rumahi

(Repost) Membaca Debat dari Kali Code

Malam ini lagi sendirian di Kedai Buku Jenny. Komrad dan dua jagoanku lagi di Bone terus dua awak KBJ lainnya lagi ada urusan di luar. Untuk mengisi kehampaan ini, saya buka akun twitter yang belakangan jarang kusapa karena selalu sibuk jadi salah sati admin di akun twitter KBJ. Bingung mau ngetwit apa, tiba-tiba ingat kalau sekitar dua kilometer dari sini ada teman-teman yang lagi ber mubes ria. Maka, mulailah saya (seolah-olah) kultwit dengan hashtag cerita mubes masa lalu. Ditengah-tengah kultwit yang tak berbalas, saya jadi ingat kalau pernah menulis tentang mubes sekitar dua tahun lalu saat masih kuliah di Jogja. Saya lalu menuju google minta dibantu menemukan postingan itu, judulnya Membaca Debat dari Kali Code. Setelah membacanya, serius saya tak percaya pernah menuangkan kecintaan sekaligus kegundahan penuh kritik kepada “rumah” sebegitu detailnya dalam tulisan. Dan saya pikir tak salah kalau dirilis lagi di blog yang lama tak dijampangi ini. Selamat bergundah ria!

*

Sependek ingatanku debat calon ketua himpunan secara terbuka (tidak di dalam forum mubes) pertama kali di inisiasi pada proses pemilihan Ketua Himahi Fisip Unhas periode 2004-2005 dimana saya menjadi salah satu anggota Steering Committee dan sekaligus pemandu acara debat hari itu. Karena itu kali pertama, maka segala sesuatunya sebisa mungkin dipersiapkan dengan relatif maksimal baik performa maupun konsep.

Deretan kursi di koridor FIS 2 (dekat lapangan basket) telah terjejer rapi untuk para audiens beberapa waktu sebelum akhirnya Debat Kandidat dimulai setelah shalat zuhur, seingatku. Saat debat kandidat saya mulai dengan sedikit pengantar mengenai tujuan digelarnya debat kandidat, teman-teman telah berkumpul antusias. Tidak hanya dari teman-teman mahasiswa HI namun juga teman-teman dari jurusan lain se Fisipol. Menarik.

Selain untuk mengetahui visi dan misi calon ketua, debat ini digelar juga untuk meluaskan perspektif kita tentang “perubahan” yang pada kurun itu sedang gencar-gencarnya kita bahasakan kemana-mana. Prinsip sederhananya, “kalau mau masuk surga, maka ajaklah teman-teman di sekelilingmu.” Debat saat itu betul-betul menjadi media untuk mewartakan kepada siapa pun tentang “sikap” kita, Himahi, atas banyak hal yang terjadi di sekeliling kita. Huh, sebegitu kosmopolit nya kita saat itu. Selanjutnya, debat tentu jadi ajang untuk mengetahui sejauh mana kapasitas individu seorang calon Ketua Himpunan dan yang juga tidak kalah pentingnya adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan perspektif dan sikap sebagai seorang calon ketua.

Tema mubes saat itu adalah Antara Aku, Kau dan Himahi. Tema ini sebenarnya seolah sepele dan memang ia terlontar iseng oleh salah satu dari lima SC saat sedang menggelar “rapat” membahas persiapan mubes tepat di depan himpunan sambil lesehan. Tapi kalu boleh menebak, sepertinya ide tema mubes itu dilontarkan kalau bukan oleh saya pasti oleh Abul A’la Al Maududi “Karamallahu Rijluhu” itu. Karena cuma kami berdua yang begitu terpengaruh oleh Ahmad Band dan tentunya Ada Apa dengan Cinta yang saat itu baru saja melewati masa kejayaannya. Cihuy!

 *

Meski sepele, namun esensi tema mubes saat itu menurut saya sangat berkorelasi dengan spirit, kalau boleh meminjam istilah Bung Karno, “nation building” holistik di keluarga kita. Antara Aku, Kau dan Himahi dapat kita lihat dari dua cara pandang. Ia bisa kita “baca” dengan membubuhinya dengan tanda tanya atau juga bisa ditelaah dengan membubuhinya tanda seru. Ia bisa menjadi bentuk refleksi konstruktif atas model “hubungan” yang sedang dan akan terus dibina antara kita baik secara individu, organisasional maupun secara insaniyah (sesama manusia). Namun ia juga bisa menjadi bentuk penegasan dan penerjemahan ulang atas model kebersamaan yang jauh-jauh hari telah kita proklamirkan dengan menyebut ikatan itu sebagai “Himpunan Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fisip Universitas hasanuddin”. Tentunya dengan tetap menyadari secara kritis bahwa “proklamasi” akan kebersamaan itu bukan dogma yang tanpa gugat dan apalagi menganggapnya lahir di ruang hampa sehingga netralitas menjadi wajar.

Untuk yang esensi itu pula, debat kemudian menjadi media untuk mengkhabarkan yang kita anggap “benar” dan kita berada di pihak yang akan berani berada di depan untuk membela nya secara kritis. Tidak chauvinis pastinya. Debat bukan hanya urusan “saya” dan “kamu”. Bukan juga hanya sekedar menyampaikan bahwa kita akan membangun “tembok” kita menjadi lebih tebal sehingga kata “berbagi” dan “belajar” menjadi begitu usang dan akhirnya terbuang. Dan kelak kita akan kerepotan menyusun huruf demi huruf lagi untuk hanya sekedar mengeja “berbagi dan belajar”.

 …………………………………

Senang betul bisa ikut “menyaksikan” debat kandidat hari ini dan sesekali bisa menimpali sepele di kotak 140 karakter itu. Saya juga mungkin sama dengan keluh seorang kawan yang tidak bisa ikut menyaksikan debat hari ini karena takut harga saham perbankan kita akan anjlok kalau ia memilih ke kampus. Hehehe…bercanda! Sejak sebelum azan Jum’at berkumandang dan rehat sebentar hingga kemudian lanjut hingga sore, saya dan si mantan Ketua Himahi yang berkaca mata dan berpostur agak tambun itu tekun menatapi gadget dan PC kami dan berharap bisa mendapatkan up date an terbaru proses debat di time line akun “kicau” kami berdua.

Meski agak lambat tapi esensi pemaparan dari masing-masing kandidat lumayan tersampaikan di kotak yang hanya membatasi dirinya hingga 140 karakter itu. Yah lumayanlah, bisa mengamati sambil berusaha mengumpulkan energi untuk mengerjakan tugas yang malas kujumpai itu. Sejak pertama kali ketiga foto calon ketua himpunan di upload, saya sempat berkomentar yang sebenarnya mungkin sekaligus menjadi harapan bahwa rangkaian mubes kali ini sebisa mungkin tidak hanya menjadi ritual prosedural belaka dan minim substansi. Karena mengulangi itu, maka kekhawatiran-kekhawatiran yang menurutku mengemuka dari pertanyaan dan sanggahan teman-teman di forum debat meski tidak secara eksplisit bukan tidak mungkin akan terus berlangsung.

 Makanya, saya pribadi sebenarnya sangat berharap bahwa momentum debat kandidat tadi bisa menjadi turning point atau apa pun namanya itu. Saya sangat berharap bahwa perdebatan tadi bisa menjadi titik awal untuk mendiagnosa diri kita dan lingkungan sekitar kita. Hal yang menurutku sangat penting dilakukan sekarang. Iya, sekarang! Berharap melakukan inovasi baru, mencoba menyelesaikan maslaah internal yang terus berulang, dan apalagi berupaya untuk mengembalikan geliat kaderisasi yang maju secara kualitas maupun kuantitas, menurutku akan agak sukar tanpa menyelesaikan hasil pembacaan terhadap diri dan lingkungan yang melingkupinya.

 Setelah sempat di beri trigger oleh Murni dengan pertanyaan “Bagaimana Anda melihat kondisi internal dan eksternal HIMAHI saat ini”?, dan kemudian kembali kubolak-balik tujuh lembar hasil debat yang ku copy dari time line akun @himahi, tak satu pun kudapatkan indikasi dari masing-masing kandidat yang hirau dengan apa yang saya maksudkan di atas. Tapi saya berbaik sangka saja. Kemungkinan bahasan itu akan lebih dieksplorasi di mubes yang tinggal beberapa hari lagi. Tapi saya sedikit agak ragu mengingat bahasan ini juga pernah panjang lebar kusampaikan ke teman-teman pada mubes tahun kemarin yang untungnya tidak lebih lama dibanding mubes dua tahun sebelumnya.

Mengamati perdebatan tadi, saya jadi teringat kritik Taufiq Rahman di Jakartabeat.net tentang lagu-lagu Vampire Weekend di album Contra yang hampir semua liriknya menggunakan sudut pandang pertama “I” yang mungkin juga merupakan ekspresi perayaan khas kelas menengah.  Yang saya maksud bahwa debat hari ini masih banyak hanya membahas tentang ke”aku”an. Bicara tentang kapasitas masing-masing dan blabla. Tapi bukankah ini memang hajatan debat masing-masing calon ketua yang artinya memang sudah wajar jika yang dieksplorasi adalah kapabilitas individu? Saya setuju dengan itu. Saya bukan menyepelekan pentingnya tokoh dalam hal ini tapi yang tersirat kemudian bahwa hal tersebut menjadi sangat dominan dan seperti kurang hirau dengan rantai yang lain. Kebersamaan. Dan kalaupun sempat terucap, bagiku ia tidak sedang seperti ingin meninju langit. Malu-malu.

Saya tertarik dengan pertanyaan kawan mantan Ketua Himahi (Angk. 2003) yang selalu saya banggakan dan saat menunggu jawaban dari kandidat saya sempat dumba’-dumba’ karena bagiku ini pertanyaan krusial dan bagiku sangat tricky. Mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing kandidat. Huh, saya sendiri tidak terlalu puas dengan jawaban-jawaban itu. Menurutku jawaban-jawaban itu mencerminkan apa yang saya maksud di atas dengan ke”aku”an. Sambil bercanda ke kawan yang kebetulan sedang chat denganku saat debat sudah dipenghujung waktu, “kalau saya jawaban pertanyaan itu sederhana, kelebihan saya karena punya kalian semua”. Hmm, saya menulis itu sambil tertawa pelan. Sepele mungkin tapi bagiku itu adaah wujud komitmen akan kebersamaan. Huh!

Dan akhirnya debat berakhir. Dan saya membayangkan Heal The World kembali mengalun. Dan semuanya berjabatan tangan. Dan semua merasa telah merayakan kebersamaan.

Apa yang saya tulis di atas mungkin banyak kelirunya. Toh saya sudah lama tidak banyak berdiskusi dengan teman-teman dengan lebih serius. Dan sangat wajar kalau setelah membaca ini akan ada yang berseloroh “sok serius”. Untuk itu, saya akan menjawab biarlah saya serius karena kalian sudah terlalu banyak menertawai hal-hal bodoh yang sayangnya kalian lakukan sendiri. Saya akan berposisi sama dengan Jakartabeat.net yang dianggap sok serius dengan jurnalisme musiknya dan dengan santai ditanggapi dengan “iya, kami memang ingin serius. Karena lihatlah wajah musik kita karena sudah terlalu sering menyepelekan yang serius-serius dan sering ada di pinggiran itu”.

Terakhir, sore ini saya membaca review buku tentang Jim Morrison dan saya tertarik dengan kata Jim Morrison yang kujadikan status sore ini. “Each generation wants new symbols, new people, new names. They want to divorce themselves from their predecessors.” Acuhkan saja yang kutulis di atas, toh setiap generasi selalu ingin terbang lepas dari pendahulunya. Be Free! Tapi bukankah kita akan menjadi sejarah untuk esok?

Dan yang paling terakhir, terima kasih untuk siapa pun yang telah mengorbankan jari-jarinya berdansa manis di akun @himahi.

Selamat ber Mubes ria!

3 Juni ‘11

Bantaran X Code

Every Teardrop is A Waterfall mengalun kencang…

Rumah dan Ruang Imajinasi

Di penghujung bulan lalu, saya bersama Sawing hendak mengunjungi rumah yang sekaligus studio kreatif seorang kawan di bilangan Minggiran selatan Jogjakarta. Cuaca siang itu lumayan tak bersahabat. Panas menyerang lalu memicu peluh di sekujur tubuh. Tapi kami tetap beranjak. Suatu hal harus kami bicarakan secepatnya. Sepele mungkin tapi ia serupa ide besar yang tak sabar untuk mewujudkannya.

Sesuatu yang sepele ini bermula beberapa malam sebelum siang itu.  Sebelum beranjak tidur, kukirim sebuah pesan singkat ke kawan yang menamai studionya dengan LIBSTUD dan kebetulan adalah penyeru lagu pada sebuah ben-benan bernama FSTVLST (baca: fes-ti-va-list). Isi pesan singkatku betul-betul singkat.

Bagaimana kalau untuk panggung besok FSTVLST membagikan zine? Begitu isi pesan singkatku.

Pesan singkatku segera berbalas. Dan kami bersepakat untuk segera bertemu dan membicarakan sesuatu yang sepele tapi serupa ide besar ini. Di siang yang gerah itu kami sepakat bertemu.

Di ruang tengah rumah yang di hampir semua sudutnya terpajang artwork cantik, kami duduk melantai santai. Memulai pembicaraan tentang zine yang akan kami kerjakan. Kumulai dengan alasan mengapa zine ini meski sepele namun penting untuk dikerjakan. Dari situ lalu pembicaraan menjadi serius dan berisi. Gerah tak lagi begitu terasa. Perut yang belum terisi sejak pagi tak seperti biasanya tidak membuat jidatku berkerut pertanda sebentar lagi sebiji bodrex harus segera kukonsumsi. Adrenalin benar-benar terpacu di tengah-tengah pembicaraan.

Kami berbicara dan berbagi tidak lagi hanya di seputaran zine yang rencananya akan segera kami kerjakan, tapi lebih dari itu kami terlibat dalam tema-tema besar di baliknya. Tentang kesetaraan, kebahagiaan yang sederhana dan tentu tentang cita-cita hidup yang lebih baik.

Kami sama-sama bercerita dan berbagi banyak hal tentang ide-ide besar itu. Di sela-selanya, kami berbagi kisah bagaimana ide-ide itu “diperjuangkan” di “rumah” dan “keluarga” kami masing-masing sejak dulu hingga kini. Si kawan bersama ben-benan nya sejak bernama Jenny hingga akhirnya mereka bersepakat men-transform nya menjadi energi yang lebih besar bersama FSTVLST, dan saya bersama Sawing dengan rumah kecil nan sederhana berabjad HIMAHI. Di dalamnya ada ledakan-ledakan emosi, sedikit amarah karena rasa tak sabar yang sering menyerang ketika secuil aral menghadang di tengah perjuangan. Namun di keseluruhannya ada harapan besar menjadikan rumah dan keluarga kami serupa bahtera Nabi Nuh yang mengajak siapa saja pada perayaan terhadap kebahagiaan dan kesetaraan yang semuanya sedianya tetap pada titahnya yang sederhana. Sekali lagi dengan selera kami masing-masing.

Kami tertawa saat merasakan sesuatu yang kami iyakan dan sepakati, saling memperhatikan dengan seksama dan tak jarang menimpali tanpa harus menunggu permisi. Uh, sudah lama tak berdiskusi dan berbagi dengan adrenalin tinggi seperti ini dengan cara-cara yang biasa-biasa saja tapi keakraban begitu terasa.

“ini seperti di Himahi dulu,” bisik Sawing kepadaku. Dan kumengangguk membenarkan.

Tiba-tiba ku dibawa terbang jauh ke masa-masa itu.

***********

Subuh itu kami berlima memutuskan untuk memanggil beberapa pengurus Himahi. Iya, subuh hari. Keputusan memanggil mereka diambil setelah hampir tiga hari saya bersama beberapa teman lainnya berada di rumah seorang teman yang kini menjadi abdi negara di tenggara sulawesi, dan menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi tentang organisasi yang lebih kami anggap sebagai rumah.

Diskusi tentang rumah selalu jadi tema sendiri dalam pembicaraan apa saja yang kami lakukan. Dimana pun dan kapan pun. Tidak hanya sebagai pelengkap pembicaraan, ia bahkan melebihi posisi susu dalam konfigurasi empat sehat lima sempurna. Tidak hanya menjadi pelengkap namun ia adalah substansi itu sendiri.

Berbicara tentang rumah selalu memicu adrenalin dan membutuhkan porsi energi yang tak sedikit. Bukan apa-apa, pembicaraan tentang rumah selalu mebutuhkan imajinasi yang tidak ala kadarnya. Mengingat-ingat apa-apa yang telah dilakukan sembari melakukan koreksi dan evaluasi sana-sini dan tentu mengutak-atik banyak model metodologi yang sesegera mungkin harus mendapatkan ruang praksisnya. Betul-betul saat-saat seperti itu siapa pun akan diantar menuju ruang-ruang imajinasi dan anehnya selalu tak asik bertamasya ke ruang-ruang itu tanpa mengajak lebih banyak teman dan kerabat.

Begitu pun subuh itu. Setelah diskusi berhari-hari akhirnya kami memanggil dan mengajak beberapa teman lain untuk berimajinasi bersama. Penuh adrenalin, semangat dan tentu kesederhanaan serta keakraban.

Momen subuh itu adalah yang kesekian kali diantara sekian banyak “subuh-subuh” lainnya. Subuh yang akrab itu terjadi sekitar 6 tahun lalu.

Rindu dengan subuh seperti itu.

**************

Empat hari lalu, selama dua hari saya dan keluarga dikunjungi beberapa saudara penghuni “rumah.” Mereka datang atas undangan kami yang memohon bantuan mereka untuk berpartisipasi pada sebuah event kecil-kecilan yang kami buat sebagai kado ulang tahun pertama kursus-kursusan yang lebih daru setahun ini kami garap.

Saat kusambut mereka yang tiba agak larut, tiba-tiba kumerasakan sensasi lain. Entah apa, ia tak bernama. Ini bukan sekedar kerinduan biasa atas saudara setelah berpisah agak lama. Seingatku, beberapa diantara mereka toh kujumpai beberapa bulan lalu saat menghadiri pernikahan seorang saudara se rumah. Menjumpai mereka beberapa malam kemarin seperti membangkitkan kenangan dan ingatan akan rumah dan penghuni serta geliatnya yang seolah tak pernah berhenti.

Sejak malam pertama saat pertama kali mereka tiba, saya sudah merasa kalau beberapa hari ini pasti akan sangat berkualitas. Meski kuberusaha menahan, di sela-sela rapat persiapan event esok hari akhirnya kuterlibat juga dalam perbincangan beradrenalin tinggi itu dengan salah seorang saudara se rumah. Seperti biasa saya selalu bersemangat meski malam itu kami tak serta merta membahas tentang rumah. Iya, akhir-akhir ini saya memang agak menahan diri membicarakannya sehingga tak seperti biasanya saya tak langsung menanyakan kabar rumah.

Event berjalan dengan cukup berhasil. Semua tersenyum meski beberapa memberi senyum kecut. Kami tentu bersyukur. Dan selanjutnya adalah keakraban dan kebersamaan yang sederhana bersama saudara-saudara se rumah. Tawa, kelakar, berbagi informasi, dan tentu diskusi serta berbagi berbaur menjadi satu seperti biasanya kami lakukan di rumah. Saya dan istri memang tak begitu sering bertemu dengan beberapa saudara-saudara ini tapi dalam sekejap semua seolah menjadi wahana bina keakraban yang sejati. Benar-benar akrab!

Tak terlalu banyak waktu untuk berdiskusi. Namun di akhir sebelum saudara-saudara se rumah berangkat kembali ke Makassar akhirnya bisa berdiskusi lumayan lama. Diskusi dengan “tensi” yang agak tinggi, dan bersemangat. Diskusi yang pelan-pelan membawa kami ke ruang-ruang imajinasi itu lagi. Ah, kusuka momentum seperti ini! Meski kami tak eksplisit membahas tentang rumah, tapi semangat dan gagasan-gagasan yang terlontar begitu khas “rumah.” Saya betul-betul mengenalnya.

Hingga salam dan pamit terucap, memang tak sering kami berbicara tentang rumah. Kalaupun ia terlontar namun hanya sesaat lalu segera berganti. Tapi semua itu tak mengurangi kebahagiaanku untuk dua hari yang singkat namun berkualitas itu. Untuk itu semua terima kasih kuhaturkan.

Kapan-kapan ajaklah saya ke ruang-ruang imajinasi itu lagi. Kutunggu!

Watampone, 10 Mei 2012

Bobhy

Semoga ia masih nyaman dan hangat…

English Olympic Brought Me “Rumah” Back

Tidak ada pertimbangan yang berarti saat kuberitahu komrad bahwa aku akan meminta teman-teman di HIMAHI turut ambil bagian dalam event ini. English Olympic, sebuah event yang aku dan teman-teman gagas di kursusan, merayakan setahun kami di kota ini. Satu-satunya pertimbanganku, adalah karena teman-teman di #rumah setauku akan membantu semaksimal mungkin. Begitu yang selalu kudapati selama ini. Tanpa babibu, kuberitahu Rio sebulan atau dua bulan lalu kalau tidak salah ingat, kenapa Rio? Karena dia satu-satunya “saudara kembarku” yang masih sering bersinggungan dengan kawan-kawan di rumah adalah dia. Rio dengan antusias mengiyakan. Tanpa meragukan antusias Rio, kucoba hubungi Sari via telpon, pengurus yang satu-satunya punya nomor di hapeku, di hapenya mamaku, di hape kantorku, karena terlampau seringnya mempublish kegiatan rumah via sms. Sari pun tidak kalah antusiasnya dengan Rio walau saat itu, dia sedang sibuk mempersiapkan hajatan besar rumah _Golden Moment_.

Pilihan juri dari kawan-kawan di rumah, kunilai betul-betul tepat saat segala persiapan English Olympic berjalan dan hampir semua sekolah yang ingin berpartisipasi menanyakan asal muasal juri dan sangat sepakat saat mendengar kalau juri kami adalah teman-teman di Makassar. Ketakutan akan sistem penjurian yang “begitu-begitu saja” di beberapa lomba di kota Bone ini, melegakan mereka saat kuumumkan tentang juri yang sama sekali tidak punya ikatan, hubungan, dengan semua peserta yang akan ikut ambil bagian dalam English Olympic.

Minus 2 minggu, Sari dan Rio bergantian kudesak untuk memastikan kesiapan kawan-kawan di rumah. Sepuluh orang terseleksi menjadi delapan, karena mobil Rio yang akan digunakan tidak mungkin cukup membawa lebih dari delapan orang. Aku dan teman-teman di kursusan mulai “panik”, hajatan English Olympic semakin dekat, jumlah kami yang minim, 7 orang + komrad menjadikan segala persiapan tekhnis menjadi lebih berat kami lakukan.

Di tengah segala persiapan, komrad sempat menanyakan kesediaan teman-teman juri.  

“dulu..saat diajak ke mana, ada acara di luar kota..kita selalu antusias. Kita selalu senang saat ada undangan, kita berama-ramai datang, kumpul dan memang tidak mau kehilangan momen-momen untuk selalu bertemu” Komrad berkata lirih saat ia tahu mereka hanya datang 8 orang. Aku membenarkan komrad, tapi langsung kuhela segala prasangka buruk. Dari awal Sari sudah menyiapkan lebih banyak teman-teman, tapi kesiapanku secara material memang telah gamblang kuceritakan pada Sari dan Rio, mungkin mereka juga turut mempertimbangkannya. Komrad mencoba mengerti, sembari mem flashback semua tur perjalanan yang sering dilakukan di rumah. Jangankan ada kegiatan, menjenguk teman-teman serumah saat KKN pun di luar kota  seolah telah menjadi agenda tetap yang harus dilakukan tiap musim KKN. Jadi ingat K Kasim yang paling rajin melakukannya.

Hari H tiba dan teman-teman seperti biasa kebiasaan di rumah, molor dari waktu yang telah mereka janjikan. Hmmmm…HI banget! Walhasil kami breafing tanpa juri setelah menyiapkan gedung.

Hampir pukul 11 malam, aku yang terserang lelah dan kantuk terbangun mendengar suara Andika tepat di ruangan samping kamarku, tempat yang biasanya kujadikan ruang kerja dan arena bermain anak-anak. Kudengar mulai gaduh dan aku terbangun. Rio dan Andika membawa enam orang bersamanya yang hanya Sari dan Imran yang begitu kukenal, Ica, Radit, Fiqih dan Fikar, masing-masing tidak sering kuajak berkomunikasi. Preambule nya tidak terlalu lama, breafing kami lakukan lalu badan kami istirahatkan.

Pagi, siang, sore, magrib..berlalu dengan lelah penat, sakit di semua sendi badanku. Namun itu terbayar lunas. Kegiatanku secara umum kami kategorikan sukses. Gedung pemuda membludak, sesak dengan antusias peserta. Lomba demi lomba digelar, keringat bercampur bau badan tidak lagi dimasalahkan, ketegangan demi ketegangan terlihat, menanti juara, menanti akhir. Kami, panitia dan juri melakukan yang terbaik. Menang dan kalah telah diputuskan diakhir, mereka berbahagia, sebagian kecewa, sebagian excited, sebagian tidak mengira, sebagian menangis haru, bahkan sebagian melayangkan protes, dan semua kurangkum dalam senyum bahagia.

Sekali lagi, aku bahagia mewujudkan harapan-harapanku dan melibatkan orang-orang di sekitarku, baik yang kukenal maupun tidak kukenal. Aku bahagia memberikan kesempatan bagi banyak anak-anak yang tidak pernah diberi ruang untuk menunjukkan dirinya, aku bahagia karena semua siswaku berbahagia dengan perhelatan ini. Aku bahagia karena membagi kebahagiaan ini dengan semua orang.

Dan berita bagusnya, kebahagiaanku tidak berhenti sampai di situ. Disela-sela semua kebahagiaan akan segala yang kulakukan bersama teman-teman di English Home, aku menemukan kembali #rumah.

Rumah, sejak rumaHi digagas, Rio tidak berhenti memintaku menulis tentang rumah. Aku selalu mau, memulai tulisan, merangkai kata, tapi aku tidak pernah berhasil mengakhirinya. Aku selalu tidak tahu bagaimana menyatukan semua ingatanku sekaligus rasa yang kulalui di rumah. Rasanya, kata-kata menjadi terlalu miskin untuk menggambarkan semua yang telah kudapati di rumah. Perbincangan mengenai rumah adalah perbincangan yang tak pernah habis, dan masing-masing penghuni punya porsi sendiri yang sepi dari pendapat orang lain. Aku dan komrad yang sering sejalan pun, tidak jarang berdebat tentang konsepsi rumah yang kami harapkan.

Dan English Olympic kemarin, tiba-tiba membawaku pulang, langsung menuju rumah. Mereka yang datang, kuundang sebagai juri membawakan rumah padaku dua malam dua hari itu. Waktu yang sempit dan agenda yang padat.

Kami tidak pernah betul-betul membicarakan rumah atau membicarakan kegiatannya, hampir semua yang kami bicarakan, adalah tentang English Olympic, tentang segala buah semangat para praktisi pendidikan di Bone untuk mendapatkan piala, tentang miskinnya semangat lomba yang hanya diukur dari menang dan kalah,semua tentang English Olympic yang kami genap bersepuluh bersama komrad tertawai, rinci, callai, dan ini yang tidak kutemukan lama sekali. Dan tiba-tiba aku menemukannya berkilo-kilo meter dari tempat rumah itu sesungguhnya. Dua malam ini membawaku jauh beberapa tahun silam. Kita dirumah ini selalu saling menertwawai, saling maccalla, selalu saling mengejek, saling mangodo’, bahkan sesekali menyikut sembunyi-sembunyi untuk dapatkan pujaan hati.

Untuk Fikar, Sari, Icha, Fiqih, Radit, sebagai penghuni tetap rumah hari ini…begitulah rumah yang sering kita bicarakan. Kita tidak terhalang sekat apapun untuk saling menerima lalu terbuka menghadapi satu sama lain. Seringlah bertemu di luar kampus, di sana lebih akan terbangun #rumah yang akan kalian temukan sendiri, definisikan sendiri dan suatu hari akan kalian rindukan.

Terimakasih untuk kalian yang datang jauh-jauh untuk English Olympic, dan terimakasih telah membawa rumah beserta kalian.

Ibu Nhytha

9 Mei 2012

#lelahnyamasihterasa