retnos

Ex-admin (6)

Jaga anak orang di negara orang gampang-gampang-susah. Kalau bukan Kirana entah ya.
Kirana benar-benar pengertian. 2 minggu ditinggal, aku sama ibuk ga bisa kemana-mana. Kendaraan umum ga ada, nyetir mobil ga bisa. Karena ga bisa kemana-mana sebelum ditinggal mbak Retno nyetok semua bahan makanan dan keperluan. Mulai dari susu Kirana, bahan makan mentah, popok dan sebagainya. Kalau ada yang habis sebelum mbak Retno pulang biasanya aku ngikut Manda jemput Lila atau Sasa, terus minta dianter ke carrefour buat belanja.
Suatu hari, belum sempet belanja, persediaan susu Kirana hampir habis.
“Kirana, susu Kirana yang white tinggal 1 ini. Kalau yang ini di habis berarti udah dak ada.”
“Dakpapa. Kan masih ada yang coklat”

Atau saat persediaan keju dia yang hampir habis juga,
“Kirana, kejunya tinggal satu. Belinya nunggu Manda ya”
“Dak usah beli. Kalau habis dak usah beli. Dakpapa”

Kirana cuma bisa satu jenis cereal. Belinya di toko tertentu. Persediaan hampir habis juga. Karena aku belanjanya di carrefour, akhirnya aku beli cereal merk lain, “oh, gluten free. Bisa kali ya” ternyata ga bisa. Badannya merah-merah.
“Kirana, ternyata cereal yang ini bikin gatel-gatel ya…besok-besok dak usah ya.”
“Bikin gatel? Dak usah dimakan. Untuk bulek aja. Kalau Kirana yang makan nanti gatel-gatel” katanya.
Jadi walaupun cereal itu ada di atas meja makan, dia gabakal minta. Walaupun sebenarnya dia suka.

Atau
“Kirana, bulek capek gendong berdiri. Gendong duduk boleh?
”(Ngangguk). Sambil tiduran aja.“
Waktu itu aku terharu sampai nangis 😢

Kirana si anak baik. Terimakasih sudah jadi anak yang sabar dan pengertian. Maaf atas segala kecanggungan dan emosi yang terkadang masih kalah sabarnya sama anak yang bahkan belum tiga tahun ini.

Q kangend.

Tang Dynasty Coins Found in South Sumatra

Jakarta - A team of Researchers from the Palembang archaeology station said that the ancient coins found in Komering River, South Sumatra are aged back to China’s Tang Dynasty era. The dynasty is known to have close relationship with Sriwijaya kingdom that once ruled Sumatra.

“The identification result shows that the coins are from Tang dynasty,” said Retno Purwanti, a member of research team.

“It can be seen from Chinese alphabet and pictures on one side of the coin.”

A sand miner Eddy Buana, found the coins accidentally on Saturday, October 18, when he and his men were mining the sand with machine.

“It was thousands [of the coins] and we brought them to our houses using big buckets,” said Eddy. Read more.

Kenapa ada yang mau membeli secangkir kopi? Padahal hitamnya kopi membuat dia tidak terlihat menarik. Mau tau kenapa? Karena tidak semua orang jatuh cinta pada bungkusnya tapi isinya. Rumah yang indah hanya bungkusnya, keluarga bahagia itu isinya. Pesta pernikahan hanya bungkusnya, sakinah,mawadah, warahmah itu isinya. Ranjang mewah hanya bungkusnya, tidur nyenyak itu isinya. Kekayaan itu hanya bungkusnya, hati yang bahagia itu isinya. Cantik atau tampan hanya bungkusnya, kepribadian dan hati itu isinya. Bicara itu hanya bungkusnya,  amal nyata itu isinya. Buku hanya bungkusnya,  pengetahuan itu isinya. Jabatan hanya bungkusnya, pengabdian dan pelayanan itu isinya. Kharisma hanya bungkusnya, ahlaqul karimah itu isinya. Hidup di dunia itu bungkusnya, hidup sesudah mati itu isinya.
—  Retno Dhewandari
instagram

suka dengan cara ibuk retno mendidik si kecil kirana :3 ~ bagaimana cara ibuk mengajarkan meminta maaf kepada orang lain (bahkan meminta maaf kepada semut saat kirana menginjak semut), berterimakasih kepada orang lain, dan hal hal kecil maupun besar yang ibuk contohkan dan didik kepada kirana ~

semoga nanti bisa dicontoh :3

terimakasih ibuk sudah memvideokan moment moment bersama kirana ~ kl liat video kirana selalu mood booster ☺️😚


Repost @retnohening with @repostapp
・・・
Liat video bikin rainbow dr skittles..lgsung praktek sama kirana..haha “Cantik rainbownya..ibuk cantik kalau gendut” hahahaha tetep ya kirana -_-“ haha

Made with Instagram
Mengamati dan mengikuti instagram ibook retno hening sejak maret 2016 saya jadi semakin sadar bahwa anak-anak yang baik hanya bisa dilahirkan dari orang tua yang baik-baik, yang memberikan teladan yang baik dan yang selalu mengusahakan yang terbaik dengan cara yang baik-baik untuk mereka (:
—  Tapi jadi orang baik itu susah soalnya setan gencar buat mengkader orang masuk neraka :(
Aku gamau jadi kadernya setan. Bhay
Lewat Suara

2 November kemarin, aku sama mbak Chany udah siap-siap nunggu jam 21.00.
Nunggu pertama kali mbak No siaran.
Oke. Baik. Kita dengarkan pakai hape mbak Chany yang dimasukkan kedalam gelas kaca, biar suaranya lebih keras, kita rekam pembicaraan yang ada pakai hapeku, dan kita pakai ipadnya Rayyan untuk lihat wajahnya via youtube wkwkwk.

Selama acara berlangsung, aku sama Mbak Chany dengan seksama mendengarkan. Sambil beberapa kali mengangguk. Atau ikut nangis pas mbak No nangis. Atau saling liat-liatan sambil senyum penuh arti di beberapa bagian. Atau ketawa-ketawa ngomentarin apa aja yang ada. Entah itu suara Kirana, mukanya mbak No, atau apa aja.

“Kirana caper hahhaa”
“Ini Retno ga pake lipstik apa?”
“Han kayaknya habis ini kita ajak dia siaran lagi Han. Judulnya Retno No Secret. Hahaha”
Semua. Apa aja.

Mendengar suara mbak No dan Kirana selama dua jam malam itu, sebenernya kayak aku lagi telfonan sama dia. Kayak biasa aja. Tapi mendengar kembali curhatannya tentang Kirana yang eczema, selalu menimbulkan emosi yang sama. Untuk orang “luar” yang sempat ada di posisi mbak No, tetep gak akan bisa membayangkan gimana rasanya jadi mbak No melewati malam hari, berharap cepatnya malam berganti pagi.

Ketika rasa bangga yang menggebu, haru yang menderu dan bahagia yang membahana diungkapkan dengan kata ‘Bela’, maka riak rindu yang membuncah serta bangga yang terpendam karena tertahan ego ini untuk Mbak Retno.

Yaaaa…karena ga semua kakak bisa bilang sayang lewat lisan. Ga semua adik bisa bilang sayang secara gamblang.

Dimanapun, semoga selalu dalam lindungan Allah swt.

Aku milikmu dan kamu milik ibumu. Cintaku kepadamu tidaklah sebesar cinta ibumu. Aku hanya wanita lancang yang ingin belajar dari wanita itu, bagaimana cara mencintaimu, bagaimana cara merawatmu dengan kasih sayang. Bukan aku ingin merebut tahtanya di hatimu. Aku tidak pantas untuk mendapatkan itu. Ketahuilah ibumu akan selalu menjadi Ratu di dalam hatimu. Selamanya.
—  Retno Dhewandari
Jakarta (3)

Sebenernya ga ada yang bisa diceritakan dari acara ISMA kemarin. Kami datang, duduk, lalu pulang.

Menjalankan amanah dari mbak No untuk hadir. Perlihatkan kalau sudah hadir. Tapi hindari kamera. Jangan cari kami kemarin, karena kemarin kami memang menghindari sorot kamera. “Mbak, gimana mbak? Aman?” “Aman. Paling kita kena dikit dari kamera ini. Eh tapi engga sih kayanya.”

Dan karena acara kemarin adalah acara live delay (ini bukan ya istilahnya), di studio udah mulai duluan dari jam 8. Jadi saat group WA keluarga heboh dan berdoa untuk kemenangan Kirana, aku dan mbak Chany udah bisa lihat Nagita Slavina dan Rafathar pegang piala.

Lagi, kedatangan kami kesana bukan tentang menang atau kalah. Buat menyampaikan rasa terimakasih mbak Retno dan buat foto sama LCB (tapi ga adaaaaa..edih nana 😢)

Agak bingung, kemarin itu antara acara award atau acara tanya jawab antara Hana dan mbak Chany.

Ohiya, Mbak Chany yang dulunya orang film dan beberapa tahun terakhir tinggal di luar Indonesia hampir ga ngerti siapa aja yang hadir malam itu.

“Han, Aliando siapa sih?”
“Itu mbak, yang main di GGS”
“GGS apa sih?”
“Ganteng Ganteng Serigala mbak”
“Prilly siapa Han?”
“Itu mbak, yg di GGS juga. Yang dulunya digosipin sama Aliando”

Dan ternyata Aliando Prilly bukan bagian dari GGS. Wkwkwk gapapalah ya. Mbak Chany gatau ini.

Karena kita meninggalkan Rayyan di rumah, aku agak ga enak juga sih jadi aja ngajak mbak Chany pulang sebelum acara selesai. Kata mbak Chany, “Ntar, nunggu Aliando. Mau denger suaranya sebagus apa” kemudian komentar mbak Chany gini, “Bagus nih mayan. Ini yang dia nyanyiin lagunya dia?”
“Mbaaaaak…plis lah…ini lagunya ed sheeran”

Setelah dipikir-pikir, Aliando nyanyi Uptown Funk nya Bruno Mars wkwkwk gapapalah ya, mbak Chany ga inget juga pasti.

jadilah kita tunggu sampai Aurel ngeDJ dan Fathin nyanyi, terus kita keluar. Ohiya, aku ajak temenku dari SMP juga, si Chintya, yang rela izin kantor jam 2 siang, pulang keujanan, mandi cuma tiga detik (katanya). Tapi dia sih seneng-seneng aja kayaknya. Wkwkw thanks Sin!

Anw, acara berlangsung meriah. Banyak anak muda kreatif yang datang. Ada devina aurel hihi she’s so byutiful. Dan banyak lagi youtuber lainnya yang ketje-ketje. Sambil mikir, “mereka kayaknya terlahir untuk ini.” Karena mereka tampaknya benar-benar mencintai apa yang mereka lakukan.

Setelah malam itu, teringat kembali quote Audrey yang katanya “I’m almost never sure about what i want but i am sure about i don’t want”.
Malam itu terang sekali dan “agak bising”. Beberapa orang mungkin menginginkan berdiri diatas panggung dengan heels yang tinggi dan make up yang sempurna. Tapi biar saja mereka. Kalau semua ingin begitu, siapa yang berperan jadi orang malas yang bahkan pakai bedak saja jarang sekali? Yang sepatu kesayangannya tidak lain tidak bukan hanyalah flat shoes warna hitam yang dipakai terus hingga hampir rusak?

Demi keseimbangan dunia ini. Aku saja.

Arah khawatir.

Mbak Retno khawatir akhir-akhir ini.
Karena tahun depan Kirana, insyaaAllah, mulai masuk sekolah.
Karena usia Kirana yang ‘nanggung’, dia langsung masuk kelas KG (TK). Sedangkan Lila, yang biasanya main sama Kirana sudah masuk Nursery Class tahun ini.
Terus apa yang dikhawatirkan?
Khawatir Kirana gak bisa mengikuti kelas karena gak ikut Nursery.
Khawatir Kirana terhalang komunikasi karena di kelas pakai bahasa Inggris.
Khawatir Kirana garuk-garuk selama di kelas.
Khawatir teman-temannya gak ada yang mau main sama Kirana karena beberapa bagian kulit Kirana luka.

Sering kali mbak No nanya ke mbak Nadya (Mamanya Lila, lebih sering dipanggil Manda) Lila belajar apa saja di sekolah.
Beberapa waktu lalu mbak Retno mengunggah video Kirana belajar “same and different”. Pelajaran yang dipelajari Lila di sekolah hari itu. Sambil bercanda mbak Retno bilang ke Kirana “Kirana! Belajar Kirana! Biar bisa masuk Philipine School luuuu…”
Philipine school itu sekolah yang kurikulumnya kayak di Indonesia gitu, gak ‘sesantai’ sekolah internasional di sana.

Kirana pasti sangat beruntung punya Ibu mantan guru TK. Beberapa pelajaran Lila di sekolah bahkan sudah dikenalkan ke Kirana sejak entah umur berapa.
Soal bekas luka Kirana atau takut Kirana garuk-garuk?? Tenang, ada Lila. Tahun depan (kalau satu sekolahan), mereka satu kelas di KG 1. Lila bajunya aja yang Hello Kitty, jiwanya arek suroboyo banget! Pernah suatu kali Lila kekeuh mau duduk dekat Kirana. Kata dia, “Aku mau deket Kinara (Lila manggilnya suka kebalik), aku mau jaga Kinara biar gak garuk-garuk!”
Wkwk Kirana ga sekali dua kali dimarahi Lila karena ketahuan garuk-garuk.

In the end, setelah semua sepi, setelah Kirana tidur, mbak Retno bilang “Aku yakinlah Dek, Kirana ni bisa. InsyaaAllah lah, tahun depan dia udah makin kuat. Udah gak terlalu gatal-gatal kayak sekarang. Kulitnya juga insyaaAllah makin baik. Aku yakin dek dia ni bisa. Biarlah apa kata orang, tapi aku yakin dek”

Oh…ternyata yang bikin khawatir itu “apa kata orang”. Karena biasanya orang yang nanya ke mbak Retno “Besok gimana kalo Kirana sekolah ya?” yang spontan dijawab “iyaya…gimana ya…”
Padahal di hatinya dia yakin anaknya bakal baik-baik aja.
Namanya juga manusia ya. Dari ratusan komen baik, tetap aja kebaca satu komen buruk. Itu pula yang mengganggu hati.

Aku pun yakin Mbak! Kau Ibuknya. Kau yang tahu anak kau gimana.
Jadi apa hubungannya tulisan panjang ini sama judulnya?
Kemana arah khawatir itu?
Apa ni?
Antiklimaks lagi?
Gapapa! I lyk myself!

Gimana ya rasanya punya suami penulis? Wkwk

Aku follow IG seorang penulis cuma karena si penulis ini pernah sebut-sebut Yogyakarta, “woh! Anak jogja? Follow ah!”
Bukunya, tulisannya, hasil karyanya? Belum tahu. Belum pernah baca. Wkwk
Kebetulan Agustus lalu aku ikutan acara Kelas Mendongeng, dan mas Kurniawan Gunadi (siapa namanya ya) ini datang, “Semacam pernah tahu mukanya” hehe
Tapi beliau pasti punya penggemar yang luar biasa banyaknya. Dilihat dari komen IGnya hehe. Mayaaan pernah ketemu, bisa jadi obrolan entah dengan siapa, “Weh! Aku pernah ketemu langsung lhooo!” Sip, disimpen dulu kata-kata itu entah buat kapan.
Baru-baru ini beliau menikah dengan penulis juga kayaknya (cmiiw). Fyi, kepo-kepo IG si istri, istrinya ngefollow mbak Retno wkwk wuiiii berarti tahu Kirana.

Kemana arah tulisan ini?
Ohiya. Apa rasanya punya suami penulis? Akankah hari-harinya diisi dengan kata-kata romantis? Seperti Salim A. Fillah menyebut senyum manis istrinya seperti sepotong surga tersiram madu? Mungkinkah sore hari menjadi waktu untuk baca buku. Kanan pegang buku, kiri pegang tangan pasangan. Di meja kecil bundar ada 2 cangkir teh yang masih panas. Saking heningnya suara desir angin terdengar lebih jelas.
Terbayang percakapan pagi hari
“Mas, kopi atau teh?”
“Tidak keduanya. Cukup kamu saja”

MBAHAHAHAK.

Btw, semoga mas Gun dan Istri menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Selamat menyelam di ladang pahala!

Tamu.

Anak perempuan itu bakal jadi tamu di rumahnya sendiri.


Pernah suatu hari setelah jadi istri dan ikut tinggal di rumah suaminya, mbak Retno bilang, “Tadi aku ke rumah. Ibuk bikinin aku teh, tehnya di cangkir yang biasanya untuk tamu. Dek, aku dibikinkan teh dek…sama ibuk…di rumah sendiri.”

Agak…sedih ya.

Tapi besok-besoknya engga sih, dia dateng ke rumah langsung masuk dapur nanya ibuk masak apa wkwkwk
Cuma mbak Retno pesan, entah berapa kali diulang, sebelum jadi istri orang, puas-puasin sama Bapak sama Ibuk.
Sebelum jadi tamu di rumah sendiri. Sebelum waktu kita di rumah hanya satu cangkir teh. Karena tamu biasanya pulang setelah teh dalam cangkir habis.

baiklah, besok berarti aku minta dibikinkan teh yang pyur, bukan teh celup. 1 gelas besar. Kalau habis airnya, minta air panas lagi buat nyeduh lagi. Sampai teh nya kalau diseduh air panas ga berubah warna.

Jarak.

Ini ketiga kalinya aku bilang “jarak antara Indonesia dan Oman itu hanya sebatas jempol dan tanda call”
Ini antara aku yang ga paham konsep jarak atau emang mau lari dari realita wkwk
Tapi jarak itu benar-benar “dirasa”, diukurnya pakai perasaan.
Mbak Retno ga pernah terasa jauh. Padahal untuk ke Muscat sana, butuh perjalanan kurang lebih 8 jam naik pesawat dari Jakarta. Belum lagi perjalanan ke Jakartanya dari Pekanbaru, dan perjalanan darat dari Duri ke Pekanbaru. Entah berapa kilometer yang ditempuh. Tapi Mbak Retno ga pernah terasa jauh.
Karena kita masih bisa saling tanya hal yang paling sepele saat itu juga, kayak “mbak, Jco apa Dunkin ya?” Dan dijawab cepat “Jco”. Kayak…kayak…apa ya…kayak dia masih ada di kamar sebelah.
Mbak Retno memang jauh, tapi dia ga pernah terasa jauh.