pipi-!

Titik dua :

Hujan semalam belum kering. Lengkap sudah dengan sisa basah di pipi yang mengembun diantara pelupuk mata. Berkali-kali aku membuka ponsel, berusaha meraih cara bagaimana mencari tahu kabar tentangmu. Tidak ada nomormu disana. Hanya sebaris alamat email yang bulan lalu aku coba menghubungi namun tak kutemukan jawab disana.

Bertanya perihal lelah dalam menunggu, itu bukan aku. Aku terlampau percaya dan setia pada satu yang sekali kusebut rasa. Katanya setiap penantian akan menemukan akhir. Seperti drama-drama telenovela yang katanya selalu berujung bahagia.

Lalu bagaimana dengan titik dua? Bersama namun untuk memisahkan. Berdua namun untuk memberi jeda. Bersama namun bukan untuk saling menyatukan. Benar. Bersama memang bukan selalu untuk bersama-sama.