putih

Ingin dekat sama Allah itu, tidak bisa dengan shalat yang tergesa, dengan doa pendek-pendek. Bagaimana mungkin bisa semakin dekat denganNya, jika setiap kali harusnya menjadi saat paling dekat (baca: shalat) malah sibuk lalai mengingat dunia.

Ingin dekat dengan Allah itu, tidak bisa dengan tilawah yang sedikit, tidak bisa dengan interaksi bersama Quran yang sebentar. Bagaimana mungkin bisa semakin dekat, jika seksama bersama kalamNya saja enggan.

Ingin dekat sama Allah itu, tidak bisa dengan lisan yang liar tidak terkontrol sibuk membicarakan-menyakiti saudara, tidak bisa dengan tatapan mata yang tidak terjaga, tidak bisa dengan telinga yang suka mendengar yang tidak diridhoiNya. Bagaimana mungkin bisa semakin dekat, jika nikmat indra dariNya dipergunakan untuk hal-hal yang haram dan tidak seharusnya.

Bagaimana mungkin, mengharap surga dengan berbuat yang justru mendekatkan diri kepada neraka.

“Rabb, sadarkan kami, bahwa putih hati kami adalah nanah yang telah terlalu lama kami biarkan. Sadarkan kami ya Rabbi..”

10

Barang Nadya semue dah cukop sedap.. Kalau ade gambar die yg fully bogel baru steam.. Pepek dia dah putih abeh tembam pulak tu..

Curhat : Kehidupan Pascamenikah (40 Hari Pertama)

*harusnya ini ditulis setelah 40 hari, eh malah ditulis setelah entah hari ke berapa.

Sebelum menikah, guru saya pernah berpesan sesuatu pada saya, yang saya praktekkan di awal pernikahan. 

“Pik, nanti kalau sudah menikah, 40 hari pertama nggak boleh berantem. Nggak boleh marahan sama sekali.

“Sama sekali bu?”

“Sama sekali. Meskipun kamu harus nangis-nangis nahan emosi, tahan. Jangan diluapkan. Jangan sampai kamu berkata-kata yang nggak baik, jangan sampai ribut-ribut. Dieeem aja, tahan. Sampai 40 hari.”

“Emangnya kenapa bu?”

“Nanti kamu akan terbiasa untuk meredam ego dan emosimu. Ibu dulu juga dipeseni hal serupa sama teman ibu yang menikah duluan. Kata beliau 40 hari pertama itu sedikit-sedikit mulai terbuka kelebihan dan kelemahan pasangan, jadi harus banyak sabarnya.”

Akhirnya waktu sebelum menikah saya mengajukan permintaan ini kepada suami. Supaya yang berjuang nggak saya sendiri. HAHA. 

Terus gimana Pik 40 hari pertamamu?

Hari pertama sampai ke tujuh masih mulus, jalan tol, terus makin hari makin tahu gimana ternyata pasangan kita. Ada momen-momen dimana rasanya pas ituuuuuuuuuu kzlll harus nahan-nahan. Apalagi saya sama suami nggak LDR dan suami bekerja di rumah, jadi hampir 24 jam penuh kami saling membersamai. Kadang kalau udah kesel, nangis-nangis sendiri. Sampai nulis-nulis di diary sambil terisak-isak WAHAHAHAHA LEBAY. gak ding, ga terisak-isak juga. 

Namanya juga dua orang asing, beda pola asuh, beda karakter, beda sifat, beda deh pokonya. Jadi harus maklum kalau ada yang nggak pas kadang-kadang. Misalnya nih kejadian di kami seperti ini : Mas adalah tipikal orang yang disiplin dan lebih banyak thinking, sedangkan saya cenderung selow dan lebih banyak feeling. Mas suka bersih-bersih, nggak kotorpun dibersihin. Sayanya bersih-bersih nggak sebegitunya. Mas lebih suka warna-warna seperti abu-abu, hitam, putih, dan merah. Kalau saya warna-warna cerah dan mostly pink. Mas suka terlalu hemat, saya realistis (kalau butuh beli, pengen mendekati butuh ya beli hahahaha). Mas hampir Vegan, dan saya masih betah dengan daging, lemak, dan jeroan. Wk. Dan banyak hal-hal lain yang bertolak belakang. Banyak yang harus saling diterima. 

Tapi alhamdulillah, kami lulus 40 hari nggak berantem dan marah-marahan. Dan memang pembelajarannya kerasa sekarang, semoga sampai kami menua. Saya jadi belajar buat diem dulu kalau kesel, baru kalau udah enakan saya cerita. Kalau Mas lagi emosi, juga belajar buat nggak lama-lama. Dan kami berdua belajar nggak mengungkit-ungkit kesalahan pasangan (ya meski nggak bikin perjanjian untuk ini, tapi tanpa dibilangpun saya belajar dari Mas buat nggak ngungkit kesalahan). Kalau salah yaudah, salah, minta maaf, sebisa mungkin jangan diulangi.

Kalau prinsip Mas : komunikasikan. Semuanya harus dikomunikasikan dan emosi nggak boleh kebawa tidur. Kalau kesel bilang. Nggak boleh sok kuat. Kalau saya beda: sok kuat dulu di awal. Komunikasikan kalau lagi pas nggak marah, biar enak. wkwkwk. Nah lho. Tapi pada intinya, kita harus belajar untuk meredam lalu mengkomunikasikan semuanya dengan baik dan baik-baik. Saya masih belajar sih, huhu. Kadang malah nggak tahu harus gimana bilangnya, terus malah ditulis. Berharap Mas baca. Tapi saya sembunyiin. Dasar perempuan WKWK. 

“Darimana pasanganmu bisa tahu atau berbenah kalau kamu nggak bilang?” kata Mas.

Pasangan kita juga perlu tahu apa yang kita rasakan, agar jika itu menyangkut kekurangan, bisa saling instropeksi. Dan jika menyangkut kelebihan, biar bisa saling berbahagia. Tapi nggak boleh tersulut emosi. Boleh kalau demi kebaikan–marah, tapi jangan marah-marah :)

Terimakasih bu, untuk pelajaran 40-Hari-Pertama-Anti-Berantem-dan-Marah-Marah. Kami belajar banyak. Semoga, bisa menjadi hikmah untuk teman-teman semua. Buat yang sudah menikah, nggak papa 40 harinya nggak pertama, di tengah-tengah juga nggak papa, asal disepakati dan diusahakan berdua. Biar sama-sama berjuang dan kebiasa. Intinya sih, ini cuma pembiasaan dan peredaman ego/emosi.

Semoga curhatan ini bermanfaat!

Hari ahad berlalu pergi seawal pagi ustazah Nor Azilawatie @ Nur bangun memyucikan dirinya selesai Mandi ustazah turun kedapur menyediakan sarapan untuk suaminya Dan memandikan anaknya yang berumur tiga tahun itu untuk dihantar di pusat asuhan yang tidak jauh Dari rumahnya.

“Selamat pagi sayang”
“selamat pagi abang awal bangun hari ni”
“sayang dah lupa ke hari ni abang Ada mesyuarat penting”
“ohh ya lupa saya jadi hari ini abang balik lambat la ya”
“mungkin juga dalam pukul 8malam abang sampai”
“ohh.. Lambat juga ya”
“empphh sayang tunggu abang ya”
“baiklah”

Suami ustazah nur bekerja sebagai pengurus syarikat ternama di bandar yang agak jauh Dari kediamannya, setelah selesai semuanya mereka keluar untuk bekerja ustazah nur merupakan guru di sekolah menegah di tempatnya cuma 15 minit sampai kesekolahnya tidak terlalu jauh Jarak antara sekolah Dan rumahnya, hari makin tua ustazah nur mengemas mejanya banyak kerja perlu disiapkannya sebelum balik kerumahnya dia merenung jam didinding bilik guru masa berbaki 2jam sebelum dia balik sempat dia meyemak buku2 latihan anak muridnya, sedang Leka dia menyemak buku baru ustazah teringat yang gas masak rumahnya telah habis pagi tadi ustazah nur mengeluh sendirian, kebetulan raju lalu depan bilik guru bergegas ustazah nur meluru kearah raju

“heiii raju Mari sini”
“ya ustazah Ada apa saya boleh Bantu ka”
“bapa Kamu jual gas masak kan”
“ya ustazah, ustazah mau gas masak ka”
“tala raju ni saya punya alamat nanti suruh bapa kamu hantar ya”
“baik nanti saya bagi tahu sama saya punya bapa”

Sesi persekolahan telah tamat ustazah nur bergegas pulang kerana berjanji dengan bapa raju untuk menghantar gas memasak kerumahnya ustazah terus balik kerumahnya Tampa mengambil anaknya dirumah pengasuh sampai di rumah dilihatnya bapa raju masih belom tiba sudah kebiasaan ustazah nur bila sampai dirumah dia Mandi tidak Kira balik sekolah mahupun keluar kemana2 ustazah nur Mandi Dan mencukur sedikit rambut yang menutupi permatanya, walaupun ustazah nur berumur 30an tetapi badannya seperti anak Dara putih mulus orangnya, selesai Mandi ustazah menyarung seluar track Dan tshirt putih yang agak jarang sikit fikirnya tiada sapa yang nampak, kedengaran enjin Lori diluar rumahnya

“en Kumar ye”
“ya saya bapa raju, tadi dia Ada pesan sama saya suruh hantar ini barang”
“ya saya memang mintak silalah masuk”

Kumar membelakangi ustazah nur matanya tejegil keluar melihat bontot montok ustazah nur yang bergoyang begitu kuat sekali ke kiri Dan kekanan melirik matanya ke atas ternampaknya Dari belakang kesan tali baju dalam ustazah berwarna merah walaupun ternampak sikit kerana dilindungi oleh tudung tapi cukup membuatkan koneknya keras didalam seluarnya,Kumar mula memasang angan untuk merogol ustazah nur yang juga cikgu sekolah anaknya fikiranya ligat memikir macam mana dia ingin meratah tubuh montok ustazah setelah sampai kedapur baru Kumar teringat yang kawannya Ada meminta dia membeli ubat perangsang ketika dia ke pekan tadi otaknya ligat bagaimana dia ingin memberi ustazah pil tersebut ternampaknya berdekatan meja makan terhidang segelas air teh panas fikirnya itu mungkin ustazah punya.

“Ustazah boleh tolong saya ka”
“Ada apa Kumar?”
“ini hos mau tukar la sudah lama”
“jadi Kena tukar ka??”
“mesti mau tukar ini barang kalau tak tukar nanti terbakar ustazah pegi ambil ini hos dalam saya punya Lori”

Ustazah nur yang begitu lurus bendul itu terus kelori Kumar megambil hos yang di suruh Kumar sementara Kumar mencari Akal untuk melatakkan ubat perangsang Kumar terlihat secawan air diatas meja makan ustazah nur lalu diletakkannya 4biji ubat tersebut memang dia sengaja meletakkan lebih supaya ianya cepat kalau ustazah nur meminumnya nanti di kacaunya air supaya ubat tersebut sebati dengan air tu.

“hos inikah Kumar”
“terima kasih ustazah sekejap saya mau Pasang ni hos ya nanti saya sekali cek semua”

Sambil Kumar membelek hos dan tong gas tersebut ustazah nur kembali ke meja makannya Dan menghirup air yang telah dicampur oleh pil perangsang tadi hampir setengah air dihirup Kumar hanya terseyum melihatnya memang sengaja Kumar melambatkan tugasannya pil telah memberi kesan kepada ustazah nur dia mula tidak keruan dia menghirup lagi air tadi tapi kini sehingga habis semuanya diminum Kumar bangun Dari tempatnya Dan dia kini membelakangi ustazah nur yang duduk di kerusinya perlahan Lahan Kumar meletakkan tanganya di bahu ustazah Tampa di sedarinya Kumar mengosok bahu ustazah, kini ustazah nur memberi respon dia mula sedikit ghairah tetapi dia sedar Akan perlakuan Kumar di tepisnya tangan Kumar tapi tepisannya lemah Kumar semakin berani tangan kirinya telah menekap ke payudara ustazah sebelah kiri di ramasnya perlahan lahan ustazah tidak mampu bertahan lagi walaupun Ramasan hanya diluar bajunya tetapi cukup untuk mrangsang nafsunya kini Kumar semakin
berani terus menyelak baju ustazah keatas Dan menampakkan baju dalamnya yang berwarna merah itu Kumar dengan rakus merentap baju dalam maka tersembullah mahkota gunung kembar ustazah Kumar menjilat dengan rakusnya dia tahu dia tak punyai masa yang lama kumar mengasak payudara ustazah nur dengan kepakaran yang Ada ustazah nur sudah tidak berkata lagi dia telah menyerah kan bukit idaman para cikgu-cikgu lelaki di sekolahnya yang selama ini memang geram Akan nya. Suara ustazah nur sudah mula mengeluarkan bunyi berahi kumar tidak dapat menahan gelora nafsunya di bukanya kaki ustazah seluasnya di Tarik seluar track yang di pakai oleh ustazah nur dengan rakusnya Kumar merentap seluar dalam ustazah nur terpegun Kumar melihat puki melayu yang cukup bersih itu hanya sedikit sahaja rambut lembut yang menutupi bahagian atas

“sudah Kumar saya cikgu anak kamu sanggup kamu lakukan ini terhadap saya”
“cikgu punya body banyak cantik la saya suka”
“tolong lah Kumar saya rayu dekat kamu jangan lakukannya”

Rayuan ustazah hanya sia-sia Kumar semakin rakus menjilat puki ustazah nur sungguh selera Kumar melahap puki ustazah sambil tangan kanan Kumar membuka zip seluarnya Dan mengeluarkan batang jatannya yang sememangnya Dari tadi mengganas di dalam seluarnya dibaringkan ustazah nur di atas meja makan di bukanya seluas2 kaki ustazah Kumar sudah hilang pertimbangan dia melihat puki melayu terdedah untuk santapannya puki melayu yang selama ini bertudung labuh menutupi semua auratnya kini puki tersebut menjadi habuannya perlahan lahan Kumar menolak batang legamnya ke dalam puki melayu yang kecik lagi comel itu

“uuhhh iiss kkuummarr ssaakkkiittt”
“rileks cikgu sikit saja”

Sepantas Kumar menghentak sehingga kedasarnya ustazah menjerit kesakitan perit dia menahan asakan Kumar acara Tarik menarik telah bermula Kumar bermain dengan rentak perlahan mulanya semakin lama semakin laju ustazah nur mula menerima batang Kumar

“Emmpphhh.. Ahh.. Empphh lajuu lagi kumar…”
“Ustazah suka…”
“Suka Kumar.. Ssangat sukaa.. Emmpphhh…”
“Kalau saya mintak hari-hari ustazah boleh bagi…”
“Boleh Kumar asalkan kamu puaskan saya hari ini…”

Serentak persetujuan antara ustazah Dan Kumar janji memakan diri ustazah kini Kumar melajukan hentakannya
Ustazah nur tidah terdaya lagi meraung kesedapan yang tidak terhingga suami beliau tidak sehebat Kumar 10 minit pasti Akan pancut Dan terus Tidur membiarkan ustazah nur terkapai sendirian

“Uuhhh… Kkuumaarr lagii ahhh.. Ahhh…”
“Ahhh.. Ahhh.. Kumaarr saya tak tahan lagii…”

Sepantas kilat Kumar mencabut batangnya ini menyebabkan ustazah nur Bagai naik gila seperti perigi kehausan air

“Kumar tolong lah saya perlukannya tolong lahh kumarr…”
“Saya boleh tolong ustazah tapi apa jaminannya..”
“Saya sudah janji sama kamu saya Akan bersama kamu Jika kamu perlukannya”
“Betul semua itu.. Kalau ustazah tipu saya, saya Akan sebarkan perihal ini…”
“Betul Kumar saya janji…”
“sekarang saya mau ustazah layan saya pula”

Serentak Kumar merebahkan badannya di Lantai dapur
Ustazah nur tidak menunggu lama terus memanjat ke badan Kumar dengan penuh nafsu dibuka baju tshirt yang dipakainya tapi Kumar melarang ustazah nur membuka tudungnya kerana dia inggin sekali melihat seorang perempuan melayu Dan juga ustazah disekolah anaknya menunggang batang India yang sememangnya gagah ustazah mula meyorong lubang pukinya laju bagai nak gila tangannya meramas ramas dada Kumar Dan sesekali beralih kepada gunungnya

“Ahhh… Ahh… Emmphh.. Kumaar… Kamu suka..”
“Yaaa.. Saya suka ustazah laju lagii…”
“Ahhh.. Emmphh.. Kumar batang kamu besar padat dalam puki saya ”
“suami saya tak sehebat ini dia bodoh perempuan secantik saya tidak dilayan sebaiknya ahhh.. Ahhh…”
“ia betul rugi sahaja…”

Kata- kata yang terbuku di hati ustazah nur kini henjutan makin laju makin ghairah ustazah nur tidak menghiraukan keadaan sekelilingnya meraung kesedapan yang tak terhingga kesedapan yang velum pernah dia alami

“Ahhhh… Ahhhh… Kumar saya dah nak saaammpaaaii…”
“Saya juga… Ahhhh… Ahhhh…..”

Sepantas Kumar menolak ustazah nur ketepi lantai dipanjatnya dada ustazah nur

“ahhhh…. Aaaaahhhhhh……..” uhh… Ustazah nur memaang sedapp… Ahh…“

Bertaburan air keramat Kumar di muka ustazah nur penuh dimukanya,muka yang mana di luarnya alim tapi kini telah menduakan suaminya bukan dengan pasangan melayu tetApi India penjual gas memasak di muka ustazah nur riak wajahnya puas melayan bahtera seyumannya semanis gula tak pernah dia memgalami klimaks yang begitu asyik


"sayang esok abang kena out station selama satu minggu ke langkawi”
“empphh lamanya abang macam mana dengan Nur”
“abang dah telifon mak suruh jaga anak kita untuk satu minggu ni mak kata ok dia pun suka boleh teman- temankan dia”
“kalau abang sudah kata begitu takpelah Nur setuju sahaja”

Malam itu ustazah nur melayan suaminya di atas ranjang tapi fikirannya asyik teringat kekasihnya kumar dimana dua minggu lepas melayan bahtera bersama, selepas kejadian tersebut Kumar seringkali bertandang kerumahnya melayan bahtera mereka semua bilik telah dicuba ruang tamu,bilik utama,dapur, namun dibilik Mandi juga mereka pernah Mandi Dan bermain sama, jikalau ustazah nur datang bulan Kumar tetap kerumahnya memenuhi kehendak nafsunya walaupun tidak mendapat puki ustazah nur blowjob sudah memadai bagi Kumar, pernah juga Kumar memancut kan air nikmatnya kedalam mulut ustazah mula-mula ustazah nur agak geli tetapi lama kelamaan ustazah nur makin suka sehingga kini ustazah nur terus menelan kesemuanya sehingga titisan terakhir

“bye sayang jaga diri jangan nakal2 okey”
“ye kan abang Ada isteri yang cantik macam ayang ni takkab Abang nak carik yang lain”
“alah kalau lelaki dah berkenan apa pun boleh”

Suami ustazah nur cuma gelak sinis sahaja selepas siap semuanya ustazah nur mengucup tangan suaminya sebagai tanda perpisahan sementara, mukanya agak sedih tapi hatinya agak gembira kerana dapat bersetubuh dengan burung Hitam yang gagah

“hello… Kumar… Ada dimana???”
“saya baru habis hantar gas la ustazah Ada apa”
“heii Mari sini la saya punya rumah”
“apasal gas sudah habis ka??”
“ya ini gas dalam kain sudah habis mau kasi isi baru la”
“ooo… Ini hari takda sekolah ka”
“saya amik cuti la 3hari ”
“ooo… Ok2 nanti saya balik dulu mau Mandi”
“ok2 kasi hensem2 ha”
“sama la ustazah kasi pakai itu baju kebaya ketat punya ha”
“ok2 Kumar warna merah punya kasi sama you la”
“waaa… Tudung jangan lupa baru itu gas lagi syiok”
“you punya pasal saya ok”

Ustazah nur belari lari anak naik ketingkat atas untuk menyiapkan dirinya khas untuk kekasih gelapnya
20 minit berlalu ustazah nur telah pun siap memakai baju kebaya ketat merahnya di tenungnya kecermin didepannya memang seksi habis dengan punggungnya keatas menampakkan keseksiannya dipadankan pula dengan Gstring baru dibelinya semalam di pekan berhampiran khas untuk Kumar menunggangnya

Ustazah nur mengemas rumahnya
langsir di tutup rapat2 tinggkap rumahnya habis berkunci takut2 jirannya terdengar raungan manjanya nanti ustazah nur sudah sedia sepenuhnya
Hanya menunggu Kumar sahaja baru sahaja ustazah nur menghirup air minumannya loceng rumahnnya berbunyi nampaknnya Kumar telah sampai di muka pintu rumahnnya Tampa Lori memang ustazah nur memesan tidak meletakkan Lori didepannya rumahnya takut takut jirannya syak mereka

“masuk Kumar ”
“waaa… Banyak cantik la ustazah ini hari”
“isshhh… Nantilah Kumar kita minum2 dulu ya”
“ok… Ustazah punya pasal saya mesti ok punya”

Mereka berjalan berpimpin tangan kedapur seperti kekasih Kumar sempat meramas punggung ustazah nur, ustazah cuma senyum manja dia tahu dia tidak perlu terburu buru kerana mereka Akan honey mon didalam rumah selama 3 hari 2 malam, ustazah nur kebilik air Kumar seperti biasa memasukkan ubat perangsang kedalam air ustazah nur Kali ini kuantitinya banyak sehingga 6biji, ustazah nur keluar dengan haruman semerbak kasturi Kumar hanya senyum sahaja mereka berbual panjang tentang pelbagai isu kemudian kedepan menonton televisyen Kumar duduk disebelah ustazah nur tangannya merangkul leher ustazah nur di main2nya telingga ustazah nur

“empphh Kumar”
“sayang suka… Saya buat macam ini”
“suka sangat suka…”
“suami tidak buat macam inikah”
“Ada tapi tak cukup.. Kumar boleh saya isap ini”
“silalah memang kamu punya hari ini”

Ustazah nur sudah tiada nilai malu dimukanya di tariknya zip seluar slack Kumar kebawah maka terpacul lah burung Hitam Kumar yang belum cukup keras itu ditariknya kulit kebawah dihirup hirupnya bau Dari batang Kumar, kini mulut manis ustazah nur mengulum batang Kumar, perlahan lembut Dan penuh kasih sayang Kumar tidak keruan bila ustazah nur mula menyedut bola gantungnnya tangan Kumar pantas mencari tempat yang boleh mengghairahkan ustazah nur

“emmmphhh Kumar cepat sayang masukkannya”
“empphh wanginya”
“sshhh… Ahhh… Kumar pelahan lahan sakit”

Kumar mula menghenjut ustazah nur, kaki ustazah nur diletakkanya di kedua2 belah bahunnya ditekannya kaki ustazah rapat ke perutnya Kumar mula melajukan rentak ustazah nur mula meraung kesedapan kini Kumar mula menukar posisi Kumar di bawah Dan kini ustazah nur di atas,ustazah nur melajukan hentakan kini Kumar memeluk Erat ustazah nur yang kini posisinya punggungnya agak sedikit terjungkit Kumar dengan erat memeluk, kini ustazah nur terasa sesuatu di belakangnnya seakan2 tujahan di duburnya ustazah nur Cuba melihat tetapi Kumar memeluk erat dengan sekali hentakkan separuh batang menyelami dubur ustazah nur
Laungan kepedihan ustazah nur Bergema dirumahnya air mata mula menitis Kumar mula menghentikan henjutannya ustazah nur meletakkan kepalanya dibahu Kumar perlahan2 ustazah nur lihat kebelakang siapakah yang baru meliwatnya sebentar tadi perlahan ustazah nur melihatnya dengan perasaan terkejut haji Ismail tokey kedai kebiasaan ustazah nur mengambil barang bersama suaminya terkejut bukan kepalang ustazah nur bila masa haji Ismail datang

“nur lubang dubur kau memang dah lama aku idamkan”
“mail amacam sedapka”
“memang betul la Kumar sedap la”
“Aku sudah cakap ini ustazah banyak syok”
“yela kau dah makan dulu memang la”
“itu lubang belum makan la dey”
“haji Ismail lepaskan dubur saya tu saya tak sanggup kat situ”
“nur aku memang dah lama idamkan ni”
“tapi sakit haji lepaskan la dulu”
“sakit kejap ja… Jap lagi sedap la betol ka Kumar”
“yerla ustazah sekejap Aja”

Ustazah tidak berkata apa kesan ubat perangsang telah menyerap keseluruh tubuhnya Kumar mula menghenjut lubang puki ustazah nur haji Ismail memainkan peranannya du belakang ustazah nur kini sudah dapat menyesuaikan dirinya dengan kehadiran dua batang didalam lubangnya

“arrgghhhh… Haji kuat lagi”
“ahhh… Ahhh… Nur lubang kau memang sedap”
“memang la tak Ada orang lagi main kat situ”
“dey haji hantam la ini ustazah kita sudah bok 3 hari tau”
“ahhh… Ahhh.. Ahh… Betul ke nurr urrhhh…
"yelah haji… Ummpphh.. Ahh.. khas untuk haji Dan Kumar”
“tapi nanti bila saya nak barang dengan gas bagi free ok”
“ok ”

Jawab mereka serentak Kumar keletihan kini duduk dikerusi,haji Ismail mengambil alih tempat Kumar bermain dengan puki ustazah nur secara doggy muka ustazah nur kemerah merahan menerima asakan haji Ismail Kumar tidak menunggu lama kini duduk di depan ustazah nur menyuakan batangnya ke mulut ustazah nur

“mail amacam sudah ka”
“dey Macha rileks la aku dah lama tak main la”
“hai bini Ada tak bleh main ka?”
“bini aku expired la dah boleh kemut da tak macam nur ahhh…”
“emmpphhh.. Ahhh.. Betul ke kak jah tak layan haji emphh..”
“ahhh.. Umphh.. Betul nur kenkadang aku pegi kerumah Kumar la”
“ahhh.. Emphh.. Rumah Kumar buat apa”
“dia main sama saya punya bini la ustazah”
“emmpphh.. Tak sedar tua ahh.. Ahhh… Umphh.. Gatal latu..”
“ahhh… Kau diam la nur kau pun sama ja mengajar ustazah konon”
“eemmpphh… Ahh.. Kita .. Ahh.. Sama ja haji… Gilaa… Ahh.. Nafsu…

Haji Ismail sampai kemuncaknya terus mencabut batangnnya Dan terus menghala ke mulut ustazah nur.Kumar mengambil alih tempat haji Ismail terus merodok batangnya kedalam puki ustazah sementara air nikmat haji Ismail habis di telan oleh ustazah nur kini Kumar menghenjut laju puki ustazah nur haji duduk didepan ustazah nur melihat muka stim ustazah nur bertudung ala-ala wardina haji ismail mengurut2 batangnya yang lembik kadang2 di ulinya tetek ustazah nur membuatkan ustazah nur menjerit kesedapan ustazah nur tidak berdiamkan diri terus dicapai batang haji dikulumnya dalam2 terangkat2 punggung haji ismail Kumar sampai kemuncaknya terus menghala ke muka ustazah nur terpancut kesemua air nikmat termasuk haji juga puas mereka bertiga melayan bahtera penuh muka ustazah nur dengan air mereka berdua ustazah nur puas sepuasnya Kumar dan haji Ismail terduduk disofa ustazah nur bangun kebilik Mandi membersihkan diri
Sekembalinya ustazah nur kedepan dia sudahpun Mandi Dan memakai baju kurung bewarna biru Dan tidak tinggal tudung
Memang sengaja ustazah nur tidak memakai apa2 didalam baju kurung itu dia tahu malam ni pasti mereka inginkan tubuhnya lagi

"haji,Kumar ni air panas minum la dulu”
“kamu da Mandi nur”
“yela haji rehatkan badan dulu jap lagi haji nak lagi kan”
“haa… Mana kamu tau..”
“tu tengok konek tu dah naik.. Haji taknak bukak ke kopiah tu”
“alah kalau ko pakai tudung boleh”
“ni si Kumar suka ”
“betul la haji saya banyak suka la”
“ok… Kumar ko rehat dulu aku nak main dengan nur dulu”
“ayoo.. Banyak cepat.. Baru pukul 2petang la”
“ye la haji awal lagi”
“jap lagi mencarik pulak kak jah kau dah cepat”

Ustazah nur cuma senyum dia terus menongeng dibirai kerusi menyelak kain baju kurungnya keatas haji Ismail menalan air liur sahaja di cium2ny punggung ustazah nur sempat juga dia membuatk love bite

“haji nak terus ke?”
“iyalah cepat nur aku dah tak tahan ni”
“taknak hisap dulu”
“tak payah malam nanti aku datang lagi”

Haji terus menyula puki ustazah nur laju hentakkannya ustazah nur menahan penuh nafsu haji Ismail mencapai buah dada nur di gentel2nya buah nur sesekali ustazah nur mengemut kuat batang haji Ismail membuatkan haji Ismail hilang Arah kuat tujahan haji Kali ini membuatkan ustazah nur senak perut

“ahhh… Ahhh.. Laju lagi haji”
“uuhhh… Rugi Laki kau nur kemut kau keliling”
“ahhh… Ahh.. Kak jah tak kemut ke”
“emmphh… Kak jah kau tak payahla”
“ahhh… Ahh… Kak Liza Ada asal tak main dengan dia emphh”
“ahhh.. Kau gila nur dia ahhh.. Dia kan anak aku”
“emphh.. Ahh… Anak ke tak janji boleh ahh.. Empphh.. Kemut haji”

Haji terus melantak lubang puki ustazah, dia tak ambik pusing pasal Liza anak Dara suntinnya yang baru habis spm tetapi ustazah nur ingin membalas dendam terhadap haji Ismail Akan perbuatannya sebentar tadi meliwatnya secara senyap.

“emmpphhh… Aahhh… Nur aku nak pancut”
“nur sekali haji”
“eerrrggghhhhhhh….. Arggghhhh…….”

Mereka berdua terkapai Kumar memerhatikan sahaja
Aksi mereka nur kembali membersihkan lebihan air Dari haji ismail dilapnya pakai tisu haji Ismail mengenakan bajunya Dan meminta diri ustazah nur kembali kepada Kumar sambil kembelai batang Kumar

“macam kana haji boleh ikut”
“dia Ada cakap dia banyak geram sama u”
“oo.. Kiranya sekarang Kumar jual saya la”
“bukan la ustazh”
“ok kalau macam tu saya Ada satu pertolongan boleh ka? Atau lepas ni takde main saya punya puki lagi”
“apa cakap la”
“ini malam haji datang mesti punya betul ka”
“betul…”
“sekarang saya mau Kumar bawak dia punya anak Liza Mari sini kasi tengok dia punya bapa main sama saya”
“ok small maters la”

Tepat 10 malam haji Ismail datang menuntut lubang puki Dari ustazah tetapi Kali ini dia membawa rakannya untuk menjamu ustazah nur iaitu sudin ketua kampung Dan pak Ali
Ustazah nur keluar menjemput mereka masuk ustazah nur memakai baju kurung kedah berwarna hijau terbeliak mata sudin Dan pak Ali melihat ustazah nur berjalan masuk mereka terus dibawa kebilik utama rumah tersebut ustazah nur terus duduk di atas katil

“emmmphhh… Nampaknya malam ni haji Ismail bawak kawan”
“yer mereka sahaja yang tahu perkara ni”
“kalau begitu baik kita mulakan ”

Ustazah nur seperti pelacur murahan menarik haji Ismail Dan terus menghisap batangnya pak Ali terus berbogel begitu juga sudin, pak Ali terus menyingkap kain Dan terus menjilat puki ustazah nur sudin bermain dengan tetek, tidak lama sebab ustazah nur Ada agenda lain terus di tarik tangan haji Ismail ustazah nur terus menarik batang haji ismain kedalam pukinya ustazah nur saja berlakon untuk stim habis supaya biar Liza tahu Bahawa bapanya haji Ismail kaki burit

“emmpphhh.. Ahhh.. Laju lagi haji…”
“ahhh… Uhh.. Sudin kau tengok ustazah ni gian batang”
“uhhh… Yerla aku macam dalam mimpi”
“Ali amacam best ka?”
“best aku suka”

Sedang mereka asyik melayan ustazah nur Liza muncul Dari belakang Liza mula menitiskan air mata melihat bapanya bias seperti seekor harimau membaham daging pak Ali Dan sudin terkaku sebentar melihat Liza beada disitu tapi haji ismail terus menghentak batangnya ke puki ustazah sehingga sudin menegur haji Ismail.

“mail kau tengok tu”
“kenapa??”
“kau kenal budak tu Tanya sudin”

Haji Ismail melihat kebelakang tekejut dia kerana Liza di belakangny dia yang berbogel berada di celah kangkang ustazah nur cepat2 menutup kemaluannya

“kau buat apa sini Liza”
“saja nak tengok ”
“dah kau pergi balik”

Liza menghampiri katil dimana ustazah nur berada sudin dan pak Ali terpaku melihat Liza

“kalau ayah boleh Liza pun boleh”
“pak sudin Dan pak Ali Mari sink puaskan Liza macam mana
Ayah puas layan ustazah”
“betul ke Liza aku pun dah lama ngidam badan kau ni”
“betul tu sudin orang dah sorong bantal apa lagi”
“Liza kau balik ”
“dah terlambat ayah”

Ustazah nur tersenyum puas kini anak haji Ismail menjadi ganti tubuhnya Liza terus membogelkan dirinya terbeliak mata sudin Dan pak Ali mereka Tampa membuang masa terus mengomol Liza yang terbaring walaupun airmatanya mengalir ustazah nur meninggalkan bilik Dan memberi ruang kepada Kumar dan kawannya yang berada diluar seramai 3 orang termasuk Kumar jadi keseluruham didalam bilik tersebut Ada 7 orang termasuk haji Ismail membaham Liza sorang ustazah nur menguncikan dirinya dibilik bawah dia puas dendamnya tercapai sudah Dan malam ini dia boleh berehat kerana Ada Orang mengantikannya

Kata Lelaki tentang Lelaki

Mungkin, beberapa dari kita mengklasifikasikan laki-laki berdasar pada apa yang mereka pahami selama ini. Ada pula karena bentukkan pertemanan atau lingkungan. Ada pula karena dari bacaan mereka.

Laki-laki tetaplah laki-laki sekalipun kita menyebutnya “ikhwan”, “akhi”, “boys”, “cowok”, dan segala jenis bentuk kata yang telah memiliki arti dalam benak masyarakat. Laki-laki baik adalah laki-laki yang baik, titik. Tidak peduli bagaimanapun bentuk kata menyebut mereka.

Jika kita hidup dalam lingkungan yang homogen. Dimana segala bentuk pemahaman yang kita anggap paling benar adalah apa yang kita terima selama ini. Mungkin kita tidak akan pernah bisa mendefinisikan laki-laki baik dengan baju compang-camping yang bekerja setiap hari mengais sampah yang kita buang, demi keluarganya di rumah. Karena untuk membeli baju putih bersih seperti bentuk laki-laki idaman itu tidak akan pernah ada dalam dunia mereka. Hidup mereka sudah cukup berat untuk mencari makanan, bukan untuk menghamburkan uang demi pakaian kekinian.

Laki-laki yang bertanggungjawab adalah laki-laki yang bertanggungjawab, titik. Tidak ada definisi lainnya. Kita hidup dalam masyarakat yang beragam. Mereka yang bertanggungjawab adalah mereka yang berhasil membuat kita kagum, tidak peduli bagaimanapun bentukannya. Laki-laki yang berhasil mengejawantahkan sikap tanggungjawab menjadi perbuatan-perbuatan terpuji dalam hidupnya.

Kita terkungkung pada kata-kata. Sebuah label yang kita definisikan secara egois oleh kita sendiri, kemudian kita berikan kepada orang lain tanpa kita benar-benar tahu bagaimana hidupnya dan latar belakang yang membuatnya menjadi seperti itu.

Begitu banyak perempuan yang ingin mendapatkan laki-laki yang baik. Sayangnya, jarang yang berani memberikan pintu lebih luas tentang kebaikan-kebaikan itu agar bisa masuk ke dalam hidupnya. Kebaikan telah dipersempit menjadi sebuah amalan tertentu.

Kadang, saya khawatir tentang bagaimana sebuah diksi (pilihan kata) yang hidup di masyarakat kita menjadikan kehidupan ini tidak seimbang. Bahagia menjadi semakin sulit diraih. Dan silaturahim menjadi semakin terbatas pada sekat kata-kata.

Semoga kita selalu menjadi orang yang lebih hati-hati, lebih jeli, juga lebih terbuka dalam berlaku. Selama kita berpegang pada tali Allah (sebab saya adalah muslim), kita tentu bisa mengenali betul mana yang baik, mana yang tidak.

©kurniawangunadi | 25 Februari 2017

SAYANG ANAK ANAK IBU

Aku adalah seorang ibu kepada tiga orang anak, ketiga-tiga anakku adalah lelaki iaitu Izra berumur 15 tahun, Izani berumur 13 tahun dan yang bongsu bernama Izie berumur 11 tahun. Namaku Yusna berumur 34 tahun, bekerja di sebuah bank sebagai akauntan dan suamiku Hamzah berumur 39 tahun bekerja di pembantu pengurus di sebuah pelantar minyak. Suamiku hanya bekerja dua minggu dalam sebulan dan dua minggu lagi adalah hari cutinya kerana tempat kerjanya tengah-tengah laut. Selepas melahirkan Izie, salur peranakanku telah di tutup kerana suamiku tidak mahu mempunyai anak lagi.
Pada suatu hari itu, aku tidak dapat ke tempat kerja kerana keretaku rosak dan setelah anak-nakku ke sekolah, aku menalifon bengkel kereta yang tidak jauh dari rumahku meminta mereka membaiki keretaku di rumah. Setelah datang ke rumahku dan selepas memeriksa kerosakan keretaku itu, keretaku terpaksa di bawa kebengkelnya untuk di baiki. Petang nanti keretaku akan di hantar kembali ke rumahku setelah siap di baiki. Aku terpaksa mengambil cuti pada hari itu dan kerana kebosanan tinggal seorang di rumah, aku mengambil keputusan untuk tidur kerana malam tadi aku tidak dapar tidur secukupnya.
Malam tadi nafsuku terangsang kuat kerana sebelum suamiku berangkat ke tempat kerjanya, aku tidak dapat bersetubuh dengan suamiku disebabkan aku masih dalam hari haidku. Aku yang baru bersih dari haidku merasa nafsuku sungguh terangsang membuatkan aku tidak dapat tidur lena. Aku asyik terbayangkan persetubuhanku dengan suamiku, alangkah indahnya jika suamiku ada di sisi namun suamiku akan pulang dua minggu lagi. Walaupun aku sudah mempunyai tiga orang anak, nafsuku masih kuat dan masih memerlukan satu persetubuhan yang memuaskan.
Sedang aku lena di buai mimpi, tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara anak-anakku yang baru pulang dari sekolah. Pada mulanya aku ingin memarahi mereka kerana membuat bising tetapi tidak jadi setelah mendengar percakapan mereka. Anak-anakku tidak tahu aku tidak bekerja hari itu, aku menganmati percakapan anakku yang mencurigakan perasaanku itu.
“Abang… pasang la vcd tu, Izie nak tengok ni…” Kata Izie.
“Sabar la… kita makan dulu, buat apa nak cepat-cepat… ibukan tiada…” Jawab Izra.
“Abang nak makan, abang pergi la… kita orang nak tengok dulu…” Kata Izani pula.
“Baiklah… jom kita tengok…” Jawab Izra lagi.
Aku mula mendengar cerita yang mereka tonton kerana suara dari tv itu agak jalas kedengaran. Aku mendengar bunyi yang selalu keluar dari mulutku ketika aku bersetubuh dengan suamiku. Aku bangun lalu membuka pintu bilikku perlahan-lahan dan alangkah terkejutnya aku apabila melihat cerita yang di tonton anak-anakku. Cerita yang mereka tonton adalah cerita lucah, aku dapat melihatnya kerana tv itu mengadap bilikku. Aku juga dapat melihat Izra sedang mengusap bonjolan batangnya di dalam seluar manakala Izani dan Izie memandang tv tanpa berkelip. Aku tidak dapat bersabar lagi dengan perangai buruk mereka.
“Izra… Izani… Izie… apa cerita yang kamu tengok ni…” Marahku setelah keluar dari bilikku, Izra cepat-cepat menutup tv lalu mengeluarkan vcd itu dari lalu di sorok di belakangnya. Aku terus meluru ke arah Izra dan terus merampas vcd itu dari tanganya. Mereka tertunduk dengan muka yang ketakutan, walaupun aku merasa kasihan melihat anak-anak kesanyanganku ketika itu, tetapi aku tidak dapart bersabar lagi.
“Kamu bertiga ni apa nak jadi… cerita tidak senonoh itu yang kamu tengok… bukannya mahu membaca buku… kamu siap la nanti… ibu akan bagitahu ayah kamu…” Bebelku panjang lebar, Izra dan Izani ttetap tertunduk tidak memandangku.
“Maafkan Izie ibu… jangan bagitahu ayah…” Rayu Izie sambil menangis teresak-esak membuatkan marahku hampir hilang. Izie adalah anak yang manja, Izie paling rapat denganku dan selalu bermanja denganku.
“Tahu takut… buat salah tak takut..” Marahku lagi tetapi nada suaraku reda sedikit.
“Ibu… maafkam Izra… Izra janji tak buat lagi…” Izra berkata perlahan.
“Izani pun sama ibu…” Kata Izani pula.
“Baiklah… kali ini ibu maafkan… kalau buat lagi ibu akan bagitahu ayah… faham…” Perasaan marahku kini bertukar menjadi perasaan kasihan melihat ketakutan mereka. Itulah kelemahanku, aku tidak boleh melihat anak-anakku bersedih.
“Faham ibu…” Jawab mereka serentak.
“Sudah… pergi mandi, lepastu makan dan siapkan kerja sekolah. Ulangkaji pelajaran… jangan ingat nak main saja…” Kataku tegas.
Mereka bangun dan terus ke bilik mereka, mereka bertiga tidur sebilik kerana rumahku hanya mempunyai tiga bilik sahaja. Bilik depan adalah bilikku manakala bilik tengah adalah bilik mereka bertida dan satu bilik lagi iaitu bilik belakang di jadikan stor. Setelah anak-anakku menhilang, aku masuk bilik kembali lalu menyimpan vcd itu di dalam laci meja solekku.
Malam itu setelah makan malam, ketiga anak-anakku terus masuk tidur ke dalam bilik mereka walaupun masih awal. Tidak seperti biasanya kerana mereka akan menonton tv dahulu sambil berbual dengaku sebelum masuk tidur. Mungkin kerana mereka merasa bersalah dan takut aku memarahi mereka, awal-awal lagi mereka sudah masuk tidur. Malam itu juga aku tidak dapat melelapkan mataku kerana memikirkan perangai buruk anak-anakku dan ditambah pula dengan nafsuku yang masih lagi terangsang.
Puas aku cuba melelapkan mataku, tetapi mataku tetap tidak merasa mengantuk dan aku merasa tidak tentu arah kerana nafsuku membuak-buak terangsang. Aku mula teringatkan cerita lucah yang di tonton anak-anakku tadi. Aku bangun lalu menganbil vcd itu dari laci meja solehku lalu melihatnya. Aku melihat gambar yang di tampal di vcd itu, gambar itu menunjukkan dua orang lelaki yang masih remaja sedang bersetubuh serentak dengan seorang wanita yang sudah berumur.
Setelah melihat gambar yang ada di vcd itu, nafsuku semakin kuat terangsang dan aku perasaan untuk mengetahui jalan ceritanya membuatkan aku merasa ingin menontonya. Aku keluar dari bilikku dan terus ke bilik anakku untuk memastikan mereka sudah tertidur. Perlahan-lahan aku membuka pintu bilik mereka dan aku melihat mereka sedang nyeyak tidur.
Jam di dinding menunjukkan sudah pukul 12.20 pagi, aku kembali ke biliku lalu mengambil vcd itu dan terus ke ruang tamu. Aku memasang tv serta vcd player lalu duduk untuk menonton cerita lucah itu. Inilah kali pertama aku menonton cerita lucah seumur hidupku, selama ini aku hanya mendengar dari mulut kawan-kawanku sahaja. Cerita itu menayangkan dua orang remaja bersetubuh dengan gurunya di dalam sebuah hotel. Apabila melihat aksi persetubuhan itu, nafsuku tidak tertahan lagi.
Semakin lama menonton aku tidak dapat mengawal nafsuku lagi dan tanpa aku sedari, tanganku kini berada di celah kangkangku lalu menggosok-gosok cipapku dari luar kain batik yang aku pakai. Seperti selalu, malam itu aku tidak memakai seluar dalam serta tidak memakai coli kerana memang kebiasaanku tidur tanpai memakai pakaian dalam. Aku merasa cipapku mula basah, nafsuku yang terangsang kuat membuatkan aku terus baringkan tubuhku di atas carpet di ruang tamu rumahku.
Aku mula menyelakkan kain batikku keatas dan terus mengusap cipapku dan sebelah tanganku lagi meramas-ramas buah dadaku yang sudah menegang. Aku memasukkan dua batang jariku ke dalam cipapku lalu aku gerakkan keluar masuk, ketika atu aku sangat memerlukan batang lelaki untuk menujah cipapku yang berair dengan banyak itu. Kerana diriku sudah dikawal nafsu, aku tidak peduli lagi jika ada batang siapa sekarang, janji batang itu dapat memenuhi cipapku untuk memuaskan nafsuku yang tidak tertahan lagi.
Adengan di vcd itu menunjukkan dua remaja sedang menyetubuhi seorang perempuan yang sudah berumur, aku mula membayangkan perempuan itu adalah aku dan dua remaja itu pula adalah anak-anakku. Bayangan itu membuatkan nafsuku bertambah terangsang lagi dan tujahan dua jariku di dalam cipapku semakin laju. Aku membayangkan diriku sekarang sedang di setubuhi anakku sendiri dengan mataku yang terpejam.
Kerana kesedapan, aku mengerang dan mengeluh agak kuat, aku tidak peduli lagi keadaan rumahku ketika itu. Tiba-tiba aku merasa pehaku disentuh orang, dengan kelam-kabut aku membuka mata dan terus menurunkan kain batikku yang terselak ke pinggangku itu. Alangkah terperanjatnya aku apabila melihat Izra dan Izani sedang menyentuh pehaku yang putih dan gebu itu.
Aku terkedu dan tidak dapat berkata-kata, Izra dengan rakus memegang hujung kain batikku dan terus menyelak ke atas semula. Aku yang masih terangsang itu bagaikan terpukau kerana bayanganku kini benar-benar berlaku di depan mataku. Kerana itu aku membiarkan sahaja Izra dan Izani meraba-raba pehaku dengan penuh bernafsu. Izani menolak tubuhku terbaring di atas carpet dan Izra pula mula merapatkan kepalanya ke celah pangkal pehaku dan terus menjilat pehaku itu dengan rakus.
Aku tersentak apabila kurasakan lidah Izra menyentuh celah rekahaan bibir cipapku yang sudah basah itu. Izani pula sedang meramas-ramas kedua buah dadaku berkali-kali dengan agak kuat namun ramasan itu sungguh nikmat. Izani cuba menarik baju t-shirtku keatas dan aku yang seolah-olah mahu diperlakukan begitu mengangkat tubuhku untuk memudahkan Izani menanggalkan bajuku itu. Setelah bajuku terlepas dari tubuhku, terdedahlah kedua buah dadaku dengan puting yang sudah tegang itu di depan Izani. Izani dengan rakus terus menghisap puting buah dadaku sambil diramas-ramasnya.
Segalanya berlaku tanpa sebarang kata-kata dariku mahu pun dari ke dua anakku itu dan jilatan lidah Izra semakin dalam menujah rekahaan cipapku. Kepalaku terdongak ke atas apabila Izra menjilat sambil menggigit lembut kelentitku yang sudah mengembang itu..
“Erggghh… Izra….” Erangan kenikmatan mula keluar dari mulutku apabila keletitku di jilat oleh anakku sendiri.
Izani masih tetap meramas kedua buah dadaku membuatkan aku mula berada di alam khayalan. Tanpa disuruh aku mengangkangkan lagi kakiku agar Izra mudah mengerjakan cipapku dan Izra mula menurunkan jilatan lidahnya di antara cipap dan duburku. Jilatani lidah Izra menjalar turun ke bawah lagi dan lidahnya kini menyapu bibir duburku lalu di jilatnya.
Kenikmatan begini tidak pernah aku alami sehingga punggungku terangkat sedikit menahan kegelian bercampur nikmat di bibir duburku. Kakiku yang terkangkang luas itu menyenangkan lagi Izra menjilat bibir duburku. Izani yang dari tadi menghisap buah dadaku kini berdiri lalu melondehkan seluarnya dan tersembullah batangnya yang tidak berapa besar itu di depan mukaku. Izani menyuakan batangnya ke mulutku sehingga tersentuh bibirku lalu di tekan masuk ke dalam mulutku yang terbuka itu.
Izra mula menolak tubuhku menjadi meniarap, mukaku tetap menghadap ke arah Izani yang sedang meujahkan batangnya ke dalam mulutku. Izra menganggkat punggungku ke atas supaya punggungku itu tertonggek tinggi sedikit lalu menjilat kembali lubang duburku dan lidahnya kini di tekan masuk ke dalam lubang duburku. Sambil menjilat lubang duburku, Izra memasukkan dua batang jarinya ke dalam cipapku. Aku merasa sungguh nikmat sambil menggerakkan punggungku kedepan dan belakang manakala mulutku semakin laju menghisap batang Izani. Aku menghisap sehingga kepangkal batangnya dan Izani pula memegan kepalaku melajukan lagi gerakkan kepalaku itu.
“Izra… ibu tidak tahan lagi… masukkan batang Izra sekarang…” Aku meminta Izra memasukkan batangnya ke dalam cipapku kerana aku tidak dapat bertahan lagi dengan rangsangan yang aku alami sekarang ini.
Tanpa menjawab atau tanpa berkata-kata, Izra terus bangun lalu menanggalkan pakaiannya dan berlutut di belakang tubuhku. Izra menaikkan lagi punggungku sehingga kedudukanku menonggeng dalam keadaan merangkak. Izra meletakkan kepala batangnya di bibir cipapku dan mula menolak masuk ke dalam cipapku.
“Ahhhh…” Aku mengerang kenikmatan ketika batang Izra yang agak besar itu masuk ke dalam cipapku, walaupun batangnya tidak sebesar batang suamiku tetapi aku tetap merasa kenikmatannya. Batang Izra lebih besar dari batang Izani yang berada di dalam mulutku dan Izra semakin laju menujah cipapku dari belakang.
“Perlahan… perlahan sikit… nanti cepat keluarrrr… eeegggrh…” Tanpa disedari kata-kata itu keluar dari mulutku dan mungkin kerana tidak berpengalaman, Izra tetap menujah cipapku dengan laju.
Tiba-tiba Izra merapatkan batangnya sehingga terbenam rapat kepangkal dan aku merasa ada semburan hangat dalam cipapku. Aku tahu Izra sudah sampai ke puncak klimaksnya tetapi aku masih belum merasa puas lagi. Setelah Izra jatuh terduduk di atas lantai, aku terus berbaring lalu menarik tangan Izani agar menindihi tubuhku untuk menggantikan abangnya yang sudah tewas itu. Izani dengan segera merangkak ke atas tubuhku dan menggangkangkan kakiku supaya Izani berada di celah kangkangku.
Aku memegan batang Izani lalu aku memasukkan ke dalam cipapku dan Izani pula terus menekan batangnya masuk. Aku mengemutkan cipapku sambil menikmati tujahan batang Izani di dalam cipapku dan aku kini sudah hampir ke puncak klimaksku. Tubuhku mula mengejang dan aku terus menarik pinggang Izani rapat ke tubuhku agar batangnya masuk lebih dalam.
Serentak dengan itu, aku sampai ke puncak klimaksku dengan tubuhku tersentak-sentak. Izani yang tidak tertahan dengan kemutan kuat cipapku di batangnya semakin laju menujah batangnya ke dalam cipapku. Selepas beberapa tujahan, Izani mula memancutkan air maninya ke dalam cipapku sambil memeluk kuat tubuhku.
Aku yang sudah dapat memuaskan nafsuku mula tersedar dari kesilapanku kerana merelakan Izra dan Izani menyetubuhiku terus menolak tubuh Izani yang masih menindihi tubuhku.
“Apa yang kamu berdua lakukan pada ibu…” Aku memarahi mereka dengan suara yang tidak terlalu kuat kerana aku takut di dengari Izie yang sedang tidur di biliknya.
Aku terus mengambil bajuku lalu memakainya dan membetulkan kain batikku yang terselak di perutku. Izra dan Izani berlari masuk ke dalam bilik mereka meninggalkan aku yang mula merasa bersalah serta menyesal kerana membiarkan kedua anakku itu menyetubuhiku. Aku masuk ke dalam bilikku dengan fikiran yang bercelaru tetapi perasaan puas juga dirasaiku. Walaupun menyesal dengan apa yang terjadi, aku merasa sungguh puas dan nafsuku sekarang sudah reda.
Malam itu aku tertidur dengan perasaan menyesal dan dengan perasaan yang penuh kepuasan. Keesokkan harinya aku terjaga dari tidur agak lewat, ketiga anak-anakku sudah ke sekolah dan aku terus bersiap-siap untuk ke tempat kerja. Hari itu aku merasa sungguh ceria dan bersemangat kerana nafsuku sudah terpuas walaupun masih merasa menyesal.
Petang itu aku pulang dengan perasaan malu serta berdebar-debar, aku malu untuk berhadapan dengan Izra dan Izani. Sampai di rumah, aku membuka pintu lalu memerhatikan sekeliling ruang tamu rumahku. Aku melihat anak-anakku tiada di ruang tamu itu lalu aku terus masuk ke dalam bilikku.
“Ibu… bila ibu sampai…?” Tiba-tiba Izie menyapaku dari muka pintu bilikku kerana aku lupa menutupnya.
“Baru sekejap…” Jawabku sambil menanggalkan tudung yang aku pakai, Izie berdiri di situ agak lama memerhatikanku lalu masuk ke dalam bilikku. Izie menghampiriku lalu memeluk tubuhku dengan agak kasar dan menolakku rapat ke dinding.
“Izie… apa ni…” Marahku sambil menolak tubuh kecilnya dari terus memelukku.
“Kenapa ibu marah… abang boleh peluk ibu, kenapa Izie tak boleh…?” Tanya Izie dengan agak kuat.
“Bila pula abang peluk ibu…?” Tanyaku pula berpura-pura tidak tahu.
“Ala ibu… Izie dah tahu apa kita buat malam tadi…” Tiba-tiba Izra muncul di ikuti Izani dan mereka berdua mula menghampiriku.
“Apa kamu cakap ni… jangan buat ibu marah…?” Ugutku, Izie dengan pantas memeluk kembali tubuhku yang masih berdiri di tepi dinding bilikku.
Aku cuba menolak tubuh Izie yang memeluk kemas tubuhku dan aku agak terperanjat apabila Izra memegang tangan kananku manakala Izani pula memegang tangan kiriku lalu di rapatkan ke dinding. Tubuhku di pusing mendakap dinding membelakangkan anak-anakku dan aku memejamkan mata apabila merasa kain baju kurungku disingkap ke atas.
“Apa kamu lakukan pada ibu ni…” Marahku, namun aku tidak terdaya melakukan apa-apa kerana tenaga mereka bertiga lebih kuat dari tenagaku.
Aku mula merasa ada tangan-tangan anakku yang sedang meramas-ramas punggungku dari kainku yang tersingkap itu. Buah dadaku juga di ramas-ramas oleh anakku membuatkan rontaanku semakin lemah kerana diriku mula dirangsang nafsu. Walaupun dalam keterpaksaan, aku mula merasa kenikmatan menyelubugi tubuhku dan aku mula menbiarkan sahaja anak-anakku meraba-raba tubuhku. Keadaan menjadi sunyi sepi, aku memejamkan mataku menikmatai ramasan serta rabaan enam tangan di tubuhku. Seluruh tubuhku di raba dan punggung serta buah dadaku diramas serentak.
Aku tidak pernah dilakukan begini, kenikmatan yang aku rasakan sungguh berbeza dari bersetubuh bersama suamiku dan aku menikmati denga rangsangan nafsuku yang membuak-buak. Tubuhku tidak lagi dipeluk Izie, tanganku juga sudah bebas dari pegangan Izra dan Izani. Aku kini berdiri dengan penuh kerelaan kerana kenikmatan yang melanda diriku membuatkan aku pasrah.
Aku dapat merasakan seluar dalamku di tarik kebawah dan ramasan tangan anakku semakin kuat mencengkam daging pejal di punggungku. Aku tidak tahu tangan itu milik siapa kerana seluruh tubuhku dipenuhi tangan anak-anakku. Pinggangku di tarik kebelakang sambil tanganku masih menahan dinding menjadikan aku separuh menonggeng. Kain baju kurungku yang di selak itu diletakkan pada pinggangku dan aku terasa daging punggungku di jilat serta di gigit lebih dari seorang anakku.
Buah dadaku masih menjadi mangsa ramasan ganas anakku dan dari luarbaju kurungku, aku dapat melihat tangan Izie dan Izani merayap menyelinap masuk ke dalam baju kurungku lalu terus ke bawah coliku. Buah dadaku semakin ganas di ramas Izie dan Izani membuatkan buah dadaku itu menjadi tegang. Alur punggungku hingga ke pangkal cipapku di basahi dengan air liur Izra yang kini berada di belakang punggungku.
Aku terkemut-kemut sambil menolak punggungku kebelakang agar jilatan Izra sampai ke bibir cipapku. Daging punggungku dikuak dengan agak ganas dan bibir duburku menjadi mangsa jilatan lidah Izra, aku tidak tahu dimana mereka belajar untuk meragsangku sehingga membuatkan aku semakin khayal. Aku tersedar dari khayalanku apabila tubuhku di pusingkan manakala tanganku pula di angkat ke atas oleh Izani dan Izie terus menanggalkan baju kurungku.
Aku dapat melihat Izra sedang membuka pengait kain baju kurungku lalu kain itu jatuh ke lantai, kini aku berdiri dalam keadaan bogel dan hanya mendiamkan diri sahaja. Izra menarik tanganku agar bergerak ke atas katil, aku yang diirngi Izani dan Izie hanya menuruti sahaja tarikan tangan Izra lalu dibaringkan telentang tubuhku di atas katil. Izra menggangkangkan kakiku seluas-luasnya dan terus menjilat cipapku, Izani pula sedang berdiri membuka seluarnya Izie kini sedang menghisap buah dadaku. Izie menhisap sambil meramas buah dada dan punggungku dengan ganas di ramas Izra yang sedang menjilat cipapku.
“Arrrhhhggghhh… mmmmm…” Tanpa sedar aku mengerang dengan mata terpejam kerana merasa sungguh nikmat dan apabila aku membuka mataku, aku melihat Izani menghulurkan batangnya ke mukaku.
Izani terus menujahkan batangnya masuk ke dalam mulutku yang terngangga itu, Izani mula mengerakkan batangnya keluar masuk ke dalam mulutku. Aku merasa sungguh nikmati dengan hisapan serta ramasan Izie di buah dadaku, cipapku yang dijilat Izra terkemut-kemut dan mulutku pula dipenuhi dengan batang Izani membuatkan aku tidak sedar bilakah ketiga anakku itu sudah berbogel. Izra mula menindihi tubuhku lalu menujahkan batangnya masuk ke dalam cipapku dengan ganas sementara Izie masih sibuk meramas buah dadaku dan Izani pula sedang menujah ganas mulutku.
“Abang… bagi Izani pulak… Izani dah tak tahan ni…” Kata Izani pada abangnya Izra.
Izra mencabut batangnya dari cipapku lalu menonggengkan tubuhku, Izani datang ke belakang punggungku lalu terus menujah cipapku dari arah belakang. Aku kini sedang menghisap batang Izie pula dan Izra mula menjilat serta meramas buah dadaku.Tak lama kemudian, Izani merebahkan tubuhnya lalu menarik tubuhku ke atas tubuhnya dan memasukkan batangnya ke dalam cipapku dari bawah. Aku mencapai puncak klimaksku yang panjang ketika Izani memecut laju menyetubuhiku ketika aku berada di atas tubuhnya.
“Izie… sekarang pergi masukkan batang kau kat sini…” Arah Izra pada Izie sambil memasukkan sebang jarinya ke dalam lubang duburku sambil di gerakkan keluar masuk jarinya itu. Aku yang mendengar Izra mengarahkan Izie memasukkan batangnya ke dalam duburku hanya diam sahaja seolah merelakan pula duburku di tujah Izie. Izie dengan cepat ke balakang punggungku lalu batangnya yang tidak beberapa besar itu terus dipacakkan ke duburku.
Aku membetulkan batang Izie agar mudah masuk ke lubang duburku. Sekarang Izie dan Izani melakukan tujahan serentak di cipapku serta di duburku, aku hampir menjerit kesedapan tetapi suaraku tidak keluar kerana di sumbat oleh batang Izra. Oleh kerana tidak tahan dengan kemutan yang kuat di dubur, Izie telah memancutkan air maninya di dalam duburku. Setelah batangnya dicabut keluar, Izra terus memasukkan batangnya kedalam duburku.
Aku yang sedang menikmati tujahan batang Izra di duburku serta tujahan batang Izani di dalam cipapku menggerakkan punggungku seiring dengan tujahan mereka. Aku sekali lagi telah hampir mencapai puncak klimaksku yang kedua. Aku kemutkan lubang dubur serta cipapku serentak dan Izani tidak dapat bertahan lagi apabila otot cipapku mengemut batangnya lalu memancutkan air maninya di dalam cipapku.
Izra masih laju menujah duburku yang mengemut ketat itu dan akhirnya Izra pun memancutkan air maninya ke dalam duburku setelah menujah dengan agak kuat. Aku tertiarap di atas katiku dengan ketiga anakku yang terbaring lemah disisiku. Begitulah kehidupanku bersama ketiga anak-anankku sehingga kini, aku merasa sungguh puas bersetubuh serentak dengan mereka dan aku tidak lagi mencapai kepuasanku ketika bersetubuh dengan suamiku.

Perjalanan Nafsu Polis (5)

Aku cuba jalan terhencut-hencut, perit yang mula terasa dari hujung kaki aku dah mula naik ke pangkal betis. Aku duduk di kaki lima jalan sambil meraba-raba kaki aku. Pedih terasa pada lutut dari dalam seluar uniform aku yang bergalur kesan tar jalan. Aku pandang motor Yamaha aku yang tergolek di tepi jalan.

Entah macamana aku boleh tersasar terlanggar lubang besar, mungkin sebab gelap malam, jalan pun tak ada lampu - tambah-tambah pulak tu aku dok berkhayal nak jumpa Badrul dekat kuarters dia waktu bawak motosikal tadi. Nasib baik tak ada apa yang rosak sangat. Cuma tayar depan sahaja nampaknya macam bengkok.

Aku bingkas dan papah motosikal aku. Aku heret perlahan, kadang-kadang ada beberapa buah kereta yang lalu memperlahankan kereta memandang aku, tapi tak sorang pun berhenti. Agaknya diorang suka tengok polis macam aku ini kena balasan macam tu kot. Aku tolak motor aku ikut jalan pintas melalui kawasan perumahan.

Dekat 10 minit, badan aku dah berpeluh sakan. Uniform aku yang aku pakai dari pagi memang dah tak payah cakaplah, aku rasa dah macam-macam bau ada. Kaki aku dalam but hitam aku pun dah rimas semacam terperap lama-lama. Aku tengok jam tangan aku, dah pukul 2.30 pagi. Menyesal pulak tadi balik lambat, kalau balik awal sedikit aku rasa tak jadi macam ni. Kereta pun dah tak banyak lalu ikut jalan kawasan perumahan ni. Kejap-kejap bunyi anjing menyalak dari dalam pagar bila terpandang aku.

Sampai dekat kawasan taman permainan, aku berhenti sekejap. Aku tongkatkan motor aku dekat tepi longkang. Aku pun dah tahan nak kencing, aku berdiri tepi longkang dan bukak zip seluar aku - aku tarik keluar konek aku yang terperap dalam seluar dalam - aku pancut laju ke pangkal pasu bunga. Aku tarik nafas lega - sambil itu aku tinjau-tinjau kawasan sekeliling. Sekali pandang aku nampak dua buah motosikal di tepi jalan di seberang padang permainan. Mula-mula aku tak endah, sekali lagi aku tengok - ada lambang PDRM pada motosikal terpantul. Agaknya budak-budak polis balai kawasan perumahan itu tengah buat rondaan. Boleh aku mintak tolong diorang hantar balik kuarters Badrul.

Aku zip seluar uniform aku dan terus melangkah menuju ke arah motosikal. Kelibat tuan punya motosikal langsung tak kelihatan, aku agak mungkin tengah meronda sambil berjalan kaki. Aku tunggu beberapa minit, namun kelibat mereka tak jugak muncul. Lama-lama aku dah macam putus asa, aku patah balik menuju ke arah motosikal aku.

Tak sampai beberapa langkah, bunyi yang sudah biasa aku dengar, kedengaran dari dalam gelap berhampiran deretan kereta yang parking di tepi jalan. Aku pasti bunyi itu adalah suara lelaki mengerang tengah kena hisap. Aku beranikan diri menuju ke arah beberapa buah kereta sambil berselindung. Aku duduk bertenggek ke jalan dan mengintai dari bawah kereta. Aku nampak 2 pasang kaki berbut hitam bertali yang selalu dipakai polis gerakan am (PGA). Salah seorang sedang melutut mengadap sesama sendiri. Aku cukup pasti apa yang mereka tengah buat.

Perlahan-lahan, aku muncul berdiri mengadap dua anak muda polis PGA - berpakaian seperti polis hutan, berseluar cargo biru berbut hitam bertali sampai ke betis, seorang duduk mencangkuk tengah menghisap batang yang seorang lagi yang bersandar pada belakang kereta.

‘Korang dah takde tempat lain dah ke?’ Apa lagi dua-dua mereka kelam kabut cuba berselindung menyedari kehadiran aku. Yang duduk mencangkuk, agak muda dari yang sorang lagi, cepat-cepat berdiri manakala yang sorang lagi berpusing menyorok kembali batang dia ke dalam seluar.

'Maaf tuan. Tolong jangan report tuan’ rayu Hairi, yang muda, namanya jelas pada dada baju uniformnya. 'Ya, tuan. Tolonglah’ sambung Kamal yang agak besar badannya berdiri di belakang. Aku renung mereka berdua dari atas ke bawah, memang kedua-dua bakal jadi habuan aku lah malam ni.

'Korang dah gian sangat ke?’ tegas aku dan menghampiri mereka. Batang aku mula mengeras dalam seluar uniform aku.

'Tak, tuan. Saya yang paksa dia hisap. Saya ingat dah malam macam ni dah tak ada orang lalu kat area sini’ Kamal menjawab, mukanya merah padam dan merenung but hitam aku.

'Dah, kalau korang nak buat benda-benda macam ni carilah tempat yang terselindung sikit.’ reaksi wajah Hairi berubah mendengar nasihat aku. 'Korang boleh hantar aku balik? Motor aku rosak’ cepat-cepat saja Kamal mengangguk.

Aku ikut mereka ke motosikal dan aku membonceng dengan Hairi, yang berkulit putih bermisai halus. Sangat muda lagi dalam lingkungan pertengahan 20an. 'Ke motor aku dulu sebelah sana’ aku menunding jari ke arah motosikal aku yang diletakkan di seberang taman permainan. Kamal terus beredar sambil diikuti Hairi dan aku.

Sampai ke motosikal aku, aku capai helmet dan beg galas aku dan terus kembali membonceng motosikal Hairi. Aku bagi tahu Kamal kuarters tempat Badrul tinggal, dia mengangguk mengiakan. Terus dia memecut motosikalnya diekori Hairi. Menyedari Kamal berada di hadapan, inilah peluang aku untuk mengoda dan meraba konek si Hairi di atas motosikal itu jugak. Aku rapatkan kedua-dua paha aku pada pahanya. Batang aku yang keras aku gesel-gesel ke belakangnya. Aku letak tangan kiri aku betul-betul di celah kelangkangnya. Hairi tunduk memandang pergerakan tangan aku.

'Pandang depan’ Tangan kanan aku menepuk bahunya dan dia terus tersentak. Badannya mula mengigil tapi dia cuba mengawal keadaan. 'Tuan nak buat apa ni?’ sapa Hairi.

Aku tak membalas pertanyaannya, sebalik aku rapatkan lagi paha aku dan geselkan lagi batang aku pada belakangnya. Aku ramas batangnya yang semakin keras dari luar seluar uniformnya. Boleh tahan besar jugak koneknya. Hairi merengus sedikit, aku pasti air mazinya mula keluar dari lubang koneknya. Budak-budak muda macam dia ni memang cepat berair kalau kena raba.

Aku tolak zip seluarnya sehingga terbuka, dia mengekori Kamal seperti tiada apa yang berlaku. Hairi mengangkang sedikit pahanya sambil cuba untuk tidak memandang ke celah kelangkangnya. Aku tanggalkan sarung tangan yang membalut tangan kanan dengan gigi aku. Aku seluk tangan aku ke dalam celah zip seluarnya sambil tangan kiri aku kemas mengenggam paha kirinya. Jari tangan aku yang kasar memegang batangnya yang keras dan ibu jari aku mengentel lubang koneknya yang berair. Aku pegang kepala batangnya dan aku belai perlahan.

'Ummmmphhhh’ Hairi bersuara melepaskan rasa stim dilancap oleh aku. Aku rapatkan kepala aku yang beralas helmet ke bahunya. Hairi terus menyandarkan kepalanya kerana terlalu ghairah. Kadang-kadang dia laju dan kadang-kadang memperlahankan motosikalnya. Air mazinya banyak sekali keluar. Aku lancapkan batang koneknya perlahan-lahan, dan biarkan dia menikmati setiap urutan tangan aku. Lama kelamaan aku perasan dia sudah tak berapa selesa dan seakan dia mahu lebih dari kena lancap. Aku lepas tangan aku dan cuba alihkan dari batangnya, cepat-cepat tangan kirinya memegang tangan aku dan memaksa aku terus meramas batangnya.

Dalam 15 minit, kami sampai di kuarters Badrul. Kamal matikan enjin motosikal dan diikuti Hairi. Hairi menarik zip seluarnya sambil diperhatikan Kamal. Aku pegang bahu Kamal dan berbisik ke telinga.

'Naik atas kalau kau nak batang kau kena hisap’ Kamal mengangguk dan beralih menuju ke arah Hairi yang masih di atas motosikal. Mereka berdua berbual kecil dan akhirnya mengekori aku ke lif.

Aku tekan butang lif sambil kedua-dua mereka berdiri di belakang aku. Aku tanggalkan helmet aku dan menunggu lif terbuka. Aku menuju ke arah kuarters Badrul yang terletak berhampiran tangga kecemasan. Aku ketuk pintu berberapa kali, akhirnya lampu rumah terpasang. Badrul yang berkain pelikat tidak berbaju membuka pintu. Aku pandang batangnya yang keras mencanak sambil matanya terkebil-kebil memandang aku. Dia bukak pintu grill dan aku raba batangnya yang keras dan berbisik ke telinganya.

'Kau main dengan yang buncit tu, aku nak fuck yang muda’ aku ramas batang Badrul yang beralas kain pelikat. Badrul mengangguk.

Badrul mengajak Kamal dan Hairi ke kerusi di tengah-tengah ruang tamu. Dua- dua mereka cuba untuk menanggalkan kasut masing-masing tapi dipaksa masuk Badrul dengan kasut-kasut mereka sekali. Aku tanggalkan jaket aku dan aku gantungkan pada kerusi. Aku yang masih beruniform memandang Hairi tajam, dia balas pandang, merenung aku penuh berahi. Agaknya melihat aku beruniform menambahkan keghairahannya lagi.

Aku berdiri di hadapannya dan perlahan-lahan dia menolak turun zip seluar uniform aku dan mula meramas batang aku. Aku pandang Kamal yang bersandar di atas sofa dan sedang mengeluarkan batangnya dari celah seluar cargo uniformnya. Badrul yang duduk di celah kangkangnya mula membelai dan menghisap batang Kamal yang mencanak. Kamal mengerang dengan penuh seronok. Aku pasti Kamal sudah biasa dihisap oleh lelaki sebelum ini.

Tangan Hairi merayap meraba batang aku dari celah seluar dalam. Diselaknya seluar dalam aku. Batang aku yang terperap dari pagi di dalam seluar uniform memang agak berbau peluh. Hairi terpegun seketika melihat konek aku, agaknya dia tidak pernah hisap batang sebesar itu. Aku pegang belakang kepalanya dan aku paksa dia hisap batang aku. Hairi tercekik dan cuba memasukkan batang aku dalam rongga mulutnya.

Kamal pula semakin lama semakin kuat mengerang dihisap Badrul, aku apa lagi tak tahan dengan bunyi itu - aku paksa Hairi menelan batang aku sampai ke pangkal. Terbeliak matanya sambil mulutnya mula melelehkan air liur. Hairi pegang paha aku kemas dan melutut di depan aku, dikulumnya batang aku bersungguh-sungguh dan mencium bau peluh dari celah kelangkang aku. Semakin lama semakin rancak dia menghisap batang aku. Aku berkalih memandang gelagat Badrul dan Kamal, nampaknya Kamal begitu asyik memaksa Badrul yang berkain pelikat menghisap koneknya.

'Jangan gigit’, aku pegang kepala Hairi bila tiba-tiba dia tergigit kepala batang aku. Matanya putih memandang aku, aku tenung matanya asyik sambil melihat lidahnya yang menjilat-jilat kepala batang aku yang berair-air. Aku pegang ketiaknya dan mengarahkan dia berdiri. Dia yang segak beruniform biru gelap berdiri kaku di depan aku, menunggu reaksi aku seterusnya.

'Kamu suka?’ tanya aku perlahan. Dia mengangguk sambil tangannya meramas- ramas kepala batang aku yang berair. Aku biarkan dia merasa batang aku yang tegang mencacak keluar dari celah seluar uniform aku. Aku tarik tangannya dan menuju ke bilik Badrul. Aku biarkan Badrul dan Kamal yang sedang berpelukan di atas lantai. Kamal yang masih beruniform lengkap sedang menindih Badrul yang sudah tertanggal kain pelikatnya.

Aku duduk di bucu katil dan Hairi berdiri seolah tidak tahu apa yang hendak dibuatnya. Aku angkat kaki aku dan aku suruh dia tanggalkan but hitam aku yang seharian dipakai. Dicapainya kaki aku dan perlahan-lahan dia tarik but hitam aku yang panjang ke paras betis. Diletaknya ke bawah, dan diangkat kaki aku yang sebelah lagi dan ditanggalkannya but aku. Stokin aku yang berbau peluh terperap seharian memenuhi ruang, Hairi tidak berganjak atau menunjukkan reaksi yang berlainan, sebaliknya dihidu bau kaki aku yang berbalut stokin. Dia duduk melutut dan merapatkan tapak kaki aku ke hidungnya dan menghidu bau stokin aku. Aku lurut wajahnya dengan ibu jari kaki aku yang masih beralas stokin putih. Dia pegang kaki aku dan dihisapnya ibu jari kaki aku terus. Berderau darah aku menahan rasa ngilu yang mula merayap ke paha. Aku baringkan badan aku yang sangat penat di atas katil dan membiarkan Hairi mengurut kaki aku. Perlahan- lahan Hairi tanggalkan kedua-dua belah stokin aku dan mula mengurut setiap inci tapak kaki. Aku mengerang perlahan asyik dan batang aku semakin keras mencanak di celah zip seluar. Lama-lama aku dibuai lena dengan cara Hairi meramas ibu jari kaki aku dan terus mata aku terlelap akibat kepenatan.

Aku tertidur entah berapa lama, namun suara Badrul mengerang sayup menyebut nama aku menyebab aku terjaga. Aku cuba bingkas dari atas katil, namun tangan kiri aku sudah tergari di kepala katil. Aku mula cemas seketika, kelibat Hairi tidak juga kelihatan dalam samar-samar bilik Badrul yang tidak berlampu. Aku cuba raba ke pinggang mencari kocek duti belt aku dengan tangan kanan aku yang tidak bergari, namun duti belt aku sudah ditanggalkan. Aku tarik kaki aku, malangnya sebelah kaki aku juga tergari di hujung katil besi. Aku mula jadi risau, namun aku cuba tenangkan diri aku. Aku bimbang sekiranya Hairi dan Kamal bukanlah anggota polis tapi menyamar. Mampus aku kena siasat nanti. Tiba-tiba kelibat Hairi muncul di muka pintu.

'Maaf tuan, kawan saya suruh saya gari tuan tadi’ Hairi berdiri di hadapan. Aku pura-pura tenang, aku cuba fikirkan cara terbaik untuk menipu Hairi. Lagi sekali aku dengar Badrul mengerang dikerjakan Kamal. Aku tak pasti apa yang dilakukan Kamal, tapi pasti sekali Badrul mengerang kesakitan.

'Kenapa kamu berhenti? Kenapa tak hisap batang aku’ tanya aku pada Hairi yang berdiri di hujung katil. Hairi gelisah, aku tahu dia teringin namun dia memang mengikut kehendak Kamal. Aku pegang batang aku yang separuh keras pada celah zip seluar aku. 'Hisaplah’ pujuk aku sambil mengoncang batang aku. Hairi datang dekat pada aku, dia pegang batang aku dan dilurutnya air mazi yang mula meleleh dari lubang konek aku. Sebelah tangannya berhati-hati memegang senjata di pinggangnya. Dia cukup berwaspada dengan apa-apa tindakan aku. Aku tengok dia begitu seronok membelai batang aku yang mula keras dan tak semena suara Badrul menganggu kosentrasinya. Dia berpaling, cepat-cepat aku capai tangan kirinya dan menarik badannya rapat ke dada aku. Hairi rebah di atas badan aku. Aku peluk badannya dengan tangan kanan aku yang tidak bergari dan aku capai senjata di pinggangnya. Hairi cuba bergelut dengan memegang tangan aku yang mengenggam pistol di tangan, namun aku terus acukan pistol ke kepalanya.

Hairi tergamam dan terus berhenti bergelut. Mukanya pucat secara tiba-tiba dan dia diam terbaring di atas dada aku. Mungkin terfikir akan nyawanya melayang di tangan aku. Tiba-tiba aku rasa basah dan suam pada bahagian paha seluar uniform aku. Aku tenyeh hujung senjata ke dahinya yang berpeluh.

'Kau kencing hah?’ Hairi tak menjawab tapi dia kelihatan cukup ketakutan. 'Bukak gari tangan dengan kaki aku’. Mula-mula dia enggan, namun sekali lagi aku acukan pistol ke dahinya. 'Bukak!’

Hairi cepat-cepat capai kunci dari kocek bajunya dan terus buka gari yang terpasang pada tangan kiri aku dan kemudian kaki aku. Dia berundur dan mengangkat kedua-dua belah tangannya ke kepala sambil aku pandang kesan basah pada celah kelangkangnya. Aku acukan pistol di tangan aku pada celah kelangkangnya. Dia kelihatan begitu ketakutan. Aku selitkan senjata ke celah pinggang aku dan aku capai leher bajunya. Aku tolak badannya yang kecil ke lantai. Aku cukup geram pada waktu itu, namun aku tahankan perasaan marah aku dan aku gari tangannya ke belakang. Aku capai stokin aku yang berada di atas lantai, dan aku sumbat ke dalam mulutnya. Hairi mengeleng-geleng kepala. Aku tahu ia tidak selesa namun aku perlu pastikan dia terus senyap. Hairi tidak melawan langsung dan aku tengok celah kelangkang seluarnya yang basah lagi. Aku pasti dia terkencing ketakutan.

'Nanti aku kerjakan kamu sampai lunyai’ Aku duduk di atas dadanya dan aku bisik ke telinganya sambil sebelah tangan aku meramas celah kelangkangnya. Hairi mengeleng-gelengkan kepala lagi, matanya terkebil-kebil minta dilepaskan. Aku pegang wajahnya, dan aku hentak kepalanya dengan siku aku. Matanya mula tertutup rapat dan dia cuba menjerit menahan kesakitan. Kakinya meronta-ronta kemudian perlahan-lahan berhenti dan dia mula tidak sedarkan diri.

Aku tarik Hairi yang tidak sedarkan diri dan aku sandarkan ke dinding.

Perlahan-lahan aku keluar dari bilik dan mengintai apa yang berlaku, kelihatan Kamal yang separuh berbogel dengan seluarnya terlodeh di kakinya yang masih beralas kasut sedang menerjah bontot Badrul yang tersandar ke dinding dengan batang koneknya yang keras mencacak. Kaki Badrul menyilang ke belakang Kamal dan Badrul kelihatan lemah longlai dikerjakan Kamal yang dua kali ganda besar badannya dari Badrul.

Tanpa disedari Kamal aku rapat ke belakangnya, aku tarik dia dengan menyentap bahunya. Dia berpaling terkejut. Badrul jatuh terkulai ke lantai dan batang Kamal yang keras mencanak keluar dari bontot Badrul bersama air mazi yang penuh di kepala batangnya. Kamal cuba melawan dan melepaskan tumbukannya ke wajah aku, aku mengelak dan menyiku dagunya. Dia terpelanting ke dinding dan aku terajang celah kelangkangnya dan dia terus jatuh merengkok ke lantai menahan kesakitan.

'Jangan, tuan.’ dia merayu sambil tangannya menutup celah kelangkangnya.

Aku pegang leher baju uniformnya dan aku heret dia menjauhi Badrul. Aku pegang tangannya dan aku silang kan ke belakang. Aku kangkangkan kakinya dan aku tindih dengan lutut aku. Kamal meronta-ronta menahan sakit. Aku cengkam rambutnya dan aku hentakkan kepalanya ke lantai.

'Aaarghhh… sakit, tuan’ mulut Kamal meleleh air liur dibelasah aku. Aku pusingkan badannya dan aku terlentangkan dia mengadap aku. Batangnya yang pendek tapi lebar masih keras mencanak. Aku tumbuk sekali lagi ke perutnya, dia mengerang lagi kesakitan.

'Kau paksa budak tu gari aku, kau nak buat apa hah?’ Aku pegang leher bajunya dan menekan dadanya ke lantai. Aku memang cukup geram dengan reaksi Kamal dan memang waktu itu aku sudah tidak fikir lain kecuali membantai bontotnya. Apa lagi, cepat-cepat aku tanggalkan seluar uniform dan seluar dalam aku dan kakinya aku angkat ke atas bahu aku dan aku arahkan batang aku yang mencacak keras ke lubang bontotnya. Aku terjah kepala batang aku ke dalam lubang bontotnya yang cukup sempit dan tertutup rapat. Batang aku yang keras menusuk ke dalam lubang bontotnya yang terkemut-kemut menahan.

'Aaaargggggggggghhhhhhhhhhh aaarggghhhhh’ Kamal meronta-ronta kesakitan bila seluruh batang aku masuk ke dalam bontotnya buat pertama kali. Dia cuba untuk memeluk aku tapi aku pegang dadanya rapat ke lantai dan aku hentakkan batang aku dalam-dalam dan berkali-kali. Kamal cuba menjerit menahan perit akibat lubang bontotnya yang dipenuhi batang aku yang besar. Aku pekup mulutnya. Dia mula mengalirkan air mata menahan sakit. Batangnya yang mencanak memancutkan air mani berkali-kali serta merta. Air maninya melekat ke baju uniform putih aku, berlendir dan bertompok-tompok. Aku tarik keluar batang aku dan aku terjahkan bontotnya beberapa kali lagi dengan geramnya.

'Rasakan!’ celah kelangkang aku menghentak bontotnya kasar. Aku pegang pangkal batangnya dan aku urut sampai ke kepala koneknya yang meleleh dengan air mani. Aku lancapkan Kamal tanpa henti, akhirnya dia mengerang dan menikmati setiap hentakan batang aku dalam lubang bontotnya. Aku pun dah mula tidak tahan, batang aku terasa macam nak pecah disebabkan bontot Kamal yang sangat ketat. Aku tarik keluar batang aku dan terus aku tujukan ke dalam mulutnya yang tertutup rapat.

Aku tampar pipi Kamal kuat. 'Bukak cepat!’ Kamal terus menganggakan mulutnya, cepat-cepat aku masukkan batang aku yang mencanak-canak ke dalam rongga mulutnya. Aku dapat rasa lidahnya menyentuh kepala konek aku dan dikulumnya batang aku rakus. 'Arrrggghh!’ Aku sudah tak dapat tahan, sekaligus air mani aku memancut ke dalam rongga mulutnya. Mata Kamal terbeliak cuba untuk tidak menelan air mani aku yang penuh dalam mulutnya. 'Telan!’ Aku pegang kepalanya dan aku tolakkan batang aku dalam-dalam. Kamal mengeleng-gelengkan kepalanya, namun lama kelamaan diteguknya air mani aku.

Aku tarik keluar batang aku. Kamal tersedak dan dia terus memuntahkan apa yang ditelannya. Baju biru uniformnya penuh dengan air mani aku. Dia terlentang dan kelihatan tidak bermaya lagi. Aku tampar pipinya dan dia mula tidak sedarkan diri. Aku sarung kembali seluar aku dan aku pegang celah ketiaknya dan menariknya ke kerusi dan aku terlentangkan di atas sofa. Aku capai duti beltnya yang tersangkut di meja dan aku gari tangannya ke belakang. Aku tengok bontotnya merah dan lebam akibat dirogol tadi. Memang Kamal lembik aku kerjakan.

Aku perhatikan Badrul yang terlena di tepi dinding. 'Bad, kau ok?’ Badrul mengangguk dalam keadaan sedar tak sedar. Aku angkat dan dukungnya, dia yang bertelanjang bulat masih dalam keadaan separuh sedar. Agaknya Kamal memang pandai main sampai Badrul betul-betul kepenatan. Aku baringkan Badrul di atas katil dan biarkan dia tidur berdengkur.

Aku pandang Hairi yang terperosok di tepi dinding, batang aku yang masih separuh keras di dalam seluar mula mengembang melihat wajah Hairi yang tenang tidak sedarkan diri. Celah kelangkang Hairi masih basah dengan air kencingnya. Aku tanggalkan sarung tangan, baju uniform aku dan aku letakkan di atas katil di sisi Badrul. Aku berdiri di depan Hairi dan aku tarik keluar stokin aku yang tersumbat dalam mulutnya. Perlahan-lahan mata Hairi terkebil-kebil, dia mendongak melihat aku seakan merayu belas ihsan. Aku pegang celah ketiaknya dan mengangkatnya berdiri. Dia memandang ke arah Badrul yang berdengkur di atas katil. Aku tolak bahunya, dia melangkah keluar menuju keluar dari bilik.

'Tuan buat apa dengan Kamal?’ sapanya melihat Kamal terbaring di atas sofa tidak sedarkan diri. Aku alihkan Kamal dari atas sofa dan aku baringkan dia ke lantai. Kamal masih tidak sedarkan diri terlentang tidak bergerak.

Aku berdiri di belakang Hairi dan mengeselkan batang aku pada tangannya yang tergari sambil tangan aku meraba badannya. Hairi mula bernafas rancak dan mula meraba batang aku perlahan-perlahan. Aku raba celah kelangkang seluarnya yang basah dan aku tolak turun zip seluarnya. Hairi diam kaku sambil meramas batang aku yang keras dalam seluar. Aku bernafas rapat pada tengkuknya dan dia mula bersandar ke dada aku. Aku masukkan tangan aku ke dalam seluarnya dan meraba batang koneknya yang terperap dalam seluar dalamnya yang basah. Bau bekas air kencingnya kuat. Aku pegang batangnya dan aku tarik keluar dari celah zip seluarnya.

'Pancut atas Kamal’ arah aku ke telinganya. Dia berpaling terpinga. 'Pancut!’ paksa aku sambil mengenggam batangnya. Hairi terketar-ketar, lama kelamaan air kencingnya menitik keluar dari lubang koneknya. Hairi cuba menyelesakan dirinya dan mengangkang kakinya dan kemudian dia memancut deras air kencingnya ke arah Kamal yang terbaring. Aku halakan batangnya betul-betul mengena muka Kamal. Kamal tersedar bila air kencing Hairi yang hangat mengena wajahnya. Dia cuba mengelak dan Hairi begitu takut sekali melihat Kamal mengelupur di atas lantai. Kamal cuba bingkas namun dihalang aku. Aku tarik Kamal dan aku paksa dia mengadap celah kelangkang Hairi. Air kencing Hairi yang masih laju terpercik ke muka Kamal, Hairi cuba mengarahkan batangnya ke arah lain, namun aku pegang batangnya supaya betul-betul ke arah Kamal yang terkebil-kebil dan menundukkan mukanya.

'Bukak mulut kau, Kamal!’ aku sepak bontot Kamal yang melutut di hadapan Hairi. Aku tarik rambut Kamal supaya dia mendongak betul-betul mengadap pancutan air kencing Hairi. 'Macam tulah’ balas aku bila Kamal membuka mulutnya luas dan meneguk air kencing Hairi. Aku tersenyum melihat reaksi Hairi yang mula bersahaja. Aku tolak kepala Kamal supaya batang Hairi masuk terus ke dalam mulutnya. Kamal cuba melawan namun separuh dari batang konek Hairi yang keras sudah ditelannya.

Aku berdiri di sisi Hairi sambil melihat Kamal menghisap batang Hairi perlahan- lahan. Hairi merengus dan semakin lama semakin kuat mengerang menikmati rasa sedap dihisap. Batangnya semakin lama semakin keras dan mencanak dalam mulut Kamal. Aku agak Hairi jarang dapat dihisap seperti itu dan mungkin juga tak pernah. Aku pegang Hairi dari belakang sambil memeluknya, tangannya yang tergari kebelakangan cuba meraba aku. Aku bukak butang baju uniformnya sampai ke perut dan meraba badannya yang berbulu. Aku ramas puting dadanya dan dia mula bersuara perlahan menahan rasa ngilu. Kepalanya bersandar ke dada aku dan Hairi mula ghairah dan menerjah batangnya ke dalam mulut Kamal tanpa henti. Aku seluk poket seluar dan keluarkan kunci gari dan aku tanggalkan dari pergelangan tangan Hairi. Aku campak gari ke atas sofa dan Hairi terus memegang kepala Kamal dan memaksa Kamal menelan habis batangnya yang semakin keras dan mencanak.

'Mal, kau jangan gigit!’ Hairi tolak batangnya ke dalam mulut Kamal rapat ke pangkal beberapa kali. Aku raba pinggang Hairi dan aku tanggalkan tali pinggangnya. Aku tarik seluarnya ke bawah menonjolkan bontotnya yang putih, aku ramas dan mula mengeselkan batang aku yang keras di dalam seluar pada belakangnya. Hairi tolak Kamal ke tepi dan berpaling mengadap aku. Aku tarik Hairi dan memeluknya sambil melagakan batangnya yang keras dengan batang aku. Aku tanggalkan seluar aku dan Hairi lucutkan seluarnya yang masih tersarung di hujung kaki yang beralas kasut but hitam. Aku pegang pinggang Hairi dan mengendongnya di pinggang aku. Hairi memeluk aku dari depan dan mulutnya rapat ke mulut aku. Lidahnya memasuki ruang mulut aku dan aku terus menghisap lidahnya basah. Batang aku mula keras mencanak dan aku arahkan terus ke lubang bontotnya. Hairi pegang bahu aku dan menolak masuk batang aku ke dalam lubang bontotnya yang terkemut-kemut.

Aku pegang badan Hairi kuat, lubang bontotnya mencengkam setiap inci batang aku. Aku kangkang kaki dan aku peluk badan Hairi yang kecil, perlahan-lahan aku melangkah rapat ke tepi dinding dan menyandarkan badan Hairi pada dinding yang mengadap aku. Hairi menyandarkan kepala ke dinding dan memandang aku sambil menghentak bontotnya pada celah kelangkang aku. Aku tolak batang aku dalam-dalam, Hairi asyik sekali sambil memegang bahu aku.

'Oooh Tuan, sedap tuan!“ Hairi mengigit telinga kanan aku sambil lubang bontotnya mencengkam kuat batang aku yang kembang dan berair. Aku jolok batang aku dalam dan ditelan habis cuping telinga aku, lidahnya tak henti menghisap. Aku hayunkan badannya dan menghentak bontotnya kuat. Batang Hairi keras dan bergesel pada perut aku. Kepala koneknya berair-air dan mencanak tidak henti.

'Sedapkan?’ bisik aku ke telinga Hairi. Perlahan aku pusingkan badan Hairi tanpa mengeluarkan batang aku dari lubang bontotnya. Hairi terkial-kial cuba menahan perit. Aku pegang pinggangnya dan pusingkan seluruh badannya dan dia akhirnya membelakangi aku. Kedua-dua tangannya menongkat ke dinding dan kakinya memeluk paha aku dari belakang. Aku peluk badan Hairi kemas dan menghentak ganas lubang bontotnya. Hairi mengerang menahan kesedapan dan mengikut rentak hayunan paha aku. Makin lama makin kuat dia mengerang dan aku ramas batangnya yang keras mencacak.

'Tuan, aaaaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhh, saya dah tak tahan lagi’ Hairi mendongak dan batangnya mula memancutkan air mani ke dinding berkali-kali. Aku lancapkan batangnya lagi dan aku dapat rasa bontotnya ketat mencengkam kepala batang aku yang dari tadi menahan air mani aku. Aku peluk badannya kemas dan meramas dadanya. Batang aku mula memancutkan air mani sambil menghentak kuat bontotnya.

'Oooooohhh Hairi!’ raung aku

Aku terus bersandar ke dinding beralaskan badan Hairi yang kecil molek, air mani yang melekat pada dinding, aku lumurkan pada badannya. Perlahan aku keluarkan batang aku dari lubang bontotnya dan aku peluk Hairi dan terus baring ke lantai menghilangkan penat. Aku pandang Kamal yang terbaring di lantai dan aku kejutkannya.

'Kau telan air mani Hairi sampai habis, lepas tu aku lepaskan kau’ Kamal duduk di depan dinding dan mula menjilat saki baki air mani Hairi yang melekat di dinding. Tanpa segan Kamal kemudian mula menjilat air mani yang masih meleleh dari batang Hairi yang terbaring terlentang kepenatan. Aku capai seluar dalam Hairi yang melekat di hujung kakinya aku kesat batang aku. Aku bukak gari pada tangan Kamal, dia terus menarik nafas lega dan membaringkan dirinya di sisi aku. Aku baring di antara mereka berdua, Hairi yang mula sedarkan diri terus memeluk aku dan kemudian diikuti oleh Kamal.

Aku puas sekali, bukan senang nak jinakkan mereka berdua. Aku pasti mereka akan datang lagi mencari aku. Kamal capai seluar dalam Hairi dari tangan aku dan dihidunya, aku tengok batangnya separuh keras bergesel pada paha aku. Aku raba batangnya yang mula basah dan berair. Kamal merengus.

'Hairi, Kamal, bangun. Nanti balai cari korang.”

Kamal & Hairi bingkas dan mencari uniform masing-masing yang berselerak di lantai. Mereka berdua beredar tidak berapa minit kemudian. Aku terus masuk ke bilik dan membaringkan diri di sisi Badrul. Aku peluk Badrul dari belakang dan mengeselkan batang aku pada celah bontotnya, aku cium lehernya dan dia terjaga.

'Mereka dah balik?’ sapa Badrul terkebil-kebil.

'Dah’ aku peluk erat Badrul.

'Dah puas?’

'Belum, selagi tak dapat lubang kamu’

Badan Badrul aku tindih dari belakang dan perlahan-lahan aku masuk batang aku ke dalam lubang bontot Badrul dan menikmati setiap henjutan rapat ke pangkal batang aku.

'Ooooh, Bad! Kau terbaik’

p>Cerita Di Kampong

FEB 22

Posted by mrselampit

Aku dibesarkan bersama datuk dan nenek sejak kecil, sebab itu agaknya aku ni manja orangnya (mudah juga merajuk). Aku saja cucunya yang dipelihara walaupun cucu-cucu yang lain ramai. Sejak kecil agaknya umur lima atau enam tahun aku dah lali dengan cipap perempuan (sebab nenek aku ni bidan part time) sementara menantikan bidan sebenar sampai dia yang kena buat dan akulah orang kanan yang membantunya. Malah aku masih boleh kerat pusat bayi dengan hanya pakai sembilu buluh (pisau dulu-dulu) dan qualified untuk menyunatkan budak-budak pompuan (budak jantan tak reti). Jadi membesarlah aku dalam keluarga datukku itu seramai empat orang termasuk mak saudaraku anak dara pingitan yang come lote. Jangan salah faham bukan kisah mak saudara aku yang hendak aku ceritakan (dia baik dan bahagia bersama familynya).

Kalau dia orang mandi (mak saudara dan seorang lagi sepupu) aku jadi tukang escort dia orang (dulu-dulu mandi di telaga). Selalu juga aku ternampak bentuk tubuh dia orang bila kain mandi dia orang basah dan kadang-kadang tu masa nak salin kain dia orang londeh semua sekali telanjang bulat (maklumlah dia orang anggap aku budak kecik) menampakkan kulit yang putih melepak cuma cipap sahaja yang berbulu. Sepupu aku masa tu masih muda benar, kalau tak salah aku baru lima belas atau enam belas tahun umurnya. Bulu cipapnya juga masih nipis tapi tundun dia fulamak punyalah tembam. Mak saudara aku punya pulak agak sederhana tembam sebab susuk badannya macam Julia Robert.

Satu hari seperti biasa aku ikut dia orang membasuh dan mandi umur aku masa ni dah nak masuk 11 tahun. Kemudian mak saudara aku tergesa-gesa balik sebab nenek aku bising-bising entah pasal apa (tak ingat lagi). Tapi sebelum beredar dia berpesan kepada sepupuku supaya memandikan aku kerana dia tak sempat. Dalam bilik perigi tu tinggal aku berdua sahaja, kami mandi bersama dia pakai baldi ayan dan aku pakai timba upeh. Dia sabunkan aku (aku telanjang macam selalu) tapi tiada apa-apa kelainan yang aku rasa agaknya pasai dah biasa tengok dia orang. Kemudian dia tanggalkan kain basahannya untuk bersalin tetapi sebelum itu dia duduk mencangkung lalu kencing. First time aku lihat perempuan dah anak dara kencing. Aku nampak jelas cipapnya terbuka dan air kencing berlari laju…..tiba-tiba kote aku naik tegang aku rasa cukup keras. Aku malu sendiri tapi tak tahu nak buat macam mana. Sepupu aku terpandang kote aku dan dia juga agak terkejut kerana selalunya kalau aku nampak cipap dia orangpun tak pernah kote aku keras begitu.

Dia menghampiriku lalu bertanya kenapa kote aku keras, aku jawab tak tahu tapi tadi aku nampak cipap dia tengah kencing boleh jadi itu sebabnya. Dia datang hampir lalu memegang kote aku, tengah dia membelek-belek tu critt…… ada air yang terpancut keluar lalu kena kat mukanya tapi tak salah aku air tu belum pekat lagi dan masih cair. Dia cuma tersenyum lalu mengesat mukanya sambil berkata mulai hari ini aku tak boleh mandi bersama dia orang lagi kerana kote aku dah naik tegang bila nampak cipap perempuan dan aku kena mandi sorang-sorang katanya lagi. Frust juga aku tapi katanya lagi kalau aku nak tengok dia mandi boleh dengan syarat aku beri dia main dengan kote aku. Aku tamatkan episod mukadimah ini bimbang engkau orang boring cuma aku nak tegaskan dalam usia semuda itu kote aku dah keras dan mampu memancutkan air mani walaupun belum betul-betul pekat.

Aku melangkahkan kaki ke sekolah menengah dengan perasaan sama seperti budak-budak lain untuk maju dalam pelajaran. Tapi di sekolah aku selalu kena buli sebab kata dia orang muka aku ni macam perempuan (aku merawarisi paras mak saudaraku yang cun melecun tu) jadi tak heranlah kalau dia orang ingat aku macam perempuan, apa yang dia orang tak tahu kote aku kat celah peha ni dah boleh rabakkan cipap anak dara kalu diberi peluang. Oh ya lupa nak beritahu, mak saudara aku tu sebenarnya cikgu kat SM tu, guru muda lepasan Kirkby cakap orang putih jangan cerita le…. berabuk kalah mek saleh aku ingat. Akupun baiklah dengan cikgu-cikgu di sekolah tu sebab mak saudaraku itu tambahan pula dengan rakan-rakan cikgu wanita lagilah dia orang suka aku ni cute kata dia orang, patutnya jadi budak pompuan bukan lelaki.

Dalam ramai-ramai tu ada seorang guru SRT, dia ni dah berumur sikit aku ingat awal tiga puluhan. Rumah dia sebelah sekolah sahaja jadi tempat lepak guru-guru wanita terutama yang bujang atau yang suaminya tiada (masa tu ramai juga guru wanita yang suami mereka sambung belajar di London. Cikgu Syidah (bukan nama sebenar) sangat baik orangnya, pandai masak, bergaya, lawa, bontot menggiurkan tapi jarang senyum. Walaupun dah berumur masih cantik dan single. Mak saudaraku cakap dia tu dah kahwin tapi entahlah aku tak faham cakap dia orang. Aku selalu juga lepak-lepak kat rumah dia kerana aku di sesi petang dan kebanyakan mereka mengajar di sesi pagi. Selalunya rumah dia kosong tak ada orang.

Satu hari Cikgu Syidah memanggil aku lalu menyuruh aku menantinya di bilik SRT, bila dia nampak aku kat situ dia menghulurkan aku sepiring karipap yang sungguh sedap rasanya. Dia cakap kat aku kuih tu sebenarnya budak-budak tengah ambil peperiksaan jadi dia simpan sikit untuk aku.

Kemudian katanya kalau aku tak buat apa-apa Sabtu dan Ahad nanti dia hendak aku datang ke rumahnya tolong dia mengecat dinding bahagian dalam rumahnya. Cat dan perkakasannya telahpun dibeli pagi tadi. Aku kata nanti aku beritahu jawapannya selepas mendapatkan consent mak saudaraku.

Anywhere, Sabtu sampai dan aku juga sampai ke rumahnya. Aku dapati dia sorang sahaja kat rumah aku tanya mana yang lain-lain. Dia jawab kena jaga periksa dan terus balik kampung kemudian dia tanya mana mak saudaraku, aku jawab nanti lepas zuhur baru dia sampai. Dia menghulurkan baju lama (nampak macam blouse) dan kain batek lusuh kepadaku, aku kata nak buat apa lalu dia jawab nak mengecat kenalah pakai yang buruk lepas kena cat boleh buang terus. Akupun menyalin pakaian berkenaan dan memulakan kerja-kerja mengecat. Banyak juga yang dapat aku cat sehingga sampai waktu makan tengahari aku disuruhnya berhenti pergi mandi dan makan.

Aku mengambil tuala yang diberikannya lalu masuk ke bilik mandi, sebentar kemudian aku keluar untuk menyalin pakaian. Tiba-tiba dia ketawa aku kaget, dia cakap aku mandi macam mana, cat kapur tu masih bertepek kat kepala. Lalu dia menarik tanganku masuk semula ke bilik mandi dia suruh aku duduk telanjang dan dibersihkan segalan cat kapur yang terlekat di kepalaku. Sambil tu dia beritahu yang dia tahu aku selalu dimandikan oleh mak saudaruku aku jawab benar malah semua tentang diriku dia yang uruskan. Setelah selesai aku berdiri sambail dilapkan badan oleh cikgu Syidah.

Tanpa sengaja tangannya tersentuh koteku lalu ia mula mengembang dan mengeras, cikgu Syidah nampak tapi buat-buat tak tahu sahaja. Setelah selesai aku nak keluar dari bilik mandi tapi kote masih keras lagi lalu dia tanya kalau kote aku naik tegang selalu aku buat macam mana. Aku jawab aku biar sahaja lama-lama dia turun balik atau kalau sepupu aku ada kat rumahnya aku suruh dia pegang dan usap-usap tak lama nanti ada air keluar lepas tu boleh turun. Dia senyum saja. Cikgu Syidah suruh aku bersalin pakaian di biliknya selepas tu boleh makan nasi dan aku menurut sahaja. Tanpa ku duga dia mengekori aku ke biliknya, sebaik sampai tuala yang ku pakai direntapnya dan koteku diramas-ramas mesra. Aku terkedu menahan rasa terkejut dan sedap yang mula menyelinap ke tubuhku.

Dia suruh aku berbaring atas tilam sambil dia menanggalkan pakaiannya satu persatu. Cuma tinggal bra dan panties sahaja, dia datang hampir kepadaku lalu berkata yang ni nak lucut tak sambil jarinya menunjuk kepada bra dan pantiesnya aku cuma menganggukkan kepala. Jari-jarinya membuka cangkuk bra dan melepaskannya ke lantai…..tersembul dua bukit indah milik cikgu Syidah, walaupun tak begitu besar tapi padan dengan dirinya. Tetek cikgu Syidah masih mengkar tak jatuh macam orang lain yang dah berumur….masih terpacak di dadanya. Kote aku berdenyut-denyut menahan rasa berahi….dan yang ni awak kena bukak sendiri kalau nak tengok dia memberi isyarat kepada pantiesnya.

Perlahan-perlahan akan memegang tepi seluar dalam tu lalu melorotkannya ke bawah melepasi punggungnya dan menampakkan bulu pantatnya yang lebat tapi kemas. Kemudian dia sendiri melucutkan terus panties berkenaan melambak ke lantai. Nampak jelas cipap cikgu Syidah yang begitu tembam, berbulu hitam lebat, labia majoranya bagai ulas limau penuh menutupi labia minoranya. Cikgu Syidah merebahkan dirinya atas tilam lalu meminta aku menatap sepuas-puasnya tubuhnya. Dia mahu aku menyentuh apa sahaja yang terdapat pada tubuhnya, aku memegang, mengusap dan menguli teteknya dengan putingnya tegak berdiri, aku terus meraba seluruh perut, pusat, ari-ari lalu sampai ke cipapnya. Aku tertagak-tagak untuk menyelak bulu-bulu cikgu Syidah sebab bulu cipap mak saudaraku agak nipis berbanding dengan cikgu Syidah.

Lalu jari-jarinya menyelak bulu hitam itu dan kelihatan biji kelentit di bahagian atas cipapnya, dia mahu aku menguis-guis dan mengulit biji berkenaan dengan jariku dan seterusnya meraba-raba keseluruhan cipapnya yang tembam tu. Sambil tu tangannya terus meramas koteku dan…tiba-tiba sahaja dia bangun duduk dan mulutnya terus mengulum koteku. Aku mengeliat kegelian dan kesedapan, kali pertama kena kulum aku rasa nak terpancut tapi cikgu Syidah mengemam kepala koteku dengan bibirnya hingga hilang rasa nak terpancut tu. Dia meminta aku mencium dan menjilat cipapnya, aku ragu-ragu sebab tak biasa tapi akhirnya aku akur juga.

Aku lihat cipap cikgu Syidah dah berair aku kuak bulunya lalu mula menyonyot biji kelentitnya, aku lihat dia terangkat-angkat badannya bila kelentitnya aku sedut, aku dah tak kisah lagi aku sedut puas-puas kelentitnya dan bibir cipapnya lalu aku bukak cipapnya dengan jariku ku lihat bahagian dalamnya berwarna pink dan masih rapat. Aku menjolok jariku masuk ke lubung cipap yang aku kira bukan dara lagi kerana nampak jelas lubangnya lebih besar sikit berbanding lubang sepupuku yang masih perawan…. tapi cikgu Syidah belum beranak lagi dan kehangatan lubang cipapnya terasa pada jariku.

Dia lantas menolak badanku naik ke atas tubuhnya dan membawa koteku betul-betul bertentangan dengan cipapnya. Koteku digesel-geselkan pada cipapnya dan kemudian meletakkan kepala koteku pada lubang cipapnya. Dia meminta aku menolak masuk, aku ragu-ragu lalu dipautnya punggungku….clupp terus masuk sampai habis (maklumlah masa tu kote akupun bukanlah sebesar dan sepanjang la ni) jadi senang saja masuk. Secara spontan aku melakukan sorong tarik berdecup-decap ia keluar masuk. Aku kira bab ni tak payah ajar naluri manusia ia tahu sendiri apa nak buat seterusnya.

Cikgu Syidah mengajarkan berbagai cara bersetubuh baring, duduk, menungging, meniarap, mengiring, mengatas, membawah tapi yang paling sedap bila dia merapatkan lurus kakinya di mana lubang pantat menjadi begitu ketat dengan kote rasa tersepit buat para isteri kalau belum pernah buat, cuba main cara ini aku jamin mata suami awak boleh juling jadinya). Setiap kali aku menarik nafas untuk terpancut dia akan menyepit kote aku dengan kuat dan rasa ngilu nak terpancut tu akan reda jadi aku dapat meneruskan dayungan keluar masuk. Aku tak pasti dah berapa lama aku main sampai peluh kami dah menyimbah keluar membasahi cadar (kami pakai cadar tapi ada kes aku dengar pakai tilam bolen aje – betul ke tidak waulah waalam).

Cikgu Syidah dah tak keruan lagi….mulutnya menceceh sedap-sedap, nak lagi, tekan habis, aku menghentak sekuat yang termampu…..tak lama lepas tu aku dengar dia menyebut I’m cuming…I’m cuming….lalu pinggangku dikepit badanku dipeluk kuat dan koteku terasa disedut-sedut. Dia menggelepar dan mendengus dengan kuat dan barulah aku tahu itu rupanya bila pompuan klimak. Aku melajukan hentakan dan akhirnya badanku menjadi kaku lalu memancutkan sesuatu ke dalam pantat cikgu Syidah. Pancutan kali ini agak lama berbanding selalunya dan aku terasa pedih dihujung koteku mungkin kali pertama memancutkan air mani ke dalam cipap perempuan. Cikgu Syidah tergolek puas, akupun puas dan selepas berehat seketika aku menarik keluar koteku yang aku kira habis lusuh dikerjakannya. Tapi awang tu nampak gagah lagi berkilat-kilat bekas air cipap yang melekat padanya.

Cikgu Syidah menciumku sambil mengucapkan terima kasih. Kami berdiri sambil berpelukan…. untuk menuju ke bilik air tapi aku melihat seraut wajah yang biasa ku lihat, aku cemas sambil memandang cikgu Syidah. Tiba-tiba ku lihat wajah tu tersenyum “well anywhere you are man, sooner or later you will be fucking around but make sure you keep your mouth shut” dan menyambung ” Idah kau belasah anak sedaraku cukup-cukup” sambil tangannya memegang koteku……..cikgu Syidah hanya mampu tersenyum……mak saudaraku berbisik kepadaku, “You fucked that older woman pussy like nobody business, so you must return back the favour to me, young man”. Aku hanya dapat mengatakan “Yes” dan tak tahu what’s going to happen next……..

Pengalaman pertama senggama telah membuatkan aku selalu ketagih sex, setiap peluang yang ada akan ku gunakan untuk mendapatkannya daripada Cikgu Syidah. Ada masa kami melakukannya dibilik Sick Bay yang terdapat dalam dapur SRT. Walaupun begitu secara diam-diam Syidah telah mengiklankan diriku kepada teman-teman rumah yang lain dan perkara ini di luar pengetahuanku.

Satu hari aku diminta menghantar buku-buku latihan yang perlu disemak oleh cikgu bahasa ke rumah Syidah, waktu tu kalau tak salah aku waktu rehat jadi akupun pergilah ke rumahnya. Sesampai sahaja ke rumah itu aku memanggil namanya tetapi tiada orang yang menjawab, disebabkan pintu rumahnya tidak berkunci (selalunya begitulah di waktu siang) akupun masuklah ke dalam dan meletakkan buku-buku berkenaan di atas sebuah meja besar. Aku berkira-kira hendak keluar dari rumah berkenaan akan tetapi aku terdengar suara pompuan batuk-batuk kecil dari dalam sebuah bilik.

Mohon untuk menyimpang sedikit. Rumah Syidah mempunyai tiga buah bilik, dia tinggal seorang dalam bilik utama manakala dua bilik lagi dihuni oleh Cikgu Kathy, Rohaya, Swee Lin dan Salma. Cikgu Kathy dan Rohaya telah berkahwin dengan Kathy telah mempunyai dua orang anak sedangkan Rohaya seorang masih bayi lagi menurut kata auntieku. Mereka dua orang ini suaminya berada di England melanjutkan pelajaran dan anak-anak mereka dijaga oleh ibu bapa atau mertua di kampung. Cikgu Swee Lin dan Salma pula masih bujang dan kedua-duanya guru sandaran yang menggantikan guru bersalin serta kursus panjang.

Cikgu Kahty besar tinggi orangnya, berkulit sawo matang, suka melawak dan selalu ketawa besar. Dia ni serba serbi besar, tetak besar, punggung besar, peha besar tapi tidak gemuk dan sangat lawa kalau dia pakai ka yang ketat aku cakap aa.…boleh meleleh air liur tengok dia punya benjol-benjolan tu. Cikgu Rohaya pula kecil molek orangnya, rendah sahaja aku agak tingginya kira-kira 5′ 1″ atau 5′ 2” sahaja malah di SM tu budak-budak panggil dia cikgu ketot. Namun ketot-ketot dia ni jambu orangnya, bukan nak puji dan yang paling aku suka dirinya ialah giginya yang aku difahamkan orang panggil gigi mentimun. So kalau dia senyum terpancut air mani dibuatnya.

Tapi awas dia ni yang paling garang (semasa) di kelas aku diberitahu oleh sepupu lelakiku yang juga merupakan pelajar harapan sekolah di Form Five. Cikgu Swee Lin dan Salma aku tak berapa kenal walaupun dua tiga kali bertembung kerana mereka ni jarang ada di rumah Syidah dan setiap kali hujung minggu mesti balik ke rumah mak bapak dia orang kira-kira 16 batu dari situ. Swee Lin ni biasalah typical chinese karektur malah budak-budak pagi gelarkan dia “bibik” (Queen pada daun terup) sebabnya aku kira dia ni flat chested. Salma pula agak manis bagi seorang india muslim (mamak – sama ada kutty tak kutty aku tak tahu) tapi kulitnya agak gelap walaupun muka hidungnya comel.

Aku beri gambaran ini bukan apa kerana mereka ni semua ada pertalian dengan aku so lain kali aku tak perlu nak ulangi lagi rupa bentuk dia orang sebab kau orang dah dapat bayangkan rupanya. Sungguhpun begitu cikgu yang paling cun adalah cikgu bahasa inggeris (morning session) yang memang tertoleh-toleh tak puas pandang. Kau ingat-ingat siapa, mestilah tak lain tak bukan auntie akulah tu.

Berbalik pasal suara yang kedengaran tadi aku meninjau-ninjau rupanya suara itu datangnya dari bilik Kathy dan Rohaya tapi aku tak pasti siapa. Lalu aku menjenguk ke dalam sebab pintu bilik separuh renggang. Ku lihat cikgu Kathy sedang berbaring mungkin tidur agaknya. Aku mengetuk pintu lalu memanggil namanya, selepas dua tiga kali brulah matanya tercelek dan memandang ke arahku. Semasa dia mengalihkan kaki, kainnya terselak luas menampakkan dengan jelas pangkal pehanya, aku kira dia tidak berseluar dalam, berderau juga darah mudaku. Ku beritahu bahawa buku-buku berkenaan telah ada atas meja so aku minta diri untuk balik ke sekolah.

Tiba-tiba dia menggamitkan jarinya memanggil aku menghampirinya. Dia menggambil sesuatu dari bawah bantalnya lalu memberikan kepadaku. Dia meminta aku menyerahkan wang berkenaan kepada cikgu Syidah. Aku mengambil wang berkenaan dan bertepatan waktu itu aku memandang ke bawah (dia duduk di pinggir katil) terserlah lurah teteknya yang besar tersergam. Aku memandang tak berkelip mata serta kaku berdiri. Aku cuma tersedar apabila tanganku ditarik-tarik dan aku tersipu-sipu. Cikgu Kathy bertanya apa aku tak pernah tengok tetek perempuan, aku jawab pernah tapi belum pernah tengok yang besar dan solid macam dia punya.

Dia tergelak lalu menyuruh aku menutup pintu bilik. Bila aku berpaling semula ku lihat Kathy telahpun menanggalkan bajunya dan menampakkan dengan jelas dua buah gunung aku kira, besar solid dan agak jatuh sikit. Puting teteknyapun besar dengan kawasan gelap sekelilingnya melebar. Tapi bagi perempuan yang dah beranak dua, buah dada Kathy still ok. Aku hanya berdiri diam tapi koteku dah mula seram-seram sejuk.

Cikgu Kathy menarik aku duduk di sebelahnya sambil tangannya mengurut-ngurut manja tangan dan bahuku. Kemudian satu persatu butang bajuku dibukanya selesai diikuti dengan seluarku pula (masa tu bebudak sekolah petang pakai seluar pendek jadi senang aje nak bukak seluar). Tinggal seluar dalamku sahaja, tiba-tiba dia memaut badanku hingga rebah lalu dia menghimpit dadaku dengan teteknya yang besar tu. Jari-jariku dibawanya mengusap putting teteknya sambil mulutku dikucupnya bertalu-talu.

Kini jari jemarinya telah meramas butuhku yang telah berdiri sambil dilurutkan seluar dalamku kemudian Kathy menanggalkan kainnya hingga menampakkan pantatnya yang lebar dan menembam macam apam yang baru dikukus. Pantat Kathy licin tak ada bulu nampak jelas baru dicukur, ini memberi peluang buat aku menatap sepuas-puasnya pantat pompuan beranak dua ini. Sungguhpun kulit luarnya agak gelap tapi labia minoranya begitu merah merekah bak delima masak. Aku tak berani bertindak cuma menanti serangan apa yang bakal dilakukannya.

Kathy menolak aku ke atas badannya sambil meminta aku menghalakan koteku betul-betul di mulut cipapnya. Koteku mencecah bibir pantatnya lalu dengan sekali dorong sahaja… pap….terus masuk sampai ke pangkal. Sungguhpun lubang pantatnya agak longgar tapi cukup panas ku rasakan. Dia membiarkan aku merendamkan kote agak lama dalam pantatnya sebelum meminta aku menyorong tarik, air pantat meleleh keluar dan proses keluar masuk kote begitu licin, aku tak peduli lagi yang pasti aku mesti balun cukup-cukup dia puas ke tidak ke bukan urusanku. Tetiba saja pundakku dikepit dengan pehanya yang besar sampai tak boleh bergerak lagi, nafasnya kian kencang dan aku terasa dilambung-lambung, habis punggungku dipecal-pecal sambil kepalanya digeleng ke kiri ke kanan dengan rambutnya mengerbang tak menentu.

“Lagi-lagi, kuat lagi…..aah…aah sikit lagiiiii…..hah…hah….hah aku sampai dahhhh, huh sedap sungguh, lama betul tak merasa pelir”. Selepas dia tenang kembali dia merenung aku sambil bertanya yang aku dah pancut ke belum, aku jawab belum lagi sebab takut tengok dia begitu ganas. Kathy tersenyum kemudian dia mengiringkan badannya lalu memegang butuhku dan di letakkan betul-betul pada lubung duburnya. Dia melumurkan duburnya dengan air pantat yang keluar menjadikan lubang itu licin, lalu meminta aku menekan masuk. Aku tak pernah main bontot sebelum ini jadi aku tak tahu tapi aku terus menekan walaupun agak susah nak masuk ketat sungguh sampai bengkok kote aku menekan.

Aku merasakan kepala kote dah mula masuk aku tekan lagi masuk sikit lagi lalu aku henyak sekuat mungkin, berderut rasanya bila keseluruhan batang koteku menyelinap masuk ke lubang dubur Kathy yang ketat. Dia memberi isyarat supaya aku pelan-pelan sebab takut rabit katanya. Setelah itu aku meneruskan acara keluar masuk tapi temponya lebih perlahan berbanding dengan lubang pantatnya. Muka Kathy aku lihat berkerut sambil mulutnya terbuka kemudian dia berbisik kalau aku nak pancut, pancut saja dalam bontotnya tak apa katanya.

Aku melajukan hentakkan bila merasakan air telah mula nak keluar, Kathy memberi ruang dengan membuka sudut kangkang yang lebih luas, bila airku betul-betul nak terpancut aku hentak terus sampai habis critt….critt…..crittt…. maniku terpancut dalam dubur Kathy sambil kurasakan lubangnya mengemut dengan kuat sekali rasa nak putus kote aku.

Setelah itu aku mencabut keluar dan serta merta Kathy membalut koteku dengan tuala kecil dan berkata “Lepas sejuk nanti biar cikgu cuci sebab main kat belakang ni kekadang ada najis ikut sekali, mesti cuci betul-betul takut dapat gatal-gatal”. Ku lihat lubang duburnya terbuka sedikit lalu ada cecair meleleh keluar warnanya tak menentu bercampur antara kuning dengan sikit kehijauan.

Kami berpimpin tangan ke bilik air di mana Kathy telah membasuh koteku dengan sempurna sebelum dia membasuh cipap dan duburnya. Dia juga memberi tahuku inilah kali pertama dia membenarkan orang memainkan duburnya walau suaminya sendiripun tak pernah dapat, dia takut aku tak dapat memancutkan air sebab mungkin lubang cipapnya agak besar dan kerana itu digantikan dengan lubang dubur yang ketat. Dia juga beritahu aku, bila main pompuan, lama ke sekejap ke mesti diakhiri dengan pancutan mani tak kira kat luar atau kat dalam kalau ditahan nanti buah zakar boleh bengkak dan rosak. Nasihatnya ini aku pakai sampai la ni, sebab tu kekadang bini aku tak tahan dah beround-round tapi aku pulun juga lagi hingga dah terpancut baru aku berhenti kekadang tu sampai kokok ayam baru selesai.

Esoknya dia dah tentu mc sebab tak larat nak angkat matapun. Hubungan aku dengan Kathy berjalan macam biasa juga kekadang tu mereka kongsi aku cuma yang jelas Kathy cepat keluar air (klimaks) dan Syidah agak lama. Kalau nak rasa puas main dengan Kathy dulu kemudian baru balun Syidah pulak………………

Masa terus berjalan dan aku semakin biasa dengan rumah Syidah boleh keluar masuk macam rumah ku sendiri. Syidah dan Kathy dah macam bini aku pulak bukan sahaja dia yang mintak tapi aku juga boleh demand kalau aku nak main dengan depa. Auntie aku tahu tapi dia buat-buat tak tahu aje, lantak demalah katanya. Cuma dia pesan dengan aku never fall in love with any of them, yes I fully understand jawabku sambil tanganku meraba-raba cipap auntieku, ia membiarkan sebentar tapi menghalangnya takut terlihat oleh datukku. You can have it when a moment is right but from now on until then you musn’t figured it on your mind, do you understand young man (auntie aku sering memanggil aku young man) yes indeed aku jawab.

Satu pagi aku ke rumah Syidah seperti biasa, aku bukak pintu dan masuk untuk menghabiskan kerja rumah yang berbaki, setelah meletakkan beg sekolah aku di tepi meja aku terus ke dapur untuk melihat sama ada baki kuih atau air yang ada boleh juga mengalas perutku. Aku tak pernah ambil breakfast early in the morning melainkan segelas air masuk sejuk (amalan paling baik untuk perut). Bila aku melintas bilik cikgu Kathy aku nampak seseorang sedang tidur, aku ingat Kathy atau Rohaya sakit dan tak dapat ke sekolah, lalu aku mendekatinya. Aku tak begitu pasti tapi sah dia ni bukan any one of them.

Dia berpakaian baju tidur jarang tapi memakai bra berwarna pink muda dengan kain batek, masalahnya ialah kain batek tu terselak hingga menampakkan buritnya yang dipenuhi bulu hitam nipis (kesan selalu digunting) sah dia tidur tak pakai panties (tidur pakai panties pun tak baik juga tak masuk angin).

Koteku mula mencanak naik bila terlihat burit pagi-pagi ni tapi aku tak berani nak start sebab tak kenal siapa dia. Last tu aku masuk ke bilik Syidah dan mengambil sedikit cream (dia memberitahu ku ini cream special hanya digunakan untuk bersetubuh dan sapu bibir bila kering sahaja katanya) lalu melumurkan kepada batang dan kepala koteku.

Aku melucutkan pakaian sekolahku dan hanya bertuala sahaja bila menghampiri pompuan berkenaan, aku kemudiannya mencangkung menghadapi kangkangnya sambil menolak turun kainnya perlahan-perlahan, pantatnya jelas kelihatan dengan rekahannya terbuka sedikit bila kakinya merenggang, kulitnya agak gelap dan pantatnya tidak begitu tembam berbanding milik Syidah dan Kathy, aku juga perasan ada taik lalat di labia majora kirinya. Aku terus menghampiri sehingga kepala koteku sudah menyentuh mulut pantatnya, tetiba sahaja aku memegang kedua-dua pehanya lalu aku henjut kote memasuki pantatnya sekuat mungkin, aku rasa masuk sikit tapi tak boleh gi jauh, aku huja sekali lagi rutt..rasanya bila batangku mula tenggelam, ia mula bergerak bila terasa cipapnya dimainkan orang, aku tak kisah lalu ku henjut sekali lagi dan mungkin kerana batang koteku telah licin jadi brusss…terus masuk sampai habis.

Dia terjerit aduii…lalu terjaga, matanya terbeliak bila melihat ada budak jantan celapak di celah kangkangnya dengan kotenya telah terbenam dalam pantatnya. Aku tak peduli terus sahaja memainkannya seperti biasa yang ku lakukan dengan Syidah dan Kathy. Aku lihat pantatnya berdarah dan dia mula menangis, aku panik juga sebab selama ini tak pernah tengok pantat Syidah dan Kathy berdarah bila kena main, dia cuba menolak aku tapi aku telah terlebih dahulu memeluknya dengan kemas sebab masa tu aku rasa air maniku dah nak memuncat keluar. Tak lama batangku memuntahkan laharnya ke dalam cipap pompuan berkenaan, lepas habis keluar aku mencabutkan batangku keluar dan memandang mukanya yang sangat sukar aku bayangkan romannya ketika itu.

Dia tergesa-gesa bangun hingga kelihatan air mani yang bercampur darah meleleh turun ke pehanya, ia tergesa-gesa berpakaian, bertudung lalu berlari ke sekolah. Aku terus ke bilik air mencuci koteku lalu memakai semula pakaian sekolahku. Tak lama aku lihat Syidah, Kathy, Rohaya dan auntieku bergegas balik, aku selamba aje menyiapkan kerja-kerja rumah yang tak sempat aku mulai. Syidah memegang tanganku lalu membawa aku ke biliknya dengan dituruti oleh mereka semua dan akhirnya pompuan yang baru ku tenggek sebentar tadi, ia masih menangis.

Syidah bertanyakan kenapa aku mengusik Salwa (barulah ku tahu namanya Salwa dan barulah ku perasan yang Salwa ni cantik ada iras-iras Saira Banu cuma kulitnya agak lebih gelap) aku kata aku tak tahu, aku ingatkan cikgu Kathy sebab dia tidur di bilik Kathy, aku juga beritahu perihal ia tidur dengan kakinya tahan tuak (melukah) hingga menampakkan cipapnya, aku naik setim bubuh cream kat kote terus tujah sampai habis dan mati-mati aku ingat itu Kathy (selebihnya alasan aje sebenarnya memang aku tahu yang ku tenggek tu bukan Kathy. Mereka semua terduduk dan barulah aku tahu yang sebenarnya Salwa ni adalah ustazah petang yang baru dan dia juga adalah kakak kepada cikgu Salma.

Aku panik, takut dan malu terus meluru kepada auntieku sambil memohon protection (anak sedara manja gitulah), semuanya menyepi dan akhirnya aku dengar Syidah bersuara agar peristiwa itu disenyapkan sahaja jangan sampai ketahuan oleh orang lain selain mereka yang berada di biliknya itu. Syidah dan Kathy mula story pasal hubungan depa dengan aku dan dia minta maaf banyak-banyak dengan Salwa supaya jangan membawa ke tengah kejadian pagi itu sebabnya kalau terbongkar semua orang susah dan selebihnya aku tak faham maksudnya butir percakapan dia orang. Auntieku kemudian membawa aku kepada Salwa lalu menghulurkan tanganku kepadanya tanda memohon maaf. Salwa memandang aku kemudian mendepangkan tangannya lalu memeluk tubuhku sambil berkata saya maafkan dia tak tahu apa-apa sambil mencium pipiku. Aku lihat semua orang menarik nafas lega dan tak lama semuanya balik semula ke sekolah tinggallah aku berdua semula bersama Salwa.

Salwa menyuruh aku menghabiskan kerja-kerja rumahku dan setelah habis ia memanggil aku masuk ke bilik, aku lihat Salwa sudah telanjang bulat dengan buah dadanya meruncing penuh, pinggangnya ramping dengan pehanya yang lebarnya dia meminta aku membuka semula pakaian sekolahku telanjang bulat juga. Aku datang dan berbaring di sisinya, tak lama kami mula bercumbu, dia mencium seluruh badanku hinggakan habis koteku, telurku malah duburkua juga dijilatnya.

Katanya alang-alang dah kena main baik main puas-puas, kami berpusing 69 dan aku terpaksa menyonyot pantatnya yang dah banyak berair, setelah dia puas ia meminta aku memasukkan koteku secara mengatas, aku meletakkan kepala koteku betul-betul sambil jari-jarinya memegang batang kote dan srup…batang kote menyelinap masuk membelah pantat yang baru pecah daranya sebentar tadi, kemudian dia mengiring lalu meminta aku mainkannya secara celapak, tak lama aku rasa dia mengejang dan tahulah aku dia orgasm dan mungkin itu yang pertama baginya. Kemudian dia menonggeng dan minta aku mainkannya dari belakang pula, cara ni payah sikit sebab kote aku belum begitu panjang untuk sampai sepenuhnya ke lubang pantatnya.

Sambil main cara doggie tu aku perhatikan opening lubang duburnya juga basah dengan air pantatnya yang meleleh keluar, akupun apa lagi meletakkan kepala kote betul-betul di mulut duburnya lalu terus menikam kuat hingga dapat masuk sikit, aku tekan lagi masuk sikit lagi, hey lubang tu tak boleh tiba-tiba dia menjerit, aku tak peduli terus ram sampai habis batangku menyusup masuk ke lubang dubur daranya ketat sungguh ku rasakan. Dia berpaling nampak wajahnya gusar semula, ni..siapa yang ajar ni…aku cakap Syidah dan Kathy yang ajar aku main kat bontot sebab lubangnya lebih ketat dan ada masa-masa tertentu dia tak beri aku pancut kat lubang buritnya jadi dia orang suruh aku pancut dalam lubang bontot.

Aku terus memainkan duburnya dan tak lama aku rasa duburnya menyepit koteku dan aku terus memancutkan air maniku ke dalam duburnya, setelah habis airku keluar aku menarik koteku keluar perlahan-perlahan. Salwa memelukku sambil berkata lubang belakang tak boleh main kotor katanya, itukan tempat najis keluar aku hanya mampu mendiamkan diri tetapi apa yang dia tak tahu lubang dubur ni kemut keliling sedangkan cipap kemut sebahagian saja tapi benar juga katanya itu tempat najis keluar pasal apa nak main kat situ entahlah akupun tak tahu sebab selama ini Syidah dan Kathy yang ajarkan aku main bontot.

Sehingga menjelang ke sekolah hari itu entah berapa kali lagi kami main hingga aku rasa dah tak ada air lagi yang keluar bila aku klimak, air maniku dah terpancut dalam buritnya, dalam duburnya malah dalam mulutnya juga. Kami kemudiannya mandi bersama dan dia memandikan aku sebaiknya, kami bersiap-siap untuk ke sekolah dan aku memberitahunya untuk ke sekolah dulu…nanti kejap katanya lalu meminta aku masuk semula ke bilik, aku lihat dia dah memakai bra dan berkain dalam…londehkan seluar tu kejap saya nak tengok sekali lagi…aku menurunkan seluarku dan memperlihatkan koteku kepadanya. Dia datang menghampiriku lalu terus mengulum batang koteku sambil jari-jarinya meramas manja telur kecilku. Batangku keras semula dan dia berbaring semula atas tilam, ia terus menyelak kain dalamnya sah masih tak pakai panties lagi kemudian membuka kangkangnya lalu meminta aku memainkannya sekali lagi.

Aku terus saja menujah masuk ke pantatnya dengan sekali huja sampai habis ku benamkan koteku, aku terus mengerjakannya menikam dengan laju hingga terhinggut-hinggut badannya…dia mendesah sambil bersuara lagi…lagi…masukkan lagi…ahh…ahh…sedapnya…sedapppp lalu kedua-dua kakinya memeluk pundakku sehingga aku tak mampu bergerak lagi tersepit habis, Salwa klimak lagi aku lihat dia tercungap-cungap tapi aku dah tak boleh nak klimak lagi lalu terus mencabut kote dan memakai semula seluar tanpa sempat membasuh koteku.

Salwa menarik tanganku sambil berbisik ingat hingga di sini saja hubungan kita…lepas ni tak boleh main-main lagi…kita lupakan yang kita pernah berbuat perkara ini faham…awak kena anggap serta terima yang saya ni ustazah awak dan perlu menumpukan perhatian kepada apa yang ajarkan bukan membayangkan hubungan sulit kita ni. Aku hanya mampu mengganggukkan kepala. Sayangnya ustazah Salwa tidak lama di sekolah aku, kira-kira tiga bulan selepas itu dia bertukar ke sekolah lain yang agak jauh dan aku tak pernah lagi mendengar berita mengenainya. Pernah aku bertanyakan kepada auntieku sebab dia mohon tukar, auntieku jawab dia sakit kena buatan orang jadi perlu ke tempat yang orang tak tahu mengenai dirinya…aku tak faham apa maksudnya….

Kenangan bersama ustazah Salwa menjadikan aku begitu serik untuk bertandang ke rumah Syidah lagi terutama bila teringatkan buritnya yang berdarah terus mematikan selera seks ku terhadap pompuan. Aku memberitahu auntieku agar memberitahu Syidah yang aku tidak lagi datang ke rumahnya kerana kejadian bersama Salwa benar-benar menakutkan aku, malah kalau bertembung dengan merekapun aku akan melarikan diri supaya tidak perluberdepan atau bercakap dengan mereka. Ustazah Salwa juga tidak lama mengajar kami selalu ambil cuti dan akhirnya terus berpindah ke sekolah lain, bagaimanapun aku taat mengikuti ajarannya dan mengamalkan mana-mana yang disuruhnya walaupun kekadang tu teringin juga hendak bermesra seperti dulu dengannya tapi bila mengingatkan peristiwa cemas tempohari aku terus jadi kecut.

Aku kini sudah di tingkatan dua dan suasana di sekolah telah banyak berubah, guru-guru telah banyak bertukar ganti dan kawan-kawanpun dah semakin ramai termasuk rakan-rakan wanita. Bagaimanapun Syidah dan teman serumahnya masih kekal mengajar di sekolah cuma aku dah jarang-jarang bercakap dengan mereka. Oh, ya lupa nak beritahu yang auntieku juga telah bertunang dengan jejaka idamannya sejak di England dulu, akupun kurang arif dia tu kerja apa cuma yang dapat aku baca pada sampul suratnya tertulis perkataan advocate and solicitor tapi datukku beritahu tunang mak saudaraku adalah seorang loyer. Mereka akan kahwin dalam cuti persekolahan akhir tahun nanti dan aku dapat bayangkan betapa seronoknya masa itu nanti, sanak sedara berhimpun, kerbau dan lembu disembelih serta seribu macam keseronokan yang lain.

Musim buah menjelang lagi, dusun kami sungguh menjadi tahun itu, semua pokok durian berbuah begitu juga dengan manggis, pulasan, duku, langsat dan rambai. Rambutan masa tu masih rambutan kampung sebab anak rambutan kawin masih belum ada lagi. Satu hari auntieku meminta aku mengumpul buah-buahan yang ada untuk dijadikan jamuan kepada cikgu Syidah dan rakan-rakan serumahnya. Buah durian memang telah dikumpulkan oleh datukku sejak pagi lagi. Aku turut memetik buah manggis dan pulasan serta di bawa pulang ke rumah. Duku dan langsat belum masak lagi jadi itu sahajalah yang dapat kami sediakan. Datuk dan nendaku tak balik ke rumah sebab durian tengah gagat gugur jadi kena full time di dusun durian. Aku kena gantikan mereka apabila mereka pulang untuk memasak atau datukku ke masjid, kalau hari tak sekolah aku dan datuk tidur di pondok durian yang agak selesa untuk bermalam.

Menjelang tengahari merekapun sampai dengan dua buah kereta, Renault putih yang dipandu oleh Syidah dan sebuah lagi Fiat Coupe merah kepunyaan Rohaya. Aku membelahkan durian-durian yang ada untuk mereka tapi aku tak mahu bercakap sepatahpun, mereka makan semua buah yang ada dan selepas mencuci tangan aku lihat auntieku bersiap-siap untuk keluar. Young man, I’m going out for a while to visit a friend, she just delivered identical twin. Mereka semua menaiki kereta yang dipandu oleh Syidah dan Rohaya berkata ia akan menyusul kemudian nanti. Rohaya kemudian ke bilik air sambil aku mengemaskan kulit-kulit durian untuk dibuang, aku kemudiannya mencuci tangan dan masuk ke bilik untuk menggantikan pakaian dengan pakaian baru dan bercadang untuk ke dusun durian selepas Rohaya berlalu.

Tiba-tiba Rohaya dah tercegat di pintu bilikku dan tanpa aku pelawa terus sahaja masuk ke bilik serta menutup pintu bilik. Dia memandangku dengan senyuman yang amat manis pernah ku lihat dari bibirnya merekah bak delima. Rohaya ni memang cantik walaupun agak rendah tapi potongan badannya menggiurkan sekali, perempuan yang baru beranak satu ini meliuk-liukkan badannya di hadapanku. Tidak semena-mena ia mula melucutkan pakaiannya, ia berpakaian satu sut baju kurung berbunga merah yang menampakkan lagi seri dengan kulitnya yang putih melepak tu. Ia membuka baju dan kain serta juga kain dalam apa yang tinggal hanyalah bra dan panties yang juga berwarna merah.

Koteku yang dah lama bercuti terus mencanak naik menongkah tuala yang ku pakai, Rohaya nampak jelas kawasan membengkak tu dan ia cuma tersenyum aje. Dia terus menanggalkan bra yang dipakainya dan sebaik terlucut sahaja tersembul dua buah bukit payudara miliknya yang segar dengan putingnya kelihatan tegang. Rohaya tidak berhenti di situ sahaja malah perlahan-perlahan ia melorotkan panties merah yang dipakainya, aku memerhatikan dengan mata yang tak berkelip. Rohaya berdiri telanjang bulat di hadapan ku, cipapnya sungguh tembam walaupun agak kecil berbanding Syidah dan Kathy namun bonjolannya begitu jelas, bulu cipapnya juga tidak begitu lebat tetapi menutupi seluruh kawasan pubic di celah kangkangnya. Rohaya kemudiannya terus berbaring di atas katilku sambil jari-jarinya memberi isyarat meminta aku menghampirinya.

Aku membuang bajuku dan tuala yang sedang ku pakai dan terus menerkam kepada Rohaya yang sedang menanti dengan kangkangnya yang terbuka luas. Aku terus menenyehkan kepala butuhku ke mulut cipapnya dan terus menekan masuk, aku tekan berulang-ulang kali sehingga batang koteku terbenam habis. Aku keluarkan semula dan ku benam sekali lagi, keluar dan benam lagi, aku tak peduli apa riaksi Rohaya tapi aku terus mengerjakannya, aku tak tahu mengapa kali ini aku menjadi ganas sehingga ku terdengar Rohaya bersuara, please be patient young man, please be gentle with me…I’m not going to run away so please not too hard.

Aku tak peduli rayuan Rohaya, nafsuku dah mencapai ke langit aku henyak, aku tujah dan aku tala cukup-cukup hingga aku terasa air mani nak memancut keluar, aku terus benamkan sedalam mungkin batang koteku dan srutt…srutt air maniku memancut dalam pantat Rohaya. Agak banyak airku keluar kalau silap-silap boleh buncit pompuan ni. Setelah itu barulah aku mencabut keluar batang koteku yang masih keras, Rohaya ku lihat termengah-mengah dan terus menangis. Aku panik sambil melihat ke lubang pantatnya, aku dapati tak ada darah yang keluar tapi mengapa dia menangis.

Cikgu, mengapa cikgu menangis…Rohaya memandangku dan berkata…why are you behave like that, why rape me, I try to give the best to you but why….aku menghampirinya lalu berkata aku tak tahu apa yang telah terjadi, aku dah lama tak merasa cipap perempuan sejak kali terakhir dengan Salwa jadi bila melihat cipapnya serta merta nafsuku melonjak naik dan tak boleh ditahan-tahan lagi. So please forgive me my pretty teacher, ia mendongak dan mula tersenyum aku menghampirinya dan mula mencium bibirnya. Barulah aku terasa betapa sedapnya bibir ulas limau ni, dia membalas kucupanku dengan bernafsu sekali, aku terus mencium pipinya, matanya, dahinya dan dagunya.

Rohaya kegelian serta berahinya kian tinggi, dia kemudiannya mengulum koteku, kepala kote dijilat-jilatnya serta lidahnya melilit disekitar takuk, aku kegelian hampir sahaja aku terpancut lagi tapi dia sempat sedar lalu mengepit kepala kote dengan bibirnya sehingga gesaan itu hilang, batangku menujah-nujah lelangit serta pangkal tekaknya setelah puas dia menyuakan pantatnya pula untuk giliran aku melakukannya, aku sedut habis labia majora dan labia minoranya, biji kelentitnya walaupun kecil cukup keras dan ku sedut dengan kuat sehingga ia tersentak-sentak menahan berahi. Rohaya akhirnya berbisik please fuck me, fuck me now.

Aku meletakkan kepala kote betul-betul di mulut cipapnya yang sedikit terbuka lalu dengan sekali dorong sahaja menjunam masuk sehingga habis semuanya tenggelam dalam lubang pantatnya. Dia menolak-nolak ke atas sehingga aku terasa pangkal rahimnya bersentuh dengan kepala koteku, sedap…sedap…sedap katanya, inilah batang pertama selepas besalin yang merasa barang saya, sungguhpun dah melahirkan tapi aku masih dapat merasakan kemutan cipapnya menyepit batang pelirku yang kini bertambah laju keluar masuknya. Rohaya kemudiannya merangkul tubuhku dengan kuatnya seraya mendengus dengan kuat…I’m cuming…I’m cuming katanya, aku memperkemaskan dayunganku untuk mengejar klimaks yang sedang mendatangi Rohaya, aku memberikan hentakan yang padu seraya membenamkan seluruh batang kote ke dalam pantatnya serentak dengan itu ia klimaks tersengut-sengut badannya sambil tangannya berpaut pada pangkal leherku.

Setelah tenang ia mencium pipiku…thanks a lot, you are so good, where do you learn youngman sambil ia membelek-belek batang koteku yang kini telah bertambah besar dan panjang serta pubic hair telah mula menghitam di ari-ariku. Tanpa berkata apa-apa aku memusingkan badannya supya menonggeng lalu ku balun cipapnya secara doggie pula, fuh sungguh sedap rasanya aku terus memainkan dari belakang dengan menujah selaju yang ku mampu, kemudian aku merasaka otot-otot punggungnya yang solid itu mengemut dengan kuat dan ia terjerit-jerit kecil…I come again.

Batang kote ku cabut keluar dari lubang pantatnya yang berlengas itu, aku memalitkan jari-jariku dengan bendalir licin yang keluar dari cipapnya lalu menyapukannya pada mulut dubur Rohaya. No..no…you are not…don’t fuck my ass, nobody ever try it not even my hubby so please don’t fuck me there. Aku tak peduli, setelah aku merasakan opening duburnya cukup licin aku mula mengulit kepala koteku pada lubang duburnya sambil menekan sedikit demi sedikit, Rohaya meronta-ronta tak membenarkan aku memaku lubang bontotnya, aku mencekak pinggangnya dengan kuat agar ia tidak dapat lari sambil terus menujah lubang yang ketat tu, kepala kote telah dapat melepasi anal ringnya lalu terbenam hingga melepasi takuk.

Aku mengumpulkan tenaga sambil menarik nafas ku henjut sekuat mungkin srutt..srutt batangku masuk ke dalam duburnya yang pertama kali diterokai, aduh…aduh, aku terdengar ia bersuara, aku menarik keluar kemudian dengan laju membenamkannya semula, setelah merasakan duburnya dapat menerima batang pelir aku memulakan adegan sorong tarik, ku lihat mukanya memerah, jari hantu ku jolokkan ke dalam lubang cipapnya sambil biji kelentitnya ku gentel-gentel, Rohaya menggigil menahan berahi yang teramat.

Ia kini membuka terus lubang dubur agar memudahkan batang koteku keluar masuk, tak lama lepas itu aku merasakan air mani telah mula berkumpul semula di pangkal kote, aku berbisik air nak keluar ni…nak pancut kat mana, please not there..let me help you katanya, aku mencabut keluar dari lubang duburnya ia berpaling lalu memegang koteku lalu mengurut-ngurut manja, Rohaya kemudiannya terus mengulum batangku sambil memainkan lidahnya aku mengejang dan terus memancutkan air maniku ke dalam mulutnya, ia menelan setiap pancutan hingga licin tak berbaki malah terus memicit-micit kepala koteke untuk saki baki yang masa ada. Rugi kalau tak ambik air mani anak muda…nanti kalau saya nak lagi young man boleh kasikan katanya kepadaku, aku hanya menganggukkan kepala. Setelah habis barulah batangku dilepaskannya dan kami sempat bercium sebentar bau mani di mulutnya begitu kuat, aku melepaskan bibrnya lalu berkata baik kita mandi sekarang takut nanti tak sempat pula.

Rohaya bergegas ke bilik mandi, memakai semula pakaiannya, mengambil ikatan pulasan yang telah ku sediakan, mencium pipiku lalu menghidupkan engin keretanya berlalu pergi, ia melambai-lambaikan tangannya. Aku membalas lambaian dan bergegas ke pondok durian untuk menggantikan datukku mengutip buah-buah yang gugur……

Saya percaya masing-masing orang membawa warnanya sendiri.
Lalu menorehkan beberapa guratan di hidup saya yang sekadar hitam dan putih.
Beberapa warna bertahan, kekal dalam ingatan.
Beberapa lainnya hilang terlupakan.
Cukup jarak Antariksa saja yg jauh, Jarak Antardoa kita sih jangan ...

Ketika batas menjadi pondasi awal yang mesti kita bangun kuat-kuat, disitu pula kita perlu menegakan prinsip yang akan kita pegang teguh untuk membuat pondasi yang kokoh.

Jangan memulai sesuatu yang halal dengan yang haram karena dalam perjalanannya tidak akan pernah mendapat keberkahan.

Bila lelah mulai datang, maka jangan mencari bahu lain yang bisa membuat bersandar, sujudlah… dekati Sang Maha Pemilik semesta disanalah waktu kamu berdoa dan disanalah tempat kamu berucap dibumi namun kan terdengar oleh langit.

Bila lelah mulai datang, maka jangan mencari pemandangan yang membutakan, wudhulah… setelahnya kamu akan mendapatkan kesegaran dan ketenangan dan karenanyalah wajahmu putih bersinar.

Bila lelah mulai datang, maka jangan mencari hiburan yang mubazir, mengajilah… kamu pasti mendapatkan ketenangan dari arti dalam setiap ayatnya.

Bila kamu mulai lelah, maka datanglah pada setiap kajian keagamaan, jangan biarkan hatimu gersang dan tandus kering.

Bila kamu selalu merasa lelah, maafkan aku yang belum bisa menjadi bahu dan sandaranmu, kupeluk kamu dalam doa-doaku, maafkan aku belum bisa menjadi penyejuk dan penghiburmu kala rapuh. Maaf…

Seperi kata ustadku, bahwa pelukan dalam doa adalah fase terbaik dalam sebuah silaturahmi antar jodoh. Bahwa ketika kita mendoakan orang lain maka ribuan malaikat sedang berkata aamiin yang sama untuk yang berdoa.

Kamu, memang belum kutemui, belum kusebut nama, belum kubuatkan puisi untuk mengdeskripsikan dirimu. Tapi ketika menenggadahkan tangan dan berdoa padaNya tak kulewatkan untuk mengirimu 1 surat dalam A-Quran meski itu hanyalah surat pendek kuharap itu menjadi teman menemani harimu dan hal yang sama pun kamu lakukan untukku.

Terimakasih karena masih belum menemukanku karena akupun merasa belum cukup waktu untuk memperbaiki diriku. Mari saling bertemu untuk nanti kita saling melengkapi, saling memberi dan saling menasehati.

Aku ingin disegerakan namun tidak terburu-buru. Aku hanya ingin menjadi terbaik untukmu dan untukNya :)

Mari perdekat jarak Antarkita melalui doa. Keep istiqomah! Hamasah :)

The Way I Lose Her: Falling In Love With People We Can’t Have

Terkadang hidup begitu tidak adil. Orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.

                                                       ===

.

Akan ada suatu keadaan di mana tanpa perlu ada pembicaraan atau penjelasan pun kau sudah tahu bahwa ini semua sudah berakhir. Dari bagaimana caranya memperlakukanmu, dari bagaimana cara matanya tidak menatapmu. Dekat tapi tidak mendekap. Saling melihat di depan mata tapi terasa tidak berjumpa. Yang dulu dekat sekali, sekarang rasa-rasanya menjadi begitu asing.

Gue sebenernya males banget untuk ikut acara ulang tahun Nurhadi di kelas nanti, tapi apa daya. Masalah gue ini ya masalah antara Ipeh dan gue, nggak baik melibatkan orang lain hanya karena masalah pribadi. Jadi, dengan berat hati gue menurut saja waktu teman-teman ngajak pergi ke dalam kelas.

Gue sengaja memilih jalan paling belakang, dari sini gue bisa melihat tubuh yang sudah tidak melihat gue lagi. Menyedihkan, dia yang pergi, gue yang disakiti, dia yang seharusnya gue benci, tapi kemana pun keadaan menempatkan kami berdua, mata gue tetap terus mencarinya.

Nyet.” Ikhsan tiba-tiba berhenti dan menengok ke belakang.

“Paan?”

Kemudian Ikhsan mendekat, menarik seragam gue agar suaranya tidak terlalu terdengar sama teman-teman yang lain.

“Lo bawa hadiah?” Tanyanya tiba-tiba.

“Hah?” Alis gue naik satu.

“Hadiah begok. Malah hah hoh hah hoh lu kaya orang lagi naik haji terus salah muterin ka’bah.

“…”

“Yang lain pada bawa hadiah tuh buat Nurhadi.”

“Aduh mana kepikiran gue. Tau si Nurhadi bisa ulang tahun aja baru kemarin.”

“Anjir tega amat lo. Jelek-jelek-bau gitu juga temen kita.”

“Gue jadi ngebayangin gimana dulu emaknya ngelahirin dia. Kayaknya seluruh dosa emaknya selama hidup langsung dihapus sama Tuhan deh saat itu juga.”

“Kok bisa?” Ikhsan memasang wajah penasaran.

“Udah disiksa ngeluarin anak segede nangka gendong gitu pasti udah termasuk ujian dunia akherat. Makanya langsung suci lagi tuh emaknya Nurhadi.”

“Emaknya sih suci, tapi anaknya baru lahir langsung penuh dosa. Tuhan waktu bikin Nurhadi lagi ngelamun. Salah nyampurin warna kulit sama tinta spidol.”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA..”

Gue dan Ikhsan ketawa keras bareng-bareng udah kaya paduan suara, sontak anak-anak di depan langsung pada nengok semua termasuk Ipeh juga. Gue langsung menyenggol tangan Ikhsan agar berhenti tertawa, tapi kami berdua nggak bisa. Rasanya nikmat banget kalau lagi galau gini terus ngetawain temen sendiri. Ya Robb maafkan kami.

“Yaudah deh lo, pikirin sekarang buat cari kado.” Celetuk Ikhsan lagi.

“Buset mendadak amat.”

“Mau gimana lagi.” Ikhsan mengangkat pundak.

“Emang lo dah dapet ide mau ngasih kado apa?”

“Sudah dong~”

“Anjir gue curiga, pasti nggak akan bener.”

“Yeeee curigaan mulu lo sama temen. Lo sendiri gimana?”

“Belom, ntar aja sambil jalan deh. Kalau nggak ada juga yaudah gue ambil aja tanaman obat di kebun sekolah.”

“Anjing temen lagi ulang tahun malah dikasih temulawak. Hahahahah goblok lo!”

“Hahahahaha..”

Selama perjalanan menuju kelas yang ada malah kami berdua di belakang sama-sama ngomong makin ngelantur. Dari yang awalnya mau ngomongin kado buat Nurhadi, malah berakhir jadi ngomongin apakah Robocop pernah sholat selama hidupnya atau tidak. Benar-benar diskusi yang Syariah. Calon Khilafah.

Sebelum memasuki lorong kelas, kami semua berkumpul sebentar. Dila kembali membahas rencana apa saja yang akan dijalankan hari ini sekaligus menyalakan lilin-lilin ulang tahun. Tapi emang dasarnya anak-anak kelas itu pada brengsek semua, lilin yang dipakai di atas kue pun bukan lilin ulang tahun. Melainkan lilin putih gede yang dipakai orang kalau tiap mati lampu. Pas orang-orang nanya sama gue kenapa lilinnya pake lilin itu, dengan polosnya gue menjawab,

“Lilin ulang tahun harus identik sama badan orang yang bersangkutan.”

Setelah mendapatkan kode dari salah satu teman di dalam kelas, akhirnya kami semua berjalan perlahan menuju pintu kelas. Sebelum tiba-tiba pintu ditendang keras oleh Bobby disertai nyanyian ulang tahun dengan nada Asma Ul-Husna serentak dari anak-anak kelas.

Nurhadi yang tadi masih asik ngerjain tugas (itu pun nyontek punya Tasya) langsung kaget melihat teman-temannya yang tadi menghilang kini malah datang beramai-ramai membawa kue disertai lilin gede satu biji doang di tengahnya itu. Nurhadi terkejut, ada haru terlihat di rona wajahnya, tapi ketika ia mau nangis sontak ditahan sama teman sebangkunya.

“Di jangan nangis Di. Serem ah. Gue takut puasa tahun ini malah jadi mundur 10 hari kalau lo nangis.”

Ya begitulah temen-temen gue di kelas. Temannya lagi bahagia dan mau nangis terharu aja masih dihina dulu. Nurhadi memang cocok jadi maskot kelas kita.

Teman-teman satu kelas langsung berkumpul mengelilingi Nurhadi yang badannya tetap paling gede sendiri. Abnormal banget.

“Ayo, Di!! Tiup lilinnya!” Terika Dila.

“Tiup, jangan sedot.” Celetuk Ikhsan diselingi tawa gue.

“Acieeee ulang tahun ke 2 bulan!” Bobby menanggapi.

“WOI LU KIRA GUE JANIN APA?!” Nurhadi tidak terima.

“Tiup tiup tiup tiup~” Teman-teman yang lain menyorakki.

“Buka buka buka buka buka..” Gue dan Ikhsan beda sendiri.

“Woi ini serius dong. Masa lilinnya pake lilin babi ngepet gini? Kagak ada lilin yang lebih normal apa sih?” Lagi-lagi Nurhadi protes. Udah untung ulang tahunnya dirayain, sekarang malah banyak maunya. Dikasih hati minta jantung, dikasih temulawak malah minta buyung upik.

Pasti ide si Galing ye? Dimas!” Nurhadi nabok pundak gue sampe tulangnya geser.

“Yaudah, elo mau lilin ultah yang normal?” Tanya gue.

“Yaiyalah!”

“Yowes..” Gue mencabut lilin putih itu, lalu menggantinya dengan lilin berbentuk angka. Lalu menaruhnya tepat di tengah kue tart tersebut.

“…”

“Lah dia malah diem. Udah gue ganti tuh lilinnya.” Tukas gue.

“YA ANJING GANTI LILIN SIH GANTI LILIN, TAPI NGGAK JADI 72 JUGA ANJING ANGKANYA. EMANG MUKA GUE SETUA ITU APA?!”

“HAHAHAHAHAHAHAHA LAHIR DIBETOT PAKE PINSET AJA BANYAK PROTES LU GORILA.”

Teman-teman kelas langsung pada ketawa semua. Akhirnya daripada meniup lilin dengan angka 72 itu, Nurhadi lebih memilih meniup lilin satu biji doang yang besar warna putih itu. Dia takut umurnya cuma sampe 72, makanya dia nggak mau niup lilin angka itu. Padahal kura-kura juga tau, Nurhadi ini nggak akan mati dalam waktu dekat, umurnya kaya keris Mpu Gandring; Awet. Toh dia aja lahir dari semenjak gunung Krakatau meledak dulu sampai sekarang.

Untuk berhasil meniup lilin saja kayaknya sudah menghabiskan banyak waktu banget, Nurhadi memejamkan mata sebelum meniup lilin, berdoa dan berharap agar doanya suatu saat dikabulkan. Padahal gue tau malaikat ngedeketin dia aja nggak mau. Baunya mirip bau kerikil sungai.

Setelah lilin berhasil padam, Nurhadi mulai memotong kuenya. Kue pertama dia berikan kepada Putri, salah satu wanita yang tampaknya sedang ditaksir berat oleh Nurhadi di kelas. Anak-anak yang lain langsung bersorak sorai, sedangkan Putri langsung Istigfar.

Berikhtiar atas ujian yang Tuhan berikan ini.

Kemudian potongan selanjutnya diberikan untuk Dila, primadona sekolah sekaligus ketua acara dalam event mubadzir ini. Gimana nggak mubadzir? Ulang tahun Kingkong kok dirayain. Ipeh selanjutnya yang mendapat kue sebagai balas jasa atas pertolongannya setiap ada ulangan termasuk ulangan fisika, tak lupa juga Tasya. Sedangkan gue dan Ikhsan? Dapet lilin yang dipotong dua.

Keparat!

“Nih buat lu berdua. Makan dah tuh lilin. Biar putih sekalian gigi lu pada.” Katanya ketus.

Bangsat emang Nurhadi ini, pinter banget kalau soal urusan balas dendam. Tapi nggak papa deh, toh gue juga nggak terlalu suka kue, gue paling nggak suka makan makanan manis. Beda dengan Ikhsan yang omnivora alias apa aja masuk. Termasuk batu kecubung.

Acara kembali dilanjut dengan pemberian kado. Seperti yang sudah gue tebak sebelumnya, semua orang mempunyai kado yang bermakna untuk Nurhadi. Namun tidak dengan gue dan Ikhsan. Ketika semua sudah memberikan kado, kini giliran Ikhsan maju ke hadapan Nurhadi. Dengan polosnya Ikhsan langsung mengeluarkan sepotong tanaman yang dia colong langsung dari kebon sekolahan. Sebuah tanaman entah apa itu, masih ada akar, daun, dan juga batangnya. Terlihat masih segar.

“Ya Allah Ikhsan lo kira gue kambing apa apaan sih?!” Nurhadi mulai terlihat bete. Sedangkan Ikhsan cengengesan dibarengi tawa teman yang lain.

“Yeee suduzon lu jadi orang. Ini tanaman suatu saat bakal berbunga. Jadi anggap aja gue ngasih bunga. Romantis kan?”

“Romantis gigi lu salto.”

Sambil masih ketawa, Ikhsan mundur kebelakang dan mempersilakan gue untuk maju memberikan kado. Kali ini gue sama Ikhsan kompak begoknya. Ketika tadi dia bawa tanaman hasil nyolong, gue juga bawa hal yang sama, tapi yang ini jenisnya berbeda.

Gue keluarkan sebuah gelas Aqua yang di dalamnya terdapat kapas basah + calon benih toge yang udah pada muncul tunasnya. Sontak melihat hal itu semua teman-teman gue pada ketawa ngakak.

“Anjir Dimas! Lo ngasih gue bahan praktek pelajaran PLH?! Itu tugas praktek siapa yang elo colong dah?” Kata Nurhadi sambil berusaha menerima kado gue itu dengan Ikhlas.

“Hahahah gue ambil dari kelas sebelah.” Balas gue polos.

“Parah! Nanti kalau jadi masalah gimana anjir?”

“Yaudah, toh udah jadi hak milik elo ini. Jadi kalau ada masalah ya masalah sama elo. Gue rasa anak kelas sebelah juga bakal lebih milih nanem lagi itu toge dari awal ketimbang cari masalah sama elo, Di.”

“Bener juga.” Kata Nurhadi tanpa pikir panjang.

Acara itu kami tutup dengan banyak tawa. Semua orang di dalam kelas tertawa riang seakan tidak ada sedikitpun masalah di dalamnya. Di balik tawa teman-teman ini, sebenarnya gue menyadari ada banyak rasa perih yang mereka tahan masing-masing di dalam hati. Termasuk gue sendiri. Namun, pagi cerah yang menyenangkan seperti ini rasanya terlalu rugi untuk dilewatkan dengan cara menangisi sesuatu yang telah pergi.

Sambil masih suasana merayakan Ulang Tahun, Ipeh yang juga mempunyai turut andil dalam ramainya acara ini langsung mengajak Nurhadi dan teman-teman yang lain untuk main ular tangga di belakang kelas. Nurhadi, Ikhsan, Dila, Mai, dan banyak teman-teman yang lain langsung kompakan pada ikut di sana. Sedangkan gue? Gue lebih memilih duduk di kursi depan sambil menikmati pelan-pelan kue yang sebenarnya nggak begitu gue suka ini.

Bukannya nggak mau ikut rame-rame, tapi di sana ada Ipeh. Gue juga harus tahu diri, jika kehadiran gue hanya akan menyebabkan suasana awkward bersama Ipeh yang kemudian bisa menyebabkan suasana teman-teman yang lain juga jadi ikutan tidak enak, lebih baik gue tidak usah gabung di sana.

Gue merasa hari ini sudah cukup. Bahagia bersama teman-teman kelas hari ini sudah cukup untuk membayar rasa haus gue untuk tertawa bersama mereka. Sudah saatnya gue kembali ke OSIS, pergi meninggalkan kelas ini, meninggalkan orang-orang di dalamnya.

“Dim..”

Tiba-tiba ada yang menghampiri gue yang kala itu tengah duduk di atas meja sambil nyemilin kue yang tinggal seperempat ini sambil menatap ke arah pintu kelas.

“Napa, Bob?” Tanya gue.

Bobby kemudian menepuk pundak gue sekali dan duduk di kursi dekat situ.

“Nggak gabung sama yang lain?” Tanyanya.

Gue geleng-geleng, “Kagak ah.”

“Kenapa?”

“Dih kepo amat dah.”

“Ipeh yak? Hehehe.” Bobby cengengesan sambil nyolokin garpunya ke sisa kue punya gue dan langsung memakannya bulat-bulat tanpa sisa.

“…”

“Masih berantem lu? Belum beres?”

“…”

“Gak usah heran gitu. Cerita lu hujan-hujanan itu udah nyebar di antara anak-anak kelas.”

“Hah?!” Gue kaget.

“Nggak ke semua sih. Cuma ke anak-anak band kita aja.”

“Lah band kita kan Cuma 3 biji. Elu Ikhsan sama gue?”

“Nah iya.”

“YA ITU BERARTI NGGAK NYEBAR NAMANYA, GENDUT!!! ITU SIH ARTINYA CUMA ELO DOANG YANG TAU SELAIN SI IKHSAN!!”

“Hahahahah ya maap~”

“Gabung sono. Suasananya lagi enak tuh.”

“Enak? Lu nggak liat suasana gue sama Ipeh pas di kantin?”

“Gue sadar kok.”

“Nah itu elu tau.”

“Iya gue sadar kok. Tapi elo-lah di sini yang sebenarnya nggak sadar.” Bobby menaruh garpunya di atas tatakan piring kertas kepunyaan gue.

Gue langsung nengok secepat kilat ke arah si beruang air.

“Hah? Gue?”

“Hahaha seperti yang sudah gue tebak. As usual ah elo mah.”

“Emang apa yang nggak gue sadarin?”

Bobby ngeliatin gue sebelum kemudian dia pergi, ngambil potongan kue yang lain dan kembali duduk di tempat yang sama.

“Doi merhatiin elo terus tuh dari tadi. Nyadar nggak?”

“Apaan?! Gue merhatiin dia terus dari semenjak datang di kantin dan dia nggak pernah sedikitpun ngeliat gue ah!”

“Masa?”

“Iya!”

“Yakin?”

“…”

“Tuh kan. Ya terserah elo mau percaya atau enggak. Sana gih gabung sama mereka, siapa tau suasana hati elo jadi enakan lagi. Atau bahkan suasana kalian berdua jadi kaya dulu lagi.”

Gue menaruh piring kertas tempat kue itu ke atas meja, lalu turun dan berjalan ke arah meja guru.

“Nggak deh, Bob. Gue udah nyoba pilihan itu lebih dari dua kali dari dulu, tapi hasilnya lo tahu sendiri gimana kan? Jadi, mending kalau harus selesai ya selesai aja. Lagian, cuma tinggal beberapa bulan lagi sebelum kita semua naik kelas terus pisah. Jadi, gue rasa ini sudah baik kok. For me and her.” Gue berlalu pergi begitu saja meninggalkan Bobby.

.

                                                      ===

.

Sesampainya di meja guru, yang gue lakukan di sana hanyalah melihat ke arah segala kertas perizinan maupun kertas hasil nilai ulangan yang berserakan di atas meja guru. Menjelang Bazzar begini emang biasanya semua guru jarang banget ada yang masuk kelas jadi sudah dapat dipastikan berantakan banget ini meja guru. Gue ambil beberapa kertas nilai yang berserakan di sana dan memembaca isinya, hanya untuk membunuh waktu menunggu temen gue selesai main ular tangga lalu nemenin gue balik lagi ke ke gerbang depan buat jualan tiket Bazzar.

Walaupun sebenarnya gue pengin banget gabung sama anak-anak yang lagi pada ketawa-ketawa di ujung belakang kelas, tapi setidaknya gue juga harus tahu diri. Gue menghela napas panjang, tempat yang dulu sangat akrab buat gue ini entah bagaimana ceritanya hanya karena menjaga perasaan satu orang membuat gue merasa menjadi turis di negara sendiri. Alias asing sekali. Sambil masih membuka-buka tumpukan kertas, tak sengaja mata gue menatap ke arah dua meja di depan meja guru.

Yang mana gue tau bahwa itu adalah meja tempat di mana Ipeh biasanya duduk.

Gue taruh kertas yang sedang gue pegang itu lalu berjalan perlahan ke sebelah meja Ipeh. Mejanya seperti biasa, rapih banget. Di sana ada tas kucel Ipeh yang sudah jadi ciri khasnya, dengan berbagai macam buku cetak ada di laci bawah meja. Di atas meja ada satu botol minum disertai tempat pensil yang isinya banyak bener.

Kalau gue nggak salah inget, tempat ini adalah tempat di mana gue ketemu Ipeh untuk yang pertama kalinya. Dulu gue takut banget sama Ipeh, selain karena tomboy, dia juga anak karate tingkat akut. Ototnya ada di mana-mana. Rasanya cukup kaget juga kalau pertemuan tidak sengaja yang terjadi ketika ulangan matematika dulu itu akan membawa gue ke keadaan yang benar-benar besar di hidup gue sekarang ini.

Gue perlahan membuka tempat pinsil yang ada di atas mejanya, lalu mengeluarkan sebuah mainan robot-robotan yang biasanya ditaruh Ipeh di atas pinsil. Gue nggak tahu apa gunanya ini mainan, ah tapi Ipeh orangnya emang gitu, kalau ada barang unik pasti dibawa-bawa walau nggak penting juga.

Kalau gue tidak lupa, dulu sambil memainkan robot-robotan ini kami berdua berbicara tentang beberapa hal menyenangkan, tentang sebuah janji juga. Tentang sebuah teori kacangan yang dengan seenak dengkulnya gue ucapkan begitu saja. Teori Filosofi Donat. Tentang sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak salah. Kesalahan yang mengarahkan kita pada sesuatu yang besar dan benar. Tapi tanpa disangka, seluruh kejadian itu malah membawa gue ke lubang besar seperti ini. Ke sebuah keterpurukan yang menyedihkan ini.

Tanpa gue sadari, gue yang masih memainkan robot-robotan mini di atas meja itu dikagetkan oleh sosok yang ternyata selama ini sudah berdiri cukup lama dan memperhatikan gue dari arah meja guru. Begitu melihat ada sosok Ipeh yang memperhatikan gue dari tadi, gue langsung dengan buru-buru memasukkan robot-robotan itu ke dalam tempat pensilnya lagi. Tapi bukannya cepat, yang ada justru isi tempat pensil itu jadi buyar semua kaya janin waktu pecah ketuban.

Sontak gue rusuh dong. Suasana yang tadinya hening malah jadi ribut banget gara-gara gue rusuh masukin semua isi tempat pensil yang pada keluar itu. Ipeh yang melihat hal itu langsung mendekat.

“Udah.”

Ipeh menggenggam lengan gue yang masih rusuh masuk-masukin pulpen dan pensil ke dalam tempatnya.

Karena tidak sempat menyadari Ipeh yang berjalan ke arah gue itu, sontak gue jadi kaget lalu menengok ke arahnya. Namun Ipeh tidak melihat ke arah gue. Dia langsung melepaskan genggamannya tadi dan membereskan pulpen beserta pensil yang berserakan di atas meja tanpa sedikitpun berbicara lagi.

“Maaf.” Kata gue pelan sambil mundur perlahan.

Gue ambil salah satu pulpen yang jatuh di lantai lalu menaruhnya di atas meja sebelum kemudian gue berjalan pergi meninggalkan Ipeh pelan-pelan.

“Dim..” Tiba-tiba Ipeh memanggil gue.

Langkah kaki gue terhenti. Gue langsung menengok ke belakang.

“8 Permen Milkita sama dengan segelas susu loh..”

Ah engga, seinget gue Ipeh nggak ngomong gitu.

“Bisa ke sini sebentar?” Pintanya.

Gue terdiam cukup lama di depan permintaannya tersebut. Lalu tanpa sadar langkah kaki gue berjalan ke arahnya. Meskipun gue ingin sekali menolak permintaan itu, entah bagaimana ceritanya kaki gue rasa-rasanya jadi berjalan sendiri memenuhi permintaan Ipeh.

Cinta memang bodoh. Sudah disakiti berkali-kali pun, kehadirannya tetap mampu membuat hati menjadi pemaaf yang paling diri sendiri benci.

.

                                                ===

.

BLETAK!!

“Woi!! Ngelamun aja lu. Kesurupan nanti. Hahaha..”  

Ada sebuah Teh Kotak melayang menghajar kepala gue dari belakang.

“Nih, buat elu. Kapan lagi gue traktir kaya gini. Jangan lupa bilang terima kasih.” Tukasnya lagi sambil menaruh Teh Kotak itu di depan gue.

Gue yang daritadi masih ngelamun ini cuma ngeliatin dia doang lalu kembali melihat ke arah depan. Ikhsan kemudian duduk di sebelah gue sambil menikmati Teh Kotak miliknya sendiri. Sedangkan gue masih diam saja sambil sesekali menghela napas panjang.

“Woi, mana ucapan Terima Kasihnya?!”

Gue melirik sinis, “Gumawooo bebeb.”

“Nah gitu dong.” Kata Ikhsan cengengesan yang kemudian mengeluarkan sepotong kue yang entah dia dapet dari mana.

“Lah kue dapet dari mana lu?”

“Ini?” Ikhsan nunjuk ke potongan kuenya, gue angguk-angguk. “Gue dapet dari kelas kok. Kue ultah si Gorila. Nyisa cukup banyak. Mau lo?”

Gue geleng-geleng, “Nggak ah. Kagak suka manis gue.”

“Yowes~”

“Btw lo kok bahagia banget sih keliatannya?”

“Elo sendiri? Kok kucel banget keliatannya? Ada kejadian apaan di kelas?”

“Ah males cerita ah gue.”

“Yeee yaudah gue juga nggak mau cerita.” Balasnya sambil noyor-noyor kepala gue pake garpu plastik yang udah penuh sama cream kue.

Keadaan menjadi hening cukup lama. Suasana siang yang sudah hampir memasuki waktu Dzuhur itu membuat meja Stand Tiket jadi agak sedikit panas. Tapi walaupun begitu, keadaan sekolah yang dikelilingi oleh pohon besar membuat udaranya tetap terasa sejuk.

“Eh Dim Dim Dim.. Tau nggak..”

“Katanya nggak mau cerita!”

“Hahahaha biarin dong. Gue mau cerita nih. Boleh yak boleh yak?”

“Apaan emang?”

“Tapi sebelum itu gue mau nanya dong sama mas Dimas selaku suhu tentang perwanitaan di kelas kita.”

“Paan sih lo? Mau nanya apaan?” Gue melirik curiga.

Ikhsan lalu menggeser kursinya agar duduk lebih dekat, ia melihat ke arah kiri kanan sebentar memastikan tidak ada orang lain di sekitar situ, lalu ia menarik kuping gue agar lebih mendekat.

“Ajarin gue ciuman dong, Dim..”

Sontak gue langsung loncat dari tempat duduk gue dan pergi menjauh sambil memegangi mulut gue karena ketakutan. Sedangkan Ikhsan langsung sambil memasang wajah bête.

“Anjing kenapa lo pake acara kaget gitu sih, Setan?”

“APAAN SIH LO?! UDAH NGGAK NORMAL YA?!” Gue makin menjauh.

“Yee kuya mau kemana lo?! Sini anjir! Dengerin gue dulu. Jangan main ambil kesimpulan aja kampret!”

Gue geleng-geleng.

“Sini anjir! Tolong ajarin gue! Sahabat macam apaan lo nggak mau bantu temennya kaya gini?!”

“Lah ngapain juga yang begituan pake diajarin segala sih, Anjir?! Latihan sendiri aja sana lo sama duren!” Gue kemudian kembali duduk di kursi yang tadi setelah merasa Ikhsan mulai normal lagi.

“Makanya dengerin dulu penjelasan gue.” Ikhsan menyuruh gue mendekat tapi gue tetap mencoba menjaga jarak.

“Gini, Nyet. Cerita ini diawali ketika gue di kelas lagi mainan Ular Tangga..”

“Langsung intinya aja anjir!”

“Ya Robb, basa basi dulu ngapa sih?! Orang lagi lahiran aja pake pembukaan dulu!”

“…”

“Tapi yaudah deh, intinya gini, ajarin gue cara ciuman yang baik dan benar dong.”

“Ini tuh elu nanya serius?”

“YA MASA GUE BOHONG SIH?!”

“Elo belum pernah ciuman emang?”

“Pernah sih. Sama emak paling dulu waktu bocah.”

“…”

“Belom kalau sama cewek tulen.”

“Astagfirullah, ciuman itu harom, bukan muhrim.”

“Alah Dim ngomong lu sok Ustad. Terus kemarin waktu lo ciuman sama si Hana di UKS juga elo nikmatin kan? Dua kali malah ciumannya.” Sindir Ikhsan.

“Bangsat! Jangan diungkit-ungkit lagi sih!”

“Yaudah, gue juga pengen dong ngerasain kaya lo gitu. Gue pengen masa SMA gue jadi berharga sekali-kali.” Ikhsan memelas.

“Ya terus apa yang harus dipelajari sih?”

“Ajarin gue tata cara dan tekhnik ciuman. Gue takut salah. Kan serem juga kalau misal gue lagi ciuman terus bibirnya kegigit. Atau bulu hidung gue nyangkut di behel-nya.”

“Bah, serem juga kalau gitu.”

“Nah. Maka dari itu. Ajarin gue, Suhu!”

“Terus kalau udah diajarinnya elu mau latihan sama siapa?”

“Ngg.. Sama bantal aja deh gapapa.”

“HAHAHAHAHAHAH TAI!”

“Ayo dong, mumpung stand tiket masih sepi nih. Gimana-gimana, langkah pertama apa yang perlu gue lakukan kalau mau ciuman, Suhu?”

“Hmm.. baca bismillah.”

“Ya mana sempet, Setan. Mau buat dosa kok tobat dulu. Nanti aja di akhir ciuman baru bilang Astagfirullah.”

“Bener juga. Yaudah deh ganti, langkah pertama adalah kita harus membangun kimia dulu.”

“Chemistry maksudnya?”

“Nah iya!”

“ITU KAN JOKE GUE SETAN!”

“Hahahah, setelah dapet kimia, baru deh elo mulai maju perlahan, mendekat hingga elo bisa mendengar suara hembusan napasnya.”

“Beuh, puitis banget kata-kata lo. Oke gue catet.” Ikhsan langsung nyobek kertas dari dalam buku dan mencatat wejangan gue barusan.

“Terus dah gitu nanti lo bakal masuk ke tahap Drum Roll.” Sambung gue lagi.

“Apaan tuh? Nama kue?”

“Itu Egg Roll kampret. Drum Roll. Sejenis aba-aba sebelum ciuman. Biasanya di sini adalah saat yang paling bikin grogi nih.”

“Wuoh! Mantap!” Ikhsan terlihat antusias banget sambil terus mencatat.

“Nah nanti kalau udah ciuman, ati-ati, do not use so much tongue. Jangan pake lidah. Kecup-kecup aja. Kalau kecupnya lama, baru deh pelan-pelan keluarin noh lidah ular.”

“HAHAHAHAHA ANJIR!! GUE KOK GETEK YA DENGER PENJELASAN ELO!!”

“Ah anjing yaudah deh gue masuk ke kantin aja kalau gitu.”

“Hahahahaha maaf Suhu! Maaf! Hamba tidak kuat membayangkan.”

“Lagian emang lo mau ciuman ama sapa sih?”

“Sama pacar gue lah!”

Gue kaget, “Eh? Tasya? Kok? Ada apa nih ada apa?”

Ikhsan menyeruput Teh Kotaknya sambil kemudian bersandar di kursinya. “Makanya tadi waktu gue mau jelasin, elo jangan main potong aja. Jadi nggak ngerti kan.” Lanjutnya.

“Emang ada cerita apa?”

“Jadi, belakangan ini hubungan gue sama doi kan bisa dibilang lagi agak renggang tuh. Rasanya gue sama dia akhir-akhir ini ngeributin hal-hal sepele mulu. Gue takut dia bosen, atau mungkin dia udah capek. Oleh karena itu gue pikir hubungan ini butuh udara segar. Sampai sini ngerti nggak lu gue ngomong apa?”

Gue cuma angguk-angguk doang padahal nggak tau dia lagi ngomong apaan.

“Mungkin hubungan ini perlu ada bumbu-bumbu erotik dikit.” Sambungnya lagi. “Nah, nanti pas acara Bazzar pas mau penutupan, gue pikir itu saat yang tepat untuk ngajak dia ke tempat sepi terus kecup-kecup basah gitu..”

“Najis ah. Getek gue denger lu ngomongin beginian.”

“Ah elu kagak pernah dukung temen ah.” Ikhsan menghabiskan sisa kuenya di atas meja, lalu kemudian menunjuk ke arah Teh Kotak yang belum gue buka sama sekali, “Kagak diminum tuh? Udah gue beliin masa nggak lo minum sih?”

Gue menghela napas panjang. Ikhsan kelihatan bingung.

“Tadi di kelas, waktu kalian masih sibuk main ular tangga di belakang, gue sama Ipeh ngobrol di deket meja guru.”

“EH?!” Ikhsan terlihat kaget. “Bukannya tadi di kantin dia nggak ngegubris elo sama sekali ya, Dim?”

“Nah maka dari itu, gue juga sempat kaget, Nyet. Bener deh gue nggak pernah ngerti apa sih yang cewek pikirin tuh.”

Ikhsan angguk-angguk mantap seakan mengiyakan semua perkataan gue barusan.

“Terus dia ngomong apa?”

“Kamu apa kabar?” Kata gue sambil menirukan ekspresi Ipeh ketika menanyakan hal itu sama gue di kelas pagi tadi.

“Gitu doang?” Dahi Ikhsan mengkerut.

“Enggak. Gue cuma bales, ‘Aku pernah jauh lebih baik. Itu waktu beberapa bulan yang lalu.’, gitu. Dia nggak jawab apa-apa, sebelum kemudian dia nanya lagi sama gue. ‘Kamu bahagia sekarang?’ tanya dia polos.”

“Wuih! Terus lo jawab apa?” Ikhsan makin penasaran.

Gue menggoyang-goyangkan Teh Kotak di depan gue itu. “Gue jawab aja dingin, ‘Kamu pikir aku bahagia?’,  pas gue ngomong gini, dia langsung nengok dan ngelihat ke arah gue gitu.”

“Anjir seru nih kaya FTV! Terus terus?”

“Dia natap gue gitu aja. Seperti ada perasaan marah, nyesel, ingin minta maaf, tapi benci juga. Yaudah daripada tatap-tatapan nggak jelas, gue balik nanya dia aja. ‘Kamu bahagia sekarang?” Gue bercerita sambil terus menatap kosong ke arah jalanan di depan.

“Asem! Elu punya cerita seru gini tapi malah ngebiarin gue cerita tentang tata cara ciuman. Bangke ah, tau gini elu cerita duluan nyet. Kan jadi nggak klimaks gini caranya.” Protes Ikhsan.

“Yeee malah ceramah. Gue lanjut jangan nih?”

“JUTKAN!!” Kata Ikhsan seraya membalikkan kursinya hingga mengarah ke gue.

“Saat itu gue sama dia nggak banyak bicara lagi, Nyet. Seperti tiba-tiba ada hening panjang yang menyelimuti kami berdua. Diamnya dia saat itu entah kenapa membuat gue jadi emosi, segala rasa kesal atas kejadian dua hari yang lalu itu seakan mau meledak di mulut, tapi untungnya gue masih bisa tahan. Gue cuma bilang saat itu, ‘Kalau nggak ada yang mau dibicarain lagi, aku pergi.’.”

“Beuh galak amat lo. Terus dia nahan elo nggak?”

“Enggak, dia cuma ngomong ‘Maaf.’, itu pun tanpa berani menatap ke arah gue. Dan gue yang mendengar hal itu langsung membalas, ‘Maaf? Siapa yang salah? Nggak ada kok.’ gitu.” Gue langsung menengok Ikhsan yang ada di sebelah gue, “Kejam nggak sih gue kalau ngomong gitu, San?”

Ikhsan menatap gue, lalu geleng-geleng, “Enggak kok. She deserve that. Setelah apa yang dia lakukan sama elo kemarin itu, dia pantas terluka kalau menurut gue.”

Gue termenung menatap Teh Kotak di hadapan gue, “Gue juga berpikiran sama kaya yang elo bilang barusan, kata maaf belakangan ini tampaknya hanya sebuah pelarian yang dipakai orang-orang pengecut yang sudah melakukan kesalahan untuk meminta kesempatan yang sama dua kali. Mereka menggunakan maaf hanya sebagai kata pembuka saja. Tidak tulus. Mereka bukannya ingin meminta maaf, melainkan ingin meminta kesempatan sekali lagi. Tapi bukannya membiarkan gue pergi, dia malah kembali mengucapkan kata maaf pas gue mau jalan lagi.”

Ikhsan mendengarkan dengan serius.

“Karena saat itu emosi gue sudah terlanjur tinggi, di kata maaf yang terakhirnya itu gue langsung berbalik, menatapnya sebentar kemudian bilang, ‘Daripada minta maaf, baiknya doakan aku agar bahagia. Minimal, doakan aku punya pendengar dan tempat pulang seperti kamu. Kita sama-sama terluka, tapi bedanya, aku terluka lalu jatuh sendirian, dan kamu terluka lalu pulang ke pelukan orang yang cintanya tak lebih besar dari cintaku.’, lalu setelah ngomong kaya gitu gue langsung pergi deh.”

Ikhsan geleng-geleng dengan rasa tidak percaya, “Gila gila gila, hubungan yang menurut gue simple di antara kalian itu kalau dilihat dari sudut pandang para pemeran aslinya itu ternyata rumit banget ya. Gue kira hubungan lo ini hanya sebatas lo suka sama pacar orang, Dim, tapi ternyata enggak kaya gitu. Sabar ya sob..” Ikhsan menepuk-nepuk pundak gue. Gue kira dia mau prihatin sama gue, tapi ternyata dia cuma mau ngelapin tangannya yang bekas makan kue tart itu ke baju seragam gue.

Brengsek.

“Slogan We falling in love with people we cant have itu ternyata bener ya.” Kata gue.

“Yeee itu mah elo doang, buktinya gue sama Tasya enggak kok.” Sanggah Ikhsan.

“Iya, tapi slogan ini pas buat Tasya maksud gue.”

“Anjir jadi lo pikir gue bukan cintanya Tasya gitu?”

“Hahahah inget sob, 83% kisah cinta di dunia ini itu mengatakan bahwa orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita biasanya adalah orang yang berbeda. Hingga pada akhirnya, kebanyakan dari kita selalu jatuh cinta karena terpaksa.”

“…”

Gue lalu mengambil sedotan plastik yang melekat pada Teh Kotak itu dan kemudian nyolokin ke Teh Kotaknya. Namun baru saja gue mau nyedot itu Teh Kotak, tiba-tiba minuman gue disamber sama seseorang.

Sontak gue terkejut, mulut gue udah monyong gini siap buat nyedot Teh Kotak tapi tiba-tiba sedotannya ilang.

“Siapa yang ngebolehin minum beginian?!”

Gue dan Ikhsan kaget, Cloudy dengan galaknya menyambar Teh Kotak gue lalu marah tanpa sebab di depan kami berdua. Gue sama Ikhsan liat-liatan dalam keadaan masih shock karena kedatangan si nenek sihir ini secara tiba-tiba.

Belum juga gue sempat membalas ucapannya, Teh Kotak gue yang lagi dia pegang itu dia lempar ke dalam tong sampah di depan sekolah. Gue kaget, Ikhsan lebih kaget. Gue merasa sayang banget ngeliat minuman masih utuh gitu dibuang ke tempat sampah, sedangkan Ikhsan merasa menyesal banget uang 3500 dalam bentuk minuman kemasannya dibuang tanpa sempat diminum.

Emang kejam si Cloudy ini.

“Lu ngapain sih ke sini? Di dalam aja sana gih! Ini mah urusan anak kelas satu. Sekretaris mah ngurusin yang lebih penting aja.” Ikhsan ngedumel.

“Heloooo! Gue juga kelas satu kali. Lagian apa hak lo nyuruh-nyuruh gue? Jualan tiket juga tugas gue kan?”

“Siapa?”

“Gue!”

“YANG NANYA~”

“IH!!!” Cloudy menggebrak meja di depan Ikhsan sebelum kemudian mengambil kursi dan duduk agak jauh dari kami berdua.

Ikhsan melirik Cloudy dari jarak jauh dengan tatapan bete. Ia kemudian menyenggol tangan gue.

“Nyet, si Cloudy ngapa sih selalu ada di sekitar kita mulu?” Katanya sambil bisik-bisik.

“Tau dah.”

“Dulu padahal gue sempat kagum loh bisa deket sama orang sekelas doi. Tapi sekarang malah pengen menjauh rasanya.”

“Hahahahaha sama gue juga.”

“Orang-orang yang deket sama elu kayaknya istimewa semua ya. Istimewa dalam hal negatif maksud gue.” Tukas Ikhsan.

“Ah elu juga sama.”

“Gue? Siapa?”

“Tuh Nurhadi. Dia kan temen lo. Istimewa tuh dia.”

“HAHAHAHA ANJING! Abstrak-abstrak gitu juga dia temen lo juga kampret.”

Lagi asik-asiknya kami tertawa begini, dari jauh ada satu mobil berhenti di depan stand tiket. Gue sudah biasa dengan pemandangan seperti ini. Memang biasanya banyak banget anak-anak kuliahan atau anak SMA senior yang bawa mobil dan mampir buat beli tiket Bazzar. Tapi saat itu begoknya gue tidak sadar mobil siapa itu di depan yang mampir ke stand penjualan tiket kita sebelum kemudian dari pintu belakang mobilnya turun seseorang.

Gue dan Ikhsan yang masih cengengesan ini mendadak diam melihat sosok yang turun dari mobil tersebut. Ikhsan memandang gue dengan tatapan kaget. Begitupun gue.

“LOH? KAK AI?!” Teriak kami berdua kompak.

“Loh kalian? Wah wah wah kebetulan banget nih kalian yang jualan tiketnya. Hehehehe, apa kabar hei kalian berdua temen-temennya Ifa?” Balasnya manis seperti biasa.

.

.

.

                                                         Bersambung

Previous Story: Here

Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam?

@edgarhamas

“Tugas utama umat manusia disempurnakan oleh kaum Muslimin. Filsuf terbesar, Al-Farabi, seorang Muslim; Ahli Matematika terbesar, Abu Kamil dan Ibrahim Sinan, kaum muslimin; Ahli Ilmu Bumi dan ensiklopedis terbesar, Al-Mas’udi, seorang Muslim; Ahli Sejarah terbesar, Ath-Thabari, masih juga seorang Muslim!” -George Sarton (1884–1896 M)

“Seorang pria hitam di Afrika Selatan”, ungkap Munawer Suleyman seorang sejarawan, “duduk di ujung kursi. Ia tak diperkenankan duduk di kursi sepenuhnya, sebab kursi itu bertulis ‘dahulukan orang putih daripada orang hitam.” Politik Apartheid diciptakan oleh bangsa Eropa ketika mereka menjajah Afrika. Mereka pendatang, namun seenaknya membagi-bagi hak kemanusiaan, menciderai yang lain dan memuliakan kaumnya sendiri.

Beberapa puluh tahun kemudian, seorang guru di Amerika bertanya kepada muridnya, “anak-anak, siapakah bangsa yang pertama kali memperkenalkan dunia tentang persamaan?”, semuanya berebut menjawab, sebab mereka telah membaca buku sejarah semalam tadi, “tentu Amerika bu, Abraham Lincoln melakukannya!”

Padahal, beribu tahun sebelum Lincoln membebaskan budak-budak dan menghilangkan sekat hitam dan putih, telah ada satu pemerintahan yang melakukannya. Menjembatani hitamnya Ethiopia dan langsatnya kulit orang-orang Romawi. Mempertemukan mata coklat arab dengan mata biru Barbar. Menenun persaudaraan antara petarung-petarung sahara dan pemukim negeri Persia. Islam, dengan paripurna telah melakukannya.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Dulu, di Eropa, mandi merupakan suatu hal yang diharamkan oleh penguasa”, tulis Mark Graham dalam buku ‘How Islam Created World, “Pengharaman ini berakhir ketika Umat Islam memasuki Andalusia dan memimpin mereka.”

Sepulang dari Perang Salib, para bangsawan dan Pasukan Salib memasuki Gerbang-Gerbang Kota Eropa dengan bau harum. Mereka membawa “Sabun, Minyak Wangi, Kamfer, Balsem, Permadani mewah Islam , sedangkan yang terbawa tak sengaja adalah Pengaruh Akhlaq Islam. Sebelum itu Bangsawa Eropa tak kenal sabun dan minyak wangi. Mereka hanya mengolesi badannya dengan semacam tanaman liar”, tulis Profesor Poeradisastra.

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Pada kaum muslimin, mau tidak mau kita harus mengakui”, kata Will Durrant dalam The Story of Civilization hal. 187, “bahwa merekalah pencetus pertama Ilmu Kimia sebagai salah satu cabang keilmuan”

Pada saat yang sama, “ketika umat Islam memulai penemuan-penemuan penting dalam ilmu Fisika dan Kimia”, dilansir dalam laman sejarah ‘Katibah At Tarikh’, “orang Eropa ramai-ramai menganggap bahwa warna-warni tabung kimia itu sebagai sihir, mereka menjauhinya dan menuduh umat Islam telah bersekongkol dengan iblis, sebuah kesalahan yang fatal.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Rumah Sakit hewan pertama di dunia”, dilansir dari laman Ottoman Archives, “dibangun pada Abad 18 di Bursa, Turki hari ini. Penggagasnya adalah Kekhalifahan Utsmani. Kekhalifahan sangat mengaskan rakyatnya untuk menyayangi binatang, hingga mengadakan program santunan binatang setiap musim dingin, membentuk pasukan khusus untuk menelusuri bukit curam dan gunung-gunung, menebarkan makanan bagi hewan liar yang kelaparan.”

Sementara di saat yang sama, dunia mengenal hewan sebagai makhluk yang disia-siakan. Keledai dipaksa mengangkat beban melebihi kapasitasnya. Banteng-banteng dipertarungkan dalam adat matador. Singa-singa dipertontonkan di Colosseum, bertarung sampai ada yang mati. Dan Islam datang, menebar cita dan cinta, hingga sampai-sampai, terkenang salah satu Undang-undang Umar bin Khattab yang berjudul, “Aturan Muatan yang boleh dibawa Keledai”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Di waktu ketika perpustakaan terbesar di Eropa adalah Library of Saint Gallen dengan jumlh 600 buku”, dilansir dari laman Tarikhuna Al Adzim, “di saat yang sama, Cordoba di bawah naungan Islam telah memiliki perpustakaan di banyak tempat dengan masing-masingnya memiliki 400 ribu buku.”

“Ketika Kerajaan Castilia pimpinan Ferdinand dan Isabella menghancurkan peradaban Islam di Spanyol”, tulis Raghib As Sirjani dalam bukunya ‘Qisshatu Al Andalus’, “mereka membakar lebih dari satu juta buku. Jumlah yang sangat besar yang tidak dimiliki oleh dunia saat itu.”

Apa jadinya dunia tanpa Islam?

“Islam itu agama perang”, orang-orang berseloroh begitu. Yakin? Jika memang yang mereka katakan begitu, lalu mengapa sampai jatuh korban 60 juta jiwa setelah perang dunia II oleh bangsa Eropa? Sedangkan tak pernah ada korban perang sebanyak itu dalam peperangan yang dilakukan Umat Islam. Jika memang Islam agama teror, mengapa sejarah malah mengenang kebengisan pasukan Salib yang membantai 70.000 warga kota selama 4 hari 4 malam?

Justru Islam malah datang dengan aturan pertempuran yang ‘maha lembut’. Kok bisa? Bayangkan, dalam aturan pertempuran saja, tidak dperbolehkan pasukan muslimin menebang pohon, merusak taman, membakar tanaman. Tak boleh menyerang wanita, anak-anak dan orangtua. Tak boleh menyerang tempat ibadah. Tak diperkenankan menyerang orang yang sudah menyerah. Hebatnya.

(Notulensi Pribadi Ketika Mengisi Kajian Online Gamasis UNPAD)

YANG DEPOK YANG KARAWANG YUK KETEMUAN!!!

.

.

.

Halo Gaes,

Kali ini penerbit MediaKita akan mengadakan bincang-bincang seru bersama dua pemilik akun Tumblr yang sudah cukup tua keberadaannya di Tumblr ini :))

Hampir 7 tahun yang lalu. 
Wow.

Dan kali ini aku (@mbeeer) nggak sendiri nih, aku bakal ditemani oleh mbak paling kece sejagat Tumblr, siapa lagi kalau bukan mbak Tia Setiawati, ibu dari akun Tumblr @karenapuisiituindah

Selain bincang-bincang mengenai buku terbaru dari kami berdua, pihak MediaKita juga mengadakan event Drop Naskah. Jadi bagi kalian yang ingin mempunyai buku kalian sendiri dan ingin dinaungi oleh penerbit Major seperti MediaKita, yuk kapan lagi ada kesempatan kaya gini!

Naskah yang di-Drop-pun boleh dari bermacam-macam genre loh~

Event ini gratis dan tidak dipungut biaya sedikitpun. Di sana kalian boleh bertanya apapun kepada kami berdua. Dan juga buat kalian yang penasaran kemana TWILH sekarang, silakan bertanya di sana juga yaaa hahaha..

Catet tanggalnya buat kalian para mahluk kota Depok, Karawang, dan Bandung!

Oh iya, bagi yang sudah mempunyai buku Merayakan Kehilangan dan ingin bukunya ditanda-tangani, datang saja ke acara ini. Nanti kutanda-tangani, di halaman depan buku Merayakan Kehilangan, 

Dan di pipi kamu,
pake bibir.
Uwuwuwuwu.

See you there!

SEBARKAN!
JANGAN BERHENTI DI KAMU!
LIKE = AMIN
COMMENT ANGKA 1 AGAR BISA UMROH!!!
INGIN PUNYA UANG BANYAK?! AYO IKUTI BISNIS DATABASE!!!11!1!!11
INGIN GIGI PUTIH DAN KUAT?! KUNYAH ROLLING DOOR!!

- Mbeeer