puisi terakhir

…….

Di mana letak kesabaran,
jika bukan di dalam dada?
Di mana syukur diletakkan,
jika bukan di dalam dada?

Tetapi, dada tak sempurna
sejak satu tulang rusuknya pergi.
Segala yang dilihat jadi fana,
hanya kerinduan yang abadi.

Tanpa perempuan di sisinya,
laki-laki hanya memeluk udara.
Padahal pun bagi perempuan,
lelaki itu asal muasal pelukan.

Diambil dari 3 bait terakhir puisi Candra Malik yang berjudul ‘Asal Muasal Pelukan’.

Tiga Cerita Singkat Tentang Perempuan yang Menyukai Fajar

1. Sunyi Berdialog

Setelah menyelesaikan membaca sebuah buku puisi yang tipis, kamu melihat jam dinding. Waktu masih terlalu pagi. Belum ada tanda-tanda balasan pesan dariku. Kamu menunggu dengan ekstra sabar. Belum pernah kamu melakukan perbuatan seperti ini, dengan bertahan tidak tidur sepanjang malam.

Sepanjang malam, kamu menahan kantuk tanpa meminum kopi. Hanya tiga buku kumpulan puisi yang kaugunakan untuk terjaga menunggu pesan dariku.

Dari tiga buku tersebut, salah satunya adalah pemberianku saat aku hendak ke kotamu, tapi sampai kini aku belum pernah menjejakkan kaki di kotamu. Kamu menjadi ragu, tapi tidak pernah memadamkan harapan itu. Kamu baik sekali.

Di buku pertama, saat matamu masih segar bugar, kamu demikian mendalam menghayati puisi-puisi pendek dan panjang di buku tersebut. Karya dari maestro negeri ini. Puisi-puisi yang membikin ramai suasana sesunyi apa pun. Dan itu bisa kamu nikmati sembari menunggu pesanku yang sialan betul itu.

Di buku kedua, kamu sedikit kurang memahami tiap-tiap kata. Rangkaian kata di buku tersebut memang indah, tetapi sedikit yang bisa kamu pahami. Tidak apa-apa, seperti kata Pak Sapardi, puisi itu untuk dihayati, tidak perlu dipahami. Kamu pun hanyut ke dalam setiap lekuk kata-kata. Hampir-hampir kau terjebak di dalamnya dan melupakanku.

Di buku terakhir, kamu menjadi terserang kantuk luar biasa. Namun, bisa dicegah oleh puisi-puisi unik dari buku terakhir. Ada kehidupan yang dekat padamu di buku tesebut. Sesekali kamu ingat tentangku. Itu membuatmu tersenyum sesaat demi sesaat, hingga halaman terakhir.

Benar, hingga matahari naik sepenggalah di hari itu, pesanku tidak pernah sampai.


2. Rayuan Hujan

Hari ini hujan. Aku berharap ada pelangi setelah ini. Tubuhku menggigil karena aku lupa mengambil jas hujan yang kutinggalkan di rumah seorang teman. Seharusnya aku segera tiba di kantor setengah jam yang lalu. Aku tidak takut dimarahi oleh pimpinan, tapi aku tidak sampai hati lupa memberi sarapan pagi pada seekor kucing kampung yang beberapa hari ini datang ke parkiran kantorku. Begitu aku memberinya roti selai kacang, kucing berbulu cokelat itu langsung lahap menghabiskannya. Aku tidak mengerti mengapa ada kucing yang entah dari mana ini menyukai roti selai kacang.

Pakaianku sedikit basah. Berteduh di depan ruko bersama beberapa orang yang juga barangkali lupa membawa jas hujan, merupakan hal yang paling membosankan. Aku seharusnya lebih mengingat hal-hal yang diperlukan pada waktu-waktu musim berganti seperti saat ini.

Seandainya aku sebentar saja bisa menjadi seorang bocah, laiknya Sinichi Kudo yang berubah menjadi Conan Edogawa, betapa menyenangkannya. Namun, Conan Edogawa tidak ditugaskan oleh penulis komiknya untuk sekadar mandi hujan.

Selang waktu, tubuhku terasa basah kuyup. Aku tahu-tahu sudah berdiri di bawah terpaan hujan. Seandainya ada kamu, batinku.


3. Senja yang Hilang

Ia pun lengah memperhatikan pesawat itu tinggal landas. Ia seperti terpaku pada lamunannya sendiri. Sebentar lagi malam, dan ia harus segera pulang ke rumah kalau tidak ingin dibilang anak yang tidak penurut.

Bulan ini ia akan berulang tahun yang ke 25. Dua angka yang menandakan dirinya sudah hidup selama seperempat abad, tentunya. Ia bukan lagi seorang anak kecil, apalagi remaja. Ia sudah dewasa, tapi Ibunya masih menganggapnya gadis berumur sembilan tahun.

Semua orang memahami kalau seorang Ibu tentu selalu menyayangi anaknya. Ada pula Ibu yang selalu memanjakan dan menganggap anaknya adalah anak-anak yang perlu selalu diberi perhatian.

Ia melamunkan hal yang tidak jelas, hingga dua momen terlewati. Kali ini ia tidak sempat melihat matahari terbenam di barat bandara itu.

Ia berdoa semoga seseorang di dalam pesawat itu baik-baik saja. Kembali ke kota ini. Lantas hidup bahagia.

Tapi ia tidak tahu apa-apa.

Untuk Terakhir Kali - puisi karya elsasyefira

Kepada kamu,
perempuan yang kucintai sebelum kucintai diriku sendiri.*

Ketahuilah, bahwa ada yang tak sempat kusampaikan sebelum kita menjemput perpisahan.
Sebelum kepergianmu kulepaskan.
Sebelum kesedihan dirayakan.
Tentang aku.

Panggil saja aku ini seorang bodoh. Sebab ketika kau membodohiku, aku pun membodohi diri sendiri. Berusaha tetap mengerti, meski kau menumbuhkan nyeri. Nyeri yang sunyi.

Panggil saja aku ini seorang penipu. Sebab ketika kau mendustaiku, aku kerap berpura-pura tidak tahu. Tak apa, bila aku mesti berganti peran, ketimbang peranmu kubuat berantakan.

Panggil saja aku ini seorang pecundang. Sebab ketika kau sulutkan tengkar dengan sengaja, aku mengunci kata. Menggigit lidah, sekuat yang aku bisa. Biar! Darah dan lara tak seberapa, daripada kubalas kau dengan luka yang menganga di dalam dada.

Panggil saja aku ini seorang buta. Sebab aku tak mampu menatapmu sebatas wujud dan rupa. Sebab aku menyesap rasa yang kau embuskan lewat lembut udara. Karenamu aku hidup, mencintaimu aku cukup.

Lantas,
di titik ini, kubisikkan kau tentang asa yang tersisa di antara kita.

Rawatlah seluruh lara di denyut setiaku, hingga pada sebuah masa yang entah kapan, cintamu akan didewasakan.

Aku mencintaimu. Maka, berbahagialah.

*bait ini dibacakan dengan perubahan atas ijin penulis

terimakasih mbak el elsasyefira sudah boleh membacakan tulisan ini :)

Made with SoundCloud
Rest In Peace, Makhluk Kecil

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda.
Dan yang tersial adalah berumur tua.
Berbahagialah mereka yang mati muda.
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada.
Berbahagialah dalam ketiadaanmu.

–Puisi Terakhir, Soe Hok Gie
cc @kepadayangmatimuda

Puisi Terakhir.

Tutup matamu; 
Hadirkan bentuk tubuhku disitu, dan resapilah segala puisi tentang kamu yg akan aku panjatkan malam ini untukmu. 

Puisi terakhir sebelum kamu benar-benar pergi menuju tempat yg baru. Puisi terakhir sebelum kamu benar-benar mengepakkan sayapmu gagah pergi meninggalkanku. 

Sebenarnya ada banyak kata yg tersimpan dalam logika yg hendak aku katakan, sebelum jarak benar-benar semakin panjang memisahkan kita.

Kau tau seberapa inginnya aku mengucapkan kata terimakasih atas segala kehidupan indah yg telah engkau bawa kepadaku dulu? Karena selama kamu ada disampingku, tak pernah sedikitpun aku merasa bahwa aku sedang kekurangan sesuatu.

Sudah tak terhitung berapa banyak malam menjadi saksi atas tetesan hujan dipelupuk mata yg perlahan jatuh tanpa aku sadari ini. Ia seakan menjadi melody tersendiri ketika aku melihatmu dipaksa pergi meninggalkan tempat yg sejatinya tak bisa terganti.

Aku sadar kita akan berpisah cepat atau lambat. ini hanya masalah waktu. Tapi kisahmu adalah harga yg mahal yg harus aku bayar agar mampu kembali melangkah bersama orang yg baru.

.

                                                                 ===

.

Terimakasih sayang atas segalanya. Satu yg tak henti-hentinya kuberitahu padamu, bahwa aku benar-benar mencintaimu. Dan satu yg harus kamu tau, bahwa aku tak pernah yakin mampu menemukan cinta yg seperti kamu lagi.

Kamu menjadikan aku sebagai aku. Kamu tak pernah menghakimi aku hanya dari apa yg aku kenakan dan dari apa yg Tuhan berikan. Senyummu seakan mengatakan bahwa aku cantik dalam keadaan terburukku. Oleh sebab ini aku akan terus mengingatmu.

Mungkin suatu saat luka akan tersembuhkan oleh cinta yg lain. Hati akan kembali terisi oleh hati yg lain. Tapi tak bisa aku pungkiri, karena kamu, aku menjadi mengerti satu hal,

Aku pernah hidup sangat bahagia. Tidak pernah merasa kekurangan apapun, tidak pernah merasa harus menjadi seseorang siapapun. Aku menjadi aku dan dicintai kamu adalah karunia Tuhan yg paling luar biasa. 

.

.

P.S : terimakasih atas segala rasa bahagianya.

Ada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Mirasa 

Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu… sayangku…

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau
Bayi-bayi yang mati lapar di Biapra

Tapi aku ingin mati di sisi mu… Manis ku…

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

Mari sini sayang ku…

Kalian yang pernah mesra 
Yang simpati dan pernah baik pada ku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan
Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda

Mahluk kecil…
Kembalilah dari tiada ke tiada…
Berbahagialah dalam ketiadaan mu…

youtube

Puisi Terakhir Soe Hok Gie

 

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah

Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang

Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati di sisimu sayangku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya

Tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

Mari, sini sayangku

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku

Tegakklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa,

Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

 

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan

Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda

Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda

Mahluk kecil…

Kembalilah dari tiada ke tiada…

Berbahagialah dalam ketiadaan mu…