polris

Belajar Dari Pensiunnya Bapak

Tiga bulan lagi Bapak saya akan pensiun. Selama ini,saya cukup terharu (sedih sebenarnya) karena Bapak tidak pernah menjadi pejabat mentereng seperti orang lain. Bukan karena saya ingin bangga, bukan. Tapi lebih kepada saya ingin Bapak bangga karena memiliki karir yang tinggi (tinggi seperti ekspektasi saya).

Seminggu lalu Bapak mengirim SMS, isinya sederhana, memberi tahu bahwa beliau telah dilantik menjadi perwira. O ya, Bapak saya seorang anggota POLRI, bertugas sebagai staff keuangan, satu tingkat di bawah kepala bagian. Bapak saya tidak pernah bisa menjadi kepala bagian, karena bukan perwira. Ketika dia menjadi perwira, masa pensiunnya segera datang beberapa bulan lagi. Tapi syukur juga, karena Bapak pangkatnya rendah, saya jadi bisa kuliah murah di ITB dulu. 

Candaan saya dengan Bapak begini, “halah Pak, gak akan ada yang tanya Bapak berapa lama jadi perwira, yang penting Bapak pensiun sebagai perwira.” 

Ketika saya bermasalah di tempat kerja beberapa tahun lalu dan akhirnya resign, Bapak menelepon saya. Beliau berpesan, “meski tinggal sebulan, apapun yang terjadi di sana, kamu harus tetap mengerjakan pekerjaanmu dengan maksimal, jangan terpengaruh. Kerjakan sebaik mungkin, tinggalkanlah kesan baik, tuntaskan.” 

Sebenarnya, tanpa Bapak berpesan itupun, saya sudah melakukan itu. Bahkan pernah di tempat sebelumnya, hari terakhir bekerja saya masih lembur di pabrik dan menemani tamu hingga pukul 12 malam. 

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan adik. Saya baru sadar, bahwa sikap saya terhadap pekerjaan adalah hasil dari contoh Bapak dan Ibu. Bapak memang sekali saja berpesan pada saya untuk bekerja sebaik mungkin, namun sedari kecil kami selalu disuguhi pemandangan tentang betapa bertanggungjawabnya Bapak dan Ibu terhadap pekerjaan.

Dulu komputer belum populer, Bapak selalu bawa buku akutansi yang super besar selebar meja, dan menulisinya dengan data - data gaji polisi. Tulisan Bapak sangat rapi, dan beliau selalu lembur setiap akhir bulan hingga tengah malam di rumah. Ibu sering membantu juga. Kata Ibu, setiap akhir bulan penyakit maag Bapak selalu kumat karena stres deadline.

Lucu ceritanya ketika Ibu memberi usul agar Bapak menggunakan komputer. Komentar Bapak waktu itu, “mana bisa, data sebanyak itu dimasukkin ke komputer yang kecil begitu? Buku akutansinya aja super besar gitu.”

Bapak dan Ibu tidak pernah mengurangi kualitas pekerjaan mereka karena kecilnya gaji. Sebelum pemerintahan SBY, gaji guru teramat kecil lah. Gaji polisi masih kecil, haha. Tapi Bapak dan Ibu tidak menjadi kendor dalam bekerja. Barangkali itulah yang membuat saya dan adik punya prinsip yang sama. 

Ada satu hal yang membuat saya akhirnya menyadari bahwa kesedihan saya karena Bapak tidak pernah punya jabatan mentereng itu bodoh. Yaitu ketika adik saya berkata, “Bapak menutup karirnya dengan kesan yang (teramat) baik. Di apel pagi Bapak dipuji - puji karena tidak mengurangi kualitas bekerjanya padahal menjelang pensiun. Di akhir pelantikan perwiranya, Wakapolreslah yang minta berfoto dengan Bapak.”

Suatu hari, atasan Bapak menyekolahkan anaknya dengan biaya yang sangat besar, ratusan juta. Saya berkelakar, “Pak, kok Bapak ga punya duit segitu sih Pak?” Kata Bapak, “Bapak cuma mau hidup tenang. Bapak emang ga punya duit segitu, tapi anak - anak Bapak gak pernah butuh duit segitu untuk masuk kuliah. Kamu dapat beasiswa, adikmu kuliah ya murah. Kalian bisa cari kuliah sendiri, bisa cari kerja sendiri, Bapak ga perlu cariin. Temen - temen Bapak itu, ya repot cariin kuliah anaknya, cariin kerjaan buat anaknya, Bapak gak perlu.”

Di akhir obrolan saya dengan adik, saya menyadari rasa syukur saya bahwa Bapak mengakhiri karirnya dengan cemerlang walaupun tidak berkalang jabatan dan uang. Saya meyakini bahwa integritas Bapak adalah keperwiraan yang sesungguhnya, lepas dari kesalahan - kesalahannya dalam bekerja.

Bapak hanya polisi biasa hingga akhir masa kerjanya. Tapi sebagai laki - laki, dia berhasil membesarkan kami. Alhamdulillah keluarga dalam keadaan diberkahi dalam segala kondisi. Anak dan mantu rukun, rejeki selalu ada entah bagaimana Allah menyampaikannya. Cucu pertama segera lahir. Bapak hanya lulusan SMEA, tapi kedua anaknya minimal sudah sarjana, yang alhamdulillah selalu berada di jalan yang gak melenceng - melenceng amat.

Semoga rezeki yang kami makan melalui Bapak selama ini halalan toyyiban, agar di akhirat tak jadi beban. 


Bandung, 15 September 2017
Untuk Bapak yang sering saya sebelin

Tidak toleran (?)

Tidak semua konsep yang diajarkan oleh agama kita perlu kita bicarakan di depan umum. Ada hal-hal yang perlu kita ajarkan pada anak-anak kita di dalam rumah saja. Seperti perkara haid dan aurot. Saru rasanya kalo kita membicarakan haid dan aurat wanita di forum yang bercampur antara laki-laki dan perempuan. Itulah kenapa dibutuhkan ibu dan ayah yang faham dengan agama agar pemahaman yang paling dasar terselesaikan di rumah. Begitupun tentang konsep kafir dan muslim. Kami diajarkan untuk mengenal batas dua term ini dengan jelas, bukan untuk saling benci, bukan untuk saling olok-olok apalagi untuk jadi satpam surga. Kami juga perlu mengajarkan ini agar anak-anak kami memahami aqidahnya dengan baik dan menjalani agama Islam dengan tenteram tanpa takut syahadatnya batal. Selain itu kami juga perlu mengajarkan hal ini karena ada banyak konsekuensi yang berkaitan dengan term ini. Jadi atas tulisan saya yang direblog teh @jagungrebus dan kak @choqi-isyraqi (karena pas lihat statistik agak kaget…banyak banget yang ngreblog lewat dua kakak ini 😅), saya mohon maaf bila ada temen non muslim yang tersinggung.


Saya hanya berusaha menulis jujur dan sesantun mungkin. Saya sendiri sudah sejak lama menghindari menulis hal-hal demikian di muka publik. Karena bagi saya penjelasan tentang kafir semestinya diselesaikan di madrasah-madrasah kami.

Tapi karena terlanjur banyak orang yang membawa isu ini ke ranah publik, ummat ini menjadi punya pekerjaan rumah untuk mengkomunikasikan perkara toleransi dengan baik. Tanpa mendegradasi aqidah, tanpa menyakiti saudara sebangsa yang aqidahnya beda. Kebanyakan ummat ini kaget dengan pekerjaan rumah ini. Maka reaksinya pun bermacam-macam.

Ada yang saking takutnya menyakiti saudara yang berbeda aqidah, maka definisi kafir jadi digeser selunak mungkin hingga nyerempet wilayah aqidah padahal aqidah adalah sesuatu yang butuh ketegasan. Sementara di kutub yang lain, ada yang tidak terima dengan ini sehingga bersuara dengan sangat keras dan lantang menolak pendapat yang pertama. Ditambah dengan era sosmed dimana setiap orang bisa melempar isu secara anonim, isu tentang istilah kafir pun dibumbui dengan makian sehingga hati ummat yang beragama apapun menjadi sakit. Satu alasan kenapa saya yang introvert ini mengganti tumblr dari username littleschwan ke deamahfudz adalah untuk mengurangi anonimitas. Saya ada dan bertanggung jawab atas tulisan saya.

Di sini saya berusaha memberanikan diri untuk menyuarakan bahwa akar kedamaian kita bukanlah dengan merubah definisi-definisi fundamental dalam agama kita. Tetapi bagaimana kita menata adab agar kita bisa berinteraksi dengan semua makhluk dengan akhlak (manner) yang baik. Ini PR besar kita hari ini

Tapi mungkin satu tulisan singkat dalam tumblr kemarin tidak cukup menjawab semua.

Saya dibesarkan di lingkungan homogen dengan pemahaman islam yang bisa dibilang cukup radikal kemudian saya kuliah di tempat yang heterogen baik dari sisi ras ataupun agama.

Tapi dengan pemahaman terhadap istilah kafir yang persis saya tuliskan pada tulisan sebelumnya, tak pernah sekalipun saya menyebut teman kuliah saya “Hai Kafir”. Karena saya memahami bahwa istilah ini untuk konsumsi internal. Bukan untuk dijadikan bahan olok-olok.

Membicarakan toleransi bukan persoalan membaca banyak sekali buku sehingga kita harus terjebak pada menara gading masing-masing. Sebab layaknya adab, toleransi itu masalah perilaku yang harus di latih di dunia nyata. Bukan sekedar teori yang dipromosikan berbusa-busa.

Yang perlu kita lakukan hari ini adalah mengurangi nafsu olok-olok di twitter dan facebook dan kembali ke dunia nyata untuk berbuat kebaikan bersama.

Pribadi seorang muslim tidak serendah yang digambarkan dalam film “Kau adalah aku yang lain” yang menjadi juara sayembara humas polri. Jika ditanya tentang toleransi…..kita tidak perlu definisi berhalaman-halaman. Kita hanya perlu menengok sekitar..

Adakah orang yang bertanya agama kamu apa? Ketika ada orang lain butuh donor darah, ketika ada orang lain butuh biaya sekolah, ketika jual beli dan semua urusan yang berkaitan antar sesama manusia (muamalah) termasuk tolong menolong? Tidak pernah.

Kita hanya terlalu termakan isu di media sosial.

Jadi first of all….saya mohon maaf agar kita bisa sama-sama legowo. Dan barangkali ada temen yang urun rembug perkara isu ini, saya dengan senang hati membaca via inbox atau reply meski ga janji bisa fast response.

Syukran…

Semoga teman-teman Polri, TNI, medis, paramedis, damkar, dishub, supir bus, masinis, pilot dll yg tidak berlebaran diberkahi & diridhoi Allah.
— 

Pramono Mamas

Buat para Ayah, buat para Suami, buat para calon pemimpin yang sedang mencari nafkah, dan buat semua pelayanan masyarakat yang mengorbankan waktu-waktu berkumpul dengan keluarga untuk demi kenyamanan dan kebahagiaan orang lain seperti:

Posko Mudik,
Penjagaan Sholat Ied,
Reporter,
Dokter,
Pengemudi kendaraan bermotor,
Pak Polisi lalu lintas, 
Relawan,
Dan seluruh pihak yang tetap bekerja di malam kemenangan nanti,

Semoga keringatmu menjadi amalan yang tak tergantikan di mata Tuhanmu masing-masing. 
Amin~

>Visit the troll you are in an ambiguous-relationship with

Ursais stood outside stiffly, her face ruddy with brown and her hair bristling. Usually she was so much smoother about this. What kind of excuse could she possibly have for being here when she wasn’t due for another week?

Still, at this point she was too riled and uncomfortable to care, a glint in her brown eyes that was similar to the one that she war when she was closing in on a kill. Her lip was split like she had been biting it.

She raised her fist and did not knock, but pounded on the door of the troll she had an ambiguous relationship with. Currently she’d been flirting a lot, but nothing substantial had arisen, and besides even if she had…

When she really thought about, it was him she wanted.

“POLRrris YOU FUCKERrr, let me fuckin’ IN OR I’M GONNA BUST INTO THIS DAMN HIVE”! She bellowed. Of course, it wasn’t his fault.

But she was totally set on blaming him anyway. That was what he was for.

Orang-orang yang sering menghina PKI itu, pernah memikirkan keluarga ex PKI yang tidak bersalah tapi harus hidup menderita selama puluhan tahun sebab diskriminasi di masyarakat ndak ya? Ehehe, just wondering.
— 

Ibu dan keluarganya menderita sejak kakek yang anggota PKI ditangkap dan hilang entah ke mana. 

Ibu dulu juga hampir tidak bisa menikah dengan bapak yang seorang anggota Polri. Hingga akhirnya diadopsi dan diakui anak kandung oleh sahabat kakek yang bukan PKI. Ibu dulu juga dibenci keluarga bapak, sebab ibu anak seorang anggota PKI. 

Barangkali kalau ibu tahu saya posting semacam ini, dia akan marah. Karena hingga detik ini pun, masih banyak orang (dan ormas-ormas) yang mencurigai keturunan ex PKI akan melakukan pemberontakan.

Beberapa orang juga terlihat ngeri ketika saya dengan blak blakan mengakui bahwa saya cucu PKI. Saya sendiri kadang juga heran, mengapa menganggap hal ini sesuatu yang ringan dan biasa saja mengakuinya secara frontal. 

Beberapa waktu lalu ibu banyak bercerita tentang kawan-kawan kakek yang dibuang di Pulau Buru selama puluhan tahun. Saya merinding dibuatnya, merasa itu sesuatu yang keren. Semacam Pramoedya Ananta Toer begitu, kan keren. Dan berangan-angan, apa kakek juga dibuang ke sana? Tidak semua orang dibuang di Pulau Buru kan? 

Kadang, ketika membicarakan ibu yang terlalu frontal menyuarakan pendapatnya di forum, saya dan adik membuat lelucon. Kami bilang, “maklum, anak anggota PKI. Ya begitu orangnya, beraninya keterlaluan.”

Saya sendiri tidak terlalu mengerti dengan paham PKI. Saya hanya sedih ketika ada orang menghinanya, sebab saya teringat kakek dan nenek saya yang pintar untuk ukuran perempuan desa. Anak-anak mereka (saudara-saudara Ibu), adalah orang - orang yang pekerja keras, tangguh, dan ulet mencari nafkah halal. Juga agamis. Pun sepupu-sepupu saya dari pihak ibu, kebanyakan juga orang-orang yang tangguh.

Saya jadi teringat ketika interview beasiswa LPDP beberapa bulan lalu, saya menunjukkan proposal rencana bisnis saya. Di dalam proposal itu saya melampirkan karya saya dan seorang teman baik berupa totebag bergambar Tan Malaka dan quotes-nya, yang kami jual bebas.

Saat itu si Bapak interviewer bertanya, “kamu tahu tidak, kamu bikin semacam ini, kalo di jaman Soeharto pasti kamu udah hilang.” Saya hanya tertawa dan mengangguk paham. Memang aneh posisi Tan Malaka ini, dianggap sebagai orang PKI, tapi dianggap pembelot oleh PKI. 

Sebuah artikel di koran pernah membahas tentang pengamatannya terhadap keturunan-keturunan PKI. Menurutnya, biasanya mereka orang-orang yang cerdas, karena itu banyak pihak yang waspada. Padahal gak harus gitu juga sih bentuk waspadanya, pake didemo segala, pernah ada rumor tentang ancaman pembantaian segala pada tahun 2014.

Kadang-kadang saya dan ibu tidak paham betul konsekuensi dari tindakan terlalu blak blakan yang kami lakukan. Itu sebabnya sering mendapat masalah. Barangkali kakek yang anggota PKI pun begitu, saya hanya bisa menduga-duga sebab takpernah bertemu.