retnos

inmasandi  asked:

Bulek Hana, bulek tentunya punya kedekatan yang sangat erat dengan keponakannya. Pun jauh sebelum Kirana dilahirkan, bulek pastinya sudah puluhan tahun hidup bersama dengan Mbak Retno Hening. Teknik parenting mbak Retno sangat digemari dan banyak diadaptasi oleh mamak-mamak skrg. Apakah terbesit di pikiran bulek, sebatas keinginan atau ambisi untuk menjadikan anak bulek nantinya sehebat atau bahkan lebih hebat dari Kirana? Share dong bulek 😊

Halo Mbak Inmasandi! Hehe

Awhyha…kehamilan Mbak No sebelum Kirana juga kayaknya juga megang peranan penting. Setelah patah hati yang dahsyat, kemudian Allah ganti Kirana, rasa sayang dan rasa syukur terus mengalir.

Errr…intronya agak gak masuk ya? Gapapalah ya.

Nah, untuk anakku nanti (insyaAllah), aku PASTI “nyontek” teknik parentingnya Mbak No. Mbak No dak “terkenal” kayak sekarang pun, yang akan aku jadikan role model dalam mendidik anak juga pasti beliau, setelah orang tua sendiri dan orang tua (calon) suami, sebagai orang-orang terdekat dan yang bisa ditanyain langsung dan hasilnya keliatan gitu.

Hmm…aku agak gimana gitu baca “ambisi” yang ada di bagian pertanyaanmu, tapi semua orang tua, semua calon orang tua pasti menginginkan anaknya jadi anak yang shalih/shalihah, yang hebat.
Nah, ukuran “hebat” tiap orang tua kayaknya berbeda.
Dan yang paling harus disadari dari sekarang adalah…setiap manusia itu unik. Anak kembar aja gak ada yang sama. Anak Bapakku tiga, dibesarkan dan dididik orang yang sama, cara yang sama (tapi pendekatan yang berbeda, gitu kata Bapak), tapi hasilnya beda-beda.
Mbak No dan aku sebenarnya orang yang jauh berbeda. Badannya, hidungnya, wkwkwk
Sifat kami tidak sama, tingkat kesabaran kami tidak setara, cara kami memandang sesuatu kadang berbeda.
Kalau cara Mbak No mendidik anak dengan penuh kesabaran, aku akan mencontoh bagian “dengan sabar"nya.
Apa-apa yang baik yang beliau lakukan, atau siapapun lakukan untuk anaknya, juga pasti akan masuk pertimbangan. Tapi, prakteknya kita dak tahu, kan? Huehuehue.

Katanya, kalau udah punya anak, ntar keluar sendiri insting keibuannya. Dengan "contekan” yang baik, memohon kepada yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, insyaAllah, aku akan berusaha menjadi ibu yang baik, sehingga anak-anakku kelak menjadi anak yang hebat.

Sempet kebayang sih, “Ondemak, besok kalau aku punya anak, dibanding-bandingkanlah ya tu, sama Kirana. Nanti dikira orang anak aku pasti kek Kirana juga.”

Sempet. Tapi, YHA NGAPAIN YHA REPOT REPOT, CALON SUAMI JHA BELOM ADHAAAA…wkwk

Bikin kue, resepnya nyontek di youtube, semua dilakukan persis sama, hasilnya bisa jadi beda. Itu kue loh. Gimana dengan anak yang bisa ngerespon balik?

Mencoba membuat sesuatu menjadi sesuatu yang lain, ketika hasilnya tidak sesuai harapan akan menimbulkan rasa kecewa yang pastinya hanya melukai diri sendiri. Buat apa?
Eh, gimana sih ini kata-katanya. Hahaha.

Ya, intinya…
Kita semua pasti menginginkan anak yang hebat. Begitupun aku. Tapi bukan berarti menjadikannya Kirana. Toh, Kirana ya Kirana.

Kiranaku cuma satu. Satu-satunya. Mailof.

Kenapa ada yang mau membeli secangkir kopi? Padahal hitamnya kopi membuat dia tidak terlihat menarik. Mau tau kenapa? Karena tidak semua orang jatuh cinta pada bungkusnya tapi isinya. Rumah yang indah hanya bungkusnya, keluarga bahagia itu isinya. Pesta pernikahan hanya bungkusnya, sakinah,mawadah, warahmah itu isinya. Ranjang mewah hanya bungkusnya, tidur nyenyak itu isinya. Kekayaan itu hanya bungkusnya, hati yang bahagia itu isinya. Cantik atau tampan hanya bungkusnya, kepribadian dan hati itu isinya. Bicara itu hanya bungkusnya,  amal nyata itu isinya. Buku hanya bungkusnya,  pengetahuan itu isinya. Jabatan hanya bungkusnya, pengabdian dan pelayanan itu isinya. Kharisma hanya bungkusnya, ahlaqul karimah itu isinya. Hidup di dunia itu bungkusnya, hidup sesudah mati itu isinya.
—  Retno Dhewandari
Games. Gadget. Greget.

Kita gak bisa menghindari gadget kan ya? Bisa sih, tapi tidak mudah. Dan kebanyakan “masalah” yang dikeluhkan orangtua adalah anak mereka kebanyakan megang gadget, atau main games.

Hmm…entah ya, aku sendiri belum tahu rasanya jadi orangtua dan aku sendiri boleh dibilang kebanyakan megang gadget.

Dulu, dulu banget, Joni pernah bilang, kalau dia punya anak, dia gak bakal ngelarang anaknya main games. Tapi diarahkan dan diawasi.
“Kamu tahu gak, main games ini (aku lupa namanya apa, game cowok gitu, perang-perang. Eh atau apa ya…hahhaa), kita tuh dibikin mikir, mikir strategi, dan lain-lain. Jadi gapapa dia mainan games kayak gini. Asal sekolahnya gak keganggu. Kayak aku gini. Wkwk. Kalau bisa, besok aku yang jadi temen mainnya.”

Ditengah kesibukan belajarnya semasa kuliah, Joni emang suka main games di laptop ataupun dihandphonenya. Oh, ada dua games dihandphone yang aku download atas rekomendasi Joni: QuizUp dan Dumb Ways To Die.
Dia tahu aku anaknya ga begitu suka belajar, baca buku tebel gitu, jadi Joni nyaranin aku main QuizUp, disana ada quiz tentang banyak hal yang “nyenggol” pelajaran semasa kuliah.
Kalau Dumb Ways To Die buat lucu-lucuan aja sih. Terus kita suka nyanyiin lagunya gitu, “Dumb ways to diee…so many dumb ways to die…” wkwkwk.

Dah ah, Joni terus. Bosen.

Mbak Retno juga download games dihandphone buat Kirana. Dia punya games tentang dokter gigi, tentang tubuh manusia, dokter-dokteran gitu. Makanya, dia kayak paham betul soal gigi. Wkwk.
Biasanya, sebelum Mbak No ngasih permainan atau tontonan ke Kirana, diuji coba dulu. Ditonton dulu sama Mbak No, kalau sekiranya aman, baru dikasih ke Kirana.

Jadi gadget itu ada manfaatnya kok. Asal selalu dalam pengawasan dan tidak menjadikan gadget pilihan pertama untuk si anak. Segimanapun Kirana kalau lagi main handphone, ketika diajak baca buku, dia tetap mau, atau diajak main jual-jualan atau apalah yang kita berinteraksi langsung dengan dia, dia biasa aja, gak yang ngeyel mau main handphone terus. Ini berdasarkan pengamatan pribadi ya hehe.
Ada satu lagi yang menarik. Sebelum handphone diberikan ke Kirana, Mbak No ngasih perngetian, boleh main asal tetap mendengarkan Ibunya, jadi kalau disuruh selesai, ya selesai. Ketika Kirana agak ngeyel, Mbak No bilang, “Kalau gak dengerin Ibunya, berarti gamesnya sudah mulai mengganggu. Kalau sudah mulai mengganggu, besok-besok gak usah mainan lagi.” dan untungnya seusia Kirana sudah mulai bisa diajak kompromi. Dia langsung menyerahkan handphone ke Ibunya. Kecuali kalau lagi ngantuk ya, beda lagi. Eeeeerrrrgghhhh susyah dibilangin wkwk.

Kirana sekarang sudah paham kalau dihandphone itu bisa ada gamesnya, dia selalu tanya, “Di hape bulek, ada gamesnya dak?” terus dia buka sendiri. Berhubung dihandphoneku cuma ada dua games, QuizUp dan Dumb Ways To Die, dan belum memungkinkan untuk Kirana main QuizUp, jadilah kita main DWTD. Kan permainannya kartun gitu yak, dan yang mainin aku, Kirana cuma lihat aja. Bagi yang belum tahu, itu permainan gak berfaedah sih, dan emang isinya dumb ways to die wkwk.

Tibalah disuatu saat Kirana bilang ke Ibunya, “Kirana mau main games yang perutnya digigit snake. Yang dia tiptoe-ing di depan bear, terus dimakan kepalanya sama bear…”
“Dek, kau kasih Kirana mainan apa?!”

WKWKWKWKW WADU.

Ohiya, pelajaran lagi ya.
Segimanapun si Ibu menjaga anaknya di rumah, ngajarin anaknya, mencegah anaknya dari hal-hal dan pengaruh buruk, selain gadget adalagi yang susah dihindari: pengaruh lingkungan sekitar.
Kita gak mungkin ngunci anak di dalam rumah terus kan?
Sedangkan di rumah sendiri aja, masih bisa terpengaruh atau terpapar hal yang tidak diinginkan.
Seperti…pengaruh buleknya.

WKWKWKWK.

7 Januari 2017

Bapak ngirim ini ke grup keluarga tadi pagi. Sebenarnya ini cuma untuk kami-kami. Tapi gakpapalah. Biar kalian paham, kalau ini pasti juga ada di kepala Bapak kalian.

Untuk: Istriku, Retno/Tatang, Hana dan Bela.

Terima kasih tak terbilang untuk kalian semua!!!

Bapak merasa sangat bersyukur mempunyai kalian dalam hidup bapak. Kalian semua adalah Karunia dari Allah SWT.

Usia bapak sekarang 55 tahun.  Beberapa hari ini bapak banyak berfikir akan seperti apa perjalanan hidup bapak selanjutnya.

Beberapa pertanyaan belum terjawab dan hanya waktu yang akan menjawabnya.

1. Apakah bapak akan terus sehat seperti selama ini?
2. Apakah Istri dan anak anak akan ingat dan merawat bapak ketika bapak lemah?.
3. Apakah kalian akan tetap rukun dan bersatu?
4. Apakah kalian semua tetap berpegang pada nilai nilai Islam dan meningkatkan kwalitas ibadahnya?.
5. Apakah kalian masih akan memegang nilai nilai kepatuhan, kejujuran dan kepedulian?

Sukis Haryanto

Ex-admin (6)

Jaga anak orang di negara orang gampang-gampang-susah. Kalau bukan Kirana entah ya.
Kirana benar-benar pengertian. 2 minggu ditinggal, aku sama ibuk ga bisa kemana-mana. Kendaraan umum ga ada, nyetir mobil ga bisa. Karena ga bisa kemana-mana sebelum ditinggal mbak Retno nyetok semua bahan makanan dan keperluan. Mulai dari susu Kirana, bahan makan mentah, popok dan sebagainya. Kalau ada yang habis sebelum mbak Retno pulang biasanya aku ngikut Manda jemput Lila atau Sasa, terus minta dianter ke carrefour buat belanja.
Suatu hari, belum sempet belanja, persediaan susu Kirana hampir habis.
“Kirana, susu Kirana yang white tinggal 1 ini. Kalau yang ini di habis berarti udah dak ada.”
“Dakpapa. Kan masih ada yang coklat”

Atau saat persediaan keju dia yang hampir habis juga,
“Kirana, kejunya tinggal satu. Belinya nunggu Manda ya”
“Dak usah beli. Kalau habis dak usah beli. Dakpapa”

Kirana cuma bisa satu jenis cereal. Belinya di toko tertentu. Persediaan hampir habis juga. Karena aku belanjanya di carrefour, akhirnya aku beli cereal merk lain, “oh, gluten free. Bisa kali ya” ternyata ga bisa. Badannya merah-merah.
“Kirana, ternyata cereal yang ini bikin gatel-gatel ya…besok-besok dak usah ya.”
“Bikin gatel? Dak usah dimakan. Untuk bulek aja. Kalau Kirana yang makan nanti gatel-gatel” katanya.
Jadi walaupun cereal itu ada di atas meja makan, dia gabakal minta. Walaupun sebenarnya dia suka.

Atau
“Kirana, bulek capek gendong berdiri. Gendong duduk boleh?
”(Ngangguk). Sambil tiduran aja.“
Waktu itu aku terharu sampai nangis 😢

Kirana si anak baik. Terimakasih sudah jadi anak yang sabar dan pengertian. Maaf atas segala kecanggungan dan emosi yang terkadang masih kalah sabarnya sama anak yang bahkan belum tiga tahun ini.

Q kangend.

Tamu.

Anak perempuan itu bakal jadi tamu di rumahnya sendiri.


Pernah suatu hari setelah jadi istri dan ikut tinggal di rumah suaminya, mbak Retno bilang, “Tadi aku ke rumah. Ibuk bikinin aku teh, tehnya di cangkir yang biasanya untuk tamu. Dek, aku dibikinkan teh dek…sama ibuk…di rumah sendiri.”

Agak…sedih ya.

Tapi besok-besoknya engga sih, dia dateng ke rumah langsung masuk dapur nanya ibuk masak apa wkwkwk
Cuma mbak Retno pesan, entah berapa kali diulang, sebelum jadi istri orang, puas-puasin sama Bapak sama Ibuk.
Sebelum jadi tamu di rumah sendiri. Sebelum waktu kita di rumah hanya satu cangkir teh. Karena tamu biasanya pulang setelah teh dalam cangkir habis.

baiklah, besok berarti aku minta dibikinkan teh yang pyur, bukan teh celup. 1 gelas besar. Kalau habis airnya, minta air panas lagi buat nyeduh lagi. Sampai teh nya kalau diseduh air panas ga berubah warna.

Anak perempuannya Bapak

“Pak Sukis! Anaknya dinikahkan sama orang minang aja Pak. Biar dapat anak. Kalau sama orang Jawa, hilang anaknya nanti Pak”

Gitu kata Pak Datuk, lebaran beberapa tahun yang lalu.

Ini gak pernah aku hiraukan sampai tahun 2012, mbak No nikah. Setelah nikah dia ‘keluar rumah’, ngikut mas Tatang. Waktu itu sama-sama di Duri sih. Dan jaraknya ga terlalu jauh. Deket bahkan. Awal dia nikah sih aku masih biasa aja. Berusaha biasa aja. Toh, mbak No masih bisa dikunjungi. Toh, mbak No ga jauh-jauh. Masih satu daerah sama Bapak Ibuk. Jadi aku belum nangkep “hilang” yang dibilang Pak Datuk tadi. Lagian yang namanya istri memang harus ikut suami kan?

Tapi, ternyata beda yang mbak No rasakan. “Bertamu” kerumah yang 24 tahun dia bilang tempat pulang, tampaknya lebih mengiris hati ketimbang pergi merantau ke pulau seberang.

Mbak No cerita, dia nangis ke Bapak Ibuk. Bukan karena apa-apa, tapi karena belum terbiasa.

Mbak No sampaikan padaku jawaban Bapak untuk semua tangisnya. Kurang lebih seperti ini, “Mbak, sekarang Bapak ini nomor dua. Baktinya mbak pada suami insyaaAllah menjadi tiket surga buat Bapak dan Ibuk.”

Bapak menggeser posisinya.

Makanya, berkali-kali Mbak No sampaikan, sebelum jadi istri orang, puas-puasin waktu sama Bapak sama Ibuk.

Mbak No dulu menikah usia 24. Berarti aku juga harus siap-siap. Entah Allah datangkan kapan jodohku itu, yang penting aku siap-siap dulu. Mempersiapkan diri jadi tiket surga untuk Bapak Ibuk nanti.

Bapak, setelah tiga kali sebutan Ibu, biarlah urutan-urutan itu terucap oleh lisan. Tapi di hati kami, lelaki pertama yang membuat jatuh hati berkali-kali dan cintanya tak pernah mati adalah dirimu. Bagaimana bisa kami “hilang” darimu? Walaupun sekarang mbak Retno jauh disana, dan sebentar lagi aku ke Jogja, jangan khawatir.

Lagi, jarak itu bukan diukur, tapi dirasa.

Gimana ya rasanya punya suami penulis? Wkwk

Aku follow IG seorang penulis cuma karena si penulis ini pernah sebut-sebut Yogyakarta, “woh! Anak jogja? Follow ah!”
Bukunya, tulisannya, hasil karyanya? Belum tahu. Belum pernah baca. Wkwk
Kebetulan Agustus lalu aku ikutan acara Kelas Mendongeng, dan mas Kurniawan Gunadi (siapa namanya ya) ini datang, “Semacam pernah tahu mukanya” hehe
Tapi beliau pasti punya penggemar yang luar biasa banyaknya. Dilihat dari komen IGnya hehe. Mayaaan pernah ketemu, bisa jadi obrolan entah dengan siapa, “Weh! Aku pernah ketemu langsung lhooo!” Sip, disimpen dulu kata-kata itu entah buat kapan.
Baru-baru ini beliau menikah dengan penulis juga kayaknya (cmiiw). Fyi, kepo-kepo IG si istri, istrinya ngefollow mbak Retno wkwk wuiiii berarti tahu Kirana.

Kemana arah tulisan ini?
Ohiya. Apa rasanya punya suami penulis? Akankah hari-harinya diisi dengan kata-kata romantis? Seperti Salim A. Fillah menyebut senyum manis istrinya seperti sepotong surga tersiram madu? Mungkinkah sore hari menjadi waktu untuk baca buku. Kanan pegang buku, kiri pegang tangan pasangan. Di meja kecil bundar ada 2 cangkir teh yang masih panas. Saking heningnya suara desir angin terdengar lebih jelas.
Terbayang percakapan pagi hari
“Mas, kopi atau teh?”
“Tidak keduanya. Cukup kamu saja”

MBAHAHAHAK.

Btw, semoga mas Gun dan Istri menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Selamat menyelam di ladang pahala!

Ex-admin

Selama 2 minggu mbak Retno berangkat haji, akun ig nya aku yang pegang.
IG yang followernya entah berapa banyak itu.

Kata mbak Retno, “Nanti kau videokan Kirana ya. Tanya-tanya dia gimana pas aku tinggal besok”. Pesannya cuma sampai situ. Gak sampai nyuruh ngepost video ke IG wkwk
Kemudian ada 1 postingan yang captionnya berisi kata pamit dari mbak Retno. Diluar dugaan, banyak banget yang ngomen mbak No mau kemana, berapa lama, endesbre endesbra. Jadilah mbak No bilang “Nantik kau post aja sembarang.” Walaupun udah pamit di IG waktu itu mbak No belum berangkat. Jadi 1 atau 2 postingan video setelah itu masih ada mbak No. Awal mula masih malu-malu “Mbak, post yang ini mbak? Lucu ni mbak? Dakpapa?” Lama-lama setelah mbak No haji dan ga bisa dihubungi, adminnya mulai liar. Posting sesuka hati. Wkwk

Banyak follower lucu. Banyak komen yang lucu. Lucu-lucu gemes. Lucu-lucu geram.
Geram ketika beberapa mulai ngeluh dan mengungkapkan kerinduannya pada Mbak No. Pengennya mbak No aja yang posting. Membanding-bandingkan. Weips, tapi bukannya ‘membanding-bandingkan’ itu memang hobinya kita semua ya? Hehe
Geram lagi ketika ada yang komen jelek tentang Kirana. Bukannya kami-kami ini pengen Kirana dipuji terus. Tapi bagaimanalah remuk redamnya hati ini ketika ada yang salah fokus ke jeleknya kulit Kirana atau tidak bagusnya potongan rambut Kirana yang tidak seperti anak perempuan itu? Hei, plz. Fokes.
Ada yang bilang Kirana ga lucu. Ini nih yang lucu. Banyak yang salah fokes. Dikira video Kirana itu adalah video lawakan atau lelucuan. Guys, akun itu ada untuk memperlihatkan dan menginfokan perkembangan Kirana kepada keluarga di Indonesia.
Lagi, plz, fokes (focus)

Kalau dipikir-pikir. Kenapa ya orang bisa segitunya sama Kirana. Padahal dia kalau eek baunya luar biasa.
Antiklimaks? Its okaaaay…i like myself!

Jarak.

Ini ketiga kalinya aku bilang “jarak antara Indonesia dan Oman itu hanya sebatas jempol dan tanda call”
Ini antara aku yang ga paham konsep jarak atau emang mau lari dari realita wkwk
Tapi jarak itu benar-benar “dirasa”, diukurnya pakai perasaan.
Mbak Retno ga pernah terasa jauh. Padahal untuk ke Muscat sana, butuh perjalanan kurang lebih 8 jam naik pesawat dari Jakarta. Belum lagi perjalanan ke Jakartanya dari Pekanbaru, dan perjalanan darat dari Duri ke Pekanbaru. Entah berapa kilometer yang ditempuh. Tapi Mbak Retno ga pernah terasa jauh.
Karena kita masih bisa saling tanya hal yang paling sepele saat itu juga, kayak “mbak, Jco apa Dunkin ya?” Dan dijawab cepat “Jco”. Kayak…kayak…apa ya…kayak dia masih ada di kamar sebelah.
Mbak Retno memang jauh, tapi dia ga pernah terasa jauh.

1/3 + 1/3 = ?

Yaelah. Gitu aja. Berapa coba?
Bulan lalu kebelakang hitung-hitungan itu “gombalan” yang aku percaya jawabannya adalah 1.
Namaku di 1/3 malam terakhirmu
Namamu di 1/3 malam terakhirku.
Sampai suatu hari ada yang nanya,
“Gimana kalau namaku ada di 1/3 malam terakhirnya?”
Ah, ya pulak.
Kita lagi main hitung-hitungan sama Allah nih.
Jawabannya ya cuma Allah yang tahu.
Tapi kadang Allah itu lucu. Allah bikin “kebetulan-kebetulan” yang membuat kita berfikir “ah, jangan-jangan…” tapi ternyata “bukan”. Tapi siapa hidung? Who nose? Who knows? (Cih)
Dari beberapa teman dan kisah mbak Retno juga, kisah pertemuan dengan jodoh itu lucu. Tapi gimana pun kisahnya, prosesnya, semoga bertemu dengan jodoh dengan jalan yang paliiiiiiiiiing diridhoi-Nya.

Hana, S.Sh (Single Sampai Halal)

Reading Mean Comments

“Dek, lagi ribut dikomen foto Kirana yang ini…”
“Dek, ada yang ngomen gini…”
“Dek…”

Sebagai remaja tingkat akhir yang labil, jempolku bergemetar langsung menuju foto yang dimaksud. Prosesnya gini:

1. Informasi “mean comment” masuk
2. Ada rasa marah yang membuncah
3. Meluncur ke lokasi
4. Manjat komen
5. Baca komen
6. Kepala panas
7. Sesak napas
8. Dahi berkerut
9. Mata melotot
10. Ketik another mean comment as a reply.
11. Hapus komen
12. Ketik komen yang bahkan lebih kasar
13. Keinget nasihat Bapak Ibuk, hapus lagi.
14. Buka profile yang ngomen
15. Send message
16. Luapkan amarah
17. Hapus lagi.
18. WA Mbak No, “Iya aku udah baca. Lawak ya. Biarajalah. Hahaha”

Itu dulu. Sekarang gini:
1. Informasi masuk
2. Meluncur ke lokasi
3. Baca komen, “Ooh…ini”
4. Buka profile. Kenali yang ngomen.
5. Baca komen balasan teman yang lain, mbathin, “Ya. Bagus mbak. Kamu sampaikan maksudku. Oke. Bagus mbak, bener juga komenmu. Iya mbak, bijak banget kamu.”

Mbak Retno dan Mas Tatang itu keluarga biasa. Di Oman mana terasa kalau banyak orang yang kenal Kirana. Mbak Retno juga Ibu Muda biasa yang kalau masak pakai daster dan diganggu anaknya.

Lagian, Ibu mana yang tidak sedih mendengar atau membaca komen yang kurang baik untuk anaknya. Sekali lagi, bukan berarti kami-kami ini ingin Kirana selalu dipuji. Mbak Retno sadar betul, tidak semua suka Kirana. Penyampaian orang pun pasti beda-beda. Tapi perasaan sedih, pasti ada.

Kalau komen seperti itu pasti terbaca sama mbak No. Lalu, apa yang dilakukan mbak No? “Biar aku DM aja dek.”

Isi DM nya? Minta maaf. Isinya mbak No minta maaf kalau anaknya mengganggu. Kalau tidak suka Kirana bisa block saja.

“Biarlah orang tu komen jelek atau ngejek aku dek. Asal jangan anak aku.”
“Sebenarnya yang bikin sedih lagi, komen yang seharusnya dak ada jadi ada. Gara-gara Kirana jadi ada yang ngomen jelek. Coba kalau dak ada yang kenal Kirana, pasti dak ada komen kayak gitu kan dek?”

Kalau kata Bapak, ini sebagai pelajaran kita juga. Bahwa orang itu beda-beda. Kita jangan terpancing. Kalau ada yang komen bagus, ingat bahwa ada yang Maha Bagus, yang bikin Kirana bagus itu siapa kalau bukan Maha Pencipta. Kalau ada yang kome n kurang bagus, gapapa, pandangan orang kan beda-beda. Kalau kata Ibuk, biar aja. Kita cuma harus meluruskan kembali niat kita. Pahami maksud mbak Retno bukan untuk itu. Jadi kita gak gampang terpengaruh dengan komen yang ada.

Untuk orang yang meluncurkan komen kurang baik, juga harus paham, bahwa ada orang kayak Mbak No yang sabar, tapi ada juga orang kayak aku yang kadang ga bisa menahan emosi yang siap membalas dengan komen penuh emosi pula.

Tapi, aku juga jadi mikir, sebaiknya jangan sampai membalas komentar yang membuat mbak No berfikir, “komen yang seharusnya ga ada jadi ada gara-gara Kirana.”

Mbathin dalam hati aja. Habis itu istighfar.

Maafkan saran yang tidak baik. Maafkan.
Arah khawatir.

Mbak Retno khawatir akhir-akhir ini.
Karena tahun depan Kirana, insyaaAllah, mulai masuk sekolah.
Karena usia Kirana yang ‘nanggung’, dia langsung masuk kelas KG (TK). Sedangkan Lila, yang biasanya main sama Kirana sudah masuk Nursery Class tahun ini.
Terus apa yang dikhawatirkan?
Khawatir Kirana gak bisa mengikuti kelas karena gak ikut Nursery.
Khawatir Kirana terhalang komunikasi karena di kelas pakai bahasa Inggris.
Khawatir Kirana garuk-garuk selama di kelas.
Khawatir teman-temannya gak ada yang mau main sama Kirana karena beberapa bagian kulit Kirana luka.

Sering kali mbak No nanya ke mbak Nadya (Mamanya Lila, lebih sering dipanggil Manda) Lila belajar apa saja di sekolah.
Beberapa waktu lalu mbak Retno mengunggah video Kirana belajar “same and different”. Pelajaran yang dipelajari Lila di sekolah hari itu. Sambil bercanda mbak Retno bilang ke Kirana “Kirana! Belajar Kirana! Biar bisa masuk Philipine School luuuu…”
Philipine school itu sekolah yang kurikulumnya kayak di Indonesia gitu, gak ‘sesantai’ sekolah internasional di sana.

Kirana pasti sangat beruntung punya Ibu mantan guru TK. Beberapa pelajaran Lila di sekolah bahkan sudah dikenalkan ke Kirana sejak entah umur berapa.
Soal bekas luka Kirana atau takut Kirana garuk-garuk?? Tenang, ada Lila. Tahun depan (kalau satu sekolahan), mereka satu kelas di KG 1. Lila bajunya aja yang Hello Kitty, jiwanya arek suroboyo banget! Pernah suatu kali Lila kekeuh mau duduk dekat Kirana. Kata dia, “Aku mau deket Kinara (Lila manggilnya suka kebalik), aku mau jaga Kinara biar gak garuk-garuk!”
Wkwk Kirana ga sekali dua kali dimarahi Lila karena ketahuan garuk-garuk.

In the end, setelah semua sepi, setelah Kirana tidur, mbak Retno bilang “Aku yakinlah Dek, Kirana ni bisa. InsyaaAllah lah, tahun depan dia udah makin kuat. Udah gak terlalu gatal-gatal kayak sekarang. Kulitnya juga insyaaAllah makin baik. Aku yakin dek dia ni bisa. Biarlah apa kata orang, tapi aku yakin dek”

Oh…ternyata yang bikin khawatir itu “apa kata orang”. Karena biasanya orang yang nanya ke mbak Retno “Besok gimana kalo Kirana sekolah ya?” yang spontan dijawab “iyaya…gimana ya…”
Padahal di hatinya dia yakin anaknya bakal baik-baik aja.
Namanya juga manusia ya. Dari ratusan komen baik, tetap aja kebaca satu komen buruk. Itu pula yang mengganggu hati.

Aku pun yakin Mbak! Kau Ibuknya. Kau yang tahu anak kau gimana.
Jadi apa hubungannya tulisan panjang ini sama judulnya?
Kemana arah khawatir itu?
Apa ni?
Antiklimaks lagi?
Gapapa! I lyk myself!

“Makanan di pesawat dak enak” kata mbak Retno.
Cih. INI SIH ENAK BANGET.
Ada yang lucu ketika berangkat ke Oman kemarin. Bagasi sudah masuk. Posisi sudah di ruang tunggu untuk naik ke pesawat. Tiket sudah di tangan. Nomor kursi sudah tertera. Kelas ekonomi. Baiklah. Punggung sudah siap.
Naik ke atas pesawat, sudah duduk, sudah pakai safety belt. Eh, disamperin petugas bandara. Kirain ada urusan apa, ternyata “Pindah ke depan ya Bu”.
Ke depan. Ke bagian business class. Aku sama Ibuk.
Bingung sih. Tapi ga nanya kenapa. Nurut aja. Dikasih enak ini wkwkwkw
Tapi setelah nguping, ada kata-kata “double seat” dari para pramugari. Entah kesalahan dari pihak mana.

Alhamdulillah. Beyond expectation.
8 jam perjalanan gak terasa sama sekali.
Ya Allah, rezeki berlimpah ruah. Bisa aja bikin kejutan-kejutan ditengah debar kekhawatiran karena pengalaman pertama menempuh perjalanan jauh. Masih segar diingatan bagaimana Ibuk tidur begitu nyenyak di pesawat kala itu. Oh Allah…baik banget sih! Gemes!

3

Perjalanan pulang ke Indonesia dari Muscat gak kayak pas berangkat.
Tiket sudah di tangan. Nomor kursi sudah tertera. Panggilan untuk pindah “ke depan”? Gak ada. Ngarep? Dikit wkwk

Namanya juga manusia. Manusia itu suka yang namanya membanding-bandingkan. Membanding-bandingkan duduk “di depan” dan “di belakang”. Pelayanannya, kursinya, makanan minumannya, ACnya, semuanya.

1. Pelayanan
“Di depan”, kita dilayani kayak Maia Estianty. Baru duduk sudah disodorkan menu makanan selama perjalanan. Disuruh pilih 1 dari 4 pilihan makanan. Lengkap dari starter, appetizer sampai makanan penutup. Mbak pramugari menanyakan ini itu sambil duduk dibawah (berlutut gitu), duh, jiwa ke-jawa-an ini jadi pengen duduk di bawah juga. Berasa ga sopan karena mbaknya lebih tua wkwk handuk hangat ditawari entah berapa kali.
“Di belakang” pelayanan baik. Sesuai tugasnya. Gitu aja kali ya.

2. Kursi
“Di depan” kursi bisa diatur sedemikian rupa. Bisa selonjor, tidur, pijetan. Lengkap. Jarak antara kursi dan layar tv juga gak terlalu dekat. Nyaman. Nyaman sekali.
“Di belakang” susunan kursinya 3-3-3. Selonjor? Hm…kursiku aja kayaknya agak rusak. Jadi 8 jam perjalanan kursi tegap sekali. Skolioser kayak aku, harus strong 2 kali lipat di banding kalian yang normal. Hehe but, it’s okay. Kita sampai Indonesia aman sehat walafiat tanpa kurang satu apa pun.

3. Makanan dan minuman
“Di depan” makanannya seperti di hotel bintang lima (kayaknya sih. Belum pernah juga. InsyaaAllah segera lah wkwk). Piring, sendok, garpu, gelas, lengkap. Entah karena kami yang makannya lambat, atau karena emang waktu makannya cepat, mbak pramugari berkali-kali mondar-mandir mau angkat piring. Padahal mau di nikmati ya. Kapan lagi wkwk Gelas minuman juga gak dibiarkan kosong.
“Di belakang” makanan seperti yang di foto. Terngiang lagi kata mbak Retno kalau makanan di pesawat ga enak. Lah, ini enak. Alhamdulillah dikasih makan. Kalau kata Ibuk “Enak lagi disini ya dek, makannya ga kesusu (terburu-buru). Ha, potongan kuenya juga mak mblegunek (potongan besar)” wkwk
Tapi Ibuk kurang sreg sama minumannya. “Kopi kapal api ni. Tehnya sepet ya dek…” hahaha
Alhamdulillah, selama perjalanan gak kenal lapar.

4. AC
Bayangannya sih bakal kayak di kereta api malam gitu, yang dinginnya warbyazak. Dingin kayak “di depan” gitu lah (kibas kerudung). Karena bayangannya seperti itu, dipakailah pakaian 3 lapis. Selain untuk mengurangi berat bagasi juga sih. Tapi ternyata…panas. Sesampainya di Indo, aku ngadu ke Mbak No, kata dia “Emang panas. Kirana aja gatel-gatel. Hahaha”
Tapi alhamdulillah tidak lebih panas dari Muscat wkwk

Tapi ada yang bikin duduk “di belakang” jauh lebih mewah dibanding duduk “di depan”.
Bisa tidur di bahu Ibuk.
Ibuk yang selama perjalanan pulang dahinya berkerut.
Ibuk yang matanya agak sembab karena baru berpisah secara fisik sama anak-anaknya di Muscat.
Ibuk yang bisa aja nemu lelucon dari semua situasi.
Ibuk yang 8 jam kemarin bahunya aku pinjam.
Ibuk yang bikin perjalanan nyaman.

Buk, yok, sehat terus yok Buk. Sama-sama kita.

Jakarta (3)

Sebenernya ga ada yang bisa diceritakan dari acara ISMA kemarin. Kami datang, duduk, lalu pulang.

Menjalankan amanah dari mbak No untuk hadir. Perlihatkan kalau sudah hadir. Tapi hindari kamera. Jangan cari kami kemarin, karena kemarin kami memang menghindari sorot kamera. “Mbak, gimana mbak? Aman?” “Aman. Paling kita kena dikit dari kamera ini. Eh tapi engga sih kayanya.”

Dan karena acara kemarin adalah acara live delay (ini bukan ya istilahnya), di studio udah mulai duluan dari jam 8. Jadi saat group WA keluarga heboh dan berdoa untuk kemenangan Kirana, aku dan mbak Chany udah bisa lihat Nagita Slavina dan Rafathar pegang piala.

Lagi, kedatangan kami kesana bukan tentang menang atau kalah. Buat menyampaikan rasa terimakasih mbak Retno dan buat foto sama LCB (tapi ga adaaaaa..edih nana 😢)

Agak bingung, kemarin itu antara acara award atau acara tanya jawab antara Hana dan mbak Chany.

Ohiya, Mbak Chany yang dulunya orang film dan beberapa tahun terakhir tinggal di luar Indonesia hampir ga ngerti siapa aja yang hadir malam itu.

“Han, Aliando siapa sih?”
“Itu mbak, yang main di GGS”
“GGS apa sih?”
“Ganteng Ganteng Serigala mbak”
“Prilly siapa Han?”
“Itu mbak, yg di GGS juga. Yang dulunya digosipin sama Aliando”

Dan ternyata Aliando Prilly bukan bagian dari GGS. Wkwkwk gapapalah ya. Mbak Chany gatau ini.

Karena kita meninggalkan Rayyan di rumah, aku agak ga enak juga sih jadi aja ngajak mbak Chany pulang sebelum acara selesai. Kata mbak Chany, “Ntar, nunggu Aliando. Mau denger suaranya sebagus apa” kemudian komentar mbak Chany gini, “Bagus nih mayan. Ini yang dia nyanyiin lagunya dia?”
“Mbaaaaak…plis lah…ini lagunya ed sheeran”

Setelah dipikir-pikir, Aliando nyanyi Uptown Funk nya Bruno Mars wkwkwk gapapalah ya, mbak Chany ga inget juga pasti.

jadilah kita tunggu sampai Aurel ngeDJ dan Fathin nyanyi, terus kita keluar. Ohiya, aku ajak temenku dari SMP juga, si Chintya, yang rela izin kantor jam 2 siang, pulang keujanan, mandi cuma tiga detik (katanya). Tapi dia sih seneng-seneng aja kayaknya. Wkwkw thanks Sin!

Anw, acara berlangsung meriah. Banyak anak muda kreatif yang datang. Ada devina aurel hihi she’s so byutiful. Dan banyak lagi youtuber lainnya yang ketje-ketje. Sambil mikir, “mereka kayaknya terlahir untuk ini.” Karena mereka tampaknya benar-benar mencintai apa yang mereka lakukan.

Setelah malam itu, teringat kembali quote Audrey yang katanya “I’m almost never sure about what i want but i am sure about i don’t want”.
Malam itu terang sekali dan “agak bising”. Beberapa orang mungkin menginginkan berdiri diatas panggung dengan heels yang tinggi dan make up yang sempurna. Tapi biar saja mereka. Kalau semua ingin begitu, siapa yang berperan jadi orang malas yang bahkan pakai bedak saja jarang sekali? Yang sepatu kesayangannya tidak lain tidak bukan hanyalah flat shoes warna hitam yang dipakai terus hingga hampir rusak?

Demi keseimbangan dunia ini. Aku saja.

Lewat Suara

2 November kemarin, aku sama mbak Chany udah siap-siap nunggu jam 21.00.
Nunggu pertama kali mbak No siaran.
Oke. Baik. Kita dengarkan pakai hape mbak Chany yang dimasukkan kedalam gelas kaca, biar suaranya lebih keras, kita rekam pembicaraan yang ada pakai hapeku, dan kita pakai ipadnya Rayyan untuk lihat wajahnya via youtube wkwkwk.

Selama acara berlangsung, aku sama Mbak Chany dengan seksama mendengarkan. Sambil beberapa kali mengangguk. Atau ikut nangis pas mbak No nangis. Atau saling liat-liatan sambil senyum penuh arti di beberapa bagian. Atau ketawa-ketawa ngomentarin apa aja yang ada. Entah itu suara Kirana, mukanya mbak No, atau apa aja.

“Kirana caper hahhaa”
“Ini Retno ga pake lipstik apa?”
“Han kayaknya habis ini kita ajak dia siaran lagi Han. Judulnya Retno No Secret. Hahaha”
Semua. Apa aja.

Mendengar suara mbak No dan Kirana selama dua jam malam itu, sebenernya kayak aku lagi telfonan sama dia. Kayak biasa aja. Tapi mendengar kembali curhatannya tentang Kirana yang eczema, selalu menimbulkan emosi yang sama. Untuk orang “luar” yang sempat ada di posisi mbak No, tetep gak akan bisa membayangkan gimana rasanya jadi mbak No melewati malam hari, berharap cepatnya malam berganti pagi.

Ketika rasa bangga yang menggebu, haru yang menderu dan bahagia yang membahana diungkapkan dengan kata ‘Bela’, maka riak rindu yang membuncah serta bangga yang terpendam karena tertahan ego ini untuk Mbak Retno.

Yaaaa…karena ga semua kakak bisa bilang sayang lewat lisan. Ga semua adik bisa bilang sayang secara gamblang.

Dimanapun, semoga selalu dalam lindungan Allah swt.

Aku milikmu dan kamu milik ibumu. Cintaku kepadamu tidaklah sebesar cinta ibumu. Aku hanya wanita lancang yang ingin belajar dari wanita itu, bagaimana cara mencintaimu, bagaimana cara merawatmu dengan kasih sayang. Bukan aku ingin merebut tahtanya di hatimu. Aku tidak pantas untuk mendapatkan itu. Ketahuilah ibumu akan selalu menjadi Ratu di dalam hatimu. Selamanya.
—  Retno Dhewandari

Harta orang beriman bukanlah banyak nya angka di dalam buku tabungan, akan tetapi sudah berapa lembar amalan tercatat oleh malaikat Roqib - Retno Dhewandari

afikhaira  asked:

Halo mba, maaf mau tnya. Ini apakah saudaranya mba retnohening?

Hmm…Iyaya…belum kenalan ya…saya adeknya mbak Retno. Mbak Retno anak pertama, saya anak kedua, dan Bella (the busiest human being on earth) adalah anak ketiga.