sayyidah

Many sisters become extremely upset, disheartened and worried when they cannot get married due to various reasons or if they haven’t been blessed with children. Relax and refuse to despair no matter your situation. Sayyidah Maryam never got married and she never had a husband, yet look at her rank, her honour, her piety and nobility. Thousands of years have passed and her praise and mention has not left the hearts of mankind. Her remembrance is recited daily by millions, Allah named an entire Surah after her, He made her an example of excellence for mankind until the end of time and made her from the greatest women who tread this earth, yet she had no husband.

Prophet Ibrahim and his wife didn’t have children until he reached an old age. It didn’t affect them and didn’t cause him to despair. They remained filled with gratitude, worship and supplication and never lost hope. When they were blessed with offspring, they were given a son who was a Prophet. How beautiful was their patience and how beautiful was that which they were gifted by their Lord. عليهم السلام

—  Shaykh Mohammad Aslam
3

Sayyidah Zaynab Mosque - Damascus, Syria

Dating back to 682 CE, the mosque is a holy shrine & contains the grave of Zaynab bint Ali, the daughter of Imam Ali & granddaughter of the prophet Muahmmad.

Parents who lose young children shall be given entrance into jannah through their intercession. When Sayyidah A'ishah heard this, she asked about those who have no children to intercede for them on the day of judgement, so the Prophet ﷺ replied, “I shall be enough for my ummah!” رضي الله عنها

Sayyidah A'ishah did not have children, but it never caused her pain or anxiety. You know why? She knew that she forever had the Messenger of Allah ﷺ. That’s all that mattered to her and that’s all she ever cared about. Ignore the thoughts and opinions of people and don’t give it any attention. At the end of this long journey of life, their bad thoughts and trivial talk will end, and you’ll enter paradise with Sayyiduna Muhammad ﷺ and rest therein for eternity.

—  Shaykh Mohammad Aslam
4

Sayyidah Ruqayya Mosque - Damascus, Syria

The mosque is a holy shrine & it contains the grave of Sukayna bint Hussein, the daughter of Imam Hussein, granddaughter of Imam Ali, & great-granddaughter of the Prophet Muhammad.

SAIDINA ALI DENGAN DUA MALAIKAT

Kisah ini diriwayatkan Ja’far bin Muhammad, yang memiliki sanad dari ayahnya, lalu dari datuknya. Suatu ketika, datuknya Ja’far menceritakan bahawa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramaLlahu wajhah mengunjungi rumahnya selepas silaturahim kepada Rasulullah.

Di rumah itu Ali menjumpai isterinya, Sayyidah Fatimah, sedang duduk memintal, sementara Salman al-Farisi berada di hadapannya meminta S.Fatimah membuat kain untuknya.

“Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang boleh kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada isterinya.

“Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, kos upah dari Salman kerana aku telah memintal kapas untuk membuat kain yang diminta olehnya,” jawab S.Fatimah. “Wang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

“Bawa kemari wang itu.” Fatimah segera memberikannya dan Ali pun keluar membeli makanan.

Tiba-tiba beliau bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar, “Siapa yang ingin memberikan hutang (kerana) Allah yang maha menguasai dan mencukupi?” Sayyidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut.

Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayyidina Ali hanya boleh menjelaskan peristiwa secara apa adanya.

“Baiklah,” kata Fatimah, tanda bahawa beliau menerima keputusan dan tindakan suaminya.

Sekali lagi, Sayyidina Ali bergegas keluar. Kali ini bukan untuk mencari makanan melainkan mengunjungi Rasulullah. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapanya. “Hai Ali, belilah unta ini dariku.”

”Aku sudah tak punya wang sesen pun.”

“Ah, kau boleh berhutang dahulu, boleh dibayar nanti.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

Sayyidina Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, tanpa disangka, sepupu Nabi ini berjumpa dengan orang Badwi(orang Arab kampung) lainnya.

“Apakah unta ini kau jual?”

“Benar,” jawab Ali.

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

Si Badwi membayarnya tunai, dan unta pun sah menjadi tunggangan barunya. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayyidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami.

“Baiklah,” kata Fatimah selepas mendengarkan cerita suaminya.

Ali bertekad menghadap Rasulullah. Saat kaki memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya, “Hai Ali, kau yang akan memberiku khabar, atau aku yang akan memberimu khabar?”

“Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi khabar kepadaku.”

“Tahukah kamu, siapa orang Badwi yang menjual unta kepadamu dan orang Badwi yang membeli unta darimu?”

“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” sahut Ali memasrahkan jawapan.

“Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman kerana Allah seharga enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badwi yang pertama adalah malaikat Jibril, sedangkan Badwi yang kedua adalah malaikat Israfil (dalam riwayat lain, malaikat Mikail).”

Kisah dari kitab “al-Aqthaf ad-Daniyah” ini menggambarkan betapa ketulusan Ali dalam menolong sesama telah membuahkan balasan berlipat, bahkan dengan cara dan hasil di luar dugaannya.

Keluasan hati isterinya, Fatimah r.a, untuk menerima keterbatasan juga melengkapi kisah kebersahajaan hidup keluarga ini. Dokongan penuh dari Fatimah telah menguatkan sang suami untuk tetap bermanfaat bagi orang lain, meski untuk sementara waktu mengabaikan kepentingannya sendiri: makan.

(Mahbib Khoiron)

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Diriwayatkan pada masa kecil menjelang lebaran, Alhasan dan Alhusain tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang.
.
Mereka bertanya kepada ibunya,
“Wahai ummah anak2 di Madinah telah dihiasi dg pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami?”
.
Sayyidah Fathimah menjawab,
“sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit”.
.
Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yg sama, Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu..
.
Ketika malam tiba, ada yg mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya, “siapa?”
.
Orang itu menjawab, “Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra2mu”.
.
Maka beliaupun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah.
.
Kemudian beliau membuka bingkisan tersebut, ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang kesemuanya sangat indah.
.
Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya lalu memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.
.
Kemudian Rasulullah Saw datang dan melihat keduanya sudah dihiasi dari semua hadiah yg terdapat dalam bingkisan tsb.
.
Kemudian Rasulullah Saw menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dg penuh cinta dan kasih sayang.
.
Rasulullah Saw bertanya kpd Sayyidah Fathimah, “Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?”
.
Sayyidah Fathimah menjawab:
“Iya, aku melihatnya”,
.
Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga…”
.
Bahkan para penghuni langit dan bumi pun berbahagia jika kedua cucu Rasulullah berbahagia dan bersedih jika mereka bersedih….
.