sama-bapake

Lelaki Pertamaku

Bapak      : mbak lagi apa? | Aku         : lagi nonton tv | Bapak     : disana betah kan? | Aku         : iya | Bapak    : kalo pengen makan apa beli aja gak usah ngirit-ngirit | Aku        : aku gak ngirit kok, lha emang makanannya adanya cuma itu | Bapak    : yaudah belajar yang pinter nanti desember bapak sama mama kesana | Aku        : iya Sedikit obrolan bersama bapak, sosok yang tangguh dan pekerja keras. Aku termasuk orang yang jarang sekali mengobrol dengan bapakku sendiri. Entah karena malu atau apa tapi aku dan bapakku sama-sama orang yang tidak bisa mengungkapkan rasa sayang dengan mudah. Kami sama-sama gengsi untuk mengungkapkan perasaan kami.Aku tahu bapak sangat menyayangiku. Apapun yang aku inginkan selalu berusaha beliau kabulkan. Aku ingat, dulu saat aku SD aku selalu minta diajari mengerjakan PR oleh bapak. Tapi ketika itu sepertinya bapak sedang benar-benar banyak pikiran dan lelah dan aku dimarahi karena tidak bisa mengerjakan soal matematika. Aku takut, aku menangis. Semenjak itu aku bertekad mengerjakan PR-ku sendiri, aku tidak mau mengandalkan bapak lagi. Semenjak itu aku jadi jauh dari bapak, apalagi saat aku kelas 2 SD bapak pindah mengajar di Jakarta. Aku bersama ibu dan adikku masih tinggal di Salatiga. Bapak pergi karena ingin mendaptkan penghasilan yang layak untuk kami semua. Aku dan Bapak menjadi semakin jauh. Kami hanya saling menanyakan kabar lewat telepon sebulan sekali, karena pada saat itu kami belum punya telepon genggam dan kami hanya mengandalkan wartel setiap minggu pagi agar tarif teleponnya murah. Beberapa tahun kemudian, bapak mengajak kami pindah ke daerah di sekitar Jawa Barat yang dekat dengan Jakarta agar kami bisa bertemu bapak setiap hari. Kami tinggal di rumah budhe kakak dari bapak– yang rumahnya diperbolehkan untuk kami tinggali sampai sekarang Setelah kami pindah disana, setiap hari bapak harus pulang-pergi Jakarta-Cikampek setiap hari. Berangkat saat fajar masih tertidur dan pulang saat fajar telah terlelap. Sungguh betapa tangguhnya bapakku ini. Dengan gaji yang tidak seberapa, bapak rela pulang pergi mengajar murid-muridnya. Aku sesekali sempat tersadar saat aku sering bermalas-malasan dan mengeluh, aku ingat bapak yang tidak pernah bermalas-malasan dan mengeluh saat harus pulang malam. Saat bapak mengeluh aku rasa beliau sedang benar-benar jenuh dengan rutinitasnya. aku sebagai anak hanya bisa apa? Aku hanya bisa menyuguhkan teh saat bapak pulang dan sesekali memijitnya jika aku sempat dan sedang tidak belajar. Aku ingat saat aku harus tes masuk perguruan tinggi negeri, bapak rela pukul tiga pagi mengantarku ke Jakarta menaiki motor. Hujan, dingin, gelap hanya itu yang aku rasakan saat membonceng dibelakang bapak. Ohh jadi seperti ini ya yang bapak rasakan setiap hari, kedinginan saat aku masih terlelap tidur. Saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru yang pertama, namaku tidak tercantum dalam daftar mahasiswa yang diterima. Aku sedih, Bapak juga nampak kecewa. Pada saat itu bapak mengatakan,kamu ini belajar apa? Masa kaya gini aja sampe gak diterima? Aku malu, aku kecewa pada diriku sendiri. Maaf pak, aku belum bisa membalas pengorbanan bapak, tapi aku yakin tesku yang kedua pasti membawa kabar yang menggembirakan. Benar saja, saat aku membuka hasil ujian masuk perguruan tinggiku yang kedua, AKU DITERIMA, ALHAMDULILLAH YA ALLAH. Aku menangis senang, ibuku juga. Aku berkata dalam hati, pak ini aku persembahkan almamater negeri buat bapak, bapak yang udah rela mengantarku dengan keadaan mengantuk dan hampir saja kami celaka. Pak ini untuk Bapak. Saat aku mengabarkan itu pada bapak, aku tahu bapak senang, tapi bapak juga harus menahan rasa sakit dan sesak di dadanya. beberapa bulan terakhir ini bapak di diagnosa terkena diabetes melitus. Tubuhnya yang gagah kini semakin lama semakin kurus. dadanya sering sesak karena kadar gula dalam darahnya tinggi. Aku sangat kasihan melihat bapak seperti itu.Ya ALLAH kenapa Engkau memberikan cobaan yang seberat ini pada bapak. Penyakit bapak ini merupakan penyakit keturunan dari keluarga bapak. Hampir semua kakak dari bapak terkena penyakit ini. Aku juga diminta untuk berhati-hati karena aku juga carrier dari gen ini. Aku bisa saja terkena penyakit ini suatu saat. Aku sungguh tidak tega melihat bapak yang kesakitan setiap hari. Aku hanya bisa mendoakan bapak agar cepat sembuh. Kini, sudah dua bulan lebih aku tidak bertemu bapak, saat berpamitan dulu aku juga tidak bisa secara terang-terangan meluapkan perasaanku. Aku masih malu-malu saat berpamitan pada bapak. Kemarin, ibu memberi kabar bahwa bapak harus ke rumah sakit untuk periksa karena tidak nafsu makan dan dadanya semakin sesak. Setelah di bawa ke rumah sakit ternyata jantung bapak mengalami pembengkakan sehingga menyebabkan kakinya menjadi membesar dan dadanya menjadi sesak. Alhamdulillah akhirnya aku tahu selama ini bapak sakit apa, karena bapak termasuk tipe orang yang enggan untuk memeriksakan diri ke dokter karena takut biaya berobatnya mahal. Mending buat kalian makan dari pada buat bapak berobat. Sebenarnya buat kami kesehatan bapak itu lebih penting dari segalanya.Bapak meneleponku sambil menangis saat itu, ibu bilang bapak kangen denganku.
Sekali lagi aku masih gengsi untuk menyapa bapak. Bapak, kalau bapak baca tulisan ini, ini adalah ungkapan perhatianku pada bapak, bapak yang sehat ya. Jangan lupa minum obat yang rutin, kontrolnya juga yang rutin. Jangan lupa sholat wajib, puasa sunah, sholat malam dan baca Al Qur'an, in shaa Allah bapak dikasih kekuatan sama Allah. Bapak, aku disini juga kangen sama bapak, aku disini tetep doain bapak. Bapak juga doain aku terus ya supaya sukses kuliahnya disini. Supaya aku bisa berprestasi dan jadi anak sholehah selama disini.Insya Allah aku akan bawa bapak berobat ke tempat yang bagus biar bapak cepet sembuh. Doakan aku supaya sukses dunia dan akhirat ya pak, aku sayang bapak. Semarang, 10 November 2014

Bismillaahirrahmaanirrahiim 😇
Ibuk sering bilang:
“Nak, mulai sekarang harus belajar bersyukur dalam keadaan apapun.
Lagi seneng dikasih nikmat sama Allah harus ingat padaNya.
Begitu juga kalo lagi ditimpa musibah, harus banyak minta ampun pada Allah dan tetap bersyukur.
Jangan hanya karena kita belom dikasih sesuatu sama Allah lantas kita jadi kufur, padahal kalo disuruh menghitung nikmat yang sudah Allah kasih ke kita, percayalah kita tak akan sanggup
.
Hidup cuma sekali nak, itu pun cuma sebentar.
Nurut ya sama aturan Allah, supaya tak ada penyesalan di akhirat kelak karena tak akan ada gunanya.
Maaf y nak, ibuk cerewet ya suka bilang tentang ini ratusan kali?
Ibuk sayang sama kamu, ibuk maunya nanti di surga tetep bisa kumpul sama kamu, bapak, sama adek.”
.
Ibuk, aku juga sayang sama ibuk 😘😘😘😘
.
@hindipendent X @byummubalqis

Made with Instagram