restoranes

sederhana

boleh dibilang, angkatan-angkatan pertama smk wikrama yang didirikan ayah dan ibu terdiri dari siswa-siswa yang dhuafa. kebanyakan dari mereka adalah anak-anak pedagang asongan atau penjaga villa, supir angkot paling keren. saking dhuafanya, mereka pergi ke sekolah tanpa sarapan. bukan pemandangan yang aneh jika saat upacara satu per satu siswa pingsan. inilah yang kemudian mendorong lahirnya program makan roti, telur, dan minum susu gratis di sekolah.

boleh dibilang, berkecimpung dalam dunia pendidikan yang memang benar-benar bercita-cita untuk mengentaskan bangsa dari kemiskinan dan kebodohan membuat ayah dan ibu sangat dekat dengan mereka yang hidupnya serba kurang. alhasil, ayah dan ibu selalu mendidik kami anak-anaknya tentang kesederhanaan. pernah kami mendapati ibu menekuk wajah saat kami makan di restoran all you can eat. kata ibu, ibu teringat dengan siswa-siswanya yang tidak bisa makan karena tidak ada uang. makanan yang melimpah ruah itu tak terasa nikmatnya.

pernah suatu hari ayah dan ibu membeli sedan yang lumayan bagus. maksudnya sih, supaya lebih nyaman setiap harus melakukan perjalanan–berhubung keduanya sering berkeliling ke sana sini. tidak bertahan lama, akhirnya mobil tersebut dijual lagi, diganti dengan city car yang jauh lebih sederhana. kata ibu, apa enaknya naik mobil keren lalu saat masuk gang sekolah yang lebarnya hanya sebadan mobil dilihat oleh warga? tidak enak menunjukkan kita punya, yaitu saat banyak yang tidak, saat banyak yang masih kekurangan.

setiap mengingat ayah dan ibu, saya seringkali merasa malu. betapa diri saya sangat jauh dari sifat hemat, betapa kesederhanaan saya selama ini hanyalah karena keadaan. ketika sudah punya sedikit lebih, keinginan saya pun terus bertambah, bahkan berkali-kali lipat. apalagi sejak punya mbak yuna, rasanya saya selalu ingin memberikan yang terbaik–termasuk dalam materi.

padahal, dulu semasa saya kecil, ayah dan ibu sangat menahan nafsu untuk memenuhi keinginan diri dan keluarga sendiri. apa yang lebih diperuntukkan bagi sekolah, bagi orang banyak. kami saja baru menempati rumah sendiri pada tahun 2008, 22 tahun sejak ayah dan ibu menikah.

mungkin, jawabannya adalah karena saya jauh dari mereka yang serba kurang, karena yang saya lihat setiap hari (di media sosial) adalah teman-teman kelas menengah yang hobi jalan-jalan, makan-makan, punya penghasilan besar, punya ini dan itu. saya pun ikut-ikut ingin menjadi wah. padahal, di sekitar kita, dekat dengan kita, banyak yang memerlukan bantuan.

tulisan ini adalah renungan bagi diri sendiri agar saya senantiasa memilih yang baik, membelanjakan uang pada yang baik. apakah baju anak seharga 250 ribu itu perlu ataukah saya hanya menginginkannya? uang yang sama, kalau dibelikan susu formula untuk anak susuan saya, bisa dipakai sampai sebulan. apakah ikut mas yunus konferensi sekalian jalan-jalan itu perlu atau saya hanya menginginkannya? tiket plus akomodasi, kalau dibayarkan untuk kursus yang saya ambil, bisa membeasiswai satu orang.

selalu ada manfaat yang hilang setiap kita membuat sebuah keputusan. tugas kita adalah memastikan bahwa manfaat yang hilang tersebut bukanlah yang lebih perlu, yang lebih penting, atau yang lebih genting.

tulisan ini sekaligus renungan dan ajakan untuk mengganti wajah media sosial kita, karena tanpa sadar, yang kita tampilkan adalah berita dan ajakan untuk menjadi seperti diri kita.

don’t merely show what you eat, where you go, things you own. show your kindness, spread it. show your work, be proud of them. show your ideas, share them. show humanity. show flaws. show modesty.

kesederhanaan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memiliki yang kita inginkan, namun memilih hanya yang kita perlukan. kesederhanaan yang sesungguhnya adalah kesadaran bahwa yang berlebihan itu tidak perlu sama sekali–sebab sejatinya kita tidak memiliki apa-apa sama sekali. bukankah semuanya hanyalah titipan yang harus dikembalikan kapan saja diminta?

Tako to ide. Prvo si klinka koju ne primećuju. Imaš simpatije, pišeš dnevnik, uzdišeš za nekim dok ga gledaš na fizičkom. Onda polako postaješ žensko. Počinju neki i da te gledaju. Ako imaš sreće, nećeš naleteti baš na nekog velikog kretena. Ali ti fini momci koji vide nešto više u tebi, nisu ti zanimljivi. Ideš dalje i čekaš svog ‘princa’. Tinejdžerska ljubav se desi, kad-tad. Kažeš sama sebi - napokon, i srećna si do neba. Prva velika ljubav, ništa drugo ne postoji, ostaćete zauvek zajedno. Sve je sjajno, jednorozi lete po nebu, a vi se volite. Trpiš sranja i jedeš govna, ali misliš da tako treba i da je sve to vredno vaše ljubavi i tvoje borbe. Nije. Bajka je završila, misliš da će zauvek boleti, ti si ranjiva kao ostavljeno kuče, ali istovremeno, to je i kuče pušteno s lanca. 

Sledi period kretena, period žaba koje ljubiš. Za neke se nadaš da će biti prinčevi, za neke već znaš da neće biti i ti su uvek i oni koje ljubiš jače. Sledi period zabranjenih, zauzetih, neprikladnih, prelepih, preružnih, nezrelih, zanimljivih, nedoraslih. Sledi: “Ti zaslužuješ bolje”. Sledi: “E ne mogu večeras”… puta sto. Sledi: “Pusti samo da ide spontano”. Sledi: “Hoćemo u stan ili u moja kola?”. Sledi: “Izvini što se nisam javio juče”… takođe puta sto. Sledi: “Predobra si” u seksualnom smislu. Sledi: “Predobra si” u onom drugom smislu. Sledi: “Treba da nađeš nekog boljeg”. Sledi: “Nikada nećeš naći nekog boljeg”. Sledi: “Ja te gledam samo kao drugaricu”. Sledi: “Ne mogu dugo, čeka me devojka”. 

Kuda ova priča vodi? Šta mene pitate… Ne znam. I dalje čekam. Da nema izgovora, da nema ispala, da nema ničeg previše, da nema ničeg premalo. Da nije teško. Da nije komplikovano. Da se gledamo preko stola i znamo šta ono drugo misli. To da bude nešto kao: “jebaću te posle”. Ili može i: “voolim te”. Da pijemo zajedno, da ljubimo jedno drugom ožiljke, da častimo jedno drugo za naše uspehe i prejedamo se slatkišima. Da svrati na pet minuta. Da ostane celu noć. Da zajedno slavimo i zajedno tugujemo. Da odgledamo zajedno sve mafijaške filmove. Da idemo u restoran sređeni i najlepši. Da mi kuva čaj i trpi moje psovke kad sam bolesna. Da ispuni obećanje koje su mi dali svi momci pre: da me nauči da vozim. Mogla bih ovako do sutra, jer znam ja šta želim. 

Nemam neki spektakularan, optimističan kraj. Prinčevi ne postoje. Šta će mu kruna ionako? Neka je stavi meni. Neka mi da razlog da verujem ponovo. I da kažem za sve što je bilo pre… “Neka je i bilo. Vredelo je.”

Samo se nadam da je vredelo. Da će vredeti. 

Tentang Tujuan Hidup

Ada teman yang setiap kali saya posting sesuatu di facebook, dia akan menyangkutpautkan dengan pernikahan. Entah bagaimana caranya dia akan selalu melakukan itu. Sampai suatu waktu kawan-kawan saya yang lain bertanya apakah ia tidak bosan dengan pertanyaan begitu terus di tiap postingan saya? Terbayangkan sampai kawan saya jenuh? Saya sendiri sudah imun dengan dia, jadi ya, memaklumi. Mungkin itu life goal dia. Sehingga ketika sekarang dia sudah menikah dan punya anak dua, dia mungkin tidak punya goal lagi. Fyi, saya masih single dan tidak ada masalah dengan itu semenjak saya tidak menjadikannya sebagai life goal. Menikah urusan mudah buat saya. Kalau saya mau, sudah dari bertahun-tahun lalu. Tapi, kalau bukan life goal, buat apa saya memusingkannya?

Meski memang terkadang ketika mengevaluasi diri sendiri saya nampaknya jauh tertinggal dibandingkan dengan teman-teman lain yang saat ini tiap hari posting foto anak-anak mereka, sudah punya cicilan rumah, kemana-mana pakai mobil, posting makanan dan minuman ala XXI dan restoran terkemuka, dan apa-apa yang kalian bisa bayangkan sendiri. Saya? Hidup masih dari beasiswa, kadang dapat fee dari projek, mobil-motor tidak ada uang, apalagi cicilan rumah, foto-foto lucu anak-anak? Ya itulah saya. Saya cuma bisa posting sudut perpustakaan, segelas es cendol yang berharga, keluhan karena biasa pakai LTE tetiba hanya bisa pakai 3G, serta kekesalan karena tidak bisa mengakses Wikipedia karena diblokir pemerintah Turki. Itu saya.

Tapi saya sungguh tidak peduli dengan tujuan hidup orang lain, apalagi jika saya tidak bisa memberikan kontribusi terhadapnya. Apa hak saya mengomentari kehidupan mereka? Terlebih saya punya life goal sendiri yang bukan orang lain yang akan memberikan, tapi buah dari kapalan jari-jari saya pribadi. Jika saya harus menjadi seperti kebanyakan orang, saya bisa saja memilih untuk berkarir di tvOne setelah empat tahun bekerja di sana. Atau saya terus bekerja untuk kemanusiaan di ACT dengan posisi senior dan gaji yang lumayan. Atau di tempat lain yang lebih baik. Motor saya sudah punya, mobil karena malas saja di Jakarta sudah terlalu penuh dengan keegoisan, atau HP bagusan, ah saya bisa. Atau menikah? Well, percayalah, saya bisa saja dengan si biduan kampus yang susah sekali didapatkan namun dengan saya mudah. Haha, gaya! Tapi ini serius. Tampang saya pas-pasan, tapi soal komitmen, bisa diadu. Dan saya sangat menghargai wanita sebagai partner, bukan di bawah ketiak laki-laki. Tapi masalahnya, life goal saya bukan itu. Ketika saya harus kehilangan orang yang saya cintai karena life goal di depan mata, saya rela. Dengan catatan bukan karena saya yang mau pisah. Ketika saya harus meninggalkan kenyamanan di Jakarta demi sesuatu yang telah lama saya impikan, saya rela.

Saat ini saya sedang berjuang menyelesaikan PhD saya dengan santai. Penuh kesulitan, tapi saya menikmati (makanya tidak selesai-selesai, jangan diikuti, haha). Sambil mendapatkan pengalaman baru jalan tidak jelas di negeri orang. Tahun depan saya berangkat Erasmus ke Jerman. Dulu, waktu kuliah di UI, baca tentang Erasmus saya pasti minder duluan. Apalah saya ini tidak punya prestasi, IPK sekarat, English blepotan, tidak pernah terpikirkan untuk daftar. Namun takdir berkata lain, di pengumuman penerimaan Erasmus di Istanbul University, nama saya muncul setelah sebelumnya saya tidak berharap banyak. Saya punya cerita khusus tentang ini sebenarnya. Nanti bisa saya ceritakan. Well, insallah saya berangkat. Ini adalah bagian dari life goal saya yang tidak terduga. Dan saya sangat menikmati ke-tak-terdugaan dalam hidup.

Ada hal-hal yang harus kita korbankan untuk mencapai atau menjadi sesuatu. Jika itu adalah paradigma umum; menikah atau bekerja, tak masalah. Ulat harus bersemedi lama untuk menjadi kupu-kupu. Kecebong harus bersabar untuk menjadi katak. Lalu kita manusia apakah tidak bisa bersabar untuk menjadi dan mencapai sesuatu? Ada hal-hal yang mungkin orang lain sudah capai, tapi ada juga hal-hal yang ada di dalam diri kita dan mereka tidak punya. Jadilah dan capailah sesuatu dengan tangan kita; tidak perlu berusaha sefrekuensi dengan tujuan hidup orang lain.

Ništa ne moraš, a sve možeš.

Reci “da” kad želiš. Reci “ne” kad želiš.

Ne moraš izaći s nekim samo zato što ti je glupo odbiti ga.

Ostani doma u subotu navečer. Isključi mobitel i spavaj, nećeš ništa propustiti.

Istraži nove vrste muzike, daj priliku onoj knjizi koja skuplja prašinu na polici. Proširi horizonte, možda ti se svidi.

Odi u šetnju. Kroz grad, kroz prirodu, bilo gdje. Samo odi u šetnju. Iznenadit ćeš se koliko će pozitivan učinak biti.

Ponekad se ostavi društvenih mreža. Ni ne shvaćaš koliki pritisak ti stvaraju sve dok ne odmoriš od njih.

Uvijek nosi osmijeh na licu. Nikad ne znaš gdje ni kad te čeka novo poznanstvo. Otvori se prema ljudima.

Unesi neku promjenu u svoju sobu. Neki detalj, nešto sitno. Uljepšat će ti dan.

Znaš onaj restoran kojeg dugo želiš probati, a nikako da odeš? Ne treba ti dečko/cura za to. Mamu, brata ili baku pod ruku i odite. Bit će im drago.

Ulaži u svoje znanje. Rješavaj križaljku, čitaj zanimljive činjenice na internetu, posudi u knjižnici knjigu o temi koja te zanima.

Vježbaj, jedi zdravo, jedi voće, pij vodu. Osjećat ćeš se fenomenalno.

Pogledaj neku komediju ili simpatični video sa životinjama na YouTube-u. Smijeh je najbolji lijek.

Ne ganjaj leptire. Ispruži ruku, ako žele, sami će ti prići. Isto je i s ljudima.

Radi ono što želiš, a ne ono što od tebe očekuje današnje društvo. I zapamti - ništa ne moraš, a sve možeš. Sad je pravo vrijeme za sve.

Perempuan Perlu Bisa Masak atau Engga?

Teman-teman saya, baik itu yang perempuan ataupun yang laki-laki, sering membicarakan tentang apakah seorang perempuan perlu bisa masak atau tidak. Biasanya, ada kubu yang menganggap perlu dan ada juga kubu yang menganggapnya tidak perlu. Kubu perlu biasanya bilang, “Kalau perempuan engga bisa masak, nanti kalau nikah gimana? Masa mau beli setiap hari?” sedangkan kubu tidak perlu biasanya bilang, “Ah itu mah engga penting, tukang makanan banyak banget kok. Beli lebih praktis daripada masak.” Lucunya, semakin saya membicarakannya dengan lebih banyak orang, semakin banyak yang menjadi anggota kubu perlu, sama halnya dengan semakin banyak juga yang menjadi anggota kubu tidak perlu, dengan alasan yang semakin beragam.

Awalnya, saya bingung untuk memilih salah satu diantara dua kubu itu karena sebenarnya saya tidak setuju dengan kubu tidak perlu tapi saya kurang yakin kalau masak adalah skill utama yang harus dimiliki oleh perempuan. Haha! Kalau sekarang, gimana?

Jadi, beberapa minggu lalu di jam makan siang, teman saya bertanya, “Nov, sebelum ke kantor kamu masaknya jam berapa?” sambil kami masing-masing mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas. Lalu saya menjawab, “Ini masakan ibu. Aku engga pinter masak. Lagian kalau masak paling di hari libur aja, atau kalau misalnya lagi iseng. Ribet eh kak kalau setiap hari masak, masuk pagi terus kan kita.” Ia pun menimpali, “Yeee, sekarang kamu bisa bilang kayak gitu, nanti kalau udah nikah mana bisa engga masak.” Kami pun tertawa-tawa, tapi diam-diam kalimatnya itu mulai saya pikirkan juga, “Iya ya, kenapa aku engga masak setiap hari aja?”

Sejak saat itu, saya jadi semangat menantang diri untuk memunculkan kebiasaan baru: merutinkan memasak setiap hari. Alhasil, saya pun mulai pergi ke pasar, mengurus penyimpanan bahan makanan di kulkas (serius ini ada triknya), meracik bumbu, memasak, mencuci piring, sampai membersihkan dapur. Riweuh sih, karena setiap sore di perjalanan pulang kantor saya harus mencari resep-resep baru (iyaaa, demi apa history browsing isinya penuh sama resep-resep), malam sebelum tidur menyiapkan dulu bahan masakan, lalu besoknya jam 7 pagi sudah di depan kompor sampai satu jam kemudian, begitu setiap hari. Tapi ini bikin seneng, karena jadi lebih produktif, daaaan hemat ;)

Tantangan terbesarnya, ibu saya jago masak dan terbiasa masak untuk catering, jadi standar beliau itu tinggiii banget! Semua masakan yang saya buat pasti dikomentarin, misalnya, “Dek, ini tuh ya sedikiiiit lagi kurang matang.” atau, “Dek, tadi kamu engga masukin bawangnya duluan, ya?” atau, “Ya ampun ini kepedesan banget!” atau, “Tadi ada tetangga makan disini, katanya masakan kamu enak, tapi ya dek, kayaknya itu sebenernya kematengan.” Kyaaaaa! Kadang saya jadinya putus asa, “Terus masakan aku kapan enaknya?” lalu pundung, tapi besoknya masak lagi. Haha!

Ini random sih, tapi ternyata masak itu membuat perbendaharaan perasaan seorang perempuan jadi lebih banyak. Ada bahagia yang mungkin sebelumnya belum pernah dirasakan, seperti misalnya ketika masakan kita dihabiskan, dibilang enak, atau diminta tambah. Serius, itu bikin happy sepanjang hari! Ada juga sedih yang mungkin sebelumnya tidak terbayangkan, seperti misalnya ketika salah pilih penggorengan terus jadinya ikan yang digoreng hancur cur cur ketika dibalik, atau ketika hasil akhir tidak sama seperti yang dibayangkan karena kamu membandingkannya dengan platting restoran, ataaaau, ini yang paling sedih: ketika masakanmu tidak dihabiskan, terus basi, lalu dibuang.

Tapi tapi, menurutmu, kira-kira apa sih yang membuat seorang perempuan perlu bisa masak? Kalau menurut saya, ada beberapa alasan, ini subjektif, kamu boleh setuju boleh engga. Pertama, memasak adalah bentuk sayang kepada anggota keluarga, karena masak sendiri berarti memastikan makanan yang dibuat itu halal, bersih, dan sehat. Kedua, karena perempuan itu rasanya sih memang punya naluri melayani yang oke, jadi, menyediakan makanan untuk orang lain itu akan bisa membahagiakan. Ketiga, masak itu mengasah multi-tasking dan multi-thinking, seperti misalnya tentang sayuran mana dulu yang masuk wajan, bumbunya diiris atau diulek, gimana caranya biar daging cepat empuk, gimana caranya dapur bersih bersamaan dengan selesainya masak, dan seterusnya. Keempat, sedih banget, sekali makan di Bandung itu 15-25 ribu, kalau 3 dikali 2 orang sehari bisa sampai sekitar 100 ribu, harga yang kalau dikonversi ke belanja di pasar bisa beli lebih banyak untuk berhari-hari, jadi masak itu bisa lebih hemat. Terus, hmm, apa lagi, ya?

Well, saya memilih kubu yang pro kalau perempuan perlu bisa masak. Yeay! Iya, menurut saya, seorang perempuan itu sebaiknya bisa masak. It’s a basic life skill untuk bisa ‘bertahan hidup’. Haha! Kalau sekarang belum bisa, engga apa-apa, bisa belajar. Tanya-tanya deh sama ibu (tapi kalau dimarahin atau dikomentarin jangan sedih) atau lihat di Youtube juga banyak. Masak itu kayak nulis kok, semakin banyak jam terbangnya semakin bisa. Saya juga masih receh banget, tambah merasa receh kalau dibanding skillnya ibu. Tapi engga apa-apalah ya, lumayan.

Btw, tadi kan saya masak masakan lebaran, terus ibu makannya lahap dan bilang enak. Lalu, saya bahagiaaaa! Eh tapi ternyata, at the end of the lunch, beliau bilang, “Dek, ini kamu ada yang salah, nanti lagi kalau masak Teriyaki itu cabenya dimasukkin agak akhir-akhir gitu biar engga kematengan. Engga apa-apa, belajar lagi nanti.” Huaaaaaa! Belum berhasil ternyata, pemirsa –”

Hmm, oke deh, selamat belajar (masak), ya. Kalau kata temanku, “Perempuan itu, jangan sampai taunya cuma harga makanan dan tempat-tempat makan aja tapi masaknya engga bisa.” Ah euy, nampar ya ;)

Ramadhan #4 : Kemudahan Kita

Saya pernah mengulas tentang hal ini ditulisan lama, saya lupa judulnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti bagi orang islam yang beriman dan bertakwa. Ada banyak keberkahan yang turun di bulan suci tersebut. Setiap orang yang saya kenal berlomba untuk menggapai setiap mili-keberkahan. Hari ini pun, jamaah subuh yang biasa saya kunjungi menjadi penuh. Kemarin malam padahal tetap seperti biasa, dua shaf.

Ramadhan ini seolah-olah setiap orang islam terlihat soleh/solehah. “Terlihat” karena memang itu yang nampak, perkara niat itu hak Allah.

Tadi malam, sepulang tarawih di Masjid Nurul Asri - Deresan, saya mampir dulu ke tempat makan untuk mencari makan malam sekaligus cadangan sahur. Saya berusaha berkaca seluas-luasnya di ramadhan ini. Saya dan mungkin begitu banyak orang memasang target besar dalam ibadah individu; baca Quran-nya lebih banyak, shalat sunahnya lebih rajin, tahajudnya lebih panjang, dan apapun yang terkait dengan ibadah individu.

Tentu ini bukan bicara tentang baik dan buruk atau salah dan benar. Saya merenung dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau keberkahan (dalam hal ini dalam bentuk pahala) hanya turun kepada orang-orang yang melakukan ibadah tersebut secara penuh, bagaimana dengan orang-orang yang mungkin tidak mampu bahkan tidak berkesempatan untuk itu?

Bukan karena mereka tidak ingin, tapi keadaan, kondisi, dan berbagai tuntutan hidup membuat mereka harus seperti itu. Saat kita sedang khusu’ tarawih, di luar sana ada bapak tukang parkir yang sedang menjaga kendaraan kita, di luar sana yang kita sering sekali abai dan tidak peduli, ada puluhan remaja seusia kita yang harus berjuang untuk hidup, mereka menjadi penjaga toko, pelayan restoran, dan untuk bekerja itu mereka merelakan waktu shalat tarawih berjamaah. Bahkan, pemilik tempat makan pun sengaja membuka tempat makannya di jam-jam itu (biasanya 17.00-22.00). Dan kita, sering tertawa usai tarawih ketika makan di sana atau saat berbuka puasa di tempat makan itu. Apalagi saat nanti ramai acara buka puasa bersama. Jahat gak sih?

Di saat kita begitu bersemangat menghadiri kajian-kajian dengan penceramah yang keren-keren, ada yang harus berjuang untuk hidup dan melakukan tugasnya. Para penjaga pintu kereta api, para sopir bus malam, para nakhoda di lautan, para kelasi, juga buruh-buruh bangunan dan pelabuhan, petugas pom bensin, penjaga mini market, tukang parkir, masinis, pilot, dokter dan perawat yang harus berjaga di rumah sakit, dll. Mereka berjuang untuk hidupnya juga hidup orang lain, mungkin juga untuk keluarganya di rumah. Kalau mereka semua meninggalkan tugas pekerjaannya, mungkin kita semua yang kemudian marah-marah. Jahat gak sih?

Di saat pagi kita bisa bersantap sahur, duduk manis di ruangan keluarga yang hangat, makanan yang enak. Ada di luar sana yang harus ke pasar dini hari, ada yang memasak untuk warungnya demi teman-teman yang nge-kos bisa beli makanan untuk sahurnya, dan lain-lain. Kapan terakhir kali kita berempati?

Betapa begitu banyak kemudahan yang kita miliki. Kita tidak perlu susah payah untuk memenuhi kebutuhan keuangan. Tidak perlu bekerja menjadi penjaga toko, pelayan restoran, apapun itu. Kita bisa menghadiri kajian rutin tanpa harus memikirkan hal lain. Kita diberikan banyak kemudahan untuk meraih keberkahan di bulan ramadhan ini dengan segala target ibadah individu yang sudah dibuat.

Pertanyaannya, adakah target ibadah sosial di sana? Adakah niat kita untuk ikut serta dan turun tangan membantu memudahkan orang lain beribadah juga sama seperti yang kita dapatkan? Akankah kita begitu egois, mengharapkan semua keberkahan itu menjadi milik kita semata tanpa peduli apakah itu juga didapatkan oleh orang lain?

Semoga keberkahan ramadhan itu turun kepada orang-orang yang memudahkan kita semua dalam menjalankan ibadah. Bahkan saya merasa, mereka jauh lebih pantas mendapatkan kebaikan itu. Yang jelas, Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

© Kurniawan Gunadi

Tulisan ini adalah tulisan ramadhan tahun lalu, masih relevan hingga saat ini. Semoga tahun ini kita bisa meningkatkan kapasitas diri dan juga membantu kemudahan orang lain disekitar kita. Tulisan asli bisa di klik di sini.

Rejeki dari ALLAH itu pasti CUKUP UNTUK HIDUP tapi TIDAK akan CUKUP UNTUK MEMENUHI GAYA HIDUP

Kenalan saya seorang perencana keuangan di Jakarta punya banyak klien dari kalangan artis, dia cerita waktu itu pernah dicurhati seorang artis yang tiap hari nongol di tv, terkenal dimana-mana, tapi buat bayar cicilan mobil 5 juta saja tidak punya.. Gaya hidup akhirnya meremukkan hidupnya.

Saya pernah kenal seorang presenter TV nasional, kalo sedang tampil rapi pakai jas rapi sekali, hanya sekali ketemu di seminar, dia minta nomer HP. Sebulan kemudian dia SMS..
“Mas, saya pinjam uangnya 1 juta bisa? Minggu depan saya kembalikan..”
Walaaah..

Tahun 2009 malah ada vokalis band terkenal, saya kenal sejak 2003 ketika dulu masih kerja di EO sering saya ketemu waktu saya jadi stage manager. Lagunya ngehits di semua radio, satu sore ngajak ketemu.. Ujung-ujungnya pinjam uang dengan alasan ini itu.. Dan sampai hari ini tidak pernah dikembalikan hingga tahun-tahun berlalu..

Kisah Ustad Luqmanul Hakim gak kalah unik, waktu masih kuliah S2 di Malaysia dia diundang makan di sebuah restoran mewah oleh salah satu kawannya. Ustad Luqman bahkan diminta memindahkan parkiran motor bututnya agar tidak menggangu pemandangan di halaman depannya. Usai makan, kawannya justru curhat dan minta nasehat, sambil menunjuk mobil mewah di halaman depan yang sudah 6 bulan cicilannya belum terbayar..

Betul kan, rejeki dari Allah itu PASTI CUKUP untuk hidup, tapi TAK AKAN CUKUP untuk gaya hidup..

Kisah nyata sebaliknya dari Ustad Luqman,
Seorang ibu tua dengan kain jarik datang ke sebuah masjid usai jumatan, panitia dan takmir sedang berkumpul sambil duduk menghitung uang hasil infak jamaah hari itu. Ketika ibu itu datang dengan baju sangat biasa dan berkain jarik, salah seorang dari mereka berdiri, mendekati ibu itu sambil berkata, “maaf bu, disini tidak menerima sumbangan..”
Ibu itu membuka lipatan kain jariknya, mengeluarkan uang berwarna merah, biru, merah, biru, merah, biru.. berlembar-lembar banyaknya, sambil berkata
“Maaf nak, saya mau ikut bersedekah untuk pembangunan masjid ini.. Ini uangnya mohon diterima..”
Seketika para takmir itu menunduk, tak ada yang berani memandang wajah ibu itu.. Salah tingkah dan menahan malu…

“Suatu malam, Ustadz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota di Jawa Timur”

Ustadz Salim melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu, yakni:
(1) jangan pernah menyakiti
(2) hati-hati memberi makan istri.“

“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustadz Muhammad.
"Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala?”.
Saya juga takjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah,” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini.

Tukang becak ini Hafidz Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Al-qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan: qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.
Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita.

Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya.
Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan.

Misalnya ada yang berkata, “Pak, terminal Rp 5.000 ya.“ Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak.”
Itu namanya sudah menyakiti. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif.
“Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya.“
Jawabnya juga OK. Bahkan kalau,“Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.

Gusti Allah, manusia macam apa ini!

Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri. Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedek. Istrinya berjualan gorengan. Stop! Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafidz Al-qur’an semua.

Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah. Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesoris, seperti arloji dan handphone dilucuti. Bahkan, baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana.

Ini adab, tata krama.

Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis.

Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri.

Ustadz Salim melanjutkan, “Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr. Sardjito keesokan harinya, kami menangis.

Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal.”
Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan “manusia langit” yang tidak kita kenal.

Kawanku.. Hari terus berganti, matahari datang pagi ini, dan menghilang sore nanti..
Usia kita terus bertambah, tanpa sadar banyak hal yang begitu saja kita lewatkan hanya untuk mengejar dunia yang sementara..
Padahal esok pada waktunya, kita semua saat pulang ternyata hanya dibungkus kain kafan tak bersaku.. Tak ada bekal uang yang berlaku..

Semua harta yang selama ini kita kejar habis-habisan, ternyata semu belaka.. Pangkat, jabatan, kemewahan yang selama ini dibanggakan akan berakhir ditimpun tanah kuburan..

Banyak orang yang mengejar label kaya dengan menggadaikan dunianya, harga diri sudah musnah entah kemana..
Sementara, banyak orang yang diam-diam ternyata kaya raya, dan lebih suka mencari muka hanya pada Tuhannya..

Benar kata kawan saya Mas Arief Budiman..
ORANG KAYA adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi..

ORANG MISKIN adalah orang yang selalu merasa kurang, hingga dia terus meminta-minta…

Salam,
@Saptuari

anonymous asked:

What have you been recently?

Artık anasayfam da altın kaplama jipler, dövmeli kadın kalçaları, sensiz olmaz sözleri, arka planda deniz kadraj da bank, mac rujları, boya badana, gümüş casio saatleri, kahve, eskit dekore edilmiş ev- boş salonun ortasına konulmuş puf koltuk ve karşısında kitaplık tantanaları görmek istemiyorum birader. Sonra neymiş topluma karışmış aga benim böyle bi toplumda canım sıkılıyo. Kim yönetiyo ulan bu tantanayı kim bu akımın babası. Akşama kadar çalış et, 1 ay çalıştığın iki nusret hesabı yapmasın, eve gel zencilerin altın dişlerini rble, şafşaflı restoran masalarını rble, çocuk kıza sarılmış rble.. Ulan bizim neyimize daha çeyrek alacak imkan yok bide altınlı dişlere arabalara heves ediyoruz. Kim ettiriyo lan! Alışmak çok garip. Alıştırmakta bi o kadar. Sonra bunca insanın canı sıkılıyor. Sıkılır tabi abi, içgüdüsel olarak mercedes amblemini duvarında paylaşmak zorunda hissettiğin bir dayatma. Bi aile büyüğünün facebook sayfasına baksan ülke gündemi, HAYIR-EVET BOR, şok şok tubitakın reddettiği proje amerika da… kamprail, okey, en büyük eğlence: -hamit duvarına yazdı- “lan rıza napıon:)-” bide bi lise öğrencisinin heves ettiklerine, sahip olmak istediklerine, içgüdüsel olarak başarıyı böyle popüle topile tantanaları işte. Mac rujlarıyla, altın kaplama jiplerle, şekilli şukullu avizelerle anneni kandırabilir mi? Vampirler gençleri severmiş. Ya ben senin götünü sikeyim rockefeller ya

14. bentuk-bentuk kebaikan

hari ini, nyaris saja mas yunus melewatkan buka puasanya. mas yunus begitu kelelahan setelah bimbingan operasi, jaga IGD 24 jam, ditambah jaga poli yang dilaksanakan secara maraton. padahal, saat sahur, mas yunus hanya sempat makan roti sepotong. saat berbuka kemarin, mas yunus hanya sempat makan gorengan. bisa makan dengan layak (dengan jumlah dan waktu makan yang cukup) adalah sebuah kemewahan baginya.

dari jauh, yang bisa saya lakukan hanya bolak-balik menelepon setiap jam sahur dan jam berbuka datang. begitu pun dengan jam sholat. saya tidak menyangka bahwa menjadi seorang residen begitu menguras konsentrasi mas yunus–sampai lupa pada kebutuhan dan hak-hak dasar dirinya sendiri.

di dunia ini, tentu ada banyak sekali orang yang menjadi mas yunus-mas yunus lainnya. kemarin saja, saya menerima paket sekitar pukul 6.30–saat kami sekeluarga tengah bersantap makan malam (berbuka). mas pengantar paket itu, ia bekerja di saat orang lain berkumpul dengan keluarga. saya spontan menawarinya ikut makan. katanya, “tidak usah mbak. terima kasih. saya sudah buka, kok. masih banyak paket yang harus diantarkan.”

lalu di restoran-restoran, saat kita menikmati makanan (mahal) pada jam-jam berbuka puasa, ada juga orang-orang yang harus bekerja, melayani kita yang berbuka dan harus menunda makan. di pintu tol, di perlintasan kereta api, di mana-mana, ada banyak sekali orang-orang yang dengan ikhlas bekerja, mengesampingkan kepentingan diri sendiri.

saya pun menjadi paham mengapa mencari nafkah adalah kemuliaan yang luar biasa. bahkan kata Nabi, ada dosa-dosa yang hanya bisa dihapus dengan keikhlasan dan kegigihan mencari nafkah. mencari nafkah sangat beragam sekali bentuknya, seringkali menuntut pengorbanan: mengambil kesempatan untuk beribadah, beristirahat, atau berkumpul dengan keluarga. apapun bentuknya, semuanya adalah kebaikan.

kita yang kebetulan tidak harus berkorban sedemikian rupa, pada dasarnya tidak lebih beruntung daripada mereka yang harus bekerja–sebab bekerja adalah kebaikan. namun, kita yang kebetulan tidak harus berkorban sedemikian rupa, idealnya perlu belajar berempati kepada mereka. paling tidak, dengan mensyukuri setiap nikmat yang kita terima, memanfaatkan setiap kesempatan untuk berbuat kebaikan, juga dengan mencintai pekerjaan kita.

Apresiasi

Dear my dear self,

Enggak apa-apa. Silahkan sesenggukan dipojokan kamar nggak apa-apa. Sudah sejauh ini melangkah. Kamu kini hanya perlu tau satu hal, bahwa proses lebih berharga daripada hasil. Bukankah kamu sudah tahu bahwa dunia kini memang seganas itu? Kamu sekarang sudah kuat, kan? Kamu sekarang sudah paham betul kan cara menghadapinya? Setidaknya kamu sekarang sudah tak banyak ngerepotin orang lain lagi. Sudah mau belajar mandiri dan berani. Sudah mau mencoba berdiri diatas kaki sendiri. Sebab katanya mau tak mau, menjadi kuat adalah tanggung jawab pribadi.

Bersyukurlah. Ini bisa menjadi cerita hebat dan menarik untuk anak-anakmu kelak. Maka ketika mereka kamu ceritakan tentang hal-hal seperti ini, mereka akan dengan bangga menjadikanmu sebagai guru besarnya. Sebagai teladan terdekatnya. Sebagai cahaya didalam hatinya. Bahwa kamu adalah perempuan hebat dan kuat untuk mereka.

Ini tentang sebuah apresiasi untukmu. Agar kamu tak mudah lagi untuk mengeluh dan menyerah. Agar kamu tidak pesimis lagi dalam mencoba suatu hal. Agar kamu tau bahwa kamu superhebat. Agar kamu bisa lebih mudah memperbaiki masa lalumu yang sering sekali kamu permasalahkan. Dan kamu besar-besarkan. Agar kamu memiliki banyak alasan bersyukur dan mengikhlaskan. Menerima dan melepaskan.

Terimakasih. Terimakasih karena kamu sudah bersedia mencoba berkali-kali dalam banyak hal. Terimakasih sudah memutuskan bangun lagi dari jatuh. Terimakasih sudah mencoba bangkit dari rasa hampir menyerah. Terimakasih sudah menghapus kata lelah untuk menghadapi semuanya. Pada setiap waktu, setiap detik, setiap keadaan dan setiap musim.  Ah, ternyata kamu sekuat itu bukan?

Terimakasih sudah mau belajar sejak taman kanak-kanak hingga diperguruan tinggi. Terimakasih sudah mau menjalaninya dengan sabar. Meski terkadang masih suka ngeluh, sesekali putus asa. Tapi kamu hebat, setidaknya hingga kini kamu tidak menyerah. Kamu masih ingin terus belajar.

Terimakasih sudah mau nurut orang tua dengan belajar ilmu statistika. Dengan belajar ilmu yang menurutmu bukan passionmu. Sudah mau memahami bahwa perkataan, saran dan nasihat dari seorang ibu adalah yang utama. Meski kadang juga masih bertanya-tanya, kenapa harus belajar ini dan itu?

Terimakasih sudah berusaha ta’dzim, hormat dan berakhlak baik kepada mamah bapak, kepada guru-guru, kyai, ustadz dan ustadzah. Kepada orang-orang yang lebih tua darimu. Terimakasih sudah mau belajar menyayangi kakak, menyayangi adik, menyayangi sepupu-sepupumu. Walaupun terkadang masih suka ngerepotin.

Terimakasih sudah mau mencoba berteman dan berbuat baik kepada teman. Semoga kamu hanya akan selalu mengingat kebaikan-kebaikannya dan cepat melupakan keburukan-keburukannya dimatamu—kepadamu.

Terimakasih sudah mau nurut sama Allah, sudah menjadikan Rosul sebagai panutan meski belum sepenuhnya, tapi setidaknya sepenuhnya kamu telah mencoba. Terimakasih sudah mau belajar hidup sederhana dipondok pesantren, semoga kamu selalu istiqomah dan tidak tenggelam dalam kehidupan yang serba mewah dizaman milenial seperti ini. Terus dan seterusnya.

Terimakasih sudah mau mencoba menyelami, menghadapi kemudian memaknai lingkungan yang serba heterogen seperti ini. Dimana warna abu-abu selalu ada setiap saat. Dimana baik dan buruk bisa saja berkumpul dalam satu badan. Meski kadang merasa tidak cocok, merasa risih, merasa takut dan merasa tidak mampu, setidaknya kamu masih bertahan sampai sekarang, bukan?

Terimakasih telah memutuskan keputusan yang paling besar di dunia ini. Terimakasih sudah dengan mantap dan yakin telah menceburkan diri ke dalam dunia Al-Qur’an. Terimakasih untuk tetap bertahan hingga kini. Meski kamu tau bahwa menghafal itu konsekuensinya sangat berat jika tidak diperjuangkan hanya karena Dia. Meski jalannya terjal, curam dan berbatu. Tapi kamu yakin, jalannya pasti lurus. Semoga kamu tetap bisa bertahan sampai 30 juz. Semoga teman-teman seperjuanganmupun bisa bertahan sampai selesai juga. Dan bisa menjaganya dengan baik sampai nafas tak dikandung badan lagi.

Terimakasih sudah mau makan apapun asal halal. Tidak memilih-milih. Ah, dunia memang restoran terbaik dengan menu apapun! Tapi jangan banyak-banyak makan, ya. Nanti hatinya mati. Jadi ilmunya susah masuk.

Terimakasih sudah  bersyukur dilahirkan ditengah keluarga yang sederhana dengan caranya sendiri seperti ini. Meski kadang tak cocok dengan keputusan mamah, tak cocok dengan keputusan bapak. Tapi dengan kamu yang mencoba meruntuhkan ego-ego diri, kamu telah berhasil patuh kepada keduanya. Katanya anak boleh mikir, tapi orang tua lebih berpengalaman.

Terimakasih sudah mau bermimpi, memperjuangkan mimpi-mimpi juga meladeni mimpi-mimpi. Diluar sana banyak yang tidak berani bermimpi, banyak yang sudah menyerah dulu sebelum mencoba. Ingat, kamu memiliki Tuhan yang hebat sejagad semesta. Yang menggenggam mimpi-mimpimu, lalu akan dilepaskan pada saat yang tertepat. Tugasmu hanya berdo’a, berjuang dan butuh sedikit menunggu lagi.

Terimakasih sudah mau membaca banyak buku. Meski kadang tidak sepenuhnya paham, setidaknya kamu sudah sepenuhnya mau memahami. Suatu saat kamu pasti akan dipahamkan oleh-Nya. Semoga hasil membaca-baca sekarang tak hanya sekedar menjadi bacaan, tetapi akan bermanfaat dikemudian.

Terimakasih sudah mau menulis. Menuliskan cita-cita. Menuliskan cinta. Menuliskan semuanya—menuliskan kehidupan. Semoga arah penamu yang berisi jatuh-bangun, semangat-menyerah, senang-sedih, kecewa-bahagia, dan pembijakan untuk diri sendiri bisa menjadi amal baik yang tak putus hingga ke negeri akhirat kelak.

Terimakasih sudah bersedia patah hati, bersedia menikam setiap rindu yang merasuk kedalam diri, bersedia menyimpan rasa-rasa aneh yang terkadang menganggu pikiran. Terimakasih sudah  mempersiapkan diri menjadi perempuan yang lebih baik untuk untuk kelak ditemukan dengan yang tertepat diwaktu yang paling tepat.

Terimakasih sudah mencoba menjadi diri sendiri disaat yang lain memakai bermacam-macam topeng pada wajah mereka. Terimakasih sudah berusaha memaknai setiap kejadian, setiap peristiwa yang kamu alami dan mengambil hikmahnya. Karena tak semua orang diberi ilmu hikmah.

Terimakasih sekali lagi. Ah, kamu ternyata sehebat ini.

Sudah selesai sesenggukannya? Dihapus, ya, air matanya. Yuk ah, bangkit lagi! Ngaji lagi!

Sudah disuruh senyum sama Allaaaah. Senyuuuuum. :))

nilai

“Gratitude unlocks the fullness of life”

Ada sekotak utuh menu restoran sunda yang petang itu dibawa oleh istri saya dari kantornya. Pesannya, “Nanti kalau di jalan nemu orang yang kira-kira bisa dikasih makanan ini, kita berhenti ya. Aku masih kenyang jadi enggak akan makan”. Namun puluhan menit kemudian sepanjang perjalanan pulang ke rumah, kami enggak menemukan seorang pun yang bisa dihadiahkan nasi kotak untuk menu berbuka puasa. Kalaupun ada, jumlahnya lebih dari satu orang sehingga khawatir menimbulkan kecemburuan antara satu sama lain atas pemberian tersebut. 

Akhirnya, kami memutuskan langsung pulang setelah tercetus ide untuk memberikan nasi kotak itu kepada salah seorang pegawai orang tua kami yang bernama kang Irwan. Setibanya di rumah, nasi kotak itu kontan kami serahkan kepada kang Irwan. Dengan raut keheranan melihat kotak yang ukurannya besar, ia bertanya, “Ini apa, de?”. “Itu nasi kotak, a. Paket komplit buat nanti buka puasa ya. Lumayaan” jawab kami. Ia pun berterima kasih setelah melihat isi kotak tersebut. Di dalamnya tersaji paket lengkap: nasi, ayam goreng, ikan asin, tumisan, juga sambal dan lalapan.

Enggak lama berselang, adzan maghrib pun berkumandang. Kami semua membatalkan puasa dengan menyantap makanan yang terhidang di meja makan. Setelah usai menunaikan salat dan beranjak ke dapur, saya mendapati kresek kuning yang berisi nasi kotak tadi enggak bergeser posisinya sedikitpun di rak dinding. Waktu itu, kang Irwan malah terlihat sibuk mencuci peralatan-peralatan bekas memasak sore tadi.

“Lho, a. Udah buka puasa? Itu nasi kotak masih di situ. Dimakan atuh, keburu kelamaan nanti enggak enak” tanya saya heran. Yang ditanya malah nyengir sembari menjawab, “Ohh. Saya udah buka puasa tadi, nasi kotak ini rencananya mau dianterin ke anak saya nanti malem”. Saya pun tercengang. 

Keliatannya sederhana, seorang ayah berbuka puasa dengan makanan seadanya dan lebih memilih untuk menyerahkan nasi kotak pemberian yang dirasa cukup istimewa kepada anaknya. Jadi enggak sederhana karena kami hafal betul seberapa sayang kang Irwan pada putri semata wayangnya tersebut. Setiap barang yang dihadiahkan pada anaknya, pastilah baginya amat sakral dan spesial. Maka malam itu selepas tarawih, ia pun menempuh jarak belasan kilometer pergi-pulang hanya untuk mengantarkan nasi kotak tadi.

Dari kesederhanaan kang Irwan saya belajar bahwa nilai yang kita terima atas sebuah hal enggak pernah diukur dari seberapa banyak uang yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, melainkan dari seberapa besar ungkapan rasa syukur yang hadir karenanya. Nasi kotak dari restoran yang harganya mungkin berkisar 25-40 ribu Rupiah sebagai sajian sekali makan, jadi hal yang mungkin kita anggap lumrah sekali. Tapi baginya, sekotak menu lengkap dari restoran bisa bernilai amat spesial dan layak dihadiahkan supaya anaknya bisa menyantap hidangan istimewa hari itu.

Semoga kita selalu dijauhkan dari kebiasaan meremehkan kenikmatan sekecil apapun yang diterima kemudian lalai untuk menambah nilainya dengan rasa syukur atas keberadaannya. Kita tau ada begitu banyak kaum berada yang masih terus merasa sengsara sementara di sisi lain, mereka yang disebut sengsara bisa jadi malah merasa amat kaya dengan kebiasaan bersyukur yang dimiliki. Kecukupan dalam hal kepemilikan tak pernah menyoal jumlah melainkan kegenapan yang berasal dari diri sendiri.

“And [remember] when your Lord proclaimed, ‘If you are grateful, I will surely increase you [in favor]; but if you deny, indeed, My punishment is severe.'” (T.Q.S. Ibrahim: 7) 

Rasa syukur tak bisa diukur dengan satuan rupiah, karena nilai dari rasa syukur itu tak berbatas dan bisa membuka sisi-sisi menyenangkan dalam hidup yang tak terlihat sebelumnya. Belajar berbaik sangka dengan ketentuan-Nya, bisa jadi kebahagiaan yang kemudian timbul dari rasa syukur memang jadi salah satu bentuk bonus tambahan kenikmatan dari-Nya. Alhamdulillah, segala puji memang hanya untuk-Nya yang Maha Kaya.

Tak berharap banyak

Hai kamu.
Aku tak pernah berharap kamu untuk membelikan aku barang-barang mewah, terkadang bagiku barang yang kamu kerjakan sendiri terasa lebih berharga.
Aku tak pernah berharap kamu untuk mengajakku ke restoran dengan suasana romantis dan elegan, terkadang bagiku nasi goreng atau ayam boiler terasa begitu nikmat ketika melihat kamu makan dengan begitu lahap.
Aku tak pernah berharap kamu ada 24 jam dalam sehari untuk bersamaku, mengabariku, atau memperhatikanku, terkadang aku lebih menikmati rasanya menunggu kabarmu, aku juga menikmati bagaimana menyimpan semua yang ingin aku ceritakan hingga kita bisa bertemu, aku juga belajar menghargai arti pertemuan yang terkadang dikejar waktu.
Aku tak berharap kamu mengajakku kemanapun kamu ingin bermain atau pergi, terkadang aku lebih senang ketika kamu sesekali bercerita tentang duniamu tanpa aku perlu memaksa masuk didalamnya, atau aku menikmati dimana kamu akan mengajakku untuk menemanimu sesekali waktu
Aku tak berharap dicintai olehmu setiap waktu, terkadang aku lebih bersyukur jika rasa cinta itu membuat kita semakin teguh dengan sebuah tujuan.
Aku tak berharap kamu menjadi sempurna, terkadang aku menikmati setiap perubahan kita berdua agar menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Aku tak berharap kamu untuk mengingatku disetiap waktu, terkadang aku hanya berharap disetiap sujudmu ada namaku yang kamu sebutkan kepada TuhanMu.
Aku tak bisa berharap banyak padamu, sebab aku tahu dan paham betul, bahwa kebahagiaan bukan mengenai berapa banyak harapan yang terwujud, tapi bagaimana kita mensyukuri apa yang kita dapatkan.


Tertanda,

Aku

Just Blabbering : Saya Rindu

Dulu, ketika saya dan adik masih kuliah, kami sering tidak punya uang dan terlalu malu untuk minta uang lagi pada orang tua. Kalau dia tidak punya pulsa atau uang, dia akan minta pada saya. Karena itu ibu saya selalu memujinya, karena dia tidak pernah minta uang tambahan pada orang tua. Ya iyalah, mintanya ke kakaknya. Prett.

Dulu di kampus saya juga ada ATM BNI yang bisa ambil uang 20,000. Dan di tanggal tua, antriannya panjang. Hahaha. Ketika ATM itu tidak ada lagi, saya sedih. Saya dan sahabat saya Sistha, kadang - kadang saling menolong dalam urusan ini. Misalnya di ATM saya tinggal 20,000 dan tidak bisa diambil di ATM 50,000, maka Sistha akan mentransfer uang senilai 30,000 supaya saya bisa mengambil uang saya yang 20,000. Begitu juga sebaliknya. Anehnya, saat itu kami tidak sedih, tertawa saja. Bahkan pernah beberapa hari saya hanya pegang uang 2 ribu rupiah saja, saya masih hidup dengan hati tenang dan senang. 

Hingga sekarang, saya bersyukur karena setiap kali saya kena musibah atau tidak punya uang, entah kenapa tanpa diminta ada saja orang-orang yang datang menawarkan bentuan. Entah itu makan gratis atau pinjaman uang, tawaran pekerjaan, bahkan ketika saya sakit pun keluarga komunitas saya memberikan bantuan dana yang tidak sedikit. 

Kembali pada cerita adik dan saya. Dulu, ketika kami melewati restoran - restoran yang menurut kami mahal saat itu, kami selalu dengan ceria berkata, “nanti kalau kita punya uang, kita makan disitu ya?” Seperti Hanamasa (sampai sekarang masih mahal sih buat saya), Pizza Hut, KFC, Mc Donald, yang bagi teman- teman saya yang lain, biasa saja. Kami selalu menunggu saat kami sudah bekerja dan punya uang untuk beli jajanan mahal.

Ketika akhirnya saya bekerja, saya sering pergi dengan adik untuk makan di tempat yang dulu tidak sanggup kami beli. Akhirnya kami punya tempat favorit, di D’Cost (tergolong murah sih), karena di sana menunya macam- macam, ada sayur asem kesukaan bapak. Setiap kali keluarga datang berkunjung ke Surabaya, kami selalu makan di D’Cost, karena terjangkau dan masakannya bisa dinikmati keluarga. Selalu ada budhe dari kampung yang ikut, dan masih takjub dengan harga makanan di Surabaya. 

Belakangan, saya sudah tidak pernah lagi pergi bersama adik karena satu dan lain hal. Terakhir kami beli pizza hut dan hanya saya yang makan. Rasanya sedih, pizza hut jadi tidak enak padahal aslinya saya sangat suka. Saya jadi menyadari sesuatu, bahwa yang membuat itu jadi enak bukanlah harganya, tapi sehangat apa suasananya. 

Saya teringat ketika terjebak hujan dengan Mas Anuanu dan kami ‘terpaksa’ makan di sebuah warung sederhana untuk berteduh, padahal kami berencana mau makan sesuatu yang mahal karena merayakan sesuatu. Di situ pertama kali saya tahu bahwa terong yang diiris tipis dan digoreng setengah kering itu enaknya setengah mati. Jauh lebih nikmat dari pada pizza menyakitkan yang saya makan sendirian.

Atau ketika saya makan kol yang Mas Anuanu goreng di rice cooker ( kurang kerjaan banget kan? ) dan saya baru menyadari bahwa kol goreng itu lebih enak dari pada ayam goreng. Setelah itu beberapa hari berturut - turut saya makan kol goreng dan sambel. 

Atau ketika dulu dengan adik, kami makan di kafe steak yang gelap dan mencurigakan. Steaknya mahal, dagingnya keras dan ga bisa digigit, mejanya kotor, pelayanannya lama. Dan kami menertawakan itu hingga sekarang. Tapi rasanya tidak sedih, hanya kesal dan jadi bahan tertawaan, menjadi cerita seru untuk Ibu. Tetap senang, karena suasananya hangat.

Atau semalam ketika berbuka puasa dengan Uni yang sudah lama tidak bertemu. Rasanya hangat ketika kita punya teman ngobrol yang fokus ketika kita bercerita. Makanannya tidak seberapa enak, tapi suasananya hangat.

Atau ketika beberapa minggu lalu berkumpul bersama teman - teman lama yang menghabiskan tempe mendoan yang saya buat. Dan saya memakan masakan istri teman baik saya dengan lahap. Semua makanan sederhana itu nikmat, karena suasananya hangat.

Atau dulu, ketika masih sekolah ibu sering menggoreng nasi untuk sarapan. Saya dan adik akan makan di piring yang sama, namun kami menggarisi hak kami bagian yang mana. Sisanya adalah hak ibu. Kami bercanda rebutan nasi dan beradu sendok, berteriak - teriak.

Sekarang, kalau saya pulang kampung dan ibu memasak buat saya, rasanya biasa saja. Karena kalau dulu saya akan berebut lauk dengan adik, sekarang saya makan sendirian. Saya lebih suka marah - marah karena ayam atau baksonya dihabiskan adik dari pada saya bisa makan seisi panci. 

Ternyata, bukan makanan mahal yang membuat kita bisa makan dengan nikmat. Tapi suasana hangat, orang yang membersamai, dan rasa syukur yang mengikutinyalah, yang membuat kita bisa menikmati semuanya, meskipun rasa makanannya tidak seberapa.

Saya rindu.

Bandung, 2.5.2017

Kad je žena kurva?

Jednom mi je jedan od mojih muževa rekao, sve su žene kurve, ti se ovih dana samo dobro kontroliraš. Čisto medicinski gledano, kad je žena kurva? 

Žena je kurva kad dobije prvu menstruaciju, dok je ne dobije, ona je samo buduća kurva? Nije istina, žena je kurva i kad viče, ne, ne, ne, dok joj tata uvaljuje velikoga pišonju u petogodišnju pipicu. Kurva je i u četrnaestoj kad iz kuće izađe u minici, tajicama, dekoltiranoj majici… Sama je kriva ako je netko dograbi u parku u pet popodne i siluje.

Žena je kurva kad kćeri od četrnaest godina ne kaže da su sve curice u minici, tajicama i dekoltiranoj majici kurve.

Žena je kurva kad uvečer sama uđe u bar, kad u dva popodne sama uđe u restoran, kad ujutro sama uđe u kafić. Da nije kurva, ne bi ulazila u muške prostore bez pratnje, njeno samo tijelo jasna je poruka, meni treba kurac.

Žena je kurva napaljuša kad odbije muškarca koji sjedne pokraj nje pa joj kaže, ja imam ono što tebi treba.

Žena je kurva kad ne da pičke ocu svoje najbolje prijateljice. Žena je kurva kad je za sise zgrabi djed njene najbolje prijateljice.

Žena je kurva kad ne želi raditi prekovremeno sa šefom u njegovoj kancelariji, ona na stolu, on među njenim nogama.

Žena je kurva kad ostavi muža zbog drugog muškarca. Žena je kurva kad ostavi muža zbog sebe same.

Žena je kurva kad odlazi frizeru jednom tjedno, kad joj je kosa sijeda, kad odbije kuhati svakodnevno, kad ne vozi djecu u vrtić, kad ne ostane na bolovanju zbog dječjih kozica, kad ne želi peglati sama nego za to unajmljuje kurvu.

Kad je bolesna, žena je bolesna kurva, kad je on bolestan, žena je kurva koja kuha prevruć čaj, preslabu kavu, odvratnu juhu, donosi mlako pivo, uvaljuje toplomjer, traži od njega da se okupa iako je bolestan.

Žena je kurva kad joj zbog raka odrežu sisu. Kurvetina je svaka žena bez sise koja traži lovu za silikonsku sisu.

Žena je kurva kad ne da rastavu bez frke, žena je kurva kad želi rastavu, žena je kurva kad dio svoje plaće potroši na torbicu, čizme i kaput iako već ima torbicu, čizme i kaput.

Žena je kurva kad ne nosi smeće, kad odbije brinuti se o njegovim roditeljima, kad pročita u njegovu mobitelu poruku koju mu je poslala kurva. Samo kurve prčkaju po tuđem mobitelu.

Žena je kurva kad poludi jer on diže kredite da bi se mogao kladiti, a ona to zadnja dozna.

Žena je kurva kad telefonom razgovara sa svojom majkom kurvom. Žena je kurva kad telefonom razgovara.

Žena je kurva kad se njemu ne diže. Žena je kurva kad želi biti sama, a ima njega i s njim djecu.

Žena je kurva kad na njegovom pogrebu glasno plače, žena je kurva kad na njegovom pogrebu tiho plače, žena je kurva kad na njegovom pogrebu ne plače, on je umro zato što mu je žena kurva.

Žena je kurva ako joj je mala plaća, samo kurvetine dobro zarađuju. Sve su pjevačice kurve, i glumice, i TV voditeljice, i novinarke, i političarke, i spisateljice. Da nisu kurve, ne bi se za njih znalo. Ako se žena bavi sportom, kurva je kad ne sruši svjetski rekord. Kad žena sruši svjetski rekord, kurva je željna slave i slikanja.

Žena je kurva kad je on ostavi zbog mlađe kurve, žena je kurva kad ostavljena nađe nekog mlađeg, kad nađe nekog starijeg, kad nađe nekog svojih godina, kad nikoga ne nađe.

Žena je kurva ako je liječnica, a htjela bi biti šefica odjela. Žena je kurva kad je novinarka, a htjela bi biti urednica.

Žena je kurva kad rodi žensko dijete koje je tek rođena kurva.

Žena je kurva kad je mama, a više ne želi biti mama. Žena je kurva kad nije mama i ne želi biti mama. Žena je kurva kad je mama pa opet hoće biti mama. Žena je kurva kad je mama a htjela bi otići u kino, kazalište, na kavu. Najveće kurve ne mogu roditi čak ni kurvu.

Žena je kurva ako na televiziji radije gleda film nego nogomet, žena je kurva kad govori dok Hrvatska na terenu gubi, žena je kurva kad se ne veseli, a mi smo dali gol, žena je kurva kad se smije, a mi nismo dali gol.

Žena je kurva kad mu ne kaže da mora popiti antibiotik, žena je kurva kad mu kaže da previše pije, da ona nije kurva, on ne bi pio.

Žena je kurva kad djeca u školi imaju jedinice i neopravdane satove, žena je kurva kad ne ode na roditeljski sastanak na koji ih je pozvala kurva. Žena je kurva ako se za njega ne dotjeruje, žena koja se dotjeruje nafrakana je kurva. Žene se slikaju gole jer su kurve, žene koje se ne slikaju gole ružne su kurve.

Žena je kurva ako pije pelinkovac s limunom i ledom, žena je kurva ako pije vino, pivo, viski, rakiju. Žena koja nikad ne pije alkohol kurva je koja se preserava.

Sve one iza kase u marketima lijene su kurve, tete u vrtiću lijene su kurve, one u bankama lijene su kurve, medicinske sestre lijeno vade krv iz žile, stara majka već mjesecima umire, nikako da umre, živimo u svijetu kojim vladaju lijene kurve.

Žena je kurva ako ne osjeti da je on umoran nakon posla, žena je kurva kad je umorna nakon posla, žena je kurva kad ne da pičke, prava je kurvetina kad je nudi. Žena je kurva kad ju muškarac uhvati za guzicu, u autobusu, vlaku, na poslu, u tramvaju, na plesu. Samo kurve svijetom hodaju noseći guzicu.

Žena je kurva kad je stara. Svaka je žena stara kurva kad navrši tridesetu. Uvijek treba naglasiti, sve su žene kurve.

Autorica ovoga teksta kurva je nad kurvama, samo takvoj kurvi može pasti na pamet pisati o tome kad je žena kurva. U Hrvatskoj barem jedna kurva mjesečno plati životom zato što je kurva.

 Kad žena prestaje biti kurva?
 Kad umre?
Kad žena umre ne prestaje biti kurva.
Ona postaje mrtva kurva.

Vedrana Rudan

Continuing the series of city-inspired vocab lists, I made the Serbian one based on @polskieserce ‘s Krakow inspired and @smetanovarevoluce ‘s Prague and Bratislava inspired lists

Београд (Beograd) m - Belgrade
Град (grad) m  - city
Главни град / престоница (glavni grad m / prestonica f)  - capital city
Београђанин  (Beograđanin) m - Belgradian (noun)
Београђанка (Beograđanka) - Belgradian (noun)

Улица (ulica) f - street
Главна улица (glavna ulica) f - main street
Река (reka) f - river
Дунав (Dunav) m - Danube
Сава (Sava) f - Sava
Ушће (ušće) n - confluence
Тврђава (tvrđava) f - fortress

Музеј (muzej) m - museum
Црква (crkva) f - church
Храм (hram) m - temple
Књижара (knjižara) f - bookstore
Ресторан (restoran) m - restaurant
Бар (bar) m - bar
Продавница (prodavnica) f - shop
Кафић (kafić) m - cafe
Кафа (kafa) f - coffee
Топла чоколада (topla čokolada) f - hot chocolade
Чај (čaj) m - tea
Библиотека (biblioteka) f - library

Зграда (zgrada) f - building
Трг (trg) m - square
Мост (most) m - bridge
Споменик (spomenik) m - monument

Архитектура (arhitektura) f - architecture
Култура (kultura) f - culture
Уметност (umetnost) f - art

Аеродром (aerodrom) m - airport
Станица (stanica) f - station
Аутобуска станица (autobuska stanica) f - bus station
Железничка станица (železnička stanica) f - railway station
Градски превоз (gradski prevoz) m - public transport
Аутобус (autobus) m - bus
Трамвај (tramvaj) m - tram
Тролејбус (trolejbus) m - trolleybus
Саобраћај (saobraćaj) m - traffic
Тротоар (trotoar) m - pavement
Пешак (pešak) m - pedestrian
Пешачка зона (pešačka zona) f - pedestrian zone
Пешачки прелаз (pešački prelaz) m - crosswalk

Кнез Михаилова (Knez Mihailova) f - Knez Mihailova Street
Трг републике (Trg republike) m - Republic Square
Славија (Slavija) f - Slavija Square
Калемегданска тврђава (Kalemegdanska tvrđava) f - Kalemegdan Fortress
Бранков мост (Brankov most) m - Branko’s Bridge
Храм Светог Саве (Hram Svetog Save) m - Church of Saint Sava (literal translation is The Temple of Saint Sava, but as far as I know it’s always translated as ‘’church’‘)
Црква Светог Марка (Crkva Svetog Marka) f - Saint Mark’s Church
Народни музеј (Narodni muzej) m - National Museum
Народно позориште (Narodno pozorište) n - National Theatre                                                                             

Kita bisa bekerja di tempat yang keren, bisa jalan-jalan dibiayai dari kantor, bisa tau tempat-tempat yang bagus, bisa makan di restoran mahal, bisa belanja barang-barang merk terkenal dan segala kemudahan hidup yang kita dapatkan sekarang adalah tak luput dari upaya orang tua kita.

Maka jangan sampai malu dengan mereka, jika pekerjaan mereka barangkali tak sekeren pekerjaanmu. Jangan lupa membelikan oleh-oleh sepulang kamu bepergian. Jangan lupa membawakan makanan untuk mereka saat kamu bisa menghabiskan waktumu bersama teman-temanmu makan di luar sana. Ringankan beban keduanya meski tak pernah meminta bantuanmu. Luangkanlah waktumu untuk mendengarkan ceritanya, sekalipun ceritanya di ulang-ulang atau sekalipun sebenarnya kamu sudah lelah dengan pekerjaan yang menyita waktumu.

Ada perhatian-perhatian sederhana yang sebenarnya bisa menjadi jalan bakti kita pada orang tua, tapi seringnya kita lupa dan lebih sering memikirkan kesenangan diri sendiri.

Kita Bukan Orang Kaya, Terus Kenapa?

Sebagai anak yang terlahir dari keluarga dengan tingkat ekonomi biasa-biasa saja, waktu kecil dulu saya pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang kaya: mungkin hidupnya sangat bahagia, mainan apapun bisa dibeli, liburan kemanapun bisa dilakoni, dan apapun yang menjadi keinginan pasti akan terpenuhi. Entahlah, persepsi itu mungkin hadir dari kisah-kisah orang kaya dalam cerita atau film yang saya tonton dari sebuah TV tua milik keluarga. Saat itu, dalam pandangan saya yang sempit, saya selalu menyandingkan kata kaya dengan kepemilikan harta dan benda, sehingga saya menganggap bahwa orang kaya adalah ia yang memiliki banyak uang, kendaraan, rumah bertingkat, dan baju-baju mewah yang tentunya tak sama dengan apa yang saya punya-yang hanya berasal dari pasar yang letaknya di pinggiran kota.

Singkat cerita, masa-masa remaja mengantarkan saya pada satu takdir dimana saya bisa mencicipi hidup berkecukupan. Di sebuah tempat dimana saya tinggal jauh dari orangtua, saat itu saya merasa kehidupan saya begitu berbalik. Tiba-tiba saja saya tinggal di rumah mewah, pergi ke sekolah dengan diantar-jemput mobil dan seorang supir, makan makanan yang entah bagaimana saya perlu menjelaskan rasanya, selalu ada anggaran untuk membeli buku atau jajan, dan bahkan liburan mahal sekali pun adalah sesuatu yang mudah kala itu. Hmm, ternyata begini rasanya jadi orang kaya! Tapi ternyata, semua itu tidak lantas membuat saya bahagia, dan bahkan mengantarkan saya untuk mengalami pergolakan hidup yang entah bagaimana saya perlu menceritakannya. Intinya, takdir tersebut membuat saya belajar memahami bahwa kebahagiaan sama sekali tidak pernah terletak pada kekayaan, harta, maupun benda.

Banyak hal pernah terjadi dalam hidup saya. Dari tinggal di kawasan elite sampai di kampung. Dari naik mobil mewah sampai jalan kaki. Dari makan di restoran bintang lima sampai hanya bertabur garam. Dari selalu punya uang sampai dompet tak berisi apa-apa. Begitulah, hidup memang berganti-ganti cerita, tentunya supaya kita bisa mengambil makna. Dari situ saya menjadi paham, bahwa ketenangan dan kebahagiaan hidup hadir dari kesederhanaan, bukan dari mengada-adakan sesuatu yang mewah dalam pandangan orang. Alhamdulillah, Tabaarakallahu, saya merasa lebih bahagia hidup dalam kesederhanaan. Saya jadi paham mengapa sederhana adalah kata yang begitu melekat dalam sikap hidup ayah, sebab ternyata ini begitu menenangkan!

Dulu saya pernah malu bergaul dengan orang kaya, tapi, sejak saya memahami bahwa harta bukanlah segala-galanya, saya merasa semua orang, baik kaya ataupun miskin, sama-sama bisa menjadi teman tanpa harus memandang apa yang mereka punya. Dulu saya pernah minder dengan teman-teman yang hidupnya berada, tapi, sejak saya memahami bahwa tak ada yang benar-benar dimiliki oleh manusia di dunia, saya merasa lebih bebas bergaul dengan siapa saja tanpa harus malu atau merasa rendah diri seperti sebelumnya.

Sahabatku, jika kita memang bukan orang kaya, terus kenapa? Apa yang salah jika kita memang tidak menyandarkan hidup pada harta? Ah harta, bukankah kemuliaan manusia sejatinya memang tak pernah terletak disana?

Tadi pagi, saya berdiskusi dengan seorang senior yang saat ini semakin sering mendapat undangan untuk mengisi berbagai acara, yang kalau saja ia mau, sebenarnya ia bisa saja menabung harta dari hal itu, tapi ia tidak melakukannya. Tanpa diduga, sambil bercanda ia menyampaikan sebuah kalimat yang, sejujurnya lucu bagi saya, tapi memang benar adanya,

“Kalem we euy, emangna rek kamana sih meuni rarusuh pisan ngumpulkeun harta? Harta mah moal dibabawa ka akherat. (Tenang aja, memangnya mau kemana sih buru-buru banget ngumpulin harta? Harta kan engga akan dibawa ke akhirat).”

Hmm, saya sepenuhnya sepakat! Dalam menjalani kehidupan ini, kita memang sudah selayaknya bijak memaknai harta. Buat apa dikumpulkan sampai menggunung jika itu hanya untuk membuat orang lain menyadari eksistensi kita? Buat apa dicari terus sampai ke puncak lelah jika itu hanya untuk kepuasan pribadi? Buat apa dibangga-banggakan, disombongkan, dielu-elukan kepada orang lain, padahal semuanya sementara? Kalau kita memang bukan orang kaya yang memiliki banyak harta, memangnya mengapa?

Selamat berdialog dengan hati, selamat memaknai bahwa iman adalah sebaik-baik harta. Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami bahwa kemuliaan seorang manusia memang tidak pernah terletak pada harta, tapi terletak pada taqwa yang semoga kita memang sedang berupaya memperjuangkannya. Baarakallahu fiikum!

Kisah Inspiratif

Diambil dr catatan Hudzaifah bin Dr.Taufiq Ridho,

DZAIF-

Aku diperjalanan pulang menuju Berlin selepas mengisi pengajian di kota Köthen, kota kecil di Negara bagian Sachsen Anhalt. 2,5 jam perjalanan dari Berlin menggunakan kereta. Aku rutin 2 minggu sekali mengisi pengajian mahasiswa Indonesia di kota itu. banyak mahasiswa Indonesa yang mengambil Studienkolleg atau penyerataan di kota itu. Di Jerman, orang Luar Negri wajib mengikuti Studienkolleg selama satu tahun sebelum kuliah Bachelor.

Biasanya kota Köthen hanyalah tempat transit sebelum melanjutkan kuliah di Kota besar. Dahulu, akupun menyelesaikan Studienkolleg di kota itu. dan sekarang aku diminta untuk rutin mengisi pengajian di kota itu. walaupun lelah dan mengorbankan banyak hal, tapi aku berharap hal ini menjadi sebuah amal kebaikan untukku.

Bukan hanya aku yang dikirim keluar kota, ada beberapa temanku juga di kirim untuk mengisi pengajian atau membina mahasiswa-mahasiswa baru di kota kota lain, seperti Leipzig, zittau, Wismar dan lainnya. Kami Berharap mahasiswa itu dapat berislam secara lebih baik lagi dengan hadirnya kami disana. Karena agak sedikit miris memang keadaan umat Muslim Indonesia sekarang. Baca Quran yang sebenarnya krbutuhan primer, tapi mereka tidak dapat menguasainya. Atau shalat yang sering dilalaikan, adanya kami disana adalah untuk mengingatkan akan kepentingan berislam dengan baik dan benar, Karena kunci menuju ke kehidupan abadi yang menyenangkan adalah keislaman yang sesungguhnya.

Di kereta, aku duduk di sebelah orang mabuk. Pakaiannya rapi, dia tertidur dengan wajah yang merah. Malam sabtu atau minggu memang budaya orang jerman untuk berpesta sampai pagi buta. Kebetulan aku baru selesai mengisi pengajian pukul 22.00, lalu menggunakan kereta pukul 23.00 untuk pulang ke berlin. Sampai di berlin sudah pagi atau dini hari.

Si penumpang mabuk itu terbangun, dia Nampak terkaget. Sepertinya dia bablas. Dia lalu bergegas turun di stasiun pemberhentian berikutnya, di Ostbahnhof. Sejenak kemudian Dia turun, lalu pintu kereta kembali tertutup. Tempat tinggalku masi beberapa stasiun lagi dari Ostbahnhof.

Aku sesekali melihat sekeliling, kosong, tidak ada siapapun. Aku memejamkan mata, mengucapkan syukur kepada Allah. Aku mebuka mata dan melihat ke kursi si penumpang mabuk tadi, “MasyaAllah” gumamku. Si penumpang mabuk menjatuhkan dompetnya. Aku langsung memungutnya dengan niat untuk memberikan ke pihak berwenang. Kulihat isi dompetnya, ada uang 100 euro dan 50 euro, serta kartu ATM dan kartu Kredit lalu juga ada kartu nama. Tertera disitu nama Philip Gander, juga tertera nomer teleponnya.

“Ada nomer teleponnya, hmm, aku serahkan saja besok langsung kepadanya” pikirku dalam hati, aku berniat mengembalikannya langsung. Tidak menyerahkan ke pihak stasiun. Kebetulan, besok aku akan jalan-jalan bersama adikku yang sedang liburan ke Berlin. Adiku kuliah di Hannover, dan sering berkunjung ke berlin, atau sebaliknya, aku yang berkunjung ke Hannover. Aku segera mengirim pesan kepada adikku

“Shofi, sebelum kita jalan-jalan, tolong belikan makanan Indonesia, nasi goreng atau rendang ya, di restoran Nusantara, di bungkus. Danke shof ” pesan ku kirimkan.

-DZAIF-

“Halo, guten Morgen. Sind Sie herr Philip” tanyaku di telepon

“Halo, Morgen. Ja bin ich Philip, Wer?” suara di telepon menjawab.

“Ich bin Mush’ab, ich habe Ihr Portemonnaie gefunden. An der S-bahn” aku menjelaskan bahwa aku telah menemukan dompetnya di S-Bahn atau semacam Kommuterline di Jakarta.

“Ah jaa, pantas saja, aku mencarinya dimana-mana, tapi tidak ketemu. Terimakasih. Kapan aku bisa mengambilnya?” tanyanya dalam bahasa jerman.

“hari ini anda bisa mengambilnya. Bagaimana jika kita bertemu pukul 12.00 di Hauptbahnhof?” tanyaku

“Okke, kein Problem. Hari ini pukul 12.00 di Hauptbahnhof. Terimakasih banyak ya. Sampai jumpa nanti, tschüss”

“Okke. Sampai nanti. Tschüss” hubungan telepon terputus. Segera kutelepon adikku.

“assalamualaykum shofi, kamu dimana? Sudah beli pesanan abang belum?” tanyaku langsung

“waalaykum salam bang. Sudah nih. Lagi menuju ke Hauptbahnhof” jawab adikku

“okke deh, abang 10 menit lagi sampai di Hauptbahnhof. Sampai ketemu InsyaAllah. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

aku membungkus dompet menjadi kado, ku isi dengan minuman jahe seduh dua bungkus dan kacang garuda yang biasa kubeli di toko Indonesia di Berlin. Semoga herr Philip senang menerimanya. Semoga ini bisa menjadi kebaikan untuk dimasa yang akan datang.

-DZAIF-

aku dan adikku telah sampai di Hauptbahnhof. Bangunan super megah yang dimiliki stasiun utama kota berlin ini menyihirku. Bangunan yang sungguh Modern, bertingkat-tingkat hingga kebawah tanah. Arsitektur yang modern dengan dilapisi kaca transparan. Hauptbahnhof berlin memang di bangun baru-baru ini, ketika Jerman menjadi tuan rumah piala dunia 2006. Oleh karena itu, bangunannya berbeda dengan bangunan stasiun lainnya yang lebih klasik.

Teleponku berbunyi, aku langsung mengangkatnya.

“Halo, wo sind Sie?” Tanya suara di seberang telepon.

“Halo, aku di depan Kaisers herr Philip, memakai mantel abu abu, wajahku asia, aku orang Indosesia” jawabku

“Ah oke, aku melihatmu. Aku menuju kesana”

“baik herr Philip” telepon ditutup.

Dari kejauhan terlihat orang Jerman mengenakan mantel hitam, dengan kaca mata dan sepatu pantopel. Sangat rapi dan Elegan. Dia mendatangi kami. Tapi ada yang janggal, mukanya seperti tidak senang saat dia melihat aku bersama adikku. Adikku memang mengenakan Jilbab yang agak lebar, mungkin itu yang membuat dia tidak senang. Di Eropa sedang muncul isu yang tidak enak tentang Islam. Kejadian pembunuhan wartawan yang sering membuat karikatur nabi Muhammad oleh seorang oknum kembali mencoreng nama Islam. Aku sebenarnya tidak menyalahkan aksi itu sepenuhnya, tapi dampak yang orang Islam di Eropa rasakan sangat terasa. Media mainstream yang menjadi konsumsi sehari-hari warga eropa, beramai-ramai memberitakan hal yang buruk tentang Islam. Padahal, Ulama Eropa termasuk di dalamnya, yang paling vocal Prof.DR.Thariq Ramadhan, cucu dari Hasan Al Banna mengutuk hal tersebut. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Kejadian itu telah terjadi. Islamphobia mungkin akan kembali terangkat di Eropa. Aku berlindung kepada Allah dari segala Ujian.

Muka orang jerman itu semakin masam.

“Mana Dompetku?” dia bertanya agak kasar.

“Ah, herr Philip. Silahkan ambil. Ini dompet anda” aku tersenyum dan langsung memberikannya sebuah kado yang berisi dompetnya. Tanpa basa basi, karena keadaan yang memang tidak memungkinkan untuk itu. terlihat sekali kebencian diwajah herr Philip.

“Apa ini?” Herr Philip menggeretak.

“Silahkan di buka herr Philip, didalam kado itu ada dompet anda.” aku kembali tersenyum. Dia segera membuka kado yang kuberikan, dan mukanya agak sedikit lega ketika dia mendapati dompetnya berada didalam. Dia mengecek isi dompetnya berulang kali.

“Apa ini?” dia bertanya tentang Minuman jahe yang kuselipkan.

“Itu minuman Jahe khas Indonesia herr Philip. Di seduh dengan air hangat. Khasiatnya dapat menghangatkan tubuh di musim dingin. Itu hadiah untukmu, dan juga ada kacang garuda, ini sangat nikmat herr Philip. Aku biasa memakannya sebagai cemilan. Dan satu lagi, ini ada makanan khas Indonesia yang barusan kami beli dari restoran Nusantara, restoran khas Indonesia yang berada di Berlin. Namanya Rendang, di suatu Forum Internet, rendang ini adalah salah satu makanan paling enak di Dunia.” Aku tersenyum menjelaskan. Tapi tiba tiba wajah Herr Philipp berubah.

“NEIIIINNN!!!!” dia berteriak nein berulang ulang. Cukup keras.

“Ada apa herr Philip” aku bertanya kaget, bahkan sangat kaget. Herr Philipp seperti orang gila pada saat itu, dia tiba-tiba berteriak.

“Nein. Nein. Aku tidak percaya ini” Herr Philip terus berteriak nein.

“Tolong jelaskan Herr Philip.” Aku dan adikku panik melihat kelakuan Herr Philip yang berubah.

“kalian Muslim, tidak seperti yang diberitakan oleh media. Kalian bukan terrorist, mana mungkin terrorist sebaik ini. Tidak mungkin. Aku tidak percaya ini. Sungguh tidak percaya. Di dalam pikiranku, semua muslim adalah jahat. Adalah biadab! Mereka radikal dan cinta kekerasan. Tapi setelah melihat kalian, tidak mungkin. Aku tidak percaya. Kalian sungguh baik. Aku yang kehilangan dompet, tapi kalian yang memberi hadiah untukku. Unmöglich.” Terlihat mata herr Philip berkaca kaca. Adikku bahkan sampai menitikan air mata. Hatiku pun haru, gerimis akan luapan perasaan. Hal kecil seperti ini dapat erubah persepsi dia sampai 180 drajat.

“Islam tidak seperti itu herr Philip” aku menjelaskan tentang Islam yang damai, islam yang menentramkan.bahwa Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang tanpa kekerasan. Hari itu kami banyak berbincang tentang keislaman. Panjang lebar kami berbincang pada hari itu. adikkupun menjelaskan tentang jilbab dan gunanya untuk wanita. Alasan-alasan yang cukup logis kami terangkan kepadanya. Cukup banyak pertanyaan yang sulit yang diajukan oleh herr Philipp, tapi Alhamdulillah kami dapat menjawabnya dengan baik.

Setelah kejadian itu, aku sering bertemu dengan Herr Philip. Dia adalah seorang Pengacara yang hebat. Aku menjelaskan tentang Islam yang sesungguhnya. Islam yang Indah dan Anggun, lalu mengenalkannya kepada seorang Ustadz di salah satu Mesjid di Berlin, agar dia lebih dapat mendalami Islam. Hingga Akhirnya, Allahu akbar, dengan kuasa Allah, Hidayah telah sampai kepadanya. Allahu Akbar!!!

-DZAIF-

Aku ingin menjadi Diplomat Islam sejati seperti Mush’ab bin Umair, seperti Said Ramadhan, seperti Youssef Nada, seperti Ustadz Mata, dan juga seperti Ayahku. Cita cita ini tersalurkan dari darah Ayahku, aku beruntung di lahirkan dalam Rahim Tarbiyyah Islam. Inilah aku, si Anak Singa. Anak dari Ayahku, anak dari ibuku yang bergelut dijalan terbaik.

*“JALAN PARA DIPLOMAT ISLAM, JALAN PARA PEJUANG!!”*