rinais

Imagine Your OTP #16

Person B owns and runs an animal sanctuary.
Person A is part of their staff who admittedly joined to get closer to the alluring owner.
After working there for a few months Person A is asked to keep watch over some duck eggs that Person B was closely monitoring, just in the slight chance that they would hatch while they were gone.
Person B comes back a few hours later to find Person A cooing over a basket of newly-hatched ducklings.
Person B starts laughing and reminds Person A how easily duckings can attach to people once they hatch.
In the weeks and months that follow, Person A is put in charge of the ducklings well being.
Every once in a while, Person B will notice one of the mallards waddle up to them and drop a note or card.
They quickly write a return response and give it back to the duck.
It goes on like this for a while until the newest note says simply, “will you go out on a date with me?”
Person B gives it a moment’s thought before playfully shouting, “what are you crazy? I can’t go out with a duck!”
They hear Person A’s exasperated sigh from behind the building and go drag them out so they can get a proper invitation.
The next problem? Finding a vegetarian restaurant.

Kamu dan Hujan

Aku takpernah bosan menuliskan hujan. Meskipun takkan pernah bisa melampaui Sapardi, hujan adalah sesuatu yang memiliki makna tersendiri. Menulisi hujan seperti menulisi tentang kamu.

Tentang air mata yang jatuh dan menjadi awal pertemuan kita. Air mata itu jatuh bersamaan dengan deras hujan di kota yang tak mengenal musim untuk menjatuhkan rinai ke pelukannya.

Puisi-puisi Sapardi kuresapi dan petrikor yang kuhirup, membuat hujan menjadi terasa berbeda. Rasanya katakata mulai memenuhi kepala dan memaksaku untuk mengeluarkannya ke atas lembalembar kertas.

Walau pada akhirnya, kertas itu hanyalah menjadi debu di dinding hatimu yang takpernah terbuka untukku. Aku tahu, dari sekian banyak orang yang ingin mengetuk pintu hatimu, hanya aku yang takmembawa apaapa kecuali segara rasa yang telah diciptakan untuk kita.

Tapi, kamu mau lebih. Kamu mau aku menjadi sempurna dalam sudut pandangmu.

Aku ingin kamu tahu, bahwa perbedaan itu bukanlah dinding pemisah antara aku dan kamu. Mungkin kamu memang pantas untuk mendapatkan sesuatu yang baik. Mendapatkan kesempurnaan yang kamu damba.

Percayalah, aku ingin menjadi sederhana saja. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti mencintai hujan yang membasahi relung perasaanku.

Seperti kenangan dan rindu yang deras menghunjam kekeluanku. Dan untuk itu, aku minta maaf. Aku hanya bisa menulisi tentangmu. Semoga suatu hari nanti, kita bisa dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik.

Meskipun takkan ada yang bisa menebak, apakah kita akan menjadi kita, atau hanya sekadar pertemuan saja. Tidak ada yang tahu, pun aku dan kamu. Jadi, sampai waktu itu tiba aku hanya cukup menunggu dan menuliskanmu kala hujan tiba.

Karena hujan adalah perihal aku yang tetap membasahi perasaanmu, sekalipun kamu enggan menerimanya.


St. Pondok Cina

1 Maret 2017

Rin Matsuoka [about Momo]: So this is your boyfriend, huh?
Aiichiro Nitori [looking around awkwardly]: I said he was a boy who was a friend.
Rin Matsuoka [to Sousuke]: Do you remember him making that distinction?
Sousuke Yamazaki: No, I don’t.

3

Aah so tragic, back to school already?? _(:>」∠)_

Anyway here’s wonderwall some (of many) left over scrap doodles that didn’t make it into any asknux asks and never will. i may have drawn nux (and others) like 300 times already ahahah v8 save my soul

Mad Max Scrap Doodles: Part 1/?

Pertanyaan yang Salah

Jangan kautanyakan mengapa aku masih berdiam diri saja di tengah keramaian taman dan membiarkan hujan membasahi parka dan pakaian yang melekat di tubuhku. Jangan kautanyakan mengapa aku membisu meskipun kau berteriak memanggil namaku dari kejauhan. Jangan kautanyakan mengapa aku tak sekali pun menganggapmu ada.

Kau memang tidak ada.

Kau hanyalah bayangan yang selalu bergentayangan. Bukan serpihan kenangan ataupun jejak jejak manis yang tumpah di jalanan. Kau hanyalah kehilangan yang selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Kau hanyalah hitam di antara putih. Kau hanyalah dirimu yang telah pergi. Kau hanyalah kau, yang kini sudah menyatu dengan tanah dan perlahan basah oleh hujan hari ini. Oleh rinai-rinai yang berkejaran dari pelupuk mataku.

Kau sudah tiada. Dan keramaian ini hanyalah sebuah bising untukku. Lalu lalang pemuda-pemudi, orang tua, anak kecil yang berlari, atau dewasa yang berciuman di bawah pohon, semuanya terasa begitu nyata. Mana ada hal itu terjadi sementara hujan terus saja menderas? Tak ada yang merasa baik-baik saja selama hujan ini menderas.

Aku tahu itu. Aku tahu bagaimana rasanya harus menatap pualammu di antara deras hujan tanpa payung dan jaket. Bagaimana rasanya harus rela terpisah antara tanah dan udara. Dan ketika seminggu lalu kau mengetuk pintu rumahku, aku hampir percaya jika kau takpernah tiada. Jika kau hanya tidur sementara dan .menyiapkan kejutan untukku.

Dan aku salah. Aku salah menganggapmu masih berkeliaran. Kau hanyalah untaian kehilangan.

Kau bukan sesiapa lagi. Tidak. Tidak. Kau sudah pergi. Mengapa kau kembali? Apakah karena aku masih saja menyebut namamu dalam setiap doa? Salahkah aku?

Dan hari demi hari kuhabiskan dengan bertanya. Kuhabiskan untuk menulisi kata demi kata yang sama setiap harinya: aku adalah aku yang telah kehilangan, dan kau hanyalah wujud sementara dari doa yang taksengaja sampai ke atas langit.

Kini, di tengah keramaian yang bising dan deras hujan, detik dan tanggal sepertinya tidak bergulir seperti semestinya. Apakah ini campur tangan semesta untuk menertawaiku yang takjua menerima kepergianmu? Ataukah aku yang terlalu jatuh padamu sehingga sulit menemukan jalan mendaki kembali? Mengapa kau melakukan ini padaku?

Aku memutuskan ‘tuk melangkah menuju bangku taman dan membiarkan deras hujan terus-terusan membasahi. Tuhan, bagaimana cara aku melewatinya? Aku hilang arah. Di sepanjang perjalanan menuju tempat ini: toko roti kesukaan kau dan aku, swalayan tempatku biasa berbelanja, hingga barisan pedagang kaki lima, selalu kutemukan kau di sana berdiri dan tersenyum padaku sembari melambaikan tangan.

Aku berusaha kuat. Sangat berusaha. Tapi, entahlah. Rasanya ingin menyerah saja. Berpaling dan berkata, mungkin menyusulmu adalah pilihan terbaik. Tapi sekali lagi, entahlah. Separuh diriku berkata bahwa kehidupan itu sesuatu yang berharga. Membuangnya begitu saja adalah kesia-siaan yang sempurna.

Lalu, aku harus bagaimana, Tuhan? Apakah aku harus menunggu hujan reda lalu menghilang? Atau aku duduk di sini sampai membusuk?

Aku butuh jawaban. Aku … butuh … jawaban.

 

Bogor,

3 Maret 2017

2 : Sepeda!

Sore ini mendung masih menyelimuti langit Cimahi. Jalanan mulai ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang. Mungkin karena ini jam pulang kerja. Aku dan Rinai menyusuri taman yang disediakan Pemkot Cimahi. Taman ini kecil. Namun cukup untuk menampung warga nya yang sedang menikmati sore. Rinai sudah bisa berjalan walau masih tertatih. Saban sore aku memang membawanya ke sini. Banyak teman Rinai yang datang. Ada Ayla yang berusia 1 tahun 3 bulan, lebih tua 2 bulan dari Rinai. Ada Abdi berusia 6 bulan anak Ibu Rusdi yang baru pindah dari Bogor, dan ada Seina  yang usianya sebaya dengan Rinai. Rinai aku gendong dan aku turunkan di tengah taman. Perlahan ia mulai membaur dengan teman-temannya.  Sengaja aku turunkan di tengah bukan di pinggir walaupun aku ingin duduk karena punggungku sedikit sakit. Tapi aku takut jika Rinai melihat tanah, bunga atau tanaman, kebiasaannya mengacak-acak tanaman bisa membuat Bapak PD Kebersihan mungkin kesal. Hehehe…

“tatata…”

Rinai berceloteh dengan temannya yang menaiki sepeda mini. Ia memegang boneka beruang karet yang terletak di setir sepeda dan bila dipencet akan berbunyi. Mungkin baru kali ini dia melihat beruang berwujud boneka. Sebelumnya ia hanya ku kenalkan dengan gambar yang aku buat sendiri. Maksudnyaberbagai macam gambar hewan  itu aku pilih dan aku print. Lalu aku tempel dan aku kliping menjadi buku cerita bergambar. Aku membuatnya ketika  hamil muda, karena mungkin imajinasi ku ini memang tak lagi tertampung untuk hanya sekadar menulis satu dua lembar. Cerita itu aku gabungkan untuk mengajarkan Rinai nilai tauhid, bukan sekadar dongeng penghantar tidur.

“ehh.. pegang apa Rinai, nak?” Aku jongkok di sampingnya. Rinai hanya menyengir sambil menunjuk boneka beruang karet itu.

“Beruang. Be…ru..ang” aku mendikte kan nama boneka itu pada Rinai. Ia hanya manggut-manggut. Temannya juga berceloteh sambil manggut – manggut.

Aku tak pernah membelikan boneka dan takkan mau membelikan Rinai boneka. Mainan yang ada di rumah yang kubelikan untuk rinai adalah puzzle, lego, alat lukis, dan balok mainan.  Aku punya alasan sendiri tak membiasakan dia memegang boneka.Entah ini bagian dari sifat parno ku atau salah satu bentuk  kehati-hatian. Aku tak tahu. Maka ketika ia melihat boneka beruang, itulah pertama kali ia melihatnya dari dekat dan memegangnya. Tapi fokusku ke sepeda mini.

Sepeda mini…

“Mas… Rinai kayaknya udah bisa naik sepeda deh… “

Suami ku masih diam memperhatikan anak perempuannya bermain puzzle. Minggu ini suami ku banyak di rumah setelah minggu lalu keluar kota untuk mengajar.

“berapaan ya, Dek?” 

Aku tersenyum sumringah, seperti melihat lampu hijau menyala setelah menunggu lama.

“tadi aku udah nanya ke Ibu Suaib, sekitar 500ribuan untuk ukuran sedang, yang seukuran untuk anak setahun. 1 kursi, ada tendanya, ada keranjangnya juga.”

“Ibu Suaib siapa? MasyaAllaah, udah Tanya – Tanya dia ke orang.Ckckck” Suami ku menggelengkan kepalanya seperti baru kali ini melihat perempuan yang kepo dengan barang incaran.

“itu, yang kemarin nawarin kredit Panci”

“Kamu jadi beli pancinya?”

“belum. Belum izin kamu ih”

“jadi mau beli panci atau sepeda?”

“oh iya. Sepeda lah… tapi gak kredit.”

“kalo panci kredit, gitu?”

“ya enggak jugaaa… kan belum izin Pak Boss”

“hahaha… yaudah, Jumat depan inshaAllaah kita beli sepeda buat Rinai. Tapi aku yang milih. Kamu ikut aja”

“kenapa gitu?”

“Terakhir kali kamu milih barang ya dek, itu butuh waktu 2 jam.Dan gak ada hasil.Akhirnya Mas juga yang disuruh milih.

“hemmm” Aku cemberut. Tapi ini memang fakta. Semoga Rinai tidak punya sifat seperti ku. Atau memang semua perempuan memang seperti itu?

Sesuai janji Abi Rinai, Setelah Sholat Jumat kami pergi ke Pasar Cimahi. Dan benar saja, ketika melihat banyak sepeda mini untuk Rinai mata ku membelalak.Rinai yang mau dibelikan aku yang kegirangan.

“kenapa Dek? Gak pernah dibeliin sepeda kayak gini ya?”

“gak pernah, kan aku langsung naik mobil. Wweeeek” kali ini aku tak mau mengalah pada Abi Rinai.

“yang warna biru aja Mas”

“Hijau lah, cerah dan terang. Apa-apa masa’ biru. Huh”

“biru… Rinai kan cewek. Heuh”

“lah, temenmu cewek buktinya ada yang suka warna hijau. Wooo”

“punten Teh, ada yang bisa dibantu?”

Seorang gadis muda mendatangi kami.Pekerja di toko sepeda ini. Melihat kami sedang beradu argument membuatnya agak sungkan untuk menawarkan langsung.

“iya Teh, sepeda mini untuk anak setahunan ada?”

“lah kamu kenapa nanya Dek?”

Iya juga, padahal udah berdebat tadi.

“untuk si dedek nya ya? Adanya ini Teh”

“Cuma warna ini ya Teh?”

Ternyata di toko ini hanya ada warna orange dan merah  untuk seukuran Rinai. Setelah pamit kami pergi ke toko di sebelahnya.

Toko ini lebih besar dari toko pertama, bangunan dan warnanya pun tampak lebih kokoh dan cerah dari toko yang kami datangi tadi.Selain sepeda mini, toko ini juga menyediakan barang – barang kelontong yang terbuat dari plastik di bagian dalam toko. Tapi entah kenapa aku tak tega melihat toko yang pertama kutinggalkan tanpa membeli apa-apa.

“yang ini mau gak Dek?”

“lah… katanya Adek gak boleh milih…?”

“siapa yang nanya kamu. Mas nanya Rinai, kok. Week”

“hmmm” Aku lantas mengalah dan berdiri di pinggir toko. Kubiarkan anak beranak itu memilih sepeda. Rinai digendong Abinya.Ia tampak senang karena bolak balik bertepuk tangan dan menunjuk – nunjuk sepeda. Aku mengalihkan pandanganku ke toko pertama.Mereka juga menyediakan barang-barang kelontong di dalamnya, walau aku rasa tak terlalu banyak. Lalu aku kembali ke toko tadi. Aku baca pamfletnya “Toko Makmur” sebuah nama memang merupakan sebuah doa, dan doa merupakan segala sesuatu yang belum menjadi nyata. Seperti toko ini. Mudah-mudahan kalian memahami maksud kalimatku.

“jadi Teh sepedanya?”

“eh, gak Teh. Saya cari panci. Ada?”

“oh ada Teh. Di dalem”

Aku dan gadis muda yang ku kira usianya tak lebih dari umur 20 tahun ini menuju  ke dalam toko. Di sisi dan kanannya kulihat barang barang centang prenang. Mulai dari kompor minyak, panci, wajan, dandang, rantang, piring kaleng, piririg kaca, sendok dan lainnya.

“ini teh yang ukuran sedang”

“waaaahhh barang ini masih ada Teh?” Aku lagi – lagi berlebihan dalam menanggapi hal sepele.Tapi yang ditawarkan adalah panci dengan merek yang seumuran dengan Ibu ku. Ibu ku dan Ibu mertua ku malah masih memakainya karena panci ini berbahan tebal, anti lengket, dan  tahan lama. Tidak seperti panci sekarang kebanyakan yang tipis dan mudah bocor. Dan yang menbuatku fantastis lagi harganya dibawah 100ribu. Bagi ibu-ibu sepertiku,  apapun yang di bawah 100 ribu adalah surga dunia no 3.

Aku permisi sebentar pada gadis muda itu untuk izin dengan suamiku yang masih menawar sepeda Rinai.

“massss… mau buat adek senang gak?”

“emang kamu gak pernah senang?”

“Yeee..selalu, tapi adek minta izin ya. Beli panci ini”

“yaAllaah… besar banget. Gak ada yang lebih kecil?Kamu mau masak apa pakai panci besar gitu?”

“ini yang nomor 3 kok, aku beli 2 ya, 1 untuk aku 1 lagi untuk Ibu di Tangerang. Ibu pernah bilang lagi cari panci yang ini. Yaaaa.. Mas yaaaa”

“alasan aja kalo ada maunya. Pakek bawa Ibu segala. Iya. Uang sendiri kan?”

“gak. Mana dompet? Minta 100ribu aja sini”

Lalu aku kembali ke toko dan membuat akad dengan penjualnya. Pemilik toko ternyata orang Padang, dengan sedikit berbasa basi memakai dialek minang aku bertanya juga sudah berapa lama toko ini ada.Ternyata Bapak Hasan (nama pemilik toko) sudah membuka tokonya lebih dari 20 tahun. Namun karena pelanggan kini lebih memilih membeli barang di Pasar Swalayan yang modern, penghasilannya berkurang dan hanya menjual barang sisa di toko. Entah kenapa aku senang sekali membeli 2 panci no 3 anti lengket dan karat ini. Sama senangnya dengan Rinai yang dibelikan sepeda baru. Aku senang bukan karena membeli panci nya, namun aku senang melihat kegembiraan gadis penjaga toko yang menerima uang dariku dan senyum Bapak pemilik toko yang ramah. Semoga toko mereka makmur kembali.

Dan Rinai, sudah punya sepeda baru. Warnanya merah muda.