radiallahu anhu

Paradoksal Abu Bakar dan Umar

Dari dulu saya sebenarnya bertanya-tanya, mengapa kisah hidup Abu Bakar jauh lebih sedikit yang kita temukan daripada kisah Umar?

Lalu, tiap membaca kisah mereka dari hadist, ada sensasi aneh dan unik yang muncul. Misalnya, saat kita membaca kisah Umar, beliau selalu tampil sebagai seorang yang kuat, tegas, dan cenderung keras.

Abu Bakar sebalknya, tidak menonjol dan tidak mau menonjol. Abu Bakar selalu meringkuk di pojokan dan tidak nyaman jika diminta tampil. Namun, saat ia tampil, jawaban dan tindakan-tindakannya membelalakkan mata.

Abu Bakar jelas adalah seorang phlegmatis murni. Jika ia tak harus muncul, ia takkan mau muncul. Ketika harus muncul, Abu Bakar pun bicara dengan kerendahan hati luar biasa. Kata-katanya singkat, tindak-tanduknya mencerminkan “siapa sih saya, bukan apa-apa”. Wajahnya merah saat dipuji. Ia tidak suka dipuji. Gambaran fisiknya pun makin menguatkan asumsi itu, “kurus, tinggi, berkulit putih, terlihat ringkih, agak bungkuk, berjenggot putih, dan pendiam”, begitu gambaran umum fisik Abu Bakar.

Abu Bakar beramal dalam diam, tapi amalnya luar biasa. Amalnya adalah yang terbaik. Hanya beberapa amal yang sempat Umar pergoki. Namun, saat Umar berhasil “menangkap basah”, ia hanya bisa kicep melihat kualitas amal Abu Bakar.

“Sungguh, engkau telah membuat kesulitan tiap pemimpin yang menggantikanmu, wahai Abu Bakar”, keluh Umar. Umar memberikan pernyataan itu saat memergoki Abu Bakar tiap pagi datang ke rumah janda tua di pinggir Makkah. Abu Bakar memberishkan rumah janda tersebut dan memasakkan makanan untuknya. Ia mengurus janda itu tiap hari. Padahal, saat itu Abu Bakar adalah khalifah.

Begitu pula saat Nabi bertanya kala bincang setelah subuh. Saat ditanya siapa yang hari ini sudah bersedekah, menengok orang sakit, dan bertakziyah, tak ada satupun sahabat yang sudah melakukannya kecuali Abu Bakar. Ia mengangkat tangan, mengaku dalam malu, sementara sahabat lain terbengong.

Abu Bakar, jangan main-main. Masih jam 5 pagi dan Anda sudah bertakziyah, bersedekah, dan menjenguk orang sakit? Seperti apa Anda menjalani hari-hari Anda? Jam berapa Anda bangun? Dan Anda malu-malu dalam mengaku kepada nabi? Duh, apalah kami dibandingkan Anda.

Dengan karakter Abu Bakar yang seperti itu, wajar saja tak banyak kisah yang kita dapatkan.

Umar, dalam berbagai segi, adalah kebalikan Abu Bakar. Umar adalah potret sejati dari karakter Koleris murni. Keras, tegas, raksasa, pemaksa, dan cenderung keras. Fisik Umar digambarkan sebagai, “tinggi-besar, berotot, botak, keras, kasar, pandangan matanya tajam, garang - semua orang takut padanya”.

Kata-kata khas yang ia pakai kadang mirip preman pasar, “penggal saja!”, “aku akan membunuhmu!”, “kita harus melawan mereka!”, “wahai Rasululah, kenapa kita harus takut kepada Quraisy?”

Kenyataannya, Umar memang mantan preman pasar Ukazh. Sebelum masuk Islam, ia adalah tukang berkelahi dan jagoan Ukazh.

Sikapnya yang berani mengambil resiko memang luar biasa. Dan seperti karakter Koleris lainnya, kita melihat seorang yang menonjol. Koleris banyak sekali mengambil inisiatif untuk perubahan - dan bagi mereka, itu adalah sesuatu yang biasa mereka lakukan. Saat kau menginginkan ketenangan, panggil phlegmatis. Namun, saat kau merasa buntu, panggil Koleris. Koleris akan memecahkan kebuntuan-kebuntuanmu dengan cepat.

Dan itu pula yang dilakukan Umar. Saat jamaah muslim ketakutan di Makkah, Umar mengajak mereka berthawaf dan sholat di Ka'bah. Saat muslim yang lain hijrah diam-diam dalam malam, cuma Umar seorang yang menenteng pedang di bahunya sambil berteriak menantang di siang bolong, “Bagi yang mau menghadang aku untuk hijrah, silahkan!” Tak ada satupun orang yang menghadang Umar.

Makanya, dengan karakter Umar yang seperti itu, kisah tentang Umar membanjiri sirah nabawiyah Islam. Tidak heran.

Namun, ada satu hal yang unik, dan ini membuat kekaguman saya bertambah-tambah. Saat memilih pemimpin di Tsaqifah, mereka tidak memilih pemimpin yang menonjol. Mereka memilih pemimpin yang terbaik.

Abad 21 adalah abad ekstrovert. Saya yakin, andaikata ada pemilihan pemimpin antara Abu Bakar dan Umar tahun 2015 ini, Umar lah yang akan menang. Abad ini, orang yang lebih menonjol, lebih banyak berbicara, lebih banyak mengambil inisiatif, dia lah yang dipandang lebih baik. Setidaknya begitulah kata Susan Cain dalam bukunya Quiet. Pernahkah kamu berada dalam ruangan dan terpesona oleh orang yang banyak bicara dan aktif memberi ide, tapi kemudian kecewa karena ia tak bisa memimpin tim dan memberi hasil yang diharapkan?

Padahal, kepemimpinan bukan diukur dari seberapa baik ia bicara di depan publik. Ia bukan diukur dari keberaniannya untuk berorasi di depan orang-orang. Gandhi bukanlah orang yang jago pidato. King George X dari Inggris pun gagap saat coba bicara di depan rakyatnya (dan kemudian dibuatlah film King’s Speech untuk memotret fenomena itu).

Kepemimpinan, menurut saya, adalah lebih pada kemampuan membawa orang yang dipimpin untuk sampai ke tujuan. Jika demi sampai ke tujuan si pemimpin harus bagus bicara di depan publik ya bisa jadi. Tapi bukan itu fokusnya. 

Makanya, ketika Utsman menjadi khalifah, ia jarang sekali pidato. Dan sekalinya pidato, ia cuma berpidato begini, “Sesungguhnya pemimpin yang terbaik adalah yang paling banyak kerjanya, bukan yang paling banyak bicaranya”. Lalu ia turun dari mimbar, meninggalkan jamaah muslimin yang bengong.

Peristiwa Tsaqifah - pemilihan pemimpin setelah wafatnya Nabi - tiba. Dari sinilah saya melihat cerminan karakter Abu Bakar dan Umar dengan sangat jelas dan kontras.

Abu Bakar dengan karakter phlegmatisnya benci tampil menonjol. Sebagai phlegmatis, Abu Bakar berpikir ia bukan apa-apa. Ia tak mau orang memandang dirinya. Kalau bisa, ia selalu ingin di pojokan saja.

Namun, hari ini berbeda. Situasi Tsaqifah sangat panas dan perlu keputusan. Walaupun Abu Bakar tak suka menjadi pusat perhatian, akhirnya ia maju dan memberikan usul. Ia meminta hadirin memilih antara Umar dan Abu Ubaidah sebagai pemimpin. Dalam kondisi biasa, kawan, seorang phlegmatis tak mau menonjol, tak mau memimpin. Namun, dalam kondisi terdesak dan kritis, saat ia melihat ia harus memimpin dan tak ada orang lain yang bisa, ia akan (terpaksa) tampil.

Dan di sinilah briliannya Umar. Ia tahu ia lebih menonjol dibanding Abu Bakar. Perawakannya lebih meyakinkan daripada Abu Bakar. FYI, menurut riset, orang dengan karakteristik tubuh tinggi besar dan kelihatan tegas lebih didambakan untuk menjadi pemimpin dibanding orang yang perawakannya kecil dan terlihat tidak tegas. Dan, tebak, kalau Umar memilih mengangkat diri menjadi pemimpin, takkan ada yang protes. Umar memang layak!

Tapi Umar menolak.

Ia tahu secara perawakan dan kasat mata, ia lah yang lebih cocok menjadi pemimpin. Tapi soal manusia terbaik, Abu Bakar lah orangnya. Saat itu adalah saat krisis, secara logika Koleris lah yang perlu mengambil alih. Tapi tidak, ia yang perawakannya “kurus dan ringkih” itulah yang dipilih sebagai pemimpin. Sang phlegmatis murni.

Selanjutnya adalah kisah tentang paradoksal. Abu Bakar yang dikenal pendiam dan tidak menonjol langsung tampil menjadi pemimpin yang luar biasa tegas, bahkan mengalahkan ketegasan Umar.

Saat Umar protes mengapa Abu Bakar memerangi kaum yang tidak membayar zakat, Abu Bakar balik menghardik Umar bahwa mereka memang harus diperangi. Saat Umar memprotes bahwa pasukan Usamah harus mundur, Abu Bakar menghardik Umar bahwa ia takkan menghentikan apa yang telah diperintahkan Rasulullah.

Ya, inti kepemimpinan adalah soal kemampuan membawa orang yang dipimpin demi mencapai tujuan. Dan Abu Bakar jelas orang yang paling memiliki kompeten di bidang itu. Maka, ketika dihadapkan sebuah tanggung jawab kepemimpinan, seorang phlegmatis akan mentransformasikan dirinya menjadi seorang -yang kadang- jauh berbeda. Seorang phlegmatis memang tak suka muncul, tapi ketika ia harus muncul, maka ia akan muncul.

Abu Bakar dan Umar. Kedua orang ini selalu saya pelajari kisah hidupnya dengan pendalaman yang jauh lebih mendalam dibanding kisah sahabat yang lain. Bagi saya, mereka adalah kisah persahabatan paradoks sekaligus unik luar biasa. Radiallahu Anhu (semoga Allah ridha kepada mereka)

Akhir kata, saya cuma bisa mengutip syair Imam Syafii untuk mengakhiri tulisan ini,

“Ya Allah, tempatkanlah aku bersama orang-orang saleh walaupun aku bukan termasuk bagian dari mereka”

O Allah, I am weak, so make me strong. I am harsh, so make me gentle. I am miserly, so make me generous.
—  Umar ibn al-Khattab (radiallahu anhu)
Narrated ‘Abdullaah ibn 'Umar (radiAllahu 'anhu): 'Umar ibn Al Khattab (radiAllahu 'anhu) stood up on the pulpit and said, “Now then, prohibition of alcoholic drinks have been revealed, and these drinks are prepared from five things, i.e. grapes, dates, honey, wheat or barley. And an alcoholic drink is that, that disturbs the mind.”
—  [Saheeh Bukhari Vol. 7. No. 487]
🔴The Benefit of a Headache - A headache is a means of forgiveness and reward🔴

📚Abu Said al-Khudri radiallahu anhu that the Prophet sallahu alayhi wa salam said:

صُداعُ المؤمنِ ، أو شوكةٌ يُشاكُها ، أو شيءٌ يُؤذيه ؛ يرفعُه اللهُ بها يومً القيامةٍ درجةً ، ويُكفِّرُ عنه بها ذنوبَه

“The headache that afflicts the believer, or a thorn that pricks him/her, or anything that harms him/her, Allah will raise him/her a degree on the day of resurrection and expiate his/her sins due to it”

[Saheeh Targheeb no. 3434]

Also, not having headaches is a bad sign because the people destined to go the Hell-fire do not have headaches:
Abu Hurairah radiallahu anhu said:

The Prophet sallahu alayhi wa salam said:
: فَهل وجَدْتَ هذا الصُّدَاعَ ؟ . قال : وما الصُّدَاعُ ؟ قال : عِرْقٌ يَضْرِبُ على الإنسانِ في رأسِهِ . قال : وما وجَدْتَ هذا قطُّ ! فلمَّا ولَّى قال النبيُّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : مَنْ أحبَّ أنْ ينظرَ إلى رجلٍ من أهلِ النارِ ؛ فَلْيَنْظُرْ إلى هذا

“…Have you ever felt a headache? The man said: What is a headache? He sallau alayhi wa salam said: A vein that beats in the head of a person. The man said: No I have not experienced that ever! The Prophet sallahu alahyhi wa salam said: Whoever would like to see a man from the people of the Hell-fire, then look at this man!”

[Reported in Ibn Hibban and graded Hasan Saheeh by al-Albani in Saheeh Mawaarid no. 580]

Having headaches are a sign of the People of Imaan and the People of Jannah.

Hafidh Ibn Rajab rahimahullah said:
وصداع الرأس من علامات أهل الإيمان وأهل الجنة
“…And headaches are from the signs of the People of Imaan and the People of Jannah..”
[Lataaif al-Maa’rif pg. 153]

Then he brings the above Hadith and others.

عَنْ أَبِي الزَّيَّاتِ الْقُشَيْرِيِّ , قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ نَعُودُهُ , فَدَخَلَ عَلَيْنَا أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: مَا لِأَمِيرِكُمْ؟ وَأَبُو الدَّرْدَاءِ يَوْمَئِذٍ أَمِيرٌ , قُلْنَا هُوَ شَاكٍ قَالَ: وَاللهِ مَا اشْتَكَيْتُ قَطُّ , أَوْ قَالَ: مَا صَدَعْتُ قَطُّ فَقَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ:” أَخْرِجُوهُ عَنِّي لِيَمُتْ بِخَطَايَاهُ , مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِكُلِّ وَصَبٍ وَصَبْتُهُ حُمْرَ النَّعَمِ , وَإِنَّ وَصَبَ الْمُؤْمِنِ يُكَفِّرُ خَطَايَاهُ

On the authority of Abu Zayyaat al-Qushairi rahimahullah said: “We entered upon Abu Darda radiallahu anhu to visit him, when a Bedouin entered upon him. So he said: Where is your Ameer? And Abu Darda was the ameer then. So we said: He is complaining of some pain. The man said: I have not complained of anything or he said: I did not experience a headache ever! Abu Darda radiallahu anhu said: Remove him from me, so he dies from his sins. I do not love that for every pain/sickness that I feel that I am given red camels. For verily, the pain/illness of a believer is an expiation for his sins”
[Reported by Bayhaqi in Shuab al-Imaan no. 9436 and the Muhaqiq of the Book Mukhtaar Ahmad Nadwi graded it Jayyid]

Translated by
Faisal Ibn Abdul Qaadir Ibn Hassan
Abu Sulaymaan

Qatādah (RadiAllahu anhu) said:

“Know that sinning in the sacred months (Dhul-Qa'dah, Dhū al-Ḥijjah, Muḥarram and Rajab) is worse than sinning in other than them even though sinning in all circumstances is something not to be taken lightly (grave), except Allāh magnifies from the affairs that which is pleasing to him.”

[تفسير ابن كثير ١٤٨/٤، تفسير ابن رجب ٥١٦/١]

Hate no one, no matter how much they’ve wronged you. Live humbly, no matter how wealthy you become. Think positively, no matter how hard life is. Give much, even if you’ve been given little. Keep in touch with the ones who have forgotten you, and forgive who has wronged you, and do not stop praying for the best for those you love.
—  Ali ibn abi Talib (radiallahu anhu)
Do not let your love be obsessive and do not let your hatred be destructive. When you love, do not go to a level of obsession as a child does with the thing he loves, and when you hate, do not hate in such a way that you want your opponent to be destroyed and doomed.
— 

‘Umar ibn al-Khattab (Radiallahu anhu)

[Narrated by ‘Abd ar-Razzaaq in al-Musannaf, 20269]

Best dua for forgiveness:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَمَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لا
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنْتَ -
Allahumma anta Rabbi la ilaha illa anta, Anta Khalaqtani wa ana abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa'dika mastata'tu, A'udhu bika min Sharri ma sana'tu, abu'u Laka bini'matika 'alaiya, wa Abu Laka bidhanbi faghfirli innahu la yaghfiru adhdhunuba illa anta
-
(O Allah! You are my Lord! None has the right to be worshipped but You. You created me and I am Your slave, and I am faithful to my covenant and my promise as much as I can. I seek refuge with You from all the evil I have done. I acknowledge before You all the blessings You have bestowed upon me, and I confess to You all my sins. So I entreat You to forgive my sins, for nobody can forgive sins except You.)
-
Shaddad ibn Aws (radiAllahu anhu) relates that the Prophet (‎ﷺ‎‬) said that he (Sayyid al-Istighfar) most superior way of asking for forgiveness from Allah is to say (the above du'a). That “If somebody recites it during the day with firm faith in it, and dies on the same day before the evening, he will be from the people of Paradise; and if somebody recites it at night with firm faith in it, and dies before the morning, he will be from the people of Paradise.”
[sahih al-Bukhari; 8,75,318, at-Tirmidhi; 3393, an-Nasa'i; 5522, Ahmad; 16662]

#BlackHistoryMonth Bilal ibn Rabah was one of the most loyal and dignified companions of the Prophet (pbuh) and the world’s first Mu'adhin. 

Many of the first converts to Islam were slaves and the poor, who were constantly oppressed and persecuted in the Jahiliyah (pre-Islamic) times. One of these slaves was named Bilal ®, the son of an Arab slave and a former Abyssinian princess who was captured and put into slavery; when Bilal’s master found out he had converted, he used many violent torture methods to try and revert him. He ordered that Bilal’s limbs were to be stretched out and tied to stakes lying flat on desert sand, so that he could feel the intensity of the sun and the Arabian heat, and he would be whipped and beaten while tied to the stakes. Constantly refusing to denounce Islam, his owner became frustrated and ordered that a large boulder/stone be placed on Bilal’s chest. The boulder, heated by the sun, burned and crushed Bilal’s body. 

However, Bilal remained firm in belief and continued to say “Ahad Ahad” (God is one). After such terrible punishments, news of Bilal reached some of Muhammad’s companions, who then told Muhammad (pbuh). Muhammad (pbuh) then sent Abu Bakr ®, who negotiated a deal with the owner to purchase Bilal and emancipate him from slavery.

Years later, when the Muslims migrated to Madinah to escape persecution, Bilal was given a prominent position,and became the first treasurer of Islam. As the treasurer, Bilal allocated all funds and distributed funds to widows, orphans, the wayfayers (travelers), and people who could not support themselves.

When the adhan (call to prayer) was established, the Prophet (pbuh) chose Bilal as the first mu'adhin, or the one that calls to prayer (shown above), due to his melodious and resonant voice. This was a high honor and he was respected everywhere. Bilal (radiallahu anhu) is seen universally as an icon of resilience and strength, even to this day.

Umm Salamah (radiAllahu ‘anha) loved her husband dearly. He was the best she could ask for. He was the greatest love she knew. However, as it was the will of Allah (swt), she lost her husband, and grief overtook her.

She said: “I heard the Messenger of Allah (Allah bless him and grant him peace) saying, “When a person suffers from a calamity and utters: `Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un. Allahumma ujurni fi musibati, wakhluf li khairan minha (We belong to Allah and to Him we shall return. O Allah! Compensate me in my affliction, recompense my loss and give me something better in exchange for it), then Allah surely compensates him with reward and better substitute.”

Umm Salamah (radiAllahu ‘anha) said: When Abu Salamah (radiAllahu ‘anhu) died, I repeated the same supplication as the Messenger of Allah (Allah bless him and grant him peace) had commanded me (to do), so Allah bestowed upon me a better substitute than him. [Muslim].

Umm Salamah was patient, she sought solace in Allah (swt) and He replaced her with a better husband, the Messenger of Allah (salAllahu ‘alayhi wasallam).

When we lost something, we need to seek solace in Allah (swt) through our du’as, and He promises us that He *will* replace us with better and compensate our loss.

I thought of all types of wealth, but couldn’t find a better wealth than contentment in a little
—  Umar ibn al-Khattab (radiallahu anhu)
🙏❤️Dikr for Ramadan & beyond

Veirly in the remembrance of Allah swt do hearts find rest.

🌸 Alhamdulillah (“All praise is due to Allah.”)

Reward: Your scales will be tipped on the Day of Judgment, full of rewards!

🌸LA HAWLA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH.” (“There is no power or might except (by) Allah.

Hadhrat Abu Dharr [Ra] narrated that Rasulallah [Saw] said: “Should I not tell you of one treasure of the unlimited treasures of Paradise?” I replied spontaneously “Oh Rasulallah (Peace be upon him) that would be an honour indeed!” Rasulallah (Saw) said: “That rare treasure is LA HAWLA WA LA QUWWATA ILLA BILLAH.”


🌸Subhan-Allahi wa bihamdihi, Subhan-Allahil-Azhim [Glory be to Allah and His is the praise, (and) Allah, the Greatest is free from imperfection)’.

“There are two statements that are light for the tongue to remember, heavy in the Scales and are dear to the Merciful: `
[Al-Bukhari and Muslim].


🌸Radeetu billahi rabban, Wa bil-Islaami deenan, Wa bi-Muhammadin rasoolan - I am pleased with Allah as the Lord and Islam as the religion and Muhammed (pbuh) as the prophet.

Abu Sa’id (Ra) said that Rasullallah (Peace be upon him) said, “Whoever says the above, Jannah becomes obligatory for him (to enter). (Abu-Dawud)

🌸 Subhan-Allah Wa bihamdihi, ‘adada khalqihi, wa rida-a nafsihi, wa zinatah ‘arshihi, wa midada kalimatihi - (Allah is free from imperfection and I begin with His praise, as many times as the number of His creatures, in accordance with His Good Pleasure, equal to the ink that may be used in recording the words (for His Praise).” (Muslim)

Recite 3X

The Mother of the Believers, Juwairiyah bint Al-Harith reported that the Prophet came out from my apartment in the morning as I was busy in performing the dawn prayer. He came back in the forenoon and found me sitting there. The Prophet said, ”Are you still in the same position as I left you.” I replied in the affirmative. Thereupon the Prophet said, “I recited four phrases three times after I had left you. If these are to be weighed against all you have recited since morning, these will be heavier.

🌸 SubhanAllah (x33) Glory be to Allah - Alhamdulillah (x33) All praise is due to Allah - Allahu akbar (x34) Allah is greatest. Can be recited after salat and before you go to bed/sleep. (“I praise Allah (or All praise if to Allah) above all attributes that do not suit His Majesty. All praise is to Allah. Allah is Great.”)

Reward: We know that this dhikr is said after each salah, but when Fatima the daughter of the Prophet came to her father requesting a servant to help with the household, the Messenger of Allah told her to repeat the dhikr before her sleep and the results would be better than having a servant. all his sins will be forgiven even if they be as profuse as the foam of the sea.“


🌸Sending blessing to the Prophet Mohammed PBUH

Allahumma salli wa sallim alaa Nabiyyinaa Muhammed

saying Sall Allaahu ‘alayhi wa sallam (may Allah send blessings and peace upon him [i.e., the Prophet (sal Allahu alaihi wa sallam)].

Recite as 10x or as little and as many times as you can.

Abu al-Darda (radiAllahu anhu) relates that the Messenger of Allah alayhisalam said, “Whoever sends blessings on me ten times in the morning and ten in the evening will have my intercession on Judgment Day”

In a hadith narrated by Ibn Mas'ud (radiAllahu anhu), the Messenger of Allah alayhisalam said, “Those who are the closest to me on the day of judgement are those who pray on me abundantly.”

Sayidina Annas bin Malik related that the prophet alayhisalam said “you pray upon me once, Allah swa will pray* upon you 10 times and if you pray 10 times upon me Allah will pray upon you 100 times and if you pray upon me 100 times Allah will write on their forehead that they are free from nifaq and he will be raised with the shaheed on the day of judgement.*The meaning of “Allah will pray upon you” here means that he will raise your rank.

Protects one from poverty, poverty of contentment, continuous salat instills peace and tranquility within oneself.

Masaabeeh said: The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) did not impose a set limit on that for him, lest that close the door to doing more. So he still left the choice up to him, whilst encouraging him to do more, until he said: Should I make all my du’aa’ for you? He said: “Then your concerns will be taken care of”, meaning all your concerns, whether they have to do with religious or worldly affairs, because sending blessings on him includes remembering Allaah and venerating the Messenger, (peace and blessings of Allaah be upon him), which is similar to saying du’aa’ for himself. Quoted by al-Sakhaawi in al-Qawl al-Badee’ (133).


🌸“Subhanallah - Glory be to Allah- Earn a thousand good deeds in Minutes 100 X

Prophet Muhammad (Peace be upon him) said: “Is anyone of you incapable of earning one thousand Hasanah (rewards) a day?” Someone from the gathering asked, “How can anyone of us earn a thousand Hasanah?” Prophet Muhammad (Peace be upon him) said: “Glorify Allah a hundred times by just saying “Subhanallah” and a Good deeds will be written for you, or a thousand sins will be wiped away.” (Muslim 4:2073)


🌸 SubhanAllah wa bihamdihi - Allaah is free from imperfection and all praise is due to Him. 100x

Reward: Narrated Abu Huraira: Allah’s Apostle said, “Whoever says, ‘Subhan Allaahi Wa bihamdihi, One hundred times a day, will be forgiven all his sins even if they were as much as the foam of the sea. (Bukhari, Book #75, Hadith #414) & none shall come on the Day of Resurrection with anything better except someone who has said the same or more.[1]


🌸“Laa ilaaha illallaah wahdahuu laa shareeka lahu, lahu-l-mulk wa lahu-l-hamd wa huwa ‘alaa kulli shai’in qadeer,” - That Which Shall Have no Equal on the Day of Resurrection

Recite 10x or one time to ward off laziness can also be recited 100 x

(“None has the right to be worshipped but Allah, the Alone Who has no partners, to Him belongs Dominion and to Him belong all the Praises, and He has power over all things (i.e. Omnipotent)”,}

Narrated Abu Huraira:Allah’s Apostle said, Whoever says the above one hundred times in a day: he will get the same reward as given for manumitting ten slaves; and one hundred good deeds will be written in his accounts, and one hundred sins will be deducted from his accounts, and it (his saying) will be a shield for him from Satan on that day till night, and nobody will be able to do a better deed except the one who does more than he.” (Bukhari, Book #75, Hadith #412)

🌸Forgiveness Duaa - powerful Allahumma anta Rabbi la ilaha illa anta, Anta Khalaqtani wa ana abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa'dika mastata'tu, A'udhu bika min Sharri ma sana'tu, abu'u Laka bini'matika ‘alaiya, wa Abu Laka bidhanbi faghfirli innahu la yaghfiru adhdhunuba illa anta (O Allah! You are my Lord! None has the right to be worshipped but You. You created me and I am Your slave, and I am faithful to my covenant and my promise as much as I can. I seek refuge with You from all the evil I have done. I acknowledge before You all the blessings You have bestowed upon me, and I confess to You all my sins. So I entreat You to forgive my sins, for nobody can forgive sins except You.)

The above du'a is known as the Sayyid al-Istighfar and is the most superior way of asking for forgiveness from Allah. Whoever says it during the day with firm faith in it, and dies on the same day before the evening, he will be from the people of Paradise; and if somebody recites it at night with firm faith in it, and dies before the morning, he will be from the people of Paradise.[20]

Adab-Adab Berbicara Bagi Wanita Muslimah


Wahai saudariku muslimah……

Berhati-hatilah dari terlalu banyak berceloteh  terlalu banyak berbicara, Allah Ta’ala berfirman:

” لا خير في كثير من نجواهم إلا من أمر بصدقة أو معروف أو إصلاح بين الناس ” (النساء: الآية 114).

Artinya:

“Dan tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia “.

(An nisa:114)

Dan ketahuilah wahai saudariku,semoga Allah ta’ala merahmatimu dan menunjukimu kepada jalan kebaikan, bahwa disana ada yang senantiasa mengamati dan mencatat perkataanmu.

“عن اليمين وعن الشمال قعيد. ما يلفظ من قولٍ إلا لديه رقيب عتيد ”

(ق: الآية 17-18)

Artinya:

“Seorang duduk disebelah kanan,dan yang lain duduk disebelah kiri.tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaaf:17-18).

Maka jadikanlah ucapanmu itu menjadi perkataan yang ringkas, jelas yang tidak bertele-tele yang dengannya akan memperpanjang pembicaraan.

1) Bacalah Al qur’an karim dan bersemangatlah untuk menjadikan itu sebagai wirid keseharianmu, dan senantiasalah berusaha untuk menghafalkannya sesuai kesanggupanmu agar engkau bisa mendapatkan pahala yang besar dihari kiamat nanti.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما- عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” يقال لصاحب القرآن: اقرأ وارتق ورتّل كما كنت ترتّل في الدنيا فإن منزلتك عند آخر آية تقرؤها رواه أبو داود والترمذي

Dari abdullah bin ‘umar radiyallohu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, beliau bersabda:

dikatakan pada orang yang senang membaca alqur’an: bacalah dengan tartil sebagaimana engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.

HR.abu daud dan attirmidzi

2) Tidaklah terpuji jika engkau selalu menyampaikan setiap apa yang engkau dengarkan, karena kebiasaan ini akan menjatuhkan dirimu kedalam kedustaan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” كفى بالمرء كذباً أن يتحدّث بكل ما سمع “

Dari Abu hurairah radiallahu ‘anhu,sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang dia dengarkan.”

(HR.Muslim dan Abu Dawud)

3) jauhilah dari sikap menyombongkan diri (berhias diri) dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu, dengan tujuan membanggakan diri dihadapan manusia.

عن عائشة – رضي الله عنها- أن امرأة قالت: يا رسول الله، أقول إن زوجي أعطاني ما لم يعطني؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” المتشبّع بما لم يُعط كلابس ثوبي زور “.

Dari aisyah radiyallohu ‘anha, ada seorang wanita yang mengatakan:wahai Rasulullah, aku mengatakan bahwa suamiku memberikan sesuatu kepadaku yang sebenarnya tidak diberikannya.berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,: orang yang merasa memiliki sesuatu yang ia tidak diberi, seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (muttafaq alaihi)

4) Sesungguhnya dzikrullah memberikan pengaruh yang kuat didalam kehidupan ruh seorang muslim, kejiwaannya, jasmaninya dan kehidupan masyarakatnya. maka bersemangatlah wahai saudariku muslimah untuk senantiasa berdzikir kepada Allah ta’ala, disetiap waktu dan keadaanmu. Allah ta’ala memuji hamba-hambanya yang mukhlis dalam firman-Nya:

” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم… ” (آل عمران: الآية 191).

Artinya:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring…” (Ali imran:191).

5) Jika engkau hendak berbicara,maka jauhilah sifat merasa kagum dengan diri sendiri, sok fasih dan terlalu memaksakan diri dalam bertutur kata, sebab ini merupakan sifat yang sangat dibenci Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, dimana Beliau bersabda:

” وإن أبغضكم إليّ وأبعدكم مني مجلساً يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون “.

“sesungguhnya orang yang paling aku benci diantara kalian dan yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat : orang yang berlebihan dalam berbicara, sok fasih dengan ucapannya dan merasa ta’ajjub terhadap ucapannya.”

(HR.Tirmidzi,Ibnu Hibban dan yang lainnya dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiallahu anhu)

6) Jauhilah dari terlalu banyak tertawa,terlalu banyak berbicara dan berceloteh.jadikanlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, sebagai teladan bagimu, dimana beliau lebih banyak diam dan banyak berfikir beliau Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, menjauhkan diri dari terlalu banyak tertawa dan menyibukkan diri dengannya.bahkan jadikanlah setiap apa yang engkau ucapkan itu adalah perkataan yang mengandung kebaikan, dan jika tidak, maka diam itu lebih utama bagimu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, bersabda:

” من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت “.

” Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam.”

(muttafaq alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu)

8) jangan kalian memotong pembicaraan seseorang yang sedang berbicara atau membantahnya, atau meremehkan ucapannya. Bahkan jadilah pendengar yang baik dan itu lebih beradab bagimu, dan ketika harus membantahnya, maka jadikanlah bantahanmu dengan cara yang paling baik sebagai syi’ar kepribadianmu.

9) berhati-hatilah dari suka mengolok-olok terhadap cara berbicara orang lain, seperti orang yang terbata-bata dalam berbicara atau seseorang yang kesulitan berbicara.Alah Ta’ala berfirman:

” يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيراً منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيراً منهن ” (الحجرات: الآية 11).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.”

(QS.Al-Hujurat:11)

10) jika engkau mendengarkan bacaan Alqur’an, maka berhentilah dari berbicara, apapun yang engkau bicarakan, karena itu merupakan adab terhadap kalamullah dan juga sesuai dengan perintah-Nya, didalam firman-Nya:

: ” وإذا قرىء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون ” (الأعراف: الآية 204).

Artinya: “dan apabila dibacakan Alqur’an,maka dengarkanlah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian diberi rahmat”. Qs.al a’raf :204

11) bertakwalah kepada Allah wahai saudariku muslimah,bersihkanlah majelismu dari ghibah dan namimah (adu domba) sebagaimana yang Allah ‘azza wajalla perintahkan kepadamu untuk menjauhinya. bersemangatlah engkau untuk menjadikan didalam majelismu itu adalah perkataan-perkataan yang baik,dalam rangka menasehati,dan petunjuk kepada kebaikan. perkataan itu adalah sebuah perkara yang besar, berapa banyak dari perkataan seseorang yang dapat menyebabkan kemarahan dari Allah ‘azza wajalla dan menjatuhkan pelakunya kedalam jurang neraka. Didalam hadits Mu’adz radhiallahu anhu tatkala Beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam: apakah kami akan disiksa dengan apa yang kami ucapkan? Maka jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” ثكلتك أمك يا معاذ. وهل يكبّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائدُ ألسنتهم ” ( رواه الترمذي).

“engkau telah keliru wahai Mu’adz, tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka diatas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka.”

(HR.Tirmidzi,An-Nasaai dan Ibnu Majah)

12- berhati-hatilah -semoga Allah menjagamu- dari menghadiri majelis yang buruk dan berbaur dengan para pelakunya, dan bersegeralah-semoga Allah menjagamu- menuju majelis yang penuh dengan keutamaan, kebaikan dan keberuntungan.

13- jika engkau duduk sendiri dalam suatu majelis, atau bersama dengan sebagian saudarimu, maka senantiasalah untuk berdzikir mengingat Allah ‘azza wajalla dalam setiap keadaanmu sehingga engkau kembali dalam keadaan mendapatkan kebaikan dan mendapatkan pahala. Allah ‘azza wajalla berfirman:

” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم “. (آل عمران: الآية 191)

Artinya: “(yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri,atau duduk,atau dalam keadaan berbaring” (QS..ali ‘imran :191)

14- jika engkau hendak berdiri keluar dari majelis, maka ingatlah untuk selalu mengucapkan:

” سبحانك الله وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك “.

“maha suci Engkau ya Allah dan bagimu segala pujian,aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu, dan aku bertaubat kepada-Mu”

Sehingga diampuni bagimu segala kesalahanmu di dalam majelis tersebut.

Ditulis oleh: Haya Bintu Mubarak Al-Buraik

Dari kitab: mausu’ah al-mar’ah al-muslimah: 31-34