sayyidi

On youth who hold extremist views:

Sayyidi Shaykh Al Habib Umar b. Hafiz (Allahﷻ preserve him and benefit us by him) was asked a question about youth who hold extremist views. This was his response:

“I believe that this goes back to people learning the religion without insight and to them understanding legal rulings in a way that is cut off from the chain of transmission [Sanad], or in other words taking knowledge from those who are not worthy of transmitting it. Ibn Sīrīn is recorded as saying in Saḥīḥ Muslim: ‘This knowledge is religion so beware of whom you take your religion from.’ Abdullāh ibn Mubarāk is narrated as saying (also in Sahih Muslim): ‘The chain of transmission is part of the religion and had it not been for it, anyone could have said whatever they wished to say.’ With the loss of the chain of transmission we find distorted understandings of the Sacred Law and its rulings emerging. There arises a vacuum which allows for the entrance of the desires of the lower self, such that an individual’s religion becomes based on incorrect foundations. Because of this a person may go against the religion while thinking he is serving it or obeying the orders of Allāh the Exalted. These youth are cut off from the sources of knowledge which are only accessible through the chain of transmission. Some people wish to make their understanding of the Book and the Sunnah the Book and the Sunnah whereas it is in fact only their own understanding. This narrow understanding of theirs causes them to look negatively at other Muslims, leads to discord and, if taken to an extreme, to them making lawful the killing of others.

A Muslim who desires to reach Allāhﷻ should not make his religion a basis of enmity or a cause of conflict between him and anyone else. The religion of Allāhﷻ in its correct form is founded upon looking upon the creation in an expansive way and upon showing mercy and compassion to the believers. Anyone who follows the true path increases in humility to Allāhﷻ and in etiquette towards Him out of fear of Him. Such a person feels that his heart increases in illumination and insight and he finds tranquillity in remembering Allāhﷻ. The true attributes of a believer then become clearly manifest within him. Allāhﷻ says in the Qur’an: The slaves of the Most Compassionate are those who walk on the earth in humility, and when the ignorant address them, they say, “Peace!” and those who spend the night in adoration of their Lord prostrate and standing (25:63-4).

A believer should distance himself from any group and any methodology which weakens in him these praiseworthy qualities, reduces his fear of Allāhﷻ and reduces the tranquillity he finds upon remembering Allāhﷻ, the sweetness he tastes in worshipping Him and conversing with Him and which places in his heart hatred for his fellow Muslims. Many groups take concepts which are true but mix them with that which is false, causing people to become confused. Allāh the Real has, however, clarified to us that any knowledge which increases us in fear of Him is beneficial knowledge. 

Allahﷻ says: It is only those possessing knowledge amongst the slaves of Allāh that fear Him (35:28). So anyone who increases in knowledge and does not increase in guidance only increases in distance from Allāhﷻ. If knowledge does not lead to guidance it has not been built on the correct foundations. Allāhﷻ does not leave a sincere believer in difficulty or confusion but rather He clarifies to him the truth. That person must then follow the signs by looking at the afore-mentioned attributes which are mentioned in the Qur’ān. He should be ready to make excuses for people as long as they do not say or do anything that is directly contrary to the sacred texts and there is no other possible interpretation. He should witness that people may possess elements of the truth and that perhaps there is confusion or deficiency or long-sightedness. Broad-mindedness will prevent a person’s heart from filling with anger and will help him to live and co-exist in society.“


(via Muwasala – http://muwasala.org/on-extremist-views-and-the-youth/).

instagram

By @zainhd “By @o_master "قمر سيدنا النبي

#Sayyidi #HabibAli #Qamarun

Video; Mujahid Mohdrosli” via @PhotoRepost_app

#Repost @o_master
・・・
To love those who God has chosen and blessed is a sign of being divinely chosen yourself. The Prophet Muhammad ﷺ said “A person is with the one they love.” — Habib Ali al-Jifri

#Sayyidi #HabibAli

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم ❤️

Amal yang ditolak oleh Allah

Amal Yang Ditolak Oleh Allah
Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan atas asma Allah Yang Pemurah dan Penyayang

Ibnu Mubarak menceritakan bahwa Khalid bin Ma’dan berkata kepada
Mu’adz, “Mohon Tuan ceritakan hadits Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang Tuan hafal dan yang
Tuan anggap paling berkesan. Hadits manakah menurut Tuan?

Jawab Mu’adz, “Baiklah, akan kuceritakan.”

Selanjutnya, sebelum bercerita, beliau pun menangis. Beliau berkata, “Hmm, Betapa rindunya diriku pada Rasulullah, ingin rasanya diriku segera bertemu dengan beliau.”

Kata beliau selanjutnya, “Tatkala aku menghadap Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, beliau
menunggang unta dan menyuruhku agar naik di belakang beliau. Kemudian
berangkatlah kami dengan berkendaraan unta itu. Selanjutnya beliau
menengadah ke langit dan bersabda:

Puji syukur ke hadirat Allah Yang Berkehendak atas makhluk-Nya, ya Mu’adz!

Jawabku, “Ya Sayyidi l-Mursalin”

Beliau kemudian berkata, ‘Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita
kepadamu. Apabila engkau menghafalnya, cerita itu akan sangat berguna bagimu. Tetapi jika kau menganggapnya remeh, maka kelak di hadapan Allah, engkau pun tidak akan mempunyai hujjah (argumen).

Hai Mu’adz! Sebelum menciptakan langit dan bumi, Allah telah
menciptakan tujuh malaikat. Pada setiap langit terdapat seorang
malaikat penjaga pintunya. Setiap pintu langit dijaga oleh seorang
malaikat, menurut derajat pintu itu dan keagungannya.

Dengan demikian, malaikat pula-lah yang memelihara amal si hamba. Suatu saat sang Malaikat pencatat membawa amalan sang hamba ke langit dengan kemilau cahaya bak matahari.

Sesampainya pada langit tingkat pertama, malaikat Hafadzah memuji amalan-amalan itu. Tetapi setibanya pada pintu langit pertama, malaikat penjaga berkata kepada malaikat Hafadzah:

“Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang
yang suka mengumpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang yang
suka mengumpat. Aku tidak mengizinkan ia melewatiku untuk mencapai langit berikutnya!”

Keesokan harinya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa
amal shaleh yang berkilau, yang menurut malaikat Hafadzah sangat
banyak dan terpuji.

Sesampainya di langit kedua (ia lolos dari langit pertama, sebab
pemiliknya bukan pengumpat), penjaga langit kedua berkata, “Berhenti,
dan tamparkan amalan itu ke muka pemiliknya. Sebab ia beramal dengan
mengharap dunia. Allah memerintahkan aku agar amalan ini tidak sampai
ke langit berikutnya.”

Maka para malaikat pun melaknat orang itu.

Di hari berikutnya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan seorang hamba yang sangat memuaskan, penuh sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan, yang oleh malaikat Hafadzah dianggap sangat mulia dan terpuji. Sesampainya di langit ketiga, malaikat penjaga berkata:

“Berhenti! Tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku malaikat
penjaga kibr (sombong). Allah memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak pintuku dan tidak sampai pada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri, ia takabbur di dalam majlis.”

Singkat kata, malaikat Hafadzah pun naik ke langit membawa amal hamba lainnya. Amalan itu bersifat bak bintang kejora, mengeluarkan suara gemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah. Sesampainya pada langit keempat, malaikat penjaga langit berkata:

“Berhenti! Popokkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga ‘ujub (rasa bangga terhadap kehebatan diri sendiri) . Allah memerintahkanku agar amal ini tidak melewatiku. Sebab amalnya selalu disertai ‘ujub.”

Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba yang
lain. Amalan itu sangat baik dan mulia, jihad, ibadah haji, ibadah
umrah, sehingga berkilauan bak matahari. Sesampainya pada langit
kelima, malaikat penjaga mengatakan:

“Aku malaikat penjaga sifat hasud(dengki). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka hasud kepada orang lain yang mendapat kenikmatan Allah swt. Berarti ia membenci yang meridhai, yakni Allah. Aku diperintahkan Allah agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku.”

Lagi, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal seorang hamba. Ia membawa amalan berupa wudhu’ yang sempurna, shalat yang banyak,
puasa, haji, dan umrah. Sesampai di langit keenam, malaikat penjaga
berkata:

“Aku malaikat penjaga rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain, bahkan apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit berikutnya.”

Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit. Dan kali ini adalah langit ke tujuh. Ia membawa amalan yang tak kalah baik dari yang lalu.
Seperti sedekah, puasa, shalat, jihad, dan wara’. Suaranya pun
menggeledek bagaikan petir menyambar-nyambar, cahayanya bak kilat. Tetapi sesampai pada langit ke tujuh, malaikat penjaga berkata:

“Aku malaikat penjaga sum’at (sifat ingin terkenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran dalam setiap perkumpulan, menginginkan derajat tinggi di kala berkumpul dengan kawan sebaya, ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku dan sampai kepada yang lain. Sebab ibadah yang tidak karena Allah adalah riya. Allah tidak menerima ibadah orang-orang yang riya.”

Kemudian malaikat Hafadzah naik lagi ke langit membawa amal dan ibadah seorang hamba berupa shalat, puasa, haji, umrah, ahlak mulia, pendiam, suka berdzikir kepada Allah. Dengan diiringi para malaikat, malaikat Hafadzah sampai ke langit ketujuh hingga menembus hijab-hijab (tabir) dan sampailah di hadapan Allah. Para malaikat itu berdiri di hadapan Allah. Semua malaikat menyaksikan amal ibadah itu shahih, dan diikhlaskan karena Allah.

Kemudian Allah berfirman:

“Hai Hafadzah, malaikat pencatat amal hamba-Ku, Aku-lah Yang Mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku, tatapi
diperuntukkan bagi selain Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk-
Ku. Aku lebih mengetahui daripada kalian. Aku laknat mereka yang
telah menipu orang lain dan juga menipu kalian (para malaikat
Hafadzah). Tetapi Aku tidak tertipu olehnya. Aku-lah Yang Maha
Mengetahui hal-hal gaib. Aku mengetahui segala isi hatinya, dan yang
samar tidaklah samar bagi-Ku. Setiap yang tersembunyi tidaklah
tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku atas segala sesuatu yang telah
terjadi sama dengan pengetahuan-Ku atas segala sesuatu yang belum
terjadi. Pengetahuan-Ku atas segala sesuatu yang telah lewat sama
dengan yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas segala yang telah lewat
sama dengan yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas orang-orang terdahulu sama dengan pengetahuan-Ku atas orang-orang kemudian.

Aku lebih mengetahui atas sesuatu yang samar dan rahasia. Bagaimana hamba-Ku dapat menipu dengan amalnya. Mereka mungkin dapat menipu sesama makhluk, tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang gaib. Aku tetap melaknatnya…!”

Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat berkata, “Ya Tuhan,
dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.”

Kemudian semua yang berada di langit mengucapkan, “Tetaplah laknat
Allah kepadanya, dan laknatnya orang-orang yang melaknat.”‘

Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) kemudian menangis
tersedu-sedu. Selanjutnya berkata, “Ya Rasulallah, bagaimana aku bisa
selamat dari semua yang baru engkau ceritakan itu?”

Jawab Rasulullah, “Hai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam masalah
keyakinan.”

Tanyaku (Mu’adz), “Engkau adalah Rasulullah, sedang aku hanyalah
Mu’adz bin Jabal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya
tersebut?”

Berkatalah Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, “Memang begitulah, bila ada kelengahan dalam
amal ibadahmu. Karena itu, jagalah mulutmu jangan sampai menjelekkan orang lain, terutama kepada sesama ulama. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu pun penuh aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan orang lain. Janganlah mengorbitkan dirimu dengan menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan riya dalam beramal, dan jangan mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di dalam majlis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka mengungkit-ungkit kebaikan, dan jangan menghancurkan pribadi orang lain, kelak engkau akan dirobek-robek dan dihancurkan anjing Jahannam, sebagaiman firman Allah dalam surat An-Naziat ayat 2.”

Tanyaku selanjutnya, “Ya Rasulallah, siapakah yang bakal menanggung
penderitaan seberat itu?”

Jawab Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, “Mu’adz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu. Dan bencilah terhadap suatu hal sebagaimana kau benci bila itu menimpa dirimu. Jika demikian engkau akan selamat.”

Khalid bin Ma’dan meriwayatkan, “Sayyidina Mu’adz sering membaca
hadits ini seperti seringnya membaca Al-Qur’an, dan mempelajari
hadits ini sebagaimana mempelajari Al-Qur’an di dalam majlis.”

Sumber: Al Ghazali, Minhajul Abidin, dan Bidayatul Hidayah http://imanamalsoleh.wordpress.com/2009/10/11/tangisan-muadz/
A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
M Salim di 22.13

Semoga kita bisa beribadah dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan sedikitpun, hanya untukNya-lah hidup ,mati dan ibadah kita. Amin

Insan ini yang tak pernah penat pergi ke sana ke sini, kenalkan Rasulullah SAW kepada kita.


Mengajak kepada Allah & Rasul tujuanmu,
Akhlak Nabawiyyah cara jalanmu,
Cinta & kasih sayang manhaj ajaranmu,
Penyatuan Ummah cita-citamu.

Selamat Ulang Tahun Kelahiran Wahai Guru Mulia Kami Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid.
Semoga Allah menerima & mengganjar Kebaikkan Sayyidi. Moga Allah panjangkan umur guru, dan moga Allah sentiasa memberikan kesihatan tubuh badan utk berdakwah. Sanah helwah Habib. ❤❤😊😊

#Repost @alan_zack
・・・
سنة حلوة

Selamat Ulangtahun Kelahiran buat guru kami yang mulia, al-Habib Ali Zaenal Abidin al-Hamid.

Semoga guru kami yang mulia, sayyidi, diberkati & dirahmati umur, ilmu, seluruh keluarga & mengislahkan lebih ramai ummah dengan kebaikan serta kejayaan dunia akhirat oleh Allah SWT. امين اللهم امين

Lau la murabbi ma araftu rabbi : Tanpa guruku, nescaya tidak ku kenal Tuhanku.

#habibalizaenalabidin #habibalizaenalabidinalhamid #mtdm #majlistalimdarulmurtadza

Realisation --> sign of good

Sayyidi al-Habib Kadhim al-Saqqaf (may Allah preserve him and benefit us by him):

To be raised by Allah, one needs to lower oneself and realise one’s weakness and one’s slavehood to Allah.

We should repeat this prayer which the Messenger of Allah (Allah bless him and grant him peace) taught the Companion, Buraydah. He said to him: “Shall I not teach you words that Allah teaches to the one for whom He wants good, and then never allows him to forget them?

اللَّهُمَّ إِنِّي ضَعِيفٌ فَقَوِّ في رِضَاكَ ضَعْفِي وَ خُذْ إِلى الخَيْرِ بِناصِيَتِي و اجْعَلْ الإسْلامَ مُنْتَهَى رِضَاي اللَّهُمَّ إِنِّي ضَعِيفٌ فَقَوِّنِي ، وَإِنِّي ذَلِيلٌ فَأَعِزَّنِي ، وَفَقِيرٌ فَارْزُقْنِي

Allāhumma innī ḍa`īfun faqawwi fī riḍāk ḍa`fī wa khudh il’al-khayri bi nāṣiyatī wa’ja`l al-islāma muntahā riḍāyī. Allāhumma innī ḍa`īfun faqawwinī wa innī dhalīlun fa a`izannī wa innī faqīrun farzuqnī

“O Allah, truly I am weak so give me the strength to do that which pleases You, take me in my entirety to all goodness and make complete submission to You the summit of my aspirations. O Allah, truly I am weak so give me strength, truly I am abased so ennoble me, truly I am in need so provide for me.”[1]

May Allah give us the ability to read these words, for if He does; it is a sign that He wants good for us and He will then surely give us what we are asking for. May Allah shower peace and blessings upon the one who taught us them and may He be pleased and have mercy upon all those who conveyed them to us.

[1]Narrated by al-Hakim and Ibn Abi Shaybah

Rasulullah SAW pernah berwasiat kepada Sayyidi Ali karamallahu wajhah ; Segala sesuatu itu ada penyakitnya:
-Penyakit berkata-kata adalah bohong
-Penyakit ilmu adalah lupa
-Penyakit ibadah adlah riya
-Penyakit akhlak adalah memuji diri sendiri
-Penyakit pemurah adalah menyebut pemberian
-Penyakit bangsawan adalah merasa bangga
-Penyakit malu adalah lemah
-Penyakit mulia adalah menonjolkan diri
-Penyakit kaya adalah kikir dan berlebih-lebihan
-Penyakit agama adalah hawa dan nafsu
Naudzubillahimindzalik… Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah SWT dan terhindar dari penyakit yang dibenci Allah ini, Sahabat Muslimah.