post modernis

Kebenaran

“Semua adalah relatif” (All is relative) merupakan slogan generasi zaman postmodern di Barat, kata Michael Fackerell, seorang misionaris asal Amerika. Ia bagaikan firman tanpa Tuhan dan sabda tanpa Nabi. Menyerupai Undang-undang, tapi tanpa penguasa. Tepatnya doktrin ideologis, tapi tanpa partai.

Baik buruk, salah benar, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka. Artinya tergantung siapa yang menilainya.

Slogan relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian/trauma para pemikir barat terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat.

“Semua adalah relatif” kemudian menjadi sebuah kerangka berpikir. “Berpikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar”, sebab kebenaran itu relatif. “Jangan terlalu lantang bicara tentang kebenaran, dan jangan menegur kesalahan”, karena kebenaran itu relatif. “Benar bagi Kita belum tentu benar bagi yang lain”, semua adalah relatif. Kalau Kita mengimani sesuatu jangan terlalu yakin keimanan Kita benar, iman orang lain mungkin juga benar. Intinya semua diarahkan agar tidak merasa pasti tentang kebenaran.

Jadi, “merasa benar” menjadi seperti makruh dan “merasa benar sendiri” menjadi haram.

Pada tahap kedua. Slogan “Semua adalah relatif” kemudian diarahkan menjadi kesimpulan “Disana tidak ada kebenaran mutlak” (There exists no Absolute Truth). Kebenaran, moralitas, nilai dan lain-lain adalah relatif belaka.

Tapi karena asalnya adalah kebencian maka ia menjadi tidak logis. Kalau kita mengatakan “Tidak ada kebenaran mutlak” maka kata-kata kita itu sendiri sudah mutlak, padahal awalnya dikatakan semuanya relatif. Kalau kita mengatakan “semua adalah relatif” maka pernyataan itu juga relatif dan tidak absolute.

Di negeri liberal seperti Amerika Serikat sendiri, sebanyak 73% kristen misionaris dan 27% ateis dan agnostik percaya kepada kebenaran mutlak. (Laporan William Lobdell di The Los Angeles Times, 2012)

Karena itu doktrin postmo pun berubah: “Kita boleh percaya pada yang absolute asal tidak mencoba memaksakan kepercayaan Kita pada orang lain”. Artinya tidak ada siapapun yang boleh menyalahkan siapa dan melarang siapa.

Tapi pernyataan ini sendiri telah melarang orang lain. Bagi kalangan Khatolik di Barat, ini adalah sikap pengecut karena tidak berani mengunggakpan yang benar dan salah bahkan merupakan sikap hipokrit. Bagi umat Islam sendiri, pernyataan tersebut menghapuskan konsep Amar ma’ruf nahi munkar.

Pada tahap ketiga. Slogan “semua adalah relatif” pun menemukan alasan baru “Yang absolute hanyalah Tuhan”. Aromanya seperti Islami, tapi sejatinya malah menjebak. Karena al.quran, hadis, ijtihad akhirnya adalah relatif. Tidak absolute. Sebab semua dihasilkan dalam ruang dan waktu manusia.

Padahal Allah berfirman al-haqq min rabbika (Kebenaran dari Tuhanmu) bukan ‘inda rabbika (Pada Tuhanmu). “Dari Tuhanmu” berarti berasal dari sana dan sudah berada di sini di masa kini dalam ruang dan waktu kehidupan manusia.

Seharusnya, menurut Thomas F Wall, penulis buku Thinking Critically About Philosophical Problem, menyatakan percaya pada Tuhan yang mutlak berarti percaya bahwa nilai-nilai moral manusia pun berasal dari Tuhan. Jadi, ketika kita mengatakan percaya Tuhan, bahwa Tuhan absolute, maka satu paket dengan nilai-nilai yang diturunkan Tuhan.

Review Artikel “Kebenaran” karya Hamid Fahmy Zarkasyi