rakaat

Assalamualaikum..
Formula menjemput Rezeki:

1. DHUHA. Jika kita selalu buat 2 Rakaat, sekarang ubah lebih rakaat. Makin lama makin meningkat.
Selepas Solat Dhuha kita perlu baca surah Al-Waqiah. Waktu DHUHA rasakan getaran kita untuk menjadi apa, contohnya jika ingin jadi JUTAWAN. Doalah jadi JUTAWAN BERKAT..

2. TAHAJJUD. Bangunlah menunaikan solat ini setiap malam. Tambahkan juga bilangan rakaat tahajjud ni. Muhasabah diri dan mintalah pertolongan Allah sebulat-bulatnya..

3. AL QURAN. Bangun pagi jangan buka hp atau rancang nak buat apa2 dulu, mandi dan ambil wudhuk terus baca Al-Quran & terjemahan walaupun 1 ayat..

4. ZIKIR - Ya Wahhab 40,000 kali setiap hari selama 7 hari. Jika tiada perubahan buatlah sehingga 40 hari..

5. SOLAT BERJEMAAH, terutama lelaki. Orang lelaki juga diminta telefon ibu 1 hari 5 kali atau lebih..

6. SILATURRAHIM. Jangan memecahkan silaturrahim. Maafkan mereka yang pernah sakiti kita dengan hati yang yang lapang dan tenang..

7. BERSEDEKAH. Sedekah punyai satu power yang luar biasa. Allah gandakan 10 & boleh digandakan lagi 700 kali..

8. SOLAT AWAL WAKTUSolatlah di awal waktu. Jika tgh susun 40 batu, tiba ke batu yang ke 39 azan berkemandang, sambunglah batu terakhir selepas solat..

9. BERGANTUNG PENUH DENGAN ALLAH. Jangan mengharapkan manusia di luar sana..

10. TAWAKAL DAN USAHA. Minta sepenuh hati kepada Allah, baru usaha.

4 amalan surah setiap hari.
● Surah Yaasin- Setiap solat fardhu
● Surah Al-Waqiah-Waktu Dhuha
● Surah Ar-Rahman- Waktu Asar
● Surah Al-Mulk - Sebelum tidur

Lain-lain:
1. Minumlah air masak 3 liter sehari.

2. Jika yang perempuan mulalah pakai stokin. Sebab penyakit bermula dari kaki.

BILA SEMUA AMALAN TELAH DIBUAT, SEGALANYA AKAN BERUBAH..

Wallaahua'lam..

#sharingiscaring

💌 Tertipu Waktu 💌

Waktu berlalu begitu halus menipu. Tadi pagi belum sempat dzikir pagi tau-tau sudah menjelang siang. Belum sempat sedekah pagi matahari sudah meninggi.

Rencananya jam 9.00 mau shalat Dhuha, tiba-tiba adzan Dzuhur sudah terdengar. Pengennya sih setiap pagi menghabiskan baca 1 juz Al-Qur'an, menambah hafalan satu hari satu ayat… Tapi ya itu, “pengennya itu” sudah setahun yang lalu dan kebiasaan itu belum terlaksana.

Ada sebenarnya komitmen diri, tidaklah berlalu malam kecuali dengan tahajud dan witir, sekalipun hanya 3 rakaat singkat saja. Dan komitmen itu belum dilaksanakan sejak 2 tahun lewat.

Dulu juga pernah terpikir punya anak asuh, entah yatim apa miskin yang di santuni tiap bulannya. Ya karena kesibukan lupa merealisasikannya, dan itu sudah berlangsung sekitar 3 tahunan yang lalu.

Akan terus beginikah nasib “hidup” kita menghabis-habiskan umur?!

Berhura-hura dengan usia?! Tiba-tiba masuklah usia di angka 30 sebentar kemudian 40 tahun. Tak lama terasa kemudian orang memanggil kita dengan sebutan “Kek… Nek…” pertanda kita sudah tua.

Uban yang mulai menghias kepala, keriput yang menghias kulit, tenaga yang tidak lagi seberapa. Menunggu ajal tiba Sejenak mengintip catatan amal yang kita ingat pernah berbuat apa.

Astaghfirullah Tak seberapa, sedekah dan wakaf juga sekedarnya .

Jika demikian Apakah ruh tidak melolong menjerit saat harus berpisah dari tubuh…?! Tambahkan usiaku ya Allah! Aku butuh waktu untuk beramal dan berbekal.

Belum cukupkah menyia-nyiakan waktu selama 30, 40, 50 atau 60 tahun ? Butuh berapa tahun lagi untuk mengulang pagi, sore, hari, minggu, bulan, dan tahun yang sama, tanpa pernah merasa kehilangan kesempatan untuk menghasilkan pahala di setiap detiknya. Tidak akan pernah cukup 1000 tahun bagi yang terlena…

Astaghfirullah. .

(Alhikmahjkt)

Tambahlah bilangan rakaat sholat sunatmu sampai engkau merasa cukup dengan kekuatan koneksi kepada Allah untuk menjagamu sampai waktu sholat berikutnya.
—  notetoself
Studying Tafsir Ibn Kathir

Extract from a letter from Shaykh Ali At-Tamimi to a brother of mine:

My advice is that you make this book (Tafsir Ibn Kathir) your Imam and follow it. Read it from cover to cover and when you have finished, begin anew. Even if it takes you a few years to finish it, you will find it the best and most enjoyable source for learning. That is because Islam is from the Qur’an first and foremost and Ibn Kathir’s tafsir is one of the best commentaries of the Qur’an. My other suggestion is that you keep a small notebook with you. Whenever you come across something which you sense you would like more explanation regarding it, then make a note of it from the passage in Tafsir Ibn Kathir. That way you can ask your questions to any knowledgeable person you come across. Before starting your study of the tafsir, pray two rakaats and ask Allāh to give you ikhlas (sincerity of the intention in your studies) and the strength to complete your studies. Do not feel overwhelmed by the large size of the book and its many volumes. You will - insha’Allāh - find it easier to swallow than a cold glass of water on a hot Florida day. For Allāh says, 

And certainly We have made easy the Qur’an for remembrance, so is (there) any who will receive admonition? [54:17]

2nd Ramadan 1429 AH

Allah menjadikan pagi waktu yang sangat mulia, mulai dari sepertiga malam terakhir sampai sepenggalan siang. tahajud yang seperti anak panah yang tak pernah meleset, dhuha yang menghimpun rezeki dari segala penjuru, dan dua rakaat sebelum shubuh yang lebih baik daripada semesta beserta isinya.
—  kau telah tidur beribu pagi. apalah arti satu pagi. bangunlah pagi.
DIALOG ALLAH DENGAN HAMBANYA

Allah : “Hambaku, bangunlah ! Lakukan Shalat Malam 11 Rakaat !”
Hamba : “Illahi, aku lelah, tidak sanggup rasanya.”
Allah : “Hambaku, lakukan 2 rakaat saja dan 1 rakaat witir saja!”
Hamba : “Illahi, aku lelah dan rasanya sulit bagiku untuk bangun di tengah malam.”
Allah : “Hambaku shalat witir saja..”
Hamba : “Illahi, hari ini capek sekali, apa tidak ada cara lain ?”
Allah : “Hambaku, Wudhulah sebelum tidur lalu menatap ke langit katakan Ya, Allah……”
Hamba : “Illahi, aku sudah ngantuk kalau aku bangun nanti ngantuknya hilang.”
Allah : “hambaku, tayammum saja di tempat tidur mu dan katakan Ya, Allah…..”
Hamba : “Illahi, udara terasa dingin sekali, aku tak sanggup mengeluarkan tanganku dari dalam selimut.”
Allah : “Hambaku, kalau begitu sebut saja dalam hati ya Allah dan akan kami hitung itu sebagai Shalat malam.”
Sampai disini si hamba sudah tidak peduli karena tertidur pulas.
Allah : “Lihatlah wahai Malaikatku, bagaimana telah aku mudahkan semua baginya, akan tetapi dia pergi dariku dan tidur tanpa meninggalkan apapun..!
Bila datang waktu Subuh bangunkan dia agar dia bermunajat padaku, Karena aku merindukan suaranya.”
Malaikat : “Ya Illahi, telah kami bangunkan dia tapi dia kembali tidur.”
Allah : “Bisikkan di telinganya bahwa aku menantinya.”
Malaikat : “Illahi, dia tetap tidur.”
Allah : “ katakan, sudah azan sebentar lagi matahari terbit. Bangunlah sebelum habis waktu subuh.”
Malaikat : “Illahi, apa Engkau tidak ingin marah padanya ?”
Allah : “Hambaku tidak memiliki siapapun selain Aku, semoga suatu saat dia bertobat., ketika engkau Shalat aku menyimak dan memandangmu, seakan aku tidak memiliki hamba selainmu…
Namun engkau lalai seakan kau memiliki ratusan Tuhan..”
Betapa Penyayangnya Engkau Ya Roob….
Betapa Pengampunnya Engkau Ya Allah….
Betapa Agungnya Engkau Ya Ilahi….
Ampuni kami hambaMu yang lemah ini.
(Penjabaran dari QS. Al- Muzzamil ayat 1-7 ).


Sumber: Group WA

Beberapa hari ini Jakarta lagi sering hujan, kamar tiris pisan, rasanya tiap di kamar selalu dipanggil-panggil sama kasur dan selimut :D

Perihal Perindu Itu, Kau Harusnya Tahu

Lama kita tak bertatap muka
Aku ingin bercerita, bercerita perihal apa saja
Seperti dulu saat kau dan aku satu
Namun kali ini aku ingin bercerita perihal perindu,

Tahukah kau?
Ada seorang yang bila ia rindu kau, ia melalukan hal-hal yang lebih manis dari sajak-sajak romantis
Ia lakukan itu untukmu, hanya untukmu

Ada seorang yang bila ia rindu kau,
Ia gelar sajadahnya
Ia mengerjakan 2 rakaat sunah yang diperintahkan-Nya
Lalu diakhir sujudnya, ia berdoa agar kau baik-baik saja

Ada seorang yang bila ia rindu kau,
Akan berdoa lebih lama dari biasanya
Ia pinta pada Tuhan agar apa yang menjadi segala urusanmu dimudahkan
Ia pinta pada Tuhan agar segala upayamu untuk membuat Ibu bahagia dimudahkan
Ia pinta pada Tuhan agar apa yang menjadi beban, kegelisahaan, juga penderitaanmu dihilangkan

Ada seorang yang bila ia rindu kau,
Ia sengaja bangun disepertiga malam, tak memejam hingga pagi menjelang
Sepertiga malam terakhir waktu dimana Tuhan begitu dekat dengan hamba-Nya
Waktu dimana Tuhan janjikan akan terkabul segala doa

Maka,
Segera saja ia membuka paksa mata
Meski baru sesaat saja matanya memejam
Seringkali ia lupakan bahwa ia butuh tidur lebih lama

Lalu ia mendoa, mendoakanmu perihal apa saja
Kau ingin tahu? Mari kuberi tahu salahsatu dari banyaknya doa yang ia pinta
: Ia pinta pada Tuhan agar apa yang menjadi impianmu diwujudkan

Ada seorang yang bila ia rindu kau,
Ia pejamkan matanya
Ia dekap erat Al-qur'an nya
Lalu berkali-kali ia ingat janji Tuhan
Bahwa tulang rusuk takkan pernah tertukar bukan

Kau tahu? Setiap hari ia menjadi perindu; perindumu
Kau tahu, perindu itu; Aku!

Kucari Kau Dalam Setiap Doaku

Kau pernah pergi
Lama sekali
Sampai aku lupa akan rasa percaya
Apakah kau akan kembali lagi?

Kucari kau dalam setiap doaku
Berharap Tuhan menjawabnya segera
Dengan memberi rasa percaya
Keyakinanku atasmu, seharusnya cukup membuatku menunggu

Kucari kau dalam setiap doaku
Dalam sujud di rakaat terakhir
Ataupun lafadz-lafadz yang kuucap dengan penuh getir

Kucari kau dalam setiap doaku
Berhadap semoga muncul sosokku
Walau hanya sekelebat dalam kepalamu

Kucari kau dalam setiap doaku
Yang ternyata belum terjawab sampai tiba lelahku.

Medan, 21 September 2015

- Tia Setiawati

Kita mengetahui, tapi sayang kita tidak mengamalkannya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengisahkan:
“Seorang anak perempuan meninggal karena Thoun, kemudian ayahnya melihatnya di dalam mimpi, maka ayahnya berkata kepadanya: "Wahai anakku kabarkan kepadaku tentang akhirat!”

Anak perempuan itu menjawab: “Kami telah melewati perkara yang sangat besar, dan sesungguhnya kita telah mengetahui, tapi kita tidak mengamalkannya. Demi Allah, sesungguhnya satu ucapan tasbih atau satu rakaat sholat yang tertulis dalam lembaran amalku lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya”..

Berkata Ibnul Qayyim: “Anak perempuan itu telah mengatakan perkataan yang dalam maknanya (sesungguhnya kami mengetahui, tapi kita tidak mengamalkan), akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahami maknanya..”

1. Kita mengetahui, bahwa ucapan سبحان الله وبحمده Subhanallahi wa bihamdihi sebanyak 100 kali akan menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang, berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun.

2. Kita mengetahui, bahwa pahala dua rakaat Dhuha setara dengan pahala 360 shodaqah, akan tetapi sayang, hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha.

3. Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tapi sayang, kita tidak mau menahan lapar.

4. Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya. Tapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun pekan ini.

5. Kita mengetahui, bahwa siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Tapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu.

6. Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur. Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang janda pun.

7. Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al Qur'an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al Qur'an dalam jadwal harian kita.

8. Kita mengetahui, bahwa haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tapi sayang, kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita mampu melaksanakannya.

9. Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yg paling mulia adalah yg yang paling banyak sholat malam, dan bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam.

10. Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu.

11. Kita sering menyaksikan orang orang yang meninggal mendahului kita, tetapi sayang, kita selalu larut dengan senda gurau dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya dan tidak akan akan menyusul mereka.

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.. Semoga kita segera merubah keadaan kita mulai detik ini, dan mempersiapkan datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi..

Hari dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia..

Hari ketika lisan kita dikunci, sedangkan mata, kaki, dan tangan kita yang menjadi saksi..

Dan pada hari itu, setiap orang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena pada hari itu setiap orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing :’>

Semangat setiap hari beribadah karena Allah. Setiap hari semakin berusaha dekat dekat pada Allah ya gaes. Kalau udah Allah yang dipikirin, dunia mah ngikut :’))))

Source : Grup Whatsapp Angkatan 2012

Ramadhan #3 : Salat dan Kepemimpinan

Tulisan ini adalah bagian dari proyek 30 Hari menulis selama bulan Ramadhan 1437 H. Tulisan ini dibuat oleh ©kurniawangunadi dan akan dimuat pada pukul 03.25 setiap hari sepanjang bulan ramadhan. Semoga tulisan ini bisa memberi banyak pemahaman baik.

Ketika berjamaah di mushala, saya terpikir sesuatu tepat ketika saya berdiri di belakang imam kemudian imam salah bacaan. Saya ingat beliau memakai surat Al A’la pada rakaat kedua. Pada ayat ke sekian beliau lupa kemudian diulang-ulang ayat sebelumnya, dalam shalat makmum terdekat wajib mengingatkan bukan?

Hal ini tiba-tiba menjadi dasar tulisan ini, betapa dalam agama Islam telah dicontohkan dengan amat sangat teramat jelas dan super baik tentang sebuah kepemimpinan, tidak hanya tentang pemimpin tapi juga yang dipimpin, lengkap dengan bagaimana menjalankan proses memimpin dan dipimpin tersebut. Semua contoh kepemimpinan itu terangkum begitu mendasar hanya dalam shalat berjamaah. Berikut hasil “kepikiran” saya tadi.

PERTAMA : Menentukan/Memilih Pemimpin

Dalam shalat berjamaah, harus ada satu imam, tidak boleh lebih, meskipun jumlah makmumnya satu milyar, imam nya hanya satu, pun jumlah makmumnya juga cuma satu. Imamnya juga harus satu. Dalam sebuah perjalanan, harus dipilih salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin bukan? Dalam shalat, imam haruslah seseorang yang memiliki bacaan Al Quran yang paling baik dan benar. Intinya secara sederhana, imam haruslah orang yang pandai dan cakap. Layaknya memilih imam Masjidil Haram mungkin.


Dalam sebuah masjid biasanya telah ditentukan imam masjid tersebut dan biasa dipilih karena ilmunya lebih baik daripada yang lain, sebab itu dia dipercaya menjadi imam. Sebab imamlah yang akan membawa makmum ke dalam shalat berjamaah yang sah.


Hebatnya, ketika kita dalam perjalanan kemudian masuk mushala lantas tidak satupun diantara yang dalam mushola itu kenal satu sama lain, kemudian hendak salat berjamaah. Salah satu dari mereka harus menjadi imam, padahal kita belum mengenal bagaimana bacaan Qurannya dan sebagainya. Mengenal orangnya saja tidak tapi kita ikhlas menjadi makmum. Seseorang memang harus ikhlas ketika memimpin juga ketika dipimpin bukan?

KEDUA : Menjadi yang Dipimpin

Dalam shalat, makmum wajib hukumnya mengikuti imam. Dan wajib pula hukumnya mengingatkan imam apabila terjadi kesalahan dalam shalatnya, baik salah bacaan maupun kurang hitungan rakaatnya. Kemudian di antara sekian makmum, kita diajarkan dalam shalat berjamaah, makmum yang tepat dibelakang imam adalah makmum yang memiliki bacaan quran sama baiknya dengan imam. Apabila imam batal ditengah-tengah salatnya maka makmum tepat yang dibelakang imamlah yang akan maju kemudian menggantikan imam. Bukan makmum dalam saf paling belakang yang menggantikan bukan?

Makmum yang dibelakang imam memang ditempatkan untuk keadaan-keadaan seperti itu, dalam jamaah sebuah masjid besar pun diposisikan demikian jika kita memperhatikan. Sebab makmum yang terdekat itu akan mengkoreksi bacaan shalat apabila ada yang salah.

Dalam sebuah keberjalanan sebuah kepemimpinan, apabila pemimpin harus mundur di tengah masa kepemimpinannnya,maka harus disiapkan orang yang cakap dan dipercaya untuk menggantikan posisi pemimpin tersebut, bukan secara asal-asalan. Agar pengganti tersebut mampu meneruskan “program kerja” yang telah dibuat oleh pemimpin sebelumnya dengan baik.

Tentu saja apabila seorang imam batal dalam shalat maghrib dan mundur, pengganti imamnya tidak mengubah shalat jamaahnya menjadi shalat isya bukan?

KETIGA : Mengingatkan Pemimpin

Subhanallah, dalam shalat berjamaah. Kita perhatikan ketika misal imam lupa pada bilangan rakaat, kurang satu dalam shalat isya misal. Pada rakaat ketiga imam justru duduk takhiyat akhir. Makmum serempak mengucapkan “Subhanallah” , lantas imam kembali berdiri untuk menggenapkan rakaat disertai makmum.

Dalam shalat berjamaah, kita diajarkan dalam mengingatkan pemimpin bukan dalam bentuk celaan ,tapi sebuah kalimat tasbih “subhanallah”. Cara mengingatkan yang begitu halus. Tidak pernah kita diajarkan untuk mencela pemimpin.

Lalu bagaimana jika imam percaya, bahwa bilangan rakaatnya telah tepat (meskipun pada kebenarannya kurang satu) dan imam tetap melanjutkan duduk takhiyat akhirnya tadi. Makmum wajib mengikuti bukan? Meski sudah diingatkan dengan kalimat pujian tadi, apabila Imam yakin dalam rakaatnya. Makmum diwajibkan tetap mengikuti imam, apabila tidak. Bubarlah shalat jamaah tersebut. Lantas barulah ketika shalat selesai, makmum menggenapkan rakaatnya kemudian selesai shalat mengingatkan kepada imam bahwa tadi rakaatnya kurang. (Mohon koreksinya bila ada kesalahan pemahaman saya terhadap bab Fiqih ini)

Dalam sebuah perjalanan tersebut tidak diadakan yang namanya “kudeta” dalam shalat berjamaah. Sebuah proses kepemimpinan harus dijalankan hingga selesai, barulah setelah selesai masa kepemimpinan tersebut. Apabila pemimpin memiliki kesalahan, yang dipimpin wajib hukumnya mengingatkan. Pun yang dipimpin tadi telah menunaikan apa-apa yang alfa dari pemimpin tersebut.

KEEMPAT : Semasa Kepemimpinan

Tidak pernah dalam sebuah shalat berjamaah ada makmum yang mengkudeta imam, imam akan mundur dengan sendirinya apabila selama keberjalanan shalat berjamaah ia gagal memenuhi syarat menjadi imam (misal batal karena kentut, dll). Imam dengan kesadaran dirinya harus mundur untuk digantikan kepemimpinannya oleh makmum yang cakap, yaitu yang tepat dibelakangnya. Jika imam meneruskan shalatnya dalam keadaan tidak suci tadi, maka ditanggunglah segala dosa dari semua makmumnya. Sebab jelas mungkin makmum tidak tahu jika sang imam telah batal salatnya.

Selama masa kepemimpinan, wajib bagi makmum untuk taat kepada imam, apakah imam tersebut lambat atau cepat dalam memimpin shalat. Makmum tidak dibenarkan untuk mendahului imam.

Kita juga tahu,dalam satu masjid tidak dibenarkan ada 2 barisan jamaah shalat, keduanya memiliki imam masing-masing. Jika ingin membentuk jamaah baru, pastikan shalat jamaah yang sebelumnya telah selesai. Kita tidak bisa dan tidak dibenarkan mendirikan negara baru didalam sebuah negara yang berdaulat bukan. Atau kita mendirikan organisasi baru dalam sebuah organisasi.

Tentu saja makmum yang kemudian masuk ke masjid, akan bingung dan bertanya, “Loh kok ada dua shalat berjamaah? Keduanya memiliki imam dan makmum, saya harus masuk jamaah yang mana?”


Itu baru sedikit yang saya ungkapkan, sejatinya panjang dan lebar. Tapi marilah kita sama-sama mengambil hikmah, pengajaran berharga terutama dari hal yang sederhana dan setiap hari kita lakukan, yaitu shalat. Utamanya, shalat berjamaah.

©kurniawangunadi

n.b : Tulisan ini ditulis di tumblr saya pada 17 Januari 2013, saya muat ulang karena masih relevan dengan situasi saat ini.

DIDIKAN IBU YANG MAMPU MENJADIKAN ANAK WALI ALLAH

Ketika Sh.Abdul Qadir Al-Jailani masih bayi , ibu beliau mendidiknya untuk berpuasa di bulan Ramadhan sehinggalah Sh.Abdul Qadir enggan menyusu badan ibunya disiang hari, beliau menyusu pada waktu malam sahaja.

Apabila Sh.Abdul Qadir telah mencapai usia dihantar ke madrasah.Ibunya menghantar ke rumah guru agama. Setiap kali pulang dari mengaji, beliau meminta ibunya makan,maka ibunya akan menyuruhnya solat 2 rakaat minta dari Allah. Ketika anaknya solat, ibunya akan menyediakan makanan dibawah tudung saji. Beginilah rutin Sh.Abdul Qadir setiap hari, setiap kali hendak makan akan solat 2 rakaat dan ibunya akan segera letakkan makanan dibawah tudung saji.

Sehingga tibalah suatu hari, Sh.Abdul Qadir pulang dan mendapati ibunya tiada dirumah. Seperti biasa, beliau solat 2 rakaat minta makanan dari Allah. Ibunya yang ketika itu masih dipasar baru teringat tentang anaknya dirumah. Beliau bergegas pulang dan mendapati anaknya sudah tidur.

Ibunya mengejutkannya untuk makan,
Sh.Abdul Qadir mengatakan dia sudah makan, ibunya kehairanan, apabila ditanya , beliau menjawab “Seperti biasa Ummi,saya solat dan makanan tersedia. Cuma makanan hari ini lebih lazat dan lagi sedap dari makanan-makanan sebelum ini”.

Maka ketahuilah ibunya bahwa anaknya telah mencapai darjat kewalian sejak usia kecilnya. Beginilah tarbiah seorang ibu kepada anak kecilnya yang akhirnya menjadi alim dan wali besar yang terkenal seantero dunia.

Apabila mencapai usia remaja, Sh.Abdul Qadir berhasrat untuk ke Baghdad dengan tujuan untuk mendalami lagi ilmu pengetahuan dengan para-para Ulama disana. Ini kerana pada ketika itu Baghdad merupakan pusat Ilmu dunia.

Sebelum berangkat ke Baghdad, Abdul Qadir meminta kebenaran dari ibunya agar Allah sentiasa disampingnya dalam usahanya. Ibunya menjaminkan beliau akan keselamatan dengan syarat beliau hendaklah sentiasa bercakap benar dan tidak sesekali menipu.

Dan dalam perjalanan beliau ke Baghdad, sekumpulan perompak telah datang kepada beliau, dan menanyakan kepada beliau, berapa wang yang Abdul Qadir ada. Abdul Qadir menjawab dengan jujur seperti mana yang telah dinasihatkan oleh ibunya.

Beliau menyatakan jumlah wang yang ada didalam poketnya. Akibat dari kejujurannya itu, perompak berkenaan berasa sedih dan bertaubat atas perbuatannya itu. Perompak itu bertanya pada Abdul Qadir, mengapa beliau berkata benar sedangkan beliau tahu akan dirompak.

Lalu Abdul Qadir menceritakan halnya bersama ibunya yang beliau telah berjanji atas nama Allah pada ibunya yang beliau akan bercakap benar dan jujur. Perompak tersebut merasa hairan dan takjub atas kejujuran Abdul Qadir menjaga janjinya dengan usianya yang semuda itu lalu mereka semua bertaubat dari perbuatan jahat mereka.

(Ustaz Iqbal Zain al Jauhari)

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Zikir Ketenangan Hati

“Zikir menghidupkan hati yang mati. Perumpamaan orang yang berzikir dengan orang yang tidak berzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan orang yang tidak berzikir adalah orang mati. Ulama terdahulu amalan mereka Masya Allah. Hebat-Hebat.”

“Imam Ahmad Bin Hanbal 300 rakaat, Imam Junaid 400 rakaat, Imam Ali Zaenal Abidin 1000 rakaat. Kita ini usahkan solat sunat, bersedekah untuk tenaga dan juga ilmu kita mundar-mandir menuntut ilmu pun tidak mahu. Ada sesetengah imam, zikir setelah solat dimasjid itu ditinggalkan.”

“Kita jangan tinggalkan zikir selesai solat. Solat kita itu pon belum tentu sempurnanya. Diterima atau tidak. Zikir dulu. Hendaklah seseorang itu sama ada imam atau makmum setelah selesai dari solatnya subuh, maghrib tidak mengubah posisi kedudukannya terlebih dahulu setelah selesai memberi salam dan kekal duduk dalam keadaan tawarruk yakni duduk tahiyyat akhir dan membaca;”

“Yang pertama, Istighfar 3 kali
استغفرالله العزيم,الذي لااله الا هو الحي القيوم واتوب اليه.”
“Yang kedua, Lailahaillallah sebanyak 10 kali
لااله الا الله, وهده لا شريك له, له الملك واله الحمد,يهيي ويميت, وهو علي كل شيئ قدير.”
“Dan yang ketiga, Doa perlindungan dari api neraka sebanyak 7 kali
اللهم اجرنا من النار.”

“Setelah usai membaca 3 perkara diatas, bolehlah mengubah posisi untuk bersila dan sebagainya. Jika menjadi imam, hendaklah dia memusing ke arah makmum. Kemudian setelah itu, membaca ‘Allahumma antas salam, waminkassalam, sehinggalah habis, membaca Al-Fatihah dan ayat kursi, tasbih Fatimah ( subhanallah 33x, lailahaillallah 33x, allahuakbar 33x ) dan diikuti penutupnya dengan doa.”

“Jangan kita sesekali tinggalkan amalan membaca ayat kursi selepas habis solat fardu kerana fadhilatnya sangat besar. Menurut riwayat hadis, tiada apa yang dapat menghalang seseorang yang membacanya untuk memasuki syurga kecuali mati. Ayat kursi ini diibaratkan ayat kursi sebagai 'kad touch and go’ untuk kita masuk kedalam syurga Allah سبحانه وتعالى.”

Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.

(Raudhatul Muhibbin)

Setiap hari;

Baca Quran walau sedikit.

Bangun malam walaupun 5 minit atau 10 minit sebelum Subuh.

Solat malam walaupun 2 rakaat.

Qobliah, Ba'diah walaupun hanya sekadar Qobliah Subuh, Ba'diah Maghrib, Ba'diah Isya’.

Dhuha walaupun 2 rakaat, witir walaupun 3 rakaat.

Selawat walaupun pagi 10 kali petang 10 kali.

Dan baca “hasbiyallah la ilaha illallahuwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa robbul 'arsyil 'adzim.” Itu kata Nabi siapa yang baca pagi 7x petang 7x (selepas Asar, Maghrib, atau Isyak) Allah Taala cukupkan segala hal-hal yang menyusahkan dia dari perkara dunia dan akhirat Allah Taala akan cukupkan dia…..

Usaha khusyu’ dalam solat walaupun sedikit. Khusyu’ awalnya dipaksakan, lama-lama kebiasaan.

InsyaAllah Allah Taala kasi Taufiq.
Amin Allahumma Amin.

—  Habib Jindan Bin Novel Bin Salim Bin Jindan

Sunnah berselawat ke atas nabi ﷺ:“
1. Ketika memulakan ucapan kebaikan.
2. Setelah azan, sebelum doa selepas azan (hadis).
3. Ketika berdoa -awal, pertengahan dan akhir (hadis).
4. Di antara dua rakaat solat sunat hari raya (hadis).
5. Masuk dan keluar daripada masjid (hadis).
6. Dalam solat jenazah.
7. Ketika bertalbyiah.
8. Antara Safa dan Marwah.
9. Ketika bertemu dan berpisah apabila berjumpa dengan orang - didahului dengan salam (hadis).
10. Waktu pagi dan petang (hadis).
11. Ketika bermuduk (hadis).
12. Ketika telinga berdengung (Kitab Al-Azkar, Imam Nawawi).
13. Ketika lupa sesuatu.
14. Pada malam dan siang Jumaat (hadis).


اَللَّهُمَّ صَلِّ َعلى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آِل سيدنا مُحَمَّدٍ

—  Habib Najmuddin Othman Al-Khered
Putus asa.

lalu menyimpan hasrat Membunuh diri??
Itu bukan lah jalan penyelesaian bagi masalah.
Tak dapat hidu bau Syurga.
Nabi tak mengaku umat.
Wal’iyazubillah!

Rugi,
Kita menganiaya diri kita demi dunia yang sementara,
Sedangkan Allah cipta kita untuk akhirat sana yang kekal selamanya.

Alangkah rugi nya..

Percaya lah.
Setiap apa yang di lalui,
Setiap ujian yang Allah beri,
Allah tahu kita mampu hadapi.
Allah nak ampun dosa kita,
Allah nak tingkatkan darjat kita melalui ujian Nya.

Kalau rasa lemah,
Duduk.
Kembali pada Allah.
Tunaikan solat taubat 2 rakaat.
Minta Ampun dgn Allah sebab diri lemah.
Minta Allah beri kekuatan.

Jangan mudah putus asa.
Dunia ni cuma sementara,
Sekejap sahaja.

—  CikGaram