaleh, akan kita dapati kisah-kisah keikhlasan dan semangat menyembunyikan amalan mereka dari pandangan orang, yang seketika akan membuat kita malu.

Amalan mereka besar namun mereka menyembunyikannya, sedangkan amalan kita begitu kecil tetapi begitu mudah kita merasa bangga terhadapnya.

Amalan mereka begitu rapat tersimpan, tak ada yang mengetahui kecuali Allah dan diri mereka, terkadang oleh sebagian orang terdekat mereka. Bahkan ada beberapa di antaranya yang amalan-amalan istimewanya tidak diketahui siapa pun dan baru terungkap setelah mereka wafat.

Sungguh sesuatu yang langka dan telah banyak ditinggalkan di zaman ini.

Telah banyak ditinggalkan di zaman ini sebuah perkara; menyembunyikan ibadah.

◆ Sebagaimana ‘Abdurrahman bin Abi Laila yang apabila ia shalat sunnah di rumahnya, kemudian merasa ada seseorang yang melihatnya maka ia membatalkan shalatnya dan segera berbaring di atas ranjangnya seakan-akan sedang tidur. Sampai orang yang melihatnya menyangka ia adalah orang yang banyak tidur. Tidak ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya ia banyak mendirikan shalat sunnah.

◆ Atau sebagaimana Ibrahim An-Nahkha'i yang menghabiskan waktunya untuk membaca Al Qur'an, maka apabila ada seorang laki-laki masuk ke rumahnya ia segera menutupi mushaf dan berkata, “Supaya ia tidak melihatku membaca mushaf setiap saat.”

◆ Atau sebagaimana Daud bin Abi Hind disebutkan bahwa ia telah berpuasa selama 40 tahun tanpa ada seorang pun dari keluarganya yang mengetahuinya, karena bila pagi hari ia berangkat bekerja, ia membawa bekal dari rumahnya. Maka keluarganya menyangka ia tidak berpuasa. Ketika di jalan ia menyedekahkan bekalnya, dan ketika pulang di penghujung hari, ia ikut makan malam bersama keluarganya.

● Atau kisah Ayyub As-Sakhiitani rahimahullah yang mendirikan shalat sepanjang malam dan menyembunyikannya, sehingga apabila bangun di pagi hari, ia mengeraskan suaranya seakan-akan baru saja bangun tidur.

Telah banyak ditinggalkan di zaman ini sebuah perkara; menyembunyikan kekhusyu'an dan kezuhudan.

◆ Sebagaimana Abul Hasan Muhammad bin Aslam At-Thawusi yang sering menangis ketika membaca Al Qur'an, maka setiap hendak keluar rumah ia selalu mencuci wajahnya untuk menghilangkan bekas menangis di wajahnya.

◆ Atau sebagaimana Ibrahim bin Adham, seperti yang dikatakan oleh Ibnul Mubarak, “Ia adalah orang yang suka menyembunyikan amal. Aku tidak pernah melihatnya mengeraskan tasbih, atau memperlihatkan amal shalih. Dan tidaklah ia makan bersama dengan orang-orang kecuali ia yang terakhir mengangkat tangannya dari makanan, untuk menampakkan ia bukan termasuk orang yang zuhud.”

◆ Atau sebagian salaf yang ketika tersentuh dengan makna ayat Al-Qur'an atau hadits dan menangis ia akan berkata, "Aku sedang sakit flu yang parah.”

Telah banyak ditinggalkan di zaman ini sebuah perkara; menyembunyikan sedekah.

◆ Sebagaimana Ali bin Al Husein Zainal Abidin memanggul makanan dan kebutuhan orang-orang miskin Madinah setiap malam di atas punggungnya dan meletakkannya di depan pintu rumah mereka selama beberapa tahun, tanpa ada seorang pun yang mengetahui. Ketika ia meninggal barulah orang-orang mengetahui hal itu, karena terputuslah sedekah dan terdapat bekas kehitaman pada punggungnya.

Telah banyak ditinggalkan di zaman ini sebuah perkara, menuliskan ilmu tanpa berharap dikenal manusia.

◆ Sebagaimana Imam Al-Mawardi, pengarang kitab-kitab tafsir, fiqh dan lainnya. Selama hidupnya beliau tidak pernah menunjukkan kitab karangannya pada siapapun. Sampai ketika beliau merasa ajal sudah dekat, beliau memanggil orang kepercayaannya dan berkata, "Sesungguhnya kitab-kitab di rumah fulan adalah tulisanku, maka apabila telah tiba sakaratul maut, genggamlah tanganku. Apabila tangan ini menggenggam tanganmu, berarti amalku itu tidak diterima sedikitpun, maka buanglah seluruh kitabku ke sungai pada malam hari. Namun apabila tangan ini terbuka, berarti amalanku diterima.”

Maka ketika ia wafat ternyata tangannya terbuka, dan tersebarlah kitab-kitab beliau sejak saat itu.

◆ Atau Imam Syafi'i yang berkata, “Saya ingin orang-orang mengambil ilmuku, tanpa menisbatkannya kepadaku.”


Itulah sekelumit gambaran para salafush shaleh dalam menyembunyikan amal mereka untuk menjaga niat, karena mereka adalah orang-orang yang paling sadar bahwa tidaklah berharga suatu amal tanpa niat yang ikhlas, sehingga mereka sangat berhati-hati dari segala hal yang dapat merusaknya. Salah satu halnya adalah pujian dan pandangan manusia.

Pujian dan ketenaran adalah sesuatu yang mereka jauhi dan benci, bahkan dianggap sebagai musibah. Pernah berkata Ibrahim bin Adham, “Tidaklah jujur kepada Allah, hamba yang menyukai ketenaran.” Sedangkan Basyar bin Al-Harits berkata, "Tidak akan merasakan 'kenikmatan akhirat’ seorang yang suka dikenal oleh manusia.”

Tak heran, jikalau Allah-lah yang membalas keikhlasan mereka dengan pahala yang sempurna, dengan kecintaan-Nya, membanggakan mereka dan memberikan kenangan yang baik di antara manusia sesudahnya sampai zaman selanjutnya, termasuk hingga kini…

Jadi, sudahkah kita memiliki amalan rahasia?

Kemana hijrahmu kan bermuara?

Hijrah saja tidak cukup.
Apa artinya hijrah jika kau masih merasa berkecil hati ketika melihat teman-temanmu secara bebas memposting wajah cantik mereka dengan dandanan elegannya ataupun foto mesra mereka dengan pacarnya.

Hijrah saja tidak cukup.
Jika kau masih saja membuka sisa-sisa lembaran “percakapan penuh dosa” antara kau dan dirinya. Lalu dengan tidak sengaja sebuah lengkungan manis tersungging di wajahmu.

Hijrah saja tidak cukup.
Apalah guna benteng yang kau bangun setinggi asa jikalau kau masih belum bisa fokus pada tujuan awalmu memperbaiki diri.

Hijrah, sebuah kata yang takkan ada guna jika kau tak mengindahkan niat serta tujuanmu. Hijrah, bukan cuma sebatas kau ulurkan hijabmu hingga menutupi dada, kau balut tubuhmu dengan gamis, kau jaga pandanganmu terhadap lawan jenis. Makna hijrah sesungguhnya jelas lebih dari itu, wahai perempuan (calon) penghuni surga-Nya.

Apakah hijrahmu kau lakukan demi dia? Tak sadarkah kau bahwa yang menginginkan kau berhijrah adalah Dia? Kau bersusah payah memperbaiki diri, menjaga lisan dan pandangan, memperdalam ilmu agama, hingga mencari pembenaran atas segala hal yang sebenarnya kau lakukan demi mendapatkan pasangan yang ‘setara’. Apa gunanya hijrahmu jika proses tersebut kau lakukan hanya demi mencuri hati seseorang yang kau bahkan tak mengenalnya.

Alangkah indahnya apabila hijrah yang kau perjuangkan ini, kau muarakan pada satu tujuan mulia. Tuk menggapai cinta-Nya. Tuk mendapat ridha sang Ilahi Rabbi.

Tips kecil hari ini : sediakanlah stoples untuk kamu menyisihkan uang, barang seribu atau dua ribu setiap subuh tiba. Usahakan dilakukan setiap hari, dengan niat sedekah subuh. Di akhir bulan, setor kepada yang berhak.
— 

Sebab yang sedikit tapi istiqomah lebih baik dari pada besar tapi one shoot only.

**Ada waktu-waktu yang istimewa untuk bersedekah dalam satu hari, yaitu ketika subuh**

Kadang kita harus terluka, agar kelak tak melukai. Kadang kita harus gagal, untuk tahu arti sebuah perjuangan. Kadang kita harus kehilangan, untuk paham arti sebuah pertemuan. Dan sudah sepatutnya kita sadar, bahwasanya airmata lah yang menjadi pencuci mata terbaik agar kita bisa melihat lebih jelas apa tujuan kita yang sebenarnya
— 

Hujan Mimpi

6 Jenis Gaya Bicara menurut Al-Qur'an

1. Qaulan sadida (QS. An-Nisaa’: 9, Al-Ahzab: 70)

Maknanya, perkataan yang tepat, kena sasaran, sesuai situasi dan kondisi, baik sesuai dari segi konten maupun konteks.

2. Qaulan ma'rufa (QS. An-Nisaa’: 5 dan 8, Al-Baqarah: 235, Al-Anfal: 32)

Maknanya, perkataan yang baik, sopan, halus, indah, benar, penuh penghargaan, menyenangkan, dan sesuai dengan kaidah hukum serta logika.

3. Qaulan baligha (QS. An-Nisaa: 63)

Maknanya, perkataan yang fasih, tepat, jelas, efektif, dan mampu mengungkapkan apa yang dimaksudkannya.

4. Qaulan maysura (QS. Al-Isra’: 28)

Maknanya, perkataan yang mudah. Ath-Thabari dan Buya Hamka mengatakan, makna mudah disini adalah yang membuat orang lain merasa mudah mengerti, gaya bahasanya lunak, menyenangkan dan layak didengar, halus dan lemah lembut sehingga tidak membuat lawan bicara tersinggung, serta menimbulkan rasa optimis bagi orang yang diajak bicara.

5. Qaulan layyina (QS. Thaha: 44)

Maknanya, perkataan yang lemah lembut sehingga dapat menyentuh hati lawan bicara. Ini erat kaitannya dengan suasana hati orang yang berbicara. Berbicara dengan hati yang tulus dan menghargai kondisi lawan bicara akan melahirkan ucapan yang lemah lembut. Kelemahlembutan tidak hanya dapat mengantarkan sampainya informasi, namun juga berpotensi mengubah sudut pandang, sikap, dan perilaku lawan bicara, bi idznillaah.

6. Qaulan karima (QS. Al-Isra’: 23)

Maknanya, perkataan yang mulia, yang penuh penghargaan dan penghormatan kepada lawan bicara.

Jika diperhatikan, 3 dari 6 gaya bicara tersebut tercantum di dalam surat An-Nisaa’, surat yang banyak berbicara tentang perempuan, yang seolah-olah mengingatkan kita bahwa ketergelinciran yang paling sering terjadi di kalangan wanita disebabkan oleh lisannya…