sayyidah

One of the main lessons that we should take from the story of the Mi'raj.

The Prophet ﷺ had called people to Allah for over 10 years in Makkah. He was once the one that they called the truthful and the trustworthy, but suddenly all those who were once close to him turned their backs on him and betrayed him. He was stoned and pelted. He was called names and mocked. His family were starved. His companions were tortured and killed. All those who he once trusted now plotted against him and it was the hardest ten years of his blessed life. He saw hardship and he saw pain, but non of it compared to the pain he experienced just before this journey. He lost his uncle Abu Talib who looked after him as a child, the one who protected him when people attacked him. The one who took care of him when his father and grandfather passed away. His death caused the Prophet ﷺ indescribable pain. Then He lost his wife, Sayyidah Khadijah. She was the one he loved, she gave him ease, she honoured him and she remained with him when everyone left. When she passed away, it broke his blessed heart.

When all of these trials and tribulations came his way, he remained steadfast and content with the destiny of Allah. He never gave up and he never despaired. He carried on calling to Allah. It was in this time that Allah took him upon the night journey and He saw His Lord. In those moments, He gazed upon Allah. He was rewarded for His patience, and he was honoured with the ultimate prize. Dear Ummah, you may be going through turmoil, pain and real confusion, but Allah has promised us that ease shall come after hardship. An ease which shall make us forget all that which we faced. Remain patient and keep steadfast with prayer, supplication and gratitude. A day shall come when Allah will reward you beyond measure. He only tested you as a sign that He loves you.

—  Shaykh Mohammad Aslam
4

Sayyidah Ruqayya Mosque - Damascus, Syria

The mosque is a holy shrine & it contains the grave of Sukayna bint Hussein, the daughter of Imam Hussein, granddaughter of Imam Ali, & great-granddaughter of the Prophet Muhammad.

Pasukan Sayyidah Fatimah Az-Zahra

Sedikit tausiah Hubabah Ummu Salim kemarin (istri habib umar) ada salah satu jama'ah yg pingsan.. pas di liat dia nangis histeris karena hubabah nur sedang ngebahas ‘nanti di padang mahsyar nabi muhammad nyediain onta. Dan sayidah fatimah naik.. pengikut di bawahnya adalah fatimah2 yang dia punya rasa malu yg tinggi… seperti tidak menampakkan kecantikannya.💕💕

‪Lalu hubabah nur engga mau ngelanjutin tausiah kalo masih ada yg ngerekam suaranya, memfotonya… dan bilang yg melanggar berarti dia berhianat.. sampe pada bilang “Ya Allah” semua yg dateng.

‪Biar kita jadi fatimah2 yg ikut di bawah unta sayyidah fatimah.. pesan hubabah nur solat 5 waktu, banyak ngaji al-qur'an.. engga banyak keluar rumah.. juga haus akan ilmu agama..

Sekitar seminggu yang lalu, screenshot yang berisikan tulisan di atas ‘berseliweran’ di Instagram saya. Ya, karena saya banyak mem-follow akun-akun yang berhubungan dengan Tareem, Habib Umar, habaib, dan kalam ulama. Sejak kedatangan Habib Umar bin Hafidz di Indonesia, instagram saya penuh dengan berita, info, maupun quote dan nasihat Habib Umar dalam rangkaian Tabligh Akbar-nya di beberapa kota di Indonesia. Istri Habib Umar, Hubabah Ummu Salim, juga mengisi beberapa Tabligh Akbar di beberapa kota di Indonesia yang dilakukan secara tertutup. Keesokan harinya, saya mendapat tulisan di atas versi lengkapnya. Ada seorang muslimah yang men-share tulisan tersebut di grup WhatsApp Muslimah Ahbaabur Rasul (Huhu.. makasih untuk mbak Khoirunnisa yang sudah masukin saya di grup ini, saya jadi banyak dapat ilmu).

Dalam setiap tabligh akbar-nya, istri Habib Umar selalu menekankan bahwa muslimah harus meneladani akhlak, perilaku, dan sikap Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Muslimah harus mencontoh para wanita di Tareem (Hadramaut) yang perilakunya meneladani Sayyidah Fatimah. Muslimah harus memiliki rasa malu yang tinggi. Malu berarti tidak gemar memamerkan kecantikannya di hadapan lelaki yang bukan mahromnya, menutup aurat secara sempurnya, dan tidak sekalipun memajang/mem-posting foto dirinya di media sosial. Kemudian ada lagi seorang muslimah yang men-share hasil ceramah istri Habib Umar di grup WA Muslimah Ahbaabur Rasul seperti berikut:

“Hindarkan untuk tidak menjadi hobi mengambil foto wajah kita. Karena apa? Flash/cahaya kamera akan menghilangkan nur dari air wudhu kita.
Sedangkan Rosululloh Shollallaahu alaihi wasallam di yaumil qiyamah nanti mengenali kita dari bekas air wudhu. Sebab alasan itu ahsan seorang muslimah tidak suka berfoto dan MAJANG foto untuk tatapan publik.”

Habib Umar bin Hafidz juga mengatakan:

“Perempuan yang memamerkan dirinya di media sosial ibarat menjual dirinya sendiri.”

Lebay???

Hingga saat ini tidak ada ulama yang mengharamkan posting wajah/foto muslimah di media sosial. Namun Sayyidah Fatimah berkata pada Rasulullah SAW. bahwa sebaik-baiknya wanita adalah yang tidak memandang dan tidak dipandang lelaki.

Seorang teman mengatakan, “Hakikat jilbab adalah menutup perhiasan (keindahan) dari tubuh seorang perempuan. Jika seluruh tubuh wajib ditutup, maka seharusnya wajah lebih wajib untuk ditutup karena wajah merupakan bagian utama yang menunjukkan kecantikan pada diri seorang perempuan. Minimal yang harus dilakukan muslimah yang tidak bercadar adalah tidak memasang foto di media sosial yang dapat dilihat banyak orang.”

Lalu, apakah muslimah yang bercadar (berniqob) bisa bebas memasang foto dirinya di media sosial?

Dear muslimah bercadar, periksa kembali apa niat dan tujuanmu menggunakan cadar. Bercadar artinya siap untuk tersembunyi dari segala bentuk pengeksposan diri. Bercadar bukan berarti bebas mem-posting/memasang foto-foto diri di media sosial. Tetap milikilah RASA MALU. Justru perempuan-perempuan bercadar yang fotonya bersepahan di media sosial membuat hati para laki-laki shalih berdesir.

“Lha, itu banyak kok selebritis dan selebgram yang bercadar tapi sah-sah aja posting foto dirinya di media sosial! Yang mengatakan posting foto itu terlarang, berarti terlalu lebay!!!” 

Hehe, iya barangkali memang terlalu lebay. Mungkin juga banyak yang tidak setuju terhadap postingan saya ini. Tapi bagi saya, yang menjadi panutan dan role model saya tetaplah Fatimah Az-Zahra, bukan selebgram ataupun selebritis. :) Salah satu bentuk malu perempuan jaman now adalah tidak memasang foto dirinya di media sosial.

Saya bahkan masih belajar dan sangat perlu memperbaiki diri. Saya ingin di akhirat kelak saya bisa memandang wajah Sayyidah Fatimah Az-Zahra, si pemimpin surga bagi kaum wanita. Wanita yang kelak di akhirat bisa berjalan di belakang Fatimah, paling dekat dengan Fatimah, dan bisa memandang wajah Fatimah adalah wanita-wanita yang selama di dunia paling sempurna menutup auratnya, meneladani pakaiannya, meneladani akhlaknya, dan meneladani perilakunya.

Kemarin pagi saya membaca sebuah postingan di instagram, kira-kira seperti ini, “Kasih sayang Sayyidah Fatimah begitu besar kepada para muslimah, asalkan muslimah itu mau meneladani beliau, maka dia akan jadi wanita yang beruntung. Karena wanita yang tidak bisa melihat Sayyidah Fatimah di sirath, dia tidak akan melihat Rasulullah SAW.

Semoga di akhirat kelak kita termasuk pasukan Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Aamiin. :’)

Baju Lebaran Cucu Nabi

Diriwayatkan pada masa kecil Sayyidina Hasan dan Husen menjelang lebaran.

Kedua cucu Rasulullah tersebut bertanya pada ibundanya Sayyidah Fathimah,
“Wahai Bunda, mengapa anak-anak di madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami?”

Sayyidah Fathimah r.a. menjawab, “sesungguhnya baju kalian ada di tukang jahit”.

Saat malam hari raya tiba, keduanya menanyakan hal sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju untuk kedua buah hatinya.

Ketika hari mulai gelap, ada yang mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, “Siapa?”
Orang itu menjawab, “Wahai Putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit. Aku datang membawa hadiah pakaian untuk kedua putramu”.

Kemudia beliau membukakan pintu dan menerima hadiah tersebut.
Ketika membuka bingkisan, di dalamnya terdapat dua gamis, dua celana, dua mantel, dan dua sorban, dan dua pasang sepatu yang kesemuanya begitu indah.

Lalu Sayyidah Fathimah r.a. membangunkan kedua putranya dan memakaikan mereka hadiah tersebut. Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wassalam datang dan mencium, menggendong cucu kesayangannya yang mengenakan pakaian indah dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Kemudian beliau bertanya pada putrinya, “wahai putriku, apakah kau melihat tukang jahit tersebut?”.
Sayyidah Fathimah menjawab, “iya, aku melihatnya”.

“Wahai Fathimah, sungguh dia bukanlah tukang jahit, melainkan malaikat Ridwan penjaga surga”.


Bahkan para penghuni langit pun ikut bahagia dengan kebahagiaan cucu-cucunya, dan sedih dengan kesedihan mereka

Dear sister, you are not defined by the age that you get married so stop stressing about the meaningless opinions of others. Did you forget Sayyidah Maryam? The greatest woman ever created. عليها السلام

Your job is to worship Allah and to rely on Him, and He will show you miracles.

—  Shaykh Mohammad Aslam
3

Sayyidah Zaynab Mosque - Damascus, Syria

Dating back to 682 CE, the mosque is a holy shrine & contains the grave of Zaynab bint Ali, the daughter of Imam Ali & granddaughter of the prophet Muahmmad.

Sabar , contohi Wanita Syurga:

“ Memang menjadi idaman setiap wanita untuk mendapatkan suami yang soleh, yang lembut, setia, memahami, bertutur kata halus, berilmu, membimbing, bertanggungjawab dan lain-lain lagi. ”


“ Namun harus diingati, saat ini kita hidup didunia, bukan di syurga. Dunia adalah negeri ujian, bukan negeri pembalasan. Kerana itu sebaik-baik suami tentu sahaja ada kekurangannya. Dan seburuk-buruk suami pasti juga ada sisi kebaikannya. ”


“ Setiap kali wanita ada masalah akibat dari perlakuan suami, hendaklah dia bersabar. Kesusahan yang dihadapi dengan sabar semata-mata ingin memperoleh ridha Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahan seorang hamba.”


“ Lihatlah Sayyidah Asiah antara ketua wanita syurga yang bersuamikan firaun yang sangat jahat, Tiada manusia sejahat firaun, lihatlah Sayyidah Asiah bersabar , lalu syurga buatnya. Bukannya dia meratapi nasib dan menyesali diri. Inilah antara sikap wanita syurga patut di contohi.”


Daripada Al-Habib Novel Muhammad Alaydrus.


Sumber : RaudhatulMuhibbin

Keikhlasan dan Sedekah Rasulullah SAW

Suatu hari ada seorang pengemis mengetuk pintu rumah Rasulullah Saw. Pengemis itu berkata:
“Saya pengemis ingin meminta sedekah dari Rasulullah.”
Rasulullah bersabda:
“Wahai Aisah berikan baju itu kepada pengemis itu”. Sayyidah Aisyah pun akhirnya melaksanakan perintah Nabi.
Dengan hati yang sangat gembira, pengemis itu menerima pemberian beliau, dan langsung pergi ke pasar serta berseru di keramaian orang di pasar: “Siapa yang mau membeli baju Rasulullah? ”. Maka dengan cepat berkumpullah orang-orang, dan semua ingin membelinya.

Ada seorang yang buta mendengar seruan tersebut, lalu menyuruh budaknya agar membelinya dengan harga berapapun yang diminta, dan ia berkata kepada budaknya: jika kamu berhasil mendapatkannya, maka kamu merdeka. Akhirnya budak itupun berhasil mendapatkannya. Kemudian diserahkanlah baju itu pada tuannya yang buta tadi.

Alangkah gemberinya si buta tersebut, dengan memegang baju Rasulullah yang didapat, orang buta tersebut kemudian berdoa dan berkata:
“Yaa Rabb dengan hak Rasulullah dan berkat baju yg suci ini maka kembalikanlah pandanganku”.
MaaSyaa Allah…dengan izin Allah, spontan orang tersebut dapat melihat kembali.

Keesokan harinya, iapun pergi menghadap Rasulullah dengan penuh gembira dan berkata:
“Wahai Rasulullah… pandanganku sudah kembali dan aku kembalikan baju anda sebagai hadiah dariku”.
Sebelumnya orang itu menceritakan kejadiannya sehingga Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya.

Kemudian Rasulullah bersabda kepada Sayyidah Aisyah:
“Perhatikanlah baju itu wahai Aisyah, dengan berkahNya, ia
telah mengkayakan orang yang miskin, menyembuhkan yang buta, memerdekakan budak dan kembali lagi kepada kita.”

Subhanallah…

Al-Imam as-Suyuti menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa pahala shadaqah itu ada 5 macam:

أَنَّ ثَوَابَ الصَّدَقَةِ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : وَاحِدَةٌ بِعَشْرَةٍ وَهِيَ عَلَى صَحِيْحِ الْجِسْمِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِيْنَ وَهِيَ عَلَى الْأَعْمَى وَالْمُبْتَلَى ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةٍ وَهِيَ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ مُحْتَاجٍ ، وَوَاحِدَةٌ بِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى الْأَبَوَيْنِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى عَالِمٍ أَوْ فَقِيْهٍ اهـ
(كتاب بغية المسترشدين)

“Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima kategori :
1) Satu dibalas sepuluh (1:10) yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani

2) Satu dibalas sembilan puluh (1:90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu

3) Satu dibalas sembilan ratus (1:900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan

4) Satu dibalas seratus ribu (1: 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orangtua

5) Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang yg alim atau ahli fiqih.
[Kitab Bughyatul Musytarsyidin]

Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk bermurah hati, suka bersedekah dengan ikhlas. Aamiiiin…

All men want to marry to marry a woman that walks the path of Sayyidah Khadijah, but as a man you need to fulfil your rights in order to see that the marriage is successful. You need to spend quality time at home. You need to: be her best friend, love her, cherish her, honour her, magnify her, remember her, think about her, miss her, yearn for her, respect her, praise her, pray with her, joke with her, raise her and overlook mistakes. You need to show her she is the most important person in the world; more than all the chilling with mates and the late night missions. You must bow, prostrate and worship with her, and you must supplicate together.

All women want to marry a man that walks the path of Sayyiduna Muhammad ﷺ, but as a woman you must exert efforts in order for your marriage to blossom. You need to: increase his confidence, lift his burdens, keep his secrets, trust him, console in him and show him you care. You need to smile, joke and laugh. Be his source of peace, happiness and tranquillity. Emotionally strengthen him and spiritually assist him. You need to show him that you love him and that nothing is more important to you in this world than him; more than wealth and the material of this universe. You need to help him reach his potential in being a servant of Allah.

This is what the Messenger of Allah taught us about marriage. ﷺ

—  Shaykh Mohammad Aslam
Terjaga untuk Menjaga

Jika dikehidupan nyata mungkin kita tak terlepas dari aktivitas diluar rumah tapi di dunia maya lain halnya. Walau terkadang rasa ingin terlihat dengan cara memposting foto diri, namun sekali lagi di ingatkan oleh kata-kata Sayyidah Fatimah, “bahwa sebaik-baiknya wanita (dalam penjagaannya) adalah yang tidak memandang dan tidak dipandang.

Menjadi yang terjaga dan menjaga itu ibarat bermain petak umpet, untuk memenangkannya kita butuh bertahan pada persembunyian. Bukankan surga itu diberikan hanya kepada orang-orang pilihan? Semoga kita menjadi salah satunya🙏

Jujur saja sebenarnya ini tidak mudah, tergoda dengan rasa ingin terlihat itu tetap ada dan itu memang hakikatnya wanita, tapi cukuplah orang-orang yang mengenali diri kita saja yang tahu bahwa kita ini adalah makhluk yang nyata, serta untuk menyadari pentingnya menjaga iman lelaki juga bagian dari rasa peduli kita yang begitu besar khan ya.

Terjaga untuk Menjaga, 8 Shafar 1439 H

Ruang Teduh

Prophet Ibrahim sacrificed and he was given the Ka'bah. Prophet Musa struggled with Firawn and he was given the splitting of the sea. Prophet Yusuf persevered with slaveship and he was given rule. Prophet Ya'qub was patient with separation and was given reunion. Sayyiduna Zakariyyah was tested with old age and was granted a child who was a Prophet. Sayyiduna Sulayman was grateful so he was granted dominion. Sayyidah Maryam had full convinction in Allah and she was granted a child who spoke in the cradle. عليهم السلام

The solution to every one of your problems is with Allah. So many of us are going through a million problems. We’ve got pain, anxiety, obstacles and indescribable worries in our way. I promise you that Allah is in control of every single going on in your life. Will you adopt the characteristics of the Prophets and be rewarded beyond measure or will you be like the devil whose haste caused him to be rejected?

—  Shaykh Mohammad Aslam

Dear sister, you are not defined by the age that you get married so stop stressing about the meaningless opinions of others.
.
Did you forget Sayyidah Maryam? The greatest woman ever created. عليها السلام
Your job is to worship Allah and to rely on Him, and He will show you miracles.
No point in overloading yourself with worries for a future that you may not even live to witness…
-
I don’t know how this story will end, but I do know one thing for sure: it was planned long before, and it is playing out exactly as it was written: Perfectly.
-
God bless the woman that chases nobody and minds her own.
@workforjannah

SAIDINA ALI DENGAN DUA MALAIKAT

Kisah ini diriwayatkan Ja’far bin Muhammad, yang memiliki sanad dari ayahnya, lalu dari datuknya. Suatu ketika, datuknya Ja’far menceritakan bahawa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramaLlahu wajhah mengunjungi rumahnya selepas silaturahim kepada Rasulullah.

Di rumah itu Ali menjumpai isterinya, Sayyidah Fatimah, sedang duduk memintal, sementara Salman al-Farisi berada di hadapannya meminta S.Fatimah membuat kain untuknya.

“Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang boleh kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada isterinya.

“Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, kos upah dari Salman kerana aku telah memintal kapas untuk membuat kain yang diminta olehnya,” jawab S.Fatimah. “Wang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

“Bawa kemari wang itu.” Fatimah segera memberikannya dan Ali pun keluar membeli makanan.

Tiba-tiba beliau bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar, “Siapa yang ingin memberikan hutang (kerana) Allah yang maha menguasai dan mencukupi?” Sayyidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut.

Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayyidina Ali hanya boleh menjelaskan peristiwa secara apa adanya.

“Baiklah,” kata Fatimah, tanda bahawa beliau menerima keputusan dan tindakan suaminya.

Sekali lagi, Sayyidina Ali bergegas keluar. Kali ini bukan untuk mencari makanan melainkan mengunjungi Rasulullah. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapanya. “Hai Ali, belilah unta ini dariku.”

”Aku sudah tak punya wang sesen pun.”

“Ah, kau boleh berhutang dahulu, boleh dibayar nanti.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

Sayyidina Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, tanpa disangka, sepupu Nabi ini berjumpa dengan orang Badwi(orang Arab kampung) lainnya.

“Apakah unta ini kau jual?”

“Benar,” jawab Ali.

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

Si Badwi membayarnya tunai, dan unta pun sah menjadi tunggangan barunya. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayyidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami.

“Baiklah,” kata Fatimah selepas mendengarkan cerita suaminya.

Ali bertekad menghadap Rasulullah. Saat kaki memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya, “Hai Ali, kau yang akan memberiku khabar, atau aku yang akan memberimu khabar?”

“Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi khabar kepadaku.”

“Tahukah kamu, siapa orang Badwi yang menjual unta kepadamu dan orang Badwi yang membeli unta darimu?”

“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” sahut Ali memasrahkan jawapan.

“Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman kerana Allah seharga enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badwi yang pertama adalah malaikat Jibril, sedangkan Badwi yang kedua adalah malaikat Israfil (dalam riwayat lain, malaikat Mikail).”

Kisah dari kitab “al-Aqthaf ad-Daniyah” ini menggambarkan betapa ketulusan Ali dalam menolong sesama telah membuahkan balasan berlipat, bahkan dengan cara dan hasil di luar dugaannya.

Keluasan hati isterinya, Fatimah r.a, untuk menerima keterbatasan juga melengkapi kisah kebersahajaan hidup keluarga ini. Dokongan penuh dari Fatimah telah menguatkan sang suami untuk tetap bermanfaat bagi orang lain, meski untuk sementara waktu mengabaikan kepentingannya sendiri: makan.

(Mahbib Khoiron)

SILA SHARE DAN SEBARKAN

It’s really strange. People believe Islam is so rigid that they can’t have any fun. You don’t have to kill your spouse with pure boredom to be “Islamic” You don’t have to just sit down together and read books all day. You don’t have to be on the tasbih 24/7 together. You don’t have to just speak about the torment of the hell fire and the crushing of the grave and make tawba. That’s not always so romantic and optimistic for a long term relationship. Go for walks, take trips out the city, tell each other jokes. Smile, laugh, have fun, converse and appreciate each other. These can all be acts which earn Allah’s pleasure and you are rewarded for them.

No one had more taqwa or responsibility than the Prophet ﷺ but he raced with Sayyidah A'ishah whilst on a journey to make her happy. He was humourous with her. He told her stories. He would share food and drink with her. He told her about how much he loved her. He would smile with her. He would ask her about how she felt. He would ease her problems and make beautiful her day. Her favourite moments of life were whilst she was with him. رضي الله عنها

—  Shaykh Mohammad Aslam
Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran, Alhasan dan Alhusain tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang.
.
Mereka bertanya kepada ibunya,
“Wahai ummah anak2 di Madinah telah dihiasi dg pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?”
.
Sayyidah Fathimah menjawab,
“sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit”.
.
Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yg sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu..
.
Ketika malam tiba, ada yg mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, “siapa?”
.
Orang itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra2mu”.
.
Maka beliaupun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah.
.
Kemudian beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang kesemuanya sangat indah.
.
Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.
.
Kemudian Rasulullah Saw datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yg terdapat dalam bingkisan tsb.
.
Kemudian Rasulullah Saw menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dg penuh cinta dan kasih sayang.
.
Rasulullah Saw bertanya kpd Sayyidah Fathimah, “Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?”
.
Sayyidah Fathimah menjawab:
“Iya, aku melihatnya”,
.
Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga…”
.
Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rasulullah berbahagia dan bersedih jika mereka bersedih….
.
Twelve days of Rabbi-al-Awwal: Prophet(saw)'s love for his wives

Knowing about his wife’s feelings:
The Prophet (saw) once said to Sayyidah Aisha (RA): I know well when you are pleased or angry with me. Aisha replied: How you know that? He said: When you are pleased with me you swear by saying “By the God of Mohammad” but when you are angry you swear by saying “By the God of Ibrahim”. She said: You are right, I don’t mention your name.”

Comforting his wife:
Once Sayyidah Safiyah (RA) was on a journey with the Prophet (saw). She was late so the Prophet (saw) received her while she was crying. The Prophet (saw) wiped her tears with his own hands and tried his utmost to calm her down.

Resting his head on her lap:
The Prophet (saw) would recline in the lap of our beloved mother Sayyidah Aisha (RA) even in the state when she would be menstruating. The Prophet (saw) would recite the Qur῾ān whilst reclining in his wife’s lap.

Drinking and eating from one pot:
Aisha (RA) would drink from a cup. The Prophet (saw) would take this cup and search for the place where the lips of his beloved wife made contact. Upon finding the place where his wife drank from the cup, he would put his lips on the very same place so that his lips have touched the place where her lips touched. He would then drink the contents of the cup at the same time enjoying union with his spouse. When there was meat to eat, Sayyidah Aisha (RA) would take a bite. The Prophet (saw) would take the meat from her hand and again place his mouth the very same place where his wife ate from. This would add taste of love to his food.

Calling her with sweet names:
The Prophet (saw) used to give sweet names to his wives. He would call his wife ‘Humairā’’ out of love. Linguistically it means the little reddish one, but the scholars state that in reality it refers to someone who is so fair that due to the sun they get a reddish tan. This was the reason why the Prophet (saw) called her Humairaa’.

Complimenting her:
Once the Prophet (saw) stared into his wife’s eyes. He was gazing at the world within his wife’s eyes. He then said to Sayyidah Aisha (RA) in praise of her beauty,
‘How white are your eyes.’

SubhanAllah! Our prophet (saw) is the best example for the ideal husband. He was comforting for his wives, wiping their tears, respecting their emotions, caring for their complaints, alleviating their sadness, bearing their abandonment, keeping their dignity, supporting them, declaring his love to them and was very happy with such love. May Allah help us follow his sunnah and become wonderful spouses InshaAllah!

Sahabat andai kau tahu
Hati ini terlalu sakit
Terlalu banyak memendam rasa

Aku tahu
Memang bukan mudah
Jalan ini banyak onak dan duri
Jalan ini aku yang pilih
Aku cuba untuk kuat meski acap kali jatuh tersungkur dek kerana mulut bangsat manusia

Kadang aku keliru
Tersasar dalam mencari langkah
Kadang aku rasa seperti ingin lari dari semua ini
Ku lihat burung bebas berterbangan
Sungguh aku cemburu

Tapi aku belajar untuk menerima
Kerana aku yakin disetiap mendung
Akan ada pelangi indah
Kerana itu janjiNya

Doakan aku berjaya
Aku ingin kita bersama melangkah
Mengapai cinta Dia
Kerana aku pelukan seseorang untuk menarik aku
Andai aku tersungkur lagi

-sayyidah suhaila-
-131214-