prophet muhammad (saws

Kutipan-kutipan Buku Aisyah: Wanita yang Hadir dalam Mimpi Rasulullah

“Jangan buat Aisyah sedih,” katanya.
Itulah… sekali lagi dia memanggil ku dengan namaku. Sebenarnya, saat itu kepalaku tertunduk, keningku dipenuhi banyak pikiran. Aku tak memandang wajah seseorang pun, tapi kalimat pendek itu… “Jangan buat Aisyah sedih,” membuatku tertegun. (Pg. 75)

“Kau… telah diperlihatkan kepadaku dalam mimpiku.” Rasulullah berkata seperti ini kepadaku. (Pg. 88)

Tidur nyenyak Rasulullah lebih manis daripada madu, selalu terlihat menyenangkan hati. Aku takut melepaskan tangannya ketika tertidur. Bila terbangun tengah malam, aku mencari-cari dengan tanganku yang gemetaran. Kedua mataku terbakar seperti orang buta bila tak menemukannya. Aku menangis seperti orang buta. Setiap kali ketika ujung jariku menyentuhnya, ah… di waktu tanganku tak bisa memegang tangannya untuk menemukan dirinya di gelap malam. (Pg. 94)

Kerinduan… aku tahu apa itu kerinduan di hari-hari hijrah. Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kerinduan ini kepadaku, yang mengubahnya sebagai sekolah diri. Kedewasaan, tumbuh besar untuk orang lain tak hanya di masa-masa awal kanak-kanak. Berapa pun umur kita, musibah-musibah yang menimpa diri kita merupakan petualangan kedewasaan sebagai jalan pengajaran.

“Perpisahan ini menjadi tabir bagi Aisyah,” ucap ibuku.

“Perpisahan ini adalah mahkota pengantin, mahar bagi Aisyah,” ujar ibuku untuk meringankan bebanku. (Pg. 121)

Kebenaran itu seperti berkah yang terpancar dari niat tulus seindah gunung-gunung, tanpa menanti balasan apapun. Kebenaran ialah ketulusan di dalam senyap-senyap burung yang kelelahan terbang, keledai-keledai yang menyimpan susu, seluruh sayap dan hewan berkaki empat, sampai kepada para pengembara dan orang-orang lemah.

Kebenaran merupakan balasan yang bersih.

Kebenaran… sebuah pernikahan. Mahar. Kebenaran kata-kata.
(Pg. 142)

Rasulullah tersenyum. Setiap senyum Rasulullah bagiku adalah hari pernikahanku. (Pg. 142)

Kakakku bertanya kepada Rasulullah, “Jika seseorang menolak karena rasa sopan santun meskipun sebenarnya menginginkannya, kemudian mengucapkan terima kasih, apakah itu juga dihitung dan dicatat sebagai kebohongan, ya Rasulullah?”

Rasulullah sekali lagi menjawab pertanyaan itu dengan senyum. “Kebohongan tetap akan tercatat sebagai kebohongan.”
(Pg. 146)

Dia memanggil ku “Uwais!” ketika dirinya bahagia. Beliau suka memainkan hidungku sambil memanggil, “Aisyahku.” Saat dirinya lelah, beliau berkata, “Bicaralah wahai Humaira.” Begitu aku berbicara ke sana-kemari seperti arus air, raut-raut sedih di wajahnya hilang satu per satu.

Ketika menatap, dia seakan-akan melihat darah yang mengalir di pembuluh darahku. Luar dan dalamku satu bagi Rasulullah. Seluruh kewanitaanku, kecemburuanku, kemanjaanku, keingintahuanku, dan ketidaksabaranku terlihat jelas.

Bila berusaha menarik perhatian ku, dia akan berkata, “Wahai putri Abu Bakar, bukankah ini seperti ini…” atau “Wahai putri Ash-Shidiq, bukan seperti itu, tapi seperti ini.” Ketika membicarakan diriku pada orang lain dan Rasulullah berkata begini, “Ibu kalian hari ini berkata seperti ini…” itu berarti ada sesuatu hal yang aku perlu ubah.

Rasulullah menjelaskan satu per satu kepadaku, sabar mendengarkan ku, berbagi kebahagiaan ku. Tanpa kusadari, Rasulullah mengajari diriku seperti seorang murid. Sementara itu, aku selalu rindu kepada Rasulullah meskipun berada di sisinya. Aku tak bisa melewati hidup tanpa Rasulullah ketika aku tidur di sampingnya. Bahkan ketika kedua mataku tertutup pun aku menghitung satu per satu hela napasnya. (Pg. 148)

Aku tak pernah makan melebihi apa yang dimakan Rasulullah. Aku takut dan menjauhi hal-hal duniawi. Apa yang kami dapatkan dari hal duniawi, apa yang bisa kami lakukan dengan api. Rasulullah sudah merupakan sumber kehangatan dan sinar bagi kami.” (Pg. 152)

Tanpa Rasulullah, aku seperti seorang anak kecil yang menggigil kedinginan dalam kegelapan. Kadang-kadang bila malam hari ketika harus berpisah dengan Rasulullah, aku ingin pergi dari dunia ini. Tanpa Rasulullah, udara tak berembus. Pagi tak kunjung tiba di hari-hari tanpa dirinya. Cinta Rasulullah adalah oase di tengah-tengah padang pasir. Sebuah oase yang terpancar dari surga. Bayangkan sendiri apa yang terjadi jika terjadi perpisahan. (Pg. 152)

“Aisyahku, aku tahu kapan kau marah kepadaku.”

“Bagaimana mungkin aku marah kepadamu, ya Rasulullah?”

Dia menyentuh lembut daguku dan menatap dalam-dalam kedua mataku sambil tersenyum.

“Ketika kau benar-benar marah kepadaku, kau berkata, ya Tuhannya Ibrahim, sementara kalau kau baik kepadaku, kau akan berkata, ya Tuhannya Muhammad. (Pg. 156)

Rasulullah tersenyum sambil memainkan hidungku.
“Bicaralah wahai Humaira…”

Dan aku sering bertanya kepada Rasulullah, “Apakah engkau mencintaiku?”

“Iya…”

Aku terdiam sebentar, tapi terasa lama seperti beribu-ribu tahun. Dia menggelengkan kepalanya, mengajak aku berbicara.

“Seberapa besar engkau mencintaiku?”
“Seperti titik-titik yang terlempar ke kain sutra…”
“Maksudnya…”
“Seperti titik-titik yang tak terlihat…”

Jawaban ini seperti sebuah bintang yang dalam seribu tahun sekali turun ke dalam hatiku, penuh dengan cinta.
Kadang-kadang bintangku jatuh. Aku ingin memperbaharui cintaku dengan kata-kata. Dalam bentuk isyarat aku bertanya kepada Rasulullah yang berada dalam kerajaan cinta, “Bagaimana dengan titik kita yang tak terlihat?”

Sambil tersenyum dia menjawab: “Seperti hari pertama…” (Pg. 194)

Para pemuda suka bertanya kepadaku mengenai diri Rasulullah. Aku malah balik bertanya begini kepada mereka, “Apa kalian tak pernah membaca Alquran? Rasulullah itu adalah Alquran yang berjalan.”

Perkataan Rasulullah itu seperti penerang yang terang-benderang. Ia membuka cakrawala. (Pg. 202)

Aku selalu merasakan bahwa hujan itu bermaksud menghapus seluruh kesedihan manusia. Ia memadamkan kobara api kesedihan, rasa letih peperangan, dan rasa asing… (Pg. 251)

Lantas Rasulullah balik bertanya lagi kepada para sahabat: “Menurut kalian dari sisi keimanan siapakah yang paling kuat?”

“Para malaikat ya Rasulullah…”

“Malaikat memang diciptakan untuk beribadah kepada Allah.”

“Para nabi ya Rasulullah…”

“Wahyu turun kepada para nabi dari Allah…”

“Kalau begitu para sahabat…”

“Kalian adalah para sahabat yang bertemu dan berbicara secara langsung dengan nabi kalian…”

“Kalau begitu siapakah itu orang-orang yang beriman kuat ya Rasulullah?”

“Umatku di akhir zaman yang beriman kepadaku dan mencintaiku tanpa mengenalku dan melihatku.”

Mencintai Rasulullah segenap hati, beriman kepadanya, berusaha berjalan di jalannya, merupakan martabat iman yang paling tinggi.
(Pg. 255)

Sering kami berdua bekerja bersama-sama. Misalnya, ketika aku memintal kain wol, dia memperbaiki sandal-sandal kulit. Ketika aku memasak, Rasulullah mengambilkan kantung air yang tergantung di tembok dan mengisinya dengan air. Masakan kami tak pernah lepas dari tanaman-tanaman beraroma. Aku membaca Alquran dari hapalanku, sementara Rasulullah mendengarkan aku. (Pg. 264)

Suatu hari mendadak seorang Badui datang menemui Rasulullah di masjid. Ternyata dia telah menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke sini. Entah siapa yang tahu persis bagaimana mereka menceritakan mengenai diri Rasulullah kepadanya. Dia masuk ke masjid dan setelah beberapa saat menatap Rasulullah badannya mulai bergemetar. Aku mendengarkan seluruh kejadian itu dari kamarku.

“Jangan takut,” ucap Rasulullah kepada orang Badui itu. “Aku bukan raja. Aku putra seorang perempuan Quraish yang makan daging dikeringkan di bawah sinar matahari.” (Pg. 277)

“Apakah kau mencintai Aisyah?”

“Iya, aku mencintai Aisyah…”

“Bolehkah aku bertanya satu pertanyaan lagi?”

Sekali lagi dia menganggukkan kepala sambil tersenyum. Seakan-akan bintang-bintang bertaburan di kepalanya ingin mendengarkan pembicaraan kami.

“Bagaimana engkau mencintai Aisyah?”

Beliau malah terdiam seperti malu. Beban hidup dirinya sudah sangat berat. Dia adalah seorang jendral. Hatiku sesak ketika dia malah mempercepat langkah untanya maju untuk pergi. Sungguh terlalu banyak pertanyaan yang aku utarakan.

Mengapa aku melakukan hal ini? Mungkin mati lebih baik bagiku…

Kemudian dia menunduk seakan-akan tahu bahwa aku menatapnya. Entah bagaimana mendadak dia memutar balik untanya dan memacu cepat-cepat dan berkata kepadaku, “Seperti hari pertama…”

Kemudian dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara memberikan salam kepadaku dengan pesona seorang pejuang yang mendapatkan kemenangan
, lantas berputar cepat menuju ke arah pasukan yang berada di barisan paling depan. (Pg. 287-288)

“Sungguh! Aku tak akan berterima kasih kepada kalian maupun kepadanya. Aku hanya bersyukur dan berterima kasih kepada Allah yang telah menurunkan ayat mengenai diriku dan telah menjauhkan diriku dari fitnah-fitnah itu.” (Pg. 316, setelah akhirnya turun ayat dari Allah kepada Rasulullah yang membuktikan kesucian Aisyah dari fitnah karena “Kalung”.)

Dunia selalu membuat pusing dan tak pernah berhenti bagi orang Mukmin. Bagaimana mungkin bisa berhenti? Dunia merupakan penjara, gelanggang tempat ujian, bagi orang beriman. (Pg. 333)

“Jika kalian memang benar-benar seperti yang kalian katakan, aku akan mengajarkan lima hal lagi sehingga perilaku baik kalian menjadi dua puluh.”

“Silahkan ya Rasulullah!”

“Jangan kau kumpulkan apa yang tidak kalian makan. Jangan dirikan bangunan yang tidak kalian tinggali. Jangan berselisih satu sama lain karena perbedaan. Jauhilah hal-hal yang tak diperintahkan oleh Allah. Berlombalah dalam kebaikan.”

Rasulullah juga sering menasihati kami seperti yang dia lakukan kepada para utusan.

“Dunia adalah tempat ujian yang melelahkan,” ucapnya.
“Selain dari orang yang menjauhi larangan Allah, mereka takkan selamat dari tangan-tangan dunia.” (Pg. 346)

‘Ya Umar!’ ucapnya. ‘Kau bertanya soal bekas anyaman dalam tubuhku, padahal kelembutan setelah sesuatu yang keras itu sangat nyaman. Kau sedih karena atap ruangan ini pendek, padahal atap kuburan akan lebih pendek daripada ini. Kita meninggalkan hal duniawi ini kepada ahli dunia, sementara itu mereka menyerahkan akhirat kepada kita. Aku dan dunia itu seperti tentara berkuda yang melakukan perjalanan di tengah musim panas. Tentara berkuda yang letih karena terik panas matahari itu berteduh di bawah pohon, kemudian melanjutkan perjalanan dan meninggalkan tempat itu. Kisra dan Kaisar adalah seorang raja, sementara aku seorang nabi. Aku hanyalah hamba Allah. Aku duduk seperti seorang hamba, makan seperti seorang hamba…’ (Pg. 393)

“Ada berapa emas, Aisyah? Di mana kau menaruhnya?”

Aku lari membawa emas itu kepadanya. Aku seperti juru tulisnya. Rasulullah mengambil emas dari tanganku kemudian mulai menghitung.

“Lima… enam… tujuh…”

Rasulullah menaruh emas-emas itu di telapak tanganku kemudian menutupi dengan jemarinya. “Selama emas ini berada di sini…” katanya.

Kedua mataku terbuka, menatap kedua mata Rasulullah.

“Selama emas ini berada di sini… bagaimana Muhammad bisa pergi ke hadapan Allah?”

Anak panah terlepas dari busurnya, tertancap tepat di tengah-tengah dadaku. Tubuhku membeku. Lidahku tertelan sambil bersandar. Tubuhku mulai bergerak mundur. Seakan-akan dunia berada di tanganku dan tanganku seakan-akan hilang karena beratnya.

“Ambillah ini semua, segera infakkan emas ini…” ucap Rasulullah.
(Pg. 425)

Aku adalah Aisyah di masa-masa sulit.

Aku tak pernah merasakan pernikahan lagi selama masa-masa hijrah.

Hari pernikahanku yang sebenarnya adalah hari wafatku, hari ketika aku bertemu dengan rahmat seluruh alam, Rasulullah, orang yang aku cintai.

Aku bersaksi pada perintah Allah, kenangan Rasulullah, wasiat dan amanah Alquran, tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Aku adalah Aisyah.

Aku adalah Aisyahnya Muhammad.
(Last page)




Membaca kisah Rasulullah dari sudut pandang dan kacamata Aisyah, seperti membaca sebuah diary dan surat cinta dari seorang istri untuk mengenang sosok suami tercintanya :)

The way
a small drop can
cause soft waves
in the entire ocean

is also the way
kind words are able
to touch someone’s heart
completely.

— 

ibtasem //

الْمُؤْمِنُ مُؤْلَفٌ وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ

“The believer is gracious, for there is no goodness in one who is neither kind nor friendly.” - Prophet Muhammad saws)

(Points from Ibn Al Qayyim’s book ‘Removing of Mental blocks’) 

1.    It is a direct order by Allah Subhanahu wata'ala 

2.    Allah will in return give you more than what you expected 

3.    Allah will raise you in status to angelic levels

4.    You add 10 Hasanat to your good deeds

5.    Allah Subhanahu wata'ala will raise you 10 levels higher

6.    You will get 10 Mercies from Allah Subhanahu wata'ala

7.    10 of your sins are forgiven by Allah Subhanahu wata'ala

8.    The likelihood of the dua that you make for yourself being accepted increases

9.    It is a means to receive intercession by the Prophet Muhammad (saw)

10.  Salawat is like making Istighfar

11.  Sending Salawat will satisfy your worldly needs in this duniya

12.  It compensates for charity if you are financially unable to give charity

13.  It is a means of angels sending Salaam on your behalf

14.  It is a purifier of your intentions

15.  It is a means of receiving glad tidings, that you have a place reserved for you in Jannah

16.  It is a means of protection from terror on the day of judgement

17.  It is a means of being greeted by the Prophet Muhammad (saw) himself

18.  In a gathering, it is a means of purifying that meeting / gathering and a means of preventing any evil talk

19.  It helps you remember what you forgot

20.  It is a means of safe guarding you from poverty

21.  It removes stinginess from your heart

22.  It protects you from the evil of others

23.  It keeps you firm on the Sirat Ul Mustiqeem

24.  Sending Salawat daily will keep you firm on the straight path

25.  It perfects any speech

26.  It is a means of light in the darkness of the day of judgement

27.  It gives you better character, refines your akhlaq and softens the heart

28.  It is a means of earning the love of Allah Subhanahu wata'ala

29.  It is a protection from the Wrath of Allah SWT

30.  It increases your barakah

31.  It brings Rahmah into your heart

32.  It increases the Prophet’s love to you

33.  It increases your love to RasuluAllah SAW

34.  It lengthen ones life

35.  Your name will be mentioned to RasuluAllah SAW

36.  It is RasuluAllah SAW’s right upon you

37.  It assists in being brought out of Jahannam

38.  It mentioned the Dhikr of Allah.. (Allahumma…)

39.  According to your level of sincerity, it will measure our distance to the Prophet salallahu ‘alaihi wassalam in Jannah.

When the night falls heavy
And the stars burn holes
And the weight of the moon
Burdens your soul
    Be Patient
A merciful dawn foretells
The night will fold

— Mobeen Hakeem

This was inspired by Surah Ad-Duha, and although nothing is ever needed to add to the perfect words of Allah, I felt what better to inspire me to write than the words of my Creator!

Surah Ad-Duha was revealed to Prophet Muhammad (saw) at a time when he had not received any revelation for six months, not even in the form of a dream! The Prophet (saw) was in a very disturbed state of mind, feeling negative and depressed and believing that Allah was displeased with him, had forgotten him, and did not want him as a Nabi anymore.

Don’t we have similar feelings in our lives? Times when our level of imaan is low, our khushoo in salah wavers and we feel a drop in our connection with Allah? We feel like our duas are not being answered, our salah is not having a positive impact on our hearts, and worst of all the feeling that we’re horrible human beings, that Allah doesn’t love us or doesn’t care about us anymore.

Surah Ad-Duha was revealed to the Prophet (saw) to relieve him of these negative feelings and to give him hope, positivity, and the assurance that Allah is with him no matter what. From it we too can find peace, hope, and a renewed faith in Allah when we go through similar states of depression, sadness, and hopelessness.

Translation of Surah Ad-Duha (93):

1. By the morning brightness

2. And [by] the night when it covers with darkness,

3. Your Lord has not taken leave of you, [O Muhammad], nor has He detested [you].

4. And the Hereafter is better for you than the first [life].

5. And your Lord is going to give you, and you will be satisfied.

6. Did He not find you an orphan and give [you] refuge?

7. And He found you lost and guided [you].

8. And He found you poor and made [you] self-sufficient.

9. So as for the orphan, do not oppress [him].

10. And as for the petitioner, do not repel [him].

11. But as for the favor of your Lord, report [it].


Learn more about this Surah from Sh Tawfique Chowdhury’s video here

anonymous asked:

What is your problem with Shia's? Can't handle the fact that Ali bin Abi Taleb is appointed by the Prophet (pbuh) that after him, he is the Master? It's from your own books😂

The Prophet Muhammad (saws) was NEVER the master. Allah alone is the Master! And it will remain like this forever.

He is waiting for you to return to Him

Don’t let your sins weigh you down. And don’t let them be the cause of you despairing from the mercy of Allah.

Know that Allah will always be there waiting for you with His infinite Mercy and forgiveness even if you slip and fall again and again.

In a hadith it is mentioned that Allah stretches out His hand during the day so that the sinners of the night can repent and He stretches His hand during the night so that the sinners of the day can repent. And Allah will continue to stretch His hand during the day and night until the sun rises from the west.

Subhanallah, how much more beautiful can that get?

He does not need anyone, He does not need our worship, His Greatness does not increase by the whole of mankind worshipping Him. And yet, this Allah is more happier when His servant, when the likes of you and i, make tawbah to Him than a man who found his lost camel.

The biggest blessing is that Allah is our Lord. Because wallahi, who has this much love? He has billions of angels praising Him and prostrating to Him day and night, and yet, He is happy when we repent to Him.

Is this not a Lord worthy of worship? Indeed He is.

So turn to Him. For He loves you and He loves to hear your voice. Even if you’ve never worshipped Allah your whole life but you just decided to turn to Him just this once, He will accept your repentence and surround you with His Mercy.

A beautiful hadith Qudsi:

“O My slave, if you came to Me with an earthload of sins, not associating any partners with Me, I will come to you with an earthload of forgiveness.”

[Tirmidhi]

O Allah, release the Muslim captives! O Allah, release our brothers! O Allah, hasten to them a solution to their plight! O Allah, end their captivity! O Allah, have Mercy on as they are weak! O Allah, make their hearts firm! O Allah, bond emaan to their hearts! O Allah, place ease in the hearts of their families, O Allah, bless them with steadfastness! O Allah, make them firm. O Allah, help the Muslims in every land! O Allah, guide this Ummah towards righteousness! And towards Your Obedience!

Glory be to Your Lord, the Lord of Honour above what they ascribe to Him and Praise be to the Lord of the Worlds and Peace and Blessings be upon our Prophet Muhammad (saw)

Do Not Degrade Those Who Wish To Pursue Knowledge of Islam.

Be careful with what you say about people. Be careful about how you label people. Calling someone a wahabi in hopes of degrading someone’s will to get closer to the deen is only pushing you away from the deen by mocking those who wish to pursue the Mercy and Pleasure of Allah swt. When you make a mockery of Allah’s swt Commands and the Sunnah of our beloved Prophet Muhammad saw, you have committed Kufr, you have become an apostate of Islam and should seek Allah swt forgiveness for the destruction you have caused to yourself through your ignorance. Never ever talk down about someone who is getting closer to the deen because its ‘too strict’ or 'too religious’, at the end of the day, there’s no compulsion of religion. So, if you want to attempt to degrade someone that way, then just know that you can’t pick and choose what you want to follow in Islam, Islam is no buffet. Islam has rules, rules that are placed for the past, the present and the future. Just because we have a 'modernised society’ that keeps changing, it doesn’t mean Islam will. Islam will never conform with society, society should conform with Islam. Every Command given by Allah swt is for the best, for He is the All Knowing and the Almighty. Never detest Him or belittle His Commands. Salaams.

There is nothing that brings comfort to the soul more than the Qur'an.

Sometimes we let the ocean of dunya enter our hearts and just how the water shatters a boat, the dunya shatters our hearts. And it hurts.

It hurts because we sought happiness in the dunya. But the life of this world wasn’t made to be perfect. It wasn’t made to be free of hardships.

The Prophet (ﷺ) said:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Jannah is surrounded by hardships and the Hell-Fire is surrounded by desires.” [Muslim]

Subhanallah, what a beautiful analogy. Jannah cannot be attained except by going through hardship, and nothing leads you to the Hell-fire except whims and desires.

What we don’t realise when we’re struggling is that there is always a way out. Even within the depth of darkness. There is always a ray of light. And that ray of light is the Qur'an. Reading it, and abiding by it.

You can either stay in the darkness of the bottom of the ocean and let yourself drown, or you can collect pearls and rise again.

Towards that light.

Towards your salvation.

Seek Allah and He will fill the darkness with the light of His Mercy. Seek Allah and He will rebuild your broken boat. He will rebuild your heart as if it never shattered in the first place.

And that’s the beauty of turning towards Allah. That’s the beauty of reciting His kalaam. It is a polish for your heart that not only cleans it, but it beautifies it even more than when it had first gotten dirty.