sekd

Pergi ke Liku, 20 Juli 2014 (1)


Pergi ke Liku, 20 Juli 2014 (1)

Matahari belum mengambang benar di atas cakrawala. Pasar Desa Temajuk masih lengang ketika saya, Adi , dan Pak Jono datang ke ruko milik Pak Sekdes. Pak Jono adalah orangtua asuh kami selama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Temajuk. Mata pencaharian utamanya ialah berdagang. Sekali atau dua kali dalam seminggu ia pergi membawa pickup Mitsubishi Strada-nya ke kota kecamatan yang terletak di Liku. Berangkat mengangkut barang mentah berupa hasil bumi untuk dijual ke pengepul, dan dari sana kulakan barang jadi berupa sembako serta keperluan hidup lainnya untuk dijual di desa.

Hari ini saya dan Adi diperbolehkan ikut menemani berdagang sekaligus untuk membeli barang-barang yang belum dipunya untuk menjalankan program KKN. Sebelum jalanan sempat mengering dari siraman embun semalam, kami telah berangkat ke ruko pak sekdes mengambil karet mentah dan catatan daftar titipan barang-barang untuk dikulak.

Sepagi ini, kami sudah berpeluh menaikkan balok-balok karet mentah ke atas bak mobil. Sementara di atas mobil, sudah ada satu ton karung-karung berisikan kopra titipan warga lain dan tiga boks wadah es yang akan dipakai kulakan es batu nanti di Liku. Muatan teramat penuh saling sumpal-menyumpal. Tali ikatan dari ban bekas diandalkan untuk menjaga semua muatan itu tetap di dalam bak selama menempuh perjalanan sepanjang tiga jam melewati jalanan tanah keras bergelombang.

Dalam perjalanan Bapak bercerita bahwa jalan ini baru ada sekitar tiga tahun lalu. Dibuat dari urugan tanah merah yang kemudian dipadatkan. Sebelumnya, satunya-satunya jalur transportasi yang bisa ditempuh adalah via pantai. Jalur yang berat karena kendaraan rawan jatuh sebab roda yang selip dalam pasir dan sesekali harus menyeberang melintasi tubuh air di muara sungai-sungai kecil. Perjalanan bahkan tak mungkin dilanjutkan jika laut tengah pasang. Pilihannya hanya menepi ke area semak dan pepohonan lalu menunggu beberapa jam hingga air kembali surut.

Waktu itu, si Bapak masih melaut. Perannya sebagai distributor dalam roda ekonomi Temajuk ini relatif baru dijalaninya. Memang setelah jalan dibuka, banyak warga Temajuk yang mayoritas petani kebun mulai berdagang. Termasuk Pak Jono, setelah memegang hak pakai mobil bantuan dari Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Sambas. Entah apa status kepemilikannya, tapi ia bercerita harus memenangkan lelang untuk bisa memegang kunci mobil berplat merah itu.

Akses baru memang telah membuka kemudahan bagi masyarakat Temajuk untuk terhubung ke luar, dan juga sebaliknya, namun bukan berarti semuanya menjadi serba murah dan mudah. “Habis sampai empat ratus ribu sekali jalan begini pulang balik.” Kata Pak Jono. “150 untuk bensin, 200 untuk dua kali menyebrang sungai, dan 50 untuk makan.”

Menyeberang sungai yang dimaksud adalah menaikkan mobil ke kapal kayu penyeberang di Sungai Cermai. Di banyak tempat di Kalimantan sepertinya, memang sarana penyeberangan belum berupa jembatan, melainkan kapal penyeberang yang hilir mudik antar tepian mengangkut kendaraan dari motor hingga truk kecil. Untuk sampai ke Temajuk dari kota Kabupaten Sambas saja, ada dua penyeberangan yang mesti dilewati.

Penyeberangan pertama adalah di Teluk Kramat yang lebih memadai dengan kapal yang besar dan dermaga labuhan yang terkonstruksi dengan baik. Penyeberangan kedua di Sungai Cermai hanya difasilitasi oleh kapal kayu yang tampak ringkih mengkhawatirkan saat seminggu lalu menyeberangkan bus berukuran tanggung yang mengantar rombongan kami.

Dan jangan lupakan arus surut. Lokasi penyeberangan yang mendekati muara menyebabkan kondisi pasang atau surutnya laut turut menentukan nasib penyeberang. Muka air akan jauh lebih rendah dari bibir papan dermaga pada saat air surut, dan alih-alih akan lebih cepat sampai, beban dari mobil bisa mengejutkan kapal dan menariknya terjengkang bersama-sama jika terburu memaksa naik. Kiamat kecil bagi pengusaha kapal penyeberang itu dan para pengkulak yang membawa kendaraan roda empat. Motor-motor masih bisa diantar dengan perahu yang lebih kecil.

Setelah tiga jam menyusuri jalanan berdebu dengan pemandangan kiri kanan berupa padang semak yang terbakar di beberapa titik serta ladang-ladang sawit, kami memasuki kota kecamatan itu, Desa Liku. Jalanan telah diaspal. Rumah-rumah penduduk terlihat di sisi jalan. Tak seperti Temajuk yang hampir semua penduduknya bersuku Melayu dengan segelintir orang Dayak dan Jawa, Desa Liku banyak dihuni oleh etnis Tionghoa. Toko-toko di Liku, toko apapun, pada umumnya adalah milik orang Tionghoa yang memang menguasai bidang perdagangan di sana. Penjual bensin, pengepul karet, pemilik toko kelontong, tengkulak pupuk, semua orang Tionghoa.

Dengan merekalah nanti kami banyak bertransaksi.

2 Korban Pembunuhan Ditemukan di Pegangan Hilir: Sidikalang (SIB)- Pande Sihombing (60) dan Suandi Sinaga (40)  ditemukan tewas di pinggir jalan Dusun Huta Imbaru Desa Huta Usang, Pegagan Hilir, Selasa (26/1) pagi. 
Menurut keterangan warga kedua mayat tersebut ditemukan  anak-anak yang hendak ke sekolah. Kemudian warga melaporkan kepada Sekdes dan diberitahukan kepada polisi.
Kasat Reskrim Polres Dairi AKP Hery Sofyan mengatakan, kedua korban ditemukan dalam keadaan telungkup. Terdapat beberapa luka di kepala korban diduga akibat bacokan.
Dari lokasi kejadian polisi menemukan parang dan sebatang kayu. Kematian kedua korban diduga akibat pembunuhan. Untuk pengembangan kasus, polisi memintai keterangan sebelas saksi. Kedua korban dibawa ke RSU Bhayangkara Medan guna keperluan otopsi.
Lanjut Kasat, kronologis kejadian, Senin (25/1) mulai pukul 20.00-23.00 Wib kedua korban minum tuak di warung Situmorang. Menurut keterangan saksi, kedua korban diantar KM pulang ke rumah sekira pukul 23.00 WIB setelah bubar dari warung. KM mengatakan kedua korban diantar dengan sepedamotor bonceng tiga, sampai ke depan rumah kedua korban. Menurut KM setelah mengantarkan sepedamotor ia langsung pulang ke rumah tidur.
Masih Kasat, polisi mendatangi kedua rumah korban, menurut istri Suandi Sinaga korban tidak pulang ke rumah sejak pukul 10.00 wib dan hingga malam suaminya tidak pulang. Lanjut Kasat, istri Pande Sihombing mengatakan suaminya tidak pulang sejak siang, karena makan siang masih di rumah.(Dik-TPT/d) http://dlvr.it/KKhJqJ

Diary KKN: hari 1-6 terjun lapangan

Kalo boleh cerita tentang 6 hari KKN ini, it’s gabut yet amazing (?)

Ada banyak pengalaman baru
Ada banyak referensi film baru (nonton film all day long)
Ada anak sd-smp yang tiap malem dateng ke posko minta diajarin bikin pr
Ada yang rapat kordes-sekdes di desa terjauh, terdingin, dan harus melewati jalan terjal berbatu
Ada skill memasak yang bertambah (oke fix pulang kkn siap dilamar)
Dan yang paling lucu dari 6 hari KKN ini adalah……….

*kami, sosialisasi di smp*
Mbak KKN : “cita-cita kalian apa?”
Adek smp kelas 9: “menjadi suami kamu…..”

Oh well, you made our day, brother!