politikal

I haven’t seen anything about this on Tumblr but today Germany’s chancellor Angela Merkel met Donald Trump for the first time and she asked him to have a picture taken of them shaking hands and he looked the other direction and completely ignored her request, pretending she didn’t say anything at all? How fucking childish can you be to meet one of the world’s most important leaders for the first time and immediately be a stubborn asshole to them and disrespect them? (video)

  • Deutscher Politiker: *schreibt Teile seiner Doktorarbeit ab*
  • Deutscher Politiker: *muss abdanken und traut sich Jahre nicht mehr zurück nach Deutschland*
  • Amerikanischer Politiker: *beschimpft alle möglichen Minderheiten, behandelt Alliierte wie Dreck, erzählt streng geheime Informationen jedem der fragt, und/oder verprügelt Journalisten*
  • Amerikanischer Politiker: *wird in wichtige Position gewählt*
  • Ich: ??¿???????¿¿¿?????¿¿¿??¿??¿¿¿¿???¿¿¿??!
  • Deutschland vor jeder Kommunal-, Landtags-, Senats- und Bundestagswahl, bei der die Gewählten hohen politischen Einfluss haben: Ich geh nicht wählen, meine Stimme zählt eh nicht, da werden sowieso immer die Gleichen gewählt, mimimimimi
  • Deutschland bei der Bundespräsidentenwahl, bei der die gewählte Person hauptsächlich repräsentativ unterwegs ist: WIESO DÜRFEN WIR NICHT WÄHLEN??? DAS IST UNDEMOKRATISCH!!!
Ehe für alle/Wahlen im September: Zur Erinnerung.

Wir sollten alle daran denken.

Wenn die CDU/CSU wieder die meisten stimmen bekommet bedeutet dass 4 weitere  Jahre ohne Ehe Für Alle. Nicht nur scheiße für alle LGBT Personen in Schland sondern auch langsam im internationalen Vergleich unglaublich peinlich.

2001 waren wir noch Vorreiter was LGBT Rechte angeht, inzwischen hängen wir nur noch hinterher, seit die CDU/CSU die Mehrheit in der Regierung hat. 

Ich kann Merkel als Kanzlerin akzeptieren und respektieren, sie macht sich gut, vor allem in der Außenpolitik. Tatsache bleibt aber, dass Merkel nicht die Partei ist und dass an der CDU auch immer das Krebsgeschwür der CSU dranhängt (Herdprämie, Maut (ich erinnere an Merkel’s “Mit mir wird es keine Maut geben!” Versprechen) Seehofer als fanboy von Órban, Putin und Trump), dazu kommt, dass ihre persönliche Meinung zur Ehe für alle auch nicht positiv ist. 

Also bitte, wenn ihr selbst betroffen seit, oder/und euch LGBT Rechte wichtig sind: Geht wählen. 

die Politik - politics

die Wirtschaftspolitik - commercial/economic policy
die Sozialpolitik - social/welfare policy
die Sicherheitspolitik - security/military/defence policy
die Außenpolitik - foreign policy
die Innenpolitik - domestic policy

die Macht - power/force
der Konflikt - conflict
der Frieden - peace
die Freiheit - freedom
die Gleichheit - equality
die Solidarität - solidarity

der Parlamentarismus - parliamentarism
der Sozialismus - socialism
der Kommunismus - communism
der Faschismus - fascism

die Diktatur - dictatorship
die Demokratie - democracy

der Staat - state/country
die Regierung - government
regieren - to govern
der Bürger/die Bürgerin - citizen
der Staatsbürger/die Staatsbürgerin - citizen (of a country)
die Staatsbürgerschaft - citizenship (of a country)
die (Landes)grenze - border

der Bürgermeister/die Bürgermeisterin - mayor
die Botschaft - embassy
der Botschafter/die Botschafterin - ambassador
das Parlament - parliament

die Partei - political party
die Koalition - coalition
der Politiker/die Politikerin - politician

die Wahl - election
der Wahlkreis - constituency
der Wahlkampf - election campaign
die Stimme - vote
stimmen/wählen - to vote
der Wähler/die Wählerin - voter
die Wahlurne - ballot box
das Stimmrecht - right to vote
der Stimmzettel - ballot card
das Wahlergebnis/der Wahlausgang - election result

Mending Kita Temenan Aja :)

Kalo saya cerita tentang pandangan politik saya, apakah kita masih berteman?

Saya serius menanyakan ini karena di otak saya, rasanya jawabannya lebih condong tidak.

Apalagi melihat kenyataan belakangan yang membuat masyarakat semakin terpolarisasi. Mungkin karena sekarang semua orang merasa punya corong suara. Mungkin karena sekarang semua orang merasa punya kekuatan dengan sosial media. Lalu semua orang berisik dengan opininya: sibuk membenarkan diri sendiri dan mencari kesalahan orang-orang yang berada di seberangnya.

Kalo saya cerita pandangan politik saya, mungkin Anda yang tidak sepaham akan kaget. Lalu bilang “lah, gue kira si iqbal sama sama gue”, “Kok si Iqbal goblok sih mikir kayak gitu”, atau bahkan “oh, Iqbal ternyata sedangkal ini”.

Ayo lah. Kita semua mikir kayak gitu kok ketika tahu pandangan politik teman kita. Di kepala kita pasti terbesit suara-suara serupa. Bedanya, ga semuanya diomongin aja.

Hal-hal seperti ini yang bikin saya malas sekali bicara pandangan politik di ranah publik.

Silakan cap saya populis, tapi saya orang yang lebih menghargai pertemanan daripada perbedaan pandangan. Tuduh saya apatis, tapi saya lebih memilih diam daripada berisik lalu kehilangan teman.


Ngomongin masalah ini, saya jadi teringat juga soal hutang piutang. Kasusnya mirip dengan pandangan politik.

Hutang piutang juga salah satu interaksi sosial yang sangat sering kita alami. Dan setelah beberapa kali pengalaman, saya sangat berusaha menghindari yang namanya hutang piutang. Apalagi dengan teman.

Bukannya saya pelit atau gimana. Memberikan pinjaman kepada saudara/teman adalah salah satu cara kita membantu, tapi kalau ujung-ujungnya malah bikin memutus persaudaraan, ya buat apa.

Pernah satu kali ada teman yang ingin meminjam uang. Saya ceritakan semuanya, lalu saya minta untuk bikin semacam surat perjanjian. Simpel, saya hanya mengikuti apa yang diajarkan agama saya. Lalu orang ini menolak karena menurutnya ribet. Lalu saya bilang,

“Men, kita temenan udah lama banget loh. Gue bukan masalah uangnya, gue bisa banget bantu. Gue cuma ga mau duit yang kecil ini merusak pertemanan kita yang ga ternilai harganya”

Saya berani bilang begitu bukan karena saya sombong, tapi belajar dari pengalaman. Tidak sekali dua kali saya meminjamkan uang, lalu yang berhutang hilang entah kemana, tidak ada kabarnya. Atau pernah juga orangnya sih tidak hilang, tapi entah kenapa dia bisa tetap bicara sama saya tapi tidak pernah menyinggung soal hutangnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Dibanding kehilangan uangnya, saya lebih sakit hati karena dibohongi seakan pertemanan kita tidak ada harganya.

Mungkin itulah kenapa, ayat terpanjang di Al-Qur'an adalah syariat tentang hutang. Allah sendiri yang mengatur bagaimana kita sebaiknya bermuamalah dalam hutang piutang. Karena di sini potensi konflik hubungan pertemanan dan kekeluargaan sangat rawan terjadi.


Kembali soal politik. Jadi, saya pilih siapa?

Kadang-kadang rasanya ingin sekali blak-blakan bicara saya pilih siapa, dan kenapa.

Tapi sosial media dan platform chatting adalah tempat yang sangat terbatas untuk berdiskusi dengan kepala terbuka.

Saya takut sekali berdebat dan jadinya malah merusak hubungan dengan teman atau keluarga saya.

Belakangan, saya sendiri keluar dari beberapa grup whatsapp yang semakin tidak kondusif dan tidak relevan dengan tujuan aslinya. Grup yang tadinya hanya ditujukan untuk komunikasi mengenai topik/event tertentu, jadi ajang debat kusir dan broadcast sana sini soal pilihan politik yang bahasannya itu itu lagi.

Saya sendiri bukannya anti politik. Kalo anda ajak saya ngopi, saya bisa cerita pandangan saya.

Tapi ya, balik lagi. Saya tidak tahu seberapa siap kita semua dengan perbedaan pandangan politik. Seberapa dewasa kita menyikapi perbedaan dan tidak memberikan cap sebab-akibat pada pandangan politik dengan hal lain, pandangan keyakinan dan agama misalnya.

Saya mau banget sih suatu saat nanti jadi orang yang vokal membicarakan pandangan politik. Pada level tertentu, saya ingin terjun ke politik praktis. Mungkin tidak sebagai politisi - saya cukup yakin saya tidak tahan dan punya kemampuan untuk itu - tapi sebagai juru bicara atau tim kreatif salah satu kandidat misalnya.

Mungkin dalam waktu dekat. Mungkin juga masih dalam waktu yang lama.
Yang jelas, sekarang sih saya lebih memilih diam saja.

Ya sudahlah jangan dipaksa. Memangnya anda mau saya bicara, ternyata kita berbeda, lalu kita jadi berantem dan anda ga mau lagi ketemu saya?

Sudahlah.

Mending kita temenan aja :)