selara

Takut Mendalami Agama

Beberapa orang takut mendalami ilmu agama, lalu membuat penyangkalan-penyangkalan sebab ia khawatir jika ia mendalaminya ia akan tahu bahwa apa yang dirasanya menyenangkan sekarang sebenarnya tidak selaras dengan apa yang dianjurkan agamanya.

Ia memilih berhenti dan merasa cukup, hingga tanpa ia sadari ia tengah berupaya menjadi Tuhan, sebab ia berupaya membuat agama memahami kebahagiaannya bukan ia yang berupaya memahami agamanya.

***

Takut ah mendalami agama terlalu jauh, nanti diolok-olok teman dibilang fanatik.

Hmm … yang menolongmu kelak di padang mahsyar adalah agamamu bukan anggapan temanmu.

***

Anak-anak kita nanti lebih perlu tahu bagaimana agamanya tumbuh, siapa orang-orang yang memperjuangkan agamanya, seperti apa itu konsep surga dan neraka yang sebenarnya, bagaimana konsep hidup yang berjalan di atas agama. 

Lalu apa yang akan kita ceritakan pada mereka kelak jika agama yang kita akui sekarang hanya tempelan semata, yang kita peluk sebab takut pada keluarga, pada orangtua, pada lingkungan sekitar, atau bahkan hanya sebuah kebiasaan yang sudah terlanjur melekat dalam diri.

Nona, jangan malu pada anggapan manusia selama yang kau lakukan memang benar sebagaimana yang dianjurkan-Nya. Teruslah berjalan, teruslah kuatkan hatimu dan teruslah berdo’a supaya senantiasa diberi keteguhan hati atas agama-Nya.

Nona, jangan takut, Allah bersamamu, aku pun.

Penutup Hujan Sepanjang Tiga Tahun

Sebuah penutup.

Hujan Matahari menjadi simbol titik balik yang luar biasa dalam hidup saya. Dan dengan beberapa pertimbangan yang cukup berat, tiga tahun keberjalanan buku ini saya anggap cukup. Hujan Matahari mungkin tidak akan bisa dipesan lagi karena cetakannya akan saya hentikan.

Buku ini menjadi titik sejarah dan menjadi salah satu tanda tercapainya banyak impian saya yang lain. Untuk itu, sebagai orang yang menulisnya. Saya ingin mengucapkan terima kasih terutama kepada pembaca pertama buku ini. Ketika 2014 yang lalu buku ini secara nekat saya rilis ke publik dan teman-teman yang mungkin tidak mengenal saya, rela menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membeli buku ini. Dan sungguh, itu adalah tindakan yang membuat saya merasa dihargai, diapresiasinya. Sehingga saya semakin yakin untuk bisa berkarya di tahun-tahun berikutnya.

Semoga buku ini bisa menjadi kenangan-kenangan buat siapapun yang terlibat di dalamnya. Saya sebagai orang yang menulis, desainernya, layouternya, editornya, percetakannya, pembacanya, yang membantu menjualkannya, menyebarkannya, menghadiahkannya untuk orang lain, yang menerimanya sebagai hadiah, dan hal-hal apapun yang melibatkan buku ini.

Sekali lagi terima kasih. Tiga tahun yang serasa tak terasa, tapi banyak mengubah hidup saya. Semoga buku ini tetap menjadi bermanfaat, tetap menjadi kenangan yang manis dalam mengarungi krisis di usia-usia yang selaras dengan isi bukunya.

2014-2017 dan buku ini saya sudahi. Semoga menjadi penutup yang baik bagi sebuah karya. Semoga menjadi kenangan yang akan menjadi cerita bertahun-tahun lagi. Aamiin.

Salam hangat,

yang menulis Hujan Matahari - Kurniawan Gunadi

Hanya Passion?

“Ada yang lebih penting daripada sekedar mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat.” - Mutia Prawitasari

Itulah sebaris kalimat yang ditulis oleh Teh Mutia yang saya baca di linimasa Tumblr beberapa waktu yang lalu. Sekali lirik, saya tak butuh banyak waktu untuk sepakat. Ya, saya sepakat, sebab memang benar bahwa menjadi bermanfaat dengan segala yang ada dan belum ada dalam diri, yang diketahui dan belum diketahui, tentu lebih penting daripada sekedar mengejar satu bagian hidup bernama passion.

Passion, betapa kata itu menjadi sangat ramai dibicarakan di kalangan anak muda saat sekarang. Pasalnya, saya tidak hanya mendapatinya di obrolan-obrolan bersama teman satu lingkaran, di kantor, atau di cuap-cuap media sosial, tapi juga ternyata banyak dibicarakan di seminar, workshop, atau bahkan diskusi online. Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menemukan passionmu? Apakah kegiatan yang sangat kamu suka dan kamu tidak pernah bosan dalam melakukannya? Apakah yang membuatmu ingin selalu bergerak?

Disadari atau tidak, mengejar passion seringkali bersisian dengan keberadaan ego pribadi. Entah itu ego untuk menunjukkan diri, mengaktualisasikan diri, atau bahkan untuk mengabarkan pada dunia tentang kemampuan-kemampuan diri. Padahal, terlepas dari berbagai ego pribadi tersebut, anak-anak muda dianugerahi energi yang jauh lebih besar untuk menggerakkan passionnya pada tujuan yang lain daripada hanya sekedar bertujuan untuk mewujudkan ego pribadi, bukan? Tentu! Sebab, secara umum kita semua dianugerahi kesempatan, peluang, dan energi yang sama besar untuk bisa menjadi bermanfaat dengan passion yang kita punya. 

Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan dengan passion kita sebagai generasi muda? 

Kita perlu melunakkan ego agar bisa memperjalankan passion yang kita miliki di jalur yang selaras dengan kebermanfaatan. Mengapa perlu demikian? Sebab, passion memiliki keistimewaan dan kekuatan yang besar untuk menggerakkan seorang individu dalam melakukan sesuatu. Pernah melakukan sesuatu sampai lupa waktu dan lupa lelah tapi sangat bahagia menyelesaikannya? Ya, seperti itulah hebatnya bergerak dengan passion. Dampaknya tentu akan sangat luar biasa jika kita menggunakan passion yang dimiliki sebagai kendaraan agar bisa bermanfaat untuk sekitar dan sesama manusia.

Lalu, bagaimana caranya agar passion yang dimiliki bisa menjadi bermanfaat?

Pertama, berkenalanlah lebih dalam dengan diri sendiri dan temukanlah kekuatan apa yang melekat pada diri. Dengan mengetahui hal ini, kita akan lebih mudah memetakan amunisi-amunisi apa sajakah yang bisa digunakan untuk menguatkan passion yang dimiliki. Banyak cara untuk dapat melakukannya: bisa dengan membuat list kelebihan dan kekurangan, bertanya pada orang-orang yang dipercaya, mengikuti serangkaian tes psikologi, atau dengan mengikuti training pengembangan diri. Tentunya, jangan lupa juga untuk mencari tahu lebih lanjut tentang seluk beluk manusia dan tujuan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an, ya!

Kedua, pekalah terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar. Lihat, dengar, rasakan, dan berempatilah! Dunia ini tidak sedang baik-baik saja, kita sedang dihadapkan pada banyak masalah di berbagai sektor. Ada pendidikan yang kualitasnya tidak merata, ada kasus kelaparan, ada kemiskinan kaum marginal, ada masalah-masalah kesehatan yang masih jauh dari MDGs (Millenium Development Goals), ada anak-anak muda yang galau menentukan tujuan hidup, perang-perang pemikiran, anak dengan kasus kecanduan games dan pornografi, dan masih banyak lagi.

Ketiga, pikirkanlah, “Dengan passion dan kekuatan diri yang ada, di ranah manakah saya bisa berkontribusi?” Ini penting untuk dicari jawabannya, sebab dengan begitu kita akan mengetahui apa yang bisa dilakukan, bagaimana melakukannya, dan sejauh mana bisa berkontribusi. Mengenai hal ini, saya jadi ingat pesan seorang pembicara seminar pernah berkata, “Hidup adalah tentang memilih ranah permasalahan untuk kemudian memilih untuk berkontribusi pada perbaikannya.”

Keempat, carilah lingkaran-lingkaran pertemanan yang mendukung, yang juga memiliki visi dan misi yang sama dalam memandang suatu permasalahan yang sedang kita soroti. Ini menyenangkan! Sebab, biasanya di lingkaran-lingkaran pertemanan seperti inilah kita bisa lebih mudah mendapat akses terhadap fakta yang terjadi, informasi terbaru, serta mudah juga dalam bahu membahu mewujudkan kebermanfaatan dalam frekuensi yang sama dan atmosfer yang membangun.

Kelima, bergerak dan lakukanlah semuanya dalam rangka bersyukur kepada Allah dan mengharapkan keridhoan-Nya atas passion yang melekat dalam diri, yang meski hanya dititipi, bukan dimiliki. Jangan biarkan poin satu sampai dengan empat berhenti di angan-angan. 

Kembali lagi pada kalimat Teh Mutia di atas: menjadi bermanfaat itu lebih penting dari pada sekedar mengikuti passion. Semangat ya semuaaa! Semoga Allah mempertemukan kita pada pintu-pintu kebaikan yang akan dengan senang hati kita masuki, dan akan dengan bahagia kita hidupkan untuk kebermanfaatan ;)

Istri Cerdas

“Maukah aku beritakan kepada kalian wanita paling baik di surga?” Tanya Rasulullah kepada para sahabat.
“Ya Rasulullah.” Jawab para sahabat.
Beliau bersabda “Setiap wanita yang penuh kasih sayang lagi banyak melahirkan anak. Jika suaminya marah kepadanya, maka ia berkata, "Inilah tanganku ada pada tanganmu. Aku takkan pernah bisa memejamkan mata sebelum engkau ridha kepadaku.” (H.R. Thabrani)

Beberapa hikmah yang bisa kita ambil adalah menjadi istri idaman itu kriterianya adalah lembut, subur dan taat pada suami. Taat ini tentunya selaras dengan ketaatan pada Allah. Taat pada suami merupakan bentuk dari taat pada Allah. Landasan utama seorang istru adalah agama yang kokoh.

Syaikh Saleh bin Ahmad al Ghazali menambahkan kriteria istri idaman. Menurut beliau, istri idaman itu memiliki kriteria cerdas, sabar dan sederhana. Kecerdasan memungkinkan seorang istri melihat permasalahan dengan objektif. Kesabaran akan memberi kemudahan baginya dalam keadaan sempit maupun lapang. Kesederhanaan akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi tenang dan nyaman.

Kali ini kita akan membahas tentang istri yang cerdas. Cerdas disini berkaitan dengan komunikasi dengan suami dan juga berkaitan dengan cara menyelesaikan masalah dalam rumah tangga.

Istri sebagaimana umumnya perempuan, mayoritas mengedepankan perasaannya dibandingkan logikanya. Berkebalikan dengan suami yang lebih mengedepankan logika. Seringkali bentuk kasih sayang yang diberikan kepada pasangan sesuai dengan keinginan sendiri. Sebagai contoh, seorang istri jika memiliki masalah lebih butuh teman cerita ketimbang solusi. Ketika menemui kondisi suami yang dalam masalah, istri berfikiram bahwa dengan bercerita beban suami akan mereda. Maka, ia memaksa suaminya untuk bercerita. Maksud dari istri tentu baik, namun akan diterima berbeda oleh suami. Suami akan merasa terganggu saat memiliki masalah kemudian direcoki istrinya untuk bercerita. Suami ketika memiliki masalah lebih memilih masuk ke dalam ‘gua’ untuk memikirkan jalan keluarnya.

Niat yang baik jika tidak mengetahui ilmunya bisa jadi akan menimbulkan keburukan. Bisa jadi suami akan marah ketika dipaksa istri untuk bercerita. Dalam hal ini kita perlu belajar pada Bunda Khadijah.
“Selimuti aku, selimuti aku” kata Muhammad kala itu. Khadijah tak bertanya yang ia lakukan adalah menyelimuti sang suami dan memberikan ketenangan dan kenyamanan tanpa pertanyaan mengganggu seperti “Kamu kenapa?”
“Kedinginan kah?”

Hal lain yang perlu dimiliki seorang istri adalah kemampuan memberikan penghargaan kepada suami. Laki-laki perlu diberikan ruang untuk memberikan keputusan dan melakukan berbagai hal dalam keluarga. Hal itu yang menjadikan ia orang yang dibutuhkan dan dihargai karena kemampuannya dalam memimpin rumah tangga.

Selanjutnya adalah kemampuan seorang istri untuk menasehati suami. Dalam berumah tangga tentu suami tak selalu benar. Jika salah sudah seharusnya diberi nasehat. Istri yang cerdas akan menyiapkan suami untuk menerima nasehat dan menemukan waktu yang tepat untuk dinasehati. Suami kita tentunya tak sebaik Umar yang ketika dimarahi diam saja. Bisa jadi ketika dinasehti akan membuatnya marah. Lalu bagaimana? Suami sebagaimana fitrahnya menjadi pemimpin cenderung memiliki persepsi ia yg benar. Ketika melakukan kesalahan dan langsung diberi nasehat, ini akan membuatnya merasa tidak dihargai sebagai pemimpin.

Penerimaan atas kesalahan suami adalah kunci agar suami mau mendengarkan nasihat istri. Tetap tunjukkan akhlak yang baik ketika suami melakukan kesalahan. Sampaikan nasihat saat suasana tenang dan cair dengan bahasa yang baik dan dengan ketulusan.

Semoga kita menjadi seorang istri cerdas, istri yang mampu mencintai suami sebagaimana ia ingin dicintai hingga Ridho Allah terlimpahkan pada keluarga kita. (tw)

Sumber : Bahagianya Merayakan Cinta Barakallahulaka

🌷SUPERMOM’s NOTE🌷
Edisi #marriedbydesign 13 Mei 2017

🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
💌Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com
💌 Fanpage FB: Supermom Wannabe
💌 Twitter & Instagram: @supermom_w
💌 Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
💌 WhatsApp: +6285725105272

Menanti bisa berarti mati. Pun bertahan tak pernah memberi rasa bahagia dalam hati.
Kadang, apa yang kita harapkan. Tak selaras dengan kenyataan. Dan semua itu malah menjadi sumber luka dalam perasaan.

Oleh karena itulah. Saat kamu memberiku sebuah harapan. Aku sudah terlebih dahulu akrab dengan kekecewaan.

—  Arief Aumar Purwanto
IIP #2: Menjadi Ibu (yang) Profesional

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik.” - pesan Pak Dodik kepada Ibu Septi tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang ibu.

Mungkin benar jika dikatakan oleh sebuah kiasan bahwa seorang ibu ibarat memiliki banyak tangan. Betapa tidak, kemampuan multi-taskingnya membuat seorang ibu bisa menyelesaikan berbagai macam pekerjaan dalam waktu yang bersamaan: mencuci sambil memasak nasi, sambil menyapu lantai, sambil mengangkat telepon dari suaminya, sambil menggendong si kecil yang menangis, dan seterusnya. Untuk yang sudah menjadi ibu, tentu bisa merasakan sendiri betapa multi-taskingnya kehidupan sehari-hari, bukan? Untuk yang masih sendiri, kita tentu bisa memerhatikan bagaimana ibu kita di rumah. Luar biasa! Semoga kelak kita akan sampai pada peran mulia itu.

Menjadi ibu adalah luar biasa, menjadi ibu yang profesional tentu lebih luar biasa! Apa itu ibu profesional?

Dalam KBBI kata ibu berarti perempuan yang telah melahirkan seorang anak, sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami, panggilan takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum, bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya), dan yang utama diantara beberapa hal yang lain. Sedangkan, kata profesional berarti makna yang bersangkutan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya. Berdasarkan kedua makna di atas, maka,

Ibu professional adalah seorang perempuan yang bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya serta senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Saat saya berkunjung ke Jogja beberapa bulan yang lalu, seorang senior yang sudah menikah kala itu berpesan kepada saya dalam sebuah obrolan ringan tanpa rencana, katanya, 

“Menikah itu memerlukan napas yang panjang, karena tantangannya bukan hanya sehari dua hari, tapi seumur hidup. Kalau napasnya pendek, bahaya!” - Kurniawan Gunadi

Hal ini ternyata juga selaras dengan peran sebagai ibu profesional yang juga merupakan sebuah perjalanan panjang. Tidak bisa hanya sehari dua hari lalu langsung menjadi profesional. Itulah mengapa, harapannya, semakin baik kiranya jika segala persiapannya justru ditempuh dan dilakukan jauh sebelum menikah. InsyaAllah.

Bagaimana agar bisa menjadi ibu profesional? Terdapat beberapa proses, yaitu berusaha menuntut ilmu untuk meningkatkan kualitas dalam mendidik anak sehingga bisa menjadi guru pertama dan utama bagi anak-anak, meningkatkan kualitas dalam mengelola rumah tangga dan keluarga sehingga menjadi keluarga yang unggul, meningkatkan rasa percaya diri, senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidup, serta meningkatkan peran sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat. 

Pada intinya, sebelum kita menjadi ibu yang profesional, terlebih dahulu kita perlu menjadi individu yang profesional, baik itu dalam peran sebagai seorang perempuan, seorang anak, seorang pelajar, seorang pekerja, seorang wirausaha, seorang penulis, atau bahkan yang lainnya. Sebab, menjadi profesional dalam menjalankan peran apapun dengan benar adalah modal agar kelak bisa menjadi ibu yang profesional. Meskipun demikian, seluruh peran akan bisa dilaksanakan dengan profesional apabila kita bisa bersikap profesional sebagai seorang hamba.

Dalam setiap selesai perkuliahan, selalu ada nice homework (NHW) menarik yang diberikan. Setelah membahas ibu profesional ini, kami diminta untuk membuat checklist indikator profesionalisme perempuan, sehingga saya memiliki gambaran dan target terukur yang perlu ditempuh agar bisa profesional sebagai seorang individu, seorang isteri, dan juga seorang ibu. Seperti apakah itu? Silahkan mengikuti kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional selanjutnya, ya! NHW ini sifatnya sangat individual. Saya dan teman saya di kantor pun, meski sama-sama mengikuti perkuliahan ini di periode yang sama, tidak bisa mencontek satu sama lain atau sekedar bertanya. Kabar baiknya, menurut informasi yang saya terima dari fasilitator di kelas saya, IIP selanjutnya insyaAllah akan dimulai di bulan September 2017. Bersiap, yaa! ;)

Referensi: Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional

_____

Tulisan ini adalah resume materi perkuliahan di Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang saya ikuti pada bulan Mei - Juli 2017. Semua informasi di dalamnya saya dapatkan dari kelas tersebut dan saya hanya menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri agar lebih mudah dipahami oleh pembaca.

_____

Untuk membaca tulisan saya yang lain tentang Institut Ibu Profesional, silahkan klik disini. Untuk membaca tulisan lain terkait pranikah dan parenting, silahkan klik disini. Semoga Allah memampukan kita semua untuk memahaminya dengan benar dan menyampaikan kita pada kesempatan untuk mengaplikasikannya. Baarakallahu fiikum!

_____

Picture source: Pinterest

Biodata Rasulullah SAW.

💜 Nama : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalibs bin Hashim.
💜 Tarikh lahir : Subuh hari Isnin, 12 Rabiulawal bersamaan 20 April 571 Masehi (dikenali sebagai Tahun Gajah; karena peristiwa tentara bergajah Abrahah yang menyerang kota Ka'bah)
💜 Tempat lahir : Di rumah Abu Thalib, Makkah Al-Mukarramah.
💜 Nama bapak : Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim.
💜 Nama ibu : Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf.
💜 Pengasuh pertama : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapak Rasulullah SAW).
💜 Ibu susu pertama : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).
💜 Ibu susu kedua : Halimah binti Abu Zuaib As-Sa'diah (lebih dikenali Halimah As-Sa'diah, suaminya bernama Abu Kabsyah).

USIA 5 TAHUN

💓 Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.

USIA 6 TAHUN

💓 Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa ’
(sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah, baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapak Rasulullah SAW)
dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muththalib.

USIA 8 TAHUN

💓 Datuknya, Abdul Muththalib pula meninggal dunia.
Baginda dipelihara pula oleh bapak saudaranya, Abu Thalib.

USIA 9 TAHUN (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).

💓Bersama bapak saudaranya, Abu Thalib bermusafir ke Syam atas urusan
perniagaan.

💓Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendeta Nasrani bernama Bahira
(Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang
pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa
itu.

USIA 20 TAHUN

💓Terlibat dalam peperangan Fijar. Ibnu Hisyam di dalam kitab ‘Sirah’, jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah
14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan
berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.

💓Menyaksikan ’ perjanjian Al-Fudhul ’ ; perjanjian damai untuk memberi
pertolongan kepada orang yang didzalimi di Makkah.

USIA 25 TAHUN

💓Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah
binti Khuwailid Al-Asadiyah.

💓Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah.

💓Baginda SAW bersama-sama Abu Thalib dan beberapa orang bapak saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapak saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.

💓Mas kawin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

USIA 35 TAHUN

💓Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Ka'bah.

💓Pembinaan semula Ka'bah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk
Makkah.

💓Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan ‘Hajarul-Aswad’ ke
tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan
batu tersebut.

USIA 40 TAHUN

💓Menerima wahyu di gua Hira’ sebagai pelantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.

USIA 53 TAHUN

💓Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq.

💓Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal / 24 September 622M.

USIA 63 TAHUN

💓Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah / 8 Juni 632 Masehi.

ISTERI-ISTERI RASULULLAH SAW

💚 Khadijah Binti Khuwailid.
💚 Saudah Binti Zam'ah.
💚 Aisyah Binti Abu Bakar (anak Sayyidina Abu Bakar).
💚 Hafsah binti 'Umar (anak Sayyidina 'Umar bin Al-Khattab).
💚 Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
💚 Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
💚 Zainab Binti Jahsy.
💚 Maimunah Binti Harith.
💚 Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
💚 Zainab Binti Khuzaimah (digelar 'Ummu Al-Masakin’, Ibu Orang Miskin).

ANAK-ANAK RASULULLAH SAW

1.💜 Qasim
2.💜 Abdullah
3.💜 Ibrahim
4.💜 Zainab
5.💜 Ruqaiyah
6.💜 Ummi Kalthum
7.💜 Fatimah Al-Zahra’

ANAK TIRI RASULULLAH SAW

💙 Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah at-Tamimi (anak kepada Sayyidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).

SAUDARA SESUSU RASULULLAH SAW

IBU SUSUAN/SAUDARA SUSUAN
1. Thuwaibah → Hamzah
2. Abu Salamah → Abdullah bin Abdul Asad

SAUDARA SUSUAN
1. Halimah Al-Saidiyyah → Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Muthallib
2. Abdullah bin Harith bin Abdul ’ Uzza
3. Syaima ’ binti Harith bin Abdul ’ Uzza
4. 'Aisyah binti Harith bin abdul ’ Uzza

BAPAK DAN IBU SAUDARA RASULULLAH SAW
( ANAK-ANAK KEPADA ABDUL MUTHTHALIB)

1. Al-Harith
2. Muqawwam
3. Zubair
4. Hamzah *
5. Al-Abbas *
6. Abu Talib
7. Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza)
8. Abdul Ka'bah
9. Hijl
10. Dhirar
11. Umaimah
12. Al-Bidha (Ummu Hakim)
13. Atiqah ##
14. Arwa ##
15. Umaimah
16. Barrah
17. Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam) *

* masuk Islam.
## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya.

Sabda Rasulullah SAW:
“Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai aku
Dan sesiapa yang mencintai aku niscaya dia bersama-samaku di dalam syurga”
(Riwayat Al-Sajary daripada Anas )

اللهم صلى وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Nabi Muhammad SAW - Manusia agung

KENALI NABI MUHAMMAD S.A.W. SECARA LAHIRIAH

💓Begitu indahnya sifat fizikal
Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bertemu muka dengan Baginda lantas melafazkan keislaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda.

Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:

💞 Aku belum pernah melihat lelaki yang segagah Rasulullah saw..

💞 Aku melihat cahaya dari lidahnya.

💞 Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari
terbit.

💞 Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.

💞 Rasulullah umpama matahari yang bersinar.

💞 Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.

💞 Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.

💞 Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.

💞 Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.

💞 Wajahnya seperti bulan purnama.

💞 Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.

💞 Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.

💞 Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.

💞 Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.

💞 Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.

💞 Mulut baginda sederhana luas dan cantik.

💞 Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.

💞 Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.

💞Janggutnya penuh dan tebal menawan.

💞 Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.

💞 Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.

💞 Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.

💞 Rambutnya sedikit ikal.

💞 Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah
bahu tapi disisir rapi.

💞 Rambutnya terbelah di tengah.

💞 Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur
dari dada ke pusat.

💞 Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa.

💞 Seimbang antara kedua bahunya.

💞 Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar
dan tersusun dgn cantik.

💞 Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.

💞 Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.

💞 Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.

💞 Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.

💞 Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan
putih.

💞 Warna putihnya lebih banyak.

💞 Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.

💞 Warna kulitnya putih tapi sehat.

💞 Kulitnya putih lagi bercahaya.

💞 Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kokoh.

💞 Badannya tidak gemuk.

💞 Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi gagah.

💞 Perutnya tidak buncit.

💞 Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai
baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.

KESIMPULANNYA :
Nabi Muhammad sa.w adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh sepanjang zaman.
Baginda adalah semulia-mulia insan di dunia.


[Copas dari grup Whatsapp]

Kau tau kenapa aku belum memutuskan bahkan belum menemukan?

Aku ingin nadaku bisa selaras dengan nada mu, walaupun berbeda tapi kita bisa beriringan.

Aku ingin menjadi bumbu untuk penyempurna antara bahan yang kau ramu.
Setidaknya, itu yang ada dalam benakku sekarang.

Teruntuk orang yang belum ku temukan. Tunggu aku,

Kita dua sisi yang saling bertentangan, namun memaksa untuk tetap bergandengan.

Bukan hanya sudut pandang, cara berfikir dan tujuan hidup yang berbeda, namun juga keyakinan yang tidak bisa beriringan.

pilu memang satu-satunya dari kita yang selaras adalah perasaan yang sama.

namun sebesar apapun cinta yang kita punya, tidak mampu melebur segala perbedaan yang membentang luas.

Ada kemungkinan lain yang kusadari bisa menjelaskan alasan kenapa aku begitu sulit mendekatimu. Aku baru sadar bila ternyata…

Kita tidak dalam satu level.

Mungkin iya, mungkin tidak. Bukan juga soal memperbandingkan, bukan soal siapa yang diatas dan siapa yang dibawah. Pada konteksnya, level yang tidak selaras menunjukkan ketidaksamaan yang berujung sulitnya sebuah adaptasi. Lebih jauhnya, tidak sefrekuensi, tidak satu arah, hingga tidak satu pemikiran akan menjadikan segalanya menjadi tidak mudah.

Pun bukan soal merendahkan keadaan diri, tapi memang beginilah mungkin cara alam menyeleksi sesuatunya secara alamiah. Bagaimanapun, kita tidak hidup dalam alam persepsi semata dimana kita bisa memenangkan segala persepsi yang kita tanam dalam benak, sementara hukum alam tetaplah tak dapat terusik kecuali oleh keinginan sutradara semesta.

Setelah kusadari, ada dua hal yang harus kupertimbangkan yaitu mundur darimu sekaligus mencari seseorang yang kira-kira selevel denganku, atau memperbaiki level yang kumiliki agar dapat setara denganmu.

Sadar diri atau meningkatkan kemampuan diri.

Bisa jadi begitu.

Tunggu, sebelum melanjutkan perjalanan, bukankah kita perlu berhenti dulu sebentar dan memastikan bahwa kita memang sedang berjalan di jalan yang benar, menuju ke arah yang benar, dan menempuhnya dengan cara yang benar pula? Jika tidak demikian, mungkin kita hanya akan mendapat lelah karena terus berjalan tanpa pernah benar-benar sampai. Sebab, kita abai pada sesuatu yang mendasar dan paling esensial dari perjalanan ini.

Suatu hari nanti, di pemberhentian perjalananmu yang entah pemberhentian keberapa, mungkin seseorang akan bertanya kepadamu tentang tujuan. Jangan cepat-cepat marah padanya, jangan juga tersinggung pada ia yang ingin memastikan bahwa hidupmu bertujuan. Sebab, mengetahui tujuan hidup adalah bekal dari perjalanan hidup itu sendiri.

Seseorang pernah berpesan kepadaku, katanya, “Hidup adalah perjalanan dari Allah menuju Allah.” Kau tahu, tujuan yang dimaksud adalah yang terwakilkan melalui kalimat singkat itu. Jadi, bagaimana dengan tujuanmu, apakah selaras dengan itu? Apakah sejalan dengan apa yang sudah ditetapkan-Nya kepadamu?

Futur Pasca Kampus

Saya nulis ini buat jawab pertanyaan anon di atas. Namun dalam pembahasan ini, saya khususkan untuk membahas futur pasca kampus. Karena dunia pasca kampus adalah ujian bagi para ADK.

Futur itu apa? futur bisa diartikan jenuh dengan dakwah, ingin berhenti dari dakwah atau bisa jadi sebenernya kita nggak jenuh sama dakwah, cuman kita mulai nggak sreg dengan amal jama’i.

Dulu, saya juga pernah berpikir bahwa berusaha jadi orang baik yang menebar senyum, menunaikan ibadah wajib dan ringan dalam menolong orang saja sudah cukup. Tidak perlu ikut jama’ah karena jama’ah justeru membuat kita terkotak-kotak.

Tapi setelah direnungkan, apa yang saya sebutkan tadi memang cukup bagi kita untuk menjadi seorang muslim. Tapi tidak pernah cukup bila tujuan dakwah kita adalah agar Islam menjadi solusi bagi permasalahan ummat. Tidak pernah cukup bila dikaitkan dengan tujuan penciptaan kita, beribadah kepada Allah di sepanjang usia.

Jama’ah itu ada bukan untuk mengkotak-kotakkan ummat Islam. Ia adalah wadah agar kita bisa bekerja bersama. Kalaupun efeknya jadi membuat kita terlihat terpecah, itu lebih karena kita yang belum bisa menyamakan frekuensi.

Ada banyak sekali ajaran islam yang baru bisa terlaksana dengan amal jama’i semisal pengkondisian lingkungan di sektor pendidikan, ekonomi, pengelolaan SDA dan banyak lagi. Semenjak itu, saya memahami bahwa penting bagi saya untuk belajar lebih lanjut tentang amal jama’i.

Ketika di kampus, para ADK umumnya aktif di masjid kampus sehingga lingkungannya sudah terkondisikan untuk beramal sebagai jama’ah dengan semangat ukhuwah dan ghirah yang tinggi. Itu titik nyaman kita.

Selepas lulus dari kampus, kita baru mulai mengenali diri kita yang ketika sendirian justeru rapuh, kering dan belum punya ilmu yang cukup untuk melakukan tarbiyah dzatiyah agar istiqomah beramal jama’i. Maka interaksi dengan dunia luar dan teman-teman yang baru membuat sudut pandang kita tentang dakwah mulai beda.

Bukan karena temen-temen kita yang  baru itu membenci dakwah. Tapi sebagian dari mereka memang belum mengenal dakwah jadi mereka tidak bisa merasakan indahnya beramal jama’i, tidak bisa meresapi jargon “Nahnu du’at qabla kulli syai’in (kita adalah dai sebelum sebuah sesuatu”. Jadi mereka berbicara apapun tentang dakwah sesuai informasi yang mereka punya dan sayangnya informasi yang mereka terima banyak berisi prasangka.

Kitapun yang sudah lama tidak liqo, dan tidak punya tempat kroscek, sadar nggak sadar ikut terbawa penilaian orang luar tentang dakwah dan amal jama’i.

Hal lain yang perlu kita renungkan adalah: Dalam dakwah, kita sibuk mengatakan bahwa Islam adalah solusi. Apa yang kita katakan ini terasa hanya seperti dongeng karena realita yang kita hadapi jauh sangat berlawanan dengan dunia islam. Dunia kita menggunakan riba untuk ‘mempermudah’ orang mendapatkan sesuatu, sementara islam melarang riba (di sini saja islam yang harusnya menjadi solusi malah terasa seperti masalah). Contoh lain, islam sebenernya menghormati wanita dan menuntut kendaraan umum yang terpisah antara pria dan wanita agar wanita terlindungi, tapi realita sekarang dimana kendaraan umum campur banget dan kita harus berdesakan, maka wanita yang ingin mencari kendaraan khusus wanita untuk menjaga diri jadi terasa seperti masalah :p

Kita nggak bisa hanya berkoar-koar tentang idealnya ekonomi syariah. Karena koar-koar tanpa perwujudan hanya akan menjadi dongeng. Inilah yang sering dipersepsikan orang yang tidak mengenal dakwah:

“Ummat islam cuma mau nuntut tapi nggak mau kerja“

Persepsi ini juga rawan membuat ADK yang baru lulus menjadi futur karena mereka belum bisa menemukan jembatan antara realita dan idealita.

Di sini kita mesti merubah sudut pandang. Seorang muslim adalah khalifatullah di muka bumi. Maknanya, kita harus menjalankan amanah dari Allah untuk mengelola bumi ini dengan sebaik-baiknya. Melayani semua makhluk baik makhluk hidup maupun benda mati. Nahnu qoumun ‘amaliyun (kita adalah kaum pekerja. bukan kaum penuntut). Perlunya amal jama’i baru terlihat di sini. Bagaimana kita bekerja untuk pelan-pelan memperbaiki sistem hingga sistem tersebut terwarnai dengan ideologi kita. Kita fasilitasi orang-orang yang belum pernah merasakan nikmatnya islam agar bisa sedikit mencicipi sistem Islam. Barangkali ini adalah jalan hidayah bagi mereka agar kelak mereka bisa bersama-sama kita membangun lingkungan yang baik, tentram dan islami.

Hal ketiga yang mau saya ceritakan ini mirip dengan hal kedua. Ketika kuliah, mungkin bacaan kita hanya dari penulis-penulis harakah yang kita ikuti. Meskipun begitu, yang kita baca hanya kulitnya saja. Masalah timbul di sini. Terkadang kita merasa memahami suatu jama’ah sampai ke akar. Padahal ya….lagi-lagi…yang kita pelajari cuma kulit luar.

Nah pas kerja, kita mungkin mulai menyentuh literatur-literatur lain. Kita ;alu tertarik dengan faham-faham di luar islam semacam sosialisme, feminisme, etc. Banyak yang menilai faham tersebut lebih aplikatif untuk mengurangi penderitaan masyarakat. Lalu kita yang belum memiliki pemahaman utuh tentang manhaj yang kita anut turut meng-amini pendapat tersebut. Sekali lagi bukan karena Sosialisme lebih aplikatif untuk mengurangi penderitaan rakyat. Tapi karena kita yang belum mempelajari islam sampai ke akar. Mindset kita tentang islam masih tentang halal haram. Bukan hingga aspek islam ketika diterapkan di level negara

Sebab terakhir adalah, kesibukan di dunia kerja membuat kita melupakan slogan “Nahnu du’at qabla kulli syai’in” sehingga kita bekerja hanya sebagai karyawan. Bukan sebagai aktifis dakwah yang sedang dapat amanah di tempat kerja kita. Bedanya apa? Kalau kita hanya bekerja sebagai karyawan, target kita hanya KPI. Tapi kalau kita bekerja sebagai da’i, target kita adalah memperbaiki lingkungan. Kalau kita kerja di BUMN, seorang aktifis dakwah akan berpikir bagaimana aset ummat terkelola dengan baik. Kalau kerja di dunia pendidikan, kita akan berpikir bagaimana mengkader lulusan yang siap bekerja ikhlas memperbaiki negara. Bukan sekedar karyawan yang bekerja untuk makan.

Kalau sudah mulai futur, solusinya apa?

Pertama:

segera menentukan target dakwah. Sekecil apapun itu, yang penting pikiran kita harus kembali lagi di latih untuk berdakwah.

Kedua:

belajar. Baca buku tentang manhaj dakwah, datangi majelis ilmu yang ada. Kalau masih canggung untuk memulai liqo, paling tidak, jangan ikut alergi dengan ulama yang terlibat dalam harakah. Belajarlah memahami permasalahan ummat secara utuh agar motivasi beramal jama’i kembali lagi.

Ketiga:

Mulailah berikhtiar untuk tazkiyatun nafs. Kembali mengingat bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk ibadah. Rezeki, jodoh dan ajal sudah di atur. Kita belajar tawakkal atas hal-hal yang sudah diatur. Agar kita mulai bisa hidup dan menapaki jalan yang sesuai dengan tujuan penciptaan kita.

Keempat:

Belajar tentang dinamika amal jama’i biar kelak kalau gabung amal jama’i lagi, kita tidak canggung. Sebab amal jama’i itu menuntut kesabaran, tidak egois, legowo bila pendapat kita ditolak dalam syuro. Dan banyak lagi. Jangan dikira bahwa yang beramal jama’i adalah jama’ah malaikat tanpa dosa.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. [Al-Kahfi: 28]”

Dalam surat Al Kahfi bahkan Allah menyuruh kita bersabar bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang. Bisa dibayangkan bagaimana orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang. Jelas mereka bukan sembarang orang. Tapi Allah menyuruh kita bersabar. Ini semacam isyarat bahwa amal jama’i itu sulit, kadang menyebalkan, kadang bikin ilfeel, kadang bikin hati terluka. Tapi bagaimanapun tabiatnya, amal jama’i adalah jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Amal jama’i itu menuntut kita berjalan selaras dalam perbedaan. Bukan memaksa orang lain berjalan sesuai dengan idealita yang ada di pikiran kita. 

Sejak kekhalifahan turki utsmani runtuh, kita memang kehilangan mata rantai ilmu tentang Islam dan Negara. Sebagian besar jamaah yang ada, berusaha membangun lagi disiplin keilmuan itu. Butuh proses yang panjang. Dan yang namanya proses itu tidak berjalan lancar. Selalu ada ujian. Entah itu ijtihad yang keliru, bersebrangan dengan objek dakwah, atau bahkan berseberangan dengan jamaah lain (padahal tujuannya sama) dan banyak lagi. Itu tabiat dakwah. Kita mestinya bersabar bukan malah pergi dan berpikir yang tidak-tidak

Kelima:

Perbaiki amal yaumi dan berdoa kepada Allah agar diizinkan istiqomah di jalan dakwah. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Manusia pada dasarnya tidak mampu berbuat baik tanpa seizin Allah.

Selamat menapaki kembali jalan dakwah. Semoga istiqomah.

Rahasia akademis mengapa sholat sebaiknya di awal waktu

Ternyata anjuran tersebut sangat luar biasa…….

Menurut para ahli, setiap perpindahan waktu sholat, bersamaan dengan terjadinya perubahan tenaga alam dan dirasakan melalui perubahan warna alam.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh pada kesehatan, psikologis dan lainnya.

Berikut ini kaitan antara sholat di awal waktu dengan warna alam.

Waktu SUBUH

Pada waktu subuh, alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersesuaian dengan frekuensi tiroid (kelenjar gondok).

Dalam ilmu Fisiologi, Tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisma tubuh manusia.

Warna biru muda juga mempunyai rahasia tersendiri berkaitan dengan rejeki dan cara berkomunikasi.

Mereka yang masih tertidur nyenyak pada waktu Subuh dapat menghadapi masalah rejeki dan komunikasi.

Mengapa? Karena tiroid tidak dapat menyerap tenaga biru muda di alam ketika roh dan jasad masih tertidur.

Pd saat azan subuh berkumandang, tenaga alam ini berada pada tingkatan optimal.

Tenaga inilah yang kemudian diserap oleh tubuh kita terutama pada waktu ruku dan sujud.

Waktu ZUHUR

Alam berubah menguning dan ini berpengaruh kpd perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga punya pengaruh terhadap hati.

Warna kuning ini mempunyai rahasia berkaitan dgn keceriaan seseorang.

Mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan sholat Zuhur berulang kali dapat menghadapi masalah dalam sistem pencernaan serta berkurang keceriaannya.

Waktu ASHAR

Alam berubah lagi warnanya menjadi oranye. Hal ini berpengaruh cukup signifikan terhadap organ tubuh yaitu prostat, rahim, ovarium/indung telur dan testis yg merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan.

Warna oranye di alam juga mempengaruhi kreativitas seseorang.

Orang yang sering ketinggalan waktu Ashar dapat menurun daya kreativitasnya.

Di samping itu organ-organ reproduksi ini juga akan kehilangan tenaga positif dari warna alam tersebut.

Waktu MAGHRIB

Warna alam kembali berubah menjadi merah. Sering pd waktu ini kita mendengar banyak nasehat orang tua agar tidak berada di luar rumah.

Nasehat tersebut ada benarnya karena pada saat Maghrib tiba, spektrum warna alam selaras dengan frekuensi jin dan iblis.

Pada waktu ini jin dan iblis amat bertenaga karena mereka ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu.

Hal ini lebih baik dan lebih selamat karena pada waktu ini banyak gangguan atau terjadi tumpang-tindih dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama atau hampir sama dan bisa menimbulkan fatamorgana yg bisa mengganggu penglihatan kita.

Waktu ISYA

Pada waktu ini, warna alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap.

Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yg frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak.

Mrk yg sering ketinggalan Isya bisa sering merasa gelisah.

Untuk itulah ketika alam mulai diselimuti kegelapan, kita dianjurkan untuk mengistirahatkan tubuh ini.

Dengan tidur pada waktu Isya, keadaan jiwa kita berada pada gelombang Delta dengan frekuensi dibawah 4 Hertz dan seluruh sistem tubuh memasuki waktu rehat.

Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna-warna putih, merah jambu dan ungu.

Perubahan warna ini selaras dengan kelenjar pineal (sebuah kelenjar endokrin pada otak) kelenjar pituitary, thalamus (struktur simetris garis tengah dalam otak yang fungsinya mencakup sensasi menyampaikan, rasa khusus dan sinyal motor ke korteks serebral, bersama dgn pengaturan kesadaran, tidur dan kewaspadaan) dan hypothalamus (bagian otak yg terdiri dari sejumlah nucleus dengan berbagai fungsi yang sangat peka terhadap steroid, glukokortikoid, glukosa dan suhu).

Maka sebaiknya kita bangun lagi pada waktu ini untuk mengerjakan sholat malam (tahajjud).

Umat Islam sepatutnya bersyukur karena telah di’karuniakan’ syariat sholat oleh Allah SWT sehingga jika dilaksanakan sesuai aturan maka secara tak sadar kita telah menyerap tenaga alam ini.

Inilah salah satu hakikat mengapa Allah SWT mewajibkan sholat kepada kita.

Sholat di awal waktu in syaa Allah dpt membuat badan semakin sehat……

Semoga kita selalu dikaruniai kesehatan, yuk sholat di awal waktu sehingga tepat waktu. Semua ternyata untuk kebaikan kita juga….😇

Jadi, Siapa Pilihanmu?

“Jadi, siapa pilihanmu?” 

Sontak pandangannya berubah, sedang aku kembali mencoba menekuri kompas matanya yang lagi-lagi berulah. Ya, perempuan muda di hadapanku ini sedang resah. 

“Entahlah, aku bingung,” keluhnya.

“Pola singularitas yang sama, lagi-dan-lagi,” Aku tersenyum. “Anak IPA, sukanya fisika, tapi sekarang jatuh cinta,”

Sepersekian detik, mulutnya memonyong dan meniupkan udara ke arah keningnya, layaknya bunyi angin dari ban yang gembos, yang dapat menggerakkan beberapa helai poninya yang menyembul dari balik jilbabnya. Aku kagum sekaligus heran, kok perempuan bisa begitu cantik kalau melakukan hal itu ya?

Ia menggaruk lantai dengan pangkar sepatu loafer-nya, meregangkan kakinya yang sejak tadi bersilangan -tampaknya tak karuan sudah keadaan hatinya. Bahasa tubuhnya sudah menunjukkan gelisah yang konkret. 

Sedang aku, hanya tersenyum melihatnya -maksudku, melihat pokok permasalahannya mengenai lelaki, menurut perspektifku- sembari ya, menuntun ia mengeja jawaban apa yang ia inginkan bibirnya selaras dengan hatinya. Ya, ia bukan perempuan polos yang tak tahu jawaban dari pilihannya sendiri. Siapa bilang perempuan andal dalam menilai kerumitan lelaki? Apalagi ia semuda ini.

“Dua-duanya bikin nyaman,”

“Nyaman dalam definisi apa, dulu?” sergahku.

“Ya gitu deh. Punya karakter masing-masing,”

“Ya itu mah pasti,” Kutangkap ekor matanya, “Masalahnya bukan itu. Tapi, gimana caranya agar kamu mampu memilih yang tepat untuk kondisimu sekarang,”

“Maksud kakak?”

Aku menghela nafas. Penjelasan soal logika kadang tak melulu mudah dimengerti oleh perempuan. Lelaki memang menang telak soal ini, bukan? Sialnya, dalam kasus ini yang justru harus memilih adalah perempuan, diantara dua kutub hatinya yang begitu bertentangan satu sama lain. 

“Kata dasarnya nyaman, ya. Tolong garisbawahi dulu ucapanku,”

Ia mengangguk pelan sembari menyilangkan lagi kakinya, merebahkan punggungnya di bahu kursi panjang menopang kami sejak sejam lalu. Kini badannya condong penuh ke arahku, bersikap menekuri arif setiap ucapku. I’ll give you the last shot, semoga kau mengerti.

“Tergantung kamu sekarang. Nyamannya kamu sama sifat dua lelaki itu pasti punya gaya yang beda. Satu, ada sifat cowo yang bikin kamu nyaman terlindungi. Ini bakal cocok banget kalau hidup kamu, tantangan yang kamu jalani tiap hari, bikin kamu ngga nyaman,”

“Misal, kaya tugas-tugasmu, kumpul organisasimu, atau apalah, yang pokoknya ribet-ribet, pokoknya kamu tuh sibuk, when you have through many hard times,” Sembari telunjukku mengacung, “Cowo ini yang pas buat meredam kamu, yang ngerti kamu di kala kesibukanmu, yang bisa ngatur waktunya buat tetap terhubung dengan kamu, yang jadi es pendingin harimu yang panas ngga jelas. Ya, cocok lah kalo gitu,”

Ia mengangguk. Sontak matanya melihat tanganku yang membentuk huruf V.

“Dua, ada juga sifat cowo yang justru bikin kamu keluar dari zona nyaman. Ngerti kan? Jadi, ini bakal pas kalau hidup kamu itu ngalir seperti biasa aja, ngga ada yang aneh, bahkan cenderung basi. Aktivitas kamu itu-itu melulu, segala tantangan bisa kamu handle, sekolah-pulang-sekolah-pulang… dan bahkan kalau kamu ngerasa bosan ngejalaninnya,”

“Nah, cowo tipe gini yang kamu butuh. Yang suatu kali tiba-tiba ngajak kamu pulang naik damri bareng, yang tiba-tiba dateng ke rumah kamu ngajak ngejain pr sambil bawa sebuket bunga, atau yang bela-belain nyanyi pake gitar pas kamu lagi belajar di kelas. Gila sih emang, tapi yang kaya gini ada. Yang intinya bikin hidup kamu lebih berwarna, yang bisa bikin roller coaster gitu, yang bikin kamu bakal nanya ; kejutan yang dia buat hari ini kira-kira apa ya?”

.

Perempuan muda di hadapanku menghembuskan nafasnya panjang, bernada sumbang. Tampaknya, logikanya yang berkelir sedang memilih, mencari-cari alasan terbaiknya untuk satu nama.

Sementara, aku menunggu setelah kuselesaikan kalimat pamungkasku. Barangkali, terang pilihannya untuk dapat dikatakannya sekarang juga. Atau justru kalimat bingung nan ambigu yang sama?

.

“Jadi, siapa?” Pungkasku.

“Gatau,”

“Hehe,” tukasku, kesal. “Jangan pake perasaan mulu, napa. Sekali-kali logikaan coba! Dasar cewe,”

Ia berdeham. 

“Hehe,”

“Haha-hehe-haha-hehe, huuuuu,” Aku makin kesal dibuatnya. “Inget, asal ngga ganggu akademik kamu, loh! Aku tetep bakal monitor kalian,”

‘Iyaaaaa,” ucapnya, sambil memperagakan gerakan mencium angin ke arahku.

“Tapi, makasih ya kak. Nanti deh, aku pilih nama yang terbaik. Jangan sampe salah pilih, jangan sampe nyakitin hati salah seorang dari mereka.”

Aku tersenyum, mengacak-acak letak jilbabnya.

“Iya, dik.” Aku tersenyum. “Duh, adikku udah gede. Anak IPA bisa juga ya jatuh cinta,”

“Anak IPA juga manusia kali, kaaak,” cengirnya manis.


.

.

:)

——————-

SELFIE2 #4: Bukan Gaya-Gayaan

Sejak dua tahun ke belakang (atau bahkan lebih lama lagi), hijrah menjadi kata yang begitu populer di kalangan anak muda. Sebut saja di Bandung, ketika sore hari selepas jam kuliah/kerja atau malam hari di akhir pekan, anak-anak muda ramai menghadiri majelis ilmu. Istilahnya, “Sekarang, gaul itu ke mesjid, bukan ke mall.” Ibu saya pernah mengatakan, “Alhamdulillah, ayeuna mah barudak ngora teh malem minggu ka marasjid, mening ge kitu lah dari pada ubrang-abring teu puguh (Alhamdulillah, sekarang anak-anak muda kalau malam minggu pergi ke mesjid. Lebih baik begitu, daripada jalan-jalan tidak jelas).” Apakah kamu juga adalah salah satu dari anak muda yang sekarang mulai berhijrah dan mencintai majelis ilmu? Bersyukurlah.

Minggu lalu saya pulang kantor lebih larut dari biasanya. Di perjalanan, jalanan tiba-tiba saja macet padahal biasanya di jalan itu selalu lancar. Dengan memicingkan mata karena sedang tidak menggunakan kaca mata, saya melihat di depan sana ramai sekali anak-anak muda berkerumun. Saya lalu bertanya-tanya, “Ada apa disana? Apakah ada kecelakaan?” Tanya saya terjawab beberapa menit kemudian ketika saya tepat melewati sebuah mesjid yang tak jauh dari kerumunan tadi. Ternyata, ada salah satu kelompok geng motor yang terkenal di Bandung yang baru saja bubaran dari mesjid selepas mengikuti sebuah kajian, padahal sebelumnya mereka terkenal selalu membuat onar. Saya langsung ingat akan hijrah. MasyaAllah. Begitulah, Allah memudahkan apa saja yang dikehendaki-Nya mudah, termasuk menggerakkan hati anak-anak muda dan bahkan geng motor sekalipun untuk mulai belajar mencari ilmu tentang Allah dan agamanya.

Dalam memaknai hal ini, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat, yaitu bahwa 

Hijrah yang kita lakukan bukanlah sekedar untuk gaya-gayaan supaya tidak ketinggalan trend yang sedang tejadi, supaya dianggap gaul oleh teman-teman selingkaran, supaya disebut shalih/shalihah, atau supaya bisa mengambil hati seorang manusia. 

Jauh daripada hanya alasan-alasan semacam itu, hijrah seharusnya dilakukan untuk meraih ridhonya Allah: untuk menjadi hamba-Nya yang benar dan taat kepada-Nya. Kawan, hijrah selaras dengan komitmen untuk terus memperbaiki diri sebab kita sadar ada akhirat setelah kehidupan di dunia ini, bukan agar bisa dipanggi akhi atau ukhti.

Sekarang ayo kita sama-sama bertanya pada hati kecil masing-masing tentang hijrah kita yang selama ini sering kita banggakan. Apakah landasannya adalah karena Allah? Atau, apakah jangan-jangan kita hanya ingin mengikuti trend dan gaya-gayaan?

Semoga kita senantiasa menghisab diri atas segala yang kita lakukan sebelum kita bertemu dengan hisab sesungguhnya. Semoga Allah memudahkan hijrah kita agar kita pantas untuk dicintai dan diberi petunjuk oleh-Nya. Baarakallahu fiikum!

Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.30 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Ungkapan yang mengagumkan saya: Hubungan kita dengan orang lain akan harmonis dan bertahan dengan memaafkan dan melupakan kesahalan orang lain dan hubungan ini akan semakin selaras jika ada sikap saling ridha. Akan tetapi hubungan ini akan jadi rusak dengan kecurigaan dan bahkan mati serta habis karena sikap suka memeata-matai urusan orang lain.
— 

@tuijaaa2 - Dr. Abdullah At Tuwaijiri, Profesor di Muhammad bin Saud Islamic University. 

 14/8/2016