segy

Rakyat Tumblr Land

Selain Instagram, hati aku sentiasa kuat untuk bersama Tumblr (tapi lebih sayang Tumblr dari Instagram) >_<
Walau sekadar lihat-like, tanpa post apa-apa.

Bagi aku Tumblr Land ni istimewa.
Kerana apa?
Kerana yang berada di Tumblr Land semua orang yang jujur.

Jujur dari segi?
Bait-bait tulisan, mahupun sekeping gambar untuk menyatakan gambaran hati.

Jujur juga bermakna,
Rakyat Tumblr Land tidak perlu copy dan paste bait-bait tulisan orang lain dan ‘claim’ as “Okay ini aku punya..”

Aku dah masuk bermacam jenis wadah penulisan, juga laman.

Baik di Instagram,
Baik di Facebook,
Baik di Blog,
Macam-macam jenis perangai aku jumpa.

Kebanyakkannya jumpa yang jenis “Ni ayat aku, aku yang tulis dan luahan itu memang dari hati aku..” tanpa credit kepada tuan empunya tulisan.

Bukan bermakna benci.

Bukan nak sangat orang tahu tu tulisan kita,
Tapi AT LEAST bila orang tegur,
Jangan pula di delete teguran yang mengatakan itu di ambil dari sumber ini dan itu,
Mahupun mengaku tulisan kamu.

Sekurang-kurangnya walau tidak menyatakan nama tuan empunya diri/sumber di ambil, maka kata kan lah itu bukan dari karanganmu.

Untuk apa menipu?

Benci?
Tidak sama sekali.
Malah terkilan..

Jika ada baiknya maka 101% dipersilakan untuk kongsi,
Tapi jika niatnya untuk raih populariti,
Maka kuburkan angan-angan tersebut.
Kita pula hidup bukan semata untuk raih pandangan manusia,
Semua itu tak kekal ke mana.

Dan kerna itu juga,
Aku sayang Tumblr Land, juga rakyatnya.
Kerna kejujuran kalian.

Melahirkan bait-bait rasa dari hati.

Maaf sebelumnya.
Aku jua manusia.

Kosong-kosong ya? ^_^

7. The Secret Lives of Baba Segi’s Wives by Lola Shoneyin

Sorry it took me so long to finish this, I just haven’t had much time! I really liked this book actually and I don’t think I’m particularly biased just because I know the author lol. I thought it was like a really really good Afmag movie - but in a book and I quite enjoyed it. I always love a good helping of Yoruba proverbs and how somehow there is always a lesson in some crocodile eating some rat or some cockerel that isn’t crowing at dawn or some other odd animal tale - I love them all. I slightly wish I had read it a couple years ago just because well in a way I feel like I’m reaching the age where there’s a limit to how much these kind of books can do for me. I just feel like 15 year old me would’ve appreciated this book a lot more maybe but I loved it all the same I don’t really have any particularly pressing or pertinent criticisms except that I would’ve liked to know a bit more about Iya Segi’s fascination with this pepper seller. 

Someone asked if it changed my views on polygamy and have to say it didn’t. I still hold that polygamous relationships be judged on a case by case basis because although they aren’t always desirable, they can work and there is such thing as a happy, polygamous family, contrary to what Africa Magic may teach us lol. 

As usual (ish) I’ll leave you all with a quote: “The truth, they say, cannot hide itself forever. Even if it conceals itself at the bottom of a well, one day, drought will reveal it.”


spooky. Anyway, happy reading everyoooone.

anonymous asked:

how do basque people react to or feel about non-basques learning euskara?

We feel SO proud. There are LOTS of people who don’t even know Basques exist, so when we see that someone non-Basque decides to learn about our culture, our language that’s so small and unavailable outside Euskal Herria… we feel so honoured!!

So for all of you non-Basque people who’re learning Euskara: eskerrik asko, lagunok, eta segi horrela!!

SAKLANGA
                 
ki inanamıyor kimse biliyorsun, bu olanlara
kalbimizin ritmi git gide düşer, zaman denilir
ama zaman beklemez ki derdimizi, anlatılır, ağlanır
senin de başını şişirdim, teşekkür ve tebessüm
kendi anlamında boğulmasın kimse, teyakkuz ve terennüm
yarın bildiğimiz her şeyden uyanalım Anna, sevgilim
varsın birbirimizden uzakta içilsin bir tek sigara
litosfer olmaz da, taş çatlasa termosfer, segi lunar
buluşur nefesimiz yanan taşların ardında, suya bakarak
dünya yok olsa da sözümüz evrende yankılanacak

saf ve saydam ve saklı aramızda bir istiridye mutluluğu var
üstelik herkesin mutluluğu bir başkasının mutsuzluğu üzerine,
kurulurken nice saat aceleyle ve ite kaka bir zaman peydahe
bunu sen de çok iyi biliyorsun, etrafımız saçmalıkla sargın
ama baksana ufka, sis tozlarının ardında kimse kalmamış
belki de çocukluğumuz bir peygamber eşyası gibi korunmuştur
kalan bir avuç insana da kol kanat germek arzumuzdur
aman yalnız kalmasınlar, yemek yesinler, gülüşsünler
saati kimse bilmese de vakitlice uyunsun, pembe yanaklar
sonra kahvaltılar, çınar gölgeleri, kekik inceliği…

belki de o gün kötülüğün dikenleri güllerde soldurulmuştur

çünkü tarihimi benden iyi bilirsin, biraz mutlu olayım desem
peşin peşine bulutlar toplanacak sanıyorum, sel basacak evimi
ve o an hayatta kalmak için insan olmaktan fazlası gerekecek
üstelik babam dün gece adım atarken ilk önce kendini düşün dedi
ruh zamanıyla on bin aptal yılı, deniz takviminde üç bin kulaç
dünyadan koparılmış üzümleriz, yakışmadık hiçbir şaraba
geri döndük; ama çoktan mantosuna sarınmış, taş çakalak dünya
şimdi benim anlatırken türkçemin yetmediği nice rüyadan döndük
bu yüzden affettiğim nice kutsal kitaptan, nankör insan, zarardadır
geçiş süreçleri, fikir beyanları ve temassız günlerin kararındadır
sana geldim, biraz ağlayıp sarılmayı elbet isteyecektim ama
sen bana hiçbir şey söyletmedin, göğüm göğsün oluverdi
eskiden hayal denirdi, şimdi ütopya, ama biz şanslıyız, bak, papatya!
çiçeklerin diline döneceğiz, ama bize yapılanları nasıl unutabiliriz
zaten birini sevsem ilk önce kendimi inkar etmeliydim baba
insan olmaları onlara çok büyük bir yük Anna, affedelim
yorulduğumuz yere kalbimizi çivileyelim, ama geri dönmeyelim

gidelim, her şeyimiz var 
gidelim, yollara andımız var
gidelim, gitmek kolay,
yeter ki geri dönmeyelim.

[Intermezzo] Pelajaran Hidup dari Anime : Kuroko No Basuke

Hari libur, cocoknya bahas anime :) 

Duh, saya sudah lama tidak nulis, nih. Sebagai anak teknik dan menghadapi sidang TA (Tugas Akhir), saya agak kesulitan untuk kembali ke nuansa kesusatraan di alam Tumblr ini. Sepertinya saya butuh waktu luang yang lebih banyak untuk menyesuaikan diri. Yah, mau bagaimana lagi, alhasil saya hanya bisa membaca dan merenungkan tulisan teman-teman di dashboard, entah itu curhatan sampai cerita bersambung. Tren tumblr sekarang kebanyakan tentang pernikahan dan punya anak ya :3

Kebetulan, di waktu senggang yang saya miliki, daripada stress ngitungin rumus, saya sempatkan untuk nonton anime Kuroko No Basuke. Mungkin diantara teman-teman ada yang tahu, atau malah jadi penggemarnya ? Haha. 

Sejujurnya sih saya tidak terlalu fanatik dengan anime, soalnya anime itu banyak kategorinya, agak mirip dengan kategori pertelevisian. Anime Kuroko No Basuke (Inggris : The Basketball which Kuroko Plays) ini berjenis anime olahraga basket yang menurut saya cukup baik dari segi karakter pemainnya, ceritanya pun bagus, dan tidak terlalu absurd seperti beberapa anime yang lain. Eh, ada yang sudah nonton, belum ? Episodenya tidak panjang kok, cuma 75 episode, tidak sepanjang Naruto, One Piece, apalagi Detective Conan. Coba tanyakan ke teman laki-laki terdekat, barangkali dia punya.  

Tapi sekali lagi, saya bukan pengamat anime yang pro dan mau mengulasnya secara detail disini. Tapi kok rasanya saya tergerak ya untuk menulis pelajaran yang saya bisa ambil dari anime ini, terutama dari karakter pemainnya. 

Khususnya teman-teman yang suka anime olahraga, tentu kenal dengan anime semacam Captain Tsubasa, Haikkyu, atau Slam Dunk. Nah, tokoh-tokoh yang bermain disana pasti punya karakter yang kuat, berbeda, dan saling berhubungan satu sama lain. Ini yang menjadi menarik, karena dari tiap tokohnya dapat diambil keunggulannya untuk kita pelajari. Meskipun, anime itu artifisial dan tidak ada dalam dunia nyata, tapi karakterisasi yang diplotkan ke dalam cerita tentu akan terasa menarik dan terlihat nyata.

Khususnya, buat teman-teman yang sudah pernah nonton anime ini, pelajaran hidup yang dapat diambil dari ketokohannya sangat banyak. Tapi saya sih tidak akan bahas semua, yang keren-kerennya aja lah, hehe.

1. Kepemimpinan

Akashi Seijuro

Si Akashi ini menurut saya keren banget dan auranya begitu kuat terasa di sepanjang cerita. Sisi kepemimpinannya menonjol sejak pertama kali masuk tim basket SMP Teiko langsung ditunjuk jadi wakil kapten. Setelah naik ke kelas 2, langsung dipercaya jadi Kapten padahal masih ada anak kelas 3 di atasnya. Pemilik Emperor Eye ini memang dididik oleh keluarganya untuk jadi pemimpin sih, keluarganya juga bukan sembarangan. Diluar sifatnya yang arogan dan “mutlak”, dia adalah sosok yang patut jadi panutan dalam hal kepemimpinan dan pengorganisasian tim.  Jadi, untuk jadi pemimpin semuda mungkin seperti Akashi mesti ditunjang oleh pola asuhan yang baik dari orang tua, selain memang dari dorongan faktor internal.

2. Ketelitian

Midorima Shintaro

Midorima, dikenal sebagai jagoannya three point. Berlaku sebagai shooter, (rasanya selama saya nonton) dia benar-benar ngga pernah meleset untuk menciptakan tiga poin dari hasil ketelitiannya. Dia biasa ngelakuin itu dari ½ lapangan, bahkan bisa dari ¾ lapangan. Absurd ? Lumayan lah, hehe. Tapi itu semua bisa kejadian lho di dunia nyata ! tentunya dengan latihan, latihan, dan latihan. Hampir tiap sore si Midorima ini latihan ngeshoot terus, gimana ngga terampil ? Apalagi ditunjang dengan ketelitian tingkat tinggi. Semakin dilatih, semakin baik. Selain cerdas, juga harus cermat.

3. Independensi

Murasakibara Atsushi

Kalau Murasakibara ini sebenarnya agak sulit untuk dilihat sisi positifnya. Sepanjang cerita, yang diperlihatkan cuma sikapnya yang agak menyebalkan apalagi kalau melihat dia makan snack terus-terusan -_- tapi untuk satu hal, mungkin kata independensi lebih tepat disematkan. Dalam dirinya, ia punya kepercayaan diri yang tak terbantahkan lagi, kalau bisa sendiri ya kenapa harus bergantung pada orang lain ? Meskipun kita tahu, kalau main basket ngga mungkin cuma bisa sendiri.

4. Adaptasi

Kise Ryota

Nah ini, si ganteng yang selalu bisa mencuri perhatian perempuan manapun #skip tentunya dia punya kekuatan yang bener-bener memukau, bakat yang membuat dia bisa melakukan gerakan apapun, Perfect Copy. Sekali lihat, dia bisa melakukannya dengan cepat. Kalau ini memang anugerah Tuhan, bisa jadi. Tapi bakat apapun tidak akan pernah berkembang tanpa latihan. Ketika masih di SMP Teiko, Kise adalah salah satu orang yang tetap latihan dikala beberapa jagoan yang lain memutuskan untuk tidak latihan. Bakat ditemukan dengan latihan juga tingkat adaptasi tinggi, beuh kita tahu sendiri kan jadinya apa.

5. Determinasi  

Aomine Daiki

Kagami Taiga

Loh, kenapa kedua tokoh ini digabungkan ? Karena menurut saya sih, punya karakter yang sama. Yang beda cuma rambut kok, kalau Aomine rambutnya biru dan Kagami rambutnya merah #eaaaa. Jelas sekali kan persamaannya, mereka punya determinasi yang sama-sama tinggi. Selain itu, mereka keduanya punya skill yang hampir sama, begitupun pengalaman kerjasama dengan Kuroko, si bayangan. Ketika keduanya berhadapan sulit rasanya untuk melihat siapa yang akan menang. Keduanya sama-sama tidak mau kalah, dan itulah kunci untuk sukses, punya determinasi terhadap tantangan yang dihadapi.

6. Kerja Keras

Kuroko Tetsuya

Ini dia sang tokoh utama. Yang menarik dari anime ini adalah Kuroko bukan menjadi tokoh sentral, melainkan tokoh pembantu yang fungsinya sentral #tsaah lihat saja kolaborasinya dengan Kagami di SMA Seirin, yang ia lebih dikenal sebagai bayangan. Luar biasanya, Kuroko ini termasuk orang yang sebetulnya biasa-biasa saja skill basketnya, namun karena kerja kerasnya akhirnya dia bisa masuk tim utama SMP Teiko dan SMA Seirin. Apa yang menjadikan fungsinya sentral ? Ya, kemampuan misdirection-nya itu. Tapi yang paling menonjol adalah kecintaannya pada basket yang termanifestasi lewat kerja keras yang bertahan lebih lama dari siapapun. Luar biasa memang, bakat terbaik yang tak diasah akan kalah dengan bakat yang biasa saja tapi terus berlatih. Itu *ala Mario Teguh

~

Selain dari mereka yang mendapat gelar Kiseki No Sedai (Baca = Generasi keajaiban), ada tokoh lain juga yang saya sukai karakternya, tentunya bisa diambil pembelajaran juga

7. Optimistis

Hyuga Junpei

Ini dia si Shooting Guard (SG) andalan SMA Seirin. Dia pilar tim dan berlaku sebagai kapten juga. Selain keahliannya untuk mencetak tiga poin, yang paling menonjol ya sikap optimisnya memandang tantangan, kelihatan banget sosoknya tuh pas di episode final stage lawan SMA Rakuzan. Dengan teriakannya yang khas ‘Seirin..fight!!!’, moral tim jadi naik lagi. Tetap optimis, di episode final stage dikala Seirin tertinggal 20 angka dari Rakuzan, akhirnya bisa ngejar dan menang ! Optimis, itu penting untuk bertahan di segala ketidakmungkinan.

8. Teguh Hati

Kiyoshi Teppei

Si Kiyoshi, Hati Besi julukannya. Semacam daddy guy di tim Seirin, yang selalu ngasi motivasi sekaligus bercanda disaat yang tepat. Tapi dibalik itu, perjuangannya menjadi dewasa benar-benar mesti diacungi jempol ! sempat mengalami cedera parah di kakinya cukup lama, lalu merasakan kekalahan di turnamen Inter-High tidak menyurutkan langkahnya buar teguh berjuang bersama tim. Memang, tim Seirin masih kalah mentereng dibanding Kaijo, Shutoku, apalagi Rakuzan. Tapi kalau ngga ada Kiyoshi, mungkin beda ceritanya untuk Seirin. Yang paling saya ingat sih, dia bilang ‘Ayo, kita bersenang-senang’ ketika benar-benar berniat untuk menang, santai tapi serius. Intinya, keteguhan untuk terus berusaha itulah yang akan mengantarkan pada kemenangan.

~

Gimana, penggemar Kuroko No Basuke, serasa flashback ya ? haha.

Tapi satu poin penting diluar anime ini, yang saya sukai dari anime Jepang adalah propaganda terhadap budayanya, yaitu kerja keras. Apapun, jika ingin sukses, harus kerja keras. Selain itu, kerjasama - keharmonisan - rasa percaya dan nilai positif lain tergambarkan dengan baik. Inilah cara Jepang mengenalkan budayanya, yang dengan tidak langsung melekat dalam otak penontonnya. Secara tidak sadar, kita juga terkagum-kagum dengan budaya Jepang yang lain, seperti bersepeda, berkimono, jalanan dan saluran air yang bersih, taman-taman yang terawat, apalagi kalau musim semi bunga Sakura… semuanya tergambarkan dengan baik. Luar biasa, kan ? Mari ambil sisi positifnya saja, sebagai Bangsa Indonesia kita juga bisa mencontoh yang baik-baik. 

Ya sudah segitu aja, selamat berlibur ! (yang masih libur hehe) 

Best Quote 

“Kita bermain basket dengan rasa senang, dan..  kita akan menang di final !”

-Episode 66

 Bandung, 26 Juli 2015 7:04 AM

Romeo Kota (2015)

Sinopsis:  Kes Fail Kriptik mengisahkan Koperal Romi dan Lans Korporal Fakrul ditugaskan menyiasat kes seorang pelajar kolej , Maria yang ditemui dalam keadaan koma di tepi jalan dan dipercayai telah diperkosa. Hasil dari makluman yang dikeluarkan oleh doktor, Maria koma disebabkan menelan dadah.

Dalam mendapatkan maklumat dan mengetahui siapa dalang di sebalik kejadian tersebut, mereka berdua telah ditugaskan secara samaran di bawah kod ‘kriptik’. Koperal Romi, menyamar selaku pensyarah dan Lans Koperal Fakrul sebagai pelajar di Kolej Bistari.

Kedua-dua ‘romeo’ ini terjerumus ke dalam cinta tiga segi apabila mereka jatuh cinta dengan seorang perempuan yang sama.

Pandangan aku: Kisah ini tentang seorang anggota polis Malaysia yang dilakonkan oleh seorang warga asing (Aaron Aziz, semestinya), tapi biasalah, Michael J. Fox yang orang Kanada tu pun pernah je berlakon jadi orang Amerika. Renee Zellwager minah Texas tu pun pernah je berlakon jadi orang British. Mungkin kerana Aaron Aziz lebih diminati di Malaysia berbanding di Singapura, mungkin orang Malaysia tak ada wajah abang sado yang kacak yang boleh dijadikan watak polis, tapi ini non-issue lah. Saja je cakap.

Sebenarnya selepas aku tonton filem ni, aku kesian dengan watak Fakhrul (lakonan Nabil). Kalau kau tonton filem ni, yang sebenarnya buat kerja banyak ialah Fakhrul. Bahkan Fakhrul jugak yang masuk group gangster jual dadah tu sampai dia boleh get along. Koperal Romi buat apa, takat tayang muka lepas tu cuba nak pangkah jalan Fakhrul ngorat Emma, apa cer? 

Dan sejujurnya, sepatutnya Nabil yang lead cerita ini, bukan Aaron Aziz. Nabil yang menggerakkan cerita ini, bukan Aaron Aziz. Nabil juga yang bunuh ketua jahat tu walaupun dia cuma watak pembantu kepada Aaron Aziz. Paling aku kesian, si bos (lakonan Sofi Jikan) maki Fakhrul “kau ni asyik nak mengorat makwe je” - aku dan anak saudara aku berpandangan sesama sendiri dan berkata, “eh, apahal pulak? Nabil buat kerja, doh. Tu, si Aaron Aziz tu yang kerja asyik nak mengayat makwe je.”

Hanis Zalikha, tulis blog je lah. Terus terang, lakonan dia kaku dalam filem ni.

Justice for Nabil. Justice to Fakhrul. Dan dalam cerita ini jugalah, nampak ketaralah yang Aaron Aziz memang tak pandai berlakon. Mungkin sebab dia jambu, badan sado, that’s it. Nabil steal the show in this movie, man. 

Tapi apapun, peniruan filem Amerika 21 Jump Street untuk filem blockbuster Hari Raya, menunjukkan Malaysia ni selamanya tak akan jadi sebuah negara besar. Asyik kopipes je.

Bagus-o-meter: 1.5 dari 5

Kenapa?

Aku sering terfikir, kenapa negara2 bukan Islam, negara yang diperintah oleh pemimpin bukan Islam lebih baik dan lebih amanah dalam menjaga kebajikan dan amanah rakyat?

Negara mereka lebih maju, telus dan bersih (walaupun tak semua). Negara2 yang diperintah oleh pemimpin Islam rata2nya so problematic. Kenapa ya?

Nak kata mereka tak takut Tuhan, negara bukan Islam lagilah tak percaya pada Tuhan. Dorang tak solat, tak puasa, tak pergi haji but still can manage their country much better than us.

Teringat status seorang kawan di Facebook,

“Orang di negara Barat walaupun tak maju dari segi rohaniah (religious) tapi sekurang2nya mereka maju dari segi materi. Orang negara Islam pula, rohaniah pun fail, materi pun fail. Macam mana nak maju?”

Summer 2015.

Manuscripts found in Accra-Paul Coelho
So Long a letter- Mariam Ba
Half of a yellow sun -Chimamanda Ngozi Adichie
And the mountains echoed-Khaleed Hosseini
Kite Runner -Khaleed Hosseini
A thousand Splendid sons-Khaleed Hosseini
Spider King’s daughter-Chibundu Onuzo
Secret Lives of Baba Segi’s wives - Lola Shoneyin
Salt-Nayirrah Waheed
Jewels of remembrance-Rumi
No God but God -Reza Aslan
Reclaim your Heart-Yasmin Mogahed
Everything good will come-Sefi Atta
Joys of Motherhood-Buchi Emecheta
When broken chords sing-Abimbola Dare
Zimbabwe-Tapuwa Mugabe
Memories of Love-Aminatta Forna
Kehinde - Buchi Emecheta
Scarlet Song-Mariam Ba
A crack in forever- Jeannie Brewer
Everyday is for the thief -Teju Cole
Waiting - E C Osundu
Tomorrow died yesterday - Chimeka Garricks
On Black Sister’s street- Chika Unigwe
Ghana Must Go-Taiye Selasi
Beloved-Toni Morrison
How to spell Naija in 100 short stories-Chima Nwokolo
You can’t keep a good woman down-Alice Walker
Alchemist-Paul Coelho
Beyond the Horizon-Amma Darko
A bit of difference- Sefi Atta
Realities of submission-Umm Zakiyyah
The Hairdressers of Harare-Tenda Huchu

á labbi um Róm fékk ég hugdettu að skáldsögu. ég hef alltaf verið skáparithöfundur og skrifa yfirleitt helling, en hef aldrei fengið jafn skýra sýn um hvernig frásögn ég vil byggja. ég er að nota þessa ferð frekar strategískt, vegna þess að ég hef nægan tíma hér og stjórna dagskránni minni sjálfur. er að reyna að skrifa í klukkutíma eða tvo á dag, og er búinn að fylla 20 blaðsíður í minnisbókinni minni af textasketsum, dröftum, hugmyndum og hugleiðingum varðandi generalstrúktúr sögunnar sjálfrar og karakteranna minna.

ég er búinn að fá óskaplega skemmtilegar hugmyndir þó ég segi sjálfur frá, og er að njóta þessa skapandi hugarfars til hins ýtrasta. ég vil ekki ganga svo langt að útlöndin hafi verið triggering katalyst fyrir allt þetta hugmyndaflug, en þau eru sannarlega góður jarðvegur fyrir frumlegar og nýjar hugmyndir, ef ekkert annað.

í frábærri bók sem við vematsu erum að lesa saman, 1Q84 eftir Haruki Murakami, er önnur aðalpersónan rithöfundur sem fyllist innblæstri eftir að hafa tekið að sér undarlegt verkefni. mjög inspírerandi fyrir mig, og frábær lestur.

ég er að leggja fullt af vinnu í þessa hugmynd vegna þess að loksins finnst mér ég hafa eitthvað sem mér finnst gott og nægilega frumlegt. hef lengi hugsað um hvað mig langar að gera en aldrei fyrr en nú dottið á neitt sem mér fannst vit í.

vonandi get ég verið kominn miklu lengra með söguna mína þegar ég kem heim. markmiðið núna er að vera kominn með fyrsta draft að öllu verkinu.

mmm þessi póstur kemur ferðalaginu ekki nema óbeint við en mig langaði bara að segja ykkur frá því sem ég er að hugsa samtímis. ef ykkur fannst þetta skemmtilegt skal ég kannski skrifa meira um pælingarnar mínar, ekki endilega varðandi söguna, heldur bara það sem mér dettur í hug og krota hjá mér.

í öllum föllum, knús.
-k

“Tidak perlu terburu-buru. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang spesial, menunggu lama sekalipun itu tetap berharga. Tidak perlu cemas apalagi takut. Apalagi dalam urusan perasaan. Karena jikalau itu memang sejati, kita tidak akan cemas walau sesenti, sejauh apapun pergi, dia akan kembali.”


Tulisannya Tere Liye. Aku berusaha mengerti apa maksudmu melafalkan kalimat itu di hadapanku. Aku tau itu memang bukan bahasamu, bukan murni dari hatimu. Kamu hanya menuklil beberapa baris dari novel RINDU, yang sedang asyik kamu baca belakangan ini.

“Aku setuju”

Setuju katamu? Sementara, aku takkan komentar apapun. Aku masih mencoba memahami maksudmu dan takkan aku gegabah bertindak sebelum kudapatkan apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan.

“Menurut kalian, bagaimana? Apa cinta pantas ditunggu meski pada permulaan sudah ditolak?”

Benar saja. Bahasan kita masih sama. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bangkit dari meja segi empat yang tiap sisinya tak dibiarkan kosong.

“Aku bersedia, jika harus menunggu setahun dua tahun atau berapa tahun pun itu, asal dia yang mengatakannya padaku. Asal dia yang kucintai yang memin…”

Benturan meja dan dengkulku memutus kalimatmu. Seperti biasa, aku bisa menebak kau takkan berani menatap sumber suara jika itu aku. Dan kupuaskan mata menatap tajam kisah yang harus kita akhiri.
Seharusnya kamu tau, tak ada ruang untuk membahas hal itu. Seharusnya kamu mulai terbiasa, tidak memberi ruang untuk rasa. Sebab aku telah membunuh rinduku di tiap detiknya untuk bisa berhadapan denganmu dengan tenang, di hari ini…

“Sudah mau pergi ya? Hati-hati ya. Maaf kalau aku ada salah ucap.”

Tidak sepatah kata pun aku sempat berbicara. Aku tahan lidahku agar tak terlihat bergetar di hadapan seorang kamu dan dua orang lainnya yang seperti tak paham arah pembicaraan itu.


. . Aku tau kamu pasti sudah berlatih sedemikian rupa untuk bisa berbicara sedamai itu di hari ini.

Akhirnya tanyaku terjawab, kamu, mengisyaratkan, akan terus berupaya. Pun jika tak ada kemajuan berarti, kamu akan merelakan setelah orang lain menggandengku.

Meski logikaku menolak hal semacam ini, tapi kuakui itu salah satu hal bodoh yang romantis. Terima kasih. Atas isyarat dan tekad bajamu.


***
Percakapan antar hati.
Tercampur.
Jabodetabek, waktu bagian galau melihatmu.

Seharusnya aku menulis ini sejak lama, apa yang menjadi kekhawatiranku dan menjadi ‘rantai’ untuk mimpi-mimpiku. Seperti yang selalu aku dengungkan bahwa mimpiku adalah bisa lanjut sekolah di WUR. Kenapa di Belanda? Yap, it’s simply just because I love tullip! Everyone knows it.

Namun jika melihat realita dan situasi keluargaku, rasanya ada hal lain yang perlu diprioritaskan. Sebagai anak sulung, ada rasa tanggung jawab yang sebelumnya tak pernah diminta, tapi akhir-akhir muncul sendiri. Semakin dewasa, aku semakin sadar bahwa mimpi bisa menunggu, tetapi orangtua tidak…

Aku sudah 'dilepas’ oleh orangtua sejak mulai SMA. Aku mulai belajar hidup mandiri dan bersekolah jauh dari tempat tinggal. Semenjak diterima kuliah di Bogor, makin jauh pula lah aku dan keluarga dari segi jarak dan ikatan batin. Kadang aku dan orangtuaku bisa saja tidak saling bertanya kabar hingga berhari-hari atau berminggu-minggu. Bukan karena ada masalah, tapi kami sama-sama cuek.

Aku pikir ini tidak menjadi masalah, sampai pada saat liburan kemarin aku merasa bahwa memang ikatan aku dan orangtua cukup renggang. Kadang saat di rumah, aku merasa bahwa adikku lebih sering dipedulikan oleh Mamah. Rasanya Mamah lebih sering menyebut atau memanggil adikku dibanding aku. Lantas aku berpikir mungkin ini akibat aku terlalu lama jauh dari rumah dan Mamah.

Kini aku berada di situasi untuk memutuskan apa yang akan aku lakukan setelah lulus. Aku akan menjawab: “Kerja”. Tapi aku berpikir untuk mencari kerja di Bandung agar bisa dekat dengan orangtuaku. Karena aku merasa bahwa sudah banyak waktu yang aku habiskan tanpa mereka, dan aku merasa belum cukup berbakti kepada mereka. Tiap hari saat kita semakin dewasa, kadang kita lupa bahwa mereka juga semakin bertambah tua. Aku hanya ingin, sebelum aku menikah dan berumah tangga, aku bisa menghabiskan waktuku lebih banyak bersama mereka dan mensejahterakan mereka dengan rejeki yang aku dapat dari keringat sendiri. Karena aku berencana apabila sudah menikah, inginnya tidak bekerja dan menjadi full-time mother.

Begitulah… Sebenarnya ini adalah alasan terdalam mengapa aku tidak seberani sahabatku untuk melanjutkan mimpi sekolah di luar dsb, tapi inilah yang rasanya memberatkan aku. Aku tidak tau sampai kapan waktuku untuk bisa membahagiakan dan berbakti untuk mereka. Selagi aku bisa, aku memilih untuk sedekat mungkin dengan mereka, dalam bentuk kehadiran dan kasih sayang. Karena mengingat apa yang sudah mereka berikan kepadaku, sesungguhnya niat ini tidak ada apa-apanya…

Ingat waktu Mamah langsung datang ke Bogor waktu aku lagi down gara-gara skripsi… Ingat gimana Bapak berkorban jauh dari keluarga dan tinggal di pelosok hutan untuk menafkahi kami… Sesungguhnya yang ingin aku lakukan adalah bisa ada di dekat mereka saat mereka bertambah usia. Sesungguhnya aku tidak tega melihat Bapak harus pergi kerja jauh-jauh dari rumah dan melihat Mamah kesepian sendiri…

Akhir-akhir ini kalau aku harus kembali ke kampus, kadang sebenernya suka nangis, bahkan saat di jalan menuju ke Bogor. Tapi aku harus kuat dan aku harus segera menyelesaikan ini, biar bisa segera balik lagi ke rumah. Biar bisa cepet-cepet lulus dan dapet kerja. Biar bisa nemenin Mamah. Biar bisa bantu Bapak buat cover kebutuhan rumah tangga. Biar Bapak istirahat aja di rumah dan gak perlu pergi jauh-jauh lagi. Biar aku bisa bantu biayain kuliah adik aku. Biar seluruh keluarga kita utuh dan gak jauh-jauhan lagi. Biar aku aja yang ngorbanin mimpi aku. Biar kami sekeluarga bisa bertemu lagi di jannah-Mu… Ya Allah, semoga Engkau ridho. Aamiin.

29 Juli 2015.

1 Keburukan Diingat Sepanjang Masa, 1 Kebaikan Seringnya dilupa

Senior saya bilang : “Vir, jangan cuman liat cowo itu dari agamanya. aku pernah tuh ketemu orang yang  berjenggot, bajunya kaya jubah pokonya islami banget dan istrinya juga berkerudung panjang, taunya dia ngeludah di tempat umum dan waktu kita kasih warning ke dia, dia malah marah dan merasa benar.”

Lalu kalo kita pernah liat di media sosial mengenai seorang yang lebih mengutamakan selsai mengaji daripada memberikan tempat duduknya kepada wanita yang sudah lanjut usia,  dia pun dicaci oleh masyarakat luas baik di dunia maya maupun saat di Commuter Line.

Kita seringnya mengeneralisasi setiap orang hanya karena kesalahan satu orang, tidak adil rasanya karena setiap orang berbeda dari segi karakter maupun habitnya.

Saya ingin berpendapat mengenai orang yang senior saya bicarakan, menurut saya kita tidak bisa menjudge orang seperti itu, ibu saya pernah bilang lihatlah seseorang dengan kebaikannya walaupun hanya1 kebaikan. Kita bisa lihat dari segi agama orang tersebut telah melakukan satu kebaikan dengan menjalankan kewajiban yang diperintahkan seperti menutup aurat, lalu karena perilakunya yang seperti itu kita menjudge orang yang agamis memiliki peringai yang buruk. apa hak kita menjudge mereka begitu karena menurut saya tidak ada kaitannya  agama dengan perilaku seseorang, agama itu baik dan apabila orang mengimplementasikannya dengan benar maka akan berimpact baik juga pada orang tersebut dan juga apakah kita sudah melakukan kebaikan yang dia lakukan atau lebih daripada apa yang dia lakukan sehingga kita berhak menjudge orang tersebut.

lalu dengan orang yang lebih mengutamakan selsai mengaji daripada memberikan tempat duduknya kepada wanita lansia, mungkin kalau dipikir memang sebaiknya ya lebih mengutamakan memberikan tempat duduk tersebut namun lagi-lagi media sosial memblowup hal tersebut, dan judgement pun terbentuk padahal kita tidak ada di lokasi kejadian, mudah percaya dan mudah terhasut memang menjadi ciri masyarakat Indonesia zaman sekarang yang membuat pelaku media massa memanfaatkan hal tersebut baik yang bersifat politis maupun entertainment.

Sayang sekali bukan jika kita berada diantaranya, diantara orang-orang yang hanya mengingat keburukan seseorang ataupun orang yang mudah dihasut.