pln37

3

Menyerah?? Mengeluh?? Lihat mereka menempuh berkilo-kilo meter dengan jalan kaki demi bersekolah, melintasi sungai yang arusnya besar, tidak beralas kaki agar sepatu mereka tak rusak. Demi mereka listrik kita harus selalu menyala. Agar malam-malam mereka tidak gulita. Bukan lampu minyak tanah lagi untuk sekedar belajar. Bukankah listrik untuk kehidupan yang lebih baik?? Bukankah kita agen pembangunan itu?? Maka bersyukurlah karena kita-kitalah yang kelak merubah nasib mereka.

Kupang, 22 Januari 2013

Mereka Yang Tak Terlihat

Perjalanan 8 hari menyusuri jaringan listrik di kupang menghantarkanku pada kekaguman yang luar biasa. Kekaguman kepada keramahtamahan orang-orang disini, kekaguman pada alamnya yang masih perawan, dan kekaguman pada semangat masyarakatnya. 

Yang paling berbekas bagiku ialah pertemuan dengan Pak Agus. Pegawai outsourcing yang mengabdikan dirinya lebih 12 tahun untuk PLN. Pegawai yang dibayar tak lebih besar dari jasa-jasanya. Pak Agus ialah pegawai di kantor jaga Baun (sub rayon PLN). Dia adalah salah satu dari 2 pegawai lainnya yang berstatus sama yaitu outsourcing. 

Dia sosok yang sederhana dan humoris. Kita selalu dihibur oleh celetukanya sepanjang perjalanan. Pak Agus menemani kita menyusuri daerah “kekuasaannya” itu. Daerah yang sudah dia tau setiap sudutnya walau dalam kegelapan dimalam hari. Dia menemani kami memeriksa jaringan selama beberapa hari, Pak Agus “tour guide” terbaik kami.

Sepanjang perjalanan kami dipandu dan ditunjukkan setiap sudut jaringan yang sering gangguan, sembari sekali-sekali diiringi oleh cerita-cerita hidup beliau. Dan mungkin aku jauh lebih tertarik mendengar dongeng dan kisah beliau tentang warga, kehidupan disini dan pengalamanya ketimbang berapa banyak tiang dan gardu yang kami punya disini

Disela perjalanan kami dihibur oleh kekuasaan Allah yang luar biasa. Laut yang biru dan pegunungan yang hijau menjadi suntikan semangat dan tenaga diantara getaran mobil yang kita naiki melewati jalan bebatuan yang sempit, menerobos sungai yang besar.

Aku tertegun dan kagum ketika beliau bercerita bagaimana ia harus bekerja di sub rayon bertiga bersama anak buahnya yang lain. Mereka harus menangani 3000 rekening pelanggan, laporan gangguan, pelanggan menunggak dan semua kerja yang dilakukan di Rayon. Jika di rayon itu dilakukan oleh puluhan orang sedangkan disini hanya 3 orang (bahkan ini jumlah pegawai terbanyak di sub rayon yang biasanya hanya 2). Setiap hari beliau harus bergantian berjaga di kantor sedangkan yang lain kelapangan untuk mengatasi gangguan agar listrik tetap nyala. 

Mereka harus terus menjaga 10 desa agar tidak gelap gulita. Mereka harus selalu siap ketika gangguan menerpa dan tak kenal siang malam maka hutan yang gelap dan jalan yang rusak sudah menjadi kewajiban untuk ditempuh. Dalam ceritanya terselip bahwa ia terpaksa harus mendorong motor buntutnya saat motor yang ditunggangi mulai ngambek karena diajak melintas alam yang tak ramah, tekadang ia harus meninggalkan motor tersebut dijalan karena sudah tak sanggup mendorongnya. Berjalan berkilo-kilo meter untuk kembali ke kantor jaga.

Bahkan pengalamannya harus berurusan dengan pelanggan. Saat tagihan rekening tak dibayar maka beliau terpaksa terjun kelapangan. Bukan cuma 1 atau 2 pelanggan. Nyaris sampai 200 pelanggan tiap bulannya yang telat membayar. Bukan hal mudah untuk berbicara dengan pelanggan. Anda harus bersikap ramah tetapi tetap marah begitu kata beliau. Kalau anda tidak sopan dan marah-marah, saya yakin jika anda malam hari melalui kawasan mereka pasti anda akan dilempar batu. Dengan logat kupang beliau menjelaskan hal-hal yang pernah di alaminya.

Dan aku dapat melihat betapa ramahnya dan luar biasanya beliau disini. Sepanjang perjalanan kami, setiap kami melintasi kawasan berpenduduk semua orang mengenalnya dan menyapa ramah padanya. Disela-sela ceritanya beliau menunjukkan rumah-rumah beberapa orang-orang yang sering berurusan dengannya. Disetiap ceritanya aku melihat wajah-wajah bahagia bahwa ia telah menjalankan pekerjaan yang luar biasa. Disuatu ketika beliau selalu berkeliling desa, untuk memastikan jaringan terjaga aman. Jika beliau menemukan kejanggalan, maka ia akan segera memperbaikinya dan kembali melanjutkan perjalanannya. “Setelah melakukan itu ada perasaan senang dihati saya, apalagi pekerjaan saya berhasil” 

Beliau juga bercerita bagaimana listrik dahulunya dimonopoli pada rezim soeharto. Ya nepotisme, Yang golkar akan dialiri listrik. 

Perjalanan pulang kami pun masih terus diiringi oleh cerita-cerita beliau. Kali ini aku agak sedikit tertegun, saat beliau bercerita bahwa orang sepertinya yang harus menjaga listrik tetap hidup bisa berteman dengan sel penjara. “Pernah ada yang kesentrum gitu trus orangnya meninggal, setelah saya mengantar dia ke pemakaman kebetulan anaknya jaksa dia gak rela dan menuntut saya”. Uang 25 juta sebagai jaminan dan koneksi pertemanan dengan orang lain menyelamatkan beliau. Dan belum berakhir disana beliau kembali bercerita dengan sedikit guyonan “itu kan bukan pembunuhan, saya kan tidak tau bapaknya jantungan" Begitu candaanya saat bercerita waktu beliau memasang F.Co yang lokasinya tepat dirumah warga. Si bapak yang punya rumah duduk dibawah sambil menemani Pak Agus memasang diatas. Sekali-kali mereka berkelakar. F.Co yang telah dipasang kemudian dimasukkan, sayang saat itu malah F.Co meledak dan putus. Suara ledakan itu membuat si Bapak kaget dan tiba-tiba meninggal karena jatungan. ”Usai mengantar beliau ke pemakaman, saya memindahkan lokasi pemasangan F.Co jadinya saya takut hal serupa terjadi lagi. Saya tidak tau kalau bapaknya jantungan.“ Dengan ekspresi membayangkan kejadian itu, aku melihat gurat penyesalan di wajahnya.

Nyaris sepanjang perjalanan aku dihibur oleh kekonyolan dan pengalaman hidup Pak Agus. Aku yakin banyak orang-orang seperti Pak Agus di sub rayon lain.

Merekalah penyambung tangan PLN ke pelosok-pelosok. Merekalah penjaga terang diantara gulita malam. Merekalah yang menjaga malam-malam semua orang agar selalu benderang. Merekalah yang tak terlihat, saat semua orang mengeluh listrik mati. Saat semua orang memekik kepanasan ketika kipasnya tak nyala, saat semua orang mengeluh kegelapan dan mengeluarkan umpatan dan cacian bahwa orang-orang seperti mereka dibilang tak becus. 

Merekalah yang hari-harinya kita ambil dan malam-malamnya kita ganggu. Hujan badai mereka lalui agar menutupi keluhanan dan hinaan. Dan merekalah yang do'anya lebih keras dibandingakan semua orang agar listrik tak padam dan selalu menyala. Merekalah yang kita sita waktunya bersama keluarga.

Maka mulai sekarang berdo'alah untuk mereka agar mereka selalu diberi kesehatan dan kekuatan. Agar semua perjuangan mereka selalu dalam lindunganya. Agar listrik terus menyala. Berhentilah Mengumpat, Menghina, Mencaci.

Merekalah Yang Tak Terlihat dan setiap detik listrik yang kita pakai mengalir ikhlas mereka.

Kupang, 23 Desember 2013

Kusebut Ini Rumah

Hujan dan Rindu aku pikir mereka selalu menyatu. Saling bersahutan, memanggil isi hati yang kesepian.

Januari…..

Dingin dan guyuran hujan. Bulan pertama setelah 3 bulan terpanjang yang kulalui dalam hidup. Hati dan pikiran tiba-tiba berkecamuk. Ah aku kangen kehidupan 2 bulan di mangga 3. Tempat yang kusebut itu rumah.

Rumah yang mengajarkanku dewasa, kepedulian, kebersamaan, kesedihan dan kesenangan. Merekalah kusebut keluarga.

Aku rindu kita terbangun di pagi buta karena alarm tua Anjar hanya untuk niat konyol.

Aku rindu saat salah satu diantara kita tiba-tiba terbangun, maka semua yang masih tidur terbangun secara tiba-tiba. Dan tidur kembali.

Aku rindu saat antrian kamar mandi yang selalu kita kuasai.

Aku rindu saat kita menyebut diri ini negara air dan mereka negara api.

Aku rindu marah saat salah satu dari kita malas minum obat, gak mau mandi, dan telat sholat.

Aku rindu saat di hari libur kita semua sudah mandi sebelum makan pagi, saat yang lain malas-malasan.

Aku rindu saat butet dan ink pulang dari gereja membawakan brownies dan siomay pesanan kita.

Aku rindu saat kita makan di meja makan favorit kita dan menonton TV bersama, mengomentari berita atau gosip yang sedang tayang.

Aku rindu jadwal piket kamar tiap hari.

Aku rindu saat libur, jemuran dan cucian seperti stand-stand distro.

Aku rindu lihat ink mengipas rambutnya dimalam hari usai keramas dan paginya selalu ribut dengan rambutnya.

Aku rindu butet yang pulang malam dari ngegym, dan selalu bilang alergi gue kambuh lagi. Butet yang selalu bilang “mau mati lu???”

Aku rindu ruri yang selalu mandi saat mau adzan, yang selalu telat pulang, yang selalu bilang mau nikah.

Aku rindu anjar yang selalu ngomongin EXO-nya, yang selalu dimarahi buat sholat yang selalu malas mandi.

Aku rindu anggi yang selalu saat masuk kamar heboh sendiri. Selalu berantem dengan butet di pagi hari karena rebutan kaca.

Aku rindu riry yang selalu diam dikamar, tapi tiap malam ketawa sendiri karena nonton anime.

Aku rindu kalian bilang kejam, ibu kost atau apapun itu.

Aku rindu saat jadi body sistem, nyakit atau katering. 

Kupang, 18 Januari 2013

       -Aku merindu-