salip

Dia di Malam Hari

Ku pejamkan mata seiring seringnya ku buka mata,
seperti ada yang belum ku jatuhkan,
seperti ada yang belum ku pecahkan,
entah apa yang tak bisa ku singkirkan,
malam ini seakan semuanya menahanku,
menahan dalam diam,
gelap, dingin membuatku lumpuh seketika.
Ku sangka semuanya sudah,
ahh.. entah apa dan kapan,
sketsamu tergambar jelas di sela sela malam dan siang, tapi..
tubuhku terlanjur rapuh,
tak berdaya terdepan menghadap kemunafikan,
malam berlanjut, salip menyalip dengan siang, tak bisa kubayangkan,
entah esok pagi, siang, entah senja,?
tak ada sapaanmu, bak pelukan tanpa rengkuhan,
walau terus ku tantang malam untuk membuka sinarnya.

@BadutCerdas

trisula

“It hurts because it matters”

Dalam mitologi Yunani kuno, ada dewa-dewa yang dipercaya mengendalikan alam semesta. Satu diantaranya, Poseidon sang penguasa laut, sungai dan danau. Poseidon punya senjata khas berupa trisula yang konon bisa meluluhlantakkan bumi saat dipukulkan. 

Secara harfiah, trisula berarti tiga tombak. Sesuai dengan bentuknya yang mirip garpu besar dengan tiga ujung lancip. Kita bisa menjumpai “trisula” lewat lisan seseorang. Bentuknya berupa tiga pertanyaan sederhana yang menancap dan kerap mengusik emosi. Persoalan-persoalan ini akrab sekali dengan momen reuni.

1. “Kapan nyusul?”

Kata tanya kapan masih kedengeran oke sampai kita berusia 20-an. Dari saat itu, kapan punya rasa yang berbeda dengan apa, gimana, dimana, siapa dan kenapa. Terlebih lagi waktu ditanya di acara nikahan, maknanya jadi kapan nikah? Coba tanyain kapan nyusul? ke anak SD kelas satu. Dijamin, bikin bengong.

Kita yang ditanya, cengengesan sambil garuk belakang kepala. Dikiranya di belakang kepala ada jawaban. Tapi ternyata enggak. Supaya aman, kita menggulirkan kembali bola panas sama si penanya. Seberes topik pernikahan, kelak akan muncul kapan nyusul-kapan nyusul lain yang enggak ada habisnya.

Nyatanya, nikah beda dengan Moto GP dan kita bukan Rossi. Kenapa harus salip-menyalip kalau garis akhirnya beda? Kalau anak tetangga nikah ahad pagi, kita enggak harus nikah tiga milidetik setelahnya. Toh setiap orang punya ikhtiar tersendiri untuk menyegerakan. Setiap orang punya takdirnya masing-masing.

2. “Kok gemukan?”

Obrolan seputar kegemukan masih membahagiakan sampai kita balita. Waktu masih balita, gemuk sama dengan sehat. Kita hepi pas montok sebadan-badan, dulu. Enggak tau siapa yang memelopori topik angka timbangan sebagai pembuka obrolan. Patokan utama, apalagi kalau bukan volume pipi dan lengkung derajat perut di balik kemeja.

Kita yang disinggung kok gemukan? cuma bisa menimpali singkat “iya nih”. Ya, gimana. Menggemuk kan hak asasi manusia. Kalau memang disengaja, enggak masalah. Konsep. Kalau enggak disengaja, baru deh masalah. Bisa jadi karena aktivitas yang mewajibkan banyak duduk, jarang berolahraga atau jadwal makan yang berantakan.

Saya pernah nonton Sarah Sechan waktu lagi diwawancara di layar kaca. Ada pernyataan “Saya heran sama budaya kita. Suka banget ngomentarin fisik orang yang udah lama enggak ketemu. ‘Gemukan, ya?’. Emangnya enggak ada bahasan lain?”

3. “Kerja dimana?”

Buat saya, kalimat ini kerasa pas saat ditanya sama mereka yang bekerja dan berstatus pegawai. Sayangnya enggak semua orang begitu, ada yang menggeluti bidang nirlaba atau ngembangin bisnis sendiri. Enggak heran pickup line ini jadi yang terpopuler sejak kita selalu pengen tau latar belakang seseorang lewat mata pencahariannya.

Saya pernah nanya sama seorang rekan dan langsung kikuk saat dijawab “Nganggur nih, masih nyari”. Ups, salah. Di kejadian kedua, saya ditanggapi “Kenapa semua orang nanya gitu, ya? Gw enggak kerja, gw peneliti”. Dari situ, saya sadar kalau enggak semua orang nyaman dengan pertanyaan kerja dimana? Saya pun merevisinya dengan kesibukan sekarang apa? karena siapapun pasti punya kesibukan walau enggak bekerja.

“Words can inspire. Words can destroy. Choose yours well”

“Trisula” lisan bisa melukai hati karena alasan yang hadir di belakangnya berpengaruh besar untuk sebagian orang: jodoh, penampilan dan karir. Ketidaknyamanan atas tiga pertanyaan klasik ini jadi hal tabu yang jarang mengemuka. Sepele, tapi penting.

Setiap orang akan menikah pada waktu-Nya sejak enggak ada yang tau persis kapan peristiwa-peristiwa penting terjadi di hidup kita. Setiap orang akan menggemuk atau mengurus pada waktunya sejak enggak ada yang pernah tau kapan pola hidup berubah. Setiap orang akan gemilang dengan cara-Nya sejak enggak ada yang pernah tau kemana takdir akan berarah.

Ada sejuta cara mengawali obrolan di momen reuni. Berbasa-basi enggak harus basi karena kesantunan tetap harus diutamakan semenjak yang kita temui adalah makhluk berperasaan. Maka, berkatalah saat memang harus. Lebih baik diam saat ucapan dirasa enggak berdayaguna. Alasannya sederhana.

Luka akibat kata-kata lebih menyengsarakan dibandingkan tertusuk trisula.

Test Drive

Hari ini (1/6) Rara (nama mobil saya) diseruduk dari belakang oleh pengendara sepeda motor. Saya menghentikan Rara karena ada truk yang tiba-tiba belok di depan, kecematan mobil hanya berkisar 30-40 km/jam dalam kondisi padat. Motor yang nyeruduk jelas kecepatan lebih dari itu.

Stereotip yang ada di jalan adalah, kalau ada kecelakaan antara mobil dan motor. Yang salah adalah mobil. Kecepatan mobil tidak akan lebih dari 40km/jam di jalan yang padat dan sempit, itu adalah fakta. Dengan badan kendaraan yang besar, tidak bisa asal salip seperti motor. Tapi, mau gimanapun. Ada bentukan yang stereotip yang lebih besar bahwa memiliki mobil = kaya, kemudian kalau ada kecelakaan yang “kaya” harus bertanggungjawab meskipun pada fakta di lapangan yang salah adalah pengendara motornya.

Rara rusak bumper belakangnya (dan besok mau saya copot). Sebagai pengguna kedua jenis moda transportasi itu (motor dan mobil), saya memahami perspektif keduanya. Bagi yang tidak pernah menyetir mobil, mungkin tidak tahu bagaimana pusingnya berada di jalanan di tengah ruwetnya dan tidak tertibnya pengendara motor. Sebab itu pula, ketika berkendara motor saya lebih berhati-hati dan toleran terhadap pengguna mobil.

Memahami perspektif keduanya memang penting.

Tapi, ada satu perenungan menarik selepas kejadian hari ini. Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa kondisi jalan raya (lalu lintas) sebuah negara memperlihatkan kondisi negara dan masyarakatnya dalam banyak hal (hukum, pendidikan, dsb). Jalan adalah tempat ujian psikologis (psikotest) yang lengkap.

Bagaimana kondisi psikologis seseorang dalam situasi lalu lintas yang tidak teratur, bagaimana menyikapi rambu dan lampu lalu lintas, bagaimana menghadapi macet, bagaimana parkir dan sebagainya bisa menggambarkan pribadi seseorang. Mungkin kalau ada ujian seleksi calon pasangan hidup, harus ada “test drive” di jalan raya (khususnya di Indonesia), haha.

Menjadi pengemudi (driver) itu memastikan kendaraan yang dibawa sekaligus penumpang di dalamnya selamat dari satu tempat ke tujuannya. Bagaimana kalau pengemudinya tidak taat aturan, tempramental, suka ngebut, membahayakan orang lain (juga penumpangnya), merokok di dalam mobil (saya sangat membenci ini), atau suka mengumpat pengendara lain hanya karena di salip atau macet, tidak sabaran, dan lain-lain.

Mengemudikan kendaraan itu benar-benar bisa menunjukkan karakter seseorang. Kan kalau mau mengenal seseorang ada 3 hal yang perlu dilakukan;

  1. Melakukan perjalanan bersama
  2. Menginap bersama
  3. Pernah bertransaksi (entah hutang piutang atau jual beli)

Berkendara adalah penjabaran kecil dari poin nomor satu. Bagaimana perjalanan di jalan menjadi media untuk kita tahu bagaimana kondisi psikologisnya.

Kan kita tidak mau dan tidak nyaman melakukan perjalanan bersama dengan orang yang bagi kita tidak asyik buat diajak jalan bareng, apalagi membahayakan perjalanan tersebut. Apalagi, perjalanan itu seumur hidup :)

Yogyakarta, 1 Juni 2016 | © Kurniawan Gunadi

2

Traditional Dances from the Philippines
Salip

Ethnic groups from the mountain provinces of Luzon preserve their identity, customs and lore. Their dances celebrate important events in life such as birth, wedding, victory in war and thanksgiving. A Kalinga wedding dance is an important celebration. The bridegroom offers the bride the protection and comfort of his blanket. He simulates the movements of a rooster at love play, aspiring to attract and seize his love. The bride’s friends are ready to help prepare the bride by offering “bangas” (earthen pots) filled with fresh water from the mountain spring.

Photo Source: [x]