sekolah menengah atas

Sebelum Itu..

Jadi, sebelum semuanya kabur ke dunia masing-masing..mari sempatkan waktu nostalgia *halah

jadi malu mau nulis..

kalo diharapkan, inginnya tidak dengan cara seperti itu saya menjalani sisa masa SMA bersama kalian. Tapi ya sudah, toh sudah lewat ini..lagi pula kalo ga sama kalian ya siapa lagi :)

ga ada kan yang kaya kalian?

bisa nikmatin main game pc bareng-bareng padahal yang ngejalanin cuma satu orang 

atau malah galau seharian karena banyak yang dipikirin..

entah di tempat belajar yang baru masih bisa kaya gini atau engga

atau kaya gini..

atau bahkan kaya gini…

insya Allah di tempat masing-masing kita bisa jadi jawaranya :)

Maaf yah kalau saya di sekolah masih sering kaya gini

taulah yah..saya masih labil jadi gitu hahaha *alasan

terus senyum terus ibadah yah :) 

Hana di Bandung.

“Nun, aku mau ke Bandung. Jemput bisa Nun?”
“Bisalah…”
“Nginap sana juga ya Nun.”
“Siaap…”
“Nun, bawa aku ke kajian ust. Hanan ya Nun.”
“Oke.”
“Nun, pinjam baju. Hahaha”

(Nun, dari kata Hanun. Sama-sama manggil gitu, entah kenapa.)

Perjalanan tanpa rencana yang matang bisa jadi perjalanan yang berkesan.

Berawal dari satu kelas di tahun pertama sekolah menengah atas, kami lanjutkan komunikasi hingga saat ini. Berawal dari minta ajarin matematika hingga sampai ilmu agama. Hana Adha selalu jadi teman yang bisa diandalkan.

Errrr ada dua kemungkinan sih. Hana memang teman yang baik atau aku yang gak tahu diri. Wkwkwk. Tapi Hana senang tuh aku repotin. Hehe.

Lebaran tahun lalu Hana bilang pengen ke Jogokariyan. Ke masjidnya ust. Salim A Fillah. Ustadz yang kata-katanya bikin meleleh itu. Ustadz yang mengumpamakan senyum istrinya bagai sepotong surga tersiram madu. Ustadz yang mengingatkan kita untuk meneladani Matahari yang mencintai Bumi, tapi mendekat pada Bumi justru membinasakannya. Eh, belum sempat menyambut Hana di Jogja, malah disambut oleh Hana di Bandung. Wkwk.

Hana dari TK sampai SMP sekolah di sekolah islam gitu. Jadi dari jaman piyik udah kerudungan. Yaaaa menurutku ilmu agamanya udah jauh banget diatasku. Tapi masih aja ngerasa kurang. Eh, harusnya emang gitu ya.

Sebagai seseorang yang fakir ilmu dan niat belajarnya masih harus terus diperbarui karena kadang hilang di tengah jalan, melihat Hana yang semangat belajarnya membara bikin aku cemburu.

Bahkan Hana yang baca Al-Qurannya begitu lancar masih berburu guru tahsin.
Kata Hana, umur kita ni kan nanti bakal dipertanggungjawabkan. Selama ini kita hidup masa dak dipakai buat belajar. Sedangkan bahasa Arab dan membaca quran dengan baik dan benar itu semua bisa dipelajari. Kalau kita bisa belajar bahasa inggris berarti kita juga bisa belajar bahasa arab.

Hana bilang, Allah tu baik kali. Semua Allah kasih. Tapi sayangnya kita masih terbiasa dengan ibadah yang diiming-imingi. Padahal Allah baik kali loh sama kita.
Pernah suatu saat Hana dak terbangun pas tahajud, kebangunnya pas adzan subuh. Hana sedih kali. Hana ngerasa ada yang salah sama dirinya sampai-sampai Allah dak bangunkan dia pas tahajud. Tapi Allah baik kali, masih bangunin Hana pas adzan subuh, dak terlewat subuhnya. Hana merasa rugi kalau Senin dan Kamisnya berlalu begitu saja tanpa puasa. Dan Hana selalu sempatkan dhuha lebih dari dua rakaatnya.

Hana kenalkan Bandung sebagai kota yang tenang. Kota yang gemerlap lampu masjidnya. Hehe. Kata Hana, “Disini ni Nun, masjid tu tempat yang keren gitu Nun. Banyak anak mudanya. Anak muda disini tu nongkrongnya di masjid Nun.”

Jadilah aku diajak ke Masjid Salman, Masjid Raya Bandung, Daarut Tauhid, dan tentunya Masjid Trans Studio Bandung wkwk. Oh! Belum Al-Lathiif ya??? Yodah ntar sana lagi. Belum foto di depan gedung sate jugak pun. Wkwk

Duh, Bandung, sudah boleh rindu belum?

youtube

Various Indonesian High School Uniform.

          Djangan Loepa, Mari Mengingat Indonesia lewat Cara Kreatif

 


“Siapa yang mau mengingat – ingat masa lalu? Apa guna?”

 

Sadar atau tidak, inilah yang sering terjadi dalam diri kita. Menjadi generasi ‘masa kini’ yang hidup di era yang serba maju, serba ada dan serba ‘futuristik’ yang menyebabkan kita lebih suka berpikir  mengenai apa yang akan datang dibanding mengingat – ingat hal di masa lalu yang membentuk kita seperti sekarang.  Contoh kecilnya, adalah bicara tentang sejarah bangsa ini, Indonesia. Sebagian besar dari kita terakhir kali diberikan pengetahuan tentang sejarah Indonesia secara konstan adalah ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Selepas itu, mengenali sejarah negeri menjadi pilihan prerogatif masing – masing pribadi.  

Hal ini memunculkan lebih banyak generasi yang acuh tentang cerita – cerita negeri Ini. Sesekali kita abai akan hal itu.

Kita abai kalau :

Kita  sering mencari tahu apa yang terjadi di negara seberang,

tetapi lupa mencari tahu tentang sejarah negara sendiri.

Kita getol memelajari bahasa asing,

Tetapi lupa memelajari bahasa ibu kita sendiri.

Kita tenggelam dalam musik atau film dari negara orang,

tetapi lupa dengan budaya sendiri.

Namun, kita perlu menyadari bahwa sepenuhnya  kesalahan bukan berada pada yang lupa. Sebab terkadang, tidak banyak sarana dan medium untuk menjadi “pencerita” bagi kita untuk mengenal bangsa ini lebih dalam, sebab sedari dulu kita hanya mengenal sejarah lewat narasi – narasi yang terkesan membosankan di depan kelas.  

Menyadari hal itu, kami tergerak untuk menjadi corong pengingat bagi generasi masa kini untuk lebih mengenal negeri ini. Semangat untuk mengulik, mengolah, dan menyajikan cerita – cerita tentang Indonesia melalui konten  dan karya  kreatif serta  inovatif kami hadirkan lewat medium tumblr bernama “Djangan Loepa” ini. Menggunakan ejaan lama, kami ingin agar sesekali kita perlu  untuk mengenang yang telah berlalu.  Sebab sejatinya, kehidupan kita hari ini adalah produk dari apa yang terjadi di masa lalu, dan menjadi penentu dari apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

“Djangan Loepa” adalah sebuah platform untuk mengenalkan tentang sejarah, cerita, berita, bahasa, budaya, tokoh, dan mimpi – mimpi negeri ini untuk dikenalkan, dipahami, dan disebarluaskan sebagai “pengingat” untuk lebih mencintai, dan akhirnya menjadi semangat untuk membangun negeri ini menjadi lebih baik. Karena kami percaya, untuk menjadi bangsa yang besar  adalah dimulai dengan mengenal negeri ini. Sebesar – besarnya mengenal negeri ini, maka akan sebesar – besarnya pula mencintai negeri ini. Sebesar – besarnya mencintai negeri ini, maka akan sebesar – besarnya pula membangun negeri ini.  

Karya – karya kreatif baik itu visual, audio hingga narasi akan menjadi senjata kami untuk mengenalkan Indonesia dengan cara yang “asyik,” sehingga bisa dengan mudah diterima dan dicerna oleh khalayak. Hal ini sesuai dengan misi kami, yakni memberikan sajian tentang Indonesia dengan cara yang kekinian.

Nantikan kami setiap minggunya, karena Indonesia punya segudang keragaman, kekayaan, dan keasyikan yang terlalu sayang untuk dilupakan dan dipinggirkan.


Djangan Loepa, Ja!

“Kamu tidak akan bisa menetapkan dengan baik kamu mau kemana, sebelum kamu tahu asalmu dari mana”. – Sudjiwo Tedjo

Kamu kapan, Nduk?

“Nduk, tadi Ibu baru saja kondangan ke tempat anak temen SMP Ibu, lho, ternyata dia seumuran kamu. Nikah muda, maasyaa Allaah.”

“Maasya Allaah, ikut seneng ya, bu.”

“Iya, itu Pak De-mu udah mau punya cucu tiga aja, Mbak Nia punya anak satu lagi,”

“Maasyaa Allaah, Bu. Pas pergi kesini belum pada punya anak, eh pulang-pulang dari sini besok udah punya keponakan banyak aja.” Aku tertawa diujung telfon.

“Lha, tiga tahun, tho, Nduk?”

“Hehe, iya, Bu..”

“Eh, kamu tau Mbak Neni, kan? Yang rumahnya dari TK agak ke selatan itu.”

“Oh, iyaiyaa… tau, bu. Kenapa, Bu?”

“Udah lamaran, sama kayak Kakak-nya Ully sahabatmu itu.”

Perasaanku mulai aneh, kayaknya aku bisa nebak arah pembicaraan Ibu, hehee~

“Apa Ully nggak cerita, tho, sama kamu?”

“Cerita, Bu. Insyaa Allaah Januari katanya.”

“Kamu kapan, Nduk? Sudah ada Calon?”

Nah, kan, ketebak. Aku tersenyum manis. Disamping itu, ada sedikit perasaan berkabut. Waktu memang melesat cepat bagai anak panah, tetapi hatiku-tidak. Maksudku, aku masih merasa seorang gadis yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas. Dua tahun lebih aku berada disini seolah baru dua minggu aku meninggalkan keluargaku. Tidak terasa, sebentar lagi aku menginjak usia dua puluh satu, tetapi apa harus setergesa itu?

Bukankah menikah bukan lomba lari? Menikah bukan sekedar ‘saya terima nikahnya, dan sah.’ saja. Ada tanggung jawab yang besar untuk itu, ada ilmu-ilmu yang harus dimiliki setelah itu. Apalagi, menjadi seorang istri, kita harus benar-benar meluaskan jiwa juga tutur kata. Melatih diri agar mampu menauladani Khadijah Radhiyallaahu anha juga para Ummul Mukminin lainnya.

Menikah juga bukan perihal ‘apakah sudah ada tambatan hati atau belum’. Bukankah seseorang juga akan tetap bisa menikah meskipun belum pernah bertemu sebelumnya? Bukankah dua insan tetap dapat membina rumah tangga meskipun tiada cinta diantara mereka sebelumnya? Sebuah cinta yang diikrarkan untuk Allaah, aku kira.. rasa itu pun akan tumbuh oleh dan karena Allaah. Sebab, tidak mungkin tidak, bagi kedua hati yang saling mencintai Tuhan-nya akan bertemu pun karena Tuhan mereka.

Seperti apa yang dikatakan Imam Nawawi, ‘Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu, jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu.’

Jadi saat pertemuan itu tiba, insyaa Allaah, sebab agama-nya lah aku akan jatuh cinta.

“Ibu.. do’akan semoga aku mampu membekali diri, ya, Bu. Kalau calon, alhamdulillaah sudah, namanya tertulis di Lauh Mahfuzh. Hehe..


Malam ini banyak sekali bintang, udara merasuk sampai ke tulang. Langit Jepang masih sama seperti dua tahun yang lalu ketika aku datang.

©catatansangmusafir

#random #malam #belumterbaca #pastiada #perempuan

Re

Namaku Reyhan. Biasa dipanggil ‘Re’. Aku seorang pemuda berparas tampan yang tidak punya teman. Sedari kecil aku tidak punya seorang pun yang bisa disebut teman. Berteman dengan anak-anak sebayaku kurasa sangat membosankan. Menginjak usia remaja pun aku masih sendirian.

Kedua orang tuaku punya posisi penting di kantor pemerintahan kota. Aku tidak tahu jelasnya apa pekerjaan mereka, tapi keluarga kami cukup kaya. Ketika aku diterima di salah satu sekolah menengah atas favorit di kota ini, mereka membelikanku mobil. Aku menjadi salah satu dari 30% siswa yang membawa mobil ke sekolah. Sekolah SMA-ku katanya didominasi oleh orang-orang berada. Meski demikian, aku tetap tidak punya teman.

Masa-masa SMA, ku-isi dengan aktif di berbagai macam olimpiade. Di tingkat kota, aku sempat mengikuti beberapa olimpiade sains. Namun ketika aku lolos di semua kompetisisi yang waktunya dilaksanakan hampir bersamaan, aku memilih olimpiade matematika dan melepas keikutsertaan di olimpiade fisika, kimia dan astronomi. Dalam keikutsertaanku sebagai peserta, aku punya banyak orang yang menganggapku rival. Meskipun berasal dari satu sekolah, meskipun sama-sama berjuang di kompetisi yang sama, mereka tidak menganggapku teman. Aku terlalu pintar katanya. Aku tidak butuh teman.

Aku lulus sebagai juara umum. Nilai ujian sekolahku jauh diatas rata-rata siswa yang lainnya. Aku mendapat nilai sempurna di pelajaran matematika dan nilai hampir sempurna di mata ujian yang lain. Tidak aneh, karena aku dilahirkan dengan otak yang cerdas plus sebagian waktu kosong yang kupunya digunakan untuk belajar. Tidak sulit untuk masuk universitas yang kuinginkan. Untuk lulus dari sana pun aku tidak merasa kerepotan. Tidak sesulit mencari mahasiswi untuk di ajak kencan.

Terlahir tampan, tentu otomatis aku mencari yang cantik sebagai pasangan. Dengan wajah dan kendaraan yang kupunya, tidak sulit untuk mendekati wanita yang kuinginkan. Sayang, mereka tidak secerdas yang kuharapkan. Berbincang dengan mereka terasa membosankan. Ada beberapa mahasiswi yang kurasa cukup pintar, namun tampilan mereka tidak sesuai dengan seleraku. Akhir pekan lebih sering kuhabiskan sendirian. Aku masih tidak punya teman.

Aku tidak suka dipandang dengan pandangan iri yang penuh benci. Aku juga tidak suka dimanfaatkan. Lagi pula aku terlalu pintar untuk bisa dimanfaatkan orang lain. Rupanya Tuhan memberiku terlalu banyak kelebihan sehingga aku tidak punya teman.

Aku lulus terlalu cepat. Aku merayakan kelulusan bersama para senior yang berbeda angkatan. Di malam perayaan kelulusan, mahasiswa seangkatanku hampir tidak ada yang datang. Cuma aku seorang yang duduk di bangku paling belakang. Melihar para senior yang sedang bergelimang kebahagiaan. Aku merayakan kelulusan sendirian.

***

Kota ini tetap ramai meskipun sudah mendekati tengah malam. Lampu temaram tidak absen menghiasi keindahan kota. Meskipun dijuluki sebagai kota kembang, belakangan ini kupikir lebih cocok disebut sebagai kota hujan.

Dalam waktu seminggu terakhir, aku sudah berkali-kali keluar masuk rumah kedua orang tuaku. Kulihat ibuku masih sesegukan. Ayah terlihat sibuk mengatur banyak urusan via telpon. Tentu saja, ini hari ketujuh beliau tidak masuk kantor.

Beberapa kerabat masih ada yang menginap di rumah. Menemani ibuku dan membantu berbagai keperluan rumah tangga. Saudara-saudara sepupuku sudah pulang beberapa hari lalu, mereka memang hanya sekedar datang. Hanya orang tua mereka –saudara ibu dan ayah- yang tampak ikut terpukul dan serius berbela sungkawa.

Seperti biasa, kehadiranku di rumah tidak disadari oleh penghuni rumah. Sudah beberapa kali aku mencoba menyapa tidak ada yang menyahut. Tepat seminggu yang lalu, ketika semua masih terasa baru, aku yang frustasi menendang guci cina di ruang tamu. Semua mata terbelalak melihat guci yang hancur berkeping-keping. Namun tidak seorang pun yang melihat ke arahku. Aku selalu sedih jika teringat momen itu, momen ketika semua orang hanya terpana melihat guci yang kuhancurkan namun tetap tidak melihatku. Hanya ibuku yang menangis semakin kencang.

Kurasa cukup, ini terakhir kali nya aku akan menginjakan kaki disini. Di rumah ini. Tepatnya di kamar ini, tempat aku menghabiskan banyak waktu sendirian. Di kamar ini aku punya beberapa lemari berisi buku komik dan Play station dari semua generasi. Meskipun tidak punya teman aku tidak pernah kehabisan cara untuk menghabiskan waktu luang.

Aku keluar tanpa membuka pintu, sama seperti ketika aku masuk. Aku sedang malas membuat keributan. Membuat kedua orang tuaku semakin sedih adalah hal terakhir yang ingin kulakukan. Dari lorong di depan kamar aku berjalan menjauhi tangga untuk turun, kemudian mendekat ke arah balkon. Aku meloncat dari balkon. Pertama kali melakukannya cukup menegangkan, namun sekarang rasanya biasa saja.

Sesaat setelah mendarat di tanah, kulihat sesosok putih berkelebatan di atas pohon beringin yang ada di seberang rumah. Melayang perlahan mendekat ke arahku, sosoknya semakin jelas terlihat. Kain putih usang yang melekat di tubuhnya, rambut panjang yang terurai sampai ke pinggang dan kulit pucatnya yang membuatku gemetar saat pertama kali melihatnya.

Tiba-tiba di sampingku berdiri sesosok lelaki yang terbungkus kain kafan. Beberapa simpul ikatan terlihat erat mengikat di beberapa bagian tubuhnya dari kaki sampai ujung kepala. Matanya tertuju pada sesosok putih yang kini sudah mendarat di atas tanah. Lidahnya terlihat menjulur, menyeka entah apa pun itu yang tersisa di ujung bibirnya.

Berada dalam kondisi seperti ini, aku yang dulu pasti sudah berlari kencang. Sosok di depanku ini benar-benar seram. Si hantu legendaris, Kuntilanak! Yang tertawanya saja bisa bikin bulu kuduk merinding. Sosok di sebelahku tidak kalah seram. Siapa yang tidak kenal pocong? Tampilan wajah yang menyeramkan dengan tubuh masih utuh dibalut kain kafan. Dua sosok ini merupakan hantu yang sangat terkenal.

“Gimana Re? Udah sukses move on?” sosok di depanku bertanya dengan santai.

“Uda cukup, lagian kasian orang rumah kalo aku gentayangan terus”

“Barangnya dibawa?”, aku memang menjanjikannya sesuatu. Lagi pula itulah tujuanku datang lagi malam ini. Mungkin untuk yang terakhir kali.

Aku mengeluarkan sebuah smartphone yang sedari tadi kusimpan di saku celana. Setelah ku non-aktifkan system lock-nya, aku memberikan smartphone tersebut pada Susan, kuntilanak yang matanya sekarang sudah berbinar-binar ketika melihat smartphone yang kubawa.

“Bawa apaan tuh, Re?” sosok di sebelahku akhirnya membuka mulut. Aku yakin ketika dia ber-teleport kemari mulutnya masih penuh makanan. Setelah makanannya habis dia baru angkat suara.

“Ini smartphone, bang. Kemarin Susan minta dibawain. Jadi aku pulang ke rumah buat ambil ini.”

Bang Bokir, pocong yang ada disebelahku cuma manggut-manggut. Tampaknya ingin memegang tapi tidak punya tangan. Kasihan.

Susan dari tadi asyik memencet-mencet layar smartphone, tampaknya sedang mencari sesuatu. Sesaat kemudian dia lalu berseru

“Ah ini dia!, Re! Bang Bokir ayo sini!”, Susan menyuruh kami mendekat.

Aku berjalan perlahan mendekati Susan, bang Bokir pun mendekat dengan meloncat-loncat. Susan yang masih Euforia merangkul bang Bokir dan menempatkan aku setengah jongkok, di tengah-tengah mereka sambil disuruh melihat ke arah layar smartphone.

“Ciiiiiiis!”

Susan menyuruh kami berpose menghadap layar dan berganti gaya untuk setiap ‘ciiiis” berikutnya. Bang Bokir yang kekurangan gaya cuma bisa mingkem, senyum, dan nyengir saja. aku dan Susan cekikikan melihat kekakuan bang Bokir di depan kamera.

“Memang kita bakal kelihatan kalo difoto?” akhirnya aku menyempatkan bertanya disela-sela sesi pemotretan.

“Emangnya engga?” Susan malah balik bertanya dengan tampang innocent-nya.

Aku segera mengambil smartphone dari Susan lalu mengecek galeri-nya. Sesuai dugaan, yang terlihat hanya backgroundnya saja. Kami bertiga tidak muncul di foto. Susan tampak ber’yaaaah’ dengan raut wajah yang kecewa.

“Trus ini smartphone buat apa?” Susan mengambil kembali smartphonenya lalu memperhatikannya dengan seksama, sambil memikirkan apa gunanya punya smartphone kalau tidak bisa selfie.

Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah teriakan lantang dari arah pintu rumah. Sepupuku Tomy, yang baru berusia dua belas tahun terlihat histeris ketika melihat sebuah smartphone melayang-layang di udara.

Masih gemetaran, Tomy balik segera badan hendak masuk ke arah rumah. Bang Bokir yang memang iseng segera ber-teleport ke hadapan Tomy lalu memasang tampangnya yang paling menyeramkan. Tomy pucat pasi melihat sesosok pocong yang ada di depannya.

               “Po,po.., poo, pocc, pocoooooooooooooong!” Tomy berteriak kencang sebelum akhirnya pingsan.

Susan yang masih memegang smartphone segera mengabadikan momen tersebut. Sambil bersorak girang, Susan lalu berlari ke arahku dengan mengacungkan smartphonenya. Di layar smartphone terlihat wajah Tomy yang pingsan dalam kondisi mengenaskan. Aku cekikikan.

Mendengar teriakan Tomy, seisi rumah bergegas ke pintu depan. Mereka terlihat panik sekali ketika melihat Tomy tergeletak di pintu depan. Tomy segera dibawa ke dalam rumah. Kami bertiga sudah berpindah tempat beberapa detik yang lalu ke dekat pohon beringin tempat tadi Susan menampakkan diri. Aku melihat keluargaku dari kejauhan. Baru seminggu, tapi rasanya sudah lama sekali.

               “Kangen rumah, Re?”, bang Bokir bertanya kepadaku dengan nada prihatin.

               “Dikit”, jawabku sekenanya.

               “Mau gentayangan dimana nih?”, Susan bertanya memecah keheningan.

               “Saritem yuk!” Bang Bokir memberi saran. Yang mana langsung ditimpali dengan jawaban negatif dari Susan. Katanya itu tempat kerja Susan sebelum meninggal. Susan malu kalau harus gentayangan disana.

               .

.

 

Namaku Reyhan. Aku pemuda tampan, cerdas dan punya banyak uang. Masa depanku seharusnya sangat cemerlang. Usiaku masih  22 tahun 4 bulan dan 9 hari. Setidaknya, itu yang tercatat di batu nisanku. Aku meninggal tepat seminggu yang lalu. Awalnya memang menyedihkan, tapi setelah kupikir lagi ternyata tidak terlalu buruk.

               Susan dan bang Bokir masih meributkan mau gentayangan dimana. Susan menusukkan kedua jarinya di lubang hidung bang Bokir dan menariknya ke atas. Sementara bang Bokir cuma bisa teriak-teriak sambil meloncat-loncat, tidak sanggup melawan. Tidak ada yang bisa mendengar mereka, kecuali mungkin rekan sebangsa kami.

Aku kembali cekikikan. Hal yang jarang sekali kulakukan ketika masih hidup.

Namaku Reyhan, biasa dipanggil ‘Re’. Aku pemuda tampan, cerdas dan punya banyak uang. Di malam ke tujuh setelah meninggal, aku punya dua orang teman.

Trinitas Positif

Bismillahirrohmanirrohiim..

Positive Thinking,
Positive Action,
Positive Motivation.

adalah 3 (tiga) pesan yang selalu disampaikan oleh waliku ketika kelas sebelas dan dua belas sekolah menengah atas.

Mom Septi, panggilanku padanya. Bersebab beliau merupakan guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Bisa dibilang, beliau adalah insan yang menjadi penguatku untuk selalu berpikir positif pada hidup. Bagaimana tidak, setiap selesai jam pelajarannya, kami selalu diminta mengucapkan tiga pesan tersebut bersama-sama seperti mengucapkan janji siswa-siswi atau idealisme kami.

Dan hari ini, aku sadar, bahwa pesan yang beliau sampaikan itu tidaklah salah dan berlebihan. Bersebab, setiap insan membutuhkan semangat positif dalam mengarungi kehidupan. Lebih-lebih, masyarakat di kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dlsb.

Hidup di kota dengan penuh kebisingan bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan. Apalagi jika di dalam hati insan tersebut terdapat banyak problematika yang harus diselesaikan, atau sesederhana tidak adanya kedamaian jiwa bersebab emosional yang labil. Tentu kondisi sekitar akan semakin menumbuh kembangkan penyakit di dalam tubuh.

Bersebab itu, semangat positifisme wajib dimiliki oleh setiap insan, agar ia senantiasa mampu memaknai dengan baik setiap momentum di dalam hidupnya. Dan untuk memiliki semangat positif bukanlah hal yang sulit, terkhusus bagi seorang muslim.

Bersebab, setiap muslim telah diberikan garansi hidup yang istimewa oleh Allah swt. Seperti firman-Nya pada QS. Ali Imran ayat 190-191, yaitu :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Dari firman Allah di atas, maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk berpikir positif atau bahasa Lampungnya itu husnudzon pada seluruh momentum yang terjadi di dalam hidup mulai dari kebahagiaan, musibah, keberhasilan, bahkan hingga kegagalan. Bersebab semuanya merupakan skenario dari Sang Maha Pencipta, yakinlah bahwa telah Allah sematkan hikmah yang baik pada diri dan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita seperti firmanNya dalam QS. Adz-Dzariyat : 20-21.

Jadi, mari belajar menjadi insani yang postif, terkhusus melatih diri untuk senantiasa berhusnudzon kepada Allah swt. Insyaa Allah dengannya hidup akan lebih menenangkan. Daaan juga mulai membiasakan diri untuk melakukan Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa) ketika hendak melakukan aktivitas, wa bil khusus ketika akan menambah ilmu (belajar). Bersebab ilmu hanya dapat masuk ke dalam pribadi yang hati dan jiwanya siap memberikan sebaik-baik penerimaan pada ilmu, yaitu hati yang bersih dan tulus Lillahi ta’ala.

Wallahu’alam bi showwab.

———————————–
Depok, 23 Oktober 2017
FA

Aku

Teringat masa ketika masih duduk di bangku sekolah dulu. Aku adalah manusia bayangan; ada, tetapi juga seperti tidak ada. Aku tidak banyak mulut, tidak asik berbincang dengan teman sekelas lain, tidak pula pandai memulai percakapan.

Entah mengapa aku bisa bertahan hingga sekarang, yang pasti ada Kehendak Tuhan dan doa kedua orang tua yang terlibat di dalamnya.

Tidak ada dulu itu ambisi menjadi yang terbaik dari yang lainnya ataupun bisa dilihat oleh yang lainnya. Aku tumbuh besar pendiam dan tak banyak maunya. Aku hanyut dalam khayalan dan goresan-goresan pensil yang terus kuasah sedemikian rupa agar bentuknya layak dan indah. Aku hidup dengan pandang yang hitam-putih. Hasil karyaku sendiri pun bila tidak putih, ya hitam. Tetapi, aku tidak gagal melihat warna pada diri orang-orang. Hanya saja, terkadang aku merasa ada yang kurang. Selalu saja begitu.

Terima kasih kepada orang-orang di masa lalu yang masih mau melihat dan menganggapku. Ingat sekali, ketika Ujian Nasional sekolah menengah atas yang ingar-bingar dengan kunci jawaban yang dibeli, contekan-contekan yang bersembunyi, hingga kecurangan pun guru-guru yang memfasilitasi. Aku ini hidup di dunia yang apa? Dalam diam, aku menimbang-nimbang keadilan, hingga sampai pada suatu kesimpulan mendekati kebenaran.

Aku mencoba untuk tidak ikut arus dan maju dengan kemampuanku sendiri. Aku tak peduli, nilai matematikaku yang anjlok karena ketidak sukaanku pada mata pelajaran itu. Aku tidak peduli, ada hitung-hitungan yang salah di atas lembar jawaban komputer itu. Aku juga tidak peduli, aku salah menjawab soal yang mestinya mudah untuk diselesaikan. Aku dengan konsekuensiku.

Hampir saja aku menjadi produk gagal. Atas Kehendak Tuhanku, saat itu diberlakukan remedial atau uji ulang mata pelajaran yang tidak lulus. Dan aku pun harus menempuh kembali dua mata pelajaran itu. Satu adalah wali kelasku yang sabar dan baik hati, satu yang lain tidak sabar dan tebal muka memberi kunci jawaban padaku. Aku terenyuh dengan usaha yang pertama, tetapi mengacuhkan watak yang kedua.

Lalu, Pak Guru Sosiologi yang mengajak duduk bersama di bawah rindang pepohonan halaman sekolah bertanya, mengapa aku memilih untuk tidak ikut yang kebanyakan?

Tidak ingat persis apa jawabku, yang pasti hanya satu: aku ingin hanya aku yang memutuskan seperti apa hidupku. Aku ingin lepas dari pandangan dan genggaman orang lain. Aku hanya ingin menjadi diri sendiri, meski resikonya aku dijauhi, direndahkan, diremehkan atau ditinggalkan. Biar bayangan pun mengkhianati, setidaknya, aku tidak pernah meninggalkan diriku sendiri. Dan aku juga punya Allah.

Lantas, apa yang salah?

Aku tuli pada pilihan yang diberi orang lain. Aku hanya ingin pilihan yang kuputuskan sendiri. Aku buta pada orientasi yang mengendalikan. Aku hanya ingin berjalan dengan kedua mataku sendiri. Aku bisu pada tipu daya yang berkeliaran. Aku hanya ingin katakan apa yang perlu dan ingin kukatakan. Dan aku dungu dengan operan mulut banyak orang. Aku hanya ingin buktikan sendiri yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Lantas, bila aku salah, apa yang buatmu merasa paling benar?

Aku bukan kamu. Terima saja.

First Love

Di sudut ingatanku, ada sebuah kotak yang menyimpan kenangan. Sebuah buku bertuliskan huruf-huruf yang tertata rapi. Tentang impian.

Saat itu aku masih belia. Dunia bahkan terlalu besar bagiku. Namun, aku tetap bermimpi dengan penuh keberanian.

Aku terus bermimpi sampai aku berada di sekolah menengah atas. Mimpi yang masih terus kusimpan rapi dan mungkin hingga kini.

Huruf-huruf dari negeri yang jauh mewarnai malam-malamku yang terkadang diselingi butiran air mata. Nyaris menyerah namun selalu ada yang berkata, terlalu cepat untuk menyerah.

Lalu tiba masa dimana aku mengutuk semuanya. Aku menyesali segala impian yang kulukis dalam benakku. Namun, aku tahu, aku tak pernah benar-benar menghapusnya.

Aku belum menyerah.

Kendari, 12 Juli 2017.

Kedokteran: Asal Senang dan Sehat

Menjadi mahasiswa kedokteran menyadarkan saya akan banyak hal. Melalui tulisan ini, saya ingin adik-adik memahami benar bahwa pilihan apapun yang kita buat dalam hidup merupakan hal yang harus diperjuangkan dan dipertanggungjawabkan. Mungkin sekali waktu kita akan membuat pilihan yang salah, tapi tak jadi masalah selama kita terus berjalan memperbaikinya. Dengan demikian kita akan belajar banyak dari apa yang direncanakan Tuhan.

Berawal dari masa SMA, seperti kebanyakan anak-kutu-buku mainstream lainnya, saya mulai dihadapkan pada beberapa pilihan oleh orang tua. Belum genap sehari-dua saya menginjakkan kaki di bangku kelas sepuluh ketika itu, mama papa sudah membicarakan ini dalam rapat keluarga. Haha. Meski suasananya akrab dan penuh nostalgia masa muda mereka, jelas bahwa semua perbincangan ini sarat akan makna: “Ayo kamu pilih jurusan yang ‘benar’… | “Benar ini bagaimanakah, Pa, Ma?”  Sederet contoh mereka paparkan. Uniknya mereka tidak merekomendasikan profesi mereka sendiri, katanya tidak usah meniru-niru, tanyakan pada hati, yang penting kamu senang dan sehat. How blessed I am :”)

SEHAT!

Dari SD saya memang penggila pelajaran IPA. Hal ini karena ibu guru privat matematika saya, curi-curi mengajarkan ilmu hidup ini pada anak murid bandelnya yang baru kelas tiga. Belum genap kelas tiga saya sudah hafal rantai biokimia fotosintesis, belum genap kelas lima saya sudah dipinjami ibu ini mikroskop yang bikin saya jatuh cinta. Sepanjang sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas pun saya habiskan untuk ikutan lomba-lomba MIPA khususnya biologi. Ketika ditanya alasannya, si cupu dan lugu ini menjawab, “Kita kan makhluk hidup, jadi kenapa engga kita belajar tentang makhluk hidup juga? Kita harus senang belajar tentang diri kita.” Narsistik kah?

Pertimbangan begitu dalam selama kelas sepuluh dan sebelas membawa saya kepada sebuah jurusan—FK sajalah, tak apa. Saya tidak mengalami pergolakan batin seperti yang lainnya. Tidak pula lama bertanya-tanya ketika akan menentukannya dan alhamdulillah diterima di kampus yang saya puja.

Pendidikan di FK rata-rata ditempuh dalam waktu 5 sampai 5,5 tahun. Universitas saya mengambil kebijakan 5 tahun pendidikan. Masa pendidikan yang panjang ini dibagi menjadi dua fase;

1). Preklinik—Rugi kalau enggak senang-senang… :D

Pada fase ini, kita akan dihadapkan pada ilmu biomedik yang dibutuhkan ketika nanti menghadapi dunia klinik. Ilmu biomedik ini dikemas dalam bentuk modul yang rata-rata berdurasi enam minggu. Mulai dari yang benar-benar “ini emang buat apa sih?” seperti sel dan genetika, biomolekuler, dan riset, sampai yang “gila ini susah banget, kayak buat dokter spesialis aja nih ilmunya” seperti hemato dan onkologi. Adapula yang dari “ini seru banget luar biasa!” kayak reproduksi dan kardiologi, hingga yang ini ga penting, please, malas banget belajarnya” seperti ilmu kedokteran berbasis bukti dan ilmu kedokteran komunitas.

Metode belajarnya terdiri atas kuliah, keterampilan klinik dasar, praktikum, dan diskusi. Di universitas saya, satu modulnya bervariasi 15-35 kuliah yang dikebut tiap harinya. Memang terkadang bosan dan kantuk melanda. Tak ayal buku coretan pun menjadi tempat kabur saya. Habis buku catatan saya gambari doodle macam-macam. Tapi tak jarang pula, hadir pendidik yang luar biasa. Ya, pendidik, bukan pengajar biasa, yang begitu ia membuka suara, kamu merasa belajar banyak dan terinspirasi karenanya, membuat kamu yakin bahwa kuliahnya amat berharga, sampai-sampai tak ada yang rela ke toilet untuk meninggalkannya.

Keterampilan klinik dasar ini yang paling saya suka. Pada metode ini kita akan diajarkan berbagai keterampilan klinik yang akan sangat berguna ketika kita menjadi dokter muda atau bahkan ketika kelak menjadi dokter “sungguhan”. Mulai dari yang simpel seperti anamnesis, pemeriksaan fisik dari kepala, tangan, kaki, hingga dada, sampai yang keren dan terlihat umpama dokter sungguhan seperti basic surgical suture, persalinan kala dua dan tiga, hingga memasang bidai pada ekstremitas yang terluka. Ah, ini seru sekali, sungguh.

Praktikum dan diskusi seperti biasa. Praktikum biasanya dilakukan di laboratorium dan banyak jumlahnya. Biokimia yang penuh rumus dan warna-warna. Histologi yang terus-terusan menggambar dan mereka-reka. Biologi yang menyenangkan seperti biasanya. Dan fisiologi/faal yang menyeramkan dan penuh beban, haha. Diskusi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk menentukan inti permasalahan dari pemicu yang diberikan. Sesi kedua memaparkan tinjauan pustaka yang telah masing-masing direnungkan. Sekali-dua dalam seminggu dilaksanakan pleno untuk menjelaskan ke seluruh angkatan mengenai hasil perbincangan.

Di akhir masa preklinik, kita akan diberi hak untuk menggunakan baju kebanggan, Sneli! Ini sangaaat menyenangkan. Pada hari yudisium, kita dilantik dan diminta mengucapkan sumpah. Sumpah ini benar-benar mengharukan sampai pada bagian “berjanji menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain….” Here we come, young doctors :)

Oiya tentang senang-senang, menurutku rugi kalau selama masa ini kamu tidak senang-senang. Meski diisi oleh begitu banyak tugas dan pikiran, menurutku masa ini adalah waktu yang paling tepat buat cari banyak pengalaman dan pelajaran. Hindari pemikiran mentang-mentang anak kedokteran, tak bisa ikut organisasi atau kegiatan bermanfaat. Ayo ikutan! Cari minat kamu, temukan passion dan manfaatkan waktu karena nanti kalau sudah memasuki masa klinik, untuk meluangkan waktu makan saja harus benar-benar diperjuangkan.

2) Klinik—Harus sehat dan menyehatkan

Ini seru pakai banget. Klinik di universitas saya dibagi menjadi dua fase yakni fase rotasi kecil selama 1 tahun dan fase rotasi besar selama 1 tahun pula. Selama rotasi kecil ada 11 stase yang akan kamu jalani bersama kurang lebih 20-25 orang teman-teman kesayangan. Selama rotasi besar kalau tidak salah ada 5-6 stase besar yang akan kamu jalani bersama 50-60 orang teman-teman kebanggaan. Saya masih rotasi kecil jadi mungkin tidak dapat bercerita banyak mengenai rotasi besar, tapi mari kita coba.

Rotasi kecil yang berlangsung masing-masing selama tiga minggu ini terdiri atas dermatovenerologi/kulit dan kelamin, ophtalmologi/ilmu kesehatan mata, telinga hidung tenggorok, anestesi, instalasi gawat darurat, kardiologi/jantung, pulmonologi/paru, ilmu forensik, ilmu kesehatan jiwa/psikiatri, neurologi/syaraf, geriatri/ilmu kesehatan lansia *tidak ditulis sesuai urutan*. Metode belajar yang digunakan lebih bervariasi dibandingkan masa preklinik antara lain kuliah, tutorial, kerja poliklinik, kerja bangsal, presentasi kasus, dan the most awesome experience… jaga malam! Begitu pula dengan ujian, kalau dulu preklinik hanya ujian tulis atau praktikum, kali ini di minggu terakhir setiap stase kecil kami akan dilanda ujian mulai dari ujian tulis, ujian praktikum (sesekali), ujian portofolio, OSCE, hingga ujian kasus.

Beda paling signifikan antara preklinik dan klinik adalah pasien. Ketika klinik, alih-alih buku bahan bacaan, kamu akan diminta berinteraksi banyak dengan pasien sebagai pelajaran. Meski harus berhadapan dengan pasien anak yang riweuh, tapi menggemaskan atau pasien lansia yang cerita panjang ,tapi sulit mendengarkan, pengalaman bersama pasien akan benar-benar, amat sangat, menjadi pelajaran besar. Saya senang diberi kesempatan untuk berperan dalam kehidupan orang lain, kecil maupun besar. Dan ketika menjadi dokter muda, saya yakin inilah jalannya.

Rotasi besar terdiri atas ilmu kesehatan anak/pediatri, ilmu penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, ilmu bedah, dan ilmu kesehatan komunitas. Kadang ada juga modul elektif yang jumlahnya bermacam rupa bahkan bisa kamu ambil di luar negri sana. Mulai dari IPD yang penuh tekanan tiap harinya, anak yang pengujinya penuh ekspektasi, obstetri ginekologi yang jaga malamnya alamak dahsyat terus terjaga, hingga bedah yang katanya gabut aja dokternya galak tak terkira.

Sigap, jangan berleha. Fokus, jangan terlena. Kamu sebagai dokter muda memang harus menyehatkan mereka. Nyawa mereka sedikit banyak bisa diselamatkan dengan ada perananmu di dalamnya. Satu pula yang tak boleh lupa, kamu harus menyehatkan diri. Klinik benar-benar menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Tak jarang beberapa teman saya mengalami guncangan jiwa hingga harus dibantu obat psikotropika untuk menghadapinya. Saya bahkan pernah makan bakwan di kamar mandi pada sela-sela jam kerja poliklinik karena saya belum makan apa-apa dari kemarin siangnya dan tak ingin dilihat pasien makan tak sehat sejenisnya. Yuk jadi dokter sehat dan menyehatkan :)

Pada akhirnya, kamu harus menjalani semua pilihan dengan perjuangan dan pertanggungjawaban. Di awal masa pendidikan, saya dan beberapa teman kerap berpikir mungkin ada yang salah dengan pilihan. Akan tetapi, setelah diperjuangkan selama empat tahun belakangan, begitu indah dan benar rencana Tuhan.

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa menjadi dokter tak sedemikian populer dan menyenangkan. Dengan berbagai tuduhan serta gaji yang tak sebanyak profesi sekawan, dokter dituntut tetap profesional bahkan bekerja di pelosokan. Tak mau? Dianggap tak manusiawi. Tak bisa? Nanti diadukan ke pengadilan. Tapi nanti kamu sendiri yang rasakan, semua perjuangan dan pertanggungjawaban akan berbuah manis pelajaran.

Menjadi dokter benar-benar menyadarkan saya banyak hal.

(*)

Tiara Kemala Sari | @tiaraksari

Kedokteran, Universitas Indonesia

tiarakemalasari@gmail.com

Kuliah dan Rasa Bosan.

Ku teringat gadis kecil pernah bercerita padaku saat ia masih menjadi pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Aku ingin cepat-cepat lulus SMA, lalu kuliah. Rasanya lebih enak kuliah. Pake baju bebas. Jadwal bebas. Liburan semesternya lama. Dan terlebih, ngga perlu belajar semua pelajaran, cukup apa yang kita minati dan mendalam.”

Kini gadis kecil itu telah mengerti seperti apa kehidupan kampus, dan aku rasa ia juga telah mencabut kata-katanya. Terlebih saat ia berada di lingkungan yang sebenarnya tak ia inginkan.

“Kau ingin kuliah dimana?” tanyaku.

“Aku ingin kuliah di psikologi.” jawabnya mantap.

Tapi, kudengar kini ia tak sedang belajar psikologi di kampusnya. Aku tak tahu mengapa ia banting setir ke keilmuan lain, padahal ia diterima oleh jurusan psikologi di universitas yang cukup memiliki nama di Indonesia.

“Aku muak dengan kuliahku. Bosan. Masuk kelas. Duduk. Dengarkan dosen. Keluar kelas. Masuk laboratorium. Dengarkan asisten. Keluar laboratorium. Mengerjakan laporan. Mengerjakan tugas. Mengumpulkan laporan. Mengumpulkan tugas. Mendapat laporan baru. Mendapat tugas baru. Begitu terus. Membosankan. Memuakkan”

“…”

“Aku ingin berhenti kuliah. Bukannya aku membenci belajar. Aku sangat suka belajar, tapi tidak dengan cara membosankan seperti itu. Belajar tak hanya dengan kuliah kan? Jadi, berhenti kuliah bukan masalah kan?”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.

“Kapan-kapan aku kasih tau.”

youtube

SMAN 1 Margahayu Graduation Film [angkatan 2011]

Sekolah Menengah Atas

Apasih yang ada di pikiran kalian ketika mendengar kata “SEKOLAH MENENGAH ATAS” ?

pikiran kalian seakan terbang membawa kalian ke masa dimana kalian punya sejuta hal konyol yang nggak akan bisa kalian lakukan di universitas. seakan semua lewat di depan mata kalain kayak kereta api express. begitu cepat dan akan membuat kalian merinduka masa-masa itu.

SEKOLAH MENENGAH ATAS dimulai saat kalian lulus dari SMP terus daftar ke sekolah yang kalian tuju. tapi, ngga semudah yang di bayangkan. nilai UN SMP menentukan kalian bisa atau ngga masuk SMA yg kalian mau.

setelah udah daftar, kalian nunggu 3 hari. H2C gitu ngeliat nama kalian di situs PSB ONLINE. daftar nama seakan kayak air terjun, kalau ada orang yang baru daftar terus nilai tinggi, menggalir deras. kalau nilai kita tinggi kita ngga akan kegeser. kalau rendah? well, thats the different story.

setelah nunggu 3 hari, nama kalian udah positif berada di suatu sekolah. just like me, YUNI HARYANTI ada di peringkat ke-57 di SMA Negeri 51 Jakarta. dari hari pertama sampe hari ketiga. wew, amazing yaaaa.

well SMAN 51 gue pilih sbg pilihan pertama itu karena kemauan Alm.Papa dan dekat dari rumah gue. alasan yang masuk akal kan? dgn nilai 31.30 gue bertahan di sekolah itu. sedangkan SMA impian gue, SMAN 68, seakan terbang melambai-lambai di hadapan gue.

setelah tahapan pendaftaran selesai, mulai deh MOS di mulai. setelah nunggu nama anak-anaknya di sebutin satu-satu dari kelas 10-8 akhirnya nama gue ada di 10-4. 3 hari berlalu selama MOS, di hari ke empat, gue ternyata harus pindah ke kelas 10-1… ngerasa zonk banget waktu harus pindah ke 10-1, itu kelas unggulan dan ngerasa aneh aja kalo gue tuh bisa masuk kelas unggulan. dan hari itu masih tergambar jelas di pikiran gue, akan menjadi 3 tahun bulan Juli ntar…. oh God

terjadi banyak hal di 10-1. dari hal yang konyol sampe hal yang bisa bikin kita musuhan. berantem sama temen sekelas wajar ya. masih kelas 10, masih labil banget. sifat SMPnya kita masih ada. jadi maklum lah, kalo kelas 12 bisa nonjok anak kelas 10.. that was bully. junior di tindas sama senior wajarlah di tahun pertama SMA.

cerita lainnya, i found my best friend ever in that class, Sabi and Jems and also Ria from 10-2. setahun di kelas 10 bisa bikin anak kecil kayak gue suka hem well ini konyol karena rasa suka eh mungkin penasaran kali ya masih ada sampe saat ini. meskipun gue udah ga addict banget kayak waktu kelas 10. junior suka sama senior itu suatu kewajaran yang terjadi tahun pertama SMA.

di kelas 10 juga, pernah ngerasain jadi anak PASKIBRA yang ngga bener. karena ngga boleh sama Papa lah alasan gue ngga bener jadi anak PASKIBRA. dari PASKIBRA beralih ke PADUAN SUARA. it’s where i belong. CHOIR was very amazing. bisa ikut perpisahan kelas 12 itu bener-bener bikin gua senang. senang banget.

setahu udah lewat di kelas 10. pas pengambilan rapot, gue hem Papa sebenernya yng ngambil keputusan kalo gue milih IPA daripada IPS. alasannya simpel kenapa gue setuju sama Papa, karena gue ngga pernah bgerti sm pelajarn IPS kecuali Geografi, itu juga cuman bab Tata Surya doang.. setiap pelajaran Ekonomi tidur atau ngga sakit, setiap UB-enam kali UB- enam kali remidial Sosiologi. dan gue pernah jadi terbawah dalam nilai Ekonomi.. ya, setiap manusia kan emang punya kemampuannya masing-masing. yang pinter di IPA belom tentu pinter di IPS, begitupun sebaliknya.

Jems, Yuna, Ria, Sabi. Mei 2011

di kelas 11 sekelas sama Jems, ngga sama Sabi karena dia di IPA3, ga sama Ria karena Ria pindah ke Bandung. 11IPA2 benar-benar bikin gue kalang kabut sampe detik ini. gimana ngga? i really miss them so bad. i miss everything about that silly class. my beloved 11IPA2 is really the best class i ever had.

everything happened. berantem, tertawa, berdebat uuuu pokoknya semuanya deh. semuanya bener-bener bikin gue kangen. rasanya mau duduk di kelas itu. di lantai dua secelah kamar madi cowok. ew kadang bau sih ya tapi mau gimana lagi yaaa.. kalo udah kangen sama semuanya, ya terpaksa baunya itu juga di bawa-bawa. LADUJOBA - lantai dua pojok bau. itu lah kita.

di kelas 11 juga ngerasain jadi senior meskipun bukan senior banget sih. ya jadi anak tengah lah yang punya kakak dan adik. jadi anggota OSIS dan ketua PADUAN SUARA. ribet sih emang, tapi ada keasikan tersendiri. sering keluar kelas, jalan ke sekolah lain. pengalaman yang ngga akan terlupakan deh. kelas 11 adalah masa terindah selama kalian di SMA.

11 IPA 2 di depan Candi Prambanan, April 2010 

setahun lewat juga di kelas 11, naik ke tingkat paling tinggi. tahun terakhir di SMA. dimana hidup lo akan bener-bener dimulai ketika lo udah lulus SMA.

12IPA1. ngga ada kelas IPA yang kayak gini sebelumnya. kelas ini sangat hebat, terhebat dari kelas 12 lainnya. masalah datang silih berganti di kelas ini, tapi seperti apa yg tadi gue bilang, ngga ada yang sehebat kelas ini. semua masalah bisa di lewatin bersama. dan kelas ini bener-bener IAS, ILMU ALAM SOSIAL. kelas terberisik yang pernah gue dudukin selama 12 tahun sekolah. tapi disinilah letak kebersamaannya. ngga bisa di tulis juga gimana rasanya pernah jadi bagian dari 12IPA1. yang pasti senang dan kangen sama semuanya. terutama tidur di kelas haha…

something called, romance happened in my last year. and everything was over when my last year was too. it was really silly but it was really important for me. i’s single and i can do everything what i want. its really nice and wow i feel free and good. and i feel like, i’m the one who can solve my romance problems without any tears down after that relationship. im not a girl now but not yet a woman. i’m still looking for my self and be a good woman for my future.

tahun terakhir selalu di isi sama belajar, pm, tryout, les. seakan tidur tuh ngga ada di jadwal kegiatan sehari-hari. tryout tryout dan tryout. itu kayaknya jadi makanan anak kelas 12 deh. sampe bosen dan udah hands up sama yang namanya tryout.

we have a name, LIBERATEUR. rasanya satu angkatan - IPS dong sih - bolos bersamaan. kelas IPS sepi hanya ada beberapa anak yang masuk. sampe anak macem Tegar belajar kimia di 12IPA3 :D. guru-guru macem kesel, emosi, pengen marah, ya macem-macem deh. alasannya simpel, we need some refreshing. otak kita udah bosen banget sm fisika, ekonomi, matematika dan sekutunya.

tapi, 16 MEI 2011, LIBERATEUR 11 atau ANGKATAN 2008-2011 “LULUS 100%”

ngga peduli juga apa kata guru dan sekawanannya. intinya kita udah berusaha. apapun yang kita lakuin itu jerih payah kita sendiri, yang penting kita udah belajar mati-matian. ya kalo mereka ngga senang, ya itu sih urusan mereka lah yaaaa.

-ANGKATAN 2008-2011 at Lapangan SMAN 51 JAKARTA

kadang serba salah terjadi disini, LULUS 100% salah, ada yang NGGAK LULUS juga salah.. di situlah letak kekasihanan seorang siswa kelas 12 yang sejak tahun pertama sampai tahun terakhir selalu di tindas.

semua jerih payah bakalan terbayar. semua rasa takut dan sedih bakalan hilang kalau gue dapet PTN. UNIVERSITAS DIPONEGORO lah yang gue mau. tapi bisa dapet salah satu pilihan di SNMPTN Tertulis kemaren juga jadi suatu hal yang bener-bener bikin gua senang.

itu harapan di tahun ini. harapan pertama yang bener-bener gue mau di umur 18tahun… Allah pasti akan kasih saya kabar baik hari ini. Amin.

Kaos Kaki Cadangan

Jauh ketika aku kecil, aku sering berlarian keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Hingga omelan ibuku akan hal itu menjadi biasa terdengar di telingaku. Entah mungkin karena usia, aku mulai membiasakan menggunakan alas kaki ketika keluar rumah.

Saat aku remaja, ayah mulai mengajariku cara berpakaian yang rumit, termasuk yang tidak penting bagiku, seperti selalu menggunakan kaos kaki ketika keluar rumah.

Itu semua menjadi benar bagiku ketika aku di tingkat akhir sekolah menengah atas. Dan ketika aku memutuskan merantau, aku seolah bisa menerka isi sudut hati kedua orang tuaku, membaca sorot mata mereka yang menyimpan berjuta keresahan terhadapku. Aku tahu, meski mereka tidak mengucapkannya. Dalam diamnya aku dan kedua orang tuaku, secara bersamaan akupun berjanji pada diriku sendiri.

Hujan. Di tanah rantauku sering turun hujan. Kapan saja, tidak terduga. Dan aku bersyukur masih bisa teguh terhadap apa yang membuat ayah khawatir.

Kaos kaki cadangan. Aku membawanya. Aku bersyukur. Karena ketika aku membawanya, aku tidak hanya menyelamatkan diriku dan agamaku saja, tapi aku juga menyelamatkan kedua orang tuaku dari jilatan api neraka.

Bogor, 6 Desember 2015 | Seto Wibowo