protet

Shock And Blow Me (up)

The images of humans burning from chemical waepons is disturbing to say the least. Being a man who’s core ethics were forged as a youth watching napalm burning children on TV in a war that I may one day have to either engage in, go to jail, or move to Canada its doubley disturbing. The horrors of the made for TV News war in Viet Nam left indelible impresions on all of us and hopefully from the brutality and inhumanity some very difficult lessons learned. As a colective force many youths joined in the hippie movement and voiced distain for violence and brutality and vowed to declare peace where others chose to declare war. The hippies have grown up and are now the “establishment” making decisions concerning the lives and deaths of other people. Are we facing yet another “conflict” of death and destruction in another country?

Where are we as a society now? We have warred in Kuwait, Kosovo, Iraq, and Afganistan and now face the decision whether or not to bomb another country, Syria. It sure would pad our resume pretty well and once again prove that we have the biggest dicks in the world. To be clear, those dicks are the ones who gleefully joined in protests against militaristic intervention when they were young, but have had a change of heart as they realize that war is a business. The leaders of the youth movements of the 60’s have largely become grumpy old bastards who can’t believe that kids today think they know everything. Kinda like their own Dads. And these dicks are now in charge of making decisions with potentially global implications. Unfortunately too many of the youths supporting peace movements and equality have become an old man and women network of haters of liberal pinko fags. Archie Bunker once a caricature of what was wrong with the older generation is now their role model.

Many Americans are against another war but the irony seems to evade a lot of them. George Carlin said “bombing for peace is like fucking for virginity.” (I think it was George) Past members of the SDS, weathermen, of just hippie protesters are now weighing if the right thing to do to a bully is to be a bigger bully. Certainly I would like to see some humanitarian groups take on this disgusting act of violence but the bigger guy beating up on the little bully isn’t what we were taught. Where is the UN in this and why aren’t they extremely vocal and building up support? If not keeping world peace then WTF is the purpose of the UN? Something needs to be done to assure other countries that this or any form of genocide should be condemned and any nation practicing it shunned but intentionally shifting the power structure of a civil war through a very destructive action which will surely result in numerous deaths is jut wrong. War is wrong!

War it seems to me is a matter of inches on a tape measure. Our Fathers must be awfully proud of how big our dicks have gotten. We have pulled out the measuring tape no less than four times since the Viet Nam war and each time we have proven that our dicks tower over the dicks of small countries. But as always we are a little afraid to measure our dicks against Russian dicks, or Chinesse dicks (tiny chopstick jokes not withstanding) . I mean shit, what if some small country got some nuclear dick enhancer off the email offers and really added inches to their penises. I guess we could always bomb their dicks back own to size. If you think about it our dicks didn’t compare in any way shape form or size to dinosaur dicks an look where they ended up. Buried in the desert! Declare Peace…

 

Meraba [sebuah] Protet Kehidupan

Grobogan..
Daerah itu sepertinya akan menjadi salah satu daerah paling berpengaruh dalam hidupku. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa aku akan menginjakkan kaki di sana sekali lagi, melihat wajah-wajah natural warga di sana yang tak kukenal sebelumnya, tapi sekarang seolah menjadi keluarga baruku. Mungkin aku tak mengenal mereka dan merekapun tak mengenalku. Tapi, memasuki kawasan itu, aku merasakan suatu hal yang berbeda. Lewat kesederhanaannya, tegur sapa yang mereka lakukan menyambut kami, serta keramahan khas orang Jawa yang selalu tulus mereka berikan, aku dibuat pias dan kagum pada warga di sana.

Sudah 2 bulan banjir berselang, sudah 1 bulan lebih aku tidak menginjakkan kakiku di sana. Aku menerka-nerka bagaimana keadaan daerah dan warga di sana. Apakah jalannya masih rusak? Apakah ladang jagungnya sudah mulai ditanami? Ah, secepatnya aku harus melihatnya sendiri.

26.06.15

Beberapa hari menjelang Ujian Akhir Semester, aku menonton sidang kakak kosku, dan salah satu pengujinya adalah dr.Hadi, dokter yang saat itu ikut kami melakukan pengobatan di Grobogan. Aku mendapatkan amanah dari teman-teman relawan lain untuk menyampaikan salam kepada beliau. “Ya, sekalian kamu kenalan sana,” kata salah satu teman relawanku, ada-ada saja memang dia. Usai sidang, aku mendatangi beliau. Di saat itulah beliau memintaku melawat ke Grobogan sejenak, untuk melihat kondisi salah satu pasien di sana yang saat itu diberikan tindakan pengikatan papilloma.

13.07.15

Hari berselang, ujian sudah terlewatkan, Ramadhan akan segera meninggalkan. Sempat terlupakan oleh ujian, aku kembali diingatkan oleh temanku tentang lawatan ke Grobogan itu. Hari itu aku memang berniat untuk mengunjungi Grobogan sebelum meninggalkan semarang untuk libur Idul Fitri. Ternyata temanku pun mempunyai niat yang sama. Ba’da ashar akhirnya kami memutuskan untuk berangkat, meski hari sudah mulai mencondongkan sinar mataharinya.

Jalan yang dilalui masih sama tentunya. Rasanya seperti menyibak kembali kilasan-kilasan yang sempat terlewatkan. Tiba-tiba, di dekat RS Ketileng temanku menghentikan motor yang kami naiki. Hmmm, ban motor belakangku bocor ternyata, ada-ada saja. Apa jadinya jika aku memutuskan berangkat sendiri. Temanku satu ini memang selalu bisa diandalkan dalam keadaan apapun.

Matahari semakin condong ke arah barat. Aku mulai gelisah karena untuk mencari kakek yang menjadi pasien dr. Hadi tersebut, kami hanya berbekal satu foto karena catatan medis kakek tersebut entah menghilang dimana. Aku pun tidak begitu yakin warga mengenalinya karena foto itu hanya menampakkan setengah wajahnya. Tapi temanku dengan entengnya berkata, “yah nanti kita malah bisa buka puasa di tempat warga, Deb.” Haha, ada-ada saja, tapi itu cukup menenangkanku.

Memasuki daerah Tegowanu, perbaikan jalan di sana sudah hampir mencapai akhir. Sudah tidak ada ceritanya truk-truk melawan arus di jalan yang sempit. Haha. Akhirnya, kami memasuki desa Tajemsari. Jalan di desa itu masih sama seperti dulu, masih membuat kontraksi perut kami yang memang kosong. Tapi perjalanan sore itu kembali mengingatkanku saat aku pertama kali datang ke sini, masih terasa asing semua ladang jagung itu. kini ladang-ladang jagung itu sudah ditanamani sekarang. Tanahnya pun sudah tidak berlumpur, justru mengeras karena musim panas segera datang.

Kami pun memasuki dusun Kendalsari dan memulai pencarian. Jam sudah menunjukkan pukul 04.30. Sempat terhambat karena disorientasiku dan kelemotanku berimajinasi, kami pun akhirnya kembali ke rumah Bapak Kadus Plosorejo yang menjadi posko kami dahulu. Bapak Kadus tersebut memberikan kami arahan letak rumah kakek yang ada di foto yang kami tunjukkan. Kami pun bergegas ke sana, masih bertanya pada beberapa warga lainnya, dan sampailah di rumah yang dimaksud. Tapi aku merasa tidak yakin karena merasa belum pernah ke rumah itu. Temanku pun merasa kakek yang ada di foto itu bukanlah yang sebenarnya kucari.

Benar saja, ternyata bukanlah kakek yang kumaksud. Aku putar otak, bagaimana cara mencari kakek tersebut. Cahaya langit mulai gelap, aku semakin gelisah. Tapi, fabiiayyi alaa irabbikumaa tukaddibaan, ‘maka nikmat Allah manakah yang kau dustakan?’ Sesaat kemudian aku teringat akan hapeku yang teronggok di tasku, teringat multiple chat dengan teman-teman AMT, sesuatu di hippocampusku seolah berkata bahwa ada foto-foto yang masih ada di sana, yang bisa memberikan kami pencerahan. Benar saja, ada satu foto (yang sekarang kakeknya benar, oke) dan lebih jelas wajahnya. Kami pun bergegas ke rumah Bapak Kadus Kendalsari untuk menanyakan rumahnya.

Seperti biasa kami disambut dengan keramahan yang luar biasa, tidak hanya saja dari Bapak Kadus dan nenek yang ada di rumah tersebut, bahkan oleh anaknya yang bersedia mengantarkan kami ke rumah kakek tersebut (nama kurahasiakan karena tidak ada inform consent tentang publikasi tumblrku, hehe). Subhanallah, ijinkan aku berada di lingkungan orang-orang seperti ini, Ya Allah.

Akhirnya kami pun menuju rumah kakek ditemani Agam, anak Bapak Kadus. Di sana kami melihat kakek dan kedua anaknya. Sebelumnya Bapak Kadus sempat berkata bahwa hari ini belum genap 40 hari meninggalnya istri kakek tersebut karena stroke. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Masih jelas kuingat wajah nenek tersebut, sedih rasanya mendengar kabar tersebut. Kulihat luka yang dulu tampak di wajah kakek sudah hilang, bersih. Kutanya apakah ada keluhan, anak kakek tersebut berkata tidak ada. Syukurlah. Tidak banyak yang bisa kulakukan karena sarjana saja belum. Hanya pemeriksaan tekanan darah dan sedikit edukasi yang pernah kudapatkan. Kami pun undur diri mengingat adzan Maghrib sudah berkumandang.

Sebelum pulang, kami mampir ke rumah Bapak Kadus. Mungkin rejeki ya, candaan temanku itu menjadi kenyataan. Kami dijamu buka puasa yang menurutku sudah lebih dari cukup. Lewat Bapak Kadus, aku pun harus mendengar cerita klasik yang masih miris tentang kamar rumah sakit yang penuh dan harus antri untuk operasi. Hmmm… Usai shalat Maghrib, kami pun undur diri kembali ke Semarang.

Yah, mungkin hanya sekelumit kisah, lagi-lagi bukan sesuatu yang wah. Tapi, di sini aku ingin mengingatkan diriku sendiri, suatu saat nanti ketika naudzubillah min dzalik aku lupa, ketika membaca tulisan ini, follow up adalah salah satu hal penting yang tidak boleh terlewatkan. 

Pasien adalah seseorang yang mesti kujadikan teman dan bahkan setelah kami berpisah, mereka harus terus hidup dengan sehat agar mereka tidak mencariku lagi.” - dr. Park Shi On, Good Doctor

anonymous asked:

hey friend, I just wanted to say thank you for blogging about all that asexuality representation/protetion, because it means a lot whenever I see it on my dash, and I don't know if you are asexual or not, but it still means a great deal whenever I see it, and I, again, just wanted to say thank you

Aww non you’re welcome

Incidents dans le comté d'Armagh en Irlande du Nord

Incidents dans le comté d'Armagh en Irlande du Nord
By









Des nationalistes irlandais ont jeté des bombes incendiaires et d'autres projectiles samedi en Irlande du Nord sur des policiers dépêchés à Lurgan, une ville du comté d'Armagh, pour une fausse alerte à la bombe, rapporte la police dimanche.

A l'arrivée des policiers en réponse à un appel téléphonique, une bombe a également explosé, sans faire de victimes. “C'était une tentative de meurtre claire et délibérée”, a commenté la police dans un communiqué.

Plusieurs maisons ont été évacuées et un quartier d'habitation a été bouclé pendant plusieurs heures.

Lurgan est un foyer d'activité nationaliste en Irlande du Nord, où la paix règne depuis les accords d'avril 1998 qui ont mis fin à trente ans de conflit entre catholiques nationalistes et unionistes protetants. Les “troubles” ont fait plus de 3.600 morts.

Belfast a connu cette semaine deux nuits de violences à la suite du refus des autorités de laisser un défilé orangiste protestant traverser un quartier catholique de la ville.

http://ift.tt/1KeM66n
Alter Info l'Information Alternative

July 19, 2015 at 06:44PM
via alterinfonet.org Agence de presse associative http://ift.tt/1CQ67NK