retnos

7 Januari 2017

Bapak ngirim ini ke grup keluarga tadi pagi. Sebenarnya ini cuma untuk kami-kami. Tapi gakpapalah. Biar kalian paham, kalau ini pasti juga ada di kepala Bapak kalian.

Untuk: Istriku, Retno/Tatang, Hana dan Bela.

Terima kasih tak terbilang untuk kalian semua!!!

Bapak merasa sangat bersyukur mempunyai kalian dalam hidup bapak. Kalian semua adalah Karunia dari Allah SWT.

Usia bapak sekarang 55 tahun.  Beberapa hari ini bapak banyak berfikir akan seperti apa perjalanan hidup bapak selanjutnya.

Beberapa pertanyaan belum terjawab dan hanya waktu yang akan menjawabnya.

1. Apakah bapak akan terus sehat seperti selama ini?
2. Apakah Istri dan anak anak akan ingat dan merawat bapak ketika bapak lemah?.
3. Apakah kalian akan tetap rukun dan bersatu?
4. Apakah kalian semua tetap berpegang pada nilai nilai Islam dan meningkatkan kwalitas ibadahnya?.
5. Apakah kalian masih akan memegang nilai nilai kepatuhan, kejujuran dan kepedulian?

Sukis Haryanto

Ibuk

“Sabar yaa, ayok ayok sabaar”…
Dengar ibuk bilang begitu, Kirana langsung bersusah payah menahan tangisnya sambil sedikit-sedikit terisak.

Kirana? Iya, putri Retno Hening yang baru saya tahu saat Bulek Hana (Adik Mbak Retno Hening) akhirnya bikin tumblr. Saya tahu betapa viralnya Mbak Retno dengan Kirana dimulai sejak video-videonya bermunculan di IG. Tetapi, saya baru benar-benar melihat, setelah membaca semua postingannya Bulek Hana.

Postingan Bulek Hana sebagai ‘ex-admin’ yang cerita tentang pengalaman bulek menjadi admin IG Mbak Retno sambil menjaga Kirana selama Mbak Retno dan suami pergi umrah, membuat saya langsung terpikir “Retno Hening, pasti sabar banget”.

Sejak saat itu, setelah semua postingan bulek Hana saya scroll sampai habis (seingat saya bulek Hana baru beberapa hari bikin tumblr), saya langsung cari video-video Kirana di Youtube. Dan video yang pertama kali saya tonton, video saat Kirana menangis tersedu-sedu dalam frame, disertai suara mbak Retno yang bilang “Sabar ya nak, Ayoo sabar sabar”

Jreeeng, seketika Kirana berusaha sekuat tenaga berhenti dari tangisnya. Seketika itu juga saya takjub. Mbak Retno butuh waktu berapa lama untuk sabar mengajarkan Kirana tentang sabar? Bahkan saat ini, Kirana baru 3 tahun.

Melalui buku ini, saya semakin dibuat takjub. Sederhananya, Mbak Retno selalu mengajarkan Kirana untuk berbuat baik dengan menjadi orang baik. Sederhananya, Mbak Retno selalu sabar mengajarkan Kirana untuk belajar sabar. Sederhananya, Ibuk adalah contoh. Contoh yang tidak sederhana.

Terimakasih Mbak, sharingnya. Semoga semakin banyak perempuan-perempuan sabar :))

Tanpa Karya

“Sometimes you search so hard for words. You look for a way to interpret the language of this heart and the unspoken bond you feel. But in the end you are left with nothing but silence. And deep down you hope it’s understood.” (Yasmin Mogahed)

Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan.

Terlebih jika pertanyaannya rumit. Saya perlu waktu mengunyahnya pelan-pelan. Mengurai kalimat menjadi kata per kata, merenungi makna. Kemudian berusaha melacak jawabannya di perpustakaan memori. Saat jawaban tersedia, dengan mudah saya bisa menunjuk referensi “Ada di buku ini, halaman sekian dan sekian,” “Ada di video ini, menit sekian dan detik sekian.” Saat punya pendapat maupun pemikiran pribadi, saya juga bisa menambahinya dengan kalimat “Saya pikir”, “Saya rasa”, “Menurut saya”, “Saya ingat, saat…” dan seterusnya.

Tapi bagaimana kalau jawabannya belum ada? Belum tersimpan di katalog memori. Belum ada teaser “Segera Hadir: Jawaban atas Pertanyaan…” Belum ada…apapun.

Sehingga yang bisa saya lakukan hanyalah terus melangkah. Terus mencari. Sambil berdoa “Semoga Allah menunjukkan jawabannya…”

***

Konsep Diri

Salah satu pertanyaan yang perlu tahunan bagi saya untuk menjawabnya adalah: konsep diri. Siapa saya? Apa sih peran saya? Apa sih tujuan saya hidup di dunia ini? Bagaimana saya menilai diri saya?

Ketiadaan jawaban dalam katalog memori mendorong saya untuk melangkah dan mencari. Pencarian yang membuahkan jawaban sepotong-sepotong dan berubah-ubah. Tidak komprehensif, karena dangkalnya pemahaman saya.

Ada kalanya saya menilai diri secara kuantitatif dari hasil kerja. Saat bekerja sebagai penulis feature di koran dan majalah misalnya. Saya menilai diri saya dari: berapa jumlah artikel yang dimuat bulan ini, siapa figur yang berhasil saya wawancarai. Saat bekerja sebagai staf humas, saya menilai diri saya dari: berapa proyek tim saya yang sukses mencitrakan klien secara positif, dengan cara apa saja citra positif itu dioperasionalisasikan. Saat bekerja sebagai redaksi di penerbit buku anak, saya menilai diri saya dari: berapa kamus bahasa Inggris yang saya buat, berapa cerpen, fabel, dongeng, komik, yang saya tulis.

Ketika kemudian merintis usaha toko buku daring, kebiasaan menilai diri secara kuantitatif ini pun berlanjut. Bekerja dari rumah, saya menilai diri saya dari: berapa omzet bulan ini, berapa jumlah pelanggan saya, berapa kasus keluhan pelanggan yang saya selesaikan, berapa jumlah buku yang saya kirim per bulan, per tahun, dan seterusnya.  

Dan ketika sempat cuti tutup toko buku daring selama setahun, jawaban saya tentang konsep diri pun kembali ke titik nol. Siapa saya? Apa sih peran saya? Apa sih tujuan saya hidup di dunia ini? Bagaimana saya menilai diri saya?

Dengan pertanyaan pamungkas: Bagaimana saya mengaktualisasikan diri nanti?

 ***

(Kenangan) Aktualisasi Diri dan Manajemen Waktu

Beberapa orang pernah bertanya: ‘Gimana sih cara Mbak Retno bagi waktu antara jualan dan ngurus anak-anak?’. Pertanyaan yang sempat bikin saya bengong. Terus terang saya jawab:

“Sejujurnya, nggak ada manajemen waktu. Saya juggling, jumpalitan. Nggak ada rundown harian. Nggak ada ilmu yang bisa dibagikan.

Saya sering ngajak Hana-Fatih ngambil-ngambil buku ke penerbit/vendor. Gendong Fatih, gandeng Hana di satu tangan, jinjing buku di tangan lain, bawa ransel. Kadang kami ngojek, nggak jarang naik bis/ angkot. Karena nggak punya pengasuh atau ART yg stay 24 jam (hanya ada Mbak yang nyuci gosok selama 2 jam. Dateng jam 05.00, balik jam 07.00), di rumah pun saya mondar-mandir ngapa-ngapain: beres-beres, nyuapin, nyebokin, bungkus-bungkus, bales-bales PM pembeli, order-order ke penerbit/ vendor, dll.

Biasanya saya kerja abis shalat Subuh. Kalo anak-anak bangun, laptop saya matiin, lalu ngurus anak-anak sarapan. Abis sarapan, kami punya jadwal rutin jalan-jalan. Kadang jalan kaki ke taman atau masjid buat Dhuha, kadang hunting buku, kadang ke perpus, kadang cuman jalan kaki keliling komplek atau minum susu sambil makan biskuit di Sevel atau Lawson. Pokoknya, jalan-jalan. Selama jalan-jalan sama anak-anak itu, data seluler di HP di hp saya matiin. Kalo perlu nerima telepon atau bales sms urgent, saya juga bilang ke Hana “Mama bales dulu ya sebentar.” Kalo lagi banyak pesenan, saya juga bilang ke Hana “Mama kerja dulu, nanti main-main lagi ya.”

Saat anak-anak tidur siang, saya ikut tidur sekitar 15-20 menit. Lalu saya bungkus-bungkus, rekap order, bales-balesin PM pembeli. Sore-sorean baru kirim-kirim paket. Malam-malam pas anak-anak tidur, saya rekap order, nyiapin materi event, atau garap kerjaan yang butuh konsentrasi tinggi seperti: nulis, ngedit, nerjemahin.”

Jawaban di atas bukan pencitraan. Saya bersungguh-sungguh di bagian ‘saya juggling, jumpalitan.’ Opsi rekrut karyawan, jadi agen kurir, rekrut ART, dlsb, sudah kerap jadi bahan diskusi saya bersama suami. Qadarullah, kala itu, semua opsi itu mentok di kami.

Sementara kesibukan kerja sempat membuat saya gagap prioritas. Secara teori saya bisa bilang ‘Anak-anak dan keluarga adalah prioritas utama’ namun dulu pada praktiknya tidaklah demikian. Nyatanya, dulu saya sering menitipkan anak-anak pada pengasuhan TV kabel. Sementara saya di ruangan sebelah, bekerja.

Nyatanya, dulu, hampir tiap hari saya membawa anak-anak untuk urusan pekerjaan. Saat mereka rewel, saya sogok mereka dengan: mainan dan makanan. Yang terpikir saat itu hanyalah: yang penting anak-anak anteng, nggak rewel, dan pekerjaan saya beres—yang mana, nggak beres-beres juga *getokretno*

Saking seringnya pergi untuk urusan buku, Hana sampai sempat emoh ikut beli buku. Pernah, saya harus pergi untuk rapat dengan penerbit, dan agar Hana enggan ikut, saya pakai kata kunci: “Mama mau beli buku.” Ironic, isn’t it?

TV kabel sebagai pengasuh setia pun sempat membuat anak-anak kecanduan—sampai hapal sejumlah dialog. Dan saat sedang bersama anak-anak, pikiran saya sering melayang-layang ke tumpukan pekerjaan. Tidak sungguh-sungguh bersama mereka.   

Jadi meski kelihatannya saya bisa membagi waktu, nyatanya kala itu 24 jam saya banyak tersita untuk kerja, dan betapa anak-anak hanya saya selipkan di antara daftar pekerjaan.

Dan Allah? Mana waktu saya buat Allah?

***

Mengenang masa itu, saya ingat betapa ambisiusnya saya. Terbiasa bekerja sejak usia 19 tahun dan berhenti ngantor saat hamil Hana, dulu mindset saya tentang bekerja di rumah adalah: menyalakan laptop dari pagi-malam. Pembedanya hanyalah lokasi: di rumah.

Saya masih ingat kebiasaan tidak sehat kala stres dulu: alihkan ke pekerjaan. Saat stres jualan dan ada order menerjemahkan buku, saya sanggupi.

Saya senang belajar menerjemahkan. Memang saya masih pemula, dan karya terjemahan saya belum banyak. Tapi menerjemahkan bagi saya adalah: olah otak, penyeimbang kerja administratif semi mekanis ngurus toko buku daring. Saya menikmati riset browsing idiom, mencari padanan kata yang pas, mengutak-atik struktur kalimat agar lancar, membuka-buka tesaurus demi mencari kosakata, dlsb. Meski konsekuensinya: saat menerjemahkan, selama berbulan-bulan, saya hanya tidur 1-2 jam/ hari.

Suamilah yang kemudian meminta saya berhenti menerjemahkan, karena melihat saya kelelahan dan sempat perdarahan. Betapapun, ada saja sesal ketika saya menolak sejumlah tawaran order terjemahan dari penerbit mayor. Saya kerap galau: Tidakkah saya menyia-nyiakan potensi saya? Bukankah ini kesempatan bagus? Bagaimana kalau nanti tidak ada tawaran lagi?

***

Itu kalau saya sedang nyambi menerjemahkan. Bagaimana saat tidak ada orderan terjemahan dan hanya jualan buku? Apa yang saya lakukan saat stres? Saya akan hunting lebih banyak buku, kulakan lebih banyak, menenteng anak-anak ke berbagai tempat untuk lagi, dan lagi hunting buku. Yang mana ujungnya sama dan tetap tidak membawa saya ke mana-mana selain: kelelahan dan makin stres.

Di satu titik, pekerjaan yang mulanya saya lakoni karena hobi dan keinginan aktualisasi diri inipun, membuat saya berpikir ‘It doesn’t fun anymore.’ Dan saat lampu-lampu dimatikan, tersisa tanya di kepala: Buat apa berpayah-payah begini, Retnadi? Ngejar apa sih? Apa yang kamu cari? 

 ***

Temuan, dan Perubahan

Perubahan itu lumrah. Dunia berubah, prioritas berubah, kita berubah.

Saya berubah. 

Tujuh tahun lalu, saya berpapasan dengan seorang penabuh marawis. Menatap saya, dia lalu geleng-geleng kepala dan berbisik-bisik dengan beberapa temannya sambil menunjuk-nunjuk saya. Meski bisik-bisik, suaranya cukup keras untuk bisa saya dengar: “Kiamat sudah dekat.”

Mengenang kejadian itu kini, saya tidak bisa menyalahkan si penabuh marawis. Dia benar.

***

Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya berproses untuk berubah. Perubahan yang menyadarkan saya, betapa di era seperti ini, hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah lah pegangan hidup paling masuk akal. Paling bisa dipercaya. Paling aman. Paling menenteramkan. Paling bisa diandalkan. Paling benar. 

Perubahan yang juga membawa saya pada jawaban pertanyaan utama tentang konsep diri. Pertanyaan ‘Siapa saya? Apa sih peran saya? Apa sih tujuan saya hidup di dunia ini?’ saya temukan jawabannya di surat Adz-Dzariyat ayat 56. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Betapa dunia ini hanya sebentar.

Dia (Allah) berfirman, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’

Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.’

Dia (Allah) berfirman, ‘Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui.” (QS Al-Mu’minun, ayat 112-114)

***

Ibu sebagai Guru

“Once we say we love Allah, then we have to back the statement up with our actions. What do we have to do to love Allah? Again, Allah gave the answer in the Qur’an “Say, (Oh Muhammad saw to the mankind) If you really love Allah then follow me. Allah will love you and forgive you of your sins. And Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful” (Surah Al-Imran: 31). So, the first thing we have to do in order to instill the love of Allah in our children is to accept Islamic Tawheed with our heart, and follow the Qur’an and the Sunnah in our everyday life with our actions. Children will learn most things by example and imitation.” (Islam for Kids)

Pertanyaannya buat saya adalah: Sudahkah kamu jadi teladan yang baik di rumah, Retnadi?

Boro-boro mau ngajari anak agama, wong saya aja dulu nyaris nggak pernah baca buku agama. Boro-boro mau ngasi tuntunan doa-doa, wong saya aja nggak hafal doa-doa. Boro-boro mau ngajari anak mencintai Al-Qur’an, wong saya aja jarang buka mushaf. Gimana mau ngasih teladan coba, Retnadi? *jitakretno*

***

Sempat vakum jualan Desember 2013-Agustus 2014, saya pun belajar tentang harta yang sangat tak ternilai harganya.

Harta itu bernama: waktu.

Sesuatu yang kini sudah jadi barang mewah bagi sebagian orang.

Dengan waktu, saya bisa lebih fokus merancang: pengemasan materi agama dan operasionalisasi konsep untuk murid-murid saya di rumah: anak-anak. Anak-anak saya belum bisa baca tulis dan berhitung.

Tantangan saya adalah: bagaimana mengemas materi agama yang padat teks untuk anak-anak yang belum bisa calistung? Tentu pakai alat bantu. Tapi alat bantu apa yang syar’i? Lalu setelah belajar, bagaimana caranya saya tahu mereka paham? Di sekolah, kita kenal sistem ujian tertulis, pilihan ganda, dsb. Tapi untuk anak-anak yang belum bisa calistung, bagaimana mengetesnya?

Dengan waktu, saya bisa meramu formula belajar yang insya Allah pas untuk anak-anak saya. Seperti saya, Hana dan Fatih juga sangat visual. Jadi tahap belajar kami adalah sbb:

1. Membacakan materi untuk Hana, dengan intonasi dan gesture yang menarik. Bisa sirah nabawiyah, kisah-kisah dalam Al-Qur'an atau hadits, atau ayat tertentu, atau surat pendek tertentu. Saat membaca kisah, juga dibacakan ayat Al-Qur'an terkait beserta terjemahannya. 

2.  Usai membaca dan diskusi, kami berkegiatan berdasarkan materi. Bentuk kegiatannya beragam, mulai dari: mewarnai, gambar-gambar, gunting tempel, bikin prakarya, bikin eksperimen sains, diorama, masak sederhana, tata-tata mainan yang ada, dll. Misalnya:saat belajar surat Al-Fiil, saya buatkan diorama sederhana. Saat belajar tentang ayat perintah menimbang secara tepat, kami main timbang-timbang mainan di rumah. Saat belajar tentang ayat perintah berjilbab, kami main gunting tempel. Saat belajar doa ketika jalan menanjak dan menurun, kami gambar-gambar gunung, lalu main mobil-mobilan dengan gambar itu. Dlsb. 

Untuk tes pemahaman Hana, saya merancang sejumlah ‘kuis’ sederhana, seperti:

  1. Meminta Hana menunjukkan karya, lalu menceritakan kembali kegiatan kami pada Papanya. Atau, saya yang manggil suami. Beliau nanti akan bertanya “Hana lagi bikin-bikin apa?” dan memancing Hana cerita.
  2. Menggunakan alat bantu ilustrasi untuk kuis. Misalnya: saat ‘kuis’ tentang mukjizat Rasulullah SAW membelah bulan, saya gunakan dua blok kayu bentuk segitiga sebagai gunung, dan dua blok kayu setengah lingkaran. Saya tata, lalu tanya Hana: “Ini apa?” Begitu juga saat ‘kuis’ posisi Allah. Saya gambar tujuh buah awan, tulisan Allah, dan tanya: “Allah ada di mana, Han?”

***

Dakwah pertama adalah kepada keluarga. Saya wajib memberitahu keluarga saya, betapa dunia ini hanya sebentar. Bahwa akan ada hari akhir dan tempat perhentian terakhir. Bahwa saat itu terjadi, kita akan berdiri sendiri-sendiri. Tidak bisa menolong satu sama lain. Hanya kita, dan amalan kita selama di dunia.

Terus terang, pemahaman baru ini kerap membuat saya cemas. Apalagi, makin belajar agama, saya makin pingin noyor diri sendiri, karena demikian banyaknya yang saya tidak tahu. Begitu banyak yang harus dipelajari, diresapi, diamalkan. So little time to much to do. Sementara, berapa banyak waktu yang saya punya?

Saya sering mikir: Andai Allah duluan manggil saya, sudahkah saya ngajari anak-anak tentang ujian mereka yang sesungguhnya? Bahwa dunia ini tempat ujian, godaan setan yang luar biasa. Bahwa akan ada fitnah kubur, dajjal, kiamat, padang mahsyar, hisab, sirath, surga-neraka?

Sudahkah saya ngajari anak-anak saya doa-doa memohon pertolongan pada Allah dan hanya pada Allah? Sudahkah mereka mencintai Al-Qur'an, meresapi maknanya, mengamalkannya? Sudahkah mereka paham, bahwa shalat bukan sekedar kewajiban, tapi juga penghiburan? 

Mengutip Kisah Gemilang Perjalanan Hidup Nabi Muhammad SAW: Kisah Nabi & Rasul Jilid 7; Abu Afifah Ar-Raji; Media Shohih; h. 33-34: “Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, hati Rasulullah SAW sangat sedih. Allah berkehendak meringankan kesedihan Rasul-Nya. Dia memperjalankan beliau dari Mekah ke Masjidil Aqsa di malam hari dengan kendaraan hewan Buraq. Lalu dari Masjidil Aqsa naik ke langit tujuh dan Sidratul Muntaha. Peristiwa ini dikenal dengan Isra’ Mi'raj. Sesampai di Sidratul Muntaha, beliau menerima kewajiban shalat 5 waktu. Shalat ini akan menjadi hiburan bagi beliau dan umatnya." 

***

Sudahkah mereka mengenal Nabinya, mencintainya, meneladaninya? Apa mereka tahu bahwa banyak hadits palsu yang beredar, dan dengan hadits palsu itu, sejumlah orang berusaha mereka ulang sejarah dan ajaran agama Islam?

Dengan apa saya harus mempersenjatai mereka?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda “Ketahuilah, tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Dan seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya, dan kelak ia ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya serta atas anak-anaknya, dan kelak ia ditanya tentang mereka. Ketahuilah, tiap-tiap kalian adalah pemimpin, dan tiap-tiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. “(HR al-Bukhari dalam Shahihnya (no 893) dan Muslim (no 4828))

Dan pertanyaan galau utama saya: Kalau Allah tanya apa yang saya lakukan dengan umur saya di dunia, saya jawab apa ya? Sudahkah saya jadi istri yang baik? Sudahkah saya jadi istri yang taat pada suami dan meraih ridho suami? Sudahkah saya jadi ibu yang–mengutip seorang sahabat: "bukan sekadar menjalankan tugas domestik, tapi ibu yang benar-benar meng-upgrade pengetahuan, kemampuan, dan bonding pada anak-anak.”

Nah, apa jawabanmu, Retnadi?

***

Pengalih Perhatian Kala Jenuh

“I feel like it’s easy to get caught up in the day-to day, and forget what really matters to you,” ujar Candy Chang dalam TED Talk. Seorang sahabat pernah curhat, butuh pengalih perhatian saat jenuh mengurus anak-anak. Dia memilih: menjalankan bisnis dari rumah, dan mempertahankannya hingga kini.

Dulu saya pun begitu. Sampai di satu titik, saya sadar: It’s not working. Anymore. Di satu titik, saya sadar: Yang menciptakan saya Allah. Yang ngasih saya: anak, kerjaan, ujian, cobaan, juga Allah. Jadi saat sedih, marah, kecewa, mood berantakan, atau jenuh sekalipun, kenapa saya tidak mencari-Nya?

Dan selalu, selalu mata saya basah membaca ini: 

Me-time saya ya tilawah. Kadang sambil lihat anak-anak mainan, kadang sendirian di kamar. Atau, tahajud. Curhat semuanya sama Allah.“ 

Seperti ibu lain, saya juga pernah stres. Jenuh dengan rutinitas yang itu-itu saja: masak-mandiin anak-nyuapi-nyusui-nyeboki-nyuci-beres-beres dan setumpuk pekerjaan rumah tangga yang tak habis-habis. 

"Makanya saya curi-curi waktu buat dzikir. Sambil motong sayur, cuci piring, jalan ke pasar, nyapu, ngepel, bikin minum, antri di bank, nunggu mau nyebrang jalan, beresin mainan anak-anak, nyuapi anak, nyusui. Sering kalau ngeloni anak, saya belum ngantuk, tapi lampu sudah mati. Ya saya dzikir aja sampai ketiduran. Pokoknya berusaha memperbanyak dzikir dan istighfar, selama bukan di tempat yang dilarang. Awalnya sih, karena pingin menyibukkan pikiran. Supaya nggak mikir macem-macem. Juga supaya nggak gampang spaneng sama anak-anak. Tapi lama-lama, malah jadi kebiasaan. Berasa ada yang kurang kalau lagi ngapa-ngapain tapi nggak nyambi dzikir atau istighfar. Janji Allah sungguh benar: Dengan mengingat-Nya, hati akan menjadi tenang…”

 ***

Penyemangat Belajar

Saya bukan ibu teladan ataupun guru yang sempurna. Masih banyak lubang di sana-sini, masih bertumpuk kesalahan yang perlu diperbaiki, pernah butuh waktu untuk belajar beradaptasi karena sempat tak lagi punya penghasilan sendiri. Dan karena baru belajar agama setelah dewasa, saya sangat fakir ilmu.

Ada kalanya hari-hari tanpa cuaca datang tanpa diundang. Saat saya merasa begitu dependen, nggak berarti, nggak ngapa-ngapain, nggak eksis, nggak punya aktualisasi diri, nggak punya sumbangsih.

Ketika suara-suara sombong berbisik di telinga: ‘You’re better than this, Retnadi” sementara tangan saya sibuk menyuapi, menceboki, dan melakukan pekerjaan remeh-temeh lainnya. 

Salah satu penyejuk hati ini adalah: puisi Mbak Kiki Barkiah.

***

Untukmu Para Ibu yang Di Rumah

Oleh: Kiki Barkiah

Untukmu para ibu yang di rumah

Mengapa engkau masih galau dan gundah

Atas pilihan yang dianjurkan oleh syariah

Agar engkau tetap berada di rumah

Mengapa pula engkau harus iri dan cemburu

Atas selisih puluhan lembar ratusan ribu

Sedang kau memiliki begitu banyak waktu

Merawat mereka langsung dengan tanganmu

Serta menurunkan berjuta ilmu

Mengapa perasaanmu masih terasa berat

Atas perintah Allah untuk selalu taat

Pada suamimu yang meminta dengan sangat

Agar engkau dapat fokus merawat

Padahal dengannya surga menjadi begitu dekat

Andai kau tahu bahwa peluang surgamu tidak jauh

Cukup bekerja ikhlas dan tanpa banyak mengeluh

Mendidik generasi yang berjiwa tangguh

Memberi nutrisi pada jiwa dan tubuh

Insya Allah kepuasan hatimu diisi Allah secara penuh

Memang betul kau berharap sebuah eksistensi

Merasa melakukan pekerjaan yang tak bergengsi

Seputar masak, sapu pel dan menyuci

Aaaah…. Itu karena kau tak menyadari

Ayunan sapumu berpahala seri

Dengan suami yang mencari rezeki

Yang berkemeja rapi dan berdasi

Aaaah….. Itu karena kau belum mengenal

Bahwa pilihanmu dibalas Allah dalam banyak hal

Pada sisi-sisi lain yang tak mampu kau hafal

Kecuali kelak pekerjaan ini engkau tinggal

Aku mengerti kadang engkau resah

Dengan sekian lembar ijazah

Yang kau raih dengan susah payah

Aaaah…… Andai kau mengerti

Ilmumu begitu sangat berarti

Dalam mendidik generasi

Yang berkualitas dan bervisi

Aku tahu kadang kau rindu seperti mereka

Yang setiap hari pergi berkendara

Keluar rumah untuk bekerja 

Dan mengukir sejuta karya

Aaaah…… itu karena kau tidak tahu

Sebagian dari mereka merasa rindu

Mendapat kemewahan seperti dirimu

Yang selalu siap membuka pintu

Seperti engkau menyambut suamimu

Alhamdulillah wa syukurillah

Ketika suamimu hanya memintamu dirumah

Berarti ia siap bekerja keras mencari nafkah

Menyokong semua tanpa berkeluh kesah

Berada di rumah tak berarti tanpa arti

Semoga Allah memberikanmu jalan pengganti

Dalam meraih impian yang kau cari

Dari sudut ternyaman di rumahmu sendiri

Maaf… Lukisan hati ini tak bermaksud membandingkan

Terhadap mereka yang berjasa mengambil peran

Keluar rumah dengan berjuta alasan perjuangan

Tulisan ini dibuat untuk menghibur hati

Para ibu yang merasa kehilangan eksistensi

Bahkan terkadang berkecil hati

Merasa diri begitu tak berarti

Untukmu para ibu yang di rumah

Mari ikhlaskan hatimu dan berpasrah

Agar peluang surga yang ada di rumah

Tak terhapus dengan keluh kesah

***

Still, ada kalanya saya bosan belajar dan mengajar. Ada kalanya saya gagal fokus tujuan mendidik anak, lagi dan lagi. Ada kalanya saya lagi-lagi lupa, peran saya sebagai ibu dan guru anak-anak.

Saat-saat saya menyadari, sungguh, betapa lemahnya iman saya. Betapa mudahnya hati saya terbolak-balik. Alhamdulillah, Allah mengirimkan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana lewat murid-murid saya yang masih balita dan batita ini. 

Ketika si balita melihat selembar daun berlubang karena dimakan ulat dan dia mencetus “Mama, daunnya boyong-boyong! Kayak pasukan gajah yang diyempayi batu sama buyung-buyung ababi(l)!”.

Ketika langkah si batita terhenti kala melewati rumah tetangga yang tembok terasnya dipahat lukisan perempuan mandi, dan batita berujar “Mama, oyangnya mayu ya.”

Ketika si balita mengingatkan Uti dan Mbahnya “Mbacam, minumnya sambi(l) duduk.”

Ketika si balita dengan sukarela menyerahkan boneka Barbie dan buku Mermaid yang dulu sangat disayanginya dan berujar “Mama, dibuang aja ini Ba®bie dan Me®maidnya. Mayu. Auya(t)nya keyihatan.”

Atau ketika kami jalan kaki dan menemukan beling di jalan. Si balita menunjuk-nunjuk dan berujar “Kayo kena oyang atau mio, kasihan. Kakinya bisa yuka.” Sehingga kami pun berjongkok di jalan, memunguti serpihan beling.

Atau ketika kami menemukan banyak siput dan keong terdampar di tepi selokan taman usai banjir surut. Dengan peluh bercucuran di bawah terik matahari, si balita memunguti belasan siput dan keong. Memastikan masih ada isinya, lalu melemparnya lagi ke selokan. “Kasian, nanti bisa mati.”     

Atau ketika saya yang spaneng membisu dengan muka kenceng. “Mama, kayo mayah-mayah gitu ada setannya. Mama wudhu duyu, teyus be®doa. Audzubiyahiminassyaitooniyyojiim,” saran si balita. Di lain hari sarannya adalah: “Yosuyuyoh kan udah pesan ‘Jangan mayah, jangan mayah, jangan mayah’.”

Atau ketika si balita menjelaskan kepada sepupunya, kenapa film kartun yang mereka tonton di laptop suaranya di-mute. Sementara murottal lewat ponsel tidak berhenti diputar. “Kayena suaya te®baik adalah suaya A(l)-Qu®an…”

Atau ketika kami melewati sebuah rumah megah, dan si balita mencetus “Bajus ya yumahnya, Papa? Tapi masih bajusan yumah di su®ga. Batunya aja dayi emas.” Atau ketika si balita menegur saya ketika menjawab pertanyaan batita tentang motor siapakah ini. Dia bilang “Moto® Ayoh, Mama. Bukang punya Papa.”

Atau ketika suami berujar: “Kalo jualan lagi, nanti Mama sibuk lagi. Papa seneng sekarang Mama ngajari anak-anak.”

Semua kebahagiaan sederhana inilah yang mengingatkan saya: Ini, Retnadi.

Untuk inilah kamu ada

*** 

Teruntuk: Pak Catur Sukono, Raihana Zahra Ramadhani, Muhammad Fatih Rizki: kado-kado terindah dari Allah untuk saya. Kalian bikin saya semangat untuk jadi istri yang baik, ibu yang baik, muslimah yang baik.

Belum bisa jadi teladan yang baik, memang >.< Yang sabar ya sama saya…

Semoga kelak Allah mengumpulkan kita di surga ya, aamiin. Jazaakumullaahu khayran.

Ex-admin (6)

Jaga anak orang di negara orang gampang-gampang-susah. Kalau bukan Kirana entah ya.
Kirana benar-benar pengertian. 2 minggu ditinggal, aku sama ibuk ga bisa kemana-mana. Kendaraan umum ga ada, nyetir mobil ga bisa. Karena ga bisa kemana-mana sebelum ditinggal mbak Retno nyetok semua bahan makanan dan keperluan. Mulai dari susu Kirana, bahan makan mentah, popok dan sebagainya. Kalau ada yang habis sebelum mbak Retno pulang biasanya aku ngikut Manda jemput Lila atau Sasa, terus minta dianter ke carrefour buat belanja.
Suatu hari, belum sempet belanja, persediaan susu Kirana hampir habis.
“Kirana, susu Kirana yang white tinggal 1 ini. Kalau yang ini di habis berarti udah dak ada.”
“Dakpapa. Kan masih ada yang coklat”

Atau saat persediaan keju dia yang hampir habis juga,
“Kirana, kejunya tinggal satu. Belinya nunggu Manda ya”
“Dak usah beli. Kalau habis dak usah beli. Dakpapa”

Kirana cuma bisa satu jenis cereal. Belinya di toko tertentu. Persediaan hampir habis juga. Karena aku belanjanya di carrefour, akhirnya aku beli cereal merk lain, “oh, gluten free. Bisa kali ya” ternyata ga bisa. Badannya merah-merah.
“Kirana, ternyata cereal yang ini bikin gatel-gatel ya…besok-besok dak usah ya.”
“Bikin gatel? Dak usah dimakan. Untuk bulek aja. Kalau Kirana yang makan nanti gatel-gatel” katanya.
Jadi walaupun cereal itu ada di atas meja makan, dia gabakal minta. Walaupun sebenarnya dia suka.

Atau
“Kirana, bulek capek gendong berdiri. Gendong duduk boleh?
”(Ngangguk). Sambil tiduran aja.“
Waktu itu aku terharu sampai nangis 😢

Kirana si anak baik. Terimakasih sudah jadi anak yang sabar dan pengertian. Maaf atas segala kecanggungan dan emosi yang terkadang masih kalah sabarnya sama anak yang bahkan belum tiga tahun ini.

Q kangend.

Kenapa ada yang mau membeli secangkir kopi? Padahal hitamnya kopi membuat dia tidak terlihat menarik. Mau tau kenapa? Karena tidak semua orang jatuh cinta pada bungkusnya tapi isinya. Rumah yang indah hanya bungkusnya, keluarga bahagia itu isinya. Pesta pernikahan hanya bungkusnya, sakinah,mawadah, warahmah itu isinya. Ranjang mewah hanya bungkusnya, tidur nyenyak itu isinya. Kekayaan itu hanya bungkusnya, hati yang bahagia itu isinya. Cantik atau tampan hanya bungkusnya, kepribadian dan hati itu isinya. Bicara itu hanya bungkusnya,  amal nyata itu isinya. Buku hanya bungkusnya,  pengetahuan itu isinya. Jabatan hanya bungkusnya, pengabdian dan pelayanan itu isinya. Kharisma hanya bungkusnya, ahlaqul karimah itu isinya. Hidup di dunia itu bungkusnya, hidup sesudah mati itu isinya.
—  Retno Dhewandari
Tamu.

Anak perempuan itu bakal jadi tamu di rumahnya sendiri.


Pernah suatu hari setelah jadi istri dan ikut tinggal di rumah suaminya, mbak Retno bilang, “Tadi aku ke rumah. Ibuk bikinin aku teh, tehnya di cangkir yang biasanya untuk tamu. Dek, aku dibikinkan teh dek…sama ibuk…di rumah sendiri.”

Agak…sedih ya.

Tapi besok-besoknya engga sih, dia dateng ke rumah langsung masuk dapur nanya ibuk masak apa wkwkwk
Cuma mbak Retno pesan, entah berapa kali diulang, sebelum jadi istri orang, puas-puasin sama Bapak sama Ibuk.
Sebelum jadi tamu di rumah sendiri. Sebelum waktu kita di rumah hanya satu cangkir teh. Karena tamu biasanya pulang setelah teh dalam cangkir habis.

baiklah, besok berarti aku minta dibikinkan teh yang pyur, bukan teh celup. 1 gelas besar. Kalau habis airnya, minta air panas lagi buat nyeduh lagi. Sampai teh nya kalau diseduh air panas ga berubah warna.

Aku milikmu dan kamu milik ibumu. Cintaku kepadamu tidaklah sebesar cinta ibumu. Aku hanya wanita lancang yang ingin belajar dari wanita itu, bagaimana cara mencintaimu, bagaimana cara merawatmu dengan kasih sayang. Bukan aku ingin merebut tahtanya di hatimu. Aku tidak pantas untuk mendapatkan itu. Ketahuilah ibumu akan selalu menjadi Ratu di dalam hatimu. Selamanya.
—  Retno Dhewandari
Ex-admin

Selama 2 minggu mbak Retno berangkat haji, akun ig nya aku yang pegang.
IG yang followernya entah berapa banyak itu.

Kata mbak Retno, “Nanti kau videokan Kirana ya. Tanya-tanya dia gimana pas aku tinggal besok”. Pesannya cuma sampai situ. Gak sampai nyuruh ngepost video ke IG wkwk
Kemudian ada 1 postingan yang captionnya berisi kata pamit dari mbak Retno. Diluar dugaan, banyak banget yang ngomen mbak No mau kemana, berapa lama, endesbre endesbra. Jadilah mbak No bilang “Nantik kau post aja sembarang.” Walaupun udah pamit di IG waktu itu mbak No belum berangkat. Jadi 1 atau 2 postingan video setelah itu masih ada mbak No. Awal mula masih malu-malu “Mbak, post yang ini mbak? Lucu ni mbak? Dakpapa?” Lama-lama setelah mbak No haji dan ga bisa dihubungi, adminnya mulai liar. Posting sesuka hati. Wkwk

Banyak follower lucu. Banyak komen yang lucu. Lucu-lucu gemes. Lucu-lucu geram.
Geram ketika beberapa mulai ngeluh dan mengungkapkan kerinduannya pada Mbak No. Pengennya mbak No aja yang posting. Membanding-bandingkan. Weips, tapi bukannya ‘membanding-bandingkan’ itu memang hobinya kita semua ya? Hehe
Geram lagi ketika ada yang komen jelek tentang Kirana. Bukannya kami-kami ini pengen Kirana dipuji terus. Tapi bagaimanalah remuk redamnya hati ini ketika ada yang salah fokus ke jeleknya kulit Kirana atau tidak bagusnya potongan rambut Kirana yang tidak seperti anak perempuan itu? Hei, plz. Fokes.
Ada yang bilang Kirana ga lucu. Ini nih yang lucu. Banyak yang salah fokes. Dikira video Kirana itu adalah video lawakan atau lelucuan. Guys, akun itu ada untuk memperlihatkan dan menginfokan perkembangan Kirana kepada keluarga di Indonesia.
Lagi, plz, fokes (focus)

Kalau dipikir-pikir. Kenapa ya orang bisa segitunya sama Kirana. Padahal dia kalau eek baunya luar biasa.
Antiklimaks? Its okaaaay…i like myself!

Jarak.

Ini ketiga kalinya aku bilang “jarak antara Indonesia dan Oman itu hanya sebatas jempol dan tanda call”
Ini antara aku yang ga paham konsep jarak atau emang mau lari dari realita wkwk
Tapi jarak itu benar-benar “dirasa”, diukurnya pakai perasaan.
Mbak Retno ga pernah terasa jauh. Padahal untuk ke Muscat sana, butuh perjalanan kurang lebih 8 jam naik pesawat dari Jakarta. Belum lagi perjalanan ke Jakartanya dari Pekanbaru, dan perjalanan darat dari Duri ke Pekanbaru. Entah berapa kilometer yang ditempuh. Tapi Mbak Retno ga pernah terasa jauh.
Karena kita masih bisa saling tanya hal yang paling sepele saat itu juga, kayak “mbak, Jco apa Dunkin ya?” Dan dijawab cepat “Jco”. Kayak…kayak…apa ya…kayak dia masih ada di kamar sebelah.
Mbak Retno memang jauh, tapi dia ga pernah terasa jauh.

Anak perempuannya Bapak

“Pak Sukis! Anaknya dinikahkan sama orang minang aja Pak. Biar dapat anak. Kalau sama orang Jawa, hilang anaknya nanti Pak”

Gitu kata Pak Datuk, lebaran beberapa tahun yang lalu.

Ini gak pernah aku hiraukan sampai tahun 2012, mbak No nikah. Setelah nikah dia ‘keluar rumah’, ngikut mas Tatang. Waktu itu sama-sama di Duri sih. Dan jaraknya ga terlalu jauh. Deket bahkan. Awal dia nikah sih aku masih biasa aja. Berusaha biasa aja. Toh, mbak No masih bisa dikunjungi. Toh, mbak No ga jauh-jauh. Masih satu daerah sama Bapak Ibuk. Jadi aku belum nangkep “hilang” yang dibilang Pak Datuk tadi. Lagian yang namanya istri memang harus ikut suami kan?

Tapi, ternyata beda yang mbak No rasakan. “Bertamu” kerumah yang 24 tahun dia bilang tempat pulang, tampaknya lebih mengiris hati ketimbang pergi merantau ke pulau seberang.

Mbak No cerita, dia nangis ke Bapak Ibuk. Bukan karena apa-apa, tapi karena belum terbiasa.

Mbak No sampaikan padaku jawaban Bapak untuk semua tangisnya. Kurang lebih seperti ini, “Mbak, sekarang Bapak ini nomor dua. Baktinya mbak pada suami insyaaAllah menjadi tiket surga buat Bapak dan Ibuk.”

Bapak menggeser posisinya.

Makanya, berkali-kali Mbak No sampaikan, sebelum jadi istri orang, puas-puasin waktu sama Bapak sama Ibuk.

Mbak No dulu menikah usia 24. Berarti aku juga harus siap-siap. Entah Allah datangkan kapan jodohku itu, yang penting aku siap-siap dulu. Mempersiapkan diri jadi tiket surga untuk Bapak Ibuk nanti.

Bapak, setelah tiga kali sebutan Ibu, biarlah urutan-urutan itu terucap oleh lisan. Tapi di hati kami, lelaki pertama yang membuat jatuh hati berkali-kali dan cintanya tak pernah mati adalah dirimu. Bagaimana bisa kami “hilang” darimu? Walaupun sekarang mbak Retno jauh disana, dan sebentar lagi aku ke Jogja, jangan khawatir.

Lagi, jarak itu bukan diukur, tapi dirasa.

Reading Mean Comments

“Dek, lagi ribut dikomen foto Kirana yang ini…”
“Dek, ada yang ngomen gini…”
“Dek…”

Sebagai remaja tingkat akhir yang labil, jempolku bergemetar langsung menuju foto yang dimaksud. Prosesnya gini:

1. Informasi “mean comment” masuk
2. Ada rasa marah yang membuncah
3. Meluncur ke lokasi
4. Manjat komen
5. Baca komen
6. Kepala panas
7. Sesak napas
8. Dahi berkerut
9. Mata melotot
10. Ketik another mean comment as a reply.
11. Hapus komen
12. Ketik komen yang bahkan lebih kasar
13. Keinget nasihat Bapak Ibuk, hapus lagi.
14. Buka profile yang ngomen
15. Send message
16. Luapkan amarah
17. Hapus lagi.
18. WA Mbak No, “Iya aku udah baca. Lawak ya. Biarajalah. Hahaha”

Itu dulu. Sekarang gini:
1. Informasi masuk
2. Meluncur ke lokasi
3. Baca komen, “Ooh…ini”
4. Buka profile. Kenali yang ngomen.
5. Baca komen balasan teman yang lain, mbathin, “Ya. Bagus mbak. Kamu sampaikan maksudku. Oke. Bagus mbak, bener juga komenmu. Iya mbak, bijak banget kamu.”

Mbak Retno dan Mas Tatang itu keluarga biasa. Di Oman mana terasa kalau banyak orang yang kenal Kirana. Mbak Retno juga Ibu Muda biasa yang kalau masak pakai daster dan diganggu anaknya.

Lagian, Ibu mana yang tidak sedih mendengar atau membaca komen yang kurang baik untuk anaknya. Sekali lagi, bukan berarti kami-kami ini ingin Kirana selalu dipuji. Mbak Retno sadar betul, tidak semua suka Kirana. Penyampaian orang pun pasti beda-beda. Tapi perasaan sedih, pasti ada.

Kalau komen seperti itu pasti terbaca sama mbak No. Lalu, apa yang dilakukan mbak No? “Biar aku DM aja dek.”

Isi DM nya? Minta maaf. Isinya mbak No minta maaf kalau anaknya mengganggu. Kalau tidak suka Kirana bisa block saja.

“Biarlah orang tu komen jelek atau ngejek aku dek. Asal jangan anak aku.”
“Sebenarnya yang bikin sedih lagi, komen yang seharusnya dak ada jadi ada. Gara-gara Kirana jadi ada yang ngomen jelek. Coba kalau dak ada yang kenal Kirana, pasti dak ada komen kayak gitu kan dek?”

Kalau kata Bapak, ini sebagai pelajaran kita juga. Bahwa orang itu beda-beda. Kita jangan terpancing. Kalau ada yang komen bagus, ingat bahwa ada yang Maha Bagus, yang bikin Kirana bagus itu siapa kalau bukan Maha Pencipta. Kalau ada yang kome n kurang bagus, gapapa, pandangan orang kan beda-beda. Kalau kata Ibuk, biar aja. Kita cuma harus meluruskan kembali niat kita. Pahami maksud mbak Retno bukan untuk itu. Jadi kita gak gampang terpengaruh dengan komen yang ada.

Untuk orang yang meluncurkan komen kurang baik, juga harus paham, bahwa ada orang kayak Mbak No yang sabar, tapi ada juga orang kayak aku yang kadang ga bisa menahan emosi yang siap membalas dengan komen penuh emosi pula.

Tapi, aku juga jadi mikir, sebaiknya jangan sampai membalas komentar yang membuat mbak No berfikir, “komen yang seharusnya ga ada jadi ada gara-gara Kirana.”

Mbathin dalam hati aja. Habis itu istighfar.

Maafkan saran yang tidak baik. Maafkan.

Gimana ya rasanya punya suami penulis? Wkwk

Aku follow IG seorang penulis cuma karena si penulis ini pernah sebut-sebut Yogyakarta, “woh! Anak jogja? Follow ah!”
Bukunya, tulisannya, hasil karyanya? Belum tahu. Belum pernah baca. Wkwk
Kebetulan Agustus lalu aku ikutan acara Kelas Mendongeng, dan mas Kurniawan Gunadi (siapa namanya ya) ini datang, “Semacam pernah tahu mukanya” hehe
Tapi beliau pasti punya penggemar yang luar biasa banyaknya. Dilihat dari komen IGnya hehe. Mayaaan pernah ketemu, bisa jadi obrolan entah dengan siapa, “Weh! Aku pernah ketemu langsung lhooo!” Sip, disimpen dulu kata-kata itu entah buat kapan.
Baru-baru ini beliau menikah dengan penulis juga kayaknya (cmiiw). Fyi, kepo-kepo IG si istri, istrinya ngefollow mbak Retno wkwk wuiiii berarti tahu Kirana.

Kemana arah tulisan ini?
Ohiya. Apa rasanya punya suami penulis? Akankah hari-harinya diisi dengan kata-kata romantis? Seperti Salim A. Fillah menyebut senyum manis istrinya seperti sepotong surga tersiram madu? Mungkinkah sore hari menjadi waktu untuk baca buku. Kanan pegang buku, kiri pegang tangan pasangan. Di meja kecil bundar ada 2 cangkir teh yang masih panas. Saking heningnya suara desir angin terdengar lebih jelas.
Terbayang percakapan pagi hari
“Mas, kopi atau teh?”
“Tidak keduanya. Cukup kamu saja”

MBAHAHAHAK.

Btw, semoga mas Gun dan Istri menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Selamat menyelam di ladang pahala!

Arah khawatir.

Mbak Retno khawatir akhir-akhir ini.
Karena tahun depan Kirana, insyaaAllah, mulai masuk sekolah.
Karena usia Kirana yang ‘nanggung’, dia langsung masuk kelas KG (TK). Sedangkan Lila, yang biasanya main sama Kirana sudah masuk Nursery Class tahun ini.
Terus apa yang dikhawatirkan?
Khawatir Kirana gak bisa mengikuti kelas karena gak ikut Nursery.
Khawatir Kirana terhalang komunikasi karena di kelas pakai bahasa Inggris.
Khawatir Kirana garuk-garuk selama di kelas.
Khawatir teman-temannya gak ada yang mau main sama Kirana karena beberapa bagian kulit Kirana luka.

Sering kali mbak No nanya ke mbak Nadya (Mamanya Lila, lebih sering dipanggil Manda) Lila belajar apa saja di sekolah.
Beberapa waktu lalu mbak Retno mengunggah video Kirana belajar “same and different”. Pelajaran yang dipelajari Lila di sekolah hari itu. Sambil bercanda mbak Retno bilang ke Kirana “Kirana! Belajar Kirana! Biar bisa masuk Philipine School luuuu…”
Philipine school itu sekolah yang kurikulumnya kayak di Indonesia gitu, gak ‘sesantai’ sekolah internasional di sana.

Kirana pasti sangat beruntung punya Ibu mantan guru TK. Beberapa pelajaran Lila di sekolah bahkan sudah dikenalkan ke Kirana sejak entah umur berapa.
Soal bekas luka Kirana atau takut Kirana garuk-garuk?? Tenang, ada Lila. Tahun depan (kalau satu sekolahan), mereka satu kelas di KG 1. Lila bajunya aja yang Hello Kitty, jiwanya arek suroboyo banget! Pernah suatu kali Lila kekeuh mau duduk dekat Kirana. Kata dia, “Aku mau deket Kinara (Lila manggilnya suka kebalik), aku mau jaga Kinara biar gak garuk-garuk!”
Wkwk Kirana ga sekali dua kali dimarahi Lila karena ketahuan garuk-garuk.

In the end, setelah semua sepi, setelah Kirana tidur, mbak Retno bilang “Aku yakinlah Dek, Kirana ni bisa. InsyaaAllah lah, tahun depan dia udah makin kuat. Udah gak terlalu gatal-gatal kayak sekarang. Kulitnya juga insyaaAllah makin baik. Aku yakin dek dia ni bisa. Biarlah apa kata orang, tapi aku yakin dek”

Oh…ternyata yang bikin khawatir itu “apa kata orang”. Karena biasanya orang yang nanya ke mbak Retno “Besok gimana kalo Kirana sekolah ya?” yang spontan dijawab “iyaya…gimana ya…”
Padahal di hatinya dia yakin anaknya bakal baik-baik aja.
Namanya juga manusia ya. Dari ratusan komen baik, tetap aja kebaca satu komen buruk. Itu pula yang mengganggu hati.

Aku pun yakin Mbak! Kau Ibuknya. Kau yang tahu anak kau gimana.
Jadi apa hubungannya tulisan panjang ini sama judulnya?
Kemana arah khawatir itu?
Apa ni?
Antiklimaks lagi?
Gapapa! I lyk myself!

1/3 + 1/3 = ?

Yaelah. Gitu aja. Berapa coba?
Bulan lalu kebelakang hitung-hitungan itu “gombalan” yang aku percaya jawabannya adalah 1.
Namaku di 1/3 malam terakhirmu
Namamu di 1/3 malam terakhirku.
Sampai suatu hari ada yang nanya,
“Gimana kalau namaku ada di 1/3 malam terakhirnya?”
Ah, ya pulak.
Kita lagi main hitung-hitungan sama Allah nih.
Jawabannya ya cuma Allah yang tahu.
Tapi kadang Allah itu lucu. Allah bikin “kebetulan-kebetulan” yang membuat kita berfikir “ah, jangan-jangan…” tapi ternyata “bukan”. Tapi siapa hidung? Who nose? Who knows? (Cih)
Dari beberapa teman dan kisah mbak Retno juga, kisah pertemuan dengan jodoh itu lucu. Tapi gimana pun kisahnya, prosesnya, semoga bertemu dengan jodoh dengan jalan yang paliiiiiiiiiing diridhoi-Nya.

Hana, S.Sh (Single Sampai Halal)

“Makanan di pesawat dak enak” kata mbak Retno.
Cih. INI SIH ENAK BANGET.
Ada yang lucu ketika berangkat ke Oman kemarin. Bagasi sudah masuk. Posisi sudah di ruang tunggu untuk naik ke pesawat. Tiket sudah di tangan. Nomor kursi sudah tertera. Kelas ekonomi. Baiklah. Punggung sudah siap.
Naik ke atas pesawat, sudah duduk, sudah pakai safety belt. Eh, disamperin petugas bandara. Kirain ada urusan apa, ternyata “Pindah ke depan ya Bu”.
Ke depan. Ke bagian business class. Aku sama Ibuk.
Bingung sih. Tapi ga nanya kenapa. Nurut aja. Dikasih enak ini wkwkwkw
Tapi setelah nguping, ada kata-kata “double seat” dari para pramugari. Entah kesalahan dari pihak mana.

Alhamdulillah. Beyond expectation.
8 jam perjalanan gak terasa sama sekali.
Ya Allah, rezeki berlimpah ruah. Bisa aja bikin kejutan-kejutan ditengah debar kekhawatiran karena pengalaman pertama menempuh perjalanan jauh. Masih segar diingatan bagaimana Ibuk tidur begitu nyenyak di pesawat kala itu. Oh Allah…baik banget sih! Gemes!

Harta orang beriman bukanlah banyak nya angka di dalam buku tabungan, akan tetapi sudah berapa lembar amalan tercatat oleh malaikat Roqib - Retno Dhewandari

Jakarta (3)

Sebenernya ga ada yang bisa diceritakan dari acara ISMA kemarin. Kami datang, duduk, lalu pulang.

Menjalankan amanah dari mbak No untuk hadir. Perlihatkan kalau sudah hadir. Tapi hindari kamera. Jangan cari kami kemarin, karena kemarin kami memang menghindari sorot kamera. “Mbak, gimana mbak? Aman?” “Aman. Paling kita kena dikit dari kamera ini. Eh tapi engga sih kayanya.”

Dan karena acara kemarin adalah acara live delay (ini bukan ya istilahnya), di studio udah mulai duluan dari jam 8. Jadi saat group WA keluarga heboh dan berdoa untuk kemenangan Kirana, aku dan mbak Chany udah bisa lihat Nagita Slavina dan Rafathar pegang piala.

Lagi, kedatangan kami kesana bukan tentang menang atau kalah. Buat menyampaikan rasa terimakasih mbak Retno dan buat foto sama LCB (tapi ga adaaaaa..edih nana 😢)

Agak bingung, kemarin itu antara acara award atau acara tanya jawab antara Hana dan mbak Chany.

Ohiya, Mbak Chany yang dulunya orang film dan beberapa tahun terakhir tinggal di luar Indonesia hampir ga ngerti siapa aja yang hadir malam itu.

“Han, Aliando siapa sih?”
“Itu mbak, yang main di GGS”
“GGS apa sih?”
“Ganteng Ganteng Serigala mbak”
“Prilly siapa Han?”
“Itu mbak, yg di GGS juga. Yang dulunya digosipin sama Aliando”

Dan ternyata Aliando Prilly bukan bagian dari GGS. Wkwkwk gapapalah ya. Mbak Chany gatau ini.

Karena kita meninggalkan Rayyan di rumah, aku agak ga enak juga sih jadi aja ngajak mbak Chany pulang sebelum acara selesai. Kata mbak Chany, “Ntar, nunggu Aliando. Mau denger suaranya sebagus apa” kemudian komentar mbak Chany gini, “Bagus nih mayan. Ini yang dia nyanyiin lagunya dia?”
“Mbaaaaak…plis lah…ini lagunya ed sheeran”

Setelah dipikir-pikir, Aliando nyanyi Uptown Funk nya Bruno Mars wkwkwk gapapalah ya, mbak Chany ga inget juga pasti.

jadilah kita tunggu sampai Aurel ngeDJ dan Fathin nyanyi, terus kita keluar. Ohiya, aku ajak temenku dari SMP juga, si Chintya, yang rela izin kantor jam 2 siang, pulang keujanan, mandi cuma tiga detik (katanya). Tapi dia sih seneng-seneng aja kayaknya. Wkwkw thanks Sin!

Anw, acara berlangsung meriah. Banyak anak muda kreatif yang datang. Ada devina aurel hihi she’s so byutiful. Dan banyak lagi youtuber lainnya yang ketje-ketje. Sambil mikir, “mereka kayaknya terlahir untuk ini.” Karena mereka tampaknya benar-benar mencintai apa yang mereka lakukan.

Setelah malam itu, teringat kembali quote Audrey yang katanya “I’m almost never sure about what i want but i am sure about i don’t want”.
Malam itu terang sekali dan “agak bising”. Beberapa orang mungkin menginginkan berdiri diatas panggung dengan heels yang tinggi dan make up yang sempurna. Tapi biar saja mereka. Kalau semua ingin begitu, siapa yang berperan jadi orang malas yang bahkan pakai bedak saja jarang sekali? Yang sepatu kesayangannya tidak lain tidak bukan hanyalah flat shoes warna hitam yang dipakai terus hingga hampir rusak?

Demi keseimbangan dunia ini. Aku saja.

Lewat Suara

2 November kemarin, aku sama mbak Chany udah siap-siap nunggu jam 21.00.
Nunggu pertama kali mbak No siaran.
Oke. Baik. Kita dengarkan pakai hape mbak Chany yang dimasukkan kedalam gelas kaca, biar suaranya lebih keras, kita rekam pembicaraan yang ada pakai hapeku, dan kita pakai ipadnya Rayyan untuk lihat wajahnya via youtube wkwkwk.

Selama acara berlangsung, aku sama Mbak Chany dengan seksama mendengarkan. Sambil beberapa kali mengangguk. Atau ikut nangis pas mbak No nangis. Atau saling liat-liatan sambil senyum penuh arti di beberapa bagian. Atau ketawa-ketawa ngomentarin apa aja yang ada. Entah itu suara Kirana, mukanya mbak No, atau apa aja.

“Kirana caper hahhaa”
“Ini Retno ga pake lipstik apa?”
“Han kayaknya habis ini kita ajak dia siaran lagi Han. Judulnya Retno No Secret. Hahaha”
Semua. Apa aja.

Mendengar suara mbak No dan Kirana selama dua jam malam itu, sebenernya kayak aku lagi telfonan sama dia. Kayak biasa aja. Tapi mendengar kembali curhatannya tentang Kirana yang eczema, selalu menimbulkan emosi yang sama. Untuk orang “luar” yang sempat ada di posisi mbak No, tetep gak akan bisa membayangkan gimana rasanya jadi mbak No melewati malam hari, berharap cepatnya malam berganti pagi.

Ketika rasa bangga yang menggebu, haru yang menderu dan bahagia yang membahana diungkapkan dengan kata ‘Bela’, maka riak rindu yang membuncah serta bangga yang terpendam karena tertahan ego ini untuk Mbak Retno.

Yaaaa…karena ga semua kakak bisa bilang sayang lewat lisan. Ga semua adik bisa bilang sayang secara gamblang.

Dimanapun, semoga selalu dalam lindungan Allah swt.

afikhaira  asked:

Halo mba, maaf mau tnya. Ini apakah saudaranya mba retnohening?

Hmm…Iyaya…belum kenalan ya…saya adeknya mbak Retno. Mbak Retno anak pertama, saya anak kedua, dan Bella (the busiest human being on earth) adalah anak ketiga.

3

Perjalanan pulang ke Indonesia dari Muscat gak kayak pas berangkat.
Tiket sudah di tangan. Nomor kursi sudah tertera. Panggilan untuk pindah “ke depan”? Gak ada. Ngarep? Dikit wkwk

Namanya juga manusia. Manusia itu suka yang namanya membanding-bandingkan. Membanding-bandingkan duduk “di depan” dan “di belakang”. Pelayanannya, kursinya, makanan minumannya, ACnya, semuanya.

1. Pelayanan
“Di depan”, kita dilayani kayak Maia Estianty. Baru duduk sudah disodorkan menu makanan selama perjalanan. Disuruh pilih 1 dari 4 pilihan makanan. Lengkap dari starter, appetizer sampai makanan penutup. Mbak pramugari menanyakan ini itu sambil duduk dibawah (berlutut gitu), duh, jiwa ke-jawa-an ini jadi pengen duduk di bawah juga. Berasa ga sopan karena mbaknya lebih tua wkwk handuk hangat ditawari entah berapa kali.
“Di belakang” pelayanan baik. Sesuai tugasnya. Gitu aja kali ya.

2. Kursi
“Di depan” kursi bisa diatur sedemikian rupa. Bisa selonjor, tidur, pijetan. Lengkap. Jarak antara kursi dan layar tv juga gak terlalu dekat. Nyaman. Nyaman sekali.
“Di belakang” susunan kursinya 3-3-3. Selonjor? Hm…kursiku aja kayaknya agak rusak. Jadi 8 jam perjalanan kursi tegap sekali. Skolioser kayak aku, harus strong 2 kali lipat di banding kalian yang normal. Hehe but, it’s okay. Kita sampai Indonesia aman sehat walafiat tanpa kurang satu apa pun.

3. Makanan dan minuman
“Di depan” makanannya seperti di hotel bintang lima (kayaknya sih. Belum pernah juga. InsyaaAllah segera lah wkwk). Piring, sendok, garpu, gelas, lengkap. Entah karena kami yang makannya lambat, atau karena emang waktu makannya cepat, mbak pramugari berkali-kali mondar-mandir mau angkat piring. Padahal mau di nikmati ya. Kapan lagi wkwk Gelas minuman juga gak dibiarkan kosong.
“Di belakang” makanan seperti yang di foto. Terngiang lagi kata mbak Retno kalau makanan di pesawat ga enak. Lah, ini enak. Alhamdulillah dikasih makan. Kalau kata Ibuk “Enak lagi disini ya dek, makannya ga kesusu (terburu-buru). Ha, potongan kuenya juga mak mblegunek (potongan besar)” wkwk
Tapi Ibuk kurang sreg sama minumannya. “Kopi kapal api ni. Tehnya sepet ya dek…” hahaha
Alhamdulillah, selama perjalanan gak kenal lapar.

4. AC
Bayangannya sih bakal kayak di kereta api malam gitu, yang dinginnya warbyazak. Dingin kayak “di depan” gitu lah (kibas kerudung). Karena bayangannya seperti itu, dipakailah pakaian 3 lapis. Selain untuk mengurangi berat bagasi juga sih. Tapi ternyata…panas. Sesampainya di Indo, aku ngadu ke Mbak No, kata dia “Emang panas. Kirana aja gatel-gatel. Hahaha”
Tapi alhamdulillah tidak lebih panas dari Muscat wkwk

Tapi ada yang bikin duduk “di belakang” jauh lebih mewah dibanding duduk “di depan”.
Bisa tidur di bahu Ibuk.
Ibuk yang selama perjalanan pulang dahinya berkerut.
Ibuk yang matanya agak sembab karena baru berpisah secara fisik sama anak-anaknya di Muscat.
Ibuk yang bisa aja nemu lelucon dari semua situasi.
Ibuk yang 8 jam kemarin bahunya aku pinjam.
Ibuk yang bikin perjalanan nyaman.

Buk, yok, sehat terus yok Buk. Sama-sama kita.