I haven’t seen anything about this on Tumblr but today Germany’s chancellor Angela Merkel met Donald Trump for the first time and she asked him to have a picture taken of them shaking hands and he looked the other direction and completely ignored her request, pretending she didn’t say anything at all? How fucking childish can you be to meet one of the world’s most important leaders for the first time and immediately be a stubborn asshole to them and disrespect them? (video)

Bagaimana Saya Menyikapi Kebrutalan dan Kriminalisasi Aparat terhadap Aktivis Mahasiswa 20 Oktober Lalu?

Post kali ini agak panjang dan berbeda dengan biasanya. Saya ingin angkat bicara mengenai demonstrasi mahasiswa pada 20 Oktober kemarin yang berujung penganiayaan dan penahanan aktivis mahasiswa dengan status tersangka oleh aparat. Dalam beberapa tahun terakhir mahasiswa melakukan demonstrasi, baru kali ini mendapatkan perlawanan sangat brutal dari pihak aparat. Beredar luas foto korban luka-luka yang dihajar aparat.

Demonstrasi ini dilakukan oleh aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) dimana di dalamnya tergabung BEM-BEM dari berbagai universitas. Mereka mengambil momentum peringatan tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK untuk mengevaluasi dan menyampaikan tuntutan janji-janji kampanye yang belum dipenuhi.

Wildan, koordinator BEM SI, adalah salah satu yang tak luput dari penahanan aparat. Saya kenal Wildan, kami sempat bertemu saat sama-sama menjadi narasumber sebuah acara di Undip. Sepintas, pembawaan Wildan cukup tenang dan bukan tipikal perusuh. Hati saya teriris melihat foto babak belur teman-temannya Wildan sesama aktivis mahasiswa beredar di media sosial. Sontak ramai terjadi perbincangan di kalangan mantan-mantan aktivis mahasiswa. Mulai dari group whatsapp presiden BEM Seluruh Indonesia angkatan saya, sampai group whatsapp presiden BEM Undip lintas generasi. Hingga akhirnya alumni aktivis dari setiap kampus mengeluarkan kecaman dan pernyataan sikapnya.

Buat saya peristiwa ini menarik, dimana tindakan represif aparat telah memancing solidaritas aktivis dan mantan aktivis mahasiwa. Dan dengar-dengar akan ada aksi solidaritas susulan untuk menuntut pembebasan empat orang mahasiswa yang dijadikan tersangka.

Bagaimana pandangan saya?

Ini adalah dinamika dalam negara demokrasi. Siapapun warga negara dijamin haknya untuk mengemukakan pendapat dan dilindungi undang-undang. Masing-masing pihak memiliki kepentingannya masing-masing. Mahasiswa ingin aspirasinya didengarkan dan bertemu langsung dengan presiden. Aparat yang tugasnya menjaga ketertiban ingin semuanya aman, tertib, dan terkendali; aparat tak ingin disemprot atasan karena tak becus menjaga ketertiban. Pada satu titik ekstrim dimana dua-duanya saling bersikeras dengan apa yang mereka perjuangkan, benturan-benturan itu pasti akan terjadi dan tak bisa dielakkan.

Negara kita tidak sedang baik-baik saja

Adalah naif jika ada yang mengatakan bahwa negara kita sedang baik-baik saja. Saya tidak sedang ingin memaparkan data-data yang mendukung premis saya ini. Tapi saya rasa, kamu yang sedang membaca tulisan ini akan sepaham, bahwa Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Kita tak bisa memasrahkan begitu saja nasib bangsa ini kepada seorang sosok yang dipuji-puji media. Bagi saya, banyaknya puja-puji tentang sosok yang sedang berkuasa sekarang ini tak lebih dari propaganda. Karena, janji-janji banyak yang dikhianati dan belum direalisasi. Apakah kamu yakin bahwa semua orang-orang yang berkuasa di pemerintahan adalah orang-orang yang sepenuhnya jujur, bebas dari korupsi dan intrik-intrik politik? Tentu tidak.

Partisipasi sesuai peran masing-masing

Sebagai warga negara harus tetap berpartisipasi dengan usaha yang kita bisa dan peran yang sedang kita jalani. Dulu saat saya menjadi presiden mahasiswa, saya cukup getol bersuara di demonstrasi-demonstrasi jalanan dan media sosial. Sekarang setelah saya menjalani peran yang lain, tentu saya tak lagi berorasi di jalanan, kecuali lingkup demonstrasinya adalah masyarakat umum seperti aksi bela islam 212 kemarin. Bagi mahasiswa, aktivisme dan gerakan adalah adalah salah satu bentuk partisipasi dari sekian banyak partisipasi mahasiswa dalam bentuk yang lain—selain pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Itu kenapa ada satu kementerian sosial-politik yang menggawangi gerakan-gerakan mahasiswa di tengah kementerian bidang yang lain dalam sebuah struktur organisasi BEM.

Bicara soal peran, cukup rumit agaknya. Bagi kamu, mahasiswa yang sama sekali tak pernah terjun dalam diskusi-diskusi dunia gerakan mahasiswa dan sosial-politik, akan sulit mengerti mengapa aktivis-aktivis itu getol sekali menyuarakan. Mengapa tak menggunakan cara lain yang lebih adem dan sopan saja. Bahkan kamu bingung aspirasi siapa yang sebenarnya disuarakan, dan kamu risih karena bagimu demonstrasi tak lebih hanya menyebabkan kemacetan dan rusuh-rusuh seperti yang media kabarkan. Dan lebih tak akan mengerti lagi jika kamu adalah orang yang sangat berkecukupan dan berlatar belakang keluarga yang bukan kalangan menengah ke bawah. Ketika kamu tak pernah menyaksikan atau merasakan susahnya hidup secara langsung, akan sulit bagimu untuk mengerti bagaimana penderitaan itu.

Kenapa demonstrasi selalu di jalanan, bikin macet dan rusuh?

Demonstrasi tentu akan mengambil tempat di jalanan atau tempat-tempat publik yang bisa dilihat banyak orang dan diliput media. Karena memang tujuannya untuk mengambil perhatian: perhatian rezim yang berkuasa dan perhatian masyarakat. Tapi sayang beribu sayang, angin sedang tak bertiup ke arah mahasiswa. Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai masa depan bangsa, dalam mengawal kebijakan, mereka berkali-kali menyurati pemerintah untuk dapat audiensi, tak kunjung terpenuhi. Eskalasi berlanjut: mengadakan demonstrasi jalanan. Apesnya, jalanan kita memang sudah macet dari sananya karena kapasitas jalanan sudah tak mampu menampung jumlah kendaraan di atasnya. Dan tentu, kehadiran massa demonstrasi di jalan akan jadi bulan-bulanan para pengendara kendaraan bermotor. Dan pasti, aparat akan kesal karena menganggap anak-anak muda ini tak lebih dari pembuat masalah yang menambah beban kerja mereka dimana seharusnya mereka bisa santai-santai saja di bawah pohon yang rindang. Media-media tak mau ketinggalan. Kepentingannya adalah bad news is a good news. Maka angle-angel berita yang diangkat ke publik adalah kericuhan, bakar-bakaran, atau dorong-dorongan pagar. Malah ada, massa demonstrasi mahasiswa diminta untuk dorong-dorong pagar agar dapat angle foto yang bagus dan berita yang ‘bagus’. Alhasil, citra gerakan yang didengar masyarakat luas semakin buruk.

Mahasiswa sebagai kontrol dan penyeimbang penguasa, apa maksudnya?

Bagi aktivis mahasiswa, kebohongan dan ketidakadilan penguasa adalah sasaran perlawanan. Mereka ingin menjadi sebagaimana Soekarno dan Hatta yang lantang melawan penjajah sejak masa mudanya. Mereka ingin menjadi Soekarno yang pidato dan pemikirannya pada usia 14 tahun sudah membuat heboh organisasi Jong Java dan penjajah. Atau seperti Hatta yang di masa mahasiswanya sudah memimpin Perhimpunan Indonesia di Belanda dan menggelorakan pergerakan kala itu. Bagi para aktivis, pergerakan dan perlawanan tak pernah mati, dan merupakan warisan turun-temurun bapak-bapak bangsa ini.

Aktivis mahasiswa melihat kekuasaan yang absolut akan selalu cenderung korup. Sekalipun sudah ada pemisahan kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif seperti kata Montesquieu, tetap mahasiswa perlu ambil andil sebagai parlemen jalanan yang menjadi kontrol dan penyeimbang. Siapapun itu yang di tengah pusaran kekuasaan, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, tak akan lepas dari jerat-jerat politik yang penuh intrik dan cenderung korup. Maka, mahasiswa harus tetap hadir dengan suara lantang.

Tapi kan mahasiswa belum lulus, sepintar apa sih mereka mengevaluasi kebijakan pemerintah dan memberikan evaluasi?

Nah, inilah masalahnya. Ada orang yang terlampau skeptis tentang kapasitas mahasiswa dalam mengontrol pemerintah. Ada pula yang terlampau menuntut bahwa mahasiswa harus membawa kajian matang yang disertai analisis dan data-data yang tajam. Pertama, mahasiswa adalah kaum intelektual. Kedua, mahasiswa bukanlah pakar bergelar profesor atau peneliti yang luar biasa lengkap data dan analisisnya. Ketiga, adalah tidak tepat jika terlalu menuntut organisasi dan mahasiswa menjadi organisasi yang sangat mapan dari segi struktur, manajemen, finansial, dan fungsi. Pahamilah bahwa, satu kali periode kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa itu tak lebih dari satu tahun. Periode yang singkat tentunya akan membuat sulit organisasi dan gerakan ini menjadi mapan secara sempurna macam lembaga analis-pengkaji kebijakan profesional—entah apa namanya. Tiga poin ini tak akan pernah dapat titik temu. Maka jalan tengahnya adalah, jangan kekang mahasiswa dengan pemikiran dan pilihannya. Mereka sedang belajar dan berkembang pula. Biarkan mereka berkreasi sesuai dengan kapasitas dan perannya. Akan selalu ada orang yang merasa tak nyaman dengan kesemena-menaan penguasa, yang merasa perlu untuk menjadi oposisi siapapun penguasa di masanya. Pengekangan justru akan semakin mengobarkan api perlawanan. Begitulah wataknya.

Ah, aku gak percaya dengan gerakan-gerakan mahasiswa itu, mereka ditumpangi kepentingan politik!

Yap! Bicara soal tumpang-menumpangi gerakan, dari dulu memang santer yang mengatakan bahwa gerakan dan demonstrasi mahasiswa itu ditumpangi. Sejujurnya saya pun tidak seratus persen menolak opini itu. Kenapa? Karena senior-senior yang dulu adalah aktivis mahasiswa, sekarang telah berganti peran, ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi politikus. Memang ada, beberapa senior nakal yang berusaha menyetir gerakan adik-adiknya. Tapi tunggu dulu, mahasiswa tak sebodoh itu untuk disetir. Saya menyaksikan sendiri, pada masa saya, ada beberapa gerakan yang ditumpangi, tapi lebih banyak yang menjaga idealismenya dan menjaga jarak dengan senior yang ada di lingkaran kekuasaan. Ini pilihan sih, tergantung siapa dan bagaimana pimpinan gerakan mahasiswa yang sedang memimpin. Ini jadi peran kamu selaku sesama mahasiswa untuk bisa mengontrol agar gerakan dari aktivis mahasiswa tak menjadi tumpangan orang-orang jahat. Bukan malah menggembosi gerakan dari dalam dengan caci maki dan tuduhan tanpa bukti, apalagi skeptis akut macam kids jaman now.

Gimana saya gak skeptis? Karena apa yang disampaikan aktivis mahasiswa dalam setiap demonstrasinya adalah kritik-kritik yang menyerang pemerintah. Bahkan tak jarang pernyataan-pernyataannya cukup keras dan berlebihan.

Nah, ini. Kamu perlu mengerti, bahwa jiwa-jiwa muda adalah jiwa-jiwa yang memberontak sebagaimana pada setiap zaman anak-anak muda adalah yang paling getol melawan zona nyaman dan pengekangan. Ruh demonstrasi adalah perlawanan. Kalau bukan untuk melawan kebohongan, kezhaliman, dan ketidakadilan penguasa, maka tak akan ada demonstrasi. Para aktivis berkumpul bukan untuk membuat puja-puji. Kalau untuk puja-puji, tentu namanya bukan aktivis, tapi relawan. Kalau untuk puja-puji, tentu kegiatannya bukan demonstrasi, tapi kampanye. Gerakan mahasiswa menempatkan dirinya tidak satu kubu dengan penguasa, tapi menjadi oposisi yang akan tampil mengoreksi. Tentu tak mudah bagimu untuk menerima hal ini, setidaknya keep calm saja ketika melihat orasi, cuitan, dan komentar lantang teman-temanmu yang aktivis.

Jadi, gimana tanggapan saya terhadap kekerasan dan kriminalisasi yang dilakukan aparat kepada aktivis mahasiswa pada demonstrasi 20 Oktober lalu?

Well, saya menentangnya. Saya mengecam segala bentuk tindakan represif pemerintah terhadap gerakan mahasiswa. Sekalipun ada aturan yang membolehkan aparat mengambil tindakan mulai dari himbauan persuasif sampai pembubaran paksa jika demonstrasi melebihi batas waktu yang ditentukan, saya rasa kekerasan berupa pemukulan sampai kepala pecah dan berdarah itu tak lebih membuat citra aparat menjadi keparat. Bagi saya, kekerasan tak pernah dibenarkan dalam sebuah negara demokrasi, terlebih kepada orang yang menyampaikan pendapat. Kenyataan bahwa di negeri yang mengaku telah meninggalkan otoritarianisme, menyampaikan kritik dan pendapat masih dilawan dengan pentungan dan bogem mentah, membuat saya kembali mempertanyakan demokrasi dan posisi pemerintah kita.

Tindakan represif justru akan semakin mengobarkan api perlawanan. Kriminalisasi justru akan memancing para mahasiswa semakin solid untuk membebaskan rekannya. Berlama-lama menahan para mahasiswa itu justru memperpanjang waktu bagi para mahasiswa untuk berkonsolidasi dan membuat eskalasi gerakan berikutnya. Karena ini sebuah gerakan yang dinamis, maka kita akan sulit memprediksi eskalasi apa yang terjadi berikutnya.

Saya berpikir, mengapa presiden tidak menyempatkan saja untuk menemui para demonstran.

Oh, ya tidak bisa. Keselamatan dan kehormatan presiden dipertaruhkan kalau seperti itu. Kalau ada yang nimpuk batu gimana? Kalau ada yang mencaci-maki gimana?

Oke, saya bisa mengerti. Mengapa tidak menerima beberapa perwakilan mahasiswa untuk masuk ke halaman istana dan bertemu presiden? Perhatikan, bertemu presiden di halaman istana, bukan di dalam istana. Kalau di dalam istana saya bisa prediksi, akan muncul penolakan. Karena mereka tak ingin dianggap berkhianat dengan masuk ke istana yang nyaman, disuguhi makan-minuman, sementara kawan-kawannya berpanas-panasan di jalanan. Setidaknya setelah bertemu presiden, mereka akan melihat penghargaan dan keseriusan presiden menanggapi aspirasi mereka. Setidaknya, ini akan meredam gejolak dan emosi para demonstran. Saya rasa, presiden kita masih orang yang sama dengan yang dicitrakan media sebagai orang yang merakyat, tak pilih-pilih bertemu dengan siapa saja, dan rendah hati itu. Lantas mengapa begitu takut, Pak? Mengapa aparat begitu panik, sampai baku-hantam dan kriminalisasi begitu?

Taufik Aulia Rahmat | Presiden BEM Undip 2014

  • Deutschland vor jeder Kommunal-, Landtags-, Senats- und Bundestagswahl, bei der die Gewählten hohen politischen Einfluss haben: Ich geh nicht wählen, meine Stimme zählt eh nicht, da werden sowieso immer die Gleichen gewählt, mimimimimi
  • Deutschland bei der Bundespräsidentenwahl, bei der die gewählte Person hauptsächlich repräsentativ unterwegs ist: WIESO DÜRFEN WIR NICHT WÄHLEN??? DAS IST UNDEMOKRATISCH!!!
  • Deutscher Politiker: *schreibt Teile seiner Doktorarbeit ab*
  • Deutscher Politiker: *muss abdanken und traut sich Jahre nicht mehr zurück nach Deutschland*
  • Amerikanischer Politiker: *beschimpft alle möglichen Minderheiten, behandelt Alliierte wie Dreck, erzählt streng geheime Informationen jedem der fragt, und/oder verprügelt Journalisten*
  • Amerikanischer Politiker: *wird in wichtige Position gewählt*
  • Ich: ??¿???????¿¿¿?????¿¿¿??¿??¿¿¿¿???¿¿¿??!

Deutschland, was für eine Schande so eine Partei in den Bundestag zu wählen. Uns geht es so gut hier, in diesem Land. Und dann wählt ihr so eine rechtspopulistische, rassistische, fremdenfeindliche Partei. Wieso? Aus Unzufriedenheit? Geht es euch denn so schlecht hier? Wem geht es denn wirklich wegen der Aufnahme von Flüchtlingen in unserem Land beträchtlich schlechter?
Diese Zahlen sind ein Schlag ins Gesicht für unsere Demokratie, unsere Werte. Man sollte doch meinen, dass man im Geschichtsunterricht gelernt hat was vor nicht einmal 100 Jahren in unserem Land geschehen ist. In meinen Augen ist das eine Schande.
Afd - Wähler: Runter von meinem Blog. Rassistische, fremdenfeindliche Menschen möchte ich auf meinem Blog hier nicht begrüßen.