sekolah-dasar

Kontemplasi

Pada saatnya setiap perjuangan akan menemui ujungnya. Tanggal 2 Februari 2017 adalah titik kulminasinya. Pada hari itu saya ditunjuk untuk menyampaikan pidato sambutan mewakili para wisudawan.

Sengaja saya tulis dan kutip pidato wisuda tersebut disini untuk tetap mempertahankan energinya setiap saat saya kembali membacanya. Pidato kemarin menjadi salah satu dari pidato paling emosional dalam hidup saya karena selain dihadiri oleh wisudawan dan tenaga pendidik, acara tersebut juga dihadiri oleh 1000 orang lebih para orang tua dari wisudawan.

“Beliau titipkan pada kami sebuah harapan dan mimpi-mimpi agar kami dapat menjadi pribadi yang lebih baik.”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera untuk kita semua

Puji syukur kita haturkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, pada hari ini kita dapat hadir bersama-sama di Gedung Prof. Sudarto untuk berkumpul dalam acara tasyakuran wisudawan / ti Fakultas Teknik Undip Periode Januari 2017.

Shalawat serta salam tak lupa tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta para keluarganya, para sahabatnya serta para pengikutnya hingga akhir zaman. Semoga kita termasuk pada para pengikutnya yang mendapat syafaat pada hari akhirat kelak. Aamiin.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Sebelum saya memulai sambutan mewakili wisudawan pada kesempatan kali ini, ada baiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan saya Aulia Hashemi Farisi, Mahasiswa S1 Teknik Sipil angkatan 2012. Saya meyakini bahwa di antara kita semua yang hadir pada hari ini, ada banyak sekali wisudawan yang lebih layak memberikan sambutan dan berdiri di panggung ini.

Mereka lah para mahasiswa berprestasi, delegasi perlombaan-perlombaan Nasional maupun Internasional, pemenang kompetisi antar Universitas, juaranya penelitian, peraih medali emas Pimnas, para pembesar-pembesar lembaga mahasiswa hingga kawan-kawan yang berhasil meraih IPk luar biasa baik di masa perkuliahannya.

Maka dari itu, para hadirin sekalian, sekiranya dalam konten sambutan ini, terdapat hal-hal yang tidak cukup mewakili para wisudawan dan tidak pula sesuai dengan kehendak para wisudawan/wisudawati sekalian, permintaan maaf saya sampaikan kepada para wisudawan/wisudawati sekalian sebelumnya. Terimakasih.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Mengutip kalimat pada Farewell Speech (Pidato Perpisahan) Presiden ke 44 Amerika Serikat, Barrack Obama, izinkan saya memulai sambutan saya pada pagi ini dengan kalimat beliau.

Now this is where I learned that change only happens when ordinary people get involved, and they get engaged, and they come together to demand it.”.

Perubahan hanya akan hadir saat diharapkan dan setiap individu yang ada terlibat di dalamnya dapat memberikan bentuk kontribusi sekecil apapun. Maka jangan pernah mengharap sebuah perubahan akan terjadi saat kita hanya mengandalkan orang lain sementara kita berpangku tangan tak melakukan apa-apa.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Keterlibatan dalam perubahan baik ini menjadi amat penting untuk kemajuan hidup sebagai pribadi maupun kemajuan bangsa secara umum, khususnya bagi kami, generasi muda yang tidak hanya menghidupi hari ini tapi juga akan menghidupkan masa depan. Namun nyatanya, terdapat sebuah tantangan besar bagi kami para generasi muda yang disebut oleh William Strauss dan Neil Howe sebagai Millenials Generation (Generasi Millenials) dalam bukunya yang berjudul Generations : The History of America’s Future.

Generasi ini adalah generasi yang “menyambut” datangnya millennium baru. Generasi yang sangat mencintai gadget dan smartphonenya. Generasi yang sangat menyukai tantangan dan hal baru dalam hidupnya, namun cenderung mudah puas akan setiap pencapaiannya. Generasi yang memiliki “kehidupan baru” di dunia maya, membuat segala sesuatu dalam hidupnya menjadi serba instan. Generasi yang mencintai filter-filter foto menjengkelkan yang dapat dengan mudah mempercantik atau mempertampan diri sendiri.

Generasi yang sangat pandai menunjukkan pada dunia bahwa hidupnya luar biasa indah lewat caption-caption atau status di sosial media, walau sesungguhnya sedang dilanda kesedihan yang amat sangat. Lapar sedikit bisa pesan go-food atau delivery service, mau pergi ke suatu tempat bisa order go-jek, uber atau grab dan pesan tiket di traveloka, ingin membeli barang bisa online shop di kaskus, bukalapak, atau tokopedia, dan jika ingin mencari informasi cukup cari berita online di twitter, facebook atau media online mainstream seperti line today tanpa mau mengecek berita tersebut benar atau hanya hoax saja.

Hal-hal instan seperti ini dapat membuat generasi ini merasa bahwa menghidupi dunia maya sudah lebih daripada cukup. Cukup posting foto di Instagram, saling berkabar via Facebook, menulis di blog atau bertukar pikiran di status line dan twitter sudah merasa menyelesaikan segala macam masalah. Generasi ini akan kehilangan kepekaannya terhadap kehidupan sosial bermasyarakat.

Padahal kenyataannya para Hadirin serta para wisudawan wisudawati sekalian,

Indonesia hari ini berada pada peringkat 4 negara dengan kesenjangan ekonomi terbesar di dunia berdasarkan riset oleh Lembaga Keuangan Swiss, Credit Suisse. Data ini menggambarkan bahwa persentase kepemilikan kekayaan Nasional oleh 1 persen warganya sebesar 49.30 % atau kalau dikalkulasi bahwa separuh dari kekayaan nasional hanya dimiliki oleh 2.8 juta orang dari total 280 juta penduduk Indonesia.

Belum lagi permasalahan lainnya yaitu pendidikan, yang menjadi salah satu tujuan nasional Republik Indonesia “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”, seperti pemerataan pendidikan di seluruh pelosok di negeri ini. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015 hanya sekitar 16 persen dari penduduk miskin Indonesia yang bisa menempuh pendidikan hingga tingkat SMA. 84 persen sisanya? Hanya tamatan SMP  bahkan ada yang tidak mampu menyelesaikan jenjang Sekolah Dasar. Riset yang diadakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada medio April tahun lalu, menempatkan Indonesia berada pada ranking 57 dari 65 negara untuk World Education Ranking.

Bertubi-tubi Indonesia diterpa permasalahan dan fenomena yang terjadi selama kurun satu tahun belakangan. Mulai dari kasus Kopi Sianida Mirna, Pengeboman di Sarinah Thamrin, Demo Supir Taksi Konvensional akan Transportasi Online, Penggandaan Uang Dimas Kanjeng, Mario Teguh dan Kiswinar, konflik horizontal nan sensitif seperti Kasus Penistaan Agama oleh Bapak Basuki dan Pembubaran Acara Perayaan Hari Besar Keagamaan oleh oknum di beberapa kota di Indonesia, Awkarin dan YoungLex yang mendadak menjadi Idola Anak Muda, gagalnya Timnas Indonesia di Final Piala AFF 2016 hingga Om Telolet Om.

Begitu banyak pekerjaan rumah di berbagai sektor yang harus diselesaikan. Maka pada kesempatan kali ini, kami mencoba menyampaikan pesan untuk diri kami pribadi juga kepada semua bahwa Indonesia masih sangat butuh perjuangan dalam bentuk nyata, lebih dari perdebatan tidak mutu di dunia maya. Indonesia butuh lebih daripada itu. Indonesia membutuhkan generasi muda yang lebih berkarakter dan mau turun mencabut akar masalah. Indonesia butuh lebih banyak kontribusi dari generasi muda atau kita sebut Millenials tadi untuk mau bersama-sama menyelesaikan permasalahan tersebut.  

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Berbagai tantangan yang ada di depan kita dan siap menghadang untuk diselesaikan seolah menarik mundur bagaimana perjuangan semasa perkuliahan di Universitas Diponegoro ini. Perjuangan tersebut membuat makna wisuda hari ini menjadi bermakna ganda. Wisuda ini bermakna perpisahan karena ujung dari perjuangan selama masa perkuliahan adalah pada hari ini. Perpisahan ini pasti akan sangat berat, penuh dengan memori indah yang akan dirindukan. Bisa saja setelah pertemuan di wisuda ini, tidak akan ada lagi pertemuan di antara kita setelahnya. Maka para wisudawan, wisudawati nikmatilah momentum wisuda ini dengan penuh kesukacitaan.

Namun Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Pada kenyataannya wisuda ini pun bermakna perjuangan! Setelah wisuda hari ini peran dan kiprah kita akan semakin bertambah.

Perguruan tinggi sejatinya tidak sekedar melahirkan kerbau–kerbau pembajak sawah, namun para petani yang siap mengolah sumber dayanya menjadi lebih produktif bagi rakyatnya.

Tidak boleh ada keraguan akan kemampuan pribadi sekecil apapun kemampuan itu. Tidak boleh ada perasaan minder atas kecilnya kontribusi kita di masyarakat nantinya. Kalau bukan sekarang kapan lagi, Kalau bukan kita siapa lagi.

Para Hadirin serta para wisudawan-wisudawati yang berbahagia,

Perjuangan semasa perkuliahan akan menjadi seperti perjuangan tak tahu arah dan tujuan apabila dalam perjalanannya tidak ada yang memandu dan memberi arah. Beliau-beliau lah para dosen-dosen dan tenaga pendidik yang telah mencurahkan segala ilmu dan pengalamannya kepada kami. Beliau-beliau lah yang bagaikan oase di gurun pasir dengan penuh keikhlasan mengajari kami, mendidik kami dan mengingatkan kami apabila dalam proses belajar kami menemui kesalahan.

Beliau-beliau lah yang selalu sabar dan tanpa mengenal lelah menjadikan kami yang tak tahu menjadi tahu, yang belum bisa menjadi bisa dan yang belum paham menjadi paham. Maka untuk segala kebaikan yang telah tercurah dari beliau para dosen dan tenaga pendidik, kami mohon kepada seluruh wisudawan untuk bisa berdiri…

Mohon kepada para wisudawan untuk dapat memberikan applause terbaik kepada bapak/Ibu dosen yang ada di hadapan para wisudawan sekalian. Terimakasih bapak/Ibu Dosen dan tenaga pendidik sekalian.

Setiap perjuangan pasti membutuhkan alasan, bagi kami tidak sulit untuk menemukan alasan atas segala kerja keras, usaha tak kenal lelah, tangis air mata kegagalan, keringat pengorbanan hingga akhirnya bisa menyelesaikan ini semua. Kepada Ayah dan Ibu kami, kami ucapkan terimakasih. Ini semua untuk ayah dan Ibu. Untuk itu, Mohon kepada para wisudawan bisa memberikan applause kepada para Orang Tua yang ada di hadapan para wisudawan sekalian. Terimakasih.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Saya mohon maaf apabila ada kata yang tidak berkenan di hati hadirin sekalian. Saya tutup sambutan ini dengan sebuah kutipan dari pidato Barack Obama,

Jangan pernah mengabaikan suaramu. Karena dengannya kau mampu menunjukkan bahwa satu suara akan mengubah sebuah ruangan, apabila dia mampu mengubah ruangan dia akan mampu mengubah sebuah lingkungan, apabila dia mampu mengubah sebuah lingkungan, dia mampu untuk mengubah sebuah kota, apabila dia mampu mengubah kota, dia akan mampu mengubah sebuah bangsa. Dan apabila dia mampu mengubah sebuah bangsa, dia akan mampu mengubah dunia.”

Keep believing and keep moving forward!

Terimakasih.

Wassalamualaykum Wr. Wb.

Demikian kutipan pidato sambutan wisuda saya. Semoga diri ini selalu dikuatkan hatinya dan diteguhkan niatnya untuk mengusahakan hal-hal baik di jalan perjuangan!

Sama - sama.

Kesal sekali aku Tuhan, sudah letih dibuatnya kini asik lagi ia santai sambil sebatang dua batang sampai habis berbatang - batang tembakau yang di hisapnya.

Bau rokok. Mulutnya pun rasanya rokok.

Heran pula aku juga dengan ia, macam singa aku sudah marah - marah agar tak lagi kamarku ini penuh dengan bau asap mematikan, masih saja ia berani - beraninya santai menghisap penuh cinta sembari duduk di satu - satunya jendela kamarku yang besar.

Alasanku saja sebenarnya agar kamarku tak bau, tapi namanya juga melihat orang tersayang sedang mendekatkan diri dengan kematian, mau tak mau omelan - omelan harus keluar dari mulutku wahai sayang.

Tapi hari ini aku sampai malas buka suara, apalagi marah - marah.

Ya hitung - hitung agar tak merusak suasana karena tadi ia datang dan katanya sedang rindu dan sedang ingin sayang - sayangan.

Tapi dari yang netraku tangkap, ia lebih sayang dengan batang tembakau dibanding aku yang sedang baring memperhatikan ia dari ranjang.

“Kalau tidak suka, mau tidak mau kamu tetap harus suka,” katanya, tiba - tiba. Kaget aku.

“Pemaksa,” jawabku, ini pasti ia sedang masuk menjelajahi diamku, dan dugaannya benar, aku sedang kesal lalu memilih diam tentang batang - batangnya.

Ia tak langsung menjawab, masih menghisap kuat hingga pipinya yang tirus bertambah tirus, rahang tegasnya semakin terlihat.

“Memang, sejak pertama bertemu, kamu sudah tahu benar saya pemaksa.” Katanya setelah hembusan napasnya terhiasi oleh asap berbentuk bulatan - bulatan apik.

Ia masih menggunakan ‘saya’. Katanya, boleh penampilan urakan, pikiran liar asalkan tutur kata tetap sopan dan terlihat berpendidikan.

“Aku kan wanita yang baik, mengingatkan kekasihku agar ia tak cepat pergi meninggalkan aku menuju neraka hanya karena batang kecil itu.” Kataku, sambil menarik selimut untuk menutupi diriku lebih.

Ia terkekeh, habis sudah sebatang, ia mengambil batang yang baru, abu rokoknya ia buang dari jendela agar jatuh langsung mengenai lantai - lantai bumi.

“Harusnya menuju surga, bukan neraka, ah aku mengencani wanita pesimis.”

“Hei, aku ini realistis, kamu tidak ingat tadi kita habis melakukan dosa, ashar sudah mau habis, mandi saja belum kan.” Dumelku.

“Bagus, saya suka kerealistisan kamu, tapi tetap saya ingin masuk surga, agar ketemu bapak dan ibuk, sudah lama tak lihat mereka di dunia, masa di akhirat pun terpisah.”

Aku diam, bingung mau merespon apa aku, orangtuaku masih ada, sayangnya tidak dengan orangtuanya.

Perlahan matahari pamit, garisan orange kemerahan terlukis di langit luas, banyak yang mengagumi warna bernama senja itu. Apalagi para melankolis dengan masalah - masalah mereka yang tak jauh dari persoalan hati. Aku juga menyukai itu sebenarnya, tapi diam - diam saja ya, aku tak ingin dicaci sebagai pengagum keindahan semesta termasuk senjanya, habisnya, semesta suka bercanda.

Dari jendela kamarku, tak ada yang lebih indah dari pemandangan dirinya dengan senja bersamanya.

“Ras, saya merokok karena bapak,” katanya lagi setelah keheningan terjadi.

Tunggu, aku tak pernah mendengar ini.

“Bapak saya perokok ras, punya banyak tembakau dan cengkeh di rumah dulu, beliau suka bikin rokok sendiri, dikonsumsi sendiri, tapi melarang saya untuk menghisapnya. Dulu saya waktu masih sekolah dasar suka iseng bikin sendiri, mencicipinya pula. Tapi ketahuan bapak, lalu dipukuli saya Ras sampe biru - biru badan saya.” Ia menarik napas panjang, kulihat setelah senyum simpul tergaris di wajahnya. Seperti nostalgia.

Selama kami punya hubungan baru ini dia cerita tentang bapaknya. Kemarin - kamarin tak pernah, ia cuma bilang kalau orangtuanya sudah meninggal dan aku tak pernah tanya - tanya. Ibunya meninggal karena tertabrak, kalau tentang bapaknya ia tak pernah cerita.

Aku diam, menunggu ia melanjutkan.

Ia berdiri menjauh dari jendela, sudah gelap sempurna di luar sana, ia menutup jendela dan gorden lalu jalan menuju arah ranjang, berbaring di sampingku, terlentang dan menatap langit - langit kamar, sudah habis ternyata rokoknya.

“Bapak saya bilang, jangan bermain dengan rokok nanti saya kencaduan, tak baik untuk kesehatan, sama seperti kamu suka marah macam singa, tapi bapak main tangan, kalau kamu tidak.” Lanjutnya.

“Benar dugaan bapakmu, kamu kecanduan beneran kan, harusnya aku juga memukulmu biar nurut.” Kataku, masih dengan sedikit perasaan kesal.

Ia terkekeh geli lagi. Ah dasar.

“Ras, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bapak saya perokok berat, dan saya ingin menirunya, mungkin itu yang bisa saya ikuti dari dia, tak mungkin kan saya jadi orang pintar seperti dia, saya ini pria bodoh ras, kerja serabutan, dan kadang pencitraan.”

“Berarti aku lebih bodoh karena mau dengan pria bodoh, begitu?”

“Saya tidak bilang begitu.”

“Lalu?”

“Saya ini ingin seperti bapak, idola setiap anak adalah bapaknya sendiri, saya sudah mencoba hal yang baik - baik dari apa yang beliau contohkan, tapi yang saya bisa hanya menghisap batang tembakau itu.”

Aku menghela napas panjang. Ternayata alasannya cukup membuat tak masuk akal.

“Kamu saja yang tidak mencoba,” aku membenarkan posisi tidurku, menyampingkan diriku agar melihat dirinya lebih dekat. “Kamu sayang sekali ya dengan bapakmu?”

Ia menyeringai, “pertanyaan kamu mengapa sangat bodoh Ras? tentu saya sayang dengan bapak, benihnya berwujud saya sekarang, makanya merugilah saya kalau dari dirinya tak ada yang saya warisi. Minimal kalau ia tak bisa menjaga dirinya dengan baik dan menuju surga hanya karena rokok, maka saya harus bisa menjadi pecandu dan hidup labih lama dari dia.”

“Kamu juga bodoh, pernyataanmu dan prinsipmu itu salah, justru kalau bapak kamu pergi karena rokok, harusnya kamu bisa hidup lebih lama tanpa harus mencandu, bukan mengikuti jejaknya.” Aku memutar bola mata, “kamu bodoh sekali ternyata, meniru hal buruk dari bapakmu, beliau mati ya karena kebodohannya, memangnya kamu mau juga?” Rasanya kasar sekali ucapanku.

Kali ini ia tertawa lebih keras, bahkan sangat keras, aku kaget dan dahiku mengernyit, heran.

“Kalimatku tidak lucu, kenapa kau tertawa?” Tanyaku.

“Ras, Ras, omonganmu itu, kita itu sama, kamu tidak sadar ya, bukankah kamu juga sama, mewarisi apa yang ibuk kamu lakukan.”

Aku tambah mengernyit.

“Mewarisi hal yang buruk dan membawa celaka.” Lanjutnya.

Hah maksudnya apa? Aku tambah bingung, dan memilih untuk duduk di atas ranjang, ia juga begitu. Aku diam dulu dan kubiarkan ia bicara.

“Ras, kamu pernah cerita bahwa ibumu adalah wanita cerdas namun gampang membuka dan dibuat telanjang di depan Pria bahkan yang bukan suaminya.”

Biadab, aku tiba - tiba geram.

“Jadi maksudmu aku ini berani buka tubuhku karena mewarisi dari ibuku? Begitu?!”

Ia lagi - lagi meresponku dengan tawa. “Bukan hanya untuk saya, tapi dengan pria yang lain, dikamar mandimu ada kemeja pria dan sabun pria, manalagi secarik note yang tertempel di cerminmu, isinya ‘malam yang indah dan tubuhmu yang indah, nanti lagi ya Ras,’ itu bukan kemeja saya, sabun pria itu jelas bukan milik saya pula, dan tulisan di note itu bukan tulisan saya. Ah kamu ini suka menasehati saya untuk menjadi yang baik - baik tapi kamu sama saja.”

Aku terdiam. Tak bisa lagi berkata.

Bagaimana bisa, aku sebodoh itu. Astaga, benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ibukku seperti itu dan lantas aku pula, bodohnya aku tak sadar.

Kemarin lusa memang ada teman priaku yang berkunjung, ia sengaja katanya ingin menginap, dan langsung aku izinkan, tapi ya namanya pria dan wanita yang berada dalam satu ruangan dan sudah dewasa, terjadilah hal dosa lainnya. Dan hal itu sudah terjadi berulang kali dengan teman priaku yang lain.

Astaga, betapa bodohnya aku menceramahi kekasihku sang pecandu rokok untuk berhenti melakukan hal yang ia sukai, namun ternyata aku lupa berkaca, bahwa aku juga kecanduan dengan hal yang masih tabu untuk aku tuliskan.

Astaga, ternyata, kami sama - sama menjadi korban dari 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya’ sayangnya ia ingin membentuk dan aku sudah terbentuk.

Padahal senantiasa pula ibuku bilang jangan berani - beraninya membuka tubuh di depan pria. Dan bapaknya juga bilang jangan sekali - kalinya bermain dengan batang tembakau itu.
Nanti kami kecanduan.

Ternyata kami sama. Kecanduan.

“Ras, sudahlah, buah yang jatuh tak jauh dari pohonya, kadang ada yang rusak dan cacat juga.”

***

Rntaap, Yog.
Umat Islam dan Wacana Poros Kemaritiman Dunia

@edgarhamas


Nenek Moyangku orang pelaut

Gemar mengarung luas samudera

Menerjang ombak, tiada takut

Menempuh badai, sudah biasa

(Lagu Anak Nasional, Nenek Moyangku Orang Pelaut)

Pemerintahan Presiden Joko Widodo sudah mencapai tiga tahun jabatannya. Sekilas dilihat dan diseksamai, pernak-pernik pemerintah kita sekarang diisi dengan agenda pembangunan infrastruktur yang sangat masif; jembatan-jembatan dibangun, jalan tol diperbaiki kualitasnya, transportasi diperbaharui, dan banyak lagi. Namun, satu hal diantara janji dan komitmen Bapak Jokowi dan Jusuf Kalla selama kampanye mereka dalam Pilpres 2014, adalah menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Nah, itu dia satu gagasan yang bagi saya fantastis, pertama karena judulnya keren, kedua karena program ini punya historical value yang tinggi.

Kemudian akhirnya muncul pertanyaan; apa pentingnya menjadi poros kemaritiman? Toh telah ada daratan dan udara yang memungkinkan perpindahan logistik bisa lebih cepat, iya kan?

Tidak, tidak semudah itu ‘menghakimi’ kemaritiman dan segala yang ada di dalamnya. Perbincangan kita dalam tulisan itu bukan menjangkau detail ilmu Geografi dan Kelautan yang jelas tidak ada dalam Muqarrar Universitas Al Azhar. Namun lebih dari itu, perlulah terbit di cakrawala idea kita pada sebuah tinjauan historis dan proyeksi masa depan dari sebuah peradaban besar, yakni sebagai bangsa Indonesia dan sebagai Umat Islam. Sebab, selain mesti memiliki spesifikasi terhadap satu disiplin ilmu, perlulah kita menjadi personal dengan generalisasi wawasan.

“Jika kita ingin menjadi bangsa pemenang, bangsa yang disegani, bangsa yang dihormati di kawasan ini dan dunia, kita harus memiliki kekuatan maritim yang kuat”, tutur Rizal Ramli yang pernah menjadi Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya, “termasuk kapal-kapal dagangnya, kapal-kapal perikanannya. Siapa yang menguasai laut, akan menguasai dunia.”

Senada dengan itu, baik Presiden Jokowi dan para Ilmuwan seperti Dr Hilmar Farid mengangguk setuju dengan koneksi amat kuat antara proyek besar poros kemaritiman dengan romantisme sejarah Indonesia yang identik dengan nuansa kelautan.

“Kita belajar tentang Majapahit”, tutur Dr Hilmar, “tapi bukan tentang kejayaannya di masa lalu, melainkan mengenai pergulatan kekuatan yang memungkinkannya muncul sebagai kerajaan besar”, yakni dalam dunia kemaritiman, seperti dilansir situs maritim.go.id.

Pun ketika masa sekolah dasar, kita diajari guru kita untuk mengamini sebuah gelar yang disematkan untuk kerajaan Sriwijaya, yakni “Kerajaan Maritim”, yang kelak sekarang dibawa menjadi gelar baru Indonesia kita, “Negara Maritim”, tentu bukan tanpa sebab.

Mengapa Kelautan Menjadi Sangat Penting?

Banyak sekali faktor yang membuat kelautan menjadi satu proyek besar untuk dibangun di atasnya menara-menara gagasan dan ide. Namun izinkan kami melirik proyek besar ini dari sudut pandang sederhana, sebagai mahasiswa penuntut ilmu agama di Negeri Mesir, diiringi wawasan kilas sejarah dan peradaban Islam yang juga pernah menjadikan Mesir sebagai poros kemaritiman dunia.

Salah satu sejarawan yang menggaungkan perlunya anak-anak muda Muslim untuk mempelajari kemaritiman adalah DR Ahmad Mansur Suryanegara, Dosen Sejarah Universitas Indonesia. Lewat karya ‘Api Sejarah’ serta ‘Al-Quran dan Kelautan; Sejarah Maritim yang Terupakan’, beliau mencoba menyusun kembali puzzle sejarah dan menjelaskan pada kita betapa pentingnya menjadi poros maritim; sebab ada korelasi antara puncak kejayaan ‘Golden Ages’ Umat Islam dengan hegemoni kemaritiman negeri-negeri muslimin di waktu yang sama, mulai dari Asad bin Al Furat sang ulama penakluk Sicilia, kemegahan Aljazair sebagai pelabuhan masyhur internasional, sampai Admiral Piri Reis yang menemukan Amerika untuk kali pertama.

Pun sama dengan N.A Baloch, sejarawan Pakistan yang menggemakan Maritim Theory. Beliau dengan lugas menyebutkan, bahwa di masa kejayaannya, Umat Islam memiliki banyak navigator/mualim dan wirausahawan muslim yang dinamis dalam penguasaan maritim dan pasar. Korelasinya sangat lugas antara penguasaan Kaum Muslimin atas 2/3 samudera dunia dengan sampainya risalah agama Islam ke seluruh penjuru bumi, khususnya belahan bumi di Asia Timur dan Tenggara yang diislamkan lewat medium perdagangan di wilayah maritim.

Simpulan paling sederhananya; penguasaan dan dominasi atas wilayah maritim berdampak pada grafik naik dalam siklus peradaban Umat Islam, bahkan peradaban secara umum.

Umat Islam dan Legenda Kelautan yang Menyejarah

“Sesungguhnya Futuhat Islamiyah di masa kekhalifahan Abu Bakr As Shiddiq dan Umar ibn Al Khattab menjadi titik tolak terbitnya kekuatan maritim Islam dan kekuasaannya atas Laut Mediterania”, tulis sejarawan muslim yang mengambil spesifikasi dalam pengembangan atlas sejarah, DR Syauqi Abu Khalil dalam bukunya Fath Ash Shaqliyah bi Qiyadati Asad bin Furat, “khususnya hegemoni Umat Islam atas pantai-pantai Syam dan Mesir, yang juga menandakan berakhirnya dominasi kekuatan maritim Romawi Timur atas Laut Mediterania.”

“Adalah Khalifah ketiga Umat Islam, Utsman ibn Affan, yang pertamakali mengizinkan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk bertempur dengan Romawi Timur lewat medan maritim”, tulis DR Syauqi. Ekspedisi kelautan pertama adalah pembebasan Cyprus dari tangan Romawi Timur, yang diperkirakan oleh para sejarawan, saat itu Umat Islam telah memiliki 1900 kapal perang yang kokoh dan efisien.

Adapun momentum paling menyejarah pengubah peta kekuatan maritim internasional kala itu, adalah pertempuran Dzat Ash Shawary pada tahun 32 H/656 M, yang dalam literatur Eropa bertajub Battle of Phoenix, ketika 200 kapal Umat Islam yang bertolak dari Alexandria, dipimpin oleh seorang sahabat bernama Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, melawan 1000 kapal perang Romawi Timur di wilayah laut bernama Lycia dekat Turki sekarang ini. Kaum Muslimin secara telak memenangkan pertepuran laut pertama ini, dan “akhirnya dunia mengetahui ada sebuah kekuatan besar nan baru, yang berhasil memukul mundur armada maritim terkuat di dunia saat itu”, rekam DR Syauqi Abu Khalil.

Fenomena ‘Arsenal’ dan ‘Admiral’

Semenjak kekuatan maritim Umat Islam menguasai Laut Mediterania, mereka menjadi penggagas ide dan peradaban baru yang menginspirasi dunia. Melalui kekuatan maritim, kaum Muslimin menyiarkan pemikiran, barang dagangan hingga bahasa ke seluruh pelosok Eropa. Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Adil Kamal dalam Athlas Al Futuhat Al Islamiyah, begitupula dalam buku Tarikh Ghazawat Al ‘Arab karya Syakib Arselan, Umat Islam secara perlahan namun pasti menguasai pos-pos Laut Mediterania seperti Cyprus (635 M), Rhodes (672 M), Crete (825 M), Sicilia (827 M), Malta (869 M), Palermo (902 M) dan Sardinia (1015 M).

Bahkan sebuah memorial sejarah terpahat megah dalam buku ‘Allah’s Sonne über dem Abendland’ (Mentari Allah bersinar atas Barat; Keutaamaan Arab atas Eropa) karya Sigrid Hunke seorang orientalis Jerman, bahwa banyak sekali kosakata kemaritiman dalam bahasa Inggris yang diserap dari istilah-istilah kelautan Umat Islam. Misalnya ‘cable’ diserap dari kata ‘habl’, kata ‘arsenal’ yang bermakna “gudang senjata” diserap dari kata ‘daar ash shina’ah’ yang bermakna hampir sama, sedang ‘admiral’ yang bermakna “laksamana” diserap dari kata ‘amir al bahr’ yang bermakna “pemimpin laut.” Marvelous, isn’t it?

“Apakah Mungkin Melukis Ulang Sejarah Kemaritiman?”

Ada banyak sekali fenomena yang membuat kita bergeleng kepala; tentang umat Islam umumnya dan bangsa Indonesia khususnya, yang memiliki bilik-bilik sejarah megah, namun belum sepenuhnya diolah menjadi pemantik untuk memproyeksi tangga kejayaan di masa depan. Masih banyak legenda kemaritiman Umat Islam -baik abad pertengahan maupun kontemporer- yang menyuguhkan preseden (hal yang telah terjadi lebih dahulu dan dapat dipakai sebagai acuan) bahwa kita punya peluang menjadi maritim power di zaman baru.

Hiruk pikuk dunia tidak lagi sebatas bipolar; antara Eropa-Islam, Komunis-Kapitalis, Amerika Serikat-Rusia. Semua itu telah samar-samar lalu runtuh. Hari ini telah timbul sebuah realitas bahwa semua kekuatan dunia memiliki peluang untuk menjadi yang terbaik diantara yang lain, dalam artian blok-blok Internasional telah berubah menjadi multipolar. Berangkat dari realitas itu, kesadaran putra bangsa Indonesia terhadap ‘bakat maritim’ negerinya harus dinarasikan dengan masif. Apalagi kita, penuntut ilmu di luar negeri, mau tidak mau, selain harus mendalami spesifikasi yang kita geluti, kita punya tugas tambahan untuk menyeksamai perubahan dunia; kemudian memetakan langkah agar bisa dengan tepat mengisi kekosongan narasi untuk Indonesia.

Wallahu A’lam.

(ditulis tahun 2016 untuk Majalah PPMI Mesir)

Budaya Apresiasi

“Empat lagi.” Komen saya dalam hati.

Melihat nilai anak yang belajar privat dengan saya lagi - lagi mendapat nilai empat puluh, di situ saya merasa gagal T^T. Sebagai seorang pengajar salah satu parameter keberhasilan adalah ketika anak mendapat nilai bagus. Tapi Rayyan sudah dua kali ini mendapat nilai empat puluh dipelajaran matematika. Namanya Rayyan, Rayyan Samudra. Anak laki - laki yang polos, sekarang duduk di kelas 5 SD. Rayyan tipikal anak yang lugu  sekali, tipe yang rasanya ingin cubit - cubit pipinya karena gemes. Tipe adik kesayangan yang rasanya kalau sudah besar dia akan jadi good boy banget lah.

Saya heran dengan nilainya, setiap kali mau ujian kami selalu belajar sampai larut. Yang bikin terenyuh adalah Rayyan ini lemah matematika, tapi dia belajar sampai kadang harus dipaksa – paksa melek matanya. Tapi setiap kali ulangan nilainya selalu saja Her (bahasa lain dari remedial). Setiap kali hasil ulangannya keluar, saya selalu mempelajari dimana letak - letak kesalahan Rayyan. Ulangan Rayyan biasanya essai dan sungguh menyedihkan melihat bagaimana cara guru Rayyan menilai. Saya kemudian berdiskusi dengan ibunya Rayyan yang juga seorang dosen. Sikap kami sama, sama – sama kecewa dengan cara guru matematika Rayyan menilai ulangan seorang anak SD. Begini penjelasannya, dalam deretan soal tersebut tiap satu soal ulangan terdapat dua perintah, misalnya saja hitunglah operasi pecahan dan sederhanakanlah. Logis sekali sebagai pengajar memahami bahwa satu soal dengan dua perintah berarti setiap perintahnya memiliki poin masing – masing. Yang apabila salah pada satu poin dan benar pada poin lain, jawaban soal tersebut masih mendapatkan nilai paling tidak setengahnya dari total poin soal tersebut. Tapi apa yang dilakukan oleh guru matematika Rayyan? Dia mencoret jawaban soal tersebut dan sama sekali tidak memberi poin padahal Rayyan salah hanya pada bagian penyederhanaan. Sesuatu yang amat sering dilakukan oleh anak laki – laki dalam ujian, tidak teliti dalam menghitung hasilnya. Saya membaca alur berpikir Rayyan dalam selembar jawaban yang saya tengah pegang, Rayyan memahami konsep soal tersebut dan benar dalam menjawab tahap demi tahapan perhitungan, tapi salah dibagian ujung. Jika saja proses perhitungan diberi poin paling tidak Rayyan bisa mencapai nilai enam puluh atau tujuh puluh. Sebuah nilai yang sama – sama Her tapi berefek jauh berbeda pada psikologis seorang anak. Sebuah nilai yang tidak merugikan guru tersebut, tapi berefek pada terjaganya kepercayaan diri seorang anak dan rasa menghargai usaha seorang anak dalam menaklukkan momok pelajaran di negeri kita ini. Ah, seandainya guru tersebut tahu, bahwa tidak semua anak yang mendapat nilai jelek itu pemalas. Saya melihat salah satu contohnya, anak lugu yang selalu belajar keras dan selalu bisa saat diberi latihan di rumah tapi mendapat nilai jelek saat ujian.

Yang mencengangkan, 85% anak di sekolah Rayyan senasib dengan Rayyan. Mendapat nilai 4,3, bahkan 1. Orang tua dan wali kelas saja sadar, siapa yang bermasalah dalam hal ini apakah itu siswa, ataukah itu guru. Saya memahami guru tersebut bisa saja berdalih zero tolerance untuk kesalahan – kesalahan. Tapi apakah dia menyadari bahwa dia tengah mengajar anak Sekolah Dasar, yang mana guru baginya adalah segalanya. Ketika seorang guru mengatakan si anak pintar, maka anak tersebut akan mempercayai hal itu dan melakukan hal – hal yang mencerminkan kepintaran, anak tersebut akan belajar rajin dan ingin mendapat nilai bagus. Tapi jika seorang guru bilang anak itu bodoh, maka anak itu akan memahami kalau dia bodoh dan takkan mungkin bisa dapat nilai bagus. Alhasil anak itu akan malas belajar karena belajar atau tidak dia merasa akan tetap bodoh. Jangankan anak SD, mahasiswa saja direvisi skripsinya berkali – kali bisa turun kepercayaan dirinya bahkan sampai ada yang bunuh diri karena skripsi yang gak selesai selesai. Itu mahasiswa, yang sudah memiliki modal kepercayaan diri dan nilai – nilai yang kuat dalam dirinya. Apa kabar anak SD yang baru belajar tentang kehidupan dan belajar memupuk kepercayaan diri? Jangan – jangan banyak anak yang tidak terlihat cemerlang bukan karena dia bodoh atau pemalas, tapi karena kekurangan apresiasi dalam pola pendidikannya. Di australia atau negara – negara maju lainnya, budaya apresiasi begitu kental dirasakan dalam pendidikan. Seorang anak menulis huruf B yang urek urekan saja mendapat dua jempol dari gurunya ‘Well done! Well done’ kata sang guru mantap. Alhasil anak merasa bahwa dirinya bisa, dirinya istimewa, dan akhirnya memiliki keinginan untuk terus tumbuh menjadi istimewa. Yang menyedihkan dalam pendidikan di negara kita, guru – guru seperti guru matematika Rayyan masih banyak. Yang minim apresiasi dan menjatuhkan dalam mengajar. Semoga Allah membuka pintu kesadaran pada guru – guru tersebut. Karena tanpa mereka sadari, mereka bisa saja merusak kepercayaan diri seorang anak. Bahkan merusak keistimewaan yang dimilikinya.

 “Rayyan perasaannya gimana kalau dapet nilai jelek?”

“Sedih.” Katanya sambil berlinang air mata dan menunduk.

“Sedihnya kenapa?”

“Soalnya udah berusaha tapi tetep jelek.”

Andai guru itu melihat bagaimana ekspresi Rayyan ketika saya tanya perasaannya, apakah ia akan menyadari dan mengubah caranya dalam mendidik dan menghargai seorang anak? Entahlah…

Padahal mama Rayyan bilang, saat pulang usai ujian Rayyan sumringah sambil memeluk pinggang ibunya dan berkata yakin “Ma, adek bisa ujiannya. Kayaknya adek gak Her deh ma kali ini. Tujuh puluh Rayyan dapet kayaknya ma.” Karena memang menurut  saya Rayyan benar dengan keyakinannya, lembar jawaban  Rayyan layak diberi nilai 70, jika saja kita mengenal budaya apresiasi dalam pendidikan kita. Kita mampu melihat proses dalam jawaban tersebut tahap demi tahap. Bukan hanya memberi tanda silang pada ujung jawaban karena salah. Sebab pendidik bukanlah seorang algojo. Pendidik itu membangun, bukan menghakimi.

——

Jakarta, 10 Mei 2017

©Alizeti

Perempuan yang Gemar Membaca

Aku mencintaimu seperti aku mencintai puisi acak yang tak sesuai rima. Jauh sebelum kau hadir, aku kerap membayangkan kau berada di sisi menemaniku bersua dengan sepi. Sembari aku membaca buku, kau bisa meneduhkan lelahmu tanpa perlu bertanya-tanya. Kau mungkin jauh berbeda denganku yang lebih suka membenamkan diri; membaca beberapa buku di berbagai kesempatan waktu. Kau mungkin, lebih suka menonton film atau pergi menjamah tempat-tempat baru untuk berpetualang.

Kau tak perlu ragu-ragu mencintai dan menjadikan perempuan yang gemar membaca sebagai pendamping hidupmu. Sebab, kau tak akan merasa khawatir jika anak-anakmu kelak akan kekurangan wawasan. Justru kau beruntung karena cara pandangnya luas, gagasannya liar dan sesekali membuatmu kagum ketika ia mampu membuat orang sekitar terkesan.

Kau tahu mengapa aku lebih suka membaca? Karena aku sadar anak-anakmu maksudku anak-anak kita perlu seorang ibu, yang mampu menjadi sekolah pertama sebagai dasar menuju masa depannya. Dan aku sadar seorang perempuan jauh sebelum ia menjadi ibu, setidaknya membekali diri dengan pengetahuan lewat membaca. Disamping, keinginannya mencapai pendidikan tinggi.

Praktek Keagamaan di Saudi Arabia dan Fakta yang Dirasakan Masyarakat di Sana
👤 Dr. Abdullah Roy

Masyarakat dunia bisa dipastikan mengetahui adanya Negara Saudi Arabia yang terletak di kawasan yang dikenal dengan Timur Tengah, dan mengenalnya sebagai satu-satunya negara yang menerapkan dan menetapkan Islam sebagai agama resmi negara.

Tetapi sejauh mana pengetahuan masyarakat dunia selama ini terutama lantaran penerapan Islam ? Berikut adalah catatan singkat yang dirasakan dan dilihat secara langsung, yang tentu tak terlepas dengan praktek keagamaan di Saudi Arabia. Dan ini merupakan sebagian kecil dari praktek tersebut.

Semoga Allâh memudahkan kita untuk mengambil pelajaran yang baik dari yang kita lihat di Negara Saudi Arabia ini.

 

1. Pendidikan

Kerajaan Saudi Arabia memisahkan antara sekolah laki-laki dan wanita sejak tingkat sekolah dasar (SD). Yang demikian supaya anak-anak terbiasa dengan adab Islam dalam bergaul dengan lawan jenis. Siswi, sejak SD tidak dibolehkan memakai rok pendek.

Siswi dari kelas 1 sampai 3 SD masih diberi kelonggaran oleh sekolah dan keluarga untuk tidak memakai kerudung. Tetapi kalau sudah sampai kelas 4 dan kelihatan sudah besar dan bisa menimbulkan fitnah,

maka sudah dibiasakan memakai kerudung ketika ke sekolah, meski pada asalnya tidak wajib sampai dia baligh. Berbeda jika Siswi sudah memasuki bangku setingkat SMP, ia sudah diwajibkan memakai cadar ketika sekolah.

Siswi diajar guru wanita, sedangkan siswa diajar oleh guru laki-laki. Dan murid-murid dari TK sampai SD sudah dibiasakan membaca dzikir pagi yang disyari’atkan ketika awal belajar.

Kurikulum sekolah di Saudi Arabia juga penuh dengan nuansa Islami. Hafalan al-Qur`ân merupakan muatan tetap dari sejak TK sampai kuliah. Anak yang lulus SD minimal telah menghafal 2 juz dari belakang (Juz 29 dan Juz 30).

Pelajaran agama dipisahkan dari hafalan al-Qur`ân. Dan anak-anak sejak TK sudah diajarkan tiga landasan utama, yaitu: mengenal Allâh, mengenal Nabi , mengenal agama, tiga pertanyaan yang kelak kita ditanya tentangnya.

Pelajaran lainnya, seperti IPA, IPS, Matematika, dan lain-lain tidak jarang materinya dikaitkan dengan agama. Misalnya, bagaimana mengenal Allâh dengan melihat kekuasaanya di alam semesta, yang menunjukkan bahwa ilmu-ilmu tersebut tidak bertentangan dengan agama.

Di Saudi terdapat sekolah SD yang memiliki prioritas al-Qur`an lebih daripada SD lainnya. Menerapkan jam hafalan lebih banyak. Dan SD seperti ini menjadi rebutan banyak orang. Setiap tahunnya, murid-murid SD ini mendapat beasiswa dari kerajaan.

 

2. Kesehatan

Di Saudi Arabia antara pasien laki-laki dan wanita dipisahkan. Demikian juga dokter laki-laki untuk laki-laki, dan dokter wanita untuk wanita, kecuali dalam beberapa keadaan darurat, atau keterbatasan tenaga medis.

Sering ditemui saat menunggu pasien, para dokter di kamar-kamar praktek mereka membaca al-Qur`ân. Komputer mereka terisi dengan murattal. Semuanya itu untuk memanfaatkan waktu supaya tidak terbuang sia-sia.

Rasulullâh bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

” Dua nikmat yang manusia banyak terlena di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang”

 

Ada diantara dokter-dokter itu yang hafal al-Qur`ân, bahkan memiliki sanad al-Qur`ân dan mengajarkannya kepada orang lain. Pagi bekerja sebagai dokter dan sore hari mengajar al-Qur`ân di masjid.

Tidak jarang mereka menasihati pasien untuk bertawakkal kepada Allâh dan tidak bertawakkal kepada dokter atau obat. Mereka memahami bahwa dokter dan obat hanya sebab, dan Allâh yang memberikan kesembuhan.

Apabila kedatangan pasien anak kecil, terkadang anak-anak itu ditanya tentang hafalan al-Qur`ânnya sudah sampai mana.

Para dokter wanita memakai cadar adalah sesuatu yang biasa. Demikian pula dokter berjenggot tebal. Ketika shalat, mereka menunaikan shalat berjamaah kecuali dalam keadaan darurat yang mengharuskan keberadaanya bersama pasien.

 

3. Sosial

Orang-orang kaya di Saudi Arabia menyadari jika didalam harta mereka terdapat hak orang lain. Banyak yayasan sosial yang berdiri untuk menjadi jembatan antara orang kaya dengan orang miskin dan yang membutuhkan, seperti pembagian zakat harta, sembako, alat-alat dan perkakas rumah tangga.

Orang-orang miskin dan membutuhkan yang mendaftar dan terpenuhi syarat-syaratnya akan mendapatkan kesempatan menerima bantuan.

Banyak diantara orang-orang kaya tersebut yang mewaqafkan bangunan untuk tempat tinggal, mewaqafkan masjid, dan lain-lain. Mereka berlomba menginfakkan hartanya di jalan Allâh.

Allâh berfirman yang artinya: ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir,

pada tiap-tiap bulir ada seratus biji, Allâh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui (QS al-Baqarah/2:261).

 

Ketika Bulan Ramadhan tiba, semakin terlihat kedermawanan mereka. Mulai dari berbuka puasa, membebaskan orang yang dipenjara karena terlilit hutang, membagikan pakaian untuk lebaran, shadaqah, dan lain-lain.

Oleh karena itu, orang-orang miskin di Saudi tidak iri dengan orang-orang kaya. Dan orang kayapun tidak menghina si miskin. Masing-masing melaksanakan kewajibannya.

Ibnu ‘Abbâs berkata :

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ

” Dahulu Rasûlullâh Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau sangat dermawan ketika Ramadhan saat ditemui (malaikat) Jibril (Muttafaqun ‘alaihi).

 

4. Keamanan

Hal yang sangat dirasakan di Negara Saudi Arabia ini adalah nikmat keamanan. Seseorang tidak takut melakukan perjalanan jauh sekeluarga pada malam hari kecuali kepada Allâh . Terminal-terminalnya jangan dibayangkan seperti di negara yang lain, yang sering terjadi tindak kriminal.

Mobil-mobil pribadi di Saudi tidak perlu disimpan rapat-rapat di garasi. Pada malam hari, barang-barang dagangan milik pedagang kaki lima di sekitar Masjid Nabawi dibiarkan tergeletak saja di luar dengan ditutup kain sampai pagi tanpa ada yang mengambilnya.

Al-hamdulillâh, semua ini merupakan nikmat dari Allâh, karena mereka mau menerapkan syariat Islam. Masyarakat di Saudi ditanamkan rasa takut kepada Allâh dan rasa takut terhadap hari pembalasan, yang sedikit banyak mempengaruhi perilaku mereka sehari-hari.

 

5. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Sepengetahuan penulis, Negara Saudi Arabia adalah satu-satunya negara yang memiliki polisi agama resmi yang tergabung dalam Haiah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Kedudukan mereka sejajar dengan polisi lain, dan berada di bawah Kementrian Dalam Negeri.

Haiah Amar Ma’rûf Nahi Mungkar ini jangan disamakan dengan ormas yang ada di negara kita (Indonesia), karena Haiah di Saudi adalah bagian dari aparat negara.

Mereka berstatus pegawai negeri, dan diberi kewenangan yang terbatas. Mereka tidak berseragam seperti angkatan lain, tetapi mereka lebih disegani daripada polisi keamanan.

Tugas polisi agama ini memberantas kemungkaran, baik dalam bidang aqidah, seperti pemberantasan tukang sihir, dukun dan lain-lain, maupun dalam bidang akhlak, seperti pemberantasan pacaran, minuman keras dan sebagainya.

Di samping itu, juga menertibkan penegakan syiar-syiar Islam, seperti shalat berjamaah. Mereka melakukan patroli menjelang (waktu) shalat untuk mengajak manusia mendirikan shalat berjamaah dan menghentikan kegiatan lain,

seperti berdagang di toko-toko, pasar-pasar, pom-pom bensin, ataupun tempat lainnya. Begitu pula tempat-tempat atau acara-acara yang diperkirakan digunakan untuk bermaksiat,

akan dikirim pasukan dari pihak Haiah Ma’ruf Nahi Mungkar, dan bagi warga yang melanggarnya akan dikenakan denda. Inilah yang membuat kokoh negara minyak ini.

Allâh berfirman yang artinya: ”Dan hendaklah ada diantara kalian yang mengajak kepada kebaikan dan memerintah kepada perbuatan baik, dan melarang dari kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang beruntung ( QS Ali ‘Imrân/3:104).

 

6. Ditegakkan Hukum Islam

Di Saudi Arabia, orang yang membunuh setelah melalui proses peradilan yang syar’i, akan mendapatkan qishâsh (pembalasan) bunuh –tentunya- dengan cara yang disyari’atkan. Yaitu dipenggal lehernya dengan pedang di hadapan orang banyak.

Biasanya, sebelum dihukum mati, orang yang mendapat qishâsh ini dinasihati untuk bertaubat dan diingatkan tentang keutamaan akhirat diatas dunia. Adapun pelajaran bagi yang lain, supaya tidak mudah menumpahkan darah manusia.

Allâh berfirman yang artinya: Dan dalam qhishâsh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa (QS al-Baqarah/2:179).

 

7. Saling Mendoakan

Diantara kebiasaan baik orang-orang Saudi Arabia adalah bila bertemu mereka akan saling mendoakan antara yang satu dengan lainnya. Seperti mendoakan agar senantiasa diberi keselamatan, keberkahan, rahmat dari Allâh, dan lainnya.

Kebiasaan saling mendoakan ini tentu membawa pengaruh terhadap keharmonisan hubungan diantara masyarakat.

 

8. Tentara Dan Polisi Berjenggot

Di Kerajaan Saudi Arabia, kita akan terbiasa mendapatkan tentara dan polisi itu berjenggot, karena membiarkan jenggot bagi laki-laki merupakan kewajiban, dan ini umum baik bagi polisi ataupun lainnya.

Rasûlullâh bersabda:

أَحْفُوْا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوْا اللِّحَى

Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot (HR al-Bukhâri, dari Abdullâh bin ‘Umar).

 

Demikian pula banyak diantara mereka yang memakai celana di atas mata kaki untuk mengamalkan sabda Nabi :

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ

Apa yang ada di bawah kedua mata kaki dari sarung ada di neraka (HR al-Bukhâri).

 

Banyak polisi-polisi yang berhenti mampir ke masjid-masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Ini semua tidak mengganggu tugas mereka. Beberapa waktu bahkan diadakan perlombaan hafalan al-Qur`ân untuk kalangan polisi dan tentara.

 

9. Supermarket

Apabila kita memasuki supermarket di Saudi Arabia, maka kita tidak akan mendengarkan lag-lagu diputar keras-keras. Kebanyakan tidak ada suara, atau terkadang yang diputar adalah murattal al-Qur`ân.

Lima belas atau tiga puluh menit sebelum waktu shalat tiba, para pembeli sudah diminta keluar meninggalkan supermarket untuk mengerjakan shalat.

Allâh berfirman yang artinya: ”Maka tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat adalah kewajiban yang sudah ditentukan waktunya (QS an Nisâ`/4:103).

 

10. Al-Qur`ân

Perhatian pemerintahan Saudi terhadap al-Qur`ân sangatlah besar. Mulai dari percetakan khusus al-Qur`ân yang di dalamnya bergabung para Ulama dan syaikh-syaikh yang ahli dalam bidang al-Qur`ân, penulisannya, cara membacanya, tafsirnya, dan lain-lain.

Tahfizh al-Qur`ân juga semarak. Hampir setiap kampung terdapat masjid yang mengadakan halaqah tahfizh al-Qur`ân, biasanya untuk anak laki-laki. Untuk laki-laki dewasa juga ada, meski tidak sebanyak halaqah tahfizh anak-anak.

Sedangkan untuk tahfizh wanita, baik anak-anak maupun dewasa diadakan di sekolah khusus tertutup bukan di masjid, kecuali di masjid besar seperti Masjid Nabawi, karena memang tempatnya memungkinkan.

Tahfizh al-Qur`ân ini biasanya dilaksanakan setelah Ashar, karena waktu pagi untuk belajar di sekolah. Dan yang tidak sekolah pada pagi hari banyak diantara mereka yang memilih tahfizh pagi hari.

Di Saudi juga ada lembaga yang kegiatannya terfokus pada tahfizh bagi orang lanjut usia. Banyak diantara orang tua yang hafal al-Qur`ân, padahal umurnya sudah lebih dari 50 tahun.

 

11. Shalat Istisqâ`

Ketika lama tidak hujan, biasanya ada perintah langsung dari pemerintah kepada masjid-masjid di seluruh penjuru negeri untuk mendirikan shalat Istisqâ`, yaitu shalat minta hujan. untuk meneladani Rasûlullâh.

 

12. Shalat Jama’ah

Begitu adzan berkumandang, kantor-kantor, toko-toko, dan pusat perbelanjaan segera tutup. Mobil patroli Badan Amar Ma’ruf Nahi Munkar mulai bergerak memasuki jalan dan gang di perkampungan.

Dengan pengeras suara di tangan, mereka mengajak orang ke masjid, mengingatkan mereka yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka, dan menindak toko atau kantor yang belum tutup. Surat ijin usaha mereka bisa dicabut karena kesalahan itu.

Kami tidak tahu, apakah ada pemandangan seperti ini di negeri lain ? Para Ulama Saudi memang pada umumnya memfatwakan wajibnya shalat jamaah.

Di kampung tempat penulis tinggal yang tidak begitu padat, masjid memiliki tujuh shaf yang masing-masing bisa diisi sekitar tiga puluh orang. Saat shalat Maghrib dan Isya, seluruh shaf ini biasanya terisi penuh. Sedangkan di waktu shalat yang lain, biasanya terisi lebih dari setengah.

Seorang jamaah umrah yang pernah berkunjung mengatakan bahwa suasana shalat jamaah di sini seperti suasana shalat Ied di kampungnya. Mungkin dia sedang berhiperbola, tapi bisa jadi juga dia benar.

 

13. Keamanan

Tidak berlebihan jika kami mengatakan bahwa Arab Saudi adalah salah satu negeri paling aman di dunia saat ini. Dahulu jalur haji merupakan jalur maut karena hadangan para perampok. Saat itu perjalanan haji adalah perjalanan yang menakutkan,

sehingga saat berpamitan kepada handai tolan, mereka dilepas dengan kekhawatiran tidak akan bertemu lagi. Kondisi itu berubah setelah Raja Abdul Aziz –pendiri dinasti Saudi ketiga- menjadi penguasa Jazirah Arab.

Beliau menugaskan setiap kabilah untuk menjaga keamanan wilayah masing-masing. Jika sampai ada jamaah haji yang dirampok atau dibunuh di suatu wilayah, beliau menghukum kabilah yang tinggal di wilayah itu. Sejak saat itu, jamaah haji bisa tenang dalam menjalani perjalanan ibadah mereka.

Pada masa sekarang, hampir-hampir tidak ada keluarga di Saudi yang tidak memiliki mobil, termasuk golongan miskin sekalipun. Bahkan hampir setiap pria dewasa memiliki mobil sendiri. Namun sebagian besar rumah tidak memiliki garasi.

Mobil-mobil itu hanya mereka parkir di pinggir jalan. Begitu sepanjang waktu tanpa ada kekhawatiran hilang. Berarti tidak ada pencurian disana ?… Ada, tapi jarang, padahal kesempatan untuk berbuat jahat begitu besar…

Seorang kawan pernah memasuki terminal bus kota Jeddah –kota terbesar kedua- menjelang Shubuh dengan membawa tujuh koli bagasi sendirian. Namun ternyata dia tidak menemui gangguan apapun.

Saat waktu shalat Shubuh tiba, dia pergi ke mushalla terminal dan meninggalkan barang sebanyak itu begitu saja di pinggir jalan dan barang itu tidak hilang. Bayangkan jika hal serupa terjadi di Jakarta atau Surabaya!

Bahkan saat banyak negara Timur Tengah yang lain dilanda gejolak dalam beberapa tahun belakangan, keamanan Arab Saudi tetap stabil, dan semoga terus demikian. Negeri ini seolah-olah merupakan anomali.

Saat pemberontakan di negara-negara tetangga dikobarkan dari mimbar-mimbar masjid, para khatib Arab Saudi serentak membela dan mendoakan kebaikan bagi Raja Abdullah rahimakumullah dalam setiap mimbar Jumat. Sekarang dipimpin oleh raja Salman.

Paparan ini mengingatkan kita akan janji Allâh untuk para penegak tauhid, seperti dalam ayat-ayat berikut yang artinya: Dan Allâh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh,

bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka,

sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap mengibadahi-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”(QS. an-Nûr/24:55)

 

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. al-An’âm/6:82).

 

Penutup

Itulah sebagian dari apa yang kita lihat di negara Saudi Arabia. Kita tidak pungkiri bahwa kekurangan masih ada di sana-sini. Namun tidak diragukan juga bahwa dakwah tauhid yang dirintis syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membuahkan hasil yang manis.

Mereka yang ingin menegakkan syariat Islam hendaknya mengambil teladan dari perjalanan dakwah beliau. Kesempurnaan hanya milik Allâh. Kewajiban kita sebagai hamba adalah mengadakan perbaikan semampu kita. Semoga Allâh mengampuni dosa kita semua.

 

Artikel Ini Di Posting oleh Website Seindah Sunnah

_______________________

Mohon menyebutkan link dari kami jika antum mengutip dari kami

_______________________

The Untold Story of Red Sea

Dulu ketika masih sekolah dasar, saya mengira laut merah berwarna merah, laut hitam berwarna hitam, dan laut mati banyak orang mati, hehe. Lalu semakin gemar mempelajari geografi dan sadar bahwa penamaan itu sekedar nama, mungkin kawan-kawan yang paham sejarah bisa menyingkap masing-masing alasannya.

Laut Merah terbentang memisahkan Afrika dan jazirah Arabia. Jika kawan ingat kisah Nabi Musa membelah laut, nah laut itulah laut Merah; ketika 450.000 rakyat Israel pimpinan Nabi Musa, menyelamatkan diri dari keganasan Firaun, lautan menjadi jalan panjang tuk sampai ke daratan, sementara pasukan Firaun -dikatakan mencapai 1.000.000 pasukan- tenggelam bersama kereta perang dan harta bendanya.

Laut Merah pula menjadi saksi hijrah pertama Umat Islam menuju Negeri Habasyah. Kaum Muslimin dijuru bicarai oleh Jafar bin Abu Thalib singgah di Ethiopia nan makmur kala itu, di bawah lindungan Raja Najasyi yang bijaksana.

Laut Merah pula menjadi bentangan kegagahan sejarah Umat Islam di masa jayanya. Tatkala Kekhalifahan Utsmani menguasi dunia kelautan, mereka melarang kapal-kapal Eropa untuk melewati Laut Merah selama 300 tahun lamanya. Mengapa? Sebagai sebuah penghormatan pada Makkah dan Madinah, dua kota suci milik Umat Islam.

Seingat saya, Victor Hugo pernah bilang, “jika sesuatu engkau lihat dua kali, engkau akan dapatkan nilai baru.” Kita melihat lautan sekali, mungkin sekadar melepas penat dan meregangkan syaraf. Namun lihat tuk kedua kali, maka kita mulai bertanya-tanya dan merenungi kemegahannya, menafakkuri dan mengolahnya menjadi sepih-serpih hikmah.

Segala sesuatu menyimpan nilai. Kita hanya mesti lebih rajin mengasah matahati. Selamat bertadabbur, selamat mengumpulkan hikmah terserak! 😃 “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. Yunus : 6]

@edgarhamas Laut Merah, Semenanjung Sinai 11 Februari 2017
Ketika Lelakimu Datang Bertamu...

Padamu, ladies.

Mungkin kau baru saja mengalaminya, bahwa telah ada seseorang lelaki yang datang ke rumahmu. Teringat dalam benakmu, sikapnya yang benar-benar lucu, ketika datang dan pulangnya serasa sama tergugu. Ah, kau hanya bersembunyi kan di pojok pintu? Cekikikan melihat lelakimu yang telah meninggakan kesan pertama di ruang tamu rumahmu. Seiring ia telah berlalu, telah kau temukan apa yang telah merubah penilaianmu padanya…

~

Ladies, kuberitahu saja, banyak tipe lelaki di dunia ini. Aku takkan menjelaskan padamu semuanya, tapi tentu yang menarik perhatianmu adalah lelaki yang aslinya pemalu namun sejauh ini telah meninggalkan kemajuan berarti ketika berhubungan denganmu. Bisa jadi, diantara banyak lelaki, ada perempuan yang menjatuhkan hati pada lelaki pemalu. Lelaki yang tak banyak bicara, tak banyak gaya, sedikit tertutup, namun tentunya membuatmu tertarik. Bisa jadi memang dia lelaki favoritmu, yang dapat menutupi benar apa kekuranganmu dan membuatmu merasa nyaman berada di sekitarnya selama ini.

Entah selama ini bagaimana cara kalian berhubungan, mungkin agak sulit didefinisikan. Berteman iya, tapi seperti lebih dekat dari itu. Tapi tak kunjung pula memastikan, saking pemalunya dia. Hanya saja kalian merasa nyaman dengan hubungan yang tampak biasa saja, dengan jarak dan sekat yang disepakati bersama. Ah, ternyata ada juga kan sebagian perempuan yang meyakinkan dirinya bahwa kepastian terbesar yang sesungguhnya adalah pernikahan? Karena ijab kabul lebih sakral daripada apapun bentuk ungkapan cinta yang ada. Jadi selain itu, tak dianggap hal yang pasti-pasti amat, bahkan mungkin diragukan.

Begitulah mungkin cara kalian berhubungan. Dekat dalam rentangan jarak. Merasa tak perlu bertemu, apalagi bercumbu. Kalian sadar betul bahwa jalinan hati yang ada tak pernah diketahui dan bisa diprediksikan. Mengalir begitu saja seiring kedewasaan yang menanjak, antara keterbukaan dua hati yang tak dapat begitu saja ditolak. Ditengah kesibukan yang ada, tentu tak sungkan rasanya berbagi kabar dan bercerita ringan tentang hari-hari yang telah terlewati. Begitu saja, seperti semilir angin di sore hari.

Tapi hari itu, tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba lelakimu mengabarkan bahwa ia ingin datang bertamu. Semacam guruh bergemuruh, gelagapan kau meyakinkannya, apakah benar itu, apa lelakimu tidak salah ketik? Dengan mantap, ternyata ia menjawab iya. Meski terbayang olehmu, tempo hari ketika ia duduk makan bersama denganmu di sebuah kantin, sikapnya saja salah tingkah bahkan hingga ditertawakan teman-temanmu…

“Apakah benar? Apa maumu?”

Meski masih bertanya-tanya, mau tidak mau, kau bersiap untuk kedatangannya. Bukan main, campur aduknya hatimu karenanya. Dia mungkin bukan lelaki pertama yang datang kerumah, entah mungkin ada belasan lelaki yang sudah bertamu, tapi itu sudah bertahun yang lalu ketika masih sekolah dasar, sepertinya. Ketika itu masih anak-anak, ramai lelaki yang datang untuk mengajakmu bermain di lapangan komplek. Setelahnya, tak ada lagi lelaki yang sengaja datang seingatmu. Dan kau sadar betul, di umurmu yang telah masuk kepala dua lebih ini, lelaki yang menyengaja datang tentu tak biasa, seperti desiran hatimu yang juga tak biasa.

Orangtuamu pun rasanya tak kepalang bingung. Siapa lelaki yang akan datang ini? Kau bilang, mungkin kenalanmu, karena ragu atas statusmu dengannya. Tapi tak lama setelah itu orangtuamupun tersenyum, mengangguk berdua tanda telah paham. Meskipun kau tak terlalu paham, justru orangtuamu menyuruh mempersiapkan kedatangannya dengan baik. Ayahmu begitu antusias, apalagi Ibumu. Kau pun termangu, kenapa yang bersemangat itu justru Ayah dan Ibumu? Ah sudahlah, rasanya deburan hatimu kian tak menentu…

Ladies,

Hingga hari itu pun datang juga. Kau memastikan betul lelakimu tak salah alamat. Kau ada di barisan paling depan ketika datang menjemputnya, tapi bersembunyi paling awal ketika sudah masuk kerumah. Oh ladies, mengapa kau begitu tega membiarkan lelakimu langsung bertemu dengan kedua orangtuamu tanpa ditemani? Mungkin kau begitu malu, tapi tentu saja lelakimu itu lebih malu. Tak kurang gemetar tubuhnya ketika bersalaman dengan tangan kekar Ayahmu dan tangan lembut Ibumu. Rasanya kau pun tak sanggup melihat matanya, lalu kabur begitu saja, bersembunyi namun mencuri dengar yang bicara.

Ladies, meski kau tak disana, dengarkanlah lelakimu membuka percakapan dengan kedua orang tuamu. Ternyata, ia tak seperti yang kau duga. Ternyata ia lebih ramah dari yang kau kenal, bisa memposisikan diri dengan nyaman, berbicara seperlunya namun meyakinkan. Meski kau tak lihat sikap tubuhnya, tapi tentu pembicaraan itu mengarah pada keakraban antara lelakimu dan kedua orang tuamu. Tak pelak, hari yang kau sangka akan seperti kiamat ternyata berjalan lancar, seakan-akan lelakimu itu telah biasa dan mampu mengendalikan dirinya. Kaupun tak percaya, ia yang selama ini tertutup menguncup, hari ini membuka dirinya lebar-lebar dihadapan orang tuamu dengan begitu mengesankan.


Ah ladies, tiba waktu lelakimu pamit. Memang tak lama, tapi begitu meninggalkan kesan buatmu. Seketika ia berlalu, dan kau lihat sikapnya masih sama seperti seorang pemalu, tapi seperti ada kelegaan di pelupuk matanya juga dari guratan senyum di wajahnya. Ia pun pulang, tapi hatimu makin berdebar kencang. Ayahmu mungkin diam saja, tapi ibumu tersenyum amat manisnya. Ah, seakan tak mampu dibahasakan..

Maka ladies,

Tak mudah bagi seorang lelaki menaklukkan dirinya. Tak semua lelaki juga berani menampakkan diri pada orangtua perempuannya, kecuali yang benar-benar bulat dan memiliki maksud. Apalagi lelaki pemalu, maka kau harus tahu bahwa keyakinannya telah menang atas keraguannya. Bila genap sudah janjinya untuk datang bertamu, maka lelakimu itu telah selangkah lebih maju pun selangkah lebih dewasa dalam menyikapi hubungan. Caranya mengenalkan diri pada kedua orangtuamu, secara tidak langsung adalah menunjukkan dirinya yang telah menjadi seseorang penting dan dekat untukmu. Meski jalannya masih jauh, setidaknya engkau bisa jadi lebih yakin akan tujuannya. Berbahagialah, semoga memang dia yang sedang berusaha menujumu..



Ladies,

Hari ini kuceritakan kisah ini dari pandangan orang ketiga. Nanti, akan kuceritakan pandangan lelakimu dari sisi orang pertama. Mungkin kau begitu penasaran, apa isi kepalanya dan bagaimana perasaannya ketika pertama kali bertamu kerumahmu. Apakah kau ingin tahu?


Bersambung

Logika Lelaki ©miftahulfikri

‘SURAT KEPADA TUAN SAPARDI DJOKO DAMONO’

- Kepada Tuan Sapardi Djoko Damono. Apa Kabar Tuan ? Semoga selalu Allah bahagiakan. Saya Suka dengan puisi-puisi Anda. Saya pertama kali mengenal puisi di bangku sekolah dasar. Puisi dari rekan Anda sesama sastrawan, W.S Rendra. Itu sudah lama sekali dan saat itu saya belum jatuh hati pada puisi. Dan beberapa tahun belakangan karya Anda membuat saya jatuh cinta pada puisi. Lebih tepatnya, pada tiap deretan aksara yang terlahir dari mereka yang punya buah pikir yang indah dan menyimpan hikmah yang tak biasa, salah satunya adalah Tuan sendiri.

      Saya membayangkan bisa bertemu Anda. Bertanya banyak hal tentang sastra, cinta, hujan, kematian, kehidupan, pahlawan, juga tentang para Ibu di zaman Anda dan semua hal yang hidup dan tumbuh di tiap deretan aksara di semua puisi Anda. Dan satu hal yang paling membuat saya penasaran, mengapa Anda sangat suka pada hujan ? Saya menduganya dari buku Hujan Bulan Juni buah karya Tuan. Barangkali Anda tak sekedar suka pada hujan. Lebih dari itu, Anda cinta dan tergila-gila pada hujan, bukan ?
” Tuan tahu ? Bahwa kita menyukai hal yang sama.” Ya, hujan tentunya. Hanya saja, saya menjadikan senja sebagai cinta pertama setelah itu hujan, malam, sepi, serta daun gugur.


*

       Saya pernah berpikir, saya ingin datang menemui Anda. Seperti kawan lama yang sudah bertahun-tahun tak bersua. Menikmati senja sampai habis dua cangkir kopi kita. Dan Anda menjamu saya dengan buku, puisi,prosa dan senyum yang serupa sapaan ramah Kakek kepada cucunya. Dan lagi, saya akan banyak bertanya, membaca air muka Anda sambil mendengar cerita-cerita-mu tentang hujan dan pahlawan yang kita panggil Ibu. Saya tak perduli jauhnya jarak tempuh. Saya bisa bersabar mengumpulkan sisa uang makan dari gaji bulanan saya yang tak seberapa, untuk membeli tiket pesawat atau bus ke sana. Percayalah ! Dulu sekali saya pernah melakukan hal itu. Walau bukan untuk menemui Anda. Saya sampai ke tempat yang tak pernah saya rencanakan untuk dikunjungi. Mulai dari hingar bingar kota Jakarta yang tak saya suka. Sampai bertemu dengan wajah-wajah ramah orang pedalam sungai Kapuas di pulau Borneo. Di sana, di mana pun tempat saya berbaur dan menabur, saya selalu menemukan cerita hidup dari wajah-wajah baru. Sebagian sudah saya tuliskan menjadi puisi dan prosa, yang jika dibanding dengan ramuan kata milik Anda masih sangat timpang. Karya saya seumpama batu kerikil biasa, sedangkan karya Anda serupa mutiara. Tak mengapa, Tuan. Walaupun begitu ada beberapa orang yang suka selain Ibu saya dan sepupu perempuan saya. Mereka suka dengan kerikil biasa milik saya. Barangkali untuk melempari ayam tetangga yang nakal, yang suka buang kotoran sembarangan— Hahaha…


Tentang puisi Anda, ‘Aku Ingin’


Aku ingin mencintaimu dengan
sederhana
dengan kata yang tak sempat
diucapkan
kayu kepada api yang
menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan
sederhana
dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan
awan kepada hujan yang
menjadikannya tiada…


Tuan terinspisi dari mana puisi ini ? Cinta seorang hamba kepada Tuhan atau cinta seorang hamba kepada hamba ? Diksi anda manis sekali dipuisi ini. Sederhana tapi mengandung makna yang dalam dan tak biasa. Dalam satu kesempatan, saya menuliskan puisi yang menggambarkan perasaan saya kepada seseorang. Dia wanita selain Ibu.


           ‘Mencintai Rahasia’


Mencintaimu
Aku seperti udara yang tak kasat- mata. Yang kau hirup tanpa jeda
Tanpa kau harus tahu
Aku siapa dan dimana

Mencintaimu
Aku seperti cahaya kepada gelap
Menyebutmu dalam do’a sebagai pelita sebelum terlelap

Aku berhasil menyembunyikanmu dan menjadiknmu rahasia bagi semesta di luar diriku

Tapi, susah payah
Aku menyembunyikan dan merahasiakanmu dari dunia di dalam diriku

Tenang saja !
Pada-mu pun semua ini ku-rahasiakan
Diam ialah sebaik-baik penjaga rahasia
Dengan begitu marwah-mu tetap terjaga dalam mihrab cinta-Nya

©Dwi Ardy Prasadhana 03/02/15 Rantau Kasai (Riau) Dini Hari.


Puisi ini terinspirasi dari puisi Anda, ‘Aku Ingin’. Maaf saya belum bisa berpuisi semanis Tuan.
Kali ini, saat saya menulis surat ini untuk Anda. Anda bertanya di kepala saya : “Oh,iya, mengapa kamu menyebut seseorang dalam puisi-mu, wanita selain Ibu ? Saya rasa bagi mereka yang menggemari puisi, entah penulis puisi atau penikmat puisi selalu punya makna sendiri atas kata-kata yang diungkapkan-nya dengan bahasa yang tak lazim.”

“ Setiap wanita bagi saya adalah Ibu. Setidaknya calon Ibu. Itu saja ! Agar saya tak lupa bahwa setiap wanita selayaknya diperlakukan seperti Ibu. Dimuliakan dan dihormati. Dan biasanya, lelaki yang tidak memuliakan Ibu-nya dengan baik, maka dia akan memperlakukan wanita lain sesuka hatinya. Saya jadi teringat musikalisasi puisi Anda yang sangat populer. Yang di bawakan Reda
Gaudiamo dan Tatyana tergabung
dalam duet Dua Ibu. Indah sekali, Tuan.”

Tuan Sapardi, ketika menulis surat ini untuk Anda, di dalam kepala saya Anda tersenyum saat pendar senja sudah lenyap dari cakrawala dan dua cangkir kopi kita habis, hanya tersisa ampasnya.Pertemuan kita di kepala saya pun sampai pada perpisahannya. Anda kembali berpuisi :

… kau pernah bilang tak perlu
membedakan, selamat
tinggal dan selamat datang,
keduanya tersirat dalam
lambaian tangan…

Dan saya, Berjalan ke barat waktu pagi. Seperti puisi Tuan :

waktu berjalan ke barat di waktu
pagi hari matahari mengikutiku di
belakang

aku berjalan mengikuti bayang-
bayangku sendiri yang memanjang
di depan

aku dan matahari tidak bertengkar
tentang siapa di antara kami yang
telah menciptakan bayang-bayang

aku dan bayang-bayang tidak
bertengkar tentang siapa di antara
kami yang harus berjalan di depan..

Tapi, Tuan, saya tak pernah datang dan diantara kita tak pernah ada pertemuan. Menulis surat untuk Anda, saya hanya bisa membayangkan, Tuan. Tak pernah ada selamat datang juga tak pernah ada lambaian selamat tinggal diantara kita. Saya kira, bukankah tidak ada cara lain selain membayangkan, jika sudah mustahil untuk sebuah pertemuan ?

Tertanda, Dwi Ardy Prasadhana 03/02/14 Rantau Kasai (Riau) Pagi dihari hujan.

N/B : Menuliskan surat ini saya terinspirasi dari surat Aan Mansyur ( @hurufkecil ) kepada Sapardi Djoko Damono dengan isi yg sangat jauh berbeda. Aan Mansyur adalah salah satu penyair Indonesia yang menggemari karya-karya Tuan Sapardi. Dan saya mengagumi karya-karya mereka berdua. #30HariMenulisSuratCinta #HariKe-6

Membersamai

“Ti, murid-murid lu pada keren keren ya masuk Univnya. Asik nih, nanti Prana kalo udah gede udah punya guru private. Gausah jauh-jauh.”

Sejak kalimat itu terucap, aku jadi mikir. Suatu hari, jika aku dititipkan seorang anak. Aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk membersamainya dalam belajar dan bertumbuh. Ketika aku mampu mengajarkan anak orang lain dengan baik, maka ada harapan kelak anakku juga harus bisa mendapatkan hal yang serupa.

Aku pernah memiliki murid les yang tidak bersekolah di sekolah formal. Aku diberitahukan bahwa dalam keluarganya tidak ada yang menempuh pendidikan formal pada tingkat sekolah dasar. Ibunya yang mengemban peran menjadi guru dan sekolah dasar untuk anak-anaknya di rumah. Anaknya pintar, lebih unggul dibandingkan teman-temannya di kelas yang aku ampu. Tidak hanya dalam hal pelajaran umum sekolah tapi juga unggul dalam hafalan Qur'an.

“Al ummu madrosatul ula..”
Ibu adalah madrasah utama untuk anak-anaknya. Aku mendapatkan teladan dari ibunya. Kelak, semoga aku benar-benar bisa merealisasikannya.


Ibu adalah seseorang yang paling paham tentang kemampuan anaknya, dengan ini harusnya menjadi lebih mudah bagi seorang Ibu untuk mengajarkan. Tapi ndak semua Ibu mampu dan atau mau membersamai anak-anaknya belajar. Ada yang gak sabar, ada juga yang merasa anaknya akan lebih pintar diajarkan oleh seorang guru yang kompeten di bidangnya, ada pun yang sibuk dengan karirnya. Alasan yang pertama dan terakhir yang seringkali aku temui selama aku mengajar.


“Ilmu adalah warisan terbaik yang dapat kamu berikan pada siapapun..”

Warisan yang sifatnya tidak hanya berlaku di dunia, tapi juga di akhirat. Juga memiliki pengaruh besar untuk memperbaiki peradaban.


Bismillah..

suatu hari nanti semoga Allah beri kesempatan, kepercayaan dan Allah mampukan.

Subhanallah...

Seorang pria yg tidak lulus ujian masuk universitas, di nikahkan orang tuanya.

Untuk mendapat penghasilan, ia pun melamar menjadi guru sekolah dasar dan mulai mengajar. Karena tidak punya pengetahuan mengajar, belum sampai satu minggu mengajar ia sudah dikeluarkan.

Setibanya di rumah, sang istri menghapuskan air mata nya, menghiburnya dengan berkata: “Banyak ilmu dalam otak, ada orang yang bisa menuangkannya, ada pula yang tidak bisa. Tidak perlu bersedih karena hal ini. Mungkin ada pekerjaan lain yang lebih cocok untukmu sedang menantimu.”

Kemudian ia melamar dan melakukan pekerjaan lain, namun dipecat juga karena geraknya lambat.

Saat itu sang istri berkata : kegesitan kaki - tangan setiap orang berbeda, orang lain sudah bekerja beberapa tahun lamanya, kamu hanya belajar di sekolah, bagaimana bisa cepat?

Ia pun bekerja lagi di banyak pekerjaan lain, namun tidak ada satu pun yg berhasil, semua gagal di tengah jalan.

Namun demikian, tiap kali pulang dengan patah semangat, sang istri selalu menghiburnya, tidak pernah mengeluh.

Ketika sudah berumur 30 tahun-an, ia mulai dapat berkat sedikit melalui bakat berbahasanya, menjadi pembimbing di sekolah luar biasa tuna rungu wicara.

Kemudian ia membuka sekolah siswa cacat, dan akhirnya bisa membuka banyak cabang toko yang menjual alat-alat bantu orang cacat di berbagai kota.

Akhirnya ia menjadi boss yang memiliki kekayaan berlimpah.

Suatu hari, ia yang sekarang sudah sukses besar, bertanya kepada sang istri, kenapa ketika masa depan nya masih suram, engkau tetap begitu percaya kepada ku ?

Jawaban sang istri ternyata sangat polos dan sederhana : Sebidang tanah yg tidak cocok ditanami gandum, bisa dicoba untuk ditanami kacang. Jika kacang pun tidak bisa tumbuh dengan baik, coba tanami buah-buahan; jika buah-buahan pun tidak bisa tumbuh, semaikan bibit gandum hitam, pasti bisa berbunga, karena pada sebidang tanah, pasti ada bibit yang cocok untuknya, pasti bisa menghasilkan panen dari nya.

Mendengar penjelasan sang istri, ia mengeluarkan air mata terharu…. Keyakinan kuat, ketabahan serta kasih sayang sang istri, bagaikan sebutir bibit unggul.

Semua prestasi dirinya, adalah berkat keajaiban bibit unggul yang kokoh hingga bertumbuh kembang jadi kenyataan.

Di dunia ini tidak ada seorang pun yg hanya sekedar sampah, dia hanya tidak berada di posisi yang tepat.

Setelah membaca cerita ini, jangan dibiarkan saja, teruskan ke orang lain. Anda akan ikut berbahagia apabila orang yg tadinya susah menjadi sukses.

Tujuh kalimat di bawah ini, adalah intisari kehidupan :

  1. Orang yang tidak tahu menghargai sesuatu, biarpun diberi gunung emas tidak akan bisa merasakan kebahagiaan

  2. Orang yang tidak bisa toleran, seberapa banyak pun teman nya, akhirnya akan sendirian

  3. Orang yang tidak tahu bersyukur, seberapa pintar pun, tidak akan sukses

  4. Orang yang tidak bertindak nyata, seberapa cerdas pun tidak akan tercapai cita-cita nya.

  5. Orang yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, seberapa giat pun kerja nya tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.

  6. Orang yang tidak bisa menabung, dapat rejeki terus pun tidak akan bisa menjadi kaya.

  7. Orang yang tidak bisa merasa puas, seberapa kaya pun tidak akan bahagia.

Pesan buat Adik

Saya punya satu adik laki-laki. Tidak terlalu dekat, tapi saya mencintainya sebagaimana umumnya seorang kakak laki-laki kepada adiknya di luar sana. Yah, sekalipun saya tidak pernah mengucapkan hal itu secara langsung kepadanya. Waktu, sebagaimana hal-hal lainnya yang akan terasa begitu singkat ketika kita menikmatinya telah membawanya kepada kehidupan seorang remaja tanggung. Saya ingin tertawa setiap kali membayangkan hal itu. Rasanya seperti baru kemarin saya menggandeng tangannya ke sekolah dasar. Atau mendengar aduannya tentang beberapa orang teman yang suka menggodanya dan caranya yang tersirat meminta pembelaan terhadap saya lewat ceritanya itu. Hidup memang terus bergulir, dia tidak kenal menunggu.

Ada banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada adik, kali ini saya hanya ingin menyampaikan sebuah hal sederhana bahwa menjadi dewasa tidak pernah semenyenangkan yang dulu selalu kita bayangkan. Saya pernah berada di posisi itu, masa-masa awal pubertas. Tidak terlalu mengenakkan, sebab ada banyak hal yang berubah. Kawan-kawan dan lingkaran pergaulan yang semakin luas. Juga perubahan fisik yang boleh jadi kelak kamu benci prosesnya — bukan hasilnya.

Sebagai kakak yang baik, tentunya sudah menjadi kewajiban untuk memberi nasihat dan membimbing adiknya. Saya mau menjadi kakak yang baik, tapi tidak mau menjadi orang tua yang sok bijak. ‘cause we hate those kind of people, right?’. Sebab, persoalan hidup tidak harus disajikan dengan cara yang kaku. Tidak harus dengan nasihat yang dituturkan face to face di ruang keluarga. Kadang, kita dapat memetik pelajaran dari banyak hal. Musik, sastra, atau film misalnya.

Beberapa bulan belakangan, saya semakin tertarik dengan film. Terutama setelah bertemu dengan Bang Yazid— anak salah seorang peserta pengajian saya sewaktu Ramadhan di Malaysia kemarin yang juga seorang film maker.

Pada, pesan ini saya mau buat list beberapa film yang harus ditonton oleh adik saya. Ada beberapa alasan kenapa dia harus nonton film ini dan nanti akan coba saya jelaskan satu per satu.

5. Sing Street (2016)
IMDb: 8/10

Film ini berlatar di Dublin, sekitar tahun 1980-an. Bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Conor yang hidup di tengah-tengah keadaan rumah tangga orangtuanya yang nyaris karam. Tokoh utama yang culun dan tidak populer di sekolahnya, korban bully pada hari pertama masuk SMA yang membentuk sebuah band dengan teman-teman sebayanya — yang juga culun — karena bertemu Raphina, gadis yang lebih tua setahun darinya. Sebuah proses berkarya yang berawal dari jatuh cinta. Ada banyak rintangan dalam proses tersebut. Kamu bisa memetik banyak pelajaran dari sana. Personally, saya sangat menyukai lirik-lirik lagu yang ditulis Conor, sangat puitis dan melekat di telinga.

4. Begin Again (2013)
IMDb: 7.4/10

Berlatar di New York, film ini berkisah tentang kesuksesan yang berawal dari patah hati. Berisi tentang kejadian-kejadian menyakitkan yang membawa berkah, yang jarang sekali disadari sebab kadang rasa marah menghalanginya. Film ini mengajarkan untuk kuat, bahwa patah hati harus dilawan. Rasa sakit itu tidak bisa dihindari, tapi penderitaan adalah pilihan. Nah, itu yang saya pelajari dari film ini. Saya juga sangat suka dengan lagu-lagu yang ada di film ini. Liriknya sangat hidup dan mewakili banyak hal.

3. The Edge of Seventeen (2016)
IMDb: 7.4/10

Film ini saya rasa paling dekat dengan kehidupan remaja yang memasuki masa-masa menuju dewasa. Kisah yang disajikan di dalamnya sangat menarik. Perasaan selalu benar, menginginkan pengakuan, emosi yang tidak stabil, dan berbagai permasalahan yang dihadapi para remaja yang memasuki masa itu. Ada banyak sekali pesan yang bisa kamu ambil dari film ini.

2. Litte Miss Sunshine (2006)
IMDb: 7.8/10

Film ini mengisahkan perjalanan sebuah keluarga untuk mewujudkan mimpi seorang anaknya untuk menjadi Ratu Kecantikan. Ada banyak hal yang bisa kamu pelajari dari film ini, salah satunya tentang makna keluarga.

1. Paterson (2016)
IMDb: 7.4/10

Saya paling suka dengan film ini. Berkisah tentang bagaimana seseorang memilih caranya untuk menjiwai hidupnya. Film ini sepuitis puisi-puisi yang ada di dalamnya.


Daftar film tadi hanyalah segelintir dari banyak film lainnya. Ada banyak sekali hal yang bisa dijadikan panutan. Bukan hanya film, tetapi buku-buku yang ada di rak buku itu juga. Banyak sekali hal yang perlu dipersiapkan menuju dewasa. Soal target yang harus dicapai sebelum masa remajamu habis. Juga usaha-usaha yang perlu dilakukan dan itu semua tidak mudah. Jadi dewasa itu tidak mudah. Beneran.

Dari Mitos Menghafal UU Hingga Kasus Jessica-Mirna

“The Life of the law has not been logic. It has been experience.” Oliver Wendell Holmes, Jr

Mengapa Fakultas Hukum?

Saat saya kelas IX SMA, perjalanan pencarian jurusan kuliah bagi saya pun tidak bisa dikatakan mudah. Saya sempat mengalami fase beberapa kali mengganti tujuan jurusan kuliah. Sejujurnya, sejak saya SMA, saya menemui bahwa ketertarikan saya lebih banyak kepada isu-isu sosial dibandingkan dunia sains. Karena tertarik dengan isu-isu sosial, saya beberapa kali mengikuti kompetesi penelitian dan karya ilmiah di bidang sosial bersama teman-teman saya di suatu organisasi penelitian di SMAN 8 Jakarta. Namun, saat itu ayah saya bersikukuh bahwa penjurusan yang saya ambil saat SMA haruslah IPA. Ayah berargumen bahwa apa pun kelak jurusan perkuliahan yang saya ambil, mengambil penjurusan IPA saat SMA adalah keharusan untuk mengasah kemampuan logika. Sebenarnya, ayah dulu mengharapkanku saya bisa menjadi seorang dokter karena sejak kecil kemampuan saya di bidang sains memang lebih dominan.

Kondisi KRL Tahun 2000′an Awal. (sumber: Youtube)

Bagaimana akhirnya hati saya berlabuh pada Fakultas Hukum?

Sejak saya SMP hingga SMA, selama enam tahun saya menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL) kelas ekonomi untuk ke sekolah. Hal ini dikarenakan jarak rumah saya dengan sekolah cukup jauh. Saya tinggal di daerah Depok dan bersekolah di Jakarta Selatan. Transportasi kereta adalah yang tercepat dan tampaknya saya tidak punya pilihan lain. Saya memilih sekolah yang sangat jauh saat itu tentunya karena ayah. Ayah saya selalu mengatakan, “Tidak pernah ada kata ‘jauh’ untuk belajar di sekolah yang terbaik”. ‘Keberanian’ saya naik kereta adalah pilihan yang saya ambil karena saya tidak mau merepotkan orangtua saya untuk mengantar-jemput.

Naik kereta ekonomi hampir setiap hari membuat saya berinteraksi langsung dengan berbagai realitas sosial. Melihat mereka yang meminta-minta, mereka yang berjualan, hingga mereka yang tak peduli dengan kondisi orang lain dalam kereta yang penuh dan sesak—ya tentunya kondisi kereta saat itu belum sebaik sekarang—karena hanya kereta ekonomi yang beroperasi sehari-hari.

Di antara hari-hari yang saya lalui, suatu hari saya harus mengalami hari dimana saya menangis terisak-isak di peron kereta saat berangkat ke sekolah.

Tahukah kamu apa yang terjadi saat itu?

Saat saya sedang menunggu kereta yang akan mengantarkan saya menuju sekolah, saya harus menyaksikan seorang anak jalanan yang meninggal di atap kereta dan menjadi abu. Anak itu sebatang kara, kerjanya menyapu atap kereta. Saat ia menyapu, ia terkena tegangan tinggi karena tak sengaja menyentuh voltase atap kereta dan meninggal dunia. Anak yang malang itu, yang hendak mencari uang untuk sesuap nasi, mengakhiri hidupnya hari itu juga. Saya menangis saat itu juga sekarang saat saya harus menuliskan kembali peristiwa tersebut. Saya tak tahu apakah anak itu memiliki keluarga atau tidak. Tapi yang saya rasakan anak tersebut harus menempuh berbagai perjuangan untuk bertahan hidup. Anak itu masih kecil, seharusnya dia pergi ke sekolah dasar bukan menyapu atap kereta.

Namun, tahukah kalian bagaimana respon orang-orang di sekitar saya?

Di tengah kebingungan, saya hanya bisa menangis. Saya menyaksikan orang-orang yang saya rasa sudah menyadari hal tersebut tidak menunjukkan reaksi apa-apa seakan itu hal yang biasa terjadi di kehidupan ibukota. Alih-alih mereka peduli bagaimana nasib anak tersebut, mereka semua sibuk saling bertanya kapan jadwal kereta selanjutnya dan mengeluh karena mereka takut telat.

Dari peristiwa tersebut, saya bertanya-tanya: Apakah nyawa di Negara ini tak ada harganya? Apa karena sang anak adalah anak jalanan maka kematiannya tak perlu dipikirkan? Bagiku, setiap anak adalah aset bangsa. Mereka yang seharusnya mendapatkan hak dan perlindungan dari Negara namun ironis menjadi korban kegagalan Negara melaksanakan tugasnya.

Semenjak saat itu pun saya berjanji, jika saya akan tumbuh menjadi seorang yang lebih ‘dewasa’ dan mendapatkan kesempatan untuk menyelami ilmu pengetahuan, saya ingin bisa membantu mereka yang selalu terpinggirkan oleh ketidakadilan, mereka yang menjadi asing karena status sosial, dan mereka yang tak tahu kemana mereka mengadu keadilan. Dan janji itu masih saya simpan sampai sekarang dimana saya masih menempuh studi jenjang S-2.

Mempelajari apa itu hukum bukan tentang bagaimana menghafal dan membangun logika saja, tetapi untuk menyumbangkan benih-benih kebaikan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang hidup di masyarakat lewat aturan-aturan yang patut dibela. Itulah mengapa fakultas hukum menjadi pilihan saya.

Fakultas Hukum dan Mitos Menghafal

Kalimat “Wah susah dong ya kuliah di Fakultas Hukum karena mesti hafal undang-undang” adalah kalimat yang selalu saya dengar ketika ada orang yang bertanya jurusan kuliah saya dan saya menjawabnya dengan percaya diri: fakultas hukum. Saya bisa bilang kalimat tersebut sepenuhnya salah. Mengapa?

Pertama, Mempelajari hukum bukan tentang menghafal Undang-Undang (UU) karena undang-undang atau peraturan tertulis lainnya hanyalah salah satu dari beberapa bentuk instrumen hukum. Bagaimana suatu UU bisa disahkan, bagaimana prosesnya, siapa yang membentuknya, dan pertimbangan apa yang diambil oleh para perumus adalah serangkaian kajian yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghafal. Kemampuan untuk membaca dan menganalisa berbagai permasalahan di masyarakat jauh lebih diperlukan. Menjawab bagaimana suatu peraturan bisa menyelesaikan permasalahan sosial bukan suatu hal yang mudah.

Saya akan mencontohkan salah satu hal yang sederhana yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua pasti pernah menemukan kemacetan dalam kehidupan sehari-hari, bukan? Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah kemacetan. Apakah kita harus mengatur perilaku pengemudi, atau kita harus mengatur jumlah kendaraan, atau kita harus mengatur jam operasi bus dan angkutan kota (angkot)? Dalam poin ini, kajian hukum tidak diselesaikan hanya dengan menghafal tetapi kemampuan menganilisis isu kemacetan dan mencari jalan keluar yang bisa disepakati untuk ditaati.

Kedua, semua profesi yang berkaitan dengan bidang hukum menggunakan berbagai kompilasi dan kumpulan peraturan dalam melaksanakan pekerjaannya dan tidak ada satu keharusan pun untuk menghafal setiap isi peraturan.

Contohnya mudah. Majelis hakim dalam memutus suatu perkara, mereka pasti membawa berbagai peraturan bersamanya. Atau lihatlah para anggota legislatif yang pasti membuka dan merujuk UU sebelumnya saat hendak melakukan revisi atau membentuk UU yang baru. Begitu pun para sarjana hukum yang bekerja di berbagai perusahaan yang selalu membawa peraturan perundang-undangan saat melakukan analisis ataupun bertemu dengan kliennya.

Pengalaman Selama Kuliah

Dalam Sebuah Diskusi Publik.

Pemberitaan di berbagai media di Indonesia pasti tak luput dari isu hukum. Masihkah Anda ingat kasus Jessica-Mirna yang tak henti-hentinya diberitakan oleh berabagi stasiun televisi? Atau kasus isu penistaan agama yang mewarnai Pemilihan Gubernur DKI Jakarta? Ya, isu-isu tersebut merupakan beberapa contoh dari beragamnya isu hukum.

Di Fakultas Hukum Universitas Indonesia sendiri, tempat saya dulu berkuliah, ada beberapa bidang hukum yang dipelajari, mencakup hukum perdata, hukum pidana, hukum acara, hukum bisnis, hukum hubungan antarnegara, hukum internasional, hingga hukum yang mengatur hubungan antara masyarakat. Isu-isu yang dibahaspun bisa sangat beragam dengan berbagai metode belajar seperti simulasi peradilan semu, membuat analisis suatu putusan hakim, sampai belajar membuat dakwaan.

Saya sebagai Pembicara Uji Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap Gugatan Class Action Pedagang, Januari 2016

Selama menjadi mahasiswa, saya mendapatkan kesempatan yang sangat beragam. Yang paling berkesan adalah kesempatan bergabung bersama Badan Ekesekutif Mahasiswa di tingkat fakultas, bidang sosial politik, dimana kami ikut membantu warga menuntut keadilan bersama Lembaga Bantuan Hukum Jakarta. Saya juga mendapatkan kesempatan menjadi pembicara di berbagai seminar dan melakukan jajak pendapat dengan berbagai lembaga negara seperti ketika jajak pendapat dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ketika mengerjakan Rencana Undang-Undang Penyandang Disabilitas.

Sebagai penutup, saya mau bertanya, “Apakah kuliah di Fakultas Hukum cuma untuk menghafal UU?” Semoga sudah bisa dijawab sendiri ya.

Berlin, 23 April 2017 

 (*)

Muthmainnah

Hukum 2011, Universitas Indonesia

Email: muthmainnah2011@gmail.com

Ibuku M.Si

Ibumu sarjana apa ? 
Ibuku punya gelarnya MSi: Master Segala ilmu.

Tak terbayang bukan, menjadi ibu yg baik itu hrs banyak belajar& terus belajar. 
Long life education.

1. Ibu hrs belajar Akuntansi
Agar bisa mengurus pendapatan keluarga dan mengelolanya utk kebutuhan RT, tabungan serta menata pemasukan &pengeluaran yg seimbang.

2. Ibu hrs belajar Tata Boga, chef, atau perhotelan
belajar mengatur masakan keluarga dgn kreatif supaya tdk bosan.

3. Ibu hrs belajar keguruan. 
Ia hrs menguasai ilmu yg diajarkan di sekolah dasar agar bisa mengajari anaknya bila kesulitan dgn PR nya.

4. Ibu hrs belajar Agama
karena ibu lah yg pertama kali mengenalkan anak pada Allah,membangun akhlak yg luhur serta iman yg kokoh.

5. Ibu hrs belajar Ilmu Gizi
Agar bisa menyiapkan makanan bergizi bagi keluarga, setiap hari.

6. Ibu hrs belajar Farmasi
agar dpt memberi pertolongan awal pd keluarga yg sakit. sediakan obat2an ketika keadaan darurat.

7. Ibu hrs belajar Keperawatan
krn beliaulah yg merawat anak/suami ketika sakit. Yg menyeka tubuhnya ketika tdk diperbolehkan mandi,mengganti kompres,
Ibu adalah perawat yg handal.

8. Ibu hrs belajar ilmu Kesehatan
Agar bisa menjaga asupan makanan, kebersihan melindungi anggota keluarga dari gigitan nyamuk.

9. Ibu hrs belajar Psikologi
Agar bisa berkomunikasi dgn baik menghadapi anak2 di setiap jenjang usia juga sebagai teman curhat suami yg terbaik ketika suami alami masalah.

Seandainya ibu harus kuliah dulu butuh berapa lama? 
Bisa jadi lebih dari 9 jurusan diatas.Luar biasa seorang ibu, dgn multi talentanya, kesabarannya merawat, 
mendidik & menemani anak2. 
Sudah kah kita memberikan yg terbaik utk ibu kita…

“Seorang ibu bisa merawat 10 anak, namun 10 anak belum tentu bisa merawat ibunya“

[copas]
Via ustadz @abdullah sholeh hadrami

Dear calon ibu, @tikasyaf

Ketika kita kehilangan seseorang yang sangat berarti untuk kita untuk selamanya, tetiba semua kenangan terulang di dalam pikiran. Betapa rasanya kita menyesal, tidak memberikan kenangan yang baik untuk mereka. Betapa masih sedikitnya waktu yang kita habiskan bersama mereka saat mereka ada.

Terima kasih, untukmu yang telah mendidik dan membesarkanku. Kau seorang ibu bagiku. Tidak ada yang mampu menandingimu dalam hatiku. Tidak ada yang mampu menggeser posisimu dalam hidupku.

Masih ingat jelas ketika aku berada di bangku sekolah dasar, aku memenangkan sebuah lomba. Aku berlari ke arahmu sambil membawa piagam hadiah. Kau menyambutku dengan sedikit menitikkan air mata. Bahagia, tentu saja. Rasanya hanya itu kebahagiaan yang mampu aku berikan padamu.

Saat aku berada di bangku SMP dan SMA, kau mengajariku menjahit dan memasak. Aku seorang wanita, harus bisa melakukan pekerjaan wanita. Minimal punya satu keahlian, kata beliau. Namun karena aku orangnya tidak sabaran, setelah beberapa bulan, aku tidak melakukan keduanya lagi. Baik menjahit ataupun memasak.

Saat aku mulai masuk dunia perkuliahan, aku bertentangan dengan beliau. Beliau menyuruhku masuk di jurusan pendidikan eksak. Namun aku memilih yang lain tanpa sepengetahuan beliau. Meskipun pada akhirnya aku diterima di jurusan pendidikan yang agak melenceng dari yang beliau harapkan. Pada akhirnya pun beliau menyetujui keputusanku.

Saat itulah, aku mulai merasa jauh dari beliau karena kota kami terpisah jauh. Aku hanya pulang saat libur hari Sabtu-Minggu. Itu pun satu bulan satu kali, atau dua bulan sekali. Tidak tentu.

Masa kuliah berlalu hingga ketika kerja pun, aku masih stay di kota dimana aku berkuliah. Hingga tahun lalu, aku memutuskan untuk pulang. Menemani beliau, tujuanku.

Namun hanya mendapat 3 bulan, orang-orang di sekitar beliau mulai tidak menyukaiku, mereka menolakku. Mereka berkata agar aku tidak lagi bergantung padamu. Padahal aku hanya ingin menemani beliau. Salahkah?

Sampai suatu ketika, kita benar-benar harus jauh karena ketidaksetujuan orang di sekitar beliau tadi. Mungkin beliau tau dimana aku berada, atau mungkin tidak. Sebab aku diminta menyembunyikan keberadaanku dari beliau. Oleh orang-orang itu tentunya.

Kesempatanku mengunjungi beliau menjadi lebih jarang. Kali ini dalam kurun waktu 3 bulan, hanya 2 kali aku mengunjungi beliau, sampai akhirnya aku mendapat kabar ini.

Ingin tak menangis, tapi apa daya. Namun aku berpikir bahwa : apa yang beliau lakukan untukku, sekarang sudah selesai. Baliau mengantarku sampai aku benar bisa mandiri. Beliau mengantarku sampai jalan ini, saat ini, harapan besar beliau dan harapanku juga. Beliau juga sudah berkenalan dengan dia dan keluarganya. Beliau mendidikku dengan baik. Beliau mengajariku segala hal baik di dunia dan untuk akhirat. Semua itu amat sangat lebih dari cukup.

Tenang disana. Kami disini, aku, tidak akan pernah melupakanmu. Akan selalu mendoakan untukmu, akan lebih sering mengunjungimu di tempatmu terbaring.

Ikhlas.

15 November 2017.

Padahal 14 November adalah hari lahir beliau..

KEPADA GURU-GURU DALAM HIDUPKU, TERIMA KASIH :)

Kepada guru taman kanak-kanak ku, aku ingin bertemu kembali dan berucap terimakasih, karena mungkin, aku pernah menumpahkan cat air pada jilbab mu yang mengulur itu, atau mungkin aku pernah menangis karena berlari kencang, kemudian terjatuh dan kaki ku terluka menumpahkan darah hingga mengenai seragam taman kanak-kanak ku, saat itu terjadi, engkau lah yang pertama kali membersihkan lukaku, meredakan tangis kencang ku. Terimakasih bu :)

Kepada guru sekolah dasar ku, aku ingin bertemu kembali dan berucap terimakasih, karena telah mengizinkan ku mengikuti lomba menulis saat itu, walaupun aku tak berhasil melaju pada final nya. Terimakasih, karena sudah berbaik hati mengajariku banyak hal, bersusah payah mencarikan berbagai rumus-rumus menghafal perkalian agar murid-murid mu mudah menerapkan :) atau membuat kan rangkuman salah satu pelajaran favoritku saat itu, sejarah :) Terimakasih bu, pak, jasa kalian akan selalu ku kenang. Terkhusus untuk almarhum bapak junaedi, yang paling meninggalkan kesan mendalam, semoga Allah senantiasa melapangkan dan menerangi kubur mu pak :)

Kepada guru sekolah menengah pertama ku, ingin rasanya kembali bertatap muka, mengucapkan terimakasih tak terkira, karena sudah mau mendidik, membimbing dengan sepenuh cinta. Ah, mengajar anak usia tanggung, yang sedang mengalami awal-awal masa pubertas, tentu tak mudah. Banyak sekali rasa ingin tahu nya, mencoba ini itu, terkadang mungkin memberontak bila tak sesuai inginnya. Rindu sekali belajar pertama kali nya al jabbar, trigonometri, belajar kimia dengan membawa langsung produk-produk yang bahan kimia terkandung di dalamnya, belajar fisika, biologi,ekonomi untuk pertama kali nya, itu menyenangkan sekali. Terimakasih bu, pak, ku rindu sekali memasuki gerbang itu :)

Kepada guru putih abu-abu ku, ingin rasanya kembali kesana, bercerita mengenang semua nya, suka duka nya. Rindu membuat algoritma dengan segala kekurangannya 😂 Rindu diajari syntax - syntax unyu yang membuat isi kepala menari-nari. Rindu membuat store procedure, function, dan trigger. Rindu, bermesraan dengan netbeans, sql yog dan tomcat setiap saat, setiap waktu 😂 Terimakasih bu, pak, sudah mau mengajari aku yang sering terlambat mengerti 😂 Akan sangat banyak yang akan di ceritakan, bila membahas masa putih abu yang nyata nya lebih dari sekedar warna putih abu :)

Kepada Bapak Ibu dosen ku yang dengan senang hati menerima mahasiswa yang “murtad jurusan” ini 😂 yang sama sekali buta akan dunia per akuntansi an 😂 Terimakasih pak, bu, sudah mau mengajari sampai akhirnya, alhamdulillah lulus dengan nilai yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan, hingga kini ilmu yang kalian berikan dapat diaplikasikan di dunia pasca kampus 😄

Kepada guru sekaligus kakak sekaligus mentor yang sudah berbaik hati mentransfer ilmu nya pada ku, membawakan sinar di kehidupanku. Yang sudah bersedia meluangkan waktu nya, walaupun tak pernah sedikit pun dibayar oleh materi. Terimakasih, itu lebih dari sekedar berarti :)

Dan terakhir, kepada guru kehidupan ku, ayah dan ibu, terimakasih sudah menemani perjalanan terlama dalam mendidik dan membimbing ku dengan sepenuh cinta hingga detik ini. Alhamdulillah, bersyukur miliki kalian yang tanpa lelah mengajari 😊

Selamat Hari Guru :)

Bandung, 25 November 2017

Banyak anak yang telah terampil membaca di usia dini, tetapi begitu memasuki usia SD mulai kehilangan gairah membaca. Mereka bisa mengeja saat baru memasuki kelompok bermain (playgroup), tapi saat remaja sangat enggan menyentuh buku. Dan inilah yang banyak kita jumpai. Anak-anak dilatih untuk mampu membaca saat mereka masih balita, tapi begitu usia sekolah hilang gairahnya membaca, hilang pula antusiasme belajarnya.

Apa yang salah?

Mereka hanya diajari kemampuan membaca, tapi tidak ditumbuhkan kecintaannya pada membaca, kebanggaan terhadap kegiatan tersebut (bukan bangga pada diri sendiri) dan tidak pula ditanamkan keyakinan tentang manfaat membaca serta kesediaan untuk berpayah-payah mencari kesempatan membaca. Jika membaca itu sesuatu yang membanggakan sekaligus sangat berharga, anak akan siap bercapek-capek untuk memperoleh buku. Bahkan bila perlu harus kehilangan uang saku untuk mendapatkan buku.

Hasil penelitian Prof. Dr. Kathy Hirsh-Pasek, penulis buku Einstein Never Used Flashcards sekaligus satu-satunya orang yang diizinkan melakukan penelitian di The Better Baby Institute Philadelphia pimpinan Glenn Doman, menarik untuk kita perhatikan. Metode yang diklaim mampu menghasilkan anak-anak jenius melalui pembelajaran membaca dan belakangan berhitung sejak bayi ini, ternyata tidak pernah melahirkan satu jenius pun. Sebaliknya, berdasarkan riset Kathy Hirsh-Pasek, anak-anak yang diajari membaca menggunakan metode Glenn Doman justru cenderung kehilangan antusiasme membaca maupun belajar di usia-usia sekolah hingga masa berikutnya. Anak memang mampu membaca di usia yang jauh lebih dini dibanding teman-temannya, tetapi kehilangan gairah saat ia seharusnya banyak belajar. Pertanyaannya, apa artinya mampu jika anak tak mau? Apa manfaatnya bisa membaca jika mereka tak menyukainya?

Maka sangat wajar jika saat balita tampak begitu cerdas dan menggemaskan, tetapi begitu usia sekolah dasar sangat enggan menyentuh buku. Ini sama seperti budaya belajar. Jika sekolah tidak membangun budaya belajar yang kuat, kelas satu semangatnya berkobar-kobar, kelas dua masih berkibar, tapi begitu kelas empat bikin guru dan orangtua berdebar-debar. Apalagi saat anak memasuki kelas enam ketika mereka seharusnya bersiap menghadapi ujian akhir. Padahal jika anak memiliki budaya belajar yang besar, kelas satu mereka bersemangat meskipun mungkin masih belum mampu membaca, kelas dua semakin bersemangat dan selanjutnya di kelas empat mulai menjadi pembelajar mandiri. Anak-anak menyenangi belajar sehingga tak perlu menunggu perintah guru dan teriakan orangtua untuk bergegas melahap bacaan bermutu maupun mengerjakan tugas di rumah.

Saya tidak pernah tinggal di luar negeri. Tapi ada cerita menarik dari rekan-rekan yang tinggal di luar negeri ketika saya berkunjung ke sana atau berbincang melalui fasilitas internet maupun telepon selular. Anak-anak yang belajar di Australia, Inggris atau Jepang mulai belajar membaca secara formal ketika mereka masuk SD. Artinya, saat memulai pendidikan di sekolah dasar, mereka belum mampu membaca. Mampu saja belum, apalagi terampil. Pada masa SD, sekolah menekankan betul pembentukan budaya literasi yang dibarengi dengan kemampuan literasi (baca-tulis). Sekolah membentuk kecintaan dan gairah anak terhadap membaca, memperoleh pengalaman mengesankan dengan kegiatan membaca, dan bukan menekankan pada keterampilan membaca di usia dini. Ketika kemauan membaca telah tertanam sangat kuat pada diri anak, maka akan lebih mudah bagi mereka belajar kemampuan membaca. Maka tatkala usianya semakin bertambah dan minatnya semakin berkembang, anak-anak tetap bergairah membaca. Inilah yang menjaga keberlangsungan minat baca mereka yang berimbas nyata terhadap budaya belajar.

Apa artinya? Kemauan membacalah yang lebih penting kita bangun. Tak usah bergenit-genit dengan kemampuan anak membaca dan berhitung di usia dini. Kalaupun kemudian mereka mampu membaca di usia dini, tidak menjadi masalah sepanjang itu akibat dari minat besarnya terhadap membaca. Bukan akibat dilatih. Kemauan yang kuat memudahkan anak meraih kemampuan. Sebaliknya, kemampuan tanpa kemauan akan menjadikan mereka mudah mengalami kebosanan dan kejenuhan membaca. Malas belajar merupakan akibat berikutnya.

Nah.
—  Mohammad Fauzil Adhim
Kita Tidak Butuh Sekolah, apalagi Kurikulum

”Every country on earth is now reforming its public education. The problem is they are doing it by doing what they have done in the past.”(Sir Ken Robinson, 2010)

Kemendikbud telah menyiapkan Kurikulum 2013 yang diklaim sebagai penyempurnaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diluncurkan pada 2006. Hemat saya, KTSP secara konsep justru lebih baik daripada Kurikulum 2013, tapi dibiarkan gagal oleh Kemendikbud sendiri dengan tidak menyiapkan guru yang cakap. Kini Kurikulum 2013 sedang dievaluasi Mendikbud Anies Baswedan untuk diteruskan, dihentikan, atau diteruskan secara terbatas di beberapa sekolah yang sudah siap saja.

Wacana Kurikulum 2013 berpotensi menyembunyikan dua akar masalah pokok pendidikan Indonesia saat ini, yaitu tata kelola pendidikan yang buruk (poor education governance) dan guru yang tidak kompeten. Utak-atik kurikulum jauh lebih gampang dan enak daripada memperbaiki tata kelola pendidikan dan menyiapkan guru yang kompeten. Kurikulum terbaik sekalipun pasti akan gagal di tangan guru yang tidak kompeten. Sebaliknya, di tangan guru yang kompeten, kurikulum yang sederhana akan menghasilkan proses belajar yang bermutu.

Wacana ganti menteri ganti kurikulum selama puluhan tahun ini dipijakkan pada paradigma sekolah: Memperbaiki kurikulum adalah memperbaiki sekolah, dan memperbaiki sekolah adalah memperbaiki pendidikan. Padahal, belajar sebagai inti dari pendidikan sebenarnya tidak membutuhkan sekolah.

Kurikulum adalah bagian dari paradigma sekolah yang merupakan produk zaman revolusi industri pada abad ke-17. Untuk memenangkan masa depan pada abad ke-21, anak-anak Indonesia tidak mungkin disiapkan dengan cara-cara lama dengan mentalitas production linesbatch processes, dan standardisasi ini.

Untuk meningkatkan akses pada pendidikan, kita justru perlu membebaskan masyarakat dari monopoli pendidikan oleh sekolah dan mendesentralisasikan pendidikan ke daerah, bahkan ke satuan pendidikan yang terkecil, yaitu keluarga. Pendidikan universal tidak mungkin dicapai melalui persekolahan. Begitu pendidikan disamakan dengan persekolahan, pendidikan menjadi barang langka by definition. Yang perlu dikembangkan adalah jejaring belajar (learning webs) dengan akses dan kurikulum yang lentur, luwes, serta informal sesuai dengan bakat dan minat warga. Itu akan lebih cost-effective daripada persekolahan.

Dengan internet, belajar semakin tidak membutuhkan sekolah, apalagi kurikulum. Membentuk karakter pun hanya bisa dilakukan secara efektif dengan praktik di luar sekolah. Selama beberapa dekade terakhir ini terlihat bahwa semakin banyak sekolah tidak menjadikan masyarakat kita makin terdidik. Hasil sigi internasional terbaru oleh PISA maupun TIMSS serta PIRLS juga menunjukkan murid Indonesia tertinggal pada kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan membacanya juga tertinggal bila dibandingkan dengan teman-teman sebayanya.

Kurikulum adalah serangkaian hasil belajar yang diharapkan dan seluruh proses yang menghasilkan pengalaman belajar serta mekanisme evaluasi hasil belajar murid di bawah panduan guru di sekolah. Jadi, kurikulum adalah atribut penting sistem persekolahan. Siapa yang membutuhkan kurikulum? Sekolah, yayasan pengelola sekolah, guru yang bekerja di sekolah, dinas pendidikan, Kemendikbud, para ahli kurikulum, dan penerbit yang mau mencetak buku wajib yang akan dipakai di sekolah. Asumsi dasar pada setiap penyusunan kurikulum adalah anak akan mencapai prestasi belajar maksimal jika melalui serangkaian instruksi dan lingkungan buatan serta mekanisme evaluasi yang terstruktur dan terencana. Asumsi itu meremehkan kecanggihan manusia beserta semua perangkat belajarnya yang telah diciptakan Tuhan sebagai ciptaan terbaik. Manusia bisa belajar dalam situasi apa pun, bahkan dalam situasi yang paling getir sekalipun. Bahkan, manusia belajar jauh lebih banyak daripada pengalamannya di luar sekolah.

Murid sebenarnya tidak membutuhkan kurikulum resmi yang kaku dan terpusat. Bahkan, anak yang cerdas sebenarnya tidak membutuhkan sekolah. Susi Pudjiastuti yang sekarang menteri kelautan dan perikanan adalah contohnya. Kebanyakan anak kita sebenarnya cerdas. Di banyak sekolah kecerdasan mereka sering diremehkan proses belajar yang tidak menantang yang disajikan guru yang tidak kompeten. Kecerdasan mereka pun sering diukur oleh instrumen yang tidak cocok seperti tes pilihan ganda. Puncak penghinaan atas kecerdasan itu adalah ujian nasional yang dibantu mesin pemindai yang ikut-ikutan menentukan kelulusan mereka. Karena proses yang salah itu, kecerdasan anak-anak tersebut justru menurun dan mereka justru kehilangan jati diri dan percaya diri.

Sesungguhnya hanya anak yang malas dan berkebutuhan khusus yang memerlukan kurikulum yang ”well-designed” oleh para teknokrat ahli. Anak-anak normal tidak membutuhkannya. Dengan bermain di ruang terbuka dan di alam, anak-anak belajar jauh lebih banyak daripada di kelas yang sempit di sebuah tempat yang kita sebut sekolah. Neurosains menemukan bahwa ruang kelas adalah tempat paling buruk bagi proses belajar. Bekal terpenting bagi anak-anak normal itu adalah akhlak yang baik, kegemaran membaca, keterampilan menulis, berhitung, berbicara, dan kesempatan praktik yang memadai bagi keterampilan-keterampilan untuk hidup secara produktif.

Kurikulum hanyalah resep makan siang, bahkan bukan makan siangnya. Kesehatan juga ditentukan oleh sarapan dan makan malam di rumah. Kurikulum tidak perlu gonta-ganti. Ini kegemaran teknokrat-birokrat. Mahal sekali. Kurikulum sederhana, generik, dan lentur mendorong guru melakukan adaptasi ruang dan waktu. Pribadi murid pun justru lebih baik. Sekolah hanya warung waralaba yang berusaha keras mengganti sarapan dengan makan siang cepat saji ala Jakarta. Kita juga sudah kecanduan sekolah sehingga tidak mampu membayangkan dunia tanpa sekolah. Padahal, masyarakat tanpa sekolah itu ada dan pernah ada dengan kualitas kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebuah schooled society yang dengan congkak kita sebut modern ini.

Untuk memastikan pendidikan universal bagi kebanyakan anak-anak Indonesia, yang diperlukan bukan pembesaran sistem persekolahan. Yang diperlukan adalah pengembangan sebuah jejaring belajar (learning webs) yang lentur, luwes, lebih nonformal, bahkan informal. Sekolah hanya salah satu simpul dalam jejaring belajar tersebut. Bengkel, toko, klinik, studio, lembaga penyiaran, penerbit, perpustakaan kecamatan, restoran, koperasi, gereja, kuil, dan masjid dapat menjadi simpul-simpul belajar. Simpul belajar yang pertama dan utama adalah keluarga di rumah.

Formalisme kronis persekolahan harus dikurangi seminimal mungkin. Oleh Illich, itu disebut deschooling. Saat ini di Indonesia schoolism sudah masuk tingkat yang berbahaya. Ijazah dipuja sebagai bukti kompetensi seseorang. Kasus ijazah palsu yang marak terjadi adalah bukti bahwa memang masyarakat kita sudah kecanduan sekolah. Hanya yang tidak percaya diri yang butuh sekolah. Belajar secara mandiri di rumah bisa jauh lebih baik. Jadi, tanpa Kurikulum 2013, sekolah akan baik-baik saja karena tanpa sekolah pun kita sebenarnya baik-baik saja. Kita boleh mulai khawatir kalau kita tidak belajar. (*)

Daniel M. Rosyid

Jawa Pos, 8 Desember 2014

“XTC”

Menari buatku adalah meditasi. Pulang dari tempat kerja , setelah memberi makan kucing-kucing atau saat semua orang sudah berkutat dengan mimpi, aku akan memutar lagu-lagu acak seperti lagu dansa, tekno, indie pop, psychedelic dll yg penting ketukannya bisa untuk menggerakan tubuh. Terakhir lagu DJ koze lumayan sering aku putar ulang, salah satu lagunya XTC, liriknya halusinasi dan begitu sederhana menceritakan tentang aku. Aku tidak memakai xtc atau obat-obatan enak lainnya. Bukan karena takut dosa tapi karena tak ada uang.

Liriknya aku ubah dalam gambarku diatas harusnya “lie is sweet in the beginning and bitter in the end”
Tapi kenyataanya menurutku terbalik, karena untukku, memulai berbohong itu hal yg sulit, kamu harus menyesuaikan memori, ingatan dan jalur cerita. Keindahan pada akhirnya akan terjadi jika kamu bisa melewati rasa gugup saat mata, telinga dan mulut tidak bisa diajak bekerja sama dengan manis.

Model gambar ini adalah model gambar yg sering aku buat saat di sekolah dasar karena aku banyak membaca komik petruk gareng yg suka mengintip mandi perempuan desa di sungai. Entahlah aku memang dari dulu aneh. Tapi disisi lain aku hanyak kepingin rutin berenang dan lagi-lagi aku tak sanggup mengeluarkan dua puluh lima ribu untuk berenang di perumahan sepi hanya untuk 2 jam.
Aku bermimpi, ada sungai bersih di jakarta yg gratis untuk aku berenang setiap hari.


Mimpi.

Tulisan : Melawan Paradigma

Beberapa hari yang lalu saya ikut ajakan teman untuk nonton film Zootopia, ada hal-hal positif yang saya dapatkan dari sana. Terutama dengan karakter utamanya yang berulang kali mengatakan, “Anyone can be anything.”

Alur cerita pada film tersebut seperti menggambarkan keadaan terdekat, tokoh utama berusaha memecah paradigma dan stereotip masyarakat. Dalam film, diceritakan bahwa tidak ada kelinci yang menjadi polisi dan dia berusaha memecah paradigma itu, dia berhasil. Tentu saja tidak mudah, melainkan dengan upaya dan kerja keras dan keteguhan hati.

Di masyarakat kita saat ini, di Indonesia khususnya. Generasi muda seperti kita saat ini pun mungkin sedang berusaha memecah paradigma, ada juga yang tetap aman di dalam paradigma.

Saya ingin bercerita tentang lingkungan saya dulu ketika di kampus Gajah. Sebuah tempat pendidikan yang bagi saya luar biasa, meskipun berat menjalani pendidikan di sana, nyatanya itulah harga yang harus dibayar atas begitu banyaknya pendangan dan keterbukaan wawasan yang saya miliki saat ini.

Sewaktu saya diterima di FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain), orang tua saya bingung. “Anaknya mau jadi apa?”, mungkin itu yang ada dalam benak kedua orang tua saya. Ada upaya-upaya yang saya lakukan hingga pada akhirnya kedua orang tua saya merestui saya sekolah di jurusan yang tidak biasa itu. Kalau di kota besar terutama Bandung atau Jakarta, mungkin jurusan FSRD menjadi salah satu yang favorit (dan saya baru tahu itu ketika sudah masuk FSRD, banyak anak-anak yang rela kursus gambar dan bimbingan khusus agar bisa masuk FSRD). Lain di tempat saya, di sebuah desa kecil di sebuah kabupaten tidak terkenal di Jawa Tengah, bahkan ketika lulus SMA, hanya saya satu-satunya yang masuk ke fakultas “absurd” ini.

Apalagi dengan kakak-kakak tingkat dan guru-guru yang selalu menggemborkan tentang “prospekk kerja” seolah-olah kuliah itu untuk mencari kerja, bukan ilmu.

Kedua orang tua saya yang PNS Guru Sekolah Dasar (FYI keduanya guru kelas 1 SD) pun mungkin melepas saya dengan agak ragu-ragu saat itu. Saya yang selalu menolak untuk masuk sekolah kedinasan dan menolak untuk daftar CPNS hari ini. Ada waktu sekitar 6 tahun sejak hari itu hingga hari untuk saya terus menerus membuktikan ke orang tua saya bahwa tidak menjadi PNS itu tidak dosa dan tidak salah.

Dan alhamdulillah saya memenangkan itu sekitar Oktober 2014 yang lalu. Hari ini, berbekal restu orang tua, saya menjalani sesuatu yang bagi saya luar biasa. Penuh ketakjuban. Setiap kali pulang ke kampung halaman, saya tidak pernah bisa menjelaskan dengan baik apa pekerjaan saya. Ya, apa ya kerjaan saya? (malah jadi mikir)

Sekolah di ITB yang dimulai 2009 yang lalu mengubah paradigma saya secara total. Hari ini, ketika angkatan 2009 (sepertinya) sudah lulus semua, saya berteman dengan orang-orang yang selalu memecah paradigma. Apalagi tentang paradigma pekerjaan, hidup di lingkungan yang dinamis dan sangat terbuka seperti di ITB dan Bandung, mengajarkan saya bahwa yang namanya rezeki itu ada dimana-mana dan tidak terbatas pada pekerjaan tertentu.

Di dunia yang urban seperti sekarang, muncul banyak jenis pekerjaan baru yang tentu saja tidak ada ketika zaman saya dilahirkan sekitar tahun 1990. Hari ini, ada jenis pekerjaan aneh di Langitlangit yang saya bangun yaitu admin. Ada orang yang kerjaannya “main hp dan sosmed” dan dibayar untuk itu. Ada yang hanya posting sesuatu di sosmednya, dibayar.

Bertemu dan berteman dengan orang di lintas bidang semakin membuka wawasan saya dan sudut pandang saya terhadap begitu banyak pekerjaan. Satu hal yang selalu saya pegang teguh adalah, saya tidak boleh memandang rendah pekerjaan orang lain, tanpa terkecuali (tentu saja pekerjaan-pekerjaan yang halal).

Pekerjaan seperti tukang pengambil sampah di komplek rumah saya sekarang pun, sangat berarti. Bayangkan kalau beliau absen sepekan, niscaya sampah menumpuk. Atau satpam komplek yang nyari 24 jam berganti shift. Atau penjaga palang pintu kereta api yang berdedikasi menjaga lintasan itu, tidak kenal libur bahkan ada yang melewatkan hari raya. Saya ingin sekali suatu hari, dengan apa yang saya kerjakan saya saat ini, bisa memberikan kebermanfaatan kepada lebih banyak orang. Juga ingin sekali memberikan penghargaan kepada orang-orang yang selama ini mungkin dipandang sebelah mata oleh masyarakat hanya karena pekerjaan yang dia jalani.

Apabila kelak kemudian hari saya memiliki menjadi orang tua dan memiliki anak. Hal-hal seperti ini saya tulis untuk menjadi pengingat bahwa ia bisa menjadi apapun yang ia mau. Kalau kelak anak saya bertemu dengan seseorang yang dicintainya, maka sebijak mungkin saya pun tidak akan menilai dari pekerjaannya apa, tapi bagaimana karakternya.

Mengubah paradigma itu lintas generasi.

Yogyakarta, 9 Maret 2016 | ©kurniawangunadi