rezeki

Kadangkala kita doa untuk dikurniakan pasangan yang baik tapi Tuhan hantar kawan-kawan baru yang baik. Kadangkala kita doa untuk dapat anak, namun dikurniakan tambahan kewangan. Kita doa untuk begini, tapi Tuhan bagi yang begitu. Mungkin buat waktu ini kita lebih perlu untuk berada dalam keadaan sekarang. Tuhan lebih tahu.

Apapun teruskan doa & usaha, kerana rezeki itu ada, cuma berbeza ceritanya.

Sabar, okay?
Ganjaran sabar sangat tidak terbatas. Dan pasti ada sesuatu yang indah menanti.

—  Insya-Allah.

Sebab-sebab yang paling kuat untuk mempermudah datangnya rezeki:
1. Mendirikan sholat dengan penuh pengagungan dan khusyu’
2. Membaca surat Al Waqi’ah khususnya pada malam hari
3. Membaca surat Yasin dan Al Mulk setelah shubuh
4. Datang ke masjid sebelum adzan
5. Menjaga wudhu’
6. Melakukan sholat sunah shubuh dan witir di rumah
7. Mengisi waktu antara sholat shubuh dan terbit matahari dengan I’tikaf di masjid
8. Memperbanyak bacaan ya kafi ya mughni ya Fattah ya rozzaq ( يا كافي يا مغني يا فتاح يا رزاق )
Imam Syafi’i berkata:
Ada empat sebab yang bisa mempermudah datangnya rezeki:
1. Qiyamul lail
2. Memperbanyak istighfar sebelum fajar
3. Bersedekah
4. Membaca dzikir pagi dan petang
Ada empat sebab yang bisa mempersulit datangnya rezeki:
1. Tidur dipagi hari
2. Sedikit sholat
3. Malas
4. Khianat
Dengarkanlah nasihat ini dan amalkan dengan penuh keyakinan !!!
Semoga Allah selalu memberi taufik kepada kita semua untuk berbuat kebaikan

Rezeki yang luas dan amalan yang hebat itu bukanlah yang banyak kuantitasnya. Dan panjang umur yang diidamkan itu bukanlah yang banyak hitungan tahun dan bulannya. Namun rezeki yang luas adalah rezeki yang ada keberkahan di dalamnya. - Ibnu Qayyim

Maka yang terpenting dalam rezeki adalah keberkahannya. Walaupun rezeki banyak jumlahnya, namun jika tidak berkah adalah sia-sia. Jika keberkahan selalu ada dalam rezeki kita maka InsyaAllah akan diberi kelancaran dalam segala perkara. Semoga kita selalu diberi keberkahan dalam setiap rezeki yang kita terima.

Ada Titipan di Setiap Rezeki Kita

Seorang Ayah dianugerahkan gaji bulanan sebesar 30 juta. Profesinya sebagai asisten manajer salah satu kapal wisata memberikannya kesempatan tuk menghidupkan istri dan anaknya dengan baik. Penghasilan yang ia dapat lebih dari cukup.

Tapi sayang ia mengira gaji besar itu untuk dia seorang. Dia yang lelah bekerja keras, dia juga yang berhak menghabiskan uangnya untuk apa saja. Lupa, bahwa di belakangnya ada tanggung jawab menafkahi istri dan anak-anak. Tega, menempatkan hatinya pada wanita lain dan meninggalkan keluarga.

Mahaadil Allah, sesungguhnya hukuman-hukuman di dunia ini bukan sama sekali menandakan Tuhan jahat. Tapi sebaliknya, Mahasayang Ia pada hamba-hamba-Nya yang baik, bahkan mengangkat batas antara doa dan pengabulannya jika mereka yang baik tersakiti. Bukankah seorang guru tidak diam saja melihat murid yang mengganggu temannya?

“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat?” (QS. Shad: 28)

Maka tak lama setelah menjauh-hindari keluarganya, Ayah tersebut kehilangan pekerjaan. Kandas semua harta. Enyah semua rasa bangga. Tertambah beban batin yang tak lagi terakui oleh keluarga. Hasil gaji yang ia dapatkan habis tuk bersenang-senang.

Ada titipan di setiap rezeki kita. Bagi seorang ayah atau suami, jelas sudah Allah lebihkan ia atas keluarganya, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka.” (QS. Annisa: 34)

“Memberi nafkah kepada keluarga merupakan perkara yang wajib atas suami,” jelas Ibnu Hajar Al Asqolani, “sehingga ia bisa memberikan sedekah kepada orang lain setelah mencukupi nafkah keluarganya.”

Ada titipan di setiap rezeki kita. Mungkin bersama uang sangu yang kita dapat dari orang tua atau beasiswa, ada rezeki adik-adik pemulung di stasiun kota. Mungkin bersama uang hadiah juara atau hasil usaha, ada rezeki oleh-oleh untuk keluarga dan donasi korban kemanusiaan dunia. Seberapa pun uang yang sampai di tangan kita, mungkin ada sebagian persennya tuk kita bagikan kepada sesama.

Dari sini juga kita lebih menyadari esensi rezeki, bahwa ia tak hanya merupa uang, tapi juga keringanan berbagi dengan rasa lapang. Bukan sekadar berjumlah rupiah, tapi juga kegigihan tuk senantiasa bersedekah. Iman, waktu luang, saudara sholihin-sholihaat, pasangan dan anak yang qonitin-qonitaat, nikmat sehat, semua, adalah rezeki yang tak kan pernah bisa terhitung. Maka menyalurkan sebagiannya merupa satu syukur yang indah.

“Dan terhadap nikmat Rabb-Mu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)” (QS. Adh Dhuha: 11)


|| Jakarta, 21 Sept 2017

Today Rezeki

Jika kamu bangun pagi hari ini dan kamu masih mampu untuk bernafas, maka itulah rezekimu hari ini

Jika tubuhmu masih bisa berdiri untuk shalat dan beribadah, maka itulah rezekimu hari ini

Jika hatimu merasa tentram dan masih terpaut padaNya, maka itulah rezekimu hari ini

Banyak yang terlampau melupakan bahwa esok ataupun lusa cerita rezeki ini bisa saja akan berganti

Di belahan bumi lain, orang-orang belum tentu mendapatkan rezeki seberuntung dirimu hari ini

Rezeki itu terkadang bukan hanya tentang materi, tapi tentang hati yang selalu menerima dan mensyukuri

Selama ini kita sering kali sibuk mencari padahal yg perlu dilakukan hanyalah menyadari kalau nikmat dan rezeki dari Allah S.W.T untuk kita ini banyak sekali!


on 30days Writing Challenge with :
@febrianimanda @alfianzack @hiboki @isasetiawan @swcoollepool
@dyahayucintya @inbakus @ageovani @afsabila @zgalangb @milhanfah @fahrizal182

Cerpen : Lelah

Aku lelah dalam berjuang, di usia yang berbilang masih muda ini. Seketika aku ingat bagaimana orang tuaku dulu berjuang. Melangkahkan kaki dari rumah ke tempat kerjanya, belum berkendara seperti saat ini. Seketika aku merasa malu.

Cita-citaku terlalu tinggi, sampai-sampai mereka berdua tidak paham dengan apa yang aku citakan. Namun, mereka dengan tulus hati mendoakan; semoga apa yang aku cita-citakan itu tercapai.

Sementara aku sendiri ragu apakah bisa mencapainya atau tidak. Di tengah-tengah jalan yang penuh liku ini. Jalanan yang padat, setiap hari aku harus menantang air dingin di pagi hari, melawan kantuk, menerjang kemacetan, duduk berjam-jam dan sesekali pergi ke lapangan untuk survey, kemudian pulang selepas isya dalam keadaan lelah.

Semua ini membuatku rindu pada rumah. Pada setiap butir nasi hangat yang ibu ambilkan dari ricecooker. Pada sayur tadi siang yang dihangatkan kembali. Aku rindu pada setiap kemudahan yang aku dapatkan ketika aku di rumah. Meski berbilang usiaku sudah 25-an, aku tetaplah anak-anak di mata mereka.

Aku lelah di perjalanan ini. Perjalanan yang membuatku risau, apakah ini jalan yang benar atau bukan. Apakah aku akan menjalani jalan ini hingga akhir hayatku? Mencari rezeki di sana? Dan juga jalan yang akan aku ceritakan dengan bangga ke anak-anakku nantinya.

Aku lelah dan lagi-lagi aku malu kepada ayah. Setiap pagi, sewaktu aku masih tinggal dengan mereka. Ayahlah yang selalu mencuci baju sekeluarga, sementara ibu memasak di dapur. Aku hanya perlu bersiap diri. Dan ayah, ia harus berburu dengan waktu agar bisa berangkat tepat waktu.

Aku lelah dan lagi-lagi aku malu kepada ibu. Aku tahu, betapa bangganya beliau ketika bercerita kepada kerabat dan tetangga tentang anaknya yang berhasil masuk universitas, kemudian lulus dengan predikat cumlaude, tak lama setelah itu diterima bekerja.

Aku malu bila aku hendak mengeluh lelah. Aku tahu, mereka tidak perlu tahu kerisauanku. Sebayaku menyebutnya Quarter Life Crisis. Mereka hanya perlu mendengar kabar baik, agar hatinya tentram dan doanya tidak dipenuhi kekhawatiran, dan sesungguhnya itulah kesimpulannya. Aku tidak ingin mereka khawatir.

Yogyakarta, 24 Agustus 2017 | ©kurniawangunadi

Sudahlah tidak apa-apa.

Jika sekarang kau rasa Rezekimu masih terasa kurang, susah dapet uang, atau mungkin usahamu sedang sepi; Mungkin Tuhan sedang melunakkan hatimu agar nanti ketika sudah berlebih rezekimu, hatimu tidak keras untuk mau membagi rezekimu ke siapa saja yang membutuhkan oleh karena kamu pernah berada di posisi mereka dulu.

Sabar ya..
Jika Tuhan mengizinkan, sabarmu ini akan membukakan pintu-pintu rezekimu di lain hari nanti.

Mungkin memang bukan rezeki yang banyak, tapi yang pasti itu adalah rezeki-rezeki yang baik.
Tentang Rezeki

Barangkali banyak yang bertanya, bagaimana bisa seorang mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi dapat tiba-tiba memutuskan untuk menikah dengan mahasiswa ko-ass kedokteran yang hampir setiap semester mengajukan keringanan UKT. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana bisa mereka berdua bertahan hidup terpisah dari orangtua tanpa dibiayai orangtua kecuali untuk biaya pendidikan saja. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana mereka bisa haha-hihi, makan-makan, dan ke sana ke mari tanpa kekhawatiran akan rezeki.

Beberapa orang mengira Fahmi tidak bekerja. Padahal tidak mungkin Fahmi dulu berani datang ke rumah kalau ia sendiri masih bergantung sepenuhnya pada orangtua. Fahmi mengajar tahfidz di sebuah rumah tahfidz di daerah Sleman. Mungkin gajinya tidak seberapa. Tapi hari ini, sebuah kemewahan yang tak terkira rasanya, jika tempat tinggal dan makan sudah tidak perlu ditanggung oleh diri sendiri. Apalagi kalau jam kerjanya hanya setelah subuh dan setelah maghrib, sehingga kuliah dan kegiatan akademik lain hampir tidak terganggu sama sekali. Inilah yang dulu Fahmi tawarkan untuk ia bagi dengan saya. Jauh dari bermewah-mewah mungkin, tapi tidak bisa dibilang kurang.

***

Ada satu pelajaran yang orangtua kami sama-sama tekankan kepada kami. Bahwa rezeki itu sudah dijamin oleh Allaah. Allaah sendiri yang bilang, bahwa ‘tidak satu makhluk pun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allaah rezekinya’ (Hud:6). Kalau dalam bahasa Abah, beliau sering katakan, ‘nggak usah khawatir masalah rejeki, nanti Allaah yang cukupi’. Dalam ayat yang lain Allaah bahkan dengan spesifik katakan, ‘dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allaah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allaah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui’ (An-Nur: 32). Orangtua kami memegang betul janji Allaah itu, sehingga besarnya gaji tidak menjadi kekhawatiran sepanjang ada ikhtiar untuk terus mencari rezeki.

Karena Allaah sudah jamin rezeki masing-masing orang, maka sebetulnya menikah itu bukan berarti membagi dua rezeki suami dengan rezeki istri. Suami memiliki rezekinya sendiri, sedangkan istri memiliki rezekinya sendiri. Itulah mengapa ada yang bilang bahwa banyak anak banyak rejeki. Karena rezeki anak itu bukan literally dari rezeki orangtuanya, tetapi setiap anak akan membawa rezekinya masing-masing. Meski, yang kemudian perlu dipahami adalah, bahwa rezeki itu tidak melulu berbentuk rupiah, tapi dapat berupa kesehatan, kesempatan, rasa kenyang, rasa senang, dll. Karena bahkan rezeki sendiri definisinya adalah semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati oleh seorang hamba.

Setelah menikah, kami betul merasakan apa yang Allaah janjikan itu. Saya dan Fahmi menggunakan aplikasi di smartphone untuk mengatur keuangan keluarga. Aplikasi itu memungkinkan kami mendapatkan laporan keuangan dengan kategori pemasukan atau pengeluaran yang begitu detail. Misal gaji tetap adalah X, tapi setelah kami lihat laporannya ternyata arus uang yang keluar-masuk bisa mencapai 4 kalinya X. Ada saja rezeki tambahan yang Allaah beri selain dari gaji. Fahmi sendiri bingung bagaimana bisa begitu, karena sebelum menikah belum pernah arus keuangannya sebesar itu. Begitulah rupanya cara Allaah menjamin rezeki kami.

***

Ada satu hal lagi yang kami selalu pegang terkait jaminan rezeki oleh Allaah ini. Bahwa besarnya rezeki kita, hanya Allaah yang tahu. Misalnya gaji Fahmi adalah X. Namun belum tentu rezeki yang Allaah tentukan itu adalah sebesar X, bisa jadi lebih atau kurang. Kalau rezeki yang Allaah tetapkan lebih, maka Allaah akan tambahkan rezeki kami dari sumber yang lain.

Kalau rezeki yang Allaah tetapkan kurang dari gaji Fahmi, maka Allaah akan keluarkan rupiah yang diterima sampai besarnya sebesar rezeki yang Allaah tentukan. Cara Allaah untuk mengeluarkannya bisa jadi dengan cara yang tidak mengenakkan seperti diberi sakit sehingga harus berobat, kecopetan, kerusakan sehingga harus mengeluarkan biaya servis, kecelakaan, dll.

Kenapa bisa begitu? Karena Allaah bilang, ‘dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya’ (An-Najm:39). Misalnya seseorang mendapat gaji sebesar X dengan melakukan A, B, C, dan D. Tapi dalam prakteknya, orang tersebut hanya mengerjakan pekerjaan A dan B saja, sedangkan gajinya tetap X. Maka sebetulnya sebagian dari gaji sebesar X-nya itu bukan hak orang tersebut. Di sinilah Allaah akan paksa untuk keluarkan rezeki orang tersebut sehingga keluarlah apa yang bukan haknya dengan cara yang tidak mengenakkan.

Konsep inilah yang kemudian menjelaskan kenapa sedekah dapat menolak bala. Misalkan gaji seseorang adalah Rp 1.500.000,00, tapi rezeki yang Allaah tetapkan adalah Rp 1.000.000,00. Orang tersebut kemudian menyedahkan Rp 700.000,00 dari total gajinya. Maka, Rp 700.000,00 yang ia sedekahkan itu menjadi pahala sedekah untuknya, sedangkan Rp 200.000,00 yang merupakan bagian dari rezeki Allaah untuknya yang ia sedekahkan akan dikembalikan lagi kepadanya karena sudah merupakan ketetapan Allaah untuk menjadi rezekinya. Rp 500.000,00 yang bukan merupakan hak orang tersebut sudah hilang tanpa Allaah perlu memaksanya hilang. Berarti orang ini sudah menghilangkan potensi ‘musibah’ yang akan menimpanya, sekaligus menambah catatan pahala karena bersedekah.

Untuk itu, kita perlu sekali memenuhi apa yang diamanahkan kepada kita, terlebih perihal pekerjaan yang menjadi sumber nafkah. Karena bisa jadi apa yang kita terima bisa jadi jauh dari yang ‘seharusnya’ kita terima akibat dari kekurangamanahan kita. Untuk itu pula, kita perlu rajin-rajin sedekah untuk membersihkan harta sekaligus menolak bala.

***

Dua konsep di atas jika dipegang dan dilaksanakan mungkin sudah cukup untuk membuat orang survive tanpa kekhawatiran akan harta. Tapi ada dua lagi janji Allaah untuk menambah nikmat hambanya, yakni dengan syukur dan taqwa. Banyak orang di luar sana mati-matian mencari uang dengan dalih supaya kaya. Tapi ternyata setelah kaya, mereka tetap tidak puas dan terus saja mencari kenikmatan dunia. Mereka rupanya kehilangan apa yang Allaah janjikan tadi. Mereka lupa untuk bersyukur, dan mungkin mereka luput untuk bertaqwa. Karena sungguh, Allaah berfirman, ’sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’ (Ibrahim:7). Dan di ayat yang lain, 'Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu’ (At-Tholaq:2-3)

Semoga kita termasuk dalam golongan yang senantiasa bersyukur dan bertaqwa. Semoga, Allaah lapangkan dan berkahi rezek kita serta menjauhkan kita dari bala.

Rabbi auzidni an asykuro ni'matakallatii an'amta alayya….

setiap rezeki yang diterima sehari hari, Allah telah percukupkan keperluan kita.

mintalah lebih manapun, akan lebih juga keperluan seharian.

yang mencintai dunia, tak akan pernah puas
yang mencintai akhirat, akan selalu merasa cukup  :)

berharap

pernah nggak sih kamu, karena sudah tau dari awal bahwa sesuatu akan mengecewakan, kamu jadi malas, lelah, atau berhenti berharap?


kamu tahu bahwa skripsimu hanya akan memenuhi rak perpustakaan, jadi kamu malas berharap bahwa apa yang kamu teliti akan mengubah dunia.


kamu tahu bahwa berapa lama pun kamu bekerja gajimu tidaklah bertambah signifikan, jadi kamu malas berharap bahwa kebaikan yang kamu lalukan akan mendatangkan rezeki.


atau barangkali, kamu tahu bahwa semua–setiap–orang yang ada dalam hidupmu pasti akan mengecewakan, kamu malas berharap ada kebaikan yang mereka perbuat kepadamu.


pernah. kita mungkin pernah menolak berharap karena menghindari rasa kecewa yang ikut membuntuti (nanti).


ya, memang begitu! segala sesuatu di dunia ini punya sisi mengecewakan. sadarilah bahwa kamu pun–bagi seseorang–juga mengecewakan. maka, tidak ada guna menaruh harapan pada manusia. namun tidak, tidak begitu! kamu harus selalu berharap. berharaplah dengan tepat.


berharap adalah kepada yang Maha Menentukan. berharap adalah sekaligus berdoa dan berprasangka yang baik. berharap adalah sekaligus berjuang, sebaik-baiknya perjuangan. berharap adalah sambil meluaskan sabar dan rasa syukur.


jangan pernah berhenti berharap. bukankah tidak pernah ada seorang pun yang berharap kepada-Nya, lalu mendapati dirinya kecewa?

Jika kita gembira dengan kejayaan orang lain & doakan mereka, malaikat pun akan doakan kita. Pastinya ada hal-hal baik yang kita akan dapat. Insya-Allah.


Jadi berhentilah membanding dan mempersoalkan sesuatu yang di luar kawalan kita. Kita berusaha, orang lain juga berusaha. Masing-masing ada rezeki dan jalan-jalannya. Doakanlah untuk sama-sama.

Belajar Dari Pensiunnya Bapak

Tiga bulan lagi Bapak saya akan pensiun. Selama ini,saya cukup terharu (sedih sebenarnya) karena Bapak tidak pernah menjadi pejabat mentereng seperti orang lain. Bukan karena saya ingin bangga, bukan. Tapi lebih kepada saya ingin Bapak bangga karena memiliki karir yang tinggi (tinggi seperti ekspektasi saya).

Seminggu lalu Bapak mengirim SMS, isinya sederhana, memberi tahu bahwa beliau telah dilantik menjadi perwira. O ya, Bapak saya seorang anggota POLRI, bertugas sebagai staff keuangan, satu tingkat di bawah kepala bagian. Bapak saya tidak pernah bisa menjadi kepala bagian, karena bukan perwira. Ketika dia menjadi perwira, masa pensiunnya segera datang beberapa bulan lagi. Tapi syukur juga, karena Bapak pangkatnya rendah, saya jadi bisa kuliah murah di ITB dulu. 

Candaan saya dengan Bapak begini, “halah Pak, gak akan ada yang tanya Bapak berapa lama jadi perwira, yang penting Bapak pensiun sebagai perwira.” 

Ketika saya bermasalah di tempat kerja beberapa tahun lalu dan akhirnya resign, Bapak menelepon saya. Beliau berpesan, “meski tinggal sebulan, apapun yang terjadi di sana, kamu harus tetap mengerjakan pekerjaanmu dengan maksimal, jangan terpengaruh. Kerjakan sebaik mungkin, tinggalkanlah kesan baik, tuntaskan.” 

Sebenarnya, tanpa Bapak berpesan itupun, saya sudah melakukan itu. Bahkan pernah di tempat sebelumnya, hari terakhir bekerja saya masih lembur di pabrik dan menemani tamu hingga pukul 12 malam. 

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan adik. Saya baru sadar, bahwa sikap saya terhadap pekerjaan adalah hasil dari contoh Bapak dan Ibu. Bapak memang sekali saja berpesan pada saya untuk bekerja sebaik mungkin, namun sedari kecil kami selalu disuguhi pemandangan tentang betapa bertanggungjawabnya Bapak dan Ibu terhadap pekerjaan.

Dulu komputer belum populer, Bapak selalu bawa buku akutansi yang super besar selebar meja, dan menulisinya dengan data - data gaji polisi. Tulisan Bapak sangat rapi, dan beliau selalu lembur setiap akhir bulan hingga tengah malam di rumah. Ibu sering membantu juga. Kata Ibu, setiap akhir bulan penyakit maag Bapak selalu kumat karena stres deadline.

Lucu ceritanya ketika Ibu memberi usul agar Bapak menggunakan komputer. Komentar Bapak waktu itu, “mana bisa, data sebanyak itu dimasukkin ke komputer yang kecil begitu? Buku akutansinya aja super besar gitu.”

Bapak dan Ibu tidak pernah mengurangi kualitas pekerjaan mereka karena kecilnya gaji. Sebelum pemerintahan SBY, gaji guru teramat kecil lah. Gaji polisi masih kecil, haha. Tapi Bapak dan Ibu tidak menjadi kendor dalam bekerja. Barangkali itulah yang membuat saya dan adik punya prinsip yang sama. 

Ada satu hal yang membuat saya akhirnya menyadari bahwa kesedihan saya karena Bapak tidak pernah punya jabatan mentereng itu bodoh. Yaitu ketika adik saya berkata, “Bapak menutup karirnya dengan kesan yang (teramat) baik. Di apel pagi Bapak dipuji - puji karena tidak mengurangi kualitas bekerjanya padahal menjelang pensiun. Di akhir pelantikan perwiranya, Wakapolreslah yang minta berfoto dengan Bapak.”

Suatu hari, atasan Bapak menyekolahkan anaknya dengan biaya yang sangat besar, ratusan juta. Saya berkelakar, “Pak, kok Bapak ga punya duit segitu sih Pak?” Kata Bapak, “Bapak cuma mau hidup tenang. Bapak emang ga punya duit segitu, tapi anak - anak Bapak gak pernah butuh duit segitu untuk masuk kuliah. Kamu dapat beasiswa, adikmu kuliah ya murah. Kalian bisa cari kuliah sendiri, bisa cari kerja sendiri, Bapak ga perlu cariin. Temen - temen Bapak itu, ya repot cariin kuliah anaknya, cariin kerjaan buat anaknya, Bapak gak perlu.”

Di akhir obrolan saya dengan adik, saya menyadari rasa syukur saya bahwa Bapak mengakhiri karirnya dengan cemerlang walaupun tidak berkalang jabatan dan uang. Saya meyakini bahwa integritas Bapak adalah keperwiraan yang sesungguhnya, lepas dari kesalahan - kesalahannya dalam bekerja.

Bapak hanya polisi biasa hingga akhir masa kerjanya. Tapi sebagai laki - laki, dia berhasil membesarkan kami. Alhamdulillah keluarga dalam keadaan diberkahi dalam segala kondisi. Anak dan mantu rukun, rejeki selalu ada entah bagaimana Allah menyampaikannya. Cucu pertama segera lahir. Bapak hanya lulusan SMEA, tapi kedua anaknya minimal sudah sarjana, yang alhamdulillah selalu berada di jalan yang gak melenceng - melenceng amat.

Semoga rezeki yang kami makan melalui Bapak selama ini halalan toyyiban, agar di akhirat tak jadi beban. 


Bandung, 15 September 2017
Untuk Bapak yang sering saya sebelin

Tulisan : Rezeki itu ada waktu dan tempatnya

Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang waktu yang dijalani, semakin terasa bahwa apa-apa yang dulu tidak dipahami menjadi semakin dimengerti. Melihat bagaimana dunia berputar, bagaimana orang-orang bergerak ke sana ke mari, merasakan bagaimana siang dan malam terasa semakin cepat berganti.

Sebelum lulus dari kuliah, ingin ini dan itu. Banyak sekali. Melihat kepemilikan orang lain dan ingin memilikinya. Melihat teman yang sudah lulus dan bekerja, terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu tidak terasa berharga.

Selepas kuliah. Melihat bagaimana teman-teman mulai memiliki perusahaan sendiri, ataupun mulai membeli dan mencicil rumah, juga kendaraan, dan kita masih tertatih-tatih kepanasan dengan sepeda motor dan kos-kosan yang sempit. Terasa bahwa apa yang dimiliki saat itu begitu sedikit.

Selepas itu, melihat teman satu per satu menemukan pasangan hidupnya. Kita pun mulai berpikir bagaimana mencari dan menemukannya, sementara di satu sisi kaki kita masih berpijak di dunia dimana kita masih mengukur seberapa banyak harta yang kita siapkan untuk membina rumah tangga. Dan kita juga menyadari usia yang semakin menua. Juga menyadari kalau menikah tidaklah tepat dengan alasan-alasan seperti itu, tapi tetap saja hati kita terasa kosong dan iri pada apa-apa yang didapati oleh teman-teman yang lain.

Setelah menikah, kita melihat orang lain memiliki bayi-bayi yang lucu. Bahkan beberapa dari mereka, menikah setelah kita dan memiliki bayi lebih dulu. Sementara kita belum juga diberikan. Rasanya kebahagiaan seperti dikurangi setiap hari dan setiap kali melihat foto-foto bayi yang membanjiri linimasa media sosial.

Rasanya, tidak akan pernah ada habisnya jika kita menghitung apa-apa yang tidak dan belum kita miliki. Dan itu membuat hari kita semakin sempit, kebahagiaan semakin sulit ditumbuhkan.

Dan saya menjadi paham bahwa rezeki itu memang ada waktu dan tempatnya. Apa yang saya miliki saat ini, adalah apa-apa yang begitu diinginkan oleh orang lain. Barangkali memang inilah rezeki yang paling tepat untuk saya saat ini. Dan saya pun menjadi paham bahwa mendoakan orang lain itu lebih baik daripada bertanya.

Bertanya tentang; kerja dimana, penghasilan berapa, sudah punya apa, kapan menikah, sudah hamil belum.

Kadang saya khilaf, jangan-jangan saya menjadi sebab hilangnya rasa syukur orang lain karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Pertanyaan yang seperti peduli tapi sebenarnya hanya penasaran karena ingin tahu. Keingintahuan tentang orang lain yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan saya pun belajar bahwa syukur itu hal yang paling bisa memenangkan dan menenangkan hati. Saya percaya bahwa rezeki itu akan datang di tempat dan waktu yang terbaik. Jangan khawatir.

Yogyakarta, 20 April 2017 | ©kurniawangunadi

Abg din kaki pancing

Tak leh nak memancing lah kalau hujan terus begini, Man,“ Abang Din tetiba bersuara. Aku terkejut dari lamunanku dan menoleh ke belakang ke arah Abang Din. 
"Nak wat cam mana, bang. Takde rezeki Man,” jawabku sambil melemparkan senyuman. Abang Din membalas senyumanku. Senyumannya begitu manis sekali. Walaupun dah berusia 45 tahun, Abang Din masih nampak segak dan tampan. Pada hari itu daya tarikannya lebih terserlah. Aku mula rasa berdebar-debar apabila memikirkan yang aku hanya berdua dengannya di pondok itu, jauh di tengah hutan dan dalam cuaca hujan. 
“Dah pukul tiga sekarang, Man,” sambung Abang Din. “Abang nak baring-baring dulu,” ujarnya sambil merebahkan badannya ke atas lantai beralaskan tikar rotan. 
“Baik, bang,” ujarku. Abang Din berbaring mengiring membelakangi aku. Mataku rakus melihat punggung Abang Din yang pejal di sebalik seluar trek biru yang dipakainya. Aku jadi tak keruan. 
Sebelum ini pernah terjadi beberapa insiden di antara aku dan Abang Din. Aku pernah dipeluk oleh Abang Din sewaktu kami memenangi perlawanan badminton peringkat cawangan. Sukar digambarkan perasaan aku pada masa itu. Buat pertama kalinya dipeluk oleh seorang lelaki dewasa. Dadanya yang bidang, lengannya yang sasa… dan meskipun perutnya nampak sedikit boroi, kurasakan bahagian perut Abang Din itu sebenarnya keras berotot. Saat yang paling sukar untuk aku lupakan ialah apabila dia mengangkat tubuhku, bahagian sulitnya bergesel dengan bahagian sulitku. Walaupun tidak keras, tapi bonjolan itu dapat kurasakan. 
Aku selalu teringatkan peristiwa itu. Aku mula tertarik kepada Abang Din secara seksual. Abang Din yang selama ini aku anggap macam seorang pak cik, seorang teman sekerja dan seorang sahabat. Aku mencari peluang untuk selalu mendampanginya. Walaupun begitu, aku buat dengan cara yang tidak tampak ketara agar orang tidak perasan, termasuk Abang Din yang sudah mula menganggap aku sebagai adiknya. 
Abang Din dah lama bercerai. Hidupnya tak bahagia dengan bekas isterinya. Dua orang anaknya dijaga oleh ibu mereka. Memang bekas isterinya adalah pilihan keluarga tetapi kalau jodoh dah tak ada nak buat macam mana kata Abang Din. Kebelakangan ini Abang Din banyak menceritakan kisah hidup rumahtangganya dulu. Bagaimana dia telah dilayan buruk oleh bekas isterinya dan keluarga bekas isterinya itu sehingga dia terpaksa menceraikan bekas isterinya itu. Aku menjadi pendengar setia. Aku sememangnya suka mendengar cerita Abang Din; daripada cerita politik, sukan, bisnes, hiburan ke cerita hantu. Abang Din ada banyak pengalaman yang menarik untuk didengar. Bagaimanapun, Abang Din selalu mengelak untuk berbicara mengenai seks dengan aku. Mungkin sebab jurang usia di antara kami menyebabkan dia tidak selesa. Pernah aku terlihat Abang Din dari jauh sedang bergelak ketawa bersama rakan sekerja yang lain dan seusia dengannya sambil membuat aksi sedang melancap… Aku tak tahu apa yang diceritakannya tapi aksi Abang Din itu telah membuat aku teruja sampai dibawa ke tidurku. Aku bermimpi yang Abang Din melancap di depanku. Walaupun tak pernah melihat susuk tubuh Abang Din tanpa seurat benang, dalam mimpiku itu Abang Din berbadan tegap dan mempunyai zakar yang panjang. Abang Din melancap sambil tersenyum memandangku dengan kakinya mengangkang dan batang zakarnya dituju ke arahku. Aku tidak perasan yang aku pun telanjang sama. Aku yang tidak tahan dengan pemandangan indah di depanku terus memusingkan badanku dan membongkok. Tangan rakus menarik badanku ke belakang dan aku dapat merasakan objek keras dan panas di celah bontotku… 
“Man!… Termenungkan apa tu?” tiba-tiba suara Abang Din mengejutkan aku. Aku dapat merasakan batang zakar aku sedang mengeras, terus aku memalingkan tubuh agar Abang Din tak perasan. “Baring-baring lah dulu,” sambungnya kemudian. Abang Din bangun dari tempatnya dan berjalan menuju tempat aku sedang duduk di depan pintu. Hujan masih lebat seperti tadi. Terasa sejuk dan nyaman. Aku berdebar-debar apabila Abang Din duduk di sebelahku sambil menyalakan api rokok. Aku memerhatikan bibir Abang Din menghisap rokok. Bibir yang sungguh seksi. Inginku lekap dengan bibirku… 
“Eh Man… kau ada masalah ke?” Abang Din memulakan perbualan. “Tak ada lah bang. Man jarang pergi hutan jadi rasa lain sikit kat tempat macam ni,” jawabku memberi alasan. “La… rilek la. Bukan ada apa-apa yang bahaya kat sini. Cuma kita berdua aja…”. 
Aku dan Abang Din senyap seketika. Aku tak tahu apa yang difikirkannya tetapi aku rasa lain macam aja. Horny. Keadaan yang selesa begitu membuat aku jadi tak selesa. Aku membaringkan diri dengan sebelah kaki di sebelah Abang Din kuangkat agar bonjolan pada bahagian sulitku terlindung daripada pandangannya. Aku menutup mata cuba untuk tidur tapi fikiranku masih nakal. 
Tiba-tiba Abang Din merebahkan badannya tidak jauh dariku. Aku menahan nafas. Aku takut untuk bernafas sebab jantungku berdegup kencang. Aku menutup mata rapat-rapat. Walaupun hujan di luar, kurasakan dahiku mula berpeluh. Kupasang telinga. Nafas Abang Din kedengaran normal. Aku memalingkan muka ke arahnya. Abang Din berbaring terlentang. Mataku tertumpu ke bahagian sulitnya. Ada bonjolan kecil. Tidur macam tuannya, bisik hatiku… 
Apa yang harus aku lakukan? Tubuh badan Abang Din terasa semacam magnet yang menarik badan aku agar lebih rapat kepadanya. Tiada perkara lain yang hendak aku lakukan pada saat ini melainkan memeluk tubuh Abang Din dalam keadaan telanjang. Aku menghulurkan kaki kiriku menghampiri kaki Abang Din. Masih lagi tidur, bisik hatiku… 
Sengaja aku rapatkan tapak kakiku begitu hampir dengan tapak kaki Abang Din. Aku tak berani menyentuhnya sendiri. Biar kaki Abang Din ‘tersentuh’ kakiku. Aku nak tau bagaimana reaksinya nanti. Perlahan-lahan aku sorongkan juga tangan kiriku agar rapat dengan badan Abang Din. Manalah tahu kalau-kalau Abang Din mendepakan tangannya mesti akan kena tanganku. Tapi tiada apa-apa yang berlaku walaupun sepuluh minit dah berlalu. Tanpa aku sedari, aku dah terlelap. 
Sebenarnya aku dah nekad untuk mencuba hubungan seks dengan lelaki. Selama ini aku hanya mampu berimaginasi dan melihat melalui vcd mahupun di internet. Secara teori aku tahu bagaimana caranya melakukan seks dengan pasangan sesama lelaki. Aku dah tak dapat membendung keinginan nafsuku terhadap seseorang lelaki. Pada tika ini sememangnya aku mengharapkan lelaki itu adalah Abang Din. 
Aku terjaga apabila tiba-tiba aku merasakan tangan kiriku kena tindih. Dengan sereta-merta aku diselubungi oleh perasaan ghairah yang teramat sangat kerana aku tahu Abang Din yang menindih tanganku dengan badannya. Aku masih memejamkan mata dan menahan nafas seolah-olah masih tidur. Kaki Abang Din telah menyentuh kakiku. Aku tak dapat menahan perasaan gementarku pada ketika itu. Gementar tetapi seronok. Batang zakarku dah mula mengembang dan mengeras. Begitu juga dengan objek yang menindih tapak tanganku. Fikiranku mula tak tentu arah. Adakah itu bahagian alat sulit Abang Din? Terasa hangat, keras dan memanjang di atas tapak tanganku walaupun berlapik dengan kain seluar. Aku tak bergerak. Aku takut untuk bergerak. 
Objek itu tiba-tiba mengembang kucup dan semakin keras seolah-olah meminta untuk diramas. Namun aku masih takut untuk berbuat apa-apa. Kedengaran bunyi nafas Abang Din makin laju dan hembusannya terasa di cuping telingaku. Rupa-rupanya Abang Din dah berbaring sangat dekat denganku. Aku cuba memberanikan diri untuk berbuat sesuatu. Aku cuit kaki Abang Din. Abang Din membalas. Hatiku melonjak gembira. Ada respons. Giliran Abang Din pula mencuit kakiku. Aku juga membalas. Kali ini aku dah semakin liar. 
Objek di tapak tanganku terasa berdenyut-denyut. Semakin mengembang dan mengeras. Aku menggerakkan jari-jemariku dan meraba-raba permukaan objek itu. Terasa bentuknya bagaikan pisang. Objek itu bergerak-gerak dalam tanganku. Aku semakin melupakan perasan takutku. Aku menarik tanganku. Terasa badan yang menindih tangan aku itu terangkat sedikit membolehkan aku menggerakkan tanganku. Aku tidak menarik tanganku keluar, sebaliknya terus menyelinap masuk ke dalam seluar dalam Abang Din. Abang Din membiarkan sahaja. 
Sememangnya jangkaan aku tidak salah. Batang zakar Abang Din memang bersaiz besar, terasa penuh dalam genggamanku. Tanganku semakin galak meramas batang Abang Din dan kerandut zakarnya. Abang Din memberi kerjasama yang baik walaupun masih buat-buat tidur. Bagaimanapun, aku masih belum puas. Aku belum puas selagi belum memasukkan batang zakar Abang Din ke dalam mulutku. Aku nak hisap batang zakar Abang Din. 
Aku cuba menarik tanganku keluar tapi Abang Din seolah-olah tak mahu melepaskannya. Makin berat ditindihnya. Aku memberi isyarat dengan jari-jemariku agar Abang Din mengangkatkan badannya. Agak lama juga aku cuba memujuk. Akhirnya Abang Din mengalah lantas memusingkan badannya dan terlentang. Masih lagi berpura-pura tidur. 
Kini bonjolan objek pada bahagian sulit Abang Din jelas di pandanganku. Nampak garisan batang keras di dalam seluarnya. Mata Abang Din masih lagi pejam dan ditutupi oleh lengannya. Aku tahu Abang Din pun berdebar-debar dan takut sepertimana aku tetapi dia biarkan sahaja. 
Aku memulakan perbuatanku sekali lagi. Aku mengusap-usap bonjolan bahagian sulit Abang Din. Dapat kurasakan yang zakar Abang Din kembang kucup di dalam seluarnya itu. Perasan ghairahku semakin melonjak-lonjak dengan tindakbalas yang diterima daripada Abang Din sebegitu. Aku merapatkan mukaku kepada bonjolan objek sulit Abang Din dan membenamkannya di situ. Aku jadi khayal mencium bau jantan Abang Din. Rasanya air maziku dah mula menggenangi lubang zakarku. 
Tiba-tiba Abang Din mengangkat punggungnya ke atas. Akupun mengangkatkan mukaku. Abang Din melondehkan seluar treknya dan hanya seluar dalam putih sahaja yang menutupi alat sulitnya. Tanganku ditarik oleh Abang Din dan diseluk ke dalam seluar dalamnya. Pun begitu, Abang Din masih memejamkan mata. Bagaikan diarah, aku terus meramas-ramas batang zakar Abang Din. Tapi aku tak puas. Dengan rakus, aku tarik seluar dalam Abang Din ke bawah. Bagaikan mengizinkan, Abang Din mengangkat punggungnya agar mudah bagiku membogelkannya. 
Kini di depan mataku, terpacak batang zakar Abang Din. Batang konek Abang Din. Kote Abang Din. Butoh Abang Din. Padaku zakar Abang Din sudah cukup panjang, tapi yang menarik perhatianku ketebelannya yang agak luar biasa. Kugenggam dengan tangan dan kugoncang dengan gerakan atas bawah, manakala tangan sebelah lagi menjalar masuk ke dalam baju Abang Din, meraba-raba perutnya dan mencari puting teteknya. Kepala konek Abang Din kini membentuk cendawan, mengembang dan bersinar. Aku tak pedulikan air mazi yang telah membasahi kepala konek Abang Din dan terus memasukkannya ke dalam mulutku. Kedengaran bunyi Abang Din sedang mendesah. 
Aku mengulum kepala konek Abang Din dan kuhisap puas-puas. Sekali-sekala aku cuba untuk memasukkan keseluruhan batang konek Abang Din ke dalam mulutku. Aku tak peduli dengan air mazi Abang Din. Malah setiap kali aku terasa air mazinya keluar, aku menjadi semakin ghairah menghisap koneknya. Aku tidak puas dan ingin merasakan air mani Abang Din pula. 
Aku semakin ligat melancap batang konek Abang Din. Aku guna jari, aku guna mulut dan aku guna lidah. Inilah masanya aku praktikkan apa yang aku lihat selama ini. Aku bermain-main di bahagian takuk koneknya dengan lidah dan kukulum. Aku buat gerakan keluar masuk dengan mulutku dan kukulum. Kuhisap. Tanganku menggoncang batang konek Abang Din di bahagian pangkal dan sekali-sekala jari-jemariku bermain-main di bahagian telurnya. Kujilat juga. 
Abang Din memberi respons yang baik. Walaupun masih memejamkan mata buat-buat tidur, kutahu Abang Din tengah bergelumang dengan nikmat. Setiap sentuhanku mendapat gerakan tindakbalas daripada Abang Din dan sedikitpun dia tidak menghalang malah merelakan aku berbuat apa saja ke atas dirinya.
Aku pula semakin seronok melancap Abang Din sehingga dia keluarkan mazi. Aku jilat air mazinya dan aku berasa puas. Setiap kali aku memasukkan batang konek Abang Din jauh ke dalam rongga kerongkongku, Abang Din akan mengeluh kesedapan. Tatkala itu juga aku dapat rasa air mazi Abang Din keluar. Aku sedut. 
Entah berapa lama masa dah berlalu, mungkin dah dua puluh minit aku melancap, mengulum, meramas dan menghisap batang konek Abang Din. Aku sendiri dah terpancut banyak air mazi. Tapi aku masih belum puas selagi Abang Din belum memancutkan air maninya. Aku menarik baju Abang Din ke atas sehingga mendedahkan bahagian perut dan dadanya yang berotot. Sungguh cantik. Aku menjilat bahagian perutnya dan mencari pusat Abang Din. Tangan kananku masih bermain dengan konek Abang Din. Lidahku menjalar ke atas dan berhenti di bahagian dada kiri Abang Din. Aku mencari-cari puting tetek Abang Din. Abang Din bagaikan terkena renjatan elektrik apabila lidahku terkena puting teteknya yang sudah menegang. Aku menjilat-jilat di situ. Abang Din mendesah lagi kuat. Aku mencari puting tetek yang lagi satu dan memasukkannya ke dalam muncung mulutku. Aku main tarik-tarik dengan mulutku. Aku sedut, aku jilat, aku gigit ringan-ringan. Abang Din jadi tak tentu arah. Kepalanya dipalingkan ke kiri dan ke kanan walaupun matanya masih lagi pejam. Sebelah tanganku melancap koneknya, sebelah yang lagi satu menggentel-gentel puting teteknya sebelah kiri manakala puting sebelah kanan dinyonyot oleh aku. 
Tidak lama kemudian aku merasakan air mazi Abang Din keluar lagi. Walaupun kerap keluar tapi kuantitinya sedikit, mungkin hanya setitik dua sahaja setiap kali ianya keluar. Jari dan lidahku dapat mengesan cecair mazi yang jernih, licin dan rasa mineral setiap kali ianya keluar. Aku terus mendapatkan konek Abang Din. Aku jilat lubang koneknya lalu kumasukkan koneknya ke dalam mulut. Kuhisap puas-puas. Kali ini aku masukkan konek Abang Din dalam-dalam. Aku puas mendengar Abang Din mengeluh resah menahan kesedapan. Tanganku masih lagi menggentel-gentel puting teteknya. Aku dapat rasakan Abang Din suka dikerjakan di situ. Aku semakin selesa menyonyot konek Abang Din. Abang Din pula semakin ganas memberi tindakbalas. Punggungnya bergerak-gerak ke atas dan ke bawah mengikut iramaku. Abang Din sudah pandai menujah-nujahkan batang koneknya ke dalam mulutku. Tidak lama kemudian, Abang Din mengangkangkan kakinya dan punggungnya terangkat ke atas. Tangannya memegang mukaku dan menolaknya ke atas. Abang Din cuba menarik batangnya keluar daripada mulutku. Aku tahu itu maknanya Abang Din sudah hampir mencapai klimaks dan bersedia untuk memancutkan air mani. Aku memang menunggu saat ini. Mana mahu kulepaskan sahaja. 
Aku melawan Abang Din daripada mengangkatkan kepalaku ke atas manakala kedua-dua belah tanganku menarik punggungnya agar koneknya masuk semula ke dalam mulutku. Abang Din dah tak dapat nak buat apa-apa kerana klimaksnya dah datang. Punggungnya terduduk semula di atas lantai. Tangannya sekadar memegang kepalaku. Tiba-tiba badannya kejang seperti terkena renjatan. Tatkala itu air mani Abang Din terpancur di dalam mulutku. Aku nekad untuk menelan kesemuanya. Kurasakan cecair hangat menerjah dinding tekakku. Lima, enam kali pancutan. Aku tidak pedulikan rasa geli tetapi terus menghisap dengan penuh bernafsu. Kutelan air mani Abang Din dengan rasa puas. Kusedut lagi agar tiada lagi yang tertinggal. Rasanya tidak jauh berbeza dengan rasa air maniku sendiri. 
Aku melepaskan batang zakar Abang Din yang telah mula mengendur. Aku terus membenamkan mukaku pada bahagian alat sulit Abang Din dengan perasaan puas. Abang Din menarik badanku ke sebelahnya. Matanya masih bertutup. Tiba-tiba badanku dipeluknya erat-erat. Aku terkejut. Perasanku bercampur baur, antara terkejut, gembira, seronok dan sayang. Agak lama juga kami berdua dalam keadaan begitu sebelum Abang Din ke bilik air membersihkan diri. 
Hujan berhenti sepuluh minit sebelum pukul 6 petang. Kami berdua beredar pulang sejurus selepas itu dengan menaiki motosikal Abang Din. Sepanjang perjalanan aku mengelak untuk bersentuhan dengannya. Fikiranku berkecamuk. Abang Din tidak bercakap banyak selepas peristiwa di pondok tadi. Itupun sekadar mempelawa aku minum air dan mengajak aku balik selepas hujan berhenti. Aku tak tahu apa yang sedang difikirkannya. Yang pasti aku tahu dia tak marah kepadaku. Aku pula sudah mula menyimpan perasan sayang terhadapnya. 
“Terima kasih, bang,” ujarku selepas sampai di pintu pagar rumah. “Abang yang perlu berterima kasih dengan Man,” jawab Abang Din dengan penuh makna. Matanya tak berkelip memandangku. Aku tunduk malu dan melemparkan pemandangan ke tempat lain. “Abang minta maaf ya kita tak jadi memancing”. “Tak mengapa, bang. Ada hari lain”. “Esok Ahad boleh pergi lagi. Nak tak?” tanya Abang Din. Aku terdiam seketika, “Boleh gak, bang.” jawabku gembira, “Nak gerak pukul berapa, bang?” “Kita pergi awal sikit dalam pukul 8.30 pagi. Nanti abang call”. “Ok,” jawabku ringkas.