rezeki

anonymous asked:

Kuliah di kampus yang bagus seperti itb,unpad,ipb,undip,ugm dll harus pintar ga sih kak? Aku minderr sekali mau kuliah ditempat seperti itu kalau mendengar cerita "kampus itu kan isinya orang pintar semua"

Kata siapa? Orang pintar itu definisinya bagaimana, nilai tinggi? Sempurna?


Kawanku, selama kamu mau berjuang masuk ke kampus-kampus itu, kenapa tidak? Aku berhasil masuk IPB setelah 5 kali gagal ujian masuk kampus. Mulai dari snmptn undangan sampai simak UI.

Teman-temanku di IPB juga ternyata tidak semua dikategorikan sempurna secara nilai. Di sini kami (termasuk aku) ada juga yang ketika ujian nilainya tidak sesempurna itu. Tapi, kami belajar untuk itu.

Jadi, kamu jangan minder, ya. Perjuangkan saja. Jika tidak lolos, coba lagi. Perihal rezeki masuk atau tidak, hanya Tuhan yang menentukan.


Semoga menjawab. Terima kasih :)

hafah  asked:

Assalamualaikum bang Sekiranya diberikan rezeki oleh Allah, di Satu sisi ingin digunakan untuk menikah namun di lain sisi ingin digunakan untuk memberangkatkan kedua orangtua umroh. Menurut abang mana sekiranya yang perlu di dahulukan?

Wa’alaykumussalaam wr wb, Jawabannya tergantung prioritas masing-masing akhi, tiap orang berbeda. Mungkin ada yang berpikiran prioritas umrohkan orang tua dulu, nikah masih bisa ditahan atau ditunda. Tapi ada juga yang memang merasa sudah sangat harus segera menikah, lalu umrohnya dipending sejenak. Dia khawatir jika nikahnya tertunda lebih lama lagi dia bakal kesulitan menjaga diri, it’s okay.

Nggak ada yang salah, sebab prioritas orang beda-beda.
Maka antum yang lebih tau.

Today Rezeki

Jika kamu bangun pagi hari ini dan kamu masih mampu untuk bernafas, maka itulah rezekimu hari ini

Jika tubuhmu masih bisa berdiri untuk shalat dan beribadah, maka itulah rezekimu hari ini

Jika hatimu merasa tentram dan masih terpaut padaNya, maka itulah rezekimu hari ini

Banyak yang terlampau melupakan bahwa esok ataupun lusa cerita rezeki ini bisa saja akan berganti

Di belahan bumi lain, orang-orang belum tentu mendapatkan rezeki seberuntung dirimu hari ini

Rezeki itu terkadang bukan hanya tentang materi, tapi tentang hati yang selalu menerima dan mensyukuri

Selama ini kita sering kali sibuk mencari padahal yg perlu dilakukan hanyalah menyadari kalau nikmat dan rezeki dari Allah S.W.T untuk kita ini banyak sekali!


on 30days Writing Challenge with :
@febrianimanda @alfianzack @hiboki @isasetiawan @swcoollepool
@dyahayucintya @inbakus @ageovani @afsabila @zgalangb @milhanfah @fahrizal182

Sebab-sebab yang paling kuat untuk mempermudah datangnya rezeki:
1. Mendirikan sholat dengan penuh pengagungan dan khusyu’
2. Membaca surat Al Waqi’ah khususnya pada malam hari
3. Membaca surat Yasin dan Al Mulk setelah shubuh
4. Datang ke masjid sebelum adzan
5. Menjaga wudhu’
6. Melakukan sholat sunah shubuh dan witir di rumah
7. Mengisi waktu antara sholat shubuh dan terbit matahari dengan I’tikaf di masjid
8. Memperbanyak bacaan ya kafi ya mughni ya Fattah ya rozzaq ( يا كافي يا مغني يا فتاح يا رزاق )
Imam Syafi’i berkata:
Ada empat sebab yang bisa mempermudah datangnya rezeki:
1. Qiyamul lail
2. Memperbanyak istighfar sebelum fajar
3. Bersedekah
4. Membaca dzikir pagi dan petang
Ada empat sebab yang bisa mempersulit datangnya rezeki:
1. Tidur dipagi hari
2. Sedikit sholat
3. Malas
4. Khianat
Dengarkanlah nasihat ini dan amalkan dengan penuh keyakinan !!!
Semoga Allah selalu memberi taufik kepada kita semua untuk berbuat kebaikan

Tulisan : Rezeki itu ada waktu dan tempatnya

Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang waktu yang dijalani, semakin terasa bahwa apa-apa yang dulu tidak dipahami menjadi semakin dimengerti. Melihat bagaimana dunia berputar, bagaimana orang-orang bergerak ke sana ke mari, merasakan bagaimana siang dan malam terasa semakin cepat berganti.

Sebelum lulus dari kuliah, ingin ini dan itu. Banyak sekali. Melihat kepemilikan orang lain dan ingin memilikinya. Melihat teman yang sudah lulus dan bekerja, terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu tidak terasa berharga.

Selepas kuliah. Melihat bagaimana teman-teman mulai memiliki perusahaan sendiri, ataupun mulai membeli dan mencicil rumah, juga kendaraan, dan kita masih tertatih-tatih kepanasan dengan sepeda motor dan kos-kosan yang sempit. Terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu begitu sedikit.

Selepas itu, melihat teman satu per satu menemukan pasangan hidupnya. Kita pun mulai berpikir bagaimana mencari dan menemukannya, sementara di satu sisi kaki kita masih berpijak di dunia dimana kita masih mengukur seberapa banyak harta yang kita siapkan untuk membina rumah tangga. Dan kita juga menyadari usia yang semakin menua. Juga menyadari kalau menikah tidaklah tepat dengan alasan-alasan seperti itu, tapi tetap saja hati kita terasa kosong dan iri pada apa-apa yang didapati oleh teman-teman yang lain.

Setelah menikah, kita melihat orang lain memiliki bayi-bayi yang lucu. Bahkan beberapa dari mereka, menikah setelah kita dan memiliki bayi lebih dulu. Sementara kita belum juga diberikan. Rasanya kebahagiaan seperti dikurangi setiap hari dan setiap kali melihat foto-foto bayi yang membanjiri linimasa media sosial.

Rasanya, tidak akan pernah ada habisnya jika kita menghitung apa-apa yang tidak dan belum kita miliki. Dan itu membuat hari kita semakin sempit, kebahagiaan semakin sulit ditumbuhkan.

Dan saya menjadi paham bahwa rezeki itu memang ada waktu dan tempatnya. Apa yang saya miliki saat ini, adalah apa-apa yang begitu diinginkan oleh orang lain. Barangkali memang inilah rezeki yang paling tepat untuk saya saat ini. Dan saya pun menjadi paham bahwa mendoakan orang lain itu lebih baik daripada bertanya.

Bertanya tentang; kerja dimana, penghasilan berapa, sudah punya apa, kapan menikah, sudah hamil belum.

Kadang saya khilaf, jangan-jangan saya menjadi sebab hilangnya rasa syukur orang lain karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Pertanyaan yang seperti peduli tapi sebenarnya hanya penasaran karena ingin tahu. Keingintahuan tentang orang lain yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan saya pun belajar bahwa syukur itu hal yang paling bisa memenangkan dan menenangkan hati. Saya percaya bahwa rezeki itu akan datang di tempat dan waktu yang terbaik. Jangan khawatir.

Yogyakarta, 20 April 2017 | ©kurniawangunadi

Kadangkala kita doa untuk dikurniakan pasangan yang baik tapi Tuhan hantar kawan-kawan baru yang baik. Kadangkala kita doa untuk dapat anak, namun dikurniakan tambahan kewangan. Kita doa untuk begini, tapi Tuhan bagi yang begitu. Mungkin buat waktu ini kita lebih perlu untuk berada dalam keadaan sekarang. Tuhan lebih tahu.

Apapun teruskan doa & usaha, kerana rezeki itu ada, cuma berbeza ceritanya.

Sabar, okay?
Ganjaran sabar sangat tidak terbatas. Dan pasti ada sesuatu yang indah menanti.

—  Insya-Allah.

saya, ayah, dan ibu ngobrol tentang turnover personil yang dialami sekolah dan perusahaan. ibu bercerita tentang fenomena yang unik–di mana para guru yang lebih senior cenderung lebih setia dibandingkan dengan yang muda. para guru muda itu adalah guru-guru generasi saya, milenial kata mereka. padahal, para guru senior telah bersama kami (sejak) saat semuanya susah, saat kelas masih di garasi. padahal, para guru junior yang akhirnya memutuskan pindah haluan, tidak sedikit yang sekolahnya diupayakan oleh ibu–supaya bisa kembali memberi dan berbagi.

saya jadi sedih–dan malu sih–atas (sebagian) generasi saya itu. kenapa ya daya tahan dan daya juang kami segitu-segitu aja. kenapa ya kami banyak berhitung tentang manfaat (bagi diri sendiri, uang terutama). kenapa ya kami selalu bertanya “what’s in it for me?” dan selalu “taking things for granted”. kenapa ya kami kemakan dogma-dogma tentang mengikuti passion sampai lupa tentang pesan nabi untuk menjadi bermanfaat. kenapa ya?

mungkin yang salah adalah sosial media–yang menampilkan kehidupan manis senang nan bahagia di permukaan, yang membuat kami (kita) melupakan hakikat perjuangan dan rasa syukur. mungkin yang salah adalah para motivator, yang menyerukan bahwa passion adalah segala-galanya–padahal kami (kita) yang diseru juga sekadar ikut-ikutan saja. mungkin yang salah adalah para pemilik lapangan kerja, yang berlomba-lomba pasang harga sehingga bekerja menjadi kegiatan transaksional belaka, jual beli jasa semata.

“generasi ibu nggak kenal tuh sama istilah passion. yang kami kenal itu menjadi bermanfaat sebab begitu pesan nabi. generasi ibu percaya bahwa rezeki itu paling banyak bisa dijemput di tempat di mana kita bisa bermanfaat paling banyak.”

kita yang muda punya banyak kesempatan, punya banyak jalan untuk dipilih. kita yang muda punya masa depan yang masih panjang. kita yang muda bisa mencoba-coba banyak hal, banyak bidang.

tapi, kita yang muda juga harus selalu ingat
untuk bersyukur secara utuh: atas yang dicapai dan tidak dicapai, yang didapat dan tidak didapat, yang dimiliki dan tidak dimiliki, yang dipertahankan dan dilepaskan;
untuk berterima kasih pada setiap peran yang telah menjadikan kita diri kita yang sekarang;
untuk menjadi makna dan menjadi manfaat–mengutamakannya.

ibu dan ayah benar. apalah arti punya hidup keren kalau hanya untuk diri sendiri. inilah yang selalu saya sampaikan pada adik-adik saya, juga anak-anak saya kelak.

ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat–dunia akhirat.

setiap rezeki yang diterima sehari hari, Allah telah percukupkan keperluan kita.

mintalah lebih manapun, akan lebih juga keperluan seharian.

yang mencintai dunia, tak akan pernah puas
yang mencintai akhirat, akan selalu merasa cukup  :)

MEETING SAMA ALLAH

Obrolan antara seorang bos dan sekretarisnya di pagi hari.

B : Tolong atur jadwal saya, jam 11.45 saya ada meeting sama Allah. Siapain pakaian terbaik, sama parfumnya yah. Saya enggak enak kalau meeting bajunya kurang bagus.

S : Siap pak. Tapi kebetulan pak, jam tersebut ada pertemuan sama direksi pak.

B : Geser saja, ini lebih penting. Kan mereka mau nunggu sampe jam 3an. Kalau sempet, nanti saya meeting sama direksi.

S : Siap pak

B : Oiah, jam 15.00 juga saya ada meeting lagi sama Allah. Ingetin yah, pokoknya 15 menit sebelum saya harus udah ada di rumah Allah. Gak enak kalau terlambat, soalnya ditungguin.

S : Siap pak. Oia pak, tapi jam segitu juga bapak ada pertemuan sama pemilik saham.

B : Ah, tenang aja, cuman pemegang saham doang, gak penting. Kan masih ada waktu sampai jam 6, nanti kalau sempet, saya meeting sama pemilik saham.

S : Baik pak.

B : Oiya, mohon atur juga yah, jam 6 juga saya ada meeting sama Allah. Habis itu kosongin waktu sampai jam stengah 8, karena masih lanjut ada meeting juga sama Allah jam 7 nya. Mohon siapkan pakaian saya yang bagus yah.

S : Siap pak. Tapi pak, jam 6 sampai jam 7 ini ada agenda ketemu klien pak.

B : Sudah, geser saja. ini lebih penting. Klien bisa nunggu kok sampai subuh. Nanti kalau saya gak cape, kalau enggak ketiduran, saya meeting lah sama klien.

S : Baik pak.

B : Sekalian, mohon juga bangunkan saya pukul 3 subuh nanti. Saya ada meeting sama Allah jam stengah 5 pagi. Tapi katanya Allah mau sidak di 1/3 malam terakhir.

S : Siap pak. Tapi bukannya itu jamnya bapak buat istirahat pak? Kalau enggak istirahat bukannya nanti capek?

B : Enggak, ini meeting penting soalnya. Gak bisa saya tinggalin. Tidur bentar juga cukup kok, gausah dilama-lamain.

S : Siap pak kalau begitu.

Pada kenyataannya, justru kisah diatas terbalik dari apa yang seringkali terjadi.

Meeting sama manusia, sesibuk apapun disempatkan. Meeting sama Allah, sesantai apapun dilalaikan.

Meeting sama manusia, sesulit apapun, kita akan menggunakan pakaian terbaik. Meeting sama Allah, kaos oblong ama sarung juga udah cukup.

Meeting sama manusia, telat sedikit aja malunya minta ampun. Meeting sama Allah, telat banget juga ga merasa malu malu, kadang juga ga minta ampun.

Meeting sama manusia, pasti bisa. Meeting sama Allah, liat nanti deh di waktu yang tersisa.

Padahal Allah itu yang menciptakan, tapi kita mendahulukan yang ia ciptakan.

Padahal Allah lah yang memberi rezeki, tapi kita mendahulukan perantaranya.

Apakah pejabat, klien, sahabat, teman, kerabat, sudah memberi kita hidup sampai kita mendahulukan mereka dibanding sang maha pemberi hidup?

Padahal jadwal meeting sama Allah enggak pernah berubah, selalu di waktu dan jam yang sama, tapi kadang seringkali kita terlambat datang ke meetingnya, seringkali kita datang dengan pakaian seadanya, seringkali kita datang dengan sisa tenaga yang ada.

Maka, tatkala seorang manusia mendahulukan sesuatu dibandingkan tuhannya, maka dia sedang mencintai dunia dan melupakan urusan akhiratnya.

Semoga, kita bisa mulai berbenah diri untuk meeting berikutnya bersama Allah.

Jadi, sudah menyiapkan waktu serta penampilan terbaik untuk meeting sama Allah besok?

MEETING SAMA ALLAH
Bandung, 18 April 2017

BAGUS BANGET BUAT DIRENUNGKAN:

Cara Allah menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu, tapi dengan menguatkan jiwamu sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tak menyerah.

Cara Allah menyayangimu bukan dengan mengurangi beban yang kau pikul, tapi dengan mengokohkan pundakmu, sehingga kau mampu memikul amanah yang diberikan kepadamu,

Cara Allah menyayangimu mungkin tak dengan memudahkan jalanmu menuju sukses, tapi dengan kesulitan yang kelak baru kau sadari bahwa kesulitan itu yang akan membuatmu semakin berkesan dan istimewa.

Hidup itu ………

Butuh masalah supaya kita punya kekuatan

Butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras.

Butuh air mata supaya kita tahu merendahkan hati

Butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai.

Butuh tertawa supaya kita tahu mengucap syukur,

Butuh senyum supaya tahu kita punya cinta

Butuh orang lain supaya tahu kita tidak sendiri

Beberapa luka tidak diciptakan untuk sembuh, tidak pula untuk menetap

Jika ia berakhir dengan ke IKHLASAN, ia akan lahir menjadi cahaya yang itu adalah hadiah terindah dari Allah.

Berbahagialah pada taqdir dengan penerimaan yang tulus, Sungguh mengajari hati BERBAIK SANGKA itu Indah.

Semoga kita semua diberikan keselamatan, kesehatan, kekuataan, kesabaran dan rezeki yang melimpah,

Aamiin.

Awali dengan doa dan hati yg ikhlas

#selfreminder

Empat Hal Penghambat Rezeki

Pertama,
Tidur Pagi.

Kedua,
Sedikit shalat.

Ketiga,
Malas-malasan.

Keempat,
Sifat Khianat.

(Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma'ad, 4:378)

Rasa-rasanya kayak headshoot gtu :’

Jangan-jangan selama ini kita udah banyak berikhtiar untuk mencari berbagai rezeki dan ternyata hanya sedikit yang datang, bisa saja karena niat mencari rezeki itu bukan lillahi ta'ala
—  Jleb!
.
Kebanyakan kita mencari maisyah itu untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya “kerja apa yang menghasilkan banyak duit”, “jualan apa yang bisa menghasilkan banyak pemasukan”, dst. Padahal, ketika kita meniatkan lillahi ta'ala ya rezeki itu akan datang dari arah tak terduga “wa yarzuqhu min haytsu laa yahtasib”
Tulisan : Produktif

Kita dan sekitar kita sering keliru dalam memaknai “produktifitas” menjadi “rutinitas”. Ketika mungkin kita pernah dianggap tidak bekerja hanya karena kita tidak berangkat pagi dan berseragam seperti kebanyakan. Ketika kita dianggap pengangguran hanya karena kita terlihat santai-santai saja di rumah tanpa memiliki kantor. Ketika kita dianggap bekerja serabutan/tidak jelas hanya karena definisi pekerjaan kita tidak dimengerti oleh orang lain.

Kita tahu bahwa produktifitas itu berbeda dengan rutinitas. Dan kadang, meski kita tahu kita pun tetap mengejar “rutinitas” demi dianggap ada oleh orang lain. Padahal kita sendirilah yang paling memahami tentang apa yang kita kerjakan.

Segala aktivitas yang menjadi rutinitas belum tentu produktif, hanya dilakukan berulang-ulang menjadi sebuah ritme. Dan betapa kita menyaksikan masyarakat kita terjebak dalam rutinitas tanpa produktifitas. Ketika jam kerja yang begitu banyak tidak sebanding dengan karya-karya produktif yang dihasilkan. Tidak ada kebaruan, tidak ada inovasi. Hanya berkutat pada hal serupa.

Sebagai generasi milenial. Kita dihadapkan pada kondisi yang sangat dinamis, dimana “pekerjaan” baru bermunculan. Tidak pernah terbanyangkan dulu mungkin pekerjaan admin, bekerja dengan bermain handpohone, mengendalikan media sosial, dan sebagainya. Kita difasilitiasi oleh begitu banyak perkembangan teknologi yang membuat produktifitas kita berkali-kali lipat tanpa harus berpindah tempat.

Dan ditengah kesadaran itu, di sanubari terkecil kita seakan tidak tenang. Seolah rezeki hanya ada ditempat-tempat yang pasti. Dan kita mencari rutinitas, demi melampiaskan ketidaktenangan kita. Hanya saja, kemudian begitu banyak yang terjebak di dalamnya.

Kita akan dihadapkan pada keputusan tentang pekerjaan, tentang karir, tentang bagaimana kita mengais rezeki untuk keluarga kita nanti. Dan kita akan berhadapan pada kenyataan, impian, paradigma, dan pandangan orang-orang terdekat kita. Seolah-olah keputusan kita tidak lagi semata untuk hidup kita, tapi juga untuk menyenangkan orang lain. Dan kita semakin sulit untuk memenangkan apa yang hati kecil kita katakan.

Yogyakarta, 3 Maret 2017 | ©kurniawangunadi

Di dalam hidup saya banyak orang yang datang kemudian pergi lagi, banyak orang yang mengaku teman justru tak lama malah lari, banyak pula yang mendekati jika membutuhkan, menjauh ketika saya meminta bantuan.

Namun, lebih banyak lagi yang tetap menemani, saya berhenti, mereka semangati, saya tak berkata apa-apa untuk meminta itu ini, mereka sadar sendiri menawarkan diri.

— 

Alhamdullillah, masih di kelilingi orang-orang baik.

Ini rezeki.

tentang rezeki

“gaji dijemput dengan kerja, rezeki dijemput dengan taqwa”

sebagai seorang Muslim hendaknya kita memiliki suatu pemahaman yang baik tentang rezeki. bahwa rezeki adalah bagian dari takdir. bahwa rezeki telah ditetapkan bahkan lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. bahwa rezeki jika sudah ditetapkan atas seseorang, tidak sedikitpun akan tertukar.

seringkali saat membicarakan rezeki hal yang terlintas pertama kali adalah materi. padahal rezeki tentang lebih luas dari semua itu. rezeki bahkan lebih banyak hadir bukan dalam materi, ia hadir dalam tubuh yang sehat, keluarga yang harmonis, tetangga yang baik hati, teman yang setia, kemudahan dalam beribadah, keamanan diri, dan ketentraman jiwa.

oleh karena rezeki telah dijaminkan, maka makna kerja kita adalah seutuhnya pengabdian kepada Allah. oleh karena kerja kita bukan penentu apa yang kita nikmati, maka bekerja menjadi luapan syukur kita kepada Allah.

kemudian kita memberi makna pada bekerja itu.

bekerja adalah bentuk penyempurnaan pengharapan kepada Allah atas asa-asa yang kita sandarkan kepada-Nya. bekerja adalah menata niat untuk menjadi jalan rezeki bagi diri dan sebanyak mungkin orang lain. bekerja adalah yang dalam lelahnya ada rasa lezat dan payahnya ada rasa nikmat.

“Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba yang berkarya dan tekun-terampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang yang berjuang di jalan Allah” (HR Ahmad)