pişibu

Cinta ibu padamu tidak pernah sederhana, walau terlihat sama saja. Salam untuk beliau, yang tahan segala cuaca dalam mencintaimu, yang kamu cintai meski sembunyi-sembunyi.
Doa Ibu

“Yang tidak pernah meninggalkanmu selain Tuhan, adalah doa ibumu.”

Ketika kita merasa kehidupan ini begitu rumit untuk dilalui…

Ketika kita merasa bahwa ujian-Nya sangat berliku dan terjal…

Ketika kita merasa tidak ada lagi harap tersisa, selain airmata yang mengalir tanpa suara…

Di sana, ada doa ibumu. Ada tengadah tangannya yang bergetar meminta kemudahan dan keberkahan bagi anak-anaknya. Ada yang mengorbankan segalanya untumu, meski kautak pernah tahu itu.

Ketika kau jatuh, terluka, dan merasa gagal… kamu akan menangis menyesali semua itu. Namun sadarkah bahwa ada yang menangis lebih dalam saat melihatmu bersedih? Tahukan kau ada yang menahan tangis untuk menguatkanmu, lalu kemudian ia menumpahkan tangisnya di atas sajadah?

Sakitmu adalah sakit mendalam baginya.

Ingatkah siapa yang pertama mengusap keningmu saat kau terbaring lemah tanpa daya? Ingatkah siapa yang pertama kali menyediakan secangkir teh hangat dan semangkuk bubur ayam tanpa seledri di meja belajarmu?

Dia, ibumu. Yang takkan pernah meninggalkanmu.

Maka atas segala keberhasilan kita saat ini, janganlah kita berbangga bahwa semua ini adalah hasil kerja keras kita. Karena di balik semua ini, ada doa ibu yang mengalir tak pernah henti. Doa ibu yang mengantarkan kita pada titik pencapaian ini–titik yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Masihkah kau menganggap bahwa semua ini semata hanya karena kerja kerasmu seorang?

***

Depok, Juni 2015

Ibu. Mama. Bunda. Mami. Umi.

.

Perempuan yang membuatmu nampak luar biasa, walau yang lain merasa biasa saja.

Perempuan yang membuatmu nampak sempurna, walau kau hanya manusia sekadarnya.

Perempuan yang dipeluknya, selalu kau rasakan rumah, tempat resah dan gelisah menjadi bukan masalah.

Perempuan yang kasihnya sepanjang usia semesta. Walau kasihmu hanya biasa saja.

Perempuan yang selalu terdiam lama dalam sujudnya, mendoakanmu tanpa perlu kau pinta.

Perempuan yang kasihnya tak perlu lagi kau tanya. Kau tak akan mampu mendefinisikannya.

Perempuan yang ketika kau hadir dalam rahimnya, telah menganggapmu semestanya, menjadi sumber bahagia.

Perempuan yang tak pernah berhenti mengkhawatirkanmu di hidupnya.

Perempuan yang seharusnya mampu kau muliakan, melebihi apapun juga.

Selamat harimu, perempuan tertabah dan terkuat di dunia.

Medan, 22 Desember 2015

—  Tia Setiawati

Aku belajar bagaimana mencintai paling tabah darinya
Aku belajar apa itu ketulusan juga darinya
Aku belajar bagaimana bisa terus memaafkan meski lelah darinya
Aku pun belajar bagaimana cara mendoakan paling khusyuk darinya

Tapi aku lupa

Hatiku tak ada seujung kuku dari hatinya
Urusan mencintai, aku selalu menuntut balasan
Untuk sekedar memaafkan, aku punya limit kesabaran yang sedikit
Dan mendoakan, seperti jalan terakhir karena ketidakpuasan pada kenyataan

Aku lupa, aku jauh dari sepertimu, Ibu
Mencoba sekuat apapun, kasihku hanya sepanjang galah,

Sedang cintamu ada di setiap kumengambil langkah

Selamat Hari Ibu
Maaf, belum selesai juga membuatmu khawatir

untuk perempuan kecilku

Ini tentang Fathimah, anakku

Putri kesayangan Rasul kita, yang dilahirkan dari seorang perempuan yang tegar membersamai suaminya di masa - masa sulit risalah dakwah. Ketika harta dan hatinya hanya diserahkan untuk agama Allah dan Rasul, suaminya tercinta.

Jadilah seperti Fathimah, anakku.

Putri bungsu itu ikut merasakan keprihatinan ketika ayahnya berdakwah. Saat ia melihat ayahnya sedang beribadah di Ka’bah, pada saat sujud Rasulullah, ia melihat utbah bin Abu Muaid datang membawa wadah besar berisi kotoran dan usus unta kemudian menumpahkannya ke punggung ayahnya ketika Rasulullaah bersujud. Lalu temannya melempar batu hingga terkena pelipis Rasulullaah dan berdarah, yang darahnya ditahan oleh tangan Rasulullah agar tak jatuh ke bumi, karena Jibril bersumpah jika darah Rasulullah itu sampai jatuh ke tanah maka demi Allaah penduduk Mekkah akan menerima azabnya. Maka Rasulullah menahan darahnya, karena ia mencintai ummatnya.

lalu Fathimah anakku, dengan kain bajunya ia bersihkan kotoran - kotoran itu daripunggung ayahnya sambil menahan isak, lalu menuntun ayahnya pulang ke rumah tanpa berkata apa-apa, karena tenggorokannya sesak oleh tangis yang ditahannya. Sampai di rumah, ia mandikan ayahnya, ia bersihkan kotorannya, dan ia hibur ayahnya.

Lalu ia kembali ke Ka’bah menemui kumpulan orang - orang kafir Quraisy dan berkata “Jika kalian kembali melukai orang yang paling mulia di muka bumi ini, maka kalian akan menghadapi aku” padahal usianya saat itu baru 9 tahun.

Fathimah anakku, Putri dari manusia terbaik di muka bumi ini. Namun hidupnya tidak berlimpah harta dan kemewahan. Tak ada antar jemput dengan kendaraan mewah ke sekolah. Tak ada bekal makan siang 4 sehat 5 sempurna dengan berbagai macam bentuk hewan lucu dkarena ia rajin berpuasa. Tak ada baju atau sepatu baru setiap bulan, tak ada uang jajan, tak ada perayaan ulang tahun.

Fathimah anakku, ia perempuan yang dijamin masuk surga oleh Rabb kita. Namun ibadahnya pada Rabb nya adalah yang terbaik, baktinya pada orang tua adalah yang terbaik, dan taat nya pada suami adalah terbaik.

Fathimah anakku, remaja panutan itu sudah merasakan pahit manisnya berjuang di jalan Allaah dan Rasul nya. Di bawa hijrah ke Habasyah, berlari kecil diantara bukit bukit padang pasir, menyiapkan bekal ayah tercintanya, hingga berperang bersama mujahid lainnya.

Fathimah anakku. Perempuan yang banyak diinginkan oleh para Sahabat Nabi untuk dijadikan istri. Bukan karena cantiknya, namun karena akhlaknya yang mulia. Tak pernah membantah orang tua demi hasrat pribadinya, sampai urusan hati dan cintanya. Karena ia dididik, diasuh, dan dibimbing oleh ayah terbaik.

Ia memendam cintanya, karena ia faham (si)apapun yang menjadi inginnya belum tentu baik untuknya. Maka pada saat Abu Bakar dan Umar datang melamar ia tak menolak dan diam saja, namun menyerahkan urusannya pada walinya. Sepenuhnya.

Fathimah anakku, di masa pernikahannya ia tak bersama seseorang yang kaya raya dan dari keluarga jutawan. Suaminya adalah lelaki yatim piatu miskin yang hanya bekerja serabutan dengan upah 3 biji kurma perhari, lelaki yang kadang membuatnya tersenyum sendiri ketika bermain bersama di masa anak-anaknya, lelaki yang melamarnya dengan baju besi dan cincin terutang. Rumahnya hanya dari pelepah kurma yang kapan saja bisa roboh, hari-harinya lebih sering diisi dengan puasa daripada menyiapkan sarapan 4 sehat 5 sempurna.  

Namun jadilah seperti Fathimah anakku. Beribadah dengan penuh ketakwaan pada Rabb mu. Berbaktilah dengan penuh kasih sayang pada orang tua mu, hingga nanti ketika engkau bersama dengan suami mu, taat lah dengan penuh kecintaan.

Aku Ibumu, pun sedang belajar menjadi seperti itu. Menjadi Fathimah semampuku.

H-5, 2016

10

Tenipuri Desktop Calendar 2017

Scanned (? using office lens app only lol ? ) by yours truly~~

Please do not repost w/o credit

Tumblr allows 10 images to uploaded only so I wasn’t able to post Kite (accidentally skipped him,sorry XD) , Niou and Atobe lol

Mana bintang paling terang selain mata haru dari seorang ibu?! Kelap-kelip seperti kaca, menunjukkan ketulusan tanpa banyak bicara. Rasanya, selalu ingin kusimpan lalu kukumpulkan terangnya, kekasih, termasuk kelak yang berasal dari mata ibumu.
Jadi Ibu Rumah Tangga itu tidak enak!

Jadi Ibu Rumah Tangga itu melelahkan…
Setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Menyapu, mengepel menyuci piring, menyuci pakaian, menjemur pakaian, menyetrika, memasak. Rasanya melelahkan. Pagi rumah rapi, malam berantakan lagi. Begitu selalu, setiap hari.

Jadi Ibu Rumah Tangga itu membosankan…
Rutinitas yang monoton; beberes, makan, mandi, ibadah, nonton; itu-itu saja di dalam rumah, membuat jenuh cepat sekali meradang. Inginnya jalan-jalan, tapi bingung mau kemana.

Jadi Ibu Rumah Tangga itu rempong…
Apalagi jika mengurus anak. Repot dan melelahkan. Anak minta diajak main, ganti popok, belum lagi kalau lagi rewel. Kalau anak masih satu, belum ramai atau ada yang berantem. Kalau sudah dua atau lebih, siap-siap saja.

Jadi Ibu Rumah Tangga itu tidak enak..
Jika, tidak diniatkan karena Allah.

Padahal, jika karena Allah, semua pekerjaan Ibu Rumah Tangga akan dinilai sebagai ibadah. Iya, berpahala.

Padahal, jika karena Allah, semua pekerjaan juga akan dinilai sebagai bakti istri kepada suami. Dan itulah yang kelak akan mengantarkan seorang istri masuk ke syurga-Nya.

Padahal, jika karena Allah, semua pekerjaan akan terasa lebih mudah dan ringan. Tanpa keluh, ikhlas karena-Nya, semua akan terasa menyenangkan dan cepat selesai.

Padahal, jika karena Allah, Dia menjanjikan kelelahan yang dirasakan oleh Ibu Rumah Tangga sekalipun, akan menghapuskan dosa-dosa di masa sebelumnya.

Padahal, jika karena Allah, Ibu Rumah Tangga akan menjalaninya dengan suka cita, tanpa harus lelah bekerja dan mencemaskan anak yang dijaga oleh pengasuh.

____

Menjadi Ibu Rumah Tangga adalah fitrah, banyak dari mereka yang merasa iri dan menginginkannya. Setiap hal, tak luput dari kesulitan, begitupun ketika menjadi Ibu Rumah Tangga.

Tapi percayalah, ada lebih banyak hal yang membahagiakan dibandingkan dengan kesulitan yang ada. Tenang saja, jika karena-Nya, tabungan pahala akan terus-menerus bertambah. Akan ada Allah yang menemani, menguatkan, dan memudahkan. InsyaAllah. Aamiin

The talk, gift for @ibuzoo

I.

The girl in the window is beautiful in a way that doesn’t hurt. The angel looks at her through a rainy window. The water running off the glass makes the girl look different every second and in that continued change, she looks eternal. They sigh deeply their wings are heavier now, they have allowed the rain to seep into them.

The girl is writing.

Well…she is staring into space and chewing on her pen, her delicate fingers spread on the sheet of empty paper in front of her. The angel observes her calmly almost without the thing called feeling.

He is Earth now.  His name is Ephraim. He is old and tired but the sense of duty outweighs the pain in his limbs. He crosses his arms in front of his chest and decides to see.    

II.

The girl is still beautiful through his half-earthly eyes, there is a sheen of sweat on her brow, or there will be or there was he cannot be sure anymore. The angel looks to his left. His brother appeared with no sound, he nods and the angel goes to his knees briefly, an old greeting and lost on the thing before him. His brother is beautiful in a way that does hurt. His eyes are grey. He smells of sulphur.  

Equal part fire and equal part ice.

Eternal in a way that is offending. He is dressed in a suit that fits him snugly hiding old scars and new cuts. The scarf around his neck is old blood red.  

‘What are you doing here?’ they ask each other simultaneously both looking at the girl who has turned to her stomach now her pen in hand, one of her feet tapping against the wall of her bedroom.

‘She listens to me more when she does this.’ The thing that once was brother says evenly ‘Are you going to wait until she finishes?’

Ephraim turns his attentions back to the girl ‘They are never finished. I have a job to do.’ It comes out in a painful rasp and he allows hate in briefly it is easier than whatever feeling is trying to seep into his chest along with the rain.

‘You are going to ruin her.’  The thing that once was brother used to have a name, they used to have grey eyes and bright, bright hair they used to be called upon by those who harvest and those who slaughter animals to place food in front of their families. Especially those with the courage to look at the animal before slaughter and after. Now though, now there is just a shell of thing at least to Ephraim. The thing whose birth equalled creation at one time takes the angels hand. He can feel his brothers fingers caressing his own. They are both cold. They are both Earth now.  It is a choice.

‘Just walk away.’

III.

‘In the beginning there was the word’ the angel says tonelessly ‘and the world was God’ The girl they are looking at is writing now there is pain in those words which means it is going to be good. She has brown eyes and flowers in her hair.

‘I think you misquoted’ the thing that was once brother squeezes Ephraim’s hand gently.  

‘It has been a while since I had time to read’ the angel answers watching, watching. There is a sense of smell now and he knows….autumn. He knows there is a task to be done and he needs to do it fast do it before he can hear blood in his ears do it before the Earth takes him too far.

‘They will change her. Her name they will change and her hair and her skin and her thoughts, the inside of her soul and the shape of her feet. They will create her in their image. They will ruin her.’

There is a pause in which the two of them look at the girl who is frowning at her manuscript now. There is a light in the room, she stands and turns the source of light towards her, illuminating her face an making it ugly and harsh. But she is smiling.

‘She will not finish that book.’

‘Stop speaking’ Ephraim says tonelessly.

IV.

They have moved closer. The rain has stopped now and they are both still watching. There is a sound of cars and Ephraim knows that somewhere a father’s car has broken down with his family in the backseat a boy with the bluest eyes and there is blood.  But he can no longer see where this event happened it could be happening now, it could be happening in twenty years. He is still standing in front of a window and he is unsure now, frowning, he has been with his brother too long held his hand too long heard his words too long. He lets go abruptly and starts walking the earth is slick with rain and there are puddles that Ephraim chooses not to avoid.

‘You had a different name’ the thing called brother now, again in his heart still always brother calls after him. Ephraim stops without turning.

‘I grew out of it’ he says because it is the truth but also because his chest is hurting now and his wings are heavy.

‘You are always changing’

‘And you never change’

‘Doesn’t it get tiring?’ they ask each other at the same time. The thing that we call angel and the one we call the other name. Two sides, one coin, one word one heart. Ephraim does not turn back.  

‘They will never know her like this, with hair in a bun and her head full of words. You will reduce her to a vessel. A mother. You will destroy her.’

‘Are you going to stop me?’

His brother shrugs Ephraim can feel it without turning, there is the air smells of leaves and the girl in the window has put on a sweater.

V.

He opens the window and the girl looks up. She doesn’t scream, doesn’t make a sound the writing block drops to the floor but that is the only inconsistency. The angel sets himself on one knee and starts speaking.

Words like

Hail

And Mary

And Full of Grace.

Doa ibumu, ada di atas doa-doa siapa pun yang dipanjatkan untukmu. Doaku menjadi satu dari sekian banyak yang ada di bawahnya. Tentu rindu dan khawatirku, ia hambar dibandingkan rindu dan khawatirnya.