selara

Untukmu (3)

Sebab ada seseorang yang diam diam terus memperjuangkanmu, melangitkan doa berharap bisa membersamaimu, ingin terus mempertahankanmu, dan sungguh sunguh tulus ingin menemanimu.

Akan ada seseorang yang seperti itu yang tak pernah kamu sangka akan hadir dalam hidupmu. Percayalah, Dia Yang Maha Berkehendak sudah mengaturnya dengan sedemikian baik. Dan Dia Yang Maha Baik, yang memiliki rencana terbaik. Penuh harap rencana rencana baikmu akan selaras dengan rencana baik Nya.

Maukah kamu bersabar menunggunya ? mendoakannya agar dimudahkan niat baiknya ❤

Namun, kumohon apapun kehendak Nya nanti kamu harus terus menerus bersiap dengan hati yang ikhlas. Sadar bahwa baik menurutmu belum tentu baik menurut Allaah, dan tidak baik menurutmu belum tentu tidak baik menurut Allaah. Sebab Allaah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak 🌷

Semoga Allaah menunjukkan yang terbaik, waktu yang terbaik di iringi ridha Nya.

Bagaimana Menurutmu?

Tidak semua orang mengukur kehebatan dengan penggaris yang sama. Bagiku, seperti apa yang selalu diajarkan ayah dan ibu kepadaku, kehebatan tidak pernah terletak pada rentetan piala, jutaan pujian atau harkat dan jabatan. Kehebatan justru terletak pada kebijaksanaan berpikir dan kecantikan hati untuk menerima segala takdir. Bagaimana menurutmu?

Tidak semua orang mengukur keberanian dengan satuan yang sama. Bagiku, seperti apa yang selalu dikatakan ayah kepadaku, keberanian tidak pernah tepat selaras dengan berkata tanpa berpikir, berlaku tanpa menimbang atau melangkah tanpa ketentuan arah. Keberanian justru adalah tentang melampaui batas-batas diri, menari di atas batas dan membuat perubahan dalam keterbatasan-keterbatasan. Bagaimana menurutmu?

Tidak semua orang mengukur kecantikan dengan indikator yang sama. Bagiku, seperti apa yang selalau dikatakan ibu kepadaku, kecantikan tidak pernah bergantung pada merk riasan yang digunakan, style berpakaian, ukuran lekuk-lekuk tubuh, warna kulit atau besarnya bola mata. Kecantikan justru terpancar dari kebijaksanaan menentukan sikap dan pilihan, ketulusan dalam berbagi, keteguhan menghadapi hidup, kelembutan bertutur kata dan kesantunan dalam memperlakukan orang lain. Bagaimana menurutmu?

KILAH KILAU

Sumber nestapa petapa ada pada dalam dada
—di mana tak terusung selaras antara akal dan atma—
kelesah-resah yang bergumul sesakkan napas.
  Konsentrasi ber-kontemplasi rusak; berbuah jadi ragu-bertumbuh lebat di sukma-menjalar nalar:

           Hancur lebur!
     Keyakinan perlahan kabur.
      Keraguan tumbuh subur.

Persis orang telanjang:
      polos dan tabu;
             mimpi datang,
berwarna abu-abu.

  Petapa bersenandung  pada batin, dinyanyikannya ayat mantera. Alam berdesah pasrah, desis angin menambah romantika kelabu. Sosok manusia bersanggama dengan alam semesta:  tarak brata!

*
Berdekatan dengan alam menampakkan kesunyian.

  Berjauhan dengan alam menyembulkan kegetiran.

     Ada masa di mana:
Bumi mulai kacau lantaran (ketamakan dan kelantaman) manusia;
berlomba menanam batu-batu kokoh di kaki-kaki bukit, menyetubuhi bumi dengan teknologi, bercinta lewat selongsong peluru, berebutan menunggangi sesama
—kandaskan harmoni demi kilau kefanaan.
        Hingga akhir memelintir silir angin; angan berhamburan, debu beterbangan—

*

Singkat kisah resah Resi: tentang ujung zaman kemanusiaan. 

Jangan Mengenalkan Aku dengan Perpisahan

Awan putih menari diantara angin; selaras dengan cerahnya mentari.
Bermaksud ingin menggenggam waktu untuk tidak bergerak; tapi takdir selalu mempunyai cara untuk bernegosiasi dengan Sang Pencipta.

Mengapa memperkenalkan pertemuan, jika nantinya akan dikenalkan oleh perpisahan?

Tangan pun tak mampu untuk meraih dan diraih; sedekat seperti dulu. Begitu pun kata-kata menjadi terbatas; bukan lagi bercerita hingga lupa bahwa Sang Rembulan telah menyelimuti.

Kebersamaan yang sudah tersusun sedemikian rapi, tiba-tiba dipisahkan oleh sekat waktu, kepentingan, kebahagiaan.
Siapapun diluar sana, bisa apa?

Sejauh apapun menghindar; akan semakin didekatkan.

Itu mengapa, aku tak mau berjabat tangan dengan perpisahan; karena aku tahu bahwa dunia terlalu sempit. Semesta hanyalah sebuah lingkaran yang tak ada ujungnya; aku-kamu-dia-mereka berkeliling didalamnya. Tak ada yang mengetahuikan kedepannya bagaimana? Siapa tahu, langkah kaki seirama membawa senyuman yang sama untuk bertemu kembali?

Iya kan?

11.18

Duhai Allah, entah seberapa pantas aku menjadi hamba. Rasa malu semakin mengalir deras di waktu-waktu ini. Setiap luka memaksa untuk terlihat secara seksama, menghadirkan masa yang pernah lalu.

Apa yang menjadi ketakutan nyatanya lebih memilukan. Namun, Engkau selalu menjadikan nyaman kala semua menjadi ancaman.

Cinta. Aku bilang aku mencintai karena Engkau. Tapi apa daya, semua harus diuji kan? Semuanya, sampai kita benar-benar memahami sejauh mana ucapan lisan dengan perbuatan berbanding selaras.

Lantas, saat-saat ini adalah saat terbaik untuk mengenal Engkau lebih jauh, lebih dalam, lebih - lebih - lebih.

Bahwasannya, semua yang telah terjadi adalah kehendak-Mu.

Duhai Allah, temani hamba. Titip semua kepunyaan-Mu. Jadikan apa-apa yang menjadi ketentuan-Mu nanti, menghasilkan keikhlasan di hati. Agar hamba mengerti, mencintai karena-Mu memerlukan keteguhan nurani, kekuatan diri, pun ketaqwaan tiada henti.

To Change

Katanya, yang abadi dari peradaban manusia itu adalah perubahan. Aku nggak tau siapa yang ngucapin ini pertama kali, tapi kalau dipikir: ini benar. Semua pasti berubah—dulu tidak ada teknologi HP, hanya ada surat menyurat. Bepergian menggunakan kereta kuda, atau semacamnya. Sekarang kita punya segala macam teknologi yang bisa membantu kelancaran hidup umat manusia seperti mobil, hp itu sendiri, laptop, robot, dan berbagai macam barang lainnya. 

Keep reading

Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukai apa yang kita sukai. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk sependapat dengan idealis-idealis yang sudah kita patri. Kita tidak bisa memaksakan kemampuan orang lain untuk selaras dengan apa yang kita miliki. Ayolah, kita punya jalannya sendiri-sendiri, jika kau nyaman di jalanmu belum tentu orang lain pun sama.
—  Selamat pagi!
Tulisan : Negosiasi

Perbedaan zaman antara anak dan orang tua membuat banyak anak harus banyak belajar tentang negosiasi, termasuk cara-caranya. Beruntunglah bagi anak yang memiliki orang tua yang terbuka dan selaras, negosiasi lebih mudah dilakukan. Tapi, banyak yang tidak demikian.

Pemahaman agama anak kadang berbeda dengan orang tua, dalam banyak hal. Dan kita semua memahami bahwa dakwah terberat justru ke keluarga sendiri, bukan ke orang lain. Kedua, kita juga memahami bahwa anak harus berbakti kepada orang tua, mau bagaimanapun orang tuanya sepanjang tidak mengajak kepada kesyirikan atau kekafiran.

Nah, ternyata masalahnya juga tidak hanya pada urusan agama. Tapi juga pandangan hidup yang lain, tentang pekerjaan misalnya, tentang jurusan kuliah, tentang pasangan hidup, dan masih banyak lagi.

Kita dituntut untuk luwes, bagaimana mengkomunikasikan hal-hal yang sebenarnya baik, tapi tidak benar dimata orang tua. Mungkin, disebabkan oleh pengalaman hidup di masa mudanya dahulu, atau tentang ketakutan pada ketidaknyamanan hidup anak-anaknya nanti. Karena, pada dasarnya orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, kan? Sayangnya, versti terbaik menurut orang tua terbatas pada apa yang dia tahu dan pernah alami. Karena zaman telah berganti, anak-anaknya memiliki pergaulan dan kehidupan yang berbeda, tidak bisa dihindarkan bahwa anak dan orang tua sering berbeda pandangan.

Bahkan saya sendiri, untuk keluar dari tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya menjadi PNS pun bukan hal yang mudah, Untuk menyandang pekerjaan sebagai “Story-Maker” seperti sekarang pun bukan jalan yang sederhana. Jauh sebelum itu, sebelum saya masuk di FSRD pun, berjuang untuk menolak keinginanan orang tua agar anaknya mendaftar di sekolah kedinasan pun bukan hal yang sederhana. Ada begitu banyak negosiasi yang dilakukan.

Bahkan sampai hari ini, masih banyak negosiasi yang berjalan. Tentang kriteria pasangan hidup misalnya, anak dan orang tua memang sering berbeda pandangan. Tentang sekolah lanjutan, pun masih dinegosiasikan baik soal waktu maupun soal tempat.

Kita mudah untuk menuliskan segala hal ideal yang menjadi keinginan atau harapan kita. Tapi, ketika kembali ke dalam keluarga, bagaimana cara kita menjembatani antara pemahaman kita dan keluarga adalah sebuah pekerjaan besar.

Kita tidak harus mengorbankan salah satu karena saya percaya selalu ada jalan tengahnya, tapi pesan saya hanya satu. Perjuangkan dan raihlah ridho orang tua.

Yogyakarta, 10 November 2015 | ©kurniawangunadi

Aku Tak Ingin Kau Menyesal

Sampai detik ini aku belum pernah membayangkan bahwa kelak aku dijatuh hatikan dengan seseorang yang teramat bertolak belakang dengan pola pandanganku.

Aku punya mimpi, dan aku tak mau menghilangkan mimpiku hanya demi mendapatkan seorang wanaita. Aku takkan mau membunuh karakterku sendiri yang jelas aku merasa utuh dalam menjalaninya hanya agar membuat seorang wanita terkesan.

Aku pun tak seegois bahwa kau harus menuruti mimpiku.

Kelak, aku akan mencari yang mimpinya selaras dengan tujuan hidupku. Barangkali susah karena kita telah mematok sebuah harapan, tapi manusia berhak untuk mengupayakannya, kan?

Nona, siapa pun engkau yang kelak jatuh hati padaku. Kumohon, pahamilah dulu apa yang hendak kutuju. Bila impian kita teramat bertentangan, mundurlah saja secara perlahan. Karena sampai saat ini (entah kelak) aku masih amat yakin bahwa aku akan tetap keras kepala dan takkan mengundurkan mimpiku hanya demi wanita. Bahkan sampai detik ini (entah dua minggu lagi) aku tak takut akan hidup melajang sampai akhir hayat hanya karena tidak menemukan yang sejalan denganku.

Jika itu bukan kamu, mungkin wanita berikutnya. Jika bukan wanita berikutnya, mungkin yang berikutnya lagi. Jika bukan yang berikut, berikut, berikut, berikut, berikutnya lagi, mungkin punyaku hanya yang di surga. Atau bahkan tidak ada?

Aku percaya DIA maha baik, tentu sudah DIA siapkan hasil atas apa pun yang tengah aku upayakan. Dan sampai sekarang aku masih amat percaya, DIA terlampau adil dari segala keadilan yang ada di muka dunia.

Sungguh, bila kelak kau jatuh hati padaku, jangan pernah kau korbankan mimpimu hanya agar bisa bersamaku–bila kau benar yakin jalan impianmu itulah yang terbaik untukmu membangun gunung-gunung pahala untuk membeli tiket surga.

Kau berhak mendapatkan mimpimu, dan aku pun demikian. Carilah yang sekiranya bersamanya kau tak perlu menahan hal-hal yang teramat kau impikan.

Jangan terlalu banyak berkorban untuk mimpiku. Aku akan sangat kecewa saat kita telah bersama justru kau mengorbankan banyak hal yang benar kau dambakan secara diam-diam. Ceritalah sejak awal, jangan sampai aku tahu belakangan. Aku tidak terlalu suka kebohongan, semanis apa pun alasannya. Jangan buat aku merasa bersalah.

Kau berhak bahagia dengan lapang, begitu pula aku.

Sungguh kau tak perlu menjadi pahlawan untuk terlalu banyak berkorban. Bila mimpiku tak sejalan dengan cita-cita hidupmu, jika mimpiku hanya akan membunuh sebagian besar kenyamanan hidupmu. Jangan memaksakan diri, mundurlah saja.

Jujurlah dengan dirimu sendiri, karena sesuatu yang dimulai dengan terlaku banyak pengorbanan yang sebenarnya cukup mengganjal, bisa saja menjadi jurang terjal dalam langkah sebuah pernikahan.

Kau berhak bahagia dengan seseorang yang sejalan dengan impian hidupmu tanpa perlu berkorban terlalu dalam untuk mengikuti impian hidupnya. Jujurlah pada dirimu sendiri, jujurlah, demi meminimalkan pertentangan bila sudah disatukan.

Sekeras kepala apa pun aku, aku takkan menjadi makhluk kolot yang memaksa orang yang kucintai atau mencintaiku menanggalkan mimpinya demi aku. Kurasa aku pun takkan melakukan hal yang demikian bila ada seorang perempuan yang sembrono menghakimi impianku.

Pahamilah ke mana langkahku akan menuju. Pahamilah ke mana langkah kakimu lebih nyaman berjalan. Jika memang bukan aku orang yang tepat, maka mundurlah dengan terhormat. Meski mungkin saja lambat, meski bisa saja diam-diam aku pun turut merasa teramat sesak. Tidak masalah, berbahagialah dalam kelegaan.

Jangan buru-buru buta di awal jalan, karena itu bisa menghadirkan banyak penyesalan.

Jika sekiranya bersamaku kau tak lagi punya mimpi-mimpi yang menggairahkan, maka mundurlah. Mundurlah dengan betina.

Jika sekiranya bersamaku kau tetap punya mimpi-mimpimu, atau bahkan kau yakin bahagia mengejar impian kita, maka jangan ragu peluk erat lenganku. Akan aku tuangkan seluruh impian di kepalaku ke pangkuanmu. Begitu pula denganmu.

kita ini satu keluarga. kita ini punya tujuan yang sama. kita ini satu tim. dalam sebuah tim, ada kepentingan bersama yang harus diutamakan, ada keinginan pribadi yang perlu dileburkan. dalam sebuah tim, setiap anggota memiliki peran. menjalani sebuah peran dengan ketulusan artinya rela berkorban. tidak ada cita-cita bersama yang bisa tercapai jika kita berjalan sendirian.

bagaimana caranya supaya kita bisa bergerak selaras beriringan, lalu sampai ke tujuan? jangan menjadi beban. menjadilah seorang pahlawan–yang tulus dan rela berkorban.

[EMERGENCY RESPONSE]

BANJIR BANDUNG SELATAN

KM-ITB dan Korsa Salman ITB bersama dengan TBM FK UI dan Volunteer Doctors membuka Posko Bantuan dan Balai Kesehatan untuk korban banjir Bandung Selatan.

Lokasi Posko dan Balai Kesehatan di Babakan Deki Bojongsoang, Bandung 40288.

Bantuan logistik yang dibutuhkan saat ini :

-sembako (bukan mi instan)
-makanan siap saji atau nasi bungkus

Bantuan logistik bisa disalurkan langsung ke Posko Bojongsoang.

Bantuan dana dapat disalurkan melalui Rekening BNI 0329447763 a. n. Kabinet KM.
Konfirmasi ke Arum (087780269643)

CP: Ferosa (085729028060)

Tolong bantu sebar info ini :)

-Selaras Pergerakan Satu Indonesia-

Tujuan hidupmu hendak seperti apa saja kau tak tahu, bagaimana mungkin aku mencoba membawamu. Jika di tengah jalan kau baru sadar dan tujuannya tak selaras kan ndak seru. Kenali dulu dirimu sendiri, tak usah buru-buru sebab takut dikira tak laku.
Kita memang berbeda, iya kan??
— 

Wajar saja jika kita tidak selaras. Bahkan aku saja bukan tipemu, bukan? Kau menyukai perempuan lugu, sedang kota besar tempat tinggalku dulu telah melenyapkan itu dariku. Kau menyukai perempuan anteng dan kadangkala aku ramai, gaduh, lagi berisik seperti pasar malam. Kau menyukai perempuan seperti seseorang disampingmu sekarang, sedang aku sama sekali tidak seperti itu.

Ragamu itu seutuhnya masih padanya, pada tatapan seorang perempuan lugu. Adanya aku dalam beberapa waktu ternyata tidak ada apa-apanya dengan dia. Hidupnya dimatamu memang hebat, sampai kau sendiri tak mampu melihat hidupku yang berdiri di dekatmu. Aku tidak cemburu. Aku hanya iri pada bagaimana ia bisa membuatmu jatuh cinta sebegitu dalam dan susah menepis hadirnya dalam ceritamu saat bersamaku. Aku tidak cemburu. Aku hanya iri pada bagaimana kau rajin menyebut nama cantiknya dalam tiap doamu. Aku tidak cemburu. Aku hanya iri pada bagaimana ia menguasai utuh satu hati yang ingin kumiliki.

Tolong katakan bahwa aku bukan apa-apa. Katakan juga tepat di telingaku bahwa percakapan-percakapan juga hari-hari bersamaku itu pun bukan apa-apa. Katakan saja, sebab aku takut aku menyimpan harapan lagi. Aku takut, aku tiba-tiba kau hempaskan lagi dari ketinggian tanpa belas kasihan seperti hari lalu.

Cuma. Aku ingin bilang sesuatu.

Aku memang tidak lugu, tapi aku tidak ingin dan tidak akan mengecewakanmu.

Aku memang tidak pendiam, tapi aku dengan ramaiku gaduhku akan menyemarakkan hari-harimu.

Aku memang tidak seperti dia, tapi aku telah menjadi diriku sendiri..