rakaat

anonymous asked:

How can i improve khushoo in salah?

There are many ways to improve one’s kushoo and this is partly attained throughout a long process. Here are some points I myself have found to be very effective and the more you get into the routine of this the easier it will be.

1. Prepare yourself before salaah meaning do your wudhu with caution, clean the prayer room, wear beautiful prayer clothes since this is something the prophet salallahu alayhi wassalaam prescribed. Bring that kind of awareness back to you that you re going to stand before Allah as if it is your last prayers. Many people fail to internalise sometimes that salaat is like a very important meeting with Allah.

2. Preparing one’s self for prayer can also mean motivating one’s self before or calming down. Like, take as much as you want before the prayer to maybe reflect on the Qur'an. Sit onto your prayer mat and go through the meaning of the surahs you want to recite. Or simply sit there to collect yourself.

3. Salaah becomes more important the more you revolve your day around Islam and its ibadah. I know, this is not always possible because some of us are not always home but at school and work. But it can mean simple things. Reciting a few pages of the Quran in the morning and evening, doing your adhkar when you wake up or before you go to sleep. Listening to Quran when you go somewhere. All these things can help you to bring back that ‘islamic’ feelings back to you.

4. Other than that you can change something about the way you used pray. What I mean with this is that one must maybe start to to lengthen their prayers and instead of just praying 4 fardh rakaat without dhikr afterwards, add the recommended sunnah prayers to it.

The prophet salallahu alayhi wassalaam said:

Allah will build a house in Heaven for whoever is diligent in observing 12 Sunnah Rak'aat (as follows): 4 Rak'aat before and 2 after the Dhuhr (Midday) Prayer, 2 after the Maghrib (Sunset Prayer), 2 after the ‘Ishaa’ (Evening) Prayer and 2 before the Fajr (Dawn) Prayer.“ Hadith sahih narrated by at-Tirmidhi No. 379 and by others. Hadith No. 6183 in Sahih al-Jaami’.

I think this is very effective for those among us who have the tendency to rush through salaah. It will cause you to have more discipline, and increase your concentration.

4. Learn new surahs with meaning by heart. It can be either a surah that you really like and that makes you feel very emotional, or you can memorize the recommend 30 juzz, the last 20? pages of the Qur'an and strengthen your memory by constantly reciting in in salaah.
I personally think that the longer one’s are very helpful because again you don’t have the option to rush through your prayer.

5. A small thing I also wanted to mention is music. Music is so toxic for salaah, there were so many times I would hear some random music before and it would exactly play inside my head when I would start salaah.

That’s all that I had found to be effective in a way. For the ones who know more, can add their tips to it. Maybe you should also look into the book 'inner dimensions of prayer’.

anonymous asked:

Bang, kenapa ya, akhir-akhir ini seperti ada yang hilang dari Saya. Saya futur. Saya solat, tp hny sekadar menghitung rakaat. Saya dzikir, tp hati saya fakir. Saya tidak ingin seperti ini terus. Mohon saran :'

(Self Reminder)

Mari kita selidiki lebih dalam.

Tentang shalat, bagaimana kita akan rasakan manis dan indahnya khalwat dalam shalat, jika menjawab seruan adzanNya kita sering telat. Abang tidak berkata takbir dan rekaatnya telat, akan tetapi saat adzan telah dikumandangkan, namun kita belum siap di tempat kita shalat. Tentu akan berbeda rasanya di hati saat kita datang sebelum adzan, dengan sebelum iqamah.

Tentang dzikir, barangkali sebab kenapa dzikir tidak terasa, sebab dzikir kita baru sampai di lisan, belum sampai pada azam untuk benar-benar mengamalkan dan merasakan.

Benar bahwa kita mengucap kalimat istighfar, tapi hati kita tidak benar-benar berazam untuk meninggalkan kesalahan.

Benar bahwa kita mengucap kalimat tahlil nan agung, tapi hati kita tidak benar-benar berazam untuk merasakan bahwa Allah itu Ahad (satu), hanya Allah yang kepadanya kita peruntukkan segala ibadah, hanya Allah tempat kita bersandar dan meminta.

Kita memiliki Allah, tapi menjalani hidup seakan-akan tidak punya Allah.
Kita percaya Allah, tapi bertingkah seperti orang yang tidak percaya Allah.
Beribadah semaunya, bekerja semaunya, semuanya semaunya.


Benar bahwa kita mengucap shalawat, tapi kita luput dari menghayati dan mengamalkan apa yang terabadikan dalam Al-Qur’an, serta  yang baginda Nabi teladankan dan pesankan dalam hidupnya. Kita terlalu menganggapnya ringan, daripada bersemangat mengejar sunnah-sunnah yang sejatinya memiliki keutamaan.

Semoga yang sedikit ini, mampu menjawab.

Apa yang tertulis disini, tertuju untuk penulisnya terlebih dahulu.
©Quraners

 last nights of ramadan 

wallahi dont give up now 

these are the nights of no sleep

if you feel exhausted and broken already force yourself to recite that extra page of the quran during the night

if your eyes close bcs of the sleep you need, force those extra rakaat during the night

if your heels hurts bcs of standing long in prayer get 5 minutes rest and stand up again and force yourself. 

Literally everything in your body will scream at you and beg you to stop but dont stop until fajir arrives. 

O you who are patient! Bear a little more, just a little more remains.

— Ibn al-Qayyim (rahimahullaah) [Al-Fawaa'id pg. 119, English Translation

Al-Mughirah ibn Shu’bah reported: The Prophet, peace and blessings be upon him, would pray until his feet were swollen. It was said, “Why do you do this when Allah has forgiven your past and future sins?” The Prophet said, “Shall I not be a grateful servant?”

Source: Sahih Muslim 2819

Yakin Terhadap Allah;

“Setiap ujian yang datang, kita lihat bagaimana interaksi hati kita terhadap ujian tersebut. Interaksi hati tersebut menyebabkan ujian terasa ringan. Jika hati itu tidak kuat jiwa tauhidnya dan keyakinannya terhadap Allah سبحانه وتعالى itulah sebabnya ujian terasa berat. Sehingga ujian yang ringan pun dia terasa berat, sebab apa? sebab jiwanya tidak diterapkan denganketauhidan dan keyakinan yang kuat terhadap Allah سبحانه وتعالى.”

“Apabila hati, ketauhidan , keyakinan yang kuat terhadap Allah سبحانه وتعالى maka apa segala bentuk ujian yang datang, seberat mana pun, sebesar mana pun ujian yang datang, dia akan rasa ringan, malah dia redha pula. Dan dia suka pula ujian yang datang kerana dia tahu ujian yang datang tu semua dari Allah سبحانه وتعالى satu bentuk hadiah dari Allah سبحانه وتعالى. Lihat Para Nabi dan Rasul mereka diberi ujian oleh Allah سبحانه وتعالى untuk tinggikan kedudukan dan martabatnya.”

“Segala yang wujud itu, bergantung kepada qudrat dan iradat Allah سبحانه وتعالى, maka tiada satu perbuatan pun berlaku tanpa izin dari Allah. Bersediakah kita kembali kepada Allah sebelum kita benar-benar kembali kepada Allah?.”

“Setiap detik masa yang berlalu itu adalah dengan izin Allah. Masa dan waktu adalah milik Allah سبحانه وتعالى. Setiap dari kita mempunyai masa yang sama yakni dua puluh empat jam sehari semalam. Dibahagi sama rata oleh Allah سبحانه وتعالى.”

“Masa dan waktu ini ianya adalah objek yang diciptakan Allah. Allah tidak berhajat kepada masa. Allah yang menciptakan "Past Tense” Allah yang menciptakan “Present Tense” Allah yang menciptakan “Future Tense”,“Past, Present dan Future Tense.” Dan semuanya berhajat kepada Allah سبحانه وتعالى di atas kewujudannya.“

"Allah سبحانه وتعالى juga tidak berhajat kepada ruang kepada tempat kepada masa kepada penjuru kepada arah, warna, rupa, bentuk fizikal. Allah yang tidak boleh digambarkan yang tidak boleh dicapai oleh akal manusia. Akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menyuruh di kalangan makhluk-Nya untuk memuliakan ini memuliakan itu supaya kemuliaan kita, keagungan kita kepada Allah سبحانه وتعالى.”

“Walaupun dunia ini diciptakan untuk kamu tetapi kamu diciptakan untuk Allah bukannya untuk dunia itu. Dan Itu hakikat kamu diciptakan untuk menghambakan diri kepada Allah untuk mentakzimkan, memuliakan, mengagungkan apa yang telah dimuliakan yang telah diagungkan oleh Allah سبحانه وتعالى.”

“Seseorang yang dimuliakan oleh Allah سبحانه وتعالى yang diberikan untuk menguasai masanya maka kita jangan terkejut bila kita mendengar ada orang yang boleh khatam Al-Quran dengan banyaknya. Orang yang boleh berzikir dengan banyaknya. Orang yang boleh menunaikan solat seribu rakaat semalaman dan sebagainya.”

“Pada hakikatnya kita semua mempunyai masa yang sama. Akan tetapi yang membezakan kita apa yang kita isi dengan setiap masa dan waktu kita. Tujuan kita diciptakan oleh Allah سبحانه وتعالى adalah untuk beribadah kepada Allah. Untuk beramal. Itu kerja kita. Allah سبحانه وتعالى menciptakan kita sebagai pekerja-Nya, hamba-Nya yang bermaksud beribadah kepada Allah sepanjang masa.”

“Bagaimana seseorang itu berada dalam ibadah sepanjang masa? Dua puluh empat jam. Di sini Ulama menjelaskan dengan penuh indah bahawa makna ibadah bukan sahaja terhad kepada solat, puasa, haji, zakat, Al-Quran dan zikir sahaja. Tetapi ianya meliputi kepada segala pekerjaan kita, setiap perbuatan yang harus, setiap dari pekerjaan kita, setiap dari amal kita.”

“Semuanya adalah dikira sebagai ibadah jika dengan niat yang benar. Makannya, minumnya walaupun tidurnya. Apabila ianya dilakukan dengan adab Rasulullah ﷺ dengan cara yang ditunjukkan oleh sunnah Rasulullah ﷺ maka tidurnya juga dikira di dalam ibadah.”

“Apabila makan dan minumnya dengan niat untuk mendapatkan tenaga untuk taqarub kepada Allah. Dia tidur dengan niat untuk merehatkan badannya supaya mendapat kekuatan tenaga untuk dia bangun nanti tahajud esok dia nak melakukan amal-amal kebajikan nak menunjukkan makna taqarrub kepada Allah سبحانه وتعالى.”

“Maka setiap perbuatan yang harus apabila ianya dilakukan dengan niat "Lillahi Ta'ala” bersama dengan adab dan sunnah yang ditunjukkan oleh Rasulullah ﷺ maka perbuatan yang harus itu tidak lagi sekadar perbuatan harus. Makna harus apabila dilakukan tidak mendapat apa-apa dan ditinggalkan pun tidak mendapat apa-apa. Itu makna harus.“

"Tetapi sekiranya ianya diselitkan dengan niat ikhlas, mengharapkan keredhaan Allah, mendekatkan diri kepada Allah, itu bukan perbuatan harus tapi ianya dikira ibadah di sisi Allah سبحانه وتعالى. Walaupun makan dan minumnya, main bolanya dan sebagainya dengan niatnya "Lillahi Ta'ala” tanpa melanggar sebarang batasan syariat maka dia beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى.“

"Ulama mengatakan setiap pekerjaan, perbuatan itu akan dikira sebagai ibadah iaitu yang pertama adalah, Apabila dia ada niat yang baik, niat yang soleh, niat "Lillahi Ta'ala”, niat untuk dia mendapatkan tenaga untuk bertaqarub kepada Allah سبحانه وتعالى. Dan yang kedua adalah, Jika dia sudah ada niat.“

"Dia ada keinginan untuk melakukan sesuatu pekerjaan, perbuatan tersebut untuk menyalurkan memberikan manfaat kepada orang lain. Apa jua pekerjaan dan amal yang dia lakukan semuanya memberikan manfaat kepada orang lain.”

“Dan bukan mudarat, tidak berfaedah melalaikan, melekakan diri daripada mengingati Allah. Jika memberikan mudarat, tidak memberikan faedah, melalaikan dan melekakan orang daripada Allah, menjauhkan orang daripada mengingati kepada Allah سبحانه وتعالى itu bukan ibadah.”

“Alangkah beruntungnya orang-orang yang diberikan kelebihan oleh Allah سبحانه وتعالى, yang dapat menguasai masanya mengisi masanya untuk beribadat kepada Allah سبحانه وتعالى. Untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى. Dan amatlah rugi orang-orang yang masanya berlalu pergi begitu saja. Masa yang berlalu tanpa diisi dengan suatu yang bermanfaat. Demi masa sesungguhnya manusia itu didalam kerugian.”

“Maka bersyukurlah kita kepada Allah kerana dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk hadir di majlis ilmu di saat ramai orang di luar sana memilih untuk duduk berehat di rumahnya, duduk di atas sofanya, melihat televisyen, melepak dan sebagainya. Dan kita telah dipilih, kita diizinkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk menghadiri majlis yang baik yakni dimajlis ilmu. Dan ditempat yang baik yakni di rumah Allah سبحانه وتعالى ini.”

Guru mulia kami. Tasawwuf. Darul Mujtaba. Ustaz Iqbal Zain Al-Jauhari.

Terlena

(Oleh : Prof. Hamka)

Waktu berlalu begitu pantas menipu kita yang terlena

Belum sempat berdzikir di waktu pagi, hari sudah menjelang siang, belum sempat bersedekah pagi, matahari sudah meninggi.

Niat pukul 9.00 pagi hendak Sholat Dhuha, tiba-tiba adzan Dhuhur sudah terdengar..

Teringin setiap pagi membaca 1 juz Al-Quran, menambah hafalan satu hari satu ayat, itu pun tidak dilakukan.

Rancangan untuk tidak akan melewatkan malam kecuali dengan Tahajjud dan Witir, walau pun hanya 3 rakaat, semua tinggal angan-angan.

Beginikah berterusannya nasib hidup menghabiskan umur? Berseronok dengan usia?

Lalu tiba-tiba menjelmalah usia di angka 30, sebentar kemudian 40, tidak lama terasa menjadi 50 dan kemudian orang mula memanggil kita dengan panggilan “Tok Wan, Atok…Nek” menandakan kita sudah tua.

Lalu sambil menunggu Sakaratul Maut tiba, diperlihatkan catatan amal yang kita pernah buat….

Astaghfirullah, ternyata tidak seberapa sedekah dan infaq cuma sekedarnya, mengajarkan ilmu tidak pernah ada, silaturrohim tidak pernah buat.

Justeru, apakah roh ini tidak akan melolong, meraung, menjerit menahan kesakitan di saat berpisah daripada tubuh ketika Sakaratul Maut?

Tambahkan usiaku ya Allah, aku memerlukan waktu untuk beramal sebelum Kau akhiri ajalku.

Belum cukupkah kita menyia-nyiakan waktu selama 30, 40, 50 atau 60 tahun?

Perlu berapa tahun lagikah untuk mengulang pagi, siang, petang dan malam, perlu berapa minggu, bulan, dan tahun lagi agar kita BERSEDIA untuk mati?

Kita tidak pernah merasa kehilangan waktu dan kesempatan untuk menghasilkan pahala, maka 1000 tahun pun tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang terlena.

#2: Shalat

“Seberapa banyak kita memahami bacaan dalam bacaan shalat-shalat kita?”   

Pertanyaan ini rasanya begitu tepat memukul hati. Padahal pertanyaan ini terdengar sederhana, karena bukankah ada ribuan rakaat shalat yang sudah dilakukan? Bagaimana mungkin ada orang yang melakukan aktivitas rutin, tapi tidak tau makna dari apa yang ia lakukan, bukan?

Sejak kecil, kita dipahamkan bahwa shalat merupakan ibadah yang di dalamnya berisi doa-doa. Dan di bangku sekolah hingga saat ini pun kita memahami jika shalat adalah momen kita berkomunikasi dengan Allah. Namun yang menjadi pertanyaan, apa yang selama ini kita sedang obrolin ke Allah kalau kita pun tidak mengetahui apa makna yang sedang kita baca?

Belum lagi ditambah masalah shalat-shalat yang kita lakukan secara terpaksa, yang kita sering dengan sengaja menunda-nunda, yang kita jalani ala kadarnya saja, yang dilaksanakan sebagai pengugur kewajiban semata.

Bisa jadi inilah yang merupakan akar dari sebab kegelisahan hati dan permasalahan hidup yang kita alami. Bukan tentang rindu, apalagi perasaan cinta palsu. Tetapi, shalat yang tak memiliki makna di hatimu.

Dan di akhirat nanti, mungkin akan wajar jika kita mendapati bahwa ternyata ibadah shalat kita yang kita lakukan selama ini, tidak ada nilainya sama sekaliNaudzubillahi min zalik.

Dan itulah duka kesengsaraan yang nyata, ketika kita sudah merasa bahwa melakukan ibadah yang banyak tapi ternyata tak sedikitpun menambah timbangan amal ibadah kita di sisiNya.

Itu baru shalat, bagaimana dengan ibadah lain?
Semoga ampunan Allah untuk kita semua.

Bandung, 2 Ramadhan 1438 H (28/05)
©Thalhah S. Robbani 

Assalamualaikum..
Formula menjemput Rezeki:

1. DHUHA. Jika kita selalu buat 2 Rakaat, sekarang ubah lebih rakaat. Makin lama makin meningkat.
Selepas Solat Dhuha kita perlu baca surah Al-Waqiah. Waktu DHUHA rasakan getaran kita untuk menjadi apa, contohnya jika ingin jadi JUTAWAN. Doalah jadi JUTAWAN BERKAT..

2. TAHAJJUD. Bangunlah menunaikan solat ini setiap malam. Tambahkan juga bilangan rakaat tahajjud ni. Muhasabah diri dan mintalah pertolongan Allah sebulat-bulatnya..

3. AL QURAN. Bangun pagi jangan buka hp atau rancang nak buat apa2 dulu, mandi dan ambil wudhuk terus baca Al-Quran & terjemahan walaupun 1 ayat..

4. ZIKIR - Ya Wahhab 40,000 kali setiap hari selama 7 hari. Jika tiada perubahan buatlah sehingga 40 hari..

5. SOLAT BERJEMAAH, terutama lelaki. Orang lelaki juga diminta telefon ibu 1 hari 5 kali atau lebih..

6. SILATURRAHIM. Jangan memecahkan silaturrahim. Maafkan mereka yang pernah sakiti kita dengan hati yang yang lapang dan tenang..

7. BERSEDEKAH. Sedekah punyai satu power yang luar biasa. Allah gandakan 10 & boleh digandakan lagi 700 kali..

8. SOLAT AWAL WAKTUSolatlah di awal waktu. Jika tgh susun 40 batu, tiba ke batu yang ke 39 azan berkemandang, sambunglah batu terakhir selepas solat..

9. BERGANTUNG PENUH DENGAN ALLAH. Jangan mengharapkan manusia di luar sana..

10. TAWAKAL DAN USAHA. Minta sepenuh hati kepada Allah, baru usaha.

4 amalan surah setiap hari.
● Surah Yaasin- Setiap solat fardhu
● Surah Al-Waqiah-Waktu Dhuha
● Surah Ar-Rahman- Waktu Asar
● Surah Al-Mulk - Sebelum tidur

Lain-lain:
1. Minumlah air masak 3 liter sehari.

2. Jika yang perempuan mulalah pakai stokin. Sebab penyakit bermula dari kaki.

BILA SEMUA AMALAN TELAH DIBUAT, SEGALANYA AKAN BERUBAH..

Wallaahua'lam..

#sharingiscaring

Tips Mahasiswa Cemerlang

Ingin jadi mahasiswa sukses atau mau jadi pelajar biasa-biasa saja? Kalau jadi mahasiswa biasa-biasa saja nanti susah cari kerja… apalagi lanjut kuliah ke jenjang lebih tinggi. Tidak menonjol, siapa yang mau melirik? Belum lagi kasihan mengingat jerih payah orang tua mencari nafkah dan harapan-harapan yang mereka taruh di pundak saya dan teman-teman semua.

Oleh karena itu saya hendak bagi-bagi tips ini. Supaya kita sama-sama bisa sukses di perkuliahan dan jadi kebanggaan orang tua. Tips ini saya dapatkan dalam sebuah ceramah motivasi oleh dosen UIN SUSKA Riau.

‘Tips Mahasiswa Cemerlang’ bisa dikelompokkan dalam dua bagian, tips akademis dan tips ruhani.

Tips akademis: 1) kuasai bidang jurusanmu sungguh-sungguh, 2) di kelas duduklah paling depan, 3) perhatikan tipikal dosen dan ikuti aturan main beliau, 4) kumpulkan tugas beberapa hari sebelum jatuh tempo, 5) hargai dosen dengan mendengarkan dengan seksama, 6) proaktif mencari solusi jika dalam kesulitan dan membantu yang lain jika sudah paham.

Tips ruhani yang biasa disebut 6T: 1) Takbiratul-ulaa, yaitu jaga sholat berjamaah di awal waktu di masjid/musholla, 2) Tasbihat, yaitu lidah senantiasa berdzikir, 3) Tilawat, membaca quran minimal satu juz satu hari, 4) Tahajjud, jaga minimal dua rakaat, 5) Ta'lim, yaitu hadiri majelis ilmu dan halaqah iman di kampus atau sekitar tempat tinggal, 6) Tundukkan pandangan, dari melihat yang tidak patut.

Bila 12 tips ini dikerjakan istiqamah, in syaa Allah akan mudah ilmu masuk ke kepala dan Allah jaga kita dari perkara yang membuat kita menjadi mahasiswa merugi.

Semoga bermanfaat. Selamat mencoba!

JOM PREPARE 30 BENDA BAIK LAKUKAN SEPANJANG RAMADHAN

1. Tilawah al Quran sejuzuk sehari paling kurang.

2. Solat tarawih minima 8 rakaat setiap malam.

3. Solat Witir minima 3 rakaat semalam.

4. Beri makan orang berbuka puasa walaupun dengan sebiji tamar setiap hari.

4. Solat fardhu 5 waktu berjemaah setiap hari.

5. Tahajud setiap malam minima 2 rakaat.

6. Sunat dhuha setiap pagi.

7. Sedekah setiap hari minima seringgit.

8. Pastikan sahur setiap hari.

9. Iktikaf di masjid setiap hari walau sekadar 10 minit.

10. Tadarus al Quran sambil usaha memahami maksudnya.

11. Ziarah orang yang kurang bernasib baik.

12. Kurangkan ziarah ke bazar2 ramadhan.

13. Pilih makanan sunnah sebagai menu harian sahur dan berbuka puasa.

14. Elakkan membeli makanan dari tangan2 orang yang fasik.

15. Jauhkan aktiviti yang lagha.

16. Zikir harian, banyakkan berdoa.

17. Lazimi bibir beristighfar sekurang2nya 70x dlm sehari.

18. Ajari diri dengan sifat rendah hati kerana Allah.

19. Mudah memohon maaf dan memberi maaf.

20. Menjaga dan menghubung silaturrahim.

21. Menjaga dan menutup aurat dengan sempurna ( bukan berpakaian tapi bertelanjang)

22. Menjaga lisan, pandangan, pendengaran & hati dari perkara2 yg dilarang.

23. Tidak berlebih2an maupun membazir dengan makanan terutama juadah berbuka.

24. Perbanyakkan amalan2 sunat- solat sunat rawatib.

24. Lazimi sunnah Rasulullah yg ringan tulang dlm urusan rumah tangga (terutama suami & anak2 lelaki)

25. Lazimi utk kawal dan tahan marah, didik diri untuk lebih bersabar.

26. Lazimi lidah untuk sentiasa bersyukur dan memperbanyakkan syukur kepada Allah di kala senang mahupun susah.

28. Menjaga ikhtilat - hubungan antara lelaki dan perempuan.

29. Membayar zakat fitrah dalam waktu yang telah ditetapkan.

30. Ikhlaskan hati kerana Allah. hadirkan Allah di dalam hati, berusaha menjalani Ramadhan kali ini dengan sebaik mungkin seolah2 inilah Ramadhan terakhir kita.

Jika wanita mendapati waktu sholat, kemudian tiba-tiba dia haidh. Wajib qodho sholat apa tidak?

Ada dua pendapat:

1. Wajib Qodho
Pendapat ini menurut jumhur ulama seperti Hanafiyyah, Syafi'iyyah, Malikiyyah. Tapi para ulama berbeda pendapat kapan ia harus qodho:

A. Jika ia baru takbiratul ihram kemudian haidh. Ini pendapat Hanabilah dan Syafi'iyyah.

B. Jika ia sudah dapat satu rakaat. Ini perkataan Imam Syafi'i

C. Jika ia sudah mendapati waktu sholat, dan dia menunda sholat sampai akhirnya keluar haidh. Ini pendapat Hanabilah Syafi'iyyah.

D. Jika ia mendapati waktu seukuran 4 rakaat. Ini pendapat Imam Malik.

E. Jika ia mendapati waktu, sampai waktu sholat mau habis dan dia tidak bisa sholat secara sempurna, kemudian dia haidh, maka wajib qodho.

2. Tidak Wajib Qodho.
Secara mutlak, entah dia haidh diawal maupun diakhir waktu sholat. Dan ini pendapat al-ahnaf dan madzhab zhohiri.

Yang rojih dan benar dalam masalah ini InsyaAllah adalah:

E. Bahwa wanita bila ia mendapati waktu sholat. Kemudian tidak sholat sampai sempit waktunya, yang mana ia tidak bisa sholat secara sempurna kemudian haidh sebelum ia sholat. WAJIB baginya qodho setelah suci. Karena ia telah menyia-nyiakan sholat.

Ini pendapat yang dipilih: Syaikh bin baz, Ibnu Taimiyah, Hanafiyyah, Hanabilah.

Adapun Syaikh al Utsaimin berpendapat bahwa wajib qodho bila ia sudah mendapati waktu sholat seukuran satu rakaat sempurna, entah di awal waktu atau di akhir waktu.

Hal ini sama seperti wanita yang suci sebelum terbit matahari, alias waktu shubuh mau habis, hanya cukup dipakai untuk sholat satu rakaat, maka ia wajib mandi dan qodho sholat shubuh.

~*

Pentingnya memahami fiqih wanita adalah ketika ada satu permasalahan kita sudah tahu bagaimana harus bersikap. Tapi seringnya ketika dihadapkan pada masalah, seringnya masih bingung dan was-was dalam memutuskan. Maka disinilah pentingnya sebuah ilmu sebelum amal.

Kuasai ilmu fiqih terutama fiqih wanita. Jika tidak mampu, berusahalah sesuai dengan kemampuan. Setidaknya pahamilah dasar-dasar fiqih wanita. Sebab bagaimanapun ilmu tersebut akan sangat terpakai ketika nantinya seorang wanita sudah menjadi seorag istri apalagi seorang ibu.

Teringat dengan perkataan seorang ustadz dalam suatu kajian kurang lebih seperti ini, “Pendidikan macam apa jika madrasahnya (ibu) lebih suka nonton drakor daripada belajar ilmu fiqih.”

Kemudian hal itu membuat saya berfikir bahwa nanti–ketika saya menjadi seorang ibu, ada tanggung jawab dan perhatian besar yang harus saya curahkan pada buah hati. Bagaimana menjadi ibu penuh waktu. Bahwa saya harus menyisihkan banyak ego atau saya harus rela mengurangi jatah menulis saya atau bahkan jatah waktu untuk diri saya sendiri agar lebih bisa banyak belajar hal-hal terkait menjadi seorang istri dan ibu yang baik.

Ya. Bagaimanapun mereka (anak-anak) memiliki hak atas pendidikan terbaik dari kedua orang tuanya.

*catatan: kamu wanita, di salah satu nama pemberian orang tuamu ada nama yang artinya wanita. Kelak, kamu akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anakmu. Maka setelah pemahaman tauhid yang benar, belajarlah dengan benar dan sungguh-sungguh perihal ilmu ini.

10 Ramadhan 1438 H || 05 juni 17 || ©andromeda nisa’

Bismillah,

(boleh di reshare, jangan di copy, kalau mau copy ke grup WA, mohon selalu mencantumkan nama penulis asli. by Fitra Wilis Masril)

Butuh waktu untuk memutuskan, apakah cerita ini layak kupublikasikan..

Mungkin, akan banyak yg menggumam, “ibadah kok di tulis dan disebar luaskan, nggak ikhlas, riya, pahalanya udah menguap, bak embun di sirnakan oleh cahaya”.

Urusan ikhlas, biarlah menjadi ruang antara aku dan hatiku saja.
Soal pahala, cukuplah selamanya itu menjadi hak Allah saja, aku berserah padaNya.

Semata, ingin memotivasi pembaca, agar bersegera
membebaskan diri dari RIBA.

Rumah kami beli dengan KPR, udah lunas. Motor cicilan ke leasing, udah lunas. Tinggal mobil yang masih nyicil. Aku nggak pernah punya kartu kredit, tak tertarik dengan utang KTA. Tak punya asuransi yg akadnya bermuatan ‘bunga’.

Ringkasnya, mobil kami masih RIBA.

Awal 2017. Secara serius aku mulai mendalami ilmu riba.

“segala utang yg dibayar dengan tambahan nominal, itu RIBA” aku masih santai.

“segala cicilan, KPR, leasing, kartu kredit atau apapun, yg dalam akadnya mengandung kata “bunga” itu RIBA”, aku mulai berpikir.

“melibatkan diri ke riba, berarti berperang dengan Allah dan rasulullah,” aku mulai ketakutan. Mendengar kata perang saja, aku sudah mengkerut. Apalagi berperang dengan Allah, Yang Maha Perkasa.

“Semua orang yg memperbanyak hartanya dengan jalan riba, maka ujung dari kehidupannya hanyalah kemiskinan,” aku makin panic membaca hadist sahih ini.

“dosa terkecil dari riba, setara dengan dosa menzinahi orang tua kandung sendiri,” aku mulai menangis.

“kain kafan kita bisa saja saat ini sedang ditenun, atau sudah ada di toko kain, menunggu keluarga kita membelinya untuk kita. Selesaikan segala utang secepat mungkin, apalagi utang riba,” mendengar ini, aku makin menangis.

“aku mulai dari mana?” aku mebathin. Konsultasi ke ustadzah.

Dia memberikan banyak saran baik.

Kuikuti sepenuh hati.

1. Sholat taubat, berniat sungguh sungguh, mobil ini menjadi riba terakhir. Nggak akan terlibat lagi dalam akad berbunga bunga. Sholat taubat mengiringi sholat wajibku.

2. Baca surat Al Mulk setiap hari.

“maha suci allah yang ditanganNya segala kerajaan, Dia maha kuasa atas segala sesuatu” ayat 1.

“yang menciptakan tujuh langit berlapis lapis, tidak akan kamu lihat sesuatu yg tidak seimbang pada ciptaan Tuhan yang maha pengasih..” ayat 3.

Oke. Menciptakan 7 langit berlapis lapis tanpa penyangga saja Tuhan mampu.

Berarti membantuku untuk melunasi 1 mobil saja, bagi Allah hanyalah urusan sejentik kuku.

Aku optimis.

3. Baca surat Al Waqiah setiap hari

“benih yg kamu tanam di tanah, kamu yg menumbuhkan atau Tuhan yang menumbuhkan?’

“kamu yg menurunkan air dari awan, atau Tuhanmu yang menurunkan?’

Oke. Artinya, semuaaaaaa terjadi hanya karena Allah campur tangan. Aku mengasuh rasa optimis.

Satu satunya cara, agar mobilku lunas segera, adalah dengan bekerja lebih keras, menabung lebih banyak dan memohon agar Allah campur tangan disini, kalau Allah nggak bantu, aku takkan pernah mampu.

4. Tunda kesenangan, sebelum mobil lunas, nggak ada jalan jalan ngabisin uang (kecuali jalan jalan sekalian mendampingi anak yatim), kurangi makan ke restoran (kecuali anak anak udah pengen banget). Nggak belanja kecuali yg pokok pokok saja (pernah beberapa beli gamis dan jilbab, itu karena aku berniat hijrah ke gamis sedari awal tahun, jadi gamis dan jilbab kumasukkan ke kebutuhan pokok).

5. Sholat dhuha 6 rakaat. Memohon Allah ridho pada usaha yg kulakukan dalam mengumpulkan rejekiNya untuk melunasi riba. Memohon kalo rejekiku masih jauh, dekatkanlah. Kalau sudah dekat, mudahkanlah. Kalau sudah mudah, berkahilah. Kalau sudah berkah, bujuk hatiku untuk ingat bersedekah.

6. “perbanyak sedekah agar utang ribanya segera lunas,” pesan ustadzahku.

Aku membantah,” aku butuh uang, harus menabung keras, kalau sedekah ya berkurang uangnya”. Ahhh…ilmu yg cetek ini memang membuatku senang berdebat, suka berbantahan.

“allah menyuburkan sedekah, memusnahkan harta riba, simpan kalkulator manusia, biarkan kalkulator Allah saja yg bekerja,”jawab ustadzah. Dan kalimat ini ada dalam alquran, di surat al baqaRAH. Al quran, tak ada kebohongan di dalamnya. Aku percaya dengan segenap jiwa. Kupatuhi sarannya.

Dalam menyalurkan donasi mukena ke mushola2, kusempatkan menyapu dan membersihkan mushola, merapikan tumpukan mukena. “semata mengharap ridhoMu saja duhai Allah,” bathinku.

“sedekah nggak selalu uang, mengalokasikan waktu dan tenaga untuk sebuah kebaikan, itu juga sedekah,”. Sedemikian indahnya ajaran agama.

Sekarang urusan inti. Gimana cara agar uang puluhan juta segera terkumpul.

1. Kutemui pihak leasing secara baik baik. Aku mau pelunasan di percepat. Aku keberatan dgn beban bunga yg melebihi pokok utang. Kami bernegosiasi. Deadlock. Merek nggak mau.
aku minta diberi kesempatan ketemu pimpinannya, logika saja, aku membayar lunas di awal, kenapa masih harus menanggung bunga 4tahun ke depan?

Aku nggak pernah seharipun ada tunggakan.

Pimpinan setuju. Yess. Bayar pokoknya saja.

Berpuluh juta bunga di hapuskan. Alhamdulillah.

Tapi… pokoknya saja pun itu masih puluhan juta. Jadi cicilan yg kami bayar selama ini hanya membayar bunga? Sementara pokok utang hanya berkurang sedikit saja. Ahh terkutuklah engkau riba.

2. Dari tgl 4 januari sampai pelunasan 24 februari, selama 50 hari, aku dan suami jungkir balik, suami bekerja lebih keras, aku menulis lebih banyak, begadang lebih sering, jualan lebih aktif, dll. Dan berdoa dalam volume lebih banyak, dalam frekuensi lebih sering.

Lalu.. keajaiban terjadi.

Secara simultan, pintu rejeki terbuka dari banyak pintu.

“mba fitra, mau ya gabung di grup kami sbg bintang tamu ngajarin nulis, sharing sharing santai saja mba,” tawarnya.

Tanpa kutetapkan tariff, tak repot repot mengumpulkan peserta.

Dia mentransfer 1 juta. Allah penggerak hatinya.

“mba, aku mau beli bukunya 15, kirim langsung ke perpustakaan keliling purawakarta ya, semua berapa?” Tanya seorang sahabat di jogya.

“700ribu mba,”jawabku.

dia mentransfer lebih dari 700ribu. Sebenarnya, Rumah sahabatku nggak jauh dari gramedia, nggak susah baginya menyuruh asisten membeli 15 buku bagus bagus di gramedia, tapi kenapa memilih bukuku yg sederhana? Allah menggerakkan hatinya.

di hari yg sama. kakak ipar di kampung juga mentrasfer uang.

“hasil panen padi di kampung,” katanya. nominal yg tak kami duga. alhamdulillah.

Lain hari.

“mba, adain kelas menulis mba, tulisan mba fitra kan di share puluhan ribu orang,”pinta beberapa orang. Sebagai penggenap kelas akhirnya memang kuumumkan aku ngadain kelas sharing menulis, dan ada biaya.

Masalahnya, tulisan di share puluhan ribu orang itu kan udah lama. Bahkan si plagiat mendapatkan share sampai ratusan ribu orang. Namun, kenapa baru sekarang ingin request kelas menulis? Dan tak sedikit perserta yg membayar lebih dari tariff 85 ribu yg kutetapkan. Allah yg menggerakkan hatinya.

Aku ke depok untuk sebuah urusan, belum makan, saat mau membelokkan mobil ke restoran, ujan deras, repot harus berpayung payung menggendong anak yg ketiduran. Akhirnya langsung pulang, nggak jadi makan. Sampai dirumah driver grab membawa 6 porsi besar bakmi. Traktiran dari seorang sahabat kesayangan. Pas banget saat aku mau membeli makan. Uangku tersimpan, menambah tabungan pelunas riba. Apa namanya kalo bukan karena Allah sayang.

“ini buat bu fitra, ada acara di rumah, tapi bikinnya dikit, buat yg akrab akrab saja,” kata seorang ibu, kubuka kotak yg dia berikan. Sepotong utuh ayam bakar, cukup buat lauk seharian.

“buat yg akran akrab saja” kuulangi dihati kalimatnya. Akrabkah kami? Tidak, aku bahkan nggak tau namanya siapa, aku hanya kenal anak kami mengaji di tempat yg sama. Kok aku terpilih sebagai yg dikasih? Allah menggerakkan hatinya.

Saat aku mau ke warung beli cemilan, ada gojek datang bawa klappertaart, bawa tekwan, roti Mariam, pempek, dll. Apakah semua ini untuk keprluan endorse? Sama sekali tidak. Pempek itu dari dokter di Palembang, pdhl kami hanya saling bertukar jempol di status fesbuk masing masing. Dari ratusan teman fesbuknya di Jakarta, kenapa aku yg terpilih dikirim pempek? Allah yg menggerakkan hatinya.

Uangku tersimpan nggak jadi beli cemilan, tabungan bertambah buat pelunasan.

Saat ujan, jalanan macet, driver nggak mau narik, mobil nganggur, nggak ada pemasukan dari usaha armada online kami. Tetiba, saudara jauh, booking buat acara keluarga. Kenapa merental mobil kami? Allah yg menggerakkan hatinya.

Mau ke JNE booking gojek, tetangga lewat, menawarkan tebengan, bahkan memaksa mengantarkan sampai tujuan.

Padahal kami berbeda arah. Akrabkah kami? Nggak, aku hanya tau kami sekomplek, berbeda RT, aku bahkan nggak tau namanya, hanya kenal dgn pembantunya karena sering menyuapi bayinya di lapangan depan rumah. Allah yg menggerakkan hatinya.

Sudah cukupkah uang kami? Belum.

Aku memutar otak. sebenarnya ada ikut arisan yg terimanya 15juta, ada juga yg 30juta, dan yg lainnya. tapi namaku belum keluar saat kocokan arisan.

Pinjam saudara? Bisaaa

Pinjam kakak ipar? Bisaaa

Pinjam ke sahabat? Bisaaa

Pinjam ke tetangga? Bisaaa

Bahkan, dengan hubungan yg sedemikian harmonis, aku yakin banyak bahu tempatku bersandar.

TAPI…

Lidahku kelu. Mendadak bisu.

Bahkan mengetik satu kalimatpun, aku nggak mampu.

Aku malu.

Berutang itu menggadaikan harga diri.

Aku nggak sanggup.

Nggak mampu.

Kuseret hati hanya untuk bergayut pada Allah saja.

Kusibukkan diri untuk berlama lama bertasbih memuja Allah saja.

Berlama lama hanyut dalam keindahan sabda Allah dalam kitabku saja. Yang tak ada keraguan didalamnya.

Lalu, seorang sahabat mentransfer. “cicil seperti mencicil mobil saja, kan selama ini juga nggak pernah nunggak, yg penting bebas riba, nggak ada sama sekali bunga,”. Semudah itu dia membungkus rasa percaya.

Kakak ipar melakukan hal yg sama.

Sedemikian mudah. Tak harus memelas.

Kami ke leasing.

BPKB mobil atas namaku, kini tergenggam di kepalanku.

LUNAS sudah utang ribaku.

Alhamdulillah, menangis dalam sujud syukur atas kemurah hatianMu, duhai Allahku.

Pulang dari leasing, mampir ke ATM. Mengecek kekayaan yg tersisa. 159 ribu.

Tak apa. Nggak perlu takut.

Aku punya Allah yang kekayaannya seluas langit dan bumi. Yang selalu memeluk hatiku sehingga tak pernah takut kelaparan. Yang telah menjamin rejekiku bahkan sejak aku masih dalam kandungan ibu.

Aku lega. Sebongkah besar dosa riba rasanya menggelinding dari ujung kepala (aamiin allahumma aamiin)

Aku bahagia.

Usai magrib, mengecek HP. Ada yg mentransfer ratusan ribu, seorang sahabat yg tak kukenal wajahnya, seorang peserta kelas menulis.

Beberapa sms banking masuk, membeli buku.

Seseorang memintaku menggarap website usaha cateringnya, aku tak menetapkan harga, karena tau dirii dgn kualitas karya goresanku yg sederhana, tapi hatiku tau dia orang yg bisa dipercaya, dia menghargai sebuah karya. Kenalkah kami sebelumnya? Tidak sama sekali. Aku bahkan nggak ngeh kalau di fesbuk kami berteman.

Seorang teman beberapa waktu lalu memintaku menulis sesuatu agar karyawan kantornya nggak cemberut saat kerja, tulisanku akan dipajang di website kantornya, dan besok pagi akan mentransfer tanda kasihnya.

Melunasi utang riba, tak membuatku bangkrut.

Rejeki datang dari arah yg tak tersangka oleh logika.

Alhamdulilah.

Semudah itu bagi Allah.

Allah, genggamlah hati kami untuk hanya beriman kepadaMu.

Bebaskan aku dari segala riba. Bebaskan juga seluruh saudara, sahabat, teman fesbuk, dan semua orang yg kukenal agar tak lagi bergelimang dalam kubangan dosa riba.

Mantapkan hati kami untuk tak memiliki ragu akan janjimu.

Tak ada sedikitpun kebohongan dalam firmanMu.

sabdaMu hanyalah kebenaran.

Dan Engkau tak pernah ingkar janji,

ENGKAU TAK PERNAH INGKAR JANJI.

ENGKAU TAK PERNAH INGKAR JANJI.

Dan aku adalah bukti.

Terimakasih duhai Ilahi Robbi.

Terimakasih. Terima kasih. terimakasih.

Sahabat, selamat bersegera bebas dari riba. Teriring doa, agar Allah memudahkan segalanya, aamiin allahumma aamiin.

Cap lunas.

Salam bahagia, salam bebas riba,

Fitra

Perhitungan

bulan puasa ialah saat aku belajar matematika

menghitung jarum detik yang gugur menuju imsak dan buka
menaksir biaya makan tiga butir kurma
menimbang zakat fitrah untuk satu kepala
menjumlah rakaat tarawih: 4-4-3 yang mirip formasi sepak bola
memprediksi pada malam ganjil ke berapa akan kujumpai layla

hingga aku lupa untuk apa aku puasa

Jakarta, 19 Juni 2017

oleh: @umiazh

anonymous asked:

Ramadan Mubarak:) I am a Muslim from birth, but my mother is Catholic so we often neglect certain holidays for her sake. I don't agree with this myself, but when you're young pleasing parents is usually a bigger priority. I'm now seventeen and don't know how to pray at all, I don't know any passages from the Quran, and I'm old enough now to do things on my own. I'm so lost, but I know what I believe. What can I do?

Wa Alaikum Salam, my Dear Sister ♥

I am so happy to read this message as it shows me your Emaan, ma shaa Allah ♥ May Allah SWT reward you and give you a good life and afterlife, Ameen ♥

It is ok that you do not know how to pray (Salah) yet ♥ as you always need to start somewhere ♥ but Sister it is better that you are making the effort to make Salah, in shaa Allah, and that is very admirable, ma shaa Allah ♥

You need to start off slowly and with the basics my dear Sister ♥ because you know Islam and all that is required of you, you might not know where to start, but it is all very basic ♥ just take it one step at a time and in shaa Allah you will cover miles Ameen ♥

So the first thing I would show you are the Miracles in the Quran ♥ They are scientific, mathematical, biological (you name it)! Sitting and reading through some of these Miracles is a lot of motivation to know Allah SWT and start praising Him ♥ In shaa Allah ♥
Please go to the following website:
www.miraclesof thequran.com


Once you know some of the Miracles and In shaa Allah feel closer to Allah SWT, you can start making some Du’a and talking to Him ♥
Please read the following blog post on how to make Du’a:
http://islam-for-girls.tumblr.com/post/64386622603/salaam-i-am-struggling-with-how-to-properly-make

Now it is for the Salah ♥ There are five a day ♥ and they come at very specific times and last for a certain amount of time only ♥

Fajr – Before Sunrise
Dhur – When the sun is highest in the sky
Asr – Late Afternoon
Magrib – Sunset
Esha – Nightime

Each prayer has a certain amount of Rakaat ♥ A Rakaat is a single up and down movement done with prayers being recited ♥

Fajr – 2
Dhur – 4
Asr – 4
Magrib – 3
Esha – 4


In order to make Salah and perform these Rakaats, you need to know some certain Quranic verses and chapters (short ones for now, you can always lengthen it if you wish) ♥ So if you want to start making Salah, you can start by learning these prayers from the Quran ♥

If it looks like too much, don’t worry Sister, start off slowly ♥ Try to put these prayers somewhere you can easily access them, and recite them as much as possible for protection, guidance and forgiveness ♥ The more you casually recite the verses, the quicker you will learn them ♥ in shaa Allah ♥

You pronunciation does not need to be perfect, as long as you understand what you saying, that is what is most important ♥


The Fatigha ♥
This is the opening Surah (Chapter) of the Quran, and it is what you recite at the beginning of each Rakaat ♥

Transliteration:
Bismillaah ar-Rahman ar-Raheem
Al hamdu lillaahi rabbil ‘alameen
Ar-Rahman ar-Raheem Maaliki yaumid Deen
Iyyaaka na’abudu wa iyyaaka nasta’een
Ihdinas siraatal mustaqeem
Siraatal ladheena an ‘amta’ alaihim
Ghairil maghduubi’ alaihim waladaaleen
Aameen


Translation:
In the name of God, the infinitely Compassionate and Merciful.
Praise be to God, Lord of all the worlds.
The Compassionate, the Merciful. Ruler on the Day of Reckoning.
You alone do we worship, and You alone do we ask for help.
Guide us on the straight path,
the path of those who have received your grace;
not the path of those who have brought down wrath, nor of those who wander astray.
Amen


Al-Ikhlas (Purity)
This is a short Surah (Chapter number 112) which you can recite after the Fatigha, for one of the first two Rakaats only ♥

Transliteration:
Bismillaah ar-Rahman ar-Raheem
Qul huwallaahu ahad
Allahus samad
Lam yalid wa lam yuulad
Wa lamyakun lahuuu kufuwan ahad


Translation:
In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful.
Say: He is Allah, the One.
He is Allah, the Eternal,
Who was never born, nor ever gave birth.
The One beyond compare.


An-Naas (Mankind)
This is a short Surah (Chapter number 114) which you can recite after the Fatigha, for one of the first two Rakaats only ♥

Transliteration:
Bismillaah ar-Rahman ar-Raheem
Qul a’uudhi bi rabbin naas
Malikin naas
Ilaahin naas
Min sharril wawaasil khannas
Alladhee yuwaswisu fee suduurin naas
Minal Jinnati wa naas

Translation:
In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful
Say: I take refuge in the Lord of mankind,
the Master of mankind,
the God of mankind,
from the evil of the secret tempter
who whispers in the hearts of men,
of the jinns and men.


Now to learn the movements and when to say those Dua’s:

You need to be facing the direction of the Qibla with wudu (ablution) and you need to be covered as prescribed, so that is everything except your face, hands and feet (from your ankles are veiled ♥
You need to be standing on mat which is clean and to be kept clean, for prayer in shaa Allah ♥
Please read the following link on how to make Wudu (ablution) ♥
http://www.wikihow.com/Perform-Wudu

If you are confused about in which direction the Qibla is, there are apps which you can download such as Salatuk, which use GPS to direct you what direction the Qibla is in and give reminders of the Salah times ♥ especially if there are no mosques around you ♥

Please read the following link on how to make Salah ♥ (it has pictures which is very helpful, ma shaa Allah):
http://www.wikihow.com/Perform-Salah


Aaytul Kursi ♥
This Du’a is a section of verses from the Quranic Chapter two, Surah Baqara ♥
This prayer you should recite frequently for protection, this prayer is not necessary for Salah though ♥

Transliteration:
Allahu laaa ilaaha illaa huwal haiyul qai-yoom;
laa taakhuzuhoo sinatunw wa laa nawm;
lahoo maa fissamaawaati wa maa fil ard;
man zallazee yashfa'u indahooo illaa be iznih;
ya'lamu maa baina aideehim wa maa khalfahum;
wa laa yuheetoona beshai ‘immin ‘ilmihee illa be maa shaaaa;
wasi'a kursiyyuhus samaa waati wal arda wa la ya'ooduho hifzuhumaa;
wa huwal aliyyul ‘azeem

Translation:
Allah! There is no god but He - the Living, The Self-subsisting, Eternal.
No slumber can seize Him Nor Sleep.
His are all things In the heavens and on earth.
Who is there can intercede In His presence except As he permitteth?
He knoweth What (appeareth to His creatures As) Before or After or Behind them.
Nor shall they compass Aught of his knowledge Except as He willeth.
His throne doth extend Over the heavens And on earth,
and He feeleth No fatigue in guarding And preserving them,
For He is the Most High. The Supreme (in glory).


Sister, I would just like to repeat that I have given you alot of information and I don’t want you to become overwhelmed by it, so take it at your pace in shaa Allah ♥

Start off with getting familiar with the prayers, by reciting them as much as possible ♥
Become familiar with the movements by imitating them, first without saying any prayers and then by simply saying the name of the prayer in the place where it should be in as you do the movements ♥

When you are ready to pray properly, do so ♥ The ideal is that you know the prayer off by heart and recite them from memory in Salah, but if in the beginning you need to read the prayers off from somewhere while making Salah, Allah SWT is Most-Merciful in shaa Allah ♥ 

If you need more help or are confused or too overwhelmed, please contact me over Tumblr chat or Kik (username: Merhmayd), or send me another question via the ask-box as this one; in shaa Allah ♥ Ameen ♥ Please just make reference that you are the one who sent this message, just so I know who I am talking to as this message is anonymous ♥ 

In shaa Allah all will be well with you, Sister ♥ Ameen 

♥♥ Ramadaan Mubarak ♥♥

anonymous asked:

Assalamu'alaikum, kang mau nanya. Lebih baik sholat tarawih di masjid dengan 23 rakaat yang cepat gerakannya hingga kita tidak bisa mengikuti atau 11 rakaat di rumah sendirian tapi kita bisa mengatur tempo sesuai dengan kemampuan kita (lebih santai+khusyu'). Terimakasih jawabannya kang 😁

Wa’alaikumsalam

DAHULUKAN TUMANINAH

Dalam shalat, yang paling utama dan harus didahulukan adalah kesempurnaan dalam gerakannya, atau bisa disebut tumaninah. Banyak dari kita yang tidak memerhatikan terkait kesempurnaannya, namun lebih berfokus pada cepat atau tidaknya, banyak atau tidaknya rakaat. Padahal, yang paling penting adalah kesempurnaan serta kekhusyu’an dalam melaksanakan ibadahnya.
Dalam hadits disebutkan :
“Sesungguhnya (ada) seseorang yang sholat selama enam puluh tahun, namun tidak ada satu sholat pun yang diterima. Barangkali orang itu menyempurnakan ruku’ tapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud, namun tidak menyempurnakan ruku’nya.” (Hadits hasan riwayat al-Ashbahani dalam at-Targhib, lihat ash-Shohihah no. 2535)

Jika dirasa di tempat sekarang kurang khusyu, maka boleh memilih masjid yang lain yang lebih sesuai dengan kemampuan kita. Upayakan di masjid, mumpung ramadhan, manfaatkan.

Kesimpulannya, 11 atau 23 rakaat itu tidak jadi masalah. Antara rumah dan masjid, utamakan masjid. Antara kecepatan dengan kesempurnaan, maka utamakan kesempurnaan shalat.
Wallahua’lam bisshawab.


Semoga membantu ya anon.

SUJUD SAHWI

*Definisi Sujud Sahwi*

Sahwi secara bahasa bermakna lupa atau lalai dari sesuatu. Sujud sahwi secara istilah adalah sujud yang dilakukan di akhir shalat atau setelah shalat untuk menutupi cacat dalam shalat karena meninggalkan sesuatu yang diperintahkan atau mengerjakan sesuatu yang dilarang dengan tidak sengaja.

*Pensyari'atan Sujud Sahwi*

Para ulama madzhab sepakat mengenai disyari'atkannya sujud sahwi. Di antara dalil yang menunjukkan pensyari'atannya adalah hadits berikut ini. Hadits ini pun nantinya akan dijadikan landasan dalam pembahasan sujud sahwi selanjutnya.

Hadits Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتانِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim no. 571)

*Lalu apa hukum sujud sahwi ?*

Mengenai hukum sujud sahwi para ulama berselisih menjadi dua pendapat, ada yang mengatakan wajib dan ada pula yang mengatakan sunnah. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini dan lebih menentramkan hati adalah pendapat yang menyatakan wajib. Hal ini disebabkan dua alasan:

1. Dalam hadits yang menjelaskan sujud sahwi seringkali menggunakan kata perintah. Sedangkan kata perintah hukum asalnya adalah wajib.

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukan sujud sahwi –ketika ada sebabnya- dan tidak ada satu pun dalil yang menunjukkan bahwa beliau pernah meninggalkannya.

Pendapat yang menyatakan wajib semacam ini dipilih oleh ulama Hanafiyah.

*Perbedaan Pendapat Fuqoha Dalam Hukum Sujud Sahwi*

Madzhab Hanafi : Wajib dan berdosa bagi siapa yang meninggalkannya tetapi tidak membatalkan shalat. Dalil mereka sebagaimana hadits dari Abu Said Al-Khudri yang dipaparkan sebelumnya. Madzah hanafi memaknai kalimat perintah dalam hadits tersebut sebagai perintah yang wajib dilaksanakan maka dari itu mereka mewajibkan sujud sahwi bagi yang lupa dalam mengerjakan rukun maupun kewajiban dalam shalat.

Madzhab Syafi‘i : Hanya wajib dalam keadaan tertentu yaitu ketika Imam melakukan sujud sahwi maka dalam keadaan seperti ini makmum wajib melakukannya karena mengikuti Imam. Jikalau makmum tidak mengerjakannya maka shalatnya batal dan wajib baginya mengulang shalat kembali. Ketika Imam tidak melakukan sujud sahwi, maka tidaklah wajib bagi makmum untuk melakukannya melainkan hukumnya berubah menjadi sunnah. Dan sunnah ini hanya berlaku untuk individu masing-masing.

Madzhab Maliki : Sunnah baik itu bagi Imam maupun individu masing-masing.

Madzhab Hambali : Wajib hanya ketika seseorang meninggalkan rukun ataupun kewajiban-kewajiban dalam shalat. Dan hukumnya menjadi sunnah jika meninggalkan selain dua hal tersebut.

*Tata Cara Sujud Sahwi*

Madzhab Hanafi : sujud sahwi dilakukan oleh seseorang yang shalat setelah salam ke kanan saja. Kemudian sujud dua kali, lalu membaca tasyahud dan salam. Jika tidak membaca tasyahud maka ia telah meninggalkan hal-hal yang wajib tetapi shalatnya tetap sah.

Madzhab Syafi‘i : sujud sahwi dikerjakan sebelum salam, setelah tasyahud dan shalawat atas Nabi Saw. Dan tak lupa berniat di dalam hati.

Madzhab Maliki : jika sujud sahwi di sebabkan karena KURANGnya gerakan sholat, bacaan sholat, atau jumlah rakaat, maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam. Dan ketika disebabkan LEBIHnya 3 perkara diatas, maka sujud sahwi dilakukan setelah salam

Madzhab Hambali : Boleh dilakukan setelah salam atau sebelum salam. Dan afdholnya sujud sahwi dilakukan sebelum salam.

*Bacaan Ketika Sujud Sahwi*

Terdapat riwayat yang tersebar di masyarakat tentang bacaan sujud sahwi, dengan lafal, “Subhana man la yanamu wa la yashu (Mahasuci Dzat yang tidak tidur dan tidak lupa).”

Akan tetapi, perlu Anda ketahui bahwa bacaan ini tidak ada dalilnya, baik dari Alquran, hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun perbuatan para sahabat.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, “Doa ini tidak ditemukan di kitab hadis mana pun.” (Lihat Talkhis Al-Khabir, 2:88)

Tidak ada doa khusus ketika sujud sahwi, sehingga bacaannya adalah sebagaimana bacaan sujud ketika shalat, misalnya: Subhana Rabbiyal A’la.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Dan hendaklah dia membaca di dalam sujud (sahwi)-nya bacaan yang diucapkan di dalam sujud ketika shalat, karena sujud sahwi tersebut merupakan sujud yang disyariatkan serupa dengan sujud di dalam shalat.” (Al-Mughni, 2:432–433)

Abu Muhammad bin Hazm (Ibnu Hazm) rahimahullah berkata, “Orang yang bersujud sahwi harus membaca, di dalam kedua sujudnya, “‘Subhana Rabbiyal A’la,’ berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam(yang artinya), ‘Jadikanlah ia (bacaan itu) di dalam sujudmu.’” (Al-Muhalla, 4:170)

anonymous asked:

Asalaam alakium Can you please put a list of Before Sunnah Prayers Fard After Sunnah prayers And taraweeh, witr and also eid prayer Plus any other prayer I have missed May Allah accept your prayers, fasts and dua's sis 💗💗

Wa Alaikum Salam ♥

Fajr:
2 Rakaats before

Dhur:
4 Rakaats before
2 Rakaats after

Asr:
None

Magrib:
2 Rakaats after

Esha:
2 Rakaats after

Taraweeg (in most congregations prayed from 11 Rakaats to 20 Rakaat or sometimes more/less depending – prayed in 10 sets of 2 Rakaats each)

Tahajjud/Later night prayers (best to pray after Midnight, but one has to sleep and then wake up for the prayer – minimum 2 Rakaats and performed in pairs if more than 2 Rakaats is performed)

Witr (2 Rakaats and then 1 Rakaat – according to some views)

Ishraq (2 Rakaats after just sunrise)

Eid Prayers (2 Rakaats with six additional Takbeers)

There are other Sunnah Salahs such as the prayers for rain etc. which you can ask me for individual and detailed explanations for by name ♥
You can also pray Sunnah Rakaats which are not prescribed entirely (for example if you are thankful for something, you can thank Allah SWT by making however many amounts of Rakaats Sunnah you feel is necessary ♥

Shurkaan Sister, and same to you Ameen ♥

In shaa Allah I have answered your question, Ameen ♥

Pesan

“Mi, beneran abi ga pernah ngomong sesuatu tentang sumayah ke ummi? Atau nyampein pesan terakhir buat Sumayah, Sumayah harus jadi orang gimana atau harus ngapain?” Dia menggeleng menjawab pertanyaanku. 
“Hmm, apa ya, kayanya ga ada. Kamu kan sering ngobrol sama Abi.”
“Iya justru karena sering ngobrol, jadi suka bingung yang pesan terkahir atau wasiatnya itu apa. Ngasih pesan penting sih sering banget, tapi yang paling pentingnya Sumayah gatau yang mana.” 

***

Sepuluh hari sebelum Abi meninggal, aku terbang dari Hannover ke jakarta. Sesampainya di rumah sakit aku hanya melihat abi sedang tertidur lalu ummi membangunkannya. “Bi, ini Sumayah udah sampai.” Mendengar perkataan itu, aku tersadar, akulah anak abi yang terakhir datang, sedangkan yang lainnya sudah berkumpul di jakarta. Abi terbangun, melihatku dengan wajah yang terlihat lemas dan tidak sepenuhnya bangun. Gemetar aku melangkah mendekati abi. Abi lalu mengangkat tangannya, mengusap kepalaku pelan dan meletakannya di pundak kanannya. Air mata yang selama lima belas jam di pesawat ku tahan akhir nya keluar juga. Aku refleks memeluk abi yang terbaring. Tulang-tulang di badannya dengan mudahnya ku sentuh dengan tangan. 

“Sum…” Ucapnya pelan sekali. Tidak sempat ku seka air mataku, ku paksakan untuk menjawab. “Iya bi..” tapi setelah itu abi tidak menyahut lagi, sampai akhirnya ummi datang lalu bicara tanpa suara, memberitahuku kalau abi harus istirahat. Usapan tangan abi di kepalaku sudah tidak ku rasakan lagi. Aku mengangkat kepalaku dan meletakan tangan abi yang sudah mengurus di samping kasur. 

***

Itu kira-kira percakapan terakhir aku dengan abi, sepuluh hari sebelum dia pergi. Setelah itu kondisi abi terus drop hingga masuk ICU dan Oprasi transplantasi dan akhirnya pergi meninggalkan kami dan dunia ini.

Setelah abi pergi, aku, ummi kakak dan adik-adik sudah seperti mesin pengulang waktu setiap harinya membicarakan abi beserta kenangan-kenangan yang kami lalui bersamanya. Bercerita tentang masa kecil kami bahkan cerita saat abi kecil yang bahkan kita tidak pernah melihatnya langsung. Hanya cerita yang kami ingat nenek kami pernah menceritakannya. 

Lalu sampailah saat adik-adikku satu persatu mulai menyebutkan pesan terakhir abi untuk mereka. Aku berusaha mengingat apa pesan terkahir abi untukku. Tapi jawabannya tak sempat ku temukan. 

Berkali-kali aku bertanya pada ummi, apa sempat abi menitipkan pesan untukku pada ummi? Pertanyaan itu ada di meja makan, ruang tv, tempat tidur bahkan di dapur. Sampai bosan mungkin ummi berusaha mengingat-ingat, dan jawabannya tetap “Hmm, apa ya, kayanya ga ada. Kamu kan sering ngobrol sama Abi.” 

Aku juga tidak pernah menyerah untuk terus bertanya. Sampai siang itu… 

Saat aku tidur siang diantara waktu dzuhur dan ashar. 

Aku bersama beberapa temanku sepertinya sedang bermain di mall atau semacamnya. 

“Sum, kamu belum sholat kan? Cepetan nanti keburu waktu sholatnya habis.” mendengar itu dari salah satu temanku, aku cepat-cepat pergi ke mushola. Dari depan pintu mushola aku melihat abi dan ummi sedang sholat berjamaah rakaat terakhir. Tiba-tiba aku menahan kakiku untuk masuk. “Kenapa?” tanya temanku.

“Aku takut di marahin abi soalnya belum sholat.” Lalu temanku mendorong-dorongku untuk masuk mushola. 

Setelah abi salam, semua orang di mushola itu berbondong-bondong mengerubungi abi untuk bersalaman. Demi melihat itu, akupun masuk dan ikut menghampiri abi untuk bersalaman. Tapi abi sepertinya terburu-buru ingin pergi. Aku tetap memaksa ingin bersalaman. Sampai akhirnya aku menyalami tangan abi dan rasanya tidak ingin ku lepaskan. Aku menatapnya dan mengenggam tangannya erat, seperti hari terakhir abi di ruang ICU.  Aku seolah ingin menahan kepergiannya. 

“Kamu ingat dakwah, sumayah…” Ucapnya lalu tersenyum. Tanpa kusadari perlahan aku melepas tangannya. Dan melihat abi semakin berlalu sampai dia hilang dari penglihatanku. 

Lalu aku terbangun.

Aku lupa itu hari apa. Tapi aku ingat langit hari itu biru bekas hujan. Angin sejuk yang mengayun-ayunkan gordin kamar. Aku terbangun, Menatap langit-langit, satu airmataku jatuh lalu yang lainnya bersusulan berebut juga ingin keluar. Hening kamar itu tanpa isak atau apapun, yang terngiang hanyalah ucapan terakhirnya di mimpiku itu. 

Ramadhan Rasa Turki

Setiap hari di bulan Ramadhan, Fatih Moskee, masjid pusat di Eindhoven, menyediakan makanan berbuka puasa gratis. Masjid yang dibangun oleh komunitas muslim Turki ini menyediakan menu berbuka mulai dari Baklava (kue khas Turki), kurma, buah, sup hangat, sampai menu nasi komplit dengan lauk dan sayurnya. Porsinya pun sangat banyak, setidaknya bagi saya, yang membuat saya suka kewalahan menghabiskannya. Ditambah dengan tradisi mereka yaitu setelah adzan berkumandang semua makanan itu disajikan, tidak seperti budaya ta’jil yang kita kenal. Baru sekitar dua puluh menit kemudian shalat maghrib berjamaah dilaksanakan. Beruntungnya, sejak kemarin penyajian makanan mereka berubah. Sebelumnya semua makanan itu dihidangkan di atas piring, sehingga harus dihabiskan di tempat. Sekarang menu nasi lauk dan sayurnya dipisahkan dalam wadah styrofoam sehingga bisa saya bawa dan dimakan nanti setelah shalat maghrib.

Setelah shalat maghrib biasanya orang-orang Turki minum teh atau kopi sambil bercengkerama dengan keluarga dan sahabat. Beberapa menit menjelang isya, khatib naik mimbar untuk memberikan ceramah. Mungkin karena faktor waktu yang menyebabkan ceramah diadakan sebelum isya, tidak setelah isya seperti di Indonesia. Waktu isya di musim panas memang sudah menjelang tengah malam, yaitu sekitar pukul 23.20.

Setelah waktu isya masuk dan muazin mengumandangkan adzan, semua orang langsung shalat qobliyah 4 rakaat. Setelah itu shalat isya berjamaah, dan dilanjutkan dengan shalat ba’diyah 2 rakaat. Tidak lama kemudian, shalat tarawih dilaksanakan. Mayoritas orang Turki bermadzhab Hanafi sehingga mereka memilih 23 rakaat tarawih dan witir dengan salam setiap 2 rakaat. Uniknya, shalat orang Turki ini kilat sekali, wkwk. Tidak jarang imam hanya membaca 1 ayat surat pendek di setiap rakaatnya. Tidak heran jika total dari adzan shalat isya sampai shalat witir hanya memakan waktu 50 menit!

Kekompakan mereka pun patut diacungi jempol. Meski saat pertama kali shalat berjamaah dengan mereka, saya merasa asing. Pasalnya mereka menganut paham bahwa gerakan makmum tidak berselang lama dari gerakan imam (hampir bersamaan). Jadi ketika mereka berpindah rukun, misal dari posisi berdiri ke ruku’, mereka tidak menunggu imam selesai membaca Allahu Akbar, tapi bersamaan dengan imam membaca Allahu Akbar. Jadilah saya seakan ‘tertinggal’ gerakan diantara makmum-makmum lain yang bergerak secara kompak. Begitu juga dengan budaya dzikir. Gerakan mereka mengeluarkan tasbih, membaca dzikir, sampai memasukkan tasbih kembali terdengar seirama, kompak, layaknya tentara yang sudah terlatih.

Melihat kerekatan hubungan diantara muslim Turki ini kadang membuat saya iri. Di Belanda ini saja, bisa dilihat perbedaan yang jauh antara jumlah masjid Turki dan masjid Indonesia. Belum lagi jika kita menghitung jumlah restoran halal atau toko daging halal milik orang Turki. Padahal muslim Turki baru datang ke Belanda sekitar tahun 60-70an, sedangkan kita sudah jauh sebelum itu. 

Kapan ya muslim-muslim Indonesia bisa seperti mereka?

foto: Fatih Moskee, Eindhoven.
sumber: flickr.com

I hate all those posts and memes which make fun of people for only praying 8 rakaats of taraweeh… firstly it’s a sin to mock or look down on someone because they appear to be doing less than you. Everyone is capable of different things, and it’s not like they’re neglecting a fardh - taraweeh is completely voluntary. Actions in islam are judged by quality, not quantity - for example a person who has difficulty reading Quran actually gets more reward than someone who finds it easy because they are struggling for the sake of Allah. When it comes to worship, we should never think we’re superior to someone else. Humble yourself, maybe one rakaat of theirs is more in the eyes of Allah than all of yours put together.
Secondly, there’s actually a difference of opinion when it comes to how many rakaats of taraweeh you’re meant to pray and many people and mosques do pray 8 rakaats as they believe that to be the sunnah. They aren’t praying less because they’re lazy or irreligious.