rindu allah

Syaikh Faris rahimahullah mengatakan, “Hati orang-orang yang dipenuhi dengan rindu (kepada Allah) disinari dengan cahaya Allah SWT. Manakala kerinduan mereka berdesir dalarn hati mereka, maka cahaya itu menerangi langit dan bumi, dan Allah lalu menunjukkan mereka kepada para malaikat, seraya berkata, "Inilah orang-orang yang rindu kepada-Ku. Aku memanggilmu semua untuk menyaksikan bahwa Aku juga rindu kepada mereka, bahkan lebih besar dari kerinduan mereka ini.” [ Ar-Risalah Imam Qusyairi Rahimahullah ]

[Memaknai Rindu]

Aku butuh tahu seberapa kubutuh kamu
Percayalah rindu itu baik untuk kita
(Tulus, Ruang Sendiri)

Rindu, nampaknya semua orang pernah merasakannya. Kalau boleh saya memaknai rindu, sejatinya dia adalah satu pemantik kekuatan bagi seseorang untuk melakukan apapun yang dia bisa, sebagai bentuk penantian bagi seseorang yang di cintai. Bisa orangtua, idola, sahabat, atau bahkan belahan jiwa.

Kerinduan tercipta karena jarak dan waktu. Kamu merindu karena memang antara kamu dan yang kau rindukan terpisah oleh jarak, atau waktu. Seseorang yang merindu itu terus berharap. Ia yang merindu biasanya tak akan diam. Selalu saja, akan ada banyak hal yang dia capai lebih dari hari-hari yang dia lalui tanpa rindu. Kerinduan, membuatmu berubah dari mematung menjadi penuh nyala api semangat. Dari hampa menjadi penuh gelora cinta. Sebab kau tahu, kau harus dalam keadaan terbaik untuk bertemu dengan dia yang kau rindukan.

Lalu kita sampai pada bentangan kenyataan bagi diri kita sebagai muslim. Kutanyakan padamu? Kenapa kau rela sepenuh jiwa membela Al Aqsha? Sederhananya, karena kau rindu. Kenapa kau gigih melakukan usaha-usaha perbaikan untuk umat ini? Karena kau rindu akan kejayaan. Kenapa kau terus melakukan amal kebajikan? Karena kau rindu bertemu Allah dalam keadaan terbaik. Bukankah begitu?

Kerinduan adalah kekuatan. Ketika kamu rindu pada seseorang, kamu akan persiapkan yang terbaik yang ada padamu sampai datang hari ketika bisa berjumpa dengannya. Pun sama, jika kamu rindu pada perubahan, kamu akan lakukan sebaik yang kau mampu untuk mewujudkan pertemuanmu dengan perubahan yang kau mau.

“Percayalah rindu itu baik untuk kita”, maka setelah cita dan cinta kamu kerahkan, tinggallah berdoa semua kelak kamu bertemu dengannya dalam saat-saat terbaik. Apapun itu, siapapun itu.

@edgarhamas

Didiklah hatimu untuk benar benar mampu merasa cukup dengan Allah, didiklah hatimu untuk mampu mencintai Allah sepenuh hatimu. Betapa bahagianya hamba hamba yang memiliki hati begitu rindu memandang wajah Allah ❤
—  Hijrah Hati.

Hingga detik ini aku masih belum mampu menyembunyikan tangisku ketika mengingatmu, Ambu.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya berbuka puasa tanpamu.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya Hari Raya Idul Fitri nanti tanpamu.

Yang ada hanyalah kami menengok “rumah"mu yang baru dengan menaburkan bunga berwarna merah juga putih.

Tidak ada lagi ketupat juga rendang yang Ambu masak dengan enak.

Tidak ada lagi Ambu yang selalu sholat Id di shaf sebelahku.

Ya, Allah.. Aku rindu ibuku, sungguh.

Sampaikanlah salam rinduku untuknya di sana.

Berikanlah ia tempat terbaik di sisi-Mu, Ya Rabb.

“Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.

Aamiin…

Jakarta, 8 Mei 2017
01:25

ALLAH MENCINTAI ORANG-ORANG YANG BERTAUBAT

Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kepada Nabi Daud عليه السلام “ Wahai Daud. Kalau sekiranya hamba-hamba-Ku yang berpaling dan bermaksiat kepada Aku itu tahu betapa Aku RINDU kepada mereka agar mereka kembali kepada Aku dan bertaubat pasti mereka itu akan terbang laju untuk kembali kepada Aku. Wahai Daud. Itu baru hamba-Ku yang berpaling dan bermaksiat kepada-Ku. Bayangkan betapa RINDUNYA Aku kepada hamba-hamba-Ku yang mengajak yang patuh dan yang taat kepada Aku.”

Mungkin kita ini ahli maksiat, mungkin kita ini orang yang selalu berpaling daripada Allah سبحانه وتعالى tapi Allah سبحانه وتعالى tak berhenti rindu kepada kita bahkan Allah سبحانه وتعالى menanti-nanti untuk kita ini kembali kepada Allah untuk kita ini bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى.

Ketikamana kamu kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dan kembali bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى maka Allah سبحانه وتعالى bukan hanya memberikan PENGAMPUNAN dan KEREDHAAN daripada Allah bahkan Allah سبحانه وتعالى akan berikan CINTA-NYA.

Allah!!! Kita kadang-kadang selalu tertanya-tanya macam mana ya kita ini nak mendapatkan cintanya Allah? Tiada yang lebih lazat, tiada yang lebih manis yang dapat dirasakan oleh seseorang itu melainkan bilamana setelah di dalam hatinya itu dipenuhi kecintaan kepada Allah سبحانه وتعالى dan cintanya Baginda Rasulullah ﷺ.

Allah سبحانه وتعالى berfirman di dalam Al-Quran yang ertinya “ Sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.” Mensucikan diri daripada dosa dan juga daripada kezahirannya.

Allah!! Alangkah sayangnya Allah سبحانه وتعالى kepada kita, alangkah kasihnya Allah سبحانه وتعالى, alangkah cintanya Allah سبحانه وتعالى kepada kita sehingga yang walaupun sebanyak mana sekalipun dosa-dosa dan kemaksiatan yang pernah kita lakukan itu tetap dibalas oleh Allah سبحانه وتعالى dengan kecintaan-Nya.

Ruginya diri kita ini kalau saat ini pun kita masih lagi tidak ingin kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga kita ini masih lagi berani terus-menerus menikmati melakukan kemaksiatan dan dosa kepada Allah سبحانه وتعالى.

Allah!! Rugi sungguh sedangkan Allah سبحانه وتعالى sentiasa menanti-nanti kita untuk kembali bertaubat kepada-Nya. Kita kena faham betul-betul untuk kita ini nak mendapatkan cintanya Allah سبحانه وتعالى maka syarat yang paling utama sekali yang mesti kita ada mestilah kita kena melalui kepada Baginda Rasulullah ﷺ.

Apabila kita kenal kasih sayang Baginda Rasulullah ﷺ maka kita akan kenal akan Maha Penyayang dan Maha Pengasih Allah kepada kita yang Allah mengasihi kita ini. Ketahuilah bahawasanya cinta kita kepada Nabi Muhammad ﷺ itu adalah kerana cinta kita kepada Allah سبحانه وتعالى kerana cinta itu dituntut oleh Allah untuk kita ini ketikamana mencintai makhluk maka makhluk yang patut kita cintai itu adalah Baginda Rasulullah ﷺ.

[HABIB NAJMUDDIN BIN OTHMAN AL-KHERED HAFIDZOHULLAH]


Sumber : FB: The Capal

Syaikh Abu Ali Ar-Rudzbari Rahimahullah mengatakan, “Cinta adalah kesesuaian dengan [keinginan sang Kekasih].” Syaikh Abu Abdullah Al-Qurasyi Rahimahullah mengatakan, "Hakekat cinta berarti bahwa engkau memberikan segenap dirimu kepada Dia yang kau cintai hingga tidak sesuatu pun yang tinggal dari dirimu untuk dirimu sendiri.” Syaikh Asy-Syibli Rahimahullah menjelaskan, “Cinta disebut ‘rnahabbah’ karena ia melenyapkan segala sesuatu dari hati, selain sang Kekasih.” Syaikh Ibn 'Atha’ Rahimahullah mengatakan, “Cinta berarti mengundang hinaan yang tidak henti-hentinya.
—  Ar-Risalah Imam Qusyairi Rahimahullah, Mahabbah
SELFIE2 #20: Titip Rindu Untuk Ayah

Kemarin, saya dan Ibu melayat ke rumah salah satu kerabat keluarga kami yang meninggal. Disana, saya bertemu dengan banyak sekali saudara dan juga sahabat-sahabat Ibu dan Ayah saat muda dulu yang sampai sekarang masih suka berinteraksi. Diantara mereka semua, ada seorang Ibu yang nampaknya baru saya temui, atau mungkin dulu pernah bertemu tapi kami sama-sama lupa. Ibu tersebut bertanya kepada Ibu saya, “Ieu teh nu bungsu? Ya Allah, tos ageung deui geningan? (Ini anakmu yang bungsu? Ya Allah, sudah besar ya ternyata)” Saya pun tersenyum dan bersalaman dengan beliau.

Tak lama kemudian, saya mendapati Ibu tersebut menangis melihat saya lalu beliau berkata, “Teh, maa sya Allah, ayah teteh itu orangnya baik sekali, penyabar, dan tegar menghadapi kehidupan. Semua orang tau ayahmu itu begitu baik.” Mendengarnya, bibir saya gemetar, geligi saya bergemelutuk. Rasa rindu pada ayah langsung menyeruak di hati saya. Kemudian, Ibu tersebut melanjutkan lagi, Ayahmu itu selalu bahagia dengan kesederhanaan. Gapapa ya teh, harta memang bukan jaminan atas apapun.Berbagai putaran kejadian menari-nari di kepala saya, mengingat betapa ayah memang selalu mengajarkan kesederhanaan kepada saya sejak dulu saat saya kecil. Belum selesai, Ibu tersebut tambah menangis sambil berkata, Semoga nanti teteh juga dapat suami yang seperti ayahmu, ya! Shalih, baik, dan sayang sama teteh.Saya mengaminkan dan diam-diam bertambah rindu pada ayah.

Bukan sekali dua kali saya mendapati kejadian seperti ini: bertemu dengan orang yang pernah saya kenal atau bahkan belum saya kenal, lalu dia bercerita kepada saya tentang betapa baiknya ayah saya. Bukan sekali dua kali juga hal itu membuat pertahanan air mata di pelupuk saya roboh dan akhirnya pecah juga. Seperti 5 tahun lalu, ketika ayah baru beberapa hari saja meninggal, lalu seorang perempuan paruh baya datang ke rumah menemui saya dan Ibu, dia bilang, “Saya dulu muridnya almarhum di sekolah. Sedih sekali ketika dapat kabar bapak meninggal. Dulu, bapak disayangi oleh murid-muridnya karena bapak baik dan sangat perhatian pada kami. Bahkan, saya adalah murid yang bapak biayai sekolahnya. Saya engga tau lagi harus balas kebaikan bapak dengan cara apa.”

Di kesempatan yang lain, saya pernah bertemu dengan sahabatnya ayah waktu masih hidup dulu, beliau bilang, “Teteh, ayahmu itu baik sekali. Engga pernah hitung-hitungan sama orang. Kalau ada yang butuh pasti langsung dikasih. Saya ingat dulu saya engga punya uang buat beli beras, sementara ayahmu cuma punya selembar uang 50 ribu, eeeh taunya uang itu dibagi dua sampai saya bisa beli beras, padahal ya segitu-gitunya yang ada di dompet ayah.” Begitulah, dan masih banyak lagi.

Sejujurnya, saya jadi bertambah rindu kepada ayah. Ingin rasanya menceritakan banyak hal kepadanya, tentang berbagai kejadian dan perubahan baik yang terjadi selepas kepulangannya.

Ayah, taukah ayah kalau aku banyak sekali mendengar tentang kebaikanmu dari banyak orang? Aku jadi semakin rindu, tapi aku bersyukur. Sebab, betapa baiknya Allah menjadikan darah orang baik sepertimu mengalir di kehidupanku. Semoga Allah mudahkan agar aku juga bisa sepertimu, yang dikenang kebaikannya oleh setiap orang kelak ketika aku meninggalkan dunia. Terima kasih karena telah menjadi teladan yang baik untuk aku yang masih belajar menjadi baik.

Ayah, aku ingin sekali kita duduk bersama lagi menikmati teh sore atau kopi pagi yang biasanya aku teguk dari gelasmu. Aku rindu kita membicarakan hal-hal sederhana yang penuh dengan makna. Aku juga rindu nasehat-nasehat baikmu, terutama tentang bagaimana aku perlu bersikap pada orang-orang yang melihatku sebelah mata. Ayah benar, bagaimana pun orang lain berlaku kepada kita, balasan baik haruslah kita beri kepada mereka. Terima kasih karena telah mengajariku bagaimana menggunakan akal, sikap, dan rasa sebagaimana mestinya.

Ayah, aku sudah tidak seperti dulu. Seperti apa yang dulu pernah ayah minta, sekarang aku duduk selayaknya perempuan, berbicara dengan lembut karena perkuliahan mengajariku demikian, dan aku juga sudah tidak galak dan suka berteriak seperti waktu kecil dulu. Waktu dan kedewasaan telah mengubah aku sedemikian rupa hingga aku bertumbuh menjadi seorang perempuan dewasa yang meninggalkan masa kecilnya dengan sejuta rasa. Terima kasih karena telah membuat hari-hariku dulu selalu menyenangkan.

Ayah, aku menyesal karena sebelum perpisahan kita aku belum sempat bertanya bagaimana nasehatmu untukku tentang memilih pasangan hidup, melangkah menuju bahtera rumah tangga, dan bermetamorfosis menjadi ibu yang ceria. Kukira Allah tak adil, tapi nyatanya, Allah menghadirkan banyak hal yang membuat tanya-tanyaku itu terjawab. Tak hanya itu, caramu memperlakukan Ibu juga ternyata lebih dari cukup untuk membuat aku belajar. Terima kasih karena telah meninggalkan segala hal baik untuk dikenang.

Ayah, aku menitip rindu kepada Allah agar Dia menyampaikannya kepadamu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya, dan mempertemukan kita kembali kelak di syurga-Nya. 

Ah, air mata saya berjatuhan lagi!

Saya pernah mendengar dari Ibu, katanya, seringkali memang kebaikan-kebaikan kita akan dikenang orang lain bukan ketika kita masih hidup, tapi ketika kita sudah berpulang. Kalau begitu, bagaimana dengan kita? Ingin seperti apakah kelak kita dikenang oleh penghuni bumi dan penduduk langit? Kita tidak pernah tahu, yang jelas semoga Allah senantiasa memudahkan agar aku, kamu, kita semua bisa menjadi sosok-sosok yang meninggalkan jejak kebaikan di dunia. Let’s look into yourself!

Oiya, teman-teman, titip hadiahkan Al-Fatihah untuk Ayah, yaaa! Jazakumullahu khairan katsiran ;)

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini insyaAllah akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.00 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

Percaya pada Allah saja..
Karena dengan kehendak dan ketentuanNya..
Hal terbaik yang akan bertemu dan bersama kita..
Jika sekarang keadaan melemahkan dan membuat kita sedih..
Mungkin Allah rindu dengan tangis kita yang menetes saat kepala tersujud dan raga merendah serendah tanah..
03.13

Sahabat itu saling ada, saling tolong. Saat butuh, dia ada. Tanpa diminta.
Seperti salah satu sahabat baik saya yang jarang menyapa, sekalinya menyapa menasehati, sekalinya menyapa memberikan pertolongan, sebab dia bukan tipe yang menyukai basa basi tapi saya tau cintanya selalu ada untuk saya.

Sahabat saya yang lain, di sela-sela kesibukannya yang padat merayap masih sempat menanyakan kabar saya, memudahkan urusan saya dan menawarkan pertolongan apa yang bisa dia lakukan untuk saya. Meskipun dia tidak selalu ada bersama saya, tapi rasa pedulinya selalu hadir menemani saya. Meskipun saya tau banyak hal yang menyita waktunya, dia seperti meyakinkan saya kapanpun saya membutuhkan dia, dia ada.

Dua hari lalu sepulang kerja saya kesana kemari, dari satu apotik ke apotik yang lain untuk menebus resep obat untuk bapak. Dari apotik yang paling terkenal, sampai apotik yang katanya terlengkap di Jakarta tidak ada, bahkan pilihan terakhir sampai saya mencoba memberanikan diri mencari ke Pasar pramuka. Dan hasilnya nihil.
Saat itu yang saya rasakan bukan capek, bukan lelah, bukan bingung. Tapi saya merasa pada titik merasa sendiri, kemudian lagi lagi dibuat begitu merasakan yang paling dekat hanya Allah, yang selalu menemani hanya Allah. Dan saya sering tidak menyadarinya. Saya malu.

Mungkin terlalu sibuk ingin bersama manusia. Terlalu fokus bahwa dalam perihal menemani itu harus selalu manusia. Padahal tidak.

Kita tau, kita tidak pernah sendirian.
Dan diri kita sendiri yang membuat-buat bahwa kita merasa sendiri.
Allah begitu dekat, selalu mengawasimu, menjagamu.
Saya bisa sampai menangis di perjalanan pulang setelah berkeliling mencari obat. Bukan karena saya tidak mendapat obat, tapi saya begitu merasakan kehadiran Allah, betapa dekatnya saya dengan Allah.

Ada rindu yang membuncah.
Ada bahagia yang pecah.
Ada cinta yang nyata, yang hadir, yang selalu menemani.

Pada akhirnya sebaik-baiknya manusia kepadamu, mungkin orang tuamu bahkan sahabat terbaikmu, aku mohon tetaplah persembahkan sepenuhnya ruang hatimu untuk dicintai-Nya, sepenuh hatimu untuk mencintai-Nya. Dan dengan begitu akhlakmu yang mencintai-Nya sepenuh hati akan melahirkan kasih sayang kepada mereka yang menyayangimu dengan tulus.

Sebab, Allah selalu ada.


Catatan menuju pagi,
Untuk nasehat diri.
Ramadhan hari ke enam belas.

Sbmptn

Malam ini kupastikan banyak sekali orang-orang yang resah, gundah, galau, khususnya untuk siswa kelas 3 SMA yang sedang menunggu hasil dari ikhtiarnya kurang dari sebulan yang lalu.

Besok, hasil SBMPTN akan diumumkan. Besok adalah penentu masa depan sekian banyak orang.

Aku memang tidak merasakan momen resah, gundah, galau itu. Karena memang aku tidak tertarik apalagi jurusanku yang tidak mendukung untuk ikut snmptn.

Tapi aku melihat dan sedikit banyak paham ketika ada beberapa teman-temanku yang belum berkesempatan untuk kuliah di tahun yang sama denganku. Iya, rasanya memang menyesakkan. air mata tak bisa bohong.

Dan hari ini beberapa teman dekat, adik kelas, mengutarakan kegundahan mereka padaku. Takut gak diterima. Nanti kalo gak diterima mau ngapain. Mau kemana.

Aku tidak bisa semudah itu bilang ‘ikhlas’ karena rasanya memang sulit.

Tapi aku bilang kepada mereka bahwa sbmptn bukan penentu finish hidup kalian. Dengan tidak keterimanya sbmptn, apa hidup kalian juga akan berakhir? Tentu saja tidak. Karena kata paulo cuelho rahasia kehidupan adalah jatuh tujuh kali dan bangun delapan kali.

Justru ini adalah langkah awal perjuangan baru untuk menemukan kehidupan kalian sebenarnya.

Tetap berbaik sangka pada Allah. Selalu percaya bahwa setiap keputusan Allah tidak akan mengecewakan hambaNya. Yakin setiap rencanaNya adalah yang terbaik untuk kita.

Karena bisa jadi apa yang kamu anggap baik, buruk bagi Allah. Dan apa yang menurut Allah baik, buruk bagimu.

Apapun hasilnya nanti, untuk yang mendapat kabar baik, barokallah! Jangan berbesar hati. Lakukan yang terbaik. Banyak bersyukur kepada Allah.

Dan untuk yang masih belum rezekinya, mungkin Allah masih rindu dengar doamu di sepertiga malam. Boleh sedih, tapi tidak membuatmu terpuruk. Harus cepat bangkit dan cari kesempatan-kesempatan lain.

Percayalah, skenario Allah itu Indah.

Kamu Akan Rindu Panggilan Allah, Nak...

“Kamu yakin mau nerusin S2 di Belanda?,” Ibu berseloroh.

“Yakin dong bu, udah bulat seratus persen,” ucapku mantap.

Toh tempo hari sudah kujelaskan pada Ayah dan Ibu, tentang misiku untuk pergi ke Belanda. Tentang mimpiku untuk mengarungi samudra dan benua, ke negeri yang benar-benar bisa jadi cerminan untuk mengenal bangsaku sendiri. Belanda sudah ditakdirkan untuk jadi cermin Indonesia yang abadi, kan? Terlepas dari betapa sakitnya kenangan yang harus ditangguk di masa lalu, pun masih ada jeritan hati yang tak terperi atas perlakuan di masa silam.

Ayah dan Ibuku mengangguk. Manuskrip budaya dari seantero nusantara memang tersimpan baik di perpustakaan Leiden dan kampus lainnya. Jejak founding fathers bangsa seperti Bung Hatta dan Bung Sjahrir dapat diresapi dengan mendalam, juga hanya di Belanda-lah, identitas bangsa Indonesia dapat dikenali dengan baik. Di beberapa jalanannya pun terdapat nama jalan dengan nama pahlawan dan pulau di Indonesia. 

Banyak fakta lainnya yang juga mendukung argumenku, toh Ayah dan Ibu cepat luluh. Idealismeku memang masih berapi-api, terlebih aku lolos dua beasiswa baik dalam maupun luar negeri. Tapi dengan sengaja untuk kupilih beasiswa dalam negeri, agar nanti aku dengan sukarela kembali pada negeri ini setelah terdidik dengan baik disana. Aku ingin jadi Hatta baru, Aku ingin jadi Sjahrir baru. Seakan tak ada lagi yang bisa menghalangi, terlebih aku yakin bahwa inilah jalan Tuhan yang terbaik. 

Tapi entah kenapa, Ibu hanya terdiam. Sejenak seperti berpikir, membuatku bertanya-tanya,

“Kamu yakin ngga bakal kangen sesuatu?,” Ucap ibuku lirih. 

“Kangen……… apa, bu?,” Aku bertanya, pelan.

Aku paham. Seperti naluri seorang Ibu, akan sama dimana-mana. Merindukan putra-putri tercinta yang merantau ke negeri seberang bukanlah hal aneh. Tapi Ibu memang tak biasa, toh sejak kuliah aku sudah dilepas dan semua berjalan baik-baik saja. Yang menyeberang negeri toh sudah bukan cerita tak umum, mungkin sudah jutaan anak bangsa yang pergi untuk menjejak ilmu di benua nun jauh di nusantara ini. Tapi Ibuku entah kenapa lagi?

“Kan nanti bisa Skype-an, bu. Ibu kan udah diajarin ya kemarin, hehe,” 

“Bukan itu saja, nak,” Ucapnya, tampak berhati-hati.

“Terus apalagi bu?,” 

Ibu malah bertanya balik. Mencoba beretorika denganku.

“Coba kira-kira kamu pikir, yang paling kamu kangenin kalau udah sampai Belanda ntar kira-kira apa?,” Tanya Ibu. 

“Apa ya…….”

“… Ayah sama Ibu pasti. Kaka juga pasti..”

“…. Makanan! Mungkin nemuin mamang nasgor disana susah kali ya, Bu?,”

“…. teman-teman, mungkin. tapi ah, ngga juga……”

“… Apalagi atuh ya? Hmmm, suasana Indonesia mungkin. Dinginnya Bandung, mungkin?”

“…… Apalagi atuh ya?…..”

Aku berpikir keras. Pernyataanku diatas sebenarnya memang bukan faktor utama. Rasa-rasanya, semua bisa kuatasi. Belanda toh bukan negara asing buat orang Indonesia, setidaknya yang kuketahui dari cerita-cerita diaspora yang sudah terlebih dahulu disana. 

Kangen orang tua, itu pasti. Tapi semuanya bisa diobati dengan teknologi. Aku jamin, meski tak sering, suaraku yang bermil-mil jauhnya itu akan sampai di telinga orang tuaku untuk sekedar berucap kabar. Saudaraku pun rasanya begitu, tinggal korespondensi via chat atau sesekali Skype-an mungkin sudah lebih dari cukup. 

Makanan? Ah. Di seantero Eropa, Belanda-lah yang jadi surganya bahan makanan Indonesia. Selain memang populasi orang Indonesianya salah satu yang terbanyak di Eropa, toh orang Belanda tidak asing dengan tipe dan selera makan orang Indonesia. Sekedar beli kecap, saos, atau mie instan katanya cukup mudah ditemui. Bumbu-bumbu ala Indonesia juga banyak disana, sehingga mungkin kalau kangen betul ya bisa masak sendiri. Juga, akhir-akhir ini aku juga sudah membiasakan makan makanan ala-ala Eropa, rasanya tak menjadi hal yang sulit. 

Teman-teman? Ah tidak juga. Tak akan kekurangan teman kalau aku disana. Katanya, di negeri orang, justru pertemanan akan sangat diandalkan. Kata orang sunda itu istilahnya saguru, saelmu. Sebagai sesama perantauan dan sama-sama menuntut ilmu, pasti akan jadi lebih dekat. Aku juga sudah memproyeksikan bakal jadi apa aku di PPI Belanda nanti. Sama saja kalau kangen teman-teman di Indonesia, tinggal chattingan. Tak seberapa sukar untuk sekedar berkabar.

Suasana di Belanda itulah mungkin yang paling jadi tantangan. Selain kultur dan budaya masyarakatnya, juga faktor lain seperti bahasa akan sangat berpengaruh. Rasanya ini yang bakal buat aku homesick dan kangen Indonesia. Itu pasti. Tapi aku takkan menyerah untuk hal itu saja. Terlebih lagi-lagi kembali pada fakta bahwa Belanda tak asing dengan Indonesia, meskipun tak sama, suasana mirip-mirip Indonesia tentu disana tersedia. 

Apalagi hal kecil macam kangen suasana rumah, atau kangen Bandung. Belanda jelas lebih dingin! Di Bandung tak ada salju, di Belanda ada. Mungkin malah aku akan lebih excited untuk mengeksplorasi negara kecil ini. Rencana kecilku untuk mengunjungi Leiden, Amsterdam, Enschede, Rotterdam, Groningen, dan kota-kota lainnya mungkin bisa melupakan kangenku pada suasana rumah.

Aku yakin, tapi jadi tak yakin karena melihat raut wajah Ibuku. 

Seketika Adzan Isya berkumandang.

Tapi ada yang berbeda, yang ini terasa lebih semilir di telinga sekaligus membuat bergidik. Entah apa ini, tapi adzan kali ini kurasakan begitu berbeda. 

Ayah sudah bersiap-siap akan pergi ke masjid. 

Tapi Ibu ternyata belum selesai. Seketika ia berucap lirih,

“Semuanya itu bakal mudah untuk kamu lalui nak,… Kangen Ayah, Ibu, teman-teman, makanan, suasana…”

“Ah mudah.. buat kamu mah. Mungkin disana bakal ada penggantinya, dan Ibu yakin banget itu bisa…”

“… Tapi, satu hal yang mungkin ngga ada penggantinya disana…”

Ibu diam dan menatap mataku dalam. Tak kuat lama-lama aku bertanya. 

Jawaban ibu mengagetkanku….

“Panggilan Allah, nak….”

“Disana kamu ngga akan dengar panggilan adzan sebebas disini, di Indonesia. Mungkin ada, tapi Ibu ngga yakin di kotamu tinggal nanti itu ada. Ngga ada pengeras suara yang bakal ngingetin kamu untuk shalat, sebebas disini. Ngga ada suasana adem dan nyaman seketika telah adzan berkumandang….”

“… Seakan-akan, perumpamaannya Belanda itu ngga ngizinin panggilan Allah untuk bergema di seantero negerinya. Kamu yang akan jadi bingung, kamu pasti kehilangan sesuatu yang esensial… “

“….. Seketika kamu akan sadar kalau kamu hidup di negara liberal. Kamu akan sulit sekali mencari masjid, atau bahkan tempat ibadah yang disediakan. Kamu akan kangen dengan jamaah shalat yang berbondong-bondong, kangen suasana masjid yang tenteram, suasana salam-salaman setelah shalat, kangen kajian, majelis taklim, dan yang lainnya..”

“… Kamu akan kangen adzan, nak. Kamu bakal kangen akan desiran hati dari lafadz-lafadz adzan. Nantinya kamu mungkin bakal shalat sendiri, bukan di mesjid, tapi dipojokan kampus yang sempit. Kalau mau baca Qur’an mungkin tak bisa nyaring. Mau wudhu pasti susah sekali…”

….

Aku tergugu. Semacam ada perasaan yang hilang dan tertawan. Aku merasa jadi asing di negeri yang bahkan belum aku datangi. Aku akan mencari-cari Allah disana, yang terwakili oleh panggilan Adzan yang mungkin takkan bebas berkumandang. Aku kini mengerti apa maksud Ibu…

“Kamu… siap… kalau nanti bangun untuk shalat subuh hanya modal alarm? Kamu siap kalau nanti shalat empat waktu lainnya itu nyuri-nyuri waktu pas kuliahan? Kamu siap ngga kalau nantinya shalat sendiri, di pojokan kampus yang paling sepi, tidak begitu layak, entah bersih dari najis atau tidak, yang bahkan digabung dengan ruang pemujaan agama lain? Kamu siap kalau nanti untuk sekedar kajian harus pergi ke kota lain yang jamaahnya lebih banyak?”

“…. Kamu siap untuk ngga dengerin adzan sekian lama? Pasti rasanya ada yang hilang, nak. Pasti. Negara terdekat disana untuk dengerin adzan secara bebas mungkin cuma Turki. Kamu siap kalau hari-harimu terasa alpa dari panggilan Allah, nak?..”

Aku hanya bisa diam. Lisanku terasa terkunci. Tahu-tahu, pelupuk mataku sudah menggenang…

“Karena… yang kamu akan cari ketika kondisi kamu paling sulit nanti… bukan Ayah, bukan Ibu, bukan teman, nak. Yang kamu cari itu pasti Allah…”

Airmataku menetes. 

…..

“… Tak ada tempat senyaman itu untuk menyerahkan segala urusan sulitmu pada Allah. Tak ada masjid sebersih dan senyaman disini untuk bersimpuh. Kamu bakal kangen suasana Indonesia nak, negeri yang mungkin tak semaju Belanda tapi dikaruniai Allah berupa umat Islam yang terbesar di seluruh dunia, yang panggilan-Nya di setiap lima waktu dapat bebas berkumandang….”

“…Kamu siap, nak?”

…..

Airmataku membanjir, seketika. Aku tak bisa lagi berkata-kata. Aku sadar, bahwa sejatinya aku hanya sendirian disana. Tak ada yang lain lagi tempatku akan menyerahkan segalanya, kecuali Allah semata. 

Entah aku siap atau tidak. Kalaupun aku jadi pergi, inilah hal yang paling aku kangeni dari Indonesia, yaitu gema suara panggilan Allah yang bebas dan merdeka, yang mengingatkan setiap umat untuk menujuNya..

Terngiang ucapan Ibu dalam hatiku,

“Kamu akan rindu panggilan Allah, nak…”


_____

21 Oktober 2016. Cerpen renungan dan mimpiku.

Hampir semua orang yang pernah jatuh cinta merasakan apa yang dirasakannya. Dan perasaan itu tidak akan bisa kaukeluarkan, kauusir dari dalam hati, kecuali jika kamu memiliki 2 hal:

1. rasa cinta kepada Allah yang luar biasa, yang menggetarkan hatimu. sehingga ketika yang ada di hatimu adalah Allah, yang lain dengan sendirinya menjadi kecil dan terusir.

2. rasa rindu kepada Allah yang dahsyat sampai hatimu merasa merana. jika kau merasa merana karena rindu kepada Allah, kau tidak mungkin merana karena rindu kepada yang lain. jika kau sudah sibuk memikirkan Allah, kau tidak akan sibuk memikirkan yang lain.

Saat hati seseorang miskin oleh cinta dan rindu kepada Allah, maka hati itu akan dijajah oleh cinta dan rindu pada yang lain. Itulah yang membuatmu tersiksa.

Mencintai makhluk itu sangat berpeluang untuk menemui kehilangan. Kebersamaan dengan makhluk itu juga berpeluang mengalami perpisahan. Hanya cinta kepada Allah yang tidak.

Anda Sedang Bersedih…?
👤 Dr. Firanda Andirja

Bukan hanya anda yang bersedih… Masih banyak orang bahkan semua orang pernah bersedih… Namanya hidup di dunia pasti tidak terlepas dari permasalahan, kegelisahan, kekhawatiran, dan kesedihan…

Allah berfirman :

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي كَبَدٍ (٤)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (QS Al-Balad : 4)

Demikianlah kehidupan dunia, siapapun orangnya, orang kaya, orang terkenal, artis, raja, presiden, menteri, semuanya pasti pernah dan sering merasakan kepayahan dan duka cita, serta kegelisahan dalam kehidupan mereka…

Bahkan terkadang, kita rakyat jelata kasihan melihat orang yang terkenal, atau pejabat, atau orang kaya, yang wajah mereka menunjukkan kesedihan yang mendalam yang terkekang dalam dada mereka…

Seorang penyair berkata :

وَكُن مُوسِراً شِئْتَ أُو مُعسِراً….فَلا بُدَّ تَلْقَى بِدُنْيَاكَ غَمّْ

Jadilah engkau orang kaya, jika kau mau atau jadi orang yang dalam kesulitan… Bagaimanapun juga, duka cita akan menerpa kehidupan duniamu…

وَدُنياكَ بِالغَمِّ مَقْرُوْنَةٌ…فَلاَ يُقْطَعُ العُمرُ إِلّا بِهَمّْ

Kehidupan duniamu selalu bergandengan dengan duka cita… Maka tidaklah umur dilalui kecuali dengan duka cita…

حَلاَوَةُ دُنْيَاكَ مَسْمُوْمَةٌ… فَلاَ تَأَكُلِ الشَهدَ إِلاَّ بِسُمّْ

Manisnya kehidupan duniamu teracuni… Maka engkau tidak mencicipi manisnya madu kecuali dengan terkontaminasi racun…

Bagaimanapun indahnya dan manisnya dunia ini, ibarat madu yang manis, akan tetapi manisnya pasti terkontaminasi dengan racun kesedihan dan kepayahan…

Semua ini menjadikan kita untuk bersabar menghadapi kepayahan dan kesedihan dunia… toh kesedihan itu hanyalah sementara…

Semuanya ini mengingatkan kita agar tidak terpedaya dengan kenikmatan dan manisnya dunia…. serta menjadikan kita selalu rindu menuju surga Allah yang berisi kebahagiaan yang abadi yang tidak terkontaminasi dengan kesedihan, kekhawatiran, dan kegelisahan….

Allah berfirman :

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ (٤٩)

“Masuklah ke dalam syurga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” (QS Al-A'roof : 49)

UJIAN SEBAGAI PENGHAPUS DOSA

Apabila kita diuji..
Hati berbisik..
Orang sekeliling menasihati..

“Allah uji sebab nak hapus dosa”

Ya betul…. tapi..
Kita makin sedih.. makin kecewa.. makin meratapi dosa..
ALLAH jua diajukan soalan..
Kenapa dan Mengapa…
Kenapa aku.. kenapa aku.. kenapa aku….. ??

Wahai kawan.. berhenti sejenak.. tukarkan fikiran kita yang negatif itu..

Allah dah janji,

INNA MA'AL USRI YUSRO..
INNA MA'AL U'SRI YUSRO
INNA MA'AL U'SRI YUSRO
(setiap kesusahan itu BERSAMA kesenangan)

Nabi Muhammad juga diuji.. bahkan lebih hebat daripada kita.. adakah kerana DOSA ??
(Allahumma solli a'la saiyidina Muhammad)

Nabi Zakaria dipotong badannya.. terputus dua.. adakah kerana DOSA ??

Sumayyah dicampak ke dalam parit api.. habis sekeluarga.. adakah kerana DOSA ??

Bilal bin Rabah juga terseksa di dunia.. dihenyakkan batu besar diatas dada.. adakah kerana DOSA ????

Bukan.. bukan.. bukan..
Bukan kerana DOSA semata2..

Allah uji untuk MENAIKKAN DARJAT.. ALLAH UJI SEBAB DIA KASIHKAN KITA.. ALLAH RINDU AIRMATA KITA.. bahagianya !!

Manusia tak suka tengok orang menangis..
Tapi ALLAH suka !!

BILA KITA MENANGIS, MALAIKAT TADAH AIRMATA.. SIMPAN DI AKHIRAT.. AIRMATA KEINSAFAN KITA YANG RINDUKAN DAN TAKUTKAN ALLAH MAMPU MEMADAMKAN API NERAKA..

Berhentilah prejudis pada Allah apabila diuji..
Jangan menghukum diri apabila diuji..
Terlebih baik ambil wudhu’.. solat dua rakaat.. selepas salam.. istighfar dan selawat.. senyum memandang ke langit.. biarlah airmata berlinang.. bisikkan dalam hati sedalam-dalamnya….

“Ya Allaaaaahhhhhh.. terima kasih kerana TIDAK MELUPAKAN aku..”

Allah itu ADIL..
Allah itu PENUH KASIH SAYANG..
Allah itu PENCIPTA kita..

Siapa lagi nak UJI kita kalau bukan Allah ..
Siapa lagi nak SAYANG kita kalau bukan Allah ..
Siapa lagi nak MULIAKAN kita kalau bukan Allah ..

Allah datangkan ujian pada kita sebab Allah nak tunjuk yang DIA wujud…. Tanda Allah nak ingatkan kita kewujudan Allah..supaya kita tahu Allah ingat pada kita.

Jangan berhenti MENGGALI kasih sayang Allah… ALLAH MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG..

SILA SHARE DAN SEBARKAN

—  Ustaz Iqbal Zain
Rindu yang tak pernah mati .

Fikiran aku cuma nak balik . Nk balik kg .. tengok mak .. nk berborak ..

Jujur aku letih duduk kat sini. Rasa sendiri walaupun ada kawan2. Aku rasa kosong.. aku sunyi ..

Aku rindu nak balik mcm kecik2 dulu.. yang semuanya normal.. sebelum mak sakit .. sebelum ayah meninggal.. im such a little girl.. semua benda aku buat mesti ada mak .. rindu mak kejut bangun pagi pegi sekolah.. rindu balik skolah mak yg jemput.. balik rumah makan .. mak yg masak.. tiap2 petang mak membebel suruh mandi dan mengaji .. kalau tak ranting inai naik atas belakang.. atau pembaris kayu hinggap kat badan .. sungguh aku rasa sakit tapi aku lebih rela rasa sakit mcm tu berbanding sakit rindu mcm ni. Seksa ya Allah..

Aku rindu nak dengar mak menjahit.. bunyi mesin jahit dia.. rindu nk tgk dia jahit baju2 aku .. gunting kain baju.. ya Allah peritnya rindu ni..

Belum lagi kalau aku tgk makanan2 kegemaran dia.. hmm entah bila last aku makan makanan yang mak aku masak.. sedap.. takda sapa yg boleh tanding.. dan aku rindu semuanya..

Ayah..
tak byk cakap.. tp aku tau dia sayang anak anak dia,, dia kerja keras sedaya upaya dia ..
aku tak sempat nak bagi apa apa hadiah masa ayah ada .. aku tak ada duit lagi masa tu aku masih sekolah..
kalau lah ayah ada skrg aku tak bagi dia pakai baju buruk2 lagi .. kain pelikat yg kusam2 … aku tak bagi dia tidur atas lantai lagi.. aku nak beli cermin mata baru utk ayah .. tapi aku bodoh ! Aku tak boleh buat semua tu . Ayah dah tak ada ..

Kalau lah masa tu boleh di undur…

Ampunkan aku mak,ayah :(