segy

Tulisan : Peran

Beberapa tahun ke belakang, saya mengamati beberapa teman saya yang dulu aktif di media sosial. Terutama di tumblr. Pada tahun 2011-an, banyak sekali orang yang saya kenal melalui dunia maya satu ini. Sebut saja semisal @namasayakinsi @kuntawiaji @aliyahani-blog @satriamaulana @ourmetime @nayasa dan lain-lain. Orang yang dulu begitu aktif tulisannya, ada perubahan-perubahan yang menarik. Baik dari segi konten maupun intensitas,

Seiring pertumbuhan kami. Ketika dulu sama-sama mahasiswa dan kini setiapnya telah berperan sebagai orang tua dari bayi-bayi lucu mereka yang baru saja lahir. Juga dunia pekerjaan yang kini dijalani, dari yang menjadi dokter spesialis, pengusaha batagor, ibu rumah tangga, barista kopi, penulis, dan sebagainya.

Kini, ketika saya sendiri sudah lulus dari dunia perkuliahan, kemudian bekerja, menikah, dan mungkin nanti akan menjadi orang tua seperti teman-teman yang lainnya. Saya semakin mengerti bahwa peran yang kami jalani pun bertumbuh dan bertambah. Dan baru akan dimengerti ketika sudah dijalani.

Intensitas tulisan saya di dunia maya berkurang, drastis. Tapi itu tidak menjadi sebuah indikasi mutlak bahwa tulisan saya berhenti. Hanya berpindah media. Seperti ketika dulu tidak memiliki teman untuk bercerita sehingga semuanya tumpah dalam tulisan-tulisan. Kini saya memiliki @ajinurafifah untuk berbagi keresahan itu. Juga tulisan saya menjadi naskah-naskah tersendiri.

Peran yang bertambah, sebagai suami. Saya juga menyadari ada kehidupan nyata yang harus dihadapi. Dulu ketika peran masih sebagai pemuda lajang, begitu banyak waktu untuk bermain-main, berbicara ke sana ke mari di dunia maya. Kini saya mengerti bahwa ada tanggungjawab besar di hidup saya yang harus saya tunaikan. Dan dunia nyata jauh lebih penting untuk dijalani daripada di dunia maya. Mungkin, kenyataan ini belum bisa diterima oleh teman-teman yang sedang asik dan menikmati betapa menariknya dunia maya ini. Tapi itu tidak masalah, hanya memang fasenya kita berbeda.

Saya menjadi mengerti mengapa teman-teman yang dulu tulisannya begitu banyak dan rajin, semakin hilang dari dunia maya. Ada ruang-ruang pribadi yang menjadi tempat lebih aman untuk keresahan. Dan memang tidak semua keresahan harus dipublikasikan.

Peran kita akan bertambah dan bertumbuh. Sadarilah itu dan hadapilah kenyataannya. Dunia maya ini memang menyenangkan sekaligus melenakan, karena kita bebas menjadi seperti apa yang kita mau. Tapi di luar rumah, bertemu dengan orang, berbicara secara langsung, berjuang mencari rezeki di bawah terik matahari, berbuat membantu sesama dengan terjun ke lapangan adalah hal-hal yang nantinya akan sangat berarti.

Selamat bersiap untuk peran-peran yang sudah menantimu di depan sana.

Yogyakarta, 30 April 2017 | ©kurniawangunadi

Origins and meanings of lastnames in NHL (pt. 1)
  • Abdelkader, Justin—Maghrebi: from Arabic “Abd al-Qadir” (=servant of the capable, powerful)
  • Bozak, Tyler—Croatian: from “Božak” a derivative of the first name Božidar (=God’s gift)
  • Demers, Jason—Old French: (=of the seas) *note: Jason means healer in Greek, so combined it‘s: healer of the seas
  • Drouin, Jonathan—French: from “Drago” probably a Saxon masculine first name (=ghost)
  • Fleury, Marc-André—French and Dutch: from “Fleur” a feminine first name (=flower)
  • Forsberg, Filip—Swedish: from “fors + berg” (=mountain waterfall)
  • Gallagher, Brendan—Gaelic: from “gallach er” (=brave man)
  • Hanifin, Noah—Irish and Gaelic: from “Ó hAinbhthín” (=descendant of the storm)
  • Josi, Roman—Sanskrit, Hindi-like language: from “joshi” (=astronomer)
  • Kessel, Phil—Old German: from “kezzel” –occupational name for a maker of copper cooking vessels
  • Laine, Patrik—Estonian: from “Laine” a feminine first name (=wave)
  • Larkin, Dylan—Mediaval English: a diminutive from “Laurence” a first name (=person living in Laurentum, a city in ancient Italy)
  • Lucic, Milan—Croatian and Serbian: from “Lučić” a patronymic name of Lukas—Lucas
  • MacKinnon, Nathan—Scottish: from Gaelic “Mac Fhionghuin” (=fair son)
  • Marchand, Brad—Old French: from “merchant” (=buyer and seller of goods—Latin)
  • Marner, Mitch—Mediaval French: from “marinier” –a Norman sailor plundering ports
  • McDavid, Connor—Scottish and Irish: from “MacDaibheid” (=son of saint David)
  • Niskanen, Matt—Finnish: from “niska” (=neck) in past applied as a nickname for stubborn person or a person living on mountain ridge
  • Price, Carey—Welsh: from “ap Rhys” (=son of enthusiasm)
  • Reinhart, Sam—German and Jewish: from “ragin + hardt” (=brave consuel)
  • Seguin, Tyler—French: “séguin” from a Germanic first name “segi + wine” (=friend of victory)
  • Tkachuk, Matthew—Ukrainian and Jewish: from “tkach” (=weaver)
  • Toews, Jonathan—German: from “Töws/Tews” a short form of old German first name Matthäus
  • Zuccarello, Mats—Italian: a diminutive of “zuccaro” (=sugar) it’s a nickname for sweet person or sweets seller

Sebenarnya tema pembicaraan tentang pernikahan akan sangat menarik jika dibahas dari segi syari'at, aqidah, akhlak, fiqh serta adab masing-masing. Agar tercipta sebuah keluarga yang kokoh dan tertarbiyah, juga suasana yang menyejukkan diantara laki-laki dan perempuan setelah mistaqan ghalidzhan yang mereka ucapkan di hadapan Ar-rahman.

Hanya saja yang sering terjadi saat ini,  lebih banyak membicarakan keinginan dan perasaan tanpa keseimbangan persiapan dan pemahaman.

Padahal pernikahan adalah peristiwa peradaban. Pun di dalamnya ada esensi dakwah, tarbiyah dan ibadah. Tentu bagus seandainya nanti belajar sambil berjalan, namun akan terlihat perbedaan mereka yang telah menyiapkan penerimaan dan perbekalan sejak jauh hari sebelum saling dipertemukan.

—  ©Quraners
Paradoksal Abu Bakar dan Umar

Dari dulu saya sebenarnya bertanya-tanya, mengapa kisah hidup Abu Bakar jauh lebih sedikit yang kita temukan daripada kisah Umar?

Lalu, tiap membaca kisah mereka dari hadist, ada sensasi aneh dan unik yang muncul. Misalnya, saat kita membaca kisah Umar, beliau selalu tampil sebagai seorang yang kuat, tegas, dan cenderung keras.

Abu Bakar sebalknya, tidak menonjol dan tidak mau menonjol. Abu Bakar selalu meringkuk di pojokan dan tidak nyaman jika diminta tampil. Namun, saat ia tampil, jawaban dan tindakan-tindakannya membelalakkan mata.

Abu Bakar jelas adalah seorang phlegmatis murni. Jika ia tak harus muncul, ia takkan mau muncul. Ketika harus muncul, Abu Bakar pun bicara dengan kerendahan hati luar biasa. Kata-katanya singkat, tindak-tanduknya mencerminkan “siapa sih saya, bukan apa-apa”. Wajahnya merah saat dipuji. Ia tidak suka dipuji. Gambaran fisiknya pun makin menguatkan asumsi itu, “kurus, tinggi, berkulit putih, terlihat ringkih, agak bungkuk, berjenggot putih, dan pendiam”, begitu gambaran umum fisik Abu Bakar.

Abu Bakar beramal dalam diam, tapi amalnya luar biasa. Amalnya adalah yang terbaik. Hanya beberapa amal yang sempat Umar pergoki. Namun, saat Umar berhasil “menangkap basah”, ia hanya bisa kicep melihat kualitas amal Abu Bakar.

“Sungguh, engkau telah membuat kesulitan tiap pemimpin yang menggantikanmu, wahai Abu Bakar”, keluh Umar. Umar memberikan pernyataan itu saat memergoki Abu Bakar tiap pagi datang ke rumah janda tua di pinggir Makkah. Abu Bakar memberishkan rumah janda tersebut dan memasakkan makanan untuknya. Ia mengurus janda itu tiap hari. Padahal, saat itu Abu Bakar adalah khalifah.

Begitu pula saat Nabi bertanya kala bincang setelah subuh. Saat ditanya siapa yang hari ini sudah bersedekah, menengok orang sakit, dan bertakziyah, tak ada satupun sahabat yang sudah melakukannya kecuali Abu Bakar. Ia mengangkat tangan, mengaku dalam malu, sementara sahabat lain terbengong.

Abu Bakar, jangan main-main. Masih jam 5 pagi dan Anda sudah bertakziyah, bersedekah, dan menjenguk orang sakit? Seperti apa Anda menjalani hari-hari Anda? Jam berapa Anda bangun? Dan Anda malu-malu dalam mengaku kepada nabi? Duh, apalah kami dibandingkan Anda.

Dengan karakter Abu Bakar yang seperti itu, wajar saja tak banyak kisah yang kita dapatkan.

Umar, dalam berbagai segi, adalah kebalikan Abu Bakar. Umar adalah potret sejati dari karakter Koleris murni. Keras, tegas, raksasa, pemaksa, dan cenderung keras. Fisik Umar digambarkan sebagai, “tinggi-besar, berotot, botak, keras, kasar, pandangan matanya tajam, garang - semua orang takut padanya”.

Kata-kata khas yang ia pakai kadang mirip preman pasar, “penggal saja!”, “aku akan membunuhmu!”, “kita harus melawan mereka!”, “wahai Rasululah, kenapa kita harus takut kepada Quraisy?”

Kenyataannya, Umar memang mantan preman pasar Ukazh. Sebelum masuk Islam, ia adalah tukang berkelahi dan jagoan Ukazh.

Sikapnya yang berani mengambil resiko memang luar biasa. Dan seperti karakter Koleris lainnya, kita melihat seorang yang menonjol. Koleris banyak sekali mengambil inisiatif untuk perubahan - dan bagi mereka, itu adalah sesuatu yang biasa mereka lakukan. Saat kau menginginkan ketenangan, panggil phlegmatis. Namun, saat kau merasa buntu, panggil Koleris. Koleris akan memecahkan kebuntuan-kebuntuanmu dengan cepat.

Dan itu pula yang dilakukan Umar. Saat jamaah muslim ketakutan di Makkah, Umar mengajak mereka berthawaf dan sholat di Ka'bah. Saat muslim yang lain hijrah diam-diam dalam malam, cuma Umar seorang yang menenteng pedang di bahunya sambil berteriak menantang di siang bolong, “Bagi yang mau menghadang aku untuk hijrah, silahkan!” Tak ada satupun orang yang menghadang Umar.

Makanya, dengan karakter Umar yang seperti itu, kisah tentang Umar membanjiri sirah nabawiyah Islam. Tidak heran.

Namun, ada satu hal yang unik, dan ini membuat kekaguman saya bertambah-tambah. Saat memilih pemimpin di Tsaqifah, mereka tidak memilih pemimpin yang menonjol. Mereka memilih pemimpin yang terbaik.

Abad 21 adalah abad ekstrovert. Saya yakin, andaikata ada pemilihan pemimpin antara Abu Bakar dan Umar tahun 2015 ini, Umar lah yang akan menang. Abad ini, orang yang lebih menonjol, lebih banyak berbicara, lebih banyak mengambil inisiatif, dia lah yang dipandang lebih baik. Setidaknya begitulah kata Susan Cain dalam bukunya Quiet. Pernahkah kamu berada dalam ruangan dan terpesona oleh orang yang banyak bicara dan aktif memberi ide, tapi kemudian kecewa karena ia tak bisa memimpin tim dan memberi hasil yang diharapkan?

Padahal, kepemimpinan bukan diukur dari seberapa baik ia bicara di depan publik. Ia bukan diukur dari keberaniannya untuk berorasi di depan orang-orang. Gandhi bukanlah orang yang jago pidato. King George X dari Inggris pun gagap saat coba bicara di depan rakyatnya (dan kemudian dibuatlah film King’s Speech untuk memotret fenomena itu).

Kepemimpinan, menurut saya, adalah lebih pada kemampuan membawa orang yang dipimpin untuk sampai ke tujuan. Jika demi sampai ke tujuan si pemimpin harus bagus bicara di depan publik ya bisa jadi. Tapi bukan itu fokusnya. 

Makanya, ketika Utsman menjadi khalifah, ia jarang sekali pidato. Dan sekalinya pidato, ia cuma berpidato begini, “Sesungguhnya pemimpin yang terbaik adalah yang paling banyak kerjanya, bukan yang paling banyak bicaranya”. Lalu ia turun dari mimbar, meninggalkan jamaah muslimin yang bengong.

Peristiwa Tsaqifah - pemilihan pemimpin setelah wafatnya Nabi - tiba. Dari sinilah saya melihat cerminan karakter Abu Bakar dan Umar dengan sangat jelas dan kontras.

Abu Bakar dengan karakter phlegmatisnya benci tampil menonjol. Sebagai phlegmatis, Abu Bakar berpikir ia bukan apa-apa. Ia tak mau orang memandang dirinya. Kalau bisa, ia selalu ingin di pojokan saja.

Namun, hari ini berbeda. Situasi Tsaqifah sangat panas dan perlu keputusan. Walaupun Abu Bakar tak suka menjadi pusat perhatian, akhirnya ia maju dan memberikan usul. Ia meminta hadirin memilih antara Umar dan Abu Ubaidah sebagai pemimpin. Dalam kondisi biasa, kawan, seorang phlegmatis tak mau menonjol, tak mau memimpin. Namun, dalam kondisi terdesak dan kritis, saat ia melihat ia harus memimpin dan tak ada orang lain yang bisa, ia akan (terpaksa) tampil.

Dan di sinilah briliannya Umar. Ia tahu ia lebih menonjol dibanding Abu Bakar. Perawakannya lebih meyakinkan daripada Abu Bakar. FYI, menurut riset, orang dengan karakteristik tubuh tinggi besar dan kelihatan tegas lebih didambakan untuk menjadi pemimpin dibanding orang yang perawakannya kecil dan terlihat tidak tegas. Dan, tebak, kalau Umar memilih mengangkat diri menjadi pemimpin, takkan ada yang protes. Umar memang layak!

Tapi Umar menolak.

Ia tahu secara perawakan dan kasat mata, ia lah yang lebih cocok menjadi pemimpin. Tapi soal manusia terbaik, Abu Bakar lah orangnya. Saat itu adalah saat krisis, secara logika Koleris lah yang perlu mengambil alih. Tapi tidak, ia yang perawakannya “kurus dan ringkih” itulah yang dipilih sebagai pemimpin. Sang phlegmatis murni.

Selanjutnya adalah kisah tentang paradoksal. Abu Bakar yang dikenal pendiam dan tidak menonjol langsung tampil menjadi pemimpin yang luar biasa tegas, bahkan mengalahkan ketegasan Umar.

Saat Umar protes mengapa Abu Bakar memerangi kaum yang tidak membayar zakat, Abu Bakar balik menghardik Umar bahwa mereka memang harus diperangi. Saat Umar memprotes bahwa pasukan Usamah harus mundur, Abu Bakar menghardik Umar bahwa ia takkan menghentikan apa yang telah diperintahkan Rasulullah.

Ya, inti kepemimpinan adalah soal kemampuan membawa orang yang dipimpin demi mencapai tujuan. Dan Abu Bakar jelas orang yang paling memiliki kompeten di bidang itu. Maka, ketika dihadapkan sebuah tanggung jawab kepemimpinan, seorang phlegmatis akan mentransformasikan dirinya menjadi seorang -yang kadang- jauh berbeda. Seorang phlegmatis memang tak suka muncul, tapi ketika ia harus muncul, maka ia akan muncul.

Abu Bakar dan Umar. Kedua orang ini selalu saya pelajari kisah hidupnya dengan pendalaman yang jauh lebih mendalam dibanding kisah sahabat yang lain. Bagi saya, mereka adalah kisah persahabatan paradoks sekaligus unik luar biasa. Radiallahu Anhu (semoga Allah ridha kepada mereka)

Akhir kata, saya cuma bisa mengutip syair Imam Syafii untuk mengakhiri tulisan ini,

“Ya Allah, tempatkanlah aku bersama orang-orang saleh walaupun aku bukan termasuk bagian dari mereka”

~*

Terkadang, ada atau tidaknya foto seseorang di sosial medianya bisa jadi SALAH SATU indikator akhlak seseorang 👉 akhlak apakah ia pemalu atau ….. (Isi sendiri)._ kata seorang teman dalam sebuah obrolan santai ketika acara ibf.

Kalau ingat hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, malu adalah salah satu cabang iman. Dan derasnya arus per-selfi-an di sosial media, membuat saya jadi sependapat dengannya.

Kemudian seorang teman saya menimpali dengan hal yang serupa perihal per-selfi-an, ia berkata kurang lebih seperti ini; “Semua foto yang menampakkan diriku sudah tak hapus dari peredaran medsos, nis. Tapi di hp masih banyak foto cantikku, foto candid. Tanganku gatal bawaannya pengen upload terus.”

Dan memang benar bahwasanya selfie dan upload foto itu bikin candu. Yang kalem saja bisa jadi (maaf) “lebay” kalau sudah dihadapkan dengan kamera.

Realitanya seperti ini, di dunia nyata di depan laki-laki seorang wanita bisa terlihat sangat jaim, anggun, kalem, cool dan malu-malu kalau tidak sengaja berpas-pasan sebisa mungkin menepi agar tidak menjadi titik fokus.

Ketika ada yang sengaja atau pun tidak menatapmu berlama-lama dan dalam engkau pun risih dan malu. Lalu engkau memalingkan wajah dan tersipu (salah tingkah). Apalagi jika yang melihatmu adalah laki-laki berjenggot dan celananya cingkrang, membuat tidak karuan.

Tidak mudah bagi seorang pria untuk menatap mu berlama-lama di dunia nyata. Karna pasalnya engkau pun akan berkata untuk menundukkan pandangan. Tapi di dunia maya, engkau begitu narsis bahkan berlebihan gayanya (padahal engkau bukan seorang ABG dan bukan anak-anak alay) apalagi engkau sudah ngaji dan kenal sunnah.

Kini, tidak perlu pria keluar rumah, tidak perlu ke kajian-kajian, tapi sambil duduk manis sambil ngeteh atau makan bakso atau juga sambil goleran dan gulung-gulung di dalam rumah mereka bisa dengan mudah mengakses pose-pose wanita dari auratnya terlihat sampai yang tertutup rapat. Dari yang bibirnya merah merona sampai yang hijab terjulur sempurna.

Dari yang sengaja mereka mengakses foto, sampai yang tidak sengaja akhirnya tergoda melihat fotomu. Lalu apa hujjamu kelak jika mereka terfitnah??

Terlebih ilmu sudah sampai kepadamu, tapi engkau katakan mereka yang menasehatimu baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan adalah mereka yang tidak menghargai prosesmu, mereka yang menulis dan mengingatkanmu adalah mereka yang hobinya suka menghakimi, menyinyir dan tidak memberikan udzur atas semua proses yang kamu lakukan.

Tulisan ini secara garis besar ingin menumpahkan segala keributan di kepala perihal pertanyaan mengenai fenomena wanita yang bercadar namun masih upload foto. Terlebih ketika tidak sengaja membaca sebuah tulisan pak @quraners dengan jenis yang sama. Pendapat dari segi pandangan seorang laki-laki ataupun wanita yang cukup punya keresahan yang sama.

Ah iya, perihal tulisan dan nasihat. Sudah berapa banyak tulisan yang berkaitan dengan hal ini engkau baca (lebih tepatnya dibaca, mungkin cuma dilihat judul tidak sejalan langsung scroll ke bawah atau bisa jadi langsung di block). Sudah seberapa sering nasihat Ustadz dan fatwa ulama engkau dengar..

Atau barangkali nasihat, catatan tentang fitnah wanita, aurat wanita atau menundukkan pandangan sudah usang dan tidak berlaku?

Maka jika atas dasar dakwah kau membenarkan tindakanmu maka disini saya katakan, cukuplah tulisan-tulisanmu saja yang mondar-mandir di beranda sosial media, tidak perlu engkau tunjukkan pose-pose bagian tubuhmu. Mulai dari lentik matamu, sampai gaya imutmu.

Cukuplah nasihat-nasihat indahmu saja yang mengajak mereka kepada kebaikan, bukan dengan foto-fotomu.

Cukup. Cukuplah tulisan-tulisanmu dan penjelasan-penjelasan tentang hijab yang benar saja untuk berhijab syar'i tidak perlu engkau beri contoh dengan mengupload foto-fotomu. Jika pun niatnya untuk dakwah, tanpa foto selfie/grupie pun bisa, bisa sekali.

Jika ada yang kemudian mau mendengar dan menerima nasihatmu itu bukan karena fotomu atau karena tutorial cadarmu, tapi semata karena Allah yang menggerakkan hatinya.

Jadi alasan klasik kalau upload foto buat dakwah.

Cukup. Cukup mereka yang ada di dunia nyata yang mengenali dirimu sebenarnya. Bagaimana manisnya senyum kamu, bagaimana cantiknya dirimu, bagaimana anggunnya dirimu. Hati-hati, terlalu banyak upload lama-lama aura keshalihan dan cantikmu hilang di makan sosial media. Tunjukkan pesonamu dengan kebaikan akhlakmu, dengan rasa malumu, dan tetap tersembunyi di balik hijab/tabir bukan dengan pose-pose indahmu.

Jangan sampai ya kelak ditanya Allah perihal hisab quota internet, engkau hanya menjawab, untuk curhat, narsis, dan upload foto selfie/grupie.. Apalagi yang sudah bersuami, mohonlah sekiranya miliki rasa cemburu ketika istri kalian menampakkan diri mereka di sosial media. Nasehati dengan cara lemah lembut, jangan malah ikut narsis pula.

Jika sudah mengerti perihal upload foto bagi wanita. Maka sebisa mungkin untuk tidak share ataupun upload foto teman/saudari kita yang belum berhijab ataupun yang sudah berhijab. Jika kita tidak mau menampakkan diri bahkan muka di blur pun maka baiknya janganlah tampakkan mereka. Jagalah kehormatan saudari-saudari kita.

Dan untuk mencegah maraknya fenomena ini. Maka mulailah untuk berhenti sekadar memberikan like ataupun nimbrung komen “subhanallah” ketika mereka upload foto selfie/grupie.

Sebab ketika kita menahan diri dari like dan momen di foto selfie/grupie mereka maka kita turut menjaga mereka dari boomingnya fenomena yang terjadi saat ini.

Saya menuliskan ini tak lantas mengklaim diri saya sudah pandai menjaga sepenuhnya. Bukan. Kadang, bahkan mungkin sering, ingin seperti mereka yang mengupload foto diri dari yang menampakkan wajah ataupun sekadar menampakkan jari-jemari ini. Namun setelah dipikir, apa untungnya semua itu? Sebab tidak ada sisi mashlahatnya dalam hal ini.

Tulisan ini murni sebagai pengingat pribadi jika suatu hari nanti saya butuh untuk membacanya kembali sebagai pengingat. Maka maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan ini, karena entah kenapa makin kesini para muslimah semakin berani unjuk diri. Apalagi ketika ia sudah bercadar.

Sendu || 05.20

I’ve been on Tumblr for about a year now and I’m surprised I haven’t seen anything regarding Sesame Street.

 So, I figured I would shed a little light on it for all of you.

I watched this show religiously as a kid, and I’ve been looking into it again recently (a lot) just out of the sake of curiosity. There’s a lot of great stuff going on with this show.

To start, eight of its ten regular human cast members are people of color.

There’s Susan and Gordon, played by Dr. Loretta Long and Roscoe Orman…

Maria and Luis, played by Sonia Manzano and Emilio Delgado…

Alan, played by Alan Muraoka…

Chris played by Christopher Knowings…

Leela, played by Nitya Vidyasagar…

Finally, Mando, played by Ismael Cruz Cordova.

The show also has a single mom named Gina (played by Allison Bartlett-O’Reilly) who adopted a child named Marco from Guatemala and is raising him on her own.

There’s also a bilingual Muppet named Rosita, played by Mexican-born puppeteer Carmen Osbahr.

The diversity on the show has allowed storylines like Leela celebrating the Indian holiday of Rakhi…

and Rosita having to deal with Mexican stereotypes in one of her story books.

The show also introduced a Muppet named Segi (named after the adopted daughter of the show’s head writer) who was introduced to sing a song about loving her natural hair.

Segi also had to deal with a story book saying that a teddy bear in a toy store is “too brown,” and therefore not good enough. This leads to a great song sung to her by Leela, Chris, and Mando.

The show also touches on subjects normally not covered on children’s television, like when Big Bird was being bullied for being too big and too yellow.

The show also has special outreach material specifically made for children of difficult situations, called “Little Children, Big Challenges.” These stories can cover everything from divorce to poverty to having an incarcerated parent. They also cover topics for children of the military, such as Rosita having to deal with her father becoming a wheelchair user after getting wounded in battle.

So, in short, this is a show that does more than any other children’s show I know, so I figured I would draw your attention to it so it can be properly appreciated.

Tips dimurahkan rezeki kak H amal.

1. Sehari istigfar at least 100 kali subuh, 100 kali zohor, 100 kali asar, 100 kali maghrib, 100 kali isyak.
50 kali pun takpa. Ikutlah masing-masing. Ingat, Rasulullah pun dalam sehari berkali istigfar.


2. Amalkan solat dhuha. Lepas dah amal, try ‘jaga’ solat dhuha. Kalau tak boleh 7 kali dalam 7 hari, buatlah 3 kali dalam seminggu. Bukan kuantiti Allah nilai tapi kualiti. Apa dia ? Keikhlasaan untuk tunduk pada Rabb.


3. Al-quran jangan ketepikan. Solat jangan ketepikan. Dua benda ni kalau kita jaga seperti jaga seorang 'kekasih’, nescaya kita orang yang paling bahagia. Wallahi.


4. Tahajud. Tuan guru nik aziz tahu tak kenapa tak pernah tinggal tahajud ? Sebab ada 'perasaan’ lapang tiap kali melaksanakan solat ini. Manusia nampak kita seperti sibuk sana sini, tapi Allah sentiasa 'lapangkan’ kita dengan cara setiap urusan kita dipermudahkan. Sebab itu tuan guru semasa hayat, waktunya walaupun pack dengan memberi ceramah, masih ada ruang untuk keluarga, isteri dan sebagainya. Lapang tu luas definisinya. Allah beri rezeki dalam banyak bentuk.


5. Hutang. Hutang dengan orang make sure kita bayar dan lunaskan. Kalau tak boleh, buat perjanjian dan musyawarah dengan pihak yang kita hutang kita nak bayar bila, kita nak tempoh sekian sekian. Dan andai masih ada yang berhutang pada kita, jangan tuntut. Kalau dia nak bayar, bayar. Kalau tak, takpa. Halalkan. Dalam masa yang sama, doa banyak-banyak moga itu salah satu Pintu pembuka rezeki untuk kita.


6. Adab pada ibu ayah.
Jangan jadi anak yang 'biadap’ atau yang tiada adab. Sebab once kita sakitkan hati ibu ayah, rezeki susah nak lekat, keep contact. Tanya khabar, minta doa dan restu hari-hari tak kira anda bujang ke dah kahwin ke keep contact. Doakan kesejahteraan ibu ayah.


7. Hubungan dengan manusia.
Jangan suka hasad dengki, dendam kesumat, menyebarkan fitnah, aib, umpat. Kalau terbuat, cepat-cepat muhasabah dan istigfar. Perbanyakkan ambil air wuduk ketika marah. Sebab diri kita sendiri pun tidak terlalu baik.


8. Hormat guru bagi yang student. Hormat majikan bagi yang bekerja. Doakan guru, doakan boss kita. Sentiasa anggap mereka seperti ahli keluarga. Sayangi mereka. Minta mereka doakan kita.


9. Zikir.
Cuba hayati dan selami zikir asmaul husna terutamanya. (99 nama Allah).
Setiap 99 nama Allah ada maksud tersurat dan tersirat. Contoh bab rezeki, boleh amal zikir Ya Razzaq. Ya Razzaq tiap kali lepas solat.


10. Keep sadaqah.
Nampak pakcik jual newspaper tepi jalan belilah dengan wang besar sikit, nampak makcik tepi jalan jual kuih atau nasi lemak belilah walaupun ketika itu kita tak lapar, masuk masjid ringankan tangan untuk masukkan duit dalam tabung even RM 1. Naik bas ke teksi ke, jangan ambil baki wang, niat lah sedekah. Ada duit lebih, beri hadiah pada ibu ayah, guru-guru, kawan-kawan, adik2, suami isteri niat untuk sedekah. Tak perlu tunggu birthday dan sebagainya. Banyak cara sedekah. Apa yang kita 'beri’ itulah 'milik’ kita di sana. Akan dihimpunkan di hari pengadilan. Bukannya apa yang kita 'simpan’.


11. Haiwan dan alam.
Haiwan itu ciptaan Allah. Alam itu ciptaan Allah. Buat baik dengan haiwan, beri makan. Beri minum. Sayangi haiwan. Alam. Tahukah kalian setiap alam di dunia ini akan bertasbih memuji Allah, pokok, sungai, daun, hujan sekalipun akan mengagungkan Tuhan mereka ? Pastikan kita beradab pada alam. Jangan buang sampah, jangan cemarkan dan sebagainya. Sayangilah alam. Sebab seorang guru pernah kata, salah satu tips menjemput rezeki yang manusia selalu lupa adalah adab pada haiwan dan alam.


12. Always positive and never give up
(Bersyukur dan bersabar)
Rezeki itu banyak makna. Dapat lihat mak ayah pun rezeki, dapat belajar tinggi-tinggi pun rezeki, dapat boss baik pun rezeki, dapat sahabat soleh pun rezeki, dapat pandang dunia dengan nikmat mata pun rezeki, dapat berjalan ke mall, ke pantai, ke taman pun rezeki, sebab ada orang yang takda kaki. Dapat bernafas pun rezeki. Rezeki itu bukan dari segi wang semata-mata. Sentiasa bersyukur dan bersabar dengan apa yang Allah hadiahkan buat kita sama ada suka mahupun duka. Satu je, kalau anda rasa anda diuji dengan sangat teruk ada lagi yang diuji lebih sakit.


Moga bermanfaat.
Wallahualam.
😊

Cerpen: The Way I Lose Her

Hai gaes..
What up~

Awalnya gue nggak pernah nganggep bahwa tumblr ini adalah sebuah blog, karena dari segi fitur dan efisiensitas, tumblr kayaknya lebih cocok disebut sebagai sosial media dan lebih menarik ketimbang blog dan wordpress.

Tapi, berhubung dulu gue sempet iseng menulis sebuah cerita pendek perihal latar belakang tumblr ini dalam sebuah cerpen yang berjudul, “My Beautiful Mistake” akhirnya gue jadi agak senang menulis tentang apa yang telah gue laluin semasa SMA hingga Kuliah kemarin.

Nggak berhenti begitu saja, gue yang emang pada dasarnya cuma iseng ngisi waktu sambil nulis akhirnya memotong beberapa kejadian-kejadian kecil di masa SMA dan Kuliah pada satu kesatuan cerita yang nggak terlalu spesifik. Seperti pada cerpen “Hujan Kala Itu” Dan “Sedekat Detik dan Detaknya”

Namun, entah kenapa rasa-rasanya jadi asik aja nulis kembali pecahan-pecahan cerita yang emang sebenarnya lucu kalau gue inget-inget lagi. Betapa tololnya gue yang dulu, betapa nggak pekanya gue yang dulu, betapa sering patah hatinya gue yang dulu, dan masih banyak lagi.

Maka dengan hadirnya cerpen “The Way I Lose Her” ini, semoga itu bisa menjadi penghubung cerita cerpen-cerpen sebelumnya. Dan semoga juga bisa menjawab dari beberapa pertanyaan-pertanyaan perihal Geby, Laras, Nala, Ikhsan, dan seluruh peran yang pernah datang, berteduh, lalu kemudian pergi lagi. 

So, this is “The Way I Lose Her” index..

  1. [TWILH: Tulisan Satu] -> Pilot: Im Adult
  2. [TWILH: Tulisan Dua] -> School At First Sight
  3. [TWILH: Tulisan Tiga] -> Ibu
  4. [TWILH: Tulisan Empat] -> Gue Bosnya Di Sini
  5. [TWILH: Tulisan Lima] -> Judgment Day
  6. [TWILH: Tulisan Enam] -> Happy Hunting
  7. [TWILH: Tulisan Tujuh] -> Gue Salah Apa Kak?!
  8. [TWILH: Tulisan Delapan] -> Atribut Seragam
  9. [TWILH: Tulisan Sembilan] -> Perihal Dada
  10. [TWILH: Tulisan Satu Nol] -> Boys Talk Part 1
  11. [TWILH: Tulisan Satu Satu] -> Boys Talk Part 2
  12. [TWILH: Tulisan Satu Dua] -> Ular Tangga
  13. [TWILH: Tulisan Satu Tiga] -> Mrs. Curiosity
  14. [TWILH: Tulisan Satu Empat] -> I Hate Her So Much!
  15. [TWILH: Tulisan Satu Lima] -> Is That You?
  16. [TWILH: Tulisan Satu Enam] -> Do You Remember Me?
  17. [TWILH: Tulisan Satu Tujuh] -> Di Antara 2 Hati
  18. [TWILH: Tulisan Satu Delapan] -> Tanda Tanya
  19. [TWILH: Tulisan Satu Sembilan] -> Game On
  20. [TWILH: Tulisan Dua Nol] -> Pass The Ball!
  21. [TWILH: Tulisan Dua Satu] -> You Hear Me Wisely. I Love It
  22. [TWILH: Tulisan Dua Dua] -> Kamu Dimana?
  23. [TWILH: Tulisan Dua Tiga] -> Who Are We?
  24. [TWILH: Tulisan Dua Empat] -> Shock Therapy
  25. [TWILH: Tulisan Dua Lima] -> Ikhsan
  26. [TWILH: Tulisan Dua Enam] -> Sad-True-Day Night
  27. [TWILH: Tulisan Dua Tujuh]-> Did I Ask Too Much?
  28. [TWILH: Tulisan Dua Delapan] -> I’m Giving Up On You
  29. [TWILH: Tulisan Dua Sembilan]-> Pertanyaanku
  30. [TWILH: Tulisan Tiga Nol]-> Matematika Buku Cetak Hal.17
  31. [TWILH: Tulisan Tiga Satu]-> Choice
  32. [TWILH: Tulisan Tiga Dua]-> Last Hug
  33. [TWILH: Tulisan Tiga Tiga]-> Gentleman Dignity’s
  34. [TWILH: Tulisan Tiga Empat]-> Keluarga Cemara
  35. [TWILH: Tulisan Tiga Lima]-> Fix The Broken
  36. [TWILH: Tulisan Tiga Enam]-> Welcome To My Humble Home
  37. [TWILH: Tulisan Tiga Tujuh]-> How I Met Everyone Else
  38. [TWILH: Tulisan Tiga Delapan]-> Truth or Dare
  39. [TWILH: Tulisan Tiga Sembilan]-> Pickup Lines
  40. [TWILH: Tulisan Empat Nol]-> Big Day
  41. [TWILH: Tulisan Empat Satu]-> Boyfriend
  42. [TWILH: Tulisan Empat Dua]-> Confession
  43. [TWILH: Tulisan Empat Tiga]-> On My Way
  44. [TWILH: Tulisan Empat Empat]-> I’m Belong To You
  45. [TWILH: Tulisan Empat Lima]-> One Special Night
  46. [TWILH: Tulisan Empat Enam]-> Centrum
  47. [TWILH: Tulisan Empat Tujuh]-> Karate. Fight!
  48. [TWILH: Tulisan Empat Delapan]-> Ten Sessions of Cakwe
  49. [TWILH: Tulisan Empat Sembilan]-> Tempur Sepekan
  50. [TWILH: Tulisan Lima Nol]-> Pertempuran Hati
  51. [TWILH: Tulisan Lima Satu]-> Remedial Day
  52. [TWILH: Tulisan Lima Dua]-> Pamer Kebodohan Part 1
  53. [TWILH: Tulisan Lima Tiga]-> Pamer Kebodohan Part 2
  54. [TWILH: Tulisan Lima Empat]-> Hantu Usus Kucing
  55. [TWILH: Tulisan Lima Lima] -> Half Semester, Half Heart
  56. [TWILH: Tulisan Lima Enam]-> Stranger By The Day
  57. [TWILH: Tulisan Lima Tujuh]-> Something Blue
  58. [TWILH: Tulisan Lima Delapan]-> The Hardest Part
  59. [TWILH: Tulisan Lima Sembilan]-> Why We Dont’ Talk
  60. [TWILH: Tulisan Enam Nol]-> Bad Feeling
  61. [TWILH: Tulisan Enam Satu]-> Backstage
  62. [TWILH: Tulisan Enam Dua]-> End of Story
  63. [TWILH: Tulisan Enam Tiga]-> Boys Don’t Cry
  64. [TWILH: Tulisan Enam Empat]-> Escape Plan
  65. [TWILH: Tulisan Enam Lima]-> Transisi
  66. [TWILH: Tulisan Enam Enam]-> Job Description
  67. [TWILH: Tulisan Enam Tujuh]-> Home (not) Sweet Home
  68. [TWILH: Tulisan Enam Delapan]-> Awkward Moment
  69. [TWILH: Tulisan Enam Sembilan]-> Museum Rusuh! Part 1
  70. [TWILH: Tulisan Tujuh Nol]-> Museum Rusuh! Part 2
  71. [TWILH: Tulisan Tujuh Satu]-> Museum Rusuh! Part 3
  72. [TWILH: Tulisan Tujuh Dua]-> Museum Rusuh! Part 4
  73. [TWILH: Tulisan Tujuh Tiga]-> Matematika Buku Cetak Return
  74. [TWILH: Tulisan Tujuh Empat]-> Crazy Afternoon
  75. [TWILH: Tulisan Tujuh Lima]-> Cloudy
  76. [TWILH: Tulisan Tujuh Enam]-> The Woman I Love
  77. [TWILH: Tulisan Tujuh Tujuh]-> Please, Don’t Tell Her
  78. [TWILH: Tulisan Tujuh Delapan]-> Gloomy October
  79. [TWILH: Tulisan Tujuh Sembilan]-> What Men Must Do.
  80. [TWILH: Tulisan Delapan Nol]-> Hujan di Bulan Oktober
  81. [TWILH: Tulisan Delapan Satu]-> Pelangi di Bulan Oktober
  82. [TWILH: Tulisan Delapan Dua]-> Start From Here…
  83. [TWILH: Tulisan Delapan Tiga]-> Dimas’s Boys
  84. [TWILH: Tulisan Delapan Empat]-> 1 Day Before Disaster
  85. [TWILH: Tulisan Delapan Lima]-> She’s On Her Way
  86. [TWILH: Tulisan Delapan Enam]-> Disaster Begin
  87. [TWILH: Tulisan Delapan Tujuh]-> Sibuk Sibuk Sibuk
  88. [TWILH: Tulisan Delapan Delapan]-> Princess Diaries
  89. [TWILH: Tulisan Delepan Sembilan]-> White Flag
  90. [TWILH: Tulisan Sembilan Nol]-> Hanifah’s
  91. [TWILH: Tulisan Sembilan Satu]-> Wrong Side of Heaven
  92. [TWILH: Tulisan Sembilan Dua]-> Promise, I Won’t
  93. [TWILH: Tulisan Sembilan Tiga]-> Ngamen!
  94. [TWILH: Tulisan Sembilan Empat]-> Tim Hura-Hura v.s Tim Tuan Putri
  95. [TWILH: Tulisan Sembilan Lima]-> Countdown
  96. [TWILH: Tulisan Sembilan Enam]-> Final Countdown
  97. [TWILH: Tulisan Sembilan Tujuh]-> Broken Vow
  98. [TWILH: Tulisan Sembilan Delapan]-> Dana Usaha
  99. [TWILH: Tulisan Sembilan Sembilan]-> Filosofi Donat
  100. [TWILH: Tulisan Satu Nol Nol!]-> The Legend of Teh Kotak - Help Him or Help Her
  101. [TWILH: Tulisan Satu Nol Satu]-> The Legend of Teh Kotak - Especially For You
  102. [TWILH: Tulisan Satu Nol Dua]-> The Legend of Teh Kotak - Déjà Vu
  103. [TWILH: Tulisan Satu Nol Tiga]-> The Legend of Teh Kotak - … End in Here
  104. [TWILH: Tulisan Satu Nol Empat]-> The Legend of Teh Kotak - Kembali ke Titik Awal
  105. [TWILH: Tulisan Satu Nol Lima]-> The Legend of Teh Kotak - Nona Teh Kotak vs Putri Aqua
  106. [TWILH: Tulisan Satu Nol Enam]-> Berdua Saja
  107. [TWILH: Tulisan Satu Nol Tujuh]-> A Night To Remember
  108. [TWILH: Tulisan Satu Nol Delapan]-> A Night To Remember (2)
  109. [TWILH: Tulisan Satu Nol Sembilan]-> Almost Is Never Enough
  110. [TWILH: Tulisan Satu Satu Nol]->Stand Tiket
  111. [TWILH: Tulisan Satu Satu Satu]-> Catastrophic Morning
  112. [TWILH: Tulisan Satu Satu Dua]-> Falling In Love With People We Can’t Have

I know sometimes people said that’s my life is full of surprise and so fantastic. But you know? That’s bullshit.. it’s not easy to be me.

8

‘I promise you, Shin Se Gi. If you don’t stop me from doing these things after I mustered courage for the first time, If you don’t steal just the time I have with this person, I promise you tens, hundreds, and thousands of times, I promise that I’ll give my entire body and all of my time and memories to you in my next life. I promise that I’ll become your false image in my next life. So please, just don’t appear in front of this person. Please just don’t steal this love from me.’

seksi sekali pada hari itu. Biar, selama ini dia gemar mempamerkan punggungnya dan juga teteknya yang dibaluti coli merah jambu kepada orang ramai, kali ni dia dapat memperlihatkan punggung seksinya itu dicemari oleh lendir air mani.

Entah bila agaknya aku dapat melakukannya lagi. Yang jelas adalah, setiap hari aku nafsu aku terganggu kerana pameran tubuhnya yang gemar memakai uniform ketat dan memperlihatkan pakaian dalamnya itu. Hasliza oh Hasliza.

Posted in Jururawat - Pemandu Ambulans

Leave a comment

Tags: lancap

Sister Junaidah

MAR 20

Posted by mrselampit

Aku dan beberapa orang kawanku sedang berbual kosong di depan Unit Kecemasan. Waktu itu sudah petang, kira-kira pukul enam petang. Kebanyakan staf hospital telah pulang kecuali yang bekerja shif petang. Handphone aku tiba-tiba berdering. Aku melihat skrin dan tertera nombor Sister Junaidah. Aku menekan punat hijau dan terdengar suara cemas Sister Junaidah.

“Man, cepat Man. Naik atas.”

“Ada apa sister?”

“Tolong Man, cepat naik.”

Suara Sister Junaidah yang biasa kami panggil Sister Jun kedengaran cemas. Aku rasa pasti ada yang tak kena dengan Ketua Jururawat ini. Aku waktu itu sedang duduk-duduk di bahagian hadapan Unit Kecemasan sebuah hospital. Di situlah tempatku yang bertugas sebagai pemandu ambulans. Aku bergegas ke kuarters kakitangan hospital yang terletak seratus meter dari bangunan hospital. Sister Jun tinggal di tingkat dua Blok B.

Aku segera bergegas menaiki tangga Blok B. Sasampai di tingkat dua aku menuju kuarters yang didiami oleh Sister Junaidah. Aku segera menekan bell dan memanggil nama Sister Junaidah. Pintu terbuka dan aku menerpa kepada Sister Junaidah yang kelihatan pucat wajahnya.

“Ada apa sister?” Aku bertanya dalam nafas semput kerana berlari menaiki tangga.

“Sana.. sana?”

Aku melihat ke arah yang ditunjuk Sister Jun. Kelihatan pintu bilik utama terbuka. Aku kembali melihat Sister Jun yang masih menggigil dan berwajah pucat. Dia mengangguk ke arahku. Aku bergerak pantas ke bilik yang terbuka dan terdengar air pancuran dari bilik air. Aku bergegas ke bilik air dan meninjau ke dalam. Di penjuru bilik terdapat selingkar ular berwarna hitam. Aku kembali keluar dan menuju ke dapur. Aku melihat sebatang mop di penjuru dapur. Aku capai batang mop dan kembali ke bilik air. Ular sepanjang dua kaki itu aku pukul hingga mati. Air pancuran dari shower aku tutup. Basah bajuku terpercik air.

“Dah mati sister.”

Tiba-tiba saja Sister Jun yang masih terketar-ketar menerpa ke arahku. Badanku dipeluk bagaikan anak kecil yang sedang ketakutan memeluk ibunya. Aku terpinga-pinga dengan tindakan tak terduga dari ketua jururawat itu. Aku hanya membiarkan saja, tak berani membalas memeluk ketua jururawat yang cantik ini. Siapalah aku, seorang pemandu ambulans yang mentah.

Aku rasa badanku dipeluk makin erat oleh Sister Junaidah. Dengan suara yang terketar-ketar dia memberitahu yang dia amat phobia dengan ular. Ketakutan yang melampau kepada reptilia itu tidak boleh dihilangkan. Dia perlu seseorang supaya semangatnya kembali pulih. Pada ketika ini aku sajalah tempat dia mengharapkan kekuatan bagi memulihkan phobianya itu.

Aku membiarkan saja Sister Junaidah memelukku. Sister kacukan melayu-cina ini sungguh cantik. Kulitnya putih kekuningan dengan wajahnya penuh dengan keayuan. Ini membuatkan aku dan kawan-kawan sering menelan air liur apabila memandangnya. Penampilannya yang menarik, prestasi yang hebat, sentiasa menonjol dalam segala segi membuat wanita yang bernama Junaidah ini pantas melangkah sebagai ketua jururawat. Dalam usia 30 tahun dia telah diberi kepercayaan mengetuai sebilangan jururawat yang lebih berusia darinya.

Sister yang telah setahun menjanda kerana kematian suami akibat kemalangan jalan raya ini digilai oleh ramai orang, jejaka, suami orang, duda malah doktor pakar juga ingin mendekati Sister Junaidah. Tapi sehingga hari ini tiada siapa yang mampu memiliki hati ketua jururawat yang cantik ini.

Selepas seketika Sister Junaidah memelukku baru aku perasan yang dia hanya mengenakan tuala saja di badannya. Rupanya Sister Junaidah baru saja hendak mandi bila dia terkejut dengan ular yang terdapat dalam bilik airnya. Aku juga hairan macam mana ular tersebut boleh naik ke tingkat dua kuarters blok B yang didiami Sister Junaidah.

‘Bukan sahaja rupamu sahaja cantik tetapi tubuhmu juga membuatkan siapa sahaja yang melihat pasti akan terliur dibuatnya’, aku berfikir dalam hati melihat sosok badan Sister Junaidah yang berada dalam pelukanku. Aku memberanikan diri mengusap lembut belakang Sister Junaidah. Sister muda ini hanya memejamkan sahaja matanya apabila aku mengusap-ngusap lembut rambutnya dan memcium lembut dahinya. Melihatkan tiada bantahan dan tepisan daripadanya, aku memberanikan diri untuk mendapatkan bibirnya yang merah memekar.

Perlahan-lahan bibirku dan bibirnya bertaut menjadi satu, terdengar nafasnya tidak keruan dan kelemasan. Kedengaran renggekan Sister Junaidah bila aku mengulum-ngulum lidahnya dan dia mula membalas dengan menyedut dan memain-mainkan lidahku. Terlepas dari bibirnya yang merah mekar itu, kujilat telinganya dan Sister Junaidah mengerang kegelian. Kulihat Sister Jun semakin kuat menarik rambutku bila ku jelajahi lehernya dan menyedut-nyedut lehernya yang putih jinjang itu. Tanganku kini berjalan mencari punca pengikat tuala yang dipakainya, dengan mudah terlorotlah tualanya dan tersergamlah segalanya apa yang diselindungi dan dibalutinya.

Sememang Sister Jun yang tadinya hendak mandi telah menanggalkan segalanya dari badannya. Tidak dapat kuceritakan betapa hebatnya nafsuku memuncak bila melihat dua puncak bukit yang tersergam indah dengan benjolan merah kehitaman di tengah-tengah bukit itu. Kini kususuri pula perjalananku menerokai bukit kembar itu untuk mencari sebuah kenikmatan yang tidak pernah kuimpikan sebelum ini. Seperti anak kecil yang kehausan, kusedut, kugigit dan kuusap-usap sehingga daging lembut dan kenyal itu. Sister Jun kini semakin hilang rasa malunya dan mula bertindak membalas pergerakkanku, bajuku yang sejak tadi sudah basah segera dibukanya dan kini tangannya cuba pula menanggalkan seluarku dan aku turut serta membantu membuka pakaianku, dan tersembullah keluar adik kecilku yang sememangnya dari tadi ingin keluar dari sarangnya.

“Wah! besar dan panjangnya batang you Man.”

Sister Jun yang seakan terperanjat melihat batangku yang beukuran hampir 7 inci panjangnya kini hanya menanti untuk merasai pelayaran baru. Dia membelek-belek batangku yang keras terpacak dan berdenyut-denyut. Digenggam dan diramas dengan penuh geram batang zakarku yang masih teruna.

“Man, awaklah orang pertama yang bersama I selepas husband I meninggal.”

Kini kami berdua sama-sama berdiri di dalam sebuah bilik tanpa seurat benang pun menyalutinya, ku angkat tubuhnya ke tilam, dengan kedudukan 69″ Sister Jun yang berpengalaman mula memainkan peranannya, selepas puas meramas-ramas batangku kini sedikit demi sedikit batangku dimasukkan ke dalam mulutnya. Aku yang belum pernah bersama perempuan sebelum ini hanya membiarkan saja.

“Bluup… Bluupp” terdengar apabila ia menyorong dan menarik batangku ke mulutnya. Aahhh… terasa aku betapa nikmatnya batangku bila dibelai oleh mulut comel yang hangat. Selama ini aku menggunakan tangan mengusap batangku dan itupun terasa nikmat. Inikan pula mulut suam kepunyaan wanita yang cantik dan menarik. Aku bagaikan terbang di langit biru kerana terasa nikmatnya.

“Ohhh… Sister Jun sedapnya.”

Aku yang mentah ini cuba mencari-cari sebiji berlian kecil yang tersembul keluar di balik semak-semak halus yang dijaga rapi oleh seorang wanit yang menjadi pujaan ramai. Daging kecil berwarna merah di sudut alur yang mula basah aku belai dengan jariku. Kemudian aku jilat dan aku kulum dengan geramnya. Pertama kali aku berhadapan dengan taman rahsia seorang wanita.

Kini giliran Sister Jun pula ku lihat bagaikan orang sedang meratip. Sekejap ke kanan, sekejap ke kiri kepalanya menahan kegelian dan kenikmatan apabila aku menjilat-jilat biji kelentitnya dan tanganku mengorek-ngorek lubangnya yang sudah banjir dari tadi. Setelah puas kugali biji sakti, lidahku beralih ke cipapnya dan tanganku terus meramas-ramas payudaranya. Aku lihat punggungnya terangkat-rangkat dan badan keras mengejang.

“Argghhh.. Man I sudah nak terpancut ni.”

Terasa badan dan punggung Sister Jun bergetar dan dia menekan kuat mukaku ke cipapnya. Beberapa saat kemudian mukaku bagaikan disiram dengan air suam, basah mukaku dengan air yang membuak-buak keluar dari lubuk keramat Sister Junaidah. Aku menjilat dan menyedut cairan lendir tersebut. Terasa masin dan payau tekakku apabila kujilat air hangat tadi sehingga habis bersih cipapnya, semakin lama aku jilat terasa sedap rasanya.

“You memang hebat Man, I tak pernah rasa dijilat sebegini hebat.”

“Sister tak pernah rasa dijilat ke?”

“Belum pernah, bekas suami I tak pernah melakukannya.”

“Saya pun baru pertama kali melakukannya.”

“Jadi you belum pernah bersama perempuan?”

“Saya masih teruna, Sister Jun.”

“Bertuah I kalau boleh dapat teruna you. You mau Man?”

“Mau kalau sister sudi.”

Sister Jun membelai batangku dengan tangannya. Puas dengan tangan dia membelai dengan mulutnya. Aku kegelian. Kata Sister Jun dia geram dengan batangku yang besar dan panjang. Katanya lagi dia teramat geram dengan kepala zakarku yang lonjong dan besar.

“Man, you masukkan burung you dalam sarangnya.”

Sister Jun tidur dalam keadaan menelentang di tilam sambil membuka pahanya luas. Sister Jun mengangkang kakinya mempersilakan aku memulakan pelayaran. Hanya berdasarkan pengalaman melihat VCD lucah aku merangkak ke celah kangkang Sister Jun. Aku merapatkan kepala zakarku ke celah lurah yang merkah merah. Aku tekan perlahan-lahan hingga bahagian kepala mula terbenam ke dalam lubang nikmat Sister Jun. Sister Jun mengayak-ngayak punggungnya supaya zakarku mudah masuk. Semakin lama aku sorong dan tarik semakin dalam batangku menyelam. Terdengar suara erangan keluar dari mulut Sister Jun.

“Aahh… Iiihhh… uuhhh…”

Irama nikmat bersilih ganti kedengaran dari mulut kami berdua. Aku makin laju mendayung. Sister Jun makin kuat mengayak. Diangkat-angkat punggungnya supaya badanku rapat ke badannya. Sambil mendayung aku meramas dan mencium teteknya yang masih cekang. Aku geram dengan bau badan Sister Junaidah yang harum dan memberahikan.

“Man, burung you sungguh besar, I rasa sungguh sedap.”

“Lubang sister pula sungguh sempit dan ketat. Sister pandai kemut, saya rasa teramat sedap. Saya belum pernah rasa sesedap ini.”

“Laju Man laju, I dah nak keluar ni.”

Sister memeluk badanku erat. Badannya mula bergetar dan menggigil. Pahanya memeluk punggungku kemas dan mengalirlah air hangat menyiram kepala pelirku. Sudah dua kali Sister Jun mencapai orgasmenya manakala batangku sudah tak mampu bertahan lagi. Aku mempercepatkan dayunganku bila terasa maniku mula berkumpul untuk memancut keluar.

“Sister, saya dah nak pancut. Dalam atau luar?”

“Di dalam sahaja, sudah lama I tak rasa.”

Aku menghentak kuat tundun Sister Jun. Terasa kepala pelirku menyondol pangkal rahim Sister Jun. Sister Jun menjerit kuat kerana nikmat. Croot.. croot.. terpancutlah segala peluru jernihku di dalam lembah keramat Sister Jun dan keluarlah juga lelehan air hangat menyimbah-nyimbah di batangku.

Aku terkulai keletihan kerana pelayaranku telah sampai ke destinasinya. Tergadailah terunaku kepada ketua jururawat cantik di hospitalku. Aku terkulai lemah dan terbaring keletihan di sebelah Sister Junaidah di dalam bilik tidurnya yang luas dan dihias cantik. Aku memeluk Sister Junaidah dan kami terlena kepuasan.

Bila aku terjaga aku dapat merasakan tangan lembut Sister Jun sedang membelai batang pelirku yang separuh tegang. Merasakan kehangatan tangan wanita cantik yang sedang meramas-ramas batangku maka secepatnya zakar tujuh inciku kembali mengembang.

“Sister, saya nak sekali lagi.”

“Nakal you Man. Bagi betis nak paha.”

“Betis sister cantik, paha sister lagi cantik, taman sister teramat indah.”

Sister Junaidah mencubitku manja. Aku memeluk dan mencium wajahnya dan mengulum bibirnya yang indah. Sekali lagi kami belayar menuju pantai nikmat.

Hati.

Konsep berbagi luas konteksnya, kali ini Lika mau berbagi catatan dari apa yang Lika dapat dari salah salah satu kajian ICMN (Indonesian Creative Moslem Network). Semoga bukan sekedar catatan, tapi ilmu yang didapat bisa mewujud menjadi amal. #notetomyself

Kenapa sih harus berbagi?

“Apa yang kamu miliki sendiri saat ini, tidak akan ada artinya jika tidak berbagi.” salah satu kalimat dari cuplikan film Kartini yang diperankan mba cantik Dian Sastro. Terlepas dari film yang masih pro kontra, kutipan itu jadi pesan yang rasanya perlu diresapi. Itu alasan kenapa tulisan ini hadir.

Terkadang kita (saya) seringkali tertipu dengan berbagai distraksi yang sering hadir di tengah-tengah kita. Distraksi macem apa? banyak dan macem-macem hal yang bikin saya salah fokus, yang paling mudah dicontohkan misalnya social media. Efek sampingnya beragam, tapi yang paling mudah diidentifikasi jadi lebih sering khawatir dengan sesuatu yang bahkan belum terjadi dan bingung dengan kondisi real yang sedang dihadapi.

Darimana datangnya khawatir dan bingung ini?

Ternyata datangnya dari hati. Sebelum jauh membahas hati, kita kenali dulu apa sih definisi hati ini?. Jika di cek KBBI hati artinya organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Jika diterjemahkan dalam bahasa inggris hati itu heart : the organ in your chest that sends the blood around your body (dictionary.cambridge.org) biasa kita sebut jantung. Sedangkan dalam bahasa Al-Quran hati disebut dengan “qalb” qaf,lam,ba sesuatu yang sifatnya mudah terbolak-balik, mudah terombang-ambing. Ibarat sebuah kepingan ringan di atas laut dengan ombak mudah terombang-ambing. Sedangkan makna dari “Qalb” itu sendiri adalah membalikan.

Jadi kita akan bahas “Hati” dengan pengertian yang mana?

Merujuk pada Hadist Rasulullah Saw. “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu””:Hadis Riwayat Bukhori. Dari hadist tersebut betapa pentingnya yang disebut “qolbu” ini. Malam itu kang Lutfi membahas hati dengan pengertian “qolbu”. Hati yang galau, gelisah, gundah, gulana artinya hati tersebut sedang ditunggangi Nafsu. Nafsu sendiri ada tiga jenis : Nafsu Ammarah Bissu’, Nafsu Lawwamah, Nafsu Mutmainnah.

Nafsu Ammarah Bissu’ merupakan nafsu dorongan untuk survive, seperti hewan. Nafsu ini berbahaya apabila melekat pada hati manusia sebab mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang bertentangan dengan nilai islam itu sendiri.Firman Allah S.W.T. dalam surat Yusuf.53 : “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena  sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Nafsu amarah tidak dapat dikawal dengan sempurna oleh hati. Jika hati tidak meminta bantuan ilmu, hikmah kebijaksanaan dan akal, hati akan binasa.

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk, nafsu yang hadir setelah proses berpikir. Dari sumber lain Nafsu ini mengarahkan pemiliknya untuk menentang kejahatan, tetapi suatu saat jika ia lalai beribadah kepada Allah S.W.T, maka ia akan terjerumus kepada dosa. Orang yang memiliki nafsu lawwamah dapat menyesali perbuatan salah dan berinisiatif untuk kembali ke jalan yang benar.Nafsu lawwamah juga sering memikirkan baik buruk, halal haram, benar salah, berdosa ataupun tidak dalam segala tindakan. Jelas nafsu Lawwamah ini lebih baik dari nafsu amarah bissu’.

Nafsu Mutmainnah adalah  nafsu yang membuat pemiliknya tenang dalam ketaatan. Nafsu ini mendapat rahmat Allah S.W.T. dan manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat ridho Allah. Dalam surat Al-Fajr,27-30 : “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,  dan masuklah ke dalam surga-Ku". Orang yang memiliki nafsu mutmainnah dapat mengawal nafsu syahwat dengan baik dan sentiasa cenderung melakukan kebaikan. Dari sumber lain nafsu ini membuat pemiliknya mudah bersyukur dan qanaah di mana segala kesenangan hidup tidak membuat dia lupa diri, menerima anugerah Ilahi seadanya dan kesusahan yang dialami pula tidak menjadikan dirinya gelisah. Ini disebabkan hatinya ada ikatan yang kuat kepada Allah. Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia.

Yang dapat mengontrol atau mengikat hawa nafsu ini hanyalah Aqal. Konsep aqal dalam Al-Qur’an  berasal dari kata al-‘aql. Dengan kekuatan aqal orang mendapatkan ilmu. Selain itu aqal adalah al-hijr, menawan atau mengikat. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti; tali pengikat, penghalang. Al-Qur’an menggunakannya bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Orang yang beraqal adalah orang yang mampu mengikat atau mengendalikan hawa nafsunya. Kemampuan seseorang untuk mengikat hawa nafsu, akan menempatkan hawa nafsu pada posisi yang serendah-rendahnya, sehingga hawa nafsu tidak dapat menguasai dirinya. Orang yang tidak mampu menawan hawa nafsunya tidak akan mampu mengendalikan dirinya.

Pada praktiknya nafsu yang bersemayam di hati dengan sifat yang mudah terombang-ambing butuh sesuatu yang sifatnya lebih stabil untuk bersandar, untuk bergantung, jadi ciri khas manusia punya ketergantungan. Jika bukan bergantung pada Allah, maka dipastikan akan bergantung pada selain Allah. Lalu apa bukti kita bergantung pada Allah? misalnya saat dihadapi dengan masalah yang pelik, mencari jalan keluar dari berbagai persoalan hidup, apa yang kita lakukan sebagai wujud kita bergantung hanya pada Allah?

Bukti bergantungnya kita pada Allah dengan meminta, memohon, berdoa pada Allah. Karena pada hakikatnya memang cuma Allah yang Maha kuasa atas segalanya. Tapi jangan sampai berpikiran sempit, kita mintaa terus kemudian hanya berdiam diri di kamar, tidak melakukan upaya apapun, itu pemahaman yang amat keliru. Begitupun memelihara dan menjaga hati kita, Kang Lutfi bahas salah satu doa favorit Lika di Al-Quran surat Ali-Imran ayat 8 : Rabbana la tuzigh quloobana ba'da ith hadaytana wahab lana min ladunka rahma innaka anta al-Wahhab “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. Jika ayat ini dibedah, maknanya sungguh luar biasa, short lecture ust.Nouman  pada link ini –> https://www.youtube.com/watch?v=fki-7REDXeY : Ayah of Hope.

Ayat ini salah satu wujud cinta kasih Allah yang melimpah. Rabbana la tuzigh quloobana ba'da ith hadaytana, kata tuzigh dari akar kata zaygh yang artinya bengkok secara tidak sadar, kecenderungan hati manusia yang mudah bengkok, manusia kadang tidak sadar sedang menjauh dari jalan Allah slowly but sure, padahal Allah sudah memberi memberi petunjuk pada hati kita, maka doa ini ada untuk meminta perlindungan pada Allah. Wahab lana min ladunka rahma, Hiba dalam bahasa arab artinya hadiah, Wahab adalah kata kerja yang artinya memberi hadiah yang sangat besar (to give a BIG Gift) the great grant, Ladun artinya sesuatu kepemilikan yang berharga seperti harta karun saking specialnya (some secret mercy from Allah). Innaka anta al-Wahhab , sesungguhnya Allah yang Maha Pemberi, Maha Pemberi ini bukan cuma sekali, dua kali, tapi terus-menerus memberi tidak akan pernah berhenti, maka penting untuk kita pun terus meminta.

Tapi ingat sekali lagi berusaha, berikhtiar itu penting sebagai wujud ibadah kita sama Allah. Karena kita pernah bersaksi buktinya pada Al-Quran surat Al-Araf, 172 : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi(tulang belakang) anak-anak Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Kita pernah membenarkan bahwa hanya Allah lah Rabb Illah yang patut disembah, maka Allah melengkapi kita dengan modal 4 perkara dalam Hadist Arba'in no.4 : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Maka dari itu kita wajib mengimani hal tersebut karena termasuk iman kepada qada dan qadar. Qadar merupakan ketetapan Allah yang sudah di kukuhkan, termasuk Ajal. Sedangkan Qada merupakan ketetapan Allah yang dikukuhkan berdasarkan ikhtiar makhluk termasuk rezeki, amal, dan bahagia/celaka.

Jadi Lika semakin yakin di Al-Quran itu gak mungkin ada sesuatu yang bertentangan, kan Allah bilang di surat Ar-Rad, 11 : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Setiap individu punya jalannya masing-masing, mintalah hanya pada Allah, rezeki mah moal patuker, bisa hadir dari arah yang tidak di sangka-sangka syaratnya cuma IMAN dan TAQWA! ga cuma sih itu, long life strungling pastinya, akan di Uji terus sama Allah karena Allah sayang. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Q.S. Al-Araf:96). Apalagi sih yang manusia butuhkan selain keberkahan? karena berkah itu sesuatu yang membuat kita semakin mendekatkan diri pada Allah, apalagi yang dibutuhkan oleh makhluk selain dekat dengan Khaliknya. Cuma kita sering ga sadar aja, balik lagi seperti prolog di awal banyak distraksi yang bikin kita (saya) sering salah fokus.

Semoga setelah kenalan sama Hati dan kecenderungan kita sama Allah, semakin membuat kita sadar kalau kita butuh banget Allah. “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.

Jadi hati kamu bergantung ke siapa?

jangan lupa Allah Maha mengetahui segala isi hati, yuk jujur, minimal sama diri sendiri, tahap awal untuk mulai aware dan menerima petunjuk, petunjuk Allah.


Dago, 10.4.2017
dari catatan kajian ICMN Pusdai ditambahin sedikit dari beberapa sumber yang masih terkait. :)

next pembelajaran yang menarik tentang “Hati” di 2 link lecturenya ust.Nouman reccomended!

https://www.youtube.com/watch?v=US71OPrUoio –> hati kita bergantug ke siapa?

https://www.youtube.com/watch?v=07eqk8ioRLo&t=329s  Battle of 'Heart’ & 'Mind’ | Nouman Ali Khan |

penasehat  asked:

mbak,,, apa semua pertanyaan yang masuk itu harus dijawab. Trus gmna nentuin jawabannya harus dipublikasi apa dipost privat ?

Gak lah, saya juga sering ga jawab ask. Kalo semua pertanyaan di jawab, dari segi visual web kurang bagus. Ini blog, bukan ask.fm hahaha. Menurut saya pribadi, page mu sudah too much ask. Menurut saya loh.

Ya tergantung preferensi blog nya. Kalau saya pribadi, tidak menjawab pertanyaan yang sudah terlalu umum atau sudah sering saya tuliskan di blog. Tidak menjawab juga pertanyaan2 yang udah sering banget ditanyakan cem ‘kenapa namanya jagungrebus.’

Yang paling penting, saya tidak menjawab pertanyaan2 tentang minta saran pacaran abege, bahkan biasanya langsung saya hapus dari inbox karena pasti bikin kesal.

Kembali lagi ke preferensi dan prinsip. Saya akan menjawab pertanyaan2 yang sekiranya bisa berbagi informasi, pengalaman, atau at least lucu (buat saya). Kalau gak, buat apa kita share ke publik? Bahkan setelah saya post pun, sering saya hapus lagi ketika saya pikir2 saya tidak ingin itu ada di blog saya.

Tapi, kadang saya ga jawab ask juga bukan karena ask nya yang salah. Tapi kadang karena saya gatau jawabannya, atau saya masih mikirin jawabannya, atau saya takut yang saya tuliskan itu salah. 

Kapan dipublish? Tergantung preferensi lagi. Kalau Gunadi, tidak pernah dipublish karena mungkin dia punya konsep2 tertentu terkait blognya. Kalau saya, yang tidak dipublish adalah yang saya pingin menjawab, tapi saya tidak ingin jawaban itu dibaca orang lain karena saya pas marah. Bukan karena saya tidak ingin orang tahu kalau saya pemarah, tapi karena saya tidak ingin orang melihat saya marah karena si penanya, well nanti dia malu. 

Biasanya saya akan membuka blog saya dalam bentuk web untuk ngecek dari angle pembaca biasa, jika ada ask atau tulisan yang sekiranya ga perlu dan merusak visual, akan saya hapus.

Well blog emang suka2 kita. Tapi kebebasan saya juga dibatasi oleh fakta bahwa apapun yang saya share pada akhirnya akan diminta pertanggungjawabannya lagi ke saya. Kalau ga di dunia, ya di akhirat.