sampaikan

saya, ayah, dan ibu ngobrol tentang turnover personil yang dialami sekolah dan perusahaan. ibu bercerita tentang fenomena yang unik–di mana para guru yang lebih senior cenderung lebih setia dibandingkan dengan yang muda. para guru muda itu adalah guru-guru generasi saya, milenial kata mereka. padahal, para guru senior telah bersama kami (sejak) saat semuanya susah, saat kelas masih di garasi. padahal, para guru junior yang akhirnya memutuskan pindah haluan, tidak sedikit yang sekolahnya diupayakan oleh ibu–supaya bisa kembali memberi dan berbagi.

saya jadi sedih–dan malu sih–atas (sebagian) generasi saya itu. kenapa ya daya tahan dan daya juang kami segitu-segitu aja. kenapa ya kami banyak berhitung tentang manfaat (bagi diri sendiri, uang terutama). kenapa ya kami selalu bertanya “what’s in it for me?” dan selalu “taking things for granted”. kenapa ya kami kemakan dogma-dogma tentang mengikuti passion sampai lupa tentang pesan nabi untuk menjadi bermanfaat. kenapa ya?

mungkin yang salah adalah sosial media–yang menampilkan kehidupan manis senang nan bahagia di permukaan, yang membuat kami (kita) melupakan hakikat perjuangan dan rasa syukur. mungkin yang salah adalah para motivator, yang menyerukan bahwa passion adalah segala-galanya–padahal kami (kita) yang diseru juga sekadar ikut-ikutan saja. mungkin yang salah adalah para pemilik lapangan kerja, yang berlomba-lomba pasang harga sehingga bekerja menjadi kegiatan transaksional belaka, jual beli jasa semata.

“generasi ibu nggak kenal tuh sama istilah passion. yang kami kenal itu menjadi bermanfaat sebab begitu pesan nabi. generasi ibu percaya bahwa rezeki itu paling banyak bisa dijemput di tempat di mana kita bisa bermanfaat paling banyak.”

kita yang muda punya banyak kesempatan, punya banyak jalan untuk dipilih. kita yang muda punya masa depan yang masih panjang. kita yang muda bisa mencoba-coba banyak hal, banyak bidang.

tapi, kita yang muda juga harus selalu ingat
untuk bersyukur secara utuh: atas yang dicapai dan tidak dicapai, yang didapat dan tidak didapat, yang dimiliki dan tidak dimiliki, yang dipertahankan dan dilepaskan;
untuk berterima kasih pada setiap peran yang telah menjadikan kita diri kita yang sekarang;
untuk menjadi makna dan menjadi manfaat–mengutamakannya.

ibu dan ayah benar. apalah arti punya hidup keren kalau hanya untuk diri sendiri. inilah yang selalu saya sampaikan pada adik-adik saya, juga anak-anak saya kelak.

ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat–dunia akhirat.

Sampaikan ke kekasihmu, semua ucapan yang ia dengar perihal betapa bahagianya dirimu sekarang, dulu pernah kau ucapkan juga kepadaku.

Catatan Harian : Menikah Muda

Sudah tiga hari berlalu, semenjak saya menapaki kantor dan pekerjaan baru dengan lingkungan yang sama sekali baru, jauh berbeda dari kantor lama. Saat ini usia saya 24 tahun, dan rekan-rekan kerja saya tidak berhenti melontarkan pertanyaan: “Kenapa lo nikah muda?”

Bagi mereka, menikah muda mungkin bukanlah sesuatu hal yang biasa. Sebab mereka pun mengakui, diusia yang sama, yang mereka pikirkan adalah bagaimana mencari uang untuk (pertama) mencukupi kebutuhan hidupnya, (kedua) menabung, dan (ketiga) untuk mempersiapkan pernikahan.

Lalu saya berpikir lagi, bertanya pada diri saya sendiri: “Iya, ya. Kenapa saya mau menikah muda?” Sedangkan pada saat itu, kami berdua belum memiliki pekerjaan yang jelas. Saya tidak punya tabungan sepeserpun, dan dia belum lulus skripsi. Segalanya serba tidak jelas. Serba tidak memenuhi berbagai kriteria orang-orang tentang kemapanan sebelum menikah.

Tapi diantara semua lelaki yang memberi kode, hanya dia satu-satunya yang memberikan saya kejelasan. Kami hanya kenal selama tiga bulan, tanpa tedeng aling-aling, dengan yakinnya ia mengatakan bahwa ia mau menikahi saya. Dan di bulan keenam perkenalan kami, ia datang melamar saya.

“Nekat betul.” Kata Bapak saya waktu itu. “Memang kamu punya usaha apa?” Tanya beliau.

“Saya jualan karpet dan boneka, Pak.” Jawabnya mantap. Bapak hanya tersenyum. Sepulangnya ia dari rumah, Bapak berpesan, “Tidak ada yang salah dengan apa pekerjaan dia. Sebab dulu Bapak pun masih pengangguran, bahkan tidak punya penghasilan tetap ketika melamar Ibumu. Tapi Mbah, adalah satu-satunya orang yang yakin, bahwa Bapak mampu memberikan kehidupan yang baik dan layak untuk Ibumu. Begitupula Bapak, kepada Mukhlis. Bapak yakin, dia anak yang baik dan mampu menjadi lebih baik, lebih sukses dari ini.”

Aha! Saya jadi ingat, kenapa saya akhirnya memutuskan untuk menikah muda, dan memilihnya sebagai pasangan sehidup sesurga. Bukan, bukan hanya karena kejelasan, melainkan satu hal lain yang tidak pernah bisa diberikan lelaki lain pada saya, pada Bapak saya, pada keluarga saya, pun pada keluarganya: Keyakinan.

Keyakinan bahwa ialah yang mampu memberikan hidup yang lebih baik untuk saya. Keyakinan bahwa bersamanya, hidup saya akan tenang, tak peduli jatuh bangunnya membangun rumah tangga, tak peduli seberapa besar penghasilannya. Keyakinan yang tidak melibatkan fisik, materi, dan jabatan dalam perhitungan ‘kesiapan menikah’. Keyakinan bahwa semuanya akan jelas pada waktunya. Keyakinan yang begitu kuat dan muncul tanpa perlu perkenalan yang lama, tanpa hubungan apa-apa. Dan semakin kuat tentunya dengan segala permunajatan yang kami sampaikan kepada-Nya.

“Abi, kenapa sih mau nikah sama ibuk?” Sudah satu tahun satu bulan usia pernikahan kami, dan pertanyaan itulah yang masih selalu saya tanyakan setiap hari.

“Hmmm. Ga tau. Yakin aja pas lihat ibuk.” Katanya, setiap hari. Lalu melihat saya, mencium kening dan memeluk saya. Kadang saya gemes kenapa jawabannya gitu doang, kok bukan karena saya cantik (pengen banget wkwk), dan karena saya begini dan begitu. Tapi, itulah yang juga terjadi pada saya.

It is simply because I believe in him, and he believes in me.

Saya kembali menatap teman-teman saya, belum menjawab apa-apa. Saya hanya kembali bertanya,

“Kalo lo sendiri, kenapa lo belum nikah-nikah?” dengan nada bercanda. Untungnya teman-teman saya bukan tipe orang-orang yang baper dengan pernikahan. “Masih banyak yang mau gue persiapkan.” Jawabnya, lalu berlanjut pada becandaan-becandaan lainnya yang tidak pernah serius dan tidak pernah bawa perasaan.

Tidak ada yang salah dengan kenapa menikah muda atau kenapa belum menikah. Sebab bagi saya, jawabannya tentu sama saja: Masing-masing punya jalan, pandangan, dan prinsip hidupnya sendiri. Masing-masing punya keyakinannya sendiri. Dan tentang keyakinan orang lain, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan, dipertanyakan, apalagi diperdebatkan.

Tidak ada yang salah. Yang salah adalah ketika kita mempertanyakan keyakinan orang lain, tanpa mempertanyakan, mengoreksi dan memperbaiki keyakinan kita sendiri.

Depok, 22 September 2017.
Jam 7 pagi dan masih sempat menulis.

Jamikanasa.

Sampaikan Pada Pasanganmu, Bahwa Aku Pernah Begitu Dalam Mencintaimu

Saat kita berpisah, pernah kukatakan padamu untuk memilih pasangan yang benar mencintaimu.
Karena aku tak rela kau disia-siakan.
Karena aku pernah begitu mencintaimu tanpa pengecualian.

-

Bila kau merindukanku atau pernah sekali saja memikirkanku, barangkali itu bukan kebetulan
Karena embun yang menetes di pagi hari pada sehelai daun pun, punya alasannya sendiri, kan?
Barangkali saja, itu memang waktumu untuk mengenang kita, yang tak seharusnya dilupakan begitu saja
Atau barangkali, aku memang sosok yang tak perlu kau gantikan.

Bila suatu saat pasanganmu bertanya perihal aku, jawablah dengan jujur
Bahwa dulu pernah ada seorang yang begitu dalam mencintaimu
Ia begitu tulus, sampai rela melepaskanmu karena ingin kau lebih berbahagia dibandingkan saat sedang bersamanya

Katakanlah padanya, bahwa aku akan mengutuknya menjadi apapun yang tak ia kehendaki, bila ia menyakitimu.
Sampaikan padanya, bahwa ia boleh cemburu pada sosokku. Namun tak perlu khawatir bahwa aku akan kembali padamu.
Karena aku tahu, kau tak pernah begitu dalam mencintaiku, untuk tetap tinggal dan berjuang bersama lagi.

-

© Tia Setiawati | Deli Serdang, 7 Juli 2017

Yang terus perlu kamu pahami, akan ada orang-orang yang begitu tulus menyayangimu, menginginkanmu semakin membaik, mendoakanmu dalam diamnya, mendukungmu meraih mimpi mimpimu.

Tapi kamu juga harus pahami, akan selalu ada orang-orang yang tak menyukaimu, menjauhimu, melihatmu dengan tatapan mata tak mengenakkan.
Akan selalu ada yang seperti itu.

Tapi kumohon, teruslah belajar (meski mungkin tak mudah) teruslah belajar untuk menerima setiap keadaan. Jangan sibuk untuk balik membenci dengan yang tak menyukaimu, justru teruslah berusaha untuk membenahi dirimu. Sebab barangkali dengan hadirnya mereka, Allaah ingin menunjukkan ketidakbaikanmu, dan Allaah ingin kamu memperbaikinya. Barangkali kalau kamu selalu di kelilingi dengan orang-orang yang menyukaimu, memujimu meskipun kamu tidak baik justru akan membuatmu lalai.

Selalu ada kebaikan, jika kita mampu membaca baik-baik hikmah apa yang hendak Allaah sampaikan.

Dan didiklah hatimu, untuk cukup pada penilaian Allaah saja.
Berbuat baik karena Allaah, bukan karena ingin banyak orang berbuat baik padamu, melihat kebaikanmu. Bukan itu sayang.

Rasa-rasanya perkara siapa yang akan Allaah kirimkan menemani kita, siapa yang Allaah pilihkan untuk berbuat baik pada kita itu sepenuhnya kuasa Allaah untuk memampukan mereka juga melembutkan hati mereka untuk berbuat baik padamu.

Bukankah memang jalan menuju Allaah terkadang memang terasa begitu sepi, tapi kita bersama Allaah dan siapa yang cukup baginya Allaah, dia tak akan pernah merasa kesepian. Alhamdulillaah.

Jangan khawatir!
Setiap kebaikan tidak pernah menjadi sia-sia di sisi Allaah.

© Menyapa Mentari

17. pantulan kebaikan

alhamdulillah, jelang Ramadan kali ini kami mendapatkan berita yang luar biasa baik. dari puluhan ribu (mungkin ratusan ribu) pegawai yang tersebar di seluruh Indonesia, mas uta (kakak saya) dinilai sebagai salah satu pegawai terbaik oleh kantornya. mas uta diberi beasiswa untuk melanjutkan S2 di Birmingham.

selanjutnya, ini merupakan kisah favorit ibu saya. ibu selalu menceritakan ini kepada mahasiswanya, juga kepada guru-guru dan staf di Wikrama/IDS.

mas uta–kata ibu–adalah anak yang sangat biasa-biasa saja. maksudnya, kecerdasannya biasa-biasa saja, bakatnya biasa-biasa saja, kemampuannya biasa-biasa saja. namun, sejak dulu, mas uta seringkali beruntung. mulai dari urusan sekolah, kemudian urusan karir, urusan jodoh, dan urusan sekolah (lagi). menurut ibu, semua karena mas uta adalah seseorang yang setia, terutama kepada kedua orang tuanya.

sewaktu mas uta kuliah, ibu dan ayah kerap membutuhkan mas uta untuk mengantar-antar. saat itu ibu sedang berada di puncak karir sebagai kepala sekolah sekaligus konsultan pendidikan, sehingga sering sekali wara-wiri mengisi seminar. di saat yang sama, mas uta juga sedang berada di puncak karir organisasinya–sebut saja mas uta sedang menjadi salah satu ketua organisasi di kampus.

ini adalah kebiasaan mas uta setiap hari: menelepon ibu, menanyakan apakah ibu membutuhkan mas uta hari itu. berbeda dengan anak muda kebanyakan yang kalau telepon orang tuanya minta izin untuk ini itu atau memberi kabar ini itu, mas uta menelepon ibu untuk menanyakan apa yang bisa mas uta lakukan untuk ibu di hari itu.

tidak sekali dua kali, ibu butuh diantar. tidak sekali dua kali pula, acara mengantar ibu berbenturan dengan kegiatan organisasi. yang selanjutnya terjadi? mas uta tetap mengutamakan ibu, baru kemudian hal-hal lainnya. sampai setelah menikah pun, mas uta selalu mengutamakan ibu.

mas uta itu setia, kata ibu. karena setia, mulai dari lulus kuliah sampai sekarang, mas uta tidak pernah pindah kantor. apa yang menjadi miliknya, apa yang dicapainya, disyukuri luar biasa. tidak hanya dengan mengucap alhamdulillah tentu, tetapi juga dengan kesungguhan dan keutuhan hati dalam menjalankan suatu pekerjaan. kebiasaan mas uta yang selalu bertanya “apa yang dibutuhkan? apa yang bisa saya bantu?” alih-alih “apa yang bisa saya dapatkan?” ternyata menjadikan mas uta orang yang begitu disayangi dan dipercaya.

ini menjadi pelajaran besar bagi saya–bahkan sering saya sampaikan kepada mas yunus juga, untuk jangan lupa mengutamakan ibunya. ini menjadi periksa bagi saya. kalau saya merasakan ketidakberuntungan dalam hidup, mungkin sebenarnya yang kurang bukan upaya atau kemampuan saya, melainkan “kesetiaan” saya kepada ayah dan ibu. sebab pada akhirnya, meskipun orang tua selalu mendoakan kebaikan, bisa jadi doanya terpental karena kita anaknya kurang melakukan kebaikan.

Allah sudah berjanji bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan pula (ada di surat Ar Rahman). maka kita pun belajar, bahwa kebaikan itu bisa dijemput, meskipun jika dinalar-nalar, diri kita jauh dari kesempurnaan atau kelayakan.

Antara Hati dengan Doa

Seringkali kita memendam dalam hati. Ada banyak sekali. Kekaguman, kekecewaan, rasa suka, rasa benci yang tiada tara, dan lain sebagainya. Sehingga terkadang kita sulit mengaturnya. Sesekali hati kita merasa suka, nyaman jika bersama. Namun, sesekali muncul rasa benci bahkan walaupun hanya melintas di pikiran kita.

Itulah hati. Berbolak - balik sifatnya, kadang tak menentu arahnya. Ketika suatu saat, hati ini teguh terasa. Tapi, ketika diberi godaan sedikit goyah seketika. Hingga berharap hati kita punya saklar perasa. Agar hati ini berkehendak semau kita. Tentu saja, mustahil kan ya?

Maka, ingatlah bahwa hati ini ada yang menciptakan. Dia-lah Yang Maha Mengetahui dalam berbagai keadaan, termasuk dalam hati kita sekalian. Karena Dia paham, bahwa kita tidak bisa menguasai apa yang ada di permukaan diri hingga di hati yang paling dalam. Sudah sepatutnya, kepada-Nya lah kita bersandarkan. Kepada-Nya lah kita kembalikan, segala apa yang kita pendam.

Karena jika kita memendam sendiri, bisa jadi suatu saat rasa itu pergi. Karena jika kita memendam sendiri, tak ada hal yang pasti. Namun, jika kita sampaikan dalam do’a, Dia lah tahu apa yang terbaik untuk kita. Karena kita sampaikan dalam do’a, itu yang akan tercatat di langit selamanya.

Jangan simpan seseorang dalam hati, karena hati itu berbolak-balik sifatnya. Simpanlah seseorang itu dalam do’a, karena do’a itu tercatat di langit selamanya. - Ustadz Haron Din

Sesama Muslim Loh

Terus terang, saya sungguh lelah dengan banyaknya orang share kegiatan yang bertemakan “Persatuan Indonesia dan Toleransi” dengan segala bentuknya itu, namun disertai dengan caption yang memilukan. Aksi lilin, atau yang terbaru damai sesuatu apa gitu di Yogyakarta.

Bukan, bukan kegiatannya yang saya tidak suka, akan tetapi caption dari netizen - netizen yang menyudutkan dan menurut saya sebagiannya semena - mena. Justru yang seperti inilah menurut saya yang meramaikan anggapan bahwa Indonesia seakan sedang di ambang kehancuran kebhinekaan.

Seringnya diawali dengan cerita manis tentang toleransi dan heterogensi di lingkungan mereka. Tapi lalu ujungnya nyinyirin demo 212 dst.

Kenapa sih harus begitu? Seakan-akan yang demo itu biadab dan ingin Indonesia hancur terpecah - belah.

First of all, you salah tempat, bukan itu yang menjadi poin demo. Bukan karena perbedaan agama apalagi ras yang membuat demo itu terjadi. Felix Siaw yang Chinese juga ikutan btw. Jadi ga ada tekanan terhadap ras Chinese.

Second, di sana banyak ulama, profesional, bahkan ada pejabat dan penulis nasional loh. Dan para nyinyir-ers ngoceh seakan peserta demo adalah orang-orang bodoh. Well jika tidak suka, diam atau komentar namun sopan dan ahsan. Please be remember, kita butuh syafaat para ulama di akhirat nanti.

Third, mereka cuma sedang berjuang. Apakah membuat rusuh dan membunuh orang? Kan tidak. Saya pikir bakal nurunin sentimen investor di Indonesia, ternyata bahkan tidak. Memang terjadi macet di beberapa titik saja, namun ini kan proses demokrasi. Lalu kenapa segitunya dipojokkan? Apakah mereka begitu merugikan?

Fourth, ini yang bikin saya nelangsa sampai kadang menangis. Yang nyinyir itu orang-orang muslim loh!!! Kalau kita belum sependapat dengan mereka, kita harus belajar lagi. Jangan-jangan kitalah yang kurang ilmu, jangan-jangan kitalah yang kurang iman, jangan-jangan kitalah yang kurang tabayyun.

Kalaupun kita sudah merasa benar, ya sudah. Sekali lagi sampaikan komentar bahkan yang kontra sekalipun dengan cara yang ahsan, dengan cara yang sesuai dengan pendidikan yang kau enyam.

Jika metode tafsir Quran saja kamu tidak tahu, jangan coba-coba membantah tafsir Quran ulama. Jika fiqih muamalah dan kisah muamalah Rasul dan sahabat dengan non Muslim saja belum kau pelajari, jangan sekali-sekali komentar buruk tentang ajaran muamalah Islam.

Ah, feel free to give me a damn. I don’t care, anyway.

Kerennya Shalat

@edgarhamas

Kisah ini dimulai dari sebuah peristiwa besar pada 29 Mei 1453 Masehi, ketika benteng Konstantinopel -benteng terkuat di muka bumi kala itu- ditaklukkan oleh pasukan terbaik dan panglima terbaik. Kita mengenalnya dengan baik, namanya Sultan Muhammad II Al Fatih.

Kunci kemenangan mereka bukan pada jumlah pasukan, bukan pada kehebatan taktik, bukan pada kemapanan harta. Tapi pada shalat mereka. Itulah mengapa Muhammad Al Fatih sangat suka menginspeksi pasukannya apakah setiap malam mendirikan qiyamullail atau tertidur pulas. Pasukan terbaik itu adalah pasukan yang ternyata menjaga shalat mereka.

Allah berfirman dalam Al Ankabut 45, “dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah engkau dari melakukan perbuatan keji dan munkar.” Nah, pertanyaannya; jika seseorang melakukan shalat tapi ia masih saja bermaksiat besar, berarti siapa yang salah?

Jawabannya adalah; bukan shalatnya yang salah, tapi manusianya yang belum 100% maksimal dalam shalatnya. Seandainya seorang muslim memahami betul apa yang ada dalam shalat, niscaya dia tidak akan merasa stress, karena ketika dunia terasa sempit untuknya, ternyata langit terbuka lebar menerima doa-doanya. Hebat kan?

Hebatnya shalat adalah; kamu bersujud mendekat ke tanah, namun yang mendengarmu adalah alam langit. Kamu berdoa dengan suara lirih, tapi doa-doamu terdengar begitu jelas sampai langit ke tujuh.

Kerennya shalat adalah; Allah memberi kita nikmat bisa bersujud padanya. Silahkan lihat di jumlah penduduk bumi, hanya 1 milyar manusia yang mendapat nikmat itu. Sedangkan 5 milyarnya gundah kemana harus sampaikan kegundahannya. Akhirnya mereka bersujud pada batu, pohon, lautan bahkan patung-patung tak bernyawa.

Apakah dengan shalat, kita bisa menjadi bangsa yang hebat? Silahkan buktikan, apa yang terjadi pada generasi sahabat? Mereka tadinya adalah penggembala domba di tanah arab yang gersang. Namun dalam jangka waktu singkat, mereka menjadi pemimpin dunia.

Mau menjadi pemimpin dunia? Mari dirikan shalat dan jangan remehkan kedudukannya.

Istri Cerdas

“Maukah aku beritakan kepada kalian wanita paling baik di surga?” Tanya Rasulullah kepada para sahabat.
“Ya Rasulullah.” Jawab para sahabat.
Beliau bersabda “Setiap wanita yang penuh kasih sayang lagi banyak melahirkan anak. Jika suaminya marah kepadanya, maka ia berkata, "Inilah tanganku ada pada tanganmu. Aku takkan pernah bisa memejamkan mata sebelum engkau ridha kepadaku.” (H.R. Thabrani)

Beberapa hikmah yang bisa kita ambil adalah menjadi istri idaman itu kriterianya adalah lembut, subur dan taat pada suami. Taat ini tentunya selaras dengan ketaatan pada Allah. Taat pada suami merupakan bentuk dari taat pada Allah. Landasan utama seorang istru adalah agama yang kokoh.

Syaikh Saleh bin Ahmad al Ghazali menambahkan kriteria istri idaman. Menurut beliau, istri idaman itu memiliki kriteria cerdas, sabar dan sederhana. Kecerdasan memungkinkan seorang istri melihat permasalahan dengan objektif. Kesabaran akan memberi kemudahan baginya dalam keadaan sempit maupun lapang. Kesederhanaan akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi tenang dan nyaman.

Kali ini kita akan membahas tentang istri yang cerdas. Cerdas disini berkaitan dengan komunikasi dengan suami dan juga berkaitan dengan cara menyelesaikan masalah dalam rumah tangga.

Istri sebagaimana umumnya perempuan, mayoritas mengedepankan perasaannya dibandingkan logikanya. Berkebalikan dengan suami yang lebih mengedepankan logika. Seringkali bentuk kasih sayang yang diberikan kepada pasangan sesuai dengan keinginan sendiri. Sebagai contoh, seorang istri jika memiliki masalah lebih butuh teman cerita ketimbang solusi. Ketika menemui kondisi suami yang dalam masalah, istri berfikiram bahwa dengan bercerita beban suami akan mereda. Maka, ia memaksa suaminya untuk bercerita. Maksud dari istri tentu baik, namun akan diterima berbeda oleh suami. Suami akan merasa terganggu saat memiliki masalah kemudian direcoki istrinya untuk bercerita. Suami ketika memiliki masalah lebih memilih masuk ke dalam ‘gua’ untuk memikirkan jalan keluarnya.

Niat yang baik jika tidak mengetahui ilmunya bisa jadi akan menimbulkan keburukan. Bisa jadi suami akan marah ketika dipaksa istri untuk bercerita. Dalam hal ini kita perlu belajar pada Bunda Khadijah.
“Selimuti aku, selimuti aku” kata Muhammad kala itu. Khadijah tak bertanya yang ia lakukan adalah menyelimuti sang suami dan memberikan ketenangan dan kenyamanan tanpa pertanyaan mengganggu seperti “Kamu kenapa?”
“Kedinginan kah?”

Hal lain yang perlu dimiliki seorang istri adalah kemampuan memberikan penghargaan kepada suami. Laki-laki perlu diberikan ruang untuk memberikan keputusan dan melakukan berbagai hal dalam keluarga. Hal itu yang menjadikan ia orang yang dibutuhkan dan dihargai karena kemampuannya dalam memimpin rumah tangga.

Selanjutnya adalah kemampuan seorang istri untuk menasehati suami. Dalam berumah tangga tentu suami tak selalu benar. Jika salah sudah seharusnya diberi nasehat. Istri yang cerdas akan menyiapkan suami untuk menerima nasehat dan menemukan waktu yang tepat untuk dinasehati. Suami kita tentunya tak sebaik Umar yang ketika dimarahi diam saja. Bisa jadi ketika dinasehti akan membuatnya marah. Lalu bagaimana? Suami sebagaimana fitrahnya menjadi pemimpin cenderung memiliki persepsi ia yg benar. Ketika melakukan kesalahan dan langsung diberi nasehat, ini akan membuatnya merasa tidak dihargai sebagai pemimpin.

Penerimaan atas kesalahan suami adalah kunci agar suami mau mendengarkan nasihat istri. Tetap tunjukkan akhlak yang baik ketika suami melakukan kesalahan. Sampaikan nasihat saat suasana tenang dan cair dengan bahasa yang baik dan dengan ketulusan.

Semoga kita menjadi seorang istri cerdas, istri yang mampu mencintai suami sebagaimana ia ingin dicintai hingga Ridho Allah terlimpahkan pada keluarga kita. (tw)

Sumber : Bahagianya Merayakan Cinta Barakallahulaka

🌷SUPERMOM’s NOTE🌷
Edisi #marriedbydesign 13 Mei 2017

🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
💌Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com
💌 Fanpage FB: Supermom Wannabe
💌 Twitter & Instagram: @supermom_w
💌 Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
💌 WhatsApp: +6285725105272

Sampaikan Maafku

Sampaikan maafku, pada perempuan-perempuan yang kucemburui dengan terlalu. Perempuan-perempuan yang dimataku terlihat begitu dekat padamu, yang mudahnya bercengkerama tanpa diliputi debar-debar yang tidak menentu. 

Sampaikan pula maafku pada Tuhan, sebab membiarkan aku yang jatuh padamu dengan terlalu. Aku yang beraninya menghidupkanmu, menempatkanmu pada tahta tertinggi. Sampaikan maafku.

Sampaikan maafku pada kamu, yang kucintai dengan begitu. Yang diam-diam kuhidupkan ambisi untuk memilikimu. 

Sampaikan maafku pada aku yang tak bisa menjaga hatiku sendiri.

Malang, 23 Juli 2017.

Orang pendiam bukan berarti ia tak punya apa-apa untuk disampaikan. Orang yang banyak bicara bukan berarti pikirannya penuh sehingga ia banyak menumpahkannya.

Orang bijaksana memilih tak banyak bicara karena mereka paham, semesta ide di pikirannya harus ia sampaikan dengan benar tanpa kehilangan esensinya. Maka ia memilih waktu yang tepat dan diksi yang tepat untuk membentangkannya di alam kata-kata.

Sedang orang tak berilmu lebih suka menumpahkan kata-katanya berserakan tak beraturan, karena di lubuk hatinya ia sadar ia tak punya apa-apa, maka berbual besar jadi pertahanan terakhirnya. Dan pada akhirnya… ia akan jatuh juga karena pertahanannya begitu ringkih.

—  @edgarhamas

Sampaikan Pada Ayahmu

Sampaikan pada ayahmu. Jika ada laki-laki yang akan meminangmu, itu aku. Aku bukan laki-laki sempurna, tentu saja. Tapi aku punya segudang kesabaran untuk menghadapi suasana hati putrinya yang kadang naik, kadang juga turun.


Sampaikan kepada beliau, aku tak akan mencurimu dari sisinya. Aku hanya ingin mengambil alih tugasnya. Meneruskan amanah yang dianugerahkan oleh Allah untuk menjagamu. Membimbingmu menjadi wanita yang lebih baik, dari hari ke hari.


Mungkin, nanti, caraku membahagiakanmu akan berbeda dengan cara ayahmu membahagiakanmu. Jika ayahmu dulu membelikan sebuah boneka di hari ulang tahunmu, aku akan membuat sebait puisi untukmu. Atau, aku akan menulis sebuah novel yang isinya kau dan aku; cerita-cerita kita.


Apa? Kau tak suka puisi? Baiklah kalau begitu. Aku akan membahagiakanmu dengan doa-doa, agar keluarga kita selalu dilimpahi keberkahan oleh-Nya.


Sampaikan pada ayahmu. Bahwa tak mudah untuk meraih hatimu. Kau berbeda dengan kebanyakan perempuan. Tak gampang takluk oleh segenggam puisi. Juga, tak mudah merayumu dengan kata-kata manis dan bersayap. Maka, aku tidak merayumu, tapi merayu Tuhan-mu, agar kita dipasangkan sebagai sepasang kekasih untuk selama-lamanya.


Terakhir, sampaikan pada ayahmu. Restunya sangat berarti bagiku, juga kau. Aku akan membangun keluarga kecilku denganmu. Maka, aku akan menemuinya.


Secepatnya.


Semoga tak ada laki-laki lain yang mendahuluiku. Aamiin.


|| Ruang, 4 Oktober 2017, 01.17 ||

MENGAPA DO’A MU LAMA?

“Gila, lama banget doanya. Emang kalo do’a ustadz mah beda”

Temanku membercandai ku, karena memang kalau setelah salat berjamaah, aku selalu menjadi orang yang paling terakhir selesai membaca do’a.

“Bukan karena ustadz, tapi maklum, lagi banyak kepengen. hehehe. Padahal kalau bukan karena ajakanmu pergi ke tempat makan, aku masih mau do’a lagi sebentar.” Jawabku.

“Wah, lama amat. Itu aja udah lama, terus masih mau ngedoa lagi. Emang do’a apa aja sih?” dia penasaran.

“Banyak dong. Aku doa biar dosaku diampuni, terus doa biar dikasih rezeki, doa biar dikasih surga, doa biar kaya raya, doa biar dapet jodoh yang baik, doa biar dapet keturunan yang banyak, terus juga keturunan yang soleh dan solehah, belum doa biar dapet rumah, doa biar orangtua masuk surga, doa biar dikasih kesehatan, wah, masih banyak pokoknya” Jawabku.

“Waduh, banyak amet. Emang bakal semua dijabah?” dia tambah penasaran.

“Pasti dijabah dong. Setiap doa itu pasti dijabah, tapi akan dijabah dalam 3 bentuk. Pertama, Allah kasih sesuai apa yang kita minta. Jika tidak, maka yang kedua, segala keburukan yang mungkin terjadi akan dihilangkan. Jika tidak, maka yang ketiga, doa yang tak terkabul di dunia, akan menjadi tabungan pahala yang bisa diambil nanti di akhirat. Ya Jadi, doa mah muluk-muluk aja yang banyak. Kan, nothing to loose ini.” Jawabku.

“Lagian, beres shalat itu, selain kita harus berdzikir minta ampunan, itu adalah momen terbaik untuk kita minta doa, mumpung masih konek nih hati kita sama Allah” Aku menambahkan.

“hmm, iya iya iya” Dia mengangguk, nampak mencerna apa yang aku sampaikan.

“Sebenernya, Aku suka heran deh, sama orang yang abis shalat, langsung tiduran, atau langsung ngecek handphone atau langsung berdiri pergi, tapi setelah itu dia duduk-duduk santai.” Aku bertanya keheranan, sambil memalingkan muka dari wajahnya ke arah langit-langit musholla.

“Apa hidupnya sudah suci, sampai-sampai tidak berdoa minta ampunan atas dosanya? apa hidupnya sudah sempurna, sampai-sampai tidak meminta apapun untuk hidupnya? Entahlah, cuman dia yang tau. Aku hanya penasaran saja.” Aku kembali bertanya, sambil terus memandang atap langit ruang musholla.

“Glek” terdengar suara temanku menelan ludah.

Dia tau benar, aku sebetulnya sedang menyindirnya.


MENGAPA DO’A MU LAMA?
Bandung, 7 Februari 2017

Tuhan, sampaikan berjuta sayangku untuknya, dan aku pun tau, sekalipun takkan Kau biarkan buah hati kesayanganmu terbelenggu dan mati,

Kala teringat masa kecilku,
Saat dengan hangat kau manja dan kau peluk bayi kecil dipangkuanmu,
Amat indahnya masa-masa itu,
Entah apa yang mengingatkanku saat ini pada bayang indah kasihmu,
Saat itu, kau selalu membuatku melambung, dan tak sekalipun aku membalasnya dengan cara yang lebih baik darimu.

Teringat masa kecilku kala itu, terngiang disampingku, saat kau uraikan dengan teramat halus akan beberapa harap mimpi dan doamu untukku, sembari ku menangis dipangkuan sejuta kehangatanmu.

Harum nafas dan tubuhmu, takan mampu ku lupakan semudah kau memberikan cintamu.

Teringat masa kecilku,
Saat dengan begitu polosnya aku menangis dipangkuanmu, saat itu kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu, menjauhi ganas godaannya, dan tak lupa menuruti segala perintah sederhanamu.

Aku berjani padamu, betapa aku mencintaimu dengan begitu besarnya,

Sabarlah Ayah, suatu hari nanti akan kupenuhi segala harap dan inginmu, yang mungkin akan kulakukan kala aku beranjak dewasa dan tua nanti.

Dan andaikan waktu itu menghampiri dan menyapaku kembali, kan ku ulangi segala kehangatan itu, kan ku lakukan inginmu semampu dan sekuatku akan segala yang pernah kulewati, serta segala tawa yang ku jalani tanpamu kala itu, ingin ku melaluinya bersamamu, merindu hangat kasih dan cintamu.

Maafkan aku, masih kau melihatku tak sesuai inginmu, kerap kumenjadikanmu lepas emosiku, kerap ku menyusahkanmu, dan tak sekalipun membanggakanmu.

Dengarlah Ayah,
Jagalah selalu anakmu ini, jangan bosan kau ingatkan yang terbaik untukku.
Dan jangan sekalipum kau biarkanku jatuh dan terhempas didunianya.

“Ayah, aku mencintaimu, meski rasa cintaku takkan mampu menyaingi segala ketulusanmu.”

@badutcerdas

2017, September, 23

Let’s Rise!

Pernah nggak, kalian berada di suatu titik di mana kalian nggak siap bertemu siapa-siapa? Teman lama, keluarga jauh, kenalan, tetangga, atau bahkan orang baru. Kalian cuma pengen sendiri saja, tanpa disentuh oleh dunia luar. Alasan utamanya karena takut atau lebih spesifik-nya karena kalian insecure.

Rasa insecure yang didasari oleh pikiran “aku masih gini-gini aja” sementara yang lain sudah hidup stabil, punya kerjaan mapan, barangkali sudah ngenalin calon pasangan ke orang tua dan berencana menikah dalam waktu dekat. Dan, aku sendiri nggak punya hal menarik yang bisa diceritakan ke orang lain.

Kalian pernah? Aku pernah.

Nggak tau kenapa bulan Oktober selalu berhasil membuat aku menjadi lebih melankolis. Banyak hal yang ingin aku sampaikan di sini, salah satunya ini. Aku tau, postingan-ku belakangan ini terbaca terlalu gloomy atau kesannya ngeluh mulu. Tapi, aku tetap merasa perlu untuk menulisnya.

Aku pernah merasa sekosong dan sebuntu itu. It was hard. It will be hard. And I know, there is no guarantee from other people to fix and heal my pain, my sadness, and my insecurity. So, I choose to rise. Lalu, ada satu hari di mana aku terbangun dan menemukan sebuah pesan yang membuat aku semangat lagi. Pesan itu singkat saja, tapi cukup membuat hariku lebih berwarna dari sebelumnya.

Karena dia menghargaiku. Eksistensiku, usahaku, dan kemampuanku. Dia percaya kalau aku bisa dan dia dengan sungguh-sungguh memberikan semangat. See, it was just a simple message. Tapi, efeknya dashyat. Dia secara tidak langsung mengingatkan aku kalau aku masih punya hal yang bisa dibagikan ke orang-orang. Aku–nggak seburuk dan nggak senggak berguna itu.

Teman-teman, aku tau kita punya bentuk keresahan yang berbeda-beda. Aku juga nggak bisa jamin kesedihan kita akan segera berakhir, tapi bertahanlah sekuat mungkin, banyak-banyak bersyukur atas apa yang sudah ada, dan percaya–setelah hujan selalu ada pelangi, setelah air mata selalu ada kebahagiaan lagi. Don’t worry, all problems are just temporary.

And as I said before, let’s rise.
This super-duper great day is going to be your day!

Jadi, begini Al Quran sampaikan padamu dengan terang; Musa yang kala itu bayi mungil nan keadaan paling lemah, tidak tenggelam di sungai Nil walau alirannya deras. Sedangkan Firaun, justru tenggelam oleh air di saat-saat terkuatnya, terpongah dan terangkuhnya.

Allah gambarkan pada kita; betapa dengan mudahnya Dia atur sebaik-baik makar, yang manusia terlemahpun Dia menangkan, sedang manusia terkuatpun dengan sekali hempasan Dia binasakan.

Tetaplah optimis memandang masa depan, “Aku tidak takut akan masa depan umat Islam”, kata DR Muhammad Natsir, “selama mereka masih berpegang pada din-mereka, baik secara pribadi maupun kolektif.”

—  @edgarhamas
Pura-pura Sempurna

Ada masanya ketika kamu merasa ingin (dan harus) berubah setiap hari; menjadi terus-menerus lebih baik. Terkadang, bahkan sebelum memulainya, kamu sudah merasa lelah.

Bayangan-bayangan harus memalsukan ekspresi wajah demi tidak membuat orang lain lebih susah. Bayangan-bayangan harus menguatkan diri ketika sedang begitu lemah. Bayangan-bayangan harus meredam segalanya untuk tampak baik-baik saja ketika ingin sekali berteriak marah. Pun, segala bayang-bayang lain yang memang harus dimulai dengan pura-pura.

Pernah dengar tentang fake it ‘til you make it, kan? Tidak apa-apa. Terkadang memang harus berpura-pura segalanya berjalan sempurna agar segalanya benar-benar berjalan sempurna. Setidaknya, cukup sempurna dalam sudut pandang yang terus dibenarkan dan diluruskan.

Untuk perubahan diri sendiri, lakukan juga hal yang sama. Bayangkan seseorang sempurna yang bisa meredam segala emosinya. Bukan memendam. Tetap sampaikan segala perasaan jika keadaan sudah jauh dari letup-letupnya. Bayangkan pula sosok yang paling ingin kamu temui ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja karena bersamanya segalanya bisa tampak tetap baik-baik saja. Dan, menjadilah!