selaine

Freeday: Pengecut Yang Dipaksa Hidup.

Mungkin pergi sendiriku bukan yang seperti itu. Selain karena minimnya kesempatan beserta segala tetek bengek brengsek yang membuatku enggan melangkah, pergi yang seperti itu bagiku tak ayalnya seperti seorang pedagang di pasar minggu. Menjajakan dagangannya agar laku, merayu ibu-ibu, atau bahkan berani banting harga hingga hampir tutup modal kala waktu sudah memasuki senja.

Atau dalam pengertian lain; Rumpun serta ucapan yang masih bisa dimengerti membuatku merasa pergi yang seperti itu tidak benar-benar membuatku Tertempa dan tersiksa. 

“Siksalah hidupmu sekeras-kerasnya. Melaratlah. Merangkaklah. Jilatlah kaki orang lain. Itu akan membuatmu kuat dihadapan bangsat kelas kakap sekalipun.”

Pergilah yang jauh hingga orang-orang tak mengetahui asal-usulmu, tak juga mengerti segala yang lidahmu julurkan, kau hanya bermodal nekat, gerak tubuh, serta pengetahuan singkat mengenai bertahan hidup di tempat yang jauh lebih keras dari tempat di mana kau dilahirkan.

Udaranya membuat kulitmu memutih, bersisik. Perih ketika tergesek kain perca yang menutupi tubuh. Anginnya berhembus kencang, membuat pandanganmu kabur, telingamu penuh ruam karena dingin yang mencekam, tanganmu sulit digerakan, kuku kakimu patah karena beku dan sol sepatumu terbuka lebar karena tergerus perjalanan dari waktu ke waktu, tenggorokanmu kering, dan kakimu sudah lelah berdiri dengan darah yang sudah terlanjur membeku di sekitar kuku.

Ingin duduk, tapi peraturan mengatakan kau tak boleh duduk di situ. Ingin bertanya, tapi tak ada satupun yang mau membantu kala mereka sama sekali tidak mengerti semua yang keluar dari mulutmu.

Belum lagi, tidak ada makanan untuk ditelan. Dengan mata uang yang keparatnya sangat mahal itu, perutmu dirajam oleh lambungmu sendiri. Untuk makanan biasa, kau harus merogoh kocek sebesar 2 hari biaya makan di rumahmu sendiri. Dan itupun rasanya tidak begitu enak untuk lidah bangsamu.

Satu-satunya yang murah adalah daging yang agamamu larang. Yang harus rela kau telan bulat-bulat karena menghemat beberapa keping untuk perjalanan pulang yang jauhnya luar biasa. Kau mengkhianati kepercayaanmu sendiri, kau dipaksa rendah menjilat kaki agama tempat kau dibesarkan dulu di sekolah.

Lain dari hal itu, doamu dianggap menakutkan oleh mereka. Kau dianggap sama dari mereka-mereka yang menggorok leher reporter negarawan di timur tengah. Mereka menilik, menyuruh melepas kain suci yang melindungi rambut wanitamu. Atau mereka sama sekali tak mengizinkanmu pergi bahkan untuk sekedar sembahyang sendiri di hari Jumat pertengahan pagi.

Direndahkan? Itu jauh lebih nikmat daripada tersesat di suatu tempat yang begitu asing. Orang-orangnya enggan membantu, bertanya hanya membuatmu dicibir, udara di bawah 0 derajat membuat pikiranmu lemas. Hidungmu berdarah, tanganmu lebam, bahkan ingus yang keluar dari hidung tak ayal harus kau telan demi sekecap rasa di lidah.

Kudengar, orang-orang sepenanggunganku justru jauh lebih tersiksa dariku. Ketika harus dihadapkan dengan begundal-begundal yang mengambil uang receh mereka. Uang seharga sekitar 15ribu rupiah yang hanya mampu membeli tak lebih dari 2x suap nasi di negara itu.

Jika dibandingkan dengan pergi dengan kesamaan rumpun; Kau bisa merendah meminta menginap, merendah membantu kerja demi sepiring nasi, memainkan alat musik dari tutup botol untuk mendapatkan ongkos pulang, menumpang, atau bahkan tidur hangat di sebuah surau; Pergimu itu bagiku– saat itu— seperti tamasya di binaria. 

Aku tak merendahkan pergimu, tidak. Bahkan bagiku kalian yang berani pergi adalah kalian yang jauh lebih berani dari seorang pengecut seperti aku; yang dipaksa keadaan untuk tersesat; yang menggigit bibir hingga berdarah menahan tangis di kereta perjalanan pulang. Merasa ingin menyerah, ingin memilih untuk secepatnya pulang. 

Namun setelah memilih bertahan sebentar sebelum benar-benar akhirnya waktu pulang datang,
Kini aku tak lagi menjadi aku.

Seonggok besi rongsok yang pergi, ditempa habis-habisan, disiksa, dibakar, dipukul, dan dihina itu, kini kembali pulang menjadi sebilah pedang dengan ketajaman dari ujung hingga pangkal.

Itulah pergiku.

Maka jika suatu saat ada kesempatan untuk disiksa, ditempa, dan tersesat di rumpun yang berbeda, dengan begitu senang hati aku akan melaksanakannya sekali lagi.

Kepada siapapun yang pernah seperti aku, yang enggan melangkah, yang begitu malas melangkahkan kaki di tempat-tempat baru, bacalah tulisanku di atas. 

Berdoalah untuk tersesat. 
Selain kau akan belajar menemukan jalan untuk bertahan, 
Kau juga akan belajar menemukan siapa dirimu yang sebenarnya ketika tak punya apa-apa.

Suatu kali, kita berdua harus berucap jujur bahwa sebelum kita bertemu, aku dan kau pernah mencintai seseorang. Entah sedalam apa perasaan itu, entah seberapa sakit luka yang pernah dimiliki itu. Setidaknya, kita hanya berusaha jujur bahwa satu sama lain memang bukan orang yang pertama singgah di dalam hati. 

Aku sempat ragu, apakah sebaiknya kuceritakan padamu? Meski dengan berat hati, dilain sisi aku sebenarnya enggan menanyakan perihal tentangmu, tentang siapa sosok yang dahulu sudah datang sebelumku, juga siapakah seorang asing yang dulu pernah kau puji itu.

Ternyata, kau tak mau kembali menceritakannya, begitupun tak terbit minatmu untuk menanyakan perihalku. Katamu, yang sudah berlalu maka biarlah berlalu. Cerita yang sudah usai tak perlu lagi diumbar. Tak ada faedah, selain hanya akan membuat hati semakin gusar. 

Adakalanya, kita memang harus jujur pada tempatnya. Ketika jujur yang dimintai pada waktu yang tepat, maka benarlah perlakuannya itu. Namun, bila ia tak diminta, maka tidaklah hilang makna sebuah kejujuran. Seperti itulah akhirnya kita bersepakat, bahwa tak ada yang perlu diceritakan dari masa lalu. Setidaknya agar kita sama-sama tahu untuk tidak menceritakan hal yang tak perlu.

JANGAN BERSANGKA BURUK KEPADA ALLAH

Imam Ibnu Athoillah berkata dalam al-Hikam,

مَنْ ظَنَّّّ انْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذَلِكَ لِقُصُُوْرِ نََظَرِهِ ٠

“Barangsiapa yang mengira lenyapnya kasih sayang Allah dari ketetapan (qadar) Allah, maka yang seperti ini adalah kerana ceteknya pandangan keimanan.“

Menduga-duga tentang pemberian Allah, terutama bersangka buruk kepada - Nya atas nikmat-nikmat-Nya adalah perbuatan dosa. Seorang hamba dilarang menduga berprsangka buruk bahwa Allah telah mengurangi kasih sayang dan pemberian-Nya, kerana sesuatu bencana yang sedang dialami oleh si hamba.

Seorang hamba hendaklah dapat merasakan pemberian Allah sebagai anugerah, maka ia pun harus dapat merasakan ujian dari Allah itu juga suatu anugerah kasih sayang dari Allah swt. Hikmahnya seorang hamba dalam keadaan kesusahan, atau sedang tertimpa bencana, ia akan bertambah dekat kepada Allah swt. Dengan dekatnya si hamba kepada-Nya, maka akan berlimpahlah kasih sayang kepada si hamba. Itulah anugerah yang tak ada taranya. Orang yang keimanannya tebal, akan menerima setiap bencana, selain sebagai ujian atas keimanan, termasuk Allah menunjukkan kasih sayang dan rahmat-Nya kepada si hamba, sebagai bukti Allah adalah Rabbun (pengasuh, pendidik) bagi alam semesta dan seluruh makhluk-Nya. Nabi Muhammad saw dalam hal ini bersabda: "Allah swt menguji seorang hamba dengan bencana. Apabila si hamba sabar menerima, maka ia termasuk pilihan. Apabila ia rida menerima dan tidak buruk sangka, maka dia termasuk orang istimewa.”

Seperti diterangkan pula dalam hadis sahabat Abi Hurairah bahwa Nabi bersabda: “Tiada apa pun yang menimpa seorang mukmin berupa bencana dan menderita kesusahan, kecuali semua itu menjadi sebab untuk menghilangkan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari Muslim) Sahabat Ibnu Mas'ud juga meriwayatkan dari hadis lain ia menyebut: “Bahwasanya tiada seorang muslimpun yang tertimpa kesukaran dan penyakit, atau bencana yang lebih ringan lagi, kecuali Allah swt akan menggugurkan dosa-dosanya, bagaikan gugurnya daun dari dahan pohon.”

Manusia sebagai hamba Allah dalam menjalankan hidupnya di dunia ini hendaklah jauh dari prasangka jelek/buruk sangka kepada Allah, agar jiwanya tidak risau dan tertimpa penyakit yang dapat menegangkan saraf. Ia harus berprasangka baik (husnudzan) kepada Maha Pencipta. Ia harus penuh keyakian bahwa Allah swt Maha Adil dan Maha Pemelihara. Allah telah membagi rahmat-Nya kepada manusia sesuai dengan rencana Allah.

Tidak ada kebaikan yang telah dilaksanakan oleh manusia kecuali sebelumnya telah melalui ujian. Demikian juga tiada bencana yang menimpa manusia kecuali itu pun sebagai ujian. Barangsiapa yang melalui ujian Allah, maka ia berada di jalan Allah. Dia sedang beradu di medan jihad. Allah swt sangat menyenangi seorang hamba yang tidak buruk sangka, rida menerima ujian dan cubaan serta menang dalam medan jihad. Allah mencintai dan meridai hamba tersebut. Rahmat Allah yang diberikan untuk manusia boleh terjadi di dunia ini juga, dan pula ditunda di akhirat. Itu akan menunjukkan kehebatan dan kekuasaan-Nya kepada manusia, bersamaan dengan itu pula Allah menunjukkan kasih sayang dan keadilan-Nya.

Ummul Mukminin Sayidah Aisyah meriwayatkan pula sabda junjungan Rasulullah saw: “Barangsiapa diuji dengan beberapa kesulitan, dan dia dapat mengatasi kesulitan itu dengan ketabahan dan menerimanya dengan keikhlasan, tertulis baginya disisi Allah dengan derajat yang mulia dan dihapus dosa-dosanya.” Seorang muslim yang saleh tidak boleh mengira dan berprasangka buruk bahwa Allah tidak memperhatikan lagi dijinya. Kerana perkiraan seperti ini adalah pandangan yang sempit dan dangkal. Seorang muslim memandang Allah tidak semata-mata dari segi pemberian Allah yang jelas dan dirasakan dengan alam jasmani, akan tetapi dia harus melihat pemberian Allah dari sisi yang lain yang tidak dapat dilihat dan dinyatakan dengan mata kepalanya.

Dia harus melihat pemberian Allah dengan mata rohaninya, sehingga mampu merasakan kekayaan rohani yang dimilikinya itu adalah pemberian Allah. Keselamatan, kesehatan, ketenangan, keyakinan iman dan banyak lagi lainnya adalah kekayaan rohani yang sangat mahal harganya. Semua anugerah ini menunjukkan bahwasanya Allah swt tidak pernah melupakan hamba-hamba-Nya, apalagi hamba-hamba yang penuh ketaatan kepada-Nya. Hanya para hamba sendirilah yang sedikit sekali bersyukur kepada Allah. Allah swt tidak pernah melupakan hamba-hamba-Nya, manusialah yang lupa kepada Penciptanya.

Oleh: Rifki Azmi

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Pakaian Rumah Tangga

“Terima kasih untukmu yang telah merusak hidupku dengan mempermainkan akad nikah kita”

“Karena agama dipakai untuk casing, percuma.. kapok sama yang namanya laki2.. agamis pun sama.. “

Pagi-pagi sudah dikagetkan oleh dua postingan seorang wanita di fb, seseorang yang saya kenal dan telah menikah sekitar 1,3 tahun (satu tahun tiga bulan) lalu. 

Saya ngga akan mencari-cari tahu ada apakah gerangan, karena itu adalah garis batas yang seharusnya tidak diketahui orang.

Lalu apa perasaan para laki-laki jika isteri mereka bercerita ke orang lain bahkan mempost permasalahan keluarga ke jagad sosial media?

Tentunya ada perasaan kecewa di hati para lelaki, selain membuka peluang su’udzon juga “menurunkan” wibawa rumah tangga sendiri, belum lagi jika itu dibaca oleh keluarga sang suami pastinya bisa memicu kebencian antar keluarga, membuka pintu perselingkuhan bahkan bisa memicu terjadinya perceraian.

Hal penting yang seharusnya dipahami oleh setiap pasangan suami isteri adalah tentang firman Allah SWT bahwa setiap pasangan suami dan isteri adalah pakaian bagi sesamanya. Makna dari pakaian tentu saling menutup, saling memperindah satu sama lain, sementara jika seorang istri mengumbar keburukan rumah tangga atau kejelekan suaminya di hadapan banyak orang tentu secara sengaja ia telah membuka aib pasangannya, atau bisa juga kita sebut “menelanjangi pasangannya” karena dia telah membuka pakaian sang suami.

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa: 34)

“Seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mengumpuli istrinya dan istrinya pun mengumpulinya, kemudian dia menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim)

Hadits diatas bukan sekedar bermakna menyebar aib saat berhubungan intim dengan suami atau isterinya saja, namun dari beberapa referensi dikatakan bahwa larangan menyebar aib berlaku untuk semua jenis rahasia rumah tangga yang sudah selayaknya dijaga.

Nabi SAW menyebut suami atau istri yang membuka aib pasangannya sebagai manusia paling jelek di sisi Allah. Pasalnya, mereka yang membuka aib sudah mengingkari amanah yang seharusnya ia pegang.

Haikatnya menikah dan berumah tangga adalah tentang saling menyempurnakan diantara dua manusia yang telah berkomitmen sehidup sesurga dibawah akad nikah yang nilainya setara dengan perjanjian para Nabi “Mitsaqon Gholidzho”. Sehingga saling menyempurnakan tersebut pada hakikatnya adalah suatu bentuk pengakuan dan penerimaan tentang kekurangan dan kelebihan masing-masing pasangan. Maka jikapun dalam berumah tangga terjadi konflik dan tidak keluar dari koridor syariat seperti KDRT, mengajak bermaksiat kepada Allah dan melanggar aturan-aturan Islam maka terimalah konflik dengan sabar dan berlapang dada, menjaga diri untuk tidak curhat dengan orang lain maupun mengeksposnya ke dunia luar. Karena makna penerimaan dalam sebuah pernikahan adalah menerima segala hal tentang pasangan kita, kelebihannya berikut kekurangannya, hal-hal yang menyenangkan dalam dirinya maupun sesuatu yang tidak kita suka.

Semarang, 25 Jumadil Awwal 1438 - 22 Februari 2017

Eko Bambang Fitriyanto

anonymous asked:

Kak ajari aku melepaskan sesuatu yg harus dilepaskan? Mengikhlaskan sesuatu yg harus diikhlaakan? Memaafkan sesuatu yg tak pantas dimaafkan?

Sesungguhnya di dunia ini kita tak pernah berkuasa dan benar-benar memiliki apa-apa bahkan diri kita sendiri. Lantas apa yang perlu dilepaskan? Apa yang perlu di ikhlaskan? Apa yang perlu dan tak perlu di maafkan? Berdamailah dengan dirimu juga keadaan. Waktu akan merenggut banyak hal. Benda, kata-kata, ingatan, bahkan dirimu sendiri. Selain iman apakah yang benar-benar kita miliki? 😊

Sebelumnya, aku tidak pernah begitu menginginkan seseorang hingga segila ini! Di tiap mata kita bertemu, aku begitu ingin memelukmu.
 
Mendekapmu hingga sesak, mengikatmu erat-erat; Seperti tidak ada orang yang lain yang aku inginkan lagi selain dirimu.

“Nak, bila dia mampu membuatmu lebih rajin beribadah. Mampu membuatmu menjadi orang baik. Ibu tidak akan ragu untuk ikut membantumu memperjuangkannya untukmu.”


“Bila dia bisa membuatmu menjadi bermakna dan berguna. Bila melaluinya kamu merasa lebih dekat kepada kebaikan. Maka jangan sekali-kali berhenti memperjuangkannya sampai dia mengatakan kepadamu bahwa dia tidak ingin diperjuangkan olehmu.”

Ku rasa, ibu mana lagi yang demikian. Ibu mana lagi yang tidak lagi memikirkan siapa dia dan apakah dia bisa masak, cantik atau tidak, dan lain-lain. Selain ibuku.


“Nak, perempuan manapun ingin mendapatkan laki-laki yang paling bisa menghargai dan menghormatinya, bukan yang paling mencintainya. Karena rasa cinta itu buah dari penghargaan dan penghormatan. Kalau kamu bisa melakukan keduanya, maka perempuan manapun bisa mencintaimu. Kamu jangan membuatnya jatuh cinta saat ini. Kamu hanya perlu menghargai dan menghormatinya. Kalau kamu jatuh cinta kepadanya, tidak serta merta kamu boleh membuatnya jatuh cinta kepadamu. jadilah laki-laki yang baik”, ujar ibu.


Ku rasa, ibu mana lagi yang demikian. Yang paling paham perempuan, yang mengajarkanku tentang perempuan. Selain ibu.


“Nak, bila dia mengijinkanmu untuk memperjuangkannya. Maka lakukanlah dengan tulus, karena itu tidak berarti dia akan menjadi milikmu akhirnya. Karena tugasmu adalah mengupayakan, selepas itu jangan pernah lupa berserah pada keputusan-Nya.”


Ku rasa ibu mana lagi yang yang demikian, yang nasihatnya begitu dalam. Selain ibu.


“Nak, berjuanglah dengan cara-cara yang terhormat. Jangan sekali-kali menjatuhkan kehormatan orang lain juga kehormatanmu”


Itu pesan terakhir, sebelum ibu meninggalkan percakapan.

Rumah, 14 Juli 2015 | ©kurniawangunadi

💐🍃 tulisan mas @kurniawangunadi di atas keren, jadi banyak menginspirasi, atas bagaimana ‘harusnya’ lelaki berupaya mendekati apa yang ia inginkan, apa yang ingin ia perjuangkan ~

kedepan memang masih gaib, semoga kamu memperjuangkan ku dengan cara yang baik yaa, cara dan jalan yang Ia ridhoi ~

🍃 oiya, untuk mas gun dan istri,

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ‬ “

“Semoga Allah memberi barakah bagimu, dan semoga Allah memberi barakah atasmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan…”

selamat menempuh hidup baru mas, sakinnah mawwadah warrohmah, bahagia dunia akhirat, sehidup sesurga ~ barakallahufiikum :)

Lucu.

Allah itu lucu ya.
Allah datangkan seseorang, tiga hari saja. Kemudian Dia hilangkan.
Allah bikin hati ini terbuai, semalam saja.
Kemudian Dia hilangkan.
Iya, tahu.
Aku yang mulai menjauh dariMu kan?
Kau ingin aku tahu, kalau memang hanya Kau yang selalu ada dan tak akan pernah pergi kan?
Kenapa selalu melalui cara yang lucu?
Pertama dengan kebetulan.
Kedua dengan rasa penasaran.
Kemudian akhirnya sampai pada kesimpulan, tak akan pergi selain dariMu.
Tak akan hilang, selain dariMu.
Baiklah, kutunggu.
Bukannya yang paling tau itu memang diriMu?
Apalah daya seorang hamba yang hanya bisa menerka, kemudian termakan oleh semua “jika” yang ada dipikirannya.

Selain minta kuat, kita minta selalu dekat Tuhan agar difahamkan dengan apa yang sedang berlaku. Sebab kadangkala kita ni boleh sabar, tapi kita masih keliru kenapa sesuatu itu terjadi. Jadi mintalah kefahaman; selalu.


Kalau ada rasa faham tu, sekurang-kurangnya ia mampu kawal kita. Sebab itu nak buat apa pun kena ada ilmu. Itu yang tunjukkan arah.

—  arnamee
Tidak Mudah

Tidak mudah melawan diri sendiri, tidak mudah melawan kenyamanan untuk berjalan di jalan benar yang terasa menyakitkan, tidak mudah bangkit berdiri ketika kaki ingin dimanjakan, tidak mudah melawan hati yang biasa dimanjakan. Tidak mudah, dan celakanya seringkali kita harus melaluinya.

Kadang - kadang, tapi tidak selalu, kita tidak perlu banyak berpikir untuk memutuskan sesuatu. Karena terlalu banyak berpikir membuat kita ragu, berekspektasi atas akibat - akibat yang mungkin muncul membuat kita takut melangkah. Kadang - kadang, tapi tidak selalu, kita cukup harus menguatkan hati untuk mengambil keputusan, meski kita sendiri tidak tahu apakah sudah siap dengan konsekuensinya.

Bagaima jika keputusan itu berakibat menyakitkan? Sialnya, seringnya begitu. Bagaimana jika keputusan kita membuat kita banyak kehilangan atau ditinggalkan? Sialnya, kadang terjadi begitu. Tapi, kepada siapa lagi kita bersandar jika bukan kepada Dia yang menjadi niat awal kita memutuskan sesuatu? 

Sakit itu akan ada akhirnya, entah melalui obat yang Dia kirimkan atau melalui kebesaran hati kita yang Dia hadiahkan. Berharap apa lagi lah kita dari - Nya, selain belas kasihan terhadap hati kita yang lagi -  lagi menderita sebab kesalahan dan dosa kita sendiri? Apa lagi yang bisa kita jadikan senjata untuk memohon bantuan - Nya selain rasa iba dan sayang - Nya pada kita? 

Duh, Rabb, sungguh tidak mudah untuk belajar menjadi tegas terutama ketika dosa - dosa sudah melumuri keberanian dan menutup mata akan kebenaran jalan. 

Duh Rabb, kadang - kadang membuat keputusan yang dianggap benar itu menyakitkan, konsekuensinya membuat menderita. Sedikit yang membuat hati merasa lebih baik mungkin adalah kesadaran bahwa derita itu pasti muncul karena dosa - dosa.

Duh Rabb, kasihanilah kami, orang - orang yang karena nafsu sendiri belum mampu menghindarkan diri dari dosa yang Kau benci. Duh Rabb, kasihanilah kami, yang untuk berbuat tegas dan benar saja harus tertatih - tatih penuh derita sebab sambil menyeret beratnya dosa.

Duh Rabb, kasihanilah saya.

Bandung, 22.1.2017

Jika Anda ingin rasa bahagia terus di hati, jangan Anda bergantung pada siapapun, selain Rabb Anda.
— 

@S3dGhamdi - Syaikh Sa’ad al Ghamidi, Imam Masjid di Dammam, Saudi Arabia, bacaan indah Quran dari suara beliau sudah sering terdengar di negara kita

17 april 2016

  • A : Apakah setiap orang akan berubah?
  • B : Maksudmu aku?
  • A : Apa kau masih seperti yang dulu?
  • B : Hujan masih sama, dan senja tidak akan pernah berubah. yang berubah adalah aku hanya tidak pernah menanyakan kabarmu lagi sepanjang senja seperti dahulu.
  • A : ....
  • B : Kau masih suka hujan bukan?
  • A : Entah, banyak kenangan saat hujan turun
  • B : Denganku?
  • A : Aku tak pernah mau membagi hujanku dengan siapapun selain denganmu. Walaupun kau meninggalkanku sendirian saat hujan turun kala itu.

Bilakah suatu saat nanti Engkau izinkan diriku untuk jatuh, maka jatuhkanlah aku kepada ia yang memujaMu.. Jatuhkanlah aku kepada ciptaanMu yang berjalan menujuMu dan berjuang mencari keridhaanMu..

Ketika hati merasa dikecewakan, ataupun bersedih meratapi nasib, pergilah ke suatu tempat dan bertemulah dengan orang lain. Maka laramu akan melebur dalam ramainya.

Aku bahagia, saat melihat orang lain berlalu-lalang dan beraktivitas, kemudian sejenak berhenti dan mengamati. “Apakah harimu baik-baik saja?”

Menyapa orang lain tidak akan membuatmu menjadi lebih buruk, karena itulah aku senang berkenalan dan memperbanyak relasi. Berinteraksi dengan orang lain, khususnya orang baru yang passionate, selalu membuatku merasa lebih hidup. Selain merasa senang, aku menjadi semangat karena bisa belajar banyak hal baru dan semakin memahami bahwa manusia tak diciptakan hanya dalam 1 tipe.

Salinglah mengenal. Tak pernah ada yang salah dari berbuat ramah. Karena bertemu dengan yang baik adalah sebuah bonus.

Kamu tidak akan pernah mengira bahwa orang asing yang mungkin hanya memakai sandal jepit di depanmu, adalah seorang direktur utama sebuah BUMN, ataukah seorang penerima beasiswa LPDP atau Full Bright.

Kamu tak akan pernah tau.

Karena semakin banyak orang yang kamu kenal, maka kesempatanmu untuk bertemu dengan orang-orang baik  akan semakin besar. Juga tak ada yang tau jika kelak ternyata orang yang duduk di sampingmu dalam sebuah kereta dengan baju yang lusuh adalah orang yang akan mendanai sepenuhnya usaha start-up mu.

Bertemulah dengan banyak orang karena Allah selalu mengirimkan rezeki-Nya melalui perantara.

Maka rendahkanlah hatimu, dan biarkan Allah menjaganya.


Dear @ajinurafifah. If you ever remember this photo, surprisingly it was 2 years ago since this photo taken at January 29th 2015 on Rainy Hijab Photoshoot. Terimakasih sudah menjadi bonus dari Allah dan selalu melibatkanku dalam kebaikan!

Surabaya, 5 Januari 2017 ; 01.00 AM, midnight random thoughts. why this is so interesting than my examination’s slide?

Cantikmu

Hanya ingin berharap, semoga kamu tidak bertambah cantik lagi. Bahaya, aku semakin lelah dengan berbagai pasang mata yang semakin memperhatikanmu semakin harinya, semakin banyak, bahkan tidak sedikit yang mulai merapatkan jarak denganmu.

Perihal persaingan, aku tidak pernah khawatir. Sebab, kamu tidak akan menemukan hal yang lebih hebat di antar lelaki lainnya selain aku.

Hanya ingin berharap, semoga kamu tidak bertambah cantik lagi. Cukup, hanya aku saja yang mengetahui cantikmu seperti apa, yang lain tidak perlu tahu, termasuk cantik pada hatimu yang mampu meluruskan duniaku.

Perihal indahmu, melihatmu selalu membuatku bergetar sedemikian hebat, kaku lidahku untuk menyapamu, leluconmu yang tidak pernah lucu pun tetap lekat di ingatanku, termasuk senyummu saat menatapku. Sebab indahmu selalu menyenangkan aku, maka biarlah itu semua menetap sebagai do'aku.

Hanya ingin berharap, semoga kamu tidak bertambah cantik lagi. Sebab aku menemukan kebahagiaan di dalam melihatmu berkali-kali. Padahal kamu selalu lebih dari sekedar cantik, entah dijelaskannya bagaimana.

Perihal jatuh cinta, aku tidak pernah menjadikan cantikmu sebagai alasanku untuk jatuh. Maka dari itu, cukuplah untuk tidak menambah kecantikanmu lagi.

Hanya ingin berharap, semoga kamu berhenti berpikir bahwa tubuhmu itu gendut. Sebab, semakin sering kamu mengeluhkannya dengan tingkahmu yang menggemaskan, justru membuatku semakin ingin menggenapimu.

Besok-besok kalau lengan bajunya lebar, jangan lupa pakai manset. Jangan lupa kalau akhir-akhir ini masih sering hujan. Jangan lupa bulan depan masih musim hujan.

Jangan lupa, jangan lupa bawa kaos kaki cadangan.

Bogor, 6 Januari 2017 | Seto Wibowo

Lelaki yang boleh kamu anggap berani dan paling patut untuk dipertimbangkan itu ya yang berani datang ke rumah, menemui walimu. Semua rasa kepada selain itu, bunuh saja. Jangan manja.
—  Kata seorang kakak perempuan.
Jatuh

Ada yang membuat perut terasa dipenuhi kupu-kupu
Apalagi selain senyum jailmu pagi kemarin
Ada yang membuat sulit terlelap beberapa hari ini
Apalagi selain hangat pelukmu di setiap jumpa
Aku lupa bagaimana bisa terpikat
Aku lupa mengapa ingin terikat
Yang aku tahu, aku tengah dan sedang merasakannya
Tak ingin ada jarak yang memisah, tapi kita cukup dewasa untuk paham beberapa hal harus diselesaikan
Tak ingin jika komunikasi terputus, tapi kita cukup mengerti bahwa tak bisa soal rasa mengganggu laju rutinitas
Pelan namun pasti
Hangat serta tepat
Aku tahu dan aku mengaku
Lagi, aku terjatuh padamu berulang-ulang

Hujan Mimpi