sekul

warisan radikal intoleran (bingung milih judul)

tulisan ini cuma sebatas uneg-uneg sama apa yang akhir-akhir ini terjadi.

Apa yang ditulis Afi Nihaya Faradisa sebenarnya bukan hal yang baru. Silahkan cari buku-buku yang diterbitkan INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), pikiran-pikiran yang demikian banyak dikupas tuntas. Saya nggak nyebut Afi liberalis meskipun pemikirannya berbau liberal, karena bisa jadi ini hanyalah kesalahan memilih sudut pandang. Dan semoga saja kelak bisa diluruskan.

Syahadat pada dasarnya menuntut kita untuk merubah hal yang paling mendasar dalam hidup kita yaitu sudut pandang. Syahadat adalah pengakuan bahwa Allah itu Rabb kita dan Nabi Muhammad SAW adalah Rasulullah. Pengakuan ini secara otomatis mencakup pengakuan kita akan kebenaran risalah Islam (Alqur’an dan Hadist) sekaligus kesediaan kita untuk mengambilnya sebagai pedoman. Ini berarti, alat ukur kita terhadap segala sesuatu dalam hidup harus di ambil berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. Jika Alqur’an mengatakan benar terhadap suatu perkara, kitapun harus percaya bahwa perkara tersebut benar. Bila Alqur’an berpendapat salah untuk suatu perkara, kitapun harus percaya bahwa perkara tersebut salah. Doktrinasi? Taqlid? Bukan. Ini konsekuensi iman, konsekuensi syahadat kita.

Bagaimana bila ada yang masih belum mau menerima sebagian ayat Al Qur’an? Itu artinya, pemahaman dia tentang iman dan konsekuensi syahadat masih belum utuh. Islam memang agama yang memerintahkan kita untuk berpikir. Tapi tidak lantas kita dibiarkan bepikir liar tanpa panduan. Dalam islam, kita diajarkan untuk mengenali tanda-tanda keberadaan-Nya, berpikir tentang bagaimana kita membangun ummat, bagaimana kita bisa mengimplementasikan Al Qur’an dalam hidup kita, intinya Al qur’an menuntun akal kita untuk menjadi sebaik-baik hamba Allah yang bermanfaat.

Sayangnya kebanyakan orang liberal tidak fokus untuk berpikir ke arah sana. Mereka justeru mempertanyakan lagi relevansi Al Qur’an, mempertanyakan lagi siapa Tuhan, seolah kita dipaksa untuk mundur lagi. Pemahaman-pemahaman seperti ini semestinya sudah selesai bersamaan dengan syahadat kita. Tapi ketika pertanyaan semacam ini terus berulang, itu sama sekali bukan pikiran yang kritis melainkan sebuah kesalahan memilih sudut pandang.

Islam sudah memberi jawaban siapa Rabb kita, untuk apa kita diciptakan, bagaimana menjalani hidup dengan baik. Jawaban dari pertanyaan yang direnungkan para pemikir yunani kuno ratusan tahun yang lalu. Sementara kita diberi karunia oleh Allah untuk terima jawaban jadi, nggak perlu merenung dari awal. Tinggal kita mau memilih percaya atau tidak. Kalau percaya, silahkan berpikir dan terus belajar bagaimana mengimplementasikan Al Qur’an. Jika belum percaya, silahkan mengikuti jalan para pemikir yang terus berputar untuk merenungi pertanyaan-pertanyaan yang sama. Semoga Allah memberi taufiq agar renungan-renungan tersebut bertemu pada jawaban yang benar.

Jelas berbeda sudut pandang antara seorang muslim (yang menggunakan Al Qur’an) sebagai kacamata untuk memandang agama-agama lain dengan sudut pandang pemikir (yang tidak mengadopsi Al Qur’an sama sekali) lantas disuruh memandang agama-agama yang ada.

Yang pertama pastinya sudah ajeg dengan keyakinan bahwa Islam adalah agama yang benar. Agama lain tidak sama dengan islam. Tapi kita tetap diizinkan untuk bermuamalah dan bahkan diperintahkan untuk berbuat baik dan menebarkan rasa damai bagi orang-orang yang berbeda keyakinan. Itu sudah cukup. Kita tidak perlu menggugat perkara iman dan memaksa menganggap semua sama.

Sementara sudut pandang yang kedua masih dipenuhi keraguan, apakah islam agama yang benar? Siapa tuhan yang sebenarnya? dan terkadang sang pemikir malah memaksakan diri untuk menganggap Islam sebagai bagian dari konstruksi sosial yang sejajar dengan agama lain. Dilihat dari sudut pandang ilmu sosial yang sekuler, pandangan ini tidak salah. Tapi bila dilihat dari sudut pandang Alqur’an yang mengajarkan kita rukun iman, ini jelas salah. Andaikata Tauhid bukan hal yang penting dan Allah boleh disejajarkan dengan Tuhan-tuhan dalam agama lain, Rasulullah tentu tidak perlu susah payah berdakwah.

Kita sering mengatakan bahwa esensi islam adalah kasih sayang, persamaan, bla bla bla hanya demi melegitimasi ideologi tertentu agar dianggap sesuai dengan Islam. Padahal bisa jadi ideologi tersebut beririsan dengan Islam di satu sisi, lalu berlawanan di sisi lain. Islam memang syumul. Dan karna syumuliyah nya, dapat dipastikan bahwa dalam Islam ada kasih sayang, persamaan kedudukan antara si kaya dan si miskin, akhlak mulia, cara membangun peradaban dan seterusnya. Bukan berarti ketika dalam islam ada kasih sayang lantas kita bisa mengatakan esensi islam adalah kasih sayang. Bukan berarti ketika islam mendukung persamaan hak antara si kaya dan si miskin lantas kita bisa seenaknya bilang bahwa islam adalah sosialisme dan seterusnya.

Menjadi muslim memang menuntut kita untuk berpikir di luar konstruksi sosial yang ada hari ini. Sebab islam bukan bagian dari konstruksi sosial. Justeru dengan islam diharapkan kita bisa membangun konstruksi sosial yang baru, yang membebaskan manusia untuk mengenali Rabb-Nya tanpa perlu dikaburkan oleh ideologi-ideologi yang ada di luarnya.

Radikal?

Saya sebenernya nggak suka labelling karena labelling itu membuat kita jauh dan tidak bisa berdiskusi. But anyway, meskipun nggak suka labelling, saya nggak masalah dilabeli radikal, intoleran, dll, dsb.

Justeru yang saya khawatirkan adalah si pemberi label. Ketika kita melabeli seseorang dengan label yang berseberangan dengan kita, otomatis pintu diskusi tertutup sudah. Padahal di tengah-tengah kelompok yang diberi label radikal dan intoleran ada banyak ulama yang shalih dan terbuka.

Kita perlu tahu, apa yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah peristiwa dengan judul ‘Agama memecah belah manusia’ tapi lebih tepatnya ‘Ketidakpahaman manusia tentang agamanya membuat mereka bercerai-berai’

Wallahu muwaffiq ilaa aqwaamit thariq.

MADRASAH

Kalau ingin menyiapkan investasi beberapa bulan,
Tanamlah jagung.
Kalau ingin menyiapkan investasi setahun,
Tanamlah pohon-pohon.
Kalau ingin menyiapkan investasi seabad,
Didiklah anak-anak muda.
-Chinese Proverb-

Dari madrasah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- lahirlah generasi unik, 100.000 lebih manusia yang hidup sezaman dengan beliau dan wafat dalam keadaan muslim, yang menghentak dunia dengan tiba-tiba; menghapus kesewenangan Byzantium, mengebumikan keangkuhan Persia, dengan cara yang bermartabat. Mereka mengetengahkan harkat manusia dengan penyembahan pada Rabbnya manusia.

Dari madrasah Musa bin Nushair -rahimahullah- lahirlah generasi tangguh di Afrika Utara. Bangsa Barbar yang bermata biru itu, setelah sebelumnya memerangi Islam, berubah menjadi baris-baris mujahid tangguh yang berlaga di bukit dan lembah Andalusia. Al Quran diajarkan, akhlaq diadatkan, fiqh dibimbingkan, ilmu tempur dibiasakan. Thariq bin Ziyad jadi murid terbaiknya, menyeberangi Gibraltar, meneruskan proyek peradaban.

Dari madrasah Nizam Al Mulk -rahimahullah- lahirlah generasi hebat pembebas Al Aqsha. Aq Sanqur, Imaduddin Zanki, Nuruddin Zanki, hingga Shalahuddin. Mata rantai para pejuang itu menjadi simbol kepahlawanan yang membuka gerbang dan benteng kota Islam yang telah lama kubah masjidnya dilebur jadi salib-salib.

Dari madrasah Najmudin Ayyub, lahirlah generasi pemberani yang shalih, ahli ibadah yang patriot. Budak-budak Turki dididik menjadi tentara dan birokrat, dibimbing menghafal Al Quran dan menghimpun hadits-hadits. Pada puncaknya, mereka inilah yang disebut sebagai Mamalik, yang ketika dunia Islam porak poranda dibabat Mongol, mereka berbaris di padang luas Ain Jalut, mengalahkan Mongol untuk pertama kalinya dan selama-lamanya. “Jika bukan kita untuk Islam, maka siapa lagi?”, orasi Quthuz sang putera Mamalik di hadap semua pejabat negara.

*** ***

Madrasah-madrasah selalu memainkan peran sejarahnya dengan penuh kesadaran. Barometer keberhasilannya bukan pada angka-angka dan jumlah murid yang banyak, tapi sejauh mana terinstall kecintaan pada Dinul Islam pada sanubari anak-anak didiknya.

Itulah mengapa proyek pertama Mustafa Kamal ketika menumbangkan Utsmani adalah menghapus sekolah-sekolah Islam. Itulah mengapa proyek pertama zionis di Palestina adalah membangun sekolah sekuler yang menggratiskan uang masuk bagi anak-anak Arab, yang penting sekolah agama jadi sepi.

Seperti itulah sejarah selalu berulang. “Tidak akan berjaya sebuah generasi”, kata Imam Malik bin Anas rahimahullah, “kecuali dengan apa-apa yang menjayakan generasi sebelum mereka.”

@edgarhamas

Ternyata Sama Saja

Masyarakat Indonesia itu secara garis besar terbagi menjadi dua: konservatif (agamis) dan liberal (sekuler).

Ada masanya kelompok konservatif tersandung kasus hukum. Kemudian kata-kata mereka kurang lebih: “Ini konspirasi! Ini tidak adil! Ini aneh!”. Lalu kelompok liberal mengejek habis-habisan kelompok konservatif, yang intinya menampakkan seolah kelompok liberal ini lebih rasional, lebih taat hukum, lebih “tidak taklid”.

Sekarang kondisi berbalik. Kelompok liberal sedang tersandung kasus hukum, dan kelompok agamis sedang berada di atas angin. Yang menarik, saya pikir kelompok liberal ini memang lebih rasional, lebih taat hukum, dan lebih “tidak taklid” daripada kelompok yang dulu mereka ejek.

Ternyata? Sama saja.

Kesimpulan: friksi ini bukan soal mana yang lebih cerdas, lebih rasional, lebih toleran, atau lebih benar sikapnya. Ini simply dua kelompok manusia dengan tabiat yang identik, namun punya narasi yang berbeda dalam kepalanya.

Fenomena tulisan seorang gadis remaja yang dianggap menginspirasi, boleh saya sedih? Berhasilnya pendidikan sistem sekuler, mengubah anak-anak remaja jadi sekuler dan penganut pluralisme sejak kecil. Tanpa sadar di doktrin dan merasa bangga dengannya.

Allah, Cukup!

Dost istersen, Allah yeter. “Kalau kau mau teman baik, Allah cukup.”

Begitu kurang lebih maksud dari tulisan yang ada di atas Blue Mosque atau Sultanahmet Cami. Selepas tarawih, pemerintah juga mengadakan semacam light display menggunakan proyektor besar yang menyorot ke arah masjid. Ada narasi dan video yang menceritakan secara singkat peradaban Islam. Indonesia pun disebut. Se-sekuler-sekuler-nya Turki, dalam urusan peribadatan, mereka sangat ketat dan totalitas. Ini sebenarnya fenomena pasca partai Erdoğan berkuasa selama lebih dari satu dekade. Dulu, jangan dibayangkan Turki seperti Indonesia yang bahkan dalam keagamaan termasuk sangat bebas. Dulu, Turki benar-benar sekuler. Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik.

Anyway, pesan tersebut singkat, tapi padat. Semua mudah memahaminya. Bahwa Allah SWT itu dekat. Namun, seringkali kita masih mencari-cari manusia untuk menjadi kawan dekat. Padahal, Allah saja sudah cukup. Semoga menginspirasi kita semua.

Identitas “Muslim” di Turki

Memang mayoritas penduduk Turki adalah muslim, sekitar 98.6% dari 78.7 juta jiwa (2015). Meski demikian, komposisi Muslim di Turki ini beraneka ragam, dari sisi keagamaan. Dominan dan menjadi mazhab resmi negara adalah Hanafi. Jadi sudah jelas bahwa Turki adalah negeri Sunni. Namun, ada juga dalam jumlah yang kecil Alawi, Syiah, dan agama lain seperti Kristen Ortodoks, Katolik, atau bahkan Yahudi. Hampir tidak ada permasalahan bentrokan atau gesekan keagamaan yang merisaukan karena secara resmi Turki saat ini adalah negeri sekuler. Walaupun mayoritas adalah Muslim, namun Islam tidak menjadi agama negara. Setiap warga bebas memilih dan menjalankan keyakinannya masing-masing. Dan, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa memang karakter Muslim yang ada di Turki memilik toleransi tinggi, mungkin karena disebabkan akar budaya Ottoman yang sangat diversif dengan berbagai macam budaya dari seluruh dunia yang pernah ada di bawah kontrolnya. 

Kalau dibagi lagi menjadi grup-grup, maka dari Muslim yang 98.6% itu akan menjadi banyak sekali. Umumnya mereka berbentuk jemaat atau tarekat. Dari yang mulai Islami banget, sampai luwes. Dari yang rajin shalat, sampai yang tidak pernah shalat. Yang terakhir ini menarik sebenarnya, karena saya menemukan dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa banyak di antara orang Turki yang tidak shalat. Tidak usah jauh-jauh, kawan-kawan saya yang Turki saja, banyak sekali yang tidak shalat atau bolong-bolong. Lebih syok lagi, banyak di antara mereka yang berjilbab. Saat saya tanya kenapa tidak shalat, mereka hanya mesem-mesem. Ini syok banget buat saya.

Teman sekelas saya, mungkin ada 12 orang. Kami kuliah dari jam 12-18 sore. Itu artinya pas Dzuhur dan Ashar. Saya perhatikan mereka tidak ada yang pergi shalat, sementara saya dan kawan dari Pakistan ke Masjid dekat kampus untuk shalat tiap kali break. Waktu jalan bareng sama teman juga begitu, selepas azan saya tanya mushalla di mana dan mau shalat, dia menunjukkan ada di mana, tapi dia ga shalat. Kalau kata teman yang sudah lebih lama tinggal di sini, banyak dari mereka yang malah hanya shalat Jumat. Saya juga pernah tinggal di rumah orang Turki, 2 hari 2 malam. Dan, memang mereka tidak ada yang shalat. Duh

Tapi, yang unik adalah mereka sangat rigid dengan identitas ke-muslim-annya. Dari awal saya tinggal di sini, pertanyaan “Müslüman mısın?” (Kamu muslim?) itu tidak akan pernah absen. Kalau ketemu orang di jalan dan ngobrol, pasti ditanya itu. Waktu buka akun bank, ditanya-tanya sama sama mba CS-nya banyak hal seperti dari mana asalnya, lagi apa di sini, tinggal di mana, sampai pada pertanyaan itu. Saya kaget, kok nanya itu ya. Mba-nya juga tidak berhijab, ya biasa saja seperti karyawan di bank. Dan ini terus di mana saja saya berada. Termasuk teman-teman di kelas saya yang tidak shalat itu. Ini juga, waktu saya sebutkan nama “Herriy”, dapat saya jamin mereka akan langsung bertanya, “Kamu Muslim, kan?” Kenapa? Karena mereka terlalu biasa dengan yang namanya seorang Muslim itu namanya harus Abdullah, Ahmad, Marwah, Aisyah, Sulaiman, Fatih, dsb. Jadi kalau ada nama di luar itu, mereka akan mengira non-muslim. Waktu ditelpon teman, di sampingnya ada ibunya, ibunya nanya “Nelpon siapa?” “Nelpon Herriy.” Ibunya langsung nanya, “Muslim, bukan?” Kadang juga ditanya sama orang di jalan, dia sambil ngerokok ngebul. Waktu saya jawab “Iya, saya Muslim,” dia bilang “Good.” 

Dan, kalau kamu ternyata adalah non-Muslim, “Hello, goodbye!”, deh. Susah dapat pacar apalagi istri orang Turki–kalau suami masih memungkinkan, susah juga temanan dengan mereka kecuali dengan yang “berantakan” atau atheis. Well, di Turki ini banyak banyak yang atheist juga atau Islam-KTP. Teman saya dari Kenya, dia non-Muslim, duh susah dapat teman. Dua minggu lalu saya ngobrol sama orang Turki dan saya bilang di Indonesia pernikahan beda agama itu mungkin dan cukup banyak. Dia kaget dan tidak percaya, karena kalau di Turki, itu tidak mungkin. 

Menarik sebenarnya kalau dipelajari lebih lanjut mengapa identitas ke-muslim-an bagi orang Turki itu sangat penting. Entah mungkin karena itu mereka bersatu dan bisa menaklukkan Eropa, atau memang mereka memahami bahwa penting untuk menjadi seorang Muslim. Untuk yang terakhir ini, kalau benar iya, lalu mengapa banyak di antara mereka yang tidak shalat, padahal shalat adalah tiang agama? Mungkin nanti kita akan mendapatkan jawabannya.

Muslim Memilih Pemimpin

Terlepas pro/kontra atas isinya (walaupun seharusnya ayat Al-Qur'an gak perlu di-kontra lagi sih :p), saya suka logika berpikir Muslim yang seperti ini

Ya, kadang-kadang Muslim memang harus ngeluarin kecerdasannya untuk menghadapi yang sok pinter.

——

“Dialog antar Muslim ttg Bagaimana Memilih Pemimpin”

Muslim Pendukung Ahok (MPA): “Gua Muslim tapi gua dukung Ahok. Hidup Ahok!”

Muslim: “Kalo yang non muslim dukung Ahok, wajar karena faktor sentimen agama. Tapi kenapa anda yang muslim dukung Ahok?”

MPA: “Semua orang Islam maling, semua orang Islam korupsi, yang bersih cuma Ahok!”

Muslim: “Semua orang Islam maling? Semua orang Islam korupsi? Yang bersih cuma Ahok? Kata siapa?”

MPA: “Ya baca aja Kompas, Detik, Tempo dan Tribunnews cs, tiap hari kan dimuat berita betapa bagusnya Ahok, dan dimuat berita korupsi orang-orang Islam. Makanya gua dukung Ahok. Ya, semua orang Islam maling, semuanya korupsi!”

Muslim: “Ooh media-media itu, pantes saja :), kerjaan media sekuler dan anti Islam ya memang gitu, memberitakan yang buruk-buruk tentang umat Islam, tapi kejahatan-kejahatan korupsi skala dewa Eddi Tansil, Hendra Rahardja, Samadikun Hartono, Anggoro Widjaja, David Nusa Wijaya, Maria Pauline, Andrian Kiki Ariawan, Eko Adi Putranto, Sherny Konjongiang, Sanyoto Tanuwidjaja, Theo Toemion, Olly Dondokambey, Rusman Lumbatoruan, Willem Tutuarima, Poltak Sitorus, Aberson M Sihaloho, Jeffey Tongas Lumban Batu, Matheos Pormes, Engelina A Pattiasina, Sengman Tjahja, Basuki, Elizabeth Liman, Yudi Setiawan, Artalyta Suryani dan kaum non muslim lainnya ditutup-tutupi :). Hmm, oke menjawab statemen anda, barusan anda mengaku muslim… Bapak anda Islam, kakek anda Islam.. Kalau anda bilang semua orang Islam maling dan korupsi… Berarti bapak anda juga maling? Bapak anda koruptor? Kakek anda maling? Kakek anda koruptor? Seluruh leluhur anda maling dan koruptor semua???”

MPA: “?!=÷&£[!÷»,”!¥}±"

Muslim: “Lho kok diam?”

MPA: “Enak aja lu ngomong! Iya bapak gua muslim, kakek gua muslim, kakek-kakek buyut gua juga muslim, gua sudah berpuluh-puluh generasi turun-temurun keluarga muslim, tapi bapak dan kakek-kakek buyut gua bukan maling dan koruptor lah! Gua turunan keluarga baik-baik bukan turunan maling!”

Muslim: “Nah! Jadi yang bersih cuma ahok, dan diluar Ahok dari milyaran umat Islam cuma bapak dan kakek-kakek buyut anda saja yang tidak korupsi?”

MPA: “Bukan gitu… Selain bapak dan kakek-kakek gua pasti banyaklah orang Islam yang gak korupsi! Orang Islam yang baik masih banyaklah”

Muslim: “Nah! Kalo umat Islam yang baik, berakhlak, beradab, berprestasi, santun, jujur dan bersih dari korupsi masih banyak… Alasan apa lagi anda pilih Ahok? Kinerja Ahok buruk, skandal korupsi banyak (baca: Korupsi Ahok), tutur kata dan perilaku teramat kasar, alasan apa lagi mendukung Ahok?”

MPA: “Ya terserah gualah, pokoknya gua cuma mau dukung Ahok, gpp kan gua pilih Ahok? Hak gua ini!”

Muslim: “Anda muslim kan?”

MPA: “Iyalah! Muslim 100%!”

Muslim: “Umat Islam tidak hanya punya hak, TETAPI JUGA PUNYA KEWAJIBAN!”

MPA: “Iya gua tau. Tiap hari gua sholat, bulan Ramadhan gua berpuasa, gua tunaikan zakat, dll. Gua selalu berusaha mentaati segala perintah Allah, dan menjauhi segala laranganNya”

Muslim: “Anda makan daging babi?”

MPA: “Hahaha… Aneh pertanyaan ente. Ya kagaklah!”

Muslim: “Kenapa anda tidak makan babi?”

MPA: “Ya karena Allah SWT Tuhan gua mengharamkan umat Islam memakan daging babi. Agama gua melarang coy, ya gua kagak mau makan babi! Najis tralala babi!”

Muslim: “Anda tau dari mana Allah SWT mengharamkan daging babi?”

MPA: “Ya dari Al-Qur'anlah, pedoman umat Islam kan Al-Qur'an”

Muslim: “Walaupun kata Ahok dan non muslim lainnya… Daging babi itu enak, daging babi itu gurih, daging babi itu menyehatkan, anda tetap menolak makan babi?”

MPA: “Cuih! Mau enak kek, mau lezat kek, mau menyehatkan kek, bukan urusan gua! Urusan gua adalah Allah SWT Tuhan gua memerintahkan umat Islam TIDAK makan babi, dan sebagai hambanya tentu gua terikat dengan perintah Tuhan gua, ya sampe kiamat gak bakal gua sentuh tuh daging babi! Najis!”

Muslim: “Oke. Bagus. Istri anda berjilbab?”

MPA: “Ya iyalah! Istri gua berjilbab. Dari sebelum menikah sama gua dia udah berjilbab, alhamdulillah istri gua orang yang taat sama agamanya, seorang muslimah yang istiqomah, bukan muslimah Islam KTP yang menyepelekan perintah Allah. Emak gua berjilbab, udah naik haji pula, masa’ gak pake jilbab? Malu donk!”

Muslim: “Kenapa mereka berjilbab?”

MPA: “Lha pan Allah SWT yang suruh, menutup aurat itu perintah Allah SWT!”

Muslim: “Tau dari mana Allah SWT menyuruh muslimah menutup aurat?”

MPA: “Ya dari Al-Qur'anlah, pedoman umat Islam kan Al-Qur'an”

Muslim: “Tapi kata orang liberal kan berjilbab itu budaya Arab, dan banyak kalangan yang bilang ‘jilbabkanlah hatimu dulu sebelum jilbabkan auratmu’”

MPA: “Mereka mau teriak itu budaya Arab kek, mau dibilang budaya Cina kek masa bodho amat! Yang gua pegang, taati dan jalani adalah perintah Tuhan gua, bukan kata-kata mereka. Pedoman hidup gua Al-Qur'an bukan Koran! Itu lagi aneh logika jilbabkan hati dulu… Gimana hatimu yang gak bisa kita liat bisa elu jilbabin kalo auratmu yang bisa diliat mata orang kagak bisa elu jilbabin?”

Muslim: “oke.. Kesimpulannya, walaupun katanya babi itu enak, walaupun katanya berjilbab itu budaya Arab dan gak perlu diikuti… Anda tetap mengharamkan babi dan mendukung pemakaian jilbab”?

MPA: “Tepat sekali! Terserah orang lain mau ngomong ape kek! Kalo Allah SWT udah kasih perintah, ayat-ayatnya jelas ada di Al-Qur'an, ya orang Islam wajib menjalankannya! Kalau ngaku Islam tapi menyepelekan apalagi melanggar perintah-perintah Allah… mending sekalian aja keluar dari Islam!”

Muslim: “Kalau Allah SWT melarang umat Islam memilih pemimpin non muslim termasuk Ahok.. Bagaimana?”

MPA: “Ya akan gua taatilah! Masa’ perintah Allah untuk tunaikan sholat, perintah Allah untuk tunaikan zakat, perintah Allah untuk berpuasa di bulan Ramadhan, perintah Allah untuk haramkan babi, perintah Allah untuk kaum muslimah berjilbab, semuanya gua taati terus perintah Allah lainnya gua tabrak? Ya insya Allah tanpa gua pilah-pilah SELURUH perintah Allah SWT akan gua turuti!”

Muslim: “Sudah tau perintah Allah haramnya umat Islam memilih pemimpin non muslim?”

MPA: “Belum tau, emang ada?”

Muslim: “Ada, banyak perintah Allah tentang haramnya umat Islam memilih non muslim sebagai pemimpin antara lain di Al-Qur'an ayat: Ali Imran 28, Al Maidah 51, An Nisa 144, Al Maidah 57 dll, sangat banyak ayatnya. Sedikit pesan untuk anda, Jangan cari pembenaran yang kita pikir kita bisa lebih hebat dari apa yg telah Allah perintahkan ke kita. Jangan menyangkal ayat-ayat Allah dengan logika sendiri”

Muslim (Eks MPA): “Astaghfirullahaladzim… Ya Allah Ya Rabbi… ” (Mata berkaca-kaca menahan tangis)“

Muslim: "Kenapa saudaraku?”

Muslim (Eks MPA): “Banyak sekali ayat-ayat Allah melarang memilih pemimpin non muslim, Baru tau gua! Allah mengharamkan umat Islam makan daging babi aja gua taati sepenuhnya padahal ayat larangannya dalam Al-Qur'an cuma sedikit, lha ini larangan memilih pemimpin non muslim ayatnya seabreg gini udah gua injak-injak? Malu aku malu ya Allah!!!… Ya Allah ya Tuhanku, ampunilah kekhilafanku, aku ingin mati dalam iman dan taat kepadamu SEPENUHNYA ya Allah… Maafkan aku ya Allah!!!…”

Muslim: “:) Aamiiin. Tidak ada kata terlambat wahai saudaraku. Allah Maha Pengampun, Allah Maha Pemurah. Yang penting setelah tau perintah Allah, ya kesalahannya jangan diulang lagi”

Muslim (Eks MPA): “Tentu! Terima kasih saudaraku! Sekarang gua akan memberitahukan kepada umat Islam lainnya keberadaan ayat-ayat Al-Qur'an tentang haramnya memilih pemimpin kafir”

Muslim: “Baguslah. Karena memang kewajiban sesama umat Islam untuk saling mengingatkan

youtube

Bad Suns - “Cardiac Arrest” Official Music Video.

Jika anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau parpol Islam, itu hak anda. Tapi jika anda dan jutaan yang lain tidak ikut pemilu (GOLPUT) maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang kita inginkan.
—  (Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA. M.Phil.)
Tulisan : Tiang-Tiang Bangunan

Tulisan serius mengenai pemahaman saya terhadap rukun-rukun islam.

Dari hasil banyak membaca literatur maupun diskusi. Saya menemukan apa yang sebenarnya saya cari, pemahaman yang sederhana yang mampu menjelaskan mengapa saya harus memegang teguh rukun-rukun islam dan menjadikannya sebagai landasan kehidupan.

Ditengah kehidupan saat ini yang begitu sekuler, begitu bebasnya orang menyatakan pikiran yang lahir dari pemikirannya sendiri. Saya berusaha memahami, apa sih yang Tuhan saya ingin sampaikan kepada manusia melalui wahyu-Nya yang kadang-kadang membuat penafsiran setiap orang itu menjadi berbeda-beda.

Pemikir-pemikir yang bertolak belakang dengan pemikiran islam terus berupaya membatasi ruang gerak orang islam tentang islam itu sendiri. Seperti kita semua saksikan sendiri bahwa banyak sekali orang islam yang tidak paham terhadap agamanya sendiri. Merasa sudah aman dan merasa (dijamin) pasti masuk surga hanya dengan dua kalimat syahadat dan terserah kelakuan mereka mau bagaimana. Memilih-milih hukum sesuai dengan kehendak hatinya. Padahal berislam berarti secara menyeluruh mengambil segala konsekuensinya sebagai orang islam, termasuk dengan segala tata aturannya. Jadi, saya sendiri tidak heran bila Islam baik citra maupun hal-hal yang terkait dengannya rusak bukan disebabkan oleh orang diluar islam, tapi orang islam itu sendiri. Sebagaimana kasus-kasus yang sering kita saksikan di media televisi. Korupsi itu banyak dilakukan oleh pejabat-pejaba yang juga orang (mengaku) islam, ketika disidang tiba-tiba pakai kerudung/peci. Pemerkosaan, pencurian, kekerasan, dan lain-lain.

Kembali ke topik utama tentang pentingnya memegang rukun islam. Ketika perang pemikiran ini terjadi dan orang islam sendiri tidak paham dan mengerti tentang islamnya. Islam selamanya hanya akan menjadi agama warisan (orang tua ke anak) tanpa tahu esensi dari beragama itu sendiri. Dan pemikiran-pemikiran yang mengatakan bahwa islam hanya cukup mengatur rukun-rukunnya saja, masalah hukum diluar itu ya diatur sesuai kehendak (hawa nafsu) manusia.

Dikatakan : Islam hanya boleh mengantur tentang urusan shalat, nikah, bayar zakat, hari raya, naik haji. Tapi urusan diluar itu seperti politik, ekonomi, hubungan sosial, hubungan lawan jenis jangan gunakan aturan islam. Silakan buat masjid sebanyak-banyaknya (sekarang lagi jamannya bangun masjid dan bagus-bagusan masjid, tapi sepi jamaah). Silakan naik haji, silakan bayar zakat, tapi selain itu tidak.

Saya berusaha membantah pikiran ini dengan cara berpikir dan logika yang sederhana, sehingga teman-teman saya bisa memahami esensi tanpa perlu rumit memikirkannya. Atau mendapatkan jawaban kepanjangan dari kiyai dengan dalil-dalil yang bikin kening kerutan.

Mereka, para pemerang pemikiran islam mengatakan seolah-olah islam cukup tiang-tiangnya (rukun-rukun islam) saja tanpa ada bangunannya. Maka pemikiran ini akan cukup membantu menyederhanakan semua ini. Dengan analogi, islam diturunkan sebagai rahmat untuk seluruh alam dan mengatur segala aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu halpun yang luput dari pengaturan islam, jika ada silakan saja sebutkan. Dari mulai bangun tidur hingga bangun negara, dari hubungan antar manusia, manusia dengan alam, dengan makhluk lain (termasuk hewan, tumbuhan), manusia dengan Tuhannya. Semua lini baik ekonomi, hukum, sosial, dan lain-lain. Dan tiang-tiang itu adalah pondasi untuk kita mendirikan bangunan diatasnya.

Kitalah, orang-orang yang katanya memeluk islam sebagai agama, yang membangun diatas tiang-tiang itu. Dan dalam uraian diatas saya katakan, bahwa yang menghancurkan bangunan itu sendiri bukanlah orang lain, tapi orang islam itu sendiri. Mari coba pahami. Apakah kita termasuk orang yang turut membangun atau turut menghancurkan?

Bandung, 3 April 2014