rezeki

Tulisan : Hidup Berbeda

Banyak orang takut untuk memilih jalan yang berbeda. Jalan yang sunyi, jalan yang jarang dilewati oleh orang lain. Jalan yang begitu menggelisahkan karena tidak benar-benar tahu apa yang ada di depan sana dan apa yang akan ditemui di perjalanan. Jalan yang sebenarnya menjadi impian tapi realita kehidupan mengalahkan seluruh impian itu. Impian itu dikalahkan oleh pikirannya sendiri karena khawatiran pada kepastian masa depan. Padahal tentang masa depan, siapa yang tahu?

Bagaimana kalau kita berpikir sejenak untuk memilih jalan yang berbeda. Tentu saja berbeda dengan jalan yang sedang kita lalui hari ini. Saat begitu banyak orang berlomba ingin mendapatkan beasiswa, bagaimana kalau kita menjadi orang yang memberikan beasiswa? Meski mungkin kemampuan kita sedikit, bukan berarti tidak mungkin kan? Kita memberikan sebagian rezeki kita untuk menyekolahkan orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kita? Atau harus menunggu mapan dulu, berpenghasilan banyak, baru menyekolahkan mereka? Bukankah kita bermain dengan waktu, jika itu terjadi dalam 4-8 tahun lagi, sudah berapa jenjang yang terlewatkan oleh adik-adik kita hari ini di luar sana kehilangan kesempatannya?

Saat begitu banyak orang ingin keluar negeri? Adakah yang ingin keluar dari pikirannya tentang diri sendiri? Pergi menyusuri jalanan kota dan desa di negeri ini untuk bertemu dengan rakyat yang katanya dulu kita perjuangkan di tengah demonstrasi? Bertemu dengan orang-orang yang katanya menjadi alasan kita pergi jauh, nanti ilmunya akan dimanfaatkan untuk membantu masyarakat? Bukankah selepas kepulangan banyak yang duduk manis di bawah AC ruang kantor perusahaan multinasional?

Saat begitu banyak orang sibuk mencari pekerjaan selepas lulus dari kuliah. Bagaimana kalau kita mengambil jeda untuk menikmati perjalanan? Sudah 16 tahun kita tidak henti-hentinya sekolah dari SD hingga Perguruan Tinggi, sampai hampir tidak ada waktu untuk menerapkan setiap rinci pelajaran yang kita dapatkan. Karena kita sibuk mengejar nilai, IPK, mengejar masuk sekolah bagus di jenjang berikutnya? Sampai kita tidak pernah bisa memahami untuk apa kita belajar biologi dan fisika, untuk apa kita belajar tentang semua itu karena kita kebingungan dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Mari kita ambil jeda, melakukan perjalanan. Tidak perlu memikirkan tentang mencari pekerjaan, mari kita temukan dan cari tahu apa yang sebenarnya kita mau. Hidup kita jangan hanya itu-itu saja; lahir-sekolah-lulus-bekerja-menikah-punya anak-dan mati.

Saat begitu banyak orang berlomba ke kota, terutama ke Jakarta. Bagaimana kalau kita kembali ke kampung halaman kita masing-masing? Tidak perlu malu meletakkan gelar sarjana kita dan duduk bersama dengan para petani, memegang cangkul, ikut panas-panasan kerjabakti. Seringnya orientasi kita terhadap materi membuat kita malu untuk melakukan hal-hal demikian, dirasa tidak sepadan dengan gelar sarjana yang kita emban. Bagaimana kalau kita membuat pekerjaan untuk diri kita sendiri, bila setiap orang berpikir demikian, tentu tidak akan ada pengangguran. Ah lagi-lagi, permasalahanya di orientasi kita terhadap kehidupan dan materi. Kita terlalu lama hidup di kota besar, sekolah di kota besar, dan gaya hidup kita pun berubah ingin mengikuti kehidupan di kota besar.

Saat begitu banyak orang takut mempertahankan idealismenya. Bagaimana kalau kita menjadi orang yang percaya bahwa hidup dengan idealisme bukanlah sebuah omong kosong. Saat orang-orang menyuruh kita agar realistis, nyatanya kehidupan ini sudah dikatakan oleh Yang Maha Kuasa bahwa semua ini semu, tidak realistis. Karena kehidupan yang hakiki adalah setelah kematian. Mengapa kita ragu untuk mempertahankan idealisme? Apakah karena takut pada kemiskinan dan masa depan?

Menjadi berbeda tentu bukan hal mudah. Karena entah mengapa dunia ini terlihat begitu indah. Benar-benar melenakan. Dan masa depan terlihat begitu mencemaskan, benar-benar menakuti kita untuk membuat pilihan-pilihan yang tidak biasa.

sebuah kontemplasi pagi, 31 Agustus 2015
©kurniawangunadi

rindu itu bumbunya kehidupan suami-istri, maka keluarlah pagi-pagi, carilah bagian dari rezeki di dunia, dan kembalilah di akhir hari penuhi rindu

percaya itu ibarat tiang utama dalam pernikahan, maka jagalah dan jangan lalaikan sedikitpun, teguhkan, dan kokohkan dengan jujur dan amanah

dan senda-gurau, saling mendengarkan, itu nyawanya berkeluarga, disitu kita saling memahami dan mengerti, mengasihi dan menyayangi

diatas segala-galanya, Islam itu ruh kehidupan, tanpanya tak ada guna menikah, takkan bahagia berkeluarga, dan takkan langgeng suami-istri, yakin deh :)
—  Ustadz Felix Siauw

 Rasulullah s.a.w. pernah bersabda,
“Allah telah menetapkan takdir semua makhluk sejak 50,000 tahun sebelum Dia menciptakan langit & bumi“ (HR.Muslim)

Setiap manusia yg lahir kat atas dunia ni, semuanya dah tertulis rezekinya di Luh Mahfuz sejak bertahun lamanya. & kita wajib beriman & percaya bahawa, sebaik-baik perancangan itu ialah perancangan Allah s.w.t. & sejak kita berusia 4 bulan didalam kandungan ibu, dh siap dh semua dokumen tentang hidup, ajal, jodoh & rezeki kita dari kita lahir sampai kita mati kelak. Semua dah siap. Sebelum lahir lagi dah siap. 

Allah Maha Adil.
Tak mungkin satu manusia pun, rezekinya kurang atau lebih dari manusia yg lain.
Semua sama.

Tapi knp bila lahir ke dunia, kita tgk ada org miskin, ada org kaya.
Ada yg sihat, ada yg sakit. Ada yg anak ramai, ada yg takde anak.
Ada yg gaji juta-juta. Ada yg kais pagi kais petang tak makan-makan.

ini jawapannya,
Krn ujian Allah terhadap manusia itu berbeza-beza.

Dan rezeki dtg pun dlm bentuk yg berbeza-beza.

Ada yg kaya, tapi takde anak. Byk duit, tapi sunyi. Duit lebih,

Ada yg miskin, tapi anak ramai. Hidup penuh & kaya dgn doa anak-anak. & insyaAllah lancar perjalanan ke Jannah nanti.

“Bayangkan setiap manusia tu ada rezeki dh tertulis utknya. & manusia itu duduk dgn kita.

Dlm rumah kita. Pasti kita jugak dpt merasa tempias rahmat rezekinya itu. Jadi knp takut nk beranak ramai?

Sepertimana sabda Rasulullah s.a.w.,
“Berusahalah untuk memperbanyak keturunan, krn kamu tidak tahu dari anak yg mana kamu mendapatkan rezeki.”

Maka yakinlah dgn rezeki masing-masing.

Jgn tgk org yg kurang itu kurang. Dan yg lebih itu lebih.
Ada benda yg dia ada, kita takde. Dan ada benda yg dia takde, kita ada.
 Itu pasti.

Jika kita kaya, jgn lupa.
Dlm kekayaan kita itu, ada rezeki org lain.
Allah uji manusia ni dlm dua keadaan. Kesenangan mahupon kesusahan.
Ujian dlm kesenangan biasanya lebih susah krn manusia mudah terbuai & lupa.
Kan?

Jom sama-sama renung-renungkan. Contohi peribadi mulia pemimpin teragung dunia & akhirat, Rasullullah s.a.w.

Wallahhu Ta'ala A'lam

#thedaiegraphy #dakwahmudah #abuhanifah #hakhada #usrahsantai #muhasabah #rezeki #ramadhan

A man reached 70 years of age and he faced a disease; he could not urinate.

The doctors informed him that he was in need of an operation to cure this disease. He agreed to have the operation done as the problem was giving him much pain for days.

When the operation was completed, his doctor gave him the bill which covered all the costs. The old man looked at the bill and started to cry.

Upon seeing this the doctor told him that if the cost was too high then they could make some other arrangements.

The old man said :
“I am not crying because of the money but I am crying because Allah let me urinate for 70 years and He never sent me a bill.”

source: FB Convert to Islam

Cantikkan agama Allah ni.. Smua perkara diberikan cara oleh Allah.. its only up to us nak cari dgn cara betul ke tak kan.. ;) Back to Qur’an and Sunnah.. :D

Allah kata kalau nak dimurahkan rezeki, solatlah sunat Dhuha.. InsyaAllah.. Just try it, dgn izin Allah S.W.T kita sama2 boleh nmpak kerahmatan dn keberkatan dgn bersolat Dhuha ni. Percayalah insyaAllah. Tp solat yg wajib jgn tinggal lah kan.. ehehehe.. :))) ♥

Aku ada kawan yang belajar sampai SPM, tp berjaya dlm perkerjaan.

Aku ada kawan yang tak habis sekolah, tp aku lihat dia berjaya sekarang.

Aku ada kawan yang belajar sampai diploma, tp aku lihat dia kerja biasa biasa sekarang.

Aku ada kawan yang belajar sampai degree, tp aku lihat dia hanya duduk dirumah sekarang. (sbb cuti sem)

Dan aku ada kawan yang mengaji pondok, tp boleh je hidup, siap bagi duit sara mak bapa lagi.

hati ni kena banyak husnudzon. ;’(

Kita sering dimomok-momokkan dengan, ‘kau tak sambung belajar tinggi-tinggi, cemana nak dpt gaji tinggi atau, cemana nak hidup kalau kau takde degree atau diploma? Ngaji pondok nanti, nak makan apa?’ Sememangnya Minda orang kita dah di setkan begitu. 

Iya, bagus jika kerisauan itu diluahkan, menandakan dia seorang yg prihatin kepada kita. Tp jangan sampai, pegangan kita pada Allah itu tiada. Kerana Rezeki semua dari Allah s.w.t. Bukan manusia yang beri rezeki, tetapi Allah, manusia hanya asbab utk seseorang menerima rezeki.

Rezeki, jodoh, ajal, maut di tangan Tuhan, Nak takut apa? Semuanya dah tertulis sejak azali, sejak kita masih didalam rahim ibu. Banyak cara utk menjemput rezeki. Yang penting diri kita, tidak terkeluar dari landasan akidah dan tidak melakukan perkara perkara yang tidak diredhai. 

Dan buat pengamal 
'6D - duduk diam diam doa dapat duit' 
mohon angkat diri, dan berusaha, kerana bulat takkan dtg bergolek & pipih takkan dtg melayang. Jangan samakan rezeki kau dengan rezeki kucing. Sebab kau bukan kucing.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (Surah Ar-Rad:11) 

'peringatan buat diri sendiri’.

Semoga Allah memelihara kita dalam mencari keredhaanNya.

Wallahhu Ta'ala A'lam.

#thedaiegraphy #dakwahmudah #abuhanifah #rezeki

Mendekatlah pada Allah, Maka Allah Akan Menolongmu

diterjemahkan dari tulisan Maryam Amirebrahimi: Hook Up with Allah, Allah will Hook You Up

Sebelum saya menikah, saya diberi nasehat-yang-tak-diminta tentang bagaimana saya harus berubah supaya terlihat “lebih menarik” untuk lelaki. Para saudari dengan sukarela memberitahu saya bahwa saya harus mengubah cara berpakaian, kepribadian, dan semangat dalam aktivisme supaya saya tidak membuat mereka (para lelaki-pen) takut.

Saya frustasi. Sejak kapan tujuan hidup kita adalah untuk menikah? Di mana di dalam Quran, Allah Sang Pemberi Rezeki-Dia Yang telah menuliskan takdir kita untuk setiap aspek kehidupan-meminta kita untuk mengubah kepribadian kita dan mengurangi aktivisme kita dalam rangka mendapatkan pasangan? Kenapa saya harus mau mengubah diri saya untuk menyenangkan orang lain dan menikah dengan seseorang yang tidak benar-benar menghargai siapa saya sebenarnya?

Bagaimanapun, karena pernikahan menjadi perhatian besar bagi masyarakat kita, banyak orang yang menghadapi godaan untuk mengubah diri mereka yang sebenarnya dan nilai-nilai internal mereka demi untuk menemukan pasangan.

Ini idenya: Daripada berusaha untuk menyenangkan orang yang berpotensi melamar, mungkin pertama-tama kita harus berusaha untuk menyenangkan Allah SWT, Dia Yang bisa menaburkan benih cinta dalam hati kita dan Dia Yang bisa memberkahi kita dengan suami idaman atau istri idaman atau memberikan hal lain yang terbaik bagi kita jika itulah yang terbaik untuk kita.

Maka, untuk mereka yang sedang berusaha untuk menikah, selain mencari jalan untuk menikah dengan menghadiri bermacam acara, mari mengharapkan pernikahan melalui hubungan kita dengan Al Wahhab, Yang Maha Pemberi. Pemberi Segalanya. Mari jujur. Kita bicara tentang Al Mujib, Yang Menjawab Doa. Itu adalah beberapa di antara nama-nama Allah. Allah memberi dan Dia menjawab!

Jika kita adalah individu  yang berjuang untuk menundukkan pandangan dan menjaga mata, hati, lisan, dan tubuh kita dari hal-hal yang dilarang, tidakkah kita tahu bahwa Allah Azza wa Jall (Yang Maha Perkasa dan Maha Agung) tentunya akan membalas kita dengan balasan yang besar?

Setiap kali kita mengangkat pandangan dan melihat seseorang yang kita harap kita bisa bersamanya, kemudian kita mengalihkan pandangan, di saat itu kita bisa sungguh-sungguh meminta pada Allah untuk memberkahi kita dengan pasangan yang akan menjadi penyejuk mata kita. Tidakkah Allah Azza wa Jall mendengar dan menerima doamu padaNya? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendorong kita untuk berdoa, “Mintalah dan kau akan diberi, minta dan kau akan diberi” (At-Tirmidzi).

Di momen seperti sepertiga malam terakhir, dalam dua rakaat shalat yang kita lakukan karena rasa frustasi yang murni kita alami dari situasi yang kita hadapi, terisak, meminta Allah SWT untuk menjawab kita - tidakkah kita berpikir bahwa Allah rabbul 'alamin (Tuhan semesta alam) akan merespon kita? Bagaimana bisa Allah, Yang Menjawab, tidak akan menerima doa dari hambaNya yang teguh, yang berjuang dalam perjuangan yang berat dan sulit untuk menjaga kesopanan dan kesucian dirinya? Allahu Akbar (Tuhan Maha Besar), ini adalah Allah! Tanpa ragu Allah SWT akan menjawab kita!

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan dari Allah, Tuhan semesta alam, dalam sebuah hadits qudsi:

“Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’” (HR Bukhari)

Apa artinya mendekati saudara dan saudari di Facebook jika kita tidak lebih teguh menjaga hubungan dengan Dia Yang bisa membantu kita?

As Syaikh Muhammad Faqih pernah berkata, “Mendekatlah pada Allah, maka Allah akan mendekatimu/menolongmu!”

Mari mendekat dengan shalat! Mendekat dengan Al Quran! Mendekat dengan kerja komunitas karena Allah saja! Dan milikilah keyakinan bahwa ketika kita berjuang untuk membuat Allah ridha, Allah, Asy-Syakur, adalah yang Maha Mensyukuri, yang mengapresiasi pekerjaan kita dan tidak diragukan lagi akan membalas kita.

Apakah balasannya dalam bentuk pasangan yang luar biasa atau pernikahan yang luar biasa? Allah lebih tahu yang terbaik. Bisa jadi demikian, bisa jadi tidak. Bagaimanapun, bagian terbaiknya adalah Allah SWT tahu apa yang TERBAIK bagi kita dan apapun hasilnya, kedekatan kita dengan Allah telah meningkat dengan adanya ujian ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang berdoa, dan doanya tidak berisi perbuatan dosa atau memutus silaturahim, kecuali Allah akan memberikan salah satu di antara tiga balasan: (1) Allah kabulkan doanya, (2) Allah hindarkan dirinya dari musibah yang senilai dengan isi doanya, dan (3) Allah simpan dalam bentuk pahala untuknya di akhirat.” (HR Ahmad)

Jadi, kita harus tahu bahwa jika kita mendekat pada Allah, kita bisa percaya bahwa Dia akan mendekatkan kita dengan apapun yang terbaik untuk kita, apakah itu sesuai yang kita minta atau sesuatu yang lebih baik dari itu. Allah mendukung kita! Siapa yang lebih baik untuk diserahi kepercayaan tentang masa depan kita selain daripada Dia Yang sudah tahu tentang itu?

Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan? Mungkin. Tapi apa ruginya? Jika pada akhirnya kita hanya mendapatkan kedekatan dengan Allah SWT, kita lebih banyak tilawah Al Quran, akhirnya kita merasakan manisnya shalat, kita lebih banyak berdoa daripada sebelumnya, maka, dengan izin Allah, kita akan mendapatkan lebih dari waktu “pencarian pasangan” di facebook sementara kita mencoba menemukan separuh diri kita.

Mereka yang ingin menikah harus menempuh jalan yang diperlukan - bertemu orang baru, terlibat dengan organisasi dan proyek baru, mempertimbangkan pilihan online atau acara khusus lajang.. Kita harus menggunakan sarana yang ada untuk hasil yang diharapkan. Tapi jangan lupa bahwa Dia Yang akan menentukan hasilnya harus selalu berada dalam pikiran kita, dalam hati kita, dan kita sembah melalui perbuatan kita secara lebih bersemangat, sungguh-sungguh dibandingkan dengan waktu dan usaha yang kita lakukan dalam mencari separuh diri kita.

Dan jika pernikahan tidak terwujud untuk alasan apapun yang terbaik, maka dengan fokus meningkatkan hubungan kita dengan Allah SWT, kita akan mendapatkan jauh lebih banyak di dunia ini dan di kehidupan yang akan datang, insya Allah; derajat yang lebih tinggi di Surga tertinggi, dan hubungan yang luar biasa dekat dengan Pencipta kita dan hubungan baru yang tak tertandingi dengan doa kepada Dia Yang selalu mendengar dan merespon.

Tuhan semesta alam bicara pada kita dan memberitahu kita, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186)

Kita datang pada Allah dengan raja (harap), dengan kombinasi yang kuat antara mencari keridhaan Allah, berjuang untuk meninggalkan apapun yang akan mendatangkan kemurkaanNya, dan berusaha dengan konsisten untuk meminta padaNya untuk membukakan yang terbaik untuk kita. Dan dengan semua itu, kita menyerahkan kepercayaan kita padaNya bahwa Dia akan memberikan apapun yang terbaik untuk kita. Tentu saja Allah mendengar dan pasti akan menjawab kita.

Seperti yang pernah dikatakan, “Tidak mungkin seseorang menaruh kepercayaan pada Allah untuk dikecewakan olehNya. Allah tidak akan mengecewakan mereka yang yakin, tawakal, dan bersangka baik padaNya”.

Mendekatlah pada Allah, dan Allah, Yang Maha Bijaksana, pasti akan menolong kita dengan cara yang sebaik-baiknya.

image

-HS-

kadang2 kita tertanya kenapa rezeki susah nak masuk kan?

nie lah salah satu penyebabnya…

Ya Allah Ya Tuhanku, hindarilah aku daripada perasaan riak dan tidak bersyukur atas segala nikmat yang aku perolehi hari ini..amin..

Jom ucapkan alhamdulilah pada nikmat yang diberi oleh -Nya

Alhamdulillah..Alhamdulillah..Alhamdulillah.. :)

.
[Bertawakkal Seperti Burung]
.
Abu Hurairah radiallahu ‘anhu meriwayatkan Nabi sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
.
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ .
.
Akan masuk ke dalam syurga kelompok manusia yang hati mereka seperti hati burung.
[Sahih Muslim, Kitab al-Jannah, hadis No: 7341]
.
'Umar bin al-Khattab radiallahu 'anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda:
.
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا .
.
Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, nescaya kalian akan diberikan rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia keluar pada waktu pagi dalam keadaan perut yang kosong, dan pulang dalam keadaan kenyang.
[Sunan at-Tirmizi, Kitab az-Zuhd, hadis No: 2344, hadis hasan sahih]
.
1- Tawakkal ialah usaha yang disertai penyerahan sepenuhnya kepada Allah.
.
2- Burung keluar mencari makanan walau dia sendiri tidak pasti adakah dia akan pulang dengan membawa makanan atau tidak.
.
3- Manusia perlu keluar bekerja, berusaha, dan serahkan natijah atau hasilnya untuk Allah yang tentukan.
.
4- Usaha adalah kerja manusia, rezeki adalah daripada Allah.
.
5- Tidak berusaha bukanlah tawakkal, kerana tawakkal terpuji ialah yang disertai usaha sebagaimana burung yang keluar mencari makanan.
.
| www.alkahfi.com.my | www.fb.com/AlkahfiServices | #pagi #hadis #rezeki

Mungkin ada yang terlupa bahawa rezeki seseorang itu sudah ditentukan oleh Allah sejak Azali lagi. Rezeki seseorang itu juga tertakluk kepada setiap usaha dan kesungguhan seseorang hamba yang mana doa-doa, solat-solat 5 waktu yang tidak pernah tinggal, solat-solat sunat hajat atau tahajjud setiap malam sering di'top-up’ untuk menyatakan pada Dia betapa hamba ini butuh akan pertolonganNya dan kuasaNya untuk menjadikan impian seseorang hamba ini menjadi kenyataan.

Jadi, kenapa perlu sakit hati, berhasad dengki dan tidak berpuas hati dengan rezeki yang Allah beri pada diri sendiri jikalau apa yang kalian lakukan tidak setanding dengan apa yang kalian mahukan? Kenapa perlu iri dengan rezeki yang lain, pada mereka yang kalian lihat cukup sempurna pada pandangan kalian, padahal dibelakang tabir hanya Allah SWT yang tahu betapa perit jerihnya mereka ini melalui jalan yang penuh onak duri yang adakalanya ia lapang dan adakalanya ia penuh dengan hutan belantara dipenuhi dengan pelbagai binatang buas yang misteri maha menggila. Adakalanya jalan yang dilalui dihempas oleh ombak tsunami dengan tiba-tiba, entah datang dari mana. Adakalanya jalan ini sunyi, dipenuhi dengan siulan burung-burung yang berkicau sambil bejana sementara ini dipancarkan oleh sinaran mentari lalu titikan demi titikan peluh seperti kristal mengalir membasahi pipi. Adakalanya jalan ini bising dengan gegaran dan dentuman guruh yang bertandang tanpa diundang, jantung bagai dirobek dengan pancaran kilat yang maha dahsyat. 

Dan ada kalanya jalan ini menuju ke arah satu taman yang penuh dengan bunga-bunga mekar mewangi, dihiasi lagi dengan air terjun yang amat menyejukkan, dedaun pokok diliputi embun pagi, rumput-rumput yang lembut lagi mengasyikkan. DI SINI dan DI SINILAH kalian melihat rezeki yang Allah kurniakan pada mereka. Kalian memang tak akan pernah melihat perjalanan perit yang mereka lalui kerana mata hati kalian penuh dengan daki dan kotoran yang busuk, menyebalkan. ISTIGHFAR! Bunuh kuman-kuman itu, gosok daki-daki yang membukit, hakis semuanya, bersihkan semuanya! 

Mungkin bila sudah bersihnya mata hati itu, Allah akan membawa kamu ke jalan yang di situ. Dan Allah akan sentiasa memahat di akal, fikiran dan di mata hatimu yang semua hamba semuanya sama. Mereka yang bahagia sebenarnya pernah menderita dan jika yang memang bahagia dan tak pernah menderita, jawapannya cuma ada pada Dia sahaja. Yang penting kalian harus ingat, kau itu siapa dan dia itu siapa? 

Kekasih, Rezekimu Di mana-mana

Hari ini kita sama-sama hidup di tahun 2015, sayangnya ada beberapa yang masih merasa hidup di zaman penjajahan, zamannya segala macam hak manusia dikebiri, dikendalikan oleh manusia yang (merasa) berhak atas manusia lainnya. Prihatin.

Semua hal yang terjadi atas diri manusia, adalah atas kehendak Allah. Baik alhamdulillah, kalaupun buruk semoga bisa menjadi pelajaran, semoga dianggap sebagai ujian. Tidak ada yang sia-sia.

Setelah resign beberapa bulan lalu, status saya masih pencari kerja. Allah pasti punya rencana. Termasuk tawaran kerja dengan syarat yang kalau mau ditanggapi dengan serius, adalah syarat yang melanggar hak paling dasar bagi seorang manusia bebas. Syarat yang melanggar kebebasan seseorang dalam menunjukkan identitas keagamaannya.

Saya, diajukan syarat berupa: akan langsung diterima bekerja, jika mau membuka jilbab selama bekerja.

Ini memang bukan cerita baru. Sudah banyak pasti yang dapat penawaran sama dengan yang saya terima. Sikapnya juga pasti berbeda-beda. Ada yang mengiyakan setelah galau siang malam, ada yang langsung menolak tanpa pikir panjang. Pilihannya kembali lagi pada kebebasan setiap orang.

Tapi ini tetap masih di luar ruang pikir saya. Seharusnya, jika syarat utama yang mereka cari adalah tidak berjilbab, surat lamaran saya boleh sekali langsung dibuang ke tempat sampah, tidak perlu dibaca terlebih dahulu lalu mengajukan penawaran. Seolah merasa membantu tapi sesungguhnya adalah…ya begitu. Oh iya, syarat tidak berjilbab itu tidak diberitahukan di awal. Karena kalau tahu, saya lebih baik cari yang lain.

Saya cuma bisa senyum ditawari itu. Malas mendebat dalih-dalih pembenaran yang dibuat sendiri. Udah jelas gak bangetnya. Hehe

Kalau boleh memilih, semua orang ingin hidup serba mudah. Tapi, lagi-lagi Allah punya rencana yang pasti lebih baik. Saya agak kurang peduli dengan pendapat mereka setelah saya menolak. Saya sedih dan kecewa kenapa masih ada hal seperti ini, sekaligus lega karena Allah masih melindungi.

Saya dapat pelajaran baru lagi. Bahwa duniawi bisa sangat menyeramkan. Orang-orang bisa membenarkan apa pun untuk urusan dunia.

Semoga kita semua tetap dalam lindungan-Nya. Dan semoga kita tetap selalu percaya bahwa rezeki-Nya yang baik tersebar luas di darat, laut juga udara.

Punca rezeki.

Bukan terletak pada sesuatu pekerjaan itu.
Tetapi dari Allah swt.

Kalau kita cuma hanya penjual tisu tepi jalan, tapi jika Allah letakkan rezeki kita disitu bernilai RM1000 sehari, itu tidak mustahil.

Sebab Allah Maha Pemurah lagi Maha Pemberi Rezeki pada hambaNya.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا , وَ رِزْقًا طَيَّبًا , وَ عَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Allahumma inni as’aluka ‘Ilman naafi’an, wa rizqan tayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan

O Allah! I ask You for knowledge that is of benefit, a good provision and deeds that will be accepted.

[Ibn Majah and others]