sapu terbang

Perempuan yang Terjebak Dalam Toples Kaca

Kau selalu tertawa dengan hal-hal yang tak mampu kau pahami. Sudah berulang kali kukatakan kepadamu, aku ini seorang penyihir. Bukan seperti dalam adegan film sekolah Hogwarts yang berisi sapu terbang, tongkat sihir atau kodok yang terbuat dari cokelat. Aku tak tahu mantra-mantra yang mampu mengeluarkan cahaya. Aku ini penyihir kata-kata. Kau selalu tertawa ketika aku mengulang pernyataan itu.

Sepi kadang berbicara kepadaku, betapa sempitnya waktu. Betapa luasnya kenangan. Aku ingin menciptakan kenangan-kenangan indah bersamamu. Sebab nyawa yang kita pinjam ini hanya sementara, bahagia dan luka akan hidup selamanya di dalam pikiran kita. Tapi kau tak pernah percaya.

Sudah berulang kali kunyatakan cinta kepadamu. Namun kau selalu menolak dengan alasan-alasan yang tak mampu kumengerti. Ini ketujuh kalinya aku menyatakan cinta kepadamu, berharap kau jatuh ke dalam pelukanku lalu cerita-cerita bahagia akan mekar setelahnya. Semakin keras kau menolak cintaku, semakin keras pula aku berusaha mengejarmu. Aku tahu betul cinta membutuhkan banyak perjuangan dan pengorbanan. Bukan seberapa lama kau menyakitiku, tapi seberapa tangguh aku mampu bertahan. Digerus oleh keangkuhan tembok tinggi yang kau bangun antara aku dan dirimu.

Seorang kawan pernah berkata kepadaku: “Ketika gadis yang kau suka tidak mencintaimu, masukan saja ke dalam botol kaca. Lalu simpan di dalam kamar.”

Tujuh kali kunyatakan cinta, tujuh kali pula kau menolaknya. Cukup sudah aku bersabar dan menanti. Tak percuma jutaan puisi kuciptakan untukmu dan berakhir sia-sia di depan pintu kamarmu. Juga rintik-rintik rindu yang kadang tiap malam mengetuk atap-atap rumahmu. Kau selalu menganggap cinta hanyalah sebuah lelucon belaka.

Sudah kurencanakan berminggu-minggu sebelumnya. Aku akan mengendap-ngendap masuk ke rumahmu lewat pintu belakang, lalu menuju pintu kamarmu dengan menaiki tangga yang memutar. Setelah sampai di sana, kudapati pintu kamarmu berwarna putih langit dan berhiaskan gantungan seorang penari Bali. Perlahan-lahan kubuka pintu kamarmu yang tak pernah tertutup rapat. Segera kutemukan dirimu dalam keadaan terlelap dibuai oleh mimpi-mimpi.

Keesokan paginya, kau akan terbangun di dalam toples kaca yang kupersiapkan untukmu. Aku sudah mendekor ruangan toples kaca itu semirip mungkin dengan kamarmu. Agar kau tak begitu kaget bahwa kau sudah kuculik dan kujadikan dirimu seutuhnya tawananku. Tak perlu lagi aku mencuri-curi cara mengajakmu kencan ke taman, bioskop atau tempat favorit bersantai bersama dengan teman-temanmu. Aku sudah tahu pasti kau akan menolaknya.

Aku akan lebih mudah mencarimu jika kau selalu ada di dalam kamarku. Di sudut meja kerja persis di samping desktop tempat biasa aku menyimpan foto-fotomu. Aku akan lebih leluasa mengajak berbincang tentang hal-hal yang kualami seharian di kantor, kejadian-kejadian lucu yang kutemui di jalanan atau tentang berita televisi yang selalu mengabarkan kebohongan dan berharap semua orang yang mendengarkan mereka percaya begitu saja. Kau akan menjadi pendengar setia terbaikku, selain tembok kamarku.

Sudah seminggu kau terjebak di dalam toples kacaku. Sudah seminggu pula aku berusaha menjadi lawan bicaramu. Setiap pagi kau kuberi sarapan semangkuk sereal dan segelas susu. Setiap malam menjelang, setelah aku tiba dari tempat kerja, kubawakan makanan apa saja yang kutemukan di perjalanan pulang. Kadang ketika kau merasa bosan kubawakan buku-buku baru penulis favoritmu yang kubeli dari toko langgananku.

Seminggu kemudian kau jenuh berada di dalam toples kaca. Kau ingin menjadi gadis normal seperti pada umumnya. Pergi ke kampus, bertemu dengan teman-temanmu atau kekasihmu yang tak pernah kau ceritakan sebelumnya kepadaku. Kadang aku juga merasa bosan memandangi tubuhmu yang mungil. Aku ingin sekali memelukmu dan merasakan wangi tubuhmu mendesirkan jantungku.

Aku tersadar bahwa cinta yang sesungguhnya adalah membiarkannya bebas. Bukan mengekang. Bahkan untuk ukuran manusia normal tak akan mengurung binatang peliharannya dalam kandang seumur hidupnya. Apalagi kekasihnya sendiri. Ketika kau mengatakan ingin kembali kepada kehidupanmu, aku harus siap merelakanmu menolak kembali cintaku. Aku tak apa-apa. Tetapi kau tak akan lupa aku ini masih seorang penyihir kata-kata. Aku masih dapat mengurung kau di dalam tulisanku untuk seribu tahun lamanya.

Bekasi, 2016