sakit

Cerpen - Malu dan Syukur

“Kamu agak gemukan ya?” tanya dokter rahmad padaku

“Masak sih, dok?” dalam hati bahagia setegah gak percaya

“Iya, liat tuh pipi kamu. Coba kamu kesana, keruang perawat. Disana ada timbangan, coba kamu timbang, sekarang.” pintanya.

Tanpa banyak protes aku menuju ruang perawat untuk sekadar mampir menimbang berat badanku ini.

“Berapa?” tanya dokter rahmad.

“48 kg” jawabku

“Tuh kan bener dugaanku. Kamu agak gemukan sekarang, vitamin yang kemarin kamu rutin kan ya?”

Aku mengangguk tanda mengiyakan

“48 kg it termask progres yang baik.”

“Idealnya berapa?”

“52kg, itu berat ideal yang pas buat kamu. Kamu tinggi soalnya.”

“Yah, harus banyak makan lagi ini. Pfft.” keluhku di depan dokter rahmad

Dokter rahmad tersenyum mendengar keluhku.

“Kayak gak ada syukurnya ya, dok.” sambungku lagi dengan tersenyum kecut

“Ikuti aku sekarang, jangan bertanya sampai aku memberikan kau izin untuk bertanya.”

Aku mengangguk kembali.

Kami menyusuri beberapa bagian rumah sakit dokter soetomo, melewati beberapa wajah lelah namun tetap terlihat tabah dengan melihat beberapa senyum dari mereka yang mereka lontarkan pada dokter rahmad.

(Dokter rahmad adalah salah satu dokter yang sejauh ini saya lihat paling dekat dengan para pasien).

Sampailah kami di salah satu ruangan. Sedikit gemetar dan ada perasaan takut ketika memasukinya. Kulihat beberapa orang berbaring sambil beberapa alat telah menempel di beberapa bagian tubuh mereka.

“Hallo sayang, apa kabarnya sore ini.” tanya dokter rahmad pada salah satu pasien anak kira-kira rentang usia 6-7 tahun berhasil membuyarkan lamunanku sesaat.

“Dokter aku mau pulang, tapi ibu melarangku untuk pulang.” jawab anak itu yang kutahu namanya adalah afif dari papan nama pasien.

“Nanti ya, setelah afif sembuh. Baru afif boleh pulang.”

“Asik, nanti kasih balon lagi dok. Yang banyak dokter.”

“Iya, dokter janji.” dokter rahmad menenangkannya.

“Anaknya sakit apa, Bu?” tanyaku ramah pada ibu afif yang berdiri sambil mengelus kepala afif.

“Gagal ginjal, bu dokter. Ginjalnya bermasalah sejak lahir. Tubuh afif pernah hitam. Bahkan sempat koma dan dirawat 4 bulan. Pernah juga…”

Aku tidak sanggup mendengar lebih banyak. Ini buka kali pertama aku mendengar seorang anak kecil yang menderita gagal ginjal. Cepat-cepat kutundukkan kepalaku karena malu. Sumur airmata di mataku mendadak deras berjatuhan.

Malu || 16.46

Orang alim-alim zaman dulu kalau mereka sakit, mereka akan bersedekah banyak-banyak. Sebab mereka tahu hikmah sedekah ni; bukan saja dapat pahala dan didoakan malaikat, malah juga mampu menyucikan dan menyembuhkan (InsyaAllah). Jika tak mampu beri banyak, kita sedekahlah sedikit, jika tak mampu dengan duit, bantu orang lain. Tolong apa termampu dengan masa, idea mahu pun tenaga dan doa kita.
—  Jom!
💥15 Hikmah Sakit - By: Salim A Fillah

1. Sakit itu dzikrullah.
Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma ALLAH di banding ketika dalam sehatnya.

2. Sakit itu istighfar.
Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.

3. Sakit itu tauhid.
Bukankah saat sedang hebat rasa sakit,kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?

4. Sakit itu muhasabah.
Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi,menghitung-hitung bekal kembali.

5. Sakit itu jihad.
Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah,diwajibkan terus berikhtiar,berjuang demi kesembuhannya.

6. Bahkan Sakit itu ilmu.
Bukankah ketika sakit,dia akan memeriksa,berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit.

7. Sakit itu nasihat.
Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri,yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar,ALLAH cinta dan sayang keduanya.

8. Sakit itu silaturrahim.
Saat jenguk, bukankah keluarga yang jarang datang akhirnya datang membesuk,penuh senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah.

9. Sakit itu penggugur dosa.
Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.

10. Sakit itu mustajab doa.

Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit.

11. Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan.
Diajak maksiat tak mampu tak mau dosa,lalu malah disesali kemudian diampuni.

12. Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis,satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

13. Sakit meningkatkan kualitas ibadah,rukuk-sujud lebih khusyuk,tasbih-istighfar lebih sering,tahiyyat-doa jadi lebih lama.

14. Sakit itu memperbaiki akhlak,kesombongan terkikis,sifat tamak dipaksa tunduk,pribadi dibiasakan santun,lembut dan tawadhu.

15. Dan pada akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati.

Semoga cepat sembuh bagi yang sedang sakit. Syafakumullah syifaa-an ‘aajilan…

kepada hati yang sedang terluka, biarkanlah dirimu terpuruk sampai ke titik paling bawah, mengangislah sampai air matamu hambis, tidak apa-apa, jika itu memang membuatmu lebih tenang dan bisa melepas segala penat dan sakit yang kamu rasa, sungguh itu sangat manusiawi.

tapi apakah dirimu ingin selalu berada di titik paling bawah? bukankah manusia mempunyai hak untuk bahagia? ikhlas menghadapi masalah memang sulit. tapi percayalah setelah dirimu ikhlas akan masalah yang ada, semua akan berubah, tidak ada lagi tangis, tidak ada lagi luka, yang ada hanya harapan baru, kebahagiaan baru.

terbiasalah bahagia, jadi saat dirimu terluka, kau tak perlu bersedih, karena dirimu tau cara untuk bahagia. karena dirimulah pengendali hati itu sendiri.

Bakit? Pero Salamat.

Bakit may mga taong hindi seryoso?
Yun bang nananahimik ang mundo mo, tapos biglang manggugulo.
Yun bang masaya ka na sa sistema mong mag-isa, pero ipaparamdam sayo na mas masaya pag may kasama?
Papakiligin ka, papa-ibigin ka. Tapos ikaw naman tong si tanga, magpapadala.
Paaasahin ka salitang “kayong dalawa” pero sa huli, makikita mo nalang yung “ikaw nalang palang mag-isa”.
Dahil sa bandang huli, iiwan ka rin nyang nakakapit. Nakabitin sa mga salitang sinambit lamang ng bibig.
Nakabitin sa mga pangakong na-pako na tila ayaw mo pang sumuko.
Nakabitin sa mga ala-ala, sa mga bawat sandali na kayo ay magkasama.
Nakabitin sa sinabing “mahal kita”, yun pala ang kasunod ay, “paalam na”.
Bakit may mga taong hindi seryoso? Bakit may mga taong nanloloko? Bakit may mga taong paasa? Pa-fall? Pero alam mo, salamat sa iyo.
Salamat sa pagpaparamdam sakin na masaya ang may kasama.
Na mas masaya pag “may-ka-tayong dalawa”.
Na mas masaya pag may mga pangako at ala-ala kang panghahawalan.
Salamat sa iyo. Salamat rin sa sakit. Alam mo kung bakit? Dahil dito sa pinaramdam mo, dito sa ginawa mo, tinuruan mo akong magtiwala pa sa sarili ko.

#ThoughtsAt12:59am. 02/21/2017