satwa

The Way I Lose Her: A Night To Remember (2)

Malam yang tak pernah kusesali adalah malam di mana kita berbicara nyaman berdua. Dan malam di mana kau tanpa sadar memperhatikanku diam-diam.

                                                            ===

.

“Halo..”

“Dimas?”

Ada suara kecil di balik telepon genggam gue malam ini.

“Dimas ini Ipeh. Dimas di mana?” Suaranya terdengar sedikit bergetar, tapi tidak dengan hati gue.

“Dimas, Ipeh boleh ngobrol sebentar sama Dimas?” Lanjutnya lagi.

Kali ini kalimat yang keluar dari mulutnya formal sekali. Seperti bukan dia yang gue kenal selama ini. Atau mungkin, selama ini guenya saja yang tidak cukup baik mengenalnya?

Meski gue tidak ingin mendengarkan alasan-alasan yang akan keluar dari mulutnya, tapi gue tidak langsung mengakhiri percakapan tersebut begitu saja. Seperti ada sebuah dorongan tak kasat mata yang membuat gue bertahan untuk tetap mendengarkan kata-katanya lebih lama. Meski gue dengan gamblang berbicara bahwa gue sudah tidak butuh penjelasannya lagi, namun sebagai lelaki entah kenapa harga diri gue rasanya ingin sekali mendengar alasan-alasan apa yang ingin ia ucapkan sekarang.

Sambil masih berdiri di pintu masuk warung pecel lele, gue menarik beberapa kali napas panjang berusaha agar tidak terbawa emosi lagi. Percakapan itu belum berlanjut, kami berdua masih sama-sama terdiam. Tampaknya Ipeh masih menunggu gue membalas perkataannya barang satu kata saja, tapi sayangnya gue tetap memilih untuk diam.

Dari jauh, gue lihat Ikhsan dan Cloudy tampaknya sudah selesai bayar pecel lele biadab tadi.

“Dimas.” Cloudy menghampiri gue yang masih mengangkat telepon dari Ipeh, “Ayo makan. Aku laper.” Tambahnya sambil berjalan mendekat.

Gue mengangguk, “Iya.” Jawab gue yang kemudian mematikan telepon dari Ipeh saat itu juga.

“Ditelepon siapa?” Tanya Cloudy sambil berlalu meninggalkan warung pecel lele.

“Tadi? Kang Acil.” Gue berbohong.

“Ada apa? Kita disuruh pulang ya?”

“Enggak. Dia nitip indomie rebus.” Jawab gue sekenanya.

“Hah? Indomie rebus? Terus nanti kita bawanya gimana?!”

Yeee nih anak malah percaya aja gue ngeboong kaya gitu.

Gue cuma membalas sambil angkat bahu sebelum kemudian membuka pintu mobil dan duduk di kursi depan bersiap untuk menantang kematian lagi. Di belakang, gue lihat Ikhsan sudah siap membuka Al-Quran mini, persiapan kalau-kalau dijemput Malaikat Izrail saat itu juga. Lagaknya aja so-so baca Al-Quran, padahal dia baca Iqro aja baru sampe Alif doang. Itu pun nggak tamat. Keburu di dropout dari TPA.

“Dee.. Pelan-pelan aja ya. Udah malem ini, jalanan juga agak sepi. Lebih hati-hati.” Kata gue ketika Cloudy masih serius berusaha keluar dari tempat parkir.

“IYA! BAWEL! Lagian khawatir amat sih jadi cowok. Cemen banget!”

“Yeee, gue sih kagak masalah kalau ada apa-apa. Apalagi sama Ikhsan. Tapi kalau tiba-tiba mobil lu lecet, gue nggak mau ikut patungan buat gantiin ah.”

Ikhsan langsung angguk-angguk di belakang tanda setuju dengan perkataan gue barusan.

“Bener tuh Clow kata si Kambing. Gue mah lebih khawatir sama mobil lo. Itu harga wiper mobil lo aja gue yakin lebih mahal daripada harga diri si Dimas. Ati-ati ah! Gue ngumpulin duit sebulan juga paling cuma berhasil kebeli gantungan pohon cemara mobil lo doang.”

“…”

-gantungan pohon cemara yang seharga tabungan Ikhsan selama satu bulan-

.

Walaupun masih ngedumel karena kami bawelin terus selama perjalanan, Cloudy cukup nurut dengan tidak memacu mobilnya cepat-cepat. Untuk perjalanan dari Dipatiukur ke MCD simpang dago yang jaraknya deket banget aja kami bertiga memakan waktu hampir 30 menit. Selain karena memang jalannya lambat, mobil Cloudy juga hampir dua kali nabrak orang.

Satu kali hampir nabrak tukang urut Tuna Netra karena jalannya hampir ke tengah jalan. Satu lagi hampir nyenggol motor mahasiswa yang tiba-tiba keluar dari pom bensin Dipatiukur. Saat itu si mahasiswa sempat marah, tapi ketika melihat Cloudy yang nyetir, dia langsung cengangas-cengenges pasang tampang diganteng-gantengin.

Padahal mukanya nggak lebih jelek dari Ikhsan. Kalau di bandingin antara dia, Ikhsan, dan Dolpinho si sahabat satwa, jelas Dolpinho lah yang paling ganteng di antara keduanya.

Keadaan Dago yang memang pada dasarnya tidak pernah sepi dan ditambah dekat dengan lingkungan kampus, membuat McD simpang Dago selalu penuh sekali. Bahkan parkirannya yang terkenal sempit itu juga hampir semuanya terisi.

Melihat hal ini Cloudy semakin gugup nggak jelas. Wah nggak bener nih, dengan sigap gue langsung nengok ke belakang.

“Nyet, turun gih. Cariin parkiran. Gue arahin dari sini, kasian si Cloudy.”

Dan tanpa pikir panjang Ikhsan langsung turun dari mobil dan mencari tempat parkir untuk Cloudy. Ikhsan itu sebenarnya teman yang bisa diharapkan, tapi sayangnya lebih banyak mubazirnya hidup dia tuh.

Dengan bersusah payah dan setelah nego beberapa kali dengan mamang parkir, akhirnya kami dapat parkiran juga. Ikhsan yang sudah lebih dulu berdiri di tempat parkir ikut membantu Cloudy bak tukang parkir profesional.

Melihat hal itu, gue langsung buka kaca jendela.

“Mas… Ada parkiran kosong nggak?” Tanya gue sambil ketawa.

“Ada. Noh di neraka.” Jawab Ikhsan bete.

Setelah semuanya rapih dan memastikan tidak ada lecet sedikitpun, gue, Ikhsan, dan Cloudy berjalan ke dalem McD untuk memesan.

Cloudy berjalan di depan, sedangkan gue dan Ikhsan berjalan di belakangnya. Sebagai kaum fakir miskin yang jarang banget jajan di McD, kami berdua juga harus tau diri. Masa udah ditraktir malah jalan di depan.

Cloudy berdiri di meja kasir. Sedikit mendongak ke atas melihat menu-menu yang ada di sana sambil sesekali memangku dagu. Cakep banget deh doi kalau lagi kaya gini. Lagi marah aja cakep, apalagi lagi serius begini.

“Kalian mau makan apa?” Tanya Cloudy.

“Gue sih udah kenyang, tapi kayaknya masih bisa deh satu porsi lagi.”

“Gue juga.”

“Yaudah cepet mau apa.” Tanya Cloudy

Gue dan Ikhsan terlihat berpikir.

Mau cumi saos padang, rendang, kikil, sama ikan bakar. Nah kalau masnya mau apa?” Ikhsan menyenggol tangan gue.

“Sop kambing, sama sate kambing 30 deh.” Balas gue sambil so-so serius melihat ke arah menu juga.

JELEDAK!

Kepala gue dan Ikhsan dipukul sama dompet Cloudy yang tebelnya minta ampun itu. Gue cukup beruntung karena kepala gue kena dompet yang bagian nyimpen duit kertas, sedangkan Ikhsan cukup naas. Kepalanya kena pukulan dompet bagian uang kencring. Sehingga waktu ditabok barusan, gue mendengar ada bunyi recehan nyaring terdengar.

Entah bunyi itu berasal dari uang logam di dompet Cloudy.
Entah dari bunyi otak Ikhsan yang isinya nggak lebih dari kerikil dan batuan bekas genteng.
Semua masih misteri.

“BISA SERIUS DIKIT NGGAK SIH KALIAN TUH?!” Cloudy mengancam memukul kami lagi.

“Ampuuun..” Gue cuma cengengesan ngeliat Cloudy marah-marah. “Gini aja deh gini, gimana kalau gue aja yang pesen? Nah kalian berdua ke atas aja cari tempat. Gimana? Setuju gak?” Tanya gue mencoba mencari aman.

Cloudy masih memandang gue dengan tatapan kesel. Sedangkan Ikhsan masih terkapar di lantai Mcd memegangi kepalanya.

“Sini uangnya, biar gue yang pesen aja. Lo mau pesen apa?” Tanya gue kepada Cloudy.

“Gue paket yang Cheeseburger. Tambahin kentang regulernya 3. Minumnya diganti jadi air putih aja.” Cloudy mengeluarkan uang selembar lima puluh ribu, “Lo mau pesen apa terserah, kalau uangnya kurang bayarin dulu aja pake uang lo ya nanti gue ganti.”

“Ok ok. Kalau elo, San?”

“Gue pepsi aja Dim. Kenyang. Nafsu makan gue mendadak ilang barusan, nggak tau kenapa.” Kata Ikhsan nelangsa.

Gue cuma bisa ketawa ngeliat kelakuan temen gue yang satu itu. Akhirnya kami bertiga setuju, gue yang pesen, mereka berdua yang pergi ke atas buat mencari tempat. Tak butuh waktu lama akhirnya pesanan gue beres. Dengan susah payah sambil mencoba menjaga keseimbangan BAKI yang gue bawa, gue berjalan menuju lantai dua. Setelah sempat mencari akhirnya gue temukan mereka. Mereka mengambil tempat duduk di luar. Outdoor gitu. Entah kenapa milih di tempat itu, padahal di dalem lebih enak. Adem dan banyak kakak-kakak mahasiswi semok lagi ngerjain skripsi dengan celana gemes. Tipe-tipe mahsiswi berbusana siap tidur lantaran McD sama kossannya deket bener.

“Loh kok pada di luar?” Tanya gue sambil menaruh baki di meja.

“Tau noh si Cloudy maunya begitu.”

Cloudy melirik kami berdua.

“Bosen ah di dalem. Sumpek. Lagi pengen cari angin gue.” Balasnya.

“Orang kaya mah beda ya, dia kalau malem butuh angin, lah gue mah kalau malem malah butuh AC.” Ledek Ikhsan.

Kami bertiga kemudian duduk bersama di satu meja. Cloudy langsung mengambil Burger dan kentangnya lalu dengan sigap melahapnya. Ikhsan dan gue hanya mengambil minuman kami masing-masing. Kentang goreng sebanyak tiga biji yang Cloudy beli dia tumpahkan semuanya di atas baki biar menjadi satu.

Pas gue mau nyomot itu kentang sebiji doang, tangan gue langsung dia kepret keras sekali.

“NO! Gue laper!” Tukasnya galak.

“…”

Gue cuma bisa diem aja sambil megangin telapak tangan gue yang dia pukul keras seenaknya udah kaya kulit gendang. Ikhsan sempat ikut tertawa juga, kemudian dia melakukan apa yang gue lakukan tadi, berusaha nyomot satu buah kentang gorengnya. Ikhsan hampir sempat berhasil, telunjuk sama jempolnya udah berhasil ngambil satu buah kentang sebelum kemudian ada pukulan keras memukul tangannya juga.

Kentang yang tadi baru juga diangkat 10cm dari Baki tiba-tiba langsung jatuh lagi.

“ITU ENAK! DAN ITU PUNYA GUE!” Teriak Cloudy galak banget.

Ikhsan langsung menarik tangannya pelan-pelan sambil ngedumel entah ngomong apa. Cloudy yang melihat hal itu kemudian mengambil kentang yang sempat terjatuh tadi di atas meja, ia mengangkatnya ke depan muka Ikhsan. Ikhsan cuma diem ngeliatin doang. Sebelum kemudian itu kentang dilempar ke tempat sampah sama Cloudy.

Sontak gue sama Ikhsan kaget dong.

“EH?! Kenapa itu dibuang?! Kan sayang! Mending buat gue aja!” Ikhsan protes.

Cloudy cuma diem sambil masih ngunyah burgernya yang tinggal setengah itu, “Lebih baik gue buang daripada makan bekas tangan lo." 

"HAHAHAHAHAHAHAHA” Gue ketawa ngakak pas ngedenger si Ibu tiri ngomong gitu.

Kejam bener sumpah. Sampe segitu jahatnya dia sama Ikhsan. Biar bagaimanapun Ikhsan juga manusia, walau wajahnya mirip ikan sidat, tapi nggak seharusnya dia diperlakukan kaya gini.

“Gue sumpahin lo kalau nanti punya anak nama anak lo Temulawak.” Kata Ikhsan pelan banget tapi gue denger. Dan gue makin ketawa di sana.

.

                                                    ===

.

“Selesai Bazzar, OSIS bakal ngadain acara apa lagi?” Tanya gue setelah meneguk Pepsi gue untuk kesekian kalinya.

Cloudy masih mengunyah. Pipinya jadi terlihat tembem dengan Burger dan Kentang goreng yang ia kunyah sekaligus.

-mirip kaya gini bentuknya dia saat itu-

“Nggak ada, banyak masalah keuangan dan perizinan yang harus diberesin. Jadi untuk beberapa minggu setelah Bazzar bakal nggak ada acara, kecuali nanti di akhir tahun ada OSPEK buat penerimaan anak baru.” Balasnya singkat.

“Aaaaah.. Akhirnya bisa santai juga. Bisa fokus belajar buat kenaikan kelas nanti sekalian penjurusan.”

“Rasanya udah lama kagak nongkrong di kelas ya, Dim.” Ikhsan di depan gue menimpali sambil masih berusaha diam-diam nyomot kentang goreng Cloudy.

“Iya, dah lama nggak ketawa-ketawa lagi di kelas. Berarti tinggal berapa hari lagi penjurusan tuh?”

“Tau, paling juga sebulan-dua bulan lagi.”

“Satu Bulan 20 hari lagi.” Cloudy memotong. Gue dan Ikhsan cuma liatin dia doang pas dia ikutan ngomong.

“Oh iya, btw itu urusan Villa gimana? Pan elu ketuanya.” Tanya gue mencoba mengingatkan Ikhsan tentang rencana Perpisahan Kelas yang sempat tertunda dulu.

“AH IYA!! Lupa gue dah! Astagaaa. Yaudah besok gue urus deh. Harus ngobrol sama si Ipeh juga, dia kan yang punya vila-nya.”

“Urus dah, kalau udah selesai biar gue data siapa-siapa aja yang ikut.”

“Sip-sip.” Ikhsan manggut-manggut doang.

“Kalian mau ada acara?” Tanya Cloudy memotong mencoba mencari tahu.

“Iye. Kenape? Acara kelas. Kagak boleh ikut lu mah.” Balas Ikhsan sinis. Tampaknya dia masih dendam dengan Insiden Kentang Goreng Lemes barusan.

“Idih GR. Cuma pengin tau doang kok. Mau ke Vila? Aku punya Vila.”

“…” Ikhsan melihat ke arah gue dengan tatapan yang seakan bilang ya-terus-kenapa-kalau-dia-punya-vila-njing?!

“Aelah bohong banget punya Vila, paling-paling cuma hadiah dari program TV Bedah Rumah.” Ledek Ikhsan enteng.

5 Detik kemudian Ikhsan terkapar di atas meja sambil memegangi kepalanya setelah ada baki melayang menghajar kepalanya.

Gue cuma bisa geleng-geleng kepala. Ini orang berantem mulu rasa-rasanya. Sudah bukan rahasia lagi di setiap gue lagi deket sama cewek terus ada Ikhsan juga di sana, cewek itu entah gimana ceritanya pasti bakal jadi musuh bebuyutan Ikhsan. Nggak tahu kenapa, auranya beda kali. Maklum Ikhsan itu mahluk yang lahir dari KinderJoy.

Trrtt..
Ada geter-geter Hp bunyi. Kami bertiga langsung dengan sigap memeriksa HP kami masing-masing.

“Punya lu, Dim?”

Gue geleng-geleng, “Bukan.”

“Gue juga bukan.”

Kami berdua langsung melirik Cloudy.

“HP gue yang bunyi. Duh balik yuk sekarang.” Secara tiba-tiba Cloudy langsung membereskan barang bawaannya bersiap pergi.

“Lah?! Kok udah balik lagi?! Baru juga nongkrong sebentar.”

“Iya. Kok udah balik lagi sih?” Kami berdua mencoba protes.

“Ini.. Kang Ade nge-sms gue terus. Dia nyariin gue, ayo balik kayaknya ada yang mau dirapatin.”

“Aduh Dee.. Kali-kali nggak ikut rapat nggak papa kali. Kaya nggak ada orang lain aja selain kamu.”

“Ih nggak bisa gitu?! Nggak professional! Ayoo!”

“Duluan aja deh kalau lo mau caw, gue sama Dimas balik naik angkot juga bisa.” Sanggah Ikhsan yang masih ngotot nggak mau pergi.

“Ih! Dimas ayo balik!”

“Sorry, kali ini gue setuju sama si Monyet. Udahlah Dee, kerjaan lu rapat mulu. Kan di sana juga ada yang bisa ngurus selain elu. Ada sekretaris utama sama sekretaris kelas dua juga. Paling sampai di sana juga cuma ngobrol-ngobrol haha hihi doang kaya biasa.”

“Iya bener, lagian lo sibuk amat dah rapat mulu udah ngalahin panitia haji aja lo sibuknya.”

Cloudy terdiam.

“Udah duduk. Sini HP lu. Nyet, HP lu juga siniin. Taroh dah tuh HP kita di atas meja. Biar nggak ganggu. Sekarang mah santai aja. Malem juga masih panjang.”

Ikhsan langsung setuju-setuju aja, dia ngelempar HPnya ke atas meja. Gue juga gitu. Kemudian setelah diam cukup lama, Cloudy akhirnya mau setuju untuk tetap di McD malam itu dan ikut menaruh HP-nya di atas meja. Akhirnya kami berdua berhasil membuat Cloudy menjadi sedikit rebel malam ini. Hahahaha.

“Kalau ada apa-apa, kalian yang tanggung jawab ya.” Kata Cloudy masih terlihat takut.

“Aelah kaku amat kaya kanebo kering. Urusan gue sama Ikhsan itu mah. Gampang~”

Kami bertiga kemudian duduk lagi malam itu. Sambil sesekali meminum Pepsi yang sudah hampir habis ini, gue dan Ikhsan lebih banyak diamnya ketimbang berbicara. Kami menikmati udara Bandung malam ini. Ikhsan asik melihat ke arah jalanan di depannya, sedangkan gue asik melihat bintang yang cukup terlihat banyak sekali malam itu.

“Nyet..” Gue menyenggol kaki Ikhsan, dia langsung nengok. “Nanti pas Ospek mau jadi panitia gak?” Sambung gue.

Ikhsan geleng-geleng. “Nggak ah. Males, Dim.”

“Yah kok gitu?! Temenin gue dong. Gue mau jadi keamanan nih.”

“Cocok emang muka lo buat jadi keamanan. Mirip kemoceng yang dipake pengamen ngelapin kaca mobil di perempatan.”

“ANYING!! MAKSUD LO MUKA GUE DEKIL GITU?!”

“Yaaa.. sedikit lah.”

“Lagian lo juga mau ngapain nanti di kelas doang?”

“Enak aja, gue ada LDKS sama anak-anak DKM.”

JROOOT..
Tiba-tiba setelah mendengar ucapan itu, Cloudy yang lagi asik nyedot minumannya langsung batuk dan nyemburin semua isi mulutnya ke arah kami berdua.

“Elu serius Nyet masuk DKM tuh? Gue kira dulu itu cuma bercanda loh.”

“Serius Njing! Gini-gini ahklak gue juga banyak goblok. Iman gue tinggi njing nggak kaya elo.”

Akhlak banyak apaan ngomongnya juga anjing goblok gitu.

“Ah yaudah deh. Padahal niatnya gue mau minta temenin ngeceng anak baru sama elo. Pfft.” Gue menaruh gelas pepsi gue ke atas meja, sedikit menarik napas panjang dan menghembuskannya ke langit.

“Oh iya gue jadi keingetan lagi, elo sama Tasya belum beres juga?” Sambung gue lagi.

Ikhsan geleng-geleng, “Gue belum ada waktu ketemu. Kayaknya nanti diobrolin aja pas Bazzar udah mulai sekalian jaga stand kelas.”

“Hmm.. Begitu ya..”

“Lo juga gimana? Udah beres sama si itu?”

Gue geleng-geleng.

“Terus bakal terus kaya gini sampai kapan? Nanti mau nggak mau pas Bazzar lo bakal ketemu doi juga loh.”

Gue menghela napas panjang sekali lagi.

“Belum lagi masalah Vila, pokoknya gue nggak mau adain acara perpisahan kelas kalau lo berdua masih belum beresin ini semua pas acara Vila nanti.”

“Udah beres kok udah beres.” Balas gue enteng.

“Beres apaan?! Kalau lo mau tau dia kaya gimana sekarang keadaannya, noh liat isi inbox hp gue.” Kata Ikhsan sambil menunjuk ke arah HP-nya di atas meja.

“…”

Gue cuma bisa diem ketika Ikhsan ngomong gitu. Sedangkan Cloudy yang dari tadi juga diem cuma bisa merhatiin kami berdua sambil masih asik makanin kentang gorengnya sendirian. Egois banget kaya ibu-ibu lagi ngerujak.

Lagi hening begini, tiba-tiba kami dikagetkan oleh sebuah suara Adzan. Suaranya nyaring sekali. Gue kaget, Cloudy juga keget. Sedangkan Ikhsan cuma santai aja. Dia maju mengambil HP-nya, melihatnya sebentar, terus matiin itu HP. Dan secara tiba-tiba, suara Adzan itu juga berhenti.

Gue hening.

ANJING INI ANAK SETAN RINGTONE HPNYA SUARA ADZAN!!!

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…” Gue sama Cloudy sontak ketawa ngakak setelah suara Adzan itu berhenti. Sedangkan Ikhsan langsung terlihat tersinggung mendengar tawa kami berdua.

“WOI!! Kenape lu pada ketawa bangsat?!”

“Bangkeeeee!! Ada setan tapi ringtone HP-nya suara Adzan. Bhahahahaha.. Kesurupan apa lu anjir?!”

“Biasa aja woi! Emang salah pasang Ringtone suara Adzan?! Gue tadinya mau pasang suara Murotal Syahadat, tapi kependekan buat Ringtone.”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA…”

“Ah tai lu berdua.” Sekarang Ikhsan ngedumel sendirian lagi.

.

                                                            ===

.

Waktu sudah berjalan cukup lama, sudah hampir 3 jam kami nongkrong di McD Dago. Cloudy sempat turun ke bawah untuk memesan kentang goreng lagi. Sekarang dia beli dua bungkus. Buset nih anak kagak ada kenyang-kenyangnya apa ya. Kami bertiga sempat ngobrol beberapa hal, juga ngomongin gossip anak OSIS yang lagi hot belakang ini.

“Iya, gue selalu kalah di depan cewek yang rambut pendek atau cewek yang punya gigi gingsul.” Kata gue sambil tertawa.

“Kalau gue lebih ke yang berhijab gitu.” Ikhsan ikut-ikutan.

“Nah! Kalau hijab sama gingsul gimana tuh?”

“Anjir! Langsung keramas gue setiap hari.”

“Hahahahaha.. Cakep ya yang giginya gingsul gitu. Kalau senyum pasti menawan banget. Makin tambah cakepnya.”

“Heh!” Tiba-tiba Cloudy memotong pembicaraan kami berdua tentang cewek-cewek di kepanitiaan OSIS. “Gigi gingsul itu jelek tau buat kesehatan!” Sambungnya lagi.

Gue sama Ikhsan saling lirik.

“Aelah bilang aja lu cemburu. Gue yakin gigi kelinci lu itu bakal jadi nggak laris kalau ditandingin sama gigi Gingsul mah.” Ledek Ikhsan.

Fyi, Cloudy memang mempunyai Gigi kelinci yang kentara banget. Tiap dia ketawa atau senyum, pasti kelihatan jelas banget perbedaan dua ukuran gigi bagian atasnya itu. Gigi kelincinya Cloudy ini terkenal banget di kalangan cowok-cowok sekolahan. Jadi nggak jarang banyak banget yang ngasih Cloudy boneka Kelinci tiap dia ulang tahun.

“Enak aja! Gigi kelinci itu lucu tau! Lagian gingsul itu bahaya buat kesehatan, asal kalian tau yah Gingsul itu termasuk Maloklusi gigi. Kalian yang otaknya cuma separo ini nggak akan tau apa itu Maloklusi, jadi percuma gue jelasin panjang lebar, intinya itu tuh gigi yang tumbuh tidak wajar. Bisa terjadi karena rahang kecil, atau emang kebesaran itu giginya.”

Cloudy mengambil kentang gorengnya sebiji, terus menunjuk ke beberapa tempat di gusinya sendiri seperti sedang mempraktekkan tempat-tempat yang biasanya disinggahi gigi gingsul.

“Dia itu bisa memperlambat pertumbuhan gigi yang lainnya. Atau bahkan tidak tumbuh sama sekali. Bisa juga gusi cepat cedera karena proses mengunyah jadi terganggu. Ada juga Dokter gigi yang bilang bahwa gigi gingsul bisa berpengaruh ke keseimbangan juga. Jadi gigi gingsul itu jelek!” Cloudy terlihat ngotot banget.

“Kalau Gigi Kelinci sih nggak ada penelitiannya. Jadi nggak membahayakan.” Ujung-ujungnya dia muji diri sendiri lagi.

“Ngerti kalian?! Intinya gigi gingsul itu nggak baik!”

Kami berdua cuma diem doang pas lagi diceramahin sama Cloudy.

“Kok elo bisa tau tentang gigi beginian sih? Serem amat.” Tanya Ikhsan.

“Cita-cita gue itu jadi Dokter Gigi. Jadi gue selalu baca-baca tentang masalah gigi.”

“Hoo pantesan. Nggak mau jadi model aja?”

“Nggak, untuk model rasanya bakal gue jadiin buat hobby doang, lagian kalau model tuh gue harus..”

“Model obeng kembang maksud gue.” Potong Ikhsan.

“IKHSAN!!!” Cloudy melempari Ikhsan sama kentang goreng. Tapi bukannya menghindar, Ikhsan malah dengan sigap menangkap semua kentang dengan mulutnya bak kucing lagi dikasih ikan asin.

“Kalian tuh nggak pernah bisa diajak serius apa ya?! Cowok yang tanpa ilmu itu nggak menarik sama sekali loh, asal kalian tau.” Sindir Cloudy.

“Yeee kata siapa kita nggak berilmu, Sini lo tanya sama gue tentang ilmu agama. Terus gue tes berapa banyak surat yang lo apal. Terus gue juga mau tes bacaan sholat-sholat sunnah, juga tentang niat-niat puasa, seperti puasa daud dll.” Kini balik Ikhsan yang nantangin Cloudy.

Walaupun Ikhsan mukanya kaya sendal jepit, tapi gue sudah cukup tau gimana hebatnya dia dalam ilmu agama. Mungkin bawaan dari keluarga Bangka-nya itu kali ya. Dia dulu satu-satunya yang hapal Asma Ul-Husna di kelas, dia juga kalau ngaji bagus loh. Jadi kalau dia ngomong dia mau masuk DKM, sebenarnya gue nggak begitu kaget juga. Emang pada dasarnya nih bocah bagus agamanya. Dulu dia pernah bilang sama gue,

“Dim, gue slengean, gue easy going, gue urakan begini mah urusan gue sama dunia. Urusan gue sama Tuhan mah ngapain juga gue tunjukin ke orang-orang. Nggak penting itu.”

Cloudy terlihat tidak percaya sama perkataan Ikhsan sebelum kemudian dia dibuat diam ketika Ikhsan berhasil menuntaskan lafalan 99 nama-nama Allah tanpa salah sama sekali. Dan gue cuma ketawa pas Cloudy ngakuin bahwa Ikhsan hebat ilmu agamanya.

“Elo jangan ketawa, Dimas! Elo sendiri bisa apa?!” Tanya Cloudy.

Gue masih terkekeh, “Hahahaha apa ya? Gue sendiri nggak tahu gue bisa apa. Main game di warnet mungkin? Eh apa itu ilmu juga ya?”

“Ck!” Cloudy terlihat bete melihat jawaban asal gue.

“Semoga pas Bazzar nanti bakal secerah ini ya malamnya.” Tiba-tiba Ikhsan memotong sambil melihat ke arah bulan Purnama di atasnya.

“Iya semoga ya.” Balas gue.

“Semoga aja nanti nggak mendung. Pawang Hujannya harus sakti ini mah.” Kata Ikhsan.

“Hush! Musyrik itu! Ilmu Agamanya aja yang bagus tapi percaya sama pawang hujan. Sama aja bohong!” Ledek Cloudy.

Ikhsan cuma ketawa.

“Tapi, romantis ya kalau lagi purnama gini.” Cloudy kemudian ikut-ikutan melihat ke arah bulan purnama di atasnya, “Aku pernah baca fairy tale orang perancis yang katanya kalau bulan itu rumahnya para peri. Kalau kata orang Jepang juga bulan purnama itu tempat lahirnya putri Kaguya kalau aku nggak salah. Coba aja ya di bumi ini bulannya bisa ada dua. Pasti malam bakal makin panjang terus makin lebih terang dari ini. Apalagi kalau banyak bintang. Pasti makin romantis.”

Gue yang mendengar hal itu langsung melirik ke arah Cloudy,

“Ngg.. Anu mbak.. Sebenarnya, Sinar bulan itu besarnya -12 Magnitudo, sedangkan sinar matahari itu -26 Magnitudo. Semakin kecil ukuran magnitudo, semakin terang juga benda tersebut. Nah itu berarti kalau ada dua bulan purnama sekaligus, maka total magnitudonya akan ada sekitar -24 maginitudo. Itu sama aja kaya cahaya matahari waktu pukul 9 pagi.”

Cloudy terdiam.

“Belum lagi masalah bintang, cahaya bintang bisa terlihat lebih jelas kalau langit sedang gelap, itu berarti kalau ada dua buah bulan purnama, bintang bakal nggak terlihat sama sekali. Tapi gue setuju soal panjangnya malam, bulan juga tanpa lo sadari berpengaruh ke rotasi bumi. Bakal panjang kalau gue jelasin, tapi dengan adanya dua bulan maka malam di bumi akan bertambah sekitar 6 sampai 8 jam.”

Gue meminum Pepsi gue sebentar,

“Juga dampak dari adanya dua bulan di bumi ini adalah daya tarik magneticnya akan berlipat ganda, membuat banyak sekali Tsunami kecil di beberapa lautan. Berarti air laut surut akan semakin dalam dan air pasang juga akan semakin tinggi. Membuat sebuah dataran baru dan menghapus pulau kecil di tengah laut. Begitu… Jadi, baiknya satu bulan juga sudah cukup.”

Cloudy bengong di depan penjelasan gue.

“Nah, elo mau tau apa yang terjadi kalau Bumi nggak punya bulan, Dee? Gue bisa jelasin nih, cukup deh kayaknya beres jam 12 malem nanti.”

Cloudy langsung geleng-geleng, “Enggak-enggak. Cukup. Cukup. Aku pusing dengernya.” Balas Cloudy.

“HAHAHAHAHAHAHA.” Ikhsan yang ada di depan gue langsung ketawa melihat situasi sepert ini.

“Anak Geografi elu lawan Clow.” Balas Ikhsan sambil nyomot kentang goreng yang pada akhirnya bisa lepas juga dari pengawasan Cloudy. “Nih si Kambing ini nilai Geografinya perfect banget di kelas. Juga nilai sejarah sama ekonominya. Lo tanya deh sama dia tentang sejarah yang lagi kita pelajarin itu, gue jamin nih bocah bakal ngoceh panjang lebar dan elo bakal mual dibuatnya. Jadi jangan macem-macem dah sama dia.” Lanjut Ikhsan lagi sambil tertawa.

.

.

.

                                                      Bersambung

Previous Story: Here

Karena kepanjangan, besok lanjutannya gue post di jam yang sama.
Cyao~ 

 
P.S: in the next part. Cloudy punch me :(

GALLERY: How to act like a local in Dubai

Looking to enjoy a truly authentic experience during your visit to any city? Then find out where the locals like to go. Here’s a handy tour to the emirate thanks to renowned UAE comedian and Dubomedy co-founder Ali Al Sayed. We hung out with him for the day to get the lowdown on how to act like a local in Dubai.

Keep reading

4

Explore Old Dubai: the side of Dubai you never knew about

If New Dubai is a glamorous, glitzy party girl then Old Dubai is her mature, mellowed out sister. And thank goodness. Because no matter how fun it is to strut your stuff on Sheikh Zayed Road everyone needs to get back to their roots once in a while, and Old Dubai is the root of this magnifi-cent city.

Keep reading