projectant

2

My profile is so long men are now stealing car parts just to get through it.

I hate when guys send these types of messages. It comes off as part “you talk too much” and part “I deserve something for reading your profile”. No, you don’t dude. This isn’t first grade; you don’t get a sticker for reading.

5

Underrated Book Project Recap - August

The Underrated Book Project is a series of posts that aims to promote books that are under-appreciated, overshadowed, scarcely read or unknown. Click here to find out more

The above books were featured in the Underrated Book Project this past month.

U.S. military ‘flying jeeps’ as seen in Avro Canada’s company literature - In 1955 the U.S. Air Force took over funding of Avro engineer ‘Jack’ Frost’s VZ-9 Avrocar ‘Project Y-2′ with the hope of developing a supersonic large disk fighter aircraft, designated as Weapons System 606A. Progress with the design was slow - by April 1961 the NASA Ames prototype model was able to reach a speed of 100 knots (190 km/h or 118 m/h), and while this test had the best results so far, more modifications were still necessary to correct an unstable pitch problem. A USAF/NASA flight evaluation of a second prototype was made in June 1961 - the results were very disappointing showing a range of control problems. In March 1961, U.S. funding ran out. In December 1961 the U.S. military officially cancelled the Avrocar and related WS-606A supersonic VTOL (vertical take-off and landing) programs.  (image via wikipedia)

segelaskopi dan estehmanistanpagula

Malam ini Tuhan mempunyai selera seni yang tinggi. Menunjukkan ciptaan-Nya berupa gemintang yang saling berpendar. Ah, tidak. Aku salah. Tuhan memang selalu punya selera seni yang Maha Indah dalam melukis semesta.

Seperti malam-malam sebelumnya, hadirmu di hadapku kali ini sekedar bertanya kabar. Bertanya apa yang sudah kulakukan seharian. Atau sekedar bertanya apa warna dalaman yang hari itu aku kenakan. Konyol dan tak mudah ditebak. Itulah dirimu.

Layaknya segelas kopi, entah hitam-pekat atau hitam-coklat, kamu memang sulit ditebak. Selalu kumengira-ngira seperti apa rasanya. Manis? Pahit? Atau bahkan asin, alih-alih menambahkan pemanis, malah ditambah sebongkah garam.

“Jodoh tak akan kemana,” katamu secara tiba-tiba.

Lalu kusangkal dengan pernyataan, “bagaimana dengan mereka yang terpaksa berhenti di tengah jalan karena tidak lagi sepaham? Atau mereka yang sampai akhir hidupnya belum juga menemukan jodoh?”

Kamu tertawa. Kali ini terbahak di atas wajahku yang polos kebingungan. Alih-alih menjawab atau memberikan sanggahan atas pernyataanku, kamu mengalihkan pembicaraan. Memulai topik atas nama luka lalu menertawakan. Lagi, aku dibuat heran. Bersamamu aku mampu menertawakan luka. Hingga lupa rasa getir dari luka.

Kau menyesap kopimu -yang merupakan cangkir ke-dua belas dalam sehari ini- dalam-dalam, seakan esok tak lagi kau temukan kopimu. Sedang aku, es teh manis tanpa gula pun belum habis kutenggak. Aku ingat, kau pernah bertanya. Mengapa tak ikut “ngopi”? Aku selalu menjawabnya dengan tersenyum sambil menggeleng.

Dalam hati kukatakan, kopi dapat membahayakan jantungku. Tanpa segelas kopi pun, jantungku berontak ketika matamu menatap. Bagaimana jika aku minum segelas kopi bersamamu? Sungguh, aku tak sanggup. Aku lebih memilih minuman untuk menetralkan jantungku bersamamu.

Bicara senja tadi, boleh saja kita saling diam. Mengheningkan cipta atas semburat merah yang dilukis Tuhan tiap petang. Namun malam, adalah bagian yang paling kusukai. Karena hanya dalam sunyinya, kita dapat menyuarakan isi hati tanpa dusta.


Salam,
Aku yang bersamamu tak perlu pemanis.

p.s.: aku masih menunggu sanggahan atau jawabanmu, Tuan segelaskopi