produk.in

Mental Berkarya

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah kalimat dari dosen saya, Pak Pindi Setiawan (desainer),

“makin banyak saya ditiru, makin nyaman saya berkarya satu dua langkah di depan.”   

Saat itu kebetulan adalah hari di mana hati saya kurang nyaman karena karya desain saya ditiru (tidak sepenuhnya, namun diadaptasi dan sebagai referensi). Tambah beliau,

“yang meniru berarti levelnya hanya sampai di situ. Ketika kita ditiru, kita bikin karya lagi, ditiru lagi, bikin lagi, terus saja begitu.”

Pak Pindi juga bukan orang recehan yang karyanya recehan, tentu saja karyanya banyak ditiru. Dan membuat karya visual itu kompleks, karena harus memunculkan hal sederhana dari informasi yang seringkali kompleks. Dari kuliah Pak Pindi, saya menyadari sesuatu. 

Bahwa saya belum siap berkarya, bahwa saya belum punya mental juara, bahwa saya belum siap menjadi orang yang berjalan di depan. Karena jika mental saya sudah siap, maka saya akan menerima dengan lapang dada bahwa sekali karya kita dilempar ke publik, maka potensi plagiasi pasti akan terjadi. 

Di dunia visual, desain dan seni, plagiat adalah hal yang sangat sering terjadi. Apakah karena sering maka harus diabaikan? Tidak juga. Saya juga marah ketika desain saya ditiru teman dan dikomersilkan; atau ketika karya seorang senior dicuri oleh temannya dan dikumpulkan atas nama pencuri; atau ketika editan visual saya dipakai oleh teman untuk mencari nilai. 

Sering kali kita tidak menyadari plagiasi, kita melakukannya dengan ringan saja. Contoh paling kecil namun cukup biadab adalah ketika kita mendewakan tulisan kita, mempostingnya di blog lalu menyertakan sebuah gambar dari internet namun tidak menuliskan sumbernya. Kita menganggap bahwa gambar ini hanya elemen pendukung tulisan kita yang mulia. Tahukah kamu bahwa ini adalah pencurian juga? Ya, dan ini sering saya temukan di tumblr bahkan di IG. 

Lepas dari itu semua, plagiasi akan selalu terjadi ketika kita berkarya, karya apapun. Jangankan karya yang kece, tulisan saya yang isinya meaningless saja diplagiat. Buku Beranjak bahkan diaku - aku oleh seseorang sebagai tulisannya, diposting di IG nya dan dipamerkan bahwa itu karyanya. 

Beberapa waktu lalu, desain produk saya ditiru persis bahkan foto produk saya dipakai oleh vendor saya untuk promo komersial usahanya sendiri. Apakah saya sebal? Ya, awal mulanya. Lama - lama saya pikir, “elah, dia cuma supplier kecil yang belum punya ide sebagus saya, yang tidak punya akses pendidikan sebaik saya. Apa salahnya saya yang diberi rezeki berupa ilmu ini merelakan sedikit berbagi?” Maka instead of marah, saya justru mengiriminya file asli desain saya agar mudah dia produksi sendiri. Tentunya, pelan - pelan saya mengajarinya juga bahwa apa yang dia lakukan salah. Hal ini saya pelajari lagi - lagi dari seorang dosen yang juga desainer dan pengusaha, Pak Ben Wiryawan. Kata beliau, “desain kaos saya juga banyak tuh ditiru sama orang - orang dan dijual. Saya mah biarin aja. Mereka cuma pengusaha kecil yang mencari rejeki. Anggap saja saya berbagi rejeki.”

Instead of marah, dua orang dosen saya yang karyanya keren - keren itu berusaha melapangkan dada dan terus berkarya. Lalu apalah saya yang sama remahan Bon Cabe pun kalah pedas?

Saya tidak membela para plagiator. Well, saya benci plagiasi, karena itu memang salah. Saya hanya menawarkan sudut pandang baru. Belajar dari mas @jalansaja yang cukup bijak menyikapi plagiator, saya belajar mengupayakan memberi tahu pelaku secara personal terlebih dahulu. Walaupun pernah Mas JS sampai mengancam melaporkan ke pihak berwajib, at least semua terjadi di balik layar, bukan di panggung publik. Sorry, beberapa hari lalu saya menegur seseorang yang mempublikasikan identitas para plagiatornya tanpa pernah dia menegur mereka secara personal terlebih dahulu.

Di dunia bisnis, kita harus sadar bahwa seperti inilah dunia kapitalis. Semua serba abu - abu, masing - masing membela kepentingannya yang ujungnya adalah profit dan eksistensi. Saat diingatkan teman bahwa (calon) usaha saya akan ada penirunya, maka saya belajar untuk mengantisipasi jika itu terjadi. Caranya adalah dengan menyiapkan produk lain, jika ditiru, maka buat lagi yang lain, ditiru lagi, buat lagi yang lebih bagus. Begitu terus.

Jangankan yang kecil - kecil semacam kita, yang perusahaan besar dan multinasional pun meniru kompetitornya kok walaupun tidak sama persis. Mulai dari produk, iklan, senjata marketing “halal”. Sebagai yang pernah bekerja di perusahaan yang ditiru (Wardah), apa kata teman - teman di Wardah? Mereka hanya tertawa dan berkata, “baguslah, berarti punya kita bagus, makanya sampai ditiru sama kompetitor.” Dan mereka bikin yang lain, bikin terus, dan mengusahakan hal lain supaya orang - orang tetap aware siapa yang mengawali karya itu, TANPA BANYAK RIBUT. That’s a winner mind!!! Daebak!! 

Saya sepakat bahwa plagiator harus ditindak. Saya hanya menawarkan sedikit pemahaman yang saya pelajari supaya kita lebih kalem, untuk lebih tidak “nggumun” kalau kata orang Jawa. Sebab, terus terang perbincangan plagiasi selalu berasal dari sudut pandang yang itu saja dan sudah kita sepakati kebenarannya, namun selalu muncul perulangan pendapat.

Semoga saya tidak menyinggung siapapun. Feel free for more discuss. 

Bandung, 22 Mei 2017.

Jangan Cintai Islam Apa Adanya

@edgarhamas

“Jika kau belum bertualang dan berjuang untuk sesuatu atau siapapun yang kau cinta”, begitu kata Shakespeare, “maka diam sajalah ketika kau kehilangannya.”

Kalau kata mas Tulus, “jangan cintai aku apa adanya, tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan”, maka, kiranya untuk Islam syairnya bisa kita modifikasi, “jangan cintai Islam apa adanya, berilah sesuatu biar kita jalan ke depan.”

Islam dan dakwah ini ibarat kereta. Kereta ini tetap berjalan dengan atau tanpa kita. Namun semakin kita memberi yang sekedar sisa untuknya, kita malah akan melambatkan lajunya, sebab kita terlalu berat beban, namun sedikit kontribusi. Terlalu banyak bercanda justru ketika kereta sedang rusak parah.

“Jangan pikirkan apa yang sudah kau terima dari negara”, kata Kennedy, “namun pikirkanlah apa yang sudah kau berikan untuknya.” Kiranya bisa kita ubah nadanya, “jangan pikirkan apa yang sudah kau terima dari dakwah, namun cobalah pikirkan apa yang sudah kau berikan untuknya.”

Dakwah telah membesarkan kita, mempertemukan kita dengan orang-orang hebat, menyatukan kita dengan gelombang dahsyat, meramu kita dari nol sampai jadi ahli nyaris di segala bidang. Setelah semua itu, apakah dengan naifnya kita pergi dan tak kembali? Pergi dan berkata pada yang lain bahwa kehebatan kita adalah hasil usaha kita sendiri?

Sadar tak sadar, keahlian dan kebesaran kita adalah berkat ruang-ruang dakwah yang memberi kita panggung untuk beraksi. Ruang-ruang dakwah memberi peluang kita untuk unjuk gigi ketika yang lainnya tak menganggap kita ada. Akhirnya kita bisa bicara di depan publik, bisa menulis dan dibaca khalayak ramai, punya relasi bisnis yang menggurita, link tokoh yang luas dan mudah aksesnya.

Setelah semua itu, kita masih berpikir bahwa itu semua adalah berkat usaha kita? Kita tenggelam dengan diberi, diberi dan terus diberi. Setelah kenyang, kita asyik lalu undur diri. Hidup tidak serendah itu, kan?

Ayo melibatkan diri. Berikan sesuatu, biar dakwah terus melaju. Apapun itu, senadakan saja dengan bakatmu. Islam dan dakwah tidak melulu ditebar dengan orasi di atas mimbar. Ia bisa dengan pena, kata, kerja, karya, media, produk, poster, atau apapun itu. Ketika engkau memutuskan “untung rugi hidupmu, kau nilai dari untung ruginya Islam”, itu pun sudah indah sekali.

Jangan cintai Islam apa adanya,
Berilah sesuatu biar kita jalan ke depan.

          Djangan Loepa, Mari Mengingat Indonesia lewat Cara Kreatif

 


“Siapa yang mau mengingat – ingat masa lalu? Apa guna?”

 

Sadar atau tidak, inilah yang sering terjadi dalam diri kita. Menjadi generasi ‘masa kini’ yang hidup di era yang serba maju, serba ada dan serba ‘futuristik’ yang menyebabkan kita lebih suka berpikir  mengenai apa yang akan datang dibanding mengingat – ingat hal di masa lalu yang membentuk kita seperti sekarang.  Contoh kecilnya, adalah bicara tentang sejarah bangsa ini, Indonesia. Sebagian besar dari kita terakhir kali diberikan pengetahuan tentang sejarah Indonesia secara konstan adalah ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Selepas itu, mengenali sejarah negeri menjadi pilihan prerogatif masing – masing pribadi.  

Hal ini memunculkan lebih banyak generasi yang acuh tentang cerita – cerita negeri Ini. Sesekali kita abai akan hal itu.

Kita abai kalau :

Kita  sering mencari tahu apa yang terjadi di negara seberang,

tetapi lupa mencari tahu tentang sejarah negara sendiri.

Kita getol memelajari bahasa asing,

Tetapi lupa memelajari bahasa ibu kita sendiri.

Kita tenggelam dalam musik atau film dari negara orang,

tetapi lupa dengan budaya sendiri.

Namun, kita perlu menyadari bahwa sepenuhnya  kesalahan bukan berada pada yang lupa. Sebab terkadang, tidak banyak sarana dan medium untuk menjadi “pencerita” bagi kita untuk mengenal bangsa ini lebih dalam, sebab sedari dulu kita hanya mengenal sejarah lewat narasi – narasi yang terkesan membosankan di depan kelas.  

Menyadari hal itu, kami tergerak untuk menjadi corong pengingat bagi generasi masa kini untuk lebih mengenal negeri ini. Semangat untuk mengulik, mengolah, dan menyajikan cerita – cerita tentang Indonesia melalui konten  dan karya  kreatif serta  inovatif kami hadirkan lewat medium tumblr bernama “Djangan Loepa” ini. Menggunakan ejaan lama, kami ingin agar sesekali kita perlu  untuk mengenang yang telah berlalu.  Sebab sejatinya, kehidupan kita hari ini adalah produk dari apa yang terjadi di masa lalu, dan menjadi penentu dari apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

“Djangan Loepa” adalah sebuah platform untuk mengenalkan tentang sejarah, cerita, berita, bahasa, budaya, tokoh, dan mimpi – mimpi negeri ini untuk dikenalkan, dipahami, dan disebarluaskan sebagai “pengingat” untuk lebih mencintai, dan akhirnya menjadi semangat untuk membangun negeri ini menjadi lebih baik. Karena kami percaya, untuk menjadi bangsa yang besar  adalah dimulai dengan mengenal negeri ini. Sebesar – besarnya mengenal negeri ini, maka akan sebesar – besarnya pula mencintai negeri ini. Sebesar – besarnya mencintai negeri ini, maka akan sebesar – besarnya pula membangun negeri ini.  

Karya – karya kreatif baik itu visual, audio hingga narasi akan menjadi senjata kami untuk mengenalkan Indonesia dengan cara yang “asyik,” sehingga bisa dengan mudah diterima dan dicerna oleh khalayak. Hal ini sesuai dengan misi kami, yakni memberikan sajian tentang Indonesia dengan cara yang kekinian.

Nantikan kami setiap minggunya, karena Indonesia punya segudang keragaman, kekayaan, dan keasyikan yang terlalu sayang untuk dilupakan dan dipinggirkan.


Djangan Loepa, Ja!

“Kamu tidak akan bisa menetapkan dengan baik kamu mau kemana, sebelum kamu tahu asalmu dari mana”. – Sudjiwo Tedjo

youtube

Now, I learn the rational reason why we have to learn about history and why we have to looking backwards sometimes. To connecting the dots of our life, to learn something meaningful on that. 

“You can’t connecting the dots looking forward. You can only connect them  looking backwards.” -Steve Jobs-

Jadi ga perlu menyesal dengan yang sudah terjadi, ga perlu menyesal dengan segala kegagalan yang terjadi. Kita hanya perlu mengambilnya menjadi pembelajaran, jangan sampai sia - sia dan tidak ada hikmah yang kita ambil darinya. 

Seorang dosen saya, Pak Dwi Larso, berkata kira - kira begini,”dari ratusan sifat entrepreneur yang disusun, ada 2 sifat utama yang selalu ada di semua entrepreneur yang saya kenal. Yaitu percaya diri / keyakinan dan pantang menyerah. Mereka yakin bahwa produk mereka akan laku, yakin aja dulu. Soal nanti apakah keyakinan itu terbukti atau tidak, itu urusan lain. Yang penting, mereka memiliki keyakinan itu.”

Kemudian saya bertanya pada seorang teman baik, “broh, kalo ternyata keyakinan itu tidak sejalan, dan produk kita nanti gagal gimana?”

Jawaban teman saya simple namun nancep, “well, berarti kita ke next step sifat entrepreneur, yaitu pantang menyerah.” Lalu kembali lagi ke sifat pertama, yakin dan percaya diri. Gagal lagi, pantang menyerah lagi, lalu yakin lagi.

Namanya juga entrepreneur, hidup dalam ketidakpastian; sering kali gagal; resiko selalu di depan mata. Tapi barangkali, harus selalu dinikmati agar bisa hidup dengan asyik. 

Ah, thank you for enjoy your dark times, Mr. Jobs. Because in the end, you such a great entrepreneur that success bring amazing PIXAR to us. 

“Sometimes life hits you from the back with a brick. Don’t losa faith” -Steve Jobs-

 Tulisan Gilang Kazuya Shimura Menanggapi Tulisan Afi Nihaya Faradisa Soal Agama “Warisan”


Opini Bangsa - Dek Afi yang terhormat, kita emang gak bisa milih kita memeluk agama apa, karena kita didoktrin oleh orang tua kita. Tapi adek tau gak, kalau secara fitrah kita udah muslim? Adek gak tau? Makanya kakak kasih tau sekarang, ada kok hadits nya dek :


Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.“ (HR Bukhari 1296).


Tugas manusia adalah mencari jati diri nya, makanya setiap manusia dikasih otak buat berpikir lewat tanda-tanda yang Allah kasih. Makanya kita yang muslim nyebut muallaf sebagai "kembali ke fitrah”, karena sejati nya dia kembali ke jati diri nya yang asli.


Masalah bersitegang, ah adek ini kayak anak SD aja, jangankan soal iman dek, soal artis korea aja masih pada ngotot siapa yang paling ganteng / cantik, apalagi soal prinsip.


Agama itu prinsip hidup dek, kalau kita menganggap semua agama benar, apa beda nya dengan balita yang gak bisa bedain mana kacang mana kecoak? Soal islam agama yang benar, kan udah ada dek ayat nya di Al-Baqarah ayat 2, penegasan nya ada di surat Yunus ayat 37-38. Kakak berani taruhan, nggak ada ayat-ayat setegas ini di agama lain. Coba aja adek cek, kalau adek udah gak sibuk sama wawancara dari orang-orang yang (maaf) sok bijak.


Maksud adek jangan sesekali menjadi Tuhan gimana dek? Karena kita melabeli orang sebagai kafir dan masuk neraka?


Mungkin adek meradang sama mereka yang melabeli orang dengan sebutan kafir, tapi adek tau gak kalau mereka cuma mencocokkan identitas mereka dengan apa yang ada di Alquran? Gak ada beda nya dek sama petugas warnet yang disuruh pemilik warnet untuk melabeli tingkat pendidikan dari seragam yang dipakai, gak lebih. Tapi apa dengan itu si petugas langsung merasa jadi pemilik warnet? Nggak kan.


Gak usah pake bayangkan dek, adek pernah baca Al-baqarah ayat 256 gak? Kalau iya, aneh kalau adek masih bilang islam memaksa orang lain pindah agama. Lagipula liat aja dek sejarah nya, agama mana yang paling suka memaksa orang lain memeluk agama mereka ketika mereka menjadi mayoritas, buka mata dan jadilah orang dewasa dek.


Semua orang berhak mengklaim agama mereka yang terbaik, gak ada yang larang kok, wong iklan detergen aja bilang produk mereka yang terbaik. Tapi masalahnya, sejauh mana akal pikiran kita dipakai buat mencari kebenaran yang paling benar, bukan kebenaran atas dasar pingin tenar. Balik lagi ke tantangan yang kakak sebutkan diatas, adakah agama lain yang punya ayat setegas Al-Baqarah ayat 2?


Label neraka atau surga, itu juga gak lebih kayak guru yang bilang ke murid nya yang pemalas bahwa dia gak bakalan naik kelas. Logis toh? Gimana cara nya naik kelas kalau belajar aja nggak? Sama kayak label neraka, gimana mau masuk surga kalau sama Allah aja gak percaya?


Tidak ada dek yang meragukan kekuasaan Tuhan, tapiiii… Baca lagi ya dek sejarah nya, Allah gak pernah membuat agama lain selain Islam, orang-orang dhalim lah yang memutar balikkan fakta menjadi agama-agama baru yang beraneka ragam. Itu juga jadi salah satu bukti kekuasaan Allah & salah satu bentuk ujian di dunia untuk makhluk-Nya. Makanya banyak baca ya dek, mumpung masih muda :)


Soal kerukunan dek, kita bandingin aja yuk arab saudi vs italia, negara yang mewakili dua agama terbesar di dunia, di negara mana terjadi lebih banyak kriminalitas? Mohon bandingin nya pake akal sehat yah dek, jangan pake kebencian terhadap kaum bergamis.


Yang nama nya mayoritas, wajar kok kalau mereka menerapkan hukum mereka, analogi nya, di rumah adek, yang berlaku adalah adat istiadat di keluarga dek Afi kan? Kalau semisal ada orang lain yang ujug-ujug dateng ke rumah adek dan maksa keluarga adek ikutin adat istiadat dia, apa adek mau terima?


Adek kayaknya beneran gak tau ya sejarah pancasila? Clue nya jelas dek, sila ke satu apa? Agama apa yang sepaham dengan sila ke satu? Adek harus tau, bahwa dasar negara kita yang paling inti diambil dari Alquran, bukan dari injil, weda, tripitaka atau kitab lain nya. Makanya kakak aneh liat tulisan adek yang bilang dasar negara gak boleh dari salah satu agama. Tanah yang kamu pijak itu juga bisa terbebas dari penjajah atas jasa para ulama dan santri loh dek, apa coba kitab panutan mereka? Yang jelas bukan komik Doraemon.


Suatu hari nanti kakak akan menceritakan kepada keturunan kakak bahwa ada banyak oknum bertulisan seperti bijak yang aslinya bahkan nggak ngerti apa arti bijak itu sendiri. Orang-orang yang menginginkan situasi yang sangat fana dan diluar jangkauan realitas hanya karena ingin diterima oleh berbagai pihak. Kakak harap dek Afi gak masuk sebagai jajaran oknum itu :)


Terakhir, kakak mau menukil quote dari Abdullah bin Mas'ud :


“Ilmu itu bukanlah sebuah kemahiran dalam berkata-kata, tetapi ilmu itu (menimbulkan) taqwa kepada Tuhan”


Dari hamba Allah yang masih mencari ilmu


Gilang Kazuya Shimura

Patah Hati Ter-Yaudahsih

Melambungkan hati harus siap jatuh dan patah. Walau tak seenak terbang, terjerambab harus pula bisa dikuasai dengan kelapangan dan keikhlasan menerima.

***

Kita semua pasti pernah merasakan sesaknya patah hati. Nyeri tak terelakkan dan perih tak tertahankan. Oleh sebab ditinggal saat sedang sayang-sayangnya, ditinggal menikah, diduai baik dengan orang lain atau dengan game, tidak direstui orang tua ataupun Tuhan, patah hati karena we fall in love with people we can’t have, dan masih banyak lainnya yang membuat hati kita terluka.

Tetapi tanpa kita sadari ada beberapa patah hati yang sepatutnya kita yaudahsih-kan. Seperti yang saya alami belakangan ini:

Beberapa bulan lalu saya jatuh hati pada sebuah makanan, cilor namanya. Pada tahu cilor, kan? Cilok pake telor. Pada tau cilok, kan? (tepung) Aci (biasa dikenal tepung tapioka) dicolok (ditusuk).

Deskripsinya kurang lebih begini: Cilok yang berbentuk bulat-bulat ditusuk menggunakan tusukan sate sebanyak 3 butir (atau semaunya yang jual), digoreng setengah matang, kemudian goreng telur cair (yang diberi sedikit air), gulung cilok setengah matang dengan telur yang masih ada di wajan, angkat dan tiriskan, beri saos (biasanya saos cair entah merek apa), sajikan selagi hangat dengan plastik bening, dan cilor siap disantap.

Saya tahu pertama kali cilor dari @tieyems, dia sering menyebut-nyebutnya di grup chat. Katanya sih di Bandung banyak yang jual. Tapi selama (tak usah disebut angka, karena kalau disebut ketahuan tuanya) saya hidup di Bandung belum pernah bertemu dengan si cilor. Sampai akhirnya saya diberi kesempatan bertemu dengan cilor, saya kegirangan, dan bukan di Bandung, tetapi di Pulau Harapan. Buat bertemu denganmu, Lor. Saya sampai harus keluar kota! Betapa saya berjuang untuk kamu, toh?

Setelah pertemuan pertama dan jatuh hati pada kecapan dan pandangan pertama saya di Kepulauan Seribu itu, saya semakin mengincar cilor. Mata saya liar jika sedang berkendara, mana tahu ada penjual cilor. Sampai pada saat saya menemukannya di depan Griya Antapani. Harganya sedikit mahal, 5 ribu untuk 5 tusuk. Karena rasa kangen yang tak terbendung, saya beli 10 ribu. Benar-benar tak terbesit kecewa sama sekali. Pasalnya, telur yang menggulung ciloknya tebaaaaal sekali (a-nya sampe lima). Dan yang utama, sausnya tidak hanya saus cair saja. Tetapi ada mayonaisenya, juga ditambah bumbu kering. Rasanya bersatu padu membentuk kenikmatan yang hakiki. Saya terpuaskan di kali pertama.

Hari-hari berikutnya jika sedang di daerah sana, saya selalu menyempatkan mengarahkan kemudi ke sana. Namun sayang, sudah berpuluh kali saya ke sana penjual cilor tidak ada terus. Mau bertanya ke penjual cilok goreng di dekat sana, rasanya kurang etis; mencari yang tak ada, sedangkan yang ada tak digubris. Saya mulai patah hati. Meski cilor Griya Antapani bukan cinta pertama cilor saya, tetapi saya bertekad untuk menjadikannya cinta terakhir saya pada cilor.

Suatu ketika, di perbatasan Antapani-Kiaracondong, saya menemukan penjual cilor lagi. Walaupun harga sama, kenikmatannya berbeda. Iya telurnya tebal, iya pakai mayonaise, namun ciloknya liat, saya sampai pegal mengunyah. Mana penjualnya mengkhianati kesetiaan pada cilor; ia menjual produk oriflam* juga! Segala menawarkan kepada saya, ‘saya tak pakai begituan, biasa pakai sabun colek dan saripohaci.’ tegas saya.

Hari selanjutnya saya mengabaikan cilor perbatasan itu. Jujur saja, saya masih memiliki cinta yang penuh pada cilor Griya Antapani. Namun hati saya terlanjur patah. Sekarang saya sedang menyibukkan diri untuk meng-yaudahsih-kan patah hati saya. Sembari berharap bertemu dengan cilor yang akan saya tumpahi dengan ketulusan mencintai.

Ini patah hati ter-yaudahsih saya. Kamu punya cerita yang sejenis?

Ketika Al-Qur'an Menyinggung Soal Pakaian 'Busui-Friendly'

Busui-friendly? Makhluk apakah itu? Untuk yang sudah pernah menyusui pasti sudah tak asing lagi dengan istilah tersebut. Mbak, Teteh, Kakak, yang suka belanja busana secara online juga pasti sudah terbiasa membaca istilah ini dalam deskripsi produk dagangan. Namun, barangkali ada yang belum tahu, mungkin Bapak atau Abang yang sedang baca tulisan ini tak familiar dengan istilah itu, saya jelaskan terlebih dahulu, ya. Busui adalah singkatan dari Ibu menyusui, sedangkan pakaian busui-friendly adalah pakaian yang bersahabat alias ramah bagi ibu menyusui. Ciri khas pakaian busui-friendly adalah memiliki kancing atau resleting di bagian dada. Dengannya, Ibu akan mudah untuk menyusui anaknya. Tak heran jika pakaian busui-friendly dapat disebut sebagai kebutuhan pokok bagi seorang Ibu. Di antara sekian banyak hal yang mesti dipersiapkan para Ibu agar sukses menyusui, pakaian ini tak boleh ketinggalan.

Lalu, apa persoalan pakaian ini? Apa hubungannya dengan Al-Qur'anul Kariim?

Dalam Quran surat Al-Baqarah ayat 233, Allah berfirman, yang artinya:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi rizqi dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah menderita karena anaknya. Dan ahli warisnya pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Ayat di atas sering digunakan sebagai dasar anjuran untuk menyempurnakan penyusuan hingga dua tahun. Namun, bukan hanya itu. Ayat di atas sebenarnya juga menggambarkan kondisi fisik dan psikologis, juga pembagian peran Ibu dan Ayah yang tengah berjibaku dengan kewajiban membesarkan bayinya.

Memperhatikan Kebutuhan Ibu Menyusui

Perhatikan bagian, 

Dan kewajiban ayah memberi rizqi dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.”

Kata “rizqi” oleh sebagian ulama diartikan sebagai “makan”. Kita tahu bahwa untuk menghasilkan ASI yang berkualitas dan banyak, seorang Ibu mesti mengonsumsi makanan yang bergizi tinggi, seperti sayuran hijau, daging, serta buah-buahan, dan makanan yang memicu munculnya mood positif (tenang dan bahagia) seperti cokelat dan pisang. Makanan bergizi tinggi penting untuk kualitas ASI yang bagus. Sementara makanan pemicu mood positif penting untuk kelancaran ASI, sebab produksi ASI akan bergantung pada suasana hati/mood Ibu, jika Ibu tenang, bahagia, lewat prosedur hormonal, insya Allah produksi ASI akan berlimpah.

Meski demikian, kata rizqi juga secara umum berarti nafkah. Artinya, bukan hanya makanan. Bisa juga termasuk : Terpenuhinya kebutuhan akan rasa aman dan nyaman (misalnya terkait tempat tinggal dan kendaraan), kebutuhan akan kesehatan, dan lain lain.  Dan kewajiban tersebut dibebankan kepada Ayah. Artinya, persoalan menyusui pada hakikatnya bukan hanya tanggung jawab Ibu saja. Alquran secara gamblang menerangkan bahwa Ayah pun punya peran dalam menyukseskan pemberian ASI.

Selain itu, yang menarik, selain memberi rizqi/makanan/nafkah, dalam ayat di atas Ayah juga diwajibkan untuk memberikan pakaian. Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa mesti pakaian? Mengapa pakaian disebutkan secara gamblang? Dan pakaian apa yang dimaksud?

Keep reading

7 Jenis Diet untuk Turunkan Berat Badan

Usaha menurunkan berat badang memang tidak pernah mudah. Beberapa metode diet populer belakangan ini banyak dikembangkan dan bisa dicoba untuk mendapatkan berat badan yang sehat.

1. Atkins Diet🍳

Diet yang memperbolehkan mengonsumsi lemak dan protein, seperti daging merah, ayam, bebek, telur, keju, dan mentega, tapi membatasi karbohidrat, seperti nasi, jagung, roti, kentang, ubi, singkong, dan talas.

Plus:  Dapat menurunkan berat badan dengan cepat, tanpa rasa lapar, tetapi tetap berenergi.

Minus: Bila dilakukan dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan hati. Selain itu, dapat meningkatkan risiko penyakit hipertensi, jantung koroner, stroke, dan kanker usus besar karena kurangnya asupan serat.

2. The South Beach Diet🍶

Diet ini menganut pola makan tinggi protein, membatasi lemak jenuh, dan bebas mengonsumsi karbohidrat kompleks.

Plus: Membantu melangsingkan tubuh tanpa rasa lapar, menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh, mengontrol gula darah dalam tubuh, dan dapat mencegah timbulnya penyakit jantung.

Minus: Mayoritas makanan yang boleh dikonsumsi berasal dari daging dan dairy product, sehingga hanya ada sedikit pilihan bagi yang tidak suka susu dan produk olahan.

3. Zona Diet🍇

Diet yang mengombinasikan asupan nutrisi yang terdiri dari 40% karbohidrat, 30% protein, dan 30% lemak dari total kalori secara menyeluruh.

Plus: Dapat membantu menurunkan berat badan secara efektif 1,5 kilogram dalam waktu satu minggu dan membuat kadar insulin dalam darah tetap terkontrol.

Minus: Selain perhitungan komposisinya yang cukup rumit, jumlah karbohidrat yang hanya 40% sebenarnya tidak cukup jika memiliki aktivitas padat sehari-hari sehingga menyebabkan cepat lelah.

4. Rawfood Diet🌽

Diet tinggi buah dan sayur dan hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan mentah atau setengah matang. Makanan tidak dimasak matang untuk menghindari hilangnya vitamin dan zat lain yang bermanfaat bagi tubuh.

Plus: Metode diet ini sekaligus dapat memperbaiki tampilan kulit, karena vitamin yang terserap dalam tubuh lebih banyak.

Minus: Kelemahan diet ini, jika diterapkan di Indonesia, adalah masih banyaknya penggunaan pestisida dan keamanan bahan baku yang perlu lebih dijaga kualitasnya.

5. Bloodtype Diet🍱

Diet sesuai dengan keistimewaan golongan darah. Golongan A dianjurkan sebagai vegan, karena cenderung memiliki risiko kardiovaskular; golongan B dapat mengonsumsi beragam makanan terutama olahan susu, daging, dan ikan; golongan AB merupakan pola makan gabungan golongan darah A dan B; serta golongan darah O dianjurkan mengonsumsi protein tinggi dan rendah karbohidrat karena cenderung lebih cepat mengalami kenaikan berat badan.

Plus: Kondisi emosi stabil, mudah mengurangi stes, dan mengembalikan ritme tubuh secara alami.

Minus: Diet ini masih banyak memerlukan studi ilmiah, karena banyak pro kontra di dalamnya.

6. The Cabbage Soup Diet🥗

Diet dengan hanya mengonsumsi sup kol selama tujuh hari berturut-turut dan makanan rendah karbohidrat kompleks, protein, dan lemak.

Plus: Sangat cepat menurunkan berat badan dibanding diet lainnya.

Minus: Diet ini cepat menimbulkan rasa lapar. Asupan kalori yang masuk sangat rendah, sehingga dapat terjadi defisiensi vitamin dan mineral, dapat menimbulkan efek samping lemas, sakit kepala, menurunnya konsentrasi, dan perut kembung. Jika ingin menjalani diet ini sangat dianjurkan untuk mengonsumi tambahan suplemen multivitamin dan mineral.

7. The Sugar Buster Diet🍧

Diet dengan mengonsumsi karbohidrat kompleks. Asupan makanan seperti ini akan menyebabkan rasa cepat kenyang.

Plus: Mampu menurunkan berat badan dengan cepat.

Minus: Diet ini sebenarnya adalah diet rendah kalori yang tidak seimbang. Jika melakukannya dalam waktu lama, tubuh akan menjadi kurang berenergi dan terasa lemas.

🙄Sebelum memilih diet mana yang akan diterapkan, tetap pastikan bahwa berat badan kita memang lebih besar dari normal. Selain itu lebih baik lagi jika diet didampingi oleh ahli gizi. #Selasasehat selanjutnya akan membahas tentang diet karena penyakit. Semoga bermanfaat.

📘Sumber: www(dot)herworld(dot)com

*🌷SUPERMOM’s NOTE🌷*
Edisi #Selasasehat 09 Mei 2017

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
❤ Bincang Asik ala Supermom Wannabe (BIAS) #3 hadir kembali dengan tema *Komunikasi Efektif Suami Istri*. Cek info selengkapnya di sosial media kami ya..
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
💌Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com
💌 Fanpage FB: Supermom Wannabe
💌 Twitter & Instagram: @supermom_w
💌 Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
💌 WhatsApp: +6285725105272

entrepreneur

dulu, gue pernah ngerasa mangkel banget sama Thomas Alfa Edison gara-gara dia mendapat paten dan uang dari teknologi yang sebenarnya dikembangkan oleh Nikola Tesla. Tapi pas gue gedhe, gue mulai mikir. Nikola Tesla adalah peneliti yang pure ingin mendedikasikan dirinya untuk dunia penelitian. Tesla tidak memiliki kualitas sebagai bisnisman. Mungkin saja, tanpa Edison, karya Tesla tidak akan bisa kita nikmati. Yaa meskipun Edison tetap menyebalkan bagi saya.

Entrepreneur sebenarnya bukan hanya tentang bagaimana kita menghasilkan uang. Tapi juga tentang bagaimana agar produk yang kita desain untuk memberi manfaat kepada ummat dapat terdeliver dengan baik dan bisa sustain pengembangannya. Tanpa mental entrepreneur, apa yang kita kembangkan di laboratorium hanya akan menjadi paper. Tidak akan pernah menjadi produk yang diproduksi massal dan dapat diakses orang banyak.

gue suka sama kutipan richard branson di bawah ini:


Harta yang baik adalah harta yang berada di tangan orang shalih sehingga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik pula. Selamat belajar berbisnis guys.

Pasar dan Model Bisnis Modal

Pasar, sebagaimana yang dipelajari di bangku kelas satu SMP, adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli serta terjadinya transaksi. Tapi pasar kini tidak lagi bisa menjalani perannya seperti dahulu.

Pasar menjadi suatu model yang otomatis disukai banyak orang (terutama pembeli) karena di sana terjadi ekuilibrium ‘supply and demand’, yaitu harga optimum. Di pasar, terjadi mekanisme penentuan harga yang menghindarkan terjadinya monopoli yang merugikan pembeli dan pedagang kecil.

Oh ya, kenapa seorang ibu memilih membeli sekilo telor di pasar dibandingkan dengan di toko dekat rumah? Betul, karena harganya. Ada alasan lain? Ya, karena ada beberapa penjual di pasar sehingga ibu bisa membandingkan harga telor.

Dewasa ini, manusia telah enggan ke pasar, di antaranya karena infrastruktur pasar yang tidak senyaman 'department store’ (DS), pilihan barang tidak banyak, dan karena faktor jarak (baca: kemalasan).

Dua faktor pertama yang disebutkan di atas telah ditangkal oleh DS. Dengan modal yang besar, DS bisa menyuguhkan lebih banyak pilihan dalam ruangan yang berpendingin dan berpencahayaan cukup. Pembeli dilayani seperti raja oleh para 'pramusaji’.

Tapi, rasa-rasanya para pembeli tidak lagi menjadi rasional setelah dibuai dengan banyaknya pilihan dan kenyamanan ruangan. Untuk tempat yang nyaman dan beberapa pegawai yang melayani satu pembeli, tentu ada biaya tambahan yang harus dimasukkan dalam modal barang. Harga barang menjadi lebih mahal, bukan? Dan pastinya biaya untuk segala tambahan kemudahan ini dibebankan kepada pembeli–pada 'price tag’ barang.

Pasar sejatinya telah menjadi tempat yang optimal dalam meminimalisir biaya yang tak perlu. Tempat secukupnya. 1-2 pramuniaga. Cukup sudah.

Tapi toh manusia dewasa ini agak kurang rasional. Hal ini membuat uang menjadi menurun nilai tukarnya. 250 ribu yang harusnya bisa ditukar dengan tiga bahkan empat potong baju di pasar, harus rela ditukar dengan dua potong baju saja di DS. Yang untung siapa? Pemilik DS yang sejatinya sudah kaya. Fenomena DS akan mengayakan yang kaya dan membuat pedagang biasa di pasar kekurangan pengunjung. Kemakmuran kurang luas tersebar.

Faktor berikutnya adalah faktor kemalasan. Manusia itu malas tapi ingin cepat kehendaknya dipenuhi. Inilah sifat manusia yang ditangkap oleh 'convenient store’ (CS) menjadi peluang margin yang tidak sedikit. Sebotol air kemasan di CS bisa memberikan keuntungan margin 1000 sampai 2000 rupiah dibandingkan dengan membeli di warung biasa. Itu berapa persen dari harga? :))

Manusia mudah lupa benar kalau harga barang di CS itu tidak akan lebih murah–kecuali promo produk baru atau penghabisan produk lama–dibandingkan harga toko kelontong biasa, apalagi harga di pasar.

Jika pemerintah tidak mengatur mengenai perijinan membuat usaha yang secara spesifik menggalakkan peramaian pasar–sehingga menghindarkan monopoli dan mengecilkan peran modal dalam sebuah persaingan–maka pemilik modal akan selalu menang. Sehingganya ilmu ekonomi tidak lagi dipakai untuk mencapai harga ekuilibrium tapi cukup memuaskan penjual yang pintar dan pembeli yang malas saja.

Selamat berpikir terus dan mari belanja di pasar!

Katanya tenaga surya

Hari ini ane mendengar berita tentang sebuah perlombaan dunia yang akan diikuti oleh sekelompok mahasiswa asal Surabaya. Dari cuplikan wawancara yang ane liat, mereka bangga betul bahwa mereka menjadi satu - satunya peserta yang mewakili asia. Ya. Lomba bertemakan teknologi boat yang menggunakan tenaga matahari katanya. Ane sedikit gak setuju, sebenernya bener - bener gak setuju sih. Apanya yang tenaga matahari. Pernah juga beberapa tahun lalu, waktu ane masih di asrama, pernah baca koran yang salah satu judul beritanya adalah “ Mahasiswa Indonesia Menciptakan Mobil Tenaga Surya”. Aduh, waktu itu ane masih duduk di bangku satu SMA dan ane dulu posisinya jurusan IPS, jadi sebenernya gak punya basic buat ngomentari itu … Tapi lagi - lagi ane bisa bilang. Apanya yang menciptakan ?

Sedikit berbagi nih soal ilmu pengetahuan, ya walaupun sedikit. Gak ada itu yang namanya mobil tenaga surya atau boat tenaga surya. Semua itu tenaga listrik yang ngecasnya pake tenaga surya, apalagi dikatakan menemukan. Sumpah, buat bikin panel yang menerima tenaga surya Indonesia aja belom bisa bikin, padahal di negara berkembang barang kek gitu udah jadi produk rumahan, dan kita masih ngimport lho. Kek gini mau dikatakan menemukan ? :D. Kalo bener mereka menjadi satu - satunya wakil dari asia, seharusnya mereka mikir bukan bangga, jangan - jangan itu lombanya anak kecil.

Yang bener itu adalah, mungkin merakit sebuah mobil yang digerakan oleh dinamo dan menggunakan energi listrik yang dicas dengan panel surya, ITU. Maaf, bukan ane mengkritik atau menjelekan karena ane sendiripun belum bisa bikin apa - apa yang bermanfaat, tapi apa dengan ane mengatakan kebenaran itu harus menjadi musuhmu. Hahaha, kata - kata yang sering dikutip sama Prof JE Sahetapy.

Maaf nih, karena tulisan ini lebih ke gak ada manfaatnya dan tidak mendidik, tapi bolehlah nulis apa yang ada dipikiran kita masing - masing kan.

24/04/2017 07.15 malam

Jombang - Tangsel

Jangan Pernah Menyangka Bahwa Istiqomahmu dan Ketegaranmu Merupakan Produk Murni Keberhasilanmu

👤 Dr. Firanda Andirja

Jangan pernah menyangka bahwa istiqomahmu dan ketegaranmu merupakan produk murni keberhasilanmu dan ketaatanmu, sesungguhnya Allah telah berkata kepada NabiNya :

وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا
Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (Al-Isroo’ : 74)

Ini pernyataan Allah tentang Nabi, bagaimana lagi dengan dirimu?

Tatkala Allah memilihmu untuk menempuh jalan hidayah, bukanlah karena engkau sosok spesial karena ketaatanmu, akan tetapi karena rahmat Allah yang meliputimu. Bisa saja Allah mencabut rahmatNya darimu kapan saja Allah kehendaki.

Karenanya janganlah pernah bangga dan terpedaya oleh amalan dan ketaatanmu, dan jangan pernah pula merendahkan orang yang tersesat…,
karena kalau bukan rahmat dan kasih sayang Allah kepadamu, maka bisa jadi engkaulah yang berada di posisi orang yang tersesat tersebut.

Nebeng Nama

Kepikiran ini pas baca instastory-nya Ayik. Ceritanya Ayik lagi cerita tentang temennya yang abis jadi korban plagiat.

Saya bukan orang yang kerja di industri kreatif sih ya, yang dapet duitnya dari ide, jadi sebenernya saya gak paham-paham banget gimana rasanya digituin. Tapi sebenernya saya pernah pake hasil desain orang untuk diwujudkan jadi produk nyata pas jaman TA dulu. Sebenernya agak gak enak juga sih, mungkin maksud bapaknha kasih desain karna saya ini mau pake jasanya mereka. Tapi berhubung budget yang gak cukup, saya nyerah make Beliau even udah motoran jauh-jauh ke Gresik.

Belakangan pas punya temen yang kerja di bidang desain jadi tau kalo yang macem gini ini nyebelin parah. Belum lagi desainnya ini detail banget. Gambar rangka dalamnya itu ada semua, size-nya juga dipasin sama realnua gimana. Jadi pas eksekusinya mudah. Intinya, saya agak ngerasa bersalah even abis itu agak bodo amat juga karna gak punya duit. Maaf pak. Seriusan.

Pas kuliah S2 saya baru ngerasain susahnya nulis. Buat bikin tulisan itu ternyata butuh riset yang bikin berdarah-darah. Butuh data yang ngambilnya juga gak semudah membalikkan telapak tangan. Itu butuh pemikiran, riset, perenungan, kemampian merangkai kata, dan tentunya pertolongan Allah. Semuanya dilakuin lah, ya usahanya, ya doanya. Kemudian pas di tempat kerja, kebetulan saya kuliah sambil ngajar di kampus swasta, ada bapak yang bilang gini.

“Ya yang muda-muda bikin aja jurnal ilmiah trus nama pertamanya pake yang punya jabatan fungsional. Trus ntar dibayar. Jadi win-win solution kan? Kamu juga dapet nama plus duit, yang punya jafung tadi dapet point. Istilahnya point dan koin.”

“Kok enak pak? Bikin jurnal itu susah lo pak. Bisa-bisanya orang yang gak bantuin sama sekali trus jadi nama pertama?”

Saya emosi sesungguhnya. Enak aja, mentang-mentang situ senior bisa seenaknya sendiri. Tapi kemudian saya sadari kalo yang model gini ini banyak. Istilahnya penjahit.

Jadi emang ada orang-orang yang suka bikinin orang lain jurnal buat dapet bayaran, trus dia rela jadi nama kesekian. Padahal ya, nama kedua, dst kadang agak gak diperhitungkan. Ini belum lagi dengan konsekuensi gak terpetakan dengan baik penelitiannya.

Saya belum sanggup sih nurunin ego sampek segitunya demi duit. Merelakan karya sendiri yang dibikin dengan berdarah-darah demi kesuksesan orang lain. Kemudian saya yang keringetan, orang itu yang haha hihi menikmati kesuksesan yang gak diperjuangkan sama sekali. Iya sih, gak semuanya request tanpa ide. Ada juga beberapa yang request dengan tema. Tapi kan sama aja, yang berdarah-darah juga siapa gitu kan. Saya juga gak ada rencana kayak gitu. Bagi saya, ini pembodohan. Kalo mau, saya ajarin, saya tuntun. Tapi jangan harap saya kerjain semuanya.

(Tantangan) Perempuan Zaman Sekarang

Hal yang seringkali menjadi berat untuk saya lakukan adalah meeting soal pekerjaan di akhir pekan. Entahlah, mungkin karena biasanya akhir pekan adalah jadwal saya untuk hal-hal di luar pekerjaan. Tapi, sejauh yang saya alami, ketika saya ikhlas merelakan akhir pekan untuk datang ke kantor, selalu ada saja hikmah yang bisa diambil. Seperti sore ini, ketika saya bertemu dengan rekan kerja yang usianya beberapa tahun lebih muda daripada saya.

Kiranya, tak perlulah saya menyebutkan nama, yang jelas kami sudah sering bekerja bersama sejak sekitar 5 tahun yang lalu. Sekarang, disamping mengurusi start up yang sedang dirintisnya, ia juga sedang sibuk mengerjakan tugas akhir demi mengejar wisuda dan gelar Sarjana Desain di tahun depan.

“Dek, gimana skripsimu? Lagi penelitian tentang apa?”
“Hahaha, judulku agak berat teh. Aku lagi penasaran aja kenapa sih banyak brand iklan yang sekarang ini pakai perempuan berhijab sebagai modelnya. Soalnya, setahuku, perempuan diperintahkan untuk menjaga dirinya. Ini ternyata bukan soal perempuan yang dieksploitasi oleh si empunya brand. Sebaliknya, bagiku, sekarang perempuan terkesan mengeksploitasi dirinya sendiri dengan gemar memajang foto selfie, bangga jadi endorser dan bahkan bercita-cita ingin jadi model iklan.”

Sejujurnya, kalimat-kalimat yang mengalir dari mulutnya itu membuat saya berpikir panjang dan berkaca pada fenomena sekarang ini. Jika kita lihat, memang banyak sekali kejadian atau kondisi dimana kecantikan perempuan seolah menjadi modal utama branding dan marketing suatu produk. Satu hal yang benar-benar membuat saya tersentuh hatinya adalah kalimat rekan kerja saya itu ketika ia mengatakan, “Sekarang perempuan terkesan mengeksploitasi dirinya sendiri …” Astagfirullah. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Di era digital dengan perkembangan zaman yang terus semakin maju setiap harinya, tantangan perempuan dalam menjaga dirinya ternyata juga semakin berat. Ujiannya sekarang bukan lagi tentang bagaimana caranya agar diperbolehkan berjilbab di tempat umum, tapi lebih kepada bagaimana caranya tetap menjaga kehormatan diri dan jilbab yang digunakan di tengah gempuran zaman.

Sekarang, rasanya tidak mudah menahan diri untuk tetap tidak memperlihatkan kecantikan wajah diantara teman-teman seusia yang gemar memajang foto selfienya di media sosial. Tidak mudah untuk memilih ta'aruf ketika teman-teman sepermainan memamerkan pacarnya satu sama lain. Tidak mudah untuk tetap menjaga hati di tengah banyak orang yang mengumbar kisah soal romansa, cinta dan perasaan. Ah memang, tidak mudah menjadi perempuan di zaman sekarang, sebab kini kita hidup di tengah zaman dimana ada nilai moral yang bergeser, rasa malu yang entah bagaimana semakin hilang dan harga diri yang bisa dengan mudahnya dipertaruhkan. Mengerikan!

Bagaimanapun, semoga kita senantiasa menjadi perempuan yang sadar posisi dan peran di hadapan-Nya, agar kita tidak dengan mudahnya memperlihatkan perilaku-perilaku tak bernilai. Allah, semoga Engkau menjaga hatiku dan perempuan-perempuan di sekitarku, kembalikanlah kami selalu ke jalan-Mu.

Meluruhkan Dosa-dosa
  • A : Kamu tahu salah satu hal yang kebanyakan susah dilakukan buat wanita kekinian zaman sekarang?
  • B : (geleng-geleng) apa?
  • A : Wudhlu. Kebanyakan wanita zaman sekarang susah dawamul wudhu. memanjangkan wudhunya sepanjang hari. mengistiqomahkan wudhunya. Sebab mereka berpikir kalau kecantikan fisik zaman sekarang itu sangat penting. katanya "namanya juga perempuan, ga afdhol kalo nggak pake ini itu bla bla bla"
  • B : (diam, dengerin)
  • A : mereka sibuk dengan pelembab mereka. bb cream. sibuk dengan lukisan alisnya. sibuk dengan lipstiknya. sibuk dengan maskaranya. sayang kan, abis dandan cantik-cantik, terus ilang gitu aja cuman buat wudhlu? aku menemukan banyak yang seperti itu. banyak. yang enggak juga banyak sih. tapi yang tipe seperti itu lebih banyak. setahuku. ini juga argumen doang sih. subjektif. aku nggak tau kalo sampelku kurang objektif. makul teknik sampling kan aku sering bolos, jadi ga pahampaham amat. hahaha.
  • B : (masih diam, dengerin)
  • A : padahal hakikatnya wudhu itu adalah membersihkan; mensucikan, mempercantik. Ia tidak hanya membersihkan partikel-partikel debu yang menempel menyebar pada anggota-anggota tubuh. Lebih dari itu, wudhu adalah melakukan suatu aktifitas yang tidak dilakukan oleh produk kecantikan manapun.
  • B : Apa?
  • A : Bahwa.... wudhu... meluruhkan.... noda-noda dosa.
  • "Berwudhulah. Maka kegelapan hatimu akan terganti dengan cahaya-cahaya abadi. "
10

Think Different

I am not an Apple Fanboy. But I am for Steve Jobs.

Pagi ini, saya membaca tulisan-tulisan lama dan menemukan satu tulisan tribute saya untuk Steve Jobs.

Tulisan tadi membawa saya kembali menjelajahi sejarah Steve Jobs, dan akhirnya bertemu kembali dengan video campagin Think Different yang dirilis tahun 1997.

Campaign Think Different adalah salah satu campaign marketing terbaik dalam sejarah dunia. Saat itu, campaign ini menandakan kembalinya Steve Jobs ke Apple dan mengembalikan core value yang dibawa perusahaan yang didirikannya.

Bukan dengan menceritakan bagaimana Apple berinovasi, atau bagaimana produk yang mereka ciptakan memiliki teknologi yang tinggi.

Tapi dengan memberikan apresiasi pada mereka yang berpikir berbeda, dan mereka yang mengubah dunia.

So I design this pictures. From one of the best poems I’ve ever read.

To always remind us.

That people who crazy enough to change the world

..are the ones who do.